Fools For Love (Chapter 1)

Title                     : Fools For Love

Author                 : Azumi Aozora

Main Cast            : Jung Soo Jung / Krystal f(x), Kim Jong In / Kai (EXO)

Support Cast      : f(x), EXO, SHINee, Lee Soo Man, YG & JYP idols

Genre                   : romance, friendship, family

Rating                 : PG+15

Length                 : Series

Disclaimer           : Penulis tidak bermaksud menjatuhkan ataupun menjelek-jelekkan pihak manapun. Semua yang ada dalam cerita fanfiction ini hanyalah rekayasa dan imajinasi penulis. Yaaa namanya juga fanfiction!😀 Mungkin beberapa memang terinspirasi dari rumor-rumor yang beredar, tapi satu hal yang sudah pasti bukan rumor adalah “Kaistal is real”, yaa setidaknya begitu menurut SM. Penulis berharap hubungan mereka memang nyata. Adapun kisah cinta mereka di cerita ini murni hanya imajinasi penulis. Bagaimana kisah cinta Kaistal yang sebenarnya? Yaaa hanya Kai, Krystal, dan Tuhan yang tahu pastinya.❤

Poster Fools For Love

~ Chapter 1 ~

===== Author PoV ======

@Ruang kediaman pribadi Lee Soo Man

Meskipun saat ini Lee Soo Man hanyalah “orang di balik layar”, penasehat, dan pendiri SM Entertainment – salah satu dari 3 perusahaan hiburan paling besar di Korea – ia masih memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perusahaannya tersebut. Meskipun urusan bisnis sudah ia serahkan sepenuhnya kepada keponakannya, ia merasa masih harus mengambil kendali atas beberapa masalah dan tantangan yang tengah menghantui perusahaannya tersebut. Masalah kontrak tidak manusiawi yang digugat oleh beberapa mantan artis nya sampai dibawa ke pengadilan, rumor akan keluarnya salah satu anggota boyband dan girlband nya, sampai persiapan dan penentuan tanggal debut bagi boyband baru agar mendapatkan perhatian publik sepenuhnya dan tidak “bertabrakan” dengan promosi idola lain dari perusahaan saingan SM – ia yakin keponakkannya bisa mengatasi itu semua.

Tapi kali ini berbeda. Masalah ini. Permintaan tidak masuk akal tapi menggiurkan ini.

Lee Soo Man membaca e-mail yang dikirimkan oleh salah satu saingan terberatnya itu sekali lagi. Hanya ingin memastikan kalau-kalau tadi ia salah baca. Maklum, sekarang umurnya sudah tak muda lagi.

Lee Soo Man masih heran karena “orang itu” mau berdamai dengannya, bahkan memberikan satu-satunya hal yang sejak dulu selalu ia inginkan. Oh, semua orang di industri hiburan ini (bahkan mungkin masyarakat pada umumnya) tahu betapa sengitnya persaingan perusahaannya dan perusahaan “orang itu”. Di saat perusahaannya menjadi no 1 di penjualan album fisik, perusahaan orang itu menjadi no 2, tapi menjadi no 1 di penjualan album digital – sedangkan perusahaan SooMan menjadi no 2. Idola-idola andalan mereka bersaing ketat memperebutkan posisi bergengsi di acara-acara penghargaan tahunan, bahkan idola-idola perusahaan mereka sudah bersaing sejak masih menjadi “trainee” dengan menampilkan reality show maupun kolaborasi dengan idola senior agar masyarakat mengenal dan merasa simpatik pada para trainee tersebut.

 

Lee Soo Man Yang Terhormat,

Aku tahu permintaanku ini sangat mengejutkan bagimu. Tapi kumohon bantulah aku mengalihkan perhatian publik dari perusahaanku. Aku tidak mungkin mengalihkan “masalah” ini dengan memunculkan rumor lain, karena sudah terlalu banyaknya skandal yang menimpa perusahaanku akhir-akhir ini. Sebenarnya bisa saja aku memunculkan skandal buatan sebagai pengalihan fokus, tapi reporter yang satu itu (kau tahu siapa) benar-benar mengawasi kami setiap detik. Aku tidak bisa menciptakan masalah ringan sebagai pengalihan fokus bagi masalah berat ini.

Kuharap kau bisa membantuku. Aku mengesampingkan semua ego dan harga diriku dengan menulis e-mail ini padamu. Aku tahu kau pasti tidak akan mau membantuku tanpa adanya keuntungan bagimu. Karena itulah aku akan memberikan satu-satunya yang sejak dulu selalu kau inginkan. Catatan keuangan gelap itu. Catatan yang sangat kau takuti. Catatan yang tadinya akan kugunakan untuk menjatuhkanmu pada saat yang tepat.

Aku mengibarkan bendera putih padamu. Ya, se-putus-asa inilah aku saat ini. Tapi aku tahu tawaranku bagus. Aku sangat berharap kau mau bekerjasama denganku.

 

 

Lee Soo Man tertawa. “Dia tahu tawarannya bagus? Masih saja bersikap angkuh! Tapi dia memang terdengar sangat putus asa.”

Soo Man meraih ponselnya lalu menelepon seseorang, mata-mata kepercayaannya. “Kau sudah dapat info? Kasus apa sebenarnya yang menimpa YG? Narkoba?”

“Bukan, sajangnim, bukan narkoba. Lebih buruk dari itu. Anda ingat rumor yang menimpa JYP beberapa tahun silam? Kasus YG ini persis sama, hanya saja… ini bukan sekedar rumor, tapi kenyataan.”

Lee Soo Man mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ada 2 jenis skandal yang paling tidak bisa diterima masyarakat Korea pada umumnya. Skandal narkoba… dan skandal sex. Lee Soo Man mencoba mengingat-ingat…rumor apa yang pernah menimpa JYP (saingannya yang lain, yang masuk ke dalam 3 besar entertainment di Korea) beberapa tahun silam. Apakah rumor mengenai salah satu member girlgroup nya yang hamil? Ataukah rumor mengenai aborsi yang dilakukan salah satu member girl group nya sehingga ia keluar (sebenarnya dikeluarkan) dari group? Atau rumor mengenai salah satu member boyband nya yang melakukan pelecehan seksual?

Soo Man menggelengkan kepalanya dengan cepat. Apapun itu, yang pasti…bila bukan skandal narkoba, pastilah skandal sex. Dan Soo Man tidak begitu peduli sebenarnya. Ia ingin melihat saingan beratnya hancur? Oh, tentu saja! Tapi… tawaran saingannya itu benar-benar menggiurkan. Haruskah ia membantunya?

Soo Man berputar-putar pelan di kursi kerjanya sambil berpikir keras. Tentu, catatan keuangan gelapnya di masa lalu dapat menimbulkan masalah yang serius, tapi nampaknya tidak akan se-serius skandal-skandal idola. Bagaimanapun, se-suci apapun sebuah perusahaan raksasa, pastilah di masa lalu pernah “terjerumus” ke dalam transaksi-transaksi keuangan gelap.

Bila ia membantu YG, maka pastilah YG pun akan membantunya di masa depan nanti bila ia memiliki masalah berat. Soo Man percaya dengan pepatah yang mengatakan “Kita menuai apa yang kita tabur”, hukum alam itu berlaku di manapun dan bagi siapapun, bahkan kadangkala…dengan caranya yang aneh – alam membalas kebaikan seseorang dengan kebaikan yang jauh lebih banyak lagi.

Lee Soo Man menghela napas panjang. Skandal buatan apa yang harus ia ciptakan? Skandal berkencan adalah skandal yang paling aman untuk dilakukan. Tentu, haters akan banyak bermunculan, penjualan dan saham mungkin akan menurun, tapi seringkali justru malah meningkat – terutama bila kedua idola yang terlibat skandal berkencan itu adalah idola-idola papan atas.  Dulu, skandal pacarannya Baekhyun EXO dan Taeyeon SNSD mampu mengalihkan satu skandal nyata yang terjadi di perusahaannya. Tapi kini ia tak begitu yakin bisa melakukan hal yang sama, apalagi melakukannya demi menyelamatkan perusahaan orang lain.

 

======= End of Author PoV =======

 

 

======= Krystal / Jung Soo Jung PoV =======

Aku menatap pria berkacamata dan berambut perak di hadapanku dengan kening berkerut. Pria paruh baya itu terus memegang cangkir kopi nya sejak tadi, tanpa meminumnya sedikitpun. Sepertinya sajangnim sedang banyak pikiran. Tapi kenapa ia memanggilku kemari?

Aku sudah sering datang ke ruangan Lee Soo Man untuk membicarakan proyek-proyek f(x), proyek pribadiku, atau bahkan hanya sekedar mengobrol biasa. Aku cukup dekat dengannya. Di saat junior-juniorku (bahkan beberapa seniorku) takut dan segan padanya, justru aku tidak merasa ada hal yang harus kutakutkan dari dirinya. Lee Soo Man memang terlihat berwibawa, dingin, dan tegas, tapi sebenarnya ia sangatlah ramah, baik, dan sangat senang bercanda. Atau mungkin saja aku hanya beruntung karena bisa melihat sisi baiknya ini.

Aku menghabiskan hampir seumur hidupku di SM. Masa kecilku kuhabiskan dengan berlatih keras menjadi penyanyi, dancer, dan aktris yang professional. Masa remajaku kuhabiskan dengan bekerja keras sebagai Krystal f(x) dan sebagai Krystal sang aktris. Masa dewasaku? Aku tidak pernah menginginkan hal lain selain menjadi diriku yang sekarang. Aku ingin tetap bernyanyi dan berakting. Mungkin di masa depan nanti aku ingin menjadi composer lagu dan sutradara, tapi aku sadar diri, kemampuanku masih jauh, aku masih harus banyak belajar.

Aku mengamati wajah penuh keriput sang pendiri SM Entertainment itu lekat-lekat. Aku memang tidak pernah sepenuhnya menyukai perusahaanku, terutama karena masalah kakakku (Jessica) beberapa waktu lalu yang membuatnya keluar dari perusahaan. Tapi aku tahu, semua itu bukan kesalahan Lee Soo Man, melainkan keponakannya. Aku memang agak membenci perusahaanku setelah adanya restrukturisasi bagian manajemennya, tapi aku tidak pernah membenci Lee Soo Man. Atau setidaknya itulah yang kupikirkan pada awalnya. Sebelum hari ini tiba.

Aku bergerak-gerak tak nyaman di kursiku sambil memutar-mutar sedotan frappucinno karamel di hadapanku. Entahlah, saat ini perasaanku benar-benar tidak enak. Instingku mengatakan agar aku segera pergi dari tempat ini sekarang juga.

“Soo Jung, berkencanlah dengan Jong In.” Ujar Lee Soo Man pada akhirnya.

“APA?” Pekikku dengan nada terkejut dan tak percaya. Terlambat! Seharusnya aku memang pergi dari sini sejak tadi! Feeling ku benar. Sepertinya kali ini sajangnim ingin “mengorbankanku” demi kepentingan perusahaan.

“Soo Jung, kau tahu kan… kau adalah anak favorit ku? Aku juga melakukannya demi kebaikanmu, popularitasmu. Berpura-puralah berkencan dengan Jong In di hadapan publik.”

Aku menghela napas panjang. “Kenapa harus Jong In?”

“Karena kalian bersahabat baik.” Jawab Lee Soo Man dengan simpel.

“Aku bersahabat baik dengan Tae Min Oppa juga!” Protesku tanpa pikir panjang.

Lee Soo Man tersenyum misterius, lalu tertawa. “Kita tidak bisa melibatkan Taemin. Karena kau menyukainya.”

Aku tersedak. Lee Soo Man tertawa sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Bagaimana….” Kata-kataku menggantung.

Lee Soo Man nyengir lebar. “Bagaimana aku bisa tahu? Oh, aku tahu banyak hal, Soo Jung.” Pria paruh baya itu mengedipkan sebelah matanya dengan riang.

“Taemin Oppa hanya menganggapku sebagai sahabatnya, dan adiknya.” Aku mencoba berargumen, tapi Lee Soo Man hanya tersenyum lebar seolah ia memang tahu segalanya.

“Kau mungkin akan merasa senang bila Taemin menjadi pacar pura-puramu, tapi itu semua hanyalah sementara Soo Jung. Aku tidak ingin kau terluka. Jong In adalah pilihan tepat.”

Aku mendengus. Aku tahu, saat ini aku benar-benar tidak sopan. Tapi rasanya sangat tidak adil! Kenapa harus aku?

“Kenapa harus aku? Kenapa harus Jong In? Apakah karena sajangnim yakin kami tidak akan saling jatuh cinta?” Tanyaku dengan cepat. Sorot mataku berapi-api. Aku mencoba menahan amarahku sekuat tenaga, tapi nampaknya tidak cukup berhasil.

“Apakah kau merasa akan jatuh cinta pada Jong In?”

“Tentu saja tidak!” jawabku langsung.

“Begitupula dengan Taemin.”

Aku menatap Lee Soo Man dengan bingung. Pria itu tersenyum hangat. “Soo Jung, aku mengatakan ini bukan sebagai atasanmu, tapi sebagai…kau bisa menyebutnya…kasih sayang seorang ayah? Jawabanmu barusan tentang Jong In adalah jawaban Taemin tentangmu.”

Aku menundukkan kepalaku dan menghela napas panjang. “Aku tahu. Taemin Oppa memang tidak menyukaiku sebagaimana aku menyukainya. Tapi…dengan berpura-pura menjadi pacarnya…mungkin akan cukup bagiku? Sajangnim… tolonglah… tidak bisakah aku pura-pura berkencan dengan Taemin Oppa saja?”

Lee Soo Man menggeleng. “Aku tidak mau melihatmu hancur, Soo Jung. Percayalah padaku. Jong In adalah pilihan yang tepat.”

Aku menatap Lee Soo Man dengan tajam. “Jangan bilang… Anda mengira Jong In menyukaiku?! Karena Jong In tidak mungkin menyukaiku lebih dari sekedar sahabat! Aku sangat mengenal Jong In, jadi aku tahu.”

Lee Soo Man menatapku dengan sorot mata penuh kesabaran. “Taemin juga sangat mengenalmu, tapi ia tidak tahu bahwa kau menyukainya, bukankah begitu?” Soo Man menyenderkan punggungnya dengan santai sambil tersenyum penuh kemenangan. “Soo Jung, aku tidak mungkin melakukan hal yang membahayakanmu ataupun membuatmu terluka. Percayalah padaku, seperti saat kecil dulu kau mempercayaiku ketika aku berkata padamu bahwa kau akan menjadi orang yang hebat. Dulu kau mempercayaiku, dan lihatlah dirimu sekarang. Apakah kau menyesal menjadi dirimu yang sekarang?”

Aku menggeleng. Lee Soo Man kembali bicara, “Percayalah padaku sekali lagi. Semua ini awalnya memang kulakukan untuk kepentinganku. Awalnya aku tidak akan memintamu melakukan hal ini. Kau tahu? Aku mempertimbangkan Irene dan Sehun. Tapi kemudian aku berubah pikiran.”

“Apa yang membuat Anda berubah pikiran?” Aku penasaran karena kata-kata sajangnim barusan terdengar menggantung.

Pria berkacamata itu hanya tersenyum misterius. “Tidak seru, Soo Jung. Aku tidak akan memberitahumu. Tolong setujulah dengan ideku ini. Aku menjamin, kau tidak akan menyesal.”

❤❤❤❤❤❤❤

 

Tiga hari kemudian….

Bila yang Lee Soo Man maksudkan dengan “Kau tidak akan menyesal” adalah tiket berlibur ke Swiss, maka…aku memang tidak menyesal! Sama sekali tidak! Biarlah aku berpura-pura berkencan dengan Jong In, asalkan aku mendapatkan fasilitas mengasyikan seperti ini. Lagipula… Jong In adalah sahabat baikku! Bukankah menyenangkan bisa berlibur bersamanya?

Rupanya Lee Soo Man memberitahu Jong In tentang rencananya ini beberapa jam setelah aku menyetujuinya. Malam itu Jong In mengirimiku pesan via line.

 

*flashback*

Kim Jong In : Jungie~ kenapa kau setuju dengan rencana sajangnim?

Jung Soo Jung : Karena aku percaya pada sajangnim. Dia bilang…aku tidak akan menyesal. Mungkin dia akan menaikkan gaji ku? Hahaha😀

Kim Jong In : Zzzzz, sudah kuduga.

Jung Soo Jung : Kau sendiri? Kenapa kau setuju?

Kim Jong In : Tentu saja karena sajangnim akan menaikkan gajiku.

Jung Soo Jung : Zzzzz, sudah kuduga!

Kim Jong In : Hahaha.😀😀😀

Jung Soo Jung : Jadi, aku harus memanggilmu apa? JANGAN HARAP AKU AKAN MEMANGGILMU OPPA!

Kim Jong In : Aku memang Oppa mu!

Jung Soo Jung : No way! Dan jangan harap aku akan memanggilmu dengan pet name!

Kim Jong In : Jangan begitu, honey. Kini kita sudah resmi pacaran. Hahaha. Lihatlah berita yang menyebar di internet. Wow, Sajangnim sangat cepat beraksi! Dia menyebar foto lama kita. Kau ingat? Ketika kita akan pergi ke Jepang untuk main ski dengan hyung-hyung SHINee karena Taemin hyung sudah berjanji akan mentraktir kita?

Jung Soo Jung : Wow! Aku tidak mengira selama ini sajangnim menyimpan foto-foto itu! Saat itu kita memang memakai style couple. Kita memang sering memakai style yang sama! Semua orang tahu itu. Tapi saat itu aku naik mobilmu, dan kita hanya pergi berdua. Benar-benar ide yang jenius! Aku tidak menyangka ternyata sajangnim berbohong padaku. Dia pasti sudah merencanakan ini sejak lama sekali!

Kim Jong In : Kau sudah baca artikel-artikel nya? Nama kita jadi top search di naver

Jung Soo Jung : Yap! Kaistal bahkan trending di twitter! Wow!

Kim Jong In : Jangan pedulikan komentar haters. Kau tidak perlu membaca komentar-komentarnya. Sudah, tidurlah saja, Jungie.

Jung Soo Jung : Hahahaha. Hey, sejak kapan aku peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?! Kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri, Jong In, beberapa fans-fansku menjelek-jelekkanmu.

Kim Jong In : Aku tidak peduli. Sudahlah…ganti topik! Kakakmu meneleponku. Apa yang harus kukatakan?

Jung Soo Jung : Tsk! Kenapa kakakku malah meneleponmu? Hmmm, bagaimanapun…karena kita sudah setuju dengan stunt ini, maka…tidak boleh ada yang tahu bahwa hubungan kita ini hanya pura-pura. Hanya aku, kau, dan sajangnim yang tahu. Bilang saja pada kakakku kau memang menyukaiku sejak awal musim semi ini seperti yang ditulis di internet. Atau kau bisa mengarang cerita sendiri, tapi cerita kita harus sama. Jangan sampai teman-teman ataupun keluarga kita curiga.

Kim Jong In : Bagaimana kalau aku memang sudah jatuh cinta padamu semenjak menjadi trainee dulu, tapi lebih memilih untuk memendam perasaanku padamu, dan memilih untuk menjadi sahabat baikmu agar bisa selalu berada di dekatmu? Kemudian pada akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaanku padamu awal musim semi ini, dan… ternyata kau pun menyukaiku?

Jung Soo Jung : Oke. Akan kuingat. Itu yang akan kukatakan pada kakakku sekarang karena SEKARANG DIA MENELEPONKU! Zzzzz, berapa banyak missed call nya di ponselmu?

Kim Jong In : 7!

Jung Soo Jung : Wow! Oke, aku jawab panggilannya dulu. Nampaknya malam ini aku tidak akan tidur. Semua ponselku berdering!

Kim Jong In : Matikan saja semua ponselmu. Beres.

 

Seandainya saat ini Jong In ada di hadapanku, aku pasti sudah melempari wajahnya dengan bantal! Seenaknya saja! Kalau aku mematikan semua ponselku dan tidak menjawab panggilan Jessica dan orangtuaku, maka sudah bisa dipastikan mereka akan langsung datang ke aparetmenku malam ini juga!

*end of flashback*

 

“SWISS??? Ya ampuuuuunnn….aku sangat iri padamu Soo Jungie~~~” Amber eonni mengguncang-guncangkan bahuku dengan manja, lalu kami pun tertawa.

“Kalau begitu… kau harus punya pacar, eonni. Kau tahu kan… SM setuju kalau kita berpacaran dengan sesama artis SM?”

Amber nyengir lebar sambil mengangkat bahu nya dengan cuek. “Yah…memang.”

“Kau menyukai idola dari agensi lain! Hahahaha!”

“YAH! Kupikir kau juga menyukai Taemin!”

Cepat-cepat aku menutup mulut Amber. Saat ini kami sedang berjalan menuju kantin SM. Gawat kan kalau ada yang mendengar?!

Aku menghela napas dalam-dalam. Aku tahu, tidak seharusnya aku membocorkan rahasiaku dan Jong In pada siapapun. Tapi…Amber teman baikku, dan dia mengenal diriku luar-dalam. Dia adalah satu-satunya orang yang masih tidak percaya dengan hubunganku dan Jong In!

Aku menatap Amber lekat-lekat. Apakah sebaiknya aku memberitahunya yang sebenarnya? Mungkin tidak apa-apa bila Amber tahu. Dia bisa menjaga rahasia dengan baik. Dia tidak akan mengkhianatiku.

Tapi tepat ketika aku membuka mulutku, Lee Tae Min datang menghampiri kami. “Soo Jungie! Aku sangat terluka! Kau dan Jong In selama ini ternyata saling menyukai? Aaah… berarti selama ini aku hanya menjadi orang ketiga. Rasanya jadi seperti Harry Potter dalam persahabatannya dengan Ron dan Hermione.” Taemin tersenyum lebar.

Aku menghela napas. Raut wajahku berubah dingin. Ya, beginilah yang Taemin rasakan. Sejak dulu aku selalu tahu. Dia mengira dirinya seperti Harry Potter bagi Hermione. Tapi bila aku adalah Hermione, seharusnya dia adalah Ron! Hhhh, sudahlah!

Aku tersenyum, tapi senyuman itu tidak mencapai mataku. “Hmmm, sajangnim memberiku tiket berlibur ke Swiss.”

Mata Taemin berkilat-kilat senang, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah spesial. “Woaaaahhhh! Daebak! Aku ingin pergi ke sana lagiiiii! Saat aku syuting SHINee One Fine Day di sana….waaahhhh….benar-benar pengalaman yang tak terlupakan! Bolehkan kalau aku nitip oleh-oleh? Hehehe..”

Aku mengangguk. “Hmmm, tentu.”

Taemin tersenyum cerah. “Gomawooooo, Soojungie. Aku pergi dulu ya! Jin Ki hyung sudah meneleponku terus. Nanti aku kirimkan pesananku lewat kakao talk.” Taemin melambaikan tangannya dengan super riang, lalu berlari pergi menuju lift.

Aku menghela napas dalam-dalam. Amber yang sejak tadi hanya terdiam dan memerhatikan kami, kini menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Mata kami bertatapan. Ia tersenyum hangat, seolah menyemangatiku, seolah ia memang tahu apa yang sebenarnya terjadi tanpa perlu kuberitahu.

“Semangatlah, Soo Jung! Kau pasti akan bersenang-senang di Swiss!” Amber tersenyum penuh pengertian. Saat ini juga rasanya aku ingin menangis dan memeluk Amber erat-erat, tapi aku hanya tertawa pelan dan mengangguk. Menyembunyikan perasaan adalah keahlianku.

❤❤❤❤❤❤❤

 

 

“Hey! Kau kenapa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Aku menghampiri Jong In yang duduk di kedai tteokpoki tak jauh dari apartemen kami. Wajahnya terlihat lesu dan sepertinya ia sedang banyak pikiran.

Jong In memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, lalu menyapaku. “Hey, Jungie…”

Aku duduk di sampingnya. “Ada apa?”

“Beberapa fans-fansku menjelek-jelekkanmu. Aku tidak menyukai komentar-komentar mereka. Sangat keterlaluan!”

Aku terkekeh dan menepuk-nepuk punggungnya. “Tidak usah dipedulikan! Kau sendiri yang bilang padaku agar tidak membaca komentar-komentar di internet kan?”

Jong In mengangguk. “Hmmm. Tapi… tetap saja…”

“Besok kita pergi ke Swiss, jadi…semangatlah kkamjong! Kita bisa main ski sepuasnya di sana. Dan…oh! Victoria eonni bilang….wine panas di sana benar-benar enak!” Aku bertepuk tangan dengan riang sambil tersenyum lebar.

Jong In tersenyum, lalu merangkulkan sebelah lengannya di pundakku. “Benar. Kita akan bersenang-senang! Lupakan para haters!”

“Cheers!” Aku mengangkat gelas berisi teh hijau di depanku, lalu tertawa.

“Aku sudah memesankan tteokpoki untukmu. Kita makan di apartemen saja. Di sini terlalu dingin.” Jong In menerima pesanan kami lalu membayarnya.

Aku mengangguk. “Hmmm.”

“Ayo!” Jong In menggenggam sebelah tanganku dan membantuku berdiri. Lalu kami pun berjalan menuju apartemen kami sambil bergandengan tangan. Aku menatap Jong In, dia balas menatapku, dan kami sama-sama nyengir lebar. Rasanya mudah dan menyenangkan. Kami sudah bersahabat hampir 10 tahun lamanya. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kami menghabiskan waktu bersama dan melakukan hal-hal menyenangkan seperti ini. Bergandengan tangan dengannya? Tentu saja tidak terasa aneh. Dia sahabat baikku, dan tidak ada yang aneh dengan menggandeng tangan sahabatmu sendiri! Mungkin karena ini jugalah orang-orang mengira kami berkencan. Dan sekarang…ketika kami “harus berkencan”, tidak ada hal yang berubah dengan drastis. Kami bersikap layaknya kami yang biasa, hanya saja kini dengan embel-embel “kekasih”.

Yah…, aku hanya akan mengambil sisi positifnya saja dari perintah sajangnim. Kuharap liburan ke Swiss bukanlah satu-satunya yang akan “membuatku tidak menyesal”. Kuharap sajangnim memberikan kami liburan ke berbagai tempat lain juga. Dan…tentu saja aku penasaran dengan apa yang sajangnim maksudkan waktu itu. Aku ingin tahu apa yang sajangnim ketahui tapi tidak kuketahui. Ah, pria tua itu memang sangat pandai bernegosiasi!

========= End of Krystal PoV =======

 

 

====== Kai / Kim Jong In PoV ========

“Bagaimana kalau aku memang sudah jatuh cinta padamu semenjak menjadi trainee dulu, tapi lebih memilih untuk memendam perasaanku padamu, dan memilih untuk menjadi sahabat baikmu agar bisa selalu berada di dekatmu? Kemudian pada akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaanku padamu awal musim semi ini, dan… ternyata kau pun menyukaiku?”

Aku membaca ulang percakapanku dengan Soo Jung di line tadi malam, lalu menghela napas berat. Seandainya saja aku seberuntung itu!

Sayangnya…kenyataan tidaklah demikian. Aku memang menyatakan perasaanku pada Soo Jung awal musim semi ini, lewat tulisan di laptopku, tanpa pernah mengirimkannya pada Soo Jung. Jenius! Kau benar-benar seorang gentleman, Kim Jong In! Rasanya aku ingin memukul diriku sendiri sampai babak belur!

Pengecut. Penakut. Itulah dirku.

Aku tahu, Soo Jung sejak dulu hanya menganggapku sahabat baiknya. Oh, aku juga tahu…sejak dulu Soo Jung hanya menyukai Taemin hyung, sahabat baikku. Sejak dulu kami bertiga bersabahat, tak terpisahkan, tapi juga sama-sama tidak peka. Taemin hyung tidak pernah peka dengan perasaan Soo Jung, dan Soo Jung pun tidak pernah peka dengan perasaanku.

Aku bahagia, tentu saja. Bagaimana tidak? Bisa selau bersama dengan satu-satunya gadis yang kusukai hampir selama 10 tahun ini, mana mungkin aku tidak bahagia?!

Tapi aku hanyalah manusia biasa. Aku ingin lebih. Dan aku tidak percaya…aku bisa seberuntung ini.

Kemarin sore, Lee Soo Man sajangnim memanggilku ke ruangannya.

 

*flashback*

Mulanya aku tidak percaya dengan apa yang Lee Soo Man katakan. Soo Jung? Menyetujui ide gila ini? Kenapa? Tapi saat itu Lee Soo Man sajangnim hanya terkekeh dan menatapku seolah ia bisa membaca isi hatiku. “Buatlah Soo Jung sadar…, bahwa kau adalah satu-satunya pria yang tepat untuknya, Jong In.”

“Kenapa Anda….”

“Oh, tentu saja aku tahu. Dan…, kau pasti tidak mempercayaiku, tapi percayalah…aku menyayangi Soo Jung layaknya anakku sendiri. Aku ingin ia bahagia. Aku memberimu kesempatan langka ini, Jong In. Berusahalah sebaik mungkin. Tapi kalau kau mengacaukannya, apalagi menyakiti Soo Jung, kau tahu kan kalau aku tidak akan tinggal diam?”

Aku menelan air liurku. Merasa terintimidasi dengan tatapan dan kata-kata sajangnim barusan.

Tapi detik berikutnya, aku menatap pria berambut perak itu dengan berani. “Kau bisa mempercayaiku, sajangnim.” Kataku dengan tegas. Aku mempertahankan ekspresi datarku yang biasa, tapi dalam hati aku melompat-lompat dan berteriak-teriak seperti orang gila!

*end of flashback*

 

Mungkin aku memang beruntung. Tapi mungkin juga tidak. Bagaimana aku bisa menyadarkan Soo Jung? Bagaimana aku bisa memberitahunya kalau aku memang benar-benar menyukainya sejak dulu?

Aku akan menonjok siapapun yang berkata, “Ya tinggal bilang saja!”

Tidak se-simpel itu, man! Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Persahabatanku dengan Soo Jung adalah salah satunya, dan merupakan hal yang paling penting!

Aku akan menjadi orang yang paling beruntung di seluruh dunia, jika setelah atau bahkan selama stunt ini berlangsung… Soo Jung balas menyukaiku! Tapi aku akan menjadi orang paling malang di sleuruh dunia, jika Soo Jung menjauhiku!

Terserahlah kalian mau berkata aku terlalu banyak berpikiran jauh atau apa! Tapi satu hal yang pasti… aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang!

Tidak. Aku tidak berjuang demi mendapatkan hati Soo Joong apalagi menggenggamnya. Hatinya adalah miliknya sendiri. Ia tidak perlu memberikan hatinya padaku atau pada siapapun. Aku berjuang untuk membuatnya bahagia karenaku. Aku ingin ia menyadari…bahwa di dunia ini ia bisa mengandalkanku. Aku ingin agar hatinya tergerak untuk mencintaiku. Aku ingin agar hatinya memeluk erat-erat hatiku, sebagaimana yang kulakukan selama 10 tahun ini.

Fools for love. Mungkin. Ya, tepat. Akulah si bodoh itu.

Hey, waktuku tak banyak. Aku akan benar-benar membuat “KaiStal” menjadi nyata.

~~ TBC ~~

 

 

A/N : Hidup Kaistal!❤

Masih nggak percaya salah satu ship gw menjadi nyata! Wkwkwkwk😀❤

Ingat yaaa, ini hanya fanfiction. Aslinya? Yaaa siapa yang tahu. Tapi yang pasti, sebagai fans, gw seneng banget saat tahu Kai & Krystal pacaran!

Oh ya, FF ini mungkin bakalan jadi 3 chapter aja. Mungkin yaa. Tolong kasih masukan / saran tentang FF ini. Wkwkwk😀

Nulis ini cuma buat have fun aja kok, selain menyalurkan hobi nulis dan hobi ngekhayal.😀

KaiStal aslinya pasti lebih romantis dari cerita ini lah…❤

Btw, sorry kalau ada typo, belum di baca ulang.😀

~Azumi ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Fools For Love (Chapter 1)

  1. HIYAAAAAA>> DUH DUH DUH DUH.. kaaaak… ini fresh from the oven beneran…. wkwkwkwkwkwk… kaistal ngambang dimana-mana … wkwkwkwkwkwk
    gini nih rasanya yang diship jadi beneran.. wkwkwkwk… semoga bukan pengalihan isu misil dari korut. wkwkwkwk soalnya 1 april kemaren ada berita itu.. kan pas banget sama kaistal :v jangan deh ya jangan :3
    Taemin jangan ganggu loh ya pokoknya ><

  2. wkwkkwk ntah knapa tapi aku memang lebih setuju kaistal drpada minstal *dilemparsoojung

    lanjutt mii!! hahahha mogaa soojung bisa balik suka ama kai, tenang hanhee mah gw jodohin ama jooheon ajah, diabetes dah yg ngeliatnya krna trlalu bnyak aegyo (?’)

    itu YG scandal macam apa pula ㅠ.ㅠ huhahu moga bukan ttg winner *iya kali emang bakal d bahas

    next yap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s