[oneshot] Steal Your Heart

Title                     : Steal Your Heart

Author                 : Azumi Aozora

Main Cast            : Oh Sera (OC), Chae Hyung Won (Monsta X)

Support Cast       : Oh Sehun (EXO)

Genre                   : romance, fluff, friendship, family, AU

Rating                  : PG+13

Length                 : Oneshot

poster steal your heart fix.jpg

“Kenapa perempuan senang sekali bermain push and pull, tarik-ulur, dalam sebuah hubungan?” Di malam terakhir liburan semester yang tenang, kembaranku, Sehun, tiba-tiba saja duduk di sofa di sampingku. Tadinya aku akan menertawakannya, tapi tidak jadi begitu melihat raut wajahnya yang serius.

Aku mengangkat sebelah alis mataku, lalu mengecilkan volume TV, padahal saat ini Harry Potter seri terakhir sedang ditayangkan ulang di salah satu stasiun TV. Aku tidak pernah bosan menonton Harry Potter meskipun  tak terhitung lagi sudah berapa kali aku menontonnya.

“Kenapa? Kau merasa frustrasi dengan sikap pacarmu? Kau lebih senang hubungan yang datar-datar saja?”

Sehun mengerang. “Ugh! Aku tidak pernah memahami perempuan!”

Aku menggeleng. “Kalian berpikir kami memahami kalian, tapi sebenarnya kami pun tidak. Tapi satu hal yang kami ketahui dengan pasti… jangan terlalu mempercayai laki-laki. Meskipun seorang perempuan sangat mencintai kekasihnya, ia tidak akan selalu membuat kekasihnya itu yakin bahwa ia mencintai kekasihnya itu dengan sepenuh hati dan tidak akan pernah kehilangannya. Kenapa? Karena…, akui sajalah, sikap laki-laki berubah di saat kalian masih berada pada tahap ‘mengejar’ dengan ketika kalian sudah berada pada tahap ‘mendapatkan’.”

“Sikapku tetap sama!”

“Benarkah?” Aku menatap Sehun tak yakin. “Kapan terakhir kali kau memberikan kejutan pada pacarmu? Bukankah saat masa-masa pendekatan dulu kau selalu memberinya kejutan setiap hari? Kapan terakhir kali kau benar-benar hanya menatapnya tanpa melakukan kegiatan lain? Kapan terakhir kalinya kau menunjukkan padanya kalau kau mencintainya?”

Kedua mata Sehun membelalak lebar. “Laki-laki tidak selalu mengatakan ataupun menunjukkan perasaan kami, tapi bukan berarti perasaan kami berubah!”

Aku mengangkat kedua tanganku, mencoba menenangkannya. “Ya, aku tahu. Hanya saja… begitulah perbedaan laki-laki dan perempuan. Kau mengerti?”

Sehun mendengus. “Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti!” Sehun menjambak-jambak rambutnya kesal, kemudian berdiri dan berjalan pergi.

Aku tertawa. “Well, kalau begitu, semoga beruntung! Jangan menangis di hadapanku bila hubunganmu kali ini tidak berjalan dengan baik!” Teriakku ke punggung Sehun.

Aku menghela napas panjang. Sehun selalu meminta pendapatku mengenai hubungan asmara nya, tapi sebenarnya aku pun tidak memiliki lebih banyak pengalaman darinya. Aku hanya… pandai berkata-kata.

Jujur saja, Sehun memiliki lebih banyak mantan pacar dibandingkan aku. Selama 21 tahun kehidupanku, aku hanya pernah berpacaran 2 kali, dan itu pun kuanggap sebagai “cinta monyet”. Kurasa aku belum pernah benar-benar jatuh cinta, maksudku jatuh cinta sungguhan. Tapi lagi-lagi aku sering mempertanyakan mengenai cinta sejati. Memangnya ada? Ataukah yang ada hanyalah dua orang yang sama-sama mau berjuang mempertahankan cinta mereka sampai akhir?

Tentu, aku suka menonton drama romantis dan membaca novel-novel romantis, tapi hal itu tidak lantas membuatku percaya bahwa di dunia ini ada yang namanya “cinta sejati”, cinta yang sudah ditakdirkan bagi pasangan, yang menjamin bahwa mereka akan selalu saling mencintai dalam kondisi apapun. Benarkah? Benarkah cinta selamanya tidak akan pernah berubah? Masalah pasti akan selalu ada. Apakah yang membuat pasangan tetap bertahan sampai puluhan tahun lamanya bahkan sampai hanya ajal yang memisahkan mereka adalah hanya karena “cinta”? Ataukah karena “kemauan” mereka untuk tetap bersama? Karena “perjuangan” mereka untuk tetap bersama?

Aku termasuk orang yang percaya bahwa cinta – sama seperti keimanan – tidak selalu memiliki kadar yang tetap, akan tetapi naik turun. Masalah akan banyak timbul ketika kau berada di titik terendah, dan tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan hubunganmu. Jadi, aku tidak mencari seseorang yang berkata bahwa ia mencintaiku dengan sangat, atau ia mencintaiku dengan segenap hatinya. Oh, tentu, wanita mana yang tidak ingin mendengar kata-kata itu?! Tapi yang lebih penting di dalam diri seorang pria adalah kemauannya, tekadnya, dan perjuangannya dalam mempertahankan cintanya.

❤❤❤❤❤

 

Munafik kalau aku berkata tidak senang mendapatkan perhatian dari Chae Hyung Won, salah satu pria populer di kampusku. Tapi se-senang apapun, aku tidak lantas membiarkan diriku terhanyut ke dalam pesonanya karena aku tahu tipe pria seperti Chae Hyung Won akan membuatku merasa tidak aman. Pria yang memiliki wajah sangat tampan, dengan postur tubuh layaknya model seperti dirinya akan membuatku selalu bertanya-tanya apakah ia tidak hanya bersikap manis padaku tapi juga pada wanita-wanita lain? Apakah ia berselingkuh? Apakah ia sudah tidak mencintaiku lagi? Aku tidak ingin berakhir menjadi wanita yang seperti itu!

Aku tidak ingin “kepercayaan” menjadi inti masalah dalam hubunganku. Oh, tentu saja, seperti yang sudah kukatakan, masalah pasti akan selalu ada. Hanya saja, kalau boleh memilih… aku tidak ingin mengalami masalah kepercayaan. Karena menurutku, kepercayaan adalah kunci utama dalam suatu hubungan. Aku yakin, banyak wanita di luar sana yang setuju denganku.

Aku tahu, aku tidak sempurna. Mungkin aku berkata demikian karena aku tidak terlalu percaya diri? Ya, benar. Aku sadar diri. Aku bukanlah wanita paling cantik di seluruh jagad raya ini, atau bahkan di kampus ini. Karena itulah aku tidak yakin di saat pria yang paling populer di kampus berkata bahwa ia mencintaiku.

Aku tahu, cinta tidak hanya memandang “tampang”, tapi jangan munafik dengan berkata bahwa saat kau memilih pasangan… kau sama sekali tidak memedulikan penampilan. Bukan berarti harus memilih yang tampan, tapi yang menurutmu menarik, yang kau sukai, sesuai seleramu.

Kalau aku menerima Chae Hyung Won, itu hanyalah karena “tampang” nya. Dan aku menduga ia memilihku bukan hanya karena “tampang” ku. Kalau ia hanya mementingkan penampilan, ia tidak akan memilihku.

Inilah masalahnya. Aku tidak ingin menjalin suatu hubungan yang diawali dengan ketidakpercayaan dan ketidakpercayadirian seperti ini. Apa gunanya mengawali suatu hubungan yang kau tahu lambat laun akan berakhir?!

Aku belum mengenal Chae Hyung Won dengan baik. Aku tidak tahu apakah ia memiliki kualitas yang sudah kusebutkan atau tidak. Apakah ia termasuk pria yang mau berusaha mempertahankan perasaannya tak peduli sebanyak apapun masalah yang kami lalui? Ataukah ia tipe pria yang akan lari dari masalah dan kemudian mengakhiri hubungan kami?

“Kau terlalu banyak berpikir, Sera.” Sehun menatapku lekat-lekat.

Aku menghela napas. “Aku tahu. Itulah salah satu kelemahanku.”

“Hey! Come on! Kau kembaranku! Lihatlah aku! Kau versi perempuan dariku!” Sehun menyeringai.

Aku memukul lengan kembaranku itu dengan keras. “Aku merasa terhina!”

“Oww…, kau melukai hatiku.” Sehun memegang dadanya, pura-pura merasa kesakitan.

Aku terkekeh. Senang karena Sehun menghiburku. Meskipun kami kembar, kami memiliki banyak sekali perbedaan, terutama dalam hal sifat. Sehun lebih terbuka dariku. Ia juga tidak terlalu memikirkan banyak hal sampai jauh ke depan. Mungkin benar, aku memang harus mencoba rileks.

“Aku tahu kau ingin menjalin hubungan yang awet, Sera. Tapi… hey! Bagaimana kau bisa tahu kalau Hyung Won hyung bukanlah orang yang kau maksud tanpa pernah kau mencobanya memberikan kesempatan padanya?!”

Sehun masih terus membujukku. Beginilah kami. Terkadang situasi kami terbalik. Minggu lalu, Sehun lah yang kunasehati, tapi sekarang giliranku yang dinasehati olehnya.

“Kau berkata begitu bukan hanya karena Hyung Won adalah teman baikmu kan?”

“Ugh! Kau terlalu curigaan!” Sehun menyentil dahiku. “Kau selalu berkata kepercayaan itu penting, tapi kau sendiri memliki trust issue.”

Kata-kata Sehun tepat menohok di hatiku. Tapi memang inilah yang kubutuhkan. Orang yang jujur dalam memandangku.

“Dan justru karena Hyung Won hyung adalah teman baikku, maka aku menjamin… dia tidak seburuk yang kau pikirkan. Belajarlah percaya pada dirimu sendiri, Sera. Dan cobalah untuk memberikan kesempatan pada Hyung Won hyung. Kalau memang ternyata tidak berhasil…, kalau ternyata dia memang bukanlah the one untukmu, ya sudah. Di dalam hidup ini, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang instan, Sera. Kalau kali ini tidak berhasil, mungkin lain kali akan berhasil. Tapi jangan menjadi orang yang bodoh karena menyia-nyiakan kesempatan!”

Aku tertawa pelan. “Wow, aku tidak menyangka ternyata kau se-bijak ini, Hunnie.” Aku mencubit kedua pipinya dengan gemas.

Sehun menatapku dengan kesal. “Jangan mentang-mentang kau lahir beberapa menit lebih dulu dariku…lantas kau seenaknya mengganggapku adikmu! No way! I’m your Oppa! Don’t call me Hunnie!”

Aku tertawa terbahak-bahak. Dasar Sehun! “Ayo! Kutraktir bubble tea. Dan kau bisa bilang pada teman baikmu yang bernama Chae Hyung Won itu, kalau ia mau bergabung… datang saja. Tapi aku tidak akan mentraktirnya!”

“Aaaawww…, my Rara is so cute! Come on!” Sehun melingkarkan sebelah lengannya di pundakku, dan kami pun berjalan bersama menuju kedai bubble tea.

Begitulah, mulai saat itu, aku memberikan Chae Hyung Won kesempatan. Untuk kali ini, aku akan menuruti Sehun. Aku tidak akan terlalu banyak berpikir. Biarkan semuanya mengalir, tapi tentu saja… alirannya harus tepat.

❤❤❤❤❤

 

 

Sudah 11 bulan Hyung Won dan aku bersama. Hubungan kami memang tidak selalu berjalan mulus. Tapi sejauh ini, aku senang karena Hyung Won mau berusaha untuk mempertahankan hubungan kami.

Hyung Won tipe pria yang romantis, sementara aku – dengan “trust issue” ku terkadang berpikir bahwa Hyung Won memberiku hadiah dan kejutan sebagai penebus kesalahan yang ia lakukan di belakangku. Ya, awalnya begitu, tapi tidak lagi. Aku berusaha untuk berubah, karena bagaimana bisa keinginanku untuk memiliki hubungan yang awet terpenuhi bila aku sendiri masih bersikap seperti itu. Masalahnya bukan terletak pada Hyung Won, tapi pada “cara pandangku” terhadap Hyung Won. Aku sering berpikiran tidak rasional.

Aku dan Hyung Won sudah sepakat bahwa setiap bulan, selama 5 hari, kami tidak akan saling menghubungi. Dengan begitu, kami akan merasakan bagaimana rasanya benar-benar merindukan dan dirindukan. Selain itu, menurutku… terkadang adanya “jarak” di antara pasangan sangat diperlukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang egois, dan kadang memerlukan waktu hanya untuk dirinya sendiri, hanya memikirkan dirinya sendiri. Bukan berarti aku merasa terbebani dengan selalu memikirkan Hyung Won. Tidak. Tapi ini adalah salah satu cara yang kami lakukan untuk tetap “menjaga” perasaan kami. Karena banyak pasangan lain yang putus karena merasa tidak ada lagi rasa “excited” dalam hubungan mereka. Dengan tidak saling bertemu dan menelepon / chatting selama 5 hari berturut-turut itulah aku dan Hyung Won berharap ketika kami bertemu lagi… perasaan “excited” itu masih tetap ada. Intinya, kami berusaha agar hubungan kami tidak membosankan, dan kami tidak merasa jenuh karenanya.

Hari ini adalah “hari itu”, hari di mana aku akan bertemu lagi dengan Hyung Won setelah selama 5 hari tidak saling bertemu dan tidak saling mengirimi pesan ataupun menelepon. Ketika bel berbunyi, cepat-cepat aku membereskan buku ku dan berjalan cepat ke luar kelas.

Seorang pria tinggi berambut pirang berdiri memunggungi kelas ku. Ia terlihat melamun, menatap lapangan basket di bawah sana. Kelas ku berada di lantai 3. Untuk sesaat, aku mengamati sosoknya dari belakang. Bahu pria itu tidak terlalu tegak, pastilah ada yang sedang ia pikirkan. Kakinya yang jenjang terbalut jeans hitam ketat, membuatnya jadi terlihat lebih tinggi.

Stop checking me out!” Pria itu membalikkan badannya dan menyeringai lebar.

Aku tertawa dan langsung berlari menghampirinya, memeluknya dengan erat. Hyung Won membalas pelukanku lebih erat lagi. “Kurasa kita sebaiknya tidak bertemu selama 7 hari. Hmm? Bagaimana?” usulku.

“Ugh! Apakah kau berniat untuk membunuhku pelan-pelan, Oh Sera? Lima hari saja rasanya seperti se-abad lamanya!”

Aku hanya tertawa mendengar keluhannya. Hatiku diliputi perasaan hangat. Aku benar-benar beruntung.

“Hey! Mau main basket?” Aku melepaskan pelukanku, nyengir lebar.

Hyung Won mengangkat sebelah alis matanya. “Kupikir kau akan mengajakku nonton. Bukannya hari ini premiere salah satu film yang kau tunggu?”

“Wow! Kau ingat?”

Hyung Won memutar kedua bola matanya. “Masih saja merasa terkejut. Aku selalu ingat apapun tentangmu.”

“Ugh! Untung saja aku sudah kebal dengan ke-cheesy-an mu, Hyung Won!”

Hyung Won terkekeh. Aku melingkarkan lenganku di lengannya. “Ayo! Aku tahu kau sangat ingin main basket. Mau kupanggilkan Sehun atau… kau mau bermain denganku?”

“Aku ingin melawanmu dan Sehun.”

“Geeezzz, kau dan rasa percaya dirimu! Hey, jangan lupa, aku pernah mengalahkanmu! Dan permainan Sehun sudah semakin baik.”

Hyung Won mengusap-usap puncak kepalaku. “Mantan kapten tim basket putri sepertinya sudah berusaha keras mengajari kembarannya men-dribble bola.”

Aku menyikut rusuknya pelan. “Sehun akan menangis kalau mendengar apa yang kau katakan.” Kami tertawa. Telinga Sehun pasti panas.

“Ajak Sehun bermain basket bersama kita, tapi… jangan ajak dia nonton di bioskop.”

“Kenapa? Dia juga bisa mengajak pacarnya. Double date!” Aku bertepuk tangan riang.

Hyung Won menghembuskan napas panjang, lalu menggeleng. “Jangan. Tidakkah kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu dan ingin menghabiskan waktuku berdua saja denganmu. Tidakkah kau muak melihat wajah Sehun terus di rumah, bahkan di kampus juga?”

Aku tertawa keras. “Eeeyy…, so possessive! Alright then! Kalau begitu, kita main basket pun berdua saja. Satu lawan satu. Aku tidak akan kalah darimu, Chae Hyung Won!”

Hyung Won tersenyum lebar. Aku selalu suka melihatnya tersenyum. Raut wajahnya yang dingin berubah 180 derajat ketika ia tersenyum. “Aku juga tidak akan kalah! Kalau aku menang…, kau harus memanggilku Oppa.”

“Oh, ayolaaah, kau hanya 5 bulan lebih tua dariku!”

“Hmm.” Hyung Won menggeleng. Ekspresi wajahnya terlihat lucu. “Tetap saja. Lagipula aku kakak tingkat mu di kampus ini.”

“Ugh! Kenapa kau merasa bangga karena lebih tua dariku?!”

Hyung Won terkekeh. “Tentu saja. Karena aku tahu kau tidak suka pria yang lebih muda darimu.”

Aku mendelik. “Oh ya? Siapa bilang?”

“Sehun.”

Aku mendengus. “Kembaranku itu terlalu memberimu banyak info!”

“Hahaha, dia sama keras kepalanya denganmu. Kau tidak tahu betapa susahnya mendapatkan informasi darinya. Permintaannya banyak sekali!”

“Wow! Jangan bilang dia selalu minta traktiran bubble tea! Dan juga pizza!”

Hyung Won mengangkat bahunya. “You know him too well. Tapi semuanya worth it.”

“Kenapa? Kenapa kau selalu berusaha terlalu keras, Chae Hyung Won?” Aku menatapnya dengan sorot mata jahil, tapi sebenarnya aku memang ingin tahu.

To steal your heart.” Hyung Won membalas tatapan jahilku dengan seulas senyum menggoda.

Aku terbahak-bahak. “Eeeeyyy, my heart will not be stolen that easily.”

Hyung Won menggeleng. “It has been stolen.”

Oh, really?”

Hyung Won terkekeh. “Not really, but it will, soon.”

No. Never!” Aku menjulurkan lidahku padanya.

Yeah, never. Tapi ketika aku menikahimu nanti, you will. Kau tidak akan pernah bisa melepaskan dirimu dariku selamanya, Oh Sera.”

Aku tertawa lagi. “Ya ampun, Hyung Won! Kau dan ke-cheesy-an mu tidak bisa dipisahkan walau hanya sedetik saja.”

Begitu kami tiba di lapangan basket dengan bola basket yang kami pinjam dari klub basket, tiba-tiba saja hujan turun. “Ugh! Hujan!” Keluhku. Aku mengira Hyung Won pun akan kecewa, tapi ia hanya mengangkat kedua bahunya dan berkata, “Tidak masalah. Aku masih bisa menghabiskan waktuku bersamamu.” Hyung Won menatapku jahil. Kemudian ia meraih tanganku dan menggenggamnya. “Come on! Aku akan membuatmu hangat.” Lagi-lagi ia menatapku dengan jahil sambil menyeringai lebar.

Mulutku membuka lebar. Hyung Won menjitak kepalaku. “Stop thinking about something erotic! Aku akan membuatmu hangat dengan makan ramen. Hahahahaha…”

Ugh! Such a tease! FYI, aku tidak berpikiran yang aneh-aneh!”

Hyung Won tidak percaya, ia hanya tertawa terbahak-bahak. Sudahkah aku berkata kalau aku sangat beruntung? Oke, harus kukatakan lagi kalau begitu, aku benar-benar beruntung karena Chae Hyung Won membuatku bahagia, bahkan hanya dengan “kehadirannya” sekalipun.

Tentu, Hyung Won sudah berhasil mencuri hatiku, tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengatakan hal itu padanya. Bukan karena aku takut kehilangannya, bukan pula karena aku sok jual mahal, tapi memang beginilah aku, ego ku terlalu tinggi, dan Hyung Won tahu serta mengerti hal itu.

Kisah kami masih panjang, jalanan yang harus kami lalui akan selalu berliku, tapi satu hal yang pasti… kami akan selalu berpegangan tangan dengan erat dan berjalan bersama, melalui semuanya bersama, berusaha bersama. Karena di dunia ini sesuatu yang instant akan berakhir instant juga, dan sesuatu yang diperjuangkan bersama-sama dengan gigih pastilah akan membuahkan hasil yang sesuai.

Live happily ever after tidak terjadi begitu saja seperti sihir, dan dunia nyata tidaklah seindah dunia khayalan. Se-cinta apapun kau pada pasanganmu, kau tidak akan selalu bahagia karena nya, tapi kau bisa selalu bersyukur karena kehadirannya.

Aku dan Hyung Won bertekad untuk melalui kehidupan ini bersama, menghadapi rintangan bersama. Kurasa itu sudah cukup. Aku bersama dengan pria yang tepat. Pria yang mau berusaha mempertahankan hubungan kami, cinta kami, dalam situasi apapun.

 

~ The End ~

 

A/N : Semoga cerita ini bukan hanya menghibur, tapi bisa membuat kalian mengambil banyak pelajaran / makna.❤❤❤

 

Xoxo,

Azumi.

 

Chae Hyung Won :

upload hyungwon 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “[oneshot] Steal Your Heart

  1. Hyaaaaaaaaa
    Hyung Won imut banget eonn
    Dia bias kedua setelah Minhyuk,,
    Ini ff bener-bener maaniiiisss banget, rasanya kya nonton drama pas bagian seneng-senengnya.

  2. satu kata buat fic ini…KEREN!!
    oh iya, halo aku Chan, 98liner, salam kenal😄
    fic ini meaningfull banget loh, ngasih pelajaran tentang gimana kepercayaan dalam suatu hubungan/bijak mode on/
    feelnya juga dapet banget, bahkan buat aku yang bahkan belum ngerti gimana rasanya menjalin hubungan

    sekian komenku, maafkan atas komenku yang over panjang dan lebe ini..yah soalnya fic ini udah keren banget, dan aku bingung mau komen apa, jadinya yah ini, komen lebe nan absurd.-.
    keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s