Powerless (Chapter 7)

Title                     : Powerless

Author                 : Azumi Aozora

Main Cast            : Kim Mi Rae (OC), Zelo (B.A.P), Lee Hong Bin (VIXX), Kai (EXO)

Support Cast       : VIXX, B.A.P, EXO, f(x), Ahn Jae Hyun, Lee Soo Hyuk, Lee Jong Suk, Kim Woo Bin, and some model-actors as cameo

Genre                   : fantasy, romance, friendship, AU, school life, adventure

Rating                  : PG+15

Length                 : Series

Summary             : ROVIX Senior High School bukanlah sekolah biasa, melainkan sekolah special untuk orang-orang yang memiliki kekuatan super. Terletak di Planet Mato yang berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi, ROVIX School memiliki banyak sekali murid dari berbagai planet di seluruh jagad raya. Apa yang akan terjadi jika suatu hari, Kim Mi Rae, gadis bumi biasa, manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan super apapun, tiba-tiba saja mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di ROVIX School? Sanggupkah ia bertahan? Apa yang akan ia lakukan di saat semua murid membencinya dan melakukan berbagai cara agar ia dikeluarkan dari sekolah? Rahasia masa lalu apa yang membawanya ke tengah pertempuran dan peperangan antar planet?

Disclaimer  : Cerita ini hanya fan-fiksi. Tokoh-tokohnya K-Pop, karakternya ada yang sesuai asli ada juga yang tidak. Ide dan alur cerita milik author, dilarang copas / plagiat! Ingat, karma itu berlaku. Just enjoy the story as fans. ^_^.❤

poster powerless

Pengenalan ROVIX School || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6  

~~~ Chapter 7  ~~~

 

============ Kim Mi Rae PoV =============

Zelo masih hidup. Meskipun semua orang berkata Zelo sudah meninggal, aku tahu Zelo masih hidup! Rasanya tidak masuk akal! Aku mengenal Zelo dengan baik. Zelo tidak akan mati begitu saja hanya karena kecelakaan mobil!

Aku mengusap air yang menggenang di sudut-sudut mataku, menarik lututku semakin mendekati dada, bergelung di atas tempat tidurku yang terasa dingin. Hongbin terus mengawasiku dengan saksama, seolah-olah aku akan melakukan hal-hal gila yang membahayakan nyawaku sendiri.

“Bisakah kau meninggalkanku sendiri?” Gumamku dengan suara parau.

Hongbin menatapku lekat-lekat, lalu menggeleng. Aku menghela napas lelah, kemudian membalikkan badanku, memunggungi Hongbin. Semua orang sekarang pasti sedang menghadiri upacara pemakaman Zelo di aula. Dokter Daehyun bilang, Zelo sudah dimakamkan tadi siang, secara tertutup oleh keluarganya. Upacara malam ini hanyalah sebagai bentuk bela sungkawa dari sekolah, dan sebuah ritual yang dilakukan agar jiwa Zelo tenang di alam sana.

Aku tidak percaya Zelo meninggal, lantas mengapa aku harus menghadiri upacara itu?! Air mataku semakin deras mengalir. Padahal aku sudah menangis seharian, tapi kenapa air mataku tak juga mengering?!

Jemari tanganku meremas baju yang kukenakan, tepat di bagian jantungku. Rasanya sangat sakit. Jantungku, hatiku, otakku, tubuhku, jiwaku, semuanya terasa sakit!

“Mirae, Zelo pasti ingin kau berdoa untuknya.” Bisik Hongbin pelan.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat sambil memejamkan mata. Air mataku masih bercucuran. “Zelo belum mati.”

“Kau hanya sedang berada pada tahap denial.”

“TIDAK!” Sentakku dengan kasar. Kini aku terduduk di atas tempat tidurku dan menatap Hongbin dengan tajam. Hongbin balas menatapku dengan jenis tatapan yang membuatku jengah. Aku memalingkan wajahku. Aku tidak ingin dikasihani!

“Aku ingin bertemu Professor YoungJae.” Lirihku.

“Aku sudah meminta kakekku agar segera memberitahuku bila ia tahu di mana Professor YoungJae berada.”

“Professor Hakyeon tidak akan memberitahumu. Dia bahkan mungkin tidak tahu di mana Youngjae berada. Ada yang aneh. Aku tahu ada sesuatu yang aneh. Aku akan menemui Dokter Daehyun!” Aku langsung turun dari atas tempat tidurku, menyambar mantel cokelat tebalku, dan segera berlari menuju pintu kamar, tapi Hongbin menahan pergelangan tanganku.

“Dokter Daehyun pasti sedang mengikuti upacara.”

Kata-kata Hongbin membuatku terdiam. Benar. Aku tidak ingin menghadiri upacara itu, karena dengan menghadirinya berarti mengakui bahwa Zelo memang telah tiada.

Aku menggigit bibir bawahku. “Aku akan menunggu di ruangan dokter Daehyun.”

Aku pun membuka pintu dan segera berlari menerobos malam. Hongbin mengikutiku. Diam-diam aku merasa lega karena dia mengikutiku. Suasana sekolah malam ini terlalu mencekam.

Aku merapatkan mantelku, lalu mengusap-usap kedua lenganku. Apakah hanya perasaanku saja atau cuaca malam ini berubah jadi sangat dingin dengan ekstrim dibanding malam sebelumnya?

“Mirae, perasaanku tidak enak.” Gumam Hongbin. Kini ia tidak berjalan di belakangku tapi tepat di sampingku.

Seandainya saja malam ini se-normal malam-malam sebelumnya, tanpa kabar buruk, maka pastilah aku sudah meledek Hongbin dengan berkata ‘Oh, kupikir kau tidak punya perasaan?’ tapi kini aku hanya menatap Hongbin dengan cemas.

“Ada yang membuat cuaca menjadi sangat dingin. Aku sudah lama tinggal di sekolah ini, di planet ini, dan cuaca di planet ini tidak akan berubah secara ekstrim hanya dalam hitungan jam.” Nada suara Hongbin terdengar waspada. Matanya yang tajam menatap ke sekeliling kami dengan cepat, lalu tanpa kuduga… Hongbin meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat, lalu ia pun menuntunku berjalan dengan kekuatan speed nya. Dalam hitungan detik, kami pun sampai di depan klinik dokter Daehyun.

“Semuanya pasti berkaitan.” Gumamku pelan. Hongbin menatapku, aku pun melanjutkan kata-kataku, hanya berupa bisikan, seolah takut ada seseorang yang mencuri dengar percakapan kami. “Naga itu. Kecelakaan Kai. Menghilangnya Zelo. Lalu…lalu…” Aku berhenti, tidak melanjutkan kata-kataku.

Hongbin menggeleng. “Entahlah, Mirae…”

“Professor Youngjae pergi bersama Zelo! Mungkin Zelo berada dalam bahaya, mungkin Professor Youngjae berusaha melindunginya, memalsukan kematiannya, dan…”

“Mirae~yah…” Lirih Hongbin dengan nada sedih.

Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Tidak ada gunanya berspekulasi. Aku harus mencari bukti!

“Hongbin? Mirae?” Suara Dokter Daehyun langsung membuat punggungku tegap kembali.

“Dokter!” Aku langsung menghampirinya. “Dokter, beritahu aku yang sebenarnya! Di mana Zelo? Di mana Professor Youngjae?”

Pupil mata Daehyun melebar, meski hanya sedetik, tapi aku melihat perubahan itu, sebelum pada akhirnya dia menatapku dengan sorot mata sedih. “Aku tidak tahu di mana Professor Youngjae berada. Dan Zelo…, dia sudah meninggal, Mirae~yah.” Dokter Daehyun berusaha menyentuh pundakku, tapi aku menepis lengannya. Entah mengapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.

“Beritahu aku di mana alamat rumah Zelo.”

“Mirae…”

“Aku akan bertanya langsung pada orangtua Zelo.”

“Mereka sedang berduka, Mirae~yah…”

“Atau beritahu aku di mana rumah sakit kakak Anda, Dokter! Kau bilang rumah sakitnya yang mengidentifikasi tubuh itu! Itu pasti bukan Zelo! Dokter! Bawa aku menemui kakak Anda!”

“Mirae~yah…” Kali ini giliran Hongbin yang berbicara.

“Dokter!” Aku mengguncang-gungcang lengan Prof.Daehyun. Prof.Daehyun hanya menatapku dengan sorot mata yang tidak kumengerti apa maksudnya. “Dokter! Kumohon…, katakan padaku kalau Zelo masih hidup!”

“Mirae…” Hongbin merangkulku dari belakang dan menjauhkanku dari Daehyun.

“Maafkan kami, Dokter.” Hongbin menganggukkan kepalanya pada Daehyun.

Aku meronta, berusaha melepaskan tubuhku dari cengkraman Hongbin.

Daehyun menatapku datar, “Beristirahatlah, Mirae.” Kemudian dia pun masuk ke dalam ruangannya dan menguncinya. Dia mengusirku secara halus!

“Dokter! Dokter Daehyun!” Aku menggedor-gedor pintu ruangannya.

“Mirae…” Hongbin menahan tanganku, lalu menggeleng.

“Dia berbohong! Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu!”

“Aku tahu.” Gumam Hongbin.

Mataku membelalak lebar. “Kau…”

“Ayo! Sebaiknya kita bertemu dengan kakakku.” Hongbin menarik tanganku, dan kami pun berlari dengan cepat menuju ruangan Professor Leo.

Sebelum Hongbin mengetuk pintu, Professor Leo sudah membukakan pintunya. Pastilah tadi Hongbin berkata melalui telepati padanya.

“Hyung, apakah kau merasakannya?” Tanya Hongbin langsung. “Malam ini…, bukankah terasa seperti malam itu?”

Rahang Professor Leo menegang. Cepat-cepat ia menutup pintu ruangannya dan menguncinya rapat-rapat. “Aku tidak mungkin melupakan rasa dingin itu, Hongbinnie. Dingin, hampa, gelap, hanya ada satu orang di jagad raya ini yang bisa menimbulkan efek seperti itu sekaligus, hanya karena keberadaannya. Dia ada di sini, orang itu.”

“Sial!” Umpat Hongbin. “Aku akan menemui kakek!”

Leo menahan lengan Hongbin, lalu menggeleng pelan. Aku menatap mereka berdua bergantian, tak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan.

“Siapa yang ada di sini? Professor Leo! Tolong baca pikiran Dokter Daehyun! Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu! Dia berbohong!”

Leo menggeleng. “Tidak semudah itu, Mirae~ya. Daehyun melindungi pikirannya.”

“Hyung, apakah ada kaitannya? Orang itu, naga itu, dan… Zelo?” Hongbin menatap kakaknya dengan penasaran. Mataku langsung terfokus padanya begitu ia menyebut nama Zelo.

Leo menggeleng lagi. Kemudian tubuhnya menegang. Kedua matanya terlihat kosong.

“Hyung!” Hongbin memanggilnya dengan cemas.

“Kakek baru saja mengirimiku telepati.” Professor Leo berkata datar, seperti robot. Tubuhnya masih tegang, kedua matanya masih terlihat tidak fokus. Hongbin mengepalkan kedua tangannya dengan erat, berusaha menunggu dengan sabar.

Beberapa menit kemudian, tatapan mata Professor Leo terfokus sepenuhnya pada Hongbin. “Kakek memberitahuku… orang itu ada di sini, di kantornya.”

Hongbin langsung berdiri.

“Duduklah. Dia baru saja pergi.”

Hongbin kembali duduk. Aku menatap mereka dengan tak sabar. “Orang itu? Siapa ‘orang itu’ yang kalian maksud?”

“Lee Hyun Jae. Pangeran ke-2 planet Crowns.” Ujar Hongbin dengan cepat padaku, lalu kembali menatap kakaknya. “Apa yang kakek katakan?”

“Lee Hyun Jae berkata… dia bertemu dengan Professor Young Jae di Crowns. Dia memperingatkan kakek….” Keningnya berkerut dalam-dalam. “Dia berkata bahwa Professor Youngjae merencanakan invasi, untuk menguasai Mato, dengan bantuan Lee Jongsuk. Professor Youngjae adalah mata-mata Crowns.”

Hongbin mendengus. “Omong kosong!”

Aku juga hendak mengatakan kalimat yang sama dengan Hongbin, tapi menutup mulutku kembali begitu melihat betapa seriusnya Professor Leo menatap kami saat ini. “Youngjae memiliki setengah darah Crowns dalam tubuhnya.”

“Hyung! Kau tidak memercayai kepala sekolah?!” Hongbin berseru dengan nada putus asa.

“Aku mempercayai kakek.”

“Dan apa kata kakek? Dia juga mencurigai kepala sekolah?”

Leo menggeleng. “Kakek tidak memberitahuku. Tapi dia memberitahuku bahwa tak lama lagi Lee Jong Suk akan datang ke planet ini. “Hongbin~ah, pulanglah ke Infinity. Kau tahu pangeran termuda Crowns itu adalah psikopat.” Nada suara Professor Leo berubah protektif.

Sorot mata Hongbin mengeras. “Aku bukan pengecut, hyung! Aku tidak akan melarikan diri! Aku akan tetap di sini. Kau akan memerlukanku dalam pertarungan, hyung.”

“Tidak akan ada pertarungan, Lee Hongbin!” Geram Professor Leo. Inilah pertama kalinya aku melihat Professor Leo menampakkan ekspresi seperti ini. Terlihat marah, kesal, khawatir, sekaligus putus asa. “Tidak selama aku berada di sini. Aku akan melindungi sekolah ini. Semua guru di sini akan melindungi sekolah ini.”

Hongbin mendengus. “Bagaimana kau yakin tidak ada pengkhianat di sekolah ini, hyung?”

“Maksudmu selain Youngjae?” Tukas Professor Leo dingin.

“Aku tidak percaya Professor Youngjae berkhianat! Dia bukan mata-mata! Tapi aku yakin ada mata-mata lain, entah siapa.”

Hongbin dan Professor Leo saling tatap dengan tajam. Aku bisa merasakan ketegangan di antara mereka. “Hongbinnie, kau tidak pernah tahu apa yang ada di dalam sudut tergelap pikiran Youngjae.”

Hongbin mendengus lagi. “Dan kau tahu?”

Leo menggeleng. “Semua orang memiliki sudut gelap dalam pikirannya, Hongbin. Termasuk kau, termasuk aku, termasuk Mirae. Masalahnya hanyalah… apakah kau melakukan seperti apa yang pikiran tergelapmu katakan atau tidak.”

“Kau mencurigai Professor Youngjae hanya karena dia setengah Crowns, hyung!” Nada suara Hongbin meninggi. Aku terlalu pusing untuk memikirkan kenyataan bahwa Youngjae setengah Crows. Tidak, hal itu seharusnya bukan menjadi fokus utama! Banyak hal-hal yang tidak kumengerti, dan yang kucoba untuk kupahami apa kaitan antara semua ini.

“Aku akan mengikuti apa kata kakek.” Nada suara Leo terdengar tenang, seperti biasanya.

“Kakek tidak selalu benar, hyung. Jangan lupakan malam itu. Jangan pernah melupakan apa yang terjadi pada ibu. Ayo, Mirae!” Hongbin memaksaku berdiri, lalu menyeretku berjalan ke luar ruangan. Aku sempat membungkukkan badanku sekilas pada Professor Leo sebelum Hongbin menuntunku dengan kekuatan speed nya.

Aku ingin bertanya padanya… apa yang ia maksud dengan “malam itu”, dan apa yang terjadi pada “malam itu”, serta apa yang terjadi pada ibunya dan ibu Prof.Leo. Aku tahu mereka memiliki ibu yang sama tapi ayah yang berbeda, dan aku menduga…Prof.Hakyeon adalah kakek mereka dari pihak ibu. Banyak yang ingin kutanyakan pada Hongbin tentang masa lalunya, tapi aku memutuskan untuk menundannya saat ini. Ada hal yang lebih penting untuk kutanyakan padanya.

“Hongbin~ah, apakah kau percaya pada Professor Youngjae?”

Hongbin tidak menjawab pertanyaanku selama di perjalanan menuju asrama, tetapi begitu kami sampai di ruangan kami, ia menatapku lekat-lekat. “Aku tidak pernah mempercayai siapapun dalam hidupku. Tidak ayahku, ibuku, kakakku, kakekku, apalagi orang lain. Jadi kenapa aku harus percaya pada kepala sekolah?!” Hongbin berkata dengan dingin. Dia memejamkan kedua matanya, menghembuskan napas dalam-dalam, kemudian detik berikutnya sorot matanya terlihat sedih. “Tapi aku tahu Professor Youngjae bukanlah orang yang akan berkhianat. Dia… mencintai sekolah ini. Dia…sangat mencintai ilmu pengetahuan, jagad raya ini, planet ini? Tentu. Tapi dia tidak mungkin se-serakah itu untuk menguasai planet ini.”

Aku mengangguk. “Ya. Youngjae mungkin memang aneh, gila, eksentrik, terkadang menyebalkan, tapi dia bukanlah pengkhianat! Aku percaya padanya.”

Hongbin tersenyum hangat padaku. Aku balas tersenyum padanya. Rasanya aneh, bisa tersenyum lagi, terlebih dalam kondisi seperti ini.

Aku tidak tahu apa-apa mengenai masa depan. Detik ini aku tidak pernah tahu, kurang dari 12 jam yang akan datang… kepercayaan kami akan diuji.

======= End of Mirae PoV =======

 

~~~~~~ *********** ~~~~~~~ ******* ~~~~~~

 

 

  ========== Author PoV ==========

Zelo menatap lautan biru di hadapannya dengan pandangan kosong. Sudah lebih dari satu minggu ia berada di pulau Berlian.

“Sial! Aku muak melihat laut! Seandainya aku cukup kuat untuk membuat seluruh lautan jadi berwarna pink!” Zelo menggerutu. Ia menggeleng. Tidak, ia sebenarnya tidak benci laut, ia hanya benci…keadaannya saat ini.

“Aku bahkan tidak tahu keadaan Mirae, orangtuaku, dan teman-temanku sekarang…” Lirih Zelo.

Setiap hari Zelo melakukan hal membosankan yang sama berulang-ulang. Makan, tidur, mandi, menatap lautan, menggambar, makan, tidur, mandi, menatap lautan, menggambar. Semuanya terasa membosankan baginya. Tidak ada seorangpun yang bisa ia ajak bicara. Ia sendirian di pulau itu.

Youngjae sudah pergi ke planet Crowns, dan Daehyun memang mengunjunginya kemarin, tapi selebihnya Zelo sendirian. “Bahkan binatang pun tidak ada! Pulau ini bukan hanya terproteksi, tapi juga terisolasi! Mungkin kalau Professor Daehyun datang lagi kemari, aku akan memintanya membawakanku hewan peliharaan. Sial! Sekarang aku bahkan bicara sendiri seperti orang gila!” Zelo mengacak-acak rambut perak nya dengan frustrasi.

“Berapa lama lagi aku harus berada di sini? Apakah ada yang merindukanku? Mirae, apakah kau merindukanku?” Zelo berbisik pelan. Di saat ia memikirkan Mirae, ia pun merubah warna rambutnya menjadi pink, kemudian tersenyum mengingat kejadian yang telah lalu. “Makhluk pink.” Gumamnya dengan nada sedih.

Zelo berlari masuk ke dalam rumah, mengambil pena dan buku, kemudian kembali ke tempat duduknya semula, menatap lautan. Ia memutar-mutar pena di antara jemarinya, terlihat seperti seorang penulis yang sedang mencari inspirasi sambil menerawang menatap langit yang luas tak terbatas dan lautan yang biru sejauh mata memandang.

Beberapa detik kemudian, ia pun mulai menulis.

 

Hari ke-8 di pulau Berlian.

Dear Mirae,

Apakah kau terkejut? Bagaimana perasaanmu saat mendengar kabar dari Dokter Daehyun? Apakah kau percaya padanya? Apakah kau menangis? Apakah kau merindukanku?

 

Zelo merobek kertas itu lalu menggulungnya dan membuangnya ke pasir. Ah, dia memang tidak pandai berkata-kata. Ia pun mulai menulis lagi.

 

Hari ke-8 di pulau Berlian.

Dear Mirae,

Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Aku benar-benar merindukanmu. Kuharap kau pun merindukanku.

 

Zelo mengangguk puas, lalu menutup buku itu dan meletakannya di atas meja kayu. Ia sudah memutuskan untuk menulis diary setiap hari. Diary untuk Mirae. Ia berharap, bila ia kembali ke sekolah nanti….ia bisa menunjukkan diary itu pada Mirae agar Mirae tahu bahwa Zelo pergi bukan karena ia “ingin”, tapi karena “harus”, dan betapa Zelo selalu memikirkan dan merindukan Mirae setiap detik.

 

Hari ke-9 di pulau Berlian.

Dear Mirae,

Kurasa lama-lama aku akan menjadi gendut. Kerjaanku hanya makan dan tidur terus di sini. Sangat membosankan! Aku kangen melakukan banyak kegiatan yang asyik bersamamu. Kuharap kau ada di sini! Kita bisa berenang di lautan dan main pasir seharian. Kurasa kalau kau ada di sini, aku tidak akan merasa bosan.

 

 

Hari ke-10 di pulau Berlian.

Dear Mirae,

Aku merubah beberapa bagian pasir putih di sini menjadi pink! Yeah, se-menarik itulah hidupku di sini! *sigh*

Tidak ada yang bisa kukerjakan. Aku sudah capek menggambar.

Aku menunggu dokter Daehyun datang. Aku ingin ngobrol. Gawat kan kalau aku jadi bisu sepulangnya dari sini! LOL, oke, ini tidak lucu.

AKU BENAR-BENAR KESEPIAN!!!

 

 

Hari ke-11 di pulau Berlian.

Dear Mirae,

Mungkin ada yang salah dengan mataku, tapi semalam aku melihat kilatan warna-warni di langit seperti kembang api. Setahuku pulau ini terisolasi dan terlindungi, jadi tidak mungkin aku bisa melihat kembang api di langit luar. Atau mungkinkah warna-warna itu adalah warna gas pesawat? Kau tahu, semacam atraksi di luar angkasa? Ah, pasti aku hanya bermimpi.

 

 

 

Hari ke-12 di pulau Berlian.

Dear Mirae,

Persediaan makanan sudah habis! Di mana dokter Daehyun? Aku bisa memasak sih, TAPI APA YANG HARUS KUMASAK? AKU TIDAK MUNGKIN MAKAN PASIR!

 

 

 

Hari ke-13 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Aku kekenyangan! Barusan dokter Daehyun membawakanku banyak sekali makanan dan persediaan untuk….entahlah. Aku takut memikirkannya. Berapa lama lagi aku harus terkurung di sini?

Kuharap kau baik-baik saja di sana, Mirae~ya.

Ada yang aneh dengan dokter Daehyun. Dia terlihat….lebih tua? Maksudku…dia terlihat seperti banyak pikiran.

Dia tidak banyak bicara. Dia hanya bilang semuanya oke di sekolah. Dia meyakinkanku bahwa kau baik-baik saja. Tapi kenapa aku merasa tidak yakin?

Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya perasaanku saja.

 

 

 

Hari ke-14 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Semalam aku mimpi buruk!

Mirae~ya, aku benar-benar khawatir padamu. Sudah 2 minggu aku berada di sini, tidak tahu sama sekali apa yang sebenarnya terjadi di luar pulau ini! Rasanya benar-benar tersiksa!

Kuharap mimpi buruk itu hanya tetap menjadi mimpi. Aku tidak berani membayangkan bila selamanya harus terkurung di sini.

 

 

 

Hari ke-15 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Aku mulai melukis lagi. Aku melukis wajahmu. Tapi rasanya ada yang aneh. Aku tidak mungkin melupakan wajahmu kan?

Aku tidak ingin melupakanmu! Aku harus bertemu denganmu!

Mulai besok aku akan menjelajahi pulau ini dan mencari petunjuk!

Apakah aku bisa kabur diam-diam dan menemuimu? Tidak apa-apa kan selama pangeran Crowns yang jahat itu tidak tahu?!

 

 

Hari ke-16 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Kau tidak akan percaya! Aku tidak bisa pergi ke manapun di luar radius 10 meter dari sekeliling rumah ini! Benar-benar gila! Rasanya seperti di penjara! Persetan dengan pemandangan pantai dan lautan yang indah!

Aku benar-benar sendirian. Di mana sebenarnya aku berada?

 

 

 

Hari ke-17 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Kurasa aku benar-benar sedang mengalami sindrom homesick. Sama sekali tidak nafsu makan, tidak ingin melakukan apapun, dan… meskipun aku sangat malu mengakuinya… aku menangis sepanjang malam. L

 

 

Hari ke-18 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Aku belum makan sejak kemarin, hanya minum. Dan aku hanya berbaring seharian di tempat tidur.

Mirae~yah…, kalau aku kembali, aku berjanji akan mengatakan kalimat ini padamu secara langsung :

Kau orang yang paling berharga bagiku dan aku menyayangimu.

 

 

 

Hari ke-19 di Pulau Berlian.

Dear Mirae,

Kepalaku terasa sangat berat dan berputar-putar, rasanya ingin muntah. Sepertinya aku juga mengalami halusinasi. Ataukah ini mimpi? Aku melihat malaikat tampan bersayap putih baru saja mendarat di atas pasir. Mungkin hanya mimpi. Sebaiknya aku kembali tidur.

 

~~~~~~~ ********* ~~~~~~~~~

 

Sementara itu, di planet Crowns…

Rencanaku berjalan cukup lancar sejauh ini.’ Gumam Young Jae dalam hati. Sejak semula, tujuannya berpura-pura mendukung Lee Jong Suk memang untuk mengawasi dan mengendalikan tindakannya. Young Jae tahu, Jong Suk benar-benar impulsive. Ia mengerti, tidak akan mudah mengendalikannya sambil berpura-pura mengikuti “permainan” Jong Suk. Ia tahu, akan terdapat banyak hal yang harus ia korbankan. Ia hanya berharap, tidak akan terlalu banyak korban. Zelo sudah cukup menjadi korban. Ia telah merampas kebebasan Zelo, mengurungnya di salah satu pulau miliknya.

Young Jae menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, berusaha menepis bisikan hatinya yang lain, yang mencoba menjatuhkan kepercayaan dirinya. ‘Kau sudah melakukan yang terbaik, Yoo Young Jae.’ Ujarnya pada diri sendiri, menguatkan diri. ‘Semua orang yang kau sayangi mungkin memang akan membencimu, tapi suatu saat nanti mereka akan mengerti.’

Young Jae menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang besar. Kakinya yang panjang diselonjorkan di atas tanah yang dingin dan lembap. Ia bisa melihat jutaan lampu warna-warni di bawah sana. Berada sendirian di puncak bukit di malam hari seperti ini mengingatkannya pada almarhumah ibunya. Dulu, semasa kecil, saat ia masih tinggal di Crowns, ia dan ibunya sering nongkrong seperti ini, menatap langit malam di atas puncak bukit, sambil bercerita banyak hal.

“Young Jae~ya…, planet asal seseorang bukanlah penentu apakah seseorang itu baik atau jahat. Yang menentukan adalah hatinya.”

Young Jae mengingat apa yang pernah ibunya katakan dulu. Tentu saja, saat itu Young Jae kecil yang cerdas sudah mengerti apa makna dibalik kata-kata ibunya tersebut. Ibunya mencoba meyakinkannya, bahwa meskipun Young Jae terlahir dari seorang ibu penduduk Crowns, dan ayah penduduk Mato, Young Jae tetaplah Young Jae. Saat ia pergi mengikuti ayahnya kelak ke Mato, ibunya ingin meyakinkannya bahwa meskipun penduduk planet lain menganggap penduduk Crowns jahat, Young Jae tetaplah Young Jae. Jahat atau baik, semua itu tergantung padanya, hatinya.

Stereotype. Youngjae tidak pernah menyalahkan pandangan masyarakat pada umumnya. Tapi stereotype yang melekat pada dirinya sebagai anak campuran Crowns justru memicunya untuk menunjukkan siapa dirinya pada dunia.

Dalam banyak hal, ia harus mengakui, ia memang mirip dengan Lee Jong Suk. Pengakuan, pembuktian diri, kerja keras, pola pikir yang tidak biasa, semua itu membuat mereka cocok. Sayangnya, Jong Suk tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang sebesar yang Young Jae dapatkan dari ayah dan ibunya. Entah sejak kapan Young Jae kehilangan sosok Jong Suk yang sebenarnya. Mungkin dalam hati kecilnya pun, Young Jae sama seperti orang lain, melabeli seseorang tanpa pernah mau memahami penyebab mengapa seseorang itu bertindak demikian.

Ia memang pernah meninggalkan Jong Suk. Ia memang membenci Jong Suk. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Young Jae tahu, ia menyayangi Jong Suk. Karena itulah, ia harus berada di sini, di samping Jong Suk. Bagaimanapun caranya, ia harus mengendalikan Jong Suk, kemudian menyadarkannya, meskipun ia masih tidak tahu bagaimana cara menyadarkannya, bagaimana membantunya untuk “memaafkan” masa lalunya, memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya, memaafkan segala hal mengerikan yang telah terjadi padanya, sehingga ia pun akan memiliki belas kasihan pada orang lain.

Young Jae menghela napas panjang. Ia memejamkan kedua matanya, merasakan angin malam yang lembut membelai wajah dan rambutnya. Ia mengingat kembali percakapannya dengan Jong Suk kemarin.

*Flashback*

“Young Jae~ya, menurutmu…lebih asyik mana? Membawa Mirae langsung kemari, ke hadapan wajah Lee Soo Hyuk, membuat Yang Mulia Raja murka? Ataukah sebaiknya aku datang ke sekolahmu dan menawarkan pilihan lagi pada Ahn Jae Hyun? Mirae… atau Jaehyun?”

Young Jae tahu, kedua pilihan itu berisiko sangat besar. Bila ia membiarkan Mirae datang kemari, jiwa Mirae akan hancur. Gadis itu tidak terbiasa melihat kekejaman secara langsung, terlebih lagi kekuatannya belum terlatih secara optimal. Tapi bila ia membiarkan Jong Suk datang ke sekolahnya, ROVIX, maka ia tidak akan pernah tahu apa yang akan Jong Suk lakukan pada murid-muridnya, meskipun ia berkata tujuannya adalah Ahn Jae Hyun. Seperti yang sudah Young Jae katakan, Lee Jong Suk sangat impulsif. Ia tidak bisa membiarkan Jong Suk berkeliaran di sekitar sekolah dan membahayakan murid-muridnya yang lain. Karena itulah, Young Jae berkata, “Ada yang lebih menyenangkan dari kedua hal tersebut, Jong Suk.” Young Jae menyeringai. Mata Jong Suk langsung berbinar cerah. “Kau tahu? Permainanmu akan lebih mengasyikan bila aku memiliki kendali atas Mato?”

Jong Suk tertawa terbahak-bahak lalu menepuk-nepuk punggung Young Jae. “Ya…ya… tentu kawan. Aku tidak tahu ternyata kau sudah tidak sabar ingin menguasai Mato?”

Young Jae menyeringai lebar. “Sayangnya, Yang Mulia Pangeran Lee Hyun Jae memberi peringatan pada wakil kepala sekolah tentang rencanaku.”

Jong Suk memicingkan matanya. “Lee Hyun Jae?”

“Aku punya mata-mata di sekolah. Semalam Pangeran Lee Hyun Jae datang menemui Hakyeon, memperingatkannya tentang rencanaku untuk menguasai Mato. Menurutku… hal itu akan menjadi hambatan bagiku.”

Jong Suk memicingkan matanya. “Kau ingin aku menghabisi Hakyeon?”

Young Jae tertawa keras. “Pangeran…, Hakyeon dapat menjadi alat bagimu untuk menyakiti Pangeran Lee Hyun Jae. Kau sepertinya melewatkan bagian yang seru. Masih ingatkah kau siapa wanita yang Pangeran Lee Hyun Jae cintai?”

Jong Suk mendengus. “Dia mencintai semua wanita. Tapi aku ingat…, dia hampir berubah gila ketika tidak sengaja membunuh wanita itu. Wanita yang sudah memiliki suami itu. Siapa namanya…? Aaahh…, Cha Haemi?”

Young Jae mengangguk. “Kau bisa memanfaatkan perasaan bersalah yang ia miliki. Cha Haemi adalah anak satu-satunya Cha Hakyeon.”

Seulas senyuman sadis terukir di wajah Jong Suk. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

*End of Flashbak*

Kedua mata Young Jae membuka. Rencananya memang tidak seperti rencana awal. Siapa yang mengira, Lee Hyun Jae ternyata masih terbelenggu dalam guilt yang ia rasakan akibat kejadian yang telah berlalu cukup lama. Lee Hyun Jae bahkan rela menemui orang yang paling ingin membunuhnya, Cha Hakyeon. Oh, Youngjae tahu betapa Hakyeon sangat membenci Lee Hyun Jae karena telah merenggut putrinya, meskipun kejadian itu tidak disengaja. Lee Hyun Jae sangat mencintai putri Hakyeon, bahkan tak peduli ketika wanita itu telah bersuami dan memiliki anak, Lee Hyun Jae tetap mencintainya. Se-benci apapun Lee Hyun Jae pada seluruh makhluk di jagad raya ini, ia pasti akan tetap peduli pada Cha Hakyeon, Leo, dan Hongbin. Karena di dunia ini, hanya ketiga orang itulah yang tersisa, yang memiliki darah yang sama dengan satu-satunya wanita yang Lee Hyun Jae cintai.

Bukan seperti ini rencana awal Young Jae. Tadinya ia ingin membiarkan Hakyeon tetap berada di ROVIX, menggantikannya, menjaga murid-muridnya. Tapi Young Jae tak punya pilihan lain. Membawa Hakyeon pada Lee Jong Suk jauh lebih baik daripada membiarkan Jong Suk berkeliaran di sekitar murid-muridnya, ataupun membawa Kim Mi Rae kemari. Selain itu, Young Jae masih berpikir… apakah ia bisa menjadikan Pangeran Lee Hyun Jae sebagai sekutunya atau tidak.

“Maafkan aku, Hakyeon~ah.” Lirih Young Jae.

~~~~~ ***** ~~~~~

 

Sementara itu, di planet Mato…

Daehyun meremas kertas yang digenggamnya. Perasaannya campur aduk. Semua ini berbeda dengan apa yang Young Jae katakan padanya. Tidak! Seharusnya tidak seperti ini!

“Apa yang terjadi Young Jae~ya?” Gumam Daehyun. Ia tahu, berhadapan dengan Lee Jong Suk tidaklah mudah. Pasti ada sesuatu yang membuat Young Jae merubah rencana awalnya. Tapi mengapa ia membiarkan Hakyeon dibawa ke planet Crowns?! Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada Hakyeon di planet mengerikan itu!

Daehyun meremas kertas berisi tulisan Hakyeon itu sampai hancur. Cukuplah ia mengingat apa yang Hakyeon tulis.

Berhati-hatilah pada Young Jae.

Satu kalimat singkat itu sempat menggoyahkan keyakinannya pada Young Jae selama beberapa saat tadi. Daehyun menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh merasa bimbang. Perasaan ragu-ragu adalah musuh yang paling mematikan.

Pintu ruangannya terbanting keras. Ada seseorang yang mendobrak masuk. Kening Daehyun mengerut. “Professor Leo? Hongbin? Mirae? Ada apa?”

“Kakek menghilang!” Tukas Hongbin cepat. Napasnya terengah-engah. Mirae terhuyung dan terduduk di salah satu sofa. Sepertinya mereka habis berlari ke seluruh penjuru sekolah, mencari Hakyeon.

Daehyun mencoba tersenyum. “Mungkin sebentar lagi ia akan kembali.”

Hongbin menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak! Semuanya pasti berkaitan! Dokter, aku tahu Anda mempercayai Professor Young Jae. Tapi… tolong selamatkan kakekku…, tolong jangan libatkan kakekku…”

Berbeda dengan reaksi Hongbin, Leo menatap Daehyun dengan dingin. “Aku tidak mempercayai Young Jae.” Ujarnya dengan datar.

Daehyun menghela napas lelah. “Aku tidak tahu…”

Kata-kata Daehyun dipotong oleh Leo, “Berhentilah berpura-pura!” Tukasnya dingin. Sorot mata Leo mengeras. “Izinkan aku menggunakan kapsul mu, Dokter. Aku akan pergi ke Crowns.”

“Hyung!”

“Professor!”

Hongbin dan Mirae berkata bersamaan. Mata mereka membelalak lebar, menatap Leo.

Daehyun menggeleng. “Terlalu berbahaya, Leo.”

“Aku tidak peduli.” Jawab Leo dingin. Kemudian kedua matanya menyipit, menatap Daehyun lekat-lekat. “Dokter, kau tidak seharusnya mempercayai Young Jae sepenuhnya. Ia bisa mengkhianatimu kapanpun.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Leo. Semua ini tidak ada kaitannya dengan Young Jae!”

Leo menyeringai. “Oooh.., benarkah? Lantas mengapa Kim Woo Bin menculik kakekku? Tepat satu hari setelah Lee Hyun Jae datang menemui kakek untuk memperingatkannya tentang Young Jae?”

Daehyun terkesiap. “Lee Hyun Jae? Kenapa….”

“Percayalah, aku pun sama membencinya, sebesar anda membencinya, atau mungkin bahkan lebih. Tapi di dunia di mana kepercayaan adalah hal yang langka, untuk kali ini saja aku memutuskan untuk mempercayainya, peringatannya akan Young Jae, aku percaya padanya.”

“HYUNG! ORANG ITU MEMBUNUH IBU KITA!” Teriak Hongbin. Matanya berapi-api, kedua tangannya terkepal.

“Dia berusaha membunuh ayahmu, tapi ibu melindungi ayahmu. Ibu tidak sengaja terbunuh. Percayalah, Hongbin, aku pun sama bencinya pada Lee Hyun Jae, sama sepertimu. Tapi orang itu tidak akan mungkin mencelakakan kakek.”

Hongbin mendengus. “Bagaimana kau bisa yakin, hyung?”

Sorot mata Leo berubah, sekilas ada guratan kesedihan di dalamnya. “Tuan Jung bukanlah ayah kandungku. Ayahku yang sebenarnya…. adalah Lee Hyun Jae.”

Mulut Hongbin dan Mirae menganga lebar. Mereka terlalu syok untuk mengatakan satu patah katapun. Daehyun menghela napas berat. ‘Young Jae~ya…, sepertinya kau tidak tahu mengenai hal ini. Seandainya kau tahu Leo adalah anak kandung Lee Hyun Jae, kau tidak mungkin melakukan hal ini.’ Daehyun berkata dalam hatinya.

Detik itu, Daehyun benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia tetap mempercayai Young Jae dan ide-ide gilanya? Tentu, ia tahu pasti, korban pastilah tak terelakkan dalam rencana ini. Tapi melibatkan Leo dalam pertarungan antara para penguasa Crowns bukanlah ide yang baik, terlebih lagi semua itu dipicu karena penyanderaan Hakyeon.

Kepercayaan bisa menjadi pelindung, senjata, maupun bom waktu yang mematikan. Dalam keadaan seperti ini, Daehyun tidak bisa mengandalkan siapapun selain dirinya sendiri. Ia harus menetapkan prioritas. Sekarang, dengan menghilangnya Hakyeon, maka berkuranglah pelindung ROVIX. Ia harus menjaga keselamatan murid-muridnya. Itulah prioritasnya. Membiarkan Leo pergi berarti membuat jumlah pelindung semakin berkurang lagi. Terlebih lagi, ia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada Leo di planet Crowns nanti.

Daehyun mencoba menenangkan dirinya, sebelum pada akhirnya dia berkata. “Aku akan pergi ke Crowns.”

Leo, Hongbin, dan Mirae memandangnya dengan terkejut, tapi sorot mata Daehyun mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Bila sesuatu terjadi padaku dan aku tidak bisa kembali, temuilah Himchan dan suruh ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan seseorang.”

“Menyelamatkan siapa?” tanya Mirae.

Daehyun tersenyum tipis. “Kau akan tahu nanti.”

“Aku akan ikut denganmu.” Ujar Leo dengan nada tergesa-gesa.

Daehyun menggeleng. “Kehadiranmu di sini lebih diperlukan daripada kehadiranku. Leo, kau harus melindungi sekolah ini. Lagipula…, aku tahu bagaimana caranya pergi ke Crowns tanpa menimbulkan kehebohan.” Daehyun tersenyum lagi, tapi kali ini senyumannya bermakna ganda.

~~~~~ ***** ~~~~~

 

Beberapa hari kemudian….

Daehyun mengunjungi Zelo, membawakannya aneka makanan. Ia sudah meninggalkan sekolah sejak malam itu, tapi berbeda dengan yang semua orang kira, ia tidak pergi ke Crowns. Oh, tentu, ia punya mata-mata di Crowns. Sebagai seorang dokter yang pernah berjasa bagi penduduk Crowns di masa perang dulu, beberapa penduduk Crowns sudah lama menjadi sekutu nya. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan, Hakyeon baik-baik saja. Ia terluka dan menderita, tapi ia masih hidup. Young Jae selalu terlihat di samping Jong Suk. Dan Lee Hyun Jae sepertinya kini tunduk pada Lee Jong Suk.

Informasi itulah yang ia dapatkan. Ia tahu, ia telah membohongi banyak orang, terutama Leo. Tapi di situasi dilemma seperti saat ini, ia harus memaksa dirinya untuk lebih mementingkan logika dibandingkan perasaan. Meskipun perasaannya hancur, ia harus tetap berpikir jernih. Ia tidak boleh mengacaukan rencana Young Jae, apapun rencana gilanya itu, Daehyun tetap mempercayai Young Jae.

Maka Daehyun pun bersembunyi, pura-pura pergi ke Crowns, padahal sebenarnya ia hanya mengasingkan diri di suatu tempat. Ia berencana untuk datang kembali ke ROVIX beberapa hari kemudian, memberitahu Leo bahwa semuanya baik-baik saja, mengatakan kebohongan lagi. Ia hanya berdoa semoga Hakyeon bertahan dan bisa segera pulang, sehingga kebohongannya tidak akan terlalu terasa jahat. Saat ini ia mementingkan hal yang lebih besar yaitu keselamatan ROVIX. Ia tahu bahwa dirinya jahat dengan mengorbankan Hakyeon. Ia sama seperti Young Jae.

Tapi Daehyun hanya bisa berencana, takdirlah yang menentukan. Tepat satu hari sebelum hari kepulangannya ke ROVIX seperti yang telah ia rencanakan, sesuatu yang buruk terjadi. Kim Woo Bin menemukan tempat persembunyiannya, dan membawanya pergi entah ke mana, Daehyun tidak bisa mengingat apapun, ia terombang-ambing di antara alam sadar dan alam bawah sadarnya.

~~~~~~ ********** ~~~~~~

 

Daehyun belum kembali.

Leo mulai gelisah. Apakah sesuatu yang buruk menimpa Daehyun? Lalu bagaimana kabar kakeknya? Semuanya benar-benar terasa gelap. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kemudian, ia teringat pesan Daehyun untuk menemui Himchan, memintanya datang ke alamat yang disebutkan, untuk menyelamatkan seseorang. Tapi siapa orang itu?

Tanpa pikir panjang, Leo segera berlari menemui Himchan.

“Hanya aku yang bisa menyelamatkan orang di pulau ini? Aaahhh…., karena aku bisa terbang?” Himchan terkekeh. Tapi Leo hanya menatapnya tanpa ekspresi.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Professor?” Himchan mengerutkan keningnya. “Aku tidak melihat adanya bahaya di ROVIX selain menghilangnya Professor Hakyeon.”

Leo menggeleng. “Aku tidak tahu. Semuanya…terasa membingungkan.”

Leo tidak mau mengakuinya, tapi bila Daehyun benar, bila seharusnya ia mempercayai Young Jae, maka mungkin inilah salah satu tujuan Young Jae, menjaga sekolah tetap aman. Tapi kenapa Young Jae harus mengorbankan kakeknya?! Di dunia ini, Leo paling benci dengan istilah ‘Untuk mencapai tujuan yang lebih besar’! Bila tujuan yang lebih besar itu dicapai dengan mengorbankan nyawa orang-orang yang tak berdosa, maka masih layakkah tujuan itu dituju? Bukankah akan lebih baik bila semuanya sama-sama berjuang?

Ah, entahlah. Sejak dulu Leo tidak pandai bermain politik, terutama dengan para penguasa Crowns. Meskipun Lee Hyun Jae adalah ayah kandungnya, dan meskipun ia tahu pria itu tidak akan pernah menyakitinya, ia selalu membenci pria itu dengan setiap partikel yang ada di tubuhnya. Tapi ia jauh lebih membenci Lee Jong Suk daripada Lee Hyun Jae, sejak dulu Leo selalu tahu… ada sesuatu yang mengerikan dalam diri pangeran termuda itu. Pangeran itu terlalu berbahaya. Terlalu berisiko untuk bekerjasama dengannya. Kenapa Youngjae berusaha mengabaikan risiko itu? Apakah ia memiliki maksud lain?

Bukankah setiap orang selalu memiliki 2 sisi? 2 tujuan yang bertolak belakang? Sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau mengakuinya, semua orang pasti memilikinya, tinggal tergantung pada diri masing-masing…sisi mana yang akan dipilih, mana prioritas utamanya.

Bagi Leo, keselamatan kakeknya sangat penting, sama pentingnya dengan keselamatan adiknya, juga murid-muridnya dan rekan-rekan gurunya di ROVIX. Leo memang tidak tahu pasti apa yang Youngjae rencanakan. Ia juga masih tidak mempercayai Young Jae, tapi satu hal yang pasti… ia harus menyelamatkan seseorang yang Daehyun maksudkan. Mungkin orang itu memiliki petunjuk.

~~~~~~~ ******** ~~~~~~~~

 

Sudah selama berhari-hari Himchan melayang-layang di sekitar pulau terpencil di tengah lautan itu. Sudah ia duga, pulau itu dipenuhi perlindungan. Ia tak bisa masuk begitu saja.

Himchan sudah menggunakan berbagai cara, mulai dari bahan peledak, mantra, bahkan berkali-kali mengucapkan kata sandi yang mungkin akan membuka perlindungan pulau itu dan membiarkannya bisa masuk.

Pasti ada petunjuk. Himchan yakin. Daehyun tidak mungkin mengatakan pada Leo bahwa Himchan dapat menyelamatkan “seseorang”, siapapun orang itu, di pulau yang tak bisa ia masuki ini, kecuali pasti ada cara baginya untuk masuk, untuk menerobos.

Hanya Himchan yang bisa….

Bagaimana bisa?

Himchan terus melayang-layang, berputar-putar di sekitar perlindungan. Sayapnya yang putih terentang lebar, berkilauan tertimpa cahaya.

Himchan tidak tahu di mana Daehyun, Young Jae, dan Hakyeon berada. Dia tidak tahu apa rencana Young Jae. Dia tidak pernah mengerti apa isi kepala Young Jae!

Himchan terkekeh. Ia tidak membenci Young Jae, sungguh. Oh, mungkin dulu ia membencinya. Sangat. Tapi perasaan seseorang bisa berubah.

Hanya Himchan yang bisa….

“Kenapa? Kenapa hanya aku yang bisa? Daehyun pasti tahu kata kuncinya. Apa kira-kira kata kuncinya? Hmmm…apa yang Daehyun dan Youngjae sukai?” Himchan masih terus berputar-putar, melayang ke sana kemari dengan cepat, otaknya pun sibuk berpikir keras.

Sejak dulu Young Jae dan Daehyun adalah sahabat karib. Himchan bergabung kemudian, setelah rasa bencinya pada Youngjae berubah menjadi rasa kasih sesama saudara.

Tunggu! Mungkin itulah alasannya! Ia tahu mengapa hanya dirinya yang bisa membuka perlindungan ini tanpa kata kunci, tanpa izin sang penyegel, Young Jae.

Himchan menyeringai. Young Jae menggunakan kekuatan kuno. Kuat, memang. Tapi sayangnya memiliki kelemahan. Himchan menggigit ujung jarinya. Darahnya menetes, perlahan membukakan segel yang melindungi pulau itu.

Beberapa detik kemudian, Himchan pun akhirnya bisa melihat ke dalam pulau, menembus perlindungan. Ia terkekeh senang sambil meluncur, menukik turun ke daratan.

Ketika kaki-kakinya yang putih dan besar menjejak pasir, kedua matanya yang tajam mencoba melihat menembus ke dalam rumah, penasaran siapa yang akan ia “selamatkan”. Siapakah orang yang dikurung oleh Yoo Young Jae, saudara satu ayahnya tersebut?

Oh, Himchan memang sudah tidak membenci Yong Jae lagi, tapi harus ia akui… ia masih merasa agak ngeri dengan apa yang ada dalam otak dan benak Young Jae.

Darah tidak akan berbohong. Young Jae memang memiliki setengah darah yang sama dengan Himchan, tapi setengahnya lagi… diturunkan dari wanita Crowns itu.

“Ow, Himchan! Ayolaaah! Kau sudah janji tidak akan men-judge seseorang lagi hanya karena darahnya!” Himchan memaki dirinya sendiri. Sekarang yang terpenting ia hanya harus membawa…

Himchan terkesiap begitu melihat seseorang yang amat sangat dikenalnya menatapnya di balik kaca jendela. Zelo?

~~~ TBC ~~~~

 

A/N : Hai…hai…, adakah yang masih inget sama cerita ini? LOL. Hiatus nya lamaaaa banget ya, se-abad!😀

Sorry, karena sempet mengalami kebuntuan dan rasanya nggak semangat buat lanjutin cerita ini. Tapiiiii… SEKARANG B.A.P UDAH COMEBACK LAGI! Yeay!❤❤❤ Zeloooooo!❤ Ditambah lagi dengan tayangnya drama Hongbin yang baru, “Moorim School”.❤

Ceritanya membingungkan ya? Hihihi. Banyak hal yang belum diungkap? Tapi lama-lama terungkap kan? Ayooo yang lupa, baca lagi dari chapter 1 sampai chapter 7 ini sekaligus, pasti nemuin hal-hal apa aja yang terungkap.

Thanks for reading. Please kindly write any comment here…❤

~ Azumi ~

 

P.S. Mungkin banyak typo. Belum di baca ulang. LOL.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13 thoughts on “Powerless (Chapter 7)

  1. Powerless KYAAAAA >o<
    Mi apah(?) akhirnya update juga.
    Ga perlu baca lagi dari chapter 1, karena udah sering baca ulang(?) powerless ini ^^
    Mantap lah, semakin banyak pertanyaan ini jadinya. Sibuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya ^=^

  2. Cieee ffnya udah dilanjutin.
    Waduh makin ruwet aja ya ceritanya, nah loh kok leo anaknya Lee Hyun Jae? betita ada darah Crown juga.
    Keren. . . keren. . .
    Tetep semangat nulis eonn, sama ff lain jangan lupa dilanjutin kangen HP, Give Heart

      • Ini nih yg bikin ff disini beda sama yg lain, plg gak bisa ditebak udah kaya SUPER TRAP aja. Next chapter jangan lama-lama eonn pumpung lagi libur semester.
        Gak nyangka ngikutin ff disini udh lama banget mulai jaman bad oppa or good oppa sampe sekarang.
        Tetep SEMANGAT🙂

  3. akhirnyaa powerless apdet😄

    ehm sorry sebelumnya aku belum ngenalin diri, sebenarnya udah sih aku ngenalin diri di komen fic sebelah, tapi gapapalah aku ngenalin diri lagi😄 aku Chan, 98liner, salam kenal😄

    aku sebenarnya ngikutin fic powerless, tapi baru komen sekarang/siders emang/maafkeun daku/ maaf yaa T.T

    aku nyaris lupa sama ceritanya loh, serius.-.
    yah tapi cukup terbayar lah dengan chap ini😄 agak panjang sih😄

    ceritanya makin kompleks, aing makin penasaran😄 kayaknya si mirae terlalu banyak gak tau.-.

    ditunggu terus next chapnya😄 jangan lama-lama wkwkwk
    KEEP WRITING!!

  4. Wuahhh..
    Keren banget fanfiction unnie. Aku selalu suka karya-karya unni terutama semua yang genrenya fantasy.
    Nanti akhirnya Mirae sama siapa ya? Zelo apa Hongbin? Tapi kalo aku sendiri sih suka Mirae-Zelo.
    Oiya unnie, kok sampe sekarang belum di next?
    Keburu penasaran nih, jangan sampai stop ditengah jalan yaa.. soalnya aku suka banget fanfiction ini^^

  5. Halo kakk, aku tertarik baca powerless setelah ngubek2 galeri kakak, sebenernya kurang suka baca ff fantasy sih, tapi pengecualian buat ff buatan km🙂 bias jadi nambah satu deh. Zelooo uhhh :3 iya apalgi hbs comeback yakk unyu sekali :3 komenku dari part 1 aku gabung disini aja ya kak? Hehehe :3 bagus bagus, suka banget :3 bakal sering2 main ke blog ini kayanya :3 ditunggu lanjutannya ya kakk, semangat!!!

  6. Akhirnya comeback juga powerless!! 😍 *agak telat sih taunya hahah*
    Bener serasa berabad2 loh nungguinnya, tapi apa sih yg ga buat ff powerless, suka banget sama penjabaran ceritanya, detail, ga ngebosenin. Udah berapa kali baca ulang sambil nunggu chap 7 hahaha hwaiting buat kelanjutannya!!! 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s