Everglow (Chapter 1)

Title           : Everglow

Author       : Azumi Aozora

Main Cast  : Kim So Hyun (actress), Kim Tae Hyung (BTS), Jeon Jung Kook (BTS)

Support Cast : Kim Seok Jin (BTS), Suga (BTS), Jimin (BTS), Nam Joo Hyuk (actor, model), Kai (EXO), Sehun (EXO), Kim Han Bin (iKON), Song Min Ho (WINNER), etc.

Genre         : romance, friendship, family, AU

Rating        : PG+15

Length        : ….. chapters

Disclaimer : Cerita ini hanya fanfiction. Ide dan alur cerita milik penulis. Bayangkan saja tokoh-tokoh ceritanya seperti yang dituliskan di bagian main cast & support cast, tapi lebih dewasa. Umurnya tidak sesuai dengan asli. Karakteristik karakternya sebagian besar hasil imajinasi. Dilarang plagiat! Ingat, karma itu berlaku. Just enjoy reading this as fans.

 

ever

 

Kenapa kau masih terus mencari? Sementara aku selalu ada di sini. Tidakkah kau menyadari? – Kim Tae Hyung –

 

Tidakkah kau tahu? Kehilanganmu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangannya? – Kim So Hyun –

 

Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja adalah keahlianku sejak dulu. Apapun akan kulakukan asalkan kau bisa tersenyum bahagia. – Jeon Jung Kook –

 

~~~~~~~❤❤❤❤❤❤❤❤❤ ~~~~~~~~

 

Aku menatap langit lembayung dengan tatapan kosong, sambil masih tetap berdiri mematung di balkon kamarku. Aku suka saat-saat ketika matahari akan terbenam. Langit terlihat berbeda, terlihat menakjubkan. Atau mungkin aku melihat kenangan melalui paduan warna jingga tua dan terang yang menyapu langit, membuatnya terlihat seperti lukisan yang sudah terpatri di dalam benakku. Tapi di dalam benakku, lukisan itu terlihat sempurna, seperti impian. Kenyataan tidak demikian.

Aku menghisap rokok ku dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke langit, berharap asap itu akan merusak fantasiku tentang sempurnanya lembayung. Entah di hembusan yang ke berapa, tiba-tiba saja lamunanku buyar.

Stop it, So Hyun!” Jung Kook membentakku, meraih rokok yang ada di antara jemariku itu, lalu membuangnya dan menginjak-injaknya dengan geram. “What the hell is wrong with you?!”

Aku menoleh, lalu menyeringai padanya. “Hey Kookie, kau tidak bilang akan datang.”

I did.” Jawab pria bermata besar itu dengan datar. Sorot matanya tajam dan dingin.

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Oh? Really? When?”

Jung Kook menghembuskan napas berat, terlihat benar-benar lelah. “Maybe when you were not sober, so you don’t remember it.”

Aku tertawa. “Let’s have a drink! I feel like going to Vegas tonight!”

Jung Kook menatapku seolah-olah aku sudah sinting. Well, maybe it’s true, I’ve lost my mind.

Jung Kook merentangkan kedua lengannya, sorot matanya melembut. “Come here.”

Aku memutar kedua bola mataku, tapi kemudian menghambur ke dalam pelukannya. “I’ve missed you so much, Pooh!” Bisikku sambil memejamkan kedua mataku.

Jung Kook memelukku lebih erat. “I’ve missed you too, Piglet!”

Aku tertawa. Saat kecil, Jung Kook memang sangat suka Winnie the Pooh. Aku sering meledeknya, menyebutnya seperti anak perempuan, dan sebagai gantinya Jung Kook memanggilku piglet karena dulu tubuhku sangat pendek dan kecil.

“Piglet tidak akan lolos seleksi menjadi model, Pooh.”

Jung Kook tersenyum. “I’ll start calling you rabbit then…, or tiger?”

Aku terkekeh. “Sure. Hmm, bagaimana keadaan Dad?”

Jung Kook mengangkat kedua bahunya. “Sibuk di rumah sakit. Like always. How’s Mom?” Jung Kook merapikan rambut hitam panjangku yang ikal dengan shade pink di ujung-ujung bawahnya.

“Seperti biasa, fashion show di sana sini. Aku sudah menolak banyak tawarannya untuk menjadi model. You know I have school.”

Jung Kook tergelak. “Terlepas dari betapa nakalnya dirimu, kau masih cinta belajar. That’s good then!”

Aku memutar kedua bola mataku. “Of course! I’m soon to be the best surgeon in the world.

“Lalu kenapa calon dokter menyakiti tubuhnya sendiri? You know, smoking and drinking are so bad both for your beauty and health.”

“Yes…yes… Kookie, I know.”

“Spill it!”

“What?”

“I know something’s been bothering you, Hyun.”

Aku menghela napas panjang. Aku tidak pernah bisa membodohi kembaranku ini. Lebih mengerikan lagi adalah ketika dia bisa merasakan saat-saat di mana aku sedang mengalami kesulitan, padahal dia tinggal di benua yang berbeda denganku. Terkadang aku pun memang mendapat firasat di saat Jung Kook sedang kesulitan, tapi Jung Kook jauh lebih peka dariku. Mungkin bedanya aku terlalu cuek, sedangkan Jung Kook terlalu perhatian. Aku tidak pernah terbang ke Korea ketika mendapat firasat buruk tentang Jung Kook. Yang kulakukan paling hanya meneleponnya atau video call. Jung Kook is the best twin, the best brother in this universe! I couldn’t ask more. Tapi terkadang mengerikan bagaimana Jung Kook sepertinya bisa membaca pikiran-pikiran tergelapku, yang bahkan aku sendiri pun tidak menyadarinya.

Jung Kook memang bukan “kembaran” asli ku, meskipun kami lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama, tapi jam kelahiran kami berbeda, orang tua kami pun berbeda. Kami sama sekali tidak punya hubungan darah. Ayah Jung Kook dan ibuku menikah saat usia kami 2 tahun, tapi kemudian mereka bercerai ketika usia kami 11 tahun. Aku tidak pernah tahu siapa ayah kandungku. Ibuku berkata ayah kandungku hanya seorang bajingan mengerikan yang menyakitinya. Ibu kandung Jung Kook meninggal dunia beberapa menit setelah melahirkan Jung Kook. Anehnya adalah… ibuku dan ibunya Jung Kook melahirkan di rumah sakit yang sama di Seoul. Aku lahir beberapa jam lebih dulu dibanding Jung Kook, jadi kalaupun orang lain menyebut kami “kembar”, seharusnya aku yang menjadi kakak kembarnya, bukan Jung Kook!

Jung Kook masih menatapku lekat-lekat. Kedua matanya yang besar menyipit curiga. Aku mencoba tersenyum, tapi gagal. Mood ku langsung hancur berantakkan begitu Jung Kook menyebut “nama itu”.

Is it about Kai?” Jung Kook menatapku lekat-lekat.

Kai who?” Aku menyeringai, sorot mataku mengeras.

Jung Kook menjitak kepalaku pelan. “I’ve heard it from Tae Hyung.”

Aku mendengus. “That stupid Kim Tae Hyung!”

“Kau memberitahu sahabatmu tapi kau tidak memberitahuku!”

“Karena kalau aku memberitahumu, kau akan langsung datang ke sini, Kookie.”

“Sekarang aku ada di sini.”

Right. Bahkan tanpa memberitahumu pun kau akan datang kemari seperti ini. Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Kookie. Kau punya banyak hal untuk dipikirkan selain mengurusi my stupid love life.” Nada bicaraku melembut.

Jung Kook mengusap-usap kepalaku. “That bastard never deserved you, So Hyun.

But I loved that bastard, Kookie.”

Come and stay in Seoul with me, Hyun. Di sana kau akan menemukan banyak pria Asia sexy yang jauh lebih baik dari Kai.”

Aku terkekeh, lalu menepuk-nepuk pipi Jung Kook pelan, “Kookie, I know you’re the sweetest brother in the world, but… I can’t leave LA, I can’t leave Mom.”

You can’t leave Kai.” Jung Kook menggertakkan giginya. Nada suaranya terdengar dingin.

Aku tertawa. “Aku sudah meninggalkannya. I have brain, brother! Meskipun aku masih menyukainya, tidak mungkin aku terus menjalin hubungan dengan pria yang akan segera bertunangan.”

Jung Kook menghela napas. “When?”

What?”

His engagement party.”

Next Saturday.” Aku berusaha terdengar ceria, tapi aku tahu, jawabanku barusan terdengar benar-benar dingin.

Jung Kook mengangguk. “We’ll leave after the next Saturday then.”

“Aku masih harus internship, Kookie. Aku belum lulus, remember?”

“Kau bisa internship di rumah sakit Dad. Lagipula I’m the GM at Dad’s hospital, and I have connections with your university too. Aku bisa memasukkanmu dengan mudah.”

Aku mengangguk. “Sounds good. Tapi kenapa kita harus pergi minggu depan? How about tomorrow?”

“Aku akan menemanimu datang ke pesta pertunangan Kai.”

Aku membelalakkan mataku. “You’re crazy, Jung Kook!”

Jung Kook tertawa sambil mengacak-acak rambutku. “Jangan biarkan Kai mengira kau pindah ke Korea karena dia. Tunjukkan padanya kalau kau baik-baik saja dan masih banyak pria di sekitarmu.”

Aku mengerang. “Kai tahu kau kembaranku!”

Tawa Jung Kook semakin keras. “I won’t be your date.”

Then?”

Our friends…”

Aku menatap Jung Kook tak yakin. “Our friends, as in… Tae Hyung, Suga, and Jimin?”

Jung Kook mengangguk. Aku mendesah. “Oh, please! Kau kan tahu Suga dan Jimin sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir mereka. Aku tidak ingin meminta mereka terbang kemari hanya karena masalah konyolku. Dan.., Tae Hyung, Kai tahu Tae Hyung adalah sahabat terbaikku. Lebih baik aku pergi bersama teman-teman modelku daripada bersama mereka.”

Jung Kook menggeleng. “Dan membuat mereka jatuh cinta padamu sungguhan? Kau tahu kan aku tidak ingin punya adik ipar seorang model. I prefer doctor, like us.

Aku terbahak-bahak. “I’m a model too, Kookie.”

“Itu hanya sampingan. Kau tetap calon dokter.”

Yeah…yeah… whatever. So? What should I do?”

“Hmmm…, ada dokter muda kenalanku yang kupikir bisa datang. Namanya Oh Sehun. Dia tampan, gagah, pintar, baik, dan berasal dari keluarga yang baik juga.”

“Eeeyyy…, terdengar seperti kau akan menjodohkanku dengannya, brother.”

Jung Kook mengangguk. “Why not?”

Give me his picture then. Aku akan mempertimbangkannya.”

Jung Kook tergelak. “Sejak kapan kau jadi penurut seperti ini, Kim So Hyun?”

Aku mengangkat bahu dan menjawab dengan cuek. “Semenjak pacarku yang kupikir akan menikahiku ternyata malah akan menikahi wanita lain?”

Sorot mata Jung Kook melembut. “Kau tahu kan banyak pria yang menyukaimu.”

I know.”

“Kau hanya tinggal memilih.”

“Seandainya memilih itu gampang, Kookie. Kau tahu kan kalau aku ini pemilih. Lagipula Mom tidak suka bila aku berkencan dengan sembarang orang. Kai? Well, kupikir dulu aku beruntung karena Mom menyukai Kai dan latar belakangnya yang oke. Tapi apa gunanya latar belakang yang oke bila orangnya tidak oke, benar kan?”

Jung Kook mengangguk. “So, you have someone in mind to help you get revenge?”

“Hmm. My model friends. They’re good people, Kookie. Hanya karena dunia mereka gemerlap, bukan berarti mereka orang yang tidak baik.”

“Apakah mereka your drinking buddies?”

Aku menggeleng. “No. I always hit the club alone. That’s the fun, Kookie! Meeting new people, I don’t know who they’re, they don’t know who I am, and we’ll never meet again tomorrow, I will not remember them at the next day. Just… have fun at that moment.”

Jung Kook mengerutkan keningnya. “That’s it? Kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan? Like…likehaving a one night stand?”

Gosh! You’re worse than Mom, Kookie!” Aku tertawa keras. “Kau tahu bagaimana prinsipku sejak dulu. Aku tidak pernah melanggarnya.”

Good girl.” Jung Kook tersenyum senang sambil menepuk-nepuk kepalaku pelan. “Jadi, teman-teman modelmu ini… pastikan aku bertemu dengan mereka dulu sebelum kau mengajak mereka ke pesta Kai dan melakukan crazy stuffs.”

“Hahaha, crazy stuffs like what, brother? Making out with them in front of Kai’s face?” Aku menyeringai.

Jung Kook memutar kedua bola matanya. “Then what?”

Aku masih tertawa. “So, I should do this kind of revenge? Ketika kau mengusulkan agar aku pergi dengan Tae Hyung, Suga, Jimin, atau dengan teman dokter mu itu…  I should making out with them?”

Geeez, I didn’t say it! Yeah, maybe just a short sweet kiss on the cheek.”

You’re funny, brother!” Aku mencubit kedua pipi Jung Kook dengan keras. “And innocent, too.” Aku mencium pipinya yang merah akibat cubitanku barusan. Jung Kook hanya melotot kesal. Aku tahu dia kesal setiap kali aku memanggilnya innocent, tapi pada kenyataannya… dia memang sangat innocent. “Tenang saja, Kookie. Aku akan datang dengan Nam Joo Hyuk, one of my model friends. Bila aku datang dengannya…, aku berani menjamin kami tidak perlu kissing, bahkan di pipi sekalipun. Aku hanya perlu menggandeng tangannya, dan… voila! Semua orang akan merasa iri padaku. Hmmm.., maybe Kai will also have negative self-esteem.

Jung Kook mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Nam Joo Hyuk? Sounds familiar.”

Aku mengangguk. “Salah satu model Mom. Kau pernah bertemu dengannya saat liburan musim panas 2 tahun lalu.”

“Oh.., the tall guy who really good playing skateboard and basketball?! He looks like playboy!”

Aku tergelak. “Believe me, he is not. He has… phobia of girls, kecuali pada cewek-cewek yang memang sudah menjadi temannya sejak lama dan tidak tertarik padanya sebagai pria. Tidak ada yang tahu tentang disorder nya ini kecuali teman-teman dekatnya. Dia model papan atas, Kookie. Semua cewek ingin menjadi pacarnya, tapi… yah.. you know, he rejects them all. So I think it would be cool if he comes with me to Kai’s party as my date?”

Jung Kook tersenyum. “Okay. But let me meet this guy first.”

Geeeezzz…, okay Dad!” ledekku. Kami pun hanya tertawa.

Dengan kehadiran Jung Kook di rumah ini, rasanya beban ku jadi sedikit berkurang. Thank you for coming here, Kookie!

~~~~~~❤❤❤ ~~~~~~

 

 

“Yah! V! Vampire! Aku sudah tahu mulutmu itu seperti ember bocor! Hhh, salahku sendiri kenapa memberitahumu tentang masalahku dan Kai! Ugh! Aku bosan mendengar omelan Jung Kook the perfectionist guy!” Aku menggerutu kesal di depan laptopku sambil mengunyah keripik kentang.

Kim Tae Hyung alias V tertawa terbahak-bahak. “Jung Kook akan menyelamatkan kamarmu yang seperti kapal pecah, Darling.”

Aku mengangkat bahu. “Dia memang membersihkan dan merapikan kamarku sejak tadi pagi.”

“Kau harus memiliki pacar seperti Jung Kook.”

Oh, please…, I don’t need another Jung Kook in my life.” Aku nyengir lebar. Tae Hyung terkekeh, tapi kemudian menguap lebar. “Kau tidak tidur semalam, V?”

Tae Hyung menggeleng. “Hanya 2 jam kurasa. Aku menyesal kenapa dulu mengambil pertukaran pelajar ini! I should just stay with you, babe. I miss LA. I miss our campus.” Tahun lalu Tae Hyung pindah ke Seoul untuk mengambil program pertukaran pelajar selama 2 tahun di kampus Jung Kook dulu. Tae Hyung sama seperti aku dan Jung Kook, kuliah di jurusan kedokteran. Tapi gara-gara pertukaran pelajar itu, Tae Hyung jadi kuliah lebih lama dariku. Jung Kook lulus lebih cepat dariku. This is not new. My brother is the genius boy after all! Dia selalu mengambil program akselerasi sejak sekolah dasar.

That is called karma, honey! You should never leaved your best friend here!” Aku mendecakkan lidahku.

Tae Hyung menguap. “Right. Oh yeah.., Jung Kook bilang…dia akan membawamu pindah kemari. Yeay! I can’t wait to see you, Hon!” Tae Hyung nyengir lebar dan konyol, menampilkan deretan giginya yang putih.

Aku tertawa. Aku benar-benar merindukan Kim Tae Hyung alias V alias Victory alias Vampire alias si pangeran 4D alias si pembuat onar! Sejauh yang kuingat, kami sudah bersahabat seumur hidup kami, bahkan mungkin sejak kami masih berada dalam kandungan ibu kami masing-masing. Tae Hyung selalu ada untukku, bahkan di saat ibuku bercerai dengan ayahnya Jung Kook, lalu kami pindah ke LA saat usiaku 11 tahun, Tae Hyung selalu ada untukku. Ia, ibu, dan ayahnya bahkan pindah ke LA hanya karena aku pindah! Aku tahu ibunya Tae Hyung adalah sahabat ibuku sejak kecil, tapi kurasa ibu Tae Hyung tidak akan mau pindah ke LA jika Tae Hyung tidak merengek memaksanya pindah, melakukan mogok makan selama satu minggu, hingga akhirnya ibunya dan ayahnya setuju untuk pindah ke LA (untung saja ayah Tae Hyung memang mendapat tawaran mengajar di universitas di New York, masih lebih dekat ke LA daripada ke Seoul). Tae Hyung benar-benar sahabatku yang paling solid. Tapi jujur saja aku masih kesal karena dia ikut pertukaran pelajar ke Korea tahun lalu dan meninggalkanku!

Yes… yes… I think it’s not a bad idea, moving there… I mean… Jung Kook’s right, I can do the internship at my Dad’s hospital. I just need to come back here next year to attend the graduation party.

Ugh! I’ll be graduated 2 years later after yours…” Tae Hyung memonyongkan bibirnya.

Aku mendekatkan jariku ke layar laptop dan pura-pura mencubit bibirnya. “It doesn’t matter, babe! You are still my best best best best friend in this universe!”

Tae Hyung semakin memonyongkan bibirnya. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, seperti anak anjing hilang yang berharap pemiliknya segera menemukannya.

Where are you now?”

Library.” Tae Hyung memutar laptopnya, memperlihatkan deretan rak buku tinggi di sekitarnya. “And that’s why I’m wearing earphone, and talk softer than usual.”

Don’t sleep there, V. Kebiasaan tidurmu sangat buruk. Kau mungkin akan tertidur dan bangun tengah malam nanti, saat perpustakaan sudah dikunci.”

I won’t, Darl. Aku harus mengerjakan tugas. Ugh! Kurasa kampus kita jauh lebih baik. Setidaknya tugas-tugasnya tidak sebanyak ini!”

Aku tertawa melihat Tae Hyung menggerutu. Dia terus melakukan video call denganku sambil membolak-balik halaman text book. “It’s Seoul University after all! Wajar saja, V.”

Tae Hyung mengerutkan keningnya. “Aku masih mendengar suara keripik kentang.”

“Memang.”

Tae Hyung mengangkat wajahnya ke layar laptop dan menatapku lagi. “Kau tidak takut gendut? Sekarang sudah malam di sana kan?”

Aku mengangkat bahu. “Kenapa aku harus takut gendut? Kalau aku berubah gendut, jelek, aneh, dan tidak ada pria yang mau menikahiku…, kau akan tetap menemaniku kan, Kim Tae Hyung? Kau akan meyakinkan istrimu nanti kalau aku adalah sahabatmu seumur hidupmu kan?”

“Tentu. Kita tidak akan berpisah kecuali kematian memisahkan kita, Darling.”

Aku mengangguk. “Aku ingin bertanya bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Yeri, tapi sepertinya kau sedang tidak mood.”

“Hmmm, memang. Lagipula aku tidak menyukai Yeri seperti itu.”

“Tsk! Kau jauh lebih pemilih dariku, Kim Tae Hyung! Anyway, mau kubantu mengerjakan tugas? Atau… kau ingin agar aku memanggil Jung Kook dan membantumu?”

“Jung Kook akan membunuhku! Kau bisa membantuku dengan terus mengajakku bicara agar aku tidak mengantuk. Atau mungkin menyanyi? Itu lebih baik.”

“Kalau aku menyanyi…, telingamu akan langsung rusak, Darl.”

“Hahaha….benar. Kalau begitu makan saja terus. Aku akan mendengar suaramu mengunyah.”

“Oke.”

Seperti itulah. Aku benar-benar merasa nyaman bersahabat dengan V alias Kim Tae Hyung. Di dunia ini, tidak ada yang lebih memahamiku selain Tae Hyung. Bahkan terkadang Jung Kook pun tidak. Di saat akur, kami sering memanggil julukan-julukan seperti babe, honey, darling. Sebenarnya hal ini kami lakukan karena sudah terbiasa. Dulu, saat senior high school, kami pernah pura-pura pacaran untuk menyingkirkan kakak kelas yang terus-terusan menguntitku, meskipun aku sudah jelas-jelas menolaknya. Tentu saja semua orang (terutama anak-anak yang sudah satu sekolah dengan kami sejak junior high school) tidak percaya aku dan Tae Hyung pacaran, karena itulah kami mulai menggunakan panggilan-panggilan itu. Kurasa akting kami cukup oke, sampai-sampai semua orang akhirnya percaya, dan kakak kelas itu berhenti membuntutiku.

Setelah kakak kelas itu lulus, kebiasaan kami memanggil nama dengan panggilan yang sok romantis itu masih terus berlanjut, entahlah, mungkin karena sudah terlalu terbiasa. Semua orang memang jadi salah paham. Tapi kami tidak peduli. Tidak ada cowok yang kusukai, dan tidak ada cewek yang Tae Hyung sukai, jadi tidak masalah. Hanya ketika awal masuk kuliah lah, ketika aku naksir Yeo Jin Goo, kami mulai meluruskan kesalahpahaman ini. Tapi Jin Goo sering mencurigaiku, tidak percaya padaku, dan akhirnya kami putus setelah 4 bulan pacaran. Bagiku saat itu rasanya biasa saja. Aku juga tidak yakin apakah aku mencintai Yeo Jin Goo atau hanya naksir. Tapi kemudian aku bertemu Kim Jong In alias Kai dari jurusan bisnis di festival musim panas 2 bulan kemudian setelah aku dan Jin Goo putus. Kai berbeda dari pria-pria lain yang mendekatiku secara murahan. Dia bahkan berbeda dari Jin Goo. Dia mempercayaiku. Dia juga tidak mempermasalahkan panggilan Tae Hyung untukku.

Tapi sepertinya itulah masalahnya. Kai terlalu sempurna di mataku, sampai-sampai aku tidak bisa melihat satupun kekurangan pada dirinya. Dia sangat dewasa, baik, pengertian, perhatian, selalu mengalah padaku, selalu menepati janjinya, tidak pernah terlambat saat berkencan, selalu memberiku hadiah, selalu merayakan hari jadi kami. Hingga pada hari jadi kami yang ke-4 lah aku baru mengetahui ternyata selama 2 tahun ke belakang ini dia menduakanku. Buruknya? Wanita ke-2 nya itu hamil.

Syok? Kecewa? Marah? Tentu saja! Tapi sepertinya aku lebih marah kepada diriku sendiri daripada kepada Kai maupun wanita itu. Bagaimana bisa selama 2 tahun itu aku tidak tahu apapun? Sepertinya aku benar-benar tidak peka! Atau mungkin aku terlalu cuek, seperti apa yang Tae Hyung katakan.  Aku selalu menerima, tapi tidak memberi. Selalu Kai yang meneleponku lebih dulu. Selalu Kai yang mengatakan bahwa ia merindukanku dan mencintaiku. Selalu Kai yang mengajak kencan. Selalu Kai yang memperhatikanku. Tapi aku tidak. Aku tetaplah aku. Kim So Hyun yang cuek dan dingin.

Kupikir Kai akan selalu ada untukku. Selamanya mencintaiku. Ternyata aku salah. Cinta dan hubungan bukan hanya satu arah. Aku terlalu yakin Kai akan selalu menyukaiku, sehingga aku tidak pernah berusaha untuk membuatnya menyukaiku ataupun membuatnya untuk terus berada di sisiku.

Tapi yang tidak kumengerti adalah…mengapa dia terus bertahan ketika sebenarnya ia sudah tak tahan menjalin hubungan denganku? Kenapa dia tidak mencampakkanku saja? Apakah karena dia takut kehilangan “gelar” nya sebagai kekasih sang medical princess?

Bukannya sombong atau apa, tapi banyak pria lain yang menyukaiku dan berharap menjadi pacarku. Tapi aku tidak pernah menanggapi semua perhatian mereka. Aku tipe simpel yang bila sudah memiliki pacar, maka aku akan setia pada pacarku itu, tak peduli sebanyak apapun pria lain yang lebih hebat dari pacarku yang berusaha merayuku. Aku juga tipe kuno yang menginginkan kehidupan pernikahan yang awet sampai tua. Aku tahu, happily ever after itu bullshit! Hanya ada di negeri dongeng. Tapi aku ingin memiliki keluarga yang langgeng, tanpa perceraian, tanpa perselingkuhan. Aku lupa kalau keinginan memerlukan usaha. Mungkin usahaku kurang. Mungkin aku terlalu menggampangkan segala hal. Mungkin juga aku terlalu “princess like”, yang selalu ingin dilayani tapi tidak pernah mau melayani orang lain.

Aku juga tipe yang sok kuat dan sok cuek. Ketika Kai berlutut sambil menangis di hadapanku 3 minggu yang lalu, aku hanya menatapnya dengan dingin dan berkata. “Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku, Kai!”

Kupikir setelah mengatakan itu, semuanya akan oke. Kenyataannya? Aku malah mengingat semua kebaikan si brengsek itu! Kenapa aku baru sadar ternyata aku mencintainya di saat kami sudah putus?

Karma benar-benar ada. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena aku sering bersikap jelek pada pria-pria yang menyukaiku. Mungkin karena aku selalu menolak pria-pria yang menyatakan perasaannya padaku. Aku tidak ingat berapa banyak pria yang sudah menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku ingat menerima 2 di antara mereka. Yeo Jin Goo dan Kai. Entah apakah dulu Jin Goo benar-benar sakit hati ketika aku mencampakkannya dengan alasan dia selalu mencurigai aku dan Tae Hyung, sehingga dia berdoa pada Tuhan untuk menghukumku. Atau entah karena pria-pria yang kutolak dengan dingin yang berdoa agar Tuhan menghukumku. Yang pasti… sejak 3 minggu yang lalu… aku sudah memutuskan untuk tidak berharap akan menikah di masa depan nanti dan memiliki keluarga yang langgeng. Mungkin aku akan bernasib sama seperti ibuku? Melahirkan tanpa suami? Lalu menikah lagi dan kemudian bercerai? Mungkin aku memang tidak akan pernah bisa menjadi seperti ibunya Tae Hyung. Ayah dan ibu Tae Hyung adalah role model bagaimana pasangan romantis yang seharusnya.

“V, kurasa aku tidak akan pernah menikah. Aku tidak mau menikah. Tapi di masa depan nanti, kalau aku ingin punya anak… mungkin aku hanya akan mengadopsi. Atau… haruskah aku mengikuti program bayi tabung?”

Kalimat yang kukatakan pada Tae Hyung 1 minggu lalu lewat skype itulah yang sepertinya memicu kedatangan Jung Kook kemari. Aku memang tidak langsung memberitahu Tae Hyung tentang bagaimana aku dan Kai putus. Aku menyimpan semua itu sendirian selama 2 minggu. Kupikir semuanya akan berlalu. Kupikir aku akan baik-baik saja. Tapi… semakin hari aku malah menjadi semakin kacau dan linglung, karena itulah aku menceritakan semuanya pada Tae Hyung.

Tae Hyung benar-benar marah pada Kai. Dia bahkan berkata akan segera datang kemari untuk menghajar Kai, tapi aku melarangnya.

Aku tidak tahu apakah aku kecewa karena Kai mengkhianatiku, atau kecewa karena Kai menghancurkan konsepku akan cinta sejati dan membuatku ragu apakah aku akan memiliki cinta sejati atau tidak nantinya.

“Aku terlalu melankolis, Tae Hyung. Seharusnya aku mengikuti jejakmu, tidak percaya dengan cinta sejati. Meskipun dulu aku berkata kau bodoh karena tidak percaya cinta sejati itu ada, padahal jelas-jelas orangtuamu adalah role model yang tepat, pasangan yang sempurna.” Aku tersadar dari lamunanku, tapi malah mulai meracau lagi pada Tae Hyung.

Tae Hyung berhenti membaca. Dia mengangkat wajahnya, menatapku lekat-lekat. “So Hyun…, sebaiknya kau tidur. Kau terlalu banyak berpikir. Dengar, Kai tidak pantas merubah sudut pandangmu mengenai hal-hal yang kau percayai. He is just not the one for you. So yes, he is not your true love.

Aku mendengus. “Kau tidak percaya cinta sejati itu ada, tapi kau percaya akan konsep the one?”

Tae Hyung mengangguk. “Hmmm, tentu. Cinta sejati itu bullshit, So Hyun! Yang ada hanyalah dua orang yang mau dan berusaha bersama-sama untuk mempertahankan hubungan mereka, cinta mereka. Karena cinta tidak akan bertahan selamanya. Semua itu butuh perjuangan dan kemauan untuk mempertahankan. So, yeah, aku percaya dengan konsep the one. Dia, satu-satunya orang yang akan berjuang mempertahankan cinta itu denganku.” Suara Taehyung terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya.

Aku tertegun, menatap kedua bola mata cokelat bening Tae Hyung. “Have you found her?”

Tae Hyung tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku lekat-lekat, kemudian menggeleng. “Entahlah…”

“Eeeeyyyy…, kau menyembunyikan sesuatu dariku!”

Just sleep, So Hyun.”

Aku menggeleng, tapi kemudian menguap. “Kau boleh mendengar suara dengkuranku, V. Meskipun aku yakin kalau aku tidak mendengkur.”

Oh, please…, apakah bukti-bukti yang kukirimkan padamu belum cukup? Aku akan merekamnya lagi sekarang.”

Aku memutar kedua bola mataku. “Geeez! I’ll end this video call then.”

No! Biarkan aku mendengar suaramu. Kalau tidak, aku akan ketiduran di sini.”

Aku menguap lagi. “Oke.”

Aku mulai memindahkan laptopku ke meja kecil di samping tempat tidurku, lalu berbaring dan menarik selimut sampai ke leher. Tae Hyung menatapku sambil nyengir. “Selamat mengerjakan tugas, Babe.” Gumamku dengan mata terpejam.

“Tidur yang nyenyak, Hon.”

~~~~~~ ********* ~~~~~~~~~

 

 

Selama berada di LA, Jung Kook benar-benar sibuk. Mengadakan teleconference, meeting lewat skype, dan menulis jurnal ilmiah untuk seminar di Universitas Tokyo 2 minggu yang akan datang. Selain bekerja sebagai ahli bedah, Jung Kook juga menjabat sebagai General Manager rumah sakit ayah kami. Wajar saja bila dia benar-benar sibuk.

“Pantas saja kau tidak punya kehidupan pribadi, Kookie. 24 jam kau habiskan hanya untuk pekerjaan.” Komentarku.

Jung Kook sedang mengetik di laptopnya. Dia meletakkan kacamata bacanya lalu merentangkan kedua lengannya. “Come here, Hyun.”

“Geeezzz, I’m 24, Kookie! Not 5!” Gerutuku. Tapi aku tetap berlari juga ke pelukannya.

I’m sorrrryyyyyy…, my baby girl, aku tidak banyak mengobrol denganmu selama aku berada di sini.”

Right! Seharusnya kita pergi jalan-jalan. This is LA, Kookie! You should having fun here!”

“Besok malam? Aku janji. Aku hanya harus membereskan sedikit masalah di rumah sakit.”

Aku menggeleng. “Besok malam aku akan pergi dengan Min Ho, Hanbin, dan Joo Hyuk.”

“Nam Joo Hyuk? Kapan kau akan mempertemukan kami?”

“Duh, Jung Kook! Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Menurutku.., sebaiknya aku tidak perlu datang ke pesta Kai dan memanas-manasinya. Semua itu…, tidak penting. Kekanak-kanakkan sekali, Kookie.”

Jung Kook mengusap-usap rambutku, kemudian mengecup keningku lama. “Yeah.., kupikir juga memang kekanakan.”

So? Should we go to Seoul the day after tomorrow?”

“Hmmm…, oke. Aku akan mencari tiket sesegera mungkin.”

Yeay! Thank you, my golden Kookie!” Aku mengecup kedua pipinya. Jung Kook hanya tertawa dan mengacak-acak rambutku.

Benar. Memang tidak penting “show off” di pesta Kai. Tanpa perlu show off pun, aku yakin Kai tahu di sekitarku masih banyak pria yang menyukaiku. Aku tidak ingin datang ke pestanya karena aku takut akan perasaanku sendiri. Lebih baik aku segera pergi dan membuang semua hal yang berkaitan dengan Kai jauh-jauh.

~~~ **** ~~~~

 

“Jeon Jung Kook sajangnim dan adiknya benar-benar mirip! Tampan dan cantik.”

“Mereka bukan kakak-adik, tapi kembar!”

“Oh! Pantas saja. Mereka sangat mirip!”

“Kudengar orangtua mereka bercerai saat mereka masih kecil!”

“Kudengar mereka justru bukan kembar asli! Mereka tidak punya hubungan darah sama sekali!”

“Sungguh? Tapi kenapa wajah mereka bisa terlihat sangat mirip?!”

“Itu hanya gossip! Tapi tidakkah kalian merasa kalau mereka akan sangat cocok menjadi idol?”

“Jung Kook sajangnim sekolah dan kuliah lebih cepat dari kembarannya, benar-benar jenius!”

“Benar. Dia memang jenius!”

“Apakah kembarannya sama dinginnya dengan Jung Kook sajangnim?”

Aku hanya tersenyum mendengar bisik-bisik para suster dan dokter ketika aku berjalan melewati mereka. Aku tidak begitu memedulikan apa kata orang, sudah terlalu terbiasa menjadi bahan gunjingan.

Begitu sampai di Seoul, sudah bisa ditebak ke mana tujuan pertama kami. Yup! Rumah sakit! Jung Kook harus mengurus ini itu, entahlah. Aku hanya mengikutinya. Aku tidak ingin tersesat di sini. Tae Hyung sedang kuliah, jadi aku tidak ingin mengganggunya.

Where’s Dad?”

Dad pergi ke Singapura semalam.”

“Oh.”

Hubunganku dengan ayahku tidak terlalu baik. Bukan karena dia bukanlah ayah kandungku. Sejak kecil, ayah Jung Kook memperlakukanku sebagai putri kandungnya sendiri. Tapi sikapnya padaku jadi dingin, mungkin karena dulu aku lebih memilih pindah dan tinggal bersama Mom di LA daripada tetap bersamanya di Seoul. Hey! Meskipun harus kuakui, Dad adalah orangtua yang lebih baik dari Mom, tapi Mom adalah ibu kandungku. Dan aku mengikuti jejak Dad sebagai dokter kan?! Aku tidak mengikuti jejak Mom sebagai fashion designer dan model. Yah.., hanya model. Tapi model hanya pekerjaan sampinganku.

Aku duduk di ruangan Jung Kook, sementara Jung Kook menginstruksikan ini itu pada sekretarisnya.

“Apakah aku punya jadwal operasi?” Tanya Jung Kook pada sekretarisnya.

“Jam 3 sore nanti, sajangnim.”

Jung Kook mengangguk. Aku menghela napas. Sekarang sudah pukul 1 siang.

I’ll wait here, hanya sampai Tae Hyung datang.”

Jung Kook menggeleng. “Aku akan meminta Sehun hyung menggantikanku operasi. Come on. Kau butuh istirahat. Apartemenku tak jauh dari sini.”

Aku tersenyum. Tentu saja. Jung Kook si workaholic akan memilih tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjanya!

~~~~ ***** ~~~~~

 

Tae Hyung datang ke apartemen Jung Kook pukul 5 sore, tapi aku baru bertemu dengannya ketika aku terbangun pada pukul 8 malam. Aku langsung tidur begitu tiba di apartemen Jung Kook, benar-benar lelah, dan sepertinya tubuhku masih belum bisa beradaptasi dengan perbedaan waktu di sini.

“Tae Hyung?” Aku keluar dari dalam kamar sambil mengucek-ngucek mataku. Tae Hyung dan Jung Kook duduk di sofa, menonton pertandingan sepak bola sambil makan popcorn.

Tae Hyung langsung berdiri dan memelukku. “My baby girl! I’ve missed you so much!”

Aku terkekeh, membalas pelukannya. “Kau menungguku bangun, V?”

“Tentu saja.” Tae Hyung menuntunku ke sofa. Aku duduk di antara Jung Kook dan Tae Hyung.

“Aku sudah menyiapkan makan malam.” Kata Jung Kook.

“Aku tidak lapar, Kookie.” Aku menguap lagi.

“Kau sudah tidur selama 7 jam, tapi masih mengantuk? Tsk! Dasar putri tidur!” Tae Hyung menyeringai sambil geleng-geleng kepala.

Aku menonjok lengan Tae Hyung. “Shut up!”

Tae Hyung nyengir, “Pop corn?” Dia menawarkan pop corn nya padaku. Aku menggeleng. “Ice cream?” tanya Tae Hyung lagi.

I don’t have ice cream.” Gumam Jung Kook, matanya tak lepas dari layar TV.

Let’s buy ice cream!” Aku langsung berdiri dari sofa.

Kedua pria itu menatapku ragu, lalu bergantian melirik televisi dan kemudian melirikku.

Aku mendengus sambil memutar kedua bola mataku. “Geez, boys!”

Let’s go…let’s go…” Tae Hyung pun berdiri. Jung Kook ikut berdiri, meraih kunci mobil, meskipun matanya masih tetap terus terpaku pada televisi sampai kemudian ia terpaksa mematikan TV sambil mendesah.

Good boys.” Aku mengelus-elus rambut hitam Jung Kook yang halus, dan kemudian rambut pirang kecokelatan Tae Hyung yang agak berantakkan seperti caraku mengelus kepala anjing.

Tae Hyung memberenggut. “Aku hanya tidak ingin menjadi korban amukan-mu, Darl.”

Let’s go!” Ajak Jung Kook. Aku dan Tae Hyung pun mengikutinya keluar apartemen.

“Di mana apartemenmu, V?” aku membalikkan badanku. Jung Kook mengemudi, aku duduk di kursi penumpang, sedangkan Tae Hyung di belakang.

“Tidak terlalu jauh dari sini. Dekat kampus-ku.”

Aku mendengus. “Maksudmu…mantan kampusnya Jung Kook?!”

Tae Hyung terbahak-bahak. “Yeah…yeah…, aku kan hanya mahasiswa pertukaran di sini.”

“Mrs. Dawn sepertinya merindukanmu, V. Dia bahkan titip salam untukmu ketika aku memberitahunya bahwa aku akan melanjutkan internship di sini.”

“Tentu saja, Mrs.Dawn sangat rindu memberikan hukuman padaku.” Tae Hyung memutar kedua bola matanya. Aku terbahak.

“Tae Hyung berubah jadi mahasiswa baik di sini.” Ujar Jung Kook.

Mataku membelalak lebar. “No way!”

Yes way!” Tae Hyung nyegir lebar, dadanya dibusungkan dengan bangga.

Jung Kook terkekeh. “Professor Min yang memberitahuku ketika beliau berkunjung ke rumah sakit untuk melakukan check up.”

“Oh.., bagaimana keadaannya?”

“Sudah lebih baik.” Jung Kook mengangguk.

“Aku masih merasa menyesal pada Suga karena tidak datang saat ayahnya melakukan operasi jantung.”

“Ahjussi baik-baik saja. Dia dosen favoritku di sini. Kurasa aku ingin menjadi dosen…hmm… professor, daripada menjadi dokter.”

Aku terbahak-bahak mendengar ocehan Tae Hyung. Tae Hyung mendelik kesal padaku.

“Bagaimana kau akan mengajar menggunakan bahasa alien mu itu, Tae Hyung~ah? Semua mahasiswa mu akan kebingungan nanti. Hahaha….”

“Kau bisa menjadi dosen sekaligus tetap praktik di rumah sakit, V.” komentar Jung Kook. “Seandainya masalah manajemen rumah sakit ayahku sudah selesai kuatasi, aku akan mengajar juga di universitas.”

“Oww, easy, Kookie. Kau sudah sangat sibuk. Kau tidak mau membuat So Hyun kesepian, bukan? Apalagi semester depan kau akan mulai kuliah doktoral.”

Aku mengangguk, setuju dengan kata-kata Tae Hyung. “Kau jadi semakin tidak punya waktu untuk berkencan, Kookie. Kau harus segera memberiku kakak ipar!”

Jung Kook mendesah. “Kau dan Mom sama saja.”

“Kami hanya khawatir di masa depan nanti kau akan menikah dengan rumah sakit!” Aku terkekeh.

Tae Hyung tertawa. “Jangan mengata-ngatai Jung Kook! Kau sendiri? Jangan-jangan di masa depan nanti kau akan menikahi cermin!”

“YAH!” Seruku dengan kesal. Jung Kook dan Tae Hyung terkekeh. “Kim Tae Hyung! Jangan lupa, kau adalah sahabatku, bukan sahabat Jung Kook!”

Eeeeyyy…, soooo possessive, babe.” Tae Hyung mencubit pipiku dengan keras.

“Ugh!” Aku menepis lengan Tae Hyung, lalu berusaha balas dendam, membalikkan badanku dan menjulurkan lenganku ke jok belakang, berusaha mencubit Tae Hyung. Tapi Tae Hyung menahan lenganku dengan satu tangan, dan tangan lainnya berusaha menggelitiki pinggangku.

“Yah! Yah! Stop it! Atau aku akan menurunkan kalian di sini!” Ujar Jung Kook tegas. Mobil sedikit oleng karena “kehebohan” yang Tae Hyung dan aku perbuat.

“Neeee…” Koor Tae Hyung dan aku dengan nada seperti anak baik.

Jung Kook mendesah. “Aku tidak bisa membayangkan seandainya kau jadi adikku juga.”

Tae Hyung terkekeh. “Oh, please…, aku akan jadi kakakmu. Aku lahir dua bulan lebih cepat dibanding kalian.”

“Kakak my ass!” gerutuku.

Tae Hyung tertawa keras seperti orang gila. Aku dan Jung Kook hanya geleng-geleng kepala.

Waktu terasa cepat sekali berlalu bila aku sedang bersama dengan Taehyung dan Jungkook. Kami memakan banyak sekali ice cream di Han Gang park, menikmati pemandangan lampu-lampu yang berkelap-kerlip dengan indah.

Can I have soju after this?” tanyaku dengan riang.

Jung Kook langsung melotot tajam padaku. Aku pun mengangkat kedua tanganku. “Oke..oke.., I’ve promised you I won’t have drink too often here. Sorry, forgot! Hehehe.”

“Woaaahhh, taming Kim So Hyun is easier now.” Ledek Tae Hyung.

“Tsk!” Aku mendecakkan lidahku.

“Oh, ngomong-ngomong, Kookie, bisakah aku mulai internship lusa? Besok aku ingin menemui Jimin dan Suga.”

“Oke. Besok aku juga ada jadwal seminar di universitas Seoul.” Jungkook mengangguk.

“Tsk! Teman baikku besok akan jadi pemateri seminar, sementara aku wajib menghadiri seminar itu sebagai peserta dan kemudian membuat laporannya. Betapa dunia ini sangatlah adil dan indah.” Tae Hyung berkata dengan raut wajah sedih. Aku dan Jungkook hanya memutar kedua bola mata kami, memutuskan untuk mengabaikan aktingnya yang payah.

“Ngomong-ngomong, Kookie, bisakah malam ini aku menginap di apartemenmu?” Tae Hyung mengedip-ngedipkan kedua matanya.

Do you wanna die?!” Aku menjitak kepalanya.

“Aku tidak akan tidur di kamarmu, pabo! I love Kookie more than you!” Tae Hyung memeluk kembaranku dengan erat dari samping.

“Eeeeewww….hueekkkk….”

Kami pun terbahak-bahak. Aku senang kami bertiga bisa berkumpul lagi seperti ini.

****❤❤❤ ***

 

Keesokan harinya, pukul 1 siang.

Aku sudah duduk di salah satu kantin terbesar di universitas seoul, kantin yang terletak tak begitu jauh dari fakultas kedokteran, menunggu Jimin dan Suga selesai ujian, dan Taehyung serta Jungkook selesai seminar.

“KIM SO HYUN!” Teriak seseorang.

Aku menoleh, lalu tersenyum lebar begitu melihat siapa yang berlari menghampiri mejaku.

“JIMIN~AH!”

“YAH! Sudah 2 tahun lebih kau tidak menemuiku, hah! Aigoo~~ anak ini semakin cantik saja!”

Jimin memelukku dengan erat sambil mengusap-usap kepalaku. “Yah! Kau terdengar seperti kakek ku!”

Jimin terkekeh, lalu membimbingku kembali duduk. “Kenapa kemarin tidak langsung bilang padaku kalau kau datang? Aku bisa menjemputmu di bandara!”

“Kau sedang ujian. Lagipula kedatanganku memang mendadak.”

“Kau baik-baik saja?” Sorot mata Jimin melembut. Aku menghela napas panjang. Mulut Tae Hyung memang sangat bocor! Dia pasti sudah memberitahu Jimin dan Suga tentang Kai.

Aku mengangguk. “Hmm.”

Jimin menepuk-nepuk pundakku brotherly. Aku mendengar bisik-bisik cukup keras di sekitarku.

“Siapa cewek itu?”

“Kenapa Jimin Oppa terlihat sangat dekat dengannya?”

“Aku belum pernah melihat cewek itu sebelumnya!”

Aku menyeringai. “Wah…wah…wah…, ternyata kau masih populer seperti dulu ya, Jimin~ah. Prince Management and Bussiness, di mana prince Arstitektur?”

Sebelum Jimin sempat menjawab, terdengar teriakan kencang cewek-cewek di sekitarku. “KYAAAAA! MIN SUGA DATANG KEMARI!”

“KYAAAAA…..DIA BENAR-BENAR KEREN!”

Aku menoleh, nyengir lebar melihat pria berambut pirang, bermata tajam, dan bergaya cool itu melenggang masuk ke dalam kantin dengan penuh kharisma. “Masih punya banyak fans rupanya. Dan jauh lebih banyak darimu kurasa.” Aku melirik Jimin sambil menyeringai.

“Tsk! Kau tahu kan sejak dulu fans ku kebanyakan noona-noona. Berhubung sekarang aku sudah jadi senior…..yah…” Jimin mengangkat bahu.

“Hey!” Suga langsung duduk di sampingku sambil tersenyum lebar. Hilang sudah raut wajahnya yang dingin.

Aku terkekeh. “Kau semakin populer, Prince.”

Suga tertawa. “Tidak sepopuler kembaranmu dulu.”

“Aigoo~~, kau terlalu merendah. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ayahmu?”

Suga mengangguk. “Baik. Ayahku sangat berterima kasih pada Jung Kook.”

“Dia pantas dinobatkan menjadi the best surgeon in his 20s kurasa.” Timpal Jimin.

I’m soooooo hungry!” Taehyung tiba-tiba saja datang, menghempaskan tubuhnya di samping Jimin, lalu membuka-buka buku menu.

Bisik-bisik dan pekikan semakin terdengar jelas di sekitar kami kini setelah Tae Hyung ikut bergabung di meja kami. “Darling, memangnya kau sudah makan?” Tae Hyung menatapku sambil mengangkat sebelah alis matanya. “Kenapa kau malah minum kopi sebanyak 2 cangkir, Babe? Kau seharusnya makan lebih dulu! Kakakmu bicara lebih lama dibanding seharusnya, menjawab banyak sekali pertanyaan dari mahasiswi-mahasiswi yang mengidolakannya. Geeezzz…., padahal aku sudah ingin keluar dari ruangan!”

Beberapa orang gadis terkesiap mendengar ucapan Tae Hyung. Aku ngengir lebar. “Kau akan kehilangan fans mu kalau kau terus memanggilku darling, Hon.”

Tae Hyung hanya mengangkat bahu. Wajahnya muram. Sepertinya dia sedang benar-benar kelaparan, membuatnya bad mood. “Kau mau pesan apa?”

“Kimchi Jiggae dan ayam goreng!” seru Jimin.

“Steak!” gumam Suga.

“Yah! Yah! Aku tidak bertanya pada kalian!” gerutu Tae Hyung, tapi dia tetap menuliskan pesanan mereka.

Aku terkekeh. “Kau pesan apa, V?”

“Kimchi jiggae, tteokpoki, jus strawberry. Kau mau?”

Aku mengangguk. “Hmmm.” Soal makanan, aku percaya pada Tae Hyung. Biasanya selera kami juga sama. Apa yang menurutku enak, menurutnya juga enak, dan sebaliknya.

Kami berempat banyak mengobrol tentang berbagai hal, rasanya menyenangkan. Banyak sekali fase kehidupan Suga dan Jimin yang terlewatkan olehku. Kami berpisah semenjak aku pindah ke LA. Dulu, sejak TK, kami berempat dan ditambah Jungkook adalah sahabat karib yang tak terpisahkan. Di mana ada satu, di situ ada empat lainnya.

Di tengah-tengah obrolan kami, samar-samar terdengar obrolan beberapa mahasiswi yang membicarakan kakakku.

“Jung Kook Oppa keren sekali tadi saat memberikan seminar!”

“Dia benar-benar tampan! Kyaaaaa!”

“Katanya dia akan melanjutkan S3 di sini semester depan!”

“Aku ingin menikah dengan Professor muda Jeon Jung Kook!”

Aku tersedak mendengar kata-kata ‘Professor’. “Mwoya?! Jung Kook bahkan belum meraih gelar doktor, kenapa sudah ada yang memanggilnya professor?!”

“Kau hanya iri pada kembaranmu, babe.” Tukas Tae Hyung dengan mulut penuh makanan.

“Yah! Kim Tae Hyung! Kosongkan dulu mulutmu sebelum bicara! Aish! Kemejaku!” Jimin menggerutu karena Taehyung menodai kemeja putih nya.

“Sowry!”

“Aish!” Jimin berdiri, lalu pindah tempat duduk.

“Kau sudah makan rupanya?” Aku mendengar suara Jung Kook, dan merasakan tepukan pelan di kepalaku.

Kantin makin heboh. Kini semua orang terang-terangan menatap meja kami.

“Yo! Annyeong haseyo, young Professor.” Suga menyapa Jung Kook dengan gaya hip hop.

Jung Kook membelalakkan matanya. “Mwo? Professor?”

“Semua orang memanggilmu professor.” Timpalku.

Jung Kook tersenyum. “Perkataan adalah Do’a. Mereka berharap agar aku segera menjadi professor.”

“Kau terdengar seperti almarhum kakek.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

Jung Kook hanya tertawa dan mengacak-acak rambutku. Mataku tertuju pada sosok seorang pria bertubuh tinggi semampai yang memakai hoodie Bape crazy Shark hitam, kacamata hitam, dan boots bergaya yang terlihat stylish. Pria itu melenggang memasuki kantin dengan tenang, tapi cewek-cewek yang ada di sekitarnya mulai membuat kehebohan dengan menjerit dan menjepret-jepretkan kamera ponsel mereka ke arah pria itu.

Mataku menyipit, mengamati pria itu lekat-lekat. Rasanya sosoknya tidak asing.

“Kau lihat siapa?” tanya Suga.

Jimin, Jung Kook, dan Tae Hyung mengikuti arah pandangku.

“Oooh…, si Tuan Idola.” Gumam Jimin acuh tak acuh.

“Kau terdengar seperti membencinya, Jimin~ah.” Aku menyeringai.

Jimin mengangkat bahu. “Memang. Dia…terlalu banyak gaya. Kau tahu? Dia satu jurusan denganku. Dia senior, tapi cuti selama 3 tahun karena fokus modeling.”

“Model? Siapa namanya?”

“Aigoo~~, you really don’t have eyes for a good guy!” Ledek Tae Hyung. Aku menjulurkan lidahku padanya.

“Dia playboy. Bukan jenis pria yang akan membuatmu bahagia.” Suga berkata dengan tenang, tapi sorot matanya menusuk.

“YAH! Siapa yang berkata kalau aku tertarik padanya?!” Tukasku kesal. Tanpa kuduga, suaraku terdengar keras. “Aku hanya penasaran siapa namanya karena dia terlihat tidak asing!”

“Kim So Hyun?”

Aku terlonjak kaget mendengar suara di sampingku. Pria “model” itu kini sudah berdiri di sampingku sambil memegang nampan berisi makan siang.

“Eh? Kau mengenalku? Kau memang terlihat tidak asing, tapi…”

“Ini aku.” Pria itu melepas kacamata hitamnya.

Mataku membelalak lebar. “Kim Seok Jin!” Pekikku.

Seok Jin alias Jin tersenyum lebar. “Senang bisa bertemu denganmu lagi di sini, So Hyun~ah. Kau ada show di sini? Atau… kau pindah kuliah kemari?”

“Oh, aku internship di Seoul. Kupikir kau masih tinggal di Paris, Jin! Kau menghilang begitu saja tahun lalu setelah show terakhir ibuku di Prague. Aku menunggumu di after party, tapi kau tidak pernah datang sampai akhir!”

Jin tersenyum semakin lebar. “Ceritanya panjang. Lagipula kupikir tidak masalah meninggalkanmu sendirian di pesta, Kai datang kan? Oh ya, apakah dia setuju berhubungan jarak jauh denganmu?”

Aku menghela napas. “Ceritanya panjang. Duduklah, Jin.”

“Oh, great!” Jimin mendengus sambil memutar kedua bola matanya.

“Teman-teman…, kenalkan, ini Kim Seok Jin. Dia pernah jadi model ibuku tahun lalu.”

“Hallo, aku Kim Tae Hyung.” Tae Hyung berkata dengan mulut penuh tteokpoki.

“Min Suga.” Suga berkata datar. Sorot matanya tajam menusuk.

“Jimin.” Jimin berkata dengan singkat dan malas.

“Jung Kook. Kakaknya So Hyun. Another model friend, eh?” Jung Kook tersenyum penuh arti padaku, lalu meneliti Jin dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Aku tertawa sambil menggeleng. “Kakakku agak…. sensitif dengan teman-teman modelku. Abaikan saja…”

“Hallo, aku Kim Seok Jin. Kalian bisa memanggilku Jin.” Jin berkata dengan ramah sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.

“Oke, Jin, sebelum bercerita lain-lain, aku hanya ingin bilang kalau aku benar-benar tidak menyangka kau kuliah di sini, di jurusan manajemen bisnis…, kau terlihat seperti…”

“Tidak punya otak?” Jin terkekeh.

“Oooohhh…” Jimin tertawa sambil menyeringai, meledek.

Aku menggeleng. “Kau tidak pernah bilang padaku kalau kau bukan hanya sekedar model. Never guessed you’re a business man before.”

Jin tersenyum. “Ini jurusan dan kampus pilihan orangtuaku. Kau tahu kan kalau passion ku adalah fashion? Tapi kalau aku tidak melanjutkan kuliahku, orangtuaku tidak akan mengizinkanku menjadi model. Lagipula, setelah kupikirkan baik-baik, kuliah di jurusan ini banyak untungnya. Kuharap aku bisa mengikuti jejak ibumu, menjadi pebisnis sekaligus model dan desainer.”

Aku tersenyum. Jung Kook dan Tae Hyung ikut tersenyum begitu Jin menyebut ibuku dengan khidmat, penuh hormat, dan rasa kagum.

Jimin terbatuk keras. “Sunbaenim, kau tidak lupa kan kalau besok ada tugas UAS? Kau jarang masuk kelas karena sibuk. Kalau kau butuh bantuan, aku akan dengan senang hati membantumu.” Jimin tersenyum manis pada Jin. Kali ini senyumannya bukan berupa senyum ejekan, tapi senyuman tulus.

Aku hanya geleng-geleng kepala. Jimin memang sering menilai dan mengkritik orang lain, tapi dia juga gampang terpesona pada orang lain, terutama pada orang-orang yang mengagumi dan mencontoh ibuku. Si bodoh Jimin ini saat usianya 7 tahun bahkan pernah berkata bahwa ia akan berusaha menjadi pria yang keren, dewasa, dan kaya agar bisa menikahi ibuku di masa depan nanti. Aku tidak pernah membayangkan, dan tidak mau membayangkan bagaimana rasanya kalau Jimin benar-benar menjadi ayah tiriku!

 

❤❤❤❤❤❤❤

 

Jung Kook bersikeras agar aku tidak perlu bekerja di bagian emergency room. Tapi rasanya tidak adil. Hanya karena ayahku dan kembaranku adalah pemilik rumah sakit ini, bukan berarti aku harus mendapatkan perlakuan istimewa.

“Aku suka keramaian ER, Kookie. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku duduk. Tapi rasanya menyenangkan.” Aku meletakkan nampan makan siang ku di meja, lalu duduk di hadapan Jung Kook. Aku memaksa Jung Kook menemaniku makan di kantin rumah sakit. Aku tahu biasanya Jung Kook pasti melewatkan makan siang karena terlalu sibuk, atau kalaupun ia ingat untuk makan… ia pasti meminta sekretarisnya membawakan makanan ke ruangannya.

“Kau harus lebih banyak bersosialisasi, Kookie. Biarkan para pegawaimu melihat betapa manis dan baiknya dirimu.” Aku tersenyum. Tatapan mata Jung Kook masih terlihat dingin. Semua orang yang ada di kantin menatap Jung Kook takut-takut. Bukan salah mereka. Jung Kook memang sangat mengintimidasi. Ia masih muda, tapi sangat jenius, berbakat, jarang bicara selain masalah pekerjaan, dan ditambah lagi anak pemilik rumah sakit ini.

Jung Kook menghela napas panjang. “Oke, oke. Mulai sekarang aku akan menemanimu makan. Tapi sebagai gantinya, aku hanya mengizinkanmu berada di ER selama 3 minggu, setelah itu kau harus membantuku di ruang bedah. Aku tahu kau lebih dari mampu untuk menjadi asistenku.”

Aku nyengir lebar dan mengangguk setuju. “Oke, deal! Meskipun kau terlalu menilai tinggi diriku, Kookie. Tapi kurasa itu memacuku untuk membuktikan kalau aku memang worth it.”

Jung Kook tersenyum lembut. “Eat these…” Jung Kook meletakkan beberapa potong daging sapi ke mangkuk-ku. Aku hanya nyengir senang.

Anyway, Tae Hyung mengajakku nonton nanti malam. Kau mau ikut?”

Jung Kook menggeleng. “Ada business dinner dengan CEO rumah sakit Tokyo.”

Aku memberenggutkan wajahku. “My twin is really busy, like usual.”

I’ll make it up to you later. Promise.” Jung Kook tersenyum manis, agak merajuk. “I’ll take you anywhere you want. Just the two of us.”

Aku menghela napas panjang. “Okay.”

Jung Kook mengulurkan lengannya dan mengacak-acak rambutku. “Just have fun with Tae Hyung tonight! Kalian juga sudah satu tahun tidak bertemu kan? Katakan pada Tae Hyung, aku tahu harus ke mana mencarinya dan menghajarnya kalau dia tidak mengantarkanmu pulang ke apartemenku dengan selamat sebelum tengah malam.”

Aku memutar kedua bola mataku. “Geeezzzz…, okay, Daddy!”

 

❤❤❤

 

Menghabiskan waktu bersama Kim Tae Hyung tidak pernah terasa membosankan! Bahkan meskipun topik obrolannya biasa-biasa saja, entah kenapa bila ia yang mengatakannya… maka akan terdengar menarik dan lucu. Sejak keluar dari rumah sakit pukul 5 sore tadi sampai sekarang, mulut Tae Hyung tak henti-hentinya bicara, dan membuatku terkikik, sampai tertawa terpingkal-pingkal.

Hanya ketika kami bertemu dengan Yeri di mall lah Tae Hyung berhenti bicara. Yeri terlihat agak kaget berhadapan muka denganku secara langsung. Selama ini, kami hanya pernah mengobrol beberapa kali lewat skype. Yeri adalah sepupunya Suga. Dia kuliah di kedokteran, tingkat 2.

“Kau shopping sendirian?” tanyaku.

Yeri tersenyum lebar dan mengangguk. “Minggu depan ibuku ulang tahun. Aku ingin memberi sedikit kejutan.”

Aku tersenyum. Menurutku Yeri adalah gadis yang sopan, baik, cantik, dan pintar. Aku tidak mengerti mengapa Tae Hyung masih harus berpikir dua kali untuk menerimanya. Aku dan Suga sudah gencar menjodohkan mereka, dan Yeri pun memang menyukai Tae Hyung, meski belum mengatakan langsung padanya. Tapi Tae Hyung… entahlah. Dia terlalu pemilih!

“Kau mau ikut nonton Jurrasic World?” tanyaku dengan riang.

“Eh?” Yeri tampak sangat kaget, begitupula dengan Tae Hyung. Tae Hyung menatapku dengan tajam, tapi aku mengabaikannya. Aku hanya terus tersenyum pada Yeri.

“Kami belum beli tiket, tapi sepertinya kami akan menonton jam 9 nanti. Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Aku sudah sangat kelaparan.”

Yeri hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, terlihat agak syok, jadi aku pun langsung menggandeng lengannya. “Ayo!” Kemudian membawanya naik eskalator.

Aku bisa merasakan tatapan tajam Tae Hyung di punggungku. Aku menoleh sekilas padanya dan menyeringai. Tae Hyung hanya menyilangkan kedua lengannya sambil masih tetap menatapku dengan sorot mata mengerikan.

“Kau mau makan apa, Yeri~ah?”

“Hmmm… eonni mau makan apa? Sebenarnya aku tidak begitu lapar…”

“Eeeey, tidak perlu berdiet! Kau sudah cantik seperti ini.”

Yeri tersenyum padaku. Aku senang, rasanya seperti memiliki adik perempuan.

“Kau mau makan apa, V?” Aku menoleh ke belakang.

“Burger.” Jawab Tae Hyung singkat.

“Ugh! Aku tidak ingin makan burger.”

Tae Hyung mengangkat bahu. “Aku hanya ingin burger.” Ujarnya keras kepala.

Sebelum aku sempat mendebatnya lagi, seseorang memanggil namaku ketika kami sampai di lantai berikutnya. “So Hyun~ah!”

“Oh? Jin!”

Kim Seok Jin alias Jin tersenyum lebar sambil berlari ke arah kami.

Shopping?” Tanyaku.

Jin menggeleng. “Hanya ingin makan sushi.”

“Hmm, sepertinya kau masih sama seperti dulu, Jin.”

Jin hanya tertawa. Terlepas dari betapa terkenalnya Jin di Korea sebagai model papan atas, sebenarnya Jin hanyalah pria yang agak canggung di sekitar orang lain. Karena itulah ia sering terlihat sombong. Ia tidak sombong. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya mendekati orang lain dan berteman dengan mereka.

“Aku akan makan sushi denganmu, Jin. Tae Hyung, kau bisa makan burger dengan Yeri.”

“Mwo?”

“MWO?”

Yeri dan Tae Hyung tampak kaget, tapi Tae Hyung lah yang suaranya paling keras.

“Kita bertemu di bioskop nanti! Bye!” Tanpa menunggu Tae Hyung dan Yeri mengatakan sesuatu, aku langsung menggandeng lengan Jin dan berjalan cepat meninggalkan mereka.

“Kau sengaja melakukannya kan?” Jin terkekeh.

Aku mengangguk. “Hmmm. Sahabatku yang bodoh itu sudah terlalu lama sendirian. Aku suka Yeri. Dia… oke.”

“Tapi Tae Hyung tidak terlihat tertarik padanya.” Komentar Jin.

Aku menggeleng. “Dia hanya sok jual mahal.”

Jin mengangkat sebelah alis matanya dan menatapku lekat-lekat. “Kupikir kau ahli soal pria.”

Aku mengerutkan keningku. “Apa maksudmu?”

Jin tersenyum dan menggeleng. “Let’s just have a nice sushi date!”

Yes…yes… glad to meet you here, Jin! Aku tidak begitu suka menjadi mak comblang sebenarnya.”

Glad meeting you too! Lebih menyenangkan makan sushi denganmu daripada sendirian.”

Aku tersenyum, kemudian ketika kami tiba di restoran sushi di lantai paling atas, ponselku bergetar. Ada pesan dari Tae Hyung.

Tae Hyung : Berani-beraninya kau meninggalkanku hanya karena Kim Seok Jin! I hate you, Kim So Hyun!

Aku tertawa, dan kemudian membalas pesannya.

Aku memberimu kesempatan untuk “kencan burger” bersama Yeri! I’ll see you later at the cinema. It is called double date, V!

Tae Hyung : Kau menyukai Jin?

Aku : What? As a man or friend?

Tae Hyung : Apakah kau akan menerimanya menjadi pacarmu kalau dia memintamu untuk menjadi pacarnya?

Aku : Hahahaha…, Jin seperti kakak bagiku. I don’t like him as a man. Dia juga sepertinya hanya menyukaiku sebagai teman dan adik.

Tae Hyung : You don’t have any idea about boys’s mind! Be careful!

Aku : Eeeyyy, so possessive, Darl! Have fun with Yeri!

“Kau mau pesan apa?”

“Eh?” Ternyata sejak tadi aku mengabaikan Jin dan malah terus mengobrol dengan V lewat kakao talk.

“Apakah kakakmu sudah menyuruhmu pulang?”

Nooo. It’s V.”

Tanpa kuduga, Jin tersenyum misterius. Tatapan matanya seperti meneriakkan ‘I’ve known it!”

Tae Hyung : Should we cancel watching the movie?

Aku : Why? Kau hanya ingin menonton berdua saja dengan Yeri? Aku dan Jin tidak perlu ikut kalian, bilang saja pada Yeri kalau aku tiba-tiba harus segera pulang.

Tae Hyung : No. I just don’t feel like watching anymore. Just wanna go home and sleep.

Aku mengerutkan keningku. Apakah ada yang salah? Apakah Tae Hyung benar-benar tidak tertarik sedikitpun pada Yeri? Apakah aku terlalu memaksanya agar bersama dengan Yeri?

What’s wrong?” Tanya Jin.

“Tae Hyung tiba-tiba tidak ingin menonton.” Tanpa ragu, aku pun langsung menunjukkan pesan Tae Hyung pada Jin. Entahlah, sejak dulu, di LA, Paris, dan Prague, saat-saat di mana aku dan Jin sama-sama menjadi model brand ibuku, aku selalu merasa nyaman berada di samping Jin. Aku juga bisa bercerita apa saja padanya tanpa merasa canggung, padahal kami hanyalah stranger. Ada koneksi aneh yang tak kumengerti di antara kami berdua. Rasanya… seperti kakak “yang seharusnya kumiliki”. Bukan berarti aku tidak suka Jung Kook menjadi kakakku, hanya saja… dengan Jin rasanya berbeda. Dia benar-benar terasa seperti kakak yang seharusnya.

Jin tertawa pelan. “Kau lebih polos daripada yang kukira sebelumnya, Kim So Hyun.” Jin menggelengkan kepalanya. “And clueless too.”

What do you mean?” Aku tak mengerti.

“Tae Hyung hanya ingin menonton denganmu. Kau seharusnya tidak mengajak Yeri dan aku.” Jin tersenyum. Lagi-lagi senyuman misterius itu.

Aku menghela napas panjang. “Mungkin seharusnya aku memang tidak sok menjadi peri cinta. Tae Hyung sepertinya tidak tertarik pada Yeri sebagaimana Yeri tertarik padanya. Benar kan?”

Jin mengangguk.

“Dan Tae Hyung hanya ingin menghabiskan quality time denganku? Bonding time as best friend. Memang sudah satu tahun kami tidak bertemu.”

Kali ini Jin menggeleng. “I’ll show something funny to you. But, first, aku ingin memastikan… apakah kau menyukaiku? More than friend?”

Aku tersenyum. “Yes. As a brother. Strangely. But as a man? No.”

Jin balas tersenyum. “Me too. Ok, so this is safe.” Jin mencondongkan tubuhnya lebih dekat padaku, lalu berbicara lebih halus. “Katakan pada semua orang kalau kau menyukaiku, sebagai pria, maka kau akan melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kau lihat.”

Aku terbahak-bahak. “Apa yang sebelumnya tidak pernah kulihat?”

“Perasaan mereka, dan… perasaanmu.”

“Mereka? Mereka siapa?”

Jin tersenyum, lagi-lagi sok misterius. “You’ll see later…”

And… why it must be you?”

Because I’m the one who has this idea, and… you’re like a long lost sister to me. Seriously, we should check our DNA sometimes!” Jin terkekeh.

Aku mengerutkan keningku. Tidak begitu suka dengan ide “mengecek DNA” karena aku tidak pernah tahu siapa ayah kandungku. Apakah ada kemungkinan bila ayah Jin adalah ayahku juga? Mungkin saja. Segalanya mungkin.  Tapi aku tidak ingin mencari tahu.

“Aku masih merasa idemu aneh, Jin. Apa maksudmu dengan perasaanku dan perasaan mereka? Mereka siapa?”

Jin tertawa. “Kau sangat tidak sabaran. Hmmm, aku akan memberimu petunjuk. Aku mengatakan ini bukan karena aku sombong, tapi… jujur saja, tidak ada pria yang ingin bersaing denganku dalam memperebutkan wanita.”

“HAHAHAHA… Oh My God, Jin! Kau terlalu pede!”

Jin mendecakkan lidahnya. “Coba saja googling namaku. Kau akan terkejut dengan hasilnya.”

O-kay. So?”

“Kapan terakhir kali kau, Tae Hyung, dan Jung Kook tinggal di negara yang sama? Kota yang sama? Daerah yang sama? Untuk waktu yang lama, lebih dari hanya sekedar liburan?”

“12 tahun yang lalu.”

Senyuman Jin semakin lebar. “Dulu, apakah kau memberitahu Jung Kook dan Tae Hyung bahwa kau menyukai Kai sebelum kau jadian dengannya? Atau setelah?”

“Hmmm. Jung Kook setelah. Tae Hyung…, sepertinya setelah juga.”

That’s it!” Jin tampak puas.

Aku megerutkan keningku semakin dalam. “Still don’t get the picture!”

Jin menyeringai, teasing. “Kau terlalu polos.”

Aku mendecakkan lidahku. “Aku tidak ingin pusing-pusing memikirkan teka-tekimu, Jin. Tapi… karena aku penasaran, aku akan mencobanya. I’ll tell a whole universe that I’m so madly in love with you. But…, don’t you dare falling for me for real!”

Jin terbahak-bahak. “I adore your mom, but not you. Sorry.” Jin nyengir lebar.

Eeeeewww…, I don’t need a step father! Kau dan Jimin benar-benar memiliki tipe yang sama soal wanita.”

“Kau tidak begitu mirip ibumu, sejujurnya.”

“Hmmm. Memang.”

“Kau agak mirip denganku, kau tahu?” Jin terkekeh.

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Betatapun aku ingin kau menjadi kakakku, kuharap kita tidak memiliki hubungan darah sedikitpun, Jin. I hate my biological father, you know. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Funny, isn’t it?”

Jin menggeleng. “Aku bahkan tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungku. Sudahkah aku memberitahumu bahwa ayah dan ibuku yang sekarang adalah orangtua angkatku? Aku diadopsi dari panti asuhan saat umurku 7 tahun. Karena itulah, meskipun aku sangat benci kuliah di jurusan bisnis, aku tetap harus kuliah. Aku ingin mereka bangga padaku, sebagai businessman, their heir, dan aku ingin mereka merestuiku menjadi model.”

Aku menggeleng. “Ini pertama kalinya kau memberitahuku, Jin. Never guessed you have that kind of life. Kau selalu terlihat cuek dan bahagia.” Aku tersenyum. Jin balas tersenyum hangat.

“Tapi aku masih tidak mengerti apa maksudmu, Jin. Bila aku memberitahu semua orang kalau aku menyukaimu… bukankah pria-pria lain yang sungguh-sungguh menyukaiku akan patah hati dan mundur? Like what you’ve said, you’re the Kim Seok Jin after all.”

Jin tertawa. “Orang yang benar-benar menyukaimu tidak akan mundur begitu saja. Justru sebaliknya, dia akan mempertahankanmu. Lagipula pria suka persaingan. Apalagi bila mereka harus bersaing dengan lawan yang menantang.” Jin menyeringai.

Aku terbahak-bahak. “Oh, please! You’re so cocky!”

Jin terkekeh. “Coba saja kau ikuti apa saranku. Menurutku itu adalah salah satu cara tercepat, to confront them. You deserve a man who truly loves you.

Aku mengangkat bahu. “I don’t have someone in my mind right now.”

“Kau hanya tinggal memilih.”

Aku memutar kedua bola mataku. “Jungkook juga berkata begitu. Tapi kalian tidak tahu, bagiku… memilih tidaklah gampang. Aku juga bukan tipe gadis yang suka memberikan harapan palsu. I always set my boundaries clearly.”

Jin terkekeh. “Benar. Dan kau tidak tahu berapa banyak teman-teman modelku yang patah hati karenamu. Kau tidak bisa bersikap pura-pura baik pada pria-pria yang menyukaimu tapi tidak kau sukai.”

Aku mengangguk. “Jadi kali ini pun kurasa idemu tidak akan berhasil, kecuali bila aku juga menyukai pria itu.”

Jin menyeringai. Matanya berkilat-kilat senang. “Oooh.., menarik. I can’t read you well, So Hyun. But I could tell that deep down in your heart… you like him more than friend. You just… never realized it.”

Aku tertawa. “Kalau aku tidak pernah menyadarinya, lantas bagaimana kau bisa tahu, Jin?”

“Hhhhmmm.., because I’m a detective?” Jin mengedipkan sebelah matanya.

Ugh! This is not make sense at all! Okay, stop talking about my stupid love life. How about yours?” Aku menyuapkan salmon sushi ke dalam mulutku.

Jin hendak memakan baby octopus sushi nya, tapi tidak jadi gara-gara pertanyaanku barusan. Sebagai gantinya, ia malah berkata, “Oh, kau tahu kan aku selalu siap menjadi ayahmu kapanpun kau mau.”

“Eeeewww! Stop it!”

Jin hanya tertawa. “Let’s finish our dinner, then watching movie.”

“Tapi V bilang…dia jadi tidak ingin menonton.”

“Oh, aku yakin dia akan ikut menonton bila kau bersikeras untuk tetap nonton denganku.” Jin tersenyum.

“Jin, V is my best friend. Dia tidak termasuk ke dalam ‘mereka’ yang kau maksud.”

Don’t assume anything, So Hyun. Just let it flow, then see, you’ll be surprised. You can thank me later for suggesting this super genius idea. Aku juga menerima jasa konsultasi kehidupan cintamu, kapanpun kau butuh nasihatku, datanglah dengan tangan penuh sushi favoritku.”

Geeeezzzz, alright! Let’s eat peacefully now. We talked too much.”

Once more!” Jin menghentikan suapanku. “Aku ingin tahu siapa yang kau simpan sebagai the 1st speed up dial di ponselmu?”

“Jung Kook.” Jawabku langsung, lalu menyuapkan lagi sushi ke mulutku. “Memangnya kenapa?”

Jin mengangkat bahu. “Hanya ingin tahu.”

Aku menyipitkan mataku dan menatap Jin lekat-lekat. “Jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi Jin!”

Jin hanya tertawa. “Aku punya indera ke-6.”

Aku menjulurkan lidahku padanya. Sama sekali tidak percaya. “Then try reading my mind right now!”

“Kau sedang menunggu pesan dari Tae Hyung.”

Wow, how could you know?”

“Kau terus melirik ponselmu.”

“Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang menunggu pesan dari V?”

Isn’t it obvious?”

Aku menatap Jin dengan tatapan yang seolah berkata ‘are you kidding me?!’

“Aku senang mengobservasi orang lain. That’s all.”

“Kau seharusnya menjadi psikolog!”

Jin hanya tertawa. Kami pun menghabiskan makan malam kami dengan tenang.

❤❤❤

 

Pada akhirnya, Aku, Jin, Tae Hyung, dan Yeri memang jadi nonton. Seperti apa yang Jin katakan, Taehyung ikut nonton karena aku bersikeras ingin tetap nonton, dengan Jin, meskipun Taehyung tidak ingin menonton dan memilih untuk pulang duluan.

Tapi aku tidak setuju dengan dugaan Jin soal bagaimana Taehyung memiliki perasaan khusus padaku, lebih dari sekedar sahabat. Seumur hidupku, aku tidak pernah memikirkan kemungkinan tersebut.

Aku juga tidak setuju bagaimana Jin mencurigai Jungkook. Di antara sekian banyak pria di muka bumi ini, kenapa Jin harus memasukkan Jungkook ke dalam list?!

Jin memang pandai mengobservasi perilaku orang lain, tapi dia tidak bisa membaca isi hati orang lain. Jin sepertinya hanya salah mengartikan sikap perhatian berlebihan yang diberikan oleh Jung Kook dan Tae Hyung padaku. Hey! Jung Kook kembaranku! Meski bukan kembaran asli. Tapi secara hukum, dia pernah menjadi saudaraku. Dan Tae Hyung… kami bersahabat sejak bayi dan pernah bersumpah akan selalu bersahabat sampai hanya kematianlah yang memisahkan kami. Jadi jelaslah seharusnya Jung Kook dan Tae Hyung tidak termasuk ke dalam daftar “mereka” yang Jin maksudkan.

Ide gila Jin memang terdengar tidak masuk akal! Tapi jujur saja aku penasaran. Bukan berarti aku sangat desperate dalam menemukan soulmate ku! Aku hanya ingin tahu siapa saja “mereka” yang akan tetap fight mempertahankan perasaannya padaku meskipun mereka harus melawan Kim Seok Jin!

Jadi, sore ini, aku sengaja membiarkan Jin memposting fotoku dan Jin di instagram milikku, foto selfie kami berdua ketika makan sushi kemarin malam, dengan caption Bisakah Oppa ini memberiku kebahagiaan?” Jelas bukan kalimatku! Bukan kalimat yang akan keluar dari mulutku! Duh! Sepertinya aku sudah benar-benar kehilangan akal sehatku! Kenapa aku menuruti apa kata-kata Jin?! Apakah aku sudah terlalu bosan dengan hidupku?!

Dalam sekejap, foto itu dibanjiri komentar. Kebanyakan komentarnya berisi godaan-godaan seperti :

~ Ehem, who’s that? Your new boyfriend? :p ~

~ Cieeee…. Cieeeee…. ~

~ Jadi, kapan kau akan menyebarkan undangan pernikahan? Hihihi ~

~ Tentu saja Oppa itu akan membuatmu bahagia! Di foto ini kau tersenyum sangat lebar! ~

~ Kim Seok Jin? OMG! You lucky girl! ~

~ Ouch! Kau membuatku patah hati, Soo Hyun! Kkkkk ~, but…. congratulations! ~

~So Hyunah.., kalau Jin tidak membuatmu bahagia, datanglah pada Oppa! LOL. Come to NYC again, girl! We miss you so much! Say hi to Jin! ~

 

Jin memperlihatkan ponselku padaku. “Lebih dari 50 komentar hanya dalam waktu 3 menit? Wow! Kau sangat populer, Kim So Hyun!”

“Ugh! Stop teasing me, Jin!” Sentakku kesal, lalu merebut ponselku dari tangan Jin dan terbelalak membaca komentar-komentar itu.

Jin masih tertawa. “Untunglah kau memproteksi instagram mu, kalau tidak… fans-fans ku akan menyerangmu! Hahahaha…”

Aku hanya memutar kedua bola mataku.

This is just the beginning, So Hyun!” Jin mengedipkan sebelah matanya.

Aku menghela napas panjang. “Aku harus kembali bekerja. Come on, Mr.idol! Pakai topi dan kacamata hitam mu! Aku tidak ingin terjadi kehebohan di rumah sakit ini, kalau-kalau ada fans mu di sini!”

Jin tertawa, tapi menuruti apa kata-kataku. Kami pun berjalan menuruni tangga, menjauhi rooftop. Ada taman bunga yang indah di rooftop rumah sakit ayahku ini, tapi tidak semua orang bisa datang kemari.

“Tae Hyung belum memberi komentar.” Jin melirikku jahil.

Lagi-lagi aku memutar kedua bola mataku. “Jangan masukkan V ke dalam daftar tersangkamu, Jin!”

Jin terkekeh. “Suga memberimu komentar seperti ini : What do you mean, So Hyun? Are you serious? We should talk about this face to face later!”

“Dia benar-benar teman baikmu. Mengkhawatirkanmu, ragu apakah aku pria yang tepat untukmu atau tidak. Tapi hanya itu. Dia benar-benar peduli padamu sebagai teman baikmu.”

Aku mengangguk. “Tentu saja! I’ve known Suga for more than 18 years!”

Jin kembali membaca komentar di instagram ku melalui ponselnya. “Jimin juga sudah berkomentar. Dia bilang… Eeewww, kau selalu menyebutku cheesy, tapi lihatlah apa yang kau tulis! Kau jarang memposting foto pria, so… what’s wrong now? Apakah kau sungguh-sunggguh menyukai Jin hyung? Apakah dia juga menyukaimu? Hey, I’ll kill him if he was just playing you! And.. never do something like ‘friends with benefit’ okay?! Tell me the whole story later !

“WOW! Jimin terdengar seperti seorang kakak yang sangat protektif!”

“Memang. Tapi lebih tepatnya adalah… kakek yang protektif!”

Jin mengangguk. “Jimin juga benar-benar teman baikmu. Seperti yang kuduga.”

Jin terus berjalan mengikutiku, menuju ruang ER. Aku berhenti beberapa meter di depan pintu. “Kenapa kau mengikutiku?”

“Sejujurnya aku menunggu untuk menyaksikan something interesting secara langsung! Hehehe…”

Like what?”

Like this.” Jin tersenyum super lebar sambil menunjukkan ponselnya padaku. “Kim Tae Hyung baru saja mengirim permintaan agar dia bisa mem-follow instagram ku yang terproteksi.”

“Jelas sekali dia tidak mempercayaimu. Dia ingin tahu kau pria seperti apa. Foto-foto yang kau posting bisa menggambarkan bagaimana dirimu. Meski tidak selalu. Seperti yang kuduga, V memang sahabatku!” Aku berkata dengan sinis, membuat Jin tertawa keras. Beberapa suster menatap kami.

“Benar! Tapi, kalau dia memang hanya sahabatmu, sebelum dia stalking instagramku seharusnya dia langsung meneleponmu! Atau setidaknya menulis komentar seperti yang Suga dan Jimin lakukan! Menurutmu kenapa dia lebih memilih untuk stalking instagramku?”

“Mana kutahu?!” tukasku datar.

Jin menepuk-nepuk pundakku sambil nyengir lebar. “Beritahu aku nanti, bagaimana reaksi Jung Kook di rumah. Aku pergi dulu.” Jin menggoyang-goyangkan ponselnya. “Aku akan terus memantau komentar-komentar di foto ini.”

Aku mendengus. “Aku akan menghapus foto itu!”

“It won’t change anything, So Hyun.”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

Jin tersenyum misterius. “Karena aku men-tag beberapa orang.”

YOU WHAT?”

“Hahahaha…, calm down. Aku hanya men-tag Kim Tae Hyung, Jeon Jung Kook, dan Nam Joo Hyuk. Mereka ada di urutan teratas daftarku. Karena itulah sejak tadi aku menunggu reaksi mereka, karena aku yakin di akun mereka akan langsung muncul notifikasi.”

Aku memebelalakkan mataku, menatap Jin super tajam. Jin hanya cengengesan. “Anyway, Nam Joo Hyuk sudah ku-eliminasi. Dia baru saja menulis komentar : Jin? Kim Seok Jin yang itu? Jangan-jangan kau pindah ke Korea hanya untuk menemuinya? LOL! Tapiiii…mulai sekarang…siapa yang akan menjadi teman kencanku di pesta-pesta? Hey! Kembalilah ke LA! L .”

Setelah Jin selesai membaca komentar Nam Joo Hyuk, ia mulai tersenyum dengan gaya sok tahu. “Kalau Joo Hyuk menyukaimu, dia tidak akan menulis komentar seperti ini. Dugaan awalku ternyata salah.”

“Semua dugaanmu pasti salah!” Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada sambil berkata dengan ketus.

Trust me, this is getting more interesting!”

I should never trust you!”

Oh, you will thank me later! Dengar, di rumahmu nanti, bila Jung Kook langsung bertanya padamu mengenai aku ataupun bagaimana perasaanmu padaku, maka dia akan keluar dari daftar tersangka-ku. Tapi… bila dia terlihat seperti ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi bicaranya malah berputar-putar, tidak langsung, dan bila terlihat ragu untuk bertanya padamu tentang aku, maka… dia akan tetap berada dalam daftar.”

Aku mendecakkan lidahku. “Kau membuat kepalaku pusing, Jin!”

Jin hanya tertawa. Seandainya aku bisa membaca masa depan, maka saat ini aku akan menahan kepergian Jin dan bertanya padanya lebih banyak tentang apa yang harus kulakukan.

Malam harinya, ketika Jung Kook pulang dari rumah sakit, setelah menyelesaikan operasi jantung salah satu pasien VIP, dia terus menatapku dengan intens ketika kami makan malam. Aku menunggunya bertanya padaku tentang Jin, tapi Jung Kook malah bertanya “Kau tidak pernah merokok lagi kan sejak tiba di Seoul?”

“Tidak. Aku bersumpah saat kau melihatku merokok di balkon kamarku waktu itu adalah pertama kali sekaligus terakhir kalinya aku merokok!”

Jung Kook terus menatapku. Sebelumnya dia tidak pernah terlihat seperti ini. Seperti meragukanku dan tidak percaya padaku!

Aku balas menatap Jung Kook, tapi Jung Kook malah mengalihkan pandangannya ke piring. Kami pun makan malam dalam keheningan. Aneh. Tidak biasanya.

Detik itu jugalah aku sadar, mungkin Jin benar. Tapi kalau Jin benar, apa yang harus kulakukan?

Jung Kook…, Tae Hyung…, rasanya tidak masuk akal!

Mungkin ada yang salah. Mungkin kata-kata Jin terlalu menyugesti pikiranku! Aku tidak mau berasumsi. Aku ingin bukti.

Tapi lalu setelah itu apa? Entahlah.

Bila kau disuruh memilih antara air dan udara, mana yang akan kau pilih? Keduanya sama penting bagimu.

 ~~ TBC ~~

 

 

 

A/N : #TeamJungKook atau #TeamTaeHyung ?😀 J

 

 

 

 

 

 

 

10 thoughts on “Everglow (Chapter 1)

  1. EONNIIII AKHIRNYAAAA NULIS FANFIC YANG CAST NYA BTS DAN BIAS AKU DUA DUANYAAA!!!! oke ini lebay tapi emang seru! And as always baru chap awal aja udah seru banget! Aku tunggu lanjutannya! Fanfic yang lain juga~ laf youuuu

    Ps. First comment kah?

  2. Team siapa aku juga bingung. Jungkook kali yah? Serasa lebih oke aja sih, tapi entah. Hehe. Nice fanfic, I don’t expect anything about this couple even if I love them. Then it came this fanfic. Yuhuu, it feels like page turner. The way I love ji soo and so hyun, then it came page turner. Thanks a lot for writing this fic. I’ll keep my eyes for the next chap. Fighting:😀

  3. Yeyyy akhirnya ada ff baru juga yang di post. Aduh bingung milih team Jungkook apa team Taehyung. Tapi lebih suka sama Taehyung, Jungkook tetep jadi kakak aja. Kok disini aku malah kepo sama Jin ya, jangan-jangan dia saudaranya Sohyun dari ayah atau ibu yang sama. Gak mau nebah ah, biasanya tebakanku salah karena ff eonnie paling gak bisa ditebak. Next part ditunggu ya eonn
    Ehm ff lain HF, Powerless, Give Heart, Got Love sama yang sampe sekarang ditungguin Type B Love
    Fighting Eonnie cantik🙂

    • Fikaaaaaa >_<…. kepo sama Jin? Hehehehe
      Makasih udah dukung #TeamTaeHyung❤❤❤
      Waduh.. aku punya banyak banget hutang FF yah?😦
      Sekarang lagi ngefans banget sama BTS, mungkin yang bakal cepet update FF BTS. Wkwkwkwk *alesan*
      Thank u, fik❤🙂

  4. Oh heol… Bisa bisanya aku sok nyuekin ff sebagus ini. Kak azmii sorry aku nyesel 😭😭😭 huaaa panjang banget but still like usual ga pernah bikin bosen. Apalagi castnya bias2ku huhu… Sukaaaa aku mau masuk teamnya tae. Hahha love this alien so damn much. Well, dari awal aku udh nangkep kalo tema ff ini tuh tiangle love, but i didnt fond any clue to get there. Lbh dpt tema friendship sama familynya malah hahah. But then after jin comes, it’s totally different hahaha xD i just wanna say, congratulation for making me enjoy this story without thinking A or B. I mean aku bnr2 ngikutin alur ff ini. Terbawa kek biasanya. Duh jni nih bagusnya ff kamu kak, selalu pinter bawa reader terhanyut dan gak kasih jeda buat mikir/nebak2 endingnya gmna hahaha. Verry great beginning i guees. I mean u’re succeed to make an equal power between jungkook and v. Gada clue mana yg bakal menang di akhir cerita.

    • Moreover, u write everysingle thing abt friendship very well. Gada kesan “maksa”. Seolah2 kisah persahabatannya mreka emang beneran ada. Karakternya juga pada hidup. Aku ngerasa kamu bener2 ngehidupin karakter mreka dgn deskripsi yg apik. Bagus. Mending gini sih daripada bikin karakter baru yg ga hidup sama sekali. Yang pasti, i love it. Pls post something next time. Luvya kak :*

  5. Huweee… masih dilema antara #TeamJungkook sama #TeamTaehyung … tapi, V kali ya, sok2an teman seumur hidup. Pengen jadi sohyun biar temen2nya anak bangtan 😍 keren seru banget, bisa2nya gak peka gitu hahahha bikin geregetan gimana lanjutannya~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s