[Short Story] Dunia

CJOUmhcVAAIo0VW

Cerita ini murni milik penulis. Ketika menuliskan kalimat pertama, wajah Mark GOT7 lah yang muncul di dalam pikiran penulis. Hehehe, so, yes, this will be Mark’s story. Aku menggunakan nama Jackson, because I like him too much! But his character here is just fictional. Don’t take it to heart! Aku menggunakan nama Sera sebagai tokoh utama, dan cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama, karena Sera menggambarkan bagian dari diriku. Aku juga sangat suka nama Sera! Kalian yang pernah baca FF “Super Fantasy Idol” pasti tahu doong nama Oh Sera? Hihihi. Tapi kali ini marga nya Lee, bukan Oh. Oke deh, selamat membaca, dan jangan lupa share apa yang kalian pikirkan tentang cerita ini. I’d love to read what you think of this story! Hope you all enjoy reading this story as much as I enjoy writing it.

~ Azumi ~

 

“Bila mati sama seperti tertidur, maka aku ingin mati. Aku ingin tertidur selamanya dan tak pernah bangun lagi.”

“Kami sama-sama terluka dan hancur. Kami hanya menutupi luka kami dengan cara yang berbeda.”

 

“Ia memandang dunia ini dengan cara yang bertolak belakang denganku. Mungkin karena itulah ada kekuatan-kekuatan tak masuk akal yang membuatku tertarik padanya.”

~~~~~ ****** ~~~~~

Aku pertama kali bertemu dengannya di pertengahan musim panas 3 tahun yang lalu, di tengah-tengah hiruk pikuk orang-orang yang memadati sepanjang pantai Heundae. Dia begitu… berbeda. Satu-satunya orang yang terlihat tidak bahagia diantara kumpulan wajah penuh tawa, khas nuansa libur panjang. Satu-satunya orang yang tidak melakukan apapun selain berdiri memandangi lautan, tak bergerak. Sepuluh menit….setengah jam… sampai tiga jam…, ia masih berdiri di posisi yang sama. Aku bergeming, memandangi sosoknya dari samping, menerka-nerka apa yang tengah bergumul di benaknya.

Ia tidak berniat bunuh diri. Aku tahu itu. Tapi dia terlihat seperti orang yang akan menatap lautan untuk yang terakhir kalinya.

Konyol. Aku tahu, imajinasiku terlalu berlebihan. Tahu dari mana aku apa yang pria asing ini pikirkan?

Tapi kedua matanya terlihat begitu sendu, penuh kerinduan, penuh kesedihan, penuh penyesalan, penuh…entahlah penuh apa lagi. Ia terlihat begitu kontras dengan nuansa musim panas yang seharusnya diisi oleh keceriaan, kegembiraan. Hey, orang-orang datang ke pantai di musim panas untuk bersenang-senang!

Empat jam kuhabiskan untuk mengamatinya. Istana pasir yang kubangun sudah menjulang tinggi, luas, dengan banyak jendela dan menara. Tapi ia masih tetap sama. Diam. Kedua lengan terkulai lemas di sisi tubuhnya. Memandangi lautan dengan berjuta emosi sendu.

Tidak biasanya aku tertarik mengamati orang yang sama sekali asing bagiku. Tapi ia begitu… entahlah. Dia memang tampan, tapi jelas bukanlah pria paling tampan yang pernah kutemui. Tubuhnya terlalu kurus untuk tingginya yang pastilah mencapai 180 cm lebih. Rambutnya merah. Tulang hidungnya tinggi. Garis rahangnya tegas. Kedua alis matanya tebal. Bibirnya penuh. Wajahnya pucat. Dia memiliki figure typical flower boy next door.

Tapi bukan itulah yang membuatku terus ingin memandanginya. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku ingin mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Ada sesuatu dalam cara ia memandangi lautan.

Pria ini penuh misteri. Untuk dorongan gila dan tak masuk akal, entah kenapa aku merasa ingin mengenal pria ini dan mengetahui seperti apa kehidupannya, dunia seperti apakah yang ia lihat dibalik kedua mata besarnya yang sendu itu.

Tapi pria ini tetap menjadi misteri bagiku sampai akhir. Sebenarnya bisa saja aku berada di sana, memandangi pria itu sampai waktu yang tak terhingga, tapi saat itu sepupuku tiba, menjemputku. Aku pun pergi tanpa pernah tahu siapa nama pria bermata sendu itu.

Aku hanya berdoa semoga dugaanku tentangnya benar. Semoga ia tidak pergi ke tengah-tengah laut saat semua orang sudah pergi.

Sepertinya doaku saat itu terkabul. Aku melihatnya lagi saat ini, di akhir musim gugur, di bawah guyuran hujan deras di tengah-tengah padatnya kota Seoul. Ia berlari menyebrangi jalan, menutupi rambut merahnya dengan tas kulit cokelat. Lagi-lagi ia terlihat berbeda. Ia tersenyum lebar, hampir tertawa, sementara orang lain (mungkin termasuk aku) memberenggutkan wajah, kesal karena hujan deras turun dengan tiba-tiba, mengacaukan semua rencana.

Pria itu berdiri di sampingku, berteduh dari derasnya hujan, tapi sebelah tangannya terjulur, menegadah ke atas langit. Tetesan air hujan membasahi telapak tangannya. Wajahnya masih sama pucat dan tirusnya dengan 3 tahun lalu, saat pertama kali aku bertemu dengannya di Busan. Tapi kini sorot matanya tak terlihat sendu lagi. Kedua mata besarnya berbinar, seperti seorang anak kecil yang terlihat gembira karena mendapatkan hadiah yang selama ini diinginkannya.

“Kalau kau suka hujan, lantas mengapa kau berteduh? Kenapa kau tidak menikmati tetesannya di sekujur tubuhmu?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Terdengar ketus? Aku tidak bermaksud ketus. Tapi memang demikianlah gayaku. Orang lain menilaiku sebagai gadis yang dingin, judes, bicara blak-blakkan, moody. Saat ini aku tidak ingin terdengar ketus, tapi mood burukku sepertinya berpengaruh banyak pada nada bicaraku. Hey! Sejujurnya aku senang dan masih tak percaya kini aku bisa bertemu lagi dengan si pria misterius berambut merah ini!

Pria itu tersenyum lebar padaku sambil masih tetap menegadahkan telapak tangannya, merasakan tetesan air hujan. “Aku tidak ingin berteduh. Tapi aku benci bau rumah sakit, karena itulah aku harus berteduh.”

Untuk ukuran orang yang tiba-tiba ditanya dengan ketus oleh orang asing, pria ini terlihat ramah. Bila aku berada di posisinya saat ini, maka aku akan mendelik sebal “padaku”, tanpa mengatakan apapun.

Pria itu masih menatapku sambil tersenyum. Aku memalingkan wajahku. Baru sadar bahwa sejak tadi akulah yang terus memandanginya.

“Kau tidak suka hujan.” Pria itu tiba-tiba berkata.

Aku bergidik. “Aku tidak suka dingin… dan basah.”

Aku menoleh, meneliti sosoknya. Ia hanya memakai sweater cokelat muda tipis. Sangat berbeda denganku yang memakai setumpuk pakaian tebal di bawah coat Burberry hitam panjang. Padahal musim dingin belum tiba!

“Apakah kau lebih suka dinginnya hujan dibanding panasnya matahari?” Aku teringat bagaimana ekspresinya di pantai 3 tahun lalu.

Pria itu terkekeh pelan. “Aku tidak tahu mana yang lebih kusukai, tapi yang pasti… aku suka keduanya. Aku beruntung karena ternyata aku masih bisa merasakan keduanya.”

Aku mengerutkan keningku. Aku tahu, percakapan kami mungkin terdengar basi, membicarakan cuaca! Ya ampun! Dengan orang yang tidak dikenal pula! Bagi orang lain yang mencuri dengar… mungkin kami terlihat seperti sepasang muda-mudi yang ingin flirting tapi kehabisan bahan obrolan.

Tapi siapa yang mengira, obrolan konyol tentang cuaca ini membuat persepsiku akan si pria misterius ini semakin bertambah misterius. Ia adalah salah satu teka-teki yang ingin kupecahkan. Aku ingin tahu apa makna dibalik kata-katanya barusan.

Aku tidak terbiasa mengajak orang lain (terutama pria) berkenalan lebih dulu. Selalu saja pria-pria yang mendekatiku terlebih dahulu, mengajak berkenalan, dan sebagainya. Tapi jujur saja, aku memang ingin mengenal pria ini. Bukan berarti aku menyukainya atau apa, hanya saja… seperti sudah kubilang berulangkali sebelumnya, pria ini berbeda.

“Siapa namamu?” tanyaku dengan nada dan ekspresi datar khas ku.

Pria itu tersenyum hangat sambil menjulurkan lengannya. “Mark Tuan. Kau bisa memanggilku Mark.”

“Lee Sera.” Aku balas menjabat tangannya. “Kau bukan orang Korea?”

Mark menggeleng. “Aku lahir dan besar di LA. Ayahku orang Taiwan, ibuku LA.”

Aku menganggukkan kepalaku sambil tanpa sadar melihat sekeliling kami. Beberapa anak perempuan yang memakai seragam sekolah terkikik-kikik geli sambil menatap Mark dengan tatapan memuja. Beberapa gadis seusiaku dan yang lebih tua, yang berdiri agak jauh – juga menatap Mark penasaran.

“Dengar, Mark, aku bertanya siapa namamu, tapi bukan berarti aku tertarik padamu.” Aku mengerutkan keningku sambil masih melirik cewek-cewek di sekitar kami. Mereka sepertinya siap menggantikan posisiku saat ini kapanpun. Berkenalan dan mengobrol dengan Mark.

Mark tertawa. “Kau sangat jujur.”

Aku mengangkat kedua bahuku. “Aku hanya tidak ingin kau salah paham.”

Mark mengangguk. “Kau penasaran padaku karena aku aneh?” Kedua mata beningnya menatapku dengan jenaka.

Karena kau berbeda. Kataku dalam hati. Tapi aku tidak mengatakannya. Aku hanya berkata, “Ya, kau aneh. Kau satu-satunya orang yang terlihat senang karena hujan turun, tapi meskipun kau terlihat sangat ingin bermain di bawah hujan…kau malah berteduh.”

Senyuman Mark semakin lebar. “Apakah kau seorang psikolog?”

Aku menggeleng. “Sayangnya bukan.”

“Kau bukan tipe orang yang akan memberitahukan tentang dirimu pada orang lain.” Mark mengangguk.

Aku balas mengangguk. “Hmmm. Tergantung pada sejauh mana kau mau memberitahuku tentang dirimu.”

Mark mengangkat sebelah alis matanya sambil tersenyum tipis, “Apa yang ingin kau ketahui tentangku?”

Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan 3 tahun lalu saat kau berdiri seorang diri, di tengah keramaian pantai Heundae, Busan? Mengapa kau menatap lautan dengan sorot mata seperti itu? Berapa lama kau berdiri di sana? Apa yang kau lakukan sesudahnya? Dan mengapa kau berkata bahwa kau menyukai hujan, tapi memilih untuk menghindarinya karena kau benci bau rumah sakit?

Aku hanya bisa menyuarakan pertanyaan-pertanyaan itu dalam benakku. Yang kukatakan pada Mark hanyalah “Aku tidak tahu.” Terlalu banyak yang ingin kuketahui tentangnya. Benar-benar memusingkan, aneh, dan tak masuk akal.

“Hmmm, sayang sekali. Karena aku ingin tahu apakah kau masih kuliah? Atau bekerja? Dan apakah kita bisa bertemu lagi nanti?” Mark tersenyum. Hujan sudah agak reda, dan sepertinya ia harus segera pergi ke suatu tempat, tapi tak ingin melepaskanku.

Aku menggeleng. “Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi atau tidak, Mark.”

Ini pertemuan ke-2 kami. Mungkin pertama bagi Mark, karena 3 tahun lalu pastilah Mark tidak menyadari kehadiranku. Pepatah bilang, pertemuan ke-3 adalah takdir. Aku ingin tahu apakah akan ada pertemuan ke-3 bagi kami atau tidak.

“Kau tidak ingin bertemu lagi denganku? Aku baru saja akan bertanya berapa nomor ponselmu.” Canda Mark.

Aku tersenyum. “Bagaimana kalau aku memberitahumu berapa nomor ponselku jika kita bertemu lagi nanti?”

Mark tersenyum. “Apakah ini penolakkan secara halus?”

Aku menggeleng. “Aku hanya penasaran, apakah kita akan bertemu lagi nanti atau tidak.”

Mark mengerutkan keningnya. Terlihat benar-benar bingung.

“Kau pasti tidak tahu, tapi ini adalah pertemuan ke-2 kita.”

“Benarkah?”

“Aku melihatmu 3 tahun lalu di pantai Heundae. Saat itu…, seperti saat ini… kau terlihat….”

“Aneh?” Mark meneruskan kata-kataku sambil tergelak. Aku mengangguk.

“Baiklah, di pertemuan ke-3 kita nanti, aku akan memastikan… akulah yang menyapamu lebih dulu, Sera ssi. Kau mungkin berkata aku aneh dan kau tidak tertarik padaku. Tapi aku tertarik padamu karena kau…”

“Aneh?” potongku.

Mark tertawa, “Berbeda. Kau terlihat berbeda. Hmmmm…, aneh, tapi bukan aneh dalam konotasi negatif.”

Aku tertawa. Tidak mengerti bagaimana aku dan Mark bisa memiliki pikiran yang serupa.

“Kalau begitu…, sampai bertemu lagi nanti, Sera ssi. Kuharap aku tidak perlu menunggu 3 tahun lagi untuk bertemu denganmu.” Mark tersenyum hangat. Wajahnya terlihat bercahaya. Selama beberapa saat aku hanya tertegun memandanginya.

Detik itu mungkin aku tidak menyadarinya, tapi Mark Tuan terlihat berbeda di mataku karena ia memiliki pola pikir yang sangat berbeda denganku. Ia memandang dunia ini dengan cara yang bertolak belakang denganku. Mungkin karena itulah ada kekuatan-kekuatan tak masuk akal yang membuatku tertarik padanya.

Detik itu, pada pertemuan ke-2 kami, saat terakhir kali aku menatap kedua bola mata cokelat bening hangat milik Mark, aku tidak menyadari bahwa ia akan mengisi lubang-lubang kosong di dalam kehidupanku. Atau bagaimana kami berdua akan saling memengaruhi cara pandang kami tentang hidup kami.

Kami sama-sama terluka dan hancur. Kami hanya menutupi luka kami dengan cara yang berbeda.

************~~~~~~~~~~***********

Pertemuan ke-3 kami berlangsung di awal musim dingin. Hanya berselang 2 minggu dari pertemuan ke-2 kami (Mark mungkin merasa pertemuan ke-2 kami adalah pertemuan pertama). Seperti sebelumnya, pertemuan kami tak terduga.

Aku sedang mengantar sepupuku, Jackson, melakukan check-up di rumah sakit. Minggu lalu ia mengalami patah tulang kaki karena kecelakaan sepeda motor. Ketika aku duduk di ruang tunggu, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku dari belakang sambil berkata, “Sera ssi, berapa nomor ponselmu?”

Kontan aku terlonjak kaget, membalikkan tubuhku sambil membelalak lebar. “Mark?”

Mark nyengir lebar sambil membentuk tanda peace dengan kedua jarinya. Aku mengerutkan keningku, masih ingat jelas apa yang Mark katakan 2 minggu lalu. “Bukankah kau benci rumah sakit? Kenapa kau ada…” kata-kataku terhenti ketika aku menatap pakaian rumah sakit yang dikenakan oleh Mark. “Apa yang terjadi padamu? Kau sakit?”

Mark mengangkat kedua bahunya. “Hanya perlu menginap di sini selama beberapa hari. Aku sering lupa waktu bila sedang melukis. Aku hanya lupa tidak makan dan minum selama lebih dari 36 jam.”

Aku membelalakkan mataku. Tidak tahu harus berkata apa. Oke, jadi sekarang aku tahu Mark adalah seorang pelukis, atau setidaknya hobi melukis.

“Aku mahasiswa manajemen bisnis tingkat akhir, terkadang membantu pekerjaan perusahaan ayah dan ibuku, dan aku sangat hobi melukis. Kau bilang… kau akan memberitahukan padaku tentang dirimu bila aku memberitahumu tentangku. Aku sudah memberitahumu mengapa aku berada di sini dan apa pekerjaanku.”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kau bilang…kau benci rumah sakit, tapi sayang sekali, Mark, kalau kau mengenalku lebih jauh… kau akan tertular bau rumah sakit. Semester depan aku akan internship di rumah sakit.”

“Wow, kau dokter?”

“Calon.” Koreksiku.

Mark mengangguk. “Hmmm. Kau akan menjadi dokter umum? Atau mengambil spesialis apa nanti setelah lulus?”

Surgery. Like what my dad wants me to.” Aku memutar kedua bola mataku.

Mark tertawa. “Don’t be a surgeon if you don’t want to. Hmmm…, bagaimana kalau psikiatri? Kau senang mengobservasi orang lain. Kurasa kau akan cocok menjadi psikiater.”

Aku mendengus. “Kau belum mengenalku, Mark. Aku ini sangat anti-sosial. Dan aku tidak suka mengobservasi orang lain.”

Kecuali mengobservasimu, dan aku masih merasa hal itu sangatlah aneh. Berbeda. Aku mengingatkan diriku sendiri. Mungkin karena Mark terlihat berbeda denganku, dan dengan semua orang yang pernah kutemui. Atau…, entahlah. Aku tak ingin terlalu memikirkannya.

Mark tersenyum. “Kalau begitu aku ingin mengenalmu.”

Aku mengerutkan keningku, menatap Mark lekat-lekat, penuh tanya. “Kenapa?”

Mark mengangkat bahunya, “Karena kau satu-satunya perempuan yang bertanya siapa namaku tapi berkata tidak tertarik padaku. Semua perempuan yang mengajakku berkenalan biasanya tertarik padaku. Setidaknya pada wajahku.”

Aku mendengus, lalu tertawa. Mark pun ikut tertawa.

“Kau berbeda dan aneh.” Mark mencondongkan tubuhnya, menatapku lekat-lekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa cm dariku. Aku bisa merasakan napasnya yang segar di wajahku. Dia tidak tercium seperti pasien rumah sakit.

Aku mengerjap, balas menatapnya. “Kau juga.” Timpalku. Mark nyengir, lalu kembali bersandar di kursinya.

“Apakah kau sakit?” tanya Mark.

Aku menggeleng. “Sepupuku. Aku hanya mengantarnya.”

Mark mengangguk. “Apakah kau akan datang lagi kemari?”

Aku hanya terdiam. Pertanyaannya barusan terdengar seperti ‘Apakah kau akan menjengukku?’

“Kuharap kau datang lagi kemari. Di sini sangat membosankan.”

“Berapa lama lagi kau akan berada di sini?”

Mark mengangkat bahu. “Dokter bilang beberapa hari. Tapi sekarang sudah hari ke-4, dan mereka belum mengizinkanku pulang, padahal aku merasa sudah sangat sehat.”

“Mungkin sebaiknya kau beristirahat. Jangan berjalan-jalan ke luar ruanganmu seperti ini.”

“Aku akan menjadi pasien yang baik, diam di dalam ruanganku, tapi kau harus berjanji untuk mengunjungiku.”

“Jangan berusaha terlalu keras untuk flirting denganku, Mark. Semua orang menjulukiku si putri es.” Candaku sambil menyeringai.

Mark tertawa. “Aku hanya berusaha membuat satu-satunya perempuan yang tidak tertarik padaku menjadi tertarik padaku.”

“Hmm, kau harus berusaha lebih keras lagi, Mark. Karena pria yang memakai pakaian pasien rumah sakit jelas-jelas tidak menarik bagiku.” Candaku lagi. “Aku ingin melihatmu melukis.”

“Sera!” Suara Jackson terdengar. Dia baru saja keluar dari ruangan dokter dan kini berusaha berjalan menghampiriku, menggunakan penyangga.

Wait me there, Jack!” seruku. Kemudian aku berbalik menatap Mark. “Aku harus pergi.”

Mark menyodorkan ponselnya padaku. “Nomormu. Agar aku bisa menerormu untuk datang menjengukku.”

Aku tertawa, tapi lalu meraih ponsel Mark dan mengetikkan nomorku dengan cepat. “Sampai nanti, Mark!”

Aku tidak menunggu balasan Mark. Mungkin dia melambaikan tangannya, atau tidak, aku tidak tahu. Aku segera berlari menghampiri Jackson dan membantunya berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.

~~~~~~ ****** ~~~~~~~

Malam harinya, ketika aku hendak tidur, ponselku bergetar. Ada pesan dari nomor tak dikenal.

Sera, ini Mark. Sepertinya besok aku masih harus terjebak di rumah sakit. Received 22.15

Aku akan membawakanmu bunga. Kau bilang kau benci bau rumah sakit. Aku akan membuat ruanganmu wangi bunga. Sent 22.17

Hahaha. Aku lebih suka bau pizza dibanding bau bunga.😀  Received 22.18

Pizza dengan double cheese? Sent 22.19

Yup. Double cheese dan crust. Received 22.19

Aku akan datang sepulang kuliah. Sent 22.20

Oke, aku akan menunjukkan lukisanku padamu. Received 22.21

Kau membawa kanvas? Sent 22.22

Tidak. Aku bisa melukis menggunakan media apapun. Di sini banyak tissue. Aku bisa melukis di atas tissue. Atau aku bisa meminta suster membawakanku kertas. Received 22.24

Aku akan membawakanmu kanvas, kuas, dan cat. Sent 22.25

Wow! Thanks, Sera! Aku memang lebih suka bau kanvas dan cat dibanding bau pizza.😀 Received 22.26

Aku akan tetap membawakanmu pizza. Kau tidak ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi kan, Mark? Kau harus banyak makan. Tubuhmu sangat kurus, kau tahu?! Sent 22.28

Hahahaha, aku tidak tahu ternyata si putri es senang mengomel.😀 :p Received 22.29

Berhati-hatilah, karena omelan si putri es jauh lebih tajam dan dingin! Sent 22.30

Aku akan mengingatnya. I’ll always be on your good side. ;)  Received 22.31

Istirahatlah, Mark. Mata panda akan menjadi point minus.😀😉  Sent 22.32

Aku akan meningkatkan point-ku dengan selembar lukisan. Jadi, bersiap-siaplah.😉  Good night, Sera. It’s really nice to know you, and talk to you. ;)  Received 22.33

Good night, Mark. Sent 22.34

Have a nice dream, Sera. Received 22.34

Aku terdiam sejenak. Kemudian balas mengetik. Have a nice dream, Mark. Sent 22.37

Entah kapan terakhir kalinya aku memimpikan hal yang indah. Setiap malam aku terbangun karena mimpi-mimpi burukku, kenangan-kenangan masa kecil yang menghantuiku, dan ingatan-ingatan buram tentang masa lalu yang menggerogoti akal sehatku.

Selama lebih dari 17 tahun, aku selalu mengalami mimpi buruk dalam tidurku. Bagiku ucapan “semoga mimpi indah” yang diucapkan oleh sepupuku, maupun mantan-mantan pacarku, ataupun pria-pria lain yang berusaha mendekatiku hanyalah terdengar seperti ucapan dan harapan kosong. Aku tidak pernah mengalami mimpi indah. Tapi aku tidak pernah takut untuk tertidur, meskipun dalam tidurku…mimpi buruk selalu datang menghampiriku. Bagiku, kenyataan jauh lebih buruk dibanding mimpi-mimpi burukku.

Tapi ada yang aneh dengan malam ini. Untuk yang pertama kalinya dalam 17 tahun ini, aku tidak mengalami mimpi buruk. Tidurku pulas, tanpa mimpi.

~~~~~~~ ******* ~~~~~

Keesokan harinya, entah bagaimana, tapi aku menepati janjiku. Aku menjenguk Mark pada pukul 3 sore. Mark si orang asing bagiku, orang aneh yang anehnya membuatku ingin selalu melihatnya. Seperti yang sudah kujanjikan semalam, aku membawakannya kanvas, kuas, cat minyak, dan pizza crust double cheese.

Mark menyambutku dengan seulas senyuman lebar. Terlihat begitu senang ketika aku membuka pintu ruangannya. VVIP. Aku menduga dia pastilah orang yang berada, karena bisa memesan ruangan paling mewah di rumah sakit ini.

Televisi flat menyala, menampilkan Disney channel, tanpa suara, tapi Mark sama sekali tidak melihat ke arah TV. Ketika aku datang, sepertinya ia tengah asyik melukis di atas kertas. Terdapat banyak sekali gumpalan kertas berserakan di lantai, di sekitar ranjang Mark.

Aku meletakkan pizza dan plastik berisi kanvas, kuas, beserta cat minyak di atas meja kecil di samping ranjang Mark, lalu berbungkuk, meraih salah satu gumpalan kertas itu dan membukanya. “Apakah ini gambar wajahku?”

Mark mengangguk. “Hmmm. Aku berusaha melukismu, tapi selalu gagal.”

Aku meraih gumpalan kertas yang lain di lantai, membukanya satu per satu, lalu tertawa ketika melihat begitu banyak coretan gambar wajahku. “Apa yang salah dengan semua gambar ini? Menurutku… sudah cukup mirip denganku.”

Mark menggeleng. “Tidak cukup mirip. Nah! Karena sekarang kau sudah ada di sini, bisakah kau duduk dan aku akan melukismu.” Ujar Mark dengan riang. Ia turun dari ranjangnya, membuka plastik kanvas dengan penuh semangat, tapi aku menahan lengannya, menghentikannya.

“Sebaiknya kau makan pizza dulu.”

Mark nyengir lebar. “Oke.”

Aku membimbing Mark untuk duduk dan bersandar di sofa yang terletak tak jauh dari ranjang rumah sakit, lalu membuka box pizza, dan mendekatkannya pada Mark. Mark meraih satu slice pizza dan memakannya dengan lahap.

Aku mengamatinya makan sambil duduk di sampingnya. “Kau tidak tidur ya semalam?” Aku bisa melihat bayangan hitam menggantung di pelupuk matanya.

Mark menggeleng. “Aku memang sering insomnia.”

“Apakah kau selalu mengalami mimpi buruk?”

Mark menggeleng lagi. “Tidak. Sebaliknya, justru aku selalu mengalami mimpi indah. Aku takut untuk tidur, karena dengan mengalami mimpi-mimpi indah dalam tidurku… akan membuatku mengutuki kehidupan nyataku.” Mark nyengir lebar, kemudian kembali memakan pizza dengan cepat.

Aku terdiam. Benar-benar ironis. Aku sangat suka tidur, meskipun tidurku selalu dipenuhi oleh mimpi buruk. Tapi tidur adalah pelarian bagiku. Tidurku, yang penuh mimpi buruk, jauh lebih baik daripada hidupku.

Sementara Mark, tidak suka tidur, meskipun tidurnya selalu dipenuhi oleh mimpi indah. Ia tidak menjadikan tidur sebagai pelarian baginya.

Tapi ada satu hal yang aku tahu dengan pasti. Kami berdua sama-sama menjalani kehidupan yang tidak kami sukai. Bedanya, aku menjadikan tidur sebagai “pelarian” bagiku, sementara Mark sangat takut untuk tidur karena ia takut bila ia akan “berlari” dari kehidupan nyatanya.

Aku membuang dan berusaha melupakan rasa sakit yang diberikan dunia padaku. Sementara Mark merengkuh dan memeluk erat-erat rasa sakitnya.

Aku penasaran berapa banyak lagi perbedaan cara pandang dan pola pikir kami akan kehidupan ini.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Mark.

Aku tersadar dari lamunanku. “Kita. Bagaimana pemikiran kita begitu berbeda.”

Mark terkekeh. “Tidak ada manusia yang memiliki pemikiran yang persis sama.”

Aku mengangguk. “Memang. Tapi kurasa pemikiran kita terlalu jauh berbeda.”

Mark mengangkat sebelah alis matanya. “Benarkah?”

Aku mengangguk. Lalu, entah bagaimana, kata-kata itu mengalir dengan lancar dari mulutku. Ini adalah pertama kalinya aku menceritakan tentang mimpi burukku pada orang lain. Selain Jackson, tidak ada seorang pun yang tahu bila aku selalu mengalami mimpi buruk setiap malam. Kini Mark tahu.

“Apakah orangtuamu tahu?” tanya Mark.

Aku menggeleng. “Tidak.”

Tidak, karena mereka adalah alasan utama mengapa aku mengalami semua mimpi buruk itu. Tambahku dalam hati.

Mark mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau benar. Pemikiran kita jauh berbeda. Tapi aku penasaran…, adakah satu saja pemikiran kita yang sama?”

Aku tersenyum, tapi sorot mataku dingin ketika berkata “Bukankah sudah jelas? Kita sama-sama membenci hidup kita, Mark.”

Selama beberapa saat kami hanya terdiam. Kemudian Mark mendesah, terdengar lelah. “Ya, kau benar. Tapi di satu sisi, aku sangat mencintai hidupku. Aku bersyukur karena masih bisa menghirup udara yang segar, merasakan panasnya matahari menyengat kulitku, merasakan hembusan angin dan dinginnya hujan di sekujur tubuhku…”

“Kau berpikiran positif, Mark. Aku tidak.”

“Kenapa tidak?”

Aku mengangkat bahuku. “Tidak ada gunanya, menurutku. Kehidupan mengajarkanku untuk menjalani hidup apa adanya, tanpa berharap dengan memikirkan hal-hal baik akan terjadi padaku.”

“Bila hal buruk menimpamu… kau akan menerimanya?”

“Aku selalu menerimanya, Mark. Dan kemudian melupakannya.”

“Apakah mudah? Melupakan?”

Aku menggeleng. “Tidak. Tapi bila kau sudah terbiasa, hal itu akan menjadi mudah bagimu. Bagiku… melupakan terasa seperti bernapas. Terlalu mudah. Tapi kemudian membuatku sesak. Semua yang ingin kulupakan tersimpan di dalam alam bawah sadarku, dan kemudian menghantuiku melalui mimpi-mimpi buruk.”

“Jika melupakan begitu mudah bagimu, aku senang.” Mark tersenyum lebar. Aku menatapnya dengan bingung, kemudian merasa penasaran mengapa senyuman itu tak mencapai matanya. Kini, kedua bola mata cokelat bening indah miliknya itu terlihat sama persis dengan saat pertama kali aku melihatnya di pantai Heundae 3 tahun lalu.

“Itu artinya… kau akan bisa melupakanku dengan mudah ketika aku harus tiba-tiba pergi jauh.” Mark melanjutkan kata-katanya. Bibirnya tertarik, membentuk seulas senyum lebar, tapi kedua matanya menerawang, kosong.

“Kau akan pergi ke mana? Kembali ke LA?”

Mark menggeleng. “Aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh, Sera.”

Selama beberapa saat, aku terus memandangi wajah Mark. Sama seperti sebelumnya, aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosoknya. Ada lebih dari sekedar Mark Tuan yang dia tampilkan di hadapan semua orang. Ada Mark Tuan lain dalam dirinya, Mark Tuan yang tidak terlihat se-tegar apa yang diperlihatkannya pada orang lain.

Mark tersenyum. Kali ini senyumannya terlihat tulus. “Aku akan melukismu. Kau bebas melakukan apapun, Sera. Aku hanya akan sesekali melihat wajahmu.” Mark mengedipkan sebelah matanya.

Aku terbahak, kemudian mengangguk. “Aku memang membawa tugas-tugas kuliahku kemari.”

“Sangat bagus, Lee Sera!” Mark nyengir lebar.

~~~~ **** ~~~~

Begitulah, semenjak hari itu, aku rutin mengunjungi Mark setiap hari. Setiap harinya, pasti ada saja topik baru yang kami bicarakan. Bersama Mark Tuan, topik pembicaraan apapun tidak pernah terasa membosankan. Kami lebih sering berbeda pendapat akan berbagai hal, dan itulah yang membuat pembicaraan kami jadi menarik.

Di hari kunjunganku yang ke-7, aku bertanya pada Mark, mengapa tidak pernah ada yang mengunjunginya selain aku.

“Ayah dan ibuku sibuk mengurusi perusahaan keluarga. Kakak-kakakku sudah menikah dan berkeluarga, dan tinggal di berbagai kota dan negara yang berbeda. Hanya aku satu-satunya anak yang tinggal di sini bersama orangtuaku. Teman? Mungkin kau tidak percaya, tapi sama sepertimu, aku pun termasuk orang yang anti-sosial. Aku lebih suka menyendiri.”

“Bagaimana dengan fans-fans mu?” godaku sambil nyengir jahil.

Mark tertawa. “Aku tidak memberitahu mereka di mana aku berada. Aku tidak mau membuat rumah sakit kacau karena ulah fans-fansku. Oh, pasti akan terdapat banyak sekali bunga dan hadiah di ruangan ini bila aku memberitahu fans-fans ku di mana aku berada!”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, masih tidak menyangka ternyata pria ini narsis juga. Tapi memang benar apa yang dikatakannya. Dia punya banyak penggemar. Bahkan suster-suster muda pun seringkali membawakannya makanan-makanan lezat yang aku tahu tidak terdapat dalam daftar menu makanan di rumah sakit. Mereka memperlakukan Mark dengan istimewa, bukan karena orangtua Mark memiliki banyak uang, tapi karena mereka kagum dengan sikap supel dan riang Mark, oh…dan seperti apa yang pernah Mark katakan…semua wanita pastilah tertarik pada wajah tampannya. Yang benar saja! Aku yakin, tidak semua wanita di dunia ini tertarik pada wajahnya.

Aku ingin bertanya pada Mark, mengapa dokter belum juga mengizinkannya pulang. Pasti ada alasan yang lebih dari sekedar ‘kurang gizi karena tidak makan dan minum selama 36 jam!’ Tapi aku tidak pernah mengumpulkan keberanian yang cukup untuk bertanya padanya.

Mungkin aku takut? Entah untuk alasan apa. Apakah aku takut mendengar jawaban yang tidak kuharapkan tentang penyakit Mark? Ataukah aku takut Mark akan melupakanku begitu ia keluar dari rumah sakit sehingga aku tidak bertanya padanya kapan ia akan keluar dari rumah sakit ini? Kedua alasan itu sama-sama egois. Tanpa kusadari, Mark sudah memasuki kehidupanku terlalu jauh.

Di hari ke-9 kunjunganku, Mark tiba-tiba bertanya. “Sera, pernahkah kau berpikir untuk mati? Pernahkah kau berpikir untuk membunuh dirimu sendiri?”

Aku terkejut. Biasanya topik pembicaraan kami selalu jauh-jauh dari hal-hal yang sensitif seperti masalah yang kami alami, apalagi kematian.

Aku menarik kursi yang kududuki, semakin dekat ke ranjang Mark. Pandangan mata Mark masih terfokus pada kanvas di pangkuannya, tapi kuasnya mengambang. Kanvas itu kosong. Ini pertama kalinya Mark hanya memandangi kanvas kosong, tanpa melukis apapun. Sejauh ini, Mark sudah melukis banyak hal, meski hampir semua lukisannya berhubungan denganku. Lukisan diriku yang sedang mengetik di laptop. Lukisanku yang sedang berteduh dari hujan deras di bawah atap kedai kopi. Lukisanku yang sedang tertawa. Lukisan Mark dan aku yang sedang berebut remote tv. Tapi kali ini kanvas itu kosong.

Aku hanya terdiam dan terus memandangi Mark sampai Mark mengangkat wajahnya dan balas menatapku. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Pernah. Aku pernah memikirkannya. Sering, bisa dibilang. Aku ingin mati, tapi aku terlalu pengecut…terlalu takut untuk membunuh diriku sendiri.”

“Bukan karena kau terlalu mencintai hidupmu sekarang?”

Aku menyeringai. “Kau tahu pasti, Mark. Aku tidak pernah mencintai hidupku. Aku takut… akankah kehidupanku sesudah kematian lebih buruk daripada kehidupanku sekarang. Dan aku terlalu takut…menjalani prosesnya, menuju kematian itu sendiri. Bila ada yang membuatku mati dalam sekejap mata, tanpa perlu merasakan sakitnya, ataupun mengingat bagaimana sakitnya kematian itu ketika aku berada di kehidupanku yang lain, aku akan dengan senang hati menyambutnya, Mark.”

Mark tersenyum sedih. Suaranya terdengar lirih. “Ya, seandainya ada kematian yang tidak terasa sakit.”

Mark menoleh, menatap ke luar jendela. Di luar sana semuanya terlihat putih karena tumpukkan salju. Aku mengamati sosok Mark dari samping.

“Aku ingin bermain salju. Tapi aku tahu kau benci dingin dan basah.” Mark menoleh, menyeringai padaku.

Aku terkekeh. “Baguslah kalau kau masih ingat, Mark. Sebaiknya kau tetap berada di ruangan yang hangat ini.”

Mark mengerutkan keningnya. Ia jarang menampakkan ekspresi serius seperti ini. “Sera, apakah alasanmu untuk tetap hidup hanyalah karena kau takut kehidupanmu sesudah kematian akan lebih buruk daripada hidupmu sekarang?”

Aku menggeleng. “Tidak. Kurasa…karena Jackson.”

Mark mengerutkan keningnya. “Sepupumu?”

Aku mengangguk. “Kau harus mengenalnya, Mark. Dia sangat… hidup. Lucu. Hampir selalu menganggap hidup ini hanyalah permainan. Dia tak punya banyak pikiran. Dia hampir mirip denganmu, selalu berpikiran positif. Dia yang membuatku terus hidup. Dia bilang… dia tidak pernah merasa sedih. Tidak ketika ibunya menelantarkannya, dan menitipkannya pada keluargaku ketika umurnya 4 tahun. Tidak ketika ayah yang tak pernah ditemuinya seumur hidup tiba-tiba datang dan memintanya menjadi penerus perusahaan ketika usianya 19. Tapi dia berkata… dia akan sangat sedih bila aku tiada. Kurasa… aku pun demikian. Dia adalah kakak, sahabat, sekaligus orangtua bagiku. Dia bisa lebih bawel daripada seorang ibu!” Aku tersenyum.

Mark ikut tersenyum. “Kau sangat beruntung.”

Aku mengangguk. “Hmmm. Lalu kau…., apa alasanmu untuk tetap hidup, Mark?”

Mark memalingkan pandangannya dariku. Dia menghela napas panjang, lalu memejamkan kedua matanya. “Karena hidup terlalu singkat bagiku. Tanpa meminta pun, kematian akan segera datang padaku. Aku ingin menikmati hidupku yang singkat ini, meskipun hidupku menyebalkan.” Mark membuka kedua matanya, nyengir lebar.

Pandangan mataku mengeras. Semudah itukah Mark menyembunyikan rasa sakitnya?

Tapi kemudian senyuman Mark memudar. “Aku ingin melihat indahnya dunia ini, selagi aku masih bisa melihatnya. Karena itulah aku ingin tetap hidup. Di saat aku tidak bisa melihat dunia ini lagi dan menyerah…, bisakah aku berpegangan padamu, Sera? Bisakah kau menjadi alasan bagiku untuk tetap hidup?” Mark menatapku dalam-dalam. Untuk alasan yang tak pasti, dadaku terasa begitu sesak ketika kedua mata cokelat bening itu menatapku, seolah menembus ke dalam jiwaku, membaca pikiran-pikiran tergelapku.

Untuk yang pertama kalinya, aku benar-benar ingin tahu, penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh Mark.

Maka malam itu, dengan menggunakan koneksi ayahku, aku bertanya pada dokter pribadi Mark, mengorek data medis Mark.

Tumor otak. Sejak umur 10 tahun. Sudah pernah melakukan operasi ketika umurnya 12. Tapi tumor itu muncul kembali ketika usianya 19. Sekarang usianya 23, dan tumor itu beranjak pada stage yang lebih berat dibanding sebelumnya, sebelum re-appearing terjadi. Jika tidak segera melakukan operasi, kemungkinan kedua matanya akan menjadi buta. Tapi tidak ada yang menjamin setelah operasi matanya akan tetap sama.

Untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, aku menangisi orang lain. Selama ini aku bahkan tidak sempat menangisi hidupku, karena terlalu banyak hal menyedihkan untuk ditangisi. Tapi aku menangisi Mark. Bagaimana ia akan melukis… bila kedua matanya tak bisa melihat lagi?

Itukah alasannya mengapa 3 tahun yang lalu, saat pertama kali aku melihatnya di pantai, ia terlihat seperti orang yang akan melihat pantai untuk yang terakhir kalinya? Apakah 3 tahun yang lalu… Mark sudah tahu bahwa kedua matanya tidak akan bisa melihat lagi karena tumor otak yang dideritanya?

Kejam. Mengapa dunia bersikap begitu kejam pada orang yang selalu berpikiran positif? Pada orang yang begitu mencintai hidupnya meskipun hidupnya menyebalkan?

Jijik. Aku merasa jijik pada diriku sendiri, karena memikirkan hal yang begitu egois. Apa yang akan terjadi padaku bila Mark pergi? Aku memang tidak mau mengakuinya, tapi dengan caranya yang aneh, Mark telah mengikatku terlalu erat ke dalam kehidupannya, dan ia telah melekat begitu kuat ke dalam kehidupanku yang membosankan, membuatnya jadi berbeda. Aku tidak bisa lagi melepaskan Mark.

~~~~~ ******* ~~~~~~

Di hari ke-15 kunjunganku, Mark menceritakan padaku tentang penyakitnya, dan aku memberitahunya bagaimana aku diam-diam sudah mengetahuinya.

Mark hanya tersenyum. Aku hanya menangis.

Entah sejak kapan si putri es ini berubah menjadi cengeng. Mungkin sejak si pangeran matahari melelehkan es nya? Ataukah sebenarnya Mark adalah pangeran hujan yang mengikis es secara perlahan? Menyenangkan, sekaligus menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada matahari, yang melelehkan es dalam sekejap. Karena hujan yang membasuh es tidak pernah memberitahu si es kapan es itu akan sepenuhnya mencair. Dia terus membuainya dengan rintikkan halus dan pelan yang menenangkan. Hujan juga tidak pernah memberitahu es, kapan hujan akan berhenti turun dan meninggalkan es, berantakan…, lebur…, hancur…, ataupun kembali berubah beku menjadi lebih beku daripada sebelumnya.

Sama seperti Mark. Dia tidak terlihat seperti orang yang akan menghancurkanku. Tapi tanpa kusadari, ia menghancurkanku. Hidupku tak pernah sama lagi semenjak aku mengenalnya. Ia menghancurkan cara pandangku akan dunia ini.

Aku tidak ingin melupakan Mark, ataupun semua rasa sakit yang diakibatkannya. Aku ingin merengkuhnya, merasakan rasa sakit itu bersama dengannya, melalui rasa sakit itu, tersenyum karenanya, menghadapinya bersama. Aku tidak ingin melarikan diri lagi dari kejamnya dunia. Karena kini aku tahu…, ada yang lebih kejam dibanding kejamnya dunia, yaitu… rasa kehilangan. Takut kehilangan seseorang yang amat berarti bagiku.

Mark tidak pernah memberitahuku kapan ia akan pergi meninggalkanku. Sama seperti hujan. Karena Mark pun tidak tahu kapan ia akan pergi. Tuhanlah yang memiliki kendali atas hujan. Atas Mark.

Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa bersikap egois dengan meminta Mark tetap hidup, sementara hidup akan menjadi semakin berat baginya. Tapi aku bertanya-tanya, akankah ia mengizinkanku menjadi kedua matanya, ketika kedua mata indahnya dirampas darinya oleh sang takdir? Ataukah dia lebih memilih untuk memeluk kematian, karena dunia ini tak ada artinya lagi baginya tanpa keindahan yang direkam oleh matanya…kemudian oleh kuas dalam kanvas favoritnya?

Apakah ucapan sambil lalunya hanyalah ucapan kosong belaka? Akankah ia berpegangan padaku di saat tak ada lagi satupun hal di dunia ini yang bisa ia andalkan untuk menahannya terjatuh ke jurang kehampaan?

Di hari ke-18 kunjunganku, aku bertanya pada Mark. “Mark, bisakah aku menjadi alasanmu untuk tetap hidup?”

Mark tersenyum lembut, lalu menggeleng. “Aku akan menjadi alasan bagimu untuk tetap hidup, Lee Sera.”

Aku tersenyum, meskipun hatiku terasa perih. Entah bagaimana, tapi Mark sepertinya bisa membaca ke dalam relung jiwaku yang terkelam. Aku tidak bisa hidup tanpa Mark. Pikiran ini begitu mengerikan.

~~~~~~~~ ********** ~~~~~~~~~~~

Di hari ke-40 kunjunganku, Mark membabat habis rambutnya. Ia jadi terlihat seperti tentara.

“Rambutku rontok. Aku malas melihatnya berjatuhan di sekitar tempat tidurku. Kau tahu kan kalau aku suka kebersihan?” Mark nyengir. Seperti biasa, menganggap penderitaannya angin lalu.

Aku mengatupkan mulutku. Takut bila aku malah akan membentaknya karena terlalu menganggap enteng penyakitnya.

Kemoterapi membuat rambutnya rontok. Aku merindukan rambut merahnya. Jangan salah duga, Mark tetap terlihat charming meskipun sekarang rambutnya gundul. Hanya saja… wajah tirus dan tubuh kurusnya jadi terlihat semakin jelas. Ia jadi terlihat seperti pasien sungguhan.

Semua orang di rumah sakit ini menjuluki Mark “Prince charming musim dingin” karena Mark mulai dirawat secara intens di rumah sakit ini semenjak awal musim dingin. Kini sudah hampir 2 bulan lebih Mark dirawat inap, dan musim dingin pun hampir berakhir. Para suster sering menggodanya, berkata mereka akan memanggilnya “Prince charming musim semi” ketika musim semi tiba nanti.

Jackson dan Mark berteman baik. Jackson hampir sama seringnya denganku mengunjungi Mark. Tapi aku selalu mengusirnya, karena aku ingin berduaan saja dengan Mark. Jangan berpikiran yang bukan-bukan, aku hanya ingin “berdebat” tentang berbagai hal dengannya berdua saja, tanpa ada suara lain, suara Jackson yang mengacaukan obrolan seru kami.

Ruangan Mark dipenuhi oleh lukisan yang ditempel di dinding. Berbagai macam lukisan, tapi hampir setengahnya merupakan lukisan tentang diriku. Mulanya aku merasa malu, karena setiap kali dokter ataupun suster datang, mereka pasti akan menatapku dengan tatapan jahil menggoda.

“Mark ssi, waktunya minum obat. Kau tidak mau pacarmu membentakmu lagi karena lupa minum obat kan?” Salah satu suster yang rutin merawat Mark melirikku.

Mark tertawa. “Suster, dia akan marah kalau ada orang lain yang menyebutnya pacarku.”

Aku mengangguk. “Benar. Aku bukan pacar si idiot ini.”

“Dia ingin orang-orang memanggilnya Mrs.Tuan.” Bisik Mark pada suster itu, tapi masih bisa kudengar dengan jelas.

“Yah! Tuan! Jangan menyebarkan gossip yang aneh-aneh! Aku bahkan bukan pacarmu, lantas kenapa aku mau menjadi istrimu?!” Aku berkacak pinggang dengan kesal.

Mark dan suster itu hanya tertawa. Selalu seperti ini. Semua suster dan dokter yang ada di sini pasti akan berpihak pada Mark dan membullyku.

Kurasa semua orang bisa melihat dengan jelas. Kami berdua saling mencintai. Tapi kami tidak pernah membicarakan hal itu dengan serius. Kurasa aku tidak memiliki cukup keberanian untuk bertanya apakah Mark mencintaiku. Tapi aku menganggapnya demikian. Atau mungkin sebenarnya tidak penting bagiku apakah Mark mencintaiku atau tidak, selama ia mengizinkanku untuk terus berada di sisinya.

Karena terkadang cinta membuat seseorang menjadi serakah. Aku tahu, aku kini tidak bisa hidup tanpa Mark. Tapi… aku takut menjadi lebih serakah lagi. Aku tidak mau mengatur hidup Mark.

Di hari ke-43 kunjunganku, untuk yang pertama kalinya, aku bertemu dengan ibu Mark. Wanita paruh baya berparas cantik itu menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Aku bukanlah ibu yang baik bagi Mark.” Lirihnya ketika aku mengantarnya berjalan di koridor rumah sakit. Saat Mark bertemu ibunya tadi, aku bisa melihat betapa sikapnya berubah menjadi dingin.

“Mark… sejak kecil diasuh oleh baby sitter. Baginya… ibu hanyalah formalitas ketika ia harus menulis biodata di sekolah. Aku tidak pernah benar-benar menjadi ibu baginya. Aku selalu khawatir… Mark akan terus sendiri sampai akhir. Meskipun banyak gadis yang menyukainya…, ia hanya menganggap mereka semua boneka, tidak pernah benar-benar mempedulikan mereka. Mungkin kebenciannya padaku membuatnya membenci semua perempuan di dunia ini. Tapi sepertinya aku salah. Aku bisa melihatnya di mata Mark. Dia… mencintaimu. Dia benar-benar mencintaimu, Sera ssi.” Ibu Mark tersenyum. Kini kami berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.

Aku tersenyum sopan. “Mark tidak pernah mengatakannya. Tapi aku senang Anda mengatakannya, Nyonya Tuan.”

Ibu Mark tersenyum hangat, lalu membelai-belai lenganku dengan lembut. “Terima kasih karena kau sudah bersedia berada di sisi Mark. Maukah kau terus berada di samping Mark dan mendukungnya?”

Aku mengangguk. “Tentu saja, Nyonya. Aku tidak bisa lagi hidup tanpa Mark. Meskipun harus selamanya tinggal di sisinya sebagai teman baiknya, aku akan melakukannya.”

Ibu Mark menggeleng sambil tertawa pelan. “Sepertinya kau tidak bisa berbahasa Cina.”

Aku tersenyum sambil menggeleng. “Tidak.”

“Aku melihat lukisan-lukisan Mark. Kalau kau perhatikan baik-baik, di setiap lukisan, selalu terdapat kalimat dalam bahasa Cina. Aku tidak mengingat semua tulisannya, tapi ada beberapa yang pasti akan selalu kuingat.” Ibu Mark tersenyum penuh kasih keibuan. Aku tertegun, kapankah terakhir kalinya aku melihat senyuman ibuku? 17 tahun yang lalu? Ketika sebelum ayahku mengusirnya dari rumah? Sebelum ibuku ketahuan memiliki pria lain? Sebelum ibuku terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas?

Tanpa sadar air mataku menetes. Ibu Mark merengkuhku, memelukku. Apakah selama ini cara pandangku akan orangtuaku adalah salah? Bahwa aku lupa ternyata orangtuaku pun hanyalah manusia biasa. Manusia mana yang selalu sempurna? Manusia mana yang tak pernah tertekan? Manusia mana yang tak pernah menderita? Aku hanya tidak beruntung karena menjadi korban penderitaan orangtuaku. Atau pola pikirkulah yang salah? Seandainya aku tidak menganggap diriku korban dari perceraian orangtuaku, seandainya aku meraih tangan ayah dan ibuku, akankah ibuku tetap pergi pada pria lain? Akankah ibuku meninggal? Akankah ayahku menyibukkan dirinya dengan rumah sakitnya? Akankah aku tidak dipedulikan?

“Sera sayang…, Mark menulis dalam salah satu kanvas, kanvas sosok dirimu yang sedang menyuapinya obat… bahwa ia berharap kau akan selalu berada di sampingnya. Ia juga menulis di kanvas berlukiskan wajahmu yang sedang tertidur bahwa ia benar-benar mencintai si putri es yang kini sedang tertidur. Ia berharap ia juga bisa hadir di dalam mimpimu.”

“Semua kalimat yang Mark tulis tentangmu benar-benar indah. Tanyakanlah pada Mark arti semua kalimat dalam bahasa Cina itu, Sayang.”

Setelah ibu Mark pergi, hal yang pertama kali kulakukan ketika aku tiba di dalam ruangan Mark bukanlah bertanya apa makna semua kalimat yang ia tulis di antara lukisan-lukisannya yang memenuhi dinding itu, tapi memeluknya dengan erat. Seumur hidupku, inilah pertama kalinya aku memeluk seseorang dengan begitu erat sehingga rasanya menyakitkan. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan orang ini.

Sepertinya Mark merasakan air mataku di punggungnya, sehingga ia berkata, “Hey, what’s wrong?” nadanya terdengar benar-benar cemas.

Aku tersenyum sambil menggeleng. Kemudian menatap Mark dengan intens. “Aku akan melakukan sesuatu padamu, dan kau boleh marah setelahnya ataupun mengusirku, tapi… berpura-puralah bahagia ketika aku melakukannya.”

“Apa yang akan….” Sebelum Mark sempat menyelesaikan kata-katanya, aku menutup mulutnya dengan bibirku, melumatnya dengan cepat tapi lembut. Air mataku berjatuhan. Mark membalas ciumanku dengan hangat, mendekapku semakin erat, merengkuhku ke dalam pelukannya yang menenangkan. Entah berapa lama bibir kami bertautan, berbagi helaan dan hembusan nafas kehidupan, berbagi rahasia dan penderitaan, berbagi kebahagiaan karena sama-sama dipertemukan, karena sama-sama menemukan. Aku kehabisan napas. Mark menarik wajahnya perlahan, lalu menempelkan keningnya di keningku. Kedua tangannya merengkuh pipiku dengan lembut. Kedua matanya yang indah menembus mataku dengan tajam.

Stupid! Justru aku yang takut si ice princess ini akan marah bila aku melakukan hal ini sejak dulu.” Mark tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mendekatkan lagi wajahnya padaku, tapi aku mendorong keningnya menjauh.

Stupid! Kenapa kau tidak melakukannya sejak dulu? Kau membuatku jadi cewek liar!”

Mark mengangkat sebelah alis matanya sambil menyeringai, teasing. “Benarkah? Kau? Liar? Oh…please…, Jackson lebih liar darimu!”

Mataku membelalak lebar. “Jackson menciummu?”

“Keningku.”

“WANG JACKSON MENCIUMMU?” Bentakku.

Mark menatapku dengan heran. “Memangnya kenapa?”

Aku mendecakkan lidahku. “Awas saja! Akan kuhajar dia di rumah nanti! Pantas saja selama ini dia tidak pernah memberitahuku apa arti semua tulisan di lukisan ini. Ternyata dia diam-diam menyukaimu. Tsk! Pantas saja akhir-akhir ini dia jadi lebih menyebalkan!”

Mark masih menatapku dengan bingung. Aku menghela napas panjang. “Sepupuku tersayang, Wang Jackson, tidak pernah menyukai perempuan seumur hidupnya. Saat usianya 15 tahun, dia memberitahuku kalau dia gay.”

Mata Mark membelalak lebar, se-lebar-lebarnya. “What?”

“Kupikir dia menyukaimu.” Aku menggedikkan bahu.

No way!” seru Mark.

Aku menepuk-nepuk punggungnya. “Tenang saja. Aku juga marah padanya. Aku tidak akan membiarkannya mengunjungimu lagi.”

“Dia bahkan mencium bibirku diam-diam….” Raut wajah Mark berubah horror.

“APA? KAU BILANG DIA HANYA MENCIUM KENINGMU?!”

“Aku sedang tertidur. Tapi terbangun ketika….ketika…”

Aku mengepalkan kedua tanganku. “Wang Jackson, aku akan meremukkan tulang-tulangmu!”

“Hahahaha…Hahahahaha….Hahahaha…” Mark tertawa terbahak-bahak.

Aku mendelik kesal padanya. “Bagus! Kau malah tertawa!” Sindirku ketus.

“Kau lucu sekali Sera~ya.., cemburu pada sepupumu sendiri. Hahaha…Hahaha…Hahaha…”

“Jangan menyebut nama Jackson lagi!” bentakku.

“Oke…oke…”

“Wang Jackson harus berurusan denganku!”

“Kau sangat lucu ketika marah, Mrs.Tuan.”

“JANGAN MEMANGGILKU MRS.TUAN! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENIKAH DENGANMU TANPA LAMARAN YANG SPESIAL!”

Mark hanya tertawa keras. Lalu aku pun ikut tertawa. Betapa kadang hidup yang menyebalkan ini terasa menyenangkan dan konyol.

~~~~ ***** ~~~~

Di hari ke-51 semenjak kunjunganku yang pertama, Mark memberiku kejutan. “Dokter mengizinkanku keluar dari rumah sakit dan bersenang-senang selama 1 hari penuh.”

Mataku membelalak lebar. “Benarkah?” Seruku senang. Berkencan bersama Mark di luar rumah sakit ini adalah salah satu impianku.

Mark mengangguk, nyengir super lebar. “Hmmm. Kau ingin pergi ke mana? Taman bermain? Bioskop? Shopping?”

Aku menggeleng. “Aku ingin berkunjung ke rumahmu.”

“Hah? Kau serius?”

Aku mengangguk. “Hmmm. Aku ingin tahu bagaimana kondisi kamarmu. Dan apakah kau masih meyimpan foto-foto mantan pacarmu.”

Mark terbahak-bahak. “Eeeey…, possessive are you?” Ia merangkul pinggangku dengan sebelah lengannya.

Aku mendecakkan lidahku sambil nyengir. “Kidding! Aku tahu kau tidak pernah punya pacar sebelum aku, Mark.”

“Siapa bilang?”

Your Mom.”

Tsk! She just never knows.”

So?” Aku berkacak pinggang.

Mark mengangkat kedua tangannya. “I’ll never win against you, baby. You’ve won! Aku memang tidak pernah punya pacar sebelumnya. Honest.”

Aku mengangguk. “Hmmm…, let’s see. Berdoa saja Mark, semoga aku tidak menemukan majalah aneh di bawah bantalmu.”

Mark tergelak. “Silakan geledah kamarku, Sera~ya.”

Siapa yang mengira, ternyata apa yang kutemukan di dalam kamar Mark lebih mind blowing daripada yang kuduga sebelumnya. Bukan, bukan karena ada majalah ataupun foto-foto aneh, apalagi video-video aneh, tapi.. karena lukisan itu.

Di samping tempat tidur Mark, terdapat sebuah lukisan, yang Mark bilang merupakan salah satu lukisan paling spesial baginya, karena mampu membuatnya berhenti memikirkan tindakan konyol yang sempat terlintas di benaknya saat itu. Sebuah lukisan panorama pantai dan lautan luas yang membentang, dengan istana pasir yang menjadi objek utamanya. Istana pasir dengan banyak jendela dan menara tinggi, yang di depan istananya terdapat sebuah tulisan yang jelas-jelas dibuat menggunakan stick ice cream, digoreskan dengan sangat dalam pada pasir, takut angin menghapus jejaknya.

Aku percaya kau tidak akan melompat ke laut ketika aku pergi. Kau terlihat terlalu mencintai laut dan matahari. Kau terlalu indah untuk ditangisi.

Sera, why are you crying?” Mark memelukku dari belakang. Kini kami sama-sama menatap lukisan itu, lukisan yang Mark buat 3 tahun lalu, sepulangnya dari berlibur di rumah kakak tertuanya di Busan.

“Kau… sungguh-sungguh berniat melompat ke laut saat itu?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Hmmm.” Mark bergumam. Napasnya yang hangat di telingaku membuatku bergidik, kembali mengingat pertemuan pertama kami 3 tahun yang lalu di Heundae.

“Mark, istana pasir itu… dan kalimat itu… aku yang membuatnya. Itulah pertama kalinya aku bertemu denganmu. Aku melihatmu begitu… berbeda. Kau satu-satunya orang yang terlihat menderita dan terluka di pantai itu. Kau melihat ke arah lautan… seolah-olah kau tidak akan pernah lagi bisa melihatnya. Seolah-olah kau ingin ditelan olehnya. Seolah-olah kau merindukannya. Tapi seolah-olah kau ingin melihatnya kembali, suatu saat nanti. Kau terlihat merana…. tapi aku bisa melihat sekelebat cahaya di balik kelamnya sorot matamu. Tapi saat itu aku sendiri pun tidak yakin dengan penilaianku, karena itulah aku menuliskan kalimat itu di dekat istana pasir yang kubangun.”

Mark memelukku semakin erat, membenamkan wajahnya ke leherku. Aku bisa merasakan air hangat menetesi leher dan pundakku. Mark menangis. Inilah pertama kalinya aku melihat Mark menangis.

Aku membiarkannya menangis, meluapkan seluruh emosi tertahannya. “Kau akan baik-baik saja, Mark. Aku percaya kau akan baik-baik saja. Meskipun kau tidak baik-baik saja, aku akan tetap berada di sisimu. Kau pun sudah berjanji padaku akan menjadi alasan bagiku untuk tetap hidup. Aku pun demikian. Tetaplah hidup untukku, Mark.” Aku membelai lengannya dengan lembut. Tangisan Mark semakin keras. Aku hanya terdiam. Tapi dalam hati aku menangis diam-diam.

~~~~~ ****** ~~~~

Setelah mendapat “waktu bebas” rumah sakit selama 1 hari itu, Mark harus segera bersiap melakukan operasi. Entah bagaimana hasilnya nanti. Tapi aku selalu meyakinkan diriku, dan juga Mark, bahwa bagaimanapun hasilnya nanti, perasaanku padanya tidak akan pernah berubah. Dia masih tetap bisa mengandalkanku, bahkan bila keadaan semakin parah.

Setiap detik aku melantunkan doa dalam hatiku. Memohon pada Tuhan agar melancarkan operasi Mark. Berdoa semoga Mark tetap bisa melihat, agar aku dan dunia bisa melihat keindahan dunia di balik matanya, yang ia tuangkan dalam kanvas-kanvas kesukaannya.

Aku berdoa semoga tumor itu tidak muncul kembali. Semoga Mark bisa menjalani hidupnya dengan baik.

Aku berdoa semoga meskipun Tuhan berkata lain, meskipun Tuhan memberikan cobaan padanya, kuharap Mark bisa tegar menghadapinya. Kuharap Mark tetaplah Mark. Kuharap pandangannya tentang segala hal akan tetap positif.

Jackson menemaniku ketika Mark masuk ke dalam ruang operasi. Ibu, ayah, dan kakak-kakak Mark juga datang, tapi kemudian mereka pergi sambil menangis.

Aku juga ingin pergi. Aku ingin melarikan diri. Tapi aku tak sanggup berlari.

Aku akan terus menunggu di sini, meskipun rasanya menyakitkan. Meskipun setiap detik terasa seperti siksaan.

Jackson merangkul pundakku, menggosok-gosok lenganku, menenangkanku. Aku meliriknya. Ia hanya nyengir lebar seperti biasanya. “Adik iparku akan baik-baik saja.” Ujar Jackson dengan suara yang lebih serak daripada biasanya. Aku tahu ia pun sama cemasnya seperti aku.

Detik terasa seperti jam. Di saat-saat seperti ini apa yang kupunya selain harapan?

Aku – yang dulu tidak pernah berharap apapun pada dunia yang kejam ini, kini mulai berani berharap, mulai berani bermimpi, mulai berani menjalani setiap sesi kehidupan, merengkuh kesulitan, tidak membuang jauh-jauh penderitaan, tapi menghadapinya dengan penuh keberanian.

Semuanya demi Mark. Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik karena Mark. Aku ingin lebih menghargai hidupku karena Mark. Karena Mark aku merasa menjadi hidup. Hidup yang sesungguhnya.

Aku tertidur di bahu Jackson. Mimpiku indah. Semenjak bertemu dengan Mark, mimpi burukku bisa dihitung dengan jari. Tidurku lebih sering tanpa mimpi. Ketika aku bermimpi indah, kurasa aku bisa memahami apa yang selalu Mark rasakan. Aku menjadi takut untuk menjalani hidupku, karena mimpiku jauh lebih indah daripada hidupku.

Sekarang hidupku lebih indah daripada mimpiku, karena Mark. Tapi bagaimana bila Mark tiada? Maka mimpi itu akan jauh lebih indah. Aku ingin Mark yang sesungguhnya, yang nyata, yang memberiku rasa sakit dan bahagia. Bukan Mark hasil karya memoriku, alam bawah sadarku, yang hanya kutemui di dunia mimpi.

Aku ingin hidup dalam jangka waktu yang panjang bersama Mark Tuan. Saling mengisi kekosongan di hati kami. Saling menguatkan ketika dunia menyakiti kami.

Sebuah tepukan lembut di pundakku langsung membuatku terjaga, was-was, takut sesuatu yang buruk menimpa Mark. Aku mengerjap. Jackson berurai air mata. Ia mengecup keningku lama. “Bangunlah, putri tidur, kau bisa melihat pangeran musim dinginmu.”

“Apa… yang terjadi? Apakah…?” Aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Kenapa Jackson menangis?

Jackson tertawa. “Operasinya berjalan dengan lancar. Dokter bilang Mark tertidur. Kau bisa menunggunya bangun di dalam.”

Aku langsung melompat dari kursiku. Tapi Jackson tetap bergeming. “Kau tidak akan ikut masuk, Jack?”

Jackson menggeleng. “Masuklah. Aku akan mencari makanan. Dan…ugh! Kepalamu berat sekali!”

Aku nyengir lebar. “Bawakan pizza untukku!”

“Oke. Go…” Jackson mengibaskan tangannya, menyuruhku pergi.

Aku pun segera berlari masuk ke dalam ruangan tempat Mark tertidur, dengan berbagai macam alat di sekitarnya dan selang membelit tubuhnya.

Air yang menggenang di pelupuk mataku membuat pandanganku buram. Aku bersyukur karena operasi Mark berjalan dengan lancar, meskipun aku masih belum tahu apakah Mark masih tetap bisa melihat atau tidak.

Aku duduk di sampingnya, membelai lengannya dengan lembut dan perlahan, takut menyakitinya. “Mark…, Mark, can you hear me?”

Aku mengusap air mata di pipiku, lalu tersenyum. “I know you’re strong, Mark. Kau akan menjalani semua ini dengan baik.”

Aku menggenggam jemari Mark dengan lembut sambil memandangi wajahnya yang damai. Kemudian tanpa kuduga, jemari Mark meremas jemariku dengan lemah. Kedua matanya mulai terbuka, menatap langit-langit dengan kosong, tanpa berkedip.

Air mataku bercucuran. Aku ingin bertanya apakah ia bisa melihatku, tapi aku menggigit bibirku, kemudian bertanya “Apakah aku membangunkanmu?”

Mark menoleh padaku, mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu tersenyum lemah. “Aku memang sangat mengantuk, mengantuk sekali…, tapi aku ingin melihatmu. Kenapa kau menangis?” Mark berkata dengan lirih.

Aku menangis semakin keras. Tangisan bahagia. Aku senang Mark bisa melihatku menangis.

Mark mencoba menyentuh pipiku, tapi sepertinya ia terlalu lemah, maka aku pun membungkukkan badanku, menyentuhkan pipiku ke jemari lengannya yang panjang, membiarkannya mengusap air mataku perlahan.

“Dokter berkata…, aku masih harus menjalani terapi di sini. Mungkin para suster bahkan akan menjulukiku si Pangeran musim panas, dan juga musim gugur…”

“Aku akan selalu menemanimu, Mark. Aku bahkan sudah mendaftar internship di sini. Ayahku marah, tentu saja. Kau tahu rumah sakit ini adalah saingan rumah sakit ayahku. Tapi aku meyakinkannya kalau ada baiknya aku mempelajari mekanisme rumah sakit saingan ayahku, untuk menemukan kelemahannya, dan belajar darinya mengenai kelebihannya.”

Sudut-sudut mulut Mark tertarik, membentuk senyuman hangat. “Sera- ku memang jenius.” Mark kemudian menguap lebar.

“Tidurlah, Mark. Hanya…ingatlah untuk kembali padaku lagi. Kau harus ingat untuk bangun.”

Mark terkekeh pelan. “Tentu.” Mark memejamkan matanya.

“Sera~ya…”

“Hmm?”

“Dokter bilang… ada kemungkinan tumor ini muncul kembali di masa depan nanti.” Mark berkata pelan sambil memejamkan kedua matanya.

“Apakah kau takut, Mark?”

Mark menggeleng, kemudian membuka matanya dan menatapku lekat-lekat. “Aku tidak takut, karena aku berpegangan padamu.”

Aku tersenyum. “Aku akan selalu memelukmu, Mark. Kau tidak akan pernah terjatuh.”

“Sera, sudahkah aku mengatakan padamu bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu?” Tanya Mark tiba-tiba.

“Hmmm. Ya, melalui lukisan-lukisanmu.”

“Ingatkan aku, bila 20 tahun yang akan datang, atau 50 tahun yang akan datang… aku lupa mengucapkannya padamu.”

“Kau tidak perlu mengatakannya, Mark. Kau hanya perlu… hidup. Aku ingin kau tetap hidup.”

Mark tersenyum. “Aku tahu.”

Mark terlihat benar-benar mengantuk, tapi ia membuka matanya kembali. “Sera, aku mencintaimu.”

Aku tersenyum. “Aku tahu.”

“Berjanjilah padaku kau akan berada di sini saat aku bangun nanti.”

Aku mengangguk. “Hmm. Tentu, Mark. Istirahatlah. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

Aku membelai kepala Mark yang dibalut perban dengan hati-hati, tidak benar-benar membelainya, hanya berusaha membelainya, menyisakan jarak 1 cm di antara telapak tanganku dan perban di sekeliling kepalanya.

Dulu aku pernah berkata…. Bila mati sama seperti tertidur, maka aku ingin mati. Aku ingin tertidur selamanya dan tak pernah bangun lagi.

Tapi kini aku ingin berkata…. Seandainya aku tak perlu tertidur, aku tidak ingin tertidur, karena hidup terlalu berharga. Setiap detik yang kuhabiskan bersamamu terlalu berharga, Mark.

Sebanyak apapun dunia ini membuatku menangis, terluka, menderita, aku ingin tetap tersenyum, bersamamu, tetap berdiri tegak dan tertawa. Menertawakan dunia yang tidak bisa mengalahkanku. Membuat dunia menangis bahagia karena tempaan dan siksaannya telah membuatku menjadi lebih kuat.

Aku ingin berdiri tegak di atas pasir dan merasakan panasnya mentari menyengat kulitku, serta membiarkan angin membisikkan kata-kata selamat untukku.

Selamat, Lee Sera, karena kau telah sanggup berdiri di atas semua penderitaan yang menjadi ujian bagimu. Selamat, karena kau tidak lagi menyia-nyiakan setiap helaan napasmu. Selamat, karena kau telah menemukan belahan jiwamu, yang dengannya kau ingin menghabiskan seluruh hidupmu. Yang tanpanya, maka hidupmu tak akan pernah terasa sama, tak bermakna.

Selamat, Lee Sera, karena sekarang kau lebih memilih kehidupan dibanding kematian. Seluruh jagad raya pun tersenyum untukmu. Kau terlalu indah untuk ditangisi.

~~~~ The End ~~~~

Author’s note :

Dengan menulis, aku pun menuangkan emosi-emosi tergelap dalam benakku. Kemudian merekonstruksi ulang pola pikirku. Serta pada akhirnya berdamai dengan hidupku, dengan dunia ini, dengan masa laluku, dengan diriku sendiri, dan dengan orang-orang di sekitarku yang memengaruhi lika-liku hidupku.

Untuk Lee Sera – Lee Sera dan Mark – Mark yang ada di luar sana, di seluruh dunia, di manapun kalian berada. Buatlah seluruh jagad raya dan semesta ini tersenyum untukmu. Kau terlalu indah untuk ditangisi.

~ Azumi ~

5 thoughts on “[Short Story] Dunia

  1. Yeyy Mark again
    Ya ampun eonn ini ff bikin hati gimana gitu, sedih banget baca ini.
    next ff Mark jangan sedih-sedih lagi ya eonn
    Fighting🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s