Got Love (Chapter 1)

Title                     : Got Love

Author                 : Azumi Aozora

Main Casts           : Kim So Hyun (actrees), Kim Yugyeom (Got7), Mark (Got7), Jackson (Got7)

Support Cast       : Jaebum / JB (Got7), Bambam (Got7), Junior / Park Jin Young (Got7), Young Jae (Got7), Kim Ji Soo (YG model, soon to be a new YG girl group’s member), Nam Joo Hyuk (actor, YG model)

Genre                   : romance, friendship, family, AU

Rating                  : PG+15

Length                 : Chaptered

Disclaimer           : Cerita ini hanya fan-fiksi. Ide, alur cerita, dan plot milik penulis. Tokoh-tokohnya tidak semuanya sesuai asli, termasuk umur dan karakter. I write this story just to have fun. Don’t plagiarize this story! Hope you enjoy reading this and don’t forget to write some comments.🙂

PicsArt_10-25-02.49.52

Mom serius ya? Aku benar-benar harus tinggal di sini? Bersama kakakku yang menyebalkan ini?” Aku menatap ibuku dengan tatapan mata memelas sambil menunjuk pria berambut pirang kecokelatan dengan piercing di kedua telinganya yang kini menatapku tanpa ekspresi. Aku memang ingin sekali tinggal di Korea, tapi bukan tempat tinggal seperti inilah yang kubayangkan! Oke, rumah ini memang bagus, luas, dan bersih, tapi… letaknya sangat jauh dari pusat kota Seoul, ditambah lagi aku harus berbagi tempat dengan kakak laki-lakiku, Yugyeom, yang sejak kecil tidak pernah akur denganku! Oh, lebih buruk dari itu, ternyata Yugyeom tidak tinggal sendiri. Entah bagaimana dia bisa berteman dan tahan hidup 24 jam bersama dengan Jackson Wang, pria berisik, aneh, dan sok kenal yang kini menatapku dengan mata berbinar dan senyuman super lebar ini!

Aku menghela napas panjang. Aku tahu orangtuaku tidak akan mungkin mengizinkanku tinggal di Korea bila tidak ada Yugyeom. Bukannya aku tidak betah tinggal bersama orangtuaku, hanya saja… terkadang aku merasa lelah pindah sekolah terus menerus. Orangtua kami adalah ilmuwan ahli genetika yang sering sekali melakukan penelitian di berbagai universitas terkenal di dunia, memberikan seminar-seminar penting (menurutku memusingkan), dan bekerjasama dengan rumah sakit ternama di berbagai negara. Aku selalu ikut ke manapun orangtua kami pergi, beda dengan Yugyeom yang selalu tinggal sendirian di Seoul semenjak junior high school.

Pada mulanya Yugyeom tinggal di rumah orangtua kami di Gangnam, tapi 2 tahun yang lalu Yugyeom menjual rumah itu dan membeli rumah yang jauh lebih sederhana di pinggiran Seoul. Aku tidak pernah mengerti mengapa orangtua kami malah mendukungnya. Mereka juga tidak pernah mau memberitahuku apa alasan Yugyeom menjual rumah mewah kami dan malah membeli rumah sederhana ini. Saat itu orangtuaku hanya berkata sambil tersenyum, “Kau akan mengerti saat sudah dewasa nanti.”

Cih! Mereka selalu saja mendukung Yugyeom dan menganggapnya jauh lebih dewasa dariku, padahal kan dia hanya 2 tahun lebih tua dariku!

Apakah Yugyeom butuh uang saat itu karena terbelit hutang dan dikejar-kejar renternir mengerikan? Aku menggelengkan kepalaku. Kalau begitu kenapa dia tidak menjual mobilnya saja?! Kenapa harus menjual rumah orangtua kami?!

Aku mengerang kesal. “Aku ingin tinggal di Gangnam, Mom! Aku bisa menyewa apartemen sendiri di sana. Lagipula… akan lebih dekat ke sekolah kami!” aku masih terus membujuk ibuku. Aku berani bertaruh ibuku sama sekali tidak mendengar ocehanku. Sejak tadi ia sibuk mondar-mandir ke sana – kemari, memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam lemari pendingin dan menyiapkan makan siang untuk kami.

“So Hyun~ah, kalau kau sudah merapikan koper mu, bantu ibu menyiapkan makanan…, ibu harus pergi ke bandara sebentar lagi.”

Benar kan apa kataku!

Aku menghembuskan napas kesal, pada akhirnya terpaksa menyeret koper dan tas ransel besarku ke dalam kamar. Untungnya, rumah ini punya 3 kamar tidur. Buruknya, hanya ada 1 kamar mandi!

Jackson mengikutiku, membantuku membawakan koper-koperku yang lainnya. Sementara Yugyeom tinggal di dapur bersama ibu kami. Sudah satu tahun lebih Yugyeom tidak bertemu langsung dengan kami. Natal tahun kemarin ia tidak datang ke Amsterdam, padahal biasanya minimal satu tahun sekali ia pasti datang ke kota manapun kami berada. Tokyo, London, LA, New York, Paris, Berlin, bahkan Bangkok dan Kuala Lumpur!

Jackson masih terus menatapku sambil nyengir lebar. Ya ampun, ada apa sih dengan cowok ini?! Dia sudah tahu kalau aku kesal karena pertanyaan-pertanyaannya yang super panjang ketika aku baru tiba tadi, dan sekarang dia ingin membuatku kesal dengan cengirannya? Aku bergidik, kemudian segera keluar dari dalam kamarku tanpa membereskan apapun.

“Sudah kau bereskan?” tanya ibuku begitu aku duduk di ruang makan. Aroma carbonara, nasi goreng, dan kimchi jiggae yang super harum langsung membuat mulutku berair.

“Nanti saja.” jawabku singkat.

Yugyeom menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengupas apel dengan cekatan. “Aku tidak akan mentolerir apapun yang membuat rumah ini kotor.”

Aku mendengus. “Tenang saja. Aku juga tidak suka kotor!” Kemudian aku menatap ibuku dengan memelas, “Mooom! Aku tidak akan tahan mendengar omelan Yugyeom!”

“Aku juga tidak akan tahan mendengar keluhanmu.” Balas Yugyeom sengit.

Aku menjulurkan lidahku. Yugyeom balas menjulurkan lidahnya. Selama beberapa menit kami jadi terlihat seperti anak TK yang berlomba menampilkan wajah paling jelek dan siapa yang punya lidah terpanjang.

Tanpa disangka-sangka, Jackson tertawa terbahak-bahak sampai terbungkuk-bungkuk lalu bergulingan di lantai. Aku mengerutkan keningku. Dasar orang aneh!

“Menurutku kau hanya merindukan Yugyeom.” Jackson menyeka air di sudut-sudut matanya, kini ia duduk di sampingku.

Aku mendengus, menyilangkan lengan di depan dada, lalu berkata dengan ketus. “Aku? Kenapa aku harus merindukan kakakku satu-satunya ini? Dia bahkan tidak menemui keluarganya sendiri saat natal tahun kemarin. Oh, dia juga kakak yang sangat baik karena mengucapkan selamat ulang tahun padaku satu menit sebelum hari ulang tahunku berakhir!”

Yugyeom menghela napas panjang. Jackson menyeringai. “Benar kan! Kau merindukan Yugyeom!”

“Aku kesal padanya! Bukan merindukannya!”

Yugyeom menatapku lekat-lekat dari sebrang meja. “Besok sore, sepulang sekolah, aku akan membawamu ke manapun kau mau.”

“Aku mau shopping.”

“Oke.”

“Aku mau makan makanan enak.”

“Oke.”

“Aku mau naik sepeda di Hangang.”

“Oke.”

“Aku mau beli semua album EXO.”

“Oke.”

Senyumku melebar. Langsung saja aku berdiri dan berlari ke arah Yugyeom, memeluknya dengan erat dari belakang, kemudian mencium kedua pipinya. “Thank youuuuu….my brother!”

Mom, mulai hari ini hidupku akan menderita.” Yugyeom memutar kedua bola matanya, tapi seulas senyum menghiasi wajahnya.

“Yah! Kau pikir aku suka tinggal di sini?!”

“Aku suka kau tinggal di sini.” Malah Jackson yang berkata demikian, sambil masih memamerkan cengiran konyolnya.

Mom, kau yakin akan mempercayakanku pada Yugyeom dan temannya ini?”

“Jackson Oppa. Kau harus memanggilnya Jackson Oppa.” Koreksi ibuku. “Aku sudah mengenal Jackson dan keluarganya dengan baik.” Ibuku tersenyum pada Jackson sambil menghidangkan makanan di atas meja makan. “Kau mungkin lupa, tapi saat kau berumur 7 tahun, kalian pernah bermain bersama.”

“Benarkah?” aku mencoba mengingat-ingat. Rasanya aku belum pernah bertemu dengan Jackson! “Di mana?”

“Saat kita semua masih tinggal di rumah yang lama di Gangnam.” Jawab Yugyeom sambil melahap nasi goreng.

Aku mengerutkan keningku semakin dalam. Jackson Wang? Seingatku… tidak ada teman semasa kecilku yang bernama Jackson Wang! Dan aku mengenal semua teman Yugyeom, setidaknya saat aku masih tinggal di Seoul. Tidak ada teman Yugyeom yang bernama Jackson Wang!

“Ka Yee. Wang Ka Yee.” Gumam Yugyeom. Kedua matanya berbinar, sudut-sudut mulutnya berkedut menahan tawa.

“Ka Yee? Ka Yee yang memakai kawat gigi? Sepupunya Zhou Oppa dari Hongkong yang dulu tinggal beberapa bulan di samping rumah kita itu? Yang menangis karena diejek teman-temanku? Hahahahah…hahahha….” Aku tertawa terbahak-bahak. “Yah! Ka Yee! Kau benar-benar berubah!” Kini, setelah tahu bahwa pria aneh ini adalah Ka Yee, aku merasa tidak canggung lagi padanya. Awalnya kupikir pria ini tergila-gila padaku. Yah, dulu Ka Yee memang tergila-gila padaku, sebagai anggota geng kecilku. Dulu aku kuat, berani, dan berkuasa di daerah bermain kami. Dulu Ka Yee yang tidak bisa bahasa Korea adalah anak yang sangat kurus, lemah, dan penakut. Pernah suatu kali teman-temanku mengganggunya sampai ia menangis. Tapi aku membelanya dan mengizinkannya bermain bersamaku dan teman-temanku. Yugyeom sih sejak dulu tidak terlalu suka bermain di luar. Dia lebih senang bermain games di rumah.

“Senang bertemu denganmu lagi, Wang Ka Yee! Kenapa kau tidak langsung memberitahuku kalau kau adalah Ka Yee?”

Jackson tertawa. “Karena sekarang aku bukan lagi Ka Yee yang dulu. Sekarang giliranku untuk melindungimu, Kim So Hyun! Hahahaha. Aku sudah berubah kan? Aku jauh lebih kuat dan lebih tampan sekarang. Hahahaha.”

Aku tertawa sambil mengangguk. “Kau memang terlihat kekar dan tampan. Tapi kau tetap saja Ka Yee!”

“Yah! Kau akan terkejut mengetahui berapa banyak fans ku di sekolah besok!”

Aku menyeringai. “Fans Yugyeom pasti lebih banyak!”

“Mwooooo? Tidak-tidak! Fans ku jauh lebih banyak!”

“Tentu saja fans Yugyeom lebih banyak! Aku cantik, punya banyak fans. Dan karena Yugyeom kakakku, jadi dia pun pastilah tampan dan punya banyak fans!”

“Aigoo~ kau masih saja childish!” Yugyeom menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aigoo~~ kau masih saja membosankan!” balasku dengan sengit.

“Aigoo~~ kenapa anak-anakku selalu saja bertengkar seperti Tom and Jerry?” Ibuku ikut menimpali, lalu kami pun tertawa.

Siang bergulir berganti malam dengan sangat cepat. Setelah mengantar ibu kami ke bandara (ibu kami harus segera kembali ke Amsterdam karena masalah pekerjaan) kami pun melanjutkan adu mulut kami tentang berbagai hal, termasuk pengaturan jadwal cuci piring dan berapa lama maksimal berada di kamar mandi, mengingat kamar mandi di rumah ini hanya ada satu!

Nampaknya… Yugyeom masih sama seperti dulu. Dia satu-satunya orang di dunia ini yang tahan “berperang” denganku yang super keras kepala ini!

Jackson selalu tertawa keras setiap kali menonton adu mulut di antara kami. Yah, ada penonton di rumah ini ternyata tidak buruk juga. Jackson juga sering membuat adu mulut kami berubah jadi candaan. Sebenarnya bukan hal yang baru bila aku dan Yugyeom saling berteriak seperti ini. Dulu juga aku sering menangis karenanya. Dia satu-satunya orang yang bisa membuatku menangis! Tapi sehebat apapun pertengkaran kami, pada akhirnya kami selalu akur kembali. Yugyeom juga sering menuruti keinginanku, selama keinginanku itu dia anggap wajar dan masuk akal tentunya.

Intinya, Yugyeom adalah kakak terbaik yang kumiliki. Aku tidak mungkin mengatakan hal ini langsung padanya, tapi sebenarnya aku sangat senang bisa tinggal bersamanya lagi.

Aku memang seperti ini. Seringkali apa yang kukatakan bukanlah apa yang benar-benar kumaksudkan. Maksudku baik, tapi seringkali terlihat jahat.

~~~~~~ ******** ~~~~~~~

Keesokan paginya, Yugyeom menyeretku ke kamar mandi. Alarm ponsel ternyata tak sanggup membangunkanku. Kepalaku terasa pusing sekali. Kalau boleh memilih, aku ingin tidur saja seharian.

Setelah mandi dan memakai seragam sekolah, aku langsung berlari ke luar rumah. Yugyeom dan Jackson sudah menungguku di dalam mobil. Aku membuka pintu belakang dan duduk di samping Jackson.

Yugyeom menatapku tajam lewat kaca spion. “Yah! Kau pikir aku supir?!”

“Tsk! Jackson, kau duduk di depan saja. Aku mau berbaring dan tidur di sini.”

Are you serious?” Jackson membelalakkan matanya tak percaya.

Aku mengangguk. Yugyeom menyerahkan bantal leher padaku. “Jangan tidur sambil berbaring. Perutmu kan lemah. Aku tidak mau mobilku terkena muntah-mu. Dan ini bekal sarapanmu.” Yugyeom kemudian menyerahkan kotak makan berisi roti lapis keju dan tempat minum berisi cappuccino.

“Waaahhhh…, ternyata kau masih ingat menu sarapan kesukaanku. Gomawooooo Yugyeom~ah…”

Yugyeom mengacak-acak rambutku sambil nyengir lebar. Jackson terkekeh-kekeh. “Kenapa kau tidak pernah memanggil kakakmu dengan sebutan Oppa?”

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Aku memakan roti dan menyesap kopi ku perlahan. Jackson membalikkan badannya ke belakang, menatapku, menunggu jawaban.

Aku mengangkat bahu. “Tidak tahu. Dari kecil memang begitu.”

“Sejak kecil sebenarnya dia ingin jadi kakak.” Jawab Yugyeom.

Aku mengangguk. “Hmmm. Aku lebih suka punya adik yang bisa kusuruh-suruh, tapi ternyata… punya kakak tidak buruk juga. Hehehe.”

“Karena kau bisa menyuruh-nyuruh kakakmu.” Yugyeom memutar kedua bola matanya. Aku dan Jackson hanya tertawa.

Setelah meminum kopi, mataku terasa lebih segar. Selama di perjalanan, Jackson banyak bercerita tentang sekolah baruku ini, terutama tentang teman-temannya dan Yugyeom. Aku tahu Jackson senang melebih-lebihkan cerita, tapi aku percaya saat ia berkata bahwa ia dan teman-temannya sangat populer.

“Siapa kingka nya?” tanyaku. Kingka adalah sebutan bagi cowok paling populer di sekolah.

“Tentu saja Jackson Wang! Hahahaha…”

Aku hanya memutar kedua bola mataku.

Chincha! I’m serious!”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Aku akan lebih percaya kalau Yugyeom kingka nya. Tapi…aku tahu Yugyeom punya sifat yang cuek, jadi pasti ada orang lain.”

“Jackson Wang!”

No!”

“Jackson Wang!”

“Zzzzz….”

Instingku terbukti benar ketika kami tiba di tempat parkir sekolah. “Hey! Yugyeom~ah! Jakson~ah!” Terdengar suara beberapa orang pria memanggil kakakku dan Jackson. Aku menoleh dan melihat 5 orang pria berjalan ke arah kami dengan bersemangat.

Hey, Man!” Jackson memeluk mereka brotherly. Sementara kakakku ber-high-five dan membenturkan sebelah bahu dengan mereka.

“Siapa ini?” tanya pria berwajah cute berambut cokelat dengan shade ungu sambil tersenyum manis padaku.

My sister.” Jawab Yugyeom. Dia merangkul pundakku dengan sebelah lengannya, gesture nya seolah menunjukkan bahwa siapapun yang berani menggangguku akan berhadapan dengannya.

Aku melepaskan lengan Yugyeom dari pundakku, lalu membungkukkan badanku dengan sopan. “Annyeong haseyo…, namaku Kim So Hyun.”

You’re so pretty! I’m Bambam.” Cowok cute tadi mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya sambil tersenyum.

“Park Jin Young. Tapi mereka memanggilku Junior.” Cowok cute satu lagi, yang berambut hitam dan memiliki eye-smile kini menjabat tanganku.

“JB.”

“Justin Bieber?” candaku pada pria berwajah bulat dan bermata tajam itu.

Cowok bernama JB itu tertawa. Matanya berubah lembut. “Jaebum.”

Aku membalas senyuman hangatnya. Aku punya feeling bahwa cowok bernama JB ini sangat dewasa, baik, dan bisa diandalkan. Dia juga punya aura seorang alfa.

Annyeong… aku Choi Youngjae. Satu kelas dengan kakakmu.”

“Oh, hanya kau yang sekelas dengan kakakku?”

“Mark juga.” Jawab Youngjae sambil melirik cowok berambut cokelat kemerahan yang berdiri paling belakang. Mataku mengerjap beberapa kali. Pria bernama Mark itu…. sangat tampan! Dia punya figure typical flower boy next door.

Hi, I’m Mark. Nice to meet you.” Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aksen LA nya kentara sekali. Aku juga menduga dia pastilah bukan orang Korea.

Nice to meet you too. You’re not Korean, right?” Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

Mark tersenyum hangat. “Aku orang Taiwan, tapi sejak kecil tinggal di LA.”

Jackson terbatuk keras. “Hi, I’m Jackson.” Ia melepaskan tangan Mark yang masih menjabat tanganku, dan sebagai gantinya Jackson menjabat tanganku dengan keras.

Mwoya?! Wang Ka Yee!” Aku menepis tangannya.

“Wang Ka Yee? Hahahahaha. Aku tidak pernah mendengar ada yang memanggilnya Wang Ka Yee selain aku! Hahahaha…” Bambam terbahak-bahak.

Jackson memukul belakang kepala Bambam. “Yah! Jangan memanggilku Ka Yee di sekolah!”

Aku hanya tertawa. Sepertinya teman-teman Yugyeom dan Jackson sangat menarik dan menyenangkan. Aku melirik Mark, entah kenapa aku merasa dialah yang akan paling sulit kudekati.

~~~~~~**********~~~~~~~~~~~

Ternyata bukan hanya aku yang tertarik pada Mark. Sebagian besar anak perempuan di kelasku mengidolakannya! Tepat seperti dugaanku, bukan Jackson lah yang memiliki fans paling banyak!

Aku bukan tipe orang yang berpura-pura tidak memiliki hubungan apapun dengan para kingka hanya agar kehidupan sekolahku tenang. Ketika ada yang bertanya padaku bagaimana bisa aku berjalan masuk ke gedung sekolah, bahkan sampai diantar ke kelasku oleh GOT7 (sebutan bagi kelompok Yugyeom), aku menjawab dengan jujur, mengatakan bahwa Yugyeom adalah kakakku dan Jackson adalah teman masa kecilku. Reaksi anak-anak perempuan di kelasku? Sudah bisa diduga… heboh! Mereka berebut mendekatiku, berharap aku bisa membuat mereka menjadi dekat dengan Yugyeom dan teman-temannya. Tapi begitu aku bersikap dingin, mereka semua menjauhiku sambil mengata-ngataiku di belakang punggungku. Aku tidak peduli. Sejak kapan aku peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain?!

Sejak dulu, aku hanya memiliki sedikit teman. Seperti apa kata pepatah, menjadi jujur dan tidak berpura-pura baik mungkin memang tidak akan membuatmu memiliki banyak teman, tapi setidaknya temanmu adalah teman yang asli, bukan teman di depan tapi musuh di belakang!

Begitu bel istirahat berbunyi, Jackson dan Jaebum sudah menungguku di depan pintu kelas.

Let’s eat!” Jackson merangkul pundakku dengan sebelah lengannya yang kekar, membimbingku ke kantin. Jaebum mengikuti kami, lalu berjalan di sampingku.

Hampir semua mata memandang kami. Sepertinya gossip cepat menyebar. Aku mendengar beberapa anak dari kelas lain berkata “Itu adiknya Yugyeom Oppa!”

“Bagaimana hari pertamamu?” JB tersenyum. Kedua matanya jadi terlihat seperti bulan sabit.

“Hmmm. Lumayan.” Jawabku dengan nada yang terdengar seperti “I don’t like this school!”

Hey, it’s okay! We’ll be your friends!” Jackson menepuk-nepuk lenganku brotherly. Meskipun Jackson yang sekarang sangatlah konyol dan ceplas-ceplos, ternyata ia masih memiliki sifat-sifat baiknya yang dulu, salah satunya adalah peka pada perasaan orang lain dan perhatian.

Are you sure, Kayee? You don’t look like having the best friend materials. ” Aku mengangkat sebelah alis mataku, teasing.

“Geeezzzzz….Stop calling me Kayee!”

Why? Kayee is a cute name! Right, JB?” aku menoleh ke arah JB.

“Hmm…” JB mengangguk.

“O-kay…, hanya karena kau berkata aku cute. Hihihi…”

“JB Oppa, aku heran mengapa kalian mau berteman dengan Kayee..”

“Benar, aku sendiri juga heran.”

“YAH!”

“Hahahaha…”

“Kayee itu… saat kecil sangat lucu lho, Oppa!”

“Benarkah? Apakah dia terlihat seperti anak anjing?”

“Hmmm. Dia berpikir aku induknya.”

“YAH! Berhenti membully-ku! Dan kenapa kau memanggil JB Oppa tapi tidak memanggilku Oppa?”

Molla~~ hmmm…., kau tidak terlihat seperti Oppa sih, Kayee!”

Aku segera berlari menjauhi Jackson sebelum ia mencakarku!

“So Hyun ssi!” Bambam melambaikan tangannya dengan riang, memanggilku agar bergabung dengannya dan Junior.

“Hallo…Bambam Oppa, Junior Oppa. Mana kakakku?”

“Yugyeom~ah sedang membeli makan siang. Kau mau makan apa?” Junior menjawab dan bertanya.

Sebelum aku sempat menjawab, Jackson dan JB datang. Jackson nyerocos panjang lebar tentang bagaimana aku memanggil semua orang Oppa kecuali dirinya.

“Hey, aku tidak memanggil kakakku Oppa!”

“Itu karena kau mau jadi kakak! Kau benci jadi adik!”

“Tidak. Siapa bilang. Hey Kayee~ biar kuberitahu ya, kalau aku sudah sangat dekat dengan seseorang… maka orang itu akan menganggapku kurang ajar.” Aku berusaha menahan tawa.

Jackson melongo. “Hah?”

Junior memukul belakang kepala Jackson. “Itu artinya So Hyun dekat denganmu, pabo!”

Chinca?”

“Aaahhh.., aku iri. Aku juga ingin dipanggil Bambam saja.” Bambam menampakkan aegyo nya.

Aigoo~~ Bambam Oppa, kau terlihat seperti puppy. Baiklah, kalau kau ingin aku memanggilmu begitu.”

“Bambam?”

No, Puppy.”

“HAHAHAHAHA….”

Kami tertawa, dan sudah bisa ditebak siapa yang tawanya paling keras. Tentu saja Jackson!

Tak lama kemudian, Yugyeom, Mark, dan Youngjae datang ke meja kami sambil membawa nampan berisi makanan. Yugyeom meletakkan semangkuk penuh jajangmyeon dan banana milk di hadapanku.

Omooo~~ Yugyeomie….gomawooooo….”

Kakakku memang tahu apa yang kusuka! Segera saja aku melahap jajangmyeon itu dengan bersemangat. Sudah lama sekali aku tidak makan jajangmyeon.

“Aku mau tteokpoki juga!” ujarku sambil mengunyah.

Arrasseo. Habiskan dulu jajangmyeon nya.” Yugyeom mengulurkan lengannya dan mengusap bumbu jajangmyeon di sudut-sudut mulutku menggunakan ibu jarinya.

“Orang lain yang tidak tahu kalau kalian kakak adik pasti mengira kalian adalah kekasih! Hahahaha…” Youngjae nyengir jahil.

Bambam dan Junior mengangguk setuju.

“Kalau diperhatikan baik-baik, wajah kalian juga tidak mirip.” Komentar Youngjae lagi.

Yugyeom langsung membeku. Aku terbatuk. “Anak kembar saja ada yang tidak mirip, apalagi adik kakak! Benar kan, Kayee?”

Of course, Babe! Aku bahkan tidak mirip dengan ayah dan ibuku! Hahahaha. Anyway, aku mau beli makan. Kau mau pesan apa lagi, SoHyun? Biar sekalian kubawakan.”

“Tteokpoki dan mandu!”

Arrasseo. JB?”

“Aku beli sendiri saja… ayo!”

JB dan Jackson pun pergi untuk membeli makanan. Aku menghembuskan napas lega. Jackson memang bisa diandalkan.

Yugyeom sudah terlihat lebih rileks. Agar ia melupakan kata-kata Youngjae barusan, aku pun memintanya untuk memberitahuku tempat-tempat hang out yang keren di Seoul, bagaimanapun juga sudah 9 tahun aku tidak tinggal di Korea. Aku juga memintanya agar tidak melupakan janjinya untuk menemaniku jalan-jalan ke manapun aku mau sepulang sekolah nanti.

Jackson dan JB datang membawa aneka makanan. Lewat sudut-sudut matanya, Jackson menatapku penuh arti. Aku mengangguk. Dia pun tersenyum.

Wang Kayee alias Jackson Wang adalah satu dari sangat sedikit orang yang tahu bahwa Yugyeom bukanlah kakak kandungku. Yugyeom diadopsi oleh orangtuaku ketika masih bayi. Yugyeom tidak tahu kalau sebenarnya aku tahu identitasnya. Jackson tahu karena kebetulan. Selain Jackson dan aku… sepupu Jackson, Zhou Oppa, yang dulu sangat dekat dengan kami adalah satu-satunya orang lain yang tahu.

Aku tidak pernah mempermasalahkan kenyataan bahwa Yugyeom bukanlah kakak kandungku. Tapi sejak kecil, ketika Yugyeom tahu bahwa dirinya bukanlah anak kandung ayah dan ibu kami, sikapnya jadi berubah dingin dan tertutup. Karena itulah, aku selalu mencari gara-gara agar bertengkar dengannya. Setidaknya, dengan bertengkar, aku dan Yugyeom jadi semakin lebih dekat. Entahlah, sejak saat itu, bertengkar-berbaikan-bertengkar-berbaikan sudah menjadi semacam pola berulang diantara kami. Rasanya aneh ketika tak ada yang kami ributkan walau hanya sehari saja. Bahkan selama 8 tahun ini, kami masih bertengkar lewat sosial media.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa alasan sebenarnya mengapa sekarang aku pindah kemari adalah karena Yugyeom. Aku mengkhawatirkannya. Mimipi-mimpi buruk yang menghantuiku selama sisa musim dingin kemarin terus saja menggangguku. Rasanya seperti aku akan kehilangan kakakku.

Aku tahu, rasanya konyol sekali percaya pada mimpi. Tapi bila mimpi-mimpi itu terus datang berulangkali dan menimbulkan efek kehampaan yang sama setiap kali terbangun, maka pantaskah aku mengabaikan mimpi itu?

Aku beralasan pada orangtuaku bahwa aku sudah lelah pindah-pindah sekolah. Aku juga sangat merindukan Korea, makanannya, kebudayaannya, dan aku ingin melihat grup idolaku, EXO, secara langsung.

Aku tahu defence mechanism ku benar-benar payah. Aku berusaha terlihat tegar, kuat, cuek, dan menyebalkan dari luar untuk menutupi semua perasaanku yang sebenarnya, ketakutan-ketakutanku, dan kelemahanku.

Aku tidak sadar sejak tadi Jackson terus memanggil namaku. Pandangan mataku kosong.

Babe! Yah! Kim So Hyun! So Hyun~ah! Hyun-Hyun! So-So! YAH! KALAU KAU TERUS MELAMUN, BISA-BISA KAU KERASUKAN!”

“Berisik! Yang penting aku tidak kerasukan arwah Wang Kayee!”

“Hahahaha…” Semua orang tertawa, kecuali Jackson dan kakakku.

Kakakku menatapku dari samping dengan cemas. “What’s wrong?” bisiknya. Aku hanya menggeleng, lalu melahap sisa makan siangku dengan cepat.

Berpura-pura semuanya baik-baik saja adalah keahlianku sejak kecil.

~~~~~~ ******* ~~~~~

Yugyeom tidak bisa menepati janjinya sore ini. Tiba-tiba saja manajer nya memintanya datang menghadiri pertemuan mendadak dengan investor asing. Meskipun Yugyeom baru merilis beberapa album piano dan melakukan konser nasional, ia sudah cukup terkenal di dunia internasional. Dulu, beberapa temanku di New York juga sangat mengidolakannya. Yah, aku hanya berharap semoga kakakku segera bisa melakukan world tour.

Aku dan orangtuaku baru satu kali menonton konser tunggalnya secara langsung. Dulu sebenarnya aku sangat ingin datang ke Korea sendiri, tapi ayah dan ibuku tidak mengizinkanku pergi sendiri sampai umurku 18 tahun, yang berarti saat ini.

I’m so sorry…” Yugyeom menatapku dengan raut wajah sedih. Matanya yang biasanya berbinar kini berubah redup.

Aku terkekeh. “It’s okay…” Meskipun dalam hati sebenarnya aku kecewa. “Good luck, Yu!” Aku memeluknya sekilas sambil menepuk-nepuk punggungnya. Yugyeom meremas lenganku, mengecup keningku, lalu segera masuk kembali ke dalam mobil setelah mengantarkan aku dan Jackson pulang.

Jackson melambaikan tangannya sampai mobil kakakku tak terlihat lagi, lalu menoleh padaku dan berkata, “Sebentar lagi JB datang. Kau mau ikut kami kerja kelompok Fisika?”

“Mwoya?! Kau mau membuat kepalaku botak ya?!”

Jackson hanya terpingkal-pingkal. “Ayo pesan pizza!”

Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. “Aku mau ayam!”

“Oh! Ayam dan soju!”

Do you wanna die?!”

“Hahahaha…., sorry kiddo!”

“YAH! Wang Kayee!” Aku mengejarnya ke lantai 2. “Kalau kau dan JB minum-minum di sini, aku akan melaporkanmu pada Yugyeom dan mengusirmu dari rumah ini!”

“Hahahaha, tenang saja. Aku bahkan belum pernah minum.”

Aku mengangkat sebelah alis mataku, meragukan kata-katanya. “Benarkah?”

Jackson mengangguk. “Alcohol is not healthy for my body. I’m an athlete, remember?”

Aah, aku lupa kalau Jackson adalah atlit fencing. Aku mengangguk-angguk, setuju. “Good!”

“Oh ya, selain JB, siapa lagi yang akan datang?” tanyaku sebelum aku berbalik masuk ke kamarku.

Jackson menyeringai. “Mark tidak sekelas denganku, dan tentu saja tidak sekelompok denganku di Fisika.”

“Geeeezzzz….” Aku memutar bola mataku.

Jackson terbahak-bahak. “Hey! Aku tahu dia sangat charming, tapi… sebagai Oppa mu, aku lebih suka kalau kau menyukai JB saja.”

Oppa my ass! Why?”

Jackson mengangkat bahu. “JB itu sangat boyfriend materials, sementara Mark… well… dia memang idol materials, but not boyfriend materials.”

So, he is the bad boy? I like bad boys!

Jackson menyeringai lagi, “Bad girl shouldn’t date bay guy! You should date a good guy who can tame your wild attitude! Hahahaha.”

Geeezzzz…, I’m not a bad girl!”

Every bad girl says they’re not the bad one.”

So, Mark is the bad guy?”

Not really. Tapi kau hanya akan merasa sedih bila bersamanya. Dia…well, tipe melankolis yang masih berharap akan bisa bersama lagi dengan cinta pertamanya. He rejects every girls who confessed to him, told ya!”

Aku mengangguk. “Itu lebih baik daripada kau, Kayee! The super duper dummy playboy! Hahahaha…” Aku segera berlari masuk ke dalam kamarku dan membanting pintunya sebelum Jackson mengamuk dan mencabik-cabikku.

Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Terlalu malas untuk mengganti pakaian. Jackson sangat annoying! Bagaimana dia bisa tahu kalau aku tertarik pada Mark?

Oke, meskipun dia berkata mustahil untuk mendapatkan hati Mark, tapi bila aku tidak mencobanya, bagaimana aku bisa tahu?

Bukan berarti aku tergila-gila dan jatuh cinta pada Mark, hanya saja dia satu-satunya pria yang menarik perhatianku di sekolah.

Bad girl? Mungkin.

Jackson benar. Entah sudah berapa banyak pria yang hatinya kupatahkan.

Tapi semua itu bukan salahku. Aku tidak menyukai mereka.

Sekarang berbeda. Aku menyukai Mark. Meskipun aku belum mencintainya. Aku bahkan tidak tahu cinta itu seperti apa.

Cinta pertama? Entahlah.

Kenapa semua orang selalu heboh tentang cinta pertama? Sementara aku belum pernah merasakannya!

Mungkin ada yang salah denganku? Mungkin aku terlalu mencintai diri sendiri? Hahaha, entahlah. Sepertinya otakku mulai error karena perutku kosong, aku harus segera memesan pizza dan ayam goreng!

~~~~~~ ******* ~~~~~~~

“So Hyun~ah, mau ikut nonton bareng bola besok sore?” Bambam bertanya dengan riang. Cowok cute ini benar-benar terlihat seperti puppy, lucu, menggemaskan, dan penuh semangat. Oh, dan aku suka fashion style nya.

“Sepak bola? Hmmm…, aku tidak suka dan bahkan tidak mengerti permainannya.”

Bambam terlihat kecewa. “Padahal kakakmu sangat suka sepak bola!”

Aku tertawa. “Memang. Kalian semua suka sepak bola?”

Bambam menggeleng. “Mark tidak.”

Aku menatap Mark. Dia mengangkat matanya dari laptop, lalu tertawa pelan.

“Ooohh…, so you don’t like football. We should hang out tomorrow then!” Candaku.

Right! Let’s go somewhere tomorrow!” Mark tersenyum.

Jackson terbatuk-batuk keras sambil melotot tajam padaku. “Why?” tanyaku tanpa suara.

Jackson melirik Mark, lalu menatapku lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku mendengus, mengabaikan peringatannya. Hey! Aku kan tidak jatuh cinta pada Mark! Kencan dengannya tidak akan membuatku patah hati. Tidak masalah kalau dia tidak menyukaiku. Aku juga kan hanya ngefans padanya, oke… mungkin pada wajah dan aura nya.

Tak lama kemudian, Yugyeom datang dengan napas terengah-engah. “Semoga aku tidak harus remedial bahasa Jepang lagi!”

Aku tertawa. Salah satu perbedaan antara aku dan Yugyeom yang lain adalah : Yugyeom lemah dalam hal bahasa asing sedangkan aku sangat suka bahasa asing dan sangat jago berbagai macam bahasa, Yugyeom pandai matematika sementara aku benar-benar bodoh soal hitungan.

Sorry…, aku tidak bisa ikut nonton bareng bola besok. Ada latihan piano.” Yugyeom memberitahu teman-temannya.

Oh, satu lagi perbedaan : Yugyeom benar-benar tahu apa cita-cita dan impiannya, menjadi pianis terkenal. Dia rela menunda kesenangan sesaat demi mencapai cita-citanya. Sementara aku? Aku tidak tahu apa cita-citaku, atau apa yang ingin kulakukan di masa depan nanti. Sepanjang hari yang kulakukan hanyalah bersenang-senang.

~~~~~~~~ *********** ~~~~~~~~~~

Sabtu sore, Jackson sudah siap dengan baju tim bola favoritnya, sunglasses, dan snapback. Well, harus kuakui dia memang banyak berubah. Wang Kayee bukanlah Wang Kayee yang dulu lagi. Setidaknya penampilannya.

Yugyeom sudah pergi latihan sejak tadi siang, dan si Mr.Perfeksionis itu melupakan ponselnya! Aku jadi tidak bisa mengiriminya pesan, memberitahunya kalau nanti malam aku akan pergi dengan Mark.

Jackson berbicara di ponsel dengan Junior. Katanya sebentar lagi Junior dan yang lain akan datang kemari, menjemput Jackson. Aku masih memakai pakaian tidurku. Sejak pagi belum mandi. Tenang saja, Mark baru akan menjemputku pukul 7 malam nanti. Sekarang baru pukul 4.

“Yah! Mandi sana!” Suara serak Jackson membuyarkan konsentrasiku dari televisi. Padahal drama yang kutonton ini sedang serius-seriusnya!

“Tsk! Nanti saja!”

“Kau bilang… kau akan pergi? Dengan siapa?”

Aku menjulurkan lidahku. “Mau tau saja sih!”

Jackson melemparkan bantal ke arahku, tapi aku menghindar dengan tepat. Tak lama kemudian, terdengar ponsel Yugyeom berbunyi nyaring. Aku mengabaikannya. Tapi karena ponsel itu terus-menerus berbunyi dan menggangguku, maka terpaksa aku berlari ke kamarnya dan mengangkatnya tanpa terlebih dahulu melihat nama yang tertera di layar.

“Hallo!” Sapaku jutek.

“Hallo, ini siapa?” tanya suara seorang cewek, tak kalah juteknya denganku.

Aku memberenggut kesal. Siapa sih cewek menyebalkan ini? Aku menjauhkan ponsel itu dan melihat nama yang tertera. Kim Ji Soo. Siapa ini? Setahuku Yugyeom tidak punya pacar.

“Siapa ini?” cewek di sebrang sana masih bertanya dengan nada mengajak perang.

Aku mendengus. “Kau siapa?”

“Mana Yugyeom?” cewek itu malah balik bertanya dengan super galak.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” tantangku dengan nada malas.

“YAH!”

Aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku. Ya ampun, kenapa kakakku bisa berteman dengan cewek kasar seperti ini?!

“Aku Kim So Hyun. Adiknya Yugyeom. Kau ini sebenarnya siapa sih ahjumma?”

“Omoooo~~~ So Hyun~aaah….” Nada suara cewek itu berubah 180 derajat. Manis, lembut, dan memuakkan! Dia bahkan tidak marah ketika aku memanggilnya ahjuma.

“Kau berlibur di sini? Atau pindah ke sini? ”

Aku mengerutkan keningku. Siapa sebenarnya Kim Ji Soo ini? Kenapa dia bisa tahu aku tidak tinggal di Korea?

Aku tidak menemukan alasan mengapa aku harus menjawab ataupun bersikap baik pada Kim Ji Soo. Aku menduga dia adalah fans kakakku! Dia hanya bersikap baik padaku setelah tahu bahwa aku adalah adik Yugyeom.

“Aku Kim Ji Soo. Dulu aku dan kakakmu satu sekolah di Hanlim junior high school, sampai senior high school, aku baru saja pindah ke San Francisco tahun kemarin.” Tanpa kuminta, cewek menyebalkan itu menjelaskan tentang dirinya padaku. Aku tidak tertarik mendengar ocehannya. Kesan awalku tentangnya sudah terlanjur buruk.

Sorry, aku harus pergi. Kau bisa telepon Yugyeom nanti. Dia lupa membawa ponselnya.”

“Oke, gomawoooo So Hyun~ah. Kuharap suatu hari nanti kita bisa bertemu.” Ji Soo berkata dengan nada manis yang dilebih-lebihkan.

Dalam hati aku berkata semoga aku tidak perlu bertemu dengan cewek palsu ini. Tapi tahu apa sih aku soal takdir?! Siapa yang mengira ternyata cewek ini akan memerankan peran yang cukup penting dalam drama kehidupanku?!

Aku segera memutus sambungan telepon. Tidak peduli bila ia menganggapku kurang ajar. Lalu segera turun ke lantai bawah.

“Siapa? Lama sekali.” Jackson bertanya sambil memencet remote TV.

Mood ku hancur gara-gara cewek tadi, sehingga aku tidak peduli bila Jackson memindahkan saluran TV nya. Aku bahkan sudah lupa tentang alur cerita drama yang kutonton barusan!

“Kim Ji Soo.”

“MWO? KIM JI SOO?” Jackson berseru heboh.

Aku mendelik kesal. “Memangnya dia siapa? Pacar kakakku? Aku tidak suka padanya. Dia terdengar sangat fake!”

Jackson menggeleng. “Bukan. Tapi dia memang suka pada kakakmu.”

“Apakah kakakku menyukainya?” tanyaku penasaran.

Jackson menggeleng. “Molla~, tapi sepertinya tidak.”

Aku mengangguk. “Baguslah.”

“Cih! Kenapa dia menelepon lagi?” Jackson menggerutu. Lebih kepada dirinya sendiri, bukan padaku.

“Kau juga sepertinya tidak suka padanya?” Aku menyeringai senang.

Jackson mengangguk. “Seperti kau bilang, dia… fake, manipulative, dan… aku tidak suka bagaimana dulu dia sempat hampir menghancurkan persahabatan kami.”

“Mwo? Benarkah?” Kini perhatianku terfokus 100% pada Jackson.

Jackson mengangguk. “Hmm. Dia menyukai Yugyeom, tapi tidak mau melepaskan mantan pacarnya.”

Aku mencibir. “Menyebalkan!”

Jackson menatapku lekat-lekat. “Mantan pacarnya itu adalah… Mark…” entah kenapa suara Jackson jadi terdengar jauh lebih dalam dan berat, seolah ingin menimbulkan efek dramatis.

Aku tertawa, lalu menyeringai. “That’s good then! Aku akan membuat cewek ini menyerah! Aku tidak akan membiarkan dia mendekati kakakku. Dan aku juga akan membuatnya melepaskan Mark, atau setidaknya… membuat Mark melepaskannya dan melupakannya.”

How come?” Nada bicara Jackson terdengar seperti meragukan kemampuanku.

Aku menyeringai semakin lebar. “Mark akan menjemputku jam 7 malam nanti. Kami akan menonton dan makan malam bersama.”

Mulut Jackson menganga lebar. “You’re sick! I’ve told you, kau akan terluka karena Mark!”

Hey, I don’t love him! Well, aku hanya tertarik padanya. That’s all.” Aku mengangkat kedua bahuku.

Jackson menggeleng-gelengkan kepalanya. “Karma does exist, babe! Beware!”

Aku mendecakkan lidahku, tertawa meremehkan Jackson. Entah kenapa di saat-saat seperti ini aku merasa Jackson seperti kakakku.

So what? Aku kan hanya ingin menjauhkan Kim Ji Soo dari kakakku dan Mark. Bukan berarti aku akan jatuh cinta pada Mark atau Mark pun akan jatuh cinta padaku kan?”

Jackson mengangguk. “Hmm, that’s right. Tapiiii…, bagaimana kalau kau jatuh cinta pada Yugyeom?”

“MWO? HAHAHAHHA…HAHAHHA…Kau gila, Jackson Wang!”

Everything is possible!”

“Meskipun kami bukan kakak – adik kandung…, that’s…really…really impossible!”

“Mungkin saja menurutku!” Jackson keras kepala. “You don’t know anything about love and life, dear…”

Don’t brag to me about love and life, Kayee! As if you’ve known them all! Geeezzz…

Jackson terbahak-bahak. “Kalau begitu kita taruhan.”

Aku mengangguk. “Oke!”

Jackson menyenggol lenganku. “Don’t you scared?”

Why should I?”

Jackson menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Listen. You were my first love.”

I know.” Aku menyeringai. “Aku masih ingat bagaimana dulu kau memberiku banyak sekali permen kapas dan menyatakan cinta monyet mu padaku saat kita bermain ayunan, tapi aku menolakmu karena kau adalah sahabatku. Kau tahu kan aku tidak akan mungkin mempermainkan hati sahabatku sendiri?”

You’re so mean!” Jackson memiting leherku. Aku menonjok perutnya.

Ouch! Hey! Aku menyerah bukan karena kau menolakku, tahu! Tapi karena alasan lain. It’s because of Yugyeom. You know I’m sensitive about people’s feeling, right?”

Aku mengangguk. “So?”

He loves you. Hmmm…, I think. Dan biasanya apa yang kupikirkan itu bisa terbukti benar.”

Aku tertawa. “Of course he loves me. He is my brother!”

No…not like that!”

You’re crazy, Kayee!”

I am. Hahahah. Tapi kita sudah sepakat untuk bertaruh, bukan? Aku bertaruh kau akan menyukai Yugyeom, as a man, not brother.”

Aku menggeleng. “Mad man.”

“Aku juga bertaruh Mark akan menyukaimu. Jatuh cinta padamu…? Maybe. Tapi kau akan mematahkan hatinya berkeping-keping.”

Aku terbahak. “Because I’m a bad girl, like you said?”

Jackson menggeleng. “No. Because you love Yugyeom.”

“HAHAHAHA….HAHAHAHA…., you’re totally delusional and insane, Wang Kayee!”

Jackson menyeringai sambil mengangkat sebelah alis matanya. “So, what would you do now? Kau mau mengikuti nasihatku untuk tidak masuk ke dalam ill fated relationship antara Mark – Jisoo- dan Yugyeom? Membiarkan semuanya sebagaimana adanya saat ini. Hey, kau bisa berkencan dengan JB, kau tahu?! You were my first love, but you’re my sister now. I don’t love you like before anymore now. Atau…. kau akan tetap keras kepala?”

“Aku akan pergi nonton di bioskop dan makan dengan Mark malam ini. That’s final!”

“O-kay…, aku tahu kau tertarik pada Mark, physically. But then…, kenapa kau harus merasa terganggu dengan kehadiran Jisoo? Karena Mark? Ataukah karena Yugyeom?”

Don’t cheat, Wang Kayee!” Aku mengibaskan rambut ikal panjangku, lalu berlalu pergi ke kamar mandi.

Aku berusaha mengorek setiap relung hatiku, mencari-cari jawaban atas pertanyaan Jackson barusan, tapi tak menemukannya.

Kenapa aku ingin menjauhkan Kim Ji Soo dari kehidupan Yugyeom dan Mark? Apakah murni karena aku membenci gadis itu, padahal aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya? Ataukah aku tidak ingin Kim Ji Soo menjadi calon, bahkan lebih buruk lagi, kakak iparku? Atau… aku ingin Mark melupakannya, karena seperti apa kata Jackson, aku tertarik secara fisik pada Mark? Ataukah… seperti kata si gila Jackson, aku akan mencintai Yugyeom sebagai seorang pria, bukan kakak?

Tunggu! Bila alasannya demikian, maka aku tidak mungkin bertindak seperti ini. Memangnya kita bisa mencintai seseorang tanpa pernah menyadarinya ya? Menurutku tidak. Love is conscious, not unconscious mind.

I’ll have a date with Mark tonight, that’s final!” Aku mengulangi kata-kataku tadi, sambil memandang pantulan diriku lewat cermin besar di dalam kamar mandi.

Kemudian tiba-tiba saja bayangan wajah Jackson muncul di dalam pikiranku, terbahak-bahak, “You’ve said it, babe! Aku tahu sekarang kau sedang mencemaskan banyak hal. Remember, karma itu ada.”

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. That crazy guy! Ternyata Wang Kayee yang manis dan pendiam kini berubah jadi annoying. Dan sejak kapan dia bersikap layaknya seorang kakak?! Sangat mengesalkan! Sok tahu akan masa depanku!

Orang yang peka terhadap perasaan orang lain, sudah pasti ada, banyak malah. Tapi orang yang peka terhadap perasaan orang lain dan bisa meramal masa depan? Kurasa tidak ada. Karena masa depan tidak bisa ditentukan hanya karena perasaan.

~~~~~ TBC ~~~~

Author’s note : Hello! This story kept bothering my mind! So I had decided to write it, no matter how busy I am with my assignments! Geeezzz, great, Azumi! Dan ternyata cerita yang asalnya mau jadi oneshot ini nggak jadi oneshot. Terlalu panjang! Bahkan dalam pikiran gw…, cerita ini memang akan panjang. Hahahaha.

 

Thanks for reading!❤❤❤

~Azumi~

8 thoughts on “Got Love (Chapter 1)

  1. Woohooo? First kahh? Kangen ficnya eonniiii rasanya udah lama banget *emang sih* ga baca ficnya bikinan eonni! Gila kangeeen!!
    Akhirnya ada ff yang bisa ditunggu lagi~ aku selalu waiting ffmu eonni

    And as always dari awal chapter aja udah menarik ceritanya~ dan kebetulan aku juga sukaaa banget sama got7 terutama mark! Gasabar baca lanjutannnya! Ditunggu eonniiiiiiiii!!!!!!!! :*

  2. Ya allah kak,ini ff terkeren yg pernah aku baca…..Sebenernya baca ff ini karna Kim Sohyun soalnya nge fans sama si doi,eh jadi lanjut suka got7.Aku suka bgt momentnya yugyeom-sohyun.And actually,in real life he is my bias.so please update ya kak,jangan php
    Luv luv

  3. There will be a complicated love line I think. The way so hyun confuses about her feeling, the mysterious yugyeom, and mark. The neutral one is jackson. Aha, so interesting. I love this fic, update soon. Actually I want so hyun has a love line with mark. But whoever he is, as long as he loves so hyun, I’m okay. Haha

  4. Hai kak.. Aku baru baca ff kakak yang laen.. biasanya aku komen di moonlight destiny.. aku suka banget sama ff kakak yang moonlight destiny..
    Kok ffnya nggak di lanjut kak? Aku greget bacanya pengen tau lanjutannya.. aku penggemar ff kakak yang moonlight destiny… ayo lah kak di lanjut.. kisah cinta kim sohyun sama got7 ayo lah kak hampir satu tahun ni kak..
    Biasanya aku komen pake nama yang beda beda hehehe.. semangat kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s