When I See You Smile (Chapter 2 END)

Title           : When I See You Smile

Author       : Azumi Aozora

Main Cast  : Jung Soo Jung / Krystal f(x), Lee Soo Hyuk (actor, model)

Support Cast : Jung Soo Yeon / Jessica (ex SNSD), Irene (Red Velvet), Seulgi (Red Velvet), Hong Jong Hyun (actor, model), Song Mino (WINNER)

Genre         : romance, friendship, family, AU

Rating        : PG+13

Length        : 2 Chapters (two shots)

Poster When I See You Smile

I’m always wondering… why your heart is so cold and hard. Then I realized that it’s me who can’t understand your pain.

~~ Chapter 2 ~~

Aku tidak tahu mana yang lebih mengerikan. Kenyataan bahwa aku sangat ingin mendengar penjelasan mengenai kematian kakakku 5 tahun silam langsung dari mulut Lee Soo Hyuk, atau… kenyataan bahwa aku kini sangat merindukannya. Keduanya sama-sama mengerikan. Atau…mungkin akulah yang mengerikan.

Merindukan Lee Soo Hyuk terasa seperti pengkhianatan bagi mendiang kakakku. Aku tidak seharusnya merasakan perasaan konyol itu terhadap si bajingan Lee Hyuk Soo!

Lee Soo Hyuk, Lee Hyuk Soo…. manakah dirinya yang sebenarnya? Apakah selama ini ia berpura-pura di hadapanku? Apakah senyumannnya selama ini palsu?

Diantara berbagai kemungkinan, alasan, dan fakta mengerikan yang kupikirkan tentangnya… tak ada yang lebih mengerikan daripada harapan-harapanku. Aku berharap… Lee Soo Hyuk tidak ada kaitannya dengan kematian kakakku. Kuharap kakakku tidak meninggal karenanya. Harapan yang sia-sia.

Aku menatap pantulan wajahku yang sembab lewat cermin, merasa jijik dengan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa mencari-cari rasionalitas atas kesalahan yang telah diperbuat oleh Lee Soo Hyuk pada kakakku dulu?! Hanya karena kini hatiku goyah dibuatnya, bukan berarti aku akan memaafkannya ataupun membenarkan kesalahannya.

Mudah memang berkata seperti itu, tapi sulit melakukannya. Sudah 5 hari aku tidak bertemu dengan Lee Soo Hyuk. Aku bersembunyi. Aku terlalu pengecut untuk menghadapinya. Aku takut…bila aku melihatnya…maka hatiku akan lebih goyah lagi.

Selama 5 hari ini, aku mengurung diriku di dalam kamar, dan sama sekali tidak pernah keluar rumah. Seulgi dan Jonghyun berkali-kali menghubungi ponselku, tapi Soo Hyuk sama sekali tidak pernah menghubungiku ataupun mengirim pesan padaku. Bukan berarti aku peduli, tapi bukankah seharusnya dia mengatakan “maaf”?! Kurasa aku hanya membutuhkan satu kata itu. Atau mungkin tidak?

Aku bergelung di atas tempat tidurku sambil memeluk tubuhku yang menggigil. Otakku terasa kacau sekali. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih.

Bunyi bel yang nyaring membuatku terkejut. Aku mengerutkan keningku. Siapa yang datang? Tidak pernah ada yang datang ke rumahku. Seulgi kah?

Aku bangkit dari tempat tidurku, terhuyung dan menabrak meja ketika berjalan. Aku tidak memedulikan rasa sakit yang ditimbulkan karenanya. Rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan rasa hampa yang kurasakan di dalam hatiku.

Siapapun orang yang membunyikan bel saat ini, pastilah orang yang tidak sabaran. Ia membunyikannya berulangkali dengan cepat. Aku mendengus. Mungkin sales! Aku akan memintanya pergi begitu pintu kubuka.

“Maaf, kepalaku pusing. Tolong berhentilah memijit bel, dan silakan pergi.” Aku berkata se-sopan mungkin, tapi dengan wajah yang datar dan dingin.

“Karena itulah aku datang.”

Aku terkesiap mendengar suaranya. Aku mengangkat wajahku dan melihat Hong Jong Hyun nyengir lebar sambil mengangkat dua keranjang plastik besar, menggoyangkannya sedikit, sambil berkata “Pizza adalah obat mujarab untuk mengatasi sakit kepala.”

“Bagaimana…kau bisa tahu alamat rumahku?”

“Temanmu yang cantik memberitahuku.”

Aku menggertakkan gigiku. “Seulgi.”

“Pizza nya nanti keburu dingin… sampai kapan kau akan membiarkan tamu-mu berdiri di depan pintu seperti ini?”

“Aku tidak suka pizza.” Kataku dengan ketus.

Jonghyun mengangguk. “Aku bawa pasta juga, dan yoghurt, dan ayam goreng.”

Aku memejamkan kedua mataku, mencoba mengatur emosiku, lalu membukanya lagi dan menatap Jonghyun dengan tajam. “Apa yang ingin kau katakan? Soo Hyuk yang menyuruhmu?”

Raut wajah Jonghyun langsung berubah begitu aku menyebut nama Soo Hyuk. “Aku tidak bisa menghubunginya. Aku tidak tahu dia berada di mana sekarang.” Nada suaranya terdengar cemas.

“Mungkin dia kabur!” Aku mendengus.

“Oh, ayolaaah Soo Jung! Aku tahu kau tidak sejahat itu!”

Aku berkacak pinggang sambil menatap Jong Hyun dengan galak. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku Hong Jong Hyun ssi!”

Jonghyun mengangkat bahu. “Kau pun tidak tahu apa-apa tentang Soo Hyuk hyung.”

Sorot mataku mengeras. “Oh aku memang tidak ingin tahu apapun tentang si brengsek itu!” Aku menyeringai.

“Kau tidak pandai berbohong, kau tahu?” Jonghyun tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, “Aku ada di sana, ketika Jessica nuna meninggal.”

Suara Jonghyun terdengar seperti bisikan, sorot matanya menunjukkan kepedihan. Aku masih memandanginya dengan dingin. “Kalau ada orang yang harus kau benci, akulah orangnya, bukan Soo Hyuk hyung…”

“Apa…maksudmu?”

“Aku sedang berjalan bersama dengan Soo Hyuk hyung menuju apartemen barunya, ketika penyakitnya kambuh. Jessica nuna, yang saat itu mengikuti Soohyuk hyung langsung menghampiri kami. Dia tidak tahu apapun mengenai penyakit Soo Hyuk hyung, atau mengenai alasan sebenarnya mengapa Soo Hyuk hyung terpaksa meninggalkannya. Lima tahun lalu, Soo Hyuk hyung divonis menderita tumor otak, stadium menengah, yang lama-lama akan berubah menjadi kanker otak. Ia begitu ketakutan saat itu, takut kalau penyakitnya membuat Jessica nuna menderita, karena itulah si bodoh itu meninggalkannya!”

Jonghyun mendengus, menggelengkan kepalanya. “Aku tidak memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jessica nuna. Aku mengikuti sandiwaranya, pura-pura tidak tahu ke mana dia pergi ketika Jessica nuna bertanya padaku. Soo Hyuk hyung hanya pindah apartemen dan pindah kuliah, masih di daerah New York, terkadang dia mengawasi Jessica nuna dari jauh, mungkin itulah alasan mengapa ia tidak mau pergi dari New York, agar ia bisa mengawasi Jessica nuna diam-diam. Tapi siapa yang mengira ternyata Jessica nuna menemukannya, meskipun ia tidak menyadarinya. Aku tahu selama beberapa hari itu Jessica nuna membuntuti kami, tapi Soo Hyuk hyung tidak tahu. Saat itu aku berpikir…aaah…mungkin dengan begini…Jessica nuna akan mengerti. Aku sengaja tidak memberitahu Soo hyuk hyung tentang Jessica nuna yang sudah mengetahui keberadaannya. Sesekali Soo Hyuk hyung datang ke klinik ayahku untuk berobat. Aku ingin saat itulah Jessica nuna melihatnya, bukan di saat yang tidak tepat, seperti hari itu. Hari itu… tiba-tiba saja Soo Hyuk hyung mengerang kesakitan, ambruk di jalan. Jessica nuna… yang berada di sebrang jalan…langsung berlari ke arah kami tanpa melihat sekitar, saat itu… saat itu….”

Jong Hyun tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Aku memejamkan mataku. Air mataku mengalir. “Bagaimana mungkin kau bilang semua itu bukan salahnya?! Seandainya dia tidak meninggalkan kakakku!”

“Dia menyesalinya, Soo Jung~ah. Dan dia terus menerus menyalahkan dirinya atas kematian Jessica nuna. Kau tahu apa yang dikatannya saat ia tersadar di rumah sakit dan…dan mengetahui apa yang terjadi pada Jessica nuna? Dia bilang… ‘Aku akan pergi ke Korea. Aku akan meminta keluarganya membunuhku. Karena bagaimana mungkin aku bisa hidup sementara ia sudah tiada…’ Tentu saja aku melarangnya. Aku tidak pernah melarangnya melakukan apapun selama 20 tahun persahabatan kami, tapi aku harus melarangnya saat itu. Aku tidak membiarkannya pergi ke Seoul untuk menghadiri pemakaman Jessica nuna, karena aku tahu…bukan sekedar pengampunan maaflah yang ingin ia dapatkan dari keluarga Jessica nuna, ia menginginkan kematian bagi dirinya sendiri.”

Suara Jong Hyun tercekat. “Ia berkali-kali mencoba bunuh diri. Kau tahu betapa itu membuatku tersiksa? Ia sahabat baikku, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain membuatnya tetap hidup. Hhhhh, Soo Jung…, kalau kau ingin membenci seseorang atas kematian Jessica nuna, bencilah aku. Aku tidak akan berdalih semua itu akibat kecelakaan. Memang semua itu kecelakaan, tapi seandainya aku menasehati Soo Hyuk hyung untuk tidak meninggalkan Jessica nuna…mungkin…mungkin…”

“Pergilah.” Aku berkata dengan lemah.

Jong Hyun mengangguk. “Jika ada orang di dunia ini yang sama menderitanya denganmu atas kematian Jessica nuna, maka Soo Hyuk hyung lah orangnya. Bantu aku mencarinya, Soo Jung ~ah…, aku tidak ingin ia melakukan hal-hal konyol seperti 5 tahun yang lalu. Kau bisa membenciku sebanyak apapun yang kau mau. Tapi tolong…, jangan benci Soo Hyuk hyung…”

“Aku tidak membencimu.” Lirihku.

Jonghyun menatapku lekat-lekat. Aku menghela napas panjang.

“Seperti yang kau bilang…, semua itu kecelakaan. Tapi seharusnya kau membiarkannya datang kemari 5 tahun lalu. Membunuhnya? Kau pikir keluarga kami sekeji itu? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya dipaksa hidup sementara menginginkan kematian. Seandainya kau membiarkannya datang kemari 5 tahun lalu… aku akan menghajarnya habis-habisan, hanya itu. Dia tidak perlu mencoba membunuh dirinya berkali-kali. Kami bisa menangisi kepergian Jessica bersama, saling menguatkan. Dan seandainya kau membiarkannya datang kemari 5 tahun lalu… maka sekarang aku tidak akan jatuh cinta padanya…”

“Soo Jung~ah…”

Aku menghapus air mata yang mengaliri wajahku. “Aku tidak membencimu, aku hanya membenci diriku sendiri. Rasanya seperti mengkhianati kakakku sendiri. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya.”

Jonghyun membiarkanku menangis tanpa melakukan apapun. Ia hanya diam mematung di depan pintu, mungkin takut kalau-kalau aku akan menghajarnya atau apa.

“Pergilah, Jong Hyun. Jangan pernah temui aku lagi.” Aku berkata di sela-sela tangisku, kemudian menutup pintu dan menangis lebih keras.

~~~~~~ ******* ~~~~~~

Aku menatap layar ponselku cukup lama. Setelah menangis sepanjang hari, rasanya kepalaku jadi tambah pusing. Aku sedang berdebat dengan diriku sendiri tentang apa yang harus kulakukan.

Aku ingin bertemu dengan Lee Soo Hyuk, memastikan bahwa ia baik-baik saja. Mengatakan padanya – meskipun hal ini sangat tidak masuk akal – aku sangat merindukannya. Tapi konyol sekali rasanya. Jessica pasti akan membenciku di atas sana.

Jong Hyun bilang… Soo Hyuk berkali-kali mencoba bunuh diri… karena ia merasa tidak sanggup hidup tanpa Jessica. Aku merasa bodoh karena membencinya selama 5 tahun ini tanpa tahu apapun tentangnya, dan betapa menderitanya ia. Mungkin bahkan lebih menderita dariku.

Aku harus bertemu dengan Lee Soo Hyuk, mengatakan padanya bahwa aku memaafkannya. Dia harus bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia harus terus menjalani hidupnya dengan baik. Aku tidak mungkin bisa hadir dalam hidupnya, karena aku akan mengingatkannya pada Jessica. Aku tidak ingin ia terluka lagi. Aku ingin dia mencintai wanita lain, siapapun asal bukan diriku.

Aku meringis karena pikiran-pikiran yang melintas di benakku itu. Benarkah? Benarkah itu yang kuinginkan?

Aku tahu, jauh di dalam lubuk hatiku… aku menginginkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Tapi bagaimana mungkin aku bisa bahagia bila orang yang kucintai menderita?

Aku meraih mantelku, lalu segera berlari ke luar rumah, tidak peduli sekarang sudah hampir tengah malam. Jong Hyun tidak tahu ada studio di dalam apartemen Soo Hyuk. Mungkin Soo Hyuk ada di sana!

Napasku terengah-engah ketika tiba di depan gedung apartemen Soo Hyuk. Aku masih memegang duplikat kunci apartemen dan studionya. Dulu ia memberikanku duplikat kunci itu kalau-kalau aku harus datang mengambil barang di studionya sementara ia sedang berada jauh dariku.

Aku melangkah ragu-ragu mendekati studio. Suasana apartemennya gelap dan dingin, seperti tidak berpenghuni. Aku menduga Soo Hyuk terus mengurung dirinya di dalam studio.

Aku mengetuk pintu studio. Tidak terdengar jawaban. Apakah mungkin dugaanku salah? Mungkin Soo Hyuk tidak ada di dalam studionya? Lalu… dia pergi ke mana?

Tiba-tiba saja perasaan takut yang mencekam menusuk dadaku. Bagaimana kalau Soo Hyuk masih menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Jessica dan… dan sekarang aku akan menemukan mayat Soo Hyuk di…

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak! Tidak! Kumohon!

Dengan tangan bergetar… aku membuka kunci studio. Bunyi ‘klik’ terdengar menyeramkan. Studio gelap.

“Soo Hyuk Oppa?” Panggilku, tapi tidak ada balasan. Mataku mulai bisa menyesuaikan dalam kegelapan. Samar-samar aku bisa melihat sosok Soo Hyuk yang duduk memunggungiku. Ia menatap jendela. Tak bergerak.

Aku berlari menghampirinya, tapi semua ketakutanku lenyap ketika aku melihatnya berkedip dan bernapas. Soo Hyuk masih menatap lurus ke luar jendela. Aku berjalan ke tempat saklar, menekannya, dan dalam sekejap ruangan jadi terang benderang.

Soo Hyuk menoleh ke arahku. Tatapannya kosong. Aku bisa melihat sisa-sisa butiran air mata di wajahnya. “Maafkan aku…” lirihnya. “Aku terlalu takut untuk menemuimu.” Suara Soo Hyuk yang berat jadi terdengar lebih berat. Aku ingin tahu kapan terakhir kali ia makan dan minum. Bibirnya terlihat kering dan kulitnya pucat se-pucat mayat.

Aku tetap bertahan dalam posisiku. Berdiri agak jauh darinya. Kurasa aku tidak akan sanggup berada terlalu dekat dengannya. Aku ingin memeluknya, tapi aku tidak boleh melakukannya.

“Kau takut aku akan membencimu?” tanyaku hati-hati.

Soo Hyuk hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Aku menghela napas lelah. “Aku memang membencimu selama 5 tahun ini, tapi sekarang… entahlah. Jong Hyun sudah menceritakan semuanya padaku.”

Soo Hyuk menggeleng. “Aku tidak takut kau membenciku. Sudah sepantasnya kau membenciku. Aku takut bertemu denganmu karena… karena diriku sendiri. Aku takut bila aku terus menerus melihatmu… maka aku akan bersikap semakin egois. Aku egois karena mencintaimu. Kau… akan terluka bila kau bersamaku, karena aku mengingatkanmu pada kakakmu.”

Tanpa sadar, aku tersenyum. Ternyata begitu banyak persamaan pemikiran di antara kami. “Kau tahu Oppa? Kurasa aku agak berterima kasih pada Jong Hyun karena mencegahmu melakukan hal-hal konyol. Kakakku pasti akan sedih sekali bila melihatmu menderita dan melukai dirimu sendiri karena dirinya. Bisakah kau berjanji satu hal padaku?” Sorot mataku melembut. “Berjanjilah kau akan memaafkan dirimu sendiri mulai sekarang, Oppa.”

Perlahan aku berjalan mendekatinya tanpa sedetikpun melepaskan mataku dari kedua matanya. Aku mengulurkan kedua lenganku, merengkuhnya dalam dekapanku. “Aku tidak bisa mencintaimu seperti bagaimana kakakku mencintaimu. Kau juga… jangan mencintaiku seperti bagaimana kau mencintai kakakku. Kau harus terus mencintainya, mengenangnya di dalam hatimu. Tapi aku bisa bersamamu, memastikan kau tidak melakukan hal-hal bodoh lagi. Kau…harus tetap hidup, Oppa. Kapan terakhir kali kau berobat? Jangan menunggu kematian datang padamu. Kau harus berusaha tetap hidup, Oppa. Hidup dan bahagia. Aku akan memastikan kedua hal itu.”

Aku bisa merasakan air mata Soo Hyuk di pundakku. Ia memelukku semakin erat. Aku menggigit bibir bawahku kemudian bergumam pelan, “Kau masih punya hutang yang banyak padaku. Kau sudah berjanji akan menjadi sponsor dan model dalam fashion show ku. Aku juga masih butuh banyak dana, karena itulah kau jangan memecatku, Bos!” Aku berusaha nyengir lebar di sela-sela tangisku. Kemudian aku mengerutkan kening sambil berkata pelan, “Jangan tiba-tiba menghilang dariku…”

Soo Hyuk melepaskan pelukan kami. Ia tersenyum padaku, tapi sorot matanya terlihat sedih. Dengan hati-hati ia mengusap air mataku. “Terima kasih, Soo Jung~ah. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan….”

Aku menutup mulut Soo Hyuk dengan kedua tanganku, lalu menggeleng. “Sudah kubilang kan kalau aku akan memastikan kau tetap hidup dan bahagia. Kalau kau tidak ingin aku membencimu, kau harus menuruti apa yang kukatakan. Arrasseo? Dan sekarang kau harus makan. Arrasseo?”

Soo Hyuk mengangguk, lalu nyengir lebar. Aku balas tersenyum.

Aku tidak ingin memberi nama apapun pada hubungan kami. Yang kutahu hanyalah…, aku akan berada di sisinya dan membuatnya bahagia.

Jessica eonni, maafkan aku karena mencintai satu-satunya pria yang kau cintai. Kau boleh menghukumku dan membenciku dari atas sana, kau juga bisa memukulku saat kita bertemu lagi nanti di tempatmu berada saat ini, tapi aku tidak bisa membiarkan Lee Soo Hyuk menderita lagi, kau juga tidak ingin ia menderita, bukan? Eonni, aku memang tidak bisa mencintainya seperti bagaimana kau mencintainya. Bagiku…, melihatnya tersenyum bahagia sudah terasa cukup. Aku tidak ingin memiliki apa yang seharusnya memang tidak kumiliki.

~~~~~ ****** ~~~~~

“JUNG SOO JUNG! KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENGANGKAT TELEPON DARIKU DAN MEMBALAS PESANKU?!”

Teriakan Seulgi langsung menyambutku begitu aku melangkahkan kaki menuju gedung fakultas desain. Belasan pasang mata langsung menatap kami penasaran.

“Sssstttt.” Aku menyuruh Seulgi memelankan suaranya. Cepat-cepat aku menarik tangan Seulgi dan menuntunnya menjauhi pintu masuk, keluar dari gedung, mendekati tempat parkir mobil yang sepi. Aku tidak mau menjadi tontonan.

“Maafkan aku…” Aku mengedip-ngedipkan mataku se-cute yang kubisa, mencoba meluluhkan amarah Seulgi.

Seulgi masih melotot padaku sambil berkacak pinggang. Kemudian, tanpa kuduga, dia tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHA… HAHAHA… HAHAHA…”

Aku mengerutkan keningku. Tidak mengerti apa hal yang lucu saat ini.

“Yah! Kau tahu? Temanmu yang bernama Hong Jong Hyun itu terus mengikutiku. Mino sangat marah sekali! Hahahaha….”

Aku masih mengerutkan keningku. “Jong Hyun?”

Seulgi mengangguk. “Aaaah, sudah lama sekali Mino tidak cemburu. Hihihi.”

Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan sahabatku ini. Dia menepuk-nepuk punggungku pelan. Tawanya kini digantikan dengan seulas senyum hangat. “Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk. “Hmmm…”

“Aku tidak tahu cerita yang sebenarnya, tapi… sepertinya Jong Hyun Oppa merasa…eh … bersalah padamu?”

Aku mendengus mendengar nada genit saat Seulgi memanggil Jong Hyun dengan sebutan Oppa. “Oppa?”

Seulgi hanya nyengir.

Selalu saja ada alasan bagiku untuk menggeleng-gelengkan kepalaku dengan takjub melihat kelakuan Seulgi. “Kau berencana putus dari Mino atau apa sih?”

Seulgi mendelik sebal. “Tentu saja tidak! Tapi aku ingin dia cemburu. Sudah lama sekali dia tidak pernah cemburu. Kau tahu? Pertengkaran-pertengkaran kecil dalam hubungan itu diperlukan.”

“Asal jangan kelewatan saja.” Aku mendecakkan lidahku.

Seulgi merangkul lenganku. “Ceritakan padaku apa yang terjadi sambil makan. Ayo! Aku akan mentraktirmu. Kau sepertinya tidak makan ya selama 6 hari kemarin?! Tubuhmu semakin kurus kering begini! Kebiasaanmu yang jelek ini harus diubah, Soo Jung~ah! Sebanyak apapun masalah yang kau hadapi, kau harus tetap makan. Arraseo? Dan apa gunanya aku kalau kau tidak mau berbagi masalahmu denganku?” Seulgi menasehatiku layaknya seorang ibu. Bahkan ibuku sendiri pun tidak pernah menasihatiku apalagi memperhatikanku seperti Seulgi memperhatikanku.

Aku tersenyum. “Ne…ne Mommy Seulgi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja kok.” Aku mengangkat kedua bahuku.

Seulgi menyipitkan matanya, menatapku lekat-lekat, curiga. Entahlah, untuk saat ini…rasanya aku belum mau menceritakan apapun tentang masa lalu Lee Soo Hyuk dan mendiang kakakku pada siapapun.

Sedetik kemudian senyuman lebar merekah di wajah Seulgi. “Oke, tapi kau harus tetap makan!” Seulgi menyeretku ke kantin fakultas kedokteran yang terletak cukup jauh dari gedung fakultas kami. “Mino juga khawatir padamu tau! Aku akan menunjukkan padanya kalau kau baik-baik saja. Dan…eh, bisakah kau menyebut-nyebut Jong Hyun Oppa di hadapan Mino?”

Aku memutar kedua bola mataku. Dasar Seulgi!

~~~~~ ***** ~~~~~

Aku selalu menemani Lee Soo Hyuk berobat. Dari luar, kini ia memang terlihat baik-baik saja, tapi dokter bilang… penyakitnya sudah cukup parah. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sesegera mungkin.

“Dulu, setelah kakakmu pergi, aku berpikir… tidak masalah bila tumor ini berubah menjadi kanker. Dokter bilang… penderita kanker otak tidak hanya akan mengalami gangguan motorik namun juga ingatan. Akhirnya aku akan bisa melupakan semuanya.” Sorot mata Soo Hyuk terlihat begitu sedih.

Pegangan tanganku di kemudi mobilnya semakin menguat. Pandangan mataku mengeras.

“Kuharap semuanya belum terlambat. Karena…, aku tidak ingin melupakanmu.” Soo Hyuk menoleh sambil tersenyum tipis padaku, tapi sorot matanya terlihat seperti orang kesakitan.

“Semuanya akan baik-baik saja.” Aku mencoba meyakinkannya. “Kalaupun ternyata setelah operasi…kau…jadi melupakanku…, aku akan membuatmu mengingatku…, dan juga kakakku. Dia pasti kecewa kalau kau tidak mengingatnya lagi.”

Soo Hyuk terus memandangiku dari samping. Aku menahan diri untuk tidak balas menatapnya. Aku tidak ingin menangis saat ini. Lagipula sekarang aku sedang menyetir. Aku harus berhati-hati. Soo Hyuk juga ternyata agak trauma menyetir karena menyetir mobil membangkitkan kenangan-kenangan buruknya mengenai bagaimana kakakku meninggal karena tertabrak mobil. Karena itulah ia selalu sangat berhati-hati, pelan, dan tegang saat menyetir. Ia berpikir… bila ia tidak hati-hati maka orang lain akan tertabrak olehnya. Dan akan ada Lee Hyuk Soo – Lee Hyuk Soo lain karenanya. Dia tidak ingin orang lain merasakan kepedihan yang sama dengan yang ia rasakan.

Soo Hyuk menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Keningnya berkerut dalam-dalam. Bibirnya terkatup rapat. Aku tahu saat ini ia sedang berusaha menyembunyikan rasa sakit kepalanya.

Aku ingat apa yang dokter katakan barusan. Sakit kepala ringan yang terus menerus bisa berubah jadi sakit kepala yang hebat dan kejang-kejang sewaktu-waktu. Sepertinya itulah yang dilihat mendiang kakakku waktu itu… Soo Hyuk yang kejang-kejang di jalanan…sakit kepala yang tak tertahankan…

Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan tangis, tapi gagal. Sebulir air mata menetes ke pipiku. Soo Hyuk mengulurkan sebelah lengannya dan menggenggam tanganku. Kedua matanya masih tertutup. Perasaan hangat yang tak asing menjalari hatiku.

Semuanya akan baik-baik saja.

~~~~ ***** ~~~~

Pameran galeri Clair de Lune sukses besar. Banyak sekali review positif yang diberikan oleh masyarakat Korea dan bahkan warga negara asing. Sekarang aku hanya tinggal memikirkan tugas akhir kuliahku dan festival akhir tahun. Dan tentu saja… operasi Soo Hyuk.

Hong Jong Hyun menatapku takut-takut dari sebrang ruangan. Aku sedang merancang coat di studio Clair de Lune. Aku jadi lebih sering menghabiskan waktu di sini karena banyak sekali hal yang harus Soo Hyuk urus untuk festival akhir tahun. Soo Hyuk membiarkanku fokus pada tugas akhir kuliahku, tapi aku tidak bisa lepas tangan begitu saja. Bagaimanapun aku kan masih jadi asistennya. Aku tidak ingin makan gaji buta!

Aku menghela napas dalam-dalam, lalu menatap Jong Hyun dengan tajam. Kami jadi jarang mengobrol lagi selain masalah pekerjaan. Padahal aku tidak menyimpan dendam apapun padanya.

“Jong Hyun ahjussi, sepertinya kau sedang tidak ada kerjaan. Bagaimana kalau memberiku ide untuk tugasku?”

Jong Hyun nyegir lebar, lalu cepat-cepat berlari menghampiriku. “Aku akan mejadi modelmu! Gratis!”

Aku mendengus. “Memangnya kau bisa berjalan di atas catwalk?”

Jong Hyun menyeringai. “Tsk! Begini-begini aku ini mantan model terkenal! Oh ya, bagaimana kabar Seulgi? Aku sudah lama tidak pergi ke kampus kalian.”

Aku memutar kedua bola mataku. “Seulgi tidak akan berpaling dari Mino. Kau tahu?”

Jong Hyun mengangkat bahu. “Semuanya adil dalam perang dan cinta.”

“Ya…ya…terserah kau saja ahjussi. Aku akan membelikanmu pizza sebagai obat patah hati. Tanpa kau harus berusaha pun aku sudah tahu akan bagaimana hasil akhirnya nanti.”

“Mean girl!”

Kami pun tertawa.

Bukankah setiap orang pernah melakukan kesalahan? Dan kesalahan… tergantung dari sudut mana kau memandangnya. Jong Hyun menganggap tindakannya 5 tahun lalu adalah kesalahan bagiku dan mendiang kakakku, tapi justru tindakannya itulah yang menyelamatkan nyawa Soo Hyuk. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Soo Hyuk tanpa kehadiran Jong Hyun.

~~~~~~ ****** ~~~~~

Sabtu ini adalah “hari khusus cewek”. Seharian kuhabiskan bersama Seulgi. Pergi ke salon, belanja (Seulgi yang belanja sebenarnya. Aku harus berhemat untuk fashion show ku), dan kini aku menginap di apartemennya.

Seulgi memasak pasta seafood di dapur minimalis apartemennya, sementara aku membaca majalah fashion di meja makan. Sejak satu jam yang lalu, mataku terus terfokus ke kalimat yang sama tanpa benar-benar membacanya. Pikiranku sepenuhnya terfokus pada Lee Soo Hyuk. Dia sudah berada di New York sejak kemarin, persiapan operasi. Operasi akan dilakukan 4 hari kemudian. Mulanya Soo Hyuk ingin dioperasi di Seoul saja, tapi aku menyarankan agar ia dioperasi di New York. Bagaimanapun, teknologi di sana jauh lebih maju daripada di sini.

“Telepon Soo Hyuk Oppa.” Ujar Seulgi tiba-tiba.

Aku mengangkat wajahku. “Mwo?”

“Sejak tadi kau terus mengkhawatirkannya kan? Telepon saja.”

Aku menghela napas panjang. “Aku… bingung. Maksudku…, rasanya sekarang tidak penting lagi apakah aku harus fashion show dan sidang akhir semester ini atau semester depan…atau bahkan semester depannya lagi. Aku… aku ingin berada di sana ketika Soo Hyuk Oppa operasi. Aku tahu dia akan datang saat fashion show ku nanti, tapi…tapi bagaimana bila…bila sesuatu yang buruk terjadi pada…. hhhh…, entahlah.”

Seulgi mengangguk. Ia mematikan kompor, lalu mulai menghidangkan pasta di atas piring. “Kau bisa sidang dan fashion show kapanpun, tapi… kau hanya bisa menemaninya operasi sekali seumur hidupmu. Aku juga yakin, meskipun dia tidak mengatakannya secara langsung padamu…dia pasti ingin kau berada di sampingnya.”

Seulgi menyajikan pasta beraroma menggiurkan itu ke hadapanku, tapi rasanya aku tidak berselera makan. Aku hanya memandangi pasta itu dengan tatapan kosong.

“Semuanya…. Jadi tidak terasa sepenting sebelumnya. Tidak penting apakah fashion show ku dihadiri oleh desainer-desainer terkenal. Yang terpenting hanyalah… Soo Hyuk oppa bisa sembuh. Aku bisa memikirkan apapun setelah melihatnya sembuh.”

Seulgi menganggukkan kepalanya. “Kau bisa bimbingan jarak jauh dengan dosen pembimbingmu. Hey! Sekarang kan zaman modern! Apa gunanya e-mail dan video call? Pergilah ke New York, Soo Jung~ah. Temani Soo Hyuk Oppa saat ia operasi dan terapi setelahnya. Satu bulan? Dua bulan? Bukankah waktu sama sekali bukan masalah selama kau berada di dekatnya? Bukankah Soo Hyuk Oppa lebih penting bagimu daripada fashion show mu?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Seulgi benar.

Aku langsung berdiri. “Seulgi, bantu aku mengepak barang-barangku! Aku akan mencari tiket penerbangan ke New York untuk besok pagi.”

~~~~~~~~ ********** ~~~~~~~

Ketika aku tiba di rumah sakit, Soo Hyuk sedang tertidur. Jong Hyun tahu aku akan datang, dan meskipun aku berkata untuk merahasiakannya dari Soo Hyuk… aku yakin Jong Hyun pasti memberitahunya. Si mulut bawel Jonghyun! Aku hanya tidak ingin Soo Hyuk mengkhawatirkanku dan kuliahku, karena itulah aku tidak memberitahunya kalau aku akan menemaninya.

“Ini kunci apartemen hyung.” Jonghyun berkata pelan padaku ketika aku sedang duduk sambil memandangi Soo Hyuk yang tertidur pulas.

Aku menatap Jonghyun dengan tajam, menuntut penjelasan. Jonghyun menggaruk-garuk tengkuknya dengan canggung sambil terkekeh. “Hyung sudah tahu kau akan datang.”

Aku mendengus. Sudah kuduga.

“Aku akan tinggal di sini.”

Jonghyun menatapku heran. “Kau serius?”

Aku mengangguk. Tapi Jonghyun tetap menyerahkan kunci apartemen Soo Hyuk padaku. “Ayahku saja tidak suka tinggal di rumah sakit ini terus-menerus. Ini. Kau pasti membutuhkannya nanti. Aku pergi dulu. Ada yang harus kuurus. Oh ya, setelah Soo Hyuk hyung selesai operasi nanti… aku akan kembali ke Seoul, mempersiapkan festival fashion akhir tahun. Hyung bilang aku harus mengajakmu pulang bersamaku, tapi aku tahu kau sangat keras kepala, jadi pasti kau tidak mau menurut. Nanti kau bicarakan saja dengannya. Oke?”

Aku mengangguk dengan tak sabar. “Jangan banyak bicara, ahjussi! Nanti Soo Hyuk Oppa bangun.” Bisikku dengan nada tajam.

Jonghyun mendelik sebal padaku. Ia menepuk-nepuk pundakku pelan sambil berkata “Aku senang kau datang” kemudian pergi dari ruangan.

Aku merasa agak jet lag, tapi kuabaikan. Aku ingin ada di sini ketika Soo Hyuk terbangun nanti.

Aku mengamati wajah Soo Hyuk yang terlihat semakin kurus dan tirus, kemudian menghela napas panjang. Soo Hyuk pasti tidak mau makan.

Kucondongkan tubuhku sedikit, mengamati wajahnya lekat-lekat lebih dekat, tiba-tiba ingin tahu apa yang sedang ia mimpikan dalam tidurnya. Wajahnya begitu tenang. Mimpinya pastilah menyenangkan.

Kuulurkan sebelah lenganku, lalu kuusap-usap pelan kepalanya. Entah sudah berapa lama aku memandanginya sambil membelai kepalanya, tahu-tahu kedua matanya terbuka dan menatapku. “Kau sudah datang? Atau aku masih bermimpi?” gumamnya dengan suara berat. Kemudian ia memejamkan lagi kedua matanya.

Aku tertawa pelan. “Aku sudah datang.”

Soo Hyuk membuka matanya dan tersenyum lebar. Sorot matanya berbinar, seolah ia mendapatkan hadiah yang selalu ia inginkan. Aku balas tersenyum. Kurasa keputusanku untuk datang kemari sangatlah tepat.

~~~~~~ ****** ~~~~~

Sebenarnya aku ingin tinggal di rumah sakit, menemani Soo Hyuk 24 jam, tapi Soo Hyuk memaksaku untuk sesekali pulang ke apartemennya. “Kau tidak akan suka mandi di rumah sakit. Sangat mengerikan…, kau tahu? Apalagi di malam hari.” Soo Hyuk menyeringai, mencoba menakut-nakutiku.

Aku mendengus. “Kau tahu aku bukan penakut!”

Soo Hyuk mengacak-acak rambutku sambil tersenyum lebar. “Aku punya koleksi lilin aromaterapi yang kau sukai. Kau boleh ambil yang kau mau. Ada beberapa yang limited edition, tidak dijual di Korea.” Soo Hyuk masih terus membujukku untuk ‘pulang’ ke apartemennya dan beristirahat sejenak di sana.

“Oh, kau juga pasti akan suka melihat lemariku. Banyak koleksi pakaianku yang hanya pernah kau lihat di majalah.”

Aku menatapnya sambil mengangkat sebelah alis mataku. “Kau mau pamer?”

Soo Hyuk tertawa. Ia menggenggam kedua tanganku dengan hangat. “Aku hanya ingin kau tidur sebentar di tempat tidur yang nyaman, bukan di sofa yang keras di ruangan ini.”

Aku mengangkat bahu. “Tidak masalah. Aku merasa baik-baik saja.”

Soo Hyuk menatapku lekat-lekat. Sepertinya mau membantahku lagi. Ia menghela napas panjang, kemudian berkata “Aku menyimpan barang-barang Jessica dalam satu ruangan.”

Aku terdiam. Selama beberapa saat kami hanya berpandangan. Aku tahu kali ini aku kalah. Aku ingin melihat barang-barang kakakku selama berada di New York.

“Kembalilah kapanpun kau mau.” Soo Hyuk tersenyum, tapi sorot matanya mengatakan bahwa ia ingin agar aku kembali secepat mungkin setelah aku selesai mandi dan tidur selama beberapa jam.

~~~~~ **** ~~~~~

Kerongkonganku tercekat begitu melihat semua barang milik Jessica yang disimpan dengan rapi di sebuah ruangan tak jauh dari ruang tidur Soo Hyuk. Aku meraih boneka teddy bear yang sama persis dengan punyaku dari atas meja, lalu memeluknya dengan erat seolah aku memeluk kakakku secara langsung. “Eonni, aku merindukanmu…”

Aku tidak menyangka ternyata Soo Hyuk masih menyimpan semua barang milik Jessica. Rasanya seperti memindahkan apartemen Jessica kemari. Bahkan lemarinya pun berisi pakaian Jessica.

Aku mengamati rak buku, tersenyum karena melihat begitu banyak komik romance di sana. Kakakku sangat suka membaca komik romance.

Dilihat dari tebalnya debu, sepertinya Soo Hyuk tidak pernah atau sangat jarang datang ke ruangan ini. Aku menyeka debu di atas tumpukkan text book kuliah di atas meja belajar, lalu membolak-balik lembaran text book itu, tahu kebiasaan Jessica yang senang mencorat-coret buku pelajarannya dengan gambar-gambar desain dan kata-kata apapun yang saat itu terpikirkan olehnya. Buku pelajaran jadi seperti diary nya! Dipenuhi berbagai tulisan dan gambar di bagian-bagian kosongnya.

Aku tersenyum melihat coretan-coretan itu. Hampir semua coretan desainnya pernah ia kirimkan padaku.

Aku tertawa ketika membaca tulisan-tulisan tangannya yang acak-acakkan. Sepertinya kakakku memang sering tidak memerhatikan dosen saat di kelas.

 

Aku bosan.

 

Aku ingin makan pasta dan lasagna buatan Hyuk Soo Oppa. Ternyata dia sangat pandai memasak! Yah hanya saja dia sering malas memasak.🙂

 

Kenapa Soo Jung belum membalas e-mailku?

 

Ada anak cowok di kelasku yang sangat tampan, sayangnya dia bau, padahal tadinya mau kukenalkan pada adikku.

 

Kuharap minggu depan ujianku sukses!

 

Jonghyun terus-terusan bertanya padaku siapa nama adikku dan memintaku menunjukkan foto adikku padanya. Cih! Aku tidak mau punya adik ipar bawel sepertinya!

Aku berhenti membaca, tertawa keras. Kurasa aku bisa membayangkan wajah kesal kakakku ketika Jonghyun terus-menerus memaksanya.

Aku kembali membuka lembar-lembaran buku itu, mencari-cari coretan tangan kakakku di sudut atas ataupun bawah teks. Aku menahan napas ketika membaca sederet paragraf di halaman terakhir, tepat setelah daftar pustaka. Tulisan tangannya kecil-kecil dan tidak beraturan.

Lydia bercerita padaku, ia dan kembarannya menyukai pria yang sama. Lydia bilang… ia jadi benci kembarannya karena hal itu. Aku bilang padanya… kalau hal itu terjadi padaku… aku akan melepaskan cowok itu demi adikku. Karena adikku sama berharganya dengan pacarku, tapi aku akan selalu memihak adikku. Kukatakan padanya, seandainya Soo Jung menyukai Hyuk Soo Oppa, dan Hyuk Soo Oppa pun menyukainya… maka aku akan melakukan apapun asalkan mereka bisa tersenyum bahagia. Hahaha, kurasa aku sudah dewasa. Dulu aku bahkan benci bila Soo Jung menyukai boneka milikku. Tapi sekarang… kurasa kebahagiaan Soo Jung adalah segalanya. Ah, aku ingin segera lulus, mendapatkan banyak uang, dan membawa Soo Jung kemari! Kami akan menjadi desainer terkenal! Soo Jung masih belum memberitahuku dia akan kuliah di mana nanti, tapi kurasa aku bisa menebaknya. Hihihi.

 

Detik itu juga aku menangis lebih keras daripada ketika aku mendengar kabar bahwa kakakku meninggal. Aku benar-benar merindukannya. Tidak ada lagi orang di dunia ini yang mencintaiku se-besar Jessica mencintaiku.

Penilaian awalku ternyata salah. Jessica tidak mungkin, tidak pernah, dan tidak akan pernah mungkin membenciku di atas sana karena kini aku menyukai satu-satunya pria yang pernah ia sukai.

“Eonni, apakah kau yang membimbing kami agar bertemu? Apakah kau bahagia bila aku membuat Soo Hyuk Oppa bahagia?”

~~~~~~ ******* ~~~~~~~

Dadaku terasa sangat sesak ketika aku masuk ke ruangan Soo Hyuk dan melihat Soo Hyuk tersenyum padaku. Cepat-cepat aku berlari dan memeluknya dengan erat. Soo Hyuk tampak terkejut, “Soo Jung~ah…, kau baik-baik saja?” Nadanya terdengar cemas.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi memeluknya semakin erat sebagai gantinya. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa berterimakasih padanya karena sudah menyimpan barang-barang Jessica. Sama seperti bagaimana ia menyimpan barang-barang itu, aku pun ingin ia menyimpan kenangannya bersama Jessica dan tidak pernah melupakannya. Karena sama seperti apa yang Jessica tulis, aku pun akan selalu memihak Jessica.

Aku melepaskan pelukanku. Soo Hyuk menatapku dalam-dalam, masih terlihat khawatir. Aku tersenyum lebar, memamerkan gigiku. “Aku hanya merindukanmu.” Ujarku ringan dengan nada yang seolah mengatakan ‘memangnya tidak boleh?’

Soo Hyuk menyeringai, lalu terkekeh pelan. Ia tahu aku tidak sepenuhnya jujur, tapi tidak berusaha mengorek lebih dalam lagi. Ia hanya merentangkan kedua lengannya dan berkata, “Kemarilah.”

Aku menggeleng. “Hmmm. Kau belum makan!” Aku melirik nampan berisi bubur dan sayuran yang masih penuh di meja.

“Lihat…lihat…, ternyata kau hanya rindu mengomeliku.”

Kami pun tertawa. Aku menyuapinya makan siang. Dan seharian itu kami habiskan dengan bercerita banyak hal.

Aku memang tidak mengatakan padanya, tapi aku takut menghadapi hari esok. Kurasa aku memang tidak setegar yang terlihat dari luar.

Soo Hyuk melingkarkan lengannya di kepala dan pinggangku. Ia memaksaku berbaring di ranjang rumah sakit, di sampingnya. Dia bilang sofa jauh lebih keras, punggungku akan sakit, aku akan lebih nyaman tidur di sampingnya malam ini. Dan memang benar. Aku merasa nyaman. Tapi itu hanya karena Soo Hyuk berada di sampingku. Ranjang pasien ini sama sekali tidak nyaman sejujurnya!

“Hey…, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan segera sehat. Mungkin hanya perlu menjalani terapi intensif selama satu atau dua bulan. Setelah itu…, aku bisa terapi di Korea.”

“Kau akan tinggal di Korea?” tanyaku heran.

“Aku akan tinggal di manapun kau tinggal. Aku bisa mengurusi perusahaan dari jauh. Hmmm, mungkin aku akan memindahkan kantor pusat clair de lune ke Seoul?”

Aku tertawa pelan. “Atau mungkin aku yang akan pindah ke New York?”

“Dan membiarkanku melewatkan masa-masa akhir kuliahmu? Sidangmu? Fashion show mu? Tidak. Terima kasih. Aku tidak akan memberikan kesempatan pada pria-pria lain untuk mendekatimu. Hey, siapa tau ada yang melamarmu langsung setelah kau lulus?”

Aku terbahak-bahak. “Possesive!”

Soo Hyuk nyengir lebar. “Kau tidak pernah memperhatikan bagaimana pria-pria di kampus, bahkan di jalan… memperhatikanmu.” Soo Hyuk menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan membiarkanmu berada jauh-jauh dariku.”

Aku mengangguk. “Oke. Berarti kau juga harus membiarkanku tinggal di New York selama kau menjalani terapi intensif.”

Soo Hyuk mengerang. Ia tahu ia tidak bisa memaksaku. “Baiklah. Tapi aku tidak ingin kau mengorbankan kuliahmu hanya gara-gara aku. Oke?”

Aku menjulurkan lidahku. “Siapa bilang gara-gara kau?! Jangan kegeeran, ahjussi! Aku hanya suka New York.”

Soo Hyuk tertawa dan memelukku semakin erat. Malam itu aku tertidur pulas. Tanpa mimpi.

Kuserahkan hari esok di atas tangan Tuhan. Aku hanya berdoa semoga kami memiliki waktu yang cukup untuk bersama. Meskipun aku tahu kebersamaan kami pastilah tak akan pernah terasa cukup, bahkan setelah kematian memisahkan kami sekalipun.

~~~~~~ ****** ~~~~~~

Tidak ada siksaan yang lebih menyiksa selain detik-detik menunggu operasi Soo Hyuk selesai. Berbagai pikiran, kemungkinan buruk, terus-menerus memenuhi kepalaku.

Jonghyun menatapku dengan sebal. “Kau membuatku pusing. Duduklah!”

Aku masih terus berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Mengabaikan kata-kata Jonghyun.

“Ayahku dan beberapa dokter bedah terbaik ada di sana. Semuanya akan baik-baik saja. Hyung beruntung karena bertemu denganmu lebih cepat, kurasa…” Jonghyun berhenti bicara ketika aku membelalak galak padanya.

Aku menghempaskan tubuhku di kursi di sampingnya. Jonghyun meringis melihat wajah jutek ku.

“Memangnya kau tidak cemas?” tukasku dingin.

“Tentu saja aku cemas.”

Aku menghembuskan napas kesal. Aku tahu sepertinya aku memang terlalu berlebihan. Seharusnya aku bersikap dewasa. Aku mencoba memejamkan mataku dan menahan kakiku yang gatal ingin bergerak-gerak ke sana ke mari.

“Soo Jung, pernah kepikiran tidak…, kapan kau akan menikah?”

“Hah?” Pertanyaan Jonghyun yang aneh dan tiba-tiba itu ternyata mampu mengalihkan perhatianku sedikit dari rasa cemas yang kurasakan.

“Soo Hyuk hyung bilang…, dia ingin melamarmu setelah kau lulus nanti.”

Jantungku berdebar lebih cepat. Oke, kalimatnya barusan sepertinya mampu mengalihkan rasa cemasku sepenuhnya.

“Jangan bercanda!”

Jonghyun mengangkat bahu. “Terserah kau mau percaya atau tidak. Nah…, kau sekarang merasa lebih tenang kan?” Jonghyun menyeringai lebar.

Aku menginjak kakinya sampai ia menjerit kesakitan, lalu berjalan menjauhinya, dan kembali berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi yang tertutup rapat.

~~~~~ ******* ~~~~~

Hal pertama yang kuingat ketika membuka kedua mataku adalah Lee Soo Hyuk.

Aku ingat semalam aku langsung berlari masuk ke ruangannya. Ia masih tak sadarkan diri tentu saja. Kupikir aku akan terus terjaga sampai pagi, nyatanya aku tak bisa menahan rasa kantuk.

Aku merasakan belaian lembut di kepalaku. “Oppa?” Pekikku begitu melihat Soo Hyuk ternyata sudah bangun lebih dulu dariku. Soo Hyuk hanya memandangiku tanpa mengatakan apapun. Jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Bagaimana kalau Soo Hyuk lupa…

Soo Hyuk tersenyum. “Apa yang kau mimpikan semalam?”

Aku menggeleng. “Aku tidak ingat.”

Aku mengusap air mataku. Haru. Ternyata ingatan Soo Hyuk baik-baik saja. Dan aku lega sekali karena ia berhasil menjalani operasi dengan baik.

Soo Hyuk tersenyum setengah, lirikan matanya jahil, “Aku mendengar namaku disebut.”

“Benarkah?”

Soo Hyuk mengangguk pelan.

“Oppa, bagaimana perasaanmu? Apakah terasa sakit? Apakah kau baik-baik saja?”

Soo Hyuk menggeleng. “Hmm. Aku tidak sakit. Aku senang. Aku memimpikanmu selama aku tidur. Berapa jam aku tidur? Semenjak di bius? 40 jam? Lebih?”

Aku mengangguk. Soo Hyuk tersenyum dan menatapku dengan lembut. “Di dalam mimpiku…, aku menjadi salah satu modelmu saat fashion show tugas akhir kuliahmu. Semua dosen memujimu, bahkan ada beberapa desainer terkenal yang hadir dan mengakui hasil karyamu. Kemudian saat kau berjalan di catwalk setelah peragaan busana terakhir, aku tiba-tiba muncul kembali dari arah yang berlawanan dengan sebuah kotak kecil di kedua tanganku. Aku berlutut di hadapanmu dan menunjukkan isi kotak itu padamu. Kau menangis bahagia melihatnya dan kau berkata ya.”

“Memangnya apa yang kau tanyakan padaku saat itu dalam mimpimu?”

Soo Hyuk menggenggam kedua tanganku. Genggamannya masih terasa lemah. “Jung Soo Jung, maukah kau selalu mencintaiku dan menemaniku sepanjang hidupku sebagai istriku?”

Aku tertawa pelan sambil mengusap sebulir air yang menggenang di sudut-sudut mataku. “Apakah sekarang kau sedang menceritakan padaku tentang mimpimu ataukah melamarku langsung dan mimpi itu hanyalah alasan?”

Soo Hyuk terkekeh. “Sayangnya sekarang aku tidak punya cincin. Aku baru saja menceritakan rencanaku dan harapanku yang terbawa ke dalam mimpi-mimpiku padamu.”

Aku menempelkan pipiku ke dadanya dan memeluknya seringan mungkin, takut menyakitinya, sebisa mungkin tidak mengenai kepalanya yang dibalut perban, dan tidak mengenai selang-selang infuse di lengannya.

“Ya. Kau tahu jawabanku pasti ‘iya’.”

Soo Hyuk mengusap-usap kepalaku. “Jadi, apakah aku harus melakukan apa yang ada di mimpiku itu nanti?”

Aku mengangkat bahu. “Terserah kau saja, Oppa. Tapi kalau kau memang suka pamer, melamarku dengan cara seperti itu tentu saja sangat cocok untukmu. Semua orang akan langsung tahu. Oh, aku bahkan mungkin akan langsung masuk ke majalah-majalah terkenal!”

Soo Hyuk tertawa. “Dan cara itu akan sangat ampuh untuk mematahkan hati fans-fans mu.”

“Mungkin fans mu, bukan aku.”

Soo Hyuk menatapku tak setuju. Tapi sedetik kemudian kami tertawa bersama.

Ketika aku melihatnya tersenyum dan tertawa bahagia…, aku merasa hidupku sempurna. Terlebih lagi karena aku adalah penyebab senyuman itu tercipta.

Dua hati yang dingin, dua jiwa yang kelam, dua pribadi yang terluka dan tersiksa kini tak lagi merasa demikian. Ketika aku melihatnya tersenyum, aku pun ikut tersenyum.

~~~~ The End ~~~~

Author note : Hello! Fiuh, akhirnya bereeessss chapter 2 ini. Hahaha. Padahal tugas kuliah udah numpuk, tapi tergoda buat beresin cerita ini dulu. Memang susah ya untuk “menahan ide” di kepala. Kalau nggak cepat-cepat ditulis nanti jadi lupa, atau malah males nerusin (psssstttt, kayak ff lain yg masih nge-gantung. T__T.)

Buat yang nanyain Give Heart chapter selanjutnya…, hmmm…masih ditulis Kunang. Yang nanyain Type B Love…, baru beres 10 lembar nih. Mentok. Hehehe. FF lain? Belum ada bayangan. T__T.

Makasiiih buat kalian yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan memberi komentar cerita-cerita di blog ini. Welcome to my blog! Welcome to my imagination! (buat readers baru). Library nya belum gw update. *peace*

~Azumi~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s