When I See You Smile (Chapter 1)

Title           : When I See You Smile

Author       : Azumi Aozora

Main Cast  : Jung Soo Jung / Krystal f(x), Lee Soo Hyuk (actor, model) Support Cast : Jung Soo Yeon / Jessica (ex SNSD), Irene (Red Velvet), Seulgi (Red Velvet), Hong Jong Hyun (actor, model), Song Mino (WINNER)

Genre         : romance, friendship, family, AU

Rating        : PG+13

Length        : 2 or 3 Chapters

Poster When I See You Smile

I’m always wondering… why your heart is so cold and hard. Then I realized that it’s me who can’t understand your pain.

~~ Chapter 1 ~~

Sebelumnya aku tidak pernah menduga, makan bersama dengan orang yang sama sekali asing bagiku akan terasa lebih nyaman dibanding makan bersama keluargaku sendiri. Malam itu, tempat makan kesukaanku yang terletak tak begitu jauh dari kompleks tempat tinggal orangtuaku dipenuhi oleh pengunjung, hanya tinggal tersisa 1 meja, saat itu aku datang bersamaan dengan seorang pria tinggi yang memakai trench coat Burberry krem, aku terlalu kelaparan dan terlalu malas untuk mencari tempat makan lain sehingga rela berbagi meja dengan orang asing. Pria bermata tajam itu juga sepertinya punya pemikiran yang sama denganku.

Awalnya kupikir pria itu akan berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan, tapi ia hanya diam seribu bahasa, sama sekali tidak tersenyum ataupun melihat ke arahku. Sesekali aku mengamati sosok misteriusnya. Raut wajahnya dingin, tanpa ekspresi. Aura nya terkesan mengintimidasi. Tapi anehnya, kesunyian diantara kami sama sekali tidak terasa canggung.

Pria ini tampan. Tapi berbahaya. Entahlah, saat itu insting ku mengatakan demikian. Ada sesuatu dalam diri pria ini, entah apa, yang memperingatkanku untuk menjauhinya. Tapi kenapa aku harus menjauhinya? Toh aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Siapa yang mengira, ternyata aku bertemu dengannya lagi. Di tempat makan yang sama, dengan kondisi yang sama. Dan sama seperti pertemuan pertama kami, tak ada satupun kata yang terucap, ataupun seulas senyum yang terukir di wajahnya yang bagai patung dewa Yunani. Bukan berarti aku mengharapkannya tersenyum padaku atau apa, hanya aneh saja rasanya ada pria yang mengacuhkanku, bahkan setelah dua kali bertemu. Jangan salah sangka! Justru aku bersyukur karenanya. Sejak kecil, aku tidak suka bila orang lain menatapku seolah aku adalah seorang superstar. Mereka berkata aku cantik.  Kecantikan yang tidak biasa. Tapi tatapan penasaran mereka seringkali membuatku menangis, membuatku bersembunyi di balik punggung kakakku. Tentu saja ketika sudah dewasa, aku mencoba mengabaikan orang lain. Aku tidak pernah tersenyum. Aku tidak ingin dijadikan objek. Karena itulah aku tidak pernah mau tampil di atas panggung, meski sejak dulu banyak yang menawariku untuk menjadi model. Aku lebih menikmati bekerja di balik layar, sebagai desainer.

Sekali lagi aku menatap pria pucat di hadapanku yang terlihat tenang menikmati makan malamnya seolah tak ada siapapun di sekitarnya. Tanpa sadar, aku tersenyum tipis. Mungkin pria ini sama sepertiku. Aku kembali menyantap makan malamku sambil memikirkan rancangan busana untuk tugas akhir kuliahku. Tanpa kusadari, itulah pertama kalinya pria itu menatapku secara langsung, dan melihat senyuman tipis ku.

~~~~~******~~~~~~

Hari-hari berlangsung normal seperti biasanya. Aku sibuk mengurusi tugas akhir kuliahku. Bila ingin lulus tepat waktu, aku hanya punya waktu kurang dari 5 bulan lagi. Tapi bukan lulus tepat waktu lah target utamaku, melainkan menampilkan fashion show ku secara maksimal di hadapan para perancang busana terkenal kelas dunia. Desas-desus beredar di kalangan mahasiswa fashion design Universitas Seoul sejak semester lalu bahwa akhir semester ini universitas kami akan kedatangan cukup banyak desainer terkenal dari berbagai negara, memberikan seminar dan workshop, dan bila beruntung maka mereka akan hadir dan ikut menilai tugas akhir mahasiswa. Tahun ini Seoul memang menjadi tuan rumah salah satu festival fashion terbesar yang diadakan setiap satu tahun sekali, yang menampilkan brand-brand fashion terkenal dari seluruh dunia. Aku harus bisa sidang akhir semester ini, menampilkan fashion show ku di hadapan para desainer terkenal itu dan mendapatkan komentar, bahkan kalau memungkinkan….pengakuan akan hasil karyaku.

Menjadi desainer pakaian adalah cita-citaku sejak kecil. Lebih tepat lagi… cita-citaku bersama dengan mendiang kakakku, Soo Yeon, atau yang biasa dipanggil Jessica. Dulu kami berangan-angan ingin memiliki brand fashion sendiri, Cryssica, Crystal and Jessica. Meski kakakku sudah pergi dari dunia ini hampir 5 tahun yang lalu, angan-angan itu tak pernah padam. Kelak, aku akan mewujudkan cita-cita kami berdua.

Siang itu cuaca benar-benar panas, padahal musim gugur sudah tiba. Rasanya seperti puncak musim panas. Akhir-akhir ini, akibat pemanasan global, suhu dunia memang menjadi kacau!

“Kau mulai meracau lagi tentang suhu dunia, itu berarti kau sedang mengalami kebuntuan.” Seulgi mendecakkan lidahnya. “Sudahlah, Soo Jung! Tidak perlu memaksakan dirimu. Bagaimana kalau kau sidang semester depan saja bersama denganku?” Sahabatku yang banyak bicara itu mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat, berusaha menampakkan wajah cute di hadapanku, tapi aku hanya menanggapinya dengan gelengan kepala dan berjalan melewatinya.

“Yah! Soo Jung~ah! Tunggu aku!” Seulgi berlari mengejarku. “Kau sudah dengar? Lee Soo Hyuk akan memberikan kuliah umum selama 1 bulan! Kau percaya? 1 bulan! Wow! Tak heran kenapa cewek-cewek berdandan lebih heboh dari biasanya. Bahkan kudengar…cewek-cewek dari jurusan lain pun ingin menyelundup ke kuliah umum nanti, pura-pura menjadi mahasiswa fashion design. Cih! Jangan harap aku akan membiarkan mereka masuk!” Seulgi bersungut-sungut.

Aku mengerutkan keningku. “Lee Soo Hyuk?” Namanya memang terdengar tidak asing, tapi aku tidak mengingatnya. “Lee Soo Hyuk siapa?”

“Ugh! Ya ampun! Masa kau tidak tahu?! Tsk..tsk…” Seulgi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Clair de Lune. Kau pernah dengar? Pendiri, CEO, sekaligus desainer Clair de Lune itu akan memberikan kita kuliah umum! Dia jarang tampil di depan umum, padahal wajahnya sangat tampan. Kau tahu? Katanya dulu mantan pacarnya pernah kuliah di kampus kita sebelum pindah ke luar negeri, karena itulah dia setuju untuk memberikan kuliah pada kita saat ketua jurusan memintanya. Yah.., dia kan akan berada di Seoul cukup lama. Mungkin sampai akhir tahun. Kau tahu, persiapan festival dan semacamnya.”

Aku mendengus. “Aku berani bertaruh kau pasti lebih tertarik pada wajahnya daripada desain pakaiannya.”

Seulgi memutar kedua bola matanya. “Jangan konyol, Soo Jung! Aku suka keduanya.” Seulgi terkikik.

“Kau kan tahu, Seulgi, sejak dulu aku lebih tertarik pada desain pakaian pria daripada wanita. Setahuku Clair de Lune hanya membuat pakaian wanita.”

“Hmmm. Memang. Kau tahu kenapa aku mengidolakan Lee Soo Hyuk?” Seulgi melompat-lompat kecil sepanjang perjalanan kami menuju kantin dengan penuh semangat.

“Karena dia sangat tampan?” Jawabku dengan malas.

Seulgi mengangguk. “Yup! Salah satunya. Tapi…yang paling membuatku terkesan adalah fakta bahwa dia mendesain semua pakaian untuk mantan pacar nya. Dia selalu membayangkan mantan pacar nya itu memakai desain-desain nya!”

Aku mendengus. “Mantan. Wow, dia pasti tipe melankolis yang senang memendam kenangan masa lalu. Tidak bisa move on.” Sindirku ketus. Bukan salahku bila hari ini nada bicaraku lebih ketus daripada biasanya. Salahkan dosen pembimbingku dan cuaca yang super panas!

Seulgi melotot sebal padaku. “Tsk! Tunggu sampai aku membawa buku biografi nya besok. Kau pasti akan mengaguminya dan jatuh hati padanya, sama sepertiku.”

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Aku tidak yakin.”

Kami sudah sampai di kantin fakultas seni yang dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Kantin fakultas kami memang terkenal memiliki masakan yang sangat enak. Kami terpaksa duduk di salah satu meja yang tersisa di bagian tengah ruangan, padahal aku tidak suka duduk di tengah dan menjadi pusat perhatian.

Seulgi mengibaskan rambut pirang ikal nya yang indah dengan anggun. Berbeda denganku, Seulgi menikmati perhatian orang-orang padanya. Dia juga lebih ramah dan bersahabat terhadap para fans nya, termasuk orang asing sekalipun, benar-benar kebalikannya dariku.

“Pacarnya meninggalkannya, tapi dia masih setia mencintainya dan bahkan menciptakan desain pakaian yang dirasa cocok untuk dikenakan oleh mantannya itu, padahal dia super tampan, super hot, super sexy, dan semua wanita pasti dengan senang hati akan melemparkan diri padanya….tapi dia tetap memilih setia dengan mantannya, dengan kenangannya, menurutku itu sangatlah romantis.” Seulgi berbicara panjang lebar, masih memuji idolanya, Lee Soo Hyuk.

Aku mendengus lagi, tapi kali ini tidak mengatakan apapun. Mataku menatap buku menu. Lapar dan haus menguasai pikiranku. Aku tak peduli dengan obsesi tak masuk akal Seulgi terhadap desainer bernama Lee Soo Hyuk itu. Aku tidak pernah memiliki idola. Aku memang mengagumi banyak desainer, tapi aku mengagumi karya-karya mereka, bukan siapa diri mereka dan bagaimana kehidupan pribadi mereka.

Tiba-tiba saja suasana kantin menjadi bising. Cewek-cewek menjerit heboh, seolah melihat selebriti terkenal. Aku mengerutkan kening. “Ada apa?”

Seulgi tidak menjawab pertanyaanku. Pandangannya terfokus pada seorang pria tampan bertubuh tinggi semampai, ber-jas rapi dan modis, yang kini berjalan memasuki kantin. Tunggu! Pria ini….

“Ya Tuhan! Kyaaaaaa! Lee Soo Hyuk!” Seulgi memekik senang sambil menggoyang-goyangkan lenganku. “Ya Tuhan….Ya Tuhan…, dia sepertinya berjalan ke arah kita!”

Aku mengerutkan keningku. Tidak mungkin…

“Hallo, kita bertemu lagi. Ternyata kau bersekolah di sini.” Lee Soo Hyuk tersenyum tipis padaku, lalu duduk di hadapanku, di samping Seulgi yang mulutnya membuka lebar tanpa suara. Sepertinya aku terlalu terpesona dengan suaranya yang dalam dan berat, sehingga sama sekali lupa tidak menjawab sapaannya. Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya. Pria misterius yang kutemui minggu lalu ini kini berbicara padaku!

“Soo Jung, kau kenal Lee Soo Hyuk ssi?” Seulgi menatapku tak percaya.

“Soo Jung? Jadi itu namamu?” Lee Soo Hyuk masih menatapku dengan kedua mata gelapnya yang tajam dan dingin. Aku masih terdiam. Lee Soo Hyuk menoleh, menatap Seulgi. “Maaf aku tiba-tiba bergabung dengan kalian. Kalau aku bergabung di meja lain, aku tidak akan mendapatkan ketenangan.”

Seulgi hanya mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Terlalu syok untuk mengatakan sepatah katapun pada Soo Hyuk. Jadi aku yang bicara. “Silakan. Anda bisa bergabung dengan kami.” Aku menjawabnya dengan sopan dan formal. Bagaimanapun, kini aku tahu si pria misterius itu ternyata Lee Soo Hyuk yang populer. Dia jauh lebih tua dariku, jauh lebih berpengalaman di dunia fashion, dan merupakan salah satu tamu dosen yang akan mengajar kami selama satu bulan ke depan, jadi aku harus menghormatinya.

Seulgi menatapku. Aku balas menatapnya dengan penuh arti. ‘Nanti akan kuceritakan.’ Aku berkata tanpa suara padanya.

Seulgi mengangguk patuh. Selama makan siang yang – aku berani bertaruh pastilah paling menegangkan baginya karena bisa duduk di samping idolanya – Seulgi hanya diam layaknya patung. Sepertinya ia benar-benar tidak ingin membuat Lee Soo Hyuk pergi dari meja kami.

“Maaf aku tiba-tiba bergabung dengan kalian. Kalau aku bergabung di meja lain, aku tidak akan mendapatkan ketenangan.”

Ketenangan. Itulah yang ia butuhkan. Tak heran mengapa ia merasa nyaman makan bersamaku, si orang asing baginya, waktu itu, dua kali, di rumah makan tak jauh dari kompleks rumahku. Aku tak pernah bicara padanya waktu itu, dan kini… aku akan melakukan hal yang sama.

Pria ini suka ketenangan.

Tanpa sadar, aku tersenyum sambil menatap makan siangku. Dan tanpa kusadari, Lee Soo Hyuk menatapku.

~~~~~ **** ~~~~~

“Saat makan tadi Lee Soo Hyuk terus melihatmu! Ya Tuhaaan!” Seulgi berseru heboh ketika kami sudah selesai makan siang dan kini berjalan menuju perpustakaan.

“Jangan konyol!” Aku mendengus.

Seulgi berkacak pinggang, pura-pura marah. “Serius! Aku melihatnya! Ya ampuuun! Sepertinya dia suka padamu!”

Aku memutar kedua bola mataku. “Kau sendiri yang bilang padaku kalau dia masih dan selalu mencintai mantan pacarnya, jadi…tidak mungkin dia suka padaku.”

Seulgi mengangguk. “Hmm, benar juga. Tapi sepertinya dia tertarik padamu! Kyaaaaaa! Kau sangat beruntung, Soo Jung~ah!”

Aku menghela napas panjang. “Karena aku tidak menjerit-jerit heboh seperti gadis lain saat melihatnya, bukan berarti dia tertarik padaku. Dia hanya berterimakasih padaku.”

Seulgi sepertinya tidak setuju dengan pendapatku. Aku mengabaikannya, dan mulai mencari text book yang kuperlukan untuk mendukung tugas akhir ku.

~~~~~ ***** ~~~~

Nampaknya Lee Soo Hyuk tinggal tak jauh dari kompleks rumahku. Karena bagaimana mungkin kami sering bertemu di rumah makan ini lagi tanpa sengaja bila ia tidak tinggal di daerah ini?! Bedanya, kali ini kami bertemu saat pagi hari dan bukannya malam.

“Oh?” Soo Hyuk tampak terkejut melihatku.

Aku berdiri, membungkukkan badanku. “Annyeong haseyo.” Sapaku dengan sopan.

Rumah makan sepi, tapi Soo Hyuk memutuskan untuk duduk bersamaku. Aku mengamati penampilannya ketika matanya terfokus ke buku menu. Pria itu terlihat agak berbeda dari biasanya. Mungkin karena kali ini aku melihatnya dalam pakaian casual.

Hmmm, selera berpakaiannya memang bagus. Dan sepertinya dia tipe orang yang senang memakai pakaian bermerk terkenal. Aku ingin bertanya mengapa ia tidak pernah mendesain pakaian pria? Seandainya ia mendesain dan memproduksi pakaian pria, dia kan jadi bisa memakai desain-desainnya sendiri, sekaligus mempromosikannya. Bagaimanapun, aku mengakui kalau postur tubuh dan wajahnya sangat cocok untuk menjadi model.

Merasa diperhatikan, pria berjaket Chrome Hearts itu mengangkat wajahnya dari menu dan menatapku. Aku memalingkan mataku, menatap croissant di atas meja dan mulai memakannya kembali.

“Makanan di sini sangat enak dan lengkap.” Soohyuk berkata sambil membolak-balik buku menu.

Aku mengangguk. “Hmmm. Bisa sarapan, brunch, lunch, dan dinner di sini sekaligus, tapi tentunya menu yang disajikan di setiap jam makan berbeda. Anda tidak bisa memesan menu makan malam sepagi ini.”

Soohyuk tertawa pelan. Setelah beberapa saat, akhirnya dia memanggil pelayan untuk memesan sandwich dan espresso.

Hening.

Sepertinya sudah tak aneh lagi bila kami tak saling bicara. Mungkin dia memang sama introvert nya sepertiku. Dan lagi dia suka ketenangan. Aku tidak mau mengganggu ketenangannya, jadi aku memutuskan untuk tidak bertanya di mana ia tinggal selama berada di Seoul. Seulgi bilang, Soo Hyuk lahir dan besar di New York, USA. Ia jarang datang ke Korea. Aku tidak tahu apakah ia punya rumah di sini ataukah hanya menyewa sementara waktu.

“Kau tinggal di daerah sini? Aku sering melihatmu makan di tempat ini.”

Ternyata Soohyuk juga punya pemikiran yang sama denganku.

Aku mengangguk. “Hmm. Aku tinggal di kompleks Gaeul. Anda?”

“Apartemen SM.”

Aaah, pantas saja. Apartemen mewah itu letaknya dekat sekali dengan kompleks rumahku.

Ketika pesanannya datang, Soohyuk makan dengan tenang. Ia makan dengan cepat, sambil sesekali mengetik sesuatu di ponselnya.

“Kau mau jadi asisten ku?” Soohyuk berkata tiba-tiba.

“Ne?” Aku terkejut. Asisten?

“Kemarin Professor Choi memberiku daftar nama rekomendasi beberapa mahasiswa tingkat akhir yang bisa kujadikan asisten selama aku berada di Seoul dan mengajar di universitas. Aku melihat namamu. Jung Soo Jung.”

Mataku masih membelalak, tak percaya. Lee Soo Hyuk menawariku menjadi asisten nya? Wow! Tapi…

“Maaf, tapi aku kurang ahli mendesain pakaian wanita. Aku lebih sering mendesain pakaian pria.”

Soohyuk mengangguk. “Itu bagus.”

“Ne?” Aku tak mengerti. Bagus apanya?

“Aku bisa mengajarimu mengenai desain pakaian wanita, dan kau bisa sharing denganku tentang desain pakaian pria. Lagipula aku bukan membutuhkan asisten untuk mendesain dan membuat pakaian, tapi membantu hal-hal yang lebih teoritis seperti memberikan kuliah umum, workshop, dan seminar.”

Aku terdiam sejenak. Ini kesempatan bagus dan langka. Kapan lagi aku bisa menjadi asisten salah satu desainer terkenal?! Tapi… bila aku menjadi asistennya…itu berarti waktuku untuk mengerjakan tugas akhirku jadi berkurang. Aku jadi harus membagi fokus utamaku.

Sepertinya Soohyuk memahami apa yang sedang kupikirkan. “Aku sengaja meminta Professor Choi merekomendasikan mahasiswa-mahasiswi akhir karena aku yakin pengetahuan mereka jauh lebih banyak, dan aku pun bisa sekalian membantu proyek akhir mereka. Kau akan mendapatkan honor, rekomendasi, dan aku bersedia menjadi sponsor fashion show mu nanti.”

“Berapa…lama aku akan menjadi asisten Anda?”

“Sekitar 4 bulan. Satu bulan untuk kegiatan kampus. Tiga bulan lagi untuk membantuku dan perusahaanku mengikuti festival fashion akhir tahun, dan kegiatan-kegiatan kami lainnya selama aku berada di sini.”

Cukup lama. Tapi tawarannya menggiurkan. Aku akan mendapat uang saku, rekomendasi, dan sponsor. Semua itu akan mempermudah show ku. Tidak bisa dipungkiri, aku memang butuh dana yang sangat banyak untuk menyelenggarakan fashion show ku nanti.

Soohyuk masih menatapku, menunggu jawaban. Akhirnya aku pun berdiri sambil membungkukkan badan. “Terima kasih Lee Soo Hyuk sajangnim atas tawarannya. Aku akan bekerja dengan baik.”

“Kau bisa memanggilku seonbaenim. Tidak perlu terlalu sopan padaku. Aku hanya senior mu yang lebih dulu terjun di dunia fashion.”

“Ah, Ne, seonbaenim.” Aku mengangguk dengan patuh.

“Hmm, oke, kurasa aku telah memilih orang yang tepat. Akan lebih mudah bagimu dalam membantu pekerjaanku karena rumahmu dekat dengan apartemenku.”

“Eh? Anda menerimaku hanya karena alasan itu?”

Soohyuk menggeleng. “Tidak. Aku juga sudah membaca resume mu. Proyek-proyek yang pernah kau lakukan cukup membuatku terkesan. Bila seandainya rumahmu tidak dekat dengan apartemenku pun…aku akan tetap memilihmu.”

Aku hanya bisa tertegun mendengar kata-kata tulus nya. Mendapat pujian dari salah satu desainer populer, meskipun aku tidak mengidolakannya, tapi tetap saja membuatku kehabisan kata-kata.

“Aku…akan berusaha lebih giat lagi, Seonbaenim. Mohon bimbingan Anda.”

“Ne. Senang bisa bekerja sama denganmu, Soo Jung ssi.”

Inilah pertama kalinya aku melihat Lee Soo Hyuk tersenyum.

~~~~~~~~~~ ********** ~~~~~~~~~~~

“KAU MENJADI ASISTEN LEE SOO HYUK?! WOW! SUDAH KUBILANG, PRIA ITU TERTARIK PADAMU! KYAAAAAAAAA! SELAMAT SOO JUNG~AH…, AKU SANGAT BANGGA PADAMU!” Seulgi berseru keras sambil memelukku dengan sangat erat, membuatku sesak napas.

“Yah! Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Dia memilihku karena aku berprestasi.” Aku menyeringai.

Seulgi mendengus kesal. “Ya…ya…, aku lupa kalau otak mu memang jenius. Eh, tapiiiii…..boleh dong kalau aku berharap sahabatku nantinya menjadi pacar idolaku?! Kyaaaaaaaa!”

“Kenapa tidak kau saja yang menjadi pacar nya?”

“Yah! Jangan bodoh! Aku sudah punya Mino. Meskipun aku tergila-gila pada pria tampan, aku tidak mungkin berselingkuh dari Mino!”

“Iya, iya, aku tahu.”

Aku lupa kalau sejak kecil Seulgi cinta mati pada Song Mino. Mereka sudah bersama sejak sekolah dasar sampai sekarang. Mino sekarang kuliah di universitas yang sama dengan kami, hanya saja berbeda jurusan. Ia mengambil kedokteran.

“Sudah saatnya kau merasakan jatuh cinta, Soo Jung ku sayang.” Seulgi mengedipkan matanya genit.

Aku memutar kedua bola mataku. “You wish!”

Mulanya aku membenci pria karena ayahku. Sejak kecil, aku sering melihat ibuku menangis karena ayahku. Mereka sering bertengkar, tapi tidak pernah bercerai karena alasan perusahaan kakek. Ayahku sering gonta-ganti pacar, membawa pacar-pacar nya ke rumah, sampai kemudian ibuku melakukan hal yang sama, dan hingga sekarang mereka tak pernah bicara selain masalah perusahaan.

Aku semakin membenci pria karena mantan kekasih Jessica. Dulu kupikir cinta sejati itu mungkin saja ada. Mungkin ayah dan ibuku salah memilih, terlalu buta karena kekuasaan. Mungkin saja bila setiap orang mau membuka mata hatinya lebar-lebar…maka ia akan menemukan cinta sejatinya.

Ya, dulu kupikir begitu. Tapi ternyata aku salah. Kisah cinta kakakku dan pacarnya yang indah layaknya cerita negeri dongeng … ternyata berakhir tragis. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan pacar kakakku. Bahkan melihat fotonya pun belum pernah. Kakakku selalu bersikeras memaksaku datang ke New York dan bertemu dengan pacarnya (Kakakku tinggal di New York sejak kuliah tingkat 2, mendapat beasiswa pertukaran pelajar), tapi aku tak pernah sekalipun mengunjunginya. Kakakku selalu bercerita bagaimana luar biasanya Lee Hyuk Soo, pacarnya itu. Seperti kisah cinta di drama-drama romantis, mereka bertemu karena takdir, bertabrakkan saat mereka sedang berbelanja di supermarket, tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah satu sama lain sehingga salah mengambil ponsel yang terjatuh di lantai. Ponsel mereka pun tertukar. Selanjutnya sudah bisa ditebak. Mereka jadi sering bertemu setelah mengembalikan ponsel masing-masing.

Love at the first sight. Kupikir dulu cerita kakakku itu sangatlah konyol, klise, tapi romantis.

Mereka berkencan selama hampir 2 tahun. Kakakku pasti selalu menuliskan setiap hal yang mereka lakukan, mengirimkannya lewat e-mail padaku. Aku jadi tahu ke mana saja mereka berkencan, apa yang mereka lakukan, dan bagaimana senangnya perasaan kakakku saat itu. Aku masih menyimpan semuanya di inbox e-mail ku.

Tapi kisah romantis itu berakhir ketika tiba-tiba saja Hyuk Soo memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas.

‘Soo Jung~ah, aku bisa mengerti bila Hyuk Soo Oppa memutuskanku karena ia mencintai wanita lain. Bagaimanapun aku selalu sadar…dia terlalu sempurna untukku. Rasanya tidak masuk akal karena dia bisa mencintaiku selama ini. Tapi dia bilang…, dia tidak mencintai wanita lain. Dia hanya ingin kami putus karena dia harus pergi jauh. Aku bilang padanya…aku akan menunggunya. Dia bilang, dia tidak akan pernah kembali, dan kami tidak akan bisa bertemu lagi. Aku bersikeras bahwa hal itu bukanlah alasan yang masuk akal, karena bagiku…tidak masalah bila ia pergi jauh dan tidak akan pernah kembali ke New York. Aku tetap bisa mencintainya. Aku tahu aku memang bodoh. Tapi kau tahu kan dia satu-satunya pria yang pernah dan akan selalu kucintai seumur hidupku. Aku memintanya menyebutkan alasan lain mengapa aku harus berhenti mencintainya. Kau pasti tidak akan percaya, Hyuk Soo Oppa bilang… selera berpakaianku sangat jelek. Aku kuliah di fashion design, tapi selera berpakaianku sangatlah jelek, lebih jelek darinya yang anak interior design. Alasan konyol dan mengada-ada. Yah… tapi… kata-katanya cukup membuatku sakit hati. Meskipun tidak cukup menjadi alasan bagiku untuk membencinya.’

 

‘Soo Jung~ah, sudah 2 bulan kami berpisah, tapi perasaanku padanya masih tetap sama seperti dulu. Entahlah, tapi aku merasa ada yang aneh. Aku melihatnya! Di New York! Bukan sekali atau dua kali aku melihatnya. Mungkinkah aku berhalusinasi? Atau…mungkin dia berbohong padaku. Dia tidak pernah pindah dari New York? Tapi kenapa dia harus berbohong? Aku sudah memutuskan akan mengikutinya kalau aku bertemu lagi dengannya nanti.’

 

‘Soo Jung~ah, Hyuk Soo Oppa ternyata hanya pindah universitas! Aku berhasil mengikutinya tadi siang. Benar seperti dugaanku, aku akan melihatnya lagi di jalan itu, aku tidak tahu kenapa dia selalu terlihat di daerah itu, mungkin pindah apartemen? Dan aku tidak tahu kenapa dia harus berbohong padaku. Apakah dia punya masalah keluarga yang sangat berat? Ah, sudahlah. Aku akan selalu mengikutinya diam-diam, lalu bertanya padanya secara langsung.’

 

Aku menghela napas panjang. Itulah e-mail terakhir yang ditulis oleh kakakku. Keesokan harinya, keluarga kami mendapat kabar dari kepolisian New York untuk mengambil jenazah kakakku.

Kakakku tertabrak truk besar saat sedang berlari menyebrang jalan. Aku tahu…dia pasti sedang mengejar mantan pacar nya saat itu!

Aku benar-benar marah, sedih, kecewa, dan tak habis pikir…bagaimana mungkin kakakku yang sangat baik hati bisa bernasib seburuk itu?! Dia mengorbankan nyawanya hanya untuk seorang pria yang telah mencampakkannya dengan alasan tak jelas, berbohong padanya, dan tak peduli padanya bahkan setelah kematiannya sekalipun.

Sampai saat ini aku tidak pernah menerima ucapan bela sungkawa, permintaan maaf, apalagi bertatap muka dengan Lee Hyuk Soo – si bajingan sialan yang menjadi alasan kematian kakakku.

Kedua pria itu cukup membuatku memiliki alasan mengapa aku alergi terhadap pria. Tidak semua pria, tapi hanya pada pria-pria yang menunjukkan ketertarikannya padaku. Aku tidak ingin bernasib sama seperti ibuku, maupun mendiang kakakku. Lebih baik aku tidak pernah jatuh cinta. Lebih baik aku hidup sendirian selamanya.

Saat ini aku cukup yakin bahwa hatiku tidak akan pernah goyah, untuk alasan apapun, terhadap pria manapun.

Aku lupa bahwa hati manusia sangatlah rapuh.

~~~~~~~ ********** ~~~~~~

Ternyata menjadi asisten desainer terkenal itu merepotkan juga, yah.. tapi cukup menyenangkan. Aku jadi bisa belajar banyak hal.

Salah satu hal yang paling merepotkan adalah bagaimana mengatasi gangguan para fans – terutama para fans fanatik Lee Soo Hyuk. Aku jadi sedikit mensyukuri hidupku, setidaknya tidak ada fans-fans yang mengikutiku sepanjang hari.

Lee Soo Hyuk ternyata sangat pandai berbicara di depan publik, terlepas dari sifat introvert nya. Kuliah umum bersamanya selalu terasa menyenangkan. Semua mahasiswa pasti akan setuju dan senang seandainya saja Lee Soo Hyuk menjadi dosen tetap di universitas Seoul dan bukannya hanya menjadi dosen tamu.

“Aku tidak berbakat menjadi guru / dosen. Aku juga tidak ingin orang lain mengikuti ajaran sesat dariku.”

Aku hanya bisa melongo dengan bodoh mendengar jawabannya saat itu, ketika aku bertanya padanya di studio pribadinya mengapa ia tidak sekalian saja menjadi dosen, selain pengusaha dan desainer pakaian tentu saja. Pria berkulit porselen itu sepertinya bercanda, tapi mengatakan candaannya dengan wajah datar seolah-olah hal yang dikatakannya itu serius membuatku tidak tahu apakah aku harus tertawa atau tidak.

Aku cukup sering datang ke studio pribadinya yang terletak di dalam apartemen mewah nya. Selain karena lokasi nya sangat dekat dengan rumahku, Soo Hyuk juga punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan bersama-sama dengannya. Sebagai asisten, tentu saja pekerjaanku adalah meringankan pekerjaannya, tapi ia tak bisa melepasku begitu saja. Sepertinya ia masih belum percaya 100% padaku dan kemampuanku. Aku tidak menyalahkannya. Aku kan belum professional.

“Seonbaenim, kenapa kau tidak membawa asisten mu ke Korea?” tanyaku suatu hari, ketika aku sudah kehabisan kesabaran. Lee Soo Hyuk ternyata sangat perfeksionis. Sudah berulangkali aku mengganti tampilan slide power point untuknya mengajar esok hari.

“Aku tidak punya asisten.” Seperti biasa, Soo Hyuk akan selalu menjawab pertanyaan dengan cool, membuatku mati kutu.

“Tidak? Tidak pernah?”

“Hmmm.”

“Lalu…kenapa sekarang kau punya?”

“Karena aku punya pekerjaan tambahan di sini. Selama di New York, aku tidak pernah mengajar.”

Oke. Final. Aku pun menutup mulutku. Aku tak pernah bisa menang berdebat dengannya.

Aku jadi jarang bertemu dengan Seulgi. Tugas akhir kuliah, ditambah pekerjaan sampingan sebagai asisten Soo Hyuk yang ternyata lebih banyak menyita waktuku membuatku tidak bisa bersosialisasi. Bukan berarti sebelumnya aku termasuk sosialita atau apa, hanya saja…aku jadi jarang berinteraksi secara langsung dengan Seulgi. Biasanya, minimal seminggu sekali kami akan “berkencan”, khusus kami berdua. Nonton, makan, shopping, ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu bersama di apartemen Seulgi sambil bergossip – lebih tepatnya aku jadi pendengar gossip.

“Kau tidak pernah mingle.”

Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Setelah menghabiskan waktu bersama selama hampir 20 hari, tentu saja Soo Hyuk tahu betapa buruknya kehidupan sosialku. Bisa dibilang…aku tak punya teman selain Seulgi. Well, banyak orang yang menjadi “teman” ketika berhadapan muka denganku, tapi berubah menjadi “musuh” di belakangku. Terutama semenjak aku menjadi asisten Soo Hyuk, musuhku jadi bertambah banyak.

“Aku tidak suka mingle. Aku bukan socialite girl.”

“Hmm.” Soo Hyuk mengangguk, kemudian kembali asyik melukis di kanvas. Mungkin tidak banyak yang tahu sebenarnya Lee Soo Hyuk sangat berjiwa artistik. Dia benar-benar artist sejati. Tidak hanya pandai merancang pakaian dan aksesoris, namun juga sangat pandai melukis, mendesain peralatan rumah, bahkan mendesain bangunan. Pertama kali memasuki apartemen dan studio pribadinya…. aku terkagum-kagum melihat interior dan perabotan rumah yang semuanya adalah hasil desain Soo Hyuk.

Aku membantu Soo Hyuk menyiapkan presentasi kuliah umum nya, seperti biasa. Terkadang ia mengomentari ini itu, tapi lebih banyak membiarkanku mengerjakan sendiri, sementara ia asyik melukis. Sedikit demi sedikit sepertinya ia mulai mempercayaiku.

“Ada salah satu mahasiswi yang memberiku undangan pesta.” Soo Hyuk berkata sambil lalu. Matanya masih tetap terfokus pada kanvas putih besar di hadapannya yang kini sudah dipenuhi berbagai macam pola warna-warni. Tangannya meliuk-liuk dengan lincah, menyapukan kuas.

“Kau mau datang, seonbaenim?” tanyaku sambil mengetik di laptop nya.

“Kau mau datang?” Soo Hyuk malah balik bertanya.

Aku tertawa pelan. “Sejak kapan aku tertarik dengan kehidupan sosialku? Tidak. Aku tidak pernah datang ke pesta-pesta seperti itu. Bahkan sekalipun Seulgi memaksaku. Kau datang saja kalau mau seonbaenim. Sepertinya teman-teman sekelasku ingin kau datang.”

Soo Hyuk menyeringai. “Aku tidak akan datang kalau kau tidak datang.”

Aku memutar kedua bola mataku sambil tertawa. “Oh tentu saja, kau tidak mau pergi tanpa pengawalmu.”

Soo Hyuk ikut tertawa. Kali ini mengalihkan pandangannya dari kanvas dan sebagai gantinya….kedua matanya yang tajam itu menatapku. Aku selalu suka melihat kerutan di ujung-ujung matanya ketika ia tertawa, dan bagaimana matanya terlihat bercahaya dan membentuk seperti bulan sabit.

“Kau harus lebih sering tersenyum dan tertawa seperti ini, Seonbaenim.”

Soo Hyuk menyeringai. “Lihat – lihat, orang yang tidak pernah tersenyum kini menasehatiku untuk tersenyum.”

“Siapa bilang tidak pernah?! Hanya jarang.” Aku berkelit sambil membelalakkan mataku.

Soo Hyuk mengangkat kedua kuas di tangannya, meletakkannya di sisi-sisi atas kepalanya, seolah-olah kuas-kuas itu menjadi tanduk. “Aku melihat tandukmu, seperti ini.”

Aku tertawa. Soo Hyuk menurunkan kuasnya dan kembali melukis. Dia bisa menggunakan kedua tangannya, meskipun sebenarnya dia left-handed. “Kau juga harus lebih sering tertawa, Soo Jung~ah.” Suara Soo Hyuk terdengar lebih husky dan lebih bersungguh-sungguh dari sebelumnya. “Setiap orang akan terlihat lebih cantik bila tersenyum ataupun tertawa.”

Aku tidak mengatakan apapun. Hanya memandanginya. Aku tidak tahu harus bilang apa.

“Tapi aku tidak begitu suka tersenyum karena aku sudah terlalu cantik. Benar kan?” Soo Hyuk nyengir. Aku pun tertawa. Dasar!

Kurasa aku beruntung bisa mengenal Lee Soo Hyuk dan menghabiskan waktu bersamanya. Lee Soo Hyuk benar-benar orang yang penuh kejutan dan tidak bisa ditebak. Siapa coba yang mengira pria berwajah es ini ternyata bisa melucu?!

~~~~~~~~ ********* ~~~~~~~

“Apa yang paling menginspirasimu dalam mendesain pakaian?” Tanya Soo Hyuk suatu siang, ketika kami makan siang bersama di rumah makan favorit dekat tempat tinggal kami. Makan bersamanya jauh lebih menyenangkan daripada makan sendiri, apalagi makan bersama dengan ayah ataupun ibuku.

“Hmmm, entahlah. Tidak pernah tetap. Terkadang…suara gemericik air hujan, atau musik yang bagus, tapi lebih sering karena suasana hati yang bagus. Aku tidak punya inspirasi yang benar-benar menginspirasiku. Terkadang aku membayangkan sebuah desain ketika aku menatap orang lain. Perasaan seperti… aaah seharusnya orang ini memakai pakaian seperti ini, seperti ini, dan seperti ini, maka ia akan terlihat lebih menonjol dan tampan.”

Soo Hyuk tersenyum. “Hmmm. Kalau begitu…apakah kau bisa membayangkan pakaian seperti apa yang akan membuatku terlihat menonjol dan tampan?”

Aku tertawa pelan. “Kau bagus mengenakan pakaian apapun, seonbaenim.”

Soo Hyuk nyengir lebar. Sepertinya merasa puas dengan jawabanku.

“Bagaimana kalau kau membuatkan sebuah desain untukku? Aku berjanji akan menjadi model mu nanti.”

Mulutku membuka lebar se-lebar lebarnya seperti orang idiot. “Sungguh?”

Soo Hyuk mengangguk. “Ya.”

“Oke! Aku akan membuatkan banyak desain pakaian untukmu, agar kau banyak tampil memeragakannya di fashion show ku nanti. Aaah, pasti dosen-dosen pengujiku tidak akan bisa berkutik seandainya saja desain ku jelek, karena kau yang memakainya…pasti akan terlihat bagus. Dan tolong…nanti jangan membandingkan desain ku dengan Armani yang kau kenakan saat ini, Seonbaenim.”

“Desain mu bagus. Aku suka.” Soo Hyuk berkata dengan simple. Aku nyengir lebar, senang karena sepertinya ia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya barusan, bukan hanya untuk membesarkan hatiku.

“Hal paling aneh apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Soo Hyuk sambil memotong steak nya.

Aku tertawa. “Aku sedang jadi tersangka, ya? Sejak tadi kau terus menginterogasiku.”

Soo Hyuk mengangkat bahu. “Kau sudah tahu banyak hal tentangku dari buku biografi ku, ditambah dengan mengamatiku saat berada di studio, tapi aku tidak tahu banyak hal tentangmu. Aku bahkan tidak tahu berapa nomor rumahmu.” Soo Hyuk nyengir boyish. Rasanya ia jadi tidak terlihat seperti pria yang lebih tua 6 tahun dariku, tapi 6 tahun lebih muda dariku!

“Aku berani menjamin kau tidak akan betah bertamu ke rumahku. Ayah dan ibuku…tidak pernah akur. Kurasa aku akan pindah rumah setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan nanti.”

Selama beberapa saat, Soo Hyuk hanya menatapku dengan jenis tatapan yang membuatku jengah. Tapi sedetik kemudian ia kembali bertanya ulang mengenai hal aneh apa yang ingin kulakukan.

“Hmmm…, hal aneh? Bukankah aku sudah cukup aneh tanpa harus melakukan hal yang aneh-aneh?”

Soo Hyuk tertawa. Suara tawanya sangat enak didengar. “Benar!”

Aku mendelik kesal sambil mendecakkan lidah. “Aneh…paling aneh…., sepertinya…berdansa di tengah hujan?”

“Aku tidak menyangka ternyata kau suka hal-hal yang romantis.” Soo Hyuk menggodaku dengan lirikan mata jahil.

“Tsk! Justru karena aku tidak suka, maka hal itu bisa dibilang aneh. Kakakku pernah berkata…berdansa di tengah hujan sangatlah menyenangkan.”

Selama beberapa detik, pandangan mata Soo Hyuk terlihat kosong, seolah jiwa nya entah berada di mana.

“Seobaenim, kau pernah berdansa di tengah hujan?”

Kata-kataku menariknya kembali ke masa kini.

Soo Hyuk menggeleng. “Tidak, tapi aku pernah melihat seseorang berdansa di bawah hujan deras. Kau harus mencobanya, Soo Jung~ah.”

Aku tertawa sambil menggeleng. “Aku tidak bisa berdansa.”

“Aku akan mengajarimu.”

“Jangan bercanda!”

“Aku serius. Lihat saja saat hujan nanti. Aku akan mengajarimu berdansa di bawah derasnya hujan.”

Lee Soo Hyuk terlihat serius dengan perkataannya, tapi aku hanya tertawa. Mana mungkin dia serius, kan?

~~~~~~ ******** ~~~~~~

Kurasa aku sudah terbiasa dengan kebiasaan menyetir Soo Hyuk yang payah. “Ya ampuun, bahkan siput pun berjalan lebih cepat dari ini!” Aku pernah mengejeknya seperti itu, tapi Soo Hyuk tidak peduli. Dia sering terlihat tegang ketika menyetir, dan menyetirnya lambat sekali. Aku tidak heran mengapa ia lebih senang naik taxi daripada mengemudi sendiri.

Biasanya, bila Soo Hyuk ingin membawa mobilnya ke kampus, ke galeri, ataupun ke rapat-rapat penting dengan berbagai perusahaan dan yayasan, aku menawarkan diri untuk menyetir. Soo Hyuk tidak menolak, tentu saja. Aku lebih efisien dalam hal waktu.

Tapi tidak kali ini. Soo Hyuk bersikeras untuk menyetir sendiri. Alasannya sangat konyol. “Aku tidak mau reputasiku berantakkan karena asisten-ku, perempuan, jauh lebih muda dariku – menyetir untukku.”

“Rasis!” Aku mendengus. “Hey! Reputasimu tidak akan hancur hanya gara-gara hal sepele seperti itu, soenbaenim!”

“Aku jadi terlihat kurang gentleman.”

Lagi-lagi aku dibuatnya tertawa. Dasar konyol!

Aku mengangguk. “Oke. Tenang saja. Kita masih punya waktu satu jam sebelum pesta perpisahan dimulai.”

Malam ini kami akan menghadiri pesta perpisahan Lee Soo Hyuk dengan universitas Seoul. Sebenarnya bukan benar-benar perpisahan, karena nanti pun Soo Hyuk akan cukup sering berkunjung ke kampus, terutama saat ujian sidang dan fashion show ku. Tapi, pesta ini diadakan karena Soo Hyuk sudah melaksanakan permintaan ketua jurusan untuk memberikan kuliah umum selama satu bulan, setiap tiga kali dalam seminggu. Mulai hari ini ia tidak akan mengajar lagi di kampusku.

Aku mengamati sosok nya yang terkena sinar lampu dari jalanan, menghasilkan efek dramatis dan misterius. Bahkan dalam keadaan remang-remang pun wajahnya tetap terlihat sangat tampan.

Aku tersenyum puas melihat penampilannya malam ini. Aku membantunya memilih pakaian untuk ia kenakan ke pesta. Bukan berarti taste fashion ku lebih baik darinya, hanya….bangga saja rasanya ketika ia mempercayai pilihanku. Lebih tepatnya mungkin adalah “terpaksa” mempercayai pilihanku!

Semua ini bermula ketika Soo Hyuk memberiku hadiah : gaun merah muda se-lutut super cantik hasil rancangannya! Awalnya aku menolaknya. Gaun itu terlalu indah, dan terlalu mustahil untuk kukenakan. Sama sekali bukan gaya ku! Aku tidak pernah terlihat terlalu girly sekaligus sexy seperti ini sebelumnya! Aku lebih suka bergaya elegan dan simple. Tapi Soo Hyuk bersikeras bahwa gaun itu akan sangat cocok kukenakan. Dia berkata…mungkin aku tidak menyadarinya, tapi di mata orang lain…aku ini girly dan sexy. Saat itu aku hanya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku akhirnya setuju untuk menerima gaun mahal dan cantik itu, dan kukenakan malam ini karena Soo Hyuk berjanji akan membiarkanku memilihkan pakaian untuknya. Aku tidak membeli pakaian-pakaian itu, tentu saja Soo Hyuk yang membelinya. Aku hanya perlu memadu padankan koleksi pakaiannya, ataupun membeli satu set suit lengkap yang baru. Aku memutuskan untuk memilih suit Armani. Soo Hyuk selalu suka Armani. Kebetulan juga Armani meluncurkan koleksi terbaru F/W suit nya. Untuk sepatu…, aku memilih Lanvin. Soo Hyuk harus mau memakai sepatu pilihanku juga karena ternyata tadi pagi ia memberikanku high heels  Clair de Lune rancangannya. Win-Win situation kan?!

“Kau terlihat cool sekali seonbaenim! Pilihanku memang tak pernah salah!”

Soo Hyuk menyeringai. “Gomawooooooooooooo….”

Aku ikut tertawa mendengar nada childish dan penuh aegyo nya. Sudah kubilang sebelumnya, Lee Soo Hyuk adalah orang yang penuh kejutan.

“Kau harus berhenti memanggilku seonbaenim, Soo Jung~ah. Aku tidak akan mengajar di kampusmu lagi. Panggil aku Oppa.”

“Apa? Oppa? Hahahaha.., aku tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan Oppa.”

Soo Hyuk mengangkat sebelah alis matanya, tak percaya. “Sungguh?”

Aku mengangguk. “Hmmm. Aku memanggil senior cowok di kampus dengan sebutan seonbaenim.”

“Kalau selain senior? Tetangga misalnya?”

“Ahjusshi. Haruskah aku memanggilmu Soo Hyuk ahjussi?”

“YAH! Aku tidak setua itu! Tsk!”

Aku hanya terbahak-bahak mendengar keluhannya. “Kalau aku memanggilmu Oppa, apakah kau akan memberiku bonus alias insentif, Bos?”

“Tsk! Sudah kuduga.”

Kami pun tertawa. Perjalanan yang lambat menuju gymnasium universitas Seoul pun jadi terasa cepat karena obrolan-obrolan konyol kami.

~~~~~~~~ ********* ~~~~~~~

Dua minggu sudah berlalu sejak pesta perpisahan yang meriah itu. Sudah bisa dipastikan, malam itu Lee Soo Hyuk lah bintangnya. Aku berada jauh-jauh darinya agar tidak terkena cakaran para fans nya yang ganas.

Sudah hampir dua minggu aku banyak terlibat dalam berbagai meeting bersama para relasi Clair De Lune. Soo Hyuk juga sering mengajakku ke galeri cabang Clair de Lune di Incheon. Tapi kali ini aku lebih banyak memiliki waktu untuk diriku sendiri, tidak se-sibuk saat aku harus membantunya mempersiapkan presentasi kuliah.

Seulgi sering menggodaku karena kini aku memanggil Soo Hyuk “Oppa”. Dan ternyata hal ini tidak baik bagiku. Karena terlalu terbiasa memanggilnya Oppa, banyak orang lain yang sering salah mengartikan hubungan kami berdua, termasuk Irene dan Hong Jong Hyun. Mereka berdua baru tiba di Korea lima hari yang lalu. Jong Hyun adalah sahabat sekaligus rekan bisnis Soo Hyuk di Clair de Lune. Jong Hyun pandai dalam hal manajemen dan pemasaran. Sementara itu Irene adalah teman sekaligus model utama Clair de Lune. Mereka berdua sama-sama satu tahun lebih muda dari Soo Hyuk, dan sama-sama harus terbang ke Korea untuk mempersiapkan salah satu pameran Clair de Lune di Seoul 3 minggu yang akan datang.

Irene sangat cantik. Terlalu cantik hingga terasa mengintimidasi. Siapapun yang berada di dekatnya pasti akan merasa minder.

Irene sangat memesona memakai semua rancangan Soo Hyuk. Benar-benar merepresentasikan nama brand nya, Clair de Lune, yang berarti Moonlight, sinar rembulan. Irene terlihat seperti seorang putri bulan.

Awalnya aku mengira Irene adalah mantan pacar Soo Hyuk saking terlalu pas nya ia mengenakan semua rancangannya seolah-olah rancangan-rancangan pakaian dan aksesoris Clair de Lune memang diperuntukkan bagi Irene, tapi kemudian aku ingat apa yang pernah dikatakan Seulgi, katanya mantan pacar Soo Hyuk tidak pernah memakai baju-baju rancangan Soo Hyuk. Jadi tidak mungkin Irene adalah mantannya!

Aku mendapat firasat sepertinya Irene menyukai Soo Hyuk. Terlihat dari sikap bermusuhannya padaku setiap kali Soo Hyuk berada di dekatku. Dia juga memanggil Soo Hyuk dengan sebutan “Oppa”, dan untuk alasan yang tidak pasti…rasanya aku ingin muntah tiap kali mendengarnya memanggil “Oppa…Oppa…, Soo Hyuk Oppa.”

“Kau cemburu?” Jong Hyun seringkali menggodaku seperti ini di saat aku memutar kedua bola mataku dengan sebal melihat tingkah sok princess Irene.

Hong Jong Hyun sangatlah supel. Ia mudah akrab dengan siapa saja, termasuk aku si loner, introvert, dan si jutek ini. Jong Hyun banyak bicara dan lucu. Dia juga sangat baik seperti angel. “Aku angel, dan Soo Hyuk hyung devil.” Jong Hyun sering memberitahuku rahasia-rahasia konyol Soo Hyuk seperti misalnya : Soo Hyuk takut menyentuh ikan ataupun binatang laut lainnya saat melakukan scuba diving. Benar- benar konyol! Devil yang konyol! Sang devil ternyata tidak se-menyeramkan yang orang lain kira. Ia tidak se-perfect itu.

Jong Hyun pernah berkata padaku, Soo Hyuk sengaja bersikap dingin untuk melindungi dirinya sendiri. “Kalau kau bisa menyentuh hatinya…ia sangatlah fragile. Aku tidak tahu apakah luka nya masih dalam atau tidak, tapi pastilah bekasnya tak mungkin hilang.”

“Kau bisa berkata puitis juga, Jong Hyun ahjussi?!” ledekku.

“YAH! Aku serius! Dan jangan panggil aku ahjussi!”

“Ahjussi…ahjussi… Hong Jong Hyun ahjussi…” Aku pun segera berlari menjauhinya.

“YAH! JUNG SOO JUNG! Awas kau ya! Akan kupatahkan kakimu! Kemari!”

Membuat Hong Jong Hyun kesal ternyata sangat menyenangkan. Angel sebenarnya adalah devil, dan devil sebenarnya adalah angel. Semua itu hanyalah masalah persona.

~~~~~~~~ ******* ~~~~~~

Sore itu, aku benar-benar terkejut ketika aku sedang menggambar sketsa coat, trouser, dan sweater untuk tugas akhirku (Soo Hyuk sudah berjanji akan mengenakkannya dan menjadi modelku) tiba-tiba saja ia menarik tanganku, berlari keluar dari apartemennya.

“Sekarang hujan.” Soo Hyuk tersenyum lebar.

“YAH! Kenapa kita hujan-hujanan?!”

“Sekarang hujan.” Soo Hyuk mengulangi kata-katanya. Masih tersenyum lebar. Matanya berkilat-kilat senang.

“Duh! Aku tahu. Ayo masuk, Oppa! Kau tidak ingin sakit kan?” Aku menarik tangannya, tapi ia lebih kuat dariku. Ia menahan pergelangan tanganku.

“Kau ingat apa yang kukatakan waktu itu?”

Aku menggigil kedigininan. Hujan deras membasahi sekujur tubuh kami. “Apa?”

Aku benar-benar bingung. Sebenarnya kenapa dia membawaku hujan-hujanan?

Aku terkesiap ketika Soo Hyuk menarik tubuhku ke tubuhnya, memeluk pinggangku dengan sebelah lengannya, sementara lengannya yang satu lagi menggenggam tanganku terentang ke atas membentuk sudut lancip. Perlahan ia menggerakkan badan kami ke kanan dan kiri.

Aku ingat! Dance di bawah hujan!

“Aku sudah berjanji akan mengajarimu dance di bawah hujan.”

Aku tertawa. “Kau tidak berjanji mengajakku berdansa waltz.”

“Aku hanya tahu waltz.” Soo Hyuk menyeringai, menyombongkan diri.

Aku menendang lututnya pelan, dan kami pun tertawa.

Entah sudah berapa lama kami berdansa di bawah derasnya air hujan. Sekujur tubuh kami benar-benar basah kuyup. Seharusnya aku merasa kedinginan, tapi nyatanya…aku merasa hangat. Dekapan Soo Hyuk terasa hangat dan menenangkan.

Tiba-tiba saja sebuah ide gila terlintas di benakku. Mungkin… bila pria itu adalah Lee Soo Hyuk… mungkin aku bisa mempercayainya. Mempercayakan hatiku padanya.

~~~~~~ ******* ~~~~~~~

Benar-benar hectic. Kurang dari satu minggu lagi pameran galeri Clair de Lune akan diselenggarakan, setiap hari dipenuhi meeting dengan berbagai sponsor. Dan aku pun bukan hanya harus memikirkan pekerjaan sampingan sebagai asisten Soo Hyuk, tapi mulai merealisasikan tugas akhirku. Dosen pembimbingku sudah mulai bertanya wujud nyata desain-desain pakaian untuk tugas akhirku nanti. Tapi nyatanya….hanya sweater saja yang baru selesai kubuat. Sebelum menunjukkannya pada dosen-ku, aku ingin memperlihatkannya lebih dulu pada Soo Hyuk. Aku ingin mendegar komentarnya. Bukan! Aku lebih ingin mendengar pujiannya. Aku benar-benar nervous dan kacau akhir-akhir ini. Jong Hyun bilang…aku perlu liburan. Mana mungkin aku liburan! Tidurku saja tidak akan pernah bisa tenang sebelum aku menjalani sidang, fashion show, dan kemudian dinyatakan  lulus!

“Soo Hyuk Oppa, aku sudah menitipkan sweater nya pada Jong Hyun. Kau bisa memberiku komentar nanti malam.” Aku berbicara lewat telepon. Soo Hyuk dan Jong Hyun harus menghadiri meeting penting satu jam lagi, sementara itu aku membantu Irene di studio Clair de Lune di Incheon. Sudah dua hari aku tidak bertemu langsung dengan Soo Hyuk. Dia benar-benar sibuk.

Setelah aku memutuskan sambungan telepon, Irene menyentuh pundakku. “Hyuk Soo Oppa akan datang kemari tidak nanti sore?”

Aku menggeleng. “Tidak tahu.”

Irene terlihat kecewa. Selama beberapa detik aku terdiam. Rasanya ada yang janggal.

“Irene eonni, tadi kau bilang apa? Kau bilang Soo Hyuk kan?”

Irene mengangguk sambil menatapku seolah aku sudah kehilangan akal sehat. “Tentu. Siapa lagi?”

Aku menggeleng. “Aku yakin tadi kau tidak berkata Soo Hyuk. Tapi…”

“Hyuk Soo. Ya, kenapa? Kau tidak tahu? Hyuk Soo itu nama aslinya.”

“Apa?”

“Nama aslinya, namanya sejak lahir sebenarnya adalah Lee Hyuk Soo, tapi dia mengganti namanya semenjak 5 tahun yang lalu menjadi Lee Soo Hyuk.”

Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak, seolah ada beban berat yang menghimpit dan menekanku kuat-kuat.

Lee Soo Hyuk…. Lee Hyuk Soo….. 5 tahun lalu…. New York…..

Aku menggelengkan kepalaku. Tidak! Tidak mungkin.

Ponselku berdering. Aku mengabaikannya.

“YAH! Ponselmu berdering terus!” Irene berkata ketus. “Oh, Jong Hyun!” Ia melihat nama yang tertera di layar ponselku, menekan tombol jawab, lalu menyerahkannya padaku.

“Hallo…” aku berkata pelan. Otak ku masih sibuk berpikir, mengira-ngira, menghubungkan, dan menyangkal kemungkinan-kemungkinan keterkaitan antara Soo Hyuk Oppa dengan mantan pacar kakakku yang brengsek. Sadarlah Soo Jung! Ada ratusan orang bernama Lee Hyuk Soo di luar sana. Soo Hyuk Oppa pasti punya alasan mengapa ia mengubah namanya dari Hyuk Soo menjadi Soo Hyuk.

“Soo Jung, sebenarnya kau memberikan apa pada Soo Hyuk hyung? Dia terlihat aneh setelah melihat isi kotak itu.”

Aku mengerutkan kening. “Sweater rancanganku. Apakah dia tidak suka?”

“Tunggu, dia pergi entah ke mana barusan. Raut wajahnya terlihat aneh. Mungkin ada masalah dengan client atau sponsor. Hmmmm…, coba lihat. Sweater ini bagus menurutku. Oh! Cryssica? Itu nama label mu?”

Aku mengangguk. “Hmmm, brand ku. Sebenarnya itu singkatan nama Inggris kakakku dan aku. Crys untuk Krystal, aku. Sica untuk Jessica, mendiang kakakku.”

“APA? JESSICA? KAU ADIKNYA JESSICA? JUNG SOO YEON?”

“Kau…mengenal kakakku?”

Aku mendengar hembusan napas berat Jong Hyun. “Ya Tuhaaaan…., Soo Jung, seharusnya kalian saling mengetahui identitas kalian lebih jauh sebelum semua ini terjadi…., kau…dan juga Soo Hyuk hyung.”

“Apa….maksudmu?”

Aku takut mendengar jawabannya.

“Aku bisa merasakannya, kau… dan Soo Hyuk hyung saling menyukai. Ya Tuhan…, aku sangat senang Soo Hyuk hyung bisa menyukai lagi wanita setelah sekian lama menyendiri. Tapi…, ini rumit. Kau berhubungan dengan masa lalunya. Kau adik Jessica nuna.”

Tanpa kusadari, air mataku mengalir. Irene menatapku dengan bingung. “Jonghyun membuatmu menangis?”

Aku menggeleng. Air mataku terus saja mengalir. “Jadi…, dia Lee Hyuk Soo? Mantan pacar kakakku? Orang yang membuat kakakku meninggal?”

“Soo Jung~ah.., dengar, semua ini bukan salah…”

Aku memutuskan sambungan telepon sebelum Jonghyun selesai bicara, berjongkok di lantai sambil membenamkan wajah di balik kedua lenganku. Air mataku tak mau berhenti.

Apa yang harus kulakukan?

~TBC~

A/N : Niatnya pengen bikin oneshot, tapi ternyata kepanjangan dan gw pun merasa asyik nulisnya. Yah…, mungkin jadinya bakal 2 atau 3 chapters.

Gw sebenarnya nggak nge-ship Krystal-Soo Hyuk sih, tapi yah…gw memang nge-ship siapa aja sama Krystal. She is so shippable! LOL. Dan berhubung gw lagi kembali mengagumi Lee Soo Hyuk (efek akting dia di Scholar Who Walks the Night) jadi pengen aja bikin FF dia sebagai main cast nya. Hehehe.

Lagu-lagu yang didengar + memberikan inspirasi selama menulis cerita ini. Anggap aja jadi OST cerita ini. Hahaha. =)  :

Lana Del Rey – “Young and Beautiful”

Evanescence – “Missing”

Far East Movement – “Rocketeer”

Blackstreet – “In A Rush”

Miguel – “Arch & Point”

Pharrell Williams (feat Pusha T) – “Stay With Me”

BigBang – “Let’s Not Fall in Love”

Yook Sung Jae BTOB – “Stop to Love Again”

~ Azumi ~

5 thoughts on “When I See You Smile (Chapter 1)

  1. Wah ada ff Soo Jung lagi, Soo Jung dicouple’in sm sapa aja cocok tapi paling suka sama Minhyuk🙂
    Udah curiga sama Soo Hyuk kok namanya kebalikan sama mantannya Jessica, eh taunya orang sama. Bacanya jd ngayal kaya nonton My Lovely Girl
    Udah ada Jong Hyun kalo ditambah Woobin sama Sung Joon jd cameo gak kebayang itu mas-mas model ngumpul jadi satu.
    Next chapter jangan lama-lama eonn sekalian ff Type B Love dan Powerless jangan lupa dilanjuti
    FIGHTING🙂

  2. Ahhh… akhirnya krystal yg jd cast nya… yahhhh wlw pun krystal lbh cocok ma minhyuk (itu mnurut ku loh ea 😜)…
    Tapi aku suka ma jln ceritanya bgus dan bikin pnasaran.. sbenarnya apa yg trjadi ma jesica, dan knp hyuk soo tiba” mutusinn jesica…???
    Trus gmn nsb kristalll???…..
    Huaaaaa…..!!!!!! Penasaran… penasaran… penasaran….

    #oh yah azumi ff give heart bkalan d lnjutin kan??

  3. Huaaaaaa penasaraannn
    Udah rada ketebak sih, tapi entah mengapa bacanya sedih (?) Harusnya ada perasaan sedihnya gak sih? Wkwk
    Penasaran kelanjutannyaaa omg
    Keep writing thor!! Fighting! ^^

  4. ceritanya seru bangeeeet dan dunia fashionnya ngena🙂 Soojung emang kece di pasangin sama siapa aja. penasaran lanjutannya. fast update and keep writing author🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s