A Journey to Your Heart

Title                     : A Journey to Your Heart

Author                 : Azumi Aozora

Main Casts           : Lee Hi / Lee Hayi (YG solo singer), B.I / Kim Han Bin (iKON), G-Dragon / Kwon Ji Yong (Bigbang), Oh Sehun (EXO)

Support Cast       : Go Jun Hoe (iKON), Bobby / Kim Ji Won (iKON), Nam Taehyun (WINNER), and other iKON, WINNER, EXO, Bigbang members

Genre                   : romance, friendship, AU, melodrama, action

Rating                  : PG+15

Length                 : Oneshot

Summary             : Mereka bertanya… mengapa aku bisa jatuh cinta pada seorang good guy? Nerdy guy, mereka bilang. Mungkin alasannya adalah karena sepanjang hidupku… aku selalu dikelilingi oleh bad guys. Aku terlahir sebagai putri tunggal klan mafia “the Dragon”. Hidup di lingkungan underground selama 17 tahun membuatku mendambakan kehidupan normal, sebuah kehidupan dimana aku tidak perlu mengkhawatirkan akan kehilangan nyawaku setiap detik, kehidupan dimana aku bisa bepergian seorang diri dengan bebas tanpa perlu didampingi “pengawal”. Mereka bertanya… apa definisiku akan seorang good guy? Apakah seorang good guy adalah pria yang terlihat baik-baik dari luar, tampan, rapi, pintar, tidak pernah berkelahi, tidak pernah terlibat dalam penjualan narkoba, dan memiliki kehidupan yang normal tanpa perlu berurusan dengan dunia underground? Ataukah seorang good guy adalah pria yang selalu ada untukku, menjagaku, menyayangiku, mencintaiku, rela berkorban apapun demi diriku, meskipun kehidupannya tidaklah normal, meskipun dia adalah kandidat pewaris klan mafia the Dragon, keluarga yang kubenci, kehidupan yang selalu ingin kutinggalkan? Mereka bertanya lagi… mengapa aku tidak bisa melihat hati seorang good guy yang tersembunyi di balik sosok seorang bad guy? Mengapa aku terpedaya oleh penampilan seorang bad guy yang terlihat seperti seorang good guy?

=================

PicsArt_1439029432220

“Berhenti mengikutiku, Go Jun Hoe!” Aku berbisik dengan nada tajam dan kesal kepada seorang pria bertubuh tinggi, memiliki alis mata tebal, dan memiliki ekspresi menyeramkan yang sejak tadi terus mengikutiku secara terang-terangan.

Pria itu menatapku bosan. “Kalau begitu berhentilah bersekolah di sini agar aku tidak perlu mengikutimu kemari! Cih! Panas sekali di sini. Tidak nyaman. Kenapa sekolah ini tidak memiliki lift?! Capek sekali harus naik tangga sampai lantai 4. Apakah di kelasnya ada pendingin ruangan?”

Aku hanya memutar kedua bola mataku ketika pria bernama Go Jun Hoe itu terus mengomel sepanjang perjalanan kami di koridor sekolah baruku. Sudah satu minggu aku bersekolah di sini. Sekolah biasa. Sekolah normal. Selama 17 tahun hidupku, inilah pertama kalinya aku merasakan “kehidupan normal” seperti gadis lainnya. Sepanjang hidupku, aku bersekolah di sekolah elite kalangan underground. Aku tidak diperbolehkan “keluar” dari lingkaran mereka.

Kini, setelah kejadian “itu”, ayahku mengizinkanku merasakan kehidupan normal seperti yang selalu kudambakan selama ini, tapi mengapa ayahku masih meminta Junhoe mengikutiku?! Diantara semua pengawalku, Junhoe yang terburuk! Dia bawel, mengesalkan, dan aku tidak pernah bisa mengelabuinya.

“Ada Taehyun dan Bobby. Mereka sudah cukup. Aku tidak perlu kau, Junhoe!” aku menggertakkan gigiku. Mataku menatap lurus ke depan, mencoba berpura-pura untuk tidak menampakkan interaksi sekecil apapun dengan Junhoe. Dibanding Taehyun dan Bobby, Junhoe terlihat lebih berandalan.

“Mereka terlalu lemah.” Cibir Junhoe. Ia kini berjalan di sampingku. Murid-murid perempuan menatapnya penasaran, takut, tapi sekaligus terpesona. Meskipun tampangnya menyeramkan, Junhoe sebenarnya memang tampan.

“Lepaskan piercing di bibir, telinga, dan hidungmu!”

“Kenapa? Kepala sekolah bilang tidak apa-apa memakai piercing.” Junhoe menyeringai dengan puas.

Aku mendengus. “Itu karena kau memberinya setumpuk emas!”

Junhoe mengabaikan kata-kataku. Ia menatap seseorang dari kejauhan. “Aaaah, ternyata yang dikatakan Hanbin memang benar.”

Aku berhenti berjalan saat Junhoe menyebut nama Hanbin. Kim Hanbin, salah satu anak buah ayahku yang menjadi kandidat pewaris klan. Karena kondisi ayahku yang cacat, sebagian besar aktivitas klan saat ini memang dipimpin oleh Kwon Ji Yong alias G-Dragon. Kim Hanbin adalah the next dragon, H-Dragon. Bila JiYong adalah tangan kanan ayahku, maka Hanbin adalah tangan kiri ayahku.

Aku masih menatap Junhoe dengan tajam, menunggunya melanjutkan kata-katanya yang belum selesai, tapi Junhoe hanya menyeringai, penuh kemenangan. “Apa yang dikatakan Hanbin?” gertakku. Menyebut namanya seringkali membuaku kehabisan kesabaran. Memikirkan Kim Hanbin selalu membuat darahku bergejolak. Aku membencinya dengan setiap partikel yang ada di tubuhku!

“Rahasia!” Junhoe mengedipkan sebelah matanya lalu tertawa terbahak-bahak sambil menarik tanganku. Aku berusaha melepaskan pegangan tangannya yang kuat di pergelangan tanganku, tapi sia-sia saja. Junhoe terus menarik tanganku sampai kami tiba di kelas.

Ternyata aku hanya diberi kebebasan selama satu minggu. Cih! Aku benci ayahku! Aku benci hidupku!

Apa gunanya aku bersekolah di sini bila pengawalku yang paling menyebalkan terus mengawasiku selama 24 jam?!

~~~~~ ******* ~~~~~

Aku sedang bergelung di sofa sambil membaca novel ketika Kwon Ji Yong datang. “Bagaimana sekolahmu?” tanyanya dengan nada lembut.

Aku tersenyum senang begitu ia duduk di sampingku. Aku merasa nyaman berada di dekat Ji Yong. Dia seperti kakak yang tidak pernah kumiliki. Dia memang yang paling kuat dan paling menyeramkan di dunia underground, tapi dia jugalah yang paling menyayangiku, jauh melebihi ayahku.

Ji Yong adalah orang yang paling dipercaya oleh ayahku, pewaris klan the Dragon, dan sempat menjadi tunanganku. Sudah bukan rahasia umum lagi, siapapun yang akan menjadi pewaris the Dragon, haruslah menikahiku. Aku tidak keberatan, sungguh. Meskipun umur kami terpaut 8 tahun, kurasa aku bisa belajar mencintai Kwon Ji Yong. Tapi itulah masalahnya, aku tidak mencintainya, aku hanya menyayanginya sebagai seorang kakak, bukan seorang pria.

Ji Yong pun sama sepertiku. Ia tidak melihatku sebagai seorang wanita, tapi adik. Ia meyakinkan ayahku bahwa ia tidak ingin memaksaku untuk menikahinya. Ia tidak ingin aku terikat padanya. Ia menginginkan agar aku menikahi pria yang kucintai di masa depan nanti. Tapi ayahku bersikeras… siapapun yang menjadi pewaris the Dragon haruslah menikahiku.

Aku benci mengakuinya, tapi memang begitulah hidupku. Di dalam duniaku, ayahku adalah pemimpin sekaligus hukum mutlak yang harus dipatuhi oleh siapapun.

Saat itu…aku berpikir… ah, tidak masalah bila orang itu adalah Ji Yong Oppa. Meskipun aku tidak mencintainya, tapi aku menyayanginya, aku menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Menikahinya jauh lebih baik daripada menikahi orang lain yang asing bagiku. Karena itulah, selama hampir 2 tahun, Ji Yong menjadi tunanganku. Ayahku merencanakan pernikahan kami dilangsungkan nanti, saat usiaku genap 20 tahun.

Tapi 6 bulan yang lalu, semua rencana itu dibatalkan. Tiba-tiba saja ayahku mengangkat kandidat pewaris klan the Dragon yang baru, Kim Hanbin. Desas-desus tersebar. Orang-orang mengira Ji Yong akan diusir dari klan, atau dihabisi oleh ayahku karena telah melakukan suatu pelanggaran berat. Tapi desas-desus itu mereda setelah 6 bulan berlalu, dan Ji Yong tetap membuktikan bahwa dirinya adalah yang terkuat dan terhebat di dunia kami. Ji Yong tetap menjadi tangan kanan ayahku.

Kemudian muncul lah desas-desus baru… bagaimana aku mencintai Kim Hanbin secara diam-diam, karena itulah ayahku (orang lain mengira ayahku menyayangiku) rela membuat Hanbin menjadi salah satu pewarisnya.

Tidak ada yang tahu apa alasan sebenarnya ayahku mengangkat Hanbin sebagai the next dragon selain aku, ayahku, Ji Yong oppa, dan Hanbin sendiri.

Enam bulan yang lalu, Ji Yong Oppa di vonis menderita kanker hati stadium akhir. Tidak ada yang tahu. Tidak pernah ada yang mengira, Kwon Ji Yong yang begitu hebat ternyata menyembunyikan kelemahan yang mematikan. Ayahku tidak ingin menyerahkan klan the Dragon pada orang yang menurutnya akan segera mati kapan saja, karena itulah ia mengangkat Hanbin sebagai the next Dragon. Ayahku merahasiakan alasan yang sebenarnya pada semua orang karena ia merasa berhutang budi pada Ji Yong yang telah selalu ada untuknya dan mengabdi padanya selama hampir 18 tahun.

Sekeras apapun aku menolak, keputusan ayahku tidak bisa diganggu gugat. Aku harus menikahi Kim Hanbin. Bila dulu aku bisa menerima keputusan ayahku untuk menikahi Ji Yong oppa, maka sekarang tidak. Aku memberontak.

Ji Yong Oppa adalah teman, sahabat, sekaligus kakak bagiku. Karena itulah tidak apa-apa bila aku terpaksa memang harus menikahinya. Tapi Kim Hanbin adalah orang asing bagiku. Ia baru bergabung dengan klan kami satu tahun yang lalu. Ia sama sekali orang asing bagiku.

Aku juga tidak rela membiarkan Ji Yong oppa menderita sendirian. Aku memang tidak mencintainya, tapi aku juga tidak mencintai siapapun. Bila disuruh memilih… aku akan memilihnya. Aku akan bersamanya. Aku akan menemaninya sampai akhir hidupnya.

*Flashback*

“Hayi, kau tidak akan pernah tahu…kapan aku tiba-tiba pergi darimu. Bisa tahun depan, bulan depan, atau bahkan mungkin satu jam ke depan. Aku tidak bisa menjagamu. Tapi Hanbin bisa.”

“Aku tidak menyukainya. Aku menyukaimu.”

Ji Yong tersenyum lembut. “Kau tidak mencintaiku.”

“Aku akan belajar mencintaimu, Oppa! Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Ji Yong menggeleng. “Suatu saat nanti…, kau akan bertemu dengan orang  yang kau cintai dan juga mencintaimu. Sampai hari itu tiba, aku tidak tahu apakah aku masih akan tetap berada di sisimu atau tidak, aku bisa pergi kapanpun tanpa sepengetahuanku sendiri. Tapi Hanbin akan selalu ada di sisimu. Dia masih muda dan kuat. Dia akan menjagamu. Menurutku… dia tidak terlalu buruk. Dia bisa diandalkan. Aku tidak memintamu untuk menyukainya, Hayi~ya, aku hanya memintamu untuk menerimanya, agar dia bisa menjagamu, menggantikanku.”

“Kau tidak akan pernah bisa tergantikan, Oppa.” Suaraku tercekat. Aku tidak ingin menangis dihadapannya, tapi sebulir demi sebulir air mata mengalir begitu saja, menetes ke pipiku.

Ji Yong tersenyum lebar. “Tentu saja. Aku tahu.”

Aku sama sekali tidak terpengaruh oleh candaannya. Sebaliknya, air mataku semakin deras mengalir. Ji Yong mengulurkan kedua lengannya, menarikku, mendekapku erat-erat dalam pelukan hangatnya. “Hayi~ya, maafkan aku…, maaf karena kau tidak bisa mengandalkanku. Maaf karena aku tidak bisa terus melindungimu.” Ji Yong memelukku lebih erat lagi. Aku balas memeluknya seerat mungkin. Aku tidak ingin melepaskannya, tapi aku harus melepaskannya.

Aku benci hidupku. Rasanya ingin sekali saja aku memilih jalan hidupku sendiri.

Sejak saat itu, aku mencoba mengakhiri hidupku yang tak berarti. Berkali-kali.

Berkali-kali itu pula Ji Yong menyelamatkanku. Ayahku benar-benar marah. Ia mengira aku melakukan semua ini karena Ji Yong. Ia hampir mengusir Ji Yong. Malam itu, satu bulan yang lalu, untuk yang pertama kalinya dalam hidupku…aku berkata jujur pada ayahku. Bagaimana aku membencinya, bagaimana aku membenci hidupku, dan bagaimana aku ingin diberikan kebebasan untuk menentukan hidupku. Semua itu kulakukan bukan karena Ji Yong, tapi Ji Yong menyadarkanku bahwa manusia tidaklah memiliki kehidupan selamanya, sekuat dan sehebat apapun manusia itu di mata manusia lain. Suatu saat nanti, entah kapan, aku pun akan mati. Dan aku tidak ingin menyesali hidupku. Saat itu aku berpikir… lebih baik aku mati daripada menjalani kehidupan yang bukanlah hidupku. Lebih baik aku mati di saat Ji Yong belum meninggalkanku.

Malam itu aku membuat perjanjian dengan ayahku. Aku tidak peduli bila Hanbin menjadi pewaris klan, tapi aku tidak ingin menikah dengannya 3 tahun yang akan datang nanti. Aku juga ingin sesekali bisa keluar dari dunia yang kubenci ini, aku ingin bersekolah di sekolah normal.

Bagi ayahku, perjanjian itu sangatlah berat. Tapi Ji Yong berhasil meyakinkan ayahku agar menyetujui perjanjian tersebut, karena perjanjian itu adalah salah satu cara agar aku bisa tetap hidup. Mungkin sebenarnya… jauh di dalam lubuk hatinya, ayahku menyayangiku, meskipun ia tidak pernah menunjukkannya secara langsung padaku. Ayahku akhirnya menyetujui perjanjian itu, dengan syarat… Hanbin akan tetap menjagaku, menjadi pengawal utamaku selain Junhoe. Dan bila sampai umurku menginjak 20 tahun, tapi aku belum menemukan pasangan hidupku, maka aku harus menikah dengan Hanbin.

Selama satu minggu, kupikir aku bisa terbebas dari Hanbin dan Junhoe. Taehyun dan Bobby lebih flexible. Mereka tidak selalu mengikutiku 24 jam ke manapun aku pergi. Tidak masalah bila kedua pengawalku itu bersekolah di sekolah yang sama denganku. Tapi… Junhoe berbeda. Perhatiannya tidak bisa dialihkan seperti Taehyun dan Bobby. Sekali matanya terfokus padaku, maka ia akan terus mengawasiku.

Tapi ada satu fakta yang baru kusadari. Ternyata selama satu minggu itu… Kim Hanbin selalu mengawasiku, dari jauh, tanpa terlihat, tanpa sepengetahuanku. Aku baru menyadari hal ini ketika tadi siang di sekolah, Junhoe langsung tahu tentang Oh Sehun, pria yang menarik perhatianku. Padahal Taehyun dan Bobby sama sekali tidak tahu tentang Sehun, tapi kenapa Junhoe bisa tahu? Dia juga terlihat seperti sudah mengetahui latar belakang Sehun! Saat itulah aku sadar, Kim Hanbin selalu memata-mataiku. Ia sangat handal. Wajar saja bila aku tidak menyadari kehadirannya. Bagaimanapun, dia adalah the next dragon, H-Dragon.

*End of Flashback*

“Hayi…, Hayi~ya…” Ji Yong terus-menerus memanggil namaku. Sepertinya aku melamun terlalu lama.

Aku menolehkan wajahku dan tersenyum sambil menatap kedua bola mata cokelat bening Ji Yong. Ji Yong menatapku lekat-lekat, “Apakah ada masalah di sekolah?”

Aku menggeleng. “Tidak ada.”

Ji Yong mengerutkan keningnya. “Kau tahu kau tidak pernah bisa berbohong padaku, Lee Hayi.”

Aku tertawa pelan, kemudian menyandarkan kepalaku di pundak Ji Yong. “Bagaimana terapi mu, Oppa?”

“Hmm, semuanya lancar.”

“Kau sudah minum obat?”

Ji Yong mengangguk. “Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Aku menghela nafas panjang, kemudian memejamkan mataku. Ji Yong selalu berpura-pura terlihat tegar di hadapanku, dan di hadapan semua orang. Ia memang tak lagi melakukan misi di lapangan, tapi di balik layar. Ia menjadi “otak” the Dragon. Aku tahu betapa ia sangat menyukai pekerjaan lapangan. Dulu aku pernah meledeknya, mengatakan padanya bahwa ia hidup untuk beladiri / berkelahi, bukan beladiri untuk hidup. Aku tahu betapa ia berpura-pura semuanya baik-baik saja saat ini.

Aku mengangkat sebelah tanganku, perlahan mengelus-elus pipinya, menelusuri bekas luka di pelipisnya. Dingin. Wajah Jiyong terasa dingin. Aku menatapnya dengan cemas. Jiyong memejamkan matanya. Sebelah tangannya menggenggam tanganku, berusaha meyakinkanku bahwa ia benar-benar baik-baik saja.

Takdir sangat tidak adil. Takdir membiarkan aku, yang membenci hidupku, tetap hidup, meskipun sudah berkali-kali aku mencoba mengakhiri hidupku. Sementara takdir membiarkan Ji Yong, yang mencintai hidupnya, hanya memiliki waktu sebentar lagi di dunia ini.

“Takdir sungguh tidak adil. Ia akan merampas satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum.” Lirihku.

Genggaman tangan Ji Yong semakin erat. “Hey, Bobby dan Taehyun juga membuatmu tersenyum!” Ji Yong berkata ringan, mencoba membuat mood ku membaik.

Aku tertawa pelan. “Si rakus dan si playboy itu! Mereka memang membuatku tertawa, tapi… bukan itu maksudku, Oppa.”

Ji Yong meremas jemariku dengan lembut. “Hayi~ya, kau hanya tidak melihatnya. Kau… hanya belum melihatnya. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi orang itu lebih dari mampu untuk membuatmu tersenyum bahagia.”

“Siapa?”

Jiyong hanya tertawa sambil menggelengkan kepalnya. “Hey, ceritakan padaku tentang Oh Sehun lagi, cowok goody-goody nerdy yang menarik perhatianmu itu!”

“Yah! Jangan meledeknya!”

Ji Yong terbahak-bahak. Aku hanya tersenyum, sudah lama tidak melihat tawa lepas Ji Yong seperti ini. Sejak terapi kanker nya dimulai, cahaya di mata Ji Yong jadi terlihat redup, meskipun ia tersenyum di luar, aku tahu ia menangis di dalam hatinya. Bila ceritaku tentang Oh Sehun bisa membuatnya tertawa, tidak masalah dia meledek Sehun. Bagiku, yang selama 17 tahun selalu dikelilingi bad boys, melihat good boy seperti Sehun adalah pengalaman baru bagiku. Good boy yang menarik. Good boy yang kupikir hanya ada di novel dan komik. Good boy yang ternyata ada di dunia nyata. Oh Sehun adalah seorang pria baik-baik, baik terlihat dari luar, maupun di dalam. Dan ini adalah pertama kalinya aku merasa tertarik dengan seorang pria.

Aku mendengar suara batuk pelan. Ayahku muncul di ruang tengah bersama Hanbin yang membantu mendorong kursi rodanya. Tawa Ji Yong lenyap seketika. Tubuhnya menjadi tegang.

“Ji Yong~ah, aku ingin bicara denganmu.” Ujar ayahku dengan suara berat nya.

Ji Yong mengangguk sopan pada ayahku, kemudian menatapku lekat-lekat. “Sudah waktunya kau tidur, Hayi~ya. Kau harus bangun pagi kan?”

Aku mengangguk. “Hmm.” Kemudian aku melirik ayahku yang mengawasi kami dengan tajam. Aku bangkit berdiri dari sofa, tidak ingin membuat ayahku berpikir yang macam-macam tentang kami sehingga membuat Jiyong sulit. Aku hanya ingin berada di samping Ji Yong seperti dulu, seperti yang sudah kulakukan sepanjang hidupku, sebagai adiknya, sahabatnya, tak lebih dari itu. Tapi aku tahu ayahku maupun orang lain mungkin tidak melihatnya demikian. Atau… mungkin aku saja yang melihatnya demikian? Karena ternyata ada satu hal yang luput dari pengamatanku. Tatapan Jiyong terhadap Hanbin.

Sorot matanya terlihat iri pada Hanbin. Bukan karena kekuasaan yang akan Hanbin miliki, tapi karena kehidupan panjang yang akan Hanbin jalani, bersamaku, di sisiku, menjagaku. Mungkin pada saat itu Jiyong bisa melihat apa yang tidak bisa kulihat pada diri Hanbin.

Tiba-tiba saja, hanya dalam sekejap mata, Jiyong mengerang kesakitan sambil memegang ulu hatinya. Keringat dingin bercucuran di dahinya.

“OPPA!”

“HYUNG!”

“JIYONG!”

Ji Yong mengerang dan menjerit kesakitan. Kematian datang begitu cepat. Seperti yang pernah ia katakan, ia tidak tahu kapan kematian akan menjemputnya. Ia hanya tahu… kematian akan segera menghampirinya. Aku hanya tidak mengira bisa secepat ini.

Seandainya saat itu aku tahu… bahwa Kwon Ji Yong selalu mencintaiku seumur hidupnya, maka aku tidak akan pernah bercerita padanya tentang bagaimana aku selalu menyukainya sebagai seorang kakak. Seandainya saat itu aku tahu… malam itu adalah malam terakhir aku melihatnya… maka aku tidak akan mengalihkan mataku dari kedua mata beningnya, selama kedua mata itu masih menatapku lembut dan hangat, selama mata itu masih tersenyum penuh kasih sayang untukku. Aku… yang terlalu buta untuk menyadari bahwa Kwon Ji Yong selalu mencintaiku lebih dari seorang sahabat dan saudara.

~~~~~ ***** ~~~~~

Mereka bertanya… mengapa aku tidak bisa melihat hati seorang good guy yang tersembunyi di balik sosok seorang bad guy? Mengapa aku terpedaya oleh penampilan seorang bad guy yang terlihat seperti seorang good guy?

Mungkin jawabannya adalah… karena hatiku buta. Sama seperti dulu, ketika aku tidak pernah sekalipun bisa melihat perasaan Ji Yong yang sebenarnya padaku. Aku hanya melihat apa yang ingin kulihat. Sama seperti sekarang, di saat aku menyukai Oh Sehun.

Sudah hampir dua tahun berlalu sejak kematian Ji Yong. Banyak yang berubah dalam hidupku semenjak kepergiannya.

Aku menjadi lebih berani. Aku mengatakan apa yang ingin kukatakan. Aku tidak pernah lagi menekan perasaanku di hadapan ayahku, tidak pernah lagi berpura-pura menjadi anak baik yang penurut di hadapannya. Aku ikut terlibat dalam bisnis klan, dan aku menentang banyak hal, termasuk distribusi narkoba. Hal ini membuat ayahku murka dan “mengusirku” dari mansion kami. Meski amarahnya hanya bertahan 3 hari, dan di saat ia memintaku pulang kembali, aku tetap memegang teguh pendirianku. Aku ingin hidup sendiri, mandiri, terbebas dari klan the dragon.

“Kau tidak akan pernah bisa lepas dari the dragon, Hayi. Di dalam pembuluh darahmu…mengalir the dragon. Kau satu-satunya keturunan murni the dragon.”

Aku mendengus, menatap Hanbin dengan dingin. “Maksudmu yang sebenarnya adalah kau tidak akan pernah bisa mewarisi the dragon tanpa menikahi keturunan murni the dragon.”

Hanbin balas menatapku dengan dingin dan tajam. “Jangan konyol. Aku tetap bisa menjadi the next dragon tanpa menikahimu. Itu yang ayahmu janjikan pada kita 2,5 tahun yang lalu.” Hanbin memalingkan pandangannya ke jalanan yang ramai, masih tetap duduk di atas motor sport merah kesayangan nya.

Aku terus berdiri di sampingnya, mengamati sosoknya dari pinggir. Hanbin mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaket kulit nya, menyalakan pemantik, kemudian perlahan menghirup racun itu ke dalam paru-parunya.

“Kau masih sama keras kepalanya seperti dulu, Hayi. Tidakkah kau mengerti? Kau tidak akan pernah bisa lepas dari the dragon. Musuh-musuh the dragon mengawasimu. Kau tidak akan bisa hidup mandiri, terpisah dari klan.”

Aku mendengus lalu tertawa sinis. “Kalau begitu, berhentilah mengikutiku! Musuh-musuh itu sebenarnya mengincar nyawamu. Tidak banyak yang mengenal wajahku karena aku selalu terkurung di mansion. Jangan berada di dekatku. Kehadiranmu di sekitarku hanya akan membahayakan nyawaku.”

Hanbin menatapku dengan jenis tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dan tiba-tiba saja aku menyesal telah mengatakan kalimat menyakitkan tadi.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu.” Hanbin menatapku dalam-dalam dengan kedua matanya yang tajam menusuk, seolah ia bisa melihatku menembus jiwaku. “Aku akan berhati-hati, aku tidak akan membuat musuh-musuh the dragon mengincarmu karena diriku. Tapi kau harus tahu Hayi… ada banyak musuh the dragon di luar sana yang menginginkanmu, memanfaatkanmu, menjatuhkan ayahmu dan klan mu.”

“Aku tahu.” Tukasku, singkat dan sinis.

Dalam sekejap, aku merampas rokok dari tangan Hanbin, membuangnya ke jalan, lalu menginjak-injaknya sampai padam. Hanbin hanya menatapku tanpa ekspresi.

Aku tidak pernah bisa memahami Kim Hanbin. Dan aku tidak pernah bisa memahami diriku sendiri di saat aku bersamanya.

“Berhentilah merokok! Kau ingin mati?” aku berseru dengan nada kesal.

Hanbin menatapku selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa. “Kau mengkhawatirkanku?” Kedua alis matanya terangkat. Seringaian menyebalkan menghiasi wajahnya yang tampan. Tampan dan berbahaya. Kim Hanbin adalah definisi sejati bagaimana seorang bad guy!

Aku memutar kedua bola mataku. “Jangan bermimpi! Aku tidak mungkin mengkhawatirkanmu, idiot!”

“Ouch!” Hanbin berpura-pura kesakitan sambil memegang dadanya, tertawa konyol.

Aku melirik jam tanganku berkali-kali. Mana Junhoe? Kalau dia tidak segera datang, aku akan terlambat les piano!

“Mau kuantar?” tawar Hanbin. Seolah bisa memahami kekhawatiranku.

Aku menggeleng. “Junhoe akan datang sebentar lagi.”

Hanbin mengeluarkan ponselnya. Ternyata dia menelepon Junhoe. “Kau di mana sekarang, Go Junhoe?” tanyanya dengan nada dingin, seperti biasa. Kim Hanbin memang jarang menampakkan nada ceria seperti yang baru saja ia tunjukkan padaku. Anak-anak buah ayahku berpendapat Kim Hanbin adalah robot. Robot penghancur. Dia hanya memiliki 2 intonasi ketika berbicara : dingin, dan marah. Hanbin juga terkenal sanggup menghabisi musuh-musuhnya hanya dalam hitungan detik. Kim Hanbin sama kuatnya dengan mendiang Ji Yong, tapi ia lebih berhati dingin. Belum pernah sekalipun aku melihat Hanbin tersenyum pada siapapun. Dia hanya tersenyum padaku. Mungkin karena aku adalah satu-satunya darah murni the dragon, klan yang sangat dibanggakannya.

Tak lama, Junhoe tiba. Aku berlari menghampiri audi hitam yang berhenti tak jauh dari tempatku berdiri itu. Aku merasakan tatapan Hanbin di punggungku, tapi aku sama sekali tidak menoleh ataupun berpamitan padanya. Mungkin seharusnya aku berterima kasih padanya karena sudah menemaniku di “tempat pelarianku”, sebuah apartemen milik mendiang ibuku. Tapi aku menahan diriku, karena aku tahu…saat pulang les nanti, semua koper berisi baju-bajuku akan sudah dipindahkan kembali ke mansion. Oleh Hanbin. Dia tak pernah gagal melaksanakan tugas yang diberikan oleh ayahku.

Junhoe membukakan pintu passenger seat untukku, lalu menutupnya sebelum berlari kecil dan masuk, duduk di balik kemudi. “Kau punya pacar, tapi pacarmu entah berada di mana. Kau tahu? Wanita lainnya meminta pacar mereka mengantar-jemputnya, bukan bodyguard!”

Aku hanya terdiam mendengar omelan Junhoe. Benar. Aku punya pacar. Oh Sehun. Sudah 7 bulan kami bersama. Aku sangat menyukainya. Dia juga terlihat menyukaiku. Memang ada kalanya Sehun terlihat menjaga jarak denganku, terutama ketika pengawal-pengawalku berada di sekitarku. Aku tidak pernah memberitahu Sehun siapa aku yang sebenarnya, betapa berbedanya keluargaku dengan keluarganya. Mungkin Sehun tahu, atau curiga, atau bisa jadi ia tak peduli. Ia tak pernah membicarakan apapun mengenai keluarga kami masing-masing. Topik obrolan kami bila kami sedang bersama pastilah hanya seputar sekolah, musik, dan dance yang sangat Sehun sukai. Sehun sangat jarang berbicara mengenai diriku. Dia selalu membicarakan dirinya, kegiatannya, teman-temannya. Aku tidak peduli. Karena kurasa aku terlalu menyukainya.

Selama di perjalanan, aku melihat-lihat galeri foto di ponselku. Melihat foto-fotoku dan Sehun. Lebih banyak foto Sehun sebenarnya. Aku sering sekali mengambil fotonya.

Junhoe melirik sekilas padaku. “Hayi, apakah seorang good guy adalah pria yang terlihat baik-baik dari luar, tampan, rapi, pintar, tidak pernah berkelahi, tidak pernah terlibat dalam penjualan narkoba, dan memiliki kehidupan yang normal tanpa perlu berurusan dengan dunia underground?”

Aku mengerutkan keningku, heran dengan pertanyaan serius Junhoe yang tiba-tiba. “Tentu saja.” jawabku dengan yakin.

Junhoe mengangguk. “Hmmm, begitu. Seperti Oh Sehun pacarmu?”

Aku mengangguk. “Kenapa tiba-tiba bertanya?”

Junhoe mengangkat kedua bahunya dengan cuek. “Hanya ingin tahu. Memangnya tidak boleh?” Junhoe menyeringai.

Aku memukul belakang kepalanya. “Apa yang kau rencanakan, hah?! Jangan macam-macam! Kau sudah mengecek latar belakang Sehun. Dia bukan berasal dari klan manapun, tidak memiliki hubungan dengan dunia underground, dan keluarganya adalah keluarga baik-baik.”

Junhoe mengangguk. “Tentu. Tapi pernahkah terpikir olehmu untuk mengetahui Oh Sehun yang sebenarnya? Maksudku…dirinya, bukan latar belakang yang ada di database. Hey, bahkan database penduduk yang paling mutakhir sekalipun tidak akan menuliskan riwayat hidup seseorang seperti ini : Oh Sehun, baik hati; ramah; easy going; menyebalkan; playboy; egois; memiliki prince diseases alias narsis dan terlalu mencintai dirinya sendiri.”

“Apa maksudmu?”

Junhoe menghela nafas panjang. “Maksudku… apakah kau yakin kau benar-benar mencintai pacarmu itu? Apakah kau sudah mengenalnya luar-dalam? Apakah kau ingin menikah dengannya? Hey! Waktumu tinggal 1 tahun lagi untuk menemukan pasangan hidupmu. Aku hanya mengingatkan, oke? Sebagai pengawalmu yang paling setia, aku hanya mengingatkanmu. Jangan memukulku!” Junhoe berhasil menghindari pukulanku.

Ketika akhirnya kami sampai di depan tempat les piano ku, Junhoe menahan pergelangan tanganku ketika aku hendak membuka pintu mobil. “Dengar, Hayi, sebagai pengawalmu sejak balita, yang selalu mengikutimu ke manapun kau pergi, aku ingin memberimu nasihat.”

Aku memutar kedua bola mataku, tapi tidak mengatakan apapun. Menunggu. Junhoe menghela nafas panjang lagi sebelum kembali berbicara. “Penahkah kau berpikir… bahwa seorang good guy adalah pria yang selalu ada untukmu, menjagamu, menyayangimu, mencintaimu, rela berkorban apapun demi dirimu, meskipun kehidupannya tidaklah normal, meskipun dia adalah kandidat pewaris klan mafia the Dragon, keluarga yang kau benci, kehidupan yang selalu ingin kau tinggalkan?”

Aku tersentak, tak sanggup berkata-kata. Junhoe masih terus menatapku dengan serius. Hilang sudahlah sikap slengean nya yang biasa. “Kau tahu? Ini bukan salahku, tapi terkadang aku menyalahkan diriku sendiri juga, yah…kadang. Seandainya dulu aku menasehatimu tentang Ji Yong hyung, memberitahumu rahasianya, memberikan diary-diary nya itu lebih awal padamu, apakah kau akan lebih bahagia? Hey! Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku tidak mencintaimu oke? Aku tidak melihatmu sebagai wanita.” Junhoe menyeringai, sikap cuek nya kembali terlihat. “Aku hanya ingin kau bahagia. Karena aku temanmu. Karena kau temanku. Jauh sebelum aku ditugaskan menjadi pengawal pribadimu, kau temanku. Kau teman menyebalkan yang mengambil mainanku saat umurku 4 tahun! Kau teman cengeng yang ternyata lebih berani dariku. Ingat saat kita berkemah?”

Aku tersenyum. Tentu saja aku ingat. Aku ingat semua hal yang kami lalui bersama. Aku, Ji Yong Oppa, Junhoe, Taehyun, dan Bobby. Di dunia ini tidak ada yang lebih mengenal diriku dibanding mereka berempat.

“Aigoo~ terima kasih, sassy Junhoe…sudah mau menjadi temanku meskipun aku sering membully mu.” Aku mengacak-acak rambut Junhoe sambil nyengir lebar.

Junhoe mendelik kesal padaku. “Karena itulah kau harus mendengarkan kata-kataku, nasihatku, karena kau buta, Lee Hayi. Hatimu benar-benar buta! Putuskanlah Oh Sehun dan berkencanlah dengan Kim Hanbin!”

Selama beberapa detik, aku terdiam, syok. Kemudian aku tertawa terbahak-bahak. “Lelucon yang bagus, Go Junhoe!”

Junhoe hanya geleng-geleng kepala. “Hatimu benar-benar buta. Lee Hayi! Kau… harus merasakan cinta, bukan melihat cinta. Karena terkadang cinta tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Yah.., walaupun menurutku sih…orang yang tidak menunjukkan cintanya adalah orang paling idiot sedunia!”

Aku mendelik kesal pada Junhoe. “Jangan mengata-ngatai Jiyong.”

Junhoe berdecak. “Bukan Jiyong hyung yang kumaksud! Jiyong hyung sih sudah jelas-jelas menunjukkannya padamu, hanya kau saja yang idiot, buta, tidak peka!”

Aku terdiam. Benar. Semua kata-kata Junhoe memang benar.

Pandangan mata Junhoe melembut. “Sorry…”

Aku mengangkat bahu. “Tidak masalah. Aku mengakuinya. Aku idiot, buta, dan tidak peka.”

Junhoe meringis. “Aku tidak bermaksud membuka luka lama, maafkan aku. Tapiiiii…, kau tentunya tidak ingin menyia-nyiakan lagi seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan segenap hatinya bukan? Orang yang menjadi dirinya apa adanya di hadapanmu, tidak berpura-pura terlihat baik. Seperti sudah kubilang tadi… mungkin seorang good guy yang selalu kau cari selama ini adalah pria yang selalu ada untukmu, menjagamu, menyayangimu, mencintaimu, rela berkorban apapun demi dirimu, meskipun kehidupannya tidaklah normal, meskipun dia adalah kandidat pewaris klan mafia the Dragon, keluarga yang kau benci, kehidupan yang selalu ingin kau tinggalkan.” Junhoe terengah-engah, kehabisan nafas setelah mengatakan kalimat panjang itu dalam satu tarikan nafas.

Aku menggeleng. Aku mengerti siapa yang Junhoe maksud. Tapi Kim Hanbin tidak mungkin mencintaiku. Dan aku tidak mungkin mencintainya. Atau demikianlah yang kupikirkan pada detik ini. Karena hati manusia sangat mudah dibolak-balikkan oleh serentetan kejadian. Hal yang awalnya kukira tidak masuk akal sekalipun bisa jadi terasa benar.

Takdir memang aneh. Tapi perjalanan manusia dalam memahami hatinya, relung jiwanya, bagian terdalam-tergelap-namun kadangkala terjujur dan termurni di sudut pikirannya jauh lebih aneh lagi.

~~~~~~ ******* ~~~~~~

Idiot, buta, tidak peka.

Aku tersenyum mengingat percakapanku dengan Junhoe minggu lalu. Meskipun kesal, tapi sepertinya apa yang ia katakan tentangku itu memang benar.

Malam hari, ketika aku sedang mengerjakan PR, Bobby dan Taehyun datang, mengetuk pintu kamarku. “Hayi, besok lusa Hanbin ulang tahun.” Bobby dan Taehyun berkata bersamaan.

Aku mengerutkan keningku. Sebelumnya, tidak pernah mereka berdua mengungkit-ungkit kapan ulang tahun Hanbin. Aku bahkan tidak tahu kapan Hanbin lahir. Aku hanya tahu…dia seumuran denganku. Dan aku tahu…orangtuanya membuangnya di jalanan saat ia masih bayi, membuatnya berjuang hidup seorang diri di jalanan, di dunia underground tergelap di Jepang sebelum akhirnya bertemu dengan ayahku dan mengabdi pada ayahku. Semua orang mengira Hanbin tidak akan suka bila ada yang merayakan ulangtahunnya. Tapi…itu semua hanya perkiraan. Tidak pernah ada yang peduli. Tidak pernah ada yang berani. Kim Hanbin berbahaya. Bila kau membuatnya marah, tidak ada yang bisa menjamin kau akan selamat di tangannya. Semua anak buah ayahku takut padanya.

“Kenapa? Kalian mau merayakannya? Sungguh?” Aku mengangkat kedua alis mataku tak percaya. Bobby dan Taehyun saling pandang, kemudian mengangguk.

“Hanbin kesepian.” Gumam Taehyun.

“Dia mengingatkanku pada Jiyong hyung. Tapi setidaknya…dulu Jiyong hyung memilikimu…dan kami. Hanbin tidak memiliki siapapun.” Tambah Bobby.

Pandangan mataku mengeras saat mendengar nama Jiyong disebut. Bobby meletakkan sebelah tangannya di pundak kiri ku, sementara Taehyun di pundak kanan ku. “Hayi~ya…menurutku…Hanbin sengaja mengisolasi dirinya. Dia takut terluka. Karena itulah dia membuat semua orang menjauh. Tapi kau berbeda. Dia…selalu ada untukmu.” Bobby menatapku lekat-lekat.

“Dia pengawalku. Tentu saja dia selalu ada untukku.”

Taehyun mendengus. “Junhoe benar. Kau memang tidak peka.” Taehyun membungkukkan badannya sehingga kini matanya sejajar dengan mataku. “Hayi…, Kim Hanbin hanya tersenyum padamu… dan hanya untukmu.”

~~~~~~ ***** ~~~~~~

Esok harinya, di sekolah, seperti biasa, ketika Sehun bersamaku, ia hanya bercerita panjang lebar mengenai dirinya. “Besok lusa kau akan datang menonton kompetisi dance ku kan? Aku sudah berlatih dengan sangat giat. Aku harus menang.”

Aku mengangguk. “Hmm, aku pasti datang.”

Sehun tersenyum senang. “Hayi~ya, tolong ambil fotoku di sini. Tunggu…tunggu, aku harus memegang kartu peserta-ku. Aku akan meng-uploadnya ke instagram.”

Sehun memang penuh semangat. Tapi dia terlalu mementingkan dirinya sendiri. Dia bahkan tidak menyadari perubahan warna rambutku. Semalam aku mengecat rambut cokelat ku menjadi pirang, dengan shade pink di ujung-ujungnya. Padahal aku selalu tahu perubahan sekecil apapun pada diri Sehun. Dan kali ini perasaanku padanya jadi agak berbeda. Mungkin sedikit demi sedikit aku mulai membuka mata hatiku.

Prince disease.” Gumam Junhoe ketika ia berjalan melewatiku. Aku menahan tawaku. Ia benar.

Sehun terlalu mencintai dirinya sendiri. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar mencintaiku atau tidak. Ataukah ia hanya bersedia menjadi pacarku karena aku lumayan cantik? Oke, 7 bulan yang lalu aku tidak pernah memikirkan hal ini.

Sehun tersenyum manis ke kamera. Dia terlihat sangat mengagumi dirinya sendiri. Dia bangga dengan wajah tampannya, dan dia sadar kalau dirinya memang tampan. Sehun mencintai penampilannya sendiri, dan mungkin saja aku pun menipu diriku sendiri dengan menganggap bahwa diriku mencintai jiwa dibalik penampilannya yang menawan itu. Mungkin aku hanya terpedaya dengan wajahnya. Apakah aku benar-benar mencintai Sehun?

Sepulang sekolah, seperti biasa, Sehun pergi begitu saja, sibuk dengan kegiatannya bersama klub-klub yang ia ikuti, mulai dari dance sampai drama. Selama 7 bulan ini, ia tak pernah menawarkan dirinya agar terlibat dalam aktivitasku, bahkan tidak pernah menanyakan apa saja kegiatanku sepulang sekolah. Ia tak pernah mengantarku pulang. Tak pernah mengajakku berkencan di akhir pekan. Kami hanya bertemu di sekolah, berkencan saat jam istirahat. Kalau dipikir-pikir lagi…kami terlihat seperti tidak pacaran. Kami terlihat seperti teman biasa.

Mungkin memang benar, aku terlau tergila-gila pada wajahnya. Aku hanya melihat apa yang ingin kulihat. Aku tidak pernah memahami hatiku. Lalu, bagaimana aku bisa memahami hati orang lain?

“Sudah, putuskan saja pacarmu itu.” Junhoe berkata entah untuk yang ke berapa kalinya.

Aku memutar kedua bola mataku. “Tidak semudah itu.”

“Kenapa? Kau butuh alasan untuk memutuskannya?” Junhoe menyeringai. “Kau boleh memanfaatkanku kalau kau mau.”

Aku mencubit lengan Junhoe sekuat tenaga sampai menyisakan bercak-bercak ungu. “Aaaarrgggghhhh…arrgghhh…sakit…sakit!” Junhoe merengek seperti anak kecil.

“Tutup mulutmu, bawel! Aku masih belum yakin dengan perasaanku. Kita lihat saja nanti…” Aku memalingkan wajahku, menatap ke jalanan lewat kaca mobil.

Hujan turun perlahan. Setiap rintikkannya membangkitkan kenangan. Tiba-tiba saja aku merasa sentimental.

Aku mengingat Kwon Ji Yong, yang terkubur di dalam ingatanku. Dia pernah berkata padaku…dia sangat benci hujan. Saat itu dia berkata…hujan membuatnya sentimental. Ia mengingat orang-orang yang telah tiada, keluarganya yang meninggal karena kecelakaan pesawat terbang saat ia masih kecil.

Saat itu aku tidak mengerti makna perkataannya, tapi kurasa sekarang aku mengerti. Sekarang aku mengingat Kwon Ji Yong. Aku ingat bagaimana raut wajahnya ketika tertawa. Aku ingat suaranya ketika memanggil namaku. Aku mengingat semua hal tentangnya.

“Sudah memutuskan akan beli kado apa untuk Hanbin?” suara Junhoe menarikku dari lamunan.

“Huh?”

Junhoe mendesah. “Kado apa untuk Hanbin?” ujarnya dengan nada tak sabar.

Aku menggeleng. “Aku bahkan tidak tahu apa yang dia suka. Bagaimana kalau kita makan-makan saja? Barbeque party?”

Cool!” Junhoe bersemangat.

“Antar aku beli cake. Malam ini kita berikan kejutan untuknya.”

“Bagaimana kalau beli cheesecake?”

“Tsk! Bukan kau yang ulang tahun, Junhoe!”

“Tapi semua orang suka cheesecake.”

Aku menggeleng. “Aku tidak. Aku akan membeli chocolate cake.”

~~~~~~~ ******* ~~~~~~

Malam harinya, Hanbin tidak pulang. Bobby bilang…Hanbin masih memiliki beberapa misi yang diberikan oleh ayahku. Kue yang tadinya akan kami berikan padanya tengah malam ini terpaksa harus disimpan di lemari pendingin dan menunggu sampai esok hari. Itupun kalau besok Hanbin pulang.

Esoknya, pagi-pagi sebelum aku dan Junhoe pergi ke sekolah, Hanbin masih belum pulang. Begitupula saat sekolah usai, Hanbin sama sekali tidak muncul. Biasanya, meskipun aku memang tidak bisa melihat tempat persembunyiannya saat mengawasiku, Junhoe bisa tahu di mana keberadaan Hanbin. Tapi kali ini tidak. Di mana Hanbin?

“Hayi~ya, kau datang untuk menontonku kan nanti?” Sehun mendekati mejaku.

Aku terdiam sesaat, lalu berkata “Bagaimana kalau kita pergi bersama ke tempat lomba mu?”

Sehun mengerutkan keningnya, telihat berpikir. “Hmm, fans-fans ku tidak akan terlalu suka bila mereka tahu aku sudah punya pacar. Ayo! Tapi kita jangan terlihat terlalu dekat ya!” Sehun berjalan lebih dulu.

Aku melirik sekilas pada Junhoe yang duduk di belakang. “Jerk!” Umpat Junhoe ke punggung Sehun. Ia mengatakannya tanpa suara. Aku menatapnya dengan tajam, lalu mengikuti Sehun. Junhoe berdiri, mengikuti kami agak jauh di belakang.

Kami berjalan kaki ke Hongdae. Letak sekolah kami tak begitu jauh dari sana. Selama di perjalanan, tak sekalipun Sehun mengajakku berbicara.

Tiba-tiba saja, dari keempat arah mata angin, muncul pria-pria ber-jas hitam, bertampang sangar. Mafia.

Sehun mengerut, ketakutan. “Hayi~ya…” dia menarik-narik ujung baju seragamku. Aku berdecak kesal. Dan anehnya, aku kesal karena sikap Sehun, bukan karena kehadiran mafia-mafia itu. Bila Jiyong Oppa ada di posisinya sekarang saat ini…ia pasti akan dengan berani melawan mafia-mafia itu. Melindungiku. Atau bahkan Hanbin juga akan melakukan hal yang sama….

BRAKK…BUG…BUG….KRAAK

Orang yang kupikirkan se-detik lalu kini muncul di hadapan mataku. Ia menendang, menonjok, dan melempar para mafia itu secepat kilat. Terdengar suara hantaman tubuh-tubuh para mafia yang bergelimpangan di jalan, dengan tulang-tulang yang patah, dan wajah babak belur. Junhoe membantu Hanbin. Sementara Sehun…dia lari, kabur, entah ke mana.

Aku, yang memang sejak kecil belajar beladiri, meskipun tidak se-hebat Hanbin dan Junhoe, tapi aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku memiting dan membanting beberapa mafia yang mendekatiku.

Terdengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan. Hanbin menyambar tanganku, mengajakku berlari mendekati motornya di sebrang jalan, melempar helm ke tanganku, lalu segera tancap gas dengan kencang.

“Kau benar-benar punya pacar yang hebat.” Sindir Hanbin.

Aku tertawa. “Yah…, mulai sekarang dia bukan pacarku lagi. Oh ya, siapa mereka? Dan kenapa semalam kau tidak pulang?”

“Klan the Frog. Tenang saja, mereka hanya klan rendahan. Aku takut yang menyerangmu tadi adalah the Scorpion.”

Tubuhku menegang. The Scorpion adalah klan yang bertanggung jawab atas cacat nya kaki ayahku. Musuh bebuyutan the Dragon.

Hanbin menghentikan motornya di dekat sungai Han, menatap ke langit jingga terang. Sebentar lagi matahari terbenam.

“Kurasa…aku sangatlah egois.” Hanbin berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Wajahnya masih menegadah, menatap langit.

Aku mengamati sosok sampingnya. Aku selalu lebih suka melihatnya dari samping, mengamati bagaimana lekuk-lekuk rahang dan dagu nya yang tegas. Karena melihatnya dari depan…ketika kedua matanya yang tajam menatapku secara langsung…hanya membuat otak ku kosong. Karena itulah aku lebih suka menatapnya dari samping.

“Kau memang egois, menyebalkan, dingin, sombong, senang menyendiri.”

Hanbin tertawa pelan. Aku ikut tersenyum.

“Hey Hanbin, selamat ulang tahun…”

Hanbin menoleh, kedua pupil matanya melebar. “Bagaimana kau bisa…”

“Tahu?”

Hanbin mengangguk.

“Semalam sebenarnya aku, Junhoe, Bobby, dan Taehyun Oppa suah berencana untuk memberikanmu kejutan. Kami sudah membelikanmu kue ulang tahun.”

Pandangan mata Hanbin melembut. “Kenapa? Kenapa kalian mempedulikanku?” suaranya terdengar lirih.

“Karena kau keluarga kami.”

Hanbin menatapku dalam-dalam. Ia menggeleng. “Jangan membuatku semakin egois, Hayi~ya. Kau tahu? Setiap malam aku selalu berdoa agar kau segera putus dengan Sehun. Aku berharap…sampai umurmu 20 tahun, sampai batas akhir perjanjianmu dengan ayahmu…kau tidak akan menemukan belahan jiwamu, agar aku bisa bersamamu.”

Otak ku kosong. Tatapan mata Hanbin terlalu dalam menusuk jiwaku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.

Hanbin menghela nafas. “Maafkan aku, Hayi~ya. Aku tahu…kau menginginkan kehidupan normal.”

Aku menggeleng. “Aku hanya ingin bahagia. Yah…tapi aku masih tidak suka dengan salah satu bisnis ayahku yang melibatkan narkoba. Bisakah kau menghilangkannya?”

“Kau ingin aku menghilangkannya?”

Aku mengangguk. “Hmm. Tidak bisakah kita meraup keutungan yang banyak dengan bisnis lain yang lebih baik? Ji Yong Oppa dulu pernah berkata padaku…the Dragon sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk melepaskan diri dari bisnis-bisnis gelap. Kita punya sumber daya manusia yang bagus, kita punya lahan pertanian yang banyak di berbagai negara. Kau tahu? Suara Taehyun Oppa dan Junhoe sangat bagus. Dan Bobby sangat pandai nge-rap. Kurasa mereka bisa jadi idola terkenal.”

Hanbin tertawa renyah. Ia mengulurkan lengannya, mengacak-acak rambutku. Gesture simple nya itu mengingatkanku pada Ji Yong Oppa.

“Apakah kau masih mencintai Ji Yong hyung?” tanya Hanbin tiba-tiba. Kali ini ekspresi wajahnya terlihat serius.

Kami bertatapan agak lama. “Aku selalu mengingatnya.” Jawabku jujur. “Dulu…bahkan sekarang…aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi aku menyukainya. Aku senang berada di dekatnya.”

“Aku akan melakukan apapun agar kau merasa senang berada di dekatku, Hayi.” Hanbin menatapku dengan lembut. Tiba-tiba lututku terasa lemas.

“Kau tahu, Hanbin? Sekarang…aku baru mengerti apa arti tatapan Jiyong oppa padamu waktu itu. Dia iri padamu. Dia bukan hanya iri karena kau akan hidup lebih lama darinya, tapi…dia iri karena…sepertinya, entah bagaimana, saat itu dia tahu…bahwa saat ini…kau akan membuatku hatiku berdebar.”

Aku memalingkan wajahku yang merona. Ini pertama kalinya aku merasa malu setelah mengatakan apa yang kurasakan. Dulu, saat aku meminta Sehun menjadi pacarku, hatiku tidak berdebar seperti saat ini.

Aku memang belum 100% yakin dengan apa yang kurasakan pada Hanbin. Tapi kurasa…aku ingin mencoba membuka mata hatiku lebih lebar lagi untuknya, untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh mataku. Aku ingin merasakan hati nya, kasih sayang nya, cinta nya padaku.

Bad guy? Good guy? Semua itu tergantung dari sisi mana kau memandangnya. Sebenarnya, semua kriteria mengenai pria impian mu tidaklah penting lagi ketika kau sudah menemukan seseorang yang tepat. Tepat menurut hatimu. Kau hanya perlu melakukan perjalanan panjang menuju ruang hatimu yang terdalam. Kau akan menemukan jawabannya di sana.

Kwon Ji Yong. Kim Hanbin.

Tapi kini yang ada di hadapanku adalah Kim Hanbin. Dan kita tidak bisa memutar masa lalu, se-menyesal apapun diri kita. Oh ya, satu lagi, kita tidak bisa melawan takdir yang telah digariskan untuk kita.

Pada akhirnya aku menyadari bahwa perjalanan paling dalam, paling melelahkan, paling panjang, tapi paling menenangkan adalah perjalanan menuju hatiku, perjalanan dalam memahami diriku sendiri. Dan juga… perjalanan menuju hatinya. Pria di hadapanku.

Perjalanan kami masih sangat panjang. Aku ingin menikmati setiap proses nya.

~~~ The End ~~~

A/N : chessy! Cheesy! Cheesy over load! Hahahaha. Gak tau, tiba-tiba kepikiran pengen bikin cerita kayak gini. What do you think?

Bad guy? Good guy? Semua itu tergantung dari sisi mana kau memandangnya. Sebenarnya, semua kriteria mengenai pria impian mu tidaklah penting lagi ketika kau sudah menemukan seseorang yang tepat. Tepat menurut hatimu. Kau hanya perlu melakukan perjalanan panjang menuju ruang hatimu yang terdalam. Kau akan menemukan jawabannya di sana.

Orang bilang…penulis harus berkali-kali mengalami jatuh cinta dan patah hati agar bisa menuliskan kata-kata yang indah. Hmmm, mungkin. Tapi yang pasti…penulis adalah orang yang bisa melihat suatu rangkaian cerita dan kata yang tidak bisa atau belum bisa dilihat orang lain pada saat itu. Menulis adalah hobi dan terapi. I love it! I hope you’re enjoy reading this story as much as I do.

~Azumi~

One thought on “A Journey to Your Heart

  1. Wih sekian lama gak baca ff gara-gara mau UN habis itu ngurusin daftar kuliah ditambah hp rusak akhirnya sempat juga baca ff disini
    Awal baca summarynya aku kira ini bagi side story dari In The Darkness ternyata bukan 100% walaupun nama klannya sama, ih Sehun tampang doang yang Good Boy, si Mbin mah diem-diem jadi Hayinya gak tau kalo dia suka sama Hayi. Kasian GD disisi😥
    Udah gak sabar nunggu iKON debut somoga jadi pertengahan September ini dan gak diPHPin lag sama YG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s