[oneshot] Mickey Mouse Couple (Side Story of Give Heart)

2015-08-05-16-19-36_deco

Title                         : Mickey Mouse Couple (Side Story of “Give Heart”)

Author                    : Azumi Aozora

Main Casts           : Lee Hi / Lee Hayi (YG solo singer), B.I / Kim Han Bin (iKON)

Support Cast       : iKON, WINNER, Bigbang

Genre                      : romance, friendship, family, AU

Rating                      : PG+13

Length                    : Onsehot

Ini adalah cerita sampingan dari “Give Heart”. Di Chapter 4 yang gw tulis di blog Kunang (https://fanfictionandkpop.wordpress.com/2015/04/12/give-heart-chapter-4/) disebutkan kalau Hanbin mengajak Hayi menemani Hanbin untuk membeli kado ulang tahun adik Hanbin. So, ini adalah cerita tentang itu. Terlalu panjang kalau dimasukin ke cerita inti, jadi dibuat terpisah aja. Hehe. Chapter 5 lagi ditulis sama Kunang yaa. Seperti biasa, “Give Heart” akan diposting di blog Kunang. Now, let’s enjoy this special story. Don’t forget to give me comment. =)

 

~~ Azumi ~~

=========================================================

Aku sudah siap. Jam berapa aku harus menjemputmu? Received 09.00

Menjemputku? Ke depan kamar asramaku? Sent 09.10

Ke depan rumah! Tsk! Tentu saja ke depan kamar asrama mu. *rolls eyes* Received 09.11

Jangan! Tidak usah menjemputku. Kita bertemu saja di halte bus. Setengah jam lagi aku berangkat. Sent 09.12

Oke. Received 09.13

Fiuh. Aku menghembuskan nafas lega. Ada 3 alasan mengapa aku tidak ingin Hanbin menjemputku kemari. Pertama, aku tidak ingin kakakku mengira yang bukan-bukan mengenai Hanbin. Yah, kalian tahu sendiri kakakku adalah orang paling heboh se-jagad raya dan sok ingin tahu apapun tentangku. Ke-2, aku tidak ingin acara hari ini tampak seperti “kencan”, karena sudah pasti ini bukan kencan! Ya Tuhan, ada apa denganku? Bisa-bisanya aku, meski hanya selintas, sepersekian detik, berpikir Hanbin memintaku menemaninya membeli kado untuk adiknya sebagai alasan untuk “mendekatiku”! Aku pasti sudah gila! Ke-3, untuk berjaga-jaga seandainya Bobby melihat kami. Coba pikirkan, apa yang akan Bobby simpulkan ketika (seandainya saja) ia melihat kami pergi keluar asrama bersama di hari Minggu?! Bagaimanapun juga, aku ingin menjaga reputasiku di mata Bobby Oppa, I’m single and I’m available, yeah…at least for him.😀

Selama hampir setengah jam, aku menggonta-ganti bajuku. Kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan baju apa yang harus kupakai?! Aku kan hanya akan pergi keluar bersama Hanbin!

Aku melepaskan dress pink yang terlihat manis namun terasa kurang pas untuk dipakai hari ini. Aku tidak perlu memakai dress cantik ini. Aku tidak punya alasan mengapa aku harus tampil berbeda dari biasanya.

Akhirnya, setelah mengeluarkan banyak sekali pakaian dari dalam lemariku, aku pun memutuskan untuk memakai pakaian casual, gaya ku yang biasa. Skinny jeans, kaus putih lengan pendek, aku mengikat rambutku yang panjang menjadi pony tail, lalu memakai snapback merah bergambar mickey mouse, dan sepasang sneakers merah.

Aku menganggukkan kepalaku sambil menatap cermin. Merasa puas dengan penampilanku yang simple. Lalu berjalan keluar dari dalam kamar asramaku sambil mengendap-endap. Tidak ada siapapun. Oke, aman. Aku malas bertemu teman-temanku, apalagi kakakku, menjawab pertanyaan ini itu seperti “Mau ke mana? Dengan siapa? Untuk apa?”

Setelah mencapai gerbang asrama, aku pun berlari sekuat tenaga menuju halte bus. Aku tahu, aku sudah terlambat 10 menit. Aku sudah menyiapkan diriku untuk mendengarkan omelan Hanbin. Oke, tidak masalah. Aku tahu ini memang salahku.

“Sorry, telat.” Aku berkata sambil membungkukkan badanku, kehabisan nafas.

Hanbin tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Keningnya berkerut dalam-dalam.

Kenapa dia menatapku seperti itu? Aku balas menatap Hanbin.

“Oh!” Aku berseru ketika menyadari gaya berpakaian Hanbin. Jeans, kaus putih longgar, sneakers merah, dan snapback merah bergambar mickey mouse. Bedanya…Hanbin memakai snapback ke belakang, dan di snapback nya masih menggantung label / merek snapback beserta harga nya. Tanpa sadar aku mendengus. Dasar tukang pamer!

“Kau punya snapback limited edition itu juga?” Hanbin masih mengerutkan keningnya. Suaranya terdengar tak percaya.

Aku mendelik tajam padanya. “Tentu saja!”

Hah! Dia pikir, dia saja yang bisa membeli snapback mahal ini?! Sebenarnya aku ingin mengomentari kebiasaan anehnya yang tidak pernah melepas label & harga snapback nya, tapi aku menahan lidahku, tidak ingin membuatnya semakin marah.

“Ayo!” Ajak Hanbin. Dia membalikkan badannya dan berjalan begitu saja.

Aku menatap punggungnya dengan bingung. Dia tidak marah karena aku datang telat? Ini diluar perkiraanku. Aneh. Tapi ya sudahlah.

“Tunggu!” Aku berlari mengejarnya sambil tersenyum senang.

“Kupikir kita akan naik bus?” Aku menatap Hanbin dari samping. Berjalan berdampingan dengannya sedekat ini membuatku sadar ternyata tubuhku memang mungil sekali dibandingkan tubuh tinggi Hanbin.

“Aku tidak pernah berkata kita akan naik bus.” Jawab Hanbin datar. Matanya menatap lurus ke depan.

Aku mendengus. Dasar robot! Kupikir hubungan pertemanan kami sudah ada kemajuan. Mungkin hanya aku saja yang beranggapan demikian.

Aku tidak ingin memikirkan hasil “Evaluation Test Day” kemarin. Sepertinya Hanbin pun berpikiran sama denganku. Kami tidak pernah mengungkit hal tersebut. Lupakan semua kompetisi dan tugas-tugas sekolah! Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini. Tiba-tiba saja aku ingin makan ramyun dan ppatbingsu di kedai favoritku.

“Hey Hanbin, karena aku sudah mau menemanimu belanja kado untuk adik perempuanmu, kau harus mentraktirku makan! Aku ingin ramyun dan ppatbingsu.”

Hanbin menolehkan kepalanya sekilas padaku, menyeringai, “Apakah yang ada di otak mu itu selalu hanya ada makanan, Lee Hayi?! Tenang saja, aku akan membelikanmu makanan dan minuman apapun yang kau mau. Sekarang, beritahu aku, kita harus pergi ke mana? Apa yang harus kubeli untuk adikku?”

Mulutku menganga. Jadi…setelah sekian jauh berjalan, Hanbin sendiri tidak tahu kita harus pergi ke mana?!

Aku menepuk jidatku perlahan. Kupikir dia tahu! Kenapa dia tidak bertanya padaku dari tadi?!

Aku menahan lengan Hanbin. “Berhenti! Kita menunggu bus di sini. Sebaiknya kita ke Hongdae.”

Hanbin mengangguk. “Oke. Tapi aku tidak suka naik bus.”

Aku membelalakkan mataku. “Aku tidak mau berjalan kaki sampai Hongdae!”

Apakah Hanbin gila?! Hongdae kan terletak jauh dari asrama kami.

Hanbin tertawa pelan. “Bodoh. Tentu saja tidak. Ji Yong hyung sudah memberiku izin untuk meminjam salah satu mobilnya.”

“Mobil? Memangnya kau bisa menyetir?”

Hanbin hanya menjawab pertanyaanku dengan seulas seringaian menyebalkan. Tak lama kemudian, kami pun sampai di sebuah apartemen mewah, tak jauh dari asrama kami.

Ji Yong… Ji Yong…, kenapa namanya terdengar tidak asing?

Barulah ketika seorang pria berambut pirang membukakan pintu apartemennya, aku sadar mengapa nama itu terdengar tidak asing. KWON JI YONG alias G-DRAGON! Alumni YG, musisi, penyanyi, sekaligus idol terkenal yang lagu-lagunya sering kuputar hampir setiap malam.

Aku menatap Hanbin dan G-Dragon bergantian. Bagaimana Hanbin bisa mengenal G-Dragon?! Kenapa G-Dragon setuju meminjamkan salah satu mobilnya pada Hanbin? Kenapa Hanbin tidak bilang padaku kalau dia kenal G-Dragon? Aku kan bisa membawa koleksi CD ku untuk ditandatangi oleh G-Dragon! Aku merogoh-rogoh tas selempang kecil ku, mencari pulpen dan kertas, tapi tidak menemukannya. Aku mengeluh pelan. Aku tidak mungkin meminta G-Dragon menandatangani baju ku! Aku tidak se-fanatik itu!

Semua pertanyaanku terjawab ketika Hanbin berkata, “Hayi, ini Ji Yong hyung, sepupuku. Hyung, Hayi ini adalah salah satu fans mu. Bisakah kau berikan album bertandatanganmu padanya?”

Untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, aku memeluk Kim Hanbin. Refleks. Mungkin karena aku merasa terlalu senang. Senyuman lebar tak pernah lepas dari bibirku ketika aku mengenalkan diriku pada Kwon Ji Yong alias G-Dragon, idolaku.

“Selamat bersenang-senang, Hayi!” G-Dragon melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat. “Semoga kencan kalian menyenangkan.”

Aku terlalu bahagia untuk tidak menyanggah kata-katanya. Aku memeluk album bertandatangan G-Dragon dengan protektif di dadaku, seolah benda itu adalah hal paling berharga bagiku.

Hanbin menarik tanganku. Mungkin dia merasa kesal karena aku tak juga menggerakkan kakiku menjauh dari depan pintu apartemen G-Dragon.

“Kita tidak punya banyak waktu. Ayo!”

Aku membungkukkan badanku sekali lagi pada G-Dragon, kemudian mengikuti Hanbin ke basement apartemen.

Aku tahu G-Dragon memang punya banyak mobil keren, tapi aku tidak pernah menduga dia akan rela meminjamkan salah satu Lamborghini kesayangannya pada Hanbin!

“Kita…akan naik ini? Wow! Aku naik mobil G-Dragon!”

Hanbin memutar kedua bola matanya. “Hey Hayi, kau bisa fangirling nanti! Sekarang fokuskan pikiranmu pada benda apa yang harus kubeli untuk adikku!”

“Tsk! Oke-oke.” Aku pun masuk ke dalam mobil.

Terlalu banyak kejutan hari ini. Dimulai dari sikap Hanbin yang agak berbeda (dia tidak marah padaku ketika aku datang telat. Ini sangat berbeda dari biasanya), kenyataan bahwa dia adalah sepupu G-Dragon, meminta G-Dragon untuk memberikan album bertanda tangan untukku (padahal seingatku aku tidak pernah memberitahu Hanbin kalau aku adalah fans G-Dragon), naik mobil G-Dragon, sampai berjanji akan membelikanku makanan dan minuman apa saja karena sudah mau menemaninya membeli kado untuk adiknya.

Terlalu banyak kejutan. Dan aku tidak pernah mengira akan mendapat kejutan lainnya di Hongdae.

~~~~~~ ******* ~~~~~ ******* ~~~~~~

Lamborghini putih ini terlalu mencolok! Begitu aku dan Hanbin keluar, semua mata langsung menatap kami. Aku menunduk. Risih.

“Sepertinya meminjam mobil Ji Yong hyung adalah ide yang buruk. Mungkin sebaiknya tadi kita naik taxi saja.” gumam Hanbin. Beberapa orang mulai menunjuk-nunjuk mobil G-Dragon. Tentu saja fans-fans fanatik G-Dragon akan tahu berapa plat nomor mobil nya! Aku tidak kepikiran hal ini sebelumnya karena terlalu senang bertemu idolaku itu.

Aku mengerang ketika beberapa orang mengambil foto kami berdua. “Ugh! Apa sebaiknya kita pulang saja?”

Aku tidak suka menjadi pusat perhatian!

Mwoya?! Ayo!” Hanbin menggenggam tangan kanan ku, lalu menuntunku menerobos kerumunan.

Setelah berjalan jauh dari tempat parkir, barulah kami bisa bernapas dengan lega.

“Aku tidak mengira fans-fans Ji Yong hyung tahu plat nomor mobil hyung.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak semua fans tahu.”

Aku baru sadar tangan kami masih bertautan. Rasanya aneh. Aku mendongak, menatap Hanbin. Tapi sepertinya Hanbin tidak menyadarinya, atau mungkin saja dia menyadarinya? Tapi kalau iya, mengapa dia tidak melepaskan tanganku?

Aku mematung selama beberapa detik. Hanbin berhenti berjalan, membalikkan badannya dan menatapku. Jarak kami se-lebar rentangan tangan kami yang masih bertautan. “Ada apa?”

Aku menatap tangan kami. Hanbin menatap wajahku. Aku terbatuk pelan. “Sebaiknya kita mulai mencari hadiah untuk adikmu di toko itu!” Aku berkata dengan cepat lalu berjalan, menarik Hanbin agar mengikutiku.

Ketika sampai di toko yang kumaksud, barulah Hanbin melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. Aku mengerutkan keningku. Aneh. Rasanya aneh karena aku merasa nyaman menggenggam tangannya.

Aku berjalan melihat-lihat boneka. Hanbin mengikutiku.

“Perempuan akan selalu senang mendapat hadiah boneka.” Kataku. Hanbin mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kami berjalan di sepanjang etalase yang menyediakan berbagai jenis boneka dengan berbagai ukuran. Lalu, tiba-tiba saja mataku yang jeli menangkap sebuah boneka mickey mouse yang sedang membawa gitar. Aku belum punya boneka mickey yang ini!

Ketika aku mengulurkan tangan untuk meraih boneka itu, ada tangan lain yang menarik boneka itu dari sisi lain. Aku mendongakkan wajahku. Hanbin!

Hanbin menatapku tajam. Aku balas menatapnya dengan tajam.

“Aku melihatnya lebih dulu!” Tukasku.

“Aku memegangnya lebih dulu!” Hanbin tak mau kalah.

“Kita memegangnya bersamaan! Tapi aku yang melihatnya lebih dulu!”

“Itu berarti kita juga melihatnya bersamaan!” Hanbin keras kepala.

Selama beberapa saat, kami berdua saling menatap dengan sengit, sampai kemudian aku menginjak kaki Hanbin dengan keras. “Aaaawww!” Hanbin mengaduh kesakitan. Aku terbahak-bahak, berlari menjauh darinya, “Boneka ini milikku!” Aku menjulurkan lidahku.

“YAH!” Hanbin berteriak sambil mengejarku.

Hanbin menarik tanganku. “Bagaimana kalau kita berpencar dan berburu semua barang bergambar dan berbentuk Mickey Mouse yang ada di Hongdae?”

“Oke! Tidak boleh iri bila aku menemukan lebih banyak barang mickey mouse daripada kau!”

Hanbin menyeringai. “Kita lihat saja nanti. Dua jam dari sekarang… kita akan bertemu di depan toko ini.”

Aku mengangguk. “Oke.”

“Oke. Start!”

Kami berdua berlari cepat keluar dari toko boneka ini sambil tertawa. Aku memutuskan untuk mengambil jalur kanan, sementara Hanbin kiri.

“Sampai nanti, Hayi!” Teriak Hanbin.

Aku tertawa pelan sambil menggelengkan kepalaku, tidak pernah mengira sebelumnya ternyata Hanbin memiliki sisi kekanakan seperti ini.

Aku masuk ke toko yang menjual pernak-pernik. Beruntung sekali aku mendapatkan gelang, kalung, anting, dan gantungan kunci mickey mouse.

Segera saja aku menuju toko di sebelahnya, mencari barang apapun yang berhubungan dengan mickey mouse!

Tanpa terasa, selama 2 jam aku keluar masuk satu toko ke toko lainnya. Tanganku menenteng dua kantung plastik penuh berisi barang Mickey Mouse. Aku berjalan hati-hati, takut kalau-kalau jam dinding dan gelas mickey mouse ku pecah.

Selama 2 jam itu, tak sekalipun aku bertemu Hanbin. Tentu saja, karena Hanbin hanya mencari di deretan toko sebelah kiri, sedangkan aku kanan.

“Hayi!” Hanbin melambaikan tangannya sambil nyengir lebar. Ternyata dia sudah tiba lebih dulu di tempat final kami, toko boneka yang kami kunjungi pertama kali tadi.

Mataku membelalak lebar melihat Hanbin berdiri di atas sebuah skateboard hijau, bergambar mickey mouse!

“Huwaaaaahhhh….skateboard itu keren sekali!”

Hanbin menyeringai puas. “Tentu saja! Kau dapat barang apa saja?”

Kami duduk di kursi kayu di bawah pohon, saling memperlihatkan barang hasil buruan kami masing-masing.

“Kau membeli rok bergambar mickey mouse? Hahahaha. Memangnya kau mau memakai rok ini?!” Aku tertawa terbahak-bahak.

Hanbin mendnegus. “Kau sendiri? Kenapa kau membeli alat cukur bergambar mickey mouse? Memangnya kau punya kumis dan jenggot?”

“Tsk! Sudahlah! Kita barteran saja!”

Tiga puluh menit berikutnya kami habiskan dengan saling barter benda-benda yang tidak mungkin bisa kami pakai. Lalu, dua jam berikutnya kami habiskan dengan membeli barang-barang mickey mouse yang belum kami miliki.

Tanpa kami sadari, matahari sudah hampir terbenam, dan kami sama sekali belum mendapatkan hadiah untuk adik Hanbin!

“Semua ini bukan salahku, tapi salah mickey mouse yang menggemaskan.” Gumamku.

Hanbin mengangguk cepat. “Aku tidak menyalahkanmu, tapi…apa yang harus kuberikan untuk Hanbyul? Dia tidak suka mickey mouse.”

“Bagaimana kalau dress seperti princess dan boneka beruang bersayap itu? Aku yakin adikmu akan suka.”

Hanbin mengangguk, sepertinya sudah tidak sabar. “Oke. Setelah ini kita makan.”

Siapa yang mengira ternyata tujuan awal kami melenceng sedikit?! Yah, tapi aku tidak menyesal, karena kini koleksi mickey mouse ku bertambah banyak.

Setelah membeli kado untuk adik Hanbin, makan di kedai favoritku, kami pun pulang ke asrama. Hanbin memarkirkan mobilnya di asrama, karena dia tidak mau menenteng banyak barang belanjaan sambil berjalan kaki dari apartemen sepupunya.

Timing kami sepertinya kurang tepat. Begitu kami keluar dari dalam mobil, beberapa teman kami “kebetulan” melihat kami. Sialnya, Bobby termasuk salah satu diantara mereka. Tapi untungnya tidak ada kakakku!

“Yah! Kalian dari mana?” Teriak Junhoe. “Ini mobil siapa hyung? Wow!” Junhoe mulai mengagumi Lamborghini G-Dragon dari berbagai sisi.

Bobby menatap kami dengan curiga. “Kalian berkencan?”

“Mwo? Tentu saja tidak!” tukasku cepat-cepat.

Bobbby menatap kami tidak percaya. Jinhwan memiringkan kepalanya sedikit, ikut-ikutan menatap kami dengan curiga.

“Tidak usah menyangkal, nuna, hyung! Lihat! Kalian bahkan memakai pakaian, kalung dan gelang couple!” Chanwoo menunjuk gelang dan kalung mickey mouse kami.

Aku dan Hanbin saling berpandangan selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa. “Kami memang membeli banyak barang mickey mouse!” Hanbin mengeluarkan semua barang belanjaan kami dari dalam mobil.

“Kalian tahu tidak kami dapat barang apa saja? Mulai dari pernak-pernik, sampai peralatan dapur, pakaian, bahkan skateboard!” Aku bercerita dengan bersemangat.

Jinhwan tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar kalian maniak mickey mouse!”

Junhoe menyeringai. “Mickey Mouse couple! Mulai sekarang aku akan memanggil kalian mickey mouse couple!”

“Yah! Kami bukan couple!” Aku memukul lengan Junhoe dengan keras sampai ia mengaduh kesakitan. “Bawakan barang-barangku, Junhoe!”

“Kenapa?” Junhoe memasang tampang sassy nya.

“Karena kau anak buah ku.” Aku menyeringai.

“Bawakan punyaku juga.” Hanbin langsung memberikan barang-barang belanjaannya pada Junhoe.

Junhoe mendengus. “Dasar mickey mouse couple!”

Kami semua tertawa kecuali Bobby. Keningnya ditekuk dalam-dalam. “Aku tidak mengerti.”

“Apanya?” tanya Jinhwan.

“Aku juga tidak mengerti hyung, kenapa mickey mouse couple ini senang sekali menindasku!” timpal Junhoe yang kini di tangannya penuh dengan kantung plastik.

Bobby menggeleng. “Kenapa kalian suka mickey mouse? Winnie the Pooh lebih lucu!”

Hanbin dan aku tertawa, lalu berjalan begitu saja meninggalkan Bobby.

“YAH! WINNIE THE POOH LEBIH LUCU!” teriak Bobby.

“Terserah kau saja, Kimbab!” ujar Hanbin dengan tenang tanpa membalikkan badannya.

Hanbin mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik. “Sebaiknya tidak usah pedulikan dia. Dia akan mulai mengomel panjang lebar tentang betapa lucu nya Winnie the pooh.”

Aku mengangguk setuju sambil terkikik pelan. Jinhwan, Bobby, Junhoe, dan Chanwoo membantu kami membawa barang-barang belanjaan kami ke kamar asrama kami masing-masing.

“Hey Hanbin, terima kasih karena sudah belanja bersamaku, mengajakku bertemu G-Dragon Oppa, dan memintanya memberikan album bertanda tangan.” Aku berkata pelan ketika kami berjalan berdampingan di lorong, agak jauh dari yang lain.

Hanbin mendekatkan wajahnya lagi ke telingaku lalu berbisik. “Sama-sama, Minnie.” Hanbin menyeringai.

Aku menyenggol tulang rusuk nya pelan dengan sikut ku. “Aku lebih suka Mickey Mouse dibanding Minnie Mouse!”

Hanbin hanya tertawa. Kemudian, tiba-tiba saja Hanbin berkata dengan santai, “Minggu depan datanglah ke rumahku. Hanbyul pasti akan senang. Biasanya hanya kami bertiga yang merayakan ulang tahunnya.”

Aku tertegun selama beberapa detik. Hanbin mengundangku ke pesta ulang tahun Hanbyul?

“Oke. Tapi…aku belum membeli kado untuknya?”

“Bukankah kita sudah membeli baju dan boneka?”

“Tapi…”

“Pokonya kau tinggal datang saja. Tidak perlu memikirkan kado lagi.”

Hanbin berjalan mendahuluiku. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh sambil tersenyum lebar. Entahlah, rasanya menyenangkan memikirkan kami akan menghabiskan waktu bersama lagi di luar sekolah dan asrama.

Aku memang masih belum mendapatkan jawaban mengapa sepertinya Hanbin dan aku sudah saling mengenal jauh-jauh sebelumnya. Atau mengapa ingatan Hanbin dan ingatanku berbeda. Aku yakin aku hanya baru pertama kali bertemu dengannya saat umur kami 13 tahun, di taman. Sementara Hanbin yakin kami pertama kali bertemu saat 11 tahun, di rumah Soohyun.

Aneh bukan? Orang yang tadinya kita anggap sebagai orang asing, orang paling menyebalkan dan paling sok di muka bumi ini ternyata bisa menjadi orang yang kini sama-sama berbagi kegilaan terhadap Mickey Mouse!

Kami memang mulai akur semenjak Hanbin menemaniku berlatih sampai pagi untuk persiapan Evaluation Test, tapi kurasa kami makin akrab setelah hari ini.

~~~~~ ***** ~~~~~

Tiga hari berikutnya, sekolah dihebohkan oleh kedatangan special teacher, G-Dragon alias Kwon Ji Yong, di kelas composing dan rap!

“Oh, adik ipar, kau ada di kelasku!” Ji Yong tersenyum lebar ketika ia berjalan masuk ke dalam kelas dan melihatku. Padahal saat itu aku duduk di bangku paling belakang, tapi Ji Yong langsung mengenaliku.

Kontan saja semua anak berbisik-bisik, kecuali Junhoe yang berseru lantang. “Apa kubilang kan?! Hanbin hyung dan Hayi nuna memang merahasiakan hubungan mereka! Dasar Mickey Mouse couple pelit! Mereka pasti sengaja merahasiakan hubungan mereka karena tidak mau mentraktir kita makan!”

Aku terlalu senang untuk tidak membentak dan memukul Junhoe karena Ji Yong Oppa masih mengingatku. Terserah sajalah apa yang orang katakan, mickey mouse couple atau apapun itu, yang penting idolaku sekarang ada di sini, menjadi guruku selama beberapa bulan ke depan, dan yang paling penting adalah ia mengenalku! Sepanjang pelajaran berlangsung, seulas senyuman lebar tak pernah lepas dari wajahku.

~~ The End ~~

5 thoughts on “[oneshot] Mickey Mouse Couple (Side Story of Give Heart)

  1. hhehe 1st??cieee cieeeee hanbin hayi cieeee 😅😅😅😅

    suka ama couple mickey mouse ini ahhaha wlo aku si ama kayak bobby kali lebih suka winnie the pooh (lucuan bruang madu kmana mana *dilempar hanbin)

    kkk lagi dtulis kunang 😂… okeh deh ff ini bikin aku smngat lanjutin apalagi kan ikon bntar lagi (harusss pzti) debut…. my bobby maannn!!

    ahahhahaha kesian bgt nasip junhoe? lagian uda kayak emak emak gosipp

    its a good ff anyway 😘😘. *send heart from suhyun who already knew mickey mouse’s couple date
    *moga komen ini kkirim

  2. Seruuuu!!!
    Rindu akan give heart terobati. Jadi pengen beli boneka mickey mouse sama winnie the pooh, hehehe.
    Good couple.
    Semangat terus ya eonni buat cerita2 lainnya🙂

  3. Wah si Mbin modus itu ngajakin Hayi jalan, alasan doang itu mau cari hadiah buat Byul
    Si Hanbin kayanya ngrasa sesuatu gitu waktu manggil Hayi dengan Minnie Mouse, pasti berharap dia yang jadi Mickeynya hehehe
    Pokoknya jjang buat eonni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s