See You Again (Side Story of Moonlight Destiny)

Title            : See You Again (Side Story of Moonlight Destiny)

Author        : Azumi Aozora

Main Cast   : Park Chan Rin (OC), Oh Sehun (EXO), Oh ChoA (OC), Park Chan Yeol (EXO)

Support Cast: EXO, SHINee, Red Velvet, WINNER members

Genre          : fantasy, romance, family, friendship

Length        : Oneshot

Rating         : PG+13

PicsArt_1438175911982

====== Park Chan Rin PoV ======

Dalam 700 tahun kehidupanku di bumi ini, aku masih bisa mengingat dengan jelas semua kenangan di saat aku masih menjadi manusia biasa, di saat leluhurku, Kris, belum membangkitkan kekuatanku. Di saat aku hanyalah Park Chan Rin, gadis biasa yang tidak memiliki kekuatan spesial apapun, gadis sok kuat yang memiliki seorang kakak luar biasa bernama Park Chan Yeol.

Selama 700 tahun hidupku, tidak pernah seharipun aku melupakan Chan Yeol Oppa. Ingatanku tentangnya masih setajam dulu. Aku bahkan masih bisa mengingat dengan jelas setiap keriput di wajahnya ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Park Chan Yeol hanya manusia biasa, tapi bagiku ia lebih dari sekedar “biasa”. Baik di saat aku masih menjadi manusia, maupun ketika kekuatanku sudah dibangkitkan kembali, Chan Yeol Oppa selalu ada, mendukungku, menyayangiku. Baginya, aku tetaplah adik kecil kesayangannya, Park Chan Rin.

Chan Yeol hidup dengan normal layaknya manusia biasa. Setelah EXO bubar, ia bekerja kantoran, menikah, tetapi tidak pernah memiliki anak, dan aku pun tahu ia tidak pernah bahagia dengan pernikahannya, meski sampai akhir hayatnya ia berpura-pura bahagia di hadapanku. Ia tidak pernah mengeluh dan bercerita padaku mengenai istrinya yang suka berselingkuh.

Jika ada satu hal yang paling kusesali di dunia ini, maka hal itu adalah betapa jarangnya aku bertemu dengan kakakku semasa ia hidup dulu. Aku banyak berpindah-pindah tempat tinggal bersama dengan suamiku, Sehun. Sama seperti Sehun dan makhluk mistis lainnya, umurku jauh lebih panjang dibanding manusia, sehingga untuk menghindari kecurigaan manusia mengenai identitas kami yang sebenarnya terpaksa kami harus berpindah-pindah tempat tinggal.

Aku meninggalkan Chan Yeol Oppa. Dia melepaskanku dengan senyuman lebarnya, seperti biasa, seolah tanpa beban. Dan 48 tahun kemudian, ketika aku menemuinya lagi, senyuman lebarnya masih sama hangatnya seperti terakhir kali aku melihatnya, meskipun saat itu sudut-sudut mulutnya dipenuhi guratan keriput. Sampai ajal menjemputnya, Chan Yeol Oppa tidak pernah sekalipun menampakkan kesedihannya padaku, atau bagaimana kesepiannya, menderitanya, dan merindunya ia padaku. Di hadapanku, Chan Yeol Oppa selalu terlihat sebagai Chan Yeol si Happy Virus, selalu tersenyum dan tertawa bahagia.

Suamiku, Sehun, pernah berkata bahwa kehilangan saudara ataupun sahabat manusia adalah hal yang tak bisa kaum kami elakkan. Kami hidup jauh lebih lama dibanding manusia. Di saat manusia-manusia itu mati, kamilah yang menanggung kesedihan mendalam dan berkepanjangan. Kamilah yang selalu mengingat mereka, seolah semua itu baru terjadi kemarin. Tak peduli selama apapun kami hidup, kenangan tentang saudara dan teman-teman manusia kami tidak pernah mati.

Setiap tanggal 28 di bulan Juli, aku selalu mengasingkan diri dari keluarga dan teman-temanku. Hari ini, 600 tahun lebih yang lalu, Chan Yeol Oppa meninggalkan dunia ini. Aku memang tidak mempunyai foto-fotonya lagi, tapi aku masih bisa membayangkan setiap gurat wajahnya di dalam benakku.

Aku sudah berdiri di puncak Arc The Triomphe sejak sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam. Kini lampu-lampu sudah dinyalakan. Aku bisa melihat pemandangan kota Paris yang menakjubkan dari atas sini. Tapi di mataku hanya ada Park Chan Yeol. Aku melihat setiap detail kenangan tentangnya.

Aku merasakan sentuhan lembut di pundakku. Ketika menoleh, seulas senyum hangat menyambutku. Aku mengerutkan kening. Tidak biasanya suamiku “menggangguku” di tanggal 28 Juli. Ia tahu betul kebiasaanku menyendiri di setiap tanggal ini di setiap tahunnya, tak peduli di manapun kami tinggal. Ia bahkan tidak pernah menemuiku ketika tanggal 28 Juli 5 tahun yang lalu aku menyendiri di puncak gunung Everest. Lalu kenapa sekarang ia datang?

“Yeoboo, ChoA sudah datang.” Bisik Sehun lembut sambil merangkul pundakku dengan sebelah lengannya, kemudian ia mengusap-usap lenganku.

ChoA adalah anak bungsu kami. Tidak seperti anak-anak kami yang lainnya, ChoA bersekolah di dunia Angel. Ia sudah terbiasa tinggal jauh dari kami sejak umurnya 10 tahun. Setiap libur semester, ia pulang, bercerita ini itu tentang sekolahnya. ChoA memang yang paling berbeda diantara keluarga kami. Ia yang paling cerewet, heboh, keras kepala (meski Sehun berkata sifat ini diturunkan olehku), dan ChoA jugalah satu-satunya anak kami yang paling menyerupai kaum angel.

Di dalam darahku memang mengalir darah angel, devil, dan yang paling dominan adalah darah Kris. Anak-anak kembarku lebih menyerupai diriku (mungkin karena gen-ku dominan). Lalu ChoA, entah bagaimana, lebih menyerupai kaum angel murni. Sehun bilang, ChoA mewarisi gen resesifku. Ia hanya mewarisi gen angel ku dan gen manusia Sehun. Ia tidak mewarisi banyak kekuatan kami. Ia tidak bisa minum darah seperti kami. Ia juga tidak memiliki kekuatan-kekuatan devil seperti kami.

ChoA hanya mewarisi kekuatan angel ku. Karena itulah sejak kecil aku menyekolahkannya di asrama dunia Angel. Sehun pun setuju. Menurutnya, kekuatan ChoA akan lebih berkembang bila ia berada di lingkungan yang mendukungnya.

Kris si Kakek Buyut berkata bahwa hal tersebut tidaklah aneh. Bahkan manusia pun, dalam satu keluarga, tidak semua anggota keluarga memiliki ciri fisik yang sama, penyakit diturunkan yang sama, dll. Misalnya saja dalam satu keluarga yang turun temurun mewarisi diabetes, tidak berarti semua anggota keluarganya akan terkena diabetes. Begitupula dengan kaum kami. Terlebih lagi karena keluarga kami adalah keluarga campuran yang pertama, tidak ada hukum tetap bagaimana seorang anak kaum campuran mewarisi kekuatan orangtuanya.

“Yeobo…” Sehun memanggilku lagi, masih dengan nada lembut dan sabar nya seperti biasa, tapi aku menangkap nada khawatir di dalam suaranya. Hidup selama hampir 700 tahun bersama Sehun membuatku tahu setiap perubahan intonasi bicaranya, sekecil apapun.

Aku menolehkan wajahku, menatap kedua mata beningnya yang berwarna hitam kecokelatan, lalu tersenyum menenangkan. Tadi aku memang sempat melamun lama sekali tentang ChoA, tapi aku tidak ingin membuat Sehun khawatir. Aku menggenggam sebelah tangannya, “Ayo kita pulang.”

“Chan Rin~ah…” Gestur tubuh Sehun terlihat seperti menahan kepergianku. Aku tidak jadi berteleportasi. Aku mengerutkan keningku, menatap Sehun lekat-lekat. Bila suamiku itu memanggilku dengan namaku dan bukannya ‘yeobo’ / ‘sayang’, maka pasti ada hal serius yang ingin ia katakan.

“ChoA membawa temannya. Katanya ia ingin menginap di rumah kita selama liburan ini.”

Aku mengerutkan keningku, tidak mengerti. Bukannya sudah biasa ya ChoA mengundang teman-teman angel nya berlibur di rumah kami?

Aku masih menatap Sehun, menunggunya melanjutkan kata-katanya yang tertunda. Sehun menghela nafas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “Kali ini ia hanya membawa satu teman. Laki-laki.”

Aku mengerutkan kening selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa keras. “Hahaha…, Oppa, kau cemburu karena anak gadis kita sudah memiliki kekasih?” Aku menyenggol lengannya pelan, menggoda. “ChoA sudah 17 tahun. Menurutku….tidak apa-apa bila ia mengajak kekasihnya datang ke rumah. Aku ingin bertemu dengannya. Waaaah…, ini pertama kalinya ChoA mengajak anak laki-laki berlibur ke rumah kita. Dia pasti sangat menyukai anak itu.”

Sehun menggeleng. “Dia bukan pacar ChoA.”

“Oh?”

Oke, sekarang aku bingung. Kalau bukan pacar…lantas kenapa suamiku itu terlihat khawatir? Aku terkekeh pelan, geli melihat sisi lain kebapakannya. Yah, mungkin seorang ayah memang lebih protektif terhadap anak perempuannya.

“Mungkin anak laki-laki itu sahabat ChoA.” Kataku sambil tersenyum lebar.

Sehun menggeleng lagi. “Baru juga tiba di rumah, mereka sudah bertengkar.”

Aku tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “Hmm.., bukankah bertengkar adalah salah satu bentuk cinta?”

Aku mengira Sehun akan memelototiku, tapi ia hanya mendesah, seperti terlihat lelah. Ia membalikkan badanku, kini kami sepenuhnya berdiri berhadapan. Sehun meletakkan kedua tangannya di pundakku, menekuk lututnya sedikit sehingga kedua matanya sejajar dengan mataku.

“Anak laki-laki itu bernama Park Chan Yeol.”

Aku tersenyum. “Nama yang sama seperti Oppa ku.”

Sehun tidak balas tersenyum. Raut wajahnya tetap terlihat serius. “Dia…sangat mirip dengan Chan Yeol hyung.”

Senyumku semakin lebar. “Benarkah?”

“Ada tanda lahir berbentuk seperti kupu-kupu di lengan atas kiri nya.”

Senyumku lenyap. Mulutku terbuka, tapi tak ada satupun kata yang terucap. Tiba-tiba saja aku teringat percakapanku dengan Lee Tae Min, raja dunia angel, 200 tahun lebih yang lalu……

*Flashback*

Aku sedang melukis di rumahku ketika tiba-tiba saja Tae Min muncul di depan pintu rumahku, menampakkan seulas senyum lebarnya sambil membawa sekotak ice cream cake cokelat karamel.

“Kau tidak datang ke pesta ulang tahunku kemarin lusa, jadi aku membawakanmu ini.” Taemin menyerahkan kotak berisi ice cream cake itu padaku.

Sebelum aku sempat mengatakan maaf, Taemin keburu berkata, “Tidak apa-apa, aku tidak pernah menyalahkanmu. Bagaimanapun…ulang tahunku bertepatan dengan meninggalnya kakak mu.”

Aku tersenyum tipis, lalu mempersilakan Taemin masuk ke dalam rumahku. Rumah kami memang diberi perlindungan, sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bisa berteleportasi di dalam rumah.

Raja dunia angel itu berjalan perlahan, mengamati lukisan-lukisanku. “Kau masih melukis dan menulis. Sepupuku selalu membaca novel-novelmu, bahkan setelah serial novel Kris the Galaxy Superhero berakhir.”

Aku tersenyum. “Bagaimana kabar Eve?” Eve adalah sepupu Taemin, sekaligus istri Kris. Kadang ia tinggal di dunia devil bersama kakak perempuannya yang merupakan ratu devil sekaligus istri raja devil, Luhan. Tapi Eve lebih sering tinggal di tanah kelahirannya, di dunia angel. Karena perdamaian antar dunia sudah lama berlangsung sejak lebih dari 600 tahun silam, tidak masalah bila ada devil ataupun makhluk lain yang tinggal di dunia angel. Hanya tentu saja kekuatan angel lah yang akan lebih maksimal di dunia angel, sama seperti kekuatan devil lah yang akan lebih maksimal bila berada di dunia devil.

“Dia akan pindah ke dunia Kris setelah melahirkan anak pertamanya.”

Aku tidak mengira Kris ternyata serius dengan apa yang ia katakan padaku waktu itu. Ia berkata…ia dan istrinya akan tinggal di tanah kelahiran Kris, dimensi lain, dunia lain, yang tidak terjangkau oleh makhluk manapun. Tidak kecuali atas seizin makhluk yang berasal dari dimensi tersebut. Aku sendiri belum pernah datang ke dunia itu, meskipun di dalam pembuluh darahku…darah kaum itu lah yang paling mendominasi.

“Kris sepertinya serius menerima tawaran untuk menjadi pemimpin di dunia nya.” Tambah Taemin.

Aku mengangguk. Kris memang cocok menjadi raja. Pengalamannya jauh lebih banyak dari makhluk manapun di dunia ini, bahkan di dunianya pun…aku berani bertaruh, tak ada satupun klan nya yang telah melakukan petualangan ke berbagai galaksi, dunia, dan dimensi lain seperti yang pernah Kris lakukan.  Dan tidak pernah ada yang mengakibatkan kekacauan selama berabad-abad seperti yang pernah Kris lakukan. Tentunya semua kecacauan itu dipelopori oleh The Great King Xi, kakek buyut Luhan.

Taemin berhenti berjalan, menatap salah satu lukisan abstrak ku yang terletak di ujung ruangan dengan sungguh-sungguh. “Lukisan ini mengingatkanku pada seseorang.”

Aku tersenyum simpul. Raja angel yang satu ini memang paham seni, dan aku beruntung karena ia mengagumi karya-karya seni ku. Sepertinya…dalam keluarganya…hanya Kai lah yang tidak menyukai hasil karya seni ku. Berbicara tentang Kai dan Hanhee…sudah berkali-kali mereka berenikarnasi menjadi manusia. Hanhee sejak awal memang terlahir sebagai manusia. Tentu saja ia manusia spesial. Aku tidak pernah mungkin bisa hidup hingga saat ini tanpa bantuannya. Ia pernah bereinkarnasi menjadi anak angkatku, temanku, rekan kerja ku di penerbit, penggemar lukisan-lukisanku, tapi bagiku…Hanhee tetaplah saudaraku.

Kai, yang mulanya terlahir sebagai angel, yang kemudian memutuskan untuk menjadi manusia, maka ketika bereinkarnasi…ia menjadi manusia kembali. Dalam setiap siklus kehidupannya, Kai dan Hanhee selalu bersama, selalu saling mencintai, seperti janji mereka. Mereka pun selalu mengingatku dan masa lalu kami. Mereka tidak pernah melupakan janji mereka, tak peduli se jauh apapun mereka dilahirkan di muka bumi ini, di belahan bumi manapun, mereka pasti akan selalu menemukanku. Hanhee, saudara perempuanku, selalu menemuiku.

Pikiranku kembali ke masa kini, sudah hampir seratus tahun sejak Kai dan Hanhee meninggal. Aku tahu mereka akan kembali lagi, sama seperti sebelum-sebelumnya.

Taemin masih menatap lukisanku yang mengingatkannya pada Chanyeol lekat-lekat. “Tidak pernahkan kau berpikir untuk bersikap egois, Chan Rin?”

Aku mengernyitkan dahiku, tidak paham atas pertanyaannya barusan. “Maksudmu, Oppa?”

Taemin menolehkan kepalanya padaku. “Kali ini aku akan bersikap egois. Aku meminta penjaga takdir untuk menolongku. Aku ingin adikku, Kai, dan juga Hanhee dilahirkan kembali menjadi kaumku. Aku ingin mereka menjadi angel, sehingga aku tak perlu lagi kehilangan mereka, dan menunggu mereka kembali seperti sekarang ini…”

Taemin kembali menatap lukisanku, lalu menyentuhnya perlahan, hati-hati…seolah kanvas itu akan pecah dalam sekejap mata bila ia menekannya terlalu keras. “Tidakkah kau ingin Chanyeol terlahir kembali?”

Aku terkejut dengan pertanyaannya. Tidak pernah ada yang menanyaiku hal ini. Aku menggeleng. “Mungkin ia tidak ingin kembali. Aku bahagia bila ia bisa beristirahat dengan tenang.”

“Mungkin kau yang tidak pernah memintanya kembali…” Taemin berjalan mendekatiku, lalu duduk di kursi kecil di sampingku, mengamatiku melukis.

Aku menghela nafas, tanganku mengambang di udara, mood ku untuk melukis seketika menguap. Aku meletakkan kuas ku di atas palette, membersihkan noda yang tersisa di jari-jari tanganku, lalu berjalan menuju dapur. “Kau ingin minum apa, Oppa?”

Aku sebenarnya berusaha menghindari pertanyaan Taemin barusan.

Taemin terkekeh pelan. Ia mengikutiku ke dapur. “Tidak pernahkah kau berharap Chanyeol dilahirkan kembali sebagai angel? Atau devil? Atau bahkan makhluk dari dimensi lain?”

Aku tertawa hambar. “Itu mustahil, Oppa. Manusia…kalaupun bereinkarnasi…maka akan menjadi manusia kembali.”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Chan Rin~ah…” Taemin tersenyum misterius.

 

*End of Flashback*

 

“Taemin Oppa….” Lirihku sambil menggenggam kedua tangan Sehun. “Taemin Oppa yang membuat Chanyeol Oppa bereinkarnasi menjadi angel…” bisikku. Tanpa terasa air mataku mengalir. Aku tersenyum bahagia. “Apakah…Chanyeol Oppa mengingatku?”

Sehun menggeleng, lalu mengusap air mata di pipiku. Aku masih tersenyum. “Tidak apa-apa. Biar aku saja yang mengingatnya. Yang penting kakakku kembali. Kali ini aku tidak akan kehilangan Chanyeol Oppa lagi…”

====== End of Chan Rin PoV ======

 

~~~~~~*****~~~~~****~~~~~~

 

====== Oh ChoA PoV ======

Aku tidak mengerti mengapa ibuku repot-repot memasak banyak sekali makanan untuk Park Chan Yeol! Padahal sebelum-sebelumnya, ketika sahabat-sahabatku, Wendy, Joy, Irene, Seulgi, dan Hyeri datang menginap di rumah kami, sambutan ibuku pada mereka tidak se-mewah ini. Hey! Park Chan Yeol bukan sahabatku! Dia hanya si biang kerok yang kebetulan saja “terpaksa” tinggal di rumahku selama liburan musim panas ini karena sebuah alasan konyol.  Park Chan Yeol dihukum oleh kepala sekolah, karena ia sudah terlalu banyak melanggar peraturan sekolah. Ia dihukum selama liburan musim panas ini agar tinggal di bumi, diberi misi untuk menolong minimal 1000 manusia bumi.

Dan aku, yah karena kebetulan saja orangtuaku tinggal di bumi, kepala sekolah memintaku agar “menampung” Chanyeol di rumahku. Ugh! Padahal biarkan saja dia tinggal di manapun di muka bumi ini! Aku tidak peduli, yang penting jangan di rumahku!

Park Chan Yeol itu berisik, menyebalkan, sok tahu, sok pintar, sok keren. Pokoknya sangat meyebalkan! Sepertinya liburan musim panas kali ini akan menjadi liburan terburuk sepanjang sejarah hidupku.

Ibuku menatap Chanyeol dengan jenis tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Terlihat seperti….rindu, lega, sayang, penasaran. Aku menyipitkan mataku, berusaha mencerna makna pemandangan ganjil di hadapanku ini.

“Mom terlihat seperti pernah bertemu Chanyeol sebelumnya.” Kataku to the point sambil menyuapkan se-sendok besar lasagna ke mulutku. Aku memang terbiasa memanggil ibuku dengan sebutan Mom / Mommy. Tidak seperti kedua kakak kembarku yang memanggil Eomma. Hal ini sebenarnya karena ajaran kakek buyut Kris, ditambah lagi ketika aku dilahirkan, keluarga kami sedang berada di London.

Ibuku tersenyum lembut, tapi tidak mengatakan apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan sifat keluarga kami yang “hemat kata”. Ayah dan Ibuku bisa dibilang pendiam dan pemikir. Diantara saudara-saudaraku pun, aku lah yang paling banyak bicara, dan tentunya yang lebih sedikit berpikir. Bukan salahku bila seringkali aku berkata tanpa berpikir lebih dulu. Mulutku ini memang tidak punya penyaring! Sama seperti Chanyeol.

Aku tidak suka pria yang memiliki sifat sama ataupun hampir sama denganku! Tipe idealku itu adalah pria seperti ayahku, Oh Sehun. Seorang pria itu haruslah cool, tidak banyak bicara, tapi tegas, bisa diandalkan, pemberani, dan pintar. Park Chan Yeol benar-benar berkebalikan dari tipe idealku.

“Woaaaahhhh…., bagaimana Anda bisa tahu semua makanan favoritku?” Chanyeol berseru senang, nyengir lebar, lalu menyuapkan berbagai jenis makanan dengan cepat.

Aku melotot melihat kelakuan barbar nya. Tapi ayah dan ibuku hanya tertawa.

Aku berdecak, menatap Chan Yeol dengan tajam sambil berkata, “Yah! Kalau kau berani menghabiskan pasta seafood favoritku, aku akan mengusirmu dari rumah ini!”

Chanyeol hanya menjulurkan lidahnya. Lagi-lagi orangtuaku hanya menanggapi pertengkaran kami dengan seulas tawa renyah, seolah mereka menikmati pertengkaran kami.

“Ayo Chanyeol~ah, makan yang banyak. Kau suka sekali sup jagung, lasagna, dan pasta seafood kan?” Ibuku mendekatkan makanan-makanan itu pada Chanyeol.

Chanyeol mengangguk sambil nyengir lebar. Aneh sekali. Aku masih bingung darimana ibuku tahu apa saja makanan kesukaan Chanyeol? Ibuku tidak mungkin mengenal orangtua Chanyeol kan? Chanyeol bilang…ia tidak pernah tahu siapa orangtuanya. Ia tinggal di panti asuhan di dunia angel sejak ia bayi, hingga akhirnya saat umur 8 tahun tinggal di asrama sekolah kami hingga sekarang. Ia sudah dianggap sebagai anak kandung kepala sekolah kami, Prof.Lee Dong Wook. Yah, mungkin kepala sekolah yang memberitahu ibuku apa saja makanan kesukaan Chanyeol.

~~~~~~~ ******* ~~~~~

Sudah hampir satu minggu Chanyeol tinggal di rumah kami. Benar dugaanku, liburan kali ini jadi menyebalkan karena ada dia! Dengan seenaknya saja dia memainkan games-games komputer favoritku, membaca komik-komik koleksiku, mengacaukan lego yang sudah kususun, mencuri makanan-makanan ringan dari dalam kamarku, mencuri ice cream-ice cream dari kulkas! Dan masih banyak lagi hal menyebalkan yang ia lakukan.

“Yah! Ice cream ku tinggal 1 lagi. Awas kalau kau berani mencuri nya lagi!” ancamku. Chanyeol sedang tiduran di ruang tengah sambil main games.

“Aku tidak mencuri. Ibumu bilang…aku boleh makan apa saja yang ada di rumah ini.”

Aku berkacak pinggang dan melotot sebal padanya. “Tsk! Asal jangan makanan favoriku! Oke?”

Chanyeol menyeringai. “Waaah, sayang sekali ya makanan favorit kita hampir sama.”

Mataku semakin lebar menatapnya. Chanyeol hanya tertawa terbahak-bahak. “Eh, ChoA, bagaimana rasanya menonton di bioskop?”

Aku mendengus. “Dasa angel! Menonton di bioskop saja tidak pernah!”

“YAH! Jangan sombong karena kau tinggal di bumi.” Sentak Chanyeol. Ia memberenggut kesal seperti anak kecil. “Menurutku dunia manusia lebih asyik daripada dunia angel. Benar kan?”

Aku memutar kedua bola mataku. “Asyik apanya?! Kau belum merasakan bagaimana macet nya kendaraan terbang di dunia manusia ini. Kau tahu? Kau juga tidak bisa berteleportasi sembarangan di dunia ini. Kalau sampai ada manusia yang mencurigaimu, raja angel akan menghukum mu!”

Chanyeol hanya terbahak-bahak menanggapi nasehatku, seolah tidak percaya. Aku mendongakkan daguku, menantangnya, “Coba saja kau buat kekacauan. Kau tidak tahu kan raja angel bisa bersikap menyeramkan?”

Chanyeol berhenti tertawa. “Memangnya raja angel pernah menghukummu?”

Aku tersentak. “Ti-tidak…”

“Eeey, jangan bohong. Memangnya apa yang pernah kau lakukan?”

“Tidak ada!” tukasku galak.

Chanyeol hanya terbahak-bahak.

“Pergi sana! Bukannya kau punya tugas untuk menolong 1000 manusia selama liburan semester ini?! Sudah berapa banyak manusia yang kau tolong?”

“Hmmm…, aku sudah menolong ibumu memotong semangka. Aku juga sudah menolong ayahmu membersihkan mobil terbang.”

“YAH! IDIOT! AYAH DAN IBUKU BUKAN MANUSIA BIASA! KAU SUDAH SATU MINGGU LEBIH BERADA DI SINI TAPI BELUM ADA SATUPUN MANUSIA YANG KAU TOLONG?! KAU INGIN KEPALA SEKOLAH MENAMBAH BERAT HUKUMANMU, HAH?!” Aku berteriak sekuat tenaga. Menyilangkan kedua lengan di depan dadaku. Memelototi Chanyeol dengan sebal.

Chanyeol mengorek-ngorek telinganya dengan telunjuk. “Waaah…, aku tidak menyangka ternyata kau perhatian sekali padaku, ChoA.” Chanyeol menyenggol kakiku dengan kaki panjangnya yang terselonjor di atas karpet.

“Cih! Aku hanya mengingatkanmu, idiot! Terserah kau sajalah!” Aku berkata dengan ketus, membalikkan badanku, berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki dengan kesal menuju kamarku di lantai 2.

Tanpa sepengetahuanku, sejak tadi ada yang mengawasi kami. Irene, saudara jauhku sekaligus sahabat baikku, ternyata memata-matai kami sejak tadi.

“Kalian bertengkar seperti suami istri saja.”

“Irene? Kyaaaaaaa! Aku merindukanmu! Sejak kapan kau ada di sini? Kenapa aku tidak melihatmu datang?” Aku memeluk Irene dengan erat sambil melonjak-lonjak kegirangan.

“Karena kau terlalu sibuk berkencan dengan pria di bawah itu, Darling.” Irene mengacak-acak rambutku sambil tersenyum jail.

Aku mendengus. “Jangan konyol! Kau tahu sendiri kan sebesar apa aku membenci Park Chan Yeol?! Kencan? Mana mungkin! Chan Yeol itu sama sekali bukan tipe ku! Tipe ku itu…seperti Tae Hyun sunbae…”

Aku melamun membayangkan wajah senior ku, Nam Tae Hyun. Yah, aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak, tapi yang pasti aku mengaguminya. Tae Hyun sunbae adalah tipe idealku!

Irene menyeringai jahil, “Taehyun ada di bumi.”

“Hah? Benarkah? Kenapa?”

Irene mengangkat bahu. “Anak-anak senior kan memang punya misi di bumi.”

“Tsk! Kasihan sekali, tidak bisa menikmati liburan.”

“Siapa bilang? Mereka masih bisa menikmati liburan di pagi sampai siang hari, lalu menjalankan misi di malam hari.” Irene mengibaskan rambut hitam panjangnya yang cantik. Rambutku memang pendek dan pirang, tapi aku memang suka rambut pendek. Rambut panjang susah sekali di rawat. Aku malas menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengurus rambut!

Aku menyeringai, “Aaaahhh…., jadi kau habis berkencan dengan Mino Oppa. Itu sebabnya kau ada di bumi, princess.”

Irene terkekeh. Matanya langsung berbinar senang begitu aku menyebut nama kekasihnya, Song Mino.

“Jangan bilang-bilang ayahku, oke?” Irene mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Hmmmm…., tergantung se-bagus apa penutup mulutnya. Paman Taemin tidak mudah dibohongi.” Aku pura-pura berpikir keras.

Irene memukul pantatku dengan keras. “Ack!” Aku mengaduh kesakitan. “YAH!”

“Tenang saja, ChoA darling. Aku tahu apa yang kau inginkan. Sebagai awal terima kasihku padamu karena sudah berjanji tidak akan menceritakan yang sebenarnya pada ayah dan ibuku…aku akan membebaskanmu dari Park Chan Yeol mu yang menyebalkan itu. Ayo kita jalan-jalan! Sudah lama aku tidak berpura-pura jadi manusia. Mino Oppa sibuk bersama teman-temannya, menyusun strategi untuk misi-misinya.” Irene melingkarkan sebelah lengannya di lenganku.

Aku mendelik kesal padanya. “Ooooh…, jadi aku hanya pelarian? Karena Mino Oppa mu tersayang tidak bisa menemanimu berkencan?”

Irene mencubit pipiku. “Jangan menyindirku. Aku tahu kau sangat ingin keluar, berjalan-jalan tanpa diikuti Park Chan Yeol. Aku akan membujuk Tante Chan Rin agar membiarkanmu pergi sampai malam hari ini, tanpa Park Chan Yeol.”

“Oke.” Aku pun nyengir lebar. Akhirnya aku bisa terbebas dari tugas menyebalkanku sebagai baby sitter ChanYeol!

~~~~~~~ ******* ~~~~~~ ******* ~~~~~~

Park Chanyeol tidak pernah menjadi favoritku. Tidak sampai hari itu tiba.

Sudah 5 hari Irene menginap di rumahku. Setiap kali Mino Oppa sibuk dengan tugas-tugasnya, Irene pasti mengajakku jalan-jalan. Yah, aku tidak keberatan, karena itu berarti aku bisa terbebas dari Park Chan Yeol!

Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Chanyeol. Sudah hampir 2 minggu tinggal di dunia manusia, tapi belum ada satu manusia pun yang Chan Yeol bantu. Hah, dia pikir 1000 manusia itu sedikit ya?! Ah, sudahlah. Untuk apa aku mengurusi si bawel itu?!

Sudah kubilang sebelumnya, Park Chan Yeol sama sekali bukan tipe ku. Bukan favoritku. Bukan idolaku. Yah, pokoknya aku sama sekali tidak suka padanya, dan tidak pernah berpikir akan bisa menyukainya. Tapi sejak malam itu…semuanya berubah.

Irene mengajakku shopping seharian. Sebenarnya aku bukan tipe penyuka shopping seperti Irene. Tapi kurasa ini lebih baik daripada harus menemani Chan Yeol. Ibuku bersikeras agar aku menemani Chan Yeol ke manapun Chan Yeol pergi, termasuk membantu tugasnya. Padahal Chan Yeol kan bukan anak kecil lagi yang harus ditemani. Demi Tuhan, dia tidak akan tersesat! Kalaupun tersesat, yah…dia kan angel. Aku yakin dia lebih dari sanggup untuk menjaga dirinya sendiri. Soal tugas alias hukuman musim panas Chanyeol…aku tidak tahu sudah berapa manusia yang ia tolong. Aku tidak pernah melihatnya melaksanakan tugasnya itu.

Setelah puas belanja banyak sekali model pakaian terbaru di dunia manusia, Irene mentraktirku makan malam di salah satu rumah makan yang cukup terkenal di Paris. Terlepas dari penampilan tempatnya yang biasa, rumah makan ini menyajikan makanan-makanan yang lezat.

“Pantas saja kau mau makan di tempat sederhana.” Aku mendengus. Irene biasanya hanya mau makan di tempat-tempat mewah.

“Hey, sudah berapa lama kau tinggal di Paris, darling? Kau sampai tidak tahu kedai terenak ini? Tsk..tsk…tsk…” Irene menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku hanya pulang setiap liburan. Itu berarti….6 kali, sejak keluargaku pindah ke Paris. Aku kan tidak seperti kau, Princess, senang bermain di dunia manusia bersama dengan pacarmu.”

Irene tertawa. “Kau terdengar cemburu padaku, Darl. Kau harus punya pacar.”

Aku mengangguk. “Kalau begitu bantu aku agar bisa berkencan dengan Taehyun Oppa.”

“ChoA darling…, Taehyun oppa tidak seperti yang kau bayangkan. Hhhh, dengar, sudah saatnya kau tidak hanya menilai pria dari apa yang tampak di luar saja. Taehyun memang….well, terlihat cool, baik, ramah, keren sekali dari luar, tapi…kau tidak tahu seperti apa dia sebenarnya.”

“Memang seperti apa dia sebenarnya?”

Irene mendekatkan wajahnya padaku lalu berbisik. “Dia sangat galak, possessive, dan…playboy. Mino Oppa yang memberitahuku.”

Aku mendengus. “Lalu, kau sendiri? Apa kau yakin Mino Oppa mu itu sebaik yang kau kira?”

Irene tertawa. “Mino tidak sempurna, ChoA. Tapi aku menyukainya. Dan yang lebih penting adalah…aku menyukai dia apa adanya. Dia yang sesungguhnya. Bukan Mino si idola sekolah. Mau kuberitahu satu rahasia? Mino tidak pernah merasa malu ketika ia membuang gas atau yang biasa manusia sebut dengan kentut dengan keras di hadapanku. Dan jujur saja…pertama kali aku bertemu Mino Oppa adalah ketika ia sedang berdiri di atap menara selatan, memandangi langit, terlihat keren, kemudian…dia kentut keras, dan dia tertawa lebar. Dia tidak tahu saat itu aku mengintip, tentu saja.” Irene terkikik geli.

Aku membelalakkan mataku. “Benarkah?”

Irene mengangguk. “Hmmm. ChoA, mencintai berbeda dengan mengagumi, apalagi mengidolakan. Kau tidak harus jatuh cinta pada tipe-mu, pada orang yang ideal menurutmu. Malah…lebih sering yang terjadi adalah…kau jatuh cinta pada orang yang tidak terduga.”

Aku tertegun memikirkan kata-kata Irene barusan. Aku memang belum pernah jatuh cinta. Aku tidak tahu bagaimana rasanya.

Tiba-tiba saja sebuah suara menyebalkan terdengar di sampingku. “Akhirnya kalian makan juga. Aku sudah kelaparan!”

“CHANYEOL? KENAPA KAU BISA ADA DI SINI?”

“Sssssttt, pelankan suaramu, ChoA! Orang-orang itu merasa terganggu.” Chanyeol berbisik.

Aku mendelik tajam padanya. “Kenapa kau ada di sini?”

“Aku mengikuti kalian.”

“Kenapa?”

“Karena ibumu menyuruhku.”

Irene tertawa. Pandangan Chanyeol kini tertuju pada Irene. “Princess, kau belanja lama sekali.”

Irene mengangkat bahu. “Di dunia kita tidak ada mall. Mungkin aku harus meminta ayahku membangun mall.”

Aku memutar kedua bola mataku. Dasar Irene! Mana ada angel yang senang belanja seperti dia!

“Irene, makanan apa yang enak di sini?” tanya Chanyeol bersemangat sambil membaca menu. Irene sibuk menjelaskan berbagai jenis makanan favoritnya di kedai ini. Aku mengamati orang-orang yang berdatangan. Berbagai kalangan manusia datang ke tempat ini. Aku berani bertaruh, tempat makan ini meraup keuntungan yang sangat banyak.

Mungkin manusia memang tidak menyadarinya, tapi dengan pandangan angel-ku, aku bisa melihat dengan jelas setiap detail dari kejauhan. Seorang kasir wanita berkeringat dingin, di tangannya tertempel mulut pistol yang ditekankan oleh seorang pria tampan berambut merah. Pria tampan itu tersenyum menawan, seolah tak terjadi apa-apa. Sepertinya dia maling yang cukup handal. Buktinya, tak ada seorang manusia pun yang menyadari bahwa saat ini ia sedang menodongkan pistol di balik jas Armani nya kepada seorang kasir wanita, meminta wanita itu memasukkan uang diam-diam ke dalam tas jinjing hitam si pencuri.

“Tsk!” Irene berdecak sambil geleng-geleng kepala. Rupanya ia menyadari tindak kriminalitas itu juga. “Sayang sekali kita tidak bisa menggunakan kekuatan angel kita di sini. Terlalu banyak orang. Akan mencurigakan bila kita tiba-tiba menghilang, atau bila pistol itu tiba-tiba melayang. Aku akan mengirim telepati pada Mino Oppa.”

Chanyeol tiba-tiba saja berdiri, dan sebelum aku sempat bertanya apa yang hendak ia lakukan, ia berlari dan menerjang si pencuri. Chanyeol memukul dan menendang si pencuri sampai pistol di tangan pencuri itu terlepas dan terlempar di lantai. Orang-orang kontan menjerit ketakutan. Si pencuri babak belur.

“PANGGIL POLISI!” Teriak Chanyeol. Tak lama, seorang polisi lokal pun datang dan menangkap si pencuri yang tergeletak tak berdaya di lantai. Kasir wanita mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Chanyeol sambil berucuran air mata. Merasa lega karena nyawanya selamat, begitupula dengan uang majikan nya.

Aku dan Irene menatap Chanyeol tak percaya. Aku tidak salah lihat kan? Barusan Park Chan Yeol membantu manusia, bahkan tanpa menggunakan kekuatan angel nya! Ia melaksanakan tugasnya. Oke, setidaknya ia kini telah menolong 1 manusia. Tidak ada aturan bagaimana cara ia membantu manusia, tapi masih ada 999 manusia lagi yang harus ia tolong selama sisa liburan musim panas ini.

Chanyeol berjalan kembali ke meja kami sambil nyengir lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. “Omooooo~ Chanyeol, kau keren sekali!” Irene memuji Chanyeol sambil mengangkat kedua ibu jarinya.

Chanyeol masih nyengir lebar. Entah kenapa, detik itu, ketika mata kami bertatapan, jantungku berdebar lebih keras dari biasanya. Chanyeol mengedipkan sebelah matanya pada kami. “Tentu saja aku keren! Hahahaha…”

Aneh. Tidak seperti biasanya. Seharusnya aku membentak Chanyeol karena bersikap sombong dan sok keren seperti biasa. Lantas kenapa sekarang aku hanya terdiam?

“Aku belajar beladiri sejak kecil. Kalian juga harus belajar beladiri. Kalian tidak akan pernah tahu saat-saat di mana kalian terpaksa tidak bisa menggunakan kekuatan kalian. Bagaimana? Aku hebat kan? Huwahahahaha…”

Seharusnya aku menyangkal kesombongan Chanyeol dan mengata-ngatai Chanyeol, tapi aku hanya diam dan menatap Chanyeol dengan perasaan aneh. Ada apa denganku?

Setelah beberapa menit berlalu, barulah jantungku berdegup normal lagi. Aku mendelik tajam pada Chanyeol. “Cih! Kau masih harus membantu 999 manusia lagi.”

Chanyeol tersenyum lebar. “Hmmmm…, siapa bilang? Malah manusia yang kutolong tadi adalah manusia ke 1100 yang kutolong.”

“APA?” Aku memekik, tak percaya. “Ka-kapan kau melaksanakan tugasmu?”

“Setiap hari setiap malam, sejak pertama kali aku tiba di rumahmu. Oh ChoA, kau mungkin tidak pernah sadar, setiap malam aku menyelinap keluar dari rumahmu, melaksanakan tugas alias hukuman yang diberikan kepala sekolah, lalu pulang kembali sebelum kau bangun. Aku hanya tidur sebentar, jadi…jangan pernah membentakku lagi kalau di siang hari aku tiduran dan main games, oke? Dan berbagilah sedikit ice cream dengan ku. Di dunia angel kan tidak ada ice cream se-lezat di sini.” Chanyeol tersenyum semakin lebar. Kedua bola matanya yang besar berbinar senang. “Aaaahhh,,,, dunia manusia memang sangat menyenangkan.”

Untuk yang pertama kalinya sejak 7 tahun yang lalu, sejak pertama kali aku bertemu Chanyeol, aku merasa ia benar-benar tampan.

~~~~~~ ****** ~~~~~ ***** ~~~~~

Keeseokan harinya, serta hari-hari selanjutnya selama sisa liburan musim panas, aku tidak pernah lagi membentak Chanyeol di saat ia berbaring malas-malasan sambil bermain games. Aku juga memberinya ice cream-ice cream kesukaanku.

Tapi Park Chan Yeol tetaplah Park Chan Yeol. Ia masih tetap Park Chan Yeol yang cerewet, menyebalkan, dan sok tahu. Tapi…ada yang baru dalam pertengkaran konyol kami. Aku merasa senang bisa bertengkar dengan Park Chan Yeol.

Masa remaja memang aneh.

Suatu hari, ketika ayahku sedang bekerja, dan ibuku sedang berbelanja, aku tak sengaja melihat tulisan di laptop ibuku. Sebuah cerita. Yah…aku tahu ibuku memang penulis yang terkenal sepanjang masa. Tapi aku belum pernah sekalipun membaca tulisannya. Aku lebih suka lukisan dibanding tulisan.

Aku membuka-buka folder di laptop ibuku, mencari file novel atau cerpen untuk dibaca secara random.

Kris si Galaxy Superhero.

Apa ini? Kenapa ceritanya sama persis seperti yang pernah kakek buyut Kris ceritakan padaku? Jangan-jangan ibuku memang menulis kisah nyata?

Aku membaca banyak sekali judul file, kemudian memutuskan untuk membuka file dengan judul ‘I’m Sorry Oppa (Side Story of Moonlight Destiny)’.

Lima belas menit berikutnya kuhabiskan dengan membaca cerita pendek itu. Aku meraba mataku. Basah. Cerita ini membuatku sangat terharu. Ibuku benar-benar sangat pandai merangkai kata-kata. Terlebih lagi ibuku memakai namanya sendiri dalam cerita ini, membuat cerita ini terasa nyata. Tokoh Park Chan Yeol pun sedikit mengingatkanku pada si bawel Park Chan Yeol. Meski tentu saja aku lebih memilih Park Chan Yeol dalam cerita ibuku. Yah…, tapi Park Chan Yeol si bawel temankulah yang membuat hatiku berdebar.

Tanpa sadar aku nyengir lebar. Sepertinya Park Chan Yeol sudah menularkan virus nya padaku. Virus berbahaya yang lebih berbahaya dari happy virus nya.

Aku jadi merasa ketagihan membaca cerita-cerita ibuku yang lain, karena itulah ketika ibuku pulang belanja, aku cepat-cepat menyelinap ke perpustkaan, pura-pura tidak melihat laptop ibuku. Aku tahu, ibuku punya berbagai copy novel-novelnya yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa.

“Kau sedang apa?”

Aku terlonjak kaget ketika sebuah suara berat terdengar di belakangku. Chanyeol menatapku penasaran.

Aku terbatuk pelan. “Membaca.” Jawabku sok cool, seolah aku memang terbiasa membaca. Padahal sebelum-sebelumnya, aku paling malas disuruh membaca novel, apalagi pelajaran. Aku hanya bisa membaca cerita bergambar.

“Wow, aku tidak pernah menyangka ternyata kau kutu buku juga.” Sindir Chan Yeol.

“Aku membaca novel. Bukan pelajaran.”

“Novel?”

“Hmm. Novel ibuku.” Aku mengangguk.

“Waaah…, novel ibumu banyak sekali.” Chanyeol menatap ruang perpustakaan dengan takjub. Ia meraih salah satu buku, lalu duduk di sofa empuk tak jauh dariku. Tanpa terasa, kami membaca sampai larut malam, sampai ibuku berteriak memanggil kami untuk makan malam.

Mulai saat itulah kegiatan baru kami dimulai. Kami membaca novel-novel ibuku, terutama “Moonlight Destiny”. Chanyeol tertarik pada cerita itu karena ada salah seorang karakter yang memiliki nama yang sama dengannya.

~~~~~~~~ ******* ~~~~~~~ ****** ~~~~~~~

Tidak terasa, liburan musim panas 2 bulan ku di bumi akan berakhir esok hari. Rasanya aku ingin tinggal lebih lama dengan ayah dan ibuku. Apalagi aku belum sempat bertemu dengan kedua kakak kembarku yang sama sekali tidak pulang dari pekerjaan mereka di dunia devil. Padahal kan seharusnya mereka datang menemuiku! Kapan lagi coba mereka bertemu denganku?! Dasar kakak-kakak super sibuk!

Setelah membaca semua cerita “Moonlight Destiny”, entah kenapa aku merasa cerita itu nyata. Seolah ibuku memang menuliskan kisah hidupnya dan orang-orang di sekitarnya.

Tapi kalau memang benar cerita itu nyata…, jangan-jangan…cuplikan cerita yang waktu itu sempat kubaca di laptop ibuku, yang masih belum selesai di tulis, apakah itu juga nyata? Apakah itu berarti Park Chan Yeol temanku adalah reinkarnasi dari kakak ibuku selama kekuatan ibuku masih belum dibangkitkan?

Aaaaarrrggghhhhh! Rasanya kepalaku pusing sekali memikirkan hal itu! Lebih baik aku bertanya langsung! Yap! Bukan Oh ChoA namanya bila memendam pertanyaan.

Karena itulah, ketika makan malam bersama, aku mengajukan pertanyaan yang selama ini mengganjalku. “Mom, apakah cerita Moonlight Destiny yang Mom tulis itu nyata? Apakah itu kisah masa lalu Mom?”

Sendok yang dipegang ibuku terlepas dari pegangan, jatuh berkelontangan di piring. Ibuku membelalakkan mata lebar-lebar, “Kau…membaca cerita-cerita lama yang kutulis?”

Aku mengangguk. “Hmmm.”

Selama sesaat, ayah dan ibuku saling berpandangan. Chanyeol terdiam, menatap ayah dan ibuku dengan serius. Sepertinya Chan Yeol pun sama penasarannya sepertiku.

“ChoA, sayang…apakah kau sudah membaca semua cerita yang berkaitan dengan Moonlight Destiny.”

“Sudah, Mom. Aku sudah baca semua side story nya.”

Ibuku tersenyum lembut, tapi matanya berkaca-kaca, “Ada satu lagi cerita sampingan Moonlight Destiny yang belum kau baca, ChoA. Awalnya…aku tidak pernah berpikir akan menulis cerita sampingan MD lagi. Aku tidak pernah lagi menulis cerita yang kuambil dari kisah nyata setelah serial Kris si Galaxy Super Hero berakhir ratusan tahun yang lalu. Tapi kini…” Ibuku berhenti bicara sejenak, menatap Chanyeol lekat-lekat, kemudian tanpa bisa dicegah, air mata ibuku bercucuran.

“Mom…”

“Yeobo…”

“Tante…”

Aku, ayahku, dan Chanyeol berkata serempak. Ibuku menyeka air matanya, lalu tersenyum lagi. “Benar, Moonlight Destiny memang nyata.”

Mulut Chanyeol terbuka lebar. Aku pernah bercerita padanya tentang tulisan ibuku yang masih berupa draft di laptop.

“I-itu-itu berarti….aku…sungguh-sungguh…aku….” Chanyeol tergagap.

Ibuku mengangguk. “Kau reinkarnasi kakakku….”

“Tapi…aku tidak ingat apapun….Bagaimana….”

“Memang sangat jarang kita bisa mengingat kehidupan-kehidupan kita sebelumnya. Apalagi….kau dulu manusia.” Ayahku menjawab pertanyaan Chanyeol.

Selama beberapa saat kami hanya terdiam. Hanya terdengar suara isakan ibuku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Semua ini terlalu membingungkan.

“Aku senang kau kembali, Chanyeol. Bagiku…tidak masalah bila kau tidak mengingatku. Tanda lahir di lenganmu…mungkin memang sengaja diberikan padamu lagi, agar aku mengenalimu, meskipun kau tidak mungkin mengenaliku.” Ibuku mengulurkan kedua tangannya dan menggenggam tangan Chanyeol di atas meja. “Chanyeol~ah…, terima kasih. Terima kasih karena kau kembali…”

Chanyeol tersenyum kikuk. Sepertinya ia pun bingung harus berkata apa. Ia melirikku sekilas, kemudian berkata dengan yakin pada ayah dan ibuku. “Aku memang tidak mengingat kehidupanku sebelumnya, saat menjadi manusia. Tapi…aku merasa bahagia sekarang ini bisa bertemu dengan kalian. Apakah…di kehidupanku yang sekarang….kalian mengizinkanku menjadi anak kalian? Maksudku…menantu kalian?”

“APAAAAA?!” Aku memekik kaget.

Ayah dan ibuku tertawa. “Tentu saja.” Jawab ibuku.

“MOM!” Sentakku. Apa-apaan ini?! Apakah Park Chan Yeol sudah gila? Tapi….tapi….

Aku meraba wajahku yang terasa panas. Park Chan Yeol baru saja melamarku secara tidak langsung di hadapan orangtuaku.

“YAH! Park Chan Yeol! Kau seharusnya bertanya dulu padaku! Dasar idiot!” Aku memukul belakang kepala Chanyeol.

Chanyeol terkekeh dan nyengir lebar. Aku terkesiap saat ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat. “Oh ChoA, apakah kau mau menjadi pacarku? Lalu kemudian saat kita sudah lebih dewasa nanti….menikah denganku?”

“Ehem.” Ayahku terbatuk keras. Pandangan matanya yang dingin menembus menatap Chanyeol lurus-lurus, seolah sampai menusuk jiwanya. Chanyeol tersenyum kikuk, melepaskan tanganku.

“Tidak semudah itu, Park Chan Yeol.” Ayahku menyipitkan matanya pada Chanyeol, seolah menilai apakah Chanyeol layak menjadi pacarku atau tidak.

“Aku siap menjalani semua ujian yang kau berikan, Sir!” Chanyeol menghormat ala militer. Kami pun tertawa.

Benar-benar tidak terduga. Masa remaja memang sangat aneh, menyenangkan, dan mendebarkan, meskipun terkadang terasa menakutkan. Tapi…asalkan orang-orang yang kusayangi selalu ada untukku, kurasa aku akan bisa melewati masa remajaku dengan baik.

~~~~~~ ******* ~~~~~ ****** ~~~~~~~

“Oh ChoA dan Park ChanYeol jadi pasangan ter-populer tahun ini. Mwo?! Kau mengalahkan aku dan Mino Oppa! Huwaaaaa….aku tidak rela!” Irene menerobos masuk ke kamar asramaku sambil membawa majalah siswa bulanan.

Aku hanya tertawa mendengar keluhannya. Dasar princess!

Ada yang berbeda dengan kehidupanku di sekolah semester ini. Park Chan Yeol. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka pria bawel itu akan menjadi penyemangatku belajar. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan jatuh cinta padanya, dan ia pun jatuh cinta padaku.

Rasanya aku sudah sering berkata bahwa masa remaja itu memang aneh. Tapi ada yang lebih aneh lagi. Saat istirahat makan siang, tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki dan perempuan yang mendekati meja kami. Sepertinya mereka anak baru, hmmm…mungkin umur mereka masih 12 tahun.

“Oh ChoA…” anak laki-laki berkulit tan itu berkata.

Aku melotot kesal padanya. Tidak sopan sekali anak ini! Memanggil namaku tanpa embel-embel senior!

Anak laki-laki berkulit tan itu menyeringai. “Aku mungkin memang terlihat lebih muda darimu, tapi…di kehidupanku yang sebelumnya…aku adalah kakak ipar ibumu. Namaku Kim Jong In, tapi kau bisa memanggilku Kai.”

“Uhuk…uhuk…” Aku dan Chanyeol tersedak makanan kami.

“Yah! Minum…minum…” Irene dan Mino menyodorkan minum pada kami.

“K-Kai?” Chanyeol, yang meskipun tidak mengingat kehidupannya saat menjadi manusia dulu, tapi sudah membaca cerita-cerita yang ditulis ibuku, tentu saja tahu siapa itu Kai.

“Namaku Han Hee. Tapi aku biasa dipanggil Honey.” Ujar anak perempuan di samping Kai.

“Ya Tuhan!” Aku membelakkan mataku. Ibuku benar! Kai dan Hanhee selalu mengingat kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya. Mereka selalu datang pada ibuku, dan mereka pun selalu saling mencintai. Lihatlah jemari mereka yang saling bertautan kini!

Aku dan Chanyeol pun langsung berdiri dan membungkukkan badan kami dengan hormat. “Kai…Hanhee…kami sudah membaca cerita kalian.” Kataku dan Chanyeol serempak.

Kai dan Hanhee terkekeh. “ChoA~ya.., tolong sampaikan pada ibumu, aku adalah penggemar semua karya seni nya. Meskipun aku tidak pernah mengatakannya.” Ujar Kai sambil terkekeh.

“Siap, Paman Kai!” Ujarku sambil menghormat.

Hanhee tersenyum hangat. “ChoA, kau sangat cantik…seperti ibumu. Dan Chanyeol Oppa…kau masih sama tampannya seperti dulu. Senang akhirnya bisa bertemu lagi denganmu.”

Aku dan Chanyeol balas tersenyum, tersipu malu.

“Kalian sedang apa sih? Latihan drama?” Tanya Irene. Ia memandang kekasihnya, Mino. Tapi Mino hanya mengangkat bahu. Bingung.

“Sudahlah, babe. Tidak usah pedulikan mereka.” Ujar Mino.

“Irene, aku pamanmu. Bagaimana kabar Taemin hyung?” Kai menyeringai.

“Mwo? Yah! Anak kecil! Kau bicara apa, hah?!” Sentak Irene.

Aku, Chanyeol, Kai, dan Hanhee tertawa terbahak-bahak. Oh, Irene, sepertinya kau harus membaca cerita-cerita yang ditulis oleh ibuku.

Aku menatap Kai dan Hanhee agak lama. Banyak yang ingin kutanyakan pada mereka berdua, tapi sekarang yang paling penting adalah memberitahu ibu dan ayahku. Mereka pasti akan merasa sangat senang. Oh, mereka bahkan mungkin akan segara datang kemari! Oke, aku akan bilang pada mereka agar membawakanku ice cream favoritku.

===== The End =====

Author’s Note : Tiba-tiba aja pengen nulis tentang Chan Yeol. Hahaha. Masih pada ingetkah sama cerita Moonlight Destiny dan berbagai side story nya? Kalau lupa, ataupun belum pernah baca, bisa di cek di “Library” blog ini yaaa. Hehehe. Entah kenapa kalau nulis MD selalu merasa semangat! I love fantasy story so much, I guess. =) Sorry kalau ada typo. Belum di re-read.

P.S. Nulis cerita fiksi lebih gampang & lebih asyik daripada nulis proposal penelitian. Hahaha. =)

~Azumi~

@AzmiWiantina

4 thoughts on “See You Again (Side Story of Moonlight Destiny)

  1. moga 1st comment ahahhaha aku langsung bacaa tdi
    .
    .
    taehyun terlupakan mi?? 😂😂. *pukkpuk yg dibilang galak
    suka ceritanya, trnyata chanyeol balik jd angel itu tuh? hahahha hanhee ama kai bersama selalu ahhaha haduhh 12 taun
    .
    raja angel taemin kah? hahhaha luhan kmanaa? *dijitak
    sehun ama chan chan anak yg kmbatnya siapa? cieee…. 700 th?? 😂
    .
    moga ke post komentnya deh huhu…. next ff ya miii… kangen ff fantasy 😍

  2. OMG!! Gak nyangka nemu cerita ini lagi aaawww
    So happy to read this story, it feels like kind of reunion for hm old stories maybe.
    Ditunggu another side story nya kaakk :)))

  3. Huwaa rasanya bener-bener Nano-nano bacanya. Ya sedih, terharu, bahagia, dan lainnya. Suka banget deh ^^/ aku juga suka cerita yang berbau fantasi, ditunggu FF lainnya yang bergenre fantasi ya thor.

  4. Kyaaaa seneng bnget bacanya, apalagi happy virus kembali 😆
    Chanyeol berrenkarnasi jadi angel, seneng bnget deh, ternyata sehun sma chanrin memiliki 3 anak ka, penasaran juga sih siapa kakak kembarnya choa, seneng bnget liat chanyeolnya ka, yah kadang kita jatuh cinta pada orang yg ga kita sangka, buktinya tadinya choa yg mengagumi taehyun, malah jadi jatuh cinta sma chanyeol, orang yg dia pikir menyebalkan, cerewet, dan lainnya 😂
    Irene anaknya taemin ka? Kyaaaa seneng bnget hanhee sma kai udah berrenkarnasi lagi, dan kali ini mereka berrenkarnasi jadi angel, seneng bnget ka, apalagi mereka menepati janji mereka untuk selalu ingat satu sama lain dan untuk selalu mengingat masa lalu mereka 😊
    Gimana reaksi chanrin sma sehun kalau mereka tau hanhee sma chanrin sekarang udah berrenkarnasi lagi? Dan mereka berrenkarnasi jadi angel 😆
    Selalu suka baca ff moonlight destiny yg chapter maupun yg side story moonlight destiny ka 😍😍
    Ditunggu side story lainnya dari moonlight destiny ya ka 😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s