[oneshot] In The Darkness

Title                     : In The Darkness

Author                 : Azumi Aozora

Main Cast            : B.I / Kim Han Bin (iKON), Lee Hi / Lee Hayi

Support Cast       : Bobby / Kim Ji Won (iKON), Song Mino (WINNER), G-Dragon / Kwon Ji Yong (Bigbang)

Genre                   : romance, friendship, family, AU, angst, action

Rating                  : PG

Length                 : Oneshot

Disclaimer           : This story is just fanfiction. I just own the plot. Don’t plagiarized this story! Just enjoy and comment. ^_^.

dark

Kim Hanbin selalu melindungiku…. Kim Hanbin selalu berada di sisiku. Dalam diam. Dalam kegelapan.

 

Catatan : Huruf hitam berarti menceritakan kejadian masa kini, sedangkan huruf biru masa lalu.

Aroma perpaduan berbagai jenis kopi yang lezat langsung menyambutku begitu aku membuka pintu café. Salju meleleh di rambut cokelat ikal panjangku dan membasahi trench coat biru tua-ku. “Selamat datang di VIP café…” Ucapan selamat datang bernada sopan dan hangat, yang diucapkan oleh pelayan pria bertubuh tinggi berambut hitam dan berdagu lancip itu tidak lantas membuatku balas tersenyum padanya. Mata pria itu berbinar, senyumnya lebar dan terkesan formal, namun siapapun yang melihatnya masih bisa merasakan kehangatan yang terpancar darinya. Kecuali aku. Aku tidak bisa merasakan apapun. Tidak setelah pria di hadapanku ini menghilang pergi dariku 3 tahun silam dan kembali sekitar 3 bulan yang lalu dengan identitas yang berbeda, dengan kesadaran yang berbeda. Yang kurasakan saat ini hanyalah kehampaan.

“Kim Hanbin…” Aku bergumam pelan sambil berusaha menahan air di balik pelupuk mataku yang mendesak ingin keluar. Rasanya berat dan panas.

Pria itu masih tersenyum padaku. Sama sekali tidak mengenaliku. Mataku terpaku pada name-tag yang tersemat di apron merah marun nya. Kim Adler. Pria itu bernama Kim Adler.

“Oh! Kau gadis mungil yang salah mengenaliku waktu itu, bukan? Lee Hayi?” Pria itu membaca name tag di trench coat ku.

Ingatanku kembali ke kejadian 3 bulan yang lalu, saat pertama kali aku melihat Hanbin lagi.

Jantungku berdegup cepat, pandanganku buram karena air mata, aku berlari dan terus berlari mengejar sosok pria berjaket kulit hitam yang berjalan dengan tergesa-gesa di hadapanku itu. Tadi, meskipun sekilas saja aku melihat wajahnya dari balik jendela toko buku, aku langsung bisa mengenalinya. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya bila selama 3 tahun ini wajahnya lah yang selalu memenuhi mimpiku?! Mimpi-mimpi burukku.

Ribuan, bahkan mungkin milyaran skenario buruk tentang menghilangnya pria itu dari hidupku secara tiba-tiba membuat detik ini terasa seperti mimpi indah. Aku melihatnya. Hidup. Dia baik-baik saja. Dia masih hidup dan tanpa kekurangan apapun!

“KIM HANBIN! YAAAA! KIM HANBIN!” Aku berteriak sekuat tenaga. Dadaku terasa sesak. Pria itu terus berjalan, dan aku terus berlari.

“YAH! KIM HANBIN!” Ketika tanganku yang terulur meremas lengannya, pria itu menoleh.

“Bodoh! Kau pikir aku tidak akan bisa mengenalimu, hah?! Kau memang sudah jauh lebih tinggi sekarang, tapi kau masih tetap Kim Han Bin kecil yang takut kecoa di mataku! Kupikir kau sudah mati! Bodoh!” Aku mengusap air mata yang membanjiri wajahku.

Hanbin menatapku dengan sorot mata bingung. “Maaf, sepertinya kau salah orang. Aku bukan Kim Hanbin. Namaku Kim Adler.” Pria itu tersenyum lebar. Detik itu juga aku tahu, ini adalah salah satu mimpi burukku yang menjadi kenyataan.

~~~~ ****** ~~~~

 

“Hayi~ya! Jangan dekat-dekat dengan anak baru itu! Semua orang tahu kalau keluarganya bukan keluarga baik-baik. Kau pernah dengar The Dragon? Mafia terkuat di Asia? Katanya dia anak bungsu pemimpin The Dragon! Dia pewaris klan mafia itu!” Jiwon berbisik di telingaku ketika mataku tak bisa lepas dari Kim Hanbin, anak baru misterius yang pendiam dan penyendiri. Wajahnya tampan, dia bisa saja memiliki banyak fans wanita seandainya tatapan matanya tidak menyeramkan seperti itu. Dahinya berkerut dalam, sorot matanya dingin, bibir tipisnya terkatup rapat. Semua anak di kelasku takut padanya karena gossip yang menyebar tentang keluarganya. Semua orang menganggap Hanbin menyeramkan. Tidak ada seorangpun yang berani menatap matanya secara langsung, seolah tatapan matanya bisa membunuh siapapun dalam sekejap. Tapi di mataku…Hanbin tidak menyeramkan. Dia kesepian.

Aku mengabaikan peringatan Jiwon. Aku mengeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas, lalu berjalan menghampiri Hanbin di bangku paling belakang. Hanbin masih menatap ke luar jendela kelas dengan tatapan tajamnya, entah melihat apa.

“Hey Hanbin…, kau tidak pernah membawa bekal makan siang. Aku bisa berbagi bekal makan siangku denganmu.”

Hening. Hanbin sama sekali tidak menggubrisku. Matanya masih terpaku ke luar jendela.

“Atau…kau bisa menghabiskan semuanya. Hari ini aku tidak lapar.” Aku meletakkan bekal makan siangku di meja Hanbin, lalu kembali ke tempat dudukku di barisan paling depan.

“Yah! Kau gila! Bagaimana kalau dia menjadikanmu target nya? Kau bisa mati dalam sekejap, Lee Hayi!” Jiwon berkata dengan cepat. Raut wajahnya horror.

Aku hanya tertawa kecil melihat sikap sahabatku yang konyol itu. “Jiwon~ah, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah 10 tahun. Aku tidak akan mati semudah itu.” Aku mengedipkan sebelah mataku pada Jiwon, lalu kembali membaca komik detective conan favoritku.

Jiwon menatapku tak yakin. Dia menepuk-nepuk pundakku pelan dan penuh simpatik. “Senang bisa mengenalmu selama 3 tahun ini, Lee Hayi. Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang….Aduh!” Jiwon mengelus-elus kepalanya yang sakit karena kujitak dengan keras.

“Jangan bicara yang aneh-aneh! Atau aku akan membuatmu beristirahat dengan tenang selamanya!”

Jiwon nyengir lebar. “Kau marah-marah…itu tandanya kau lapar! Nih, makan rotiku. Tapi satu gigit saja ya! Hahahaha….”

Aku memukul lengan Jiwon bertubi-tubi sambil nyengir lebar. Meskipun menyebalkan, Kim Jiwon adalah teman baikku sejak aku masuk sekolah dasar. Tanpa sepengetahuanku, Hanbin memperhatikan kami dari balik sudut matanya.

Setiap hari, aku selalu membawa 2 bekal makan siang, untukku dan untuk Hanbin. Meskipun Hanbin tidak pernah menyentuhnya sama sekali, dan meskipun pada akhirnya penjaga sekolah kami selalu mengembalikkan kotak makan siangku setelah isinya ia makan dan tempatnya ia cuci bersih, aku tidak pernah menyerah.

Pada hari ke 33 sejak pertama kali aku memberikan bekal makan siangku pada Hanbin, akhirnya Hanbin menghampiriku dan Jiwon sambil membawa kotak makan siang yang kusimpan di atas mejanya. “Kalian mau makan bersamaku?”

Itu pertama kalinya aku mendengar Hanbin berbicara. Dan sejak saat itu kami bertiga selalu makan siang bersama.

~~~~ ***** ~~~~~

Sepulang kuliah, aku selalu menyempatkan waktu untuk datang ke café VIP. Memesan caramel macchiato favoritku sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahku, atau membaca komik, atau menggambar, atau menulis. Tapi dari sekian banyak kegiatan produktif yang bisa kulakukan, lebih sering aku hanya terduduk diam dan melamun sambil memperhatikan Hanbin Adler melalui sudut-sudut mataku.

Ada ribuan pertanyaan tentang Hanbin yang memenuhi benakku, tapi aku memilih untuk tidak mengatakannya. Mungkin lebih baik begini. Bukankah melihatnya hidup sudah cukup bagiku?

Setidaknya dia hidup dan baik-baik saja! Meski tentu aku tidak baik-baik saja. Tapi…bukankah lebih baik melihat Hanbin hidup seperti ini? Setidaknya dia tidak perlu mengingat masa lalunya yang mengerikan.

“Hanbin~ah, apakah aku termasuk salah satu masa lalumu yang mengerikan?” bisikku pelan sambil menatapnya dari jauh. Mataku panas. Aku merindukan Hanbin. Aku merindukan sahabat sekaligus satu-satunya pria yang pernah dan akan selalu kucintai seumur hidupku.

Hanbin Adler sepertinya merasakan tatapan mataku yang terus mengikutinya, dia akhirnya menolehkan kepalanya dari balik bar dan tersenyum lebar padaku. Aku balas tersenyum, meskipun arti senyuman kami berbeda.

Ya…, setidaknya kau hidup, Kim Hanbin.

~~~~~******~~~~

Hampir setiap hari aku mengobati luka-luka Hanbin dan Jiwon karena perkelahian konyol mereka dengan berbagai geng berandalan di sekitar sekolah kami. Bahkan ada kalanya mereka berdua datang ke rumahku secara diam-diam di tengah malam, mengetuk kaca jendela balkon kamarku di lantai 2, dan ketika aku membuka pintu balkon, mereka sudah terkapar penuh luka sambil terkekeh layaknya idiot yang menganggap kemenangan jauh lebih penting dibanding nyawa!

“Kami berhasil mengalahkan ketua geng iKON yang menyebalkan! Dia tidak akan berani lagi mengata-ngatai Hanbin! Sekarang dia tahu siapa yang kuat dan siapa yang lemah!” Jiwon terkekeh senang, membuat sudut-sudut matanya berkerut.

“Kakak tirimu belum pulang?” tanya Hanbin. Dia menyandarkan tubuhnya di tembok balkon yang dingin. Sinar rembulan yang redup menyinari wajahnya yang lebam keunguan.

Aku menghela nafas panjang. “Setidaknya Mino Oppa bekerja, mencari uang, bukan berkelahi tidak jelas seperti kedua idiot di hadapanku ini.” Aku berkata dengan nada sinis sambil menyilangkan kedua lenganku di depan dada.

Jiwon nyengir. “Hey…hey…, kami pernah bersumpah tidak akan berkelahi tanpa tujuan yang jelas bukan? Tujuan kami sangat jelas! Geng sok hebat itu menghina Hanbin!”

Aku memutar kedua bola mataku. “Kalian sudah makan? Aku punya sisa makanan.” Aku membuka pintu balkon lebar-lebar, mengundang mereka masuk ke kamarku. Aku turun ke dapur, membawa dua botol air mineral, dua piring nasi, dan 6 potong paha ayam goreng. Begitu aku kembali lagi ke kamar, kedua idiot itu langsung menatapku dengan mata berbinar.

“Lee Hayi! Kau memang the best!” Jiwon mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum bangga padaku. “Makanan sisa di rumahmu selalu sebanyak ini. Huwaaaaaa…., selamat makaaaaan! Aduh!” Jiwon meringis kesakitan ketika aku memukul lengannya yang penuh luka.

“Tidak boleh makan sebelum cuci tangan! Aku akan mengobati luka Hanbin dulu, setelah itu aku akan mengobati lukamu.”

“Okay…okay…Mommy, aku cuci tangan sekarang.” Jiwon segera bangkit dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Luka-luka Jiwon tidak separah luka-luka Hanbin.

Aku meraih kotak P3K di atas lemari pakaianku, lalu berlutut di samping Hanbin. Aku meraih lengan kanannya, perlahan membersihkan luka sayatan yang masih meneteskan darah. Hanbin selalu terdiam setiap kali aku mengobatinya, tidak seperti Jiwon yang selalu merengek seperti anak kecil. Tapi terkadang, aku khawatir bahwa diamnya Hanbin bisa saja berarti dia menahan rasa sakit yang luar biasa. Dia hanya tidak mau membuat aku dan Jiwon khawatir. Hanbin selalu seperti itu. Memendam semua perasaannya sendirian. Aku seringkali berharap…Hanbin bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Termasuk apa yang ia rasakan terhadapku.

~~~~~~ ***** ~~~~~~

“Caramel Machiato?” Hanbin Adler tersenyum lebar begitu aku memasuki café. Aku mengangguk sekilas saat ia menyebutkan pesanan favoritku.

“Kau jadi tidak pernah datang kemari lagi setiap hari, Lee Hayi ssi.” Adler meletakkan pesanan kopi ku di atas meja.

“Ujian akhir semester.” Jawabku singkat tanpa menatap matanya. Nada suaraku dingin dan kaku. Ujian akhir semester memang membuatku benar-benar stress. Bagiku, nilai selain nilai A adalah buruk, termasuk A-.

Aku bisa merasakan senyuman Adler yang hangat. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Hayi ssi. Kau harus percaya pada kemampuanmu.”

Aku mengangkat wajahku, menatap Adler lekat-lekat, mencari sesuatu di balik beningnya kedua bola mata cokelat itu, tapi aku tidak menemukan apapun. Meskipun kalimat yang ia ucapkan barusan sama persis seperti 4 tahun silam, rasanya berbeda. Saat itu…Kim Hanbin memahamiku dengan baik, dan dia mencintaiku dengan segenap hatinya meskipun dia jarang mengungkapkannya dengan kata-kata. Saat ini…ia hanyalah Kim Adler yang tidak tahu apapun tentangku selain nama lengkapku dan di mana aku kuliah.

~~~~ ***** ~~~~

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Hayi~ya. Kau harus percaya pada kemampuanmu.” Hanbin merangkul pundakku dengan sebelah lengannya. Aku sama sekali tidak menggubrisnya. Mataku membaca soal-soal Fisika yang membingungkan. Rumus-rumus rumit ini membuat otakku terasa panas! Aku harus bisa menyelesaikan semua soal ini dengan baik! Aku harus dapat nilai 100 di ujian Fisika besok!

“Otakku tidak sepintar otakmu.” Tukasku dengan dingin.

Hanbin tertawa pelan. Dia mengecup pipi kiriku sekilas, membuatku mematung. Hanbin jarang sekali melakukan skinship, terutama bila ada Jiwon di sekitar kami. Dia bilang…dia tidak ingin Jiwon menangis karena sikap lovey-dovey kami mungkin akan mengingatkannya pada mantan pacarnya, Hana. Semua orang tahu betapa Jiwon terobsesi pada Hana sejak kelas 1 sekolah dasar. Entah dewi cinta sedang berpihak padanya saat itu, ataukah justru dewi kesialan yang membuat Hana menerima pernyataan cinta Jiwon yang kesekian kalinya (sudah tidak bisa dihitung lagi berapa banyak Jiwon menyatakan cintanya pada Hana!) saat kami kelas 2 senior high school. Mereka putus setelah 6 bulan pacaran. Hana mencampakkannya begitu saja karena Hana sebenarnya punya banyak pacar. Tragis memang. Tapi sahabatku yang bodoh itu terus saja mengidolakan Hana meskipun Hana sudah menyakitinya! Entahlah, apakah dia memang benar-benar idiot atau apa, yang pasti…sebisa mungkin aku dan Hanbin bersikap biasa saja bila ada dia.

Aku dan Hanbin baru berkencan di hari Jiwon putus dengan Hana. Jadi, merayakan anniversary kami bukanlah hal yang bijak. Kami tidak ingin bersenang-senang di atas penderitaan Jiwon. Bagaimanapun, karena bantuan Jiwon jugalah akhirnya aku tahu bahwa Hanbin menyukaiku lebih dari sekedar teman.

“YAH! Setidaknya nanti aku akan mati dengan bangga, karena aku bukan pengecut yang memendam perasaan cintaku sampai ke liang kubur! Tidak seperti seseorang bernama Kim Hanbin yang mencintai Lee Hayi diam-diam semenjak pertama kali pindah ke sekolah kita dulu. Aduh!” Jiwon meringis kesakitan karena Hanbin menendang kakinya di bawah meja.

Ya, begitulah. Setelah Jiwon kelepasan bicara saat itu, ada hal-hal yang berubah jadi lebih baik diantara aku dan Hanbin. Meskipun Hanbin tidak pernah mengatakan “Aku mencintaimu” ataupun kata-kata cheesy lainnya, aku tahu Hanbin mencintaiku. Dia memang tidak mengatakan dengan mulutnya, tapi melalui matanya. Sorot matanya membuatku yakin bahwa dia mencintaiku. Dan semua sikapnya padaku menunjukkan bahwa dia memang mencintaiku. Selalu.

~~~~~ ***** ~~~~~~

“Apakah belajar psikologi menyenangkan?” tanya Adler. Café sepi, hanya ada aku dan sepasang suami istri yang duduk cukup jauh dariku. Aku tidak keberatan Hanbin Adler menemaniku minum kopi sambil mengerjakan tugas. Bukankah tujuanku datang hampir setiap hari ke kedai kopi ini adalah agar aku bisa melihat Hanbin Adler?

Aku mengangguk, dan tanpa mengangkat wajahku dari text book, aku menjawab pertanyaan Adler. “Hmmm. Seseorang pernah berkata padaku…aku cocok menjadi seorang psikolog karena aku adalah pendengar yang baik. Aku membuat orang lain merasa diperhatikan. Dan dia bilang kata-kataku cukup oke.”

Adler tidak mengatakan apapun. Aku mengangkat wajahku, menatap Adler. Sekilas, sepertinya aku melihat gurat kesedihan di matanya, tapi mungkin itu hanya ilusi mata, karena detik berikutnya aku melihat Adler tersenyum lebar seperti biasanya. “Bukankah namaku sama seperti salah seorang tokoh psikologi?”

Aku mengangguk. “Hmm. Alfred Adler. Ahli psikologi individual.”

Aroma musim semi tidak membangkitkan apapun dalam ingatanku. Seharusnya aku ingat. Seharusnya aku “membaca” petunjuk yang ia berikan. Seharusnya saat itu aku bertanya padanya…siapa yang memberinya nama Adler? Atau lebih tepatnya…mengapa dia memilih nama Adler?

~~~~~ ***** ~~~~

Hanbin selalu melarangku melihatnya berkelahi. Dia berkata…dia tidak ingin aku melihatnya saat dia berubah menjadi seorang “monster”. Tapi bagiku…orang yang berkelahi demi melindungi orang yang dicintainya bukanlah monster tapi hero.

“Seharusnya aku lebih berhati-hati. Seharusnya kakakku tidak perlu tahu tentang hubungan kita. Maafkan aku, Hayi~ya…” Hanbin memelukku dengan sangat erat. Terlalu eratnya sampai rasanya menyakitkan. Melalui pelukannya, seolah Hanbin berkata bahwa ia tidak ingin melepaskanku.

Aku menepuk-nepuk punggungnya pelan. “Selama kau ada di sisiku, semuanya tidak masalah, Hanbin~ah.”

Hanbin mengangguk. “Hmmm. Aku akan selalu ada di sisimu. Aku berjanji. Kim Hanbin tidak pernah melanggar janjinya.” Hanbin mengecup puncak kepalaku. Aku membenamkan wajahku di dadanya yang bidang, merasakan debaran jantungnya yang seirama denganku.

“Kakakku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku menolak untuk menjadi penerusnya di masa depan nanti. Dan pendirianku masih tetap sama. Aku ingin menjadi orang normal, meskipun untuk menjadi normal tidaklah mudah. Apakah…kau akan terus berada di sisiku dan menungguku, Hayi~ya? Tunggu aku sampai aku membersihkan nama Dragon dari dalam darahku.”

Aku mengangguk. “Hmmm. Aku tidak akan pergi. Aku akan selalu berada di sisimu, Hanbin~ah. Aku berjanji.”

Angin malam di musim semi membelai rambutku ikal panjangku. Dingin. Tapi aku merasa hangat dan terlindungi. Di balik lengan Hanbin, dalam dekapan eratnya, aku merasa aman. Selama ada Hanbin, semuanya akan baik-baik saja. Tapi seharusnya saat itu kami tahu…bahwa janji tidak akan berlaku lagi di saat takdir berkata lain. Di saat kematian adalah harga yang harus dibayar untuk menepati janji tersebut.

~~~~~~ ***** ~~~~~

 

Jiwon baru berusia 20 tahun ketika ia terbaring di peti mati. Muda dan tampan. Meskipun matanya terpejam, aku bisa merasakan senyuman di baliknya, dan bagaimana sudut-sudut matanya berkerut saat ia tersenyum lebar. Dia beristirahat dengan tenang. Aku tahu Jiwon tidak akan menyalahkan siapapun atas kematiannya. Mungkin saat ini ia justru sedang tertawa terbahak-bahak melihatku menangisi jasadnya. Menangisi waktu-waktu yang telah kami lalui bersama. Semua itu terasa sangat jauh…terasa seperti kemarin.

Semua ini terasa seperti mimpi buruk. Kurang dari 24 jam yang lalu, Jiwon masih berada di rumahku, numpang sarapan seperti biasanya. Mino Oppa bahkan masih mengomeli sikap selengean Jiwon seperti biasa, menasehati Jiwon agar memikirkan masa depannya lebih serius lagi. Jiwon masih tidak tahu akan ke mana dan apa yang akan ia lakukan setelah lulus senior high school nanti, dan ujian akhir akan dilaksanakan kurang dari sebulan lagi!

“Hayi akan kuliah di jurusan Psikologi, Hanbin akan bekerja sambilan sambil kuliah di jurusan manajemen dan bisnis, sementara kau Kim Jiwon…kau masih berkata tidak tahu akan ke mana setelah ini?” Mino Oppa menjitak kepala Jiwon.

Jiwon hanya terkekeh sambil menyuapkan bibimbap dengan bersemangat ke mulutnya. “Hyung, kau seharusnya membuka restoran. Semua makananmu sangat enak! Aduh!” Jiwon mengusap-usap kepalanya yang kena pukul kakakku entah untuk yang ke berapa kalinya pagi ini.

“Tidak usah menasehatiku. Aku sudah punya pekerjaan yang mapan di kantorku. Sebaiknya kau memikirkan masa depanmu!”

“Ne…ne…., Mino hyung! Tapi sebaiknya kau membuka restoran. Aku serius, hyung! Bukan hanya karena agar aku bisa mendapat makanan gratis setiap hari! Hehehe….”

Semua percakapan itu masih terekam jelas di dalam otakku. Tapi entah kenapa terasa begitu jauh, seolah terasa seperti mimpi indah yang tidak bisa diulang lagi.

Aku berharap semua hal yang terjadi di hadapanku saat ini hanyalah mimpi buruk. Hhhh, bahkan mimpi buruk masih jauh lebih baik dari kenyataan. Aku masih bisa terbangun dari mimpi buruk, tapi aku tidak bisa terbangun dari kenyataan ini…

“Jiwon~ah…, apakah kau selalu tahu? Apakah kau tahu bahwa kau akan pergi ke surga jauh lebih cepat dari kami semua?”

Aku pernah berjanji pada Jiwon bahwa aku tidak akan menangis, tidak peduli sesulit dan sesedih apapun diriku. Tapi kali ini aku melanggar janjiku. Karena janji tidak akan berlaku lagi di saat takdir berkata lain. Di saat kematian adalah harga yang harus dibayar untuk menepati janji tersebut.

Kim Jiwon, sahabat baikku sejak aku berumur 7 tahun, kini telah pergi ke surga…

Dan Kim Hanbin, pria yang kucintai, pergi entah ke mana. Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih hidup atau sudah tiada.

~~~~~~ ****** ~~~~~

Akhir-akhir ini aku seperti melihat wajah Hanbin di mana-mana. Tidak secara langsung, tapi aku bisa merasakan kehadirannya. Seperti saat ini, ketika aku turun dari bus dan berjalan sendirian menuju rumahku, aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku. Anehnya, aku merasa aman.

Aku membalikkan badanku. Tidak ada siapapun. Mungkin hanya perasaanku. Mungkin alam bawah sadarku memang sudah terlalu sesak dipenuhi oleh Hanbin, Hanbin, dan Hanbin, sehingga pikiran-pikiran itu kini meluap ke alam sadarku.

Aku menggelengkan kepalaku dan terus berjalan menuju rumahku. Sebagai seorang kepala polisi, Mino Oppa jarang ada di rumah. Apalagi di saat-saat rawan seperti saat ini. Seoul kembali tidak aman. Tingkat kejahatan semakin merajalela. Aku mendengus. Ironisnya, aku berjalan sendirian di malam hari seperti ini. Apa boleh buat, project kuliahku memakan banyak waktu dan tenaga. Aku harus mengurung diriku di dalam perpustakaan sampai larut malam. Seandainya perpustakaan kampus kami buka 24 jam, maka aku akan menginap di sana!

Sebelum masuk ke dalam rumah, aku mampir ke rumah makan kecil milik Mino Oppa yang kini dikelola oleh suami istri Han. Mino Oppa merintis rumah makan itu 3 tahun yang lalu, seperti saran Jiwon sebelum Jiwon pergi. Dan seperti kata Jiwon, semua orang menyukai makanan Mino Oppa. Tentu saja sekarang bukan Mino Oppa yang selalu memasak, tapi para pekerja yang sudah mendapat pelatihan khusus darinya.

Rumah makan sudah tutup. Tentu saja. Sekarang sudah pukul 11 malam. Aku terus berjalan beberapa blok, dan akhirnya tiba di depan rumahku. Gelap… sepi.

Aku sudah terbiasa sendirian di rumah semenjak Jiwon dan Hanbin pergi dari hidupku.

~~~~~ ***** ~~~~~

“Oppa, maksudmu…kematian Jiwon ada hubungannya dengan The Dragon?” Mataku membelalak lebar. Sudah 6 bulan berlalu semenjak kematian sahabatku Kim Jiwon, dan menghilangnya kekasihku Kim Hanbin. Tanpa kakakku, mungkin hatiku sudah mati. Kakakku memberiku harapan akan kehidupan. Aku hidup demi setitik harapan itu. Aku hidup demi kakakku. Aku tidak ingin membuatnya sedih dan menderita. Hanya dialah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Kakakku selalu ada di saat orangtua kami pergi, dan di saat sahabat dan kekasihku pergi. Aku tidak ingin meninggalkan kakakku karena keegoisan dan kebodohanku. Aku harus tetap hidup demi kakakku.

Kakakku menatapku dengan sedih. Sorot matanya yang sendu seolah menampilkan perdebatan yang terjadi di dalam kepalanya saat ini. Memberitahuku….atau tidak memberitahuku…

Mino oppa mengangguk. “Hmmm. Kim Jiwon diam-diam bergabung dengan The Dragon. Dia gagal melaksanakan misi dan…akhirnya terbunuh oleh The Scorpion. Hayi~ya…, mungkin sudah saatnya kau melupakan Hanbin….”

Aku terkejut karena informasi ini. Jiwon? Bergabung dengan the Dragon? Tidak masuk akal! Kebencian Jiwon terhadap the Dragon sama seperti kebencian Hanbin terhadap klan keluarganya tersebut.

Aku menggeleng dan tersenyum. Mino Oppa menatapku dengan sedih. Ia tahu senyumanku tidak mencapai mataku.

“Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Hanbin bila ia selalu muncul dalam mimpiku setiap malam? Dan setiap kali mataku berkedip? Aku tidak akan melupakannya, Oppa. Bahkan meskipun ia hadir sebagai mimpi buruk bagiku, aku akan tetap memintanya untuk tetap tinggal di sisiku…”

“Hayi~ya…”

“Oppa, aku percaya pada Hanbin. Kau mungkin tidak mempercayainya, tapi kau bisa mempercayaiku.”

~~~~~ ***** ~~~~~

 

Setelah kelas psikologi perkembangan berakhir, aku dikejutkan oleh kehadiran sosok berjas hitam di depan gerbang kampus ku. Rokok elektrik terselip dengan elegan di antara kedua jemarinya. Rambut pink-pirang nya terlihat mencolok. Ditambah lagi dengan piercing di kedua telinga dan hidungnya yang semakin menarik banyak perhatian. Semua orang menoleh, penasaran, tapi cepat-cepat memalingkan wajah ketika sang G-Dragon yang legendaris menatap mereka dengan sorot matanya yang tajam dan dingin, siap membunuh.

Tubuhnya yang kurus disandarkan dengan santai pada Lamborghini putih nya yang mewah. Mata elangnya langsung mengenaliku begitu aku berjalan menghampirinya.

Ini adalah pertemuan ke-3 kami, dan dia masih meninggalkan kesan yang sama bagiku. Mengintimidasi, tidak bisa dibantah, berkuasa, kuat, dingin, terlihat kejam dan tidak berperasaan. Tapi dia memiliki kelemahan. Dan aku tahu apa kelemahannya. Lebih tepatnya…siapa kelemahannya.

“Seandainya kau terlahir di dunia yang sama denganku, aku akan dengan senang hati menyebutmu adik iparku. Bagaimana kabarmu, Lee Hayi?” G-Dragon menyeringai. Ia menghisap rokoknya, menatapku dengan tatapan matanya yang dingin.

Aku mengangguk. “Aku masih Lee Hayi yang sama dengan Lee Hayi yang kau temui 3 tahun lalu.”

G-Dragon terkekeh. Terlihat menikmati percakapan kami. Sebaliknya, aku sama sekali tidak menikmati kehadirannya di sini.

“Setidaknya aku menepati janjiku. Hanbin masih hidup. Tapi dia tidak mengingatmu. Aku yakin kau sudah tahu.”

Aku mengangguk. “Aku tahu. Terima kasih sudah menepati janjimu.” Jawabku dengan dingin. Menunjukkan kelemahan di hadapan orang seperti G-Dragon tidak ada gunanya. Aku harus menyamai “level” nya agar ia mau mendengarku.

Pria berwajah garang itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pundakku. Raut wajah mengerikannya hilang dalam sekejap. Tapi sorot matanya yang mengerikan tidak bisa menipuku. G-Dragon tidak peduli mana yang benar dan mana yang salah. Baginya, dunia ini adalah miliknya. Semuanya harus tunduk padanya.

“Hayi~ya…aku kecewa padamu.”

Aku menatapnya dengan bingung.

“Aku tidak pernah menepati janjiku. Adikku lah yang menepati janjinya. Si bodoh itu!” G-Dragon terkekeh pelan. “Hey, kau ingat apa yang kau katakan padaku malam itu di depan markas ku? Di tengah hujan deras 3 tahun yang lalu?”

“Tentu saja aku ingat.”

G-Dragon mengangkat sebelah alis matanya. “Benarkah? Sepertinya kau melupakannya.”

Aku menatap pria eksentrik di hadapanku ini dengan bingung. Tentu saja aku mengingat dengan jelas apa yang kukatakan padanya 3 tahun lalu!

Anyway, senang bisa bertemu denganmu lagi, Lee Hayi. Tapi…kau tahu kan aku masih tetap G-Dragon yang sama dengan G-Dragon yang kau temui 3 tahun lalu? Aku tidak akan pernah melepaskan adikku. Kurasa waktu kalian sudah cukup sampai di sini. Kau menyia-nyiakan kesempatan baik yang kuberikan padamu. Sayang sekali. Sampai jumpa…hmmm… bagaimana kalau 5 tahun lagi?” G-Dragon mengedipkan sebelah matanya, kemudian masuk ke dalam mobil mahal nya, melambaikan tangan, dan menghilang sekejap mata dari pandanganku.

~~~~~~ ***** ~~~~~

“Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini, kiddo?” Suara G-Dragon terdengar meremehkanku.

Aku berdiri di depan markas klan nya. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi sekujur tubuhku. Tubuhku sudah beku karena terlalu lama berdiri dan terkena hujan, tapi aku tidak menyerah. Tidak sampai aku bisa bertemu dengan kakak Hanbin, G-Dragon.

Setelah berdiri selama hampir lebih dari 6 jam, melempari pintu titanium kokoh itu dengan batu kerikil dan pecahan botol, G-Dragon keluar dan menemuiku.

“Apakah kau membunuh Kim Ji Won?” tanyaku dengan berani. Gigiku bergemeletuk karena kedinginan, tapi aku tidak peduli.

G-Dragon tertawa terbahak-bahak. “Kau tidak mempercayai kakakmu? Kau tidak percaya sahabat kecilmu yang manis bergabung dengan klan ku?”

Pandangan mataku mengeras. “Di mana Hanbin?”

Pria berambut abu di hadapanku itu menyeringai sadis. “Kau mengira aku akan membunuh adikku? Tenang saja, Lee Hayi, meskipun aku seorang monster…aku tidak akan tega membunuh Hanbin. Jiwon menolong Hanbin. Dia tidak mati dengan sia-sia.”

Aku menatap G-Dragon lekat-lekat, berusaha mencari kebohongan, tapi yang kulihat dibalik kedua mata tajam itu hanyalah kejujuran. Aku benci mengakuinya, tapi aku mempercayainya.

“Hanbin masih koma, tapi setidaknya dia masih hidup.” Sekilas, sorot mata G-Dragon terlihat berbeda, terlihat takut…terlihat kesepian. Tapi satu detik kemudian sorot mata itu berubah keras lagi. “Apa yang akan kau lakukan, Lee Hayi? Sahabat kecilmu membohongimu dan Hanbin. Kau juga tahu aku tidak akan membiarkan kau berada di dekat Hanbin. Kau kelemahannya. Aku akan menghilangkan semua kelemahan Hanbin. Dia penerusku. Dia tidak boleh memiliki kelemahan.” G-Dragon berkata dengan tenang, tapi nadanya menantang.

Aku mengepalkan kedua lenganku. “Kalau begitu…kau juga harus menghilangkan kelemahanmu. Kim Han Bin. Dia kelemahanmu.”

G-Dragon tertawa histeris seperti orang gila. Air mata bercucuran di balik eye-liner tebalnya. “HAHAHAHAA…..HAHAHAHA…, Kau jenius, Lee Hayi! Sayang sekali kau hanya orang biasa. Seandainya kau putri Yakuza atau apa…aku pasti akan merestuimu dengan Hanbin. Dunia kalian berbeda. Kehadiranmu di dunia kami hanya akan membuat Hanbin keluar dari dunia yang sudah ditakdirkan untuknya.”

Perlahan, G-Dragon menghampiriku dan memayungiku. Aku bisa merasakan nafasnya yang panas di wajahku. Dia berbisik. “Aku sudah melepaskan kelemahanku. Kim Hanbin akan terus berada di sisiku meskipun ia tidak menjadi penerusku. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik. Jadi sekarang…pergilah, Lee Hayi. Suatu hari nanti…kau akan melupakan Hanbin, dan Hanbin akan melupakanmu. Kita bahkan tidak tahu apakah dia akan terbangun atau tidak. Jadi, pergilah sebelum aku membunuhmu.” G-Dragon meraih tanganku, memaksaku untuk menggenggam payung, lalu menyeringai dan berjalan pergi menembus hujan.

“AKU TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKAN HANBIN! AKU BAHKAN AKAN MENGETAHUI APA YANG DIA RASAKAN MESKIPUN DIA TIDAK PERNAH MENGATAKANNYA PADAKU! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG ADIKMU! DIA BERBEDA DENGANMU! DIA BUKAN MONSTER SEPERTIMU!” Aku berteriak sekuat tenaga. “KAU HARUS MENEPATI JANJIMU! KAU HARUS MENJAGA HANBIN DENGAN BAIK!”

G-Dragon menjawabku dengan mengangkat sebelah tangannya, tanpa berbalik, dia terus berlari menembus hujan, memasuki markas nya, istana nya.

~~~~~~ ******* ~~~~~

“Di mana Adler?” tanyaku pada salah satu pelayan café VIP.

“Oh, Adler sudah berhenti bekerja. Kau Lee Hayi kan? Dia menitipkan ini padaku. Untukmu~~” Pelayan itu memberikan sebuah amplop bergambar Mickey Mouse padaku. Jantungku berdegup kencang.

Aku duduk di pojok, di tempatku yang biasa. Tanganku bergetar ketika membuka amplop itu. Selembar kertas surat merah bergambar Mickey Mouse di dalamnya entah kenapa membuatku gugup. Perasaanku tidak enak.

Dear Hayi,

Hey Hayi, maaf aku harus pergi tiba-tiba. Terima kasih sudah datang setiap hari ke café ini untuk menemuiku. Hahaha, aku bercanda! Terima kasih sudah menyukai kopi buatanku. ^^.

Oh, apakah kau tidak pernah merasakan kehadiranku? Yap. Aku sering mengikutimu. Jangan berjalan sendirian di malam hari, Hayi~ya. Aku tidak akan bisa selalu menjagamu untuk saat ini (setidaknya tidak secara terang-terangan).

Tapi….apakah kau ingat? Aku akan selalu ada di sisimu. Aku berjanji. Kim Hanbin tidak pernah melanggar janjinya.

Aku tidak bisa menjagamu dan menemuimu secara langsung seperti yang sudah kulakukan selama 5 bulan ini. Bisakah kau menungguku sebentar lagi? Aku sedang berusaha menstabilkan keuangan perusahaan keluargaku tanpa harus menggunakan sumber-sumber gelap aktivitas klan kami. Bila aku berhasil, kakakku akan membebaskanku dari takdirku. Aku tidak perlu mengambil alih kekuasaannya sebagai pemimpin klan. Apakah 5 tahun terlalu lama bagimu? Kuharap 5 tahun yang akan datang nanti…kau masih akan tetap menatapku seperti saat ini.

Hey~ Aku tahu kau masih suka Mickey Mouse! Karena itulah aku menulis di kertas ini. Kau harus menyimpannya dengan baik, oke?! Ini salah satu koleksi Mickey Mouse favoritku!😄

Hmmm, Adler nama yang bagus. Lain kali…, apakah aku harus menggunakan nama lain? Hmmm, bagaimana dengan Rogers? Freud? Jung? Ellis? Sullivan? Eysenck? Tapi kuharap…saat aku menemuimu lagi nanti…aku akan menggunakan nama asliku.

Aku mungkin tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi….kurasa aku menyesalinya. Aku mencintaimu, Hayi~ya. Selalu. Tunggu aku sampai aku mengatakannya secara langsung di hadapanmu. Kau berjanji akan menungguku kan?

 

With Love,

Kim Hanbin.

 

Air mataku menetes. Hanbin tidak melupakanku. Hanbin mengingatku.

Bodoh! Lee Hayi bodoh!

Kupikir selama ini akulah yang melindungi Hanbin, tapi kenyataannya…dialah yang selalu melindungiku.

Sekarang, kata-kata G-Dragon yang tidak masuk akal kemarin terasa masuk akal.

“Hey, kau ingat apa yang kau katakan padaku malam itu di depan markas ku? Di tengah hujan deras 3 tahun yang lalu?…. Sepertinya kau melupakannya. Kau menyia-nyiakan kesempatan baik yang kuberikan padamu. Sayang sekali. Sampai jumpa…hmmm… bagaimana kalau 5 tahun lagi?”

 

“AKU TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKAN HANBIN! AKU BAHKAN AKAN MENGETAHUI APA YANG DIA RASAKAN MESKIPUN DIA TIDAK PERNAH MENGATAKANNYA PADAKU!”

 

Lee Hayi bodoh! Pada kenyataannya, aku melupakan apa yang kukatakan. Selama 5 bulan ini aku tidak mengetahui apa yang Hanbin rasakan padaku. Kupikir dia melupakanku. Tapi ternyata dia hanya pura-pura mengalami amnesia, demi melindungiku. Untuk saat ini, aku tidak bisa berada di dunianya, dan dia belum bisa memasuki duniaku.

Kim Hanbin selalu melindungiku…. Kim Hanbin selalu berada di sisiku. Dalam diam. Dalam kegelapan.

“Aku akan selalu ada di sisimu. Aku berjanji. Kim Hanbin tidak pernah melanggar janjinya.”

===== The End ====

 

A/N : Thanks for reading. ^^

~Azumi~

5 thoughts on “[oneshot] In The Darkness

  1. Wah akhirnya post ff juga eonn,
    Baca ff ini malah kepikiran Healer, ah gak tau yang pasti ini ff sama kaya ff-ff yang dulu Keren, Gak bikin bosen, pokoknya Amazing🙂
    Next ff ditunggu eonn

  2. ANGST AAAAK.. kak azmiiii ><
    aku berkaca2.. uhuhuhu..hanbin kau so sweet sekali nak?
    HAyii.. sabar ya… sini aku cubitin jidi. jidi nakl ya sama kamu? LOL
    jidi mah yaaaaaa… gemeees… es kiko gue rebus loh bang. #plak :v
    hanhi lagiiiiii uhuhu

    PS : baru buka twitter kak jadi baru menemukan ini. wkwkwk

  3. Aku suka aku suka aku suka >_<
    Aku suka banget sama hanbin, dan kamu keren bikin cerita ttg hanbin ini.
    Aku kangen sama ff nya azumi,
    Kapan mau nerusin ff yg lain? (Nanya aja lho, ga da maksud nagih ^o^)
    Sukses ya kerja nya.
    Fighting!!! ^_^

  4. Ini sad ending or happy ending T.T
    Ff nya keren banget .. !!
    Baca ff hanhi serasa baca ff daragon .. ^.^ (menurut ku .. )
    Ayo kak ..
    Kapan lanjutin goyang lain .. ??
    Kangen baca ff han hi .. T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s