[oneshot] It’s Not Over

Title                 : It’s Not Over

Author              : Azumi Aozora

Main Cast       : Lee Sung Kyung, Kang Seung Yoon (WINNER), B.I / Kim Han Bin (IKON), Lee Hi / Lee Hayi

Support Cast  : WINNER

Genre              : romance, friendship, family, AU

Rating               : PG+13

Length            : Oneshot

Disclaimer       : This story is just fanfiction. I just own the plot. Don’t plagiarized this story! Just enjoy and comment. ^_^. I got inspired by Daughtry’s song titled It’s Not Over.

Poster its not ovet

Poster its not over 2

“Aku tidak pernah melepaskan tanganmu. Kaulah yang melepaskan genggaman tanganku disaat aku menggenggam jemarimu terlalu erat.” – Kang Seung Yoon –

“Perasaan ini terlalu menyakitkan, tapi hanya kaulah satu-satunya pria yang kucintai. Aku tidak menyerah pada perasaanku. Aku hanya menyerah pada keadaan, pada takdir.” – Lee Sung Kyung –

“Semua ini belum berakhir. Aku tidak akan kalah darinya, dan aku tidak akan kalah dari diriku sendiri.” – Kim Han Bin –

“Mencintai seseorang terlalu dalam memang terasa sangat menyakitkan. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan? Otak dan hatiku tidak mau berkompromi.” – Lee Ha Yi –

==== and The Story Begins ……………

@Music and Art Department, YG University…….

Aku duduk di atas rerumputan di taman yang terletak cukup jauh dari kampus utama. Punggungku bersandar di sebuah batang pohon besar, kakiku kubiarkan basah terkena embun di rerumputan, tanganku bergerak dengan lincah kesana kemari menyapukan kuas di atas sebuah kanvas putih dan membuat warna warni yang akhirnya membentuk pola, membentuk sosok.

Sepertinya aku terlalu terhanyut ke dalam “dunia”ku sendiri sehingga aku tidak sadar ada seseorang yang berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku. Aku baru sadar ketika aku merasa bahu kiriku terasa berat. Aku menoleh dan melihat Kim Han Bin menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memejamkan kedua matanya.

“Aku tidak ingin melihat apa yang kau lukis, nuna.” Ujar Hanbin sambil masih tetap memejamkan mata.

Tangan kiriku menyentuh kepalanya dan menepuk-nepuknya pelan. Aku terus menyelesaikan lukisanku, dan Hanbin tetap menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku tahu dia tidak tidur.

Aku mulai merasa bahu kiriku pegal, tapi aku tidak mengatakan apapun pada Hanbin. Tiba-tiba saja Hanbin bergumam, “Aku rindu rumah kita dulu.”

Aku tersenyum, “Aku juga.”

Hanbin tersenyum lebar. “Aku berharap dulu kau tidak diadopsi, dan aku berharap tidak ada yang mengadopsiku sehingga kita akan selalu bersama.”

“Bukankah kita selalu bersama?” aku berkata dengan ringan, perhatianku masih terfokus pada lukisanku sehingga aku tidak tahu Hanbin sudah membuka matanya dan menatap lukisanku dengan tatapan penuh benci.

“Tapi semuanya jadi berbeda.” bisik Hanbin. Aku mendengar nada suaranya yang berubah sedih, aku menolehkan wajaku dan mata kami bertatapan. Selama sekian menit kami hanya terdiam. Aku tidak merasa terganggu dengan jarak wajah kami yang sangat dekat. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat di wajahku, tapi aku tidak merasa aneh. Dengan Hanbin, rasanya berbeda. Bila pria lain yang kini berada di posisi Hanbin, pastilah aku sudah menonjok wajahnya dan menendang kakinya sampai patah! Bagiku…. Kim Han Bin sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sejak bayi kami tinggal di panti asuhan yang sama di Busan, sampai kemudian ada yang mengadopsiku ketika umurku 15 tahun dan Hanbin 13 tahun.

Pasangan suami istri yang mengadopsiku bersahabat dengan pasangan suami istri yang mengadopsi Hanbin. Mereka datang ke panti asuhan bersama-sama. Aku sangat senang karena kami akhirnya mendapatkan orangtua angkat, tapi sepertinya Hanbin tidak. Mungkin saat itu aku terlalu kurang peka, sehingga aku tidak memahami apa yang Hanbin rasakan. Kupikir dengan memiliki orangtua angkat, sama-sama tinggal di Seoul meski jarak rumah kami tidak terlalu dekat, pergi ke sekolah yang sama, kupikir Hanbin akan merasa bahagia sepertiku.

Entah sudah berapa lama mata kami bertatapan. Aku berusaha mencari jawaban diantara beningnya kedua bola mata cokelat Hanbin, tapi yang kudapat hanyalah tanda tanya.

“Seharusnya tidak ada yang mengadopsi kita, sehingga saat ini kita akan masih tetap tinggal di Busan, dengan kehidupan yang sederhana tapi merasa bahagia. Mungkin kita akan mengurus bayi-bayi baru yang terlantar di panti. Kau akan memasak, mengajak anak-anak panti bermain, mengajari mereka menggambar, dan aku akan membuat ayunan untuk anak-anak di kebun belakang, membacakan mereka cerita dan mengajak mereka menari.” Hanbin berkata pelan, matanya masih menatapku lekat-lekat.

Aku menghela nafas. Sebelah tanganku menyentuh pipinya yang terasa dingin karena angin musim gugur. “Tidakkah kau merasa bahagia dengan hidupmu sekarang, Hanbin~ah? Sebentar lagi kau akan mencapai impianmu, menjadi dancer dan composer lagu yang terkenal. Seandainya dulu Paman dan Bibi tidak mengadopsimu, tentu sekarang kau tidak akan berada di sini.” Aku mengerutkan keningku. Terkadang aku tidak memahami jalan pikirannya.

Hanbin mengangkat kepalanya dari pundakku. Ia menyandarkan punggungnya ke batang pohon, lalu menatap langit yang mendung.

“Seandainya dulu tidak ada yang mengadopsi kita, kau tidak akan bertemu dengannya.” Mata Hanbin sekilas menatap lukisanku.

“Kang Seung Yoon?”

Pandangan mata Hanbin mengeras. Raut wajahnya berubah dingin. “Aku bahkan tidak suka mendengar namanya terucap dari mulutmu, nuna.”

Aku hanya membalas kata-kata sinisnya dengan senyuman. Pandangan mata Hanbin berubah lembut. Ia tersenyum tipis, lalu mengulurkan lengannya dan merengkuh kepalaku ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan pipiku ke dadanya yang bidang dan merasakan detak jantungnya yang terdengar seperti alunan melodi. Aku tertawa karena pikiran konyolku. Hanbin menatapku dengan heran. Aku mengangkat wajahku lalu nyengir lebar, “Aku ingin mendengar lagu baru yang kau tulis.”

Hanbin menggeleng. “Tidak, kecuali kau membuang lukisan itu dan berjanji padaku untuk tidak pernah melukis wajahnya lagi.”

Aku melepaskan pelukannya dan mengehela nafas berat. “Hanbin~ah, kau tahu kan hanya dengan membuang lukisan ini tidak akan bisa membuang apa yang kurasakan padanya?”

Pandangan mata Hanbin berubah keras lagi. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih untuk menahannya. Aku balas menatapnya dengan tajam. Kupikir selama ini ia mengerti, bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah mungkin bisa melupakan Kang Seung Yoon. Hanya dialah satu-satunya pria yang kucintai, tidak peduli serumit apapun hubungan kami.

Hanbin masih tetap terdiam. Kedua bola mata cokelat beningnya menampilkan emosi yang berubah-ubah. Aku mengulurkan kedua tanganku dan menggenggam kedua tangannya. Jemarinya yang panjang bertautan dengan jemariku yang pendek dan mungil. Aku tersenyum. Perlahan raut wajah Hanbin mulai terlihat rileks.

“Kau sudah tidak ada jadwal kuliah lagi kan? Bagaimana kalau kita makan ramen? Aku akan mengajak Hayi karena kau tidak pernah mengajaknya kencan lagi.” Aku berdecak kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. “Apakah kau buta, Kim Han Bin?! Sudah jelas-jelas Hayi menyukaimu. Tsk! Jangan menyakitinya. Dia sepupu kesayanganku. Cobalah untuk membuka hatimu padanya, ne? Memangnya kau ingin perempuan yang seperti apa? Emma Watson? Hahaha, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan artis idolamu, Kim Han Bin. Sama seperti aku tidak akan mungkin mendapatkan artis idolaku, Robert Pattinson.” Aku tertawa, tapi raut wajah Hanbin terlihat serius.

“Sepertimu.”

“Mwo?” aku masih tertawa, tapi Hanbin menatapku lekat-lekat. “Apakah kau buta, nuna? Sudah jelas-jelas aku menyukaimu. Kenapa kau hanya bisa melihat Kang Seung Yoon? Kenapa kau tidak bisa melihatku yang sejak dulu selalu berada di sampingmu?” Hanbin berkata dengan sungguh-sungguh. Seketika tawaku lenyap.  Aku tidak buta, aku hanya tidak ingin melihatnya dan berharap tidak melihatnya. Kupikir ia hanya salah mengartikan perasaannya padaku, hanya karena sejak dulu akulah perempuan yang paling dekat dengannya. Aku tidak buta, aku tahu. Aku hanya berharap pada akhirnya dia akan sadar bahwa aku hanyalah “kakak”nya. Aku tidak mungkin menjadi belahan jiwanya karena jiwaku sudah tertambat pada Seung Yoon.

“Aku tahu setelah ini sikapmu padaku akan berubah, Nuna. Karena itulah aku tidak ingin mengatakan hal ini sejak dulu. Tapi aku harus mengatakannya sekarang. Aku…..”

Sebelum Hanbin mengatakannya, aku menutup mulutnya dengan sebelah tanganku. Perlahan aku menggelengkan kepalaku. Sorot mata Hanbin berubah sendu.

“Hanbin~ah, anggap saja semua ini hanya mimpi. Sikapku padamu tidak akan berubah. Tapi bisakah kau…….”

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Hanbin tiba-tiba bangkit berdiri. “Semua ini belum berakhir, nuna. Ini bukan mimpi. Aku tidak mau lagi berpura-pura dengan perasaanku padamu.”

“Hanbin~ah, kau tahu aku……”

Hanbin memotong kata-kataku. “Aku tidak akan kalah darinya, dan aku tidak akan kalah dari diriku sendiri.”

Setelah mengatakan hal itu, Hanbin pun pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Seandainya bisa, aku pun ingin mencintaimu sebagaimana kau mencintaiku, Kim Hanbin. Tapi kita tidak bisa memilih siapa yang kita cintai. Karena itulah aku tidak akan menyalahkanmu. Aku hanya berharap semoga kau segera sadar bahwa Hayi lah yang terbaik bagimu, bukan aku.

***************

Malam harinya, ketika aku sedang melukis di atas tempat tidurku, aku mendengar ketukan di pintu kamarku. “Eonni….”

“Oh, Hayi, masuklah….” Kataku.

Hayi membuka pintu, nyengir lebar, dan berlari lalu melompat dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurku. Dia terkikik pelan.

“Apa yang membuatmu sangat gembira, Hayi?”

Hayi menggeleng. “Tidak ada.” Tapi senyumannya semakin lebar.

Aku menatapnya dengan curiga. Sepupuku itu biasanya mudah untuk “kubaca”, tapi kali ini tidak. Ada sesuatu dalam tawanya yang membuatku merasa tak nyaman.

Lee Hayi, atau yang biasa dipanggil Lee Hi oleh teman-temannya adalah keponakan dari ayah angkatku. Dia mulai tinggal bersama kami sejak ia mulai masuk kuliah, satu tahun yang lalu. Dia kuliah di jurusan musik, satu kelas dengan Hanbin.

Sifatnya yang ceria dan blak-blakkan membuatku mudah untuk “membaca” apa yang ia pikirkan. Aku tahu dia sangat menyukai Hanbin sejak pertama kali mereka bertemu. Aku bisa tahu kapanpun Hayi menginginkan sesuatu dariku. Ia seperti anak kecil yang mudah dibuat senang dengan teddy bear lucu favoritnya. Tapi terkadang ia bisa bersikap jauh lebih dewasa dariku dan memberiku nasihat seolah-olah ia jauh lebih berpengalaman dariku.

Aku menyayangi Hayi. Dia seperti adik perempuan yang tak pernah kumiliki.

“Eonni, aku ingin membencimu, tapi aku terlalu mencintaimu.” Hayi terkikik lagi. Aku tahu kemana arah pembicaraan kami akan berlangsung. Aku meletakkan kanvas dan kuas yang kupegang di meja kecil di samping tempat tidurku. Sekarang perhatianku terfokus sepenuhnya pada Hayi.

Hayi terlentang di atas tempat tidurku sambil menatap langit-langit. Tawanya kini lenyap, digantikan dengan air mata yang merebak di sudut-sudut matanya.

“Hayi~ah….”

Hayi mengusap air matanya. “Mencintai seseorang terlalu dalam memang terasa sangat menyakitkan. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan? Otak dan hatiku tidak mau berkompromi.”

“Hayi~ah…”

“Eonni, aku tidak menyalahkanmu. Aku juga tidak membencimu. Aku tahu dihatimu hanya ada Seung Yoon samchon. Tapi sejak dulu aku juga tahu Hanbin hanya menyukaimu, dan aku hanya bertepuk sebelah tangan…”

Aku mengulurkan sebelah tanganku dan mengusap-usap rambut Hayi yang ikal. Hayi menggosok-gosok matanya lalu terkekeh. “Menangis? Rasanya tidak seperti diriku.”

Aku berbaring di samping Hayi lalu memeluknya dan menepuk-nepuk punggungnya. “Suatu hari nanti Hanbin akan sadar bahwa kau adalah gadis paling luar biasa baginya. Suatu hari nanti lagumu akan sampai ke hatinya. Jangan menyerah, Hayi~ah. Aku ingin kalian berdua bahagia. Kalian adalah adik-adikku yang sangat kusayangi.”

Hayi terisak di pelukanku. Tangannya meremas pundakku. “Gomawo, Sung Kyung eonni…hiks…, kau juga…..hiks…, kuharap kau bisa bersama dengan Seung Yoon samchon. Kau juga…..jangan menyerah, eonni.”

Aku tersenyum dan menggeleng. “Aku tidak menyerah pada perasaanku. Aku hanya menyerah pada keadaan, pada takdir. Cerita kita berbeda, Hayi~ah. Aku….tidak mungkin bisa bersama dengan Seung Yoon. Aku tidak ingin membuat ayah dan ibuku kecewa.”

“Tapi….., tapi samchon juga menyukaimu, eonni.”

Aku hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Aku tidak akan mungkin bisa menikah dengan “paman” ku sendiri, meskipun kami tidak punya hubungan darah setetespun, tapi bagaimanapun juga….. Kang Seung Yoon adalah adik bungsu dari ibu angkatku, dan aku tidak ingin membuat ibu angkatku kecewa.

*******

Sabtu pagi, aku berencana untuk bersepeda di sekitar daerah tempat tinggalku, karena itulah aku sengaja bangun pagi-pagi sekali. Padahal aku bukanlah “makhluk pagi” dan biasanya lebih senang menghabiskan waktu liburanku dengan bermalas-malasan di tempat tidur dibanding berolahraga.

“Sung Kyung sayang…, hhhh, syukurlah kau sudah bangun. Kau bisa mandi sekarang dan ikut aku ke fashion show?” tiba-tiba saja ibu angkatku masuk ke dalam kamarku ketika aku sedang merapikan selimut.

“Kenapa, eomma?”

“Salah satu model yang harusnya tampil hari ini mendadak sakit. Tidak ada model cadangan karena sebagian modelku sedang tampil di Prague bersama asistenku. Meskipun kau benci menjadi modelku, mau ya hari ini menjadi modelku? Hmmm? Aku akan memberikanmu apapun.” Ibu angkatku tersenyum hangat sambil mengusap-usap kepalaku. Aku sangat bersyukur karena orang-orang sebaik ibu dan ayah angkatku bisa menjadi “orangtua”-ku. Aku tidak pernah tahu dimana orangtua kandungku berada atau mengapa mereka membuangku ke panti asuhan, tapi aku tidak lagi mengeluh semenjak kedua “malaikat” ini menjadi orangtuaku. Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku pantas mendapatkan kasih sayang tanpa syarat dan tanpa batas dari mereka? Kemudian aku bersyukur pada Tuhan dan berjanji akan selalu menjadi anak yang berbakti pada mereka. Karena itulah aku juga tidak ingin bersikap egois dan berkata bahwa aku mencintai Kang Seung Yoon sebagai seorang “pria”. Aku bisa membayangkan bagaimana kecewanya ibu angkatku bila ia tahu aku mencintai adik bungsunya dengan cara yang tidak semestinya.

Aku menggigit bibir bawahku. Ibu angkatku masih menunggu jawabanku.

“Aku akan memberikanmu apapun, sayang. Please…, ini terakhir kalinya aku memintamu untuk menjadi model fashion show?”

Aku tertawa pelan lalu memeluk wanita baik hati di hadapanku itu. “Eomma, kau jadi membuatku seolah terlihat seperti anak yang jahat. Meskipun aku benci menjadi model, tentu saja aku akan membantumu. Kau tidak perlu memberiku apapun, eomma. Kau sudah memberiku terlalu banyak.”

“Aigooo~ anakku. Terima kasih karena kau telah lahir ke dunia ini dan menjadi anakku. Kau memang tidak lahir dari rahimku, tapi kau lahir dari hatiku.”

Aku memeluk ibu angkatku lebih erat lagi. Aku semakin yakin bahwa wanita di hadapanku inilah yang ingin kubuat bahagia.

Ibuku mengusap-usap punggungku, lalu berkata, “Seung Yoon juga jadi model dadakan lagi. Aku berhasil memaksanya dengan mengiming-iminginya gitar listrik baru.”

Kami berdua tertawa, tapi dalam hati aku merasa sedikit gugup. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Kang Seung Yoon samchon, yang tiga tahun lalu sempat kupanggil Seung Yoon Oppa karena kebodohanku sendiri dan keegoisanku sendiri sehingga kami berhubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua angkatku, dan sekarang sepertinya ia hanya akan menjadi Kang Seung Yoon yang biasa, si musisi dan penyanyi muda berbakat yang terkenal. Tapi di hatiku dia tidak pernah hanya menjadi Kang Seung Yoon yang biasa.

***********

Kang Seung Yoon. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan jatuh cinta pada pria bawel dan moody itu. Mungkin karena dia anak bungsu, dan usia nya terpaut jauh sekali dengan kakak-kakaknya, apalagi dengan ibu angkatku, membuatnya terlihat seperti anak dibanding adik. Nenek angkatku sudah sangat tua ketika “tanpa sengaja” mengandung Seung Yoon, anak yang tidak diharapkan akan lahir, tapi sangat dimanja dan disayangi.

Aku tidak tahu kapan dan bagaimana tepatnya aku bisa jatuh cinta padanya. Yang kutahu adalah, ketika usiaku 17 tahun, rasanya berbeda saat aku bersamanya. Kupikir awalnya mungkin karena umurnya yang hanya lebih tua 11 bulan dariku, sehingga aku merasa sangat nyaman saat bersamanya. Tapi semakin hari aku semakin sadar bahwa aku mencintainya dengan cara yang tidak semestinya.

Secara genetik, dia memang orang asing bagiku, dan tidak ada salahnya untuk mencintainya. Tapi secara etika dan moral, dia adalah paman angkatku, dan rasanya sangat salah mencintai paman sendiri.

Karena kebodohanku dan keegoisanku, tiga tahun lalu aku lebih mementingkan perasaanku dibanding apapun. Saat itu, ketika Seung Yoon sedang menginap di rumah orangtuaku, setelah makan malam dan menunggu ayah dan ibuku pulang, dengan bodohnya aku mencium bibir Seung Yoon. Dan dengan bodohnya Seung Yoon balas mencium bibirku. Dia mencintaiku sejak dulu, sama seperti aku mencintainya, dan sama sepertiku….dia juga tidak ingin membuat kakak tertuanya kecewa.

Saat itu semuanya sudah terlambat. Aku sudah terlanjur menyulut api, dan Seung Yoon tidak bisa memadamkan apa yang ia rasakan terhadapku. Kami berkencan diam-diam selama kira-kira satu tahun.

Aku tidak menyangkal, saat-saat bersamanya adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku. Tapi aku sadar, perasaan itu tidak layak untuk diperjuangkan. Akan terlalu banyak orang yang kecewa, sedih, dan terluka karena kami berdua.

Karena itulah aku memutuskan hubungan kami. Memutuskannya dengan alasan fans atau karir nya sebagai penyanyi terkenal tidaklah mempan, maka aku pun mengatakan yang sebenarnya, bahwa ibu dan ayah angkatku jauh lebih penting dibanding dirinya. Jujur, tapi tidak sepenuhnya jujur. Aku tahu jauh di lubuk hatiku yang terdalam, Seung Yoon sama pentingnya dengan ayah dan ibu angkatku.

Perasaan ini terlalu menyakitkan, rasanya seperti membunuhku dan menggerogoti hatiku sampai menjadi busuk, tapi hanya Seung Yoon lah yang kucintai. Karena itulah, meskipun aku membiarkannya pergi dari hidupku, aku tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi dari hatiku.

*********

Ibu angkatku adalah desainer pakaian dan perhiasan yang ternama di Korea. Aku sudah cukup sering dijadikan modelnya. Tapi semenjak aku berkata dengan jujur pada ibuku bahwa modeling bukanlah mimpiku dan aku tidak nyaman dengan dunia itu, ibuku mulai “membebaskanku” dari fashion show dan pemotretan untuk promosi brand nya.

Sudah lama sekali aku tidak datang ke galeri ibuku apalagi menghadiri fashion show ibuku yang selalu diadakan di ballroom hotel-hotel mewah!

Ibuku menyetir dengan kecepatan penuh, turun dengan tergesa-gesa dari mobil, lalu berlari dengan lincah meskipun ia memakai high heels 10 cm. Bisa kubayangkan bila aku berada dalam posisinya pastilah aku sudah jatuh terjerembab.

Kurasa Tuhan memang adil. Ibuku memiliki segalanya. Bukan hanya harta dan kecantikan, tapi hati yang baik. Tapi Tuhan tidak memberikannya kemampuan untuk melahirkan anak.

Aku berlari di belakangnya sambil tersenyum. Kuharap aku bisa meniru sedikit kebesaran dan kebaikan hatinya. Aku memang tidak ingin meniru “dunia” nya yang gemerlap. Aku lebih menyukai duniaku di balik panggung, melukis hal-hal yang kusukai. Tapi aku ingin meniru “kebesaran” hatinya, bagaimana dia bisa mencintaiku sepenuh hati dan tanpa syarat meskipun aku tidak terlahir dari rahimnya, dan meskipun ia baru bertemu denganku ketika aku sudah berumur 15 tahun, di saat aku tidak lagi “lucu” seperti bayi tapi ia selalu menganggapku bayi kesayangannya yang selalu ia jaga dan kasihi.

Ketika tiba di backstage dalam, para stylist langsung mendandaniku. Nafasku sedikit tertahan ketika aku melihat Seung Yoon di sebrang ruangan, stylist sedang menata rambutnya. Tanpa kuduga, Seung Yoon menatapku lewat cermin di hadapannya. Aku memalingkan wajahku dan berpura-pura berkonsentrasi pada apa yang stylist sapukan di wajahku.

Seung Yoon berjalan mendekatiku. Bohong kalau aku berkata jantungku tidak lagi berdebar untuknya. Bohong kalau aku berkata tidak bahagia melihatnya lagi.

“Kau tidak datang ke Dome concert tour-ku, padahal aku sudah memberikan 4 tiket Tokyo Dome concert-ku pada kakakku bulan lalu.” Seung Yoon tersenyum lebar dan berkata dengan ceria, tapi aku bisa menangkap raut sedih di wajahnya. Senyumannya tidak mencapai matanya. Aku melihat sekeliling, ibuku tidak ada. Stylist sudah selesai menata rambutku, lalu pergi meninggalkan kami.

Jantungku berdebar lebih cepat. “Aku…..”

Aku terdiam. Terlalu banyak yang ingin kukatakan padanya. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Beberapa stylist dan model lain menatap kami sambil tersenyum. Aku selalu mendapat feeling bahwa mereka mengetahui ada “sesuatu” diantara kami.  Ini bukan pertama kalinya aku dan SeungYoon menjadi model ibuku. Dulu kami sering sekali menjadi modelnya, sehingga kami juga cukup akrab dengan para stylist dan model-model tetap di perusahaan ibuku.

Seung Yoon merentangkan kedua lengannya. “Kau tidak rindu pada pamanmu sendiri yang sudah tidak kau temui selama hampir dua tahun?” Seung Yoon berkata dengan ceria, tapi matanya terlihat sendu.

Sebelum aku sempat bereaksi, Seung Yoon memelukku dengan erat. Sebelah lengannya melingkari pinggangku dan lengan satunya lagi mendekap belakang kepalaku dengan erat seolah ia tidak ingin melepaskanku. Perlahan aku membalas pelukannya, dan membiarkan diriku terhanyut dalam kenangan yang pernah kulalui bersamanya.

Aku tertawa terbahak-bahak sambil memegang sebuah majalah yang di dalamnya terdapat wawancara Seung Yoon. Seung Yoon sudah menjadi penyanyi dan musisi yang terkenal di Korea, Jepang, dan negara-negara Asia lainnya sejak ia masih kecil. Saat di panti asuhan, aku tidak peduli dengan idol dan dunia hiburan, sehingga aku tidak tahu ada idola cilik lucu dan berbakat bernama Kang Seung Yoon yang kini sudah bertransformasi menjadi remaja cheesy dan aneh!

“Hal apa yang paling kau inginkan? Bertemu dengan istriku di masa depan.” Aku membaca ulang wawancaranya di majalah. “Hahahaha. Hahahaha. Kau terlalu banyak nonton drama science fiction, Seung Yoon~a. Kau berharap mesin waktu benar-benar ada dan membawamu ke masa depan sehingga kau bertemu dengannya? Huwahahaha…hahaha….”

Seung Yoon mengerutkan keningnya. “Dengannya? Siapa maksudmu dengan nya? Aku tidak perlu mesin waktu. Aku sudah bertemu dengannya, Lee Sung Kyung, my future wife.” Seung Yoon tersenyum lebar dengan tatapan jahil.

“Eeeewwwww, cheesy!” Aku memukul lengannya dengan keras.

Seung Yoon mengaduh, lalu ia menggembungkan pipinya. “Kau tidak memanggilku Oppa.”

Aku menggeleng. “Kau lebih cocok kupanggil kakek!”

SeungYoon tiba-tiba menggelitiki pinggang dan leherku. Aku terbahak-bahak dan kemudian berlari menghindarinya. Tapi Seung Yoon berhasil menangkapku dan memelukku dengan cara seperti ia memelukku saat ini. Aku merasa terlindungi.

 

Seung Yoon mempererat dekapannya. Dagunya bersandar di pundakku, dan aku bisa merasakan nafasnya menggelitiki telingaku. Sebagian dari diriku ingin melepaskan pelukannya, tapi sebagian lagi ingin terus memeluknya seperti ini, dan mengingat kembali milyaran kenangan manis bersamanya.

“Ehem, Seung Yoon, Sung Kyung…, kita harus bersiap-siap.” Sebuah suara husky tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Song Minho atau yang biasa dipanggil Mino, salah satu model ibuku, nyengir lebar pada kami. Aku melepaskan diriku dari Seung Yoon, merasa awkward. Seung Yoon menepuk pundak Mino brotherly, “thanks” gumamnya.

Mino menggedikkan bahunya. “It’s okay.” Sorot matanya terlihat seolah ia mengetahui sesuatu. “Kalian punya waktu beberapa menit lagi kurasa.” Mino nyengir, lalu berjalan menuju backstage dimana para model lain berkumpul sebelum melenggang di atas catwalk.

Seung Yoon menatapku penuh arti. “Aku tidak pernah melepaskan tanganmu. Kaulah yang melepaskan genggaman tanganku disaat aku menggenggam jemarimu terlalu erat.”

Aku tidak mengatakan apapun. Dadaku terasa sesak. Aku tidak boleh menangis! Aku tidak mau tampil di atas catwalk dengan mata sembab.

“Sampai sekarang pun aku tidak pernah melepaskanmu, Sung Kyung~ah.”

“Seung Yoon~ah…, aku…” Aku tidak melanjutkan kalimatku, karena aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Mungkin aku tahu, tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya.

Seung Yoon meraih sebelah tanganku dan menggenggamnya. Jemari kami bertautan. “You’re the only one for me, Lee Sung Kyung. Selama hampir 2 tahun ini aku terus mencari tahu apa sebenarnya yang kurasakan padamu, dan jawabannya masih tetap sama seperti dulu. Mungkin akan sulit mengatakannya pada kakakku dan pada semua orang, tapi….tidakkah kau ingin mencobanya? Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang, dan kurasa kakakku akan membunuhku kalau aku menyakitimu dan membuatmu menderita.” Seung Yoon tersenyum. Senyumnya penuh pengharapan.

Aku menghela nafas panjang. “Aku…..tidak tahu, Seung Yoon~ah. Aku….. takut.”

Seung Yoon mempererat genggaman tangannya. “Aku juga. Tapi…. semuanya tidak akan berakhir hanya karena kita menyerah pada rasa takut, Sung Kyung~ah.”

Selama beberapa detik kami hanya saling tatap dalam diam, sampai kemudian ibu angkatku datang dan berkata, “Aku mencari-cari kalian. Ayo siap-siap ke backstage!”

Aku tersentak kaget dan berusaha melepaskan genggaman tangan Seung Yoon, tapi Seung Yoon menahan tanganku. Dia bahkan berjalan sambil menuntun tanganku. “Ne…ne… Nuna bawel…” Seung Yoon nyengir lebar ketika berjalan melewati ibu angkatku. Ibuku melotot padanya tapi senyuman lebar tersungging di wajahnya. Dia tidak mengatakan apapun ketika aku dan Seung Yoon berjalan di hadapannya. Aku tahu dia bisa melihat jemari kami yang bertautan, bukan hanya sekedar genggaman biasa.

Aku hanya menunduk saat tiba di backstage, menunggu giliranku tampil di atas catwalk, stylist sudah membantuku memakai pakaian yang harus kuperagakan. Seung Yoon sudah keluar lebih dulu, giliranku masih cukup lama. Aku tidak tahu ternyata ibu angkatku masih berada di dekatku. Dia melingkarkan sebelah lengannya di pundakku dan mengelus-elus lenganku dengan hangat. “Sung Kyung sayang, kebahagiaanmu adalah prioritasku.”

Aku menoleh dan melihat kedua mata cantik ibuku berkaca-kaca. Ia tersenyum lebar. “Jangan pernah takut kau akan menyakitiku atau siapapun, sayang. Kau tidak pernah menyakitiku. Justru selama ini tanpa sadar aku menyakitimu.”

“Eomma…., bagaimana….”

Ibuku memelukku. “Karena aku ibumu. Aku tahu, sayang. Aku selalu tahu. Aku tidak mengatakan padamu bahwa sebenarnya aku sudah tahu selama ini, karena aku ingin tahu sesungguh-sungguh apa perasaan Seung Yoon padamu. Aku mempercayaimu, tapi aku tidak mempercayainya meskipun dia adik kandungku sendiri.”

“Eomma….” Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya.

“Sssshhhh,,,, jangan menangis, sayang. Kau akan menghancurkan make up-mu.” Ibuku mengelus-elus punggungku. Aku memeluknya dengan erat. Air mataku bercucuran. Aku tidak peduli bila nanti wajahku sembab dan jelek, yang kupedulikan adalah betapa beruntungnya aku memiliki ibu sebaik wanita ini.

“Aigoo~~ make up mu jadi berantakan.” Ibuku mengusap air mata di pipiku, tersenyum lebar, dan dengan terampil merapikan riasan wajahku. “Oh ya, barusan Hayi mengirim pesan padaku, katanya hari ini dia ada kencan dengan Hanbin. Aku hanya memberinya izin sampai jam 8 malam, lewat jam 8 malam…..Hanbin harus melapor padaku dan siap-siap menerima segunung pertanyaan dariku.”

Aku terkekeh pelan. Dadaku terasa ringan dan hangat. Mungkin memang bukan sekarang, tapi perlahan-lahan…..semuanya akan terjadi sebagaimana mestinya, sebagaimana takdir berbicara. Semuanya belum berakhir. Kita semua sedang berjalan selangkah demi selangkah melalui jalan hidup yang telah digariskan untuk kita. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

==== The End ===

Author’s Note :

Gimana ceritanya? Hehehe. Nge-gantung? Iya. Jadi terserah pembaca mau mikir akhirnya gimana. ^^.

Btw, gw kangen banget nulis FF di blog ini. >_<.

Entahlah nasib FF gw yg lain gimana, tapi HF sih lagi dilanjutin sama Kunang. ^^. *Itu juga kalau masih ada diantara kalian yang nungguin* hehehe.

Oh ya, ini ada fanmade / fanvid FF ini :

Thanks for reading and commenting. ^^

  • Azumi Aozora –

Kang Seung Yoon :

upload seungyoon 1 upload seungyoon 2

Kim Han Bin :

upload hanbin 1 upload hanbin 2

Lee Sung Kyung :

upload sungkyung 1 upload sungkyung 2

Lee Hayi / Lee Hi :

upload leehi 1 upload leehi 2

Seung Yoon + Sung Kyung :

sungkyungyoon1 sungkyungyoon2 upload yoonkyung 1 upload yoonkyung 2

upload yoonkyung 3 upload yoonkyung 4 upload yoonkyung 5 upload yoonkyung 6

12 thoughts on “[oneshot] It’s Not Over

  1. Eonniiiiiii !!!!! Aku kangeeeeen !!!! Huaa akhirnya ada ff lagi~

    Seperti biasa, jjang.. feelnya dapet, dan minim typo. Nggak ada malah.
    Aku bener-bener berharap sungkyung-seungyoon sama leehi-hanbin dua duanya happy ending. Mereka udah terlalu banyak bersedih soalnya *eaa cheesy
    Tapi eomma angkatnya sungkyung emang baik baik baik baikk banget.. ada nggak ya orang kayak gitu di dunia nyata?

    Eonni tau nggak? Aku sampe sekarang masih jadi penunggu(?) Setia powerless sama HF.. pake bangett.. kangen baca tulisan tulisannya eonni aslian~ ㅠㅠ
    Aku udah takut banget HF udah lanjut tapi aku nggak tau.. tapi untung ternyata masih lanjut~ hehei~ aku seneng \^^/
    Pokoknya~ aku selalu jadi penunggu ffnya kunang eonni sama azumi eonni~

    Mian kalo kepanjangan atau kurang panjang~hehe^^

    • Chikaaaaa….aku jg kangen baca comment2 kamu. Hehehe….
      Huwaaaa….penunggu setia? Asyik2…
      Tp kayaknya udh banyak yg lupa gara2 kelamaan deh. T_T…
      Gomawooooo Chikaaaaaa udh selalu baca ff2 aku…ff kunang jg…>_<………*hugs*kiss

      • Iyaaa aku nunggu terus.. berharap first comment *eaaa
        Aku masih inget kok.. aku fansnya (?) Ff eonni soalnya..
        No need to thank me eonni.. ffnya emang bener keren kok jjang (y)
        *hug you back

  2. Hai author, ini pertama kali baca ffmu, dan ternyata langsung ngena bngt gitu di hati.
    Awalnya cmn nyari FF HanHayi, trus nemu ini, ada Lee sungkyung jadi ku baca, dan jujur aku suka, ampe nangis terharu bacanya, ttp berkarya author hebat, aku tunggu ff ttg Give Heart, soalnya ada HanHayi hehe 😘😜🌹🎉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s