Hidden Fates (Chapter 7)

Hidden Fates

Author             : Kunang & Azumi

Chapter           : 7 (Confusion)

Main Cast        : Kim Jun Hyo (OC), Cho Min Hyun (OC), Kim Jun Myeon/Suho (EXO-K), Jang Hyunseung (Beast), Park Chan Yeol (EXO-K), Choi Min Ho (SHINee)

Support Cast    :  Cho Kyu Hyun (Suju), Xiumin (EXO-M)

Length             :  Multichapter

Genre              : Family, romance, drama, friendship, supernatural, AU

Rating              : PG-15

Disclaimer       : Kim Jun Hyo milik Kunang dan Cho Min Hyun milik Azumi, sedangkan Suho, Hyunseung, Chanyeol dan Minho milik mereka sendiri. Cerita ini murni milik dari weird- happy- chicken maniac– Kunang and cool-stubborn-lovely Azumi Aozora, plagiat jauh-jauh sebelum dikirim Kris ke Galaxy terus digebukkin alien disono,

Summary         : There is a past, and There is a future. Everybody couldn’t avoid both of them. How if there were persons who can tell your past and future? Wanna take a look? This is the story about Jun Hyo – a *Psychometry ice princess yet beautiful rich heiress who hates losing– and Min Hyuna *Precognitive clumsy girl yet lovely rookie doctor who loves green tea– .. When they see the things that shouldn’t be seen, the hidden fates are revealed.

HiddenFates_violetkecil

7th  Fate Revealed by Kunang (Takdir Ketujuh dibuka oleh Kunang)

===||.: Kim Jun Hyo PoV :.||===

@Sekang Hospital, VIP’s room

 

Di alam bawah sadarku, aku bisa melihat sosok seorang gadis berambut lurus yang sedang memainkan gitarnya. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya, karena gambaran yang kudapat hanya sebagian wajahnya, tapi aku tahu senyum itu terasa tak asing bagiku dan rambut panjang itu pun kurasa pernah kulihat sebelumnya. Perlahan namun pasti, sebuah melodi indah tercipta bersamaan dengan suara merdu yang keluar dari pita suara gadis ini.

Suara ini….

Lagu ini ….

Hime? Apa aku bermimpi? Apa aku benar-benar bertemu Hime, penyanyi idolaku?

 “JUNHYOOOOO!!!!!! KIM JUNHYO!! BERTAHANLAH!!”

Minhyun?

DEG

“Kau….”alih alih melihat Minhyun, samar-samar aku melihat sosok namja berpakaian jas putih sedang berdiri di sampingku. Tangannya yang hangat perlahan menyapu pipiku dan mengkaitkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajahku. Sesaat aku pikir namja tersebut adalah Suho oppa, tapi sedetik kemudian aku tahu jika dia bukanlah oppaku, karena selintas aku bisa melihat masa lalunya. Masa lalu yang terlihat bahagia ketika Minho oppa yang masih kanak-kanak bermain dengan ibunya.

“Hyo? Kau sudah sadar?”

Memori Minho oppa tiba-tiba terputus dan aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku sekarang, berusaha membiasakannya dari cahaya menyilaukan yang menerpaku. Badanku rasanya sakit dan pegal semua, dan dahi ku refleks mengerenyit ketika menyadari kepalaku terasa sangat pusing. Dan kemudian, aku langsung teringat kejadian terakhir saat Seungyoon hampir saja menusuk Minhyun.

“Minhyun…. Minhyun? Apa dia baik-baik saja?”

“Hyo gwenchana?” sebuah tangan besar menggenggam telapak tanganku, membuatku menatap heran ke arah namja berwajah tampan dengan bola mata besar yang balik menatapku dengan cemas.

“Minho oppa? Apa kau—“

“Kalau kau khawatir mengenai Cho Min Hyun, dia baik-baik saja, dia hanya luka kecil karena berkelahi dengan mantanmu yang gila itu.” kata Minho oppa terdengar agak kesal sambil menguatkan genggamannya, dan saat itu juga aku terseret lagi ke dalam memori masa lalu namja di hadapanku.

Flashback

Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Choi Minho yang lebih muda beberapa tahun sedang berdiri dengan sebuah sertifikat dan medali yang terkalung di lehernya. Wajahnya yang terlihat bahagia kontras sekali berbeda dengan wajah suram seorang pria paruh baya yang sedang duduk di meja kerjanya. Seluruh perhatian pria tua itu tampak masih lebih terpusat pada notebook di mejanya. Entah mengapa aku merasa tidak menyukai pria itu, pria yang sudah sering aku temui dalam berbagai pesta dan pertemuan penting kalangan jetset. Pria tua itu tak lain adalah tuan Choi, ayah dari Choi Minho sekaligus pemilik Sekang group.

“Katakan, apa maumu datang kemari? Aku masih banyak pekerjaan.” kata pria paruh baya itu dingin.

“Sajangnim, maksudku abeoji, hari ini aku berhasil menjadi lulusan terbaik di sekolah sekaligus MVP di pertandingan basket tingkat nasional!” kata Minho dengan bersemangat, aku bisa melihat matanya yang bulat  berbinar-binar karena senang.

“Lalu?” Pria itu akhirnya menatap Minho, mulutnya membentuk senyuman asimetris. “Kedua kakakmu sudah pernah mendapatkan titel tersebut, hanya menjadi lulusan terbaik di sekolah dan MVP adalah sesuatu yang terlalu wajar bagi anak keluarga Choi untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dariku Minho ya.”

“Tapi ….”Minho tak melanjutkan kata-katanya, ia hanya menunduk dan seketika itu juga sinar dimatanya meredup.

“Pergilah, aku tak ada waktu bermain-main dengan anak kecil sepertimu. Jika kau ingin pengakuan dariku, kau harus berusaha jauh lebih keras, kau harus menjadi yang terbaik diantara yang terbaik.”

Flashback End

 

“Jun Hyo? Ya! Kim Junhyo! kenapa kau melihat ku seperti itu?”

“Ah anni…” aku langsung menepis tangan Minho yang menggenggam tanganku. Apakah itu alasan kenapa dia sering bersikap begitu ambisius? Untuk membuktikan pada ayahnya jika dia bisa menjadi yang terbaik? Aku menggelengkan kepala, terlalu pusing untuk memikirkan masalah Minho sekarang. Dan aku yakin dia tidak akan suka jika tahu aku mengetahui bagian dirinya yang kelam.

“Hyo, kepalamu pusing?”

“Anni..” elakku, berbohong. “Oppa… eh maksudku Minho ssi, apa yang kau lakukan disini?”

“Panggil aku oppa, kita sudah saling mengenal lebih dari tiga tahun dan lagi pula kau lebih muda dariku.” kata Minho cuek sambil memeriksa botol infusku yang tinggal seperempat lagi. “Kau tidak usah berpikiran aneh karena aku sudah mendapat ijin Suho hyung untuk menjagamu dan lagi ini rumah sakit keluargaku, aku berhak disini.” tambah Minho lagi, seolah aku akan mengusirnya.

“Tapi kenapa?” aku mengerutkan kening. Bukan hanya sekali ini saja Minho menungguiku yang sedang sakit. Dan lagi, bukan seperti Suho oppa saja mengijinkan orang lain selain member Princess Hyo’s club untuk berada di sekitarku.

“Apanya yang kenapa?”

“Kenapa kau baik padaku? Apa kau…” aku membiarkan kata-kata ku menggantung hingga akhirnya perhatian Minho kembali padaku.

“Apa yang ingin kau katakan Kim Jun Hyo?”

“Apa kau sebenarnya menyukaiku? Atau tidak?” tanyaku mengalir begitu saja. Aku juga tak tahu apa yang salah dengan diriku hingga berani menanyakan hal itu pada pria di depanku. Tapi yang jelas sekarang Minho terlihat agak terkejut dan menatapku dengan wajah pucat seolah rahasia paling dalam darinya telah terbongkar.

“Aku pasti bodoh jika menyukai gadis sepertimu.” kata Minho pada akhirnya, raut wajahnya kembali pada sosok sombong dan cool Choi Min Ho yang biasa dia tunjukkan. “Sudah, sebaiknya kau berisitirahat, sekarang masih tengah malam, aku akan menghubungi oppa mu untuk memberitahunya jika kau sudah sadar”

“Kenapa bukan Suho oppa yang menungguiku?”

“Ckckck… diluar dugaan kau cerewet sekali Kim Jun Hyo! Oppa mu sudah menungguimu selama tiga hari nonstop, dan aku tidak mungkin menolak ketika dia memintaku untuk gantian menjagamu kan? Dia sudah banyak membantuku.” jelas Minho panjang lebar dengan nada ketus. “Dan setelah empat hari, kau baru sadar!”

“Ahh…oke oke, tapi aku baru saja bangun dan tidak mengantuk.” kataku sambil berusaha mengangkat kepalaku dan mengambil posisi duduk, tapi dengan sigap Minho menekan sebuah tombol yang membuat kasur yang kutiduri otomatis agak menekuk dan membentuk sandaran.

“Apa lagi?”

“Galak sekali, kalau kau seperti itu, pasienmu akan kabur.” candaku, Minho oppa terlihat kebingungan dengan sikapku. Mungkin dia terbiasa dengan diriku yang akan membalas setiap ucapannya dengan sinis.

Aku tersenyum menatap Minho, rasanya aku sedikit mengerti perasaanya sebagai anak yang ingin diakui oleh ayahnya. Tak sengaja mataku menangkap beberapa buah rubik berbeda ukuran dan bentuk di samping meja tempat tidurku. Mungkin Suho oppa meninggalkan rubik-rubik itu disana karena tahu aku sering memainkannya jika sedang bosan.

“Minho oppa, mau menemaniku main rubik?”

===\\\===

Beberapa hari kemudian

 

Park Chanyeol sama sekali tidak menengokku di rumah sakit!  Aku tak tahu mengapa, tapi karena hal itu aku menjadi uring-uringan. Suho oppa bilang jika Chanyeol akhir-akhir ini sibuk dengan urusan keluarga dan kuliah yang membuatnya tak bisa menengokku. Tapi aku tahu kenyataannya walau aku tak bisa membaca masa lalu kakakku sendiri, aku tahu setelah berhasil mendesak Minseok oppa yang akhirnya bercerita jika Suho oppa masih belum memaafkan Chanyeol karena tidak berhasil menjagaku dari Kang Seungyoon.

“Padahal bukan salahnya jika waktu itu aku diculik.” kataku pada Minseok oppa sambil membereskan baju-bajuku sesaat sebelum meninggalkan rumah sakit. Untuk barang barang pribadiku, aku memang lebih suka membereskan sendiri dibanding menyuruh pelayanku. Sedangkan Minseok oppa disini untuk menjemputku pulang ke rumah karena Suho oppa berhalangan.

“Yang jelas, kali ini Suho oppa terlalu berlebihan!”

Minseok oppa tersenyum penuh arti ke arahku “Aku sependapat, lagi pula Chanyeol sudah berusaha menyelamatkan nyawamu.”

Kata-kata Minseok oppa berhasil membuatku terpana sejenak, seingatku yang menolongku saat diculik oleh Seungyoon hanyalah Minhyun. “Apa maksudmu oppa?”

“Memangnya kau tak tahu Hyo~ya? Chanyeol lah yang telah memberimu transfusi darah  saat operasi hingga kau bisa selamat setelah pendarahan hebat.” kata Minseok oppa sambil mengeluarkan smartphone nya dan memainkannya. “Waktu itu gawat sekali, kebetulan persediaan golongan darah A habis tapi untung saja Chanyeol bergolongan darah sama denganmu.”

Golongan darah A?

Aku menggelengkan kepala, berpikir mungkin saja aku salah dengar. Setahuku golongan darahku itu B sama dengan Suho dan kedua orang tuaku.

“Oppa…memangnya golongan darah Chanyeol apa? Kau bilang tadi golongan darahnya sama denganku.” tanyaku memastikan, entah mengapa aku ragu dan tak ingin mendengar jawaban Minseok oppa.

Minseok oppa tersenyum innocent, “Golongan darah kalian A, Chanyeol sendiri yang bilang padaku, memangnya ada apa Hyo?”

Aku menggigit bibirku sendiri tanpa sadar, dan kemudian memalingkan muka untuk menghindari tatapan Minseok oppa.

“Anni… tidak.. tidak ada apa-apa.”

====///=====

@Kediaman Keluarga Kim

 

Setelah pulang, aku sama sekali tidak bisa beristirahat apalagi tidur setelah mendengar kata-kata Minseok oppa. Seingatku dari pelajaran biologi saat Senior High, rasanya tidak mungkin jika ada anak bergolongan darah A yang dilahirkan dari kedua orang tua bergolongan darah B.  Atau memang ada kemungkinan lain? Apa aku harus bertanya pada Suho oppa? Tapi aku tahu, sejak dulu Suho oppa seperti menyembunyikan sesuatu dariku mengenai ibu kami, Lee Hyori.

“Aishh…” aku menggelengkan kepalaku yang terasa berat. Aku benci memikirkan ibuku yang tak pernah mempedulikanku itu. Dia jauh lebih menyayangi Suho oppa dan selalu melihatku dengan tatapan takut sejak menyadari aku bisa melihat masa lalunya hanya dengan menyentuhnya.

Oh ya, Choi Minho!

Dengan segera aku menyambar hand pone ku dan membuka aplikasi Line messanger. Yang kepikiran di otakku sekarang dan bisa membantuku adalah Choi Minho, dia jurusan kedokteran jadi pasti lebih tahu dibanding diriku kan? Seandainya saja aku memiliki nomor Minhyun, mungkin aku lebih memilih bertanya pada Minhyun.

 

Aku                 : Minho oppa, kau sedang apa?

 

Pesan terkirim, dan beberapa saat terdapat tanda bahwa pesanku sudah terbaca. Dan menyebalkannya setelah hampir sepuluh menit berlalu tak ada balasan, hingga ketika aku memutuskan untuk tidur sebentar, suara notifikasi line membuatku terjaga.

 

Minho_Choi   : Kau memanggilku ‘oppa’?  apa kepalamu terbentur? ckk… sudah jangan berbasa basi, apa maumu?

 

“Dasar namja curigaan!” decakku agak kesal, aku merebahkan tubuhku di atas kasur dan kembali mengetik.

Aku                 : Aku hanya ingin bertanya sesuatu, tapi mood ku hilang seketika L

Minho_choi    : Apa? Kau mau bertanya lagi jika aku menyukaimu atau tidak? Kau mau menambah daftar panjang yeoja yang kutolak?

 

“Aigoo… memangnya dia pikir dia siapa heoh? Percaya diri sekali!” aku menggelengkan kepala, merasa sebal sendiri. Mungkin sebaiknya sedari awal aku tidak berusaha mengakrabkan diri dengan pria ambisius dan overconfident seperti Choi Min ho. Aku pikir kami bisa sedikit lebih akrab sejak dia sering menengokku di rumah sakit, walau alasannya selain diminta Suho oppa adalah untuk studi kasus dalam salah satu tugas kuliahnya.

 

Tring …

 

Minho_choi    :Baiklah, tadi aku hanya bercanda. Apa yang ingin kau tanyakan?

Aku hanya diam sesaat membaca message line dari Minho, hingga tak lama terdengar bunyi notifikasi lagi.

Minho_choi    : Hyo? Berani sekali kau mengabaikanku!  Aku sudah baik-baik membalas line mu, dan sekarang kau hanya membaca line ku dan tak membalasnya?

Triing …

Minho_choi    : Kim Jun Hyo! Jika dalam semenit ini kau tak membalas line ku, kau tak akan selamat saat  masuk kuliah!

 

Sesaat aku melupakan rasa penasaranku terhadap golongan darahku sendiri. Aku tak pernah mengira seorang Choi Minho bisa menjadi seolah bukan dirinya sekarang. Terkadang dia bisa menjadi begitu baik padaku, tapi terkadang dia begitu mengesalkan seperti sekarang. Tiba-tiba sebuah pikiran jahil terlintas di benakku. Aku akan mengetes sejauh mana seorang Choi Minho sudah menganggapku sebagai teman.

Hyo’s Loyality Test begin!

 

Aku     : Oppa… tolong aku, aku jatuh…. Di rumah tak ada siapapun… perutku berdarah dan sakit sekali, kurasa jahitannya terbuka

Send

 

Sebentar, apa aku terlalu berlebihan?

Aku melempar hp ku ke kasur dan bangun. Anni, Minho oppa terlalu pintar untuk tertipu dengan kata-kataku tadi. Mungkin saat ini dia sedang menertawakanku dan mengirimkan sticker-sticker yang menyindirku.

“HYOO??!! KAU DIMANA??”

“Suho oppa?” aku tersentak saat mendengar suara Suho oppa dari bawah. Sudah cukup lama Suho oppa tidak mampir ke rumah, dan tanpa pikir panjang aku langsung keluar kamar serta bergegas menuruni tangga untuk menemui kakak kesayanganku itu.

“Princess Hyo.”

“Cha… Chanyeol?” Entah mengapa aku malah tertegun saat mendapati seorang namja jangkung berwajah mungil balik menatapku. Bibirnya terlihat bergetar, seolah ingin mengungkapkan sesuatu namun sulit. Suho oppa yang berdiri di sampingnya mengangguk ke arahku yang masih membeku. Padahal baru seminggu kami tidak bertemu, tapi rasanya sudah lama aku tak melihat wajah cute nya itu.

“Mian.. karena aku tak bisa menjagamu ….”

Aku menggeleng dan tanpa aku sadari, aku telah berlari dan memeluk Chanyeol sekilas. Cukup singkat hingga aku hanya bisa mengintip sedikit masa lalunya, Chanyeol kecil yang sedang bermain dengan kakak perempuannya. Aku mengerjapkan mata, menyadari perbedaan saat aku menyentuh Chanyeol dan  orang lain. Aku selalu bisa melihat masa lalu orang lain dengan cukup jelas, tapi untuk Chanyeol, masa lalu nya yang kulihat hanya berupa potongan-potongan singkat yang tak terlalu kumengerti.

“Hyo, kau baik-baik saja?”

“Ah.. nee…” aku menatap Chanyeol dan kemudian Suho oppa “Gomawo Suho oppa, aku kira kau benar-benar marah pada fanboy sekaligus penyelamatku.”

“Suho hyung benar-benar marah Hyo ya!” kata Chanyeol  sebelum Suho oppa sempat menjawab, entah sejak kapan dia telah berdiri di sampingku. “Beberapa hari ini dia sama sekali tidak tersenyum padaku apalagi berbicara padaku,  dia benar-benar mengabaikanku, aku pikir dia tak akan pernah memaafkan ku!”

“Hyo, kalau saja kau tahu apa yang Chanyeol lakukan agar aku memaafkannya ahahhaha kau pasti tak akan percaya!”

“Memang apa yang Chanyeol lakukan?”

“Hyung! Kau berjanji tak akan membocorkannya pada Hyo!” rajuk Chanyeol sambil mem-pout-kan pipinya, lucu sekali, sedang Suho oppa malah tertawa.

“Apa sihh? Kalian membuatku penasaran!!”

“Sudah… kau tak perlu tahu.” Suho oppa mengedip dan kemudian merangkul  pundak kami berdua dengan kedua tangannya. “Bagaimana jika untuk merayakan kepulangan Hyo dari rumah sakit, kita makan di luar?”

“Waduhh.. aku harus ganti baju dulu oppa!” aku menatap diriku yang hanya memakai kaos dan jeans ¾.

“Tidak perlu, kau sudah cantik Hyo.” kata Suho oppa dengan cueknya.

“Hyung, bagaimana jika kita mengajak Minhyun juga? Hehe.”

Minhyun? Aku langsung menunduk saat Chanyeol mengucapkan nama itu. Aku tahu jika Chanyeol sering bertemu dengan Minhyun karena noonanya Chanyeol begitu terobsesi pada evil Kyuhyun yang tak lain adalah kakak laki-laki Minhyun. Tapi sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar itu, mereka terlihat sangat akrab.

Apa mungkin, Chanyeol dan Minhyun …

“Minhyun tak bisa datang karena ada jadwal kuliah.” kata-kata Suho oppa membuatku kembali menengadah.

“Oppa… kau tahu jadwal Minhyun ssi?” aku menatapnya tajam

“Ahahhahahha kau ini bicara apa sih Hyo, Minhyun kan orang yang menolongmu, jadi tadinya aku mau mengajaknya juga. Yaa!! Kim Jun Hyo tunggu!” tambah kakakku, saat aku menepis rangkulannya dan berjalan duluan ke teras.

Oke .. jadi sudah jelas, Chanyeol dan Suho oppa sama saja, mereka jelas-jelas menyukai Cho Minhyun. Lalu untuk apa mereka kemari? Harusnya mereka menunggu Cho MInhyun saja beres kuliah dan kemudian makan-makan bersama dia.

 

Sungguh menyebalkan!

 

BRAKKK *suara pintu utama aku buka/banting/*

 

“Hyung, Hyo kenapa?”

“Ntahlah… mungkin mood nya sedang buruk.” jawab Suho oppa, terdengar jelas di belakangku.

 

Aku menutup telingaku dengan kesal karena dua makhluk di belakangku, tapi sedetik kemudian mulutku perlahan terbuka karena terkejut melihat seorang pria kurus berambut hitam dengan keringat dingin di dahinya sedang berlari ke arahku. Kaki panjangnya berhenti melangkah begitu kedua mata kami bertatapan.

“Minho ya?” tanya Suho oppa dengan nada heran. Wajar saja jika  Suho oppa bertanya seperti itu karena wajah Minho oppa sekarang begitu pucat seperti habis dikejar setan.

“Minho oppa? Apa yang kau lakukan disini?”

“Perutmu?” Pandangan Minho oppa beralih pada tubuhku yang dibalut kaos putih “Kau baik-baik saja?”

“Aku… aku baik-baik saja, tapi——“

“APANYA YANG BAIK-BAIK SAJA HEOH? AKU PIKIR KAU PINGSAN DAN–” sentak Minho oppa tiba-tiba, membuatku mundur karena kaget. Aku tak mengira dia akan semarah ini. Tak lama kemudian, aku mendengar suara ambulance yang sepertinya berhenti tepat di depan rumahku! Ya Tuhan, apa Minho oppa benar-benar menanggapi serius message line ku tadi dan memanggil ambulance?

“Oppa.. mian, aku—“

ZRUKK

Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, Minho oppa sudah menarikku dalam pelukannya. Awalnya aku ingin berontak, tapi gelengan kepala namja itu seolah mengisyaratkanku agar memberinya waktu untuk memelukku. Dengan jelas, aku bisa ‘melihat’ kembali sekitar kurang dari 20 menit lalu saat Minho oppa mendapat pesan dari line ku. Dia yang sedang berada di sebuah seminar begitu terkejut saat membaca line dariku dan terus mencoba menelepon dan mengirimiku message, hingga lima menit kemudian ia pergi  begitu saja meninggalkan seminarnya untuk memanggil ambulance lalu secepatnya, seperti orang kesetanan, datang ke rumahku.

“LEPASKAN HYO!” sebuah tangan mendorong bahu Minho cukup keras hingga dengan mudah melepaskan pelukan kami. Tangan panjangnya menarikku agar berada tepat di belakang tubuh jangkungnya. Entah mengapa aku tak berani melihat wajah Chanyeol yang sepertinya sedang kesal sekarang.

Chanyeol.. aku hampir lupa jika Chanyeol ada disini!

“Minho ya, sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau yang memanggil ambulance?” Tanya Suho oppa, kali ini sambil menarikku tepat di sisinya. Matanya tidak terlihat lembut seperti biasa, bola mata hitam itu terlihat awas.

“Sebenarnya….aku yang salah oppa.”

“Mwo?”

“Ceritanya panjang.” kataku yang benar-benar bingung sekarang, karena aura tak bersahabat yang dipancarkan Minho dan Chanyeol. Dan kemudian aku teringat alasan pertamaku mengirim pesan pada Minho oppa, bukankah aku ingin menyelidiki sesuatu?!

“Hyo—“

“Oppa, Chanyeol-ah mian, aku akan menjelaskan pada kalian nanti, tapi sepertinya aku tak bisa ikut kalian.  Ada hal yang harus kuselesaikan dengan Minho oppa”

 

==//==

@Italian Restaurant, Itaewon

 

“Jadi… tidak mungkin orang tua yang memiliki golongan darah B melahirkan anak bergolongan darah A?”

Aku menatap mata Minho oppa dalam-dalam, berusaha mencari kebenaran. Tadi Minho oppa telah menjelaskan jika orang yang bergolongan darah B kemungkinannya adalah mempunyai gen B saja atau mempunyai gen B dan O, dengan kata lain, orang tua golongan darah B dan B hanya akan mempunyai anak bergolongan darah B atau O.

“99,99 % mustahil, aku tak akan mengatakan 100% mustahil karena mungkin di masa depan atau saja bukan mustahil terjadi kasus seperti itu.” jelas Minho oppa, membuatku kembali menunduk seraya melepas nafas panjang. Anni.. tidak mungkin, mungkin saja mereka salah mengenali golongan darahku.

“Ahh..” gumamku sambil memutar spaghetti di depanku dengan tak berselera. Aku benar-benar bingung sekarang, bagaimana jika aku bukanlah anak abeoji dan Hyori eommonim? Bagaimana jika aku bukanlah adik Suho oppa?

“Ada masalah?” tanya Minho oppa sebelum menyesal cappucino nya. Seharusnya aku memesan vanilla latte saja, sebab aku hampir tak bisa menelan spaghetti di depanku.

“Anni… hanya… seorang temanku merasa aneh karena golongan darahnya berbeda dengan orangtuanya”

“…..”

Minho oppa tak bereaksi apapun, dia bahkan sama sekali tidak menyinggung lagi message line ku yang membuatnya kabur dari seminarnya dan membuat  ambulance dari rumah sakitnya datang sia-sia ke rumahku.

“Tapi mungkin saja seharusnya temanku itu bahagia, tidak menjadi dirinya sekarang, seorang heiress mungkin lebih baik untuknya, ya… dia hanya ingin bahagia, dikelilingi keluarga dan orang-orang yang menyayanginya, seperti itu….”

“Hyo..” panggilan Minho oppa membuatku menengadah untuk menatapnya, namja di depanku itu balik menatapku serius seolah tatapannya bisa menembus ke dalam diriku “Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?”

“Eh?”

Minho oppa tersenyum lembut untuk pertama kalinya padaku. “Kau bisa mengatakan semuanya padaku Hyo ya, dan lagi bukankah kau tahu ‘rahasia’ ku?”

 

====///====

Beberapa hari kemudian

@Elite Seven Oceans  (ESO) Company

 

“Hyo, akhir-akhir ini kau terlalu banyak bersantai. Kau tahu kan jika sebentar lagi pembukaan ESO Mall & Hotel di wilayah Hongdae, kau tidak bisa bersantai dan main terus hanya karena kau baru keluar dari Rumah Sakit.”

“Arraseo, mulai besok aku akan mulai bekerja kembali” jawabku sekenanya, dengan agak malas aku menyerahkan setumpuk dokumen dan sebuah kotak cukup besar di meja ayahku. “Ini barang-barang yang sudah ‘kuperiksa’, tampaknya tidak semua sesuai keinginanmu, tidak semuanya businessman mencapai keberhasilan dengan cara licik sepertimu, sajangnim.”

“HYO JAGA MULUTMU!”

“Nee…” balasku setengah hati, tapi aku pastikan aku sama sekali tidak gentar dengan laser glared  yang dilemparkan abeoji padaku.

“Ckkk.. dasar anak keras kepala! Pulanglah ke rumah, dan dinginkan kepalamu untuk hari ini!”

Aku membungkuk sedikit kemudian keluar dari ruangan ayahku yang atmosfernya tak pernah kusukai. Banyak orang di ESO company ini yang membandingkanku dengan ayahku. Mereka menilai jika kami sama-sama keras kepala dan memiliki tekad kuat untuk mencapai suatu tujuan. Dan prestasi yang pernah ayah capai, selalu aku berhasil capai juga karena jika tidak begitu aku tak akan pernah diakui disini.

Tapi aku sebenarnya lelah, aku ingin lepas dari semua ini dan memulai bisnis lain dari awal. Bisnis yang hanya milik seorang Kim Junhyo, tanpa campur tangan dari siapapun. Aku ingin membuka bisnis restaurant yang unik dan satu-satunya di Seoul bahkan Korea Selatan ini.

“Oppa? Apa yang kau lakukan disini?” aku benar-benar tak menduga Suho oppa sudah menunggu di Lobi kantor pusat ESO company, dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku.

“Memangnya tidak boleh menjemput adik kesayanganku disini?” Suho oppa tersenyum dan kemudian merangkulku yang balas memeluknya dengan manja. Karena selama ini yang aku tahu, hanya Suho oppa lah selain ayahku yang bisa kusentuh tanpa harus melihat bayangan apapun, dan itu membuatku tenang. Aku tak peduli orang-orang melihatku, lagipula sebagian besar di kantor ini sudah tahu jika aku adalah adiknya Suho oppa.

“Abeoji akan membunuhmu kalau dia tahu kau kesini!”

“Coba saja jika dia bisa, ahahhaha…”

Aku mengerucutkan bibirku dan menariknya keluar dari lobi kantor.

“Hyo, kemarin Jongdae bilang kalau Minho ikut masuk klub teater, benarkah?”

Aku menganguk dengan malas. “Aneh sekali kan oppa? Dia terlihat sama sekali tidak menaruh minat pada akting sebelumya, tapi tiba-tiba saja dia menjadi ambisius sekali.”

“Mungkin dia naksir padamu, jadi dia sengaja masuk klub teater.” kata Suho oppa dengan nada bercanda, aku langsung menggelengkan kepala.

“Anni.. jelas sekali dia tidak menyukaiku.” aku menaikkan bahu saat teringat tatapan meremehkan Minho oppa saat melihat aku kesulitan menghafal dialog yang panjang. “Sudah, aku tak mau membicarakan namja itu lagi, jadi apa rencana oppa? kau pasti menyiapkan sesuatu kan?”

Suho oppa tersenyum lebar dan mencubit pipiku. “Kadang kukira kau bisa membaca masa laluku juga, ahahha. Aku, Chanyeol dan Minhyun akan masak dan makan malam bersama di apartment Chanyeol, kau harus ikut oke! Malam ini final piala dunia!”

Ahh… yahh… tentu saja sepak bola….

 

====|||====

 

@Apartment Suho

Beberapa jam kemudian

 

 

“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?”

“Mungkin untuk minta makan?” makhluk ajaib yang sekarang berdiri di depanku malah balik bertanya. Rambut pirangnya ditata aneh dan dibelah tengah membuatnya terkesan bodoh di mataku. Apa benar namja aneh di depanku adalah sepupuku sendiri? Tak bisa kupercaya.

“PULANG KAU!” aku hendak menutup pintu, tapi terlambat karena makhluk bernama Jang Hyunseung ini sudah berhasil menahan pintu dengan sepatu ketsnya.

“Ayolah Hyo! Masa kau tak membiarkanku ikut merayakan pesta kepulanganmu dari Rumah sakit? Begini – begini aku juga telah menyelamatkanmu! Jika aku tak ada, tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan dilakukan Kang Seungyoon padamu dan Minhyun!”

Aku mendelik tajam ke arah Hyunseung, dan akhirnya mengangguk. Bagaimanapun dia benar, tapi tetap saja aku merasa ada motif lain yang membuat Hyunseung datang kemari. Dan sepertinya itu berhubungan dengan Minhyun, si bodoh ini pasti menyukai gadis itu. Jelas sekali dari kelakukannya di kampus yang sering mengikuti Cho Minhyun kemana-mana setiap ada kesempatan.

“GOMAWOOO PRINCESS HYO!!!” dan seperti orang gila, Hyunseung langsung memeluk dan mencium pipiku. Menjijikan!

“YAAA!! LEPASKAN AKU ATAU—-“

DUAKKK

“HYUNSEUNG!” aku membelalakkan mata, terkejut mendapati Hyunseung sekarang sudah terduduk di depanku sambil memegang bibirnya yang berdarah. Tapi aku lebih tak mengira yang memukul Hyunseung adalah Chanyeol. Dia masih berdiri dalam diam, seolah terpaku di tempatnya. Tangan kanannya masih membentuk kepalan dan buku-buku jarinya terlihat memerah. Sementara seorang gadis yang sedang membawa kantong belanjaan, yang tak lain adalah Minhyun, mendekati Hyunseung untuk membantunya berdiri.

“Cih! Apa-apaan ini?! Kenapa kau memukulku? INGIN MENANTANGKU HEOH?” geram Hyunseung tak terima pada Chanyeol, untung saja Minhyun mencoba menahannya.

“Tenanglah Hyunseung oppa … ayo, lebih baik kau menenangkan dirimu dulu, kita minum kopi di kedai di ujung jalan sini ya!”

“TAPI DIA—“

“KAJJA!!!!” kata Minhyun lagi pada Hyunseung kali ini dengan nada tegas, dan sekilas Minhyun menatapku. “Hyo, kau dan Chanyeol bawalah belanjaan-belanjaan ini ke dalam, katakan pada Suho oppa jika aku akan keluar sebentar dengan Hyunseung oppa.”

“Ah.. nee…”

Aku pun mengambil belanjaan yang ditaruh Minhyun begitu saja, dan kemudan menatap Chanyeol yang masih menunduk, ekspresi menyesal jelas tersirat di wajah tampannya. Lengan kanannya yang membentuk kepalan, telah lunglai dan turun.

“Hyo, maaf, aku kira dia bukan sepupumu, aku…”

“Aku mengerti….”

Chanyeol kembali terdiam, dan aku pun melewatinya. “Ayo masuk, Suho oppa sedang mandi, jadi sebaiknya kita bereskan dulu belanjaan ini.”

“Hyo…”

Chanyeol tiba-tiba menarik pergelangan tanganku agar menghadapnya, kedua tanganya sekarang telah kuat mencengkeram bahuku. Dan aku sama sekali tak bisa menolak saat ia mendekatkan tubuhnya dan kemudian menyentuh tengkukku untuk mencium bibirku. Ciuman Chanyeo begitu manis dan lembut, membuat perutku merasa geli seolah beribu kupu-kupu berterbangan disana. Tapi hal itu hanya terjadi begitu singkat karena aku langsung mendorong tubuhnya dengan keras saat alam bawah sadarku masuk ke dalam memori masa lalu Chanyeol. Di memori itu ada sesosok wanita berumur 30 tahunan menatap Chanyeol kecil, entah mengapa aku tak tahan melihat wajah itu.

Dan ciuman tadi, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang salah

“Hyo?”

“Jangan mendekat!”aku mundur selangkah. “Akan kuanggap hal tadi tidak terjadi.”

“Tapi…”

“HYO, APAKAH CHANYEOL DAN MINHYUN SUDAH DATANG?”

“Itu Suho oppa!” aku langsung menepuk kedua pipiku, meyakinkan ekspresiku tetap cool seperti biasa,  dan tak lama kemudian Suho oppa muncul dengan rambutnya yang setengah kering

“Kenapa kalian diam disini?” tanya Suho oppa heran sambil menatapku dan Chanyeol, matanya menyapu lingkungan di sekitar kami. “Dimana Minhyun? Chanyeol-ah, bukankah dia berbelanja denganmu?”

“Ah… tadi—“

“Minyun sedang membeli kopi.” potongku cepat, dan kemudian bergegas membawa belanjaan masuk.

“Kalian bertengkar lagi?” tanya Suho oppa pada Chanyeol saat aku bergegas akan ke dapur, aku menggelengkan kepalaku untuk menahan keinginan diriku mendengar jawaban Chanyeol. Aku benar-benar tak mengerti diriku kali ini.

Perlahan aku memegang bibirku yang masih terasa hangat, dan menghembuskan nafas panjang. Park Chanyeol, apa dia benar-benar menyukaiku? Lalu… siapa sosok wanita di memori Chanyeol yang membuatku merasa ingin menangis?

======\\=====

 

Seminggu kemudian

 

Sudah beberapa hari ini aku kembali berkuliah dan dísela waktu luang juga kembali bekerja. Tapi kali ini aku punya kebiasaan baru. Awalnya saat bangun di rumah sakit, aku pikir jika aku hanya bermimpi bertemu dengan Hime, tapi setelah dipikirkan kembali, aku melihat sosok Hime setelah aku bersama Minhyun. Dan setelah itu, aku menjadi penasaran dan mencoba untuk menyentuh Minhyun agar bisa melihat masa lalunya. Jujur aku ingin menyelidikinya lebih awal, tapi aku belum mendapatkan kesempatan karena Mihyun terus dimonopoli oleh sepupuku dan oppa ku sendiri!

“Seharusnya sebentar lagi dia datang” gumamku sambil menatap jam. Berkali kali aku mengusap peluh di dahiku dengan sapu tangan. Aku tidak lagi mempedulikan image Kim Junhyo saat ini sehingga mengikat rambut panjangku dengan asal. Penantianku tidak sia-sia karena mobil yang kutahu milik Mihyun telah masuk dalam pelataran parkir, dengan gesit aku pun mengikutinya.

Tok tok tok

“Minhyun ssi?”

Aku mundur selangkah saat pintu mobil sedan di sampingku terbuka, dan mataku langsung terbelalak kaget saat menyadari yang keluar bukan Minhyun, melainkan Cho Kyuhyun!

“Nappeun namja!”

“Yaa stalker! Ah… aku lupa, selain stalker,  kau kan mantanku ketika SD.”

“Hyo?” Minhyun yang ternyata keluar dari sisi lainnya menatapku dan Kyuhyun oppa dengan bingung. Setelah berhasil menahan keinginanku untuk memukul si player ini, aku langsung bergegas menuju Minhyun.

“Kajja Minhyunnie…”

“Ah.. eh nee…”

“Kalian sekarang berteman? Daebak!” pertanyaan Kyuhyun oppa membuatku dan Minhyun berhenti melangkah, dan aku langsung menatap Kyuhyun oppa dengan sebal. Aku sudah mendengar kondisi Yoora eonni, kakaknya Chanyeol dari Baekhyun, dan itu membuatku makin sebal pada namja satu ini. “Nee.. di luar dugaan, Minhyun jauh lebih baik dibanding nappeun namja sepertimu.”

Kyuhyun oppa malah tertawa, tapi aku tak peduli dan menarik Minhyun menuju gedung kampus. Dan saat-saat itulah, aku mulai mendapat penglihatan yang kuinginkan. Lagu-lagu cover itu, pemilik nama Hime itu, pemilik akun youtube yang selalu kucek setiap hari, itu semua adalah Minhyun.

“Minhyunnie, tak terpikirkah untuk mengikuti sebuah audisi?”

“Eh?” Minhyun menepis pegangan tanganku dan tak sengaja menatap mataku, tapi hanya sesaat karena ia kembali menunduk.  “Hyo ssi, bagaimana kau tahu? apa kau…. Bisa membaca masa laluku?”

Sesaat hanya keheningan yang melanda kami. Suasana taman kampus yang cukup sepi benar-benar mendukung suasa awkward yang terbentuk di antara kami.

“Ahahhahahahhahah… “ aku pun akhirnya berusaha tertawa untuk menghilangkan kecanggungan, tapi sepertinya percuma karena tawaku terdengar dipaksakan. “Kau bilang apa Minhyunnie? Aku bisa membaca masa lalu? Lelucon yang lucu sekali!”

Minhyun menggelengkan kepala dengan frustasi. “Aku sudah tahu seminggu lalu mengenai ‘kejadian ini’, aku tahu kau tak akan percaya padaku semudah ini, tapi akhirnya kau akan percaya padaku Junhyo ya.”

Aku menatap Minhyun waspada “A..apa maksudmu Minhyunnie.. aku benar-benar  tak mengerti.”

“Aku bisa melihat masa depan.” kata Minhyun singkat, dan ia diam sejenak seolah berusaha membiarkan agar kata-kata itu menyerap sepenuhnya di otakku. “Dan kau bisa melihat masa lalu, kau bisa melihat masa lalu lebih jelas dari pada masa depan yang kulihat karena yang kau lihat adalah sesuatu yang pasti telah terjadi.”

“Bagaimana kau bisa …”

Minhyun menggeleng. “Itu tidak penting, Kim Junhyo, maukah kau membantuku?”

 

=======||======

 

“Rumah siapa ini?” Tanyaku saat sepulang kuliah Minhyun membawaku dengan mobilnya ke sebuah rumah sederhana dengan taman yang cukup luas di pinggiran Seoul. Tanpa melihatku Minhyun menyodorkan smartphone nya yang kuterima, dan di layarnya aku bisa melihat jelas rumah yang mirip dengan rumah di depanku namun tampak lebih baru.

“Aku ingin membantu temanku menemukan anak perempuan dan kedua anak kembarnya, dan itu adalah foto rumah temanku saat masih tinggal di Korea.” jelas Minhyun sambil membuka sabuk pengamannya, dan tanpa banyak bertanya aku pun mengikutinya dan keluar dari mobil.

“Kenapa kau meminta bantuanku?”

“Karena aku tahu kau tak suka berhutang budi.” kata Minhyun lagi, aku menengok dan melihat dirinya sekarang menengadah menatap langit. “Dan lagi, aku ingin menemukan anak-anak temanku itu, anni… aku telah menemukannya, kecuali anak kembar perempuan nya, Chan Hee.”

“C..chan hee?”

Minhyun mengangguk. Dan tiba-tiba saja kepalaku terasa sangat sakit bagai ditusuk beribu jarum. Ada suatu kesan yang mendalam mengenai nama yang baru saja disebutkan oleh Minhyun, seolah aku sering mendengar nama itu dan mencoba mengingatnya membuat kepalaku serasa ingin pecah. Karena tak tahan, aku menggenggam pintu mobil agar tidak kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Hyo! Junhyo ya! Gwenhana?”

“Anni… jangan mendekat! Aku.. aku baik-baik saja.” aku mengibaskan tangan Minhyun yang hendak merangkulku. Aku merasa akan lebih kelelahan jika harus melihat masa lalu Minhyun saat ini.

“Ah.. mian… seharusnya aku tak meminta bantuanmu, aku—”

“Aku akan melakukannya.” akhirnya aku pun berbalik dan tersenyum  setelah merasa kepalaku sudah tidak begitu sakit. “Hime chan, maksudku Minhyunnie, aku akan membantumu mencari Chanhee, tapi bisa kah kau memberitahuku beberapa informasi mengenai anak itu?”

“Sebenarnya…” Jawab Minhyun terdengar ragu. “Chanhee bukanlah anak kecil lagi, dia adalah gadis sebaya kita, dia adalah saudara kembar Park Chanyeol.”

“Mwo?” aku menatap Minhyun yang masih menunduk dengan bingung. “Park Chanyeol memiliki saudara kembar? Apa dia tahu?”

“Tolong jangan beritahu Chanyeol dulu, aku rasa belum saatnya ia tahu.” pinta Minhyun lagi. “Chanyeol yang sekarang mungkin tidak ingin mengingat mengenai ibu kandungnya, tapi … setidaknya aku ingin membantu Diva untuk mempertemukan Chanyeol dengan Chanhee.”

“Arraseo, aku akan membantumu Minhyunnie, tapi sebelumnya maukah kau menceritakan padaku  lebih jelas mengenai Diva?”

 

===||===

 

Kadang di dunia yang penuh persaingan ini, terutama di kalangan elit para pemilik perusahaan terbesar di dunia, berbagai cara bisa dilakukan untuk memenangkan dana investasi yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi tentunya suatu lembaga tidak ingin menyuplai dana begitu saja kepada perusahaan yang dirasa tidak bisa memberi mereka rasa aman dan kepuasan. Dan itulah yang sedang berusaha diberikan aliansi Sekang dan ESO’s grup yang baru terbentuk beberapa bulan ini. Aliansi ini sedang berjuang untuk mendapatkan tender sebuah tempat wisata yang sekaligus menawarkan pelayanan rumah sakit tingkat internasional di pulau Jeju.

“MWO? Aku bertunangan dengan Choi Minho?!”

“Sebenarnya aku lebih menyukai Choi Siwon.” kata abeoji dengan tenangnya, padahal sebelumnya aku telah menggebrak meja kerjanya. Entah dari mana kabar mengenai rencana pertunanganku dengan Choi MInho menyeruak hari ini, dan aku tahu pasti abeoji berada di balik semua ini.

“Abeoji tahu kan jika—-“

“Hanya satu bulan, hanya satu bulan setelah kita memenangkan tender ini dan kalian bebas akan meneruskan pertunangan kalian atau tidak.” potong abeoji. “Tentunya kau tahu kan? Perusahaan yang hendak berinvestasi kali ini meragukan aliansi yang terbentuk antara Sekang dan ESO’s grup, dan pertunangan kau dengan Minho akan menghilangkan keraguan tersebut.”

“Tapi aku..”

“Diam dan lihatlah ini!” abeoji sedikit menunduk untuk mengambil sesuatu yang ia simpan di bawah mejanya. Sebuah amplop berwarna cokelat. Ia membukanya dan melemparkannya ke arahku.

“Apa ini?” aku membukanya dan tersentak mendapati foto-fotoku bersama Minho di rumah sakit, di restaurant dan beberapa di kampus. “Ba.. bagaimana mungkin…”

“Sepertinya hubungan kalian cukup ‘menyenangkan’.” abeoji terkekeh sejenak sebelum wajahnya kembali terlihat serius. “Kau tahu sendiri kan jika hanya cara inilah yang bisa menyelamatkan saham ESO company kita yang terus melemah akhir-akhir ini? Seharusnya kau berterima kasih pada Choi Minho karena dia menerima usulku ini tanpa protes.”

“Choi Minho menerima usul bodoh ini? Yang jelas aku tak terima!” sentakku kesal, dan aku pun melemparkan foto-foto itu. Aku sudah muak diperlakukan sebagai ‘alat’ untuk membuat perusahaan ini tetap eksis. Aku juga tahu jelas mereka melakukan ini agar perusahaan investor percaya bahwa aliansi antara Sekang dan ESO akan berlangsung lama.

Yang jelas, aku harus mencari Minho! Bagaimana mungkin dia bisa menyetujui usul bodoh ini??

 

===========Kim Junhyo PoV END========

 

 

============Author PoV=============

Beberapa saat kemudian

 

“Abeoji, kurasa kau terlalu berlebihan!” Suho tak bisa menekan rasa kecewanya saat ia akhirnya bertemu dengan direktur ESO company sekaligus ayahnya sendiri. “Bukankah kau sudah berjanji, jika ‘anak itu’ ditemukan, kau akan membebaskan Hyo?!”

“Lalu…” bola mata hitam pekat namja paruh baya di depannya menatap Suho dengan sinis. “Apa kau sudah menemukan ‘anak’ itu? Memangnya aku tak tahu apa yang kau kerjakan heoh? Kau terus bermain-main di sekitar gadis yang merupakan adik dari presdir Cho kan?”

“Mwo..? bagai—“

“Jangan lupa, jika aku mengawasi kau dan juga Junhyo”  kata pria itu lagi. “Cho Minhyun, tak ada yang kurang mengenai gadis itu selain dia kurang pandai bersosialisasi. Perusahaan kita akan mendapatkan banyak keuntungan jika kau bisa menikah dengannya.”

Suho mengepalkan tangannya dengan kuat, merasa kesal sendiri kenapa pria licik dan culas di depannya bisa menjadi ayahnya. “Nee… aku memang menyukai Cho Minhyun, tapi aku tak akan membiarkan kau menggunakannya demi kepentinganmu! Dan ingat,  aku tak ada sangkut pautnya lagi dengan perusahaan ini dan setelah anak itu ditemukan,  kau harus menepati janjimu untuk membebaskan Junhyo!”

“Tentu.” ucap Kim sajangnim dengan tenang. “Tapi mesti kau ingat juga Kim Junmyeon, waktumu yang tersisa untuk menemukan anak itu kurang dari sebulan, jika kau tidak menemukan anak itu, saat itu juga aku akan menjadikan Kim Junhyo sebagai acting director dan menikahkan dia dengan pria yang pantas seperti Choi Minho!”

Suho terdiam sesaat sambil mengepalkan tangannya erat-erat, berusaha tidak menyalurkan kekesalannya kepada pria yang merupakan ayah kandungnya sendiri. “Kau….aku tak peduli kalau kau membuangku, tapi kalau kau menyakiti Jun Hyo—“

“Maka dari itu, jangan buang waktuku dan cepat temukan anak itu!

Suho menggigit bibirnya, sebelum akhirnya dia mendongak dan menatap lurus mata ayahnya, “Aku sudah tahu siapa anak itu.

 

 

===========|TBC|===========

 

 

 

9 thoughts on “Hidden Fates (Chapter 7)

  1. Makin transparan kayaknya thor. Kalo menurut aku JunHyo mungkin kembarannya Chanyeol, soalnya adegan pas mereka ciuman itu. Tapi, kalo JunHyo kembaran nya Chanyeol itu terlalu mudah ditebak. Terus satunya lagi siapa?
    Wkwk tapi kalo iya kasian dong ChanChan nanti poteq sama JunHyo ><
    Tapi aku masih bingung Suhonya. Apa maksudnya 'anak itu'? Apakah Chanyeol? Terus mantan pcar nya si JunhYo itu gimana? Terus kenapa aku byk tanya hehe…
    Kalo bisa Hyunseung-Minhyun-Suho nya terlibat cinta segita hehe biar asik biar Suho lebih susah mendaptkan Minhyun :3

  2. Waaaaa eonni~ anak itu.. Chanyeol y? Trs chanhee itu hyo y?
    Waaa…. Coba chanyeol pemaksaan gitu kiss hyo #abaikan trs hyonya ngeliat masa lalu trs, trs dia nangis2 karna tiba2 dia tau semuanya… *hadeuh dramatis bgt…
    Kok minhyun tau sih~ eonni bkin konfliknya minho sma chanyeol..
    Biar seru😄 kayanya minho suka sma hyo, tpi hyonya kok gk mau peduli😦 ! Cwok ganteng gk boleh disia siakan😄

  3. Kayanya junhyo sama minhyun itu adik nya chanyeol deh? Iya ga kak? Salah ya haha?
    Kangen suho-minhyun moment masa ‘-’
    Minho kayanya beneran suka deh sama junhyo #aciee
    Btw anak itu siapa kak? Chanyeol ya?
    Temuin diva sama minhyunnya dong kak biar seru gitu hehe.
    Next chapternya jangan lama-lama ya kakak, fighthing ^^

  4. ‘anak itu’???
    aaaaaa makin penasaran pake banget❤❤
    next chapternya ditungguuuuuuuuuuuuuuuuu
    eonni hwaiting🙂

  5. Aaaakk seru bangetttt >,.<
    jangan sampe chanyeol sama hyo kembaran</3 Mereka cocok jadi pasangan hahah❤
    Ditunggu next chapter eonniii~❤❤❤

  6. Akhirnyaa di lanjut aaakhh!!
    Jangan bilang Hyo sama Chanyeol kembaraan ? Yaaah sedih banget kalo mereka gak couplean aaaaaaaaa :((
    ‘Anak itu’ nya suho sama appa nya itu chanyeol yaa?
    Penasaran sama lanjutannyaaa duh .-. Ditunggu lanjutannyaa eonnie~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s