[oneshot] Don’t Stop Loving Me

Title                 : Don’t Stop Loving Me

Author            : Azumi Aozora

Main Cast       : Song Ah Young (OC), Kang Seung Yoon (WINNER)

Support Cast  : Kim Woo Bin, Song Min Ho (WINNER), and the other WINNER members

Genre              : romance, friendship, family

Rating              : PG+13

Length            : Oneshot

Disclaimer       : This story is just fanfiction. I make no money from this story, just have fun as fans. I just own the plot and the OC. Don’t plagiarized this story! Just enjoy and comment. ^_^.

Dont stop loving me_Azumi Aozora

 

@Seoul Hospital, pukul 10 malam………

Minho The Duck is calling……..

Aku menatap layar ponselku yang sejak tadi bergetar tanpa henti. Bukan, aku tidak mengangkatnya bukan karena saat ini aku sedang sibuk. ER (Emergency Room) sepi. Tidak ada pasien baru yang datang. Aku hanya duduk di ruanganku sambil menatap bulan purnama lewat jendela, melamun, mengingat banyak hal yang seharusnya sudah tidak boleh kuingat lagi.

Bulan purnama…., semilir angin malam…., aroma musim panas…., alunan melody yang lembut dan indah…., kedua mata jernih yang menatapku seolah aku adalah hal paling berharga baginya. Seharusnya aku tidak memikirkan semua kenangan tentangnya lagi.

Minho The Duck is calling……..

Aku menghela nafas panjang, kemudian memutuskan untuk mengangkat ponselku. “Ada apa?” tanyaku dengan nada malas.

“Nuna! Seung Yoon hilang!” Suara bass sepupuku, Song Min Ho, terdengar panik.

“Aku bukan babysitter nya. Kau tidak perlu melaporkan setiap detail apapun tentangnya padaku, Duck!”

Min Ho mengerang. “Oh ayolah Nunaaaaa…., kita sudah membahas hal ini secara mendalam minggu lalu. Aku tahu kau masih peduli padanya. Kau masih mencintainya.”

Aku mendengus. “Kita sudah membahas hal ini secara mendalam minggu lalu, Duck. Jawabanku masih tetap sama. Tidak, Duck. Aku sudah tidak peduli lagi padanya. Harus kukatakan berapa kali lagi agar kau mengerti? Aku tidak peduli lagi pada Kang Seung Yoon. Yang kupedulikan saat ini hanyalah Woobin Oppa.”

Minho mendesah. “Ah Young Nuna…” panggilnya dengan lemah. “Kau bisa membohongi semua orang di muka bumi ini, tapi kau tidak akan pernah bisa membohongiku. Aku tahu kau peduli pada Seung Yoon. Sangat. Selalu.”

Aku terdiam. Minho kembali bicara. “Kami tidak bisa menghubungi Seung Yoon sejak sore tadi. Aku bahkan sudah mencarinya ke tempat-tempat yang pernah kau beritahukan padaku dulu, tempat favorite kalian, tapi dia tidak ada di sana. Apakah kau sungguh tidak peduli, nuna? Apakah kau baru akan peduli jika Seung Yoon datang ke rumah sakit dalam keadaan terluka parah dan nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi?”

“YAH! SONG MIN HO!” bentakku. “Kenapa kau berkata yang tidak-tidak tentang temanmu?! Dia baik-baik saja. Aku yakin dia baik-baik saja. Aku tutup teleponnya, oke? Ada pasien.” Tanpa menunggu jawaban Minho, aku pun segera memutuskan sambungan.

Aku menghela nafas panjang, lalu menutupi wajahku dengan kedua tangan sambil memejamkan mata. Tidak ada pasien baru. Aku berbohong.

Seung Yoon pasti baik-baik saja. Mungkin dia hanya sedang makan ice cream seorang diri di taman sambil bermain gitar, mencari inspirasi untuk lagu barunya. Atau mungkin saja diam-diam dia pergi menonton konser Muse. Malam ini Muse konser di Jamsil stadium. Meskipun Muse bukan band yang paling Seung Yoon idolakan, tapi Seung Yoon menikmati musik-musik mereka.

Aku menghela nafas panjang lagi, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba mengusir berbagai pikiran buruk yang terlintas di dalam kepalaku. Dasar Song Min Ho pabo! Gara-gara dia berkata yang bukan-bukan, aku jadi kepikiran yang bukan-bukan juga!

Sudah 4 bulan berlalu sejak aku memutuskan hubunganku dengan Kang Seung Yoon. Bukan karena aku tidak mencintainya lagi. Bukan pula karena aku sudah tidak peduli padanya.

Justru karena aku sangat mencintainya dan peduli padanya, maka aku harus melepaskannya. Bukan demi diriku, tapi demi Seung Yoon. Demi mimpinya. Demi masa depannya.

Debut WINNER sebentar lagi. Aku tidak ingin menjadi batu sandungan bagi Seung Yoon. Aku tidak ingin impian dan karir nya yang baru saja akan dimulai harus hancur karenaku.

Semua orang tahu, seorang idol bukan hanya milik dirinya sendiri tapi milik semua orang, fans, agensi. Seorang idol harus mengorbankan banyak hal demi bisa bertahan di dunia hiburan yang gemerlap namun dipenuhi persaingan sengit. Sedikit saja muncul skandal, akan menimbulkan efek yang negatif bagi idol tersebut. Karir nya bisa hancur lebur dalam sekejap mata.

Seung Yoon sudah mengorbankan banyak hal. Waktu nya, kebebasannya, privasi nya, dan ibunya yang berada jauh di Busan sana. Lalu mengapa ia masih mempertahankanku?! Seharusnya dia melepaskanku sejak dulu, sejak ia mulai debut sebagai penyanyi solo di YG. Atau paling lambat…..setelah team A menjadi Winner.

Seharusnya dia melepaskanku. Toh aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya gadis biasa yang kebetulan saja memiliki otak yang cerdas sehingga terpilih sebagai presiden mahasiswa, yang kebetulan saja bertemu dengan pria luar biasa bernama Kang Seung Yoon 5 tahun yang lalu di Jinju saat aku sedang kuliah kedokteran di Gyeonsang National University.

Aku hanya beruntung karena Seung Yoon menyukaiku, si gadis nerd kutu buku yang di dalam otaknya hanya ada kata “belajar”. Seharusnya Seung Yoon bisa dengan mudah melepaskanku dan melupakanku demi meraih impiannya lebih tinggi lagi.

Bila ia melepaskanku, maka suatu hari nanti, di saat karir nya sebagai penyanyi dan musisi telah stabil, mungkin 8 atau 12 tahun yang akan datang, dia pasti akan bertemu dengan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Tapi bila ia melepaskan mimpinya, cita-citanya sekarang, maka ia pasti akan menyesal. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Saat ini YG mempercayainya dan memberinya kesempatan untuk debut sebagai leader Winner, untuk membuat lagu, untuk menunjukkan pada seluruh dunia siapa Kang Seung Yoon yang sebenarnya. Kang Seung Yoon yang berbakat dan pekerja keras, yang akan membuat semua orang tertawa dan menangis karena lagu-lagunya yang menyentuh hati.

Aku melirik jam dinding, pukul 10.20. Sekali lagi aku menatap bulan purnama yang terang nan lembut lewat jendela. Kang Seung Yoon akan baik-baik saja.

Aku bergerak-gerak di kursiku dengan tak nyaman. Berkali-kali sudut mataku melirik jam dinding. Suara detik jarum jam seolah terdengar ribuan kali lebih keras di telingaku. Suasana ER yang sepi membuat keadaan semakin mencekam.

“Code blue. Code blue. Seorang pasien terluka parah di bagian kepala, telinga, dan……” tiba-tiba terdengar suara dari pengeras suara. Tanpa mendengar keseluruhan info, cepat-cepat aku pun berlari keluar dari ruanganku dan bertabrakkan bahu dengan Kim Woo Bin. Woobin melirik sekilas ke arahku sebelum berlari mendekati pasien. Sebelah tangannya menahan pundakku. “Kenapa kau masih di sini? Sekarang bukan jadwal jaga malammu. Pulanglah Song Ah Young.”

Gara-gara Minho, aku mulai berpikir bagaimana kalau pasien itu adalah Seung Yoon?! Aku menghembuskan nafas lega ketika melihat sang pasien ternyata bukan Seung Yoon. “Tapi…..” Aku hendak memprotes Woobin.

Woobin menatapku dengan tatapan tajam dan tegasnya yang khas. Aku tahu aku tidak bisa membantahnya.

“Baiklah.” Kataku. Woobin tersenyum lalu mulai membantu dokter lain menangani pasien dengan luka sangat parah di bagian kepala itu.

Aku berjalan gontai, kembali ke ruanganku. Dengan berat hati akupun melepas jas putih yang kukenakan sejak tadi pagi.

Alasan sebenarnya aku berada di rumah sakit sampai selarut ini padahal seharusnya aku sudah pulang sejak 4 jam yang lalu adalah karena aku ingin membuat otakku sibuk sesibuk-sibuknya, agar aku tidak memikirkan Kang Seung Yoon.

Tapi kenyataannya? Seung Yoon selalu muncul kapanpun di alam bawah sadarku.

Aku menahan keinginanku untuk menelepon Minho dan bertanya padanya apakah sekarang Seung Yoon sudah pulang ke dorm atau belum. Setelah merapikan jas, aku pun meraih tas selempangku dan segera berjalan keluar. Woobin dan beberapa dokter lain sibuk menangani pasien, sehingga tidak menyadari kehadiranku saat aku berjalan melewati mereka.

Kim Woo Bin. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak hutang budiku padanya. Kakak tingkat yang sangat kuhormati saat di universitas dulu, teman baik yang pengertian dan penuh solidaritas, supervisor yang selalu membantuku kapanpun aku membutuhkan bimbingannya di rumah sakit ini, sekaligus “pacar”-ku. Yang terakhir itu sepertinya merupakan pengorbanannya yang paling besar untukku. Berpura-pura menjadi pacarku sehingga aku bisa membuat Seung Yoon melupakanku.

Angin malam langsung menyambutku begitu aku keluar dari rumah sakit. Aku menggigil, merapatkan jaket-ku, lalu berjalan menuju tempat parkir.

“Youngna….”

Tubuhku langsung menegang kaku begitu mendengar sebuah suara yang sudah sangat akrab di telingaku. Perlahan aku menoleh ke samping kananku. Meskipun saat ini ia mengenakan masker hitam, kacamata hitam, dan topi fedora cokelat, aku masih bisa mengenalinya dengan baik.

“Seung Yoon~nie…, kenapa kau ada di sini?”

Diam-diam aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah dia baik-baik saja. Aku kembali memasang poker face-ku ketika Seung Yoon berjalan semakin mendekat.

“Youngna….” Seung Yoon memanggilku lagi dengan husky voice-nya yang khas. Suaranya bergetar saat ia memanggilku dengan panggilan kesayangannya untukku, Youngna, singkatan dari Young nuna. Young diambil dari namaku, Song Ah Young. Young juga berarti muda. Bagi Seung Yoon, sejak dulu….aku selalu terlihat seperti anak kecil. Dia selalu bersikap layaknya seorang Oppa di hadapanku, padahal umurnya 4 tahun lebih muda dariku.

Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. Menahan keinginanku untuk berlari menghambur ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuhnya yang sangat kurindukan, merasakan kehangatan kedua lengannya saat mendekap tubuhku dengan erat.

Seung Yoon melepaskan kacamata dan masker yang ia kenakan. Kedua matanya terlihat sembab, seperti habis menangis. “Youngna, aku…..” Seung Yoon terdiam sejenak, lalu berbisik dengan lemah…… “merindukanmu.”

Kalimat itu simple tapi intens karena ia mengatakannya dengan sepenuh hati.

Aku memalingkan mataku. Bila aku terus menatap matanya, maka pasti aku akan mulai goyah. Aku hanya terdiam.

“Youngna, aku….. aku tidak bisa tersenyum tulus lagi seperti dulu. Aku tidak bisa bernyanyi lagi. Tidak bisa bermain gitar lagi. Tidak bisa membuat lagu lagi. Aku…, mungkin sebaiknya aku berhenti.”

Aku langsung menatapnya dengan tajam. “Kang Seung Yoon! Musik adalah mimpimu, hidupmu.”

Seung Yoon menggeleng. “Musik tidak ada artinya tanpamu, Youngna. Aku…, aku bisa mengerti bila kau menjauhiku, tapi tolong….. jangan berkata bahwa kau tidak mencintaiku lagi. Kata-kata itu….. menyakitiku, membunuhku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak bisa membuat lagu lagi. Aku bahkan tidak ingin bernyanyi lagi…..” Seung Yoon menatapku dengan sungguh-sungguh. Aku tidak ingin melihat kedua mata itu terluka, tapi…..

Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat, menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku harus kuat!

“Aku adalah kelemahan terbesarmu, Seung Yoon. Apa yang akan terjadi padamu bila anti-fans memanfaatkanku untuk menjatuhkanmu? Winner baru akan memulai. Perjalanan kalian masih sangat panjang. Aku tidak ingin menghalangi mimpimu, dan aku juga tidak ingin menunggumu, Seung Yoon. Jangan temui aku lagi. Kau pasti bisa melupakanku. Kau juga tahu kan kalau sekarang aku sudah bersama Woobin Oppa?” Aku membalikkan badanku, hendak pergi meninggalkannya, tapi ia menahan lenganku dengan kuat.

“Youngna! Impianku, masa depanku…., bukan hanya sekedar musik. Kau termasuk di dalamnya. Apakah aku sungguh-sungguh tidak pernah kau bayangkan akan berada di dalam masa depanmu nanti? Kalau kau tidak bisa menungguku, maka aku akan berhenti. Lebih baik aku kehilangan statusku sebagai member Winner dibanding kehilanganmu, Youngna….”

Aku memejamkan kedua mataku. Inilah yang kutakutkan. Aku takut Seung Yoon menyia-nyiakan kesempatannya. Ia selalu yakin akan ada kesempatan lain. Tapi kapan? Akankah ada kesempatan lain di masa depan? Lalu apa artinya segala jerih payahnya selama 4 tahun ke belakang ini?! Dia bahkan berlatih dance sejak 3 tahun yang lalu, padahal dance adalah hal yang paling sulit baginya. Dia juga bahkan merelakan salah satu impiannya, menjadi vokalis band rock, karena di Korea ini boyband jauh lebih populer dibanding band dan penyanyi solo. Para agensi lebih suka mengorbitkan sebuah boyband dibanding sebuah band. Tapi Seung Yoon merelakannya, karena toh mimpi utamanya adalah membuat semua orang mendengarkan lagu-lagu ciptaannya, yang ia nyanyikan dengan sepenuh hati.

Lalu apa artinya semua kerja keras, air mata, keringat, dan darah yang ia korbankan selama ini bila ia menyia-nyiakan kesempatan yang YG berikan padanya?

Aku membuka mataku, pandangan mataku mengeras. “Kang Seung Yoon, apakah kau masih tidak mengerti? Aku meninggalkanmu bukan hanya karena aku tidak bisa menunggumu, tapi karena aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu!” Aku mendengus, berpura-pura terlihat kesal. “Bagiku kau sama saja seperti Minho. Dongsaeng-ku. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pria. Selama 5 tahun ini aku hanya bermain-main denganmu. Tidakkah kau mengerti juga?” Aku memicingkan mataku. Wajahku masih tetap dingin dan datar. Perlahan air mata Seung Yoon bercucuran. Pegangannya di lenganku mulai melonggar, dan akhirnya lepas. Dadaku terasa sesak dan sakit melihatnya dalam kondisi seperti ini. Tapi aku menyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini kulakukan demi Seung Yoon. Demi masa depan Seung Yoon.

“Rasa sakit yang kau rasakan saat ini hanyalah sesaat, Seung Yoon~ah. Semua ini hanyalah ilusi. Waktu akan membuatmu melupakanku. Bahkan mungkin suatu hari nanti kau akan berterima kasih padaku karena aku menginspirasimu untuk membuat lagu-lagu sedih.” Aku menyeringai, pura-pura berkata dengan nada angkuh.

“Maaf, hanya kata maaf lah yang bisa kukatakan padamu, Kang Seung Yoon. Jangan temui aku lagi.” Aku membalikkan badanku dan segera berjalan dengan cepat.

“YOUNGNA! SONG AH YOUNG!”

Aku mengabaikan panggilannya. Langkahku lebar-lebar. Semakin jauh aku melangkah, semakin deraslah air mataku mengalir.

Seandainya jalan hidup kami berbeda…., seandainya Seung Yoon hanyalah orang biasa…, mungkin aku tidak perlu melakukan hal ini.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak akan ada kata “seandainya”.

Meskipun aku harus mengorbankan perasaanku, setidaknya aku harus bisa melindungi mimpi Seung Yoon, dan menunjukkannya jalan yang tepat. Memilihku adalah suatu kesalahan. Meninggalkanku, untuk saat ini, adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan. Bahkan YG pun memberlakukan larangan berkencan selama 5 tahun kedepan bagi member Winner. Meski Seung Yoon berkata bisa merahasiakan hubungan kami, tetap saja aku merasa tidak yakin. Aku takut “rahasia” itu akan menghancurkannya suatu hari nanti.

Aku sudah melepaskanmu, Kang Seung Yoon. Pergilah…..

Di masa depan nanti, entah kapan. 10 tahun? 15 tahun yang akan datang? Bila kau masih mengingatku dan masih menginginkanku, maka aku akan kembali padamu, Seung Yoon~ah. Aku selalu ada di sini. Aku tidak pernah pergi, dan tidak akan mungkin pernah pergi.

Mungkin kau tidak akan bisa melihatku lagi, tapi aku akan selalu bisa melihatmu, mengawasimu dari jauh, dan mendoakanmu dalam setiap helaan nafasku. Aku bisa menjadi fans-mu lagi. Bukankah sejak dulu akupun adalah fans-mu?

5 tahun yang lalu, ketika pertama kali melihatmu bermain gitar dan bernyanyi di festival musik universitasku, saat kau memperkenalkan dirimu padaku dengan tingkah konyol dan canggung di backstage, aku tahu detik itu juga bahwa di dunia ini aku hanya akan selalu mencintaimu. Bagaimana mungkin aku berhenti mencintaimu bila di setiap debaran jantungku selalu terselip namamu?

Setiap detik, selama 5 tahun ini, perasaanku padamu bukannya melemah tapi semakin menguat. Meskipun aku harus berpura-pura melupakanmu, sebenarnya aku tidak pernah melupakan satupun kenangan kita. Aku bahkan masih ingat semua tingkah bodohmu agar membuatku tertawa, dan milyaran kata juga sikap manismu demi mengalihkan perhatianku dari buku-buku tebal yang sangat kucintai.

Kang Seung Yoon, kau membuatku tertawa. Kau membuatku menangis. Kau satu-satunya pria di dunia ini yang sanggup menjungkir balikkan duniaku dalam sekejap mata. Sekarang aku membuat duniaku berhenti berputar. Aku tidak ingin berputar di sekelilingmu lagi dan menghalangimu dari semesta yang luas dan tanpa batas. Meskipun hanya akan ada kesedihan di dalamnya bagiku, aku hanya ingin duniamu terus berputar. Belum saatnya kau berhenti, Seung Yoon.

Hhhhhh, kurasa aku hanya bisa mencurahkan semua isi hatiku yang sesungguhnya ke dalam diary-ku.

*************

 

1 tahun kemudian……..

“Cheesecake greentea untuk sepupuku tersayaaaaang……” suara berat Minho yang tiba-tiba terdengar tepat di samping telingaku membuatku terlonjak dari kursiku dengan kaget.

Aku memukul lengannya dengan keras. “YAH! Kau membuatku jantungan, Duck!”

Minho hanya terkekeh. Ia meletakkan satu kotak kecil kue favoritku di atas meja belajar, lalu menghempaskan tubuhnya di tempat tidurku, terlentang. “Berhenti belajar, Nuna! Aku punya gossip hot!”

Aku memutar kedua bola mataku, dan pada akhirnya memutuskan untuk menutup buku tebalku tentang teknik bedah.

Minho nyengir lebar. “Bulan depan kami akan sibuk konser di Jepang. Oh! Kemarin kau lihat kan di inkigayo saat kami menang? Kekekekek……”

Aku mendengus. “Itu bukan kemenangan pertama kalian, tapi kau menangis meraung-raung seperti bayi.” Cibirku.

Minho tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat kedua bahunya dengan cuek. “Hatiku kan sangat lembut, nuna.” Minho memegang dadanya dengan kedua tangan sambil menatapku dengan tatapan sendu.

Aku mendekatinya lalu mengacak-acak rambutnya dengan gemas. “Aigoo~ semakin hari kau semakin narsis saja!”

“Semakin hari dia semakin bahagia, nuna.” Minho menatapku dengan tatapan serius. Aku tersenyum. Yang Minho maksud adalah Seung Yoon.

“Aku senang mengetahuinya.”

“Dia bahagia karena dia tahu kau selalu menunggunya, nuna. Jangan marah, tapi aku diam-diam mencuri diary-diary mu dan memberikannya pada Seung Yoon. Kau bahkan tidak sadar ya kalau diary-diary mu hilang?”

Aku membelalakkan mataku, lalu cepat-cepat mencari diary-diary ku di lemari. Tidak ada!

“SONG MIN HOOOOOOO!”

“HAHAHAHAHA….HAHAHAHA….” Minho malah tertawa dengan keras sambil bergulingan di tempat tidur. “Yuhuuuuuuuu! Aku memang jenius! Hahahaha…”

“Awas kau ya!” Aku mencubit lengan Minho sekuat tenaga.

“Aaaarrrgggghhhh! Sakit! Nuna!”

Aku masih terus mencubitinya. Minho berusaha menghindar, tapi selalu bisa kukejar. “Ampun! Ampun, nuna! Semua ini demi kau juga. Aduh! Sorry, oke? Aduh!”

Aku tidak berhenti mencubitnya. Minho menangkap kedua pergelangan tanganku dan memegangnya di atas kepalaku dengan erat. Cengiran lebar masih terpampang di wajahnya yang tampan.

“Sejak kapan kau mencuri diary-ku, Duck?” sentakku.

“10 bulan yang lalu.”

“Mwo?”

“Memangnya kau pikir bagaimana Seung Yoon bisa bertahan selama ini tanpa membaca diary-diarymu?! Kalau aku tidak mencuri diary-diarymu dan memberikannya pada Seung Yoon, mungkin dia sudah terjun ke sungai Han dan saat ini kau hanya bisa meratapi jasadnya yang sudah menjadi abu.”

“YAH! SONG MIN HO!” bentakku, kesal dengan ucapan ngasal dan sompral yang dilontarkan oleh sepupuku yang super bandel ini.

Minho melepaskan kedua tanganku dan sebagai gantinya ia memegang kedua bahuku, membungkukkan badannya, menyejajarkan matanya dengan mataku, dan menatapku lekat-lekat. “Ah Young nuna, jangan pernah berpikir bahwa Seung Yoon adalah pria yang lemah. Meskipun dia lebih muda dariku, dia jauh lebih dewasa dariku. Dia juga jauh lebih dewasa darimu. Dia akan melindungimu, lebih daripada kau melindunginya. Tapi kadang dia bodoh karena terlalu terbawa perasaan, sehingga dia sempat berpikir bahwa kau benar-benar sudah tidak mencintainya lagi….”

“Aku tahu.” Aku tersenyum sambil mengusap sebulir air mata yang menetes di pipiku.

“Dan kau bodoh karena pura-pura kuat, nuna. Seluruh dunia memang tidak perlu tahu bahwa kalian saling mencintai. Bahkan Yang Hyun Suk sajangnim pun tidak perlu tahu. Tapi kau kejam dan tidak adil bila tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Seung Yoon.”

“Aku…., takut….”

“Kau masih takut bila fans-fans nya mengetahui hubungan kalian?”

Aku mengangguk. Minho mendesah. “Nuna, sudah kubilang kan? Kang Seung Yoon itu jauh lebih kuat dan lebih dewasa dibanding yang kau duga. Dia bisa melindungimu. Kau tidak perlu melindunginya lagi seorang diri. Aku pun bahkan akan membantu melindungi kalian. Misalnya…..hhhmmmmm…., dengan mengajaknya diam-diam datang kemari dan memasak untukmu.” Minho mengedipkan sebelah matanya sambil nyengir jahil.

Aku membelalakkan mataku dan menatap Minho dengan horror. “Seung Yoon? Masak? YAH! SONG MIN HO!  KALAU DAPURKU SAMPAI MELEDAK, AKU AKAN MEMBUNUHMU!”

Minho berlari keluar dari kamarku sambil tertawa terbahak-bahak. Aku berlari mengejarnya, menuruni tangga, dan hampir bertabrakkan dengan ibuku yang baru saja keluar dari dapur dan sedang membawa piring-piring berisi makanan ke meja makan.

“Ah Young~ah, Seung Yoon jadi jago memasak lhoo.” Ibuku tetawa renyah.

“Youngna!”

Jantungku berdebar lebih keras ketika suara yang begitu kurindukan itu memanggil namaku.

Seung Yoon berjalan mendekatiku sambil membawa piring berisi pasta seafood. Pandanganku buram karena air mata, tapi aku masih bisa melihat senyuman hangat nya.

“Youngna, aku datang kemari bukan untuk membuatmu menangis, tapi tersenyum.” Setelah meletakkan piring di meja makan, Seung Yoon pun menghapus air mataku, tapi aku malah menangis semakin keras. Seung Yoon tertawa pelan, lalu memelukku dengan erat. Aku balas memeluknya lebih erat dan membenamkan wajahku di dadanya. Aku baru sadar betapa aku merindukan pria dihadapanku ini setelah aku melihatnya secara langsung.

“Aku pasti bermimpi.” Gumamku.

“Mimpi yang sangat indah?” Seung Yoon terkekeh. Aku mengangkat wajahku, tapi Seung Yoon mendorong kepalaku kembali. Pipiku bersandar di dadanya yang bidang. Seung Yoon memelukku lebih erat. Rasanya sakit. Seolah ia pun merasa takut semua ini hanyalah mimpi. Ia takut melepaskanku lagi.

“Kau harus percaya padaku, Youngna.” Seung Yoon berkata dengan lembut di telingaku. Aku hanya mengangguk.

“Kita tidak akan bisa berjalan-jalan di luar sambil bergandengan tangan seperti pasangan lainnya. Kita tidak bisa selfie bersama dan mempostingnya di instagram seperti pasangan lainnya. Kita tidak bisa terlihat dekat kecuali di sekitar keluarga dan sahabat-sahabat yang kita percayai. Dalam sebulan, mungkin kita pun hanya bisa bertemu secara langsung beberapa kali saja. Meskipun begitu….. aku hanya ingin tahu bahwa kau juga mencintaiku, Youngna. Selalu. Jangan pernah berhenti mencintaiku, Youngna. Karena aku tidak akan berhenti. Kau akan selamanya terikat padaku. Lihat ini?” Seung Yoon melepaskan pelukannya dan kini mengangkat jari kelingking nya.

“Kita terikat oleh benang takdir, Youngna. Kita memang tidak bisa melihatnya, tapi kita bisa merasakannya. Di sini.” Seung Yoon menyentuh dadanya.

Dalam situasi biasa, aku pasti akan menganggap kata-kata yang ia ucapkan barusan sangatlah cheesy, tapi saat ini aku merasa kata-katanya sangat manis dan membuat hatiku terasa hangat.

Aku tersenyum, lalu memeluknya lagi sambil memejamkan kedua mataku. “Maafkan aku, Seung Yoon~nie. Dulu…, mungkin aku tidak mempercayaimu. Minho benar. Kau jauh lebih dewasa dariku. Kau bisa melindungi dirimu sendiri, dan melindungi kita berdua.”

Seung Yoon mengecup puncak kepalaku selama beberapa saat, dengan penuh perasaan. Aku mendongakkan wajahku dan menatap kedua matanya yang jernih. “Kau harus berjanji padaku, Seung Yoon~nie. Kau harus janji…. Mimpimu di dunia musik adalah prioritas utamamu. Bila suatu hari nanti kau dihadapkan hanya pada dua pilihan antara aku atau musik…, kau harus memilih musik. Karena aku berjanji akan berada di masa depanmu nanti.”

Seung Yoon tersenyum lebar. “Gomawooooo, Youngna.”

Aku berjinjit lalu mencubit kedua pipinya yang kini jadi terlihat kurus. Kadang aku merindukan kedua pipi chubby-nya yang menggemaskan. “Karena kau sudah membaca diary-diary ku tanpa seizinku, maka kau harus memperlihatkan semua lagu baru yang kau ciptakan padaku sebelum memperlihatkannya pada orang lain, bahkan pada Yang Goon sajangnim sekalipun!”

Seung Yoon tertawa sambil mencubit hidungku pelan. “Oke.”

Aku tersenyum. Rasanya bahagia. Cukup dengan melihatnya secara langsung seperti ini, melihatnya tersenyum padaku dan hanya untukku ternyata bisa membuatku melupakan segala penderitaanku selama 1 tahun ke belakang ini.

“Aku sangat beruntung.” Gumamku.

“Aku jauh lebih beruntung, Youngna.” Seung Yoon tersenyum cute.

“Uhuk….uhuk…., tolong ya, aku sudah sangat kelaparan.” Suara bass Minho membuat kami tersadar dari “dunia” kami. Kami terkekeh, lalu menghampiri Minho dan memeluknya.

“YAH! YAH! Kenapa?”

“Gomawoooo, hyung!”

“Thanks, Duck!”

“Hahahaha. Sudah kubilang kan? Aku ini jenius. Song. Min. Ho. Itulah aku!” Minho membusungkan dadanya. Aku menjitak kepala Minho si bawel dengan pelan, sedangkan Seung Yoon hanya geleng-geleng kepala melihat makhluk super narsis di hadapannya itu.

Ting Tong….. Ting Tong….

Bel rumahku berbunyi nyaring. Beberapa menit kemudian, suasana rumah jadi heboh.

“AH YOUNG NUNAAAAAAA, AKU MERINDUKANMUUUUUU!” Lee Seung Hoon berlari sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tapi sebelum dia sempat memelukku, Seung Yoon sudah mendorongnya agar menjauhiku.

“Nuna, aku lupa jalan ke rumahmu, untung Tae Hyun ingat. Hehehe.” Kim Jin Woo nyengir lebar.

“Duh! Hyuuuuung, hanya kau yang lupa. Kami semua ingat.” Nam Tae Hyun menatap Jin Woo dengan sinis, tapi kemudian tertawa.

“Maknae, menjahili orang tua itu dosa lhoooo.” Aku berjinjit lalu menjewer sebelah telinga Tae Hyun.

“Hehehehe, oke-oke, grandma Ah Young.”

“YAH!”

“Hahahaha….hahahaha….”

Sungguh, suasana malam ini terasa berbeda. Hangat dan nyaman. Karena orang yang paling berharga bagiku ada di sini bersamaku, dan juga teman-teman Minho yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.

“Waaaah, nuna, kau masak banyak sekali makanan!” Mata Jinwoo berbinar-binar senang.

Aku menggeleng. “Bukan aku yang masak, tapi Seung Yoon.”

Sorot mata Jinwoo langsung berubah. Dia menatapku dengan horror. “Aku tidak mau makan!”

“Aku juga!” timpal Seung Hoon sambil mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi.

Tae Hyun mengangguk. “Meski penampilannya terlihat indah, tapi rasanya pasti sangat mengerikan.”

“YAH!” bentak Seung Yoon, merasa terhina. Kami semua pun tertawa.

Aku merangkul pundaknya dengan sebelah lenganku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. “Tidak masalah, Yoon. Aku akan tetap memakannya.”

Seung Yoon terkekeh. Minho dan yang lain bersiul-siul jahil.

“YAH! Jin Woo hyung! Kenapa kau malah makan?! Katanya kau tidak mau makan!”

Jin Woo nyengir lebar. “Bohong. Aku mau makan kok. Rasanya enak. Kau kau selalu latihan masak setiap hari secara diam-diam, Seung Yoon. Agar kau tidak ditertawakan lagi oleh nuna kan? 6 tahun lalu, kau pernah membuat dapur nuna di Jinju seperti kapal pecah kan? Bahkan sampai membuatnya kebakaran, tapi untung apinya kecil dan bisa dipadamkan.”

Seung Yoon membelalakkan matanya dengan heran. “Darimana kau tahu, hyung?”

Tae Hyun melirik Minho yang duduk di sebelahnya. “Siapa lagi kalau bukan Minho hyung si tukang gossip?!”

Minho tetap makan dengan cepat dan cuek. Dasar pig! Tapi beberapa detik kemudian Minho memukul belakang kepala Tae Hyun dengan keras. “Jangan berisik! Makan dengan tenang.”

Aku tersenyum melihat pertengkaran konyol mereka. Dadaku terasa ringan. Semuanya terasa sempurna. Aku menggenggam sebelah tangan Seung Yoon. Jemari kami bertautan.

Kami memang tidak tahu masa depan kami seperti apa. Tapi yang pasti, kami akan saling melindungi. Aku akan melindungi mimpi Seung Yoon. Seung Yoon juga akan melindungiku dari dunia dan spotlight yang selalu terfokus padanya dan juga WINNER, dari para pemangsa bernama haters yang selalu berusaha mencari jutaan cara untuk menjatuhkan Winner.

Lalu…… aku bisa membayangkan bahwa di masa depanku nanti akan ada seorang pria luar biasa bernama Kang Seung Yoon yang tidak pernah melepaskan tanganku.

My heart won’t stop beating for you, Kang Seung Yoon. I’ll never stop loving you and caring for you, no matter how hard it is. Crazy? Yeah. But all these craziness won’t ever stop.

==== The End ====

 

Catatan author : Huwaaaaaaaa….. my feeling…..>_<

Ayooooo lihat video fanmade FF ini juga yaaaa. Berhubungan sama FF ini, dan lagunya adalah salah satu soundtrack gw saat menulis FF ini. LOL

 

Thanks for reading ^_^

Comment, please!❤

 

-Azumi Aozora-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “[oneshot] Don’t Stop Loving Me

  1. Miiiiiii…. huaaa Yoon dulu masaknya parah? Kren lah skrg msakannya enak, haha inget winner tv si yoon yg pling enak takoyakiny, hoon yg paling parah

    Mino the duck lucuu kkkkk~~~ hhehe untunglah krn si duck youngna ama yoon ga jd putus, trus gmana nasib woobin? Haha pdahal dia kyny care bgt k ahyoung

    Krenn klo da sequel nih hehe~~dan sperti biasa diksi kmu kece mii ^^

    Two thumbs, cuman krg pnjang *eh

    • Nggak tau N…ini ngasal aja. Gara2 liat video dia yg “Have You Fallen In Love”, di sana kan kue yg dia bikin gosong? Wkwkwkwk

      Minho The Duck gara2 di winner tv dia main2 sama bebek. LOL.😀

      Woobin sama aku doong aslinya. *ngarep.😀

      Thank youuu N ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s