Hidden Fates (Chapter 6)

Hidden Fates

Author             : Kunang & Azumi Aozora

Chapter          : 6 (Sharing Our Secret)

Main Cast       : Kim Jun Hyo (OC), Cho Min Hyun (OC), Kim Jun Myeon/Suho (EXO-K), Jang Hyunseung (Beast), Park Chan Yeol (EXO-K), Choi Min Ho (SHINee)

Support Cast  :  Cho Kyu Hyun (Suju), Kai (EXO-K)

Length            :  Multichapter

Genre              : Family, romance, drama, friendship, supernatural, AU

Rating              : PG+15

Disclaimer       : Kim Jun Hyo milik Kunang dan Cho Min Hyun milik Azumi, sedangkan Suho, Hyunseung, Chanyeol dan Minho milik mereka sendiri. Cerita ini murni milik dari weird- happy- chicken maniac– Kunang and cool-stubborn-lovely Azumi Aozora, plagiat jauh-jauh sana sebelum dikirim Kris ke Galaxy lain terus digebukkin alien disono!

Summary        : There is a past, and There is a future. Everybody couldn’t avoid both of them. How if there were persons who can tell your past and future? Wanna take a look? This is the story about Jun Hyo – a *Psychometry ice princess yet beautiful rich heiress who hates losing– and Min Hyuna *Precognitive clumsy girl yet lovely rookie doctor who loves green tea– .. When they see the things that shouldn’t be seen, the hidden fates are revealed.

HiddenFates_violetkecil

 

6th Fate Revealed by Azumi Aozora

 

========= Cho Min Hyun PoV =========

Aku benci ujian! Meskipun orang-orang berkata bahwa aku adalah murid yang pintar, tetap saja aku benci ujian! Ujian berarti menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar, mengurangi waktu tidur, dan mengurangi waktuku untuk membuat lagu dan menyanyi.

Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku sangat suka menyanyi dan membuat lagu. Aku terlalu tidak percaya diri. Meskipun cukup banyak orang yang menanggapi laguku dengan baik di youtube, tetap saja aku tidak merasa percaya diri.

Sebenarnya ada satu orang yang mengetahui hal ini, tapi dia hanyalah teman dunia maya-ku. Kami tak sengaja “bertemu” di dunia internet ketika memasuki sebuah forum dimana setiap orang menceritakan kisah paling menyedihkan ataupun kisah tergelap dalam hidup mereka. Tentu saja semua orang memakai nama samaran dan inisial. Forum ini cukup membantu dalam hal terapi trauma, karena aku bisa tahu bahwa di luar sana masih banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih menderita dariku. Bukan hanya akulah satu-satunya orang di dunia ini yang mengalami masa lalu yang menyedihkan.

Di forum itu, aku bercerita mengenai kecelakaan pesawat yang terjadi di Osaka 15 tahun lalu, yang menewaskan kedua orangtuaku. Seseorang mengomentari tulisanku dengan sangat panjang dan detail. User name orang itu di forum tersebut adalah “Diva”, sementara username-ku adalah “Matcha”.

Diva juga kehilangan sahabatnya dalam kecelakaan pesawat 15 tahun lalu itu. Kami jadi sering saling berkirim e-mail, saling menguatkan, saling menasehati. Kami bercerita banyak hal. Dia memberitahuku tentang anak-anaknya yang sudah lama tidak ia temui, tentang penyesalan-penyesalan dalam hidupnya, dan lain-lain. Aku pun bercerita tentang “rahasia-ku” sebagai Hime, youtube user yang sering memposting lagu-lagu cover dan juga lagu-laguku tanpa identitas asli.

Sudah 3 tahun aku mengenal Diva, tapi aku belum tahu siapa nama aslinya. Kami sepakat untuk tidak saling memberitahu identitas asli kami. Yang kutahu tentang Diva hanyalah : ia seorang wanita berusia 50 tahun, mantan penyanyi terkenal di tahun 80-an, tinggal sendiri di Prague, memiliki anak kembar dan anak perempuan yang sudah lama sekali tidak ia temui.

 

Ujian tengah semester ini benar-benar menyita waktuku. Selain harus belajar untuk mempersiapkan ujian, aku juga harus membantu Suho memeriksa jawaban ujian adik-adik tingkatku. Aku tetap membantu Suho karena bayarannya lumayan. Aku selalu ingin bisa menghasilkan uang dari hasil keringatku sendiri, dan tidak hanya selalu bergantung pada kakakku. Selain itu Suho sunbaenim orangnya lumayan menyenangkan. Dia banyak membantuku belajar banyak hal dan memberiku trik-trik praktik. Aku pandai dalam teori kedokteran, tapi saat praktik di dunia nyata…..rasanya aku seperti orang bodoh saja!

Mungkin hal ini disebabkan karena aku melakukan sesuatu yang bukan keinginanku. Bukan mimpiku.

 

Aku berjalan menuju perpustakaan sambil membawa tumpukkan buku tebal. Ujian berikutnya baru akan dimulai 2 jam lagi. Aku punya banyak waktu untuk belajar.

Langkah kakiku lebar-lebar. Aku berjalan dengan cepat sambil melihat ke bawah, menghindari tatapan mata orang-orang, dan berusaha agar tidak menubruk orang lain ketika aku berjalan.

“Min Hyun ssi!”

Tiba-tiba saja aku mendengar suara bass yang terasa akrab di telingaku. Aku mengangkat wajahku sedikit dan melihat Park Chan Yeol melambaikan tangannya dengan bersemangat padaku.

“Kau mau ke perpustakaan?” tanya Chan Yeol dengan riang. Sepertinya mood Chanyeol sedang sangat baik. Senyuman lebar tak pernah lepas dari wajahnya.

Aku mengangguk singkat. “Hmmm.”

“Buku-bukumu terlihat berat, Min Hyun ssi. Biar kubawakan….”

“Tidak perlu, Chanyeol ssi!” aku membungkukkan badanku padanya dan segera berjalan melewatinya. Meskipun kami sudah sering bertemu, dan meskipun aku sudah pernah makan di apartemennya, tetap saja rasanya canggung. Aku memang tidak pernah pandai bersosialisasi dengan orang lain.

“Park Chan Yeol sangat tampaaann!” beberapa orang anak perempuan terkikik geli saat aku berjalan melewati mereka. Aku menoleh ke belakang sekilas, Chanyeol ternyata berjalan di belakangku sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

Mungkin Chanyeol tidak menyadarinya, tapi semenjak dia merubah gaya rambut dan melepas kacamata tebalnya, dia jadi sangat populer di kalangan para mahasiswi, mulai dari junior sampai senior. Kadang aku tidak mengerti, mengapa orang-orang terlalu mempermasalahkan tampang dan style seseorang. Kau harus terlihat cool dan stylish agar orang-orang memujamu dan mengidolakanmu. Kau baru bisa menjadi idola di industri musik Korea bila “tampang”-mu memenuhi kriteria seorang idola. Apa salahnya dengan kacamata tebal dan pakaian yang biasa saja?!

Tapi aku menikmati syle-ku yang “biasa”, meskipun aku lebih dari mampu untuk membeli pakaian-pakaian dengan merk terkenal. Aku memang tidak menginginkan perhatian. Aku menikmati peranku sebagai orang yang “tak terlihat”. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat ingin orang-orang mengakui kemampuan musikku. Impian yang terlalu mustahil bagiku.

**********

 

Sepertinya “takdir” kali ini menginginkan agar aku sering bertemu dengan Chanyeol. Padahal sudah lebih dari dua minggu ke belakang ini, kakak perempuan Chanyeol tidak pernah datang lagi ke rumah untuk menunggu kakakku, tapi tiba-tiba saja malam ini kakak perempuannya datang dan dalam kondisi mabuk berat.

“Cho Kyu Hyuuuunnnnn!!!!” teriaknya sambil berjalan terseok-seok. Pandangan matanya tidak fokus. Dia terlihat bisa ambruk kapan saja.

“Eonni!” Aku menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. Untung gerak refleks-ku bagus. Hasil dari latihan beladiri selama bertahun-tahun.

“Aggaeshi, apa yang harus kita lakukan padanya?” tanya salah satu penjaga rumahku.

“Aku akan membawanya masuk. Sebentar lagi adiknya pasti datang.” Aku memapah kakak perempuan Chanyeol masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa. Sepertinya dia langsung tertidur pulas begitu wajahnya menyentuh bantal sofa yang empuk.

Aku menghubungi nomor Chanyeol. Aku menyimpan nomor ponselnya karena sejak dulu dia sering datang kemari untuk menjemput kakaknya. Dia memintaku menyimpan nomornya kalau-kalau hal seperti ini terulang lagi, sehingga aku bisa segera menghubunginya. Dan benar saja, hal seperti ini terus berulang selama bertahun-tahun, dengan kondisi yang berbeda tapi serupa.

Chanyeol tidak juga mengangkat ponselnya. Mungkin dia sedang mengemudikan motor? Sudahlah, sebaiknya aku mengiriminya message saja.

Lima belas menit berlalu, tak juga ada balasan dari Chanyeol. Jangan-jangan dia sedang pergi tapi lupa meninggalkan ponselnya di apartemen?

Aku melirik kakak perempuan Chanyeol yang tertidur pulas di sofa. Bagaimana kalau Chanyeol tidak kunjung datang? Apa sebaiknya aku meminta Kyu Hyun Oppa segera pulang dan mengantar kakak Chanyeol pulang?

Aku melirik jam dinding. Pukul 9 malam. Baiklah, jika sampai pukul 10 malam Chanyeol tidak membalas message-ku, aku akan menghubungi kakakku.

Sebelum kakak perempuan Chanyeol datang, sebenarnya aku sedang melatih lagu yang baru kuciptakan. Aku akan merekamnya besok dan mempostingnya ke youtube. Tentu saja aku hanya memposting suaraku. Aku tidak ingin orang lain mengetahui salah satu rahasiaku ini.

Aku tidak mungkin meninggalkan kakak perempuan Chanyeol sendirian di sini. Tapi, kalau aku bernyanyi di sini….dia tidak akan bangun kan? Sekali lagi aku melirik wajahnya yang terlihat damai. Nafasnya teratur.

Aku berlari ke kamarku di lantai 2, membawa gitarku, lalu cepat-cepat turun lagi ke ruang tamu. Aku duduk di lantai agak jauh dari sofa, lalu mulai memetik gitarku sambil bernyanyi. Aku mengulangi lagu itu sebanyak 3 kali, masih merasa ada sesuatu yang kurang dan tidak pas dengan melody-nya.

Mungkin aku terlalu menghayati lagu baruku, sampai-sampai aku tidak mendengar ada yang datang, dan tidak sadar kalau sejak tadi Chanyeol sudah berdiri tak jauh dariku dengan mulut menganga lebar.

“Woaaah, daebak! Min Hyun ssi, aku tidak pernah menduga kalau suaramu sangat bagus! Suaramu benar-benar mirip dengan Hime.”

Aku tersentak, cepat-cepat berdiri dan menyembunyikan gitarku di balik sofa, tapi percuma saja karena sepertinya Chanyeol sudah melihatku sejak tadi.

“KAU HIME!” pekik Chanyeol. Mulutnya menganga lebar. Dia mendekatiku sambil nyegir lebar. “Min Hyun ssi, kau Hime! Benar kan?”

“Eh? Aku…..”

“Huwaaaaaahhhhhh! Daebak! Aku sangat suka suaramu, Min Hyun ssi! Apakah kau selalu membaca komentar-komentar di youtube-mu? Aku selalu mengomentari setiap lagu yang kau posting! Chan-Chan! Itu username-ku.” Chanyeol masih tersenyum lebar.

“Chanyeol ssi, aku bukan….”

Chanyeol memotong kata-kataku dengan menutup mulutku menggunakan sebelah tangannya. “Tidak usah menyangkalnya, Min Hyun ssi. Aku tidak mungkin salah. Pendengaranku sangat tajam.” Chanyeol nyengir sambil memegang kedua telinganya yang terlihat seperti telinga peri.

“Aku akan menjaga rahasiamu, Min Hyun~ssi. Tenang saja.”

“Bagaimana kau bisa….?”

“Aku bisa tahu?” potong Chanyeol lagi. “Tentu saja aku tahu. Kalau kau memang tidak ingin merahasiakan bahwa kau adalah Hime, kau pasti akan memposting video dan bukannya hanya memposting suaramu dengan gambar matcha latte. Dan kau juga tidak akan ketakutan seperti ini. Hahahaha. Jadi, tenang saja. Mulutku terkunci rapat.” Chanyeol menggerakkan tangan di depan mulutnya seolah-olah sedang menutup risleting.

Aku mengerutkan keningku. Merasa tidak yakin. Apakah benar Chanyeol bisa menjaga rahasia?

Chanyeol sepertinya bisa merasakan keraguanku, karena itulah dia berkata. “Karena aku mengetahui rahasiamu, aku akan memberitahumu rahasiaku, Min Hyun ssi. Oh, bisakah aku hanya memanggilmu Min Hyun?”

Aku mengangguk. Chanyeol nyengir. “Kau juga panggil aku Chanyeol saja. Tidak perlu terlalu sopan padaku.”

Aku mengangguk lagi. Mataku masih menatap lantai.

“Aku…., mmmm…., sepertinya….. aku benar-benar menyukai Jun Hyo. Sepertinya aku memang jatuh cinta padanya.” Chanyeol berkata dengan suara beratnya yang khas, dengan nada dan intonasi seolah kalimat yang ia ucapkan barusan adalah hal yang paling berharga baginya.

Aku mengangkat wajahku dan tanpa sengaja melihat kedua bola mata Chanyeol yang berbinar-binar senang. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku saat menangkap bayangan masa depan yang tidak menyenangkan selama beberapa detik tadi.

“Sssstttt. Ini rahasiaku, Minhyun~ah. Kau harus menjaga rahasia ini, oke?” bisik Chanyeol dengan husky voice-nya yang khas. Aku mengangguk satu kali.

“Gomawooooooo, Min Hyun~ah!” Chanyeol menggoyang-goyangkan kedua lenganku ke kanan dan ke kiri dengan riang.

Aku hanya tersenyum tipis, tidak berani merusak kebahagiannya saat ini dengan memberitahunya tentang “bayangan masa depan” yang kulihat selama beberapa saat tadi lewat matanya. Kenapa setiap kali ketika tanpa sengaja aku menatap mata Chanyeol, aku selalu melihatnya menangis seorang diri?

Aku menatap bahu Chanyeol. Apa sebenarnya yang kau rasakan, lebih tepatnya…. apa yang akan terjadi padamu? Dan apa yang akan kau rasakan di masa depan nanti, Park Chan Yeol?

**********

 

Beberapa hari kemudian……..

Selesai ujian, saat aku berjalan melewati lapangan basket, aku melihat Minho dan Chanyeol sedang bertanding basket 1 lawan 1. Jun Hyo berdiri di pinggir, tak jauh dari lapangan. Mataku memicing saat melihat sosok seorang pria bermasker hitam dan bertopi fedora merah marun berjalan mengendap-endap di belakang Jun Hyo, dan ketika pria itu menyentuhkan sapu tangan ke hidung Jun Hyo, tubuh Jun Hyo langsung ambruk. Pria itu menahan tubuh Jun Hyo dengan kedua tangannya dan segera menggendong Jun Hyo.

Mataku membelalak lebar. Apa yang terjadi? Siapa pria misterius itu? Cepat-cepat aku berlari ke sebrang lapangan, mengejar pria bermasker dan bertopi fedora yang menggendong Jun Hyo. Orang-orang melihat ke arahnya dengan penasaran, tapi mungkin mereka tidak akan tahu bahwa gadis yang pria itu gendong adalah Jun Hyo karena  wajah Jun Hyo tertutupi topi fedora.

Sial! Pria itu berlari dengan sangat cepat, dan jarak kami tadi terlalu jauh. Pria itu kini sudah membawa Jun Hyo masuk ke dalam mobilnya.

“TUNGGUUU!” teriakku sambil terus berlari mengejar mobil. Aku tahu apa yang kulakukan ini percuma! Mobil range rover hitam itu sudah keluar dari gerbang kampus.

Bagaimana ini? Jangan-jangan pria itu menculik Jun Hyo untuk kemudian meminta uang tebusan….atau….membunuhnya?

Seandainya aku membawa mobil…..

“Min Hyunnie! Ooooiiiii! Kenapa kau lari-lari seperti dikejar setan?” Sebuah mobil Lamborghini orange berhenti di sampingku. Jang Hyun Seung melongokkan kepalanya dari jendela mobilnya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mendekatinya dan menarik tangannya sekuat tenaga.

“YAH! YAH! Ada apa? Tenang…tenang….aku keluar sekarang…. Kau kangen padaku? Aigooo….padahal kau bisa menungguku memarkir mobil, baru memelukku.” Hyun Seung membuka pintu mobilnya dan aku pun segera menariknya lengannya dan menyentakkan tubuhnya, membuatnya keluar dari mobil.

“Oppa, mianhae…” Aku segera masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu, dan tancap gas dengan kecepatan maksimal, meninggalkan Hyun Seung yang berdiri kebingungan.

Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku terlambat? Ke mana mobil itu pergi?

Aku menyetir dengan gila-gilaan. Menyalip semua kendaraan, dan tidak memedulikan lampu merah. Kalau kakakku tahu, aku pasti akan kena omel panjang lebar!

Aku mengandalkan instingku dalam mengambil jalan. Ke mana kira-kira pria itu membawa Jun Hyo pergi? Penculik tidak akan membawa korbannya ke tempat ramai. Jadi pasti pria itu akan membawa Jun Hyo ke tempat yang sepi seperti gudang bekas atau…… tunggu! Bukankah tak jauh dari sini ada gudang kardus bekas? Tapi apakah penculik itu memang akan membawa Jun Hyo ke sana? Jaraknya terlalu dekat dari kampus.

Aku berusaha mengingat-ingat detail mobil range rover hitam milik pria itu. Ada lumpur di ban belakangnya. Juga ada cipratan noda cokelat di kaca belakangnya. Daerah mana yang terdapat lumpur, sepi, dan jauh dari keramaian?

Berpikir! Berpikirlah dengan keras, Cho Min Hyun!

Berkali-kali aku tiba di tempat yang salah. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras sampai berdarah. Bagaimana kalau aku terlambat? Kalimat itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Entah kenapa feelingku mengatakan bahwa pria yang menculik Jun Hyo bukanlah menginginkan uang tebusan, tapi yang lebih buruk dari itu…..

Setelah sepuluh kali gagal, akhirnya aku tiba di tempat yang benar! Ternyata ada gunanya selama ini aku senang menonton film detektif! Aku jadi berpikir layaknya detektif, mengumpulkan fakta-fakta kecil yang terlihat.

Aroma minuman keras yang menyengat langsung tercium begitu aku memasuki gudang botol bekas. Benar saja, gudang ini terletak di jalanan jelek dan penuh lumpur. Aku harus meminta maaf pada Hyun Seung nanti karena telah membuat mobilnya kotor penuh lumpur. Tapi itu tidak penting sekarang, yang paling penting adalah keselamatan Jun Hyo!

Pintu besi gudang ini tidak dikunci. Aku masuk perlahan. Nafasku tertahan ketika melihat di bawah sana Jun Hyo diikat di kursi, meronta-ronta. Pria itu berjongkok di hadapannya sambil memegang jarum suntik.

“Mulai saat ini, kau milikku.” Pria itu mencengkram lengan Jun Hyo.

Sebelum pria itu menyuntikkan cairan apapun itu yang ada di tangannya, aku segera menyambar kursi kayu di sampingku dan melemparkannya ke bawah, tepat mengenai kening pria itu.

“SIAPA KAU?!” raung pria itu sambil meringis kesakitan. Dahinya mengucurkan darah.  Matanya yang liar mencari-cariku. Aku masih berdiri di tangga.

“Aku sudah memanggil polisi, jadi sebaiknya kau tidak macam-macam!” gertakku dengan tegas. Aku berbohong. Aku belum memanggil polisi. Kurasa aku memang bodoh dan gegabah! Harusnya aku memanggil polisi sebelum datang kemari!

Aku melompat melewati pegangan tangga dan langsung menendang lengan pria itu dengan keras, membuat jarum suntik yang dipegangnya terlepas dan menggelinding di lantai.

Aku segera melancarkan salah satu jurus judo andalanku. Memelintir lengan pria itu dan membanting tubuhnya sampai menabrak dan menghancurkan meja kayu. Tubuhnya terkapar di lantai. Nafasnya terengah-engah.

“Jun Hyo ssi, gwenchana?” tanyaku dengan cemas.

“Hiks…hiks….” Air mata Jun Hyo mulai mengalir.

Aku berjalan mendekati Jun Hyo. “Tenanglah….. semuanya baik-baik saja….“ Aku memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Jun Hyo memelukku dengan erat sambil terisak pelan.

Tiba-tiba terdengar suara raungan keras dari belakangku. “AWAS SAJA! AARRGHHHH!!!!!!!!”

“ANDWAEEEEEE!!!!” Jun Hyo menjerit, dan tiba-tiba saja ia membalikkan posisi berdiri kami.

“Arghh….” Jun Hyo merintih kesakitan saat pisau yang ditancapkan oleh pria itu mengenai punggungnya. Perlahan tubuhnya mulai terasa berat di lenganku.

Mataku membelalak lebar. “Kim Jun Hyo!” Aku menahan tubuhnya sebelum ambruk. Aku mengguncang-guncang kedua lengannya, berusaha membuatnya tetap sadar. “Jun Hyo~ya!”

“Ke.. kenapa— tidakk… aku tidak membunuh Hyo… tidak… aku tidak…” pria itu meracau sendiri. Wajahnya terlihat penuh kengerian.

“Jun.. Junhyo ya… “

“Gomawo Minhyun ssi….” Bisik Jun Hyo, selama beberapa saat mata kami bertatapan, kemudian ia tak sadarkan diri.

“JUNHYOOOOO!!!!!! KIM JUNHYO!! BERTAHANLAH!!” teriakku dengan panik.

“Aku tidak membunuh Hyo…. Aku tidak membunuh Hyo…..” Pria itu terus mengulangi kalimat itu. Matanya terlihat kosong.

Saat mataku dan Jun Hyo bertatapan tadi, aku melihat sedikit masa depan Jun Hyo. Meskipun dalam penglihatanku itu Jun Hyo terlihat menangis di tengah hujan, sambil berdiri di depan sebuah rumah sederhana, tapi itu berarti Jun Hyo akan hidup kan? Jun Hyo akan baik-baik saja kan?

Aku mengecek denyut nadi Jun Hyo. Lemah.

Tiba-tiba terdengar suara sirine nyaring. Polisi?

Terdengar derap langkah kaki. Lalu…..

BRUUUUK!

Tubuh pria yang menculik Hyo itu terpelanting jauh sampai menubruk rak kayu saat seseorang meninjunya dengan keras.

“Hyun Seung Oppa?” aku terkejut karena justru Hyun Seung lah yang datang bersama Kai, bukannya polisi. Lagipula aku memang belum memanggil polisi. Tapi bagaimana mereka bisa tahu aku ada di sini?

Kai memborgol lengan pria penculik itu dan segera menyeretnya keluar.  Hyun Seung membantuku menggendong Hyo.

“CHO MIN HYUN PABO! HARUSNYA KAU MEMBERITAHUKU APA YANG TERJADI! SEHARUSNYA KAU TIDAK PERGI KE SINI SENDIRIAN!” Hyun Seung berteriak sambil berlari menggendong Hyo yang tak sadarkan diri.

“Mianhaeyo….”

“Tsk! Cepat naik! Aku yang menyetir! Kita ke rumah sakit terdekat!”

*******************

 

Semua hal yang terjadi hari ini benar-benar membuatku tegang. Aku sadar, aku terlalu gegabah. Seharusnya aku tidak bertindak sendiri. Seharusnya aku memanggil polisi.  Seandainya saat itu Hyun Seung dan Kai tidak datang…., mungkin hal yang lebih buruk dari ini akan terjadi. Untunglah Hyun Seung bisa melacak mobilnya menggunakan GPS ponselnya sehingga dia bisa tahu dimana aku berada. Aku juga harus berterima kasih pada Kai yang telah datang dengan menggunakan mobil ayahnya yang merupakan seorang kepala kepolisian Gangnam, berpura-pura sebagai polisi, dan menangani masalah Kang Seung Yoon –  orang  yang menculik Jun Hyo.

Aku duduk di dekat ruang operasi. Hyun Seung pergi ke kantor polisi untuk membantu Kai menangani Kang Seung Yoon. Selama di perjalanan menuju rumah sakit, Hyun Seung banyak bercerita padaku tentang siapa itu Kang Seung Yoon, apa hubungan Kang Seung Yoon dengan Jun Hyo di masa lalu, dan aku pun jadi tahu ternyata Hyun Seung adalah sepupu Jun Hyo.

“Min Hyun~ah! Bagaimana keadaan Hyo?” Chanyeol datang dengan nafas terengah-engah.

“Masih di ruang operasi.” Jawabku dengan suara bergetar pelan. Aku takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Hyo.

Chan Yeol menghempaskan tubuhnya ke kursi di sampingku. Kedua tangannya menelungkup, menutupi wajahnya. Aku bisa mendengar suara isak tangisnya yang pelan.

Tak lama kemudian, Suho datang sambil berlari. Wajahnya yang lembut jadi terlihat tegang dan penuh kekhawatiran.

“Min Hyun~ah.., seharusnya kau langsung menelepon polisi….” Suho berdiri di hadapanku dan menatapku seolah aku telah melakukan suatu kesalahan besar.

Aku menunduk. “Aku tahu. Maafkan aku, Suho Oppa. Seharusnya aku segera memanggil polisi dan tidak bertindak sendiri, sehingga Jun Hyo tidak akan….”

Tanpa kuduga, Suho memelukku dengan erat. Air matanya yang hangat membasahi pundakku. “Pabo~ya….” Suho berbisik pelan, tapi masih bisa kudengar. “Bukan hanya Hyo, tapi kau juga. Aku juga mengkhawatirkanmu….”

Aku hanya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Suho melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipinya, lalu mengerutkan keningnya dalam-dalam saat melihat luka-luka di kedua tanganku.

“Tidak apa-apa, hanya lecet biasa. Aku sudah mengobatinya.” Aku menyembunyikan tangan kananku, yang terluka lebih parah dibanding tangan kiri, di balik punggungku. Suho tidak akan percaya bila ini hanya luka lecet biasa, karena tadi aku memasang perbannya dengan terburu-buru, perban di tanganku ini jadi tidak melilit dengan sempurna, dan darah yang mengering di sana-sini masih bisa terlihat dengan jelas, belum sempat kubersihkan. Aku hanya membersihkan sumber luka nya saja.

Sebelum Suho sempat berkomentar, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Suho langsung menghampirinya. “Dokter…bagaimana keadaan adikku?”

“Stock darah A di rumah sakit ini habis. Kami butuh donor.”

Suho mengerutkan keningnya. “Aku bisa menjadi donor. Tapi dokter, kau salah! Golongan darah Hyo B, sama sepertiku dan juga ayah ibu kami.”

Dokter itu menggeleng. “Kami sudah mengeceknya. Golongan darah Kim Jun Hyo adalah A.”

“Tapi….” sebelum Suho sempat berdebat lagi, Chanyeol langsung berdiri dan mendekati dokter itu. “Golongan darahku A.”

************

 

Syukurlah operasi Jun Hyo berhasil. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, aku pun pulang karena Suho memaksaku untuk pulang. “Kau harus pulang, Min Hyun~ah. Makan, tidur, dan beristirahatlah. Gomawo…., karena sudah menolong adikku. Kalau tidak ada kau…, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Hyo.” Suho tersenyum lebar, tapi kedua matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. Aku memalingkan mataku saat tanpa sengaja menatap matanya. Aku melihat “bayangan masa depan” Suho. Aku melihatnya berdebat dengan seorang pria tua yang mirip dengan dirinya. Ayahnya kah?

“Aku akan mengantarnya….” Hyun Seung yang baru saja datang langsung berkata demikian sambil menarik tanganku. Aku pun terpaksa mengikutinya sambil sesekali menoleh ke belakang. Suho masih menatapku dari kejauhan. Tapi kini senyumnya telah lenyap.

“Tunggu sampai aku melaporkanmu pada Kyu Hyun hyung!” ancam Hyun Seung. Dia mendorongku masuk ke dalam mobilnya. Sepertinya dia sudah membersihkan mobil mewahnya itu dari lumpur dan tanah.

Aku hanya terdiam. Aku tahu, aku memang salah.

Hyun Seung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan terus mengomel, “Bagaimana kalau kau terluka parah? Atau bagaimana kalau Kang Seung Yoon membunuhmu, hah?! Kau mau membuat hidup Kyu Hyun hyung merana?!”

Hyun Seung menoleh padaku sekilas. “Tapi……. harus kuakui, kau memang pemberani, Cho Min Hyun! Jjang!” kata Hyun Seung tiba-tiba sambil nyengir lebar dan mengacungkan ibu jarinya padaku.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang menyaksikan sifatnya yang berubah-ubah dalam sekejap, seperti bunglon. Dasar bipolar!

“Jadi, apakah kau akan melaporkanku pada kakakku?”

Hyun Seung mengangkat bahunya. “Mungkin ya, mungkin tidak. Kita lihat saja nanti. Sekarang…..aku sangat lapar! Kau mau makan apa, Min Hyun? Aku akan mentraktirmu. Oh, kau harus ganti bajumu yang compang-camping, kotor, dan penuh noda darah itu sebelum kau pulang , atau…..Kyu Hyun hyung akan membunuhku karena dia mengira aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Tsk!” Hyun Seung berdecak kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kita ke rumahku saja kalau begitu?” tanpa menunggu jawabanku, Hyun Seung pun langsung membawa mobilnya menuju rumahnya.

************

 

“Itu rumah Hyo dan Suho.” Kata Hyun Seung begitu kami melewati sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi. Rumah itu terlihat….. dingin dan sepi.

“Rumahku cukup dekat dari sini.”

Benar saja. 5 menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya klasik yang tak kalah mewahnya dengan rumah Hyo.

Hyun Seung sudah keluar dari dalam mobil dan menungguku keluar, tapi aku tetap duduk di dalam. “YAH! Cepat keluar!”

“Tapi…..” Aku menatap rumahnya dengan ragu.

“Tenang saja. Di rumah ini hanya ada aku dan para pelayan. Tidak ada orangtuaku, tidak ada saudaraku. Aku anak tunggal.”

Aku masih terdiam. Justru karena dia hanya tinggal sendiri itulah yang jadi masalahnya! Kakakku mengajarkanku untuk tidak masuk ke rumah laki-laki seorang diri.

Seolah bisa membaca pikiranku, Hyun Seung berseru “YAH! Kau takut aku akan melakukan hal yang aneh-aneh padamu? Tsk! Kau tenang saja, Cho Min Hyun. Aku justru lebih takut padamu. Sepertinya teknik Judo-mu jauh lebih hebat dariku. Ayo cepat keluar!” tukas Hyun Seung tak sabar.

Aku menghela nafas panjang dan akhirnya keluar dari dalam mobil, mengikuti Hyun Seung masuk ke dalam rumahnya.

“Mandi, lalu pakai baju ini. Kaus ini masih baru dan belum kupakai. Aku baru membelinya minggu lalu. Celana jins-nya pasti kebesaran untukmu, tapi masih lebih baik dibanding memakai celana jins robek dan kotormu itu.” Hyun Seung menyerahkan celana jins dan kaus hitam gombrang ke tanganku.

Aku terlalu lelah untuk berpikir, jadi aku hanya menurut saja. Mungkin setelah mandi nanti otakku akan kembali fresh.

Tiga puluh menit kemudian, setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku pun turun ke lantai 1 dan berjalan menuju dapur saat mencium aroma yang menggiurkan. Perutku keroncongan. Ternyata aku memang kelaparan!

“Ayo makan!” Hyun Seung berkata sambil menyiapkan piring untukku.

Aku mengerutkan keningku. Makanan ini terlalu banyak, terlalu mewah, dan terlalu mustahil dibuat oleh seseorang seperti Hyun Seung.

“Pasti bukan kau kan Oppa yang memasak semua makanan ini?” kataku sambil duduk.

Hyun Seung mendengus. “Tentu saja bukan! Apa gunanya punya pelayan?!”

Aku mengangguk. Tentu saja. Mana mungkin Jang Hyun Seung bisa memasak! Terkadang drama-drama yang ditayangkan di TV terlalu berlebihan. Di dunia nyata….mana ada pria yang sempurna!

Selama makan, Hyun Seung banyak bercerita banyak hal. Seperti biasa, dia memang cerewet dan aneh. Tapi aku tidak keberatan, karena dia sudah menolongku. Cukup kali ini saja aku akan mentolerir suara tawa anehnya yang memekakan telinga.

Tiba-tiba aku teringat Jun Hyo dan Suho di rumah sakit tadi. Bagaimana Suho bisa salah mengenai golongan darah adiknya sendiri?! Padahal Suho tidak terlihat seperti seorang kakak yang cuek. Justru sebaliknya, dia terlihat seperti seorang kakak yang sangat perhatian pada Hyo. Mungkin sama seperti Kyu Hyun Oppa padaku. Tapi kenapa dia bisa sampai tidak tahu apa golongan darah adiknya sendiri?!

Golongan darah Suho B. Suho berkata…..ayah dan ibu mereka pun B. Seandainya orangtua mereka bergolongan darah B dominan, maka semua anak mereka akan bergolongan darah B. Tapi bila mereka bergolongan darah B resesif, maka anak-anak mereka akan bergolongan darah B atau O.

Lalu kenapa Jun Hyo bergolongan darah A? Apa mungkin…….

“Hyun Seung Oppa, apakah….. Suho Oppa dan Jun Hyo memiliki ibu yang berbeda? Atau ayah yang berbeda?” tanyaku.

Hyun Seung menatapku agak lama, kemudian menggeleng. “Tidak.”

Suasana menjadi agak canggung. Sepertinya aku telah menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya dibahas. “Maaf.” Gumamku.

Hyun Seung tertawa. “Kenapa minta maaf?! Hahahaha. Tapi….., kenapa kau mengira demikian, Min Hyunnie? Wajah mereka berdua memang tidak terlalu mirip, apalagi sifatnya. Seperti angel dan devil!” Hyun Seung bergidik ngeri, tapi ia tersenyum, dan aku bisa tahu bahwa sebenarnya dia menyayangi kedua sepupunya itu, termasuk Hyo yang dia sebut sebagai “devil”.

“Tapi tentu saja mereka saudara kandung. Saat masih bayi sampai balita, teman bermainku hanya mereka berdua.” Hyun Seung terkekeh.

Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Mungkin memang ada yang salah. Tapi itu bukan urusanku, dan aku tidak berhak mencampurinya.

*************

 

Malam hari, sebelum aku tidur, aku menyempatkan diriku untuk mengecek e-mail. Ternyata Diva sudah mengirimiku e-mail sejak tadi pagi.

 

Dear Hime,

Aku mengalami mimpi-mimpi buruk itu lagi. Aku tidak tahu mengapa aku selalu memimpikan hal yang sama berulang kali. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak-anakku saat ini, karena itulah aku memimpikan hal buruk dalam tidurku. Apakah ini pertanda?

Tapi kemudian aku sadar, bahkan Tuhan pun akan menganggapku tidak berhak diberitahu atas apa yang terjadi pada anak-anakku. Mungkin mimpi-mimpi buruk ini hanyalah visualisasi dari perasaanku, ketakutan-ketakutanku, kerinduanku. Aku sangat ingin menemui mereka, tapi aku merasa tidak berhak. Aku merasa tidak pantas. Aku adalah ibu yang buruk dan jahat bagi mereka.

Hime, kau bilang umurmu sekarang 20 tahun kan? Anak-anakku juga sekarang berumur 20 tahun. Kadang aku berandai-andai…., seandainya saat ini aku berkirim pesan dengan anak-anakku….

Aku bahkan tidak tahu wajah mereka sekarang seperti apa. Aku tidak sempat melihat mereka tumbuh besar. Aku ibu yang buruk.

Maafkan aku, Hime-chan. Aku terlalu banyak mengeluh akhir-akhir ini. Ngomong-ngomong, bagaimana ujian tengah semestermu? Kau pasti akan mendapat nilai yang bagus, Hime-chan. Nikmatilah waktu luangmu dan waktu mudamu. Kapan kau akan memberitahuku tentang siapa pria yang menarik hatimu?

Kau baik, Hime-chan. Aku yakin kau akan bertemu dengan pria yang baik. Atau…, apakah kau ingin aku jodohkan dengan anak laki-lakiku? Tapi mungkin kau tidak ingin punya ibu sepertiku. Bahkan anakku pun dulu membenciku.

Mulai minggu ini aku akan sangat sibuk. Fashion show design-design terbaruku akan digelar dalam skala internasional! Akan ada designer-designer terkenal dari seluruh dunia yang akan datang ke Prague.  Aku sudah tidak sabar. Kuharap aku bisa segera menjadi fashion designer yang diakui oleh seluruh dunia, dan bukan hanya dipandang sebagai mantan supermodel, supersinger,  dan superdiva. Aku ingin diakui sebagai fashion designer.

Hime-chan, aku ingin memberimu dress rancanganku. Kau sudah banyak membantuku, menasehatiku meskipun aku lebih tua darimu. Mungkin dress itu tidak ada apa-apanya dibanding waktu yang telah kau korbankan untuk membalas e-mail e-mail keluhanku. Apakah kau keberatan memberitahuku alamat rumahmu?

Sudah 3 tahun lebih kita berkirim e-mail. Aku menyukaimu, Hime-chan. Kau terasa seperti anak yang tak bisa kumiliki. Apakah kau keberatan bila kita mulai saling memperkenalkan diri kita yang sebenarnya? Kalau kau keberatan, tidak apa-apa.

Aku menyertakan scan foto anak-anakku. Anak pertamaku, ketika ia berumur 5 tahun, lalu anak kembarku ketika mereka masih bayi.

Seandainya waktu bisa diputar kembali.…..

 

P.S : Aku menunggumu mengunggah lagu barumu di youtube.

 

Salam hangat,

Diva

 

 

 

 

Aku membuka file foto yang di-attach oleh Diva, kemudian tersenyum melihat seorang anak perempuan berambut panjang dikepang yang sedang berdiri di samping sebuah tempat tidur bayi. Di atas tempat tidur itu terbaring dua orang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Aku bisa tahu karena baju yang mereka kenakan berbeda. Bayi perempuan memakai rok.

Aku pun mulai mengetik e-mail balasan untuk Diva.

 

Dear Diva,

Aku memang tidak tahu kesalahan apa yang telah kau lakukan di masa lalu. Tapi bukankah berlebihan dengan menganggap bahwa Tuhan tidak akan memaafkanmu? Bahwa anak-anakmu tidak merindukanmu juga? Bahwa anak-anakmu akan selamanya membencimu?

Kenyataan bahwa kau masih memikirkan anak-anakmu hingga sekarang adalah bukti bahwa kau adalah “ibu” mereka. Kalau kau benar-benar jahat, kau tidak akan memikirkan mereka.

Pria yang menarik hatiku? Entahlah. Aku tidak tahu. Mungkin aku belum bertemu dengan orang yang tepat. Tapi akhir-akhir ini entah kenapa aku selalu memikirkan kedua pria itu. Mungkin karena sifat mereka yang bertolak belakang?

Kau tidak perlu repot-repot memberiku hadiah, Diva. Sungguh, aku juga berterima kasih padamu karena sudah menasehatiku tentang banyak hal. Bagiku…, kau pun terasa seperti seorang ibu yang tak lagi kumiliki. Mendiang ibuku pasti akan merasa sangat senang di surga sana saat melihatmu begitu memperhatikanku seperti saat ini. ^_^.

Aku tidak keberatan memberitahumu mengenai identitas asliku. Aku juga tidak akan keberatan seandainya kau memintaku untuk membantumu mencari anak-anakmu.

Fashion show-mu pasti sukses, Diva! Semoga suatu hari nanti aku bisa menyaksikan fashion show-mu secara langsung. ^^

 

P.S. Aku akan mengunggah lagu baruku besok malam. ^_^.

Kau tidak perlu memberiku dress itu. Tapi kau bisa tahu siapa nama asliku. Cho Min Hyun. Itu nama asliku.🙂

 

Salam hangat,

Hime

 

**************

 

 

Hari-hari berlalu, kuliah berlangsung normal seperti biasa. Jun Hyo sudah kembali masuk kuliah. Beberapa kali aku berpapasan dengannya di koridor dan di taman. Kurasa hubungan kami tidak seburuk sebelumnya.

Aku tidak tahu kenapa aku selalu merasa sudah mengenal Jun Hyo sejak lama. Ada sesuatu tentang dirinya yang membuatku merasa familer dengannya.

Aku sering berpikir….jangan-jangan Jun Hyo juga memiliki “kekuatan aneh” sepertiku. Entahlah. Itu hanya instingku dan pengamatan sekilasku saat berada di dekatnya. Pernah beberapa kali aku mendapati Jun Hyo tersentak kaget saat menyentuh benda, atau ketika menyentuhku. Seolah ia bisa melihat sesuatu melalui sentuhan. Sama sepertiku yang bisa melihat sesuatu lewat tatapan mata langsung.

Apakah Hyo bisa melihat masa depan lewat sentuhan? Bisakah ia mengetahui apa masa depanku? Karena aku tidak bisa melihat masa depanku sendiri. Aku ingin bertanya padanya, tapi rasanya tidak tepat. Bagaimana kalau semua itu hanya asumsi kosongku? Bagaimana kalau Hyo jadi menjauhiku lagi karena aku aneh?

Bisa melihat masa depan….., siapa yang akan percaya omong kosong seperti itu?! Lagipula…. apa gunanya bisa melihat masa depan? Hal-hal yang seharusnya terjadi pasti akan terjadi. Masa depan bisa berubah, tapi tidak semuanya. Ada sesuatu bernama “takdir”, yang tidak akan bisa diubah bagaimanapun caranya.

Lalu bagaimana dengan masa lalu? Sama seperti takdir, masa lalupun tidak bisa diubah. Masa lalu sudah terlewati, sudah terlalu jauh berada di belakang. Sekeras apapun kita mencoba, mustahil untuk bisa kembali ke masa lalu.

************

 

Aku sedang melihat hasil ujian tengah semester yang dipampang di papan pengumuman fakultas kedokteran ketika mendengar sebuah suara lembut tepat di samping kiri-ku.

“Min Hyun~ah, bagaimana kalau kau makan malam bersama aku, Hyo, dan Chanyeol?”

“Eh?” Aku kaget karena tiba-tiba saja Suho mengajakku makan malam bersamanya.

Suho tersenyum lebar, seperti biasa. “Kita makan malam di apartemenku. Kali ini giliran aku masak, tapi aku meminta bantuan Chanyeol juga. Sudah lama aku tidak makan malam bersama Hyo. Aku ingin mengajakmu karena…….” Suho terdiam sejenak, kemudian kembali bicara dengan nada yang terlalu cepat. “Karena kau sudah menolong Hyo.”

Aku tersenyum. “Suho Oppa, aku kan sudah bilang…. Jangan mengungkit hal itu lagi. Aku tidak ingin mengharapkan imbalan apapun.”

Raut wajah Suho langsung berubah. Terlihat seperti…..kecewa?

Aku pun cepat-cepat berkata. “Aku akan datang.”

Raut wajah Suho berubah ceria lagi. “Sungguh?”

“Hmmm.” Aku mengangguk. Tidak ada salahnya mencoba bersosialisasi kan? Lagipula mereka bukan orang-orang yang asing bagiku. Suho Oppa, Chanyeol, Hyo. Aku ingin mengenal mereka lebih dekat.

“Kalau begitu….., bisakah kau menungguku selesai kuliah jam 5 sore nanti? Hmmm, tapi terlalu lama. Ah! Aku tahu! Kau pergi duluan saja bersama Chanyeol, belanja. Aku akan menyusul nanti bersama Hyo. Lagipula Hyo harus pergi ke kantor ayah dulu untuk mengurus sesuatu. Aku akan menjemput Hyo di kantor nanti.”

Aku mengangguk. “Oke.”

Suho tersenyum lebar. “Sebentar, aku telepon Chanyeol.”

Suho memberitahu Chanyeol tentang rencananya. Sambil menunggu, aku kembali melihat papan pengumuman. Nilai-nilaiku bagus, tapi masih kalah dibanding Choi Min Ho. Nilai-nilai Min Ho sempurna, baik teori maupun praktek. Sepertinya dia memang berbakat menjadi dokter.

 

Suho mengantarku menemui Chanyeol di tempat parkir. Chanyeol sudah siap di atas motor nya sambil nyengir lebar dan melambaikan tangan dengan riang.

“Ini helm nya.” Chanyeol menyerahkan helm padaku, tapi Suho menahan lengannya.

“Jangan pakai motor!” tukas Suho tiba-tiba.

“Mwo? Hyung! Kalau tidak pakai motor, lalu pakai apa? Min Hyun sudah tidak pernah bawa mobil lagi. Naik bus terlalu lama. Naik taksi terlalu mahal. Tenang saja hyuuuung, aku mengemudi dengan aman. Aku pengemudi yang handal.” Chanyeol membusungkan dadanya sambil menepuk-nepuk dadanya dengan raut wajah bangga.

Suho masih mengerutkan keningnya, seolah tak setuju dengan Chanyeol. “Jarak kalian terlalu dekat kalau naik motor.”

Kontan aku dan Chanyeol langsung melihat Suho dengan heran. Suho gelagapan, dan cepat-cepat menambahkan. “Dan tidak aman!”

Chanyeol nyengir lebar sambil menatap Suho dengan tatapan jahil. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti.

“Pakai mobilku saja. Nanti aku akan panggil supir di rumah ayah.” Suho melemparkan kunci mobilnya pada Chanyeol, yang langsung Chanyeol tangkap dengan mudah.

“Oke….oke….hyung. Demi dirimu, aku akan naik mobil dan meninggalkan motor kesayanganku di sini.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya pada Suho. “Minhyun~ah…, ayo!” Chanyeol menuntun tanganku sambil tertawa terbahak-bahak dan sesekali menoleh ke belakang, ke arah Suho. Dasar aneh! Kenapa dia tertawa-tawa tanpa sebab seperti orang idiot?!

************

 

“Min Hyun~ah, sebelum belanja, tidak apa-apa kan kalau pergi ke rumah ayah dan nuna-ku dulu? Aku mau mengirimi mereka kimchee buatanku.” Chanyeol terkekeh.

Aku mengangguk. “Hmm. Tidak apa-apa.”

Selama di perjalanan, Chanyeol tak henti-hentinya bernyanyi. Aku hanya tersenyum. Suaranya cukup bagus. Dia memintaku ikut bernyanyi, tapi aku tidak mau. Aku tidak pernah bernyanyi di hadapan orang lain secara langsung.

Rumah ayah Chanyeol berada jauh dari kampus. Rumahnya sederhana, tapi terkesan hangat.

Mobil milik Suho berhenti di depan pagar. “Sebentar ya, Minhyun. Aku tidak akan lama.” Chanyeol nyengir lebar, lalu keluar dari mobil.

Aku mengamati rumah Chanyeol. Anehnya, rumah ini terasa tidak asing. Apakah aku pernah datang kemari? Atau….dimana aku pernah melihat rumah ini?

Aku tersentak ketika mengingat sesuatu. Penglihatan masa depan Jun Hyo! Aku melihat Jun Hyo menangis di tengah hujan lebat sambil berdiri di depan pagar rumah ini.

Beberapa menit kemudian, Chanyeol datang. “Tidak lama kan? Hehehe….” Chanyeol kembali mengemudi.

“Chanyeol, bagaimana….hubunganmu dengan Jun Hyo?” tanyaku.

“Hmmmm, aku tidak tahu. Kadang…..aku merasa dia menyukaiku juga, tapi kadang tidak. Aku tidak tahu.”

Aku mengangguk. Mengapa dalam penglihatanku akan masa depan…. Jun Hyo menangis di depan rumah Chanyeol? Apakah di masa depan nanti mereka akan menghadapi masa-masa sulit? Mungkin pertengkaran hebat antara kekasih? Entahlah. Aku hanya ingin melihat Chanyeol dan Jun Hyo bahagia. Karena mereka teman-temanku.

“Chanyeol, mmmmm…, di masa depan nanti, kuharap kau bisa membahagiakan Hyo. Apapun yang terjadi, kuharap kau bisa membuatnya bahagia. Mungkin dia akan menangis karenamu, tapi kuharap kau tidak membuatnya selalu menangis. Kau bukan bad boy kan?”

Chanyeol tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha….Hahahaha…, Minhyun~ah! Kau harus mendengar nada suaramu barusan! Kau terdengar seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya! Huwahahaahha…..”

“YAH!” bentakku dengan kesal. Aku menonjok lengannya tanpa melihatnya.

“Ouch! Sorry….sorry. Hahahaha. Ehem.” Chanyeol berdehem pelan. Saat dia berbicara lagi, nada suaranya terdengar serius. “Tenang saja, aku sudah bersumpah akan selalu membuat Hyo bahagia.”

Aku tersenyum. “Aku akan pegang janjimu, Park Chan Yeol!”

Chan Yeol hanya meringis. “Jangan pukul aku lagi, oke?”

Aku mengangkat kedua bahuku. “Tergantung.” Lalu kami pun tertawa. Sedikit demi sedikit pertemanan kami mulai terasa tidak canggung lagi. Yah, kuharap aku memang bisa memegang janjinya. Aku tidak tahu kenapa aku mulai merasa Hyo seperti saudara perempuanku sendiri. Mungkin karena aku tidak pernah punya saudara apalagi teman perempuan.

**********

 

Saat berbelanja di supermarket, ponselku berdering. Ada notifikasi e-mail. Chanyeol yang mendorong trolley, jadi aku bisa bebas memakai ponselku. Ternyata ada e-mail dari Diva.

 

Dear Hime,

Cho Min Hyun? Nama yang sangat cantik. Namaku Park Jun Ah. Senang bisa mengetahui siapa nama aslimu, Hime-chan.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Hime-chan. Aku adalah wanita yang keji. Aku tidak pantas disebut “ibu” oleh anak-anakku.

Foto yang kumiliki tentang mereka hanyalah foto yang sudah kukirim padamu minggu lalu. Aku juga punya foto rumah kami dulu. Entahlah mereka masih tinggal di sana atau tidak.

Maaf aku tidak bisa menulis terlalu panjang. Aku benar-benar kewalahan dengan persiapan fashion show-ku.

Semoga harimu menyenangkan, Hime-chan….. Min Hyun~nie.

 

Salam hangat,

Diva

 

 

Park Jun Ah? Rasanya namanya tidak asing. Aku segera browsing nama Park Jun Ah di internet. Banyak sekali berita tentang karier-nya di masa lalu. Benar saja! Dulu dia adalah penyanyi dan model legendaris Korea. Dia berhenti dari karier-nya secara mendadak dan tanpa alasan yang jelas, 22 tahun yang lalu.

Kemudian aku membuka foto yang di-attach oleh Diva alias Park Jun Ah ssi.

Foto sebuah rumah?

Ya Tuhan! Bukankah ini foto rumah Chanyeol?

Apakah itu berarti anak yang dimaksud oleh Diva adalah Chanyeol? Tapi setahuku Chanyeol tidak punya saudara kembar. Atau mungkin….punya? Mungkin saudara kembarnya meninggal saat masih kecil?

“Min Hyun~ah, kau tidak alergi makanan laut kan?” Chan Yeol yang sudah berjalan cukup jauh dariku bertanya dengan suara keras.

Cepat-cepat aku berlari menyusulnya. “Tidak.” Jawabku. “Chanyeol, ibumu…., ada di mana?”

Chanyeol tertawa. “Tentu saja di rumah. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang ibuku? Aaaah, apakah karena tadi aku tidak mengajakmu masuk ke rumahku? Hehehe. Aku malu karena rumahku tidak sebagus rumahmu. Selain itu ayahku sangat bawel. Dia pasti akan bertanya macam-macam padamu.”

Aku hanya tersenyum tipis. Mungkin Park Jun Ah bukan ibu Chanyeol. Mungkin Chanyeol dan keluarganya tinggal di rumah itu setelah rumah itu dijual oleh keluarga Park Jun Ah.

Aku mulai membalas e-mail Diva.

 

Dear Diva / Park Jun Ah ssi,

Siapa nama anak-anakmu? Mungkin aku bisa membantumu mencari mereka……

 

 

–          TBC –

 

 

From Azumi : Comment, please! Maaf banget yaaaaaaa beresin part 6 ini se-abad lamanya! Hahahaha. Lagi riweuh banget bulan ini, terus mood buat nulis HF part 6 ini juga naik turun. *banyak alesan* Kabuuuuur bareng Nam Tae Hyun sebelum di demo readers lagi. LOL

17 thoughts on “Hidden Fates (Chapter 6)

  1. Akhirnyaaaaaa update!! Yeheeeet~ biasanya aku baca+comment di blog nya kak kunang, tapi kali ini aku langsung baca di blog kakak.. /oke ini ga penting/
    Jangan jangan……………….. Chanyeol dengan Junhyo dengan ‘Diva’…………………… Hmmmmmmmmmm………
    Ga tauu deeeeh.. Penasaraan pokoknya intinya.. Teruuus.. Suho keliatan banget ya kayaknya suka sama Minhyun :’)
    Next chapter kak Kunang kan? Hmmm.. Siap-siap deh suatu saat neror kak Kunang :’) fightingg ya buat kak Azura dengan kak Kunang! ^^

  2. Akhirnya, boleh aku nebak siapa anak kembar itu?? Bener gak anak kembar itu hyo sama chanyeol? Ya ampun aku penasaran banget, next chapter jangan lama-lama ya

  3. Kenapa aku ngerasa kalau chanyeol sama jun hyo itu adik-kakak ya?? Bener gak sih eon??
    Jujur ya eon aku suka pas suho-minhyunnya, kalau bisa banyakin part mereka…
    Next chapter nya jangan lama-lama ya eon… Fighthing (‘O’)9

    • Bener gak yaaaa? Liat aja entar….hehehe
      Suho-minhyun? Okeeee ntar aku bilangin k suho sama minhyun biar sering ngobrol. Wkwkwk

      thanks yaaa udah baca + comment 😉

  4. yeay, akhirnya di post juga…./loncat2/
    mikir jangan2 hyo sama chanyeol………… aaahhh makin super duoer penasaran kkelanjutannya. Eonni daebak. #hwaiting

  5. entah kenapa aku mikir hyo sm chanyeol itu yg kembar sedangkan minhyun anak yg satunya lagi/? Entahlah hanya insting wkwkwk. Kerennnn, next next

  6. akhir’a di publish jg ni Ff ,😀 aishhh rahasia smkin lama smkin terkuakk ~.~ #kkkk mkin pnsaran ni chingu , wkwk

  7. akhir’a di publish jg ni Ff ,😀 aishhh rahasia smkin lama smkin terkuakk ~.~ #kkkk mkin pnsaran ni chingu , wkwk next chap di tnggu

  8. Eonnni!!! akhirnnya ada lanjutan HF juga, ceritannya jjang!
    aku lama banget nggak mampir ke sini, Powerlessnya juga belum dibaca ㅋㅋㅋ nanti deh

    wah, makasih buat Min hyun yg udah nolongin Hyo, & suho udah mulai nunjukin ‘rasa’ sama Min Hyun,,

    Oh, apa yg terjadi di masa lalu? siapa itu Diva? dan kenapa Hyo bisa golongan darahnya beda sama keluarganya atau,,,,, solma,, Hyo kembarannya Chanyeol!!!! Andwae!!!! ah, eonni jebal, jangan sampe spekulasiku ini benar ya eonni,,,
    semoga Hyo yang nangis di depan rumah Chanyeol hanya pertengkaran kekasih😀

    Eonni 짱!!!

  9. Biarpun udah ada chap. 7 aku tetap komen, hehehe. Kemaren udah baca chap 6 nya, tapi kena ‘sindrom’ males komen, hehe *dijitak. Miaaann, aku selalu telat komenn >,< Soalnya, dah lama gak buka intenet.
    Boleh cerita dikit ya? Sebenarnya aku dah baca sampe chap.3, tapi aku entah kenapa, gak mood baca HF nya, *mmiiaann. Soalnya, kayak gimana ya? Aku kurang suka jalan cerita awal2 nya, hehe. tapi, sekarang jadi suka ^^ terutama ma MinHyun<3 Aku jujur lho, hehehe. Lanjut chap 8 nya MIi😄❤ Aku mau baca chap.7 nya *ngacir ke blog Kunang Hotaru. Semangat terus ya, bareng Kunang❤ Powerless, di tunngu :3

    • Wkwkwk…..aku sendiri pun ngerasa FF ini terlalu “drama”. Biasanya klo FF series senengnya nulis yg fantasy nya kuat. Hehehe.
      Huwaaaaa….asyik deh Minhyun punya fans.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s