Powerless (Chapter 5)

 

Title                 : Powerless

Author               : Azumi Aozora

Main Cast       : Kim Mi Rae (OC), Lee Hong Bin (VIXX), Zelo (B.A.P), Kai (EXO)

Support Cast  : VIXX, B.A.P, EXO, SNSD, f(x), Ahn Jae Hyun, Lee Soo Hyuk, Lee Jong Suk, Kim Woo Bin, and some model-actors as cameo

Genre              : fantasy, romance, friendship, AU, school life, adventure

Rating             : PG+15

Length               : Series

Summary        : ROVIX Senior High School bukanlah sekolah biasa, melainkan sekolah special untuk orang-orang yang memiliki kekuatan super. Terletak di Planet Mato yang berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi, ROVIX School memiliki banyak sekali murid dari berbagai planet di seluruh jagad raya. Apa yang terjadi jika suatu hari, Kim Mi Rae, gadis bumi biasa, manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan super apapun, tiba-tiba saja mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di ROVIX School? Sanggupkah ia bertahan? Apa yang akan ia lakukan di saat semua murid membencinya dan melakukan berbagai cara agar ia dikeluarkan dari sekolah?

Disclaimer       : Cerita ini hanya fan-fiksi. Tokoh-tokohnya K-Pop, karakternya ada yang sesuai asli ada juga yang tidak. Ide dan alur cerita milik author, dilarang copas / plagiat! Ingat, karma itu berlaku. Just enjoy the story as fans. ^_^.

poster powerless

Pengenalan ROVIX School || || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

 

~~~ Chapter 5  ~~~

======= Kim Mi Rae PoV =======

Aku masih berada di klinik sampai jam makan malam tiba. Prof.Daehyun memberiku semangkuk sup hangat, biskuit, dan susu. Kai masih tertidur. Guru-guru datang silih berganti untuk menjenguk Kai, tapi tidak tinggal terlalu lama di klinik. Sepertinya mereka semua sudah dengar apa yang sebenarnya terjadi dari Prof.Suho dan Prof.Yong Guk, sehingga Prof.Daehyun tidak perlu menjelaskan ulang.

Aku penasaran apa yang digossipkan murid-murid ROVIX tentang Kai saat ini. Selain aku, tidak ada murid lain yang tahu tentang kemungkinan bahwa naga yang menyerang Kai adalah naga yang dibawa oleh penduduk planet Crowns.

Aku dan Prof.Daehyun duduk tak jauh dari ranjang Kai. Sesekali, lewat sudut matanya, Prof.Daehyun mengawasi Kai. Dia sangat sensitif terhadap sedikit saja perubahan denyut nadi maupun nafas yang dihembuskan oleh Kai. Terkadang dia berhenti makan sejenak untuk mendekati Kai, memegang dada Kai yang dibalut perban sampai seberkas sinar kuning pucat terlihat, lalu kembali makan.

Aku menduga luka-luka yang Kai alami sangatlah parah. Kalau tidak, mengapa Prof.Daehyun berkali-kali menggunakan kekuatannya?

“Apakah ada yang ingin kau tanyakan, Mirae?”

Tanpa sadar, aku menatap Prof.Daehyun terlalu lama sampai-sampai Prof.Daehyun mengira aku memiliki pertanyaan untuknya.

Aku menggeleng. “Tidak.”

Prof.Daehyun tersenyum. “Setelah selesai makan, kembalilah ke asramamu, Mirae.”

“Kai…, kapan dia akan sadar?” tanyaku ragu-ragu. Bagaimana kalau Kai tidak akan pernah sadar selamanya? Aku tahu, Kai bukan temanku. Hubungan kami tidak pernah baik. Aku membencinya karena sikapnya yang sombong, playboy, dan mengesalkan! Tapi aku tidak ingin Kai berada dalam kondisi seperti ini terus selamanya. Selain itu.., aku memiliki pertanyaan untuknya. Mungkin ini hanya pikiran paranoid-ku saja, tapi aku merasa kejadian yang Kai alami ini ada hubungannya dengan “kabur”-nya sepupuku, Ahn Jae Hyun, dari planet Crowns.

Prof.Daehyun memalingkan wajahnya, menatap Kai dengan pandangan menerawang. Matanya terlihat kosong.“Aku…….tidak tahu.”

Aku tersentak. “Professor….”

Jadi, saat Prof.Daehyun berkata bahwa Kai akan baik-baik saja pada guru-guru lain…, semua itu bohong?

Prof.Daehyun tersenyum lemah padaku. “Kalau aku mengatakan yang sebenarnya pada Prof.Young Jae, maka dia akan melakukan hal yang akan dia sesali nantinya.”

Aku menatap dokter sekolah itu dengan bingung. “Apa maksud Anda, Professor?”

Prof.Daehyun tertawa pelan, tapi tawa itu tidak mencapai matanya. Sepertinya dia memang menyembunyikan sesuatu.

“Apakah Kai akan……. mati?” aku membisikkan kata-kata terakhir dengan ngeri.

Prof.Daehyun menatapku dengan serius. “Mirae, hidup dan mati bukanlah berada di tangan seorang dokter.”

Prof.Daehyun menghela nafas berat sebelum kembali bicara, “Racun naga itu sudah menyebar sedikit ke dalam paru-parunya. Aku sengaja tidak memberitahu siapapun, terutama Youngjae, karena….” Prof.Daehyun berhenti bicara.

Aku mengangguk. “Anda tidak perlu memberitahuku apa alasan Anda tidak memberitahu Prof.Youngjae kalau Anda memang tidak ingin mengatakannya, Professor.”

Prof.Daehyun tersenyum lemah. “Gomawo Mirae~ya.” Prof.Daehyun menghela nafas berat lagi, lalu kini kedua matanya dipenuhi sorot ketakutan. “Aku akan berusaha agar Kai baik-baik saja. Kau bisa menjaga rahasia kan, Mirae? Kau tidak akan memberitahu siapapun, terutama Youngjae, tentang kondisi Kai yang sebenarnya?”

Aku mengangguk. “Hmm. Anda tenang saja, Professor. Tapi….bisakah besok aku datang lagi kemari?”

Prof.Daehyun menatapku dengan ragu. Aku menambahkan kata-kataku untuk meyakinkannya. “Aku tidak akan memberitahu siapapun. Aku…, ada hal yang ingin kutanyakan pada Kai.”

Akhirnya Prof.Daehyun pun mengangguk. Aku tersenyum. Wajah Prof.Daehyun terlihat tegang. Ternyata selama ini Prof.Daehyun hanya berusaha terlihat tenang dari luar. Sebenarnya ia jauh lebih khawatir terhadap kondisi Kai dibanding siapapun.

Meskipun aku masih bingung dengan alasan mengapa Prof.Daehyun menyembunyikan hal ini dari semua orang, terutama dari Youngjae, kurasa untuk saat ini aku hanya bisa berdoa agar Kai baik-baik saja. Semoga Kai segera sadar, segera sembuh, sehingga aku bisa bertanya padanya mengenai siapa yang ia lihat saat kecelakaan itu terjadi? Siapa yang membawa naga itu? Bagaimana ciri-cirinya? Apakah orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang membujuk sepupuku untuk pergi ke planet Crowns 5 tahun silam? Apakah kali ini orang itu memang benar-benar datang untuk membawa sepupuku kembali ke planet Crowns? Menjadikannya budak lagi? Ataukah…., membunuhnya?

Aku memejamkan mataku. Pelipisku berdenyut sakit. Sepertinya aku terlalu memikirkan banyak hal.

“Mirae? Kau sudah mengantuk? Kembalilah ke asramamu.”

Aku membuka mataku dan melihat Prof.Daehyun berdiri di samping ranjang Kai, mengulangi hal yang sama seperti sebelumnya. Seberkas cahaya kuning terlihat saat telapak tangannya menyentuh dada Kai.

Aku bangkit dari kursiku, membungkuk sopan pada Prof.Daehyun. “Sampai besok, Professor.”, kemudian berjalan keluar dari klinik.

Langit malam ini sangat cerah. Aku bisa melihat bulan purnama yang bulat sempurna dan bersinar lembut lewat langit-langit lorong yang transparan.

Aku terus berjalan sambil melihat ke atas, mengagumi langit, sehingga tanpa sadar aku menubruk seseorang.

“Maaf.” Gumamku sambil membungkukkan badan sekilas. Kemudian aku mengangkat wajahku dan terkejut melihat Hongbin. “Hongbin?”

Wajah Hongbin terlihat dingin dan tanpa ekspresi seperti biasanya, tapi ketika dia menatapku, matanya berubah tegang. “Jangan berkeliaran sendiri!”

“Mwo?” aku terkejut dengan kata-katanya yang tiba-tiba itu.

“Jangan pergi sendirian saat malam hari. Kau mengerti?” Hongbin berkata dengan serius.

Aku tertawa. “Yah! Memangnya kenapa? Kau sendiri jalan-jalan sendirian kan?”

Hongbin mengatupkan rahangnya, menahan kata-kata pedas yang hendak terlontar dari mulutnya.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Kata Hongbin.

“Aku juga bisa!” tukasku langsung, tak mau kalah.

Hongbin menyeringai. “Benarkah? Bagaimana caranya?” sorot matanya jelas-jelas mengejekku.

Aku mendengus. “Sudahlah! Aku sedang malas berdebat denganmu, Lee Hong Bin sunbaenim!” Aku pun kembali berjalan, tapi Hongbin menahan lenganku.

“Bagaimana kalau apa yang terjadi pada Kai juga terjadi padamu?!”

Aku menepis lengan Hongbin. “Naga? Yang benar saja! Sekolah aman.”

“Tidak. Tidak ada tempat yang aman.”

“Tentu saja aman!” kataku keras kepala, meskipun jauh di dalam lubuk hatiku, aku juga meragukannya.

Hongbin hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Aku jadi bertanya-tanya, jangan-jangan…. “Kau mengetahui sesuatu?”

Hongbin menggeleng. “Tidak.” Ia memalingkan matanya saat mengatakan kata tidak. Aku tahu dia berbohong. Aku terus menatapnya dengan tajam. Hongbin menghela nafas panjang. “Dengar, jangan berkeliaran sendirian, terutama di malam hari. Berada dekat-dekatlah dengan sepupumu, atau dengan sahabatmu, atau meskipun kau membenciku…kau bisa memintaku menemanimu kalau kau ingin pergi kemanapun saat malam hari.”

“Aku tidak membencimu. Kau kan yang membenciku?”

Hongbin tersentak. “Tidak.”

Aku mendengus. “Kalau begitu, kau bipolar, sunbaenim! Kupikir setelah pertandingan antar asrama itu kita menjadi teman, atau bahkan mungkin…..saudara? tapi kau berubah dingin lagi. Kau terlihat seperti membenciku lagi. Sudahlah! Mungkin itu memang sifatmu. Kau tidak bisa bersosialisasi.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, roommate.” Aku menyeringai. “Sekarang….., aku mau kembali ke asrama. Kau tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku kan, roommate? Kalau begitu berjalanlah di belakangku layaknya seorang bodyguard.”

Hongbin membelalakkan matanya. Aku tertawa dan berjalan dengan cepat. Aku tahu Hongbin mengikutiku. Selama perjalanan menuju asrama itu kami hanya terdiam. Banyak hal yang kupikirkan dalam kepalaku. Satu hal yang kusadari saat ini : sepertinya setiap orang memang memiliki rahasia yang tidak ingin dibagi dengan siapapun.

Aku menganggukkan kepalaku dengan yakin. Aku sudah berjanji tidak akan memberitahu siapapun mengenai percakapanku dengan Prof.Daehyun di klinik tadi.

*************

 

Keesokan harinya…..

Sesuai perintah Youngjae, aku langsung pergi ke ruangan Prof.Hakyeon untuk mengikuti kelasnya bersama anak-anak kelas special, tanpa perlu meminta izin guru-guru pengembangan bakatku (Prof.Luhan, Prof.Baekhyun, Prof.Chen, dan Prof.Xiumin).

Tadi aku sarapan bersama sepupuku. Sebelum Zelo datang, aku bertanya banyak hal pada sepupuku. Sepertinya sepupuku itu agak curiga mengapa aku bertanya padanya mengenai orang yang 5 tahun lalu datang ke bumi dan membawanya ke planet Crowns. Aku bahkan bertanya dengan detail tentang ciri fisik Lee Soo Hyuk! Aku harus berhati-hati. Aku tidak ingin sepupuku khawatir.

Aku sudah tahu bagaimana ciri-ciri Lee Soo Hyuk. Aku akan bertanya pada Kai bila ia sadar nanti….

“Mirae? Kim Mi Rae? Mirae~ya!” suara Prof.Hakyeon yang lembut jadi berubah tegas, membuatku terlonjak kaget. Rupanya sejak tadi aku melamun. Kini semua orang jadi menatapku. Chanyeol dengan kedua matanya yang besar dan senyum konyolnya, Lay dengan senyum lembutnya, dan Hongbin dengan wajah datarnya.

Sepupuku belum naik tingkat meskipun kekuatannya jauh lebih hebat dibanding semua anak kelas 1, karena dia baru berada di sekolah ini selama lima hari. Tapi aku yakin minggu depan ia akan bergabung dengan Chanyeol, Lay, dan Hongbin.

“Kim Mi Rae!” panggil Prof.Hakyeon lagi. Matanya melotot dengan kesal. Aku hanya terkekeh. “Maafkan aku, professor. Aku hanya…eh.., mmmm…, sedikit pusing.” Aku menundukkan kepalaku dan memijit-mijit keningku. Tentu saja aku hanya berpura-pura!

“Kau baik-baik saja, Mirae? Pergilah ke dokter Daehyun dan beristirahat di sana.”

Aku tersenyum lebar. Itu memang yang kuinginkan! Cepat-cepat aku menghapus senyuman dari wajahku ketika Hongbin menatapku dengan curiga, dan aku pun kembali memasang tampang kesakitan.

“Maafkan aku, Professor….”

Prof.Hakyeon menepuk-nepuk punggungku dengan hangat. “Tidak apa-apa, Mirae. Kembalilah lagi kemari saat kau sudah merasa sehat. Mungkin setelah jam makan siang?”

“Tapi professor.., bagaimana kalau aku masih merasa pusing setelah jam makan siang?”

“Hmmm.., kalau begitu, kau memang harus istirahat.” Prof.Hakyeon tersenyum.

Dalam hati aku tertawa terbahak-bahak. Professor berambut merah nyentrik itu memang sok ingin tahu, mengesalkan, cerewet, tapi ternyata dia gampang ditipu dan sangat baik.

“Terima kasih, Professor.” Aku membungkukkan badanku berkali-kali. Sebelah tanganku masih memegang keningku, berakting kesakitan. Setelah berjalan cukup jauh dari ruangan Prof.Hakyeon, aku pun segera berlari dengan cepat menuju klinik.

Bunyi lonceng kecil yang berdenting terdengar nyaring ketika aku membuka pintu klinik. Seperti biasa, klinik sepi di jam-jam sekolah seperti ini. Prof.Daehyun menatapku dengan heran. “Mirae? Kau tidak masuk kelas?”

Aku hanya nyengir lebar sambil terkekeh. “Aku pura-pura sakit. Prof.Hakyeon ternyata gampang ditipu.”

Prof.Daehyun geleng-geleng kepala, tapi dia tidak protes. Aku mengamatinya saat ia memasukkan cairan bening ke dalam alat suntik. Ternyata orang-orang planet ini juga menggunakan pengobatan yang hampir mirip dengan pengobatan manusia di bumi, hanya saja teknik mereka jauh lebih canggih, dan mereka juga memiliki kekuatan super dalam hal menyembuhkan yang tidak dimiliki oleh manusia bumi.

Aku duduk di samping ranjang Kai. “Apakah Kai belum sadar?”

“Belum.” Jawab Prof.Daehyun dengan tenang, tapi aku tahu sebenarnya dia tidak setenang yang terlihat dari luar. Lingkaran hitam di bawah kelopak matanya menunjukkan pastilah semalaman tadi dia tidak tidur demi mengawasi Kai.

“Anda sudah berusaha semaksimal mungkin, Professor….”

Professor Daehyun tersenyum tulus. “Terima kasih, Mirae.”

“Uhuk…uhuk….” Tiba-tiba saja terdengar suara batuk.

“Kai? Kai!”

Kai terus saja batuk. Nafasnya menjadi berat. Tapi perlahan kedua matanya terbuka. Prof.Daehyun menyentuh dada Kai, membuat nafasnya kembali teratur dan batuknya pun terhenti.

Kedua mata Kai yang terbuka kini mengerjap-ngerjap, merasa silau karena cahaya yang mengenai matanya secara tiba-tiba setelah kedua mata itu tertutup dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Kai?” panggilku.

Kai menoleh dan menatapku. “Kupikir aku akan mati.” Gumamnya pelan.

“Kau ingin hidup, karena itulah kau hidup, Kai.” Kata Prof.Daehyun. Dia menyentuh puncak kepala Kai, menyalurkan energi. Lalu kembali menyentuh dada Kai. Mungkin memastikan apakah paru-parunya sudah berfungsi dengan normal dan tanpa cacat apapun.

“Syukurlah kau sadar, Kai. Tapi sebaiknya kau jangan melakukan apapun selama satu minggu ini. Aku ingin kau benar-benar sembuh total. Sebentar, aku akan ambil ramuan…” Prof.Daehyun pun pergi ke laboratorium.

Aku masih memandangi wajah Kai yang kurus. Kai menoleh, menatapku. Keningnya berkerut. “Kenapa kau ada di sini?”

“Eh? Aku….” Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya pada Kai tentang penyerangan oleh naga dan penduduk Crowns itu. Kai baru sadar! Bagaimana bila ia kembali tak sadarkan diri karena syok akibat pertanyaanku?!

“Aku…., asisten Prof.Daehyun.” kataku.

Kai menatapku tak percaya. Tapi kemudian ia menyeringai. “Air.”

“Mwo?”

“Ambilkan air. Aku haus.”

“Oke!” Aku pun cepat-cepat mengambil air minum untuk Kai, lalu membantunya minum. Tak lama kemudian, Prof.Daehyun datang sambil membawa ramuan untuk Kai minum.

“Asisten, aku lapar.” Kata Kai tiba-tiba.

“Dokter, makanan apa saja yang Kai boleh makan dan apa yang tidak?” tanyaku pada Prof.Daehyun dengan nada seolah aku adalah perawat.

Prof.Daehyun menatapku dan Kai bergantian dengan bingung tapi dia menjawab “Kau harus banyak makan buah-buahan, terutama buah-buahan yang bisa menetralisir racun. Dan sebaiknya kau menghindari makan daging.”

Kai mengangguk, lalu menatapku. “Tolong suapi aku, asisten.” Cengiran jahilnya yang biasa kini kembali terlihat. Sepertinya dia memang sudah benar-benar sembuh. Baiklah! Demi memperoleh informasi darinya, aku harus bersikap baik padanya.

Aku pun cepat-cepat berlari pergi ke cafetaria dan meminta koki Kyungsoo dan koki Jong Up untuk menyiapkan makanan khusus untuk Kai, seperti yang diinstruksikan oleh Prof.Daehyun.

Yah, sudah bisa ditebak. Seharian itu aku menjadi budak Yang Mulia Kai.

**************

 

Keesokan paginya, di ruang kelas relaksasi…….

“Zelo! Besok temani aku belanja ya?” aku mengedip-ngedipkan kedua mataku pada Zelo, berusaha menampakkan aegyo, meskipun aku tidak ahli dalam berakting cute.

“Ewwwwww!” sebelah tangan Zelo menjauhkan wajahku darinya. “Berhenti memasang tampang aneh seperti itu, Mirae!”

Aku terbahak-bahak, lalu merangkul pundak Zelo dengan sebelah lenganku. “So, bestfriend, kau harus mau menemaniku jalan-jalan dan belanja besok, oke?”

Zelo mengangguk dengan tak sabar. “Oke…oke. Tapi….., tumben sekali kau mau jalan-jalan di hari minggu? Bukannya biasanya kau lebih senang memakai waktu liburmu untuk tidur?” Zelo terkekeh.

Aku memukul lengan Zelo dengan keras. “Banyak yang mau kubeli. Selain itu aku mau beli buah-buahan untuk Kai.”

“Kai?” tanya Zelo dengan bingung. “Kenapa?”

Aku mengangkat bahu. “Karena aku adalah teman yang baik?”

“Sejak kapan dia jadi temanmu?” Zelo tampak tak puas dengan jawabanku.

Untunglah kali ini aku terselamatkan oleh kedatangan Prof.Himchan. Aku tidak perlu menjawab pertanyaan Zelo. Tidak mungkin kan aku menjawab : Aku berusaha bersikap baik pada Kai agar aku bisa mengorek informasi darinya tentang kecelakaan yang ia alami.

Aku tidak familier dengan planet Mato. Aku tidak tahu dimana letak pusat kota, pusat perbelanjaan, dan lain-lain. Karena itulah aku ingin Zelo, yang merupakan penduduk asli planet ini, untuk menemaniku besok. Selain itu, kalau bukan Zelo, siapa lagi yang mau menemaniku?

Sepupuku tentu saja mau menemaniku, tapi dia sama buta-nya denganku tentang planet ini. Lalu roommate-ku, Lee Hongbin? Dia berasal dari planet Infinity, lagipula aku ragu jika dia hafal jalan-jalan di planet ini, mengingat sikapnya yang anti-sosial.

Aku menulis sesuatu di belakang buku-ku, lalu mendekatkan tulisan itu pada Zelo.

Aku akan mentraktirmu makan, Zelo! Karena itu kau harus menemaniku!

Zelo menulis sesuatu di buku-ku, lalu mendekatkannya padaku. Oke, Cool! ^O^

Aku menoleh padanya, dan kami sama-sama nyengir lebar.

**********

 

Saat jam istirahat makan siang, aku kembali pergi ke klinik dan menjalankan tugas pura-puraku sebagai “asisten” dokter Daehyun. Zelo melepaskanku dengan mudah ketika aku memberitahunya bahwa hari ini adalah hari pertamaku menstruasi dan aku butuh obat untuk meredakan nyeri-ku. Sepertinya Zelo sudah tahu betapa menjengkelkannya seorang wanita menjelang datang bulan atau di hari-hari pertama datang bulan. Pengaruh hormon yang membuat mood susah ditebak dan menyebalkan.

Aku menyuapi Kai makan siang. Prof.Daehyun sepertinya sudah tidak peduli mengenai apa alasanku berpura-pura menjadi asistennya. Justru dia merasa senang karena aku membantunya.

Di saat jam istirahat seperti sekarang ini, cukup banyak anak perempuan yang berdatangan ke klinik demi bertemu dengan Prof.Daehyun. Sepertinya diantara semua pegawai sekolah ini, Prof.Daehyun memang merupakan favorit nomor 1 bagi murid-murid perempuan!

Sekarang, ketika Prof.Daehyun sibuk menangani para pasien atau yang lebih tepat disebut para fans-nya di ruangan konsultasi, tinggal aku dan Kai saja yang berada di ruang inap.

Kai makan dengan lahap sambil menonton video lewat elektro graphene yang ia ubah menjadi televisi.

“Ng….ng…, Kai, apakah…..kau ingat wajah orang yang membawa naga itu?” tanyaku hati-hati.

Kai mengangguk. Aku menatapnya dengan bersemangat. “Benarkah? Seperti apa orangnya?”

“Cantik.” Jawab Kai singkat. Matanya masih terfokus ke layar.

“Mwo?”

“Aku tidak tahu siapa gadis cantik itu. Dan kurasa dia bukan orang yang membawa naga. Mana mungkin gadis seperti itu membawa naga?! Naga itu pasti sudah berada di sana sejak lama.”

“Tapi….” Aku menggigit bibir bawahku, menahan kata-kata yang hendak kuucapkan. Tapi Prof.Suho, Prof.Daehyun, dan Prof.Yong Guk yakin bahwa di lembah R.O.D tidak mungkin tiba-tiba saja ada seekor naga!

“Apakah……kau yakin, Kai? Kau hanya melihat gadis itu? Kau yakin? Kau tidak melihat seorang pria tinggi dengan hidung sangat mancung dan mata elang?”

Kai menoleh padaku dan mengernyitkan keningnya. “YAH! Tentu saja aku yakin! Kau mengira aku hilang ingatan, hah?! Aku masih ingat dengan jelas! Gadis itu sangat cantik. Rambutnya ikal kemerahan, matanya biru terang, dan badannya sangat seksi. Kau pikir.., kenapa aku mengikutinya kalau dia tidak cantik? Aku tidak mungkin mengikuti pria! Aku bukan gay.”

Aku hanya memutar kedua bola mataku. Oh, tentu saja, pria seperti Kai pasti akan mudah tertipu dengan wanita cantik kan? Tapi…, apakah itu berarti orang yang berada dibalik kejadian itu bukanlah orang yang terkait dengan pencarian sepupuku?

Aku menggelengkan kepalaku. Prof.Daehyun berkata bahwa potongan cermin yang menancap di dada Kai berasal dari planet Crowns! Mungkin memang benar apa yang Kai katakan tentang gadis cantik itu. Bisa saja gadis cantik itu adalah teman Lee Soo Hyuk kan?

Kai menatapku lekat-lekat. “Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa jadi asisten dokter? Memangnya kau punya kekuatan healing? Kau kan…..” Kai berhenti bicara, lalu sorot matanya berubah keras. Dia memalingkan wajahnya dariku dan kembali menonton film.

Aku jadi ingat, bukankah sebelumnya sikap Kai padaku menjadi aneh. Seperti….membenciku?

“Kai, apakah…..kau berasal dari planet Army?” tanyaku hati-hati.

Kai mengatupkan rahangnya. Sorot matanya masih keras. Aku menghela nafas panjang. Ternyata dia memang penduduk Army. Setidaknya, dulu nenek moyangnya berasal dari Army kemudian pindah ke planet lain setelah planet Army mati. Pantas saja dia membenciku. Kekuatanku mengingatkannya pada kaum Esther yang telah membantu penguasa Crowns memenangkan perang dan mengeksploitasi planet Army hingga ke akar-akarnya.

“Aku penduduk asli planet EXO.” Jawab Kai.

Aku tahu dia berbohong.

*****************

 

Hari minggu, di pusat perbelanjaan……..

“Psssst! Zelo! Lihat itu! Omo~ pasangan yang sangat serasi! Cantik sekaliiiiii dan tampan sekaliiiiiii. Seperti pasangan di negeri dongeng!” Aku yang sedang membeli buah-buahan segar terus menatap pasangan kekasih yang terlihat seperti baru saja keluar dari komik dan majalah itu. Benar-benar pasangan yang sempurna! Mereka tidak terlihat seperti manusia saking terlalu sempurnanya.

“Aku ingin punya pacar seperti pria itu! Tinggi, tampan, kekar, berkharisma, pandangan matanya yang tajam… KYAAAAAAA! Membuatku meleleh!” Aku berjingkrak-jingkrak dengan heboh saat menatap wajah si Pria. Aura yang dimiliki pria itu sangat misterius, tapi ia terlihat sangat tampan! Dia terlihat berbahaya. Tapi tampan.😀

Zelo memutar kedua bola matanya dengan raut wajah tak peduli. “Ayo cepat! Ah! Kalau tahu kau belanjanya selama ini, aku tidak mau menemanimu!”

Aku terkekeh. “Aku akan mentraktirmu makan, giant! Kau tenang saja.”

Zelo ikut terkekeh. “Sudah-sudah, ayo kita makan! Kau berencana beli berapa banyak buah-buahan untuk Kai sih?”

Aku mengangguk dengan tak sabar. “Dia kan sedang sakit! Kau harus merasa simpati padanya, Zelo! Oh, mana Jae Hyun Oppa?” Aku menatap sekelilingku tapi tak juga menemukan sepupuku.

“Tadi dia berdiri di sini!” Zelo ikut-ikutan bingung. “Mungkin dia diculik para fangirls-nya. Sudahlah! Kau telepon saja dia nanti. Ayo makan!” Zelo pun menarik tanganku.

Ya sudah, nanti aku telepon saja sepupuku. Sekarang, seperti janjiku, aku mentraktir Zelo makan karena dia sudah berbaik hati menemaniku belanja. Aku sudah membeli buah-buahan segar untuk Kai. Aku juga membeli kebutuhanku sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, hand body lotion, cream pelembap wajah, lipgloss. Dan aku juga membeli beberapa potong pakaian santai untuk kupakai sepulang sekolah. Tak heran bila Zelo protes karena belanjaku memang sangat lama.

Zelo memakan steak-nya dengan sangat lahap. Steak di planet ini benar-benar porsi jumbo, dan rasanya jauh lebih enak daripada steak di bumi. Steak sapi tentu saja. Tapi aku tidak berani membayangkan seperti apa bentuk “sapi” di planet ini. Lebih baik aku makan tanpa bertanya apapun. Aku tidak ingin memuntahkan makanan se-lezat ini hanya gara-gara tahu seperti apa bentuk binatang yang sedang kumakan di saat binatang itu masih hidup!

Aku terus menghubungi ponsel sepupuku, tapi ia tak juga mengangkat ponselnya. Seperti sudah kukatakan sebelumnya, ponsel dan alat elektronik yang digunakan di planet ini sebenarnya bernama elektro graphene. Sebuah alat multifungsi canggih yang dapat ditekuk dan dilipat. Tapi aku menyebutnya ponsel saat alat itu berubah menjadi alat komunikasi.

Zelo memesan makanan lagi. Aku tidak peduli bila uangku terkuras habis karena saat ini aku masih merasa cemas dimana sepupuku berada.

“Dia pasti terjebak ditengah-tengah kerumunan fans.” Zelo berkata dengan mulut penuh makanan.

Aku mengangguk. “Mungkin. Tapi bagaimana kalau dia tersesat?”

“Tinggal bertanya.” Kata Zelo cuek. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa iri-nya pada sepupuku. Padahal menurutku, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

‘Sepupumu itu…. too good to be true. Dia pasti memiliki sebuah rahasia gelap, Mirae.’

Aku jadi ingat apa yang dikatakan Zelo waktu itu. Zelo memang sensitif, dan dia benar. Sepupuku memang tidak memberitahu siapapun selain aku dan Youngjae mengenai rahasianya, masa lalunya selama 5 tahun ke belakang ini di planet Crowns. Aku juga yakin dia tidak memberitahuku seluruhnya.

Tapi tetap saja dia sepupuku. Aku mempercayainya.

“Mirae?” akhirnya sepupuku menjawab teleponku juga. Aku menghembuskan nafas lega.

“Oppa, kau di mana?”

“Aku membeli aksesoris untukmu. Kau di mana?”

Aku pun menyebutkan alamat restoran steak tempat aku dan Zelo sedang makan saat ini. Tak lama kemudian, sepupuku datang dengan senyum lebar. Satu hal yang tak kusadari saat itu adalah sorot matanya yang berbeda ketika menatap Zelo.

======== End of Mi Rae PoV =======

 

 

 

========= Author PoV ==========

Di sebuah club malam, planet Crowns…….

Lee Jong Suk duduk sambil menyilangkan kaki. Mereguk minumannya perlahan, menikmati musik yang menghentak-hentak sambil menggoyangkan kepalanya. Semua wanita menatapnya dengan tatapan memuja, tapi terlalu takut untuk mendekatinya karena ia adalah seorang pangeran, dan sebenarnya alasan paling utama adalah : mereka takut pada pengawal pribadi sang pangeran, Kim Woo Bin, yang memancarkan aura siap membunuh siapapun yang berada dalam radius dekat dengan Pangeran.

Kim Woo Bin duduk di samping Lee Jong Suk dengan tubuh tegap dan pandangan mata tajam yang mengawasi setiap gerak-gerik orang-orang di sekitar mereka. Siapa tahu akan ada orang yang melukai sang pangeran.

“Siapa yang melukai muridku?” tiba-tiba saja muncul seorang pria yang mengenakan kupluk hitam. Kim Woo Bin langsung bangkit berdiri dan bersiap mematahkan leher pria itu, tapi Lee Jong Suk menahannya dengan mengangkat sebelah tangan. “Hentikan, Woobin, dia….tamu special.” Lee Jong Suk menyeringai. Ia menepukkan tangannya dua kali, dan dalam sekejap ruang VIP transparan tempat dimana ia dan Woobin berada itu berubah menjadi tak terlihat dari luar. Ruangan itu jadi terisolasi dan juga kedap suara.

Jong Suk tersenyum lebar. “Sudah 300 tahun planet ini berdamai dengan planet-planet di galaksi kembar, dan sejak 100 tahun yang lalu telah berlaku peraturan bahwa siapapun penduduk planet lain yang berkunjung ke planet ini tanpa persetujuan raja akan dihukum mati. Bukankah kau tahu betul akan hal ini, Yoo Young Jae?”

Young Jae tidak balas tersenyum. Sebaliknya, ia menatap Jong Suk dengan penuh permusuhan. “Dan tentunya kau pun tahu, Pangeran, bahwa tak ada satupun penduduk planet ini yang diizinkan berkunjung ke planetku.”

“Planet-mu? Sejak kapan Mato menjadi planetmu, Yang Mulia kepala sekolah ROVIX?” Jong Suk tersenyum, tapi nada bicaranya penuh sindiran. “Seingatku…., sampai sekarang kau masih belum berhasil menjadikan Mato berada dibawah kekuasaanmu. Jadi menyebutnya planet-mu tidaklah terlalu tepat, kawan.”

“Kau pasti tahu siapa dibalik penyerangan muridku.”

“Hmmmm, mungkin. Tapi bila aku tahu…, apakah kau pikir aku akan memberitahumu?” Jong Suk masih tersenyum. Ia meminum wine-nya dengan penuh penghayatan. “Minumlah dan bersenang-senanglah, kawanku. Kau sudah jauh-jauh datang kemari. Kupikir kau hendak memberiku hadiah karena telah membantumu dalam pelarian Ahn Jae Hyun, ternyata….” Jong Suk mengangkat kedua bahunya. Matanya berkilat-kilat senang, seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah ulang tahun yang paling ia inginkan. “Katakan padaku, bagaimana caramu menghabisi Ahn Jae Hyun?”

Young Jae menatap Jong Suk tanpa ekspresi. “Kau tidak perlu tahu. Dia sudah mati.”

“HAHAHAHA….HAHAHAHA….” Jong Suk terbahak-bahak sampai membungkukkan badannya. Air matanya keluar saking terlalu keras dan terlalu lama tertawa.

“Ooooohhhh, rupanya kau masih memiliki jiwa mudamu, kawan.” Jong Suk mengedipkan sebelah matanya sambil nyengir lebar.

Young Jae mengatupkan rahangnya kuat-kuat, lalu menjawab. “Aku bukan kawan-mu lagi sejak 200 tahun yang lalu.”

Jong Suk mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memonyongkan sedikit bibirnya, seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Young Jae yang masih berdiri terus menatap Jong Suk dengan tajam dan lekat-lekat. “Apakah kakakmu tahu bahwa akulah yang membawa Ahn Jae Hyun pergi? Apakah karena hal itulah dia jadi balas dendam padaku dengan menyakiti muridku? Muridku hampir mati! Seandainya dia benar-benar mati, sekarang aku pasti sudah membunuh kakakmu!”

Jong Suk tertawa. “Benarkah? Apakah kau bisa membunuh kakakku? Ayo, bunuh saja kalau kau memang bisa. Kau tahu kan aku tidak pernah menyukainya.” Jong Suk kembali meminum wine-nya, lalu berkata dengan pelan. “Kau mau aku membantumu lagi? Kalau begitu…., kau harus memberitahu aku apa rencanamu, Yoo Young Jae. Apa yang kau pikirkan? Dan plot seperti apa yang kau susun di balik otak-mu yang jenius itu. Apa sebenarnya rencanamu untuk menguasai Mato, Yoo Young Jae?”

Young Jae pun akhirnya duduk di samping Jong Suk dan menceritakan banyak hal. Jong Suk mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa tertarik yang tak bisa disembunyikan.

*************

 

Selepas tengah malam, Young Jae pun pergi dari planet Crowns. Woobin membantunya agar ia dapat pergi dengan mudah dan melewati pemeriksaan ketat prajurit Crowns. Sebenarnya, tanpa bantuan Woobin pun Young Jae dapat lolos dengan mudah, tapi Jong Suk bersikeras agar Woobin membantunya.

Saat Woobin datang kembali setelah mengantar Youngjae, Jongsuk langsung menyambutnya dengan antusias. Dia menuangkan wine untuk Woobin, lalu mulai berkata : “Permainan semakin menarik, bukan?”

“Pangeran, kau….tidak benar-benar mempercayainya kan?” tanya Woobin dengan pandangan mata menyelidik.

Jong Suk tertawa. “Tentu saja tidak. Sejak kapan aku mempercayai orang lain?” Jong Suk mengernyitkan hidungnya, lalu menambahkan “Tentu saja aku mempercayaimu, Woobin~ah, tapi aku tidak mempercayai orang lain selain kau.” Jong Suk menepuk-nepuk punggung Woobin brotherly sambil nyengir lebar.

Woobin tahu, bahkan sang Pangeran pun tidak mempercayainya. Dia tidak mempercayai siapapun selain dirinya sendiri.

Tapi Woobin tidak peduli. Ia adalah orang yang rela mati demi sang Pangeran, maka ia tidak peduli apa yang Pangeran pikirkan tentangnya. Ia sudah berhutang sangat banyak pada sang Pangeran, bahkan melebihi nyawanya sendiri.

“Bukankah permainan kita kali ini sangat menyenangkan, Woobin~ah? Banyak orang yang akan menghiburku. Sobat lamaku, Yoo Young Jae, akan mendapatkan kejutan ke-2 nya sebentar lagi. Kita lihat…., apakah kali ini ia cukup cerdas, ataukah masih sama bodohnya dengan 200 tahun lalu. Tapi malam ini jelas membuktikan bahwa dia masih bodoh. Dia bahkan tidak mengira bahwa akulah yang melukai muridnya itu. Dan apakah dia benar-benar mengira aku mempercayainya saat dia berkata telah menghabisi Ahn Jae Hyun? HAHAHAHA…..HAHAHAHA…  ”

************

======== End of Author PoV ========

 

 

 

======= Kim Mi Rae PoV =========

“Sepupumu menyuruhku menjauhimu.” Kata Zelo tiba-tiba. Saat ini kami sedang berada di puncak menara asrama utara, duduk di depan perapian sambil memakan cemilan berupa sup jagung hangat favoritku. Zelo membawaku terbang kemari tentu saja. Aku tidak mungkin bisa datang ke puncak menara ini tanpa terbang.

“Mana mungkin!” tukasku tak percaya. Aku memakan sup jagung-ku dengan lahap. Aku sudah mengisi stock makanan di sini untukku dan Zelo. Kami biasa datang kemari pada malam hari selepas makan malam, atau bila kami sedang malas makan di kantin.

Zelo berdiri sambil menatap langit yang gelap tanpa bintang dan cahaya rembulan. Ia menegadahkan sebelah tangannya ke langit. Tetesan air hujan yang mulai turun kini membasahi tangannya.

“Gawat! Hujan!”

“Tenaaaang. Kan ada jas hujan plastik.” Kata Zelo singkat. Matanya masih menatap langit. Aku bangkit dari kursiku dan berjalan mendekatinya. Kami berdiri di dekat tembok pembatas puncak menara.

“Dia bilang…, kalau aku tidak menjauhimu, maka kau pun akan ikut berada dalam bahaya bersamaku. Mungkin aku memang harus menjauhimu, Mirae.”

“Jangan konyol!” aku memukul lengan Zelo dengan keras. “Memangnya bahaya apa?” Aku menyuapkan sup jagung ke mulutku, dan menatap Zelo, menunggu jawaban. Tapi Zelo tak juga mengatakan apapun, maka aku menyuapinya sup jagung, tapi ia menolaknya.

Malam ini Zelo tidak terlihat seperti Zelo yang biasanya. Ia terlihat terlalu serius, tidak ceria dan carefree seperti biasanya.

“Mungkin aku yang berada dalam bahaya, bukan kau, Zelo. Kau harus menjauhiku.” Aku menganggukan kepalaku sambil mengaduk-aduk sup jagung di kaleng yang tinggal sedikit lagi.

Zelo menoleh dan menatapku lekat-lekat. “Bahaya apa?” sorot matanya terlihat cemas.

Aku mengangkat kedua bahuku, lalu menyikut lengannya pelan sambil nyengir lebar. “Aku hanya bercanda! Sudahlah! Tidak usah pedulikan apa kata sepupuku. Mungkin dia hanya cemburu karena kau lebih sering menghabiskan waktu bersamaku. Yah! Sup-nya habis. Aku mau lagi…..”

“Kita turun.” Potong Zelo.

“Mwo?”

“Kita turun sekarang, Kim Mi Rae. Kau harus kembali ke asramamu.” Tandas Zelo dengan tegas. Kata-katanya final, tak bisa ditawar lagi, padahal aku masih ingin makan sup jagung.

Zelo membantuku memakai jas hujan plastik berwarna kuning. Dia sendiri memakai jas hujan warna pink. Dasar pecinta pink!

Zelo mengangkat tubuhku menyamping, aku merangkul lehernya dengan erat agar tidak jatuh. Meskipun sudah berkali-kali terbang bersamanya, aku masih merasa takut terbang.

Zelo merentangkan sayap pelanginya dengan lebar. Air hujan membasahi sayapnya, dan membuatnya berkilauan saat cahaya lampu mengenainya. Aku menempelkan pipiku di dada Zelo yang bidang. Merasa kedinginan.

Zelo menurunkanku tak jauh dari lorong asrama-ku. Aku membuka jas-ku dan melipatnya sambil menggigil. Zelo sudah merapikan jas-nya, dan tanpa kuduga…. dia memelukku dengan erat. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya dengan heran, tapi Zelo menekan belakang kepalaku sampai wajahku mengenai wajahnya.

Aku tidak tahu kenapa Zelo tiba-tiba saja memelukku dengan cara seperti ini. Rasanya…..berbeda dari pelukan ringan dan brotherly yang biasa ia tunjukkan padaku. Kali ini terasa…..entahlah, aku juga bingung bagaimana rasanya. Yang pasti, aku merasa sangat nyaman dan terlindungi.

Zelo mempererat pelukannya. Aku memejamkan mataku dan membiarkan diriku menghirup aroma Zelo yang sudah dikenal dengan baik oleh indera penciumanku.

Mungkin Zelo masih memikirkan kata-kata sepupuku, karena itulah dia bersikap seperti ini. Kalau memang benar sepupuku berkata demikian, apa alasannya? Mengapa dia meminta Zelo menjauhiku? Zelo berada dalam bahaya? Kenapa?

Zelo melonggarkan pelukannya. Cengiran lebarnya yang biasa kini kembali terpampang di wajahnya. “Saling menghangatkan seperti ini lebih manjur dibanding memakai pemanas ruangan, benar kan?”

Kami pun tertawa terbahak-bahak. Zelo mengantarku berjalan sampai ke depan pintu asrama-ku. “Good-bam, Mirae.” Zelo menepuk-nepuk puncak kepalaku pelan.

“Good-bam.” Aku berjinjit dan mencubit kedua pipi Zelo yang chubby, membuat Zelo menatapku dengan kesal, tapi aku hanya tertawa.

Zelo masih berdiri di depan pintu, menungguku membuka kunci dengan kesepuluh sidik jariku dan bola mataku. Menungguku masuk.

Aku membuka pintu, lalu menutupnya tapi tidak benar-benar sampai menutup. Aku mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit itu di saat Zelo berjalan menjauh. Punggugnya basah karena terkena sayapnya yang basah saat sayapnya dilipat. Aku menghela nafas panjang, lalu menutup pintu dan menaiki tangga menuju kamarku.

Hongbin membaca buku di atas tempat tidur. Seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Kadang aku heran, apakah dia tidak bosan terus-menerus membaca buku setiap malam?! Oh, bahkan hampir setiap ada waktu luang! Koleksi bukunya yang sudah menggunung di rak buku kami itu bisa-bisa akan menyaingi koleksi buku milik kakeknya, Prof.Hakyeon.

“30 menit lagi, dan kau akan kena hukum karena melanggar jam malam.” Hongbin berkata tanpa emosi seperti biasa. Matanya tetap terfokus ke buku.

“30 menit itu masih lama. Roommate, bisakah kau bersikap hangat sedikit saja padaku? Aku tahu sifat aslimu memang seperti ini. Tapi kau tidak akan pernah bisa punya teman kalau sikapmu terus-menerus seperti ini.”

Hongbin mengangkat wajahnya dan menatapku dengan kesal. “Berhenti memanggilku roommate!”

Aku balas menatapnya dengan menantang dan sambil berkacak pinggang. “Kalau begitu apa? Sunbaenim? Oppa?” Aku mendengus.

Hongbin menggeleng. “Hongbin saja.”

Aku berdecak kesal. “Kau tidak punya selera humor!”

“Memangnya kau punya?” balas Hongbin dengan sengit.

Aku meraih bantalku dan melemparkannya tepat ke wajah Hongbin, tapi Hongbin menahannya dengan menggunakan kekuatan pengendali pikirannya. Ia membuat bantalku melayang dengan super cepat dan mengenai wajahku dengan telak. Menyebalkan!

Aku menghembuskan nafas kesal, lalu memutuskan untuk mengabaikan keberadaan makhluk yang sangat mengganggu, yang bernama Lee Hong Bin!

Aku mendekati meja belajarku, meraih masker wajah, lalu berbaring di tempat tidur, besiap-siap memakaikannya di wajahku. Tapi aku merasakan tatapan Hongbin, maka aku pun menoleh dan balas menatapnya dengan laser glared andalanku. “APA?”

Hongbin menggeleng. “Rupanya kau juga wanita ya.”

Mulutku menganga lebar. Apa maksudnya? Apakah selama ini dia menganggapku laki-laki?

Aku langsung duduk dengan tegap, menyilangkan kedua lenganku di depan dada, dan menatap Hongbin dengan sinis. “Tentu saja aku wanita! Memangnya kenapa kalau aku tidak pernah merawat wajah dan tubuhku seperti ini setiap hari, HAH?! Kulitku sudah mulus. Aku tidak perlu perawatan setiap hari!”

Hongbin mendengus. Matanya masih terfokus ke buku yang sedang dibacanya.

Aku berjalan mendekatinya sambil menghentak-hentakkan kakiku. “Nah! Kau pakailah masker ini, Hongbin! Agar aku menganggapmu wanita!” Aku menempelkan masker kolagen itu ke wajah Hongbin.

“YAH! APA YANG KAU LAKUKAN?!” Hongbin berteriak sambil meronta-ronta, tapi aku menahan masker itu dengan kedua tanganku agar tetap menempel di wajahnya. Aku tertawa terbahak-bahak. Aku lupa, tenaga Hongbin jauh lebih besar dariku. Dalam sekejap mata, dengan mudah Hongbin memelintir lenganku, membalikkan posisi kami, dan mengunci tubuhku di tempat tidurnya.

“Berhenti bermain-main denganku, Kim Mi Rae!” gertak Hongbin sambil menatapku dengan kesal.

“Sakit…sakit! Aku menyerah!”

Hongbin masih mencengkram kedua lenganku dengan keras. Matanya yang terlihat marah kini jadi berubah seketika. “Maaf.” Gumamnya pelan sambil melepaskan cengkraman tangannya yang kuat di lenganku.

Aku bangkit untuk duduk sambil mengusap-usap lenganku yang masih terasa sakit. “YAH! Kau yakin kalau kau tidak punya kekuatan power? Tulangku hampir remuk!”

“Sungguh?” Hongbin langsung memeriksa lengan atasku. Sorot matanya terlihat khawatir.

“Gwencahana….gwenchana….aku baik-baik saja.” kataku cepat-cepat, merasa tak nyaman dengan jarak kami yang terlalu dekat seperti sekarang ini.

Hongbin mengangkat wajahnya. Jarak wajahnya yang terlalu dekat dengan wajahku membuatku jadi sulit bernafas. “Maafkan aku…” kata Hongbin sungguh-sungguh.

“Eh? Oke…oke….” Aku menjauhkan wajahku darinya. Perlahan aku pun berdiri dan berjalan kembali ke tempat tidurku. Hongbin masih menatapku. “Aku sudah memaafkanmu, oke?! Berhenti menatapku dengan pandangan matamu yang super dingin!”

Tadinya aku berharap nada suaraku terdengar marah atau kesal, tapi pada kenyataannya kalimatku tadi terdengar seperti sebuah kalimat yang dikatakan oleh orang yang sedang mengigau. Tak jelas.

Padahal jarak kami sekarang sudah jauh, tapi kenapa aku masih merasa sulit bernafas?! Mungkin cuaca malam ini panas? Aneh! Setahuku tadi di luar hujan.

Aku meraih remote pendingin ruangan dan membuat suhu kamar kami menjadi lebih dingin dua puluh derajat dari sebelumnya.

“YAH! Kau bisa mati beku!” Hongbin melompat turun dari tempat tidurnya dan merebut remote pendingin ruangan itu dari tanganku. Dia mengembalikan suhu kamar kami ke suhu normal.

“Kalau kau merasa kepanasan, kau pakai selimut tipis saja.” Hongbin mengeluarkan sebuah selimut sutera tipis dari dalam lemarinya. Selimut itu melayang ke tangannya. Kupikir ia akan membuat selimut itu bergerak dan menyelimuti tubuhku dengan menggunakan kekuatannya, tapi ternyata…..dia menyelimutiku secara langsung.

Saat tangannya yang hangat tanpa sengaja menyentuh pipiku sekilas ketika membenarkan selimut itu di tubuhku, kedua pipiku langsung terasa panas. Apa ada yang salah dengan suhu tubuhku malam ini?

“Aku akan menurunkan suhu ruangannya lima derajat, tapi kau tetap harus pakai selimut meskipun kau merasa kepanasan. Kau bisa masuk angin.” Hongbin tersenyum.

Aku tertegun melihat senyuman tulusnya itu. Kalau dipikir-pikir lagi…., selama ini aku tidak pernah melihat Hongbin tersenyum seperti ini. Raut wajahnya yang tampan jadi terlihat semakin tampan. Kedua lesung pipit-nya membuatnya terlihat menggemaskan.

Aku pasti terlihat seperti orang bodoh karena terus menatap wajahnya tanpa berkedip! Hongbin masih menyisakan sedikit senyum tipis saat dia berjalan kembali ke tempat tidurnya. Dan dia juga menyisakan debaran aneh di jantungku yang tidak bisa kumengerti.

Aku tidak bisa tidur. Berkali-kali aku membalikkan posisi tubuhku, berusaha tidur, tapi mataku tetap terbuka lebar.

“Kalau kau tidak bisa tidur, dengarkan musik klasik saja.” Hongbin tiba-tiba berkata, dan dalam hitungan detik sebuah music player beserta earphone melayang dari tempat tidurnya menuju tempat tidurku.

Aku menoleh dan menatap punggung Hongbin. “Thanks.” Gumamku. Rasanya aneh sekali bercakap-cakap dengan Hongbin seperti sekarang ini. Biasanya percakapan kami hanya satu arah. Aku seperti bicara pada batu! Tapi sekarang…. berbeda.

Aku mendengarkan musik, memejamkan mataku, tapi tak juga berhasil tidur. Setelah 20 menit mendengarkan musik tapi tak juga tertidur, aku pun memutuskan untuk berhenti mendengarkannya. Tidak ada gunanya!

Samar-samar aku mendengar suara dengkuran halus Hongbin. Rupanya dia sudah tertidur pulas. Aku kembali memejamkan mataku, dan ajaibnya kali ini aku bisa tertidur. Ternyata suara dengkuran halus Hongbin lebih ampuh untuk menjadi lullaby-ku dibanding lagu-lagu klasik!

Malam itu aku memimpikan Hongbin dalam tidurku. Dan mimpiku benar-benar aneh. Saat terbangun keesokan paginya, aku mendapati air mata membanjiri wajahku. Rupanya aku menangis dalam mimpiku. Aku tidak mengingat mimpiku dengan jelas. Tapi aku masih ingat sedikit-sedikit.

Dalam mimpi itu, aku melihat Hongbin memakai jubah putih, berada di bawah tiang pancang, bersiap untuk menerima hukuman mati. Aku tidak ingat jelas apa kelanjutan mimpiku, tapi mimpi itu pastilah sangat mengerikan karena aku menangis.

“Apakah kau baik-baik saja? mimpi buruk?” aku mendengar suara Hongbin. Aku menghapus air mata yang tersisa di pipiku. Setelah Hongbin melipat selimutnya dengan kekuatan pengendali benda dan pikirannya, dia berjalan mendekatiku. Lalu, samar-samar aku mengingat kejadian lain yang terjadi dalam mimpiku tadi malam.

Aku melihat pasangan kekasih yang terlihat sempurna seperti model dalam majalah, yang kulihat hari minggu kemarin di pusat perbelanjaan. Pasangan kekasih itu….. membakar tubuh sepupuku di tengah-tengah bara api yang berkobar hebat.

Aku menelungkupkan wajahku dan menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Semua itu hanya mimpi. Semua itu hanya mimpi.

Aku terus mengulangi kalimat tersebut dalam hatiku. Seperti mantra.

“Mirae? Kau yakin baik-baik saja? Apakah kau sakit?” tanya Hongbin.

Aku menggeleng, mengangkat wajahku, dan memasang senyum palsu. “Gwenchana.” Aku turun dari tempat tidurku dan segera berlari ke kamar mandi.

**********

 

Aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Perasaanku terus saja terasa tidak enak sejak aku bangun tidur tadi pagi. Bukan hanya karena mimpi buruk yang kualami semalam, tapi ada sesuatu, sesuatu yang terasa mengganjal di dalam benakku. Aku tidak tahu apa sesuatu itu. Atau mungkin…, sesuatu itu adalah seseorang? Telepati? Meskipun aku tidak bisa telepati, dan sangat jarang sekali orang di galaksi ini yang bisa bertelepati, tapi seseorang pasti bisa merasakan bila orang-orang terdekatnya sedang beada dalam masalah, benar kan?

Sesuatu itu mungkin saja insting. Aku merasakan sesuatu itu terus mengganjal dan membuatku tidak bisa berpikir jernih. Aku jelas memikirkan suatu hal, meski aku tidak tahu apa. Terasa ada yang kurang……

Tidak seperti biasanya, kali ini Hongbin dengan sukarela makan bersamaku di meja yang sama. Aku menunggu sepupuku dan Zelo. Tidak biasanya mereka datang telat untuk sarapan.

Lima belas menit berlalu, sepupuku dan Zelo masih belum muncul juga. Perasaan mengganjal itu kembali menguat. Aku tahu, mungkin aku terlalu berlebihan, terlalu takut, paranoid, tapi aku segera menghubungi ponsel Zelo. Tanganku bergetar sedikit saat aku memencet nomornya.

Tidak aktif. Apakah Zelo lupa menyalakan ponselnya?

“KYAAAAAAA!!!! Ahn Jae Hyun OPPAAAAAAA!” teriakan para fangirls membuatku menghembuskan nafas lega. Setidaknya sepupuku baik-baik saja. Oke-oke, aku tahu, aku terlalu berlebihan! Tapi aku belum bisa merasa tenang bila Zelo belum ada di sini. Aku kembali menghubungi ponselnya. Masih tidak aktif juga.

“Kenapa kau tidak makan?” tanya Hongbin, heran melihat makananku yang sama sekali tak kusentuh. Aku hanya menggeleng. Aku menggigit bibir bawahku, tak sabar menunggu Zelo mengangkat ponselnya, atau setidaknya…..lebih baik lagi bila sekarang ia menampakkan wajahnya di hadapanku agar aku bisa memukulnya dengan keras karena sudah membuatku khawatir dengan tak beralasan!

Aku mengerutkan keningku saat sepupuku berjalan menuju meja lain, tidak seperti biasanya. Apakah karena sekarang ada Hongbin bersamaku? Tapi…, kenapa sepupuku tidak menyapaku? Ada apa dengannya?

“Mirae! Mirae~yah!” Chanyeol tiba-tiba saja muncul dengan nafas terengah-engah karena berlari. “Mirae! Zelo kabur!”

“APA?”

“Zelo kabur! Aku tadi mau meminjam topi-nya, tapi dia tidak ada di kamar. Teman sekamarnya, Jin Ki, berkata kalau semalam dia tidur cepat dan tidak tahu apakah Zelo pulang ke kamarnya atau tidak!”

Chanyeol menyerahkan selembar surat padaku. Aku membacanya.

Jin Ki~ya, aku sudah bosan sekolah. Aku mau berlibur dulu selama beberapa bulan. Aku ingin berpetualang, menjelajah galaksi ini. Kkkkkkkk. Ppyong~!

 

Aku membaca surat singkat itu berulang-ulang. Nadanya memang seperti gaya bicara Zelo. Tapi kenapa? Kenapa Zelo tiba-tiba pergi? Dan kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia tidak meninggalkanku surat juga? Apakah dia pergi karena ingin menjauhiku? Seperti yang diminta oleh sepupuku? Karena dia berada dalam bahaya dan tidak ingin membawaku ke dalam bahaya juga? Bahaya apa?

Lagi dan lagi, aku berulang kali membaca surat itu. Tulisan tangannya memang tulisan tangan Zelo, tapi ada yang lain. Ada sesuatu yang lain.

Caranya menulis huruf “g” terlihat berbeda. Terlihat seperti…..

Aku menahan nafasku. “Tidak mungkin! Tapi…kenapa? Kenapa dia membawa Zelo pergi? Agar Zelo aman?” bisikku pelan pada diriku sendiri. Hongbin menatapku, rupanya dia bisa mendengar apa yang kukatakan.

“Siapa? Siapa yang membawa Zelo?” tanya Hongbin dengan pelan sambil mendekatkan wajahnya padaku. Chanyeol rupanya tidak mendengarku. Dia terlalu sibuk minum air mineral dan mengatur nafasnya.

Aku menatap Hongbin. Hongbin terus menatapku lekat-lekat, menunggu jawaban. Apakah aku mempercayainya?

“Young Jae.” Bisikku. “Aku yakin Young Jae…, maksudku Professor Young Jae-lah yang menulis surat ini.”

Hongbin menatapku tak percaya. Aku tahu kata-kataku memang tak masuk akal. Tapi entah kenapa aku yakin akan hal ini. Aku sudah cukup sering melihat tulisan tangan Young Jae saat di bumi dulu, saat dia mengikutiku. Aku tahu meskipun ia berhasil meniru gaya bicara Zelo dan gaya tulisan Zelo dengan sempurna, tetap saja huruf “g” itu miliknya, ciri khas-nya. Belum lagi kalimat Aku ingin berpetualang, menjelajah galaksi ini, itu adalah kalimat Young Jae.

Tapi kenapa? Untuk apa Young Jae memalsukan surat Zelo? Kenapa dia membawa Zelo pergi?

====== TBC =====

 

Catatan Author :

Ini gw bikin video powerless lagi. Kalau yang waktu itu videonya hanya berupa slide show foto dan hanya trailer, maka video kali ini bisa dibilang merupakan preview apa yang akan terjadi di chapter-chapter selanjutnya, meskipun apa yang ada di video ini masih belum fix, dan apa yang kalian lihat di video ini belum tentu apa yang benar-benar kalian duga akan terjadi dalam FF “Powerless” gw berikutnya karena setiap hal yang ditampilkan dalam video ini memiliki beberapa alasan / latar belakang.

Bingung? Lihat aja videonya. ^^. Videonya lebih fokus ke Mirae-Zelo-Hongbin-Kai.

Video ini hanya cuplikan / potongan kecil saja dari kejadian yang akan terjadi dalam Powerless. Setelah nonton video ini pasti akan nanya….kok gini? Kenapa kayak gini si “dia”? Wkwkwk. Semuanya akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya. So, comment and enjoy!❤

Video :

http://www.youtube.com/watch?v=rTg7FC3omY4&list=FLtQ3t5bhzgjYcgSNlsw9Lsw&index=2

 

 

Lee Jong Suk :

Powerless 5 jongsuk

 

Kim Woo Bin :

Powerless 5

 

31 thoughts on “Powerless (Chapter 5)

  1. Yey akhirnya dilanjutin juga
    Chapter ini keren bingit eonn, pnasaran jga sama arti mimpi Mirae. Sumpah Zelo sama Hongbin so sweet bgt cm sayang Zelonya main petak umpet mulu. Next chap dtunggu eonn sm ff lainnya
    Hwaiting😉

  2. EONNIIIIII.. KERENNNN!!! LEWAT FF INI, AKU JADI BERIMAJINASIIII KKK… AAAHHH MIRAE… ZELOOO :3 HONGBINNNNNN AAAH :3

  3. akhir ‘a di publish jg ni Ff , hadeuh sumpah penasaran bnget sama kelanjutan ‘a hehe , ditnggu next chap nya , keep writing

  4. Kak… jodogin mirae sama zelo pliss!! ㅠㅠ gw suka kopelannya mereka. hongbin di bye aja deh. huahahaha xD
    tetep ketjeh kek biasanya ^^b makun seru aja sama misteri baru tehtang siapa itu yoo youngjae😉 oke makin ga sabar nunggu sampe akhir😀 next part ditunggu banget ya kak😉 ㅋㅋㅋ !
    @noninodi \m/

  5. eon aku baru tau kalau di planet lain ada club’s =))
    btw zelo kemana eon? terus kok hongbin jadi lembut gitu? apa dia udh ada perasaan sama Mirae?
    makin penasaran deh eon, next ya🙂 Fighthing^^

  6. Duhh, sebenarnya Zelo kemana? T.T Aku punya firasat kayaknya bukan Youngjae deh yang nyulik /? Zelo.. Tapi masa Jaehyun? Siapa tau dia punya kekuatan meniru tulisan orang? /? hahahahaha.. Duh, makin di bikin penasaran aja nihh..
    Terus apa maksud mimpinya Mirae? Itu pertanda kah? Jangan ada yang mati dong kak.. Mereka terlalu ganteng untuk di bikin mati /?
    Aku kok agak heran ya sama Youngjae? Masa dengan mudah nya dia ngasih tau ke Jongsuk rencananya? padahal dia sendiri yang bilang ke Jongsuk kalo mereka bukan kawan lagi semanjak 200 tahun yang lalu ._. Ato itu cuman akal-akalan nya Youngjae aja supaya Jongsuk tertipu? Lalalalala.. terlalu banyak tanda tanya kak di comment ini.. Makin di buat penasaran ajaa nihh.. Terus terus itu videonya ada hubungannya ya sama next chapter? aku ga bisa nangkep latar belakangnya kak.. Sudahlah, biarkan itu menjadi misteri /?
    Next chapternya di tunggu ya kakk.. Jangan lama” T.T fighting buat kakak!! ^^

    • Huwaaaa…..thank youuuu…>_<
      Hebat bgt kamu baca dari awal sampai chapter 5 ini dalam sehari dan selalu ninggalin komentar.
      Thank youuu…. *peluk* ♥

      Wkwkwk…. Terlalu ganteng buat dibikin mati? Hahaha…..
      Aku jd merasa bersalah gara2 bikin model2 ganteng itu jahat2.😄

      Liat aja next chapter yaaa…. Hehehe
      Gomawooooo ;))

      • Hahahahha.. Soalnya kalo aku sudah greget sama ceritanya, biasanya aku ga bakal berhenti baca kak sampe ff itu nge stuck dimana.. Paling seneng sama yang namanya baca marathon. Hahahaha.. Tangan ku juga gatal buat nge comment in walaupun yang ada bikin rusuh. Hahahaha..
        Btw, kalimat yang terakhir, yang ‘aku ingin bertualang menjelajah galaxy ini’ jadi bikin aku ingat sama si galaxy hyung :’) gimana kabarny ya :’)
        Naah kan, kenapa juga kakak bikin orang” tampan itu jadi orang jahat? :’) yang tadinya pingin banget kesel sama cast itu, eh gajadi begitu liat mukanya :’) duhh.. Ngerepotin ya kalo begini caranya.. Wkwkwk
        Btw, aku berencana ngobrak-ngabrik wp kakak nih.. Mau baca ff” yang lain. Hahahaha..
        Jangan lupakan Hidden Fates ya kak :’) ppyong~~

  7. q sedikit kecewa mi……….
    Why??????????
    coz q g dkasih tau low nich chapter dah pubish dr kpan dan q ru tau……. ㅠ.ㅠ *nangis capuchino cincau

    Waaaahh……mkin keren aj nich ff dan psti’y mkin bkin penasaran…..
    Itu Jelo kmnaaa masa yg bw youngjae sich koq ragu ye….
    Itu hongbin knp tiba2 kek gitu bneran cuma kwatir ma mirae doank atauuuuuu………..;)
    msih tnda tanya ma hub mirae ma kai nanti’y kdang pngen mrka bkal jd psangan td kdang pngen hongbin yg jd psangan’y ㅋㅋㅋㅋㅋ…..* itu hak w nenk (azmi pov.)
    jong suk aaiiihhhh……licik bner ye di ni ff jd gregetan sndri jgn smpe gegara ff ini q benci ma jong suk yee mi….^^
    trus pa bener young jae pngen menguasai planet mato???? Youngjae g jahat kan………
    ahn jae hyun knp kek’y pnya niat tersembunyi ya menurut q…..*ah molla Galaxy????????????ooughhhh keriseeuuuu ai mis yu….*melenceng^^
    G ad scene Leo ma meeennn okey vixx abaikan utk smentara….^^

    ditunggu next chapter’y mi & kasih tau ya low dah publish okey…..FIGHTING!!!!!!!!!!!!!

    • Kkkkkkkk….iya aku lupa.😦
      Mianhae…
      kmu follow aja blog ini nenk…nanti klo ada post yg baru jd ada notifikasi ke email. Hehehe

      Samaaaaa….kangen kris…>_<
      Huhuhu

      Gomawooo udh baca nenk😉

  8. hallo~ aku kembali ^o^)/ maap baru sempet baca+komen sekarang padahal uda disave page dr lama ㅋㅋ~
    pertama, aku musti panggil own-nya pakek sebutan apa -jujur aja bingung nau panggil apa krn belum akrab kayak pembaca yg lain.
    kedua, powerless ini jd ff yg paling aku tunggu update-annya. disetiap chapter ceritanya makin seru aja dan bikin penasaran, banyak teka teki yg buat pembaca menerka-nerka. intinya makin keren lah kesininya ><)b
    hong-bin disini jg mulai terbuka dan nerima mi-rae, kai jg sama. sempilan romance chemistery-nya itu jg cukup sukses buat senyum2🙂 ah, buat scene zelo sm mi-rae itu manis :$
    oke segitu aja. selamat terus berimajinasi dan berkreasi azumi-shi ^^

    • Hallo halloooo…, gak apa2 kok. Hehehe
      Panggil Azumi atau Azmi aja boleh. Atau panggil eonni juga boleh. Aku udah nggak muda lagi, udah 24 tahun sekarang. Hahahaha.

      makasih yaaaa udah baca + comment. *hug*❤

  9. *back hug buat eonni* ^^
    aku panggil eonni ya krn ternyata seumuran sm kakak aku🙂 salam kenal azmi eonni dari vie dongsaeng *bow* ^^

  10. Mimii eonn, mian telat banget komen nya, hehehe >,< Aku juga lagi jarang buka twitter. kalo buka, paling bentar aja *abaikan. jadi gak sempet ngeprotes (?) Azumi, hehhe
    Aaah, untung aja Kai udah bangun. Tapi, Mi Rae langsung jadi pelayan nya -_-, wkwkwkw. Untung aja Mi Rae perhatian, sampe beliin buah segala ^^.
    Mimpi Mi Rae pertanda apa sih? Hongbin itu orang planet apa? Mungkin dia di tangkap orang Planet Crowns ya? Ngomong2 Hongbin mulai perhatian ya, sama Mi Rae, aaaa… so sweet ,< Banyak banget pertanyaan nya😄. Miimmii, lanjut terus Powerless nya, aku tunggu. nanti sekalian ngeprotes di twitter, wkwkwk. Tetep semangat ya, Mimi. Fighting!!❤

    • Hehehe….nggak apa2 kok.🙂
      Iyaaaa banyak banget pertanyaannya. >_<. Wkwkwk. Semuanya bakalan kejawab pelan2 di chapter2 selanjutnya.🙂
      Gomawoooo udah baca + comment. ♥

  11. Eonni… *sokakrab klo bkin adegan romance tuh pas bgt, lngsung dpt feelingnya jdi deg deg an bacanya, huh… Jgn sampe nnti kena serangan jantung gara2 baca ff eonni..

  12. Pingback: Powerless (Chapter 7) | wiantinaazmi

  13. Pingback: Powerless (Chapter 6) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s