Can I Be The One? (Chapter 1 from 3)

Title                 : Can I Be The One?

Author                        : Azumi Aozora

Main Casts      : Choi Shin Ae (OC), Nam Tae Hyun (WINNER), G-Dragon / Kwon Ji Yong (Big Bang), Kang Seung Yoon (WINNER)

Support Cast  : TOP / Choi Seung Hyun (Big Bang), Yang Hyun Suk, other Big Bang, WINNER, and 2NE1 members

Genre              : romance, friendship, family

Rating             : PG+15

Length                        : Three – Shots (3 Chapters)

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction. Karakter adalah idol K-Pop. Author hanya memiliki ide dan plot. Sifat ada yang sesuai asli ada juga yang tidak. I make no money from this story, just have fun as fans. Don’t plagiarize this story! Just enjoy and comment. ^_^.

Poster can i be the one

~~~ Chapter 1 ~~~~

========= Author PoV =========

Suatu sore di musim semi…….

Kwon Ji Yong berjalan masuk ke ruangan CEO YG Entertainment setelah mendapat message dengan embel-embel ‘super penting’ darinya. Ji Yong kini terheran-heran melihat boss-nya itu terlihat seperti baru saja mendapat kabar yang sangat buruk. Ada apa? Pikir Ji Yong. Setahu Ji Yong, perusahaan sedang berada di titik puncaknya.

“Hyung, apakah kau baik-baik saja?” Ji Yong mendekati Yang Hyun Suk dan duduk di sofa di hadapannya. Dia sudah terbiasa memanggil boss-nya itu dengan sebutan ‘hyung’ alih-alih ‘sajangnim’.

“Oh, Ji Yong.” Hyun Suk memijit-mijit kening sambil memejamkan matanya. “Besok lusa, keponakanku, Shin Ae, akan kembali ke Korea.” Hyun Suk terdiam, lalu kembali memijit-mijit keningnya sambil menghela nafas panjang.

Ji Yong mengangkat sebelah alis matanya. Choi Shin Ae?

“Kau tahu dia itu pembuat onar kan, Ji Yong?”

Ji Yong tertawa pelan. “Hyung, kau kan sudah 4 tahun tidak bertemu dengannya. Siapa tahu sekarang dia sudah berubah?”

Hyun Suk menggeleng. “Aku tidak yakin. Mengingat semua kelakuannya dulu…, hhhhhh…., aku tak habis pikir mengapa kakak perempuanku yang baik hati dan elegan bisa  memiliki anak seperti dia. Aku merasa malu padamu, Ji Yong~ah…”

Ji Yong tertawa. Tentu saja dia ingat bagaimana ‘tingkah ajaib’ Choi Shin Ae. Tapi dibanding merasa terganggu, Ji Yong justru merasa terhibur dengan semua tingkah Shin Ae yang konyol dan tidak mudah ditebak itu.

“Aku terpaksa menuruti keinginannya untuk bekerja di sini, kalau tidak….dia akan melamar ke SM dan JYP. Aku sudah bilang padanya agar dia terus tinggal di Paris dan bekerja di sana saja, tapi dia memaksaku agar menerimanya di sini. Aku tahu dia berbakat, aku tidak bisa menyia-nyiakan bakatnya, tapi sifatnya itu…hhhhh. Aku ingin kau mengawasinya sesekali kalau kau sempat, Ji Yong. Dia lebih menurut padamu dibanding padaku.”

Ji Yong tersenyum dan mengangguk. “Aku akan mengawasinya, hyung.”

“Hhhhh.., anak itu membuat umurku bertambah tua tiga kali lipat lebih cepat. Kau tahu apa yang dikatakannya pertama kali saat meneleponku?”

Ji Yong menggeleng, tapi dia tersenyum, sudah bisa menebaknya. Hyun Suk menyandarkan punggungnya di sofa, terbatuk pelan, lalu mulai menirukan cara bicara keponakannya yang heboh dengan nada melengking tinggi. “Samchoooon! Samchon! Big Bang apa kabar? Mereka baik-baik saja kan? Kau tidak memaksa mereka bekerja terlalu keras kan, Samchon?” Hyun Suk menghela nafas panjang. “Hhhhh, dia bahkan tidak menanyakan kabar paman-nya. Dia hanya mengingat Big Bang.” Hyun Suk menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ji Yong tertawa. “Kau cemburu pada kami, hyung?”

Hyun Suk berdecak. “Aku kasihan pada kalian, hidup kalian tidak akan tenang lagi mulai sekarang. Aku memperingatkanmu dari sekarang, Ji Yong~ah, karena itulah aku memanggilmu kemari.”

Ponsel Hyun Suk berdering. Dia mengernyitkan dahi-nya begitu melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya. “Yeoboseyo, Shin Ae….”

“SAMCHOOOOON! Aku sudah tiba di YG! Hehehe.”

“MWO? Kau sudah ada di sini? Kau bilang, kau baru akan datang besok lusa!”

“Hehehe…, aku ingin membuat surprise! Samchon, kau tahu di mana Ji Yong Oppa, Young Bae Oppa, Seung Hyun Oppa, Seung Ri Oppa, dan Daesung Oppa sekarang? Aku bawa oleh-oleh untuk mereka.”

“YAH! Kau tidak membawa oleh-oleh untuk pamanmu ini?”

“Hahahaha, oleh-oleh untuk samchon tentu saja adalah kehadiran keponakanmu tersayang ini kan? SAMCHON! Di mana Big Bang? Aku sudah mencari-cari mereka tapi tidak ada.”

“Mereka tidak ada di sini.”

“Yaaaaaah. Jangan bohong, Samchon! Kau pasti tahu di mana mereka kan? Aigoo~ padahal aku sudah bawa oleh-oleh untuk Samchon lho, sudah kutitipkan pada sekretaris Lee.”

Tepat setelah Shin Ae mengatakan itu, sekretaris Lee mengetuk pintu dan membawa masuk sebuah pot berisi bunga-bunga dengan warna-warni yang indah.

“Kau membawakanku bunga?” Yang Hyun Suk tersenyum.

“Itu bukan bunga asli! Itu permen! Samchon! Di mana Big Bang? Di café juga tidak ada….”

Aigoo~, kau menyuapku hanya dengan permen? Kau datang ke sini untuk bekerja kan? Bukan untuk menjadi stalker Big Bang?!”

“Hahaha…, aigoo~ samchon, tentu saja aku datang untuk bekerja. Aku akan mulai kerja besok. Permen itu permen special dan limited edition lhoo Samchon! Aku membelinya saat aku liburan ke London bulan kemarin. OMO….OMO! KYAAAAAA! Aku melihat Kang Seung Yoon!”

Tuuuttt….tuuuuutttt…..tuuuttttt….

Sambungan telepon langsung diputus begitu saja. “Aigoo~ anak itu!”

Ji Yong, yang sejak tadi mendengar percakapan mereka, hanya tertawa. Yang Hyun Suk terus menggerutu, tapi mau tak mau ia tersenyum karena keponakannya itu ternyata membawakannya oleh-oleh juga.

Hyun Suk meraih sebatang bunga berwarna orange. “Aigoo~ permen berbentuk bunga-bunga ini sangat cantik. Sayang sekali kalau dimakan.” Tapi Hyun Suk membuka plastik yang membungkus bunga itu lalu memakannya. “Uhuk…uhuk…uhuk……” Hyun Suk terbatuk-batuk lalu memuntahkan permen dengan rasa mengerikan itu ke tangannya. “Rasanya seperti rasa upil!”

“Hahaha. Jincha? Memangnya hyung pernah makan upil? Hahaha.”  Ji Yong terbahak-bahak, kemudian dia meraih dan meneliti pot transparan berisi banyak sekali bunga-bunga permen beraneka warna itu. Dia membaca tulisan berbahasa Inggris di balik pot. “Permen aneka rasa? Hmmm, mungkin seperti permen segala rasa di film Harry Potter, hanya saja bentuknya berbeda.” Ji Yong meraih setangkai permen bunga berwarna pink.

Hyun Suk menatap Ji Yong dengan cemas. “Kau yakin mau memakannya? Siapa tahu rasa muntah atau rasa yang lebih mengerikan dari itu?”

Ji Yong menggigit kelopak permen bunga berwarna pink itu, mengunyahnya, lalu tersenyum lebar. “Strawberry.” Kata Ji Yong riang.

Mwo? Aish! Kenapa kau bisa dapat rasa normal?”

Ji Yong masih memakan permen itu lalu bangkit berdiri. “Aku akan mengambil oleh-olehku dulu, hyung.”

Hyun Suk menatap Ji Yong dengan cemas. Ji Yong tertawa. “Jangan menatapku seperti itu, hyung. Tenang saja, YG akan tetap aman selama aku mengawasinya.”

======== End of Author PoV========

 

 

======== Choi Shin Ae PoV ==========

OMG! Akhirnya aku bisa melihat Kang Seung Yoon secara langsung! Terkadang memang ada untungnya aku terlahir sebagai keponakan pamanku. Kekekeke.

Saat aku sedang mencari-cari Big Bang dan menelepon pamanku, tanpa sengaja aku melihat Kang Seung Yoon yang sedang duduk di salah satu studio latihan sambil bermain gitar. Jiwa fangirls-ku langsung muncul begitu aku melihatnya. Aku meletakkan koperku begitu saja di lantai, lalu berjinjit, menatap Kang Seung Yoon dari balik kaca dan mulai merekamnya dengan ponselku.

“KYAAAAAAAAA! KANG SEUNG YOOOOOON!” Pekikku heboh sambil terus merekamnya dengan ponselku. Tentu saja dia tidak bisa mendengarku. Aku meraih gagang pintu. Terkunci.

“YAH! Apa yang kau lakukan di sini?” Tiba-tiba saja seseorang sudah berdiri di belakangku, membuatku terlonjak kaget. Aku membalikkan badanku dan melihat seorang pria dengan rambut agak gondrong bergelombang dan dibelah tengah. Tentu saja aku tahu siapa dia, Nam Tae Hyun, salah satu teman satu grup Kang Seung Yoon. Tapi aku tidak peduli! Aku hanya menyukai Kang Seung Yoon di WINNER. Bahkan saat masih kuliah di Paris dulu, aku sengaja streaming WIN hanya untuk melihat Kang Seung Yoon. Aku sudah mengidolakannya sejak dia tampil di Superstar K2. Ah, sayang sekali saat itu aku sedang berada di Paris. Tapi sekarang aku bisa melihatnya langsung! KYAAAAAAA!

Aku tidak memedulikan Tae Hyun dan terus saja memekik girang sambil merekam Seung Yoon. Tae Hyun menarik lenganku dengan kasar, menjauhi kaca studio. “Kenapa kau bisa masuk kemari? Kau mencuri ID pegawai YG kan agar kau bisa masuk? Ck-ck-ck,” Tae Hyun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku dengan dingin. “Dengar, aku berterima kasih karena kau adalah fans Seung Yoon hyung, tapi tolong hargai privasi kami. Apakah kau tidak capek menjadi sassaeng fans? Bla…..bla….bla….” Nam Tae Hyun terus saja mengoceh. Aku tidak begitu memeperhatikan apa yang dia katakan.

“Aigoo~” Aku mengorek-ngorek telingaku dengan jari telunjuk, sudah tidak tahan lagi mendengar omelannya. Siapa yang mengira Nam Tae Hyun sangat cerewet dan mengesalkan seperti ini!

“Nam Tae Hyun ssi, aku tidak mencuri ID pegawai, dan aku bukan sassaeng fans.” Aku tersenyum, tapi mataku menatapnya dengan tajam, berharap tatapan mataku bisa segera membuatnya hancur menjadi kepingan debu dan lenyap begitu saja seperti di film-film fantasy.

Tae Hyun mendengus. “Benarkah?” dia mengangkat sebelah alis matanya.

“Hmmpphh! Huwahahaha…” Aku terbahak-bahak melihat alis matanya yang melengkung dengan aneh.

“YAH! Apakah kau gila? Aku tidak sedang melucu! Aku sedang memarahimu tahu!”

Kata-katanya itu justru membuatku tertawa semakin keras. Tae Hyun hanya geleng-geleng kepala lalu menendang koperku yang tergeletak di lantai. “Kau tidak menyembunyikan bom di dalam sini kan?”

Tepat pada saat itulah, agak jauh di hadapanku, Ji Yong Oppa melambaikan tangannya padaku, lalu berjalan pergi begitu saja.

“OPPA!” Teriakku. Tae Hyun membalikkan badannya tapi tidak melihat siapapun di sana karena Ji Yong Oppa sudah pergi.

Cepat-cepat aku meraih koperku dan berlari meninggalkan Tae Hyun. “YAH! Stalker! Berhenti di sana! Aku akan melaporkanmu!”

Aku tidak memedulikan Tae Hyun dan terus saja berlari sambil menarik koperku. Aku memandang ke kanan dan kiri. Di mana Ji Yong Oppa? Aku terus berjalan cepat di sepanjang lorong lantai 2.

Psstt! Choi Shin Ae!” terdengar bisikkan pelan.

“Omo…Omo..” Aku tersentak kaget saat salah satu pintu terbuka dan Ji Yong Oppa mengintip di baliknya.

“OPPAAAAAAAA! KYAAAAAAA! Kau semakin keren saja, Oppa!” Aku langsung memeluknya dengan erat sambil berjingkrak-jingkrak senang. Ji Yong Oppa hanya terkekeh. Dia menuntunku masuk ke dalam salah satu studio dance yang kosong itu.

“Kenapa kau bersembunyi, Oppa? Di mana Oppa-Oppa yang lain? Aku bawa oleh-oleh lhooo. Koper ini bukan berisi pakaianku, pakaianku sih sudah ada di apartemenku. Ini semua berisi oleh-oleh untuk Big Bang.” Aku berkata dengan cepat dan penuh semangat.

Ji Yong terkekeh. Dia mengacak-acak rambutku. “Memangnya kau bawa oleh-oleh apa untukku?”

Aku berjongkok, membuka koperku, lalu mulai mengeluarkan oleh-olehku untuk Ji Yong Oppa satu per satu. Dua pasang sneakers Louboutin limited edition, empat set pakaian musim semi dan musim panas koleksi Marc Jacobs, topi, gelang, dan berbagai aksesoris lainnya.

Ji Yong membelalakkan matanya. “Sebanyak ini?” tanyanya tak percaya.

Aku nyengir lebar sambil mengangguk. “Hmmm.”

Tiba-tiba saja pintu terbuka, “Hyung, kenapa kau memanggilku kemari?”

Aku membalikkan badanku dan langsung berseru senang ketika melihat Seung Ri. “Mommy Seungriiiiiiiiiiiii!”

“Shin Ae? Yah! Kau benar-benar Choi Shin Ae? Kau sedang tidak mabuk kan? Aku tidak mau dekat-dekat denganmu kalau kau habis minum. Aku masih sayang nyawaku, dan wajahku yang tampan ini.”

Aku tertawa mengingat dulu pernah mencakar wajah Seung Ri ketika aku mabuk. Aku langsung berlari untuk memeluknya. “Mommy! Aku merindukanmuuuuu! Mana Daddy Young Bae, grandpa Seung Hyun, dan uncle Daesung?”

“Shin Ae?”

“Choi Shin Ae?”

“KYAAAAAAAA!” Aku melompat-lompat dengan riang begitu Seung Hyun, Young Bae, dan Daesung datang.

“Grandpa, aku membawakanmu koleksi figure action one-piece yang sangaaaatttt langka. Bahkan samchon-ku pun tidak memilikinya.”

“Benarkah? Huwaaaaa…, gomawooooo cucuku.” Seung Hyun Oppa memelukku dengan erat, sampai-sampai rasanya tulangku akan remuk dibuatnya. Aku terkekeh. Biasanya dulu Seung Hyun Oppa akan merasa sangat kesal bila aku memanggilnya grandpa, tapi sepertinya oleh-oleh dariku membuatnya senang. Aku menjuluki Seungri ‘Mommy’ karena dia sering mengoceh dan bergossip layaknya ibu-ibu. Young Bae ‘Daddy’ karena sikapnya yang hangat dan berwibawa. Seung Hyun ‘Grandpa’ karena aku sering “tidak nyambung” saat bicara dengannya, seolah kami berasal dari generasi yang berbeda, atau bahkan planet yang berbeda! Daesung ‘Uncle’ karena terkadang dia bersikap layaknya pamanku yang suka sok ikut campur masalahku. Sementara Ji Yong ‘Oppa’ –ku, karena dia seperti seorang kakak laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Yah, meskipun di Big Bang Ji Yong sering mendapat julukan “eomma” karena dia paling sering bersih-bersih, tapi bagiku yang pantas mendapat julukan “eomma” / “mommy” itu adalah Seungri, karena dia sangat cerewet!

Yap, aku adalah VIP. Dulu aku selalu memanfaatkan pamanku agar aku bisa bertemu dengan idolaku, Big Bang. Berbagai cara kulakukan agar pamanku mengenalkanku pada mereka, dan lihatlah sekarang! Kelima idolaku memperlakukanku seolah-olah aku adalah teman lama mereka. Kurasa aku adalah fangirls yang paling beruntung di seluruh dunia!

“Shin Ae~ya, bagaimana kabar Yong Bae?” tanya Young Bae alias Taeyang Oppa sambil tersenyum manis. Yang dia maksud adalah ‘Yong Bae’ kucing peliharaanku. Empat tahun lalu, Snowy, kucing Persia kesayanganku, melahirkan 5 ekor anak kucing yang sangat menggemaskan. Aku memberi mereka nama : Young Bae, Ji Yong, Seung Ri, Seung Hyun, dan Dae Sung.

Aku memberenggut sedih. “Young Bae sudah mati. Seung Ri hilang ketika aku menitipkannya di rumah temanku.”

“YAH! Kenapa kau menitipkanku di rumah temanmu? Aish! Kau tidak bisa menjagaku dengan baik!” Seung Ri memarahiku dengan kesal, seolah-olah kucing itu adalah dirinya. Kami hanya tertawa.

“Oh! Ternyata Seung Hyun itu betina! Aku tidak tahu apakah dia menikah dengan Ji Yong atau dengan Dae  Sung. Maksudku…, kucing kan biasanya tidak hanya punya satu pasangan. Seung Hyun sudah punya 8 anak dan aku memberikan semua anaknya pada teman-temanku.”

Ji Yong dan Dae Sung Oppa tertawa, sementara itu Seung Hyun Oppa menatapku dengan dingin dan tajam, membuat bulu kudukku merinding. “Kenapa kau harus menamai kucing betina dengan namaku? YAH! Jangan pernah lagi memberi nama hewan-hewan peliharaanmu dengan memakai namaku!”

Aku mengangguk. “Oke. Lain kali kalau aku punya hewan peliharaan baru, aku tidak akan menamainya Seung Hyun, tapi… TOP! Huwahahaha….”

Seung Ri mengajakku ber-high-five, lalu kami semua pun tertawa. Aku senang, akhirnya aku bisa kembali ke Korea! Aku tahu, dulu sikapku lebih banyak mengesalkannya dibanding menyenangkan. Tapi sekarang aku akan berusaha untuk bersikap lebih “dewasa”. Kekekeke.

*************

 

Keesokan harinya……

Ponselku terus saja berdering. Aku mengerang dan menendang gulingku dengan kesal entah kemana. “Duuuuuh! Siapa yang menelepon sepagi ini?!”

Aku meraba-raba meja, masih dengan mata terpejam. “Hallo.” Gumamku dengan malas.

“Kau dimana, Shin Ae~ya?”

“Samchon? Kau menganggu tidurku saja!”

“KAU MASIH TIDUR? INI HARI PERTAMAMU MASUK KERJA DAN KAU TERLAMBAT?!”

“Sekarang masih jam 6 kan, Samchon. Tenang saja.”

“SEKARANG SUDAH JAM 11 SIANG, CHOI SHIN AE!”

“MWOOOOO?”

Aku langsung membuka mataku lebar-lebar. Gawat! Benar-benar gawat! Pantas saja, tidak biasanya pamanku terdengar marah seperti ini.

“Aku akan segera dataaaaang! Maafkan aku samchooooon! Jangan pecat akuuuu!” cepat-cepat aku berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Tidak perlu mandi, yang penting aku terlihat fresh dan stylish. Setelah memakai BB cream dan lipgloss pink, aku segera berlari keluar dari apartemenku dan mencegat taksi.

30 menit kemudian, akhirnya aku tiba di gedung YG dengan nafas terengah-engah. Aku menunjukkan ID card pegawaiku pada security, kemudian segera melesat menuju lift. Ngomong-ngomong, ruanganku di mana ya?

Aku menelepon pamanku, tapi tidak diangkat juga. “Duuh, apa aku harus ke ruangan samchon?”

Hmm, tapi mungkin saja samchon sedang tidak ada di sini kan? Apa sebaiknya aku mulai kerja besok saja? Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Aku mengirim message untuk pamanku :

Samchon, aku meneleponmu barusan tapi kau tidak menjawab terus. Aku ingin tahu dimana ruanganku? Bisakah ruanganku terletak dekat dengan studio Big Bang? Kkkkkkkk. Jawab aku sekarang juga, samchon! Kalau tidak…, aku akan mulai kerja besok saja. ^_~. *peace*

Aku terkekeh senang setelah pesan itu terkirim. Aku keluar dari lift dan berjalan dengan langkah riang menuju studio Big Bang. Aku tahu, mungkin saja mereka sedang tidak ada di sana. Mungkin mereka sedang ada jadwal, tapi tidak ada salahnya pergi ke sana kan? Aku terkikik geli, dan ketika aku berbelok, sebuah suara membuyarkan imajinasiku.

“Kau mau ke mana, Shin Ae~ya?”

“Oh My God!” Aku terlonjak kaget ketika melihat pamanku sudah berdiri di hadapanku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. “Samchon, kau …. tidak bisa berteleportasi kan? Kau manusia biasa kan, samchon? Kau tidak bisa membaca pikiran kan?”

Pamanku tertawa. “Aigoo~, aku memang tidak bisa membaca pikiran, tapi aku tahu apa yang kau pikirkan, Shin Ae. Ayo!” Pamanku langsung menarik tanganku begitu saja.

“Eh….eh….samchon, aku….”

“Kau mau menemui Big Bang? Tapi sekarang waktunya kau kerja. Oh, dan ruanganmu tentu saja tidak dekat dengan ruangan Big Bang. Ruanganmu…., di samping ruanganku.” Pamanku tersenyum lebar.

“MWO?” pekikku histeris. “Kenapa? Kenapa aku tidak satu ruangan dengan para designer lainnya saja, samchon?”

Pamanku mengangkat sebelah alis matanya dan menatapku dengan penuh selidik. “Jadi kau tahu dimana ruangan designer? Kalau begitu, kenapa tadi kau bertanya padaku lewat kakao talk?”

“Eh? Hahahha. Tidak…tidak kok, aku tidak tahu, samchon, karena itulah aku bertanya padamu. Tapi.., kenapa ruanganku harus berada di dekat ruanganmu?!”

Pamanku masih menarik tanganku, berjalan naik tangga menuju ruangannya di lantai paling atas. “Alasan pertama, agar aku bisa mudah mengawasimu. Kedua, memangnya kau tidak akan merasa canggung bekerja dengan designer lain? Sebagian besar dari mereka sudah tahu kau adalah keponakanku. Ketiga, aku percaya pada bakat dan kemampuanmu, Shin Ae. Aku tahu kau bisa bekerja sendiri.”

Aku memberenggut kesal, tapi mau tak mau tersenyum karena pujiannya. Pamanku menyeringai. Oh-oh-oh, aku tahu jenis seringaian ini! Pasti dia merencanakan sesuatu!

“Aku tahu kau sangat ingin mendesain pakaian untuk Big Bang, tapi sebelum itu….aku punya tugas untukmu. Kalau kau berhasil, kau boleh tetap bekerja di sini, tapi kalau tidak… kau harus kembali tinggal di Paris bersama orangtuamu.”

“Samchoooooon!” rengekku.

Pamanku menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tahu keputusannya tidak bisa diganggu gugat. “Tidak masalah kau datang kemari siang, sore, atau malam. Yang penting, kau menyelesaikan semua tugasmu dengan sempurna. Kau tahu aku tidak mentolerir ketidaksempurnaan dalam pekerjaan kan?”

Aku mengangguk lemah. “Arrasseo, samchon. Apa tugasku yang pertama?”

Pamanku tersenyum puas. “Design pakaian dan aksesoris untuk WINNER. Mereka akan segera debut sebentar lagi.”

Mataku berbinar-binar senang. Aku mengangguk dengan cepat lalu segera memeluk pamanku. “Thank you, samchoooon! Kupikir kau akan menyuruhku mendesain pakaian untuk 2NE1. Aku suka 2NE1 juga, tapi….mereka kan perempuan! Maksudku.., aku lebih suka mendesain untuk pria. Kekekeke….” Aku terkekeh.

Pamanku menjewer telingaku pelan.  “Jangan hanya memperhatikan Kang Seung Yoon! Arrasseo?”

“Hehehe, aku tahu, samchon. KYAAAAAAA! Kang Seung Yoon!”

“Ck….ck…ck….”

****************

 

 

Aku berjalan dengan riang menuju ruang latihan WINNER. Akhirnyaaaaaa aku bisa bertemu dengan Kang Seung Yoon!

“Lho? Kok ruangannya kosong? Di mana mereka? Di mana Kang Seung Yoon?” Aku masuk ke dalam ruang latihan / studio WINNER sambil menatap sekeliling ruangannya. Di pojok ruangan terdapat gantungan pakaian. Aku menebak….diantara tiga buah jaket yang menggantung di sana, salah satunya pasti jaket Kang Seung Yoon!

“Apakah jaket kulit hitam ini?” Aku memegang jaket itu dan meneliti model-nya. Tapi sepertinya aku belum pernah melihat Seung Yoon memakai jaket kulit hitam dengan model seperti ini saat aku menonton WIN dan WINNER TV.

“YAH! Kau lagi?”

Aku membalikkan badanku dan berdecak kesal melihat siapa yang datang. Kenapa aku harus selalu bertemu dengan Nam Tae Hyun?!

“Mana Kang Seung Yoon?” tanyaku tanpa basa-basi.

Tae Hyun memicingkan matanya. “Bagaimana kau bisa masuk kemari?”

“Tsk! Tentu saja karena aku adalah pegawai di sini.”

“Benarkah?” cibir Tae Hyun. “Mana buktinya? Mana ID-mu?”

“YAH! Kau sangat tidak sopan, Maknae! Aku 3 tahun lebih tua darimu.”

“Jadi?” Tae Hyun mengangkat sebelah alis matanya.

“Jadi kau harus menghormatiku!”

Tae Hyun hanya mendengus. Dia menatapku dengan tajam. “Silakan keluar dari sini sebelum aku memanggil security.”

Aku mengerang dengan kesal, lalu meraba-raba saku celanaku tapi sepertinya dompetku tertinggal di ruanganku. “Dompetku tertinggal di ruanganku. ID card-ku ada di sana.”

“Alasan yang bagus!” Tae Hyun memutar kedua bola matanya. Sepertinya dia masih tidak mempercayaiku.

Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada. “Dengar! Kalau kau tidak percaya padaku, ayo kita ke ruanganku sekarang untuk menunjukkan ID card-ku!”

“Untuk apa? Aku tidak peduli.”

“Mwo?”

“Aku tidak peduli kau ini stalker atau pegawai di sini atau apapun. Tolong keluar dan jangan ganggu aku!” Tae Hyun berkata dengan wajahnya yang datar dan seolah sudah malas berhadapan denganku lagi.

Aku tertawa lalu mengacungkan telunjukku tepat ke wajahnya. “Nam Tae Hyun, lihat saja nanti! Aku akan membuatmu terpaksa memakai pakaian yang memalukan! Huwahahahaha…hahaha…” Aku terbahak-bahak membayangkan Tae Hyun memakai pakaian yang norak sementara member WINNER yang lain memakai pakaian yang stylish.

Tae Hyun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar gila!”

“YAH! Kau yang gila!”

“Kau.” Kata Tae Hyun datar.

“KAU!” sentakku.

“Hhhhhh, pergilah. Syuuuuh…..syuuuhhhh….” Tae Hyun mengibas-ngibaskan kedua tangannya, mengusirku.

Tae Hyun duduk di depan komputer dan mulai mengedit lagu. Aku memicingkan mataku. Anak ini kenapa terlihat berbeda dengan di layar TV?! Dia sangat tidak sopan dan menyebalkan!

Aku mengendap-endap di belakangnya, lalu menekan-nekan tombol keyboard dengan asal.

“YAH!” sentak Tae Hyun. Matanya membelalak lebar mengerikan.

“Kau – mengacaukan – laguku.” Tae Hyun menekankan setiap kata yang ia ucapkan sambil menatapku dengan tajam.

Aku tertawa. “Bye!” Aku mengangkat sebelah tanganku, lalu berlari dengan cepat.

“YAAAH!” Tae Hyun berlari mengejarku.

Aku terus berlari di sepanjang koridor, hampir menabrak beberapa orang pegawai yang menatapku dengan heran.

Aku menoleh ke belakang. Sial! Tae Hyun masih mengejarku! Larinya cepat sekali!

Karena mataku tidak fokus itulah, tanpa sadar aku menubruk seseorang. “Aduh!” Kupikir aku hendak terjatuh, tapi aku merasakan sebuah tangan terjulur dan menarik lenganku, dan tangan lainnya menahan punggungku.

“Kau tidak apa-apa?”

Suara berat ini….. aku menegadahkan wajahku dan bertatapan dengan KANG SEUNG YOON.

“KYAAAAAAAAAAAA!” otomatis aku langsung menjerit dan melompat-lompat dengan penuh semangat. Seung Yoon, Jin Woo, Min Ho, dan Seung Hoon menatapku dengan heran.

“Yah! Kau harus tanggung jawab!” Tae Hyun tiba dengan nafas terengah-engah. Aku lupa kalau Tae Hyun sedang mengejarku! Sebelum Tae Hyun sempat menarik lenganku, cepat-cepat aku bersembunyi di balik punggung Seung Yoon.

“Kang Seung Yoon ssi! Tolong jauhkan Nam Tae Hyun dariku!”

“YAH!” Tae Hyun membentakku dan berusaha menarik tanganku tapi Seung Yoon melindungiku.

“Hyung, jangan melindunginya! Dia sudah menghancurkan lagu baruku!” Tae Hyun mengacak-acak rambutnya.

Aku menjulurkan lidahku pada Tae Hyun, masih bersembunyi di balik punggung Seung Yoon.

“Maaf nona cantik, siapa namamu?” tanya sebuah suara bass. Aku menoleh dan melihat Song Min Ho tersenyum lebar padaku sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku terkekeh. Aku tahu, Song Min Ho itu playboy!

“Choi Shin Ae. Aku designer kalian.” Aku balas mengedipkan sebelah mataku padanya.

Wajah kelima pria itu langsung berubah drastis. “Designer?” mereka menatapku tak percaya.

“Jadi…, kau lebih tua dari kami? Kupikir kau anak SMA.” Kata Minho. Aku tertawa, menganggapnya pujian.

“Aku tidak peduli kau ini designer kami atau bukan! Kau harus tanggung jawab! Kau mengacaukan lagu yang sudah kubuat selama berjam-jam!” Tae Hyun berkata dengan dingin.

Aku mengintip dari balik punggung Seung Yoon. “Tidak mau!” Aku menjulurkan lidahku lagi sebelum berlari dengan super kencang.

“YAAAH!” Tae Hyun berteriak dan kembali mengejarku.

Aku beruntung karena saat pintu lift terbuka, pamanku ada di sana! Cepat-cepat aku masuk ke dalam lift dan berdiri di belakang pamanku. Tae Hyun tiba dan membungkuk sopan pada pamanku. Dia menatapku dengan tatapan ingin membunuh, tapi aku tidak memedulikannya.

“Tae Hyun, kau mau masuk atau tidak?” tanya pamanku. Tae Hyun pun masuk dan berdiri di sampingku. Selama di dalam lift, dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus menatapku dengan tajam. Sepertinya dia menahan kata-kata makiannya, dan menungguku keluar dari dalam lift kemudian dia akan mengikutiku. Aku terkekeh. Dia tidak tahu kalau ruanganku satu lantai dengan ruangan pamanku di lantai paling atas.

Tae Hyun menatapku dengan heran saat aku melewati lantai dimana ruangan para pegawai YG berada. Lift berhenti di lantai paling atas.

Pamanku keluar dari dalam lift, aku mengikutinya, tapi kemudian dia berbalik dan menatap Tae Hyun yang masih berada di dalam lift dengan heran. “Nam Tae Hyun, kau ingin berbicara denganku di ruanganku?”

“Eh? Eng..mmm…tidak, sajangnim.” Jawab Tae Hyun gelagapan. Sepertinya dia nervous, atau takut pada pamanku?

Aku berusaha menahan tawa. Pamanku kemudian menatapku. “Kalian mau membicarakan design?”

“Hah? Tidak.” Jawabku cuek.

“Oh, ya! Kami mau membicarakan design!” seru Tae Hyun tiba-tiba dan langsung berjalan keluar dari dalam lift. Dia menyeringai padaku kemudian mengangkat bahunya. “Dimana ruanganmu, nuna?” tanyanya sambil tersenyum lebar.

Aku mendengus kesal. Dia pasti berencana untuk balas dendam! Apa yang akan dia lakukan? Merobek buku sketsa-ku? Mengacak-acak ruanganku?

Aku melotot lebar pada Tae Hyun, memberinya telepati lewat tatapan mataku yang seolah berkata : “ENYAHLAH DARI SINI SEKARANG JUGA, NAM TAE HYUN!”

Tapi Tae Hyun terus memasang senyum manis palsu-nya itu. Pamanku menatap kami berdua bergantian, kemudian tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menepuk pundak Tae Hyun. “Kerja yang bagus, Tae Hyun.”

Aku dan Tae Hyun menatap pamanku itu dengan bingung. Sepertinya lama-lama pamanku jadi aneh seperti Seung Hyun Oppa!

Ponsel Tae Hyun tiba-tiba saja berdering. Seung Yoon menyuruhnya segera datang untuk latihan dance. Aku menghela nafas lega saat Tae Hyun pergi dan tidak jadi “mengacau” di ruanganku. Tae Hyun membungkukkan badannya dengan sopan pada pamanku kemudian masuk ke dalam lift. Pamanku menoleh padaku sambil terkekeh. “Kau menemukan tandinganmu.”

Hah? Tandinganku? Apa maksudnya?

***************

 

 

“Kenapa aku harus ikut ke Jepang untuk acara Hello WINNER, Samchon?! Aku kan designer, bukan stylist! Aku hanya perlu mendesain pakaian untuk mereka dan bukannya memakaikan pakaian untuk mereka ataupun merias wajah dan rambut mereka!”

Sudah hampir dua minggu aku bekerja di YG. Sebagian besar design-ku untuk WINNER sudah hampir jadi dan sedang diproduksi. Aku lebih suka hand-made pakaian dengan menggunakan “tanganku” sendiri dibanding menyuruh orang lain untuk menjahitnya.

Dan tiba-tiba saja sekarang pamanku menyuruhku untuk pergi ke Jepang bersama WINNER! Memangnya aku kurang kerjaan ya sampai-sampai harus ikut mereka ke Jepang?!

“Dengan mengenal WINNER lebih dekat, kau akan lebih mudah mendesain pakaian untuk mereka, Shin Ae ~ya.”

Aku mendengus. “Maksud samchon, design-ku yang sekarang tidak bagus?”

“Bukan begitu, maksudku…, feel-nya terasa berbeda. Ingat saat dulu kau memperlihatkan design pakaian untuk Big Bang? Design itu terlihat luar biasa, Shin Ae~ya, karena kau mengenal Big Bang. Kau tahu karakter mereka.”

“Tapi kenapa harus ke Jepang, Samchoooon?” rengekku.

“Kau tidak perlu bekerja di sana, Shin Ae~ya. Kau hanya harus mencoba mengenal WINNER lebih dekat. Bukankah kau ingin lebih mengenal Seung Yoon juga? WINNER akan banyak beraktivitas di Jepang. Fanmeeting, bahkan YG family concert.”

“Tapi aku bisa mengenal mereka di sini! Aku tidak perlu pergi ke Jepang! Kau kan tahu aku benci Jepang, Samchon!”

Pamanku menghela nafas panjang. “Kau tidak benci Jepang, kau hanya takut.”

Pandangan mataku mengeras. Aku menatap pamanku yang tak berperasaan itu dengan tajam. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu!

“Ayolah, Shin Ae. Aku ingin membantumu. Sudah 10 tahun berlalu….”

Aku menggertakkan gigiku. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di Jepang!”

Pamanku menatapku lekat-lekat. “Benarkah? Bahkan bila aku memberikanmu free pass backstage YG family concert?”

“Tetap tidak mau!”

“Dan mengundangmu ke pesta YG family? Dan mengatur agar kamar hotelmu terletak di samping kamar hotel Ji Yong?”

Aku mendengus. “Aku benci kau, samchon!”

Pamanku malah tersenyum lebar. “Aku juga bisa membelikanmu apartemen di samping apartemen pribadi Ji Yong di Gangnam.”

“Aku benci samchon!” cepat-cepat aku mengusap air mataku.

Pamanku berdiri mendekatiku lalu memelukku sambil menepuk-nepuk pundakku. “Bukankah kau pernah berkata padaku…, kalau Ji Yong mengingatkanmu pada Shi Woo?”

Aku mengusap lagi air mataku. “Tapi aku tidak perlu diingatkan bagaimana Shi Woo pergi dariku 10 tahun yang lalu!” aku menatap pamanku dengan dingin. “Jawabanku tetap tidak, samchon.”

*************

 

Aku sangat ingin tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Ji Yong, dan menjadi tetangganya! Pamanku tahu sejak dulu itulah yang kuinginkan! Aaarrrgggh! Kenapa dia memberiku syarat harus pergi ke Jepang bersama WINNER?!

Aku memikirkan berbagai cara agar pamanku membelikanku apartemen di samping apartemen Ji Yong tanpa harus menuruti syaratnya. Kurasa aku punya 1 cara! Aku masih menyimpan CD rekaman dimana pamanku melakukan dance-dance konyol dan menyanyi dengan suara yang aneh sambil memakai pakaian badut saat ulangtahunku yang ke-15! Aku akan mengancamnya dengan menyebarluaskan rekaman itu!

Sore hari, saat pamanku sedang tidak berada di ruangannya, aku berjalan mengendap-endap, berbohong pada sekretaris Lee bahwa aku akan mengambil barangku yang tertinggal di ruang paman, dan akhirnya aku bisa masuk! Aku menyalakan laptop pamanku, mengetikkan password (oh tentu saja aku tahu apa passwordnya!), lalu mulai memasukan CD rekaman kejadian memalukan dalam hidupnya! Hahahaha. Aku juga meninggalkan pesan :

Samchon, kalau kau tetap menyuruhku pergi ke Jepang, aku akan menyebarluaskan CD rekaman ini ke seluruh komputer YG!

Aku tersenyum puas, kemudian keluar dari dalam ruangan pamanku. Aku sudah tidak sabar menanti esok pagi.

*************

 

Kalau kau menyebarluaskan rekaman itu, kau harus pergi ke Jepang.

Aku masih menatap message yang pamanku kirim padaku tadi malam dengan tatapan tak percaya. Jadi, dia menantangku? Hah, baiklah!

Aku sungguh-sungguh akan menyebarluaskannya, samchon! Kuberi waktu sampai jam 1 siang. Aku akan menunggumu di ruang IT.

Tidak ada balasan lagi dari pamanku. Hah! Lihat saja nanti! Aku yakin pamanku akan mengabulkan permohonanku.

 

Sejak jam 12 siang, aku sudah berada di ruangan IT. Dengan akting-ku yang oke, aku sanggup membohongi staff IT bahwa aku akan menyampaikan informasi penting dari pamanku ke seluruh komputer yang ada di YG secara otomatis dan serentak.

Jadi, di sinilah aku sekarang. Aku sudah memasukkan rekaman itu ke dalam komputer induk. Tentu saja aku tidak akan menekan tombol enter. Aku tidak akan menyebarluaskannya, sungguh! Aku juga kan tidak ingin para pegawai YG menertawakannya. Aku melakukan hal ini hanya untuk menakut-nakuti pamanku. Agar meyakinkannya bahwa aku tidak main-main, maka aku harus bersikap serius seperti ini.

Aku yakin pamanku akan datang. Aku akan bernegosiasi dengannya. Aku akan membuktikan padanya seolah-olah aku tidak takut pergi ke Jepang. Aku berpura-pura akan menyebarluaskan video ini bila pamanku tetap keras kepala dengan menyuruhku pergi ke Jepang sebagai syarat agar aku bisa tinggal di samping apartemen Ji Yong.

30 menit lagi. Pamanku belum datang. Aku mulai mengetuk-ngetuk meja dengan tak sabar. Para staff IT sedang istirahat makan siang. Hanya ada aku di ruangan ini.

Pintu terbuka. “Samchon?” aku membalikkan badanku dan langsung memberenggut kesal begitu melihat Nam Tae Hyun.

“Sedang apa kau di sini?” tanyaku dengan ketus.

Tae Hyun mengangkat sebelah alis matanya. “Bukan urusanmu.” Jawabnya cuek. Dia mendekati salah satu meja staff IT dan meletakkan sebuah DVD yang dibungkus kantung plastik.

“Oooh, jadi kau habis meminjam DVD porno milik salah satu staff IT ya?”

Tae Hyun langsung menatapku dengan tajam, kemudian dia menyeringai. “Bukankah itu kau ya? Kenapa kau diam-diam berada di ruangan ini sendirian?” Tae Hyun mendekatiku dan menatap layar. Dia pun menyeringai lebar sambil menganggukkan kepalanya. “Kita lihat…, film apakah ini?”

“YAH! JANGAN SENTUH APAPUN!”

Terlambat! Nam Tae Hyun sudah menekan tombol enter dan kini layar komputer di hadapan kami menayangkan video pamanku yang bertingkah sangat sangat sangaaaat konyol! Di video itu pamanku memakai pakaian badut yang membuatnya seperti sebuah telur, dengan wajah di cat merah, wig ungu gimbal, lalu dia mulai menyanyi dengan suara fals sambil dance-dance heboh.

“Hmmmpph! Huwahahaaha….hahahaha…hahaha….” Tae Hyun tertawa terbahak-bahak melihat video itu.

Aku memejamkan mataku. Aku yakin, sekarang bukan hanya Tae Hyun yang tertawa seperti ini, tapi seluruh pegawai YG!

Ponselku berdering nyaring. Pamanku! Aku sudah siap mendengarkan omelannya dan suaranya yang bisa mencapai 7 oktaf bila ia sedang sangat marah.

“Samchon, aku tidak….”

“Kau harus pergi ke Jepang.” Kata pamanku dengan tegas. Tidak ada omelan. Entah kenapa rasanya jadi jauh lebih mengerikan.

Aaarrrrrgggghhhhh! Semua ini gara-gara Nam Tae Hyun!

**********

 

 

Dua hari kemudian, di dalam pesawat…..

Aku sangaaaaatttt senang karena bisa duduk di samping Kang Seung Yoon, tapi…, kenapa Nam Tae Hyun harus duduk di samping kiri-ku?!

Selama di perjalanan, aku mengabaikan Tae Hyun dan terus saja mengobrol tentang berbagai hal dengan Seung Yoon. Kami memiliki banyak persamaan seperti : sama-sama menyukai musik rock, sama-sama tidak bisa memasak, sama-sama hobi makan tteokpoki, sama-sama menyiapkan pakaian apa yang akan kami pakai untuk esok hari dari jauh hari sebelumnya, dan masih banyak lagi kesamaan lainnya.

Fiuh, untunglah kehadiran Seung Yoon bisa membuatku melupakan fakta bahwa saat ini aku sedang berada di dalam pesawat menuju Tokyo, Jepang, kota dan negara mimpi burukku!

Tapi di saat Seung Yoon tidur, aku mulai memikirkan hal-hal buruk itu lagi di dalam kepalaku. Aku memejamkan mataku, berusaha tidur, tapi kenangan 10 tahun lalu menyeruak ke dalam otakku begitu saja.

 

*Flashback 10 tahun lalu*

 “Shi Woo Oppa, bagaimana kalau nanti malam kita menyelinap untuk jalan-jalan ke Harajuku? Kau bawa baju untuk cosplay tidak? Aku sudah bawa kostum sailormoon dan sakura!”

“Aigoo~ dongsaengku yang cerewet, kau tidak boleh makan sambil bicara, nanti kau tersedak.”

“Uhuk..uhuk!”

“Apa kubilang kan?” Shi Woo tersenyum lebar sambil mengacak-acak rambutku. “Ayo minum.” Dia menyerahkan gelasnya yang masih penuh padaku. Aku nyengir lalu mulai minum.

“Aaaaaa….” Shi Woo mulai menyuapiku, membuat semua orang yang ada di restoran itu menatapku dengan iri. Bagaimana tidak! Seorang pria muda berwajah sangat tampan – melebihi ketampanan idol-idol Korea, dengan kharisma dan aura kuat yang memancar dari wajahnya – kini sedang menyuapi gadis childish sepertiku. Aku bahkan masih memakai seragam sekolah kami saking terlalu malasnya ganti pakaian.

“Oppa, aku yakin siapapun yang akan menjadi yeojachingu-mu bahkan menjadi istrimu di masa depan pastilah sangat beruntung! Tapi.., aku jauh lebih beruntung karena kau adalah kembaranku! Hihihihi…..”

Shi Woo mengacak-acak rambutku lagi sambil tersenyum. “Katakan saja apa yang kau inginkan. Aku tahu kau memujiku karena kau menginginkan sesuatu.”

Aku terkekeh, kemudian mengacungkan kedua ibu jariku. “Kau memang The Best! Aku mau takoyaki, okonomiyaki, dan kare. Aku masih sangaaaat kelaparan.”

*End of flashback*

 

Dadaku tiba-tiba saja terasa sesak saat satu dari sekian milyar kenangan manis tentang Shi Woo, kakak kembarku, kembali memenuhi pikiranku. Sudah 10 tahun berlalu sejak kepergian Shi Woo, tapi aku masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas.

Seandainya saat itu kami tidak ikut karyawisata ke Jepang…..

Seandainya saat itu aku tidak mengajak Shi Woo kabur dari hotel di malam hari untuk pergi ke akihabara……

Hanya kata “seandainya” yang kini tersisa.

“Gwenchana?”

Aku menoleh dan menatap Nam Tae Hyun dengan heran.

“Tubuhmu menggigil. Apakah kau sakit?”

Aku tidak menjawab satupun pertanyaan Tae Hyun. Aku hanya menggeleng dan kembali memejamkan mataku. Tanpa kusadari, air mataku bercucuran saat aku memejamkan mataku. Aku merindukan Shi Woo…, aku sangat merindukannya!

Aku membuka mataku saat merasakan ada sebuah jaket yang menyelimuti tubuhku. Nam Tae Hyun tidak mengatakan apapun setelah menyelimutkan jaketnya padaku. Dia kembali memasang earphones-nya dan menatap jendela pesawat. Aku juga tidak mengatakan apapun dan akhirnya aku pun tertidur.

 

“Nuna, apakah kau sakit? Wajahmu pucat.” Seung Yoon menatapku dengan cemas ketika kami berjalan di bandara.

Aku tersenyum dan menggeleng. “Aku hanya ngantuk. Hoaaaahhhmmmm.” Aku pura-pura ceria di hadapan Seung Yoon. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar dengan senyuman khas-nya.

Aku, WINNER, manager WINNER, dan stylist WINNER memang datang paling akhir untuk persiapan YG family concert besok, sementara yang lain sudah tiba sejak kemarin. Yah, aku sih datang kemari bukan untuk bekerja kan? Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk persiapan konser?! Aku hanya menuruti apa keinginan pamanku dengan terpaksa! Hhhh, Choi Shin Ae! Semangatlah! Kau hanya harus berada di Jepang selama 5 hari sampai WINNER selesai fan-meeting! Setelah itu kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan!

Aku terus-menerus menguatkan diriku sendiri. Tapi…, apakah aku sanggup bertahan selama 5 hari di sini tanpa memikirkan kejadian 10 tahun lalu?

“Hhhhhh…” tanpa sadar aku menghembuskan nafas panjang lagi, entah untuk yang ke-berapa kalinya dalam setengah jam ini.

Aku duduk di dalam mini bus WINNER, diantara Seung Hoon dan Jin Woo. Mereka menatapku seolah aku adalah alien.

“Nuna, tidak biasanya kau pendiam seperti ini.” komentar Min Ho yang duudk di jok depan.

“Hahaha.., aku hanya mengantuk. Sebaiknya aku tidur.” Aku memejamkan mataku. Kuharap 5 hari segera berlalu.

*************

 

Tidak. Hotelnya tidak sama dengan hotel yang dulu. Tapi tetap saja ini Jepang! Hhhh, oke, Choi Shin Ae, tarik nafas dalam-dalam….hembuskan perlahan.

“Semuanya baik-baik saja. Anggap saja ini di Seoul. Oh, atau di Paris. Ya, ini di Paris, bukan di Tokyo.”

“Apakah kau lupa minum obat?”

Aku menoleh dan melihat Tae Hyun menatapku dengan serius. “Mwo?”

“Sepertinya otakmu mulai kacau.”

Aku mendengus dan memutuskan untuk tidak membalas kata-kata pedasnya. Kami berjalan masuk ke hotel, tak jauh dari Tokyo tower. Kamarku memang sudah diatur agar bersebelahan dengan kamar Ji Yong Oppa, tapi sepertinya pamanku yang menyebalkan itu juga membuat kamar WINNER dekat dengan kamarku!

Aku menarik koperku dan mencari-cari nomor kamarku di lantai 10.

107……yap! Ini dia!

Tae Hyun dan Seung Yoon berhenti di kamar 108. Minho, Seunghoon, dan Jinwoo berhenti di kamar 109.

“Tsk!” Aku berdecak kesal. “Minho~ya…, kenapa kau tidak di kamar 108 saja? Biarkan Tae Hyun di kamar 109.”

JInwoo mengerang. “Aku tidak mau sekamar dengan Tae Hyun! Dia suka mengigau bahkan menjerit saat tidur.”

Aku tertawa. “Benarkah?”

Tae Hyun menatap Jin Woo dengan laser glared andalannya. Jinwoo mengangguk dengan bersemangat dan dengan wajah polosnya dia kembali memberitahuku kebiasaan-kebiasaan jelek Tae Hyun lainnya saat tidur, seperti menggertakkan giginya dan berbicara panjang lebar seperti sedang mengobrol di dunia mimpi.

Padahal Jinwoo seumur denganku, tapi aku merasa sikapnya sangat lucu dan imut seperti maknae. Harusnya Jinwoo yang jadi maknae, bukannya Taehyun!

Kami masih berdiri di depan pintu kamar kami ketika tiba-tiba saja pintu kamar 106 terbuka. Ji Yong Oppa keluar dengan mengenakan kaus putih V-neck, celana jins, sepatu kets yang kuhadiahkan untuknya, dan kacamata hitam. Kontan member WINNER langsung membungkukkan badan dan menyapanya dengan sopan. Aku tidak menyalahkan mereka bila mereka merasa segan pada Kwon Ji Yong alias G-Dragon, yang memancarkan aura dan kharisma yang kuat dari dalam dirinya. Sama seperti Shi Woo.

“Shin Ae~ya, kamarmu di sebelah kamarku?” Ji Yong tersenyum lebar. “Apakah kau sudah sarapan? Aku bangun kesiangan dan sekarang aku sangat kelaparan. Mau menemaniku?”

Aku masih menatap Ji Yong lekat-lekat tanpa mengatakan apapun. Bahkan sikapnya pun mengingatkanku pada Shi Woo. Wajah mereka memang tidak mirip, tapi sifat mereka sangat mirip. Cara mereka memperlakukanku sangat mirip. Karena itulah, sejak dulu aku tidak hanya mengidolakan Kwon Ji Yong, namun juga menyayanginya layaknya aku menyayangi Si Woo.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari dan memeluk Ji Yong. Ji Yong tersentak heran, tapi kemudian tersenyum dan balas memelukku. Aku memeluk Ji Yong lebih erat dan menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan. Dalam hati aku bersyukur karena bisa mengenal Ji Yong. Sepertinya Si Woo mengutus Ji Yong untukku sebagai pengganti dirinya.

Choi Si Woo! Sekarang kau sedang menatapku dari langit kan? Aku bahagia, bodoh! Tidak perlu mengkhawatirkanku. Terima kasih karena di atas sana kau meminta pada Tuhan agar mengirim Ji Yong Oppa padaku sebagai pengganti dirimu. Meskipun aku tahu…, selamanya kau tidak akan pernah tergantikan. Ji Yong Oppa bukan kembaranku, bukan sebagian dari diriku, dan dia tidak akan pernah bisa menggangtikanmu. Dia hanya mengingatkanku pada dirimu, Si Woo.

“Kau kenapa, Shin Ae~ya?” Ji Yong Oppa menatapku dengan cemas saat aku mengusap air mataku.

Aku terkekeh. “Aku hanya senang bisa bertemu lagi denganmu, Oppa. Kau sangat sibuk akhir-akhir ini.” kataku, setengah jujur setengah berbohong.

Ji Yong tertawa sambil mengacak-acak rambutku. “Dasar pabo. Ayo, temani aku makan!” Ji Yong Oppa menuntun tanganku, tapi aku menahannya.

“Koperku…”

“Aaah, aku lupa. Kau kan baru datang. Ayo, aku bantu kau membereskan barang bawaanmu.” Ji Yong Oppa meraih kunci dari tanganku, membuka pintu kamarku, dan membantuku menarik koperku ke dalam kamar. Tanpa kusadari, sejak tadi member WINNER terus mengawasi kami dengan penuh tanda tanya.

****************

 

Seperti permintaan pamanku, aku berusaha mengenal WINNER lebih dekat. Sebenarnya tidak sulit, seandainya saja tidak ada Nam Tae Hyun! Namja itu selalu membuat urat-urat syaraf-ku menegang tiap kali berbicara padanya bahkan hanya sekedar melihat wajahnya yang menyebalkan!

Saat aku ikut ke Tokyo Dome untuk melihat WINNER rehearsal untuk konser YG Family besok malam, mau tak mau aku mengakui kalau mereka memang hebat. Sejak dulu aku tahu Kang Seung Yoon memang hebat, tapi saat menonton WIN maupun WINNER TV, aku tidak pernah terlalu memperhatikan anggota lain. Aku hanya selalu memperhatikan Kang Seung Yoon. Tapi sekarang setelah melihat mereka secara langsung, harus kuakui kalau mereka memang sangat berbakat.

“Ada apa diantara kau dan Tae Hyun?” tiba-tiba saja TOP alias Seung Hyun Oppa duduk di sampingku.

“Oh, Grandpa! Kekekeke…., kau belum latihan kan? Aku akan menunggumu selesai latihan. Aku kan cucu yang baik!” Aku terkekeh.

Seung Hyun masih menatapku lekat-lekat dengan tatapannya yang super tajam. Aku tertawa terbahak-bahak ketika teringat apa yang fans-fansnya katakan di fan café : Tatapan TOP Big Bang bisa membuatmu hamil!

Oh, please! Sangat konyol! Memang sih, tatapan matanya yang dalam dan super tajam itu bisa membuat kaki wanita menjadi lemas, tapi tidak bagiku. Bagiku dia adalah “kakek-ku” dari planet dan galaksi lain.

“Apa ada yang lucu?” tanya Seung Hyun dengan suara beratnya, sambil mengangkat sebelah alis matanya tinggi-tinggi.

“Kau. Kau yang lucu, grandpa.”

Seung Hyun menyeringai. “Jangan mengalihkan pembicaraan lagi, Choi Shin Ae. Jadi, ada apa antara kau dan Tae Hyun?”

Aku mengangkat bahu. “Tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa?”

Seung Hyun terkekeh. “Menurutku kalian aneh.”

“Yah! Grandpa! Sebelum kau berkata aku aneh, sebaiknya kau bercermin dulu! Justru kau yang aneh!”

Seung Hyun geleng-geleng kepala. “Kau tahu? Biasanya selalu kau yang membuat orang lain pusing dengan tingkahmu yang menakjubkan. Kau selalu carefree. Kau tidak peduli apakah orang lain membencimu atau tidak. Kau juga tidak pernah terganggu dengan sikap orang lain padamu. Tapi sekarang-sekarang ini…., kau merasa terganggu dengan Nam Tae Hyun. Benar kan?” Seung Hyun tersenyum misterius.

Aku mendengus keras. Seung Hyun kembali bicara absurd. “Aneh sekali kan ada orang yang bisa membuat seorang Choi Shin Ae merasa kesal? Aku harus memberi Tae Hyun piala grammy.”

Aku mencubit lengan Seung Hyun dengan keras. Seung Hyun menjerit dengan suara bass-nya yang menggelegar. “YAH! SAKIT!” membuat orang-orang menatapnya.

Aku mengangkat kedua tanganku sambil menjulurkan lidah. “Grandpa alien, kalau kau terus bawel seperti ini, aku akan menjulukimu Mommy! Seungri Oppa akan kunaikkan jabatannya menjadi Grandma.”

“Hahahaha….hahahaha…, grandma? Seriously? Hahahaha…. Kenapa grandma kau sebut naik jabatan?” Seung Hyun memegangi perutnya sambil terus tertawa.

Aku mendesah. “Tentu saja karena bagiku…, seorang nenek jauh lebih berharga daripada seorang ibu.”

Seung Hyun masih tertawa, sementara aku terdiam, tatapanku menerawang.

Karena mendiang nenekku jauh lebih menyayangiku dibanding ibuku sendiri. Ibuku membenciku setelah Shi Woo meninggal. Mungkin dia berharap akulah yang meninggal dan bukannya Shi Woo, anak kesayangannya.

Hhhhh, sudahlah. Lagipula sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan ibuku. Pamanku tidak tahu bahwa selama aku berada di Paris, aku tinggal sendiri di asrama universitas, tapi kadang ayahku datang untuk mengecek keadaanku, sementara ibuku sama sekali tidak pernah datang, bahkan saat wisuda pun hanya ayahku yang datang. Pamanku tidak tahu bahwa kakak yang sangat dipujanya itu berhati lebih dingin daripada es dan lebih keras daripada batu!

*************

 

Keesokan paginya, saat sarapan di restoran hotel……

Aku duduk bersama Big Bang, jauh dari keramaian. Sekarang aku mengerti mengapa pamanku bersikeras agar ruanganku berada di dekat ruangannya. Sangat tidak nyaman rasanya mendapati para staff / pegawai YG memperlakukanku dengan terlalu sopan dan terlalu hormat seolah-olah aku adalah boss mereka.

Aku menatap Big Bang satu persatu. Aku beruntung karena memperlakukanku dengan normal. Yah, mungkin saja karena mereka sudah menganggap pamanku sebagai kakak sekaligus ayah mereka sendiri?

Aku melirik WINNER yang duduk jauh dari kami. Mereka juga terlalu sopan padaku. Tapi bisa saja hal itu disebabkan karena umurku jauh lebih tua dari mereka.

Selama sesaat, mataku bertatapan dengan mata Tae Hyun. Aku menyeringai. Oh, ada satu orang yang tidak tahu sopan santun!

Aku terkekeh. Entah kenapa merasa senang ada orang selain Big Bang di YG yang memperlakukanku secara “normal”. Yah, bedanya Big Bang baik sedangkan Nam Tae Hyun jerk!

“Shin Ae~ya! Kau benar-benar DAEBAK! Aku belum pernah melihat Hyun Suk hyung bertindak konyol seperti itu!” Seung Ri mengacungkan kedua ibu jarinya kemudian kembali makan dengan lahap dan cepat.

Aku memutar kedua bola mataku. “Mommy, kalau kau makan terlalu cepat, saat di panggung nanti malam kau akan mengalami indigestion.”

Seungri tidak memedulikanku dan terus saja makan dengan cepat. Seung Hyun mendekatkan wajahnya pada kami sambil berbisik. “Kalian mau dengar gossip?”

“Gossip apa hyung?” tanya Seung Ri dengan bersemangat. Matanya berbinar-binar jenaka. “Apakah gossip ini sangat top secret dan bisa kita gunakan untuk meminta liburan pada Hyun Suk hyung? Kekekeke.”

Aku memutar kedua bola mataku. Dasar maknae pembuat onar!

Seung Hyun tersenyum misterius. Young Bae pura-pura cuek tapi sebenarnya dia menajamkan telinganya. Daesung nyengir lebar pada Seung Hyun, menanti Seung Hyun berbicara dengan sabar, benar-benar terlihat seperti anak anjing yang menunggu tuannya memberi makan. Hanya aku dan Ji Yong yang makan dengan tenang dan tidak terpengaruh dengan “gossip” yang ditawarkan oleh Seung Hyun.

“Kudengar ada anak WINNER yang diam-diam berkencan tanpa sepengetahuan Hyun Suk hyung.” Seung Hyun berkata dengan suara berat-nya yang khas, lalu menatap kami satu per satu dengan tajam dan licik untuk meninggalkan efek dramatis.

Seungri mendengus. Dia menusuk-nusukkan garpu ke roti-nya dengan keras. “Awas saja! Akan kulaporkan pada Hyun Suk hyung. Kau ingat kan hyung? Dulu saat kita pertama kali debut, kita dilarang untuk berkencan? Dan BAHKAN kita baru diperbolehkan berkencan baru-baru ini.” ujar Seungri dengan mata berapi-api.

“Tapi kau kan sejak dulu selalu berhasil lolos dan tidak pernah ketahuan.” Komentar Young Bae.

Daesung terbahak-bahak sambil ber-high-five ria dengan Young Bae. Aku langsung menatap Seung Hyun dengan penasaran. “Siapa? Siapa member WINNER yang diam-diam berkencan?”

Seung Hyun tersenyum misterius padaku. “Menurutmu siapa?” dia mengangkat sebelah alis matanya dan menatapku dengan raut wajah mengesalkan.

Aku mendengus. “Yang pasti bukan Nam Tae Hyun! Mana ada yeoja normal yang mau pacaran dengannya!”

Tanpa kuduga Seung Hyun tertawa dengan keras. Kami semua menatapnya seolah ia sudah gila. Tapi sejak dulu dia memang gila dan aneh!

“Dia sangat populer dikalangan wanita. Kau tahu tidak? Bahkan hampir semua staff wanita YG dan artis wanita YG menyukainya.” kata Seung Hyun lagi setelah berhenti tertawa.

“Mana mungkin!” tukasku tak percaya.

“Let’s see….” Seung Hyun menggedikkan kepalanya ke arah meja WINNER.

Aku menoleh dan melihat beberapa staff wanita YG mendekati meja WINNER untuk memberi mereka makanan.

“Kenapa tidak ada yang memberi kita makanan?” protes Seung Ri sambil terus makan.

“Memangnya semua makanan ini belum cukup? Ck..ck…ck…” Young Bae hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku juga melihat eonni-eonni 2NE1, terutama Park Bom eonni melambaikan tangan dengan riang ke arah WINNER, tepatnya ke arah Tae Hyun, begitu mereka memasuki restoran. Mereka bahkan duduk di dekat WINNER!

“Kenapa mereka tidak duduk di dekat kita?” protes Seungri lagi, masih dengan mulut penuh makanan.

“Yucks! YAH! Menjijikan!” Daesung membersihkan bajunya yang terkena cipratan makanan Seungri.

“See?” Seung Hyun menyeringai padaku.

“Jadi, benar si maknae menyebalkan itu yang diam-diam berkencan?” tanyaku pada Seung Hyun.

Seung Hyun berusaha menahan tawa. “Kenapa kau terlihat sangat ingin tahu, Shin Ae~ya?”

Kontan  aku langsung mencubit lengannya, membuatnya melotot tajam padaku. “Karena kau yang awalnya membuatku penasaran, grandpa!”

“Apakah kau cemburu?” goda Seung Hyun. “Benci bisa menjadi cinta lhoo…, seperti di drama-drama, dan komik, dan novel. Aaaahhhhh….”

“Hentikan ocehan-mu yang absurd itu, grandpa!” gertakku dengan kesal. Tapi Seung Hyun terus saja tersenyum misterius sambil menatapku dan Ji Yong bergantian. Kenapa dia melihat Ji Yong? Aku menoleh pada Ji Yong dan tersentak kaget melihat ekspresi bad mood-nya. Gawat, bila sang naga sedang bad mood, maka hal-hal kecil akan menjadi besar.

“Kenapa pelayan itu terus menatap Winner? Mwoya?! Dia mengenali Winner tapi tidak mengenaliku?” Seungri mulai mengoceh lagi.

“DIAM KAU, MAKNAE! KAU SANGAT BERISIK!” bentak Ji Yong.

Seungri langsung mengkerut di kursinya dan kembali makan dengan tenang, berusaha menjadi anak baik. Apa kubilang kan?! Bila Ji Yong Oppa sedang bad mood, maka semuanya akan jadi kacau. Selama sisa sarapan itu kami semua makan dengan tenang, yah kecuali tatapan usil Seung Hyun padaku.

Seung Hyun mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Aku punya teori.”

“Teori apa? Teori bahwa di galaksi lain ada sekelompok makhluk mengerikan yang memiliki wajah dan sifat sepertimu?” tukasku ketus.

Seung Hyun menyeringai dan terus saja berbisik. “Tak lama lagi kau akan merasa bingung. Sangaaaaaaatttt bingung.”

Aku menatap Seung Hyun seolah otak-nya sudah rusak. Apa sih yang dia katakan?!

Seung Hyun terus terkekeh, membuat Ji Yong menatapnya dengan tajam. Seung Hyun mengangkat kedua bahunya seolah berkata “Apa salahku?”

Tiba-tiba saja meja bergetar, kursi bergetar, lantai bergoyang menimbulkan bunyi berkelontangan nyaring saat piring dan gelas berjatuhan ke lantai. Gempa!

Dadaku terasa sakit. Pandangan mataku buram. Aku berdiri dan menatap sekeliling. “SHI WOO OPPA! SHI WOO OPPAAAAAAA! DI MANA KAU? SHI WOO OPPAAAAAA?” Aku menjerit keras, tidak sadar bila semua orang kini melihatku dengan heran.

Gempa ringan itu sudah berhenti, tapi aku terus memanggil-manggil nama Shi Woo sambil berlarian mencari-cari sosok Shi Woo yang tidak bisa kutemukan…….

 

*Flashback 10 tahun lalu*

@Akihabara………

Aku menjerit keras saat gempa hebat mengguncang Tokyo. Gadget dan CD games yang baru saja kubeli kujatuhkan begitu saja di lantai. Aku panik. Aku mencari-cari kembaranku tapi tidak bisa menemukannya.

“Shi Woo Oppa! SHI WOO OPPAAAAAAAAAAAA! OPPPPAAAAAAAAAAAAAA!” Aku berteriak sekuat tenaga, berlarian di sepanjang lantai 4. Orang-orang mulai berhamburan keluar gedung. Aku tahu gempa kali ini bukanlah hanya gempa kecil biasa yang sering terjadi, tapi salah satu gempa paling kuat yang pernah terjadi.

“SHI WOO OPPAAAAAAAAAA DI MANA KAU?”

Lantai terus bergoyang keras, membuat tubuhku oleng. Berbagai benda elektronik berjatuhan dari rak dan menggelinding di lantai. Ketika aku melewati etalase ponsel, kaca pecah dengan suara memekakan telinga. Gempa kali ini benar-benar mengerikan! Aku harus keluar dari sini! Tapi di mana Shi Woo? Kenapa tadi aku harus tergoda melihat-lihat CD games dan meninggalkan Shi Woo yang sedang melihat-lihat komputer?!

“SHIN AE! CHOI SHIN AE!”

“SHI WOO OPPA!”

Aku berlari ke arah Shi Woo. Wajahnya terlihat kacau. Matanya memancarkan ketakutan. “Kita harus keluar……kita…..” Mata Shi Woo membelalak lebar dan tiba-tiba saja dia menerjang ke arahku, membuat tubuhku terlempar jauh ke belakang.

“AAAAARRRGGGGHHHH!” jeritku. Kaget, takut, sekaligus bingung mengapa Shi Woo mendorongku.

Kemudian aku melihat darah. Genangan darah di lantai……..

“SHI WOO OPPAAAAAAAAAAA!” aku menjerit histeris saat melihat tubuh Shi Woo tertimpa rak besi berisi berbagai jam antik. Pecahan kaca itu menembus kulitnya, kepalanya, wajahnya.

Aku berusaha mengangkat rak besi yang menimpa tubuhnya, tapi sia-sia. Rak itu sangat berat! Guncangan gempa sudah mulai ringan. “Tidak….tidak…, OPPAAA! BERTAHANLAH!” Aku mengguncang-guncang tubuhnya di lantai. Matanya tak juga membuka. “SHI WOO OPPAAAAAAAAAAAAAAA!”

*end of flashback*

 

“Shi Woo Oppa….” Lirihku.

Aku tidak tahu dan tidak ingat apa yang terjadi kini. Yang aku tahu, sekarang aku duduk di depan pintu masuk hotel sambil memeluk kedua kakiku. Wajahku terbenam diantara kedua lututku. Air mataku bercucuran. Aku tidak bisa menemukan Shi Woo…, aku tidak bisa menemukannya.

Kemudian sebuah kesadaran menghantamku. Tentu saja aku tidak bisa menemukannya. Dia sudah meninggal. Dia pergi dariku 10 tahun yang lalu. Dia tidak ada di sini….

“Shin Ae!”

“Choi Shin Ae!”

“Shin Ae~ya…”

“Nuna….”

Aku mengangkat wajahku dan melihat orang-orang berkerumun di sekitarku. Big Bang, Winner, para staff YG……

Ji Yong Oppa memakaikan mantel-nya di tubuhku. Seung Yoon membantuku berdiri dan mengangguk pada Ji Yong Oppa. Semua orang menatapku dengan cemas dan bingung. Mungkin mereka mengira aku gila.

Ji Yong melingkarkan sebelah lengannya di pundakku, membantuku berjalan menembus kerumunan orang-orang. Saat berjalan melewati Winner dan bertatapan mata dengan Nam Tae Hyun, entah kenapa sorot matanya terlihat sedih, seolah dia mengerti apa yang kurasakan.

Aku mendengus. Tidak ada seorang pun yang mengerti! Bahkan ayah dan ibuku pun tidak mengerti! Tidak ada yang lebih mengerikan dibanding selamat dari sebuah kecelakaan tetapi penyelamatmu…. Kembaranmu…….separuh jiwamu….. meninggal demi dirimu.

==== TBC ====

 

 

Sorry kalau ada typo. >_<. Belum di edit.

Perasaan gw nulis ini lamaaaaa banget deh sampai berminggu-minggu. Efek lagi nggak mood tapi pengen nulis sesuatu, efek stress mau ujian, dan berbagai efek lain kayaknya. Hahaha.

Yang nunggu Powerless….., tenaaaang ya. Kalau udah jadi pasti di posting. >_<.

Sekali lagi, gw menulis karena hobi dan untuk menghilangkan kepenatan (salah satu cara menghilangkan kepenatan), dan gw nulis kalau memang lagi ada waktu dan lagi mood. So, please be patient! And don’t be silent reader, please! Komentar kalian bisa jadi penyemangat.

 

Arigatou, ^_^

-Azumi Aozora-

 

 

13 thoughts on “Can I Be The One? (Chapter 1 from 3)

  1. uwaaa winner cast again ?😀 ah ada jiyong jugaaaa
    huh gemes banget sama karakter mereka disini :3
    lav you ka >>.<<
    btw, ss md udah engga ada lagi nih ka ? u,u

  2. Mimiii miann telat baca >.<

    Hahhahahaha shin ae ternyata dibalik tingkah hypernya dia punya masa lalu kelam T.T. oya hehe aku nemu beberapa typo, hehe tumben ajah haha

    Nam tae ngeselin juga ttnyata hahhaha xD, tp mungkin dia bisa ngertiin shin ae, lama2 shin ae kayak kamu mii.. melipir dr ksy ke si maknae hahhaha

    entah knapa aku lebih suka baca ff kamu yg karakter ceweknya terkesan cool, dark (emang coklat), hahha tp ini bagus kokk

    Lanjuttt yahhh hehe~ tar aku juga mw baca powerless kkkk

    *okesip balik kerja T.T /knapa gw harus masuk saatbpda libur*abaikan
    Fighting next chapter

    • Wkwkwk…mungkin krn mirip aku ya klo yg cool2? LOL
      Masuk kerja? Kkkkkk….semangaaatttt N!!! Biar besok libur ya? Atau jumat yg libur?
      Siip.
      Ak jg nunggu FF kmu yg KSY. Wkwkwk

      • wkwkwkkwk iyahh juga karena ga tau, feelnya lebih dapet bangett

        hahahahha kagakkkk~~~ ntarrr jauh ganti hariny -_-“, tapi ga banyak krjaan disini juga, mw ngenet ajah *dibuang

        hahahha iyaa tuh ff masih tertunda~

        udah liat artikel yg haru dibully sama Haru? kkkkk~ aku jadi dpet inspirasi lnjutin ff aq yg QS sr sana😄

      • Wkwkwk…iya bodor bgt Haru. Mungkin buat Haru sih yg ganteng tetep Taeyang Oppa sama GD Oppa.
        Haduuuh padahal KSY jg ganteng gitu. Mungkin tipe Haru yg kayak GD…jadi harusnya Tablo bawanya Taehyun. Wkwkwk

  3. halooo aku reader baru salam kenal… maaff udang lancang baca FFnya… ceritannya sangat menarik.. g terlalu rumit.. penasaran tunggu kisah selanjutnnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s