Hidden Fates (Chapter 5)

Hidden Fates

Author             : Kunang & Azumi

Chapter           : 5 (Dark Past)

Main Cast       : Kim Jun Hyo (OC), Cho Min Hyun (OC), Kim Jun Myeon/Suho (EXO-K), Jang Hyunseung (Beast), Park Chan Yeol (EXO-K), Choi Min Ho (SHINee)

Support Cast   : Jo Mi Young (OC), Kang Yoora (OC), Kim Jong Dae (EXO-M), Xiumin (EXO-M), Baekhyun

Length             : Multichapter

Genre              : Family, romance, drama, friendship, supernatural, AU

Rating              : PG-15

Disclaimer       : Kim Jun Hyo milik Kunang dan Cho Min Hyun milik Azumi, sedangkan Suho, Hyunseung, Chanyeol dan Minho milik mereka sendiri. Cerita ini murni milik dari weird- happy- chicken maniac– Kunang and cool-stubborn-lovely Azumi Aozora, plagiat jauh-jauh sebelum dikirim Kris ke Galaxy terus digebukkin alien disono,

Summary         : There is a past, and There is a future. Everybody couldn’t avoid both of them. How if there were persons who can tell your past and future? Wanna take a look? This is the story about Jun Hyo – a *Psychometry ice princess yet beautiful rich heiress who hates losing– and Min Hyuna *Precognitive clumsy girl yet lovely rookie doctor who loves green tea– .. When they see the things that they shouldn’t be seen, the hidden fates are revealed.

 

 

HiddenFates_violetkecil

 

5th Fate Revealed by Kunang (Takdir Kelima dibuka oleh Kunang)

 

===||.: Author PoV :.||===

@Teater Club’s Room

 

“Fiuuhhh…….” Sekali lagi seorang namja berpostur jangkung dengan badannya yang kurus menghela nafas panjang. Lengannya yang panjang masih merangkul lutut dan juga gitar kesayangannya. Sudah lebih dari sejam yang lalu yang namja tampan itu lakukan hanya terduduk sambil memeluk gitar pemberian ayahnya. Salah satu hartanya yang paling berharga tapi sekarang entah mengapa benda ini membuat orang yang dikagumi nya seolah membencinya.

Dan itu sangat menyakitkan.

Jreng…

Chanyeol memetik gitarnya dengan asal, dia sama sekali tidak sedang berminat untuk memainkannya. Perlahan ia menutup mata dan diotaknya secara otomatis kembali terulang kejadian satu jam lalu yang sepertinya baru saja terjadi sedetik sebelumnya.

-Flashback

Saat itu Chanyeol kebetulan sedang membawa gitar kesayangannya ke ruang klub, tidak ada seorang pun di sana karena semua anggota klub teater berjanji berkumpul di ruang klub sekitar 2 jam lagi. Namja itu tahu bahwa ruang klub masih sepi, dan itu lebih baik daripada menghabiskan waktu di sekitar kampus dimana orang-orang secara terang-terangan menggosipkan hubungan Hyo dan Minho. Bahkan perpustakaan pun menjadi tidak nyaman karena diisi beberapa mahasiswa yang membicarakan topik yang sama di balik lembaran buku yang mereka baca. Dan telinga Chanyeol sudah terasa lebih dari terbakar mendengar itu semua, hatinya terasa gerah mendengar segala gosip mengenai hubungan Hyo dan Minho, yang menguatkannya hanya penjelasan Hyo bahwa itu semua salah paham.

Ya, itu hanyalah salah paham. Kau harus percaya pada Hyo, Park Chanyeol!

Brakk *Suara pintu tiba-tiba terbuka*

“OPPADEUL!!!”

“Hyo…?” seketika wajah Chanyeol dihiasi senyum saat menyadari Hyo lah yang membuka pintu, tapi senyumnya mengendur ketika menyadari gadis yang dipujanya itu terengah-engah. Wajahnya yang seputih salju terlihat begitu pucat seolah baru saja melihat setan, dan di mata cokelatnya seolah dibayangi kecemasan yang begitu pekat. Segera saja Chanyeol berdiri dan mendekati Hyo.

“Junhyo ya, gwenchana?”

Hyo tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dan matanya menyapu ke sekeliling ruangan “Apa yang lain —gitar siapa itu?”

“Ah.. itu milikku, Lihat Hyo, ini—“ baru saja Chanyeol mengambil dan hendak menyodorkan gitarnya lebih dekat pada Junhyo, gadis itu langsung mendorong gitar nya kembali ke tubuh Chanyeol hingga namja itu mundur selangkah.

“ENYAHKAN BENDA ITU!” pekik Hyo seolah benda yang baru saja didorongnya begitu menjijikan “JAUHKAN BENDA ITU DARIKU!”

“Eh..? kenapa?”

“Aku… AKU BENCI BENDA MENJIJIKAN ITU!” Hyo menggigit bibirnya, kedua telapak tangannya mengepal erat sementara kedua bola matanya tampak mulai tergenangi air mata, belum sempat Chanyeol bereaksi lebih lanjut, Hyo meninggalkan namja itul begitu saja. Setengah membanting pintu ruangan klub hingga terdengar debaman keras.

‘Gyutt’

Perlahan telapak tangan Chanyeol menekan dada kirinya yang terasa sakit dan sesak, otaknya seolah kekurangan suplai oksigen sehingga terasa belum bisa bekerja untuk mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Hyo. Padahal selama ini Chanyeol berpikir mereka sudah cukup akrab, bahkan Hyo telah mengiyakan ajakan Chanyeol untuk main ke apartmentnya sabtu depan.

Benda menjijikan? Chanyeol benar-benar merasa seperti ditampar dimuka umum! Bagaimanapun gitar dipelukannya lebih berharga dari benda apapun. Tapi melebihi itu, namja jangkung itu sangat sedih, sedih karena tiba-tiba saja Hyo membenci gitarnya.

Karena mungkin tanpa namja itu benar-benar sadari, Hyo telah menjadi orang yang paling berharga baginya. Melebihi siapapun.

Flashhback End

 

“Chanyeol!”

“Ah.. hyung?” Chanyeol langsung menegakkan punggungnya dan berdiri saat seorang berjas putih masuk ke dalam ruangan.

“Ah.. aku mengerti sekarang …” Suho menganguk-angguk ketika melihat gitar yang masih dalam rangkulan Chanyeol “Setelah kejadian tadi dan adikku melihat benda itu, sepertinya adikku memang masih trauma. Benda itu, maksudku gitar-mu mengingatkan Hyo pada pria brengsek itu!”

“Maksud hyung?” Chanyeol melipat dahinya dalam-dalam tak mengerti, sementara Suho hanya tersenyum pahit.

“Aku tak bisa mengatakan apapun, tapi nasihatku, sebaiknya kau tidak membawa-bawa gitar dulu jika tidak ingin dibenci oleh Hyo”

“Wae?”

“Gitar itu… mengingatkannya pada orang yang paling dibencinya, dan sekaligus mungkin masih dicintainya”

===||.: End of Author PoV :.||===

 

=====// Junhyo PoV//=====

 

Kang Seung Yoon ….

Apa yang dia lakukan dengan tiba-tiba muncul disini? Tidak cukup puas kah dia sudah menyiksaku dulu?

Aku menatap foto-fotoku dengan Minho oppa di papan pengumuman, melepasnya satu persatu. Tapi pikiranku malah kembali melayang-layang pada saat aku menemukan Chanyeol dan gitarnya di ruang club. Sedikit rasa bersalah terasa menguar di dadaku, tidak seharusnya aku seperti itu padanya. Jika saja aku tidak tahu kalau namja itu telah kembali, tentu aku bisa menahan diri …

Tapi kali ini aku tidak boleh lari, aku bukan Junhyo yang lemah seperti dulu.

Aku menarik nafas panjang dan kemudian melepas sarung tangan yang sedang kugunakan. Tanganku yang polos pun perlahan menyentuh foto-foto yang tertempel di papan pengumuman itu, perlahan kedua mataku tertutup. Aku harus memastikan jika memang yang memasangnya adalah Seung Yoon.

Tak banyak yang bisa kulihat dari memori yang’tertempel’ di foto-foto ini. Aku hanya bisa melihat seorang pria jangkung bermasker yang sedang memasang-masangkan foto itu di papan pengumuman pada malam hari. Sinar lampu dan sudut yang tepat membuatku sekilas bisa melihat matanya, dan ntah bagaimana aku tahu dia sedang tersenyum ke arahku. Senyum yang membuatku bergidik. Dan setelah beres menempelkan foto yang terakhir, namja itu mengangkat tangan kanannya yang tak tertutupi apapun, seolah menyapa atau yang lebih yakin bermaksud menyindirku. Aku bersumpah sekarang senyum licik sedang tersungging di wajahnya.

“Bagaimana chagiya? Ya.. Kang Seung Yoon –mu ini lah yang telah melakukannya.”

“Cih!” aku mendadak mundur untuk memutuskan memori yang kulihat dan langsung saja punggungku menabrak sesuatu yang kokoh yang tepat berdiri di depanku.

“Gwenchana?”

“Minhyun ssi?” aku mengerjap bingung saat telapak tangan seorang gadis menahan bahuku, dengan tubuhnya yang relatif lebih mungil dariku dia tidak terlihat oleng walaupun aku menabraknya.

“Kau terlihat tidak sehat, badan mu bergetar, mukamu pucat dan keringat dingin mengalir di dahimu.” Minhyun menatapku – lebih tepatnya ke arah di bawah mata ku – dengan cemas sementara tangannya mengaduk-aduk tas tangannya untuk mengeluarkan sapu tangan yang kemudian dia kenakan untuk menyeka keringat dinginku “Mau kuantar ke klinik?”

“Tidak perlu, nae gwenchana” aku menolak bantuannya dan tak sengaja mendorong kembali sapu tangan yang dia ulurkan.

Dan kemudian aku pun melihat seorang gadis kecil yang sedang menangis histeris, suara tangisannya begitu menyayat hati. Berkali-kali gadis itu memanggil sosok yang tercitra pada dua buah pigura besar yang diletakkan di altar sementara seorang namja berpakaian serba hitam yang beberapa tahun lebih tua darinya terus memeluknya. Namja itu hanya diam tapi aku bisa melihat air mata di sudut matanya.

Aku langsung tahu namja itu adalah Cho Kyuhyun

“Junhyo ssi, gwenchana? Kau kenapa?”

Aku menggelengkan kepalaku yang pusing, terlalu banyak memori buruk yang kulihat hari ini. Mungkin sepertinya aku harus mengikuti kata-kata Suho oppa agar selalu memakai sarung tangan, karena akhir-akhir ini hanya dengan sentuhan yang tidak seberapa aku bisa melihat masa lalu seseorang.

Padahal dulu aku harus berkonsentrasi untuk melihat memori dalam suatu benda.

“Kau harus ke klinik.”

Aku menatap Minhyun agak bingung, kenapa dia begitu baik padaku? Atau dia memang pada dasarnya gadis yang baik? Selama ini aku tidak terlalu menyukainya karena masa lalu konyolku dengan oppa nya yang menyebalkan. Tapi melihat masa lalunya tadi, mau tak mau aku merasa agak kasihan.

“Baiklah… tapi tenang saja, aku bisa jalan sendiri” kataku dan akhirnya kami berdua pun berjalan ke klinik bersama. Rasanya aneh tapi menyenangkan berjalan bersama Minhyun, seolah aku memiliki teman wanita. Selama ini aku tidak benar-benar memiliki teman wanita, bahkan saat Senior High pun yang bersamaku hanyalah Seung Yoon dan teman-teman kakakku.

Kami melewati lobi-lobi gedung klub dan memotong lapangan basket yang tidak digunakan karena udara masih terasa sangat dingin. Dan seketika itu juga kelebatan-kelebatan memori saat aku dan Seung Yoon bermain basket pun terlintas, masa-masa yang kupikir menyenangkan tapi tidak setelahnya.

“Arghh…”

“Kau kenapa? Kepalamu sakit?”

Aku menggeleng dan kembali berjalan. Mungkin jika ego-ku tidak terlalu tinggi, aku akan meminta bantuan Minhyun untuk merangkulku karena sekarang tubuhku mulai terasa melayang.

“Hyo, ada dua hal di dunia ini yang tidak bisa kulepaskan.” Entah bagaimana aku bisa mendengar suara Seung Yoon dengan jelas, bahkan aku mengingat jelas sinar matanya yang kelam seolah menembus diriku “ itu adalah gitar dan kau”

BRUK

“JUNHYO SSI?!!”

Dan aku pun tak ingat apa-apa.

 

===//===

 

“Choi Minho ssi?” aku mengedipkan bola mataku yang terasa silau saat melihat sosok tinggi berwajah mungil yang sudah tidak asing lagi. Dan kemudian mataku menyapu seluruh dinding putih ruangan yang berbau antiseptik ini. Ah… aku pasti pingsan di lapangan tadi. Tapi bagaimana caranya aku bisa sampai di sini?

“Ck… apa kalau ada orang lain saja kau mau memanggilku ‘oppa’?” tanya Minho, dengan agak kasar dia mencabut plester penurun panas di dahiku, membuatku memberengut. “Ingat, kau sendiri yang memulai ‘akting’ pura-pura punya hubungan spesial denganku, jadi setidaknya bersikaplah sedikit seperti yeojachingu-ku”

“Heoh?”

“Apa kau amnesia kalau sekarang kita digosipkan berpacaran?”

“Ahh… eothokke? Menyusahkan! Kau tahu betapa mengerikan tatapan para fans mu padaku sekarang?” protesku agak jengkel.

“YA! Memangnya aku senang digosipkan denganmu?” Minho oppa mendengus “Tapi… kurasa buat ku tak ada ruginya, abeoji sama sekali tidak menentang dan eomma malah senang karena dari dulu dia memang mengincarmu sebagai menantunya, jadi orang tuaku tidak akan ribut mencarikanku jodoh. Dan seperti kata-katamu, Si Won hyung sudah memiliki gadis lain yang dia cintai. Aku juga sudah bosan dijodohkan. Tapi kalau kau tak ingin, mungkin kita bisa pura-pura putus dan…”

“Jjamkam….” Aku tiba-tiba teringat dengan Seung Yoon. Sesungguhnya aku tak ingin mengingat namja satu ini karena selama yang kuingat dia adalah iblis kejam dibalik wajah malaikatnya, tapi mungkin jika dia tahu kalau aku sudah punya kekasih, namja itu tidak akan berbuat macam-macam.

“Mwoya?”

“Baiklah, kita—-” hampir saja aku akan mengusulkan agar sandiwara ini berlanjut ketika bayangan raut wajah kecewa Park Chanyeol melintas di otakku. Sangat tidak menyenangkan melihat dia sangat terpukul ketika mendengar pengakuan Minho bahwa aku adalah pacarnya.

Sebentar, kenapa aku jadi peduli dengan perasaanya?

“Kita apa?” Minho menatapku penuh selidik, tampak tak sabar dengan kata-kataku “Baiklah, intinya aku hanya ingin menawarkan padamu, apa kita berpura-pura pacaran saja?”

“Tapi…” tanpa sadar aku telah mengepalkan kedua telapak tanganku sedangkan alam pikiranku masih tidak bisa lepas dengan namja penebar virus bahagia itu.

Park Chanyeol ….

“Apa kau keberatan? Apa ada namja yang sedang kau cintai? Aaahh… apa mungkin namja itu adalah Park Chanyeol?”

“MWO? Anniya!. aku sama sekali tidak mencintai Park Chanyeol!” kataku gelagapan, entah mengapa aku begitu shock Minho bertanya semacam itu. Apalagi tatapannya seolah bisa menangkap kebohongan yang keluar dari mulutku. Eh.. tunggu,, tadi aku bilang ‘kebohongan’ , jadi…? ahhh aku pusing!

Tiba-tiba saja tangan hangat Minho memegang dahiku, membuatku sedikit bergidik karena kaget “Syukurlah panas mu sudah turun, kau harus bersyukur Junhyo ssi, aku terpaksa bolos kuliah karena menjagamu sampai sore ini”

“Wae? Aku tidak memintanya… “ kataku sambil bangkit dari tempat tidur “oh ya Minhyun ssi mana?”

“Aku memintanya agar masuk kuliah saja” jawab Minho, dia sama sekali tidak membantuku bangun dan hanya mengawasiku. Sikapnya sering kali sangat dingin, berbeda dengan Suho oppa. Bagaimana namja seperti ini bisa jadi dokter?

“Terima kasih sudah menolongku, aku harus ke kelas” tanpa melirik ke arah Minho, aku pun bergegas meninggalkan kamar klinik. Baru saja aku merasa bisa bernafas sedikit lebih lega, sosok namja yang menyandar di pinggir pintu keluar membuatku terkejut.

“Cha… Chanyeol?!”

Dan yang pertama kali muncul di benakku, adalah… apa dia mendengar semua percakapanku dengan Minho?

“Maaf”

Aku mengerjapkan mataku dengan bingung. Maaf? Untuk apa Chanyeol tiba-tiba meminta maaf? Padahal jelas aku yang bersalah karena marah padanya, hanya karena Kang Seung Yoon aku bisa membenci gitar padahal mungkin gitar tadi adalah benda berharga bagi Chanyeol.

“Chanyeol, aku—“

“Hyo ya, bisa kah ke apartment-ku hari ini saja? Ah.. kebetulan ibuku mengirim bahan makanan banyak, dan aku ingin mengundangmu dan juga Suho hyung untuk makan di tempatku”

“Eh…?”

Chanyeol sekarang menampakkan senyuman lebarnya, ia menggenggam kedua pergelangan tanganku dan mengayun-ayunkannya “kajja~ kau tak akan menyesal!”

Aku pun akhirnya menganguk dengan bingung dan tak menolak ketika Chanyeol menarikku untuk bergegas, menjauhi klinik. Sedangkan rasa bersalah di hatiku masih belum mereda, akan lebih baik jika Chanyeol marah padaku. Marah karena kata-kataku yang tajam mengenai gitarnya dan juga marah karena mendengar percakapan ku dengan Minho oppa.

Mungkin, tanpa aku sadari, aku telah berharap Chanyeol merasa cemburu ….

 

====/ Author PoV/====

@Lab

 

Jika beberapa kelas telah terlihat sepi seiring dengan tenggelamnya matahari, itu tidak berlaku untuk labotarorium anatomi yang masih ramai oleh mahasiswa-mahasiswi yang sedang menyelesaikan laporan praktikumnya. Tapi tidak seperti biasanya, seorang pria tampan yang biasanya berkeliling dan memeriksa hasil penelitian para mahasiswa sekarang hanya terdiam dengan ponsel di genggaman tangannya, pikirannya menerawang. Ia masih mengingat message yang baru diterimanya.

From : Chanyeol

Hyung! Aku dan Hyo akan memasak kimchi stew dan pancake kentang untuk makan malam di apartmentku. Kau pulang seperti biasa kan? Kami tunggu makan malam bersama!

From : Hyo’s lovely

Oppa! Aku sedang memasak bersama Chanyeol, kau cepat pulang! Jika tidak, aku akan menghabiskan semuanya!

“Suho ya, kenapa kau melamun? Ada masalah?”

“Ah… aku baik-baik saja seonsaengnim” Suho yang merupakan asisten dosen langsung menegakkan punggungnya dan tersenyum.” Aku akan berkeliling dan melihat hasil mereka semua.”

Suho pun mulai berjalan berkeliling, walau pikirannya terus melayang ke arah lainnya. Jika sebelumnya pikirannya selalu dipenuhi oleh Cho Min Hyun, rupanya kali ini Chanyeol dan adiknya berhasil mengembalikannya pada kenyataan. Sejak dulu, saat Suho melihat seorang namja jangkung sedang memperhatikan adiknya di taman, saat dia menyadari siapa namja jangkung itu, ada ketakutan yang menurutnya menggelikan dan tidak mungkin terjadi.

Tapi bagaimana jika ‘itu’ terjadi?

Jika hal itu sampai terjadi, bukan hanya Chanyeol, adik kesayangannya pun akan menderita.

Suho menggelengkan kepalanya, dan tanpa sadar bergumam “Tidak.. tidak mungkin… bagaimanapun Chanyeol telah berjanji… Chanyeol telah berjanji tidak akan menyukai Hyo”

Dzttttttt….. dzttttt………..

Suho bisa merasakan ponsel dalam saku jas putihnya bergetar. Setelah ijin pada dosen seniornya, dia pun keluar lab untuk menerima panggilan yang sebenarnya sedang malas diterimanya.

“Nee… abeoji”

“Jun Myeon ah, kudengar kau sudah menemukan ‘anak itu’?” tanya suara berat pria disebrang, Suho yang makin tak bersemangat langsung menyenderkan tubuhnya di dinding lab yang dingin.

“Aku belum yakin kalau dia adalah anak itu” kata Suho pelan “Dari dulu ada yang membuatku penasaran, kenapa kau tak meminta Hyo yang memastikannya? Mungkin dia bisa memastikan—-“

“Hyo tak akan bisa, yang jelas aku percaya padamu kali ini Jun Myeon ah”

“Ya.. percayakan saja padaku” jawab Suho berusaha terdengar tenang, dan ia pun akhirnya menutup teleponnya setelah pria di seberang memutuskan sambungan telepon mereka terlebih dahulu.

Tenanglah Kim Jun Myeon … Jika Park Chanyeol benar adalah ‘anak itu’, Hyo akan bebas… Hyo akan bisa bebas dari belenggu ayah dan menentukan mimpinya sepertiku.

Suho baru saja menghela nafas dan berpikir untuk kembali masuk ke dalam lab ketika suara langkah kaki terdengar mendekatinya, membuat namja tampan itu menengok.

Long time no see, Suho hyung!”

Suho langsung menegakkan punggungnya, sorot matanya yang biasanya lembut mendadak menjadi awas ketika mengenali suara manly yang menyapanya “Kau!!! Kang Seung Yoon! Apa yang kau lakukan disini?!”

“Yaaa… kau tampak seperti habis melihat penjahat saja hyung, aku kecewa” Kang Seung Yoon, pria bertubuh tegap dengan wajah tampan dan rambut ditata gaya terlihat tersenyum senang melihat ekspresi Suho yang terlihat ingin sekali menendangnya. Tubuhnya yang terbalut jaket kulit hitam dan celana jeans dengan warna senada menyandar tepat di dinding di hadapan Suho.

“Kau.. yang melakukannya kan?” geram Suho, jika saja dia tak ingat bahwa di balik dinding itu ada para mahasiswa dan dosen mungkin saja dia sudah mencoba menghajar Seung yoon hingga babak belur. “Apa maksudmu menyebarkan foto itu?”

“Ahh.. ketahuan ya? Hmm..entahlah… kupikir awalnya menarik, tapi ternyata cukup membosankan” Seung Yoon pun kemudian mengecek ponselnya yang bergetar “ah.. aku harus pergi”

“YAA!! Kau mau per—“

“Oh ya hyung” Seung Yoon yang tadinya hendak beranjak, tiba-tiba memotong kata-kata Suho. Senyum licik tercipta di bibir tebalnya “Aku tahu, apa yang sedang hyung rahasiakan pada Hyo”

“MWO? KANG —-“

Brak *suara pintu lab terbuka*

“Suho ya, apa kau sudah selesai? Aku butuh bantuanmu di dalam” tanya Prof. Lee, membuat Suho tak melanjutkan niatnya untuk mengejar Seung yoon dan menganguk lalu mengikuti dosennya masuk ke dalam lab. Sekarang Suho benar-benar merasa tidak tenang. Dia belum tahu apa yang diinginkan oleh Kang Seung Yoon dengan kembali menampakkan diri di depannya, tapi yang paling meresahkannya, apa benar dia mengetahui ‘rahasia’ itu?

Jikalau benar Seung Yoon tahu, mungkin selama beberapa saat Suho harus mencoba membungkamnya.

 

===//Still Author PoV//====

 

“Aku sama sekali tidak mencintai Park Chanyeol”

 

Chanyeol kembali memejamkan matanya ketika suara itu kembali bergema di telinganya. Saat Chanyeol mendengar bahwa Hyo membenci gitarnya, dia merasa begitu sesak dan sedih. Tapi ternyata ada kata-kata lain yang membuatnya lebih tertekan. Hyo tidak mencintai Park Chanyeol, bahkan Suho hyung pun mengatakan bahwa kemungkinan Hyo masih mencintai pria bernama Kang Seung Yoon.

Ya, di klinik akhirnya Chanyeol menyadari bahwa perasaanya pada Hyo lebih dari sekadar fans yang ingin menjaga idolanya. Fans ini ingin memiliki idolanya dengan seutuhnya. Apakah ini cinta? Atau ini reaksi fans yang wajar karena terlalu dekat dengan idolanya sehingga merasa diiming-imingi mimpi untuk memiliki pujaannya? Park Chanyeol tidak lah buta. Dia tahu posisinya sebagai pemuda yang tumbuh dari keluarga sederhana dan dia juga tahu posisi Hyo sebagai Heiress dari Elite Seven Oceans (ESO) corporation, mereka tidak akan pernah sejajar.

Dia benar-benar seperti punguk merindukan bulan.

“Chanyeol!!! Lap nya terbakar!!” pekik Hyo, membuat Chanyeol yang sedang melamun langsung tersentak mendapati ujung lap yang digunakannya untuk pegangan panci agar tidak panas saat mengaduk, tiba-tiba terbakar oleh api kompor gas. Hyo yang ntah sejak kapan sudah mengambil segelas besar air, menarik lap itu dan menjatuhkannya untuk menyiramnya dengan air.

“Hyo—“

“Kau kenapa sih malah melamun? Aww…..” Hyo mengernyit ketika merasakan perih di telunjuknya karena luka bakar ringan dari insiden tadi. Chanyeol yang melihatnya langsung menangkap lengan gadis itu.

“Kenapa? Kau kena luka bakar ya?”tanya Chanyeol khawatir, dan ketika gadis di depannya mengangguk, namja tampan itu langsung menarik lengan Hyo ke arah keran air dan membasahinya dengan air yang mengalir.

“Chanyeol ah… aku bisa melakukannya sendiri, kau bisa kembali memasak” kata Hyo agak gugup ketika keheningan melanda mereka. Tangan kiri Chanyeol masih memegangi pergelangan tangan kanan Hyo dengan posisi tubuh saling berhadapan, seolah mencoba menahan diri untuk tidak memeluk tubuh di depannya.

Chanyeol benar-benar tidak memperhatikan kata-kata Hyo, karena keberadaan gadis di depannya saja sudah hampir membuatnya gila. Mata namja itu tak dapat menahan diri untuk menatap wajah cantik Hyo lekat-lekat, dan belum lagi aroma gadis di depannya itu seolah mendorongnya untuk memeluknya erat.

“Chanyeol ah.. kau—“ Hyo tak sanggup melanjutkan kata-katanya ketika tangan kanan Chanyeol yang bebas telah melingkar di pinggangnya. Menarik tubuh gadis itu hingga nyaris tak ada jarak antara mereka. Dan Hyo pun tak menolak ketika Chanyeol melepaskan tangan kirinya untuk merengkuh tengkuk gadis itu dan semakin mendekatkan wajahnya, hingga Hyo bisa merasakan nafas Chanyeol di pipinya.

Ting Tong

Ting Tong

Ting Tong

“AHH!!!” hanya tinggal beberapa cm lagi jarak antara mereka, suara bel yang berdering membuat mereka saling menjauh. Hyo tidak lagi membanjur tangannya yang kena luka, melainkan wajahnya juga karena terasa panas. Sedangkan Chanyeol masih terlihat bingung dengan apa yang akan dilakukannya.

“Se-sepertinya itu Suho hyung.. a.. aku akan buka pintu.”

“Baiklah.” jawab Hyo dengan nada diriangkan, dan langsung berpura-pura heboh saat menyadari Kimchi Stew yang mereka buat hampir saja kehabisan kuah karena dimasak terlalu lama.

“Hyo, aku tak tahu jika kau bisa memasak! Hahhahhaha… lihat! Oppa bawakan tteokbokki kesukaanmu.” suara Suho oppa begitu pintu terbuka, namja itu langsung melewati ruang tamu dan menuju dapur seolah berada di tempat tinggal nya sendiri sementara Chanyeol mengekor dari belakang.

“Ohh…”

“Wae, kau tidak suka?” Mata Suho menyipit melihat reaksi Hyo yang terlihat gugup, mata gadis itu sama sekali tidak mau menatapnya. Maka tatapannya beralih kepada Chanyeol yang langsung membuang muka “Hei.. ada apa ini? Apa kalian bermusuhan?”

“Anni… ”  jawab Junhyo sebelum Chanyeol membuka mulut, gadis itu mengangkat Kimchi Stewnya yang telah matang dan terlihat menggiurkan ke meja makan kecil di dekat dapur. Menambah daftar makanan selain curry dan pancake kentang yang telah Hyo dan Chanyeol masak sebelumnya.

Dan Hyo merasa sedikit bersyukur karena ketika makan, ketegangan antara dia dan Chanyeol sepertinya telah cukup mencair. Namja jangkung yang sekarang duduk di hadapannya telah kembali menjadi happy virus biasa yang melemparkan candaan dan bercerita dengan bersemangat. Walau begitu tetap saja Hyo penasaran, apakah kejadian di dapur tadi hanya ilusinya saja? Atau Chanyeol hanya sedang mengerjainya?

Oh ya, bukankah tadi ia memegang Chanyeol? Kenapa dia tidak melihat bayangan masa lalu namja itu?

Sudahlah Kim Jun Hyo!! Kenapa kau jadi aneh seperti ini!

“Hyo… apa kau yang memotong ini? Daebak!” sindir Suho sambil menunjukkan beberapa potong daging curry yang masih saling berhubungan atau belum benar-benar terpotong, sementara Chanyeol terlihat menahan tawa.

“Anni! Yang membuat curry adalah Chanyeol, aku memasak Kimchi Stew nya” kata Hyo jujur, berniat memelototi Chanyeol tapi ketika menatap matanya, Hyo langsung memalingkan wajahnya. Entah mengapa gadis itu merasa wajahnya memanas.

“Ya… Kim Jun Hyo, mukamu merah, hahhaha kau ketahuan berbohong!” tebak Suho sambil menaruh beberapa potong daging curry di piring ku “Sudahlah, jujur saja, yang penting kan taste nya. Jujur ini enak sekali, dibanding Kimchi Stew nya”

“Terserahlah! Aku lapar!” Hyo pun kembali memakan makanannya dengan perasaan tidak menentu. Tapi tanpa gadis itu sadari, bukan hanya dia yang merasa tidak tenang. Chanyeol pun merasakannya hanya saja dia lebih lihai menutupi perasaannya.

 

====/ Still Author PoV/====

 

Hari-hari pun berlalu berganti minggu, dan semua seolah kembali seperti biasa. Gosip heboh mengenai hubungan Minho dan Hyo pun sudah tidak jadi perbincangan hangat ketika memasuki musim ujian, lagipula apa yang mau digosikan jika akhir-akhir ini mereka sama sekali tidak berinteraksi? Minhyun sepertinya sudah terbiasa dan semakin akrab dengan Hyun seung dan para pengikutnya, juga semakin sering membantu Suho membantu memeriksa hasil ujian mahasiswa baru. Sedangkan Hyo, walaupun jengkel, gadis itu tidak bisa menolak ketika Princess Hyo’s club semakin memperketat penjagaan mereka pada gadis itu sejak Suho bertemu dengan Seungyoon. Setiap hari, jika Suho berhalangan, Xiumin selalu mengantar jemputnya, Baekhyun akan mengawasinya selama kegiatan klub drama dan Luhan akan selalu ada di sisinya ketika ia belajar atau sekedar membaca di perpustakaan.

Dan ada yang berubah tanpa benar-benar disadari Park Chanyeol. Perlahan dia telah menjadi idola kampus. Sosoknya yang tidak lagi terlihat geek dan kutu buku karena style nya berubah membuatnya menjadi populer. Apalagi setelah dia masuk dalam klub teater dan berhasil membius para mahasiswi dengan aktingnya beberapa waktu lalu.

“Hyung, biarkan aku saja yang menemani Hyo menyelesaikan proposal klub teater dan mengantarkannya pulang, otthe? Hyung yang lain dan Baekhyun sepertinya sibuk. Tenang saja, aku akan menjaga Hyo.” pinta Chanyeol pada orang disebrang. Saat ini adalah hari terakhir ujian dan selain Chanyeol, Baekhyun dan yang lainnya masih ada jadwal ujian lain.

“…..” lawan bicara Chanyeol terdiam sejenak seolah sedang berfikir “Baiklah, tapi kau harus langsung mengantar Hyo pulang setelah kalian menyelesaikan proposal itu”

“Nee hyung.” senyuman lebar terkembang di wajah Park Chanyeol, dan ia pun kembali menunggu Hyo menyelesaikan ujian mata kuliah pilihannya.

Tak lama Hyo pun beres dan mereka langsung menuju ke ruangan klub Teater melewati lapangan basket, ketika sebuah bola tiba-tiba saja menggelinding dan tepat mengenai sepatu Junhyo. Tapi belum sempat gadis cantik itu mengambilnya, sebuah lengan jenjang telah mengambilnya terlebih dahulu. Park Chanyeol sekarang telah mendribble bola basket dengan stabil.

“Rupanya sang putri angkuh dan fanboynya yang datang.” Sindir Minho sarkastik. “Aku sedang tidak mau berurusan dengan kalian, cepat lemparkan bolanya!”

“Choi—“

‘Plung’

Lidah Junhyo tercekat ketika lemparan bola Chanyeol tepat memasuki ring basket padahal jarak antara ring dan Chanyeol seperti jarak ring basket satu dengan yang lainnya.

“Chanyeol, kau….daebak!” Junhyo masih bingung sekaligus kagum, ia pun mengacungkan jempol ke arah Chanyeol yang langsung memasang senyum lebarnya. Melihat hal tersebut, entah mengapa memancing kekesalan Minho. Namja berambut gelap itu tanpa berpikir panjang segera mengambil bola basket di lapangan dan melemparkannya hingga nyaris mengenai bahu Chanyeol. Sedangkan teman-teman Minho yang sebelumnya bermain bersamanya sudah ke pinggir lapangan begitu menyadari Minho tidak tertarik lagi main bersama mereka.

“Satu lawan satu, yang pertama kali mendapatkan score 10, dialah pemenangnya!” tantang Minho, matanya menatap tajam dan lurus ke arah namja yang tak kalah tinggi darinya, Park Chanyeol.

“Chanyeol-ah, jangan ladeni dia, kita—“

“Berikan aku waktu 10 menit Hyo, selama itu tunggulah disini” Chanyeol tersenyum menenangkan sambil menepuk bahu Hyo sebelum dia melonggarkan kerah bajunya dan berjalan ke tengah lapangan basket untuk berhadapan dengan namja yang sejak tadi menatapnya nanar.

“Aha.. sekarang aku ingat. Bukankah saat semi final kejuaraan basket antar Senior high, ada seorang kapten dari Seungri Senior High yang kemampuan basketnya sangat diakui? Tapi sayang karena sebuah insiden, kapten itu tidak bisa bermain dan akhirnya tim tersebut kalah.”

“Ternyata ingatanmu berfungsi juga Choi Min Ho ssi, aku pikir kau benar-benar melupakanku.”

“Baiklah, karena kau begitu memprihatinkan, akan kubiarkan kau menyerang terlebih dahulu.”

“Oke, kalau—–“ Chanyeol menghentikan kata-katanya ketika pandangannya beralih ke arah Jun Hyo tadi berdiri. Tidak ada gadis itu. Matanya yang lincah mulai mencari sosok Junhyo di sekeliling lapangan yang cukup ramai, tapi matanya tak mampu menangkap sosok wanita itu. Seketika dadanya terasa sesak, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Hyo?

Princess… kau dimana?

“YAA! KAU MAU KEMANA?!”

Chanyeol tak memedulikan teriakan Minho dan langsung meninggalkannya untuk segera mencari Junhyo. Jika saja kecemasan Suho dan Baekhyun terbukti, jika saja kata-kata Baekhyun sebelumnya menjadi kenyataan. Bukan mustahil Kang Seung Yoon yang membawa pergi Junhyo.

Jika saja Chanyeol tidak terpengaruh oleh tantangan Minho, jika saja ia mendengarkan kata-kata Baekhyun untuk tidak meninggalkan Hyo, tapi tentu saja, hal-hal seperti waktu lampau tidaklah bisa diulang kembali dan hanya untuk dikenang.

 

Flashback, seminggu sebelumnya

 

“Kenapa kau begitu penasaran dengan Kang Seung Yoon? Dan darimana kau tahu nama orang itu?” Baekhyun tak bisa menyembunyikan rasa curiganya ketika Chanyeol tiba-tiba saja menyinggung namja itu saat Chanyeol menumpang ikut belajar di apartmentnya.

“Suho hyung pernah bilang jika orang itu telah kembali, orang yang dibenci sekaligus mungkin masih dicintai Hyo, orang itu bernama Kang Seung Yoon kan? Aku mengetahui namanya dari Luhan hyung, tapi dia menolak untuk bercerita. Ayolah Baekhyun-ah…bukankah kau sahabat terbaikku? Please.. jebal…. Jangan ada rahasia antara kita!”

”Entah mengapa kalau kau yang mengatakannya, seolah terdengar menjijikan.” protes Baekhyun sambil berpura-pura menggigil.

“Oh ayolah! Lagi pula tidak ada ruginya kau memberitahuku kan? Cuman kau yang bisa kuandalkan Baekhyun-ah, kau kan teman sekelas princess Hyo saat masih SMA.” Tambah Chanyeol lagi sambil memasang wajah memelasnya.

Baekhyun terdiam sejenak, seolah bimbang hendak mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Dan akhirnya ia menarik nafas panjang sebelum berbicara. “Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi jangan bilang pada siapapun ya jika kau tahu dari aku”

“oke”

“Kang Seung Yoon adalah mantan kekasih Junhyo, lebih tepatnya Junhyo yang memutuskan Seung Yoon tapi sepertinya namja itu tidak terima”

“Wae? Kenapa Hyo memutuskan pria itu?”

Drugs

“Mwo?” dahi Chanyeol melipat

“Drugs –obat obatan terlarang” bisik Baekhyun, sepertinya keraguannya hilang saat dia mulai bercerita. “Sepertinya Seungyoon tidak terima karena dimasa sulitnya, Junhyo malah meninggalkan dia.”

“Jadi Seungyoon …”

“Tapi kudengar dia sudah lepas dari benda-benda terlarang itu, dan… entah mengapa aku merasa ada hal lain, ntah mengapa aku cemas.” tambah Baekhyun sambil menerawang, dan kemudian ia kembali menatap namja jangkung di depannya “YA! Park Chanyeol! Aku sudah memberitahumu sebanyak ini, jangan sampai Suho hyung tahu kalau kau tahu dari aku ya!”

Flashback END

 

====/ Jun Hyo PoV/====

 

Aku merasa sangat pusing dan lemas. Rasanya otakku sulit bekerja ketika mencium bau dinding-dinding lembab dan juga minuman keras. Perlahan aku membuka mataku yang terasa berat saat seketika aku merasa tangan dan kakiku tak bisa digerakkan. Anni.. aku tidak lumpuh, tenyata tangan dan kakiku telah terikat pada kursi kayu yang sedang kududuki. Dan terlebih aku tak bisa membuka mulutku karena tertutup lakban. Sekeras apapun aku berusaha, aku tetap terkunci dalam tempat tertutup yang hanya di sinari lampu remang-remang. Ini pasti basement tidak terpakai di suatu tempat.

Perlahan rasa takut menjalariku. Dari dulu aku sangat takut dengan tempat gelap dan saat ini aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Apa yang harus aku lakukan? Aku membenci semua ini! Sebentar… jangan-jangan aku… diculik?

Menyadari apa yang terjadi padaku, aku langsung meronta lebih keras. Berusaha mendorong kursi yang menahan tubuhku, mencoba mendekati anak tangga yang menuju ke sebuah pintu. Saat ini aku bahkan sudah tidak bisa menahan air mataku yang dengan deras mengalir keluar. Dan saat sedikit saja aku hampir mencapai anak tangga, aku kehilangan keseimbangan dan…

BRUAK

Aku menangis semakin keras ketika merasa seluruh tubuhku terasa begitu sakit. Lenganku sudah sangat lemas sekarang untuk sekedar melepas ikatan di pergelangan tanganku. Jika saja ikatan ini bisa lepas, tentunya aku bisa melepaskan tali yang mengunciku pada kursi.

CHANYEOL …. PARK CHANYEOL… TOLONG AKU!!

Aku terus menjeritkan nama itu dalam hati. Ntah mengapa saat ini aku begitu berharap Chanyeol akan membuka pintu dan menolongku. Harapanku seolah dinaikkan ketika ada bunyi berderit, dan ketika aku mendongak ke arah pintu…

“Chagiya, kau sudah bangun?”

Kang Seung Yoon

Dengan segala kekuatan yang tersisa aku berusaha menyeret tubuhku menjauh ketika seorang namja jangkung berambut hitam menuruni tangga. Mata tajam dan senyum khasnya seolah begitu menikmati rasa takut yang menjalariku. Tidak ada yang terlalu berubah dengan fisiknya, hanya ia jauh lebih kurus dan matanya terlihat lebih cekung. Aku langsung tahu begitu ia masuk, dia tak akan melepaskanku begitu saja.

Karena aku adalah orang yang telah mengkhianatinya.

Ya, aku meninggalkannya. Aku meninggalkannya dulu karena aku takut. Sejak dua tahun lalu Seungyoon mengenal benda-benda haram seperti heroine dan lainnya, dia berubah menjadi Seungyoon yang tak kukenal. Seungyoon berubah menjadi namja kasar yang sering memukuliku, bahkan dia mulai memerasku untuk membayar semua barang haramnya. Maka dari itu, Suho oppa yang tak tahan melihat penderitaanku menyuruhku untuk memutuskan hubunganku dengan Seungyoon dan membawaku ke luar negeri. Dan saat itu, aku memutuskan bertemu dengan Seungyoon untuk terakhir kalinya, dan kau tahu kata-katanya?

“Junhyo ya… walau aku seperti ini, jangan tinggalkan aku. Aku membutuhkanmu untuk keluar dari lingkaran gelap ini.”

Tapi saat itu aku melihat masa lalunya. Masa laluku yang buruk bersama Seungyoon. Seberapa sering dia menampar dan memukulku. Seberapa sering dia membohongiku, hingga saat-saat dia kehilangan kesadaran dan berusaha memperkosaku. Saat itu aku benar-benar takut, dan akhirnya aku langsung melarikan diri ke luar negeri secepatnya.

“Kau tahu Junhyo ya, akhirnya aku sudah bebas dari benda terlarang itu.” kata Seungyoon begitu aku yang masih terbaring mendongak menatap dirinya yang sekarang duduk di depanku. Bibirnya melengkung membentuk senyuman miring. “Kau tahu, betapa sulitnya terlepas dari ketergantungan heroine dan morphine? Ahh… mungkin kau harus merasakannya sendiri, pengkhianat!”

Mataku melebar ketika menyadari apa yang diambil oleh Seungyoon di atas meja sebelahnya. Sebuah jarum suntik berisi penuh cairan berwarna terang terlihat jelas walau dalam penerangan remang-remang seperti ini. Jangan-jangan itu—

“Sepertinya kau bisa menebak ini chagiya, bukan sekali saja kau dulu melihatku memakainya bukan? Tenang saja, setelah cairan ini masuk ke tubuhmu, kau akan merasa sangat nyaman dan damai untuk pertama kalinya, bagaimana?”

ANDWAE!!! SIRRHEO!!!!

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat dan berusaha menyeret tubuhku mundur saat Seungyoon mendekatiku dengan jarum suntik di tangannya. Tapi percuma saja, karena pada akhirnya kursi di belakangku tak bisa mundur lagi karena dinding tebal di belakangnya.

“Kau sudah tak bisa melarikan diri chagiya…” suara dingin dan datar Seungyoon membuatku meringis, aku kembali meneriakkan nama Chanyeol dalam hatiku. Sekarang Seungyoon sudah berjongkok di depanku. Tangannya dengan mudah memegang lenganku, mencari titik tepat untuk menginjeksikan benda setan itu ke dalam tubuhku “mulai saat ini, kau milikku.”

ANDWAEEE!

Aku menutup mataku ketika merasakan jarum dingin siap menembus lapisan kulitku, hingga suara debaman membuatku terkejut.

“SIAPA KAU?!”

Aku membuka mataku dan mendapati Seungyoon sudah sedikit menjauh, dan darah mengalir di dahinya. Tak jauh darinya, sebuah kursi kayu yang terlihat rusak terbaring begitu saja.

Cho Min Hyun!

Aku membulatkan mataku terkejut ketika melihat gadis yang kukenal menatapku cemas dari atas tangga. Rasanya gadis itu terlihat menyilaukan dengan sinar matahari  benderang  yang seolah berebut menyinarinya dari arah pintu yang terbuka. Entah mengapa hatiku mendadak jauh lebih tenang.

“Aku sudah memanggil polisi, jadi sebaiknya kau tidak macam-macam!” sentak Minhyun pada Seungyoon yang sekarang terlihat begitu marah, namja itu berdecak dan kemudian mengambil jarum suntik yang terlepas darinya untuk kemudian kembali mendekatiku.

MINHYUN!! TOLONG!!

DUAK

Tanpa kuduga, Minhyun melompat dari pegangan tangga dan langsung meninju tangan Seungyoon hingga kembali jarum suntik itu lepas dari peganganya. Aku takut sekali, aku tahu jika Seungyoon cukup jago dalam berkelahi. Tapi sepertinya aku terlalu khawatir karena Minhyun bisa menghindari serangan serangan vital yang digencarkan oleh Seungyoon bahkan membalasnya.

Aku harus bebas dan membantu Minhyun!

Dengan pikiran seperti itu, aku berusaha melepaskan ikatan di kedua tanganku. Untunglah kali ini sepertinya bekerja. Dalam waktu singkat, aku bisa melepaskan tangan, tubuh dan kakiku dari tali yang melilitku. Kali ini aku tetap berada di pojok yang gelap, aku tahu seharusnya aku melakukan sesuatu karena Minhyun mulai terlihat terdesak. Tapi apa yang harus aku lakukan? Seharusnya aku mengikuti bela diri seperti saran Suho oppa!

DUAKK BRUAAKKK

Mulutku menganga begitu melihat tubuh kecil Minhyun mampu melemparkan tubuh Seungyoon hingga menabrak meja kayu. Namja itu akhirnya tampak tidak sadarkan diri walau aku masih bisa mendengar desahan nafasnya yang terengah.

“Junhyo ssi, gwenchana?” tanya Minhyun setelah berbalik untuk melihatku, rautnya terlihat cemas. Aku benar-benar ingin menangis saat menyadari luka-luka di tangan dan kakinya, dan sebelum kusadari aku sudah memeluk Minhyun erat-erat sambil menangis.

“Hiks… hiks…”

“Tenanglah…” suara lembut Minhyun membuat hatiku jauh lebih tenang, aku bisa merasakan dia membelai punggungku “semuanya baik-baik saja—“

Aku tak begitu memperhatikan kata-kata Minhyun karena sekarang mataku tertuju pada Seungyoon yang entah kapan sudah bangkit. Matanya terlihat penuh amarah sementara ujung pisau besar yang sekarang di genggamnya mengkilat tertimpa cahaya matahari dari luar. Aku langsung tahu, dia berniat menusuk Minhyun dari belakang!

“AWAS SAJA.. AARRGHHHH!!!!!!!!”

“ANDWAEEEEEE!!!!”

Masih memeluk Minhyun, aku pun berbalik. Dan beberapa detik kemudian logam tipis dingin menembus punggung bawahku.

“Arghh….” aku menggigit bibirku saat rasa sakit dengan cepat menjalari tubuhku, membuatku merasa kapan saja bisa kehilangan kesadaran. Jika saja Minhyun tak terus menggoyang-goyangkan tubuhku, aku pasti kehilangan kesadaran lebih cepat.

“Ke.. kenapa— tidakk… aku tidak membunuh Hyo… tidak… aku tidak…”

“Jun.. Junhyo ya… kenapa—-darah?” dan akhirnya untuk pertama kalinya aku benar-benar menatap mata Minhyun, ntah mengapa aku tersenyum sebelum kehilangan kesadaranku.

“Gomawo Minhyun ssi….”

“JUNHYOOOOO!!!!!! KIM JUNHYO!! BERTAHANLAH!!”

 

TBC

 

Glossary

Heroine : Merupakan golongan narkotika semisintesis yang dihasilkan dari pengolahan morfin secara kimiawi melalui 4 tahap sehingga diperoleh heroine paling murni berkadar 80 % -99%. Heroine murni berwarna putih dan heroine tidak murni berwarna putih keabuan. Zat ini sangat mudah menembus otak sehingga bereaksi lebih kuat dari morphin.

Efek : timbul rasa kesibukan yang sangat cepat/rushing sensation diikuti rasa menyenangkan seperti mimpi penuh kedamaian dan kepuasan atau ketenangan hati (euphoria) dll.

 

**********************

Cuap-Cuap from Azumi : Akhirnyaaaaa Kunang nge-beresin part ini juga. Hehehe. Sorry yaaa pada nunggu lama. >_<. Next chapter giliran gw yang nulis nih, dan kayaknya nggak bakalan bisa cepet-cepet juga. Lagi persiapan ujian 3 minggu lagi. ^^

Gimana ceritanya? Jangan lupa tinggalkan komentar yaaa. ^^

Oh ya, sorry kalau masih ada typo. Yg nulis part ini (Kunang) dan editor part ini (gw) lagi pusing gara-gara…………. (silakan isi titik2-nya), pokoknya lagi pusing aja sama banyak hal. >_<

Kang Seung Yoon disini jahat ya? Hahaha. Padahal bias kita berdua di WINNER tuh. Eh tapi sekarang bias gw Tae Hyun sih. LOL. *abaikan*

Arigatou ^_^

 

11 thoughts on “Hidden Fates (Chapter 5)

  1. Aaaa Junhyo nya gimana tuh nasibnya??? Eonni juga jangan lama kali baru postnya… powerlessnya masih ditunggu loohhhh……….

  2. Yoohoo, akhirnya dilanjut juga Hidden Fatesnya…
    iya, nunggunya lama sampe sedikit lupa jalan ceritanya, tapi nggak apa-apa, ceritanya memuaskan..

    Hyo di culik, dan ketusuk pisau?! Andwae!
    kenapa Chanyeol nggak dateng, duh! ngapain juga tadi chanyeol & minho harus battle segala!

    Seung Yoon jadi mau bales dendam gitu, jahatnya..
    trus apa yang nanti bakalan terjadi, gimana reaksi Suho? dan rahasia apa sih yang disembunyikan dari Hyo?
    ‘anak itu’ yang dimaksud itu siapa? chanyeol? dan apa hubungannya…

    aku harap next partnya bisa di post dengan segera, Powerless juga,, tapi eonni, tetep sukses ya dengan ujiannya, hwaiting!

  3. Akhirnya di post juga, udh nunggu ni ff lama bgt, eonn
    Seungyoon udh ky psikopat balas dendamnya, ngeri ah pake main” sama suntik”an.
    Next part celet di post dan lebih panjang lagi, eonn🙂

  4. Annyeongg thor aku readers baru disini ^^
    Arghh chanyeol kece bgt di sini sesuai lah sm tipe ku *abaikan*
    Aku sih curiga ya thor klo chanyeol ini kembaran ny hyo *apaini*

    Woahhhh hyun daebakk!! Bisa ngalahin seung yoon ..

    Yaudah deh thor FIGHTING!! Banyakin part chanyeol ny dng thor *kedip2**abaikan*

  5. aaaah… KSY dinistakan.. hahaha… aduuuh… akhirnya setelah cukup lama (banget) menunggu akhirnya apdeeeet.. yeheeeee…….
    aku agak bingung.. tapi yaaa… keren.. selalu.. hahaha…
    kaget juga tiba-tiba KSY nongol… kkk..Chaaaaaan… ayo rebut hati Hyo.. SUho.. awas kalo ga ngijinin Chanyeol sama Hyo… gue sumpahin black card lu ilang.. #eh… ga ding…
    aaaaak.. keren pokoknyaaaaah…
    kak.. type B love dooong.. mana mana?? hanbin?? XP

  6. ahhh ud lama bnget nungguin ff ini , akhir nya muncul ke permukaan jg ,, pkok’a ditnggu next chap nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s