[oneshot] Wake Up!

Title                 : Wake Up!

Author              : Azumi Aozora

Main Cast       : Song Min Ji (OC), Kris (EXO-M)

Support Cast  : G-Dragon (Big Bang), Song Min Ho (WINNER), EXO and WINNER members

Genre              : fantasy, family, friendship, science fiction, romance, AU, mystery

Rating             : PG+15

Length                : Oneshot

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction. I make no money from this story. Casts adalah idol K-Pop, milik agensi mereka dan diri mereka sendiri. Sifat ada yang sesuai asli ada juga yang tidak. Ide dan alur cerita milik author. Dilarang copas dan plagiat! Ingat, karma itu berlaku. Just enjoy this story as fans and don’t forget to leave any comment. Don’t be silent reader, please!

poster wake up!

Salah satu hal yang kusukai dari tidur adalah : tidur dapat mengalihkan pikiranku sejenak dari dunia yang menyebalkan! Di saat kenyataan yang dihadapi sangat menyebalkan, tidur menjadi salah satu pilihan untuk “melarikan diri”. Meskipun tentu saja di saat bangun nanti, kita harus menghadapi kenyataan itu lagi.

Tapi semua itu tidak masalah. Bukankah manusia butuh “pelarian”, meski hanya sesaat? Dibanding meminum soju, aku lebih memilih tidur.

Lalu bagaimana bila saat kita tertidur, ternyata kita mengalami mimpi buruk? Tenang saja. Semua itu kan hanya mimpi, dan pada akhirnya toh kita akan terbangun juga.

Mengalami mimpi buruk masih lebih baik daripada menghadapi kenyataan buruk kan? Bila kita bermimpi buruk, kita masih bisa terbangun dan melupakan mimpi itu. Tapi bila kita menghadapi kenyataan yang buruk, kita harus terus menghadapi “hal buruk” tersebut.

Tapi bagaimana bila kita tidak lagi bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan? Semuanya terasa campur aduk. Otak kita tidak lagi bisa membedakan mana dunia mimpi dan mana dunia yang sesungguhnya.

Di tahun 2055, para ilmuwan menemukan sebuah obat dan alat yang dapat membuat manusia manapun yang meminum obat tersebut jadi dapat dikendalikan mimpinya. Dia dapat tertidur lama sekali. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hidup terus di “dunia mimpi”.

Selama ia tertidur dan berada di dunia mimpi, tubuhnya harus dimasukkan ke dalam sebuah tabung silinder. Tabung itu berfungsi sebagai penyuplai kehidupan dan pengendali mimpi, tempat chip mimpi dimasukkan. Dengan penyuplai tersebut, seseorang dapat terus berada di dunia mimpi selama apapun yang ia inginkan. Bila ia hanya meminum obat mimpi tapi tubuhnya tidak dimasukkan ke tabung penyuplai kehidupan, maka sudah bisa dipastikan ia akan mati.

Obat mimpi dan tabung penyuplai kehidupan tersebut menjadi sangat kontroversial di kalangan para ilmuwan. Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan menganggap obat dan tabung tersebut hanya lebih banyak menimbulkan masalah dibanding keuntungan bagi manusia.

Awalnya, tidak ada orang yang bisa mendapatkan obat dan tabung tersebut secara mudah karena harganya yang sangat mahal dan izin pembeliannya yang sangat ketat. Obat tersebut hanya digunakan di rumah sakit dan panti-panti rehabilitasi untuk orang-orang yang mengalami kecanduan narkoba, atau di rumah sakit jiwa sebagai terapi bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.

Dokter dan psikiater dapat menentukan berapa lama pasien berada di dalam pengaruh obat mimpi, dan menentukan jenis mimpi apa yang harus dialami pasien untuk membantu penyembuhannya. Hal ini memang sangat berguna bagi terapi kejiwaan, baik itu untuk orang-orang yang mengalami trauma, depresi, maupun orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki semangat hidup.

Akan tetapi, semakin lama obat dan alat ini dikembangkan, semakin meluaslah pemakaiannya. Orang-orang kaya dapat dengan mudah membelinya, izin penjualan semakin longgar. Siapapun orang yang memiliki uang dapat membeli obat dan alat tersebut.

Di akhir tahun 2135, para ilmuwan sepakat untuk menghentikan produksi obat mimpi dan tabung penyuplai kehidupan. Semua obat dan tabung ditarik dari pasaran dan dari berbagai rumah sakit. Polisi juga memastikan semua orang yang tadinya memiliki obat dan tabung tersebut, menyerahkan obat dan tabung tersebut untuk diamankan dan kemudian dihancurkan. Beberapa orang yang keras kepala dan membangkang terpaksa digeledah rumahnya oleh polisi.

Hal ini dilakukan karena semakin banyak orang yang terlena dengan kehidupan. Obat dan tabung tersebut tidak lagi digunakan hanya untuk kepentingan medis maupun terapi stress, akan tetapi digunakan sebagai kegiatan sehari-hari yang menyenangkan, dimana si pemilik obat dan tabung dengan seenaknya selalu hidup di “dunia mimpi”, dengan memilih mimpi-mimpi yang indah. Pekerjaan mereka terbengkalai. Keluarga mereka terlantar. Mereka tidak lagi benar-benar hidup di dunia nyata.

Batas pemakaian obat dan alat tersebut secara berturut-turut adalah 2 bulan. Setelah 2 bulan berada di “dunia mimpi”, seharusnya orang tersebut bangun dan menjalani kehidupan nyata setidaknya 3 bulan ke depan, barulah ia boleh menggunakan alat itu lagi. Tapi banyak orang yang melanggar karena mereka mengaku lebih mencintai “dunia mimpi” yang bisa mereka pilih sesuka hati daripada menghadapi dunia nyata mereka, sehingga efek sampingnya mereka terkena penyakit Alzheimer di usia dini, kerusakan otak secara total, dan menimbulkan kematian.

Di akhir tahun 2139, di saat aku lahir, obat mimpi dan tabung penyuplai kehidupan tersebut sudah sama sekali tak ada jejaknya. Atau…, begitulah yang kupikirkan pada mulanya. Tapi ternyata aku salah.

Aku mengetahui kisah obat mimpi dan tabung penyuplai tersebut dari kakak laki-lakiku, Ji Yong Oppa. Dulu, sebelum keluarga kami hancur seperti sekarang ini, Ji Yong Oppa adalah anak yang sangat pintar. Ia selalu bercita-cita menjadi ilmuwan, yang akan menciptakan alat canggih. Ji Yong Oppa tahu banyak sejarah di bidang ilmu pengetahuan, dan sering menceritakannya padaku.

Tapi sayang sekali, keadaan merubah segalanya. Saat Ji Yong Oppa berumur 15 tahun, aku 12, dan adikku Min Ho 10, keluarga kami tidak lagi sehangat dulu. Ayah dan ibu kami sering bertengkar, saling melempar benda apapun yang ada di rumah, berteriak, menangis. Mereka tak lagi mempedulikan kami. Mereka tidak pernah lagi merayakan ulang tahun kami, tidak pernah lagi datang ke sekolah untuk menghadiri festival atau untuk menghadiri pertemuan orang tua siswa. Tidak pernah lagi menganggap kami “ada”.

Ketika berada di rumah, kami akan merasa seperti berada di medan perang. Kami merasa seperti seekor kuda yang sedang menonton para panglima perang saling menghunuskan pedang mereka. Kami tidak tahu harus memihak siapa. Kami hanya bisa menonton, atau….pergi. Kami lebih banyak pergi.

Sejak saat itu, rumah bukan lagi “rumah” bagiku. Rumah hanyalah tempat aku tidur dan makan, bahkan kedua hal itu pun mulai sering kulakukan selain di rumah. Aku beruntung karena aku memiliki Kris, sahabat baikku semenjak aku TK. Rumah Kris hanya berjarak beberapa blok dari rumahku. Di sanalah biasanya aku “melarikan diri” dari rumahku.

Tahun-tahun berlalu seperti itu terus, sekarang ketika umurku 22 tahun, aku tidak bisa lagi mengingat banyak kenangan manis tentang keluargaku. Ayah dan ibuku sudah pasti berubah sejak 10 tahun yang lalu. Tapi aku tidak tahu sejak kapan kakak dan adikku berubah juga. Mungkin aku juga berubah, hanya saja aku tidak pernah menyadarinya.

Entah sejak kapan Ji Yong Oppa, yang sejak 8 tahun lalu tidak mau dipanggil Ji Yong, tapi ingin dipanggil G-Dragon, tidak lagi menjadi kakak terbaik yang kumiliki. Kami hampir tidak pernah berbicara ketika bertemu di rumah. “Kau sudah pulang”, hanya itulah kalimat yang kukatakan ketika melihatnya, mengatakannya pun dengan setengah hati. Karena baik aku maupun kakakku sama-sama tahu, kami tidaklah pulang. Kami tidak pernah pulang. Rumah ini hanya terasa seperti tempat persinggahan sesaat, seperti rest area saat kita berada di jalan tol. Rumah ini bukan lagi tempat kita pulang, berteduh, mendapatkan perlindungan dan kasih sayang. Rumah ini hanya persinggahan.

Adikku, Min Ho, juga bukan lagi adik termanis yang kumiliki. Entah sejak kapan, aku lebih memilih untuk menjauhinya daripada bertengkar dengannya tentang pacar-pacarnya yang begitu banyak, yang sering sekali menambah buruk suasana rumah. Seringkali aku mendapati pacar-pacar Minho berkeliaran di rumah, dan dengan seenaknya makan dan tidur di sana. Tak jarang pula ketenangan malam hari terganggu karena teriakan-teriakan dan tangisan mantan-mantannya yang ia campakkan begitu saja. Seakan teriakkan ayah dan ibu kami belum cukup saja!

Tapi kadang aku berpikir, mungkin itu adalah bentuk “pelarian diri” mereka. Aku beruntung karena selama 10 tahun ini aku melarikan diri kepada Kris, ke rumah Kris, rumah yang lebih kuanggap sebagai “rumah” dibanding rumahku sendiri. Tapi bagaimana dengan kakakku dan adikku? Mungkin mereka tidak punya tempat melarikan diri sepertiku. Mungkin itulah sebabnya adikku melarikan diri kepada perempuan-perempuan yang tergila-gila pada tampang dan hartanya. Sementara kakakku melarikan diri kepada balapan mobil liar dan obat-obatan terlarang.

Ayah dan ibuku tidak bercerai. Aku tahu satu-satunya alasan mengapa mereka tidak bercerai adalah karena “harta” dan perusahaan yang terikat melalui pernikahan mereka, bukan karena mereka memiliki kami. Kami bertiga sudah lama tidak dianggap. Uang adalah kompensasi rasa bersalah mereka karena tidak bisa menjadi orangtua yang layak bagi kami. Tapi tanpa mereka sadari, uang tidak pernah bisa menggantikan kasih sayang dan perhatian mereka yang hilang.

Terkadang, aku merasa hidupku seperti sampah. Tidak ada artinya. Aku tidak bisa menyelamatkan kakak dan adikku dari lubang kesedihan dan keputusasaan yang membuat mereka menjadi bad boys seperti sekarang ini. Padahal dulu kami saling mengandalkan, saling menguatkan. Tapi kini kami hidup di dunia kami masing-masing.

Hal ini membuatku sadar, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Bahkan aku sering mempertanyakan pada diriku sendiri : apakah aku adalah aku? Apakah aku yang sekarang adalah Song Min Ji yang dulu? Song Min Ji yang periang, yang cerdas, yang cerewet, yang selalu tersenyum, yang menganggap kehidupan ini adalah anugerah?

Kemudian aku sadar, aku telah banyak berubah. Satu-satunya orang yang membuatku tetap bertahan hanyalah Kris. Sejak dulu dia tidak pernah berubah. Selalu ada di sampingku, membantuku dan menghiburku kapanpun kubutuhkan.

Kris anak tunggal. Ibunya perawat, sementara ayahnya professor kedokteran sekaligus professor Fisika di universitas Seoul. Keluarga Kris memang tidak se-kaya keluargaku, tapi Kris beruntung karena ayah dan ibunya masih memperhatikannya, meskipun ayahnya jarang pulang ke rumah karena sangat gila kerja dan sering melakukan penelitian ke luar negeri.

Sejak 10 tahun lalu, aku mulai sering menginap di rumah Kris. Ibu Kris yang baik hati sudah menganggapku sebagai anak kandungnya sendiri. Mungkin itu jugalah salah satu alasan mengapa aku tidak se- “broken” kakak dan adikku. Karena aku masih bisa menemukan sosok “ibu” dalam diri ibunya Kris. Sosok yang tidak bisa kutemukan dalam diri ibuku.

Karena sering menginap di rumah Kris itulah, aku jadi mengetahui sebuah rahasia ayah Kris, yang berusaha disembunyikannya dari semua orang. Ketika umurku 18 tahun, tanpa sengaja aku memasuki ruang kerja pribadi ayah Kris di bawah tanah. Aku melihat ada 2 buah tabung silinder, dengan tinggi 3 meter dan lebar kira-kira 1,5 meter. Tabung itu berwarna perak, dengan pintu transparan. Banyak tombol dan monitor di sekitarnya. Saat itu aku tidak tahu alat apa itu. Kupikir itu hanyalah salah satu alat percobaan milik ayah Kris. Ayah Kris benar-benar jenius dan telah menciptakan berbagai alat kedokteran canggih.

Siapa yang menduga, alat itu ternyata adalah tabung penyuplai kehidupan! Kakakku pasti akan senang sekali mendengar hal tersebut. Tapi kemudian aku sadar, kakakku bukan lagi kakakku yang dulu. Ia sudah berubah.

Dulu, ayah Kris adalah salah satu ilmuwan yang mengembangkan obat mimpi dan tabung penyuplai kehidupan. Saat alat-alat tersebut dilenyapkan, sebenarnya beberapa ilmuwan masih memilikinya secara rahasia, untuk mengembangkannya lebih jauh lagi dan untuk mencari tahu bagaimana agar alat tersebut tidak menimbulkan efek samping.

Tentu saja tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain segelintir ilmuwan. Proyek ini benar-benar rahasia karena sangat berbahaya. Bila pemerintah sampai tahu, maka sudah bisa dipastikan, hukuman penjara bahkan hukuman mati-lah yang menanti para ilmuwan tersebut.

Aku menutup mulutku, seperti yang diminta oleh ayah Kris. Sebagai gantinya, ayah Kris membuatku mencoba alat tersebut. Tentu saja, dengan panduan darinya, aku akan aman dan baik-baik saja. Aku tidak pernah berada dalam pengaruh obat mimpi dan tabung penyuplai selama lebih dari 6 jam. Aku baik-baik saja, dan aku senang karena bisa melupakan masalahku sejenak saja.

Kris dan ibunya tidak tahu mengenai hal ini, sampai beberapa tahun kemudian akhirnya Kris tahu, ketika diam-diam dia mengikutiku memasuki ruang bawah tanah rahasia milik ayahnya. Tidak sepertiku, Kris tidak mau menggunakan obat dan alat tersebut. Saat itu Kris bahkan marah sekali padaku dan pada ayahnya. Belum pernah se-umur hidupku, aku melihat Kris se-marah itu.

Mulai saat itulah, aku tidak pernah lagi menggunakan obat mimpi dan tabung penyuplai. Padahal sering sekali aku berharap, aku bisa hidup selamanya di dalam tabung itu. Aku tahu itu pikiran yang bodoh! Alat itu sangat berbahaya bagi orang-orang yang putus asa sepertiku! Obat dan tabung itu seharusnya digunakan untuk menyembuhkan penyakit atau terapi kejiwaan, bukannya melarikan diri dari kehidupan nyata seperti yang ingin kulakukan!

Sampai kemudian, tepat satu tahun yang lalu, Kris mengizinkanku lagi memakai obat mimpi dan tabung penyuplai kehidupan. Alasannya? Karena aku berpikir untuk bunuh diri.

Bukan sekali atau dua kali aku memikirkan untuk bunuh diri. Sebenarnya, sejak dulu aku selalu memikirkannya. Hanya saja saat itu, mulutku kelepasan bicara, sehingga Kris mendengarnya. Kris sangat shock ketika kami sedang menonton TV, sebuah berita sekilas info ditayangkan karena ada kecelakaan pesawat di Jeju, dengan santainya aku berkata, “Kalau tahu pesawat itu akan jatuh dan membuat semua penumpang meninggal, pasti aku akan menaiki pesawat itu.”

Saat itulah untuk pertama kalinya aku menceritakan tentang emosi-emosi tergelapku pada Kris. Bagaimana aku selalu memikirkan ribuan cara bunuh diri, tapi terlalu takut untuk melakukannya. Aku bukan takut mati, tapi aku takut melalui prosesnya, dan aku takut Kris menjadi sedih setelah aku mati. Sudah kukatakan sebelumnya, hanya Kris lah yang membuatku bertahan.

Aku tidak bisa lagi mengandalkan ayah dan ibuku. Aku juga mulai sering bertengkar dengan kakak dan adikku bila aku sudah ikut campur masalah mereka. Aku ingin Ji Yong Oppa berhenti memakai obat-obatan, dan berhenti membahayakan nyawanya sendiri dengan mengikuti balap mobil illegal. Aku ingin Min Ho berhenti menjadi playboy, karena dengan menyakiti hati perempuan lain, ia seperti menyakiti hatiku juga, karena bagaimanapun aku kan perempuan, tapi Minho selalu marah-marah saat aku mengomentari sikap bad boy –nya itu.

Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan dan kubanggakan dari keluargaku, selain uang. Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan dari diriku sendiri. Aku telah gagal. Gagal dalam hal keluarga, kuliah bisnis-ku (di saat orang lain telah lulus, aku masih berkutat mengulang mata kuliah yang mendapat nilai E), masa depanku, bahkan Kris.

Hal-hal itulah yang membuatku selalu berpikir untuk mengakhiri hidupku. Tapi mungkin aku harus bersyukur karena aku pengecut. Aku takut melihat darah. Aku takut merasa kesakitan. Aku takut menjalani proses menuju kematian. Aku hanya ingin tertidur, kemudian mati, tanpa merasakan apapun. Karena itulah sampai sekarang aku masih hidup.

Tahun lalu, ketika Kris mendengar pengakuanku tentang percobaan-percobaan bunuh diriku, Kris terlihat sangat sedih. Ia bahkan memutuskan pacarnya dan tidak pernah lagi pacaran hingga sekarang. Sejak saat itu seluruh waktunya selalu ia curahkan untukku. Meskipun aku benci diriku sendiri karena menyusahkan Kris, tapi aku merasa senang karena Kris hanya memperhatikanku, bahkan jauh lebih memperhatikanku dari sebelum-sebelumnya.

Kris meminta ayahnya untuk membantuku, dengan terapi obat mimpi. Ayah Kris sudah cukup banyak menciptakan chip-chip mimpi yang bisa dipasangkan ke tabung penyuplai. Bila 20 tahun yang lalu kebanyakan chip mimpi hanya bisa membuat seseorang mengalami mimpi yang sudah ditentukan, maka chip mimpi baru ini dapat membuat seseorang berpetualang. Mimpi yang ia alami akan berubah, tergantung tindakan yang ia pilih selama berada di dunia mimpi. Hal ini membuat mimpi-mimpi itu menjadi tidak terlalu delusional. Obat mimpi yang diciptakan pun jadi lebih spesifik, tergantung kecocokannya dengan chip mimpi, tidak general seperti dulu. Hal ini bisa mengurangi efek samping, meskipun efek samping itu masih tetap ada bila obat dan alat digunakan dalam jangka panjang.

Tapi tetap saja, proyek ini masih menjadi rahasia. Aku beruntung karena ayah Kris sejak dulu mengizinkanku untuk mencoba alat tersebut.

Selama satu tahun, secara teratur, dengan bimbingan ayah Kris, sedikit demi sedikit aku mulai mendapatkan semangat hidupku lagi. Aku bahkan sudah meminta izin pada ayah Kris agar memperbolehkan kakakku dan adikku diterapi juga oleh obat dan alat tersebut. Tapi kakakku menganggap aku bercanda dan ia berkata tidak penting apakah alat itu masih ada atau tidak karena alat itu tidak bisa mengubah hidupnya. Sementara adikku menganggapku gila.

Obat mimpi, chip mimpi, tabung penyuplai kehidupan….., alat-alat tersebut memang tidak bisa mengubah hidup seseorang, tapi setidaknya bisa mengubah cara pandang seseorang mengenai kehidupan.

***************

 

“Kau kuliah jam berapa?” tanyaku dengan tegas pada adikku, Minho, yang sedang tiduran di sofa sambil bermain games di komputer tablet-nya. Sekarang sudah pukul 10 pagi.

Minho hanya mengerang, membalikkan badannya jadi memunggungiku. Mata dan tangannya tetap terfokus ke layar.

“Yah! Song Min Ho!” bentakku.

“Apa urusanmu?” Minho balik membentakku. “Sebaiknya kau urusi saja nilai-nilaimu! Teman-teman seangkatanmu sudah banyak yang lulus, kau malah masih mengulang pelajaran! Aku yang tidak pernah masuk kuliah saja bisa dapat nilai A! Aku jenius. Tidak perlu kuliah!”

Aku menghela nafas panjang berkali-kali. Aku tidak merasa sedih atau tersinggung dengan perkataan Minho. Apa yang dikatakannya memang benar. Otakku yang pas-pasan tidak bisa dibandingkan dengan otak Minho maupun otak Ji Yong Oppa yang sangat brilliant.

Tapi aku sedih karena hubunganku dan Minho tidak lagi sebaik dulu, ketika kami masih kecil, ketika kami menganggap dunia ini sangatlah indah dan menyenangkan. Sekarang ia terasa seperti orang asing bagiku. Tapi, sekali lagi, aku mengingatkan diriku sendiri, mungkin Minho menjadi seperti ini salah satunya adalah akibat salahku juga. Sejak dulu aku mengabaikannya. Aku tidak merengkuhnya ke dalam pelukanku ketika ia merasa sedih dan kesepian. Dulu aku merasa sedih, dan aku melarikan diri pada Kris. Aku melupakan Minho. Aku lupa bahwa Minho kecil mungkin saja jauh lebih membutuhkan kasih sayangku. Aku bukan kakak yang kuat. Aku bukan kakak yang baik.

Aku menghela nafas lagi. Dadaku terasa sesak. Air mataku mendesak ingin keluar, tapi aku menahannya. “Antar aku ke kampus. Mobilku sedang di servis.”

Minho mendengus. “Naik taksi saja. Atau bangunkan GD hyung. Dia sudah pulang jam 7 pagi tadi.”

Aku menggeleng, lalu menarik lengan Minho. “YAH!” Minho membentakku sambil melotot tajam. Aku terus menarik-narik tangannya sampai ia terduduk.

“Yah! Yah! Nuna! Jangan tarik-tarik tanganku! Sakit!”

Tapi aku terus menarik-narik tangannya sekuat tenaga. Minho berteriak, “Oke! Oke!”

Aku tersenyum, lalu segera menggandeng tangannya ke garasi. Selama di perjalanan, wajah Minho terus cemberut. Ia mengabaikan semua perkataanku. Tapi aku tidak menyerah. Aku sudah memutuskan, sekarang giliranku-lah untuk membantu Minho dan Jiyong Oppa untuk keluar dari dalam “dunia gelap” mereka, sebagaimana Kris membantuku.

Minho mengemudi dengan tenang, tidak pernah kebut-kebutan seperti kakakku. Adikku yang playboy itu sangat mementingkan wajahnya. Dia tidak ingin kecelakaan membuat wajah tampannya menjadi rusak. Aku hanya tertawa mendengar alasan konyolnya itu.

Setibanya di Yonsei, aku menarik-narik lengan Minho lagi dan menggiringnya dengan paksa berjalan ke gedung kampus kami. Kami sama-sama kuliah di jurusan manajemen bisnis, hanya saja Minho masih tingkat 2.

“Nuna! Kau kan bisa pergi ke kelasmu sendiri!” protes Minho, tapi ia terpaksa berjalan di sampingku karena aku memegangi tangannya dengan kuat. Orang-orang melihat penasaran ke arah kami karena aku menarik-narik tangan Minho.

“Yah! Yah! Kenapa ke sini?!” protes Minho ketika aku berjalan menuju kelasnya. Sebenarnya aku tidak ada jadwal kuliah. Aku hanya ada bimbingan skripsi dengan dosen-ku nanti siang. Kemarin malam diam-diam aku mencuri daftar jadwal kuliah Minho. Aku sekarang jadi tahu kapan saja dia ada kelas. Aku bertekad untuk membuatnya selalu masuk kelas, dengan cara apapun! Aku ingin pikiran adikku teralihkan dari perempuan dan games!

Aku mendudukkan Minho di salah satu kursi yang masih kosong. Teman-teman pria-nya menatapnya heran, karena ia tiba-tiba saja masuk kelas lagi setelah berbulan-bulan bolos kuliah. Sementara itu anak-anak perempuan menatapnya dengan tatapan memuja.

“Jemput aku di kantin jam 4 sore nanti. Awas kalau kau tidak datang! Aku akan membuang semua CD games-mu, bahkan membuang komputer tablet-mu!” ancamku.

Minho meringis, lalu mengangguk. Aku tersenyum puas. Jam 4 adalah jadwal selesai kuliah Minho, sementara bimbingan skripsiku paling-paling hanya membutuhkan waktu 1 jam. Mulai sekarang, aku akan terus mengawasimu, Song Min Ho!

**********

 

Kris sudah lulus kuliah, dan sekarang dia bekerja sebagai dokter resident di bagian emergency di salah satu rumah sakit terkenal di Seoul. Sahabatku itu memang jenius. Di saat orang lain perlu waktu setidaknya minimal 5 tahun untuk menyelesaikan studi kedokterannya sampai studi profesi, Kris hanya perlu 3 tahun. Aku yakin, tak lama lagi, di rumah sakit tempat Kris bekerja, Kris pasti akan segera menjadi dokter spesialis.

Meskipun Keahlian Kris adalah bedah, tapi ia juga menguasai ilmu-ilmu kejiwaan. Mungkin ia banyak belajar mengenai psikologi setelah menanganiku selama bertahun-tahun ini. Dengan otak-nya yang sangat jenius, Kris bahkan membantu ayahnya mengembangkan chip-chip mimpi.

Secara personal, aku meminta bantuan ayah Kris untuk membuat dua orang atau lebih bisa memasuki mimpi yang sama. Aku memiliki rencana untuk membuat kakak dan adikku memasuki mimpi yang sama, berinteraksi di dalam mimpi, menciptakan “mimpi” yang dapat membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Ayah Kris menganggap ide-ku itu sangatlah brilliant. Selama ini, obat mimpi belum bisa membuat dua orang berbeda atau lebih bertemu di “dunia mimpi”. Meski mimpi mereka sama, mereka memiliki wilayah mimpi masing-masing. Apalagi sekarang, setelah penemuan obat dan chip mimpi yang bisa membuat seseorang menjalani mimpinya layaknya sebuah petualangan, di mana tidak semua hal tergantung pada chip yang sudah diprorgam, ide-ku itu terasa menggiurkan bagi ayah Kris dan professor-professor lainnya yang sedang mengembangkan obat dan alat mimpi itu secara rahasia.

Kris juga menyarankan pada ayahnya, agar siapapun yang memasuki dunia mimpi bisa menyadari bahwa mereka sedang bermimpi, dan bahwa semua itu tidaklah nyata. Semua itu hanyalah petualangan, imajinasi, tapi imajinasi baik yang bisa membuat kehidupan mereka jadi lebih baik.

Aku tidak tahu kapan ide-ku dan ide Kris bisa terwujud. Aku tidak hanya mengandalkan obat mimpi tersebut untuk membuat kehidupanku dan keluargaku menjadi lebih baik. Selama 2 tahun kedepan pun aku masih terus berusaha membuat hubunganku dan keluargaku menjadi harmonis seperti dulu. Tapi ternyata semua itu sangatlah sulit.

Sekarang umurku sudah 24 tahun. Sudah 2 tahun berlalu sejak aku mengajukan ide-ku pada ayah Kris. Sudah 2 tahun aku berusaha mati-matian mempertahankan hubungan persaudaraanku dengan kakakku dan adikku, tapi tidak ada yang berubah. Atau mungkin ada yang berubah, tapi sedikit sekali, sehingga aku tidak menyadarinya.

Bekerja di perusahaan ayah dan ibuku bukanlah prioritas utamaku. Tapi aku melakukannya demi kakak dan adikku. Aku tahu, Ji Yong Oppa tidak memedulikan apapun selain balap mobil. Minho, meskipun ia kini sudah lulus, tetap saja ia hanya fokus pada games dan perempuan. Kurasa aku sudah bisa mengarahkan minat Minho pada games dengan benar. Sekarang dia mulai merintis perusahaan games. Aku membantunya, menyuplainya. Aku meyakinkan ayah dan ibuku bahwa Minho pasti akan berhasil bila ia melakukan apapun yang berhubungan dengan games.

Ji Yong Oppa memang sudah mulai banyak mengobrol denganku lagi, tapi tetap saja ia bukan Ji Yong Oppa yang dulu. Sabar. Itulah yang selalu kukatakan pada diriku sendiri. Aku harus bersabar dan terus berusaha. Aku yakin suatu hari nanti, entah kapan, semuanya akan berakhir bahagia.

Aku tidak pernah membicarakan hal lain selain pekerjaan dengan ayah dan ibuku. Satu-satunya yang tidak berubah setitik-pun adalah hubungan kami dengan orangtua kami. Mungkin selamanya aku tidak akan bisa merubah mereka bila mereka tidak menginginkan perubahan. Ayah dan ibuku hanya terasa seperti atasanku di kantor, bahkan saat di rumah. Tapi aku sudah lama diabaikan oleh mereka, jadi semua itu tidak terlalu membuatku terluka.

Pukul 5 sore, ketika aku sedang membaca proposal-proposal manager bagian di ruanganku, ponselku berdering. Kris.

“Berhentilah bekerja, Song Min Ji! Aku ingin nonton film baru di bioskop.”

Aku hanya tertawa mendengar suara Kris yang terdengar merajuk. Terkadang dia bisa bersikap seperti anak kecil.

Kris tidak pernah lagi punya pacar semenjak 4 tahun yang lalu. Padahal sekarang dia sudah sukses, dan banyak dokter maupun perawat di rumah sakit yang tergila-gila padanya. Bahkan bisa dibilang, semua wanita akan jatuh cinta padanya dengan mudah. Dia tinggi, tampan, pintar, mapan. Hanya saja sikapnya yang rewel dan terlalu pemilih soal makanan memang kadang mengganggu.

Ketika aku bertanya : “Kenapa kau tidak punya pacar lagi? Memangnya kau tidak mau menikah?”

Kris hanya akan menjawab dengan cuek. “Aku terlalu mencintai pekerjaanku. Kau sendiri? Kenapa kau tidak pernah punya pacar se-umur hidupmu?” tanyanya dengan senyuman mengejek. “Aaah, aku tahu! Kau pasti tidak bisa menemukan pria yang lebih tampan dariku di dunia ini kan? Hahaha.” kata Kris dengan percaya diri.

Aku tertawa. Pacar? Pernikahan? Keluarga? Semua itu tidak pernah terbayangkan di dalam kepalaku. Keluarga yang sudah kumiliki saja hancur berantakan seperti ini, aku tidak berani membayangkan akan memiliki keluarga baru yang sama hancurnya di masa depan nanti.

Mungkin aku terlalu pesimis. Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Aku tahu aku memang penakut, pengecut. Tapi aku sudah merasa cukup bahagia memiliki Kris sebagai sahabatku. Kris, yang bahkan sudah kukenal semenjak kami balita, semenjak kami belajar bicara dan berjalan bersama, yang menjadi sahabatku sejak TK, dan selalu ada untukku sampai sekarang.

Apakah aku mencintai Kris? Tentu saja.

Aku tidak pernah membayangkan akan mencintai pria lain selain Kris. Dia segalanya bagiku. Sahabat, kakak, kekasih. Satu-satunya pria di dunia ini selain kakak dan adikku yang kucintai. Dulu aku memang berandai-andai bisa menjadi pacar Kris lalu menikah dengannya. Tapi, aku terlalu takut membayangkan bila kehidupan pernikahan kami akan hancur seperti pernikahan ayah dan ibuku.

Aku sudah cukup bahagia bersama Kris seperti sekarang ini. Aku tidak memerlukan ikatan. Aku tidak memerlukan janji, karena aku sendiri ragu apakah aku dapat berjanji untuk selalu membahagiakannya atau tidak.

Tapi tanpa ikatan, aku tahu suatu hari nanti, cepat atau lambat, Kris akan pergi dariku dan mengikat dirinya dengan wanita lain. Memikirkan hal itu, memang membuat prinsip-ku goyah. Tapi aku selalu meyakinkan diriku, apapun yang terbaik untuk Kris, aku akan menerimanya. Meskipun di masa depan nanti dia akan pergi dariku, menikah dengan wanita lain, memiliki keluarga sendiri, aku akan berbahagia untuk Kris. Karena Kris telah mengorbankan 24 tahun hidupnya demi aku. Tanpanya, mungkin sekarang aku sudah mati.

************

 

Pukul 4 dini hari, aku menahan rasa kantukku. Padahal aku sudah tidur sejak jam 10 malam, tapi aku masih merasa ngantuk! Aku menampar-nampar kedua pipiku, mengusir rasa kantuk.

Aku sengaja bangun sepagi mungkin, agar aku bisa menyambut kepulangan kakakku. Sudah 4 bulan terakhir ini aku melakukan hal yang sama, tapi tubuhku masih belum terbiasa tidur terlalu awal dan bangun terlalu pagi.

Ji Yong Oppa makhluk malam. Dia tidur di siang hari, bangun dan beraktivitas di malam hari. Dia memang masih sering balapan, tapi aku senang karena dia mulai meninggalkan obat-obatan. Di akhir pekan, aku bahkan mengantarnya terapi, menghilangkan rasa kecanduannya terhadap obat-obatan.

Aku tahu semua itu tidak mudah baginya. Dia sudah terlalu lama terjerumus ke dalamnya. Benda terlaknat itu sudah menjadi penawar bagi kehidupannya yang menyebalkan, bagi dunia yang kejam. Tapi tetap saja semua itu salah. Aku salah, dia salah, Minho salah, kami  semua salah. Seandainya dulu kami tetap saling menguatkan, tetap saling memberi dukungan, tetap saling memperhatikan, mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi.

Terdengar suara pintu depan yang dibuka, aku segera berlari dan memeluk tubuh kakakku yang dingin akibat semalaman berada di luar. Kakakku balas memelukku sambil tersenyum lemah, kemudian berjalan menuju ruang tengah, membaringkan tubuhnya yang letih di sofa.

“Oppa, aku membuat cheesecake favoritmu!” kataku dengan riang, sambil menyuapkan sepotong cheesecake ke mulut kakakku.

Kakakku tersenyum, lalu mulai memakan kue yang kuberikan. Aku memerhatikan wajah tirus kakakku. Lingkaran hitam matanya, kulitnya yang pucat, kerutan-kerutan di dahinya, ingin sekali rasanya aku menghapus semua itu dari wajahnya. Aku ingin melihat tawanya yang ceria lagi seperti dulu.

Bertahap, Song Min Ji! Aku mengingatkan diriku lagi.

Aku harus bersyukur karena sekarang kakakku mau membuka dirinya padaku, dan sedikit-sedikit mempercayaiku lagi. Dia bahkan mau menjalani terapi.

Meski sekarang kami lebih banyak terdiam dibanding bercerita banyak hal seperti saat kami masih kecil, aku bersyukur Ji Yong Oppa membiarkanku masuk ke dalam “dunia”-nya.

“Apakah kau menang, Oppa?” tanyaku.

Ji Yong Oppa mengangguk, lalu menyeringai. “Tentu saja.”

Aku tertawa. “Kapan kau akan mengizinkanku melihatmu balapan?”

Ji Yong Oppa menggeleng. “Nanti. Setelah aku menjadi pembalap professional.”

Aku membelalakkan mataku. “Kau mau menjadi pembalap professional? Benarkah? KYAAAA!!!!” Aku memekik senang.

Ji Yong Oppa tertawa, meskipun gurat-gurat kepedihan masih terukir di wajahnya.

Ji Yong Oppa mengulurkan sebelah tangannya dan memegang puncak kepalaku. “Min Ji~yah.., maafkan aku…” bisiknya pelan.

“Maafkan aku, Min Ji~ya. Aku…. bukan kakak yang baik bagimu. Maafkan aku….” lirih Ji Yong Oppa. Air matanya menetes.

“Oppa…” aku langsung memeluknya. “Jangan meminta maaf lagi! Aku juga bukan adik yang baik bagimu. Aku tidak meminta kata-kata maaf, yang kuinginkan adalah…..kepercayaanmu. Apakah kau mempercayaiku, Oppa?”

“Hmm.” Ji Yong Oppa mengangguk. “Aku…, akan berhenti balapan. Sampai nanti.., sampai aku sembuh. Kau.., mau membantuku, Min Ji~yah? Setiap hari?” Bibir beku kakakku bergetar. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Aku tahu, tubuhnya mulai bereaksi demikian di saat tubuhnya meminta asupan obat-obat terlaknat itu lagi. Ji Yong Oppa menggigil. Aku merasa sedih melihatnya dalam kondisi seperti ini, tapi aku harus menguatkan hatiku.

Aku mengangguk dengan mantap dan memeluk kakakku lebih erat lagi, mencoba mengusir rasa dingin dan tak nyaman yang tubuhnya rasakan karena kekurangan obat yang dulu terbiasa dia konsumsi setiap hari. “Tentu saja, Oppa. Aku akan membantumu. Aku akan menemanimu di setiap terapi yang kau lakukan. Kau tidak perlu takut, Oppa.”

Aku merasakan bahu-ku panas karena air mata kakakku. “Gomawo, Min Ji~ya…” bisik Ji Yong Oppa.

Tanpa kami sadari, sejak tadi Min Ho melihat kami dari balik lemari. Lalu diam-diam, dia kembali ke kamarnya di lantai 2, membuat games.

****************

 

Tidak ada yang mudah dalam hidup ini, dan kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Sesuatu yang berharga, tidak akan semudah itu kita dapatkan. Tapi bila kita percaya dan terus berusaha, maka kebahagiaan itu akan bisa kita genggam dengan kedua tangan kita. Kebahagiaan akan menjadi milik kita selamanya.

Aku mulai belajar untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang tidak bisa kumiliki, yang tidak bisa bertahan dalam hidupku, yang memang tidak ingin hadir di dalam hidupku. Ayah dan ibuku.

Semakin dewasa, aku semakin bijak untuk menerima sikap mereka padaku. Karena aku tidak pernah tahu, mungkin saja sebenarnya jauh di dalam lubuk hati mereka pun, mereka menyesali sikap mereka pada kami, ingin memperbaikinya tapi sudah terlanjur seperti ini, dan mungkin mereka pun menginginkan kebahagiaan bersama kami. Tapi siapa yang tahu? Aku hanya bisa menunggu, dan mengikhlaskannya.

Orang bilang, 25 tahun adalah usia yang pas untuk memasuki babak kehidupan yang baru. Bagiku, di dalam babak kehidupan baruku, Ji Yong Oppa dan Min Ho tetaplah yang terpenting bagiku. Kris? Selamanya dia tetap menjadi Kris sahabatku, yang selalu ada kapanpun untuk menghiburku.

Sudah 1 tahun Ji Yong Oppa melakukan rehabilitasi dan terapi sepenuhnya. Sekarang  ia sudah banyak berubah. Lebih ceria, sorot matanya lebih memancarkan semangat dan kehidupan. Sudah selama 1 tahun ini kami bertiga tinggal terpisah dari orangtua kami. Orangtua kami tentu saja tidak peduli. Tapi aku berharap, dengan tiadanya kami di rumah, mungkin saja mereka bisa memikirkan banyak hal tentang apa arti “keluarga” bagi mereka.

Perusahaan games Min Ho memang belum besar. Tapi games-games ciptaannya sudah sangat terkenal. Sebisa mungkin, aku terus mendukungnya baik dari segi financial maupun emosional. Sebelum berinvestasi untuk perusahaannya, aku bahkan memberikan syarat berupa sebuah nasihat, atau ancaman?

“Jangan pernah mempermainkan wanita manapun lagi, Song Min Ho! Belajarlah untuk mencintai, bukan untuk memuaskan nafsu dan ego-mu sebagai pria saja. Saat kau hendak menyakiti wanita, ingatlah aku. Apakah kau tega bila ada pria brengsek di luar sana yang memperlakukanku sama seperti kau memperlakukan wanita-wanitamu?”

Saat itu Min Ho hanya nyengir lebar dengan cengiran khas-nya. “Oke, nuna!” dia menghormat ala militer, lalu mencium kedua pipiku, seperti saat kami masih kecil dulu. Mungkin, perlahan-lahan, aku mendapatkan kembali adikku yang manis.

 

Obat mimpi, chip mimpi, dan tabung penyuplai kehidupan terus-menerus dikembangkan. Tahun lalu, ayah Kris diangkat menjadi menteri kesehatan. Dan sudah selama 6 bulan ini dunia mulai kembali bisa menerima keberadaan obat mimpi.

Kali ini para ilmuwan lebih berhati-hati. Ide-ideku dan ide Kris telah diterapkan. Kini semua pemakaian obat mimpi dan chip mimpi berada di bawah pengawasan dinas kesehatan dan para dokter ahli. Pengawasannya pun sangat ketat. Para ilmuwan tidak diizinkan menjual obat dan alat tersebut kepada penduduk secara bebas. Hanya lembaga-lembaga kesehatan tertentu yang diizinkan untuk memiliki obat dan alat mimpi tersebut.

Meskipun obat dan alat mimpi itu kini sudah jauh lebih aman dibanding dua dekade silam, tetap saja para ilmuwan dan dokter memutuskan agar setiap orang hanya menggunakan obat dan alat tersebut paling banyak 1 kali dalam sebulan, kecuali bagi orang-orang yang memang memerlukan penangan psikologis khusus.

Ayah Kris masih memiliki 2 tabung penyuplai dan chip mimpi di ruang bawah tanahnya. Dengan pengawasan Kris, Ji Yong Oppa dan Min Ho terkadang menggunakan alat tersebut untuk mengurangi stress, dan sebagai terapi.

Aku tidak pernah lagi memakai obat dan alat mimpi. Terakhir kali aku menggunakannya adalah 3 bulan yang lalu. Saat itu aku, Kris, Ji Yong Oppa, dan Minho memasuki dunia mimpi berupa sebuah petualangan yang melibatkan balap mobil dan robot. Petualangan di dunia mimpi itu dapat memberikan efek yang positif bagi pikiran kami, sekaligus membuat Ji Yong Oppa kembali mencoba latihan balapan mobil lagi tanpa perlu takut akan mengalami kecelakaan.

Chip-chip dan obat-obat mimpi yang diproduksi oleh para ilmuwan adalah tergantung kebutuhan pasien / klien. Dokter dan para ahli juga tidak sembarangan memberikan obat dan chip mimpi. Hanya obat dan chip mimpi yang sesuai dengan kondisi klien / pasien sajalah yang diperlukan. Contohnya : seorang pekerja kantoran yang merasa sangat stress akibat pekerjaan dan tidak memiliki waktu untuk berlibur, tidak layak bila diberikan sebuah chip mimpi mengenai pekerjaan atau sebuah tantangan, tapi layak bila diberi sebuah chip mimpi berupa liburan, yang bisa membuat otak dan hatinya rileks.

Begitulah, kurasa ilmu pengetahuan dan teknologi memang sudah seharusnya membuat kehidupan manusia menjadi praktis, efisien, dan bermanfaat, bukannya malah membuat manusia menjadi malas, serakah, apalagi gila.

Tapi aku mengutuk Min Ho, yang bekerja sama dengan ayah Kris untuk membuat sebuah chip mimpi khusus untukku. Mungkin niatnya memang baik, ingin berterima kasih padaku dan membuatku bahagia. Tapi aku tidak merasa bahagia. Aku merasa ketakutan!

Jadi, di hari minggu di awal musim semi, Min Ho memberitahuku bahwa ia telah memesan sebuah chip khusus untukku, untuk membuatku sedikit rileks dari tekanan para investor asing perusahaan ayah dan ibu kami.

Sebenarnya aku tidak mau. Aku lebih memilih jalan-jalan di “kehidupan nyata” bersama Minho, Ji Yong Oppa, dan Kris daripada jalan-jalan di “dunia mimpi”. Tapi Minho terus memaksaku. “Nuna, aku jamin kau tidak akan menyesal. Ayolaaa nunaaaa…” Minho menampakkan aegyo-nya.

Akhirnya aku menurut. Aku menduga, ia hanya ingin masuk ke dunia mimpi, tapi tidak ingin sendirian, jadi ia mengajakku.

Kami berempat memakai tabung penyuplai kehidupan yang ada di laboratorium para ilmuwan, atas seizin ayah Kris.

“Siap berpetualang, nuna?” tanya Min Ho dengan wajah mengesalkan dan cengiran lebarnya yang khas.

Aku hanya mengangkat kedua bahuku dengan cuek. Ji Yong Oppa tertawa, lalu meletakkan sebelah tangannya di pundakku. “Sekarang giliranmu untuk bahagia, Min Ji.”

Aku tidak mengerti dengan kata-katanya. “Aku sudah bahagia!” tukasku. “Aku butuh udara segar yang asli, Oppa. Bukan masuk ke dunia mimpi.”

Ji Yong Oppa hanya tertawa. Kris, sama sepertiku, tidak menyukai ide menghabiskan akhir pekan kami yang berharga dengan masuk ke dunia mimpi.

Para ilmuwan membantu kami. Kami berdiri di dalam tabung penyuplai kehidupan. Perlahan pintu transparan mulai menutup. Para ilmuwan telah meletakkan chip mimpi di dalam tabung. Kami mendengarkan petunjuk, meskipun aku sudah hafal apa isi petunjuknya. Aku meminum obat mimpi setelah diberi petunjuk. Rasa kantuk mulai menyerangku. Alat penyuplai kehidupan mulai bekerja. Sebuah bantal empuk mulai muncul dan dinding tabung yang kusandari mulai miring sehingga aku mendapatkan posisi menyandar yang nyaman. Dulu aku pernah bertanya pada ayah Kris, mengapa tabung ini tidak dibuat terbaring saja. Saat itu ayah Kris malah menjawab dengan bercanda, “Kami tidak ingin membuatnya terlihat seperti peti mati.”

Dalam sekejap, kesadaranku hilang. Otakku menyampaikan gelombang yang berbeda. Aku mulai memasuki alam mimpi yang terprogram di dalam chip dan obat mimpi……

Aku membuka mataku. Aku berdiri sendirian di dalam lorong yang gelap. Otomatis lututku langsung terasa lemas. Aku benci gelap! Aku benci bangunan-bangunan tua yang menyeramkan.

“Song Min Ho! Kau malah membuatku menjadi stress! Aku benci rumah hantu! Aku mau bangun!”

“Hahaha…, kau tidak bisa bangun selama 2 jam ini nuna.” Minho muncul sambil terkekeh. Aku memukul lengannya dan menendang kakinya dengan keras. Minho mengaduh dan segera menghindar.

“Ayo!” tiba-tiba saja Ji Yong Oppa muncul di hadapan kami dan mengajak kami menyusuri lorong gelap dan sunyi itu.

“Kris?” panggilku.

“I’m here.” Kris muncul di belakangku. Minho dan Ji Yong Oppa sudah berjalan jauh di depan. Aku masih terdiam. Ragu. Apa sih yang adikku itu pikirkan?! Dia kan tahu aku benci hal-hal supranatural! Lebih baik aku bertemu dengan alien daripada bertemu dengan hantu, ataupun makhluk-makhluk gaib dan makhluk mitos lainnya!

Kris menggenggam tanganku. “Ayo.” Suaranya membuatku merasa aman. Aku tahu ini hanya dunia mimpi. Kalaupun ada hantu, hantunya hanya pura-pura. Tapi tetap saja aku benci!

Suasana yang hening mencekam jauh lebih mengerikan dibanding dengan suara tertawa hantu, atau suara tangisan hantu. Kami berempat tiba di sebuah aula berdinding batu, dengan langit-langit yang tinggi dan suasanalembap. Obor-obor menerangi aula itu. Ini zaman apa sih? Pikirku. Memangnya di zaman sekarang ada tempat seperti ini? Kemudian aku sadar, ini hanya mimpi.

Aku tidak menyangka ternyata di sana sudah banyak sekali orang. Minho dan Ji Yong Oppa tampak mengobrol seru dengan orang-orang itu. Memangnya mereka kenal? Oh, tentu saja, bila chip diprogram demikian, maka kami akan langsung mengenali orang-orang ini.

Seperti sekarang, ketika ada seorang pria mungil dengan eyeliner tebal mendekatiku, aku langsung tahu nama pria itu adalah Baekhyun. “Min Ji ssi, kau takut?” godanya.

Aku mendengus. “Aku tidak takut, Byun Baek Hyun ssi!” tukasku angkuh, tapi aku semakin mempererat genggaman tanganku di tangan Kris.

“Sebentar lagi, fenomena langka yang kita nanti-nantikan akan segera terjadi.” Kang Seung Yoon berbicara dengan penuh wibawa di tengah-tengah kelompok kami yang berdiri melingkar di aula. Dia adalah wakil pemimpin kelompok kami.

Suho, pemimpin kami mengangguk, lalu menambahkan, “Benar sekali. Kita, sebagai klub pecinta makhluk mistis…..”

Aku tidak lagi mendengarkan kata-kata Suho, melainkan langsung menonjok lengan Minho bertubi-tubi. “Sialan kau, Song Min Ho! Kau membawaku ke tempat seperti ini!”

“Ehem…ehem. Harap perhatikan.” Tegur Kang Seung Yoon sambil menatapku tajam. Ketigabelas anggota lain ikut-ikutan menatapku dengan kesal karena aku mengganggu konsentrasi mereka.

Suho tersenyum padaku lalu kembali bicara. “Seperti yang sudah kita ketahui, count Dracula akan muncul tepat tengah malam ini. Dia akan bangkit dari peti matinya di sebelah sana.”

“KYAAAAAAA!!!!!!” Aku langsung menjerit keras begitu mengetahui bahwa akan ada Dracula bangkit dari peti mati. Tentu saja aku tahu siapa itu count Dracula, dia adalah tokoh pelopor drakula / vampire berabad-abad tahun yang lalu.

“Aku mau pulaaaaaang! Huwaaaaaa….” Aku langsung memeluk Kris. Kris mengusap-usap kepalaku.

“Jangan berisik! Sana pulang!” Tao berkata dengan ketus.

Aku terus menyembunyikan wajahku di dada Kris. Sama sekali tidak berani bertemu dengan Count Dracula, meskipun ini hanya di dunia mimpi!

 

Begitulah, adikku yang menyebalkan membuatku mengalami mimpi buruk selama 2 jam itu. Selain bertemu Dracula, aku juga bertemu dengan hantu boneka di istana boneka, lalu bertemu dengan para arwah dengan wujud mengerikan di danau arwah.

“SONG MIN HO! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!!! AKU AKAN MENARIK SEMUA INVESTASI-KU DARI PERUSAHAAN GAMES-MU!”

Ketika kami terbangun, itulah yang pertama kali kuteriakkan pada Minho. Dengan wajah tanpa dosa, ia hanya tertawa terbahak-bahak.

“Lumayan menegangkan.” Kata Ji Yong Oppa pada Minho sambil nyengir lebar. Aku mendengus saat mendengarnya. Lalu, aku langsung menatap Kris. Ia tidak mengatakan apapun, tapi hanya terus menatapku. Aku tahu ada sesuatu yang aneh.

Sejak saat itu, entah kenapa aku jadi merasa sangat ketergantungan pada Kris. Rasanya seperti…., hatiku baru akan merasa tenang setelah mendengar suara Kris, atau melihatnya secara langsung.

“Itu karena selama 2 jam di dunia mimpi minggu lalu, kau terus berlindung pada Kris hyung dan mengandalkannya untuk menjagamu, nuna.” Kata Minho sambil tersenyum penuh arti. Aku masih merasa kesal karena ulahnya, tapi aku tidak bisa lama-lama marah padanya.

Pukul 8 malam, Ji Yong Oppa pulang ke rumah setelah selesai latihan untuk tournament F1 bulan depan. Ia duduk di meja makan, ikut bergabung bersama kami.

“Apakah sudah ada perkembangan?” tanya Ji Yong Oppa pada Minho. Minho menggeleng.

“Perkembangan apa?” tanyaku, ingin tahu.

“Perkembangan kau dan Kris.” Ji Yong Oppa tersenyum jahil.

“Mwo?” aku mendengus.

Ji Yong Oppa dan Min Ho tertawa. Minho menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nuna, kau ingin tahu mengapa aku sengaja memesan chip itu untukmu? Karena aku ingin kau sadar, nuna. Meskipun kau perempuan yang mandiri, tegar, bahagia, tapi jauh di dalam lubuk hatimu…..kau merindukan sosok Kris hyung, yang bisa menjagamu selamanya, selalu berada di sisimu, dan membuatmu jauh lebih bahagia.”

Mulutku menganga lebar. Aku tidak menyangka adikku yang menyebalkan itu bisa berpikiran begitu!

Ji Yong Oppa mengangguk. “Benar, Min Ji~ya. Kami tahu hal-hal mistis adalah kelemahanmu. Hanya dengan begitulah, kami membuat pikiran alam bawah sadarmu mengatakan apa yang selama ini kau simpan di dalamnya. Kau tidak ingat apa yang kau katakan minggu lalu saat kita berada di dunia mimpi?”

Aku menggeleng. “Tidak. Memangnya apa yang kukatakan?”

Minho dan Ji Yong Oppa tersenyum penuh makna. “Nanti kau pasti ingat.”

 

Aku tahu memang ada yang salah! Cara Kris menatapku setelah kami terbangun dari dunia mimpi minggu lalu, kemudian perasaan-perasaan aneh yang kurasakan selama seminggu ini. Memangnya apa yang alam bawah sadarku katakan saat kami berada di dunia mimpi?

Kemudian, ingatan itu tiba-tiba saja merasuki otakku. Rasanya seperti sebuah potongan film yang hilang, yang dijejalkan begitu saja ke dalam sebuah video yang sedang di-edit.

Aku ingat apa yang kukatakan!

“KYAAAAAAAAAA! Aku tidak mau berada di sini! Aku tidak mau bertemu Dracula! Kris, ayo kita pergi! Bawa aku pergi, Kris! Kemanapun aku mau, asal tidak datang kemari lagi!”

“Arwah-arwah itu akan membawamu pergi, Kris! Aku mendengar mitos, arwah-arwah itu memakan jiwa-jiwa pria tampan! Kalau kau mati, bagaimana denganku?! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kris!”

“KRIIIIS! Jangan mendekati boneka hantu pengantin itu! Katanya boneka itu akan membuat pernikahanmu sial di masa depan nanti! Aku tidak mau pernikahanku sial! Aku ingin pernikahan kita membahagiakan, Kris.”

 

Aku menutup wajahku saat mengingat kalimat-kalimat konyol yang kukatakan pada Kris minggu lalu. “KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Aku mengacak-acak rambutku dengan gemas. Sekarang, bagaimana mungkin aku bisa menghadapi Kris?!

Ji Yong Oppa dan Min Ho langsung membuka pintu kamarku. “Kau sudah ingat?” Ji Yong Oppa nyengir lebar.

Minho langsung berbicara di telepon, entah dengan siapa. “Hyung, nuna sudah ingat! Laksanakan rencana A!”

“APA YANG HARUS KULAKUKAAAAN? AKU HARUS MEMAKAI TOPENG SAAT BERTEMU KRIS!”

“Hahahaha…hahahaha.., nuna, lihatlah ke luar balkon.” Minho menarik tanganku dan menuntunku keluar dari kamar menuju balkon kamarku.

“Song Min Ho! Semua ini gara-gara kau! Aku jadi….”

Dduar…dduar….

Terdengar letusan-letusan kembang api. Aku langsung menatap langit yang gelap, yang kini dipenuhi kembang api dengan warna-warni indah gemerlapan yang membentuk tulisan :

Kehidupan pernikahan kita pasti membahagiakan. Aku mencintaimu, Song Min Ji. Maukah kau menikah denganku?

 

Mataku berkaca-kaca ketika aku menunduk ke bawah balkon dan melihat Kris melambaikan tangannya padaku, dengan senyuman lembut-nya yang khas, dengan tatapan mata tajam tapi hangat-nya yang menghujam ke dalam jiwaku.

Bagaimana mungkin aku mengatakan “tidak” pada satu-satunya pria yang kucintai di dunia ini?

“Sekarang waktunya kau bahagia, Min Ji.” Ji Yong Oppa tersenyum padaku sambil menyentuh pundakku dengan sebelah tangannya.

Minho melingkarkan sebelah lengannya di lenganku. “Jangan takut, nuna. Tidak semua pernikahan akan berakhir seperti orangtua kita.”

Aku mengusap air mata di sudut-sudut mataku, lalu merangkul kakak dan adik yang sangat berharga bagiku itu. “Aku menyayangi kalian….”

*********

 

Dalam kehidupan ini, keberanian dalam mengambil keputusan, melangkah menuju masa depan, dan mewujudkan cita-cita sangatlah penting. Kita harus “bangun” dari mimpi. Kita juga harus “bangun” dari imajinasi buruk kita mengenai segala hal yang belum terjadi.

Kupikir aku gadis yang berani, tapi ternyata aku membutuhkan sedikit dorongan kakak dan adikku untuk mengakui perasaanku lewat “dunia mimpi”. Saat aku terbangun, semua hal jadi terasa berbeda. Ternyata aku juga bisa bahagia.

Tapi tidak semua hal sempurna. Tidak semua hal membahagiakan. Kita hanya perlu berpegangan pada kebahagiaan yang sudah kita miliki, tidak perlu serakah dengan menginginkan kebahagiaan lain.

Ada beberapa hal yang bisa diubah dalam hidup ini, tapi ada pula yang tidak. Ada beberapa orang yang bisa kita genggam tangannya, ada pula yang melepaskan tangan kita.

Sepuluh tahun yang lalu, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mengalami perasaan bahagia seperti sekarang ini. Kakakku, adikku, dan Kris. Merekalah yang membuat hidupku jadi berarti.

Di akhir musim dingin, ibuku mengirimiku e-mail. Ibuku memberitahuku bahwa ia dan ayah akan bercerai. Ibuku akan pindah ke Paris, bekerja di dunia fashion yang selama ini ia tinggalkan hanya demi perusahaan ayah dan mertuanya di Seoul. Ibu juga meminta kami bertiga untuk makan malam bersamanya.

Kurasa itu adalah suatu kemajuan dalam hubungan kami. Meskipun rasanya tidak se-bahagia dulu, di saat kami berlima hidup dengan harmonis, tapi aku yakin mungkin inilah yang terbaik bagi kami, terutama bagi ayah dan ibuku.

Kegagalan pernikahan orangtuaku memang sempat membuatku khawatir bahwa aku pun akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Tapi sekarang aku sadar, setiap orang berbeda. Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Setiap orang memiliki kebahagiaan yang berbeda.

Semua orang berhak bahagia. Karena itulah, ayo kita “bangun” dari segala mimpi, ilusi, dan pikiran-pikiran buruk kita. Wake up and be happy!

 

==== The End ===

 

Catatan author : gimana ceritanya? Aneh kah? Hahaha.

Menulis adalah terapi buat gw. Setelah menulis, rasanya beban gw sedikit berkurang. Segala pikiran negative gw berkurang.

Oh ya, maaf yaa untuk kalian yang nunggu Powerless dan FF gw yang lainnya. Ide-idenya belum terangkai jadi sebuah plot nih! Hehehe. Lagipula, gw menulis untuk menghilangkan kepenatan, menyalurkan hobi, dan terapi bagi pikiran gw yang mumet.

Semoga kalian suka, terhibur, dan terinspirasi oleh cerita-cerita gw. Jangan lupa tinggalkan komentar, karena komentar kalian sangat berarti buat gw. ^_^.

Satu lagi, sorry kalau ada typo. Belum sempet gw edit ulang.😄

 

–          Azumi Aozora –

19 thoughts on “[oneshot] Wake Up!

  1. Kalo kata d.o “i cant explain what i feel!” O.O
    DDDDAAAEEEBBBBAAAAKKKKK!!! >ͺ<b
    bikin jedagjedug diawal. takut2 kalo ini bakal jadi sadending sama kek shadow of you! Tapi syukur deh jadi happy ending di akhir ^^b
    gw termasuk yg nungguin powerless kak😀 dan karena gw lagi suka banget sama ahn jaehyun next post partnya dia dibanyakin yah😀 ㅋㅋㅋㅋxD love u kak ;* #TebarKisseunyaAAGBan ^^

    • Wkwkwk….gomawoooo♥♥♥♥♥
      Ahn Jae Hyun? Pasti jd suka Oppa cute ganteng itu gara2 drama you who came from the stars ya? lol
      Bentar lagi dia main drama baruuuu…jd detektif2 gitu. Sama Lee seung Gi + Go Ah Ra. >_<

  2. gwnya keracunan gara-gara powerless juga sih sebenernya *PlisJanganGRdulu -,-) di part 3 kan lo ngeracunin kita kak. sempet kepo sama adeknya songyi sampe akhirnya gw nnton drama itu dan walla…. AAGban lucunya kebangetaaaaaa >,_< penipu. *TapiGwtetepcinta :* *aduhIniGwKenapaJadifangirlinga (?) *TaukAhGelap *AAGBanTersayang❤❤❤

  3. Mian eonni baru comment sekarang:))
    #tariknafas
    DDAAAAEEEEEEEEEBBAAAAAKKK EONNI:D ide masa depannya keren plus plus.
    Aku do’ain ide2nya eonni berdatangan terus jadi powerlessnya tetap lanjut #amin
    Fighting eonni

  4. Ddaebakkkk ,, #kasiempatjempoldeh
    pkok’a keren bnget ide dan alur nya pun singkat tpi jelas , bguss …🙂
    di tnggu ff slnjut nya powerless dan yg lain nya , keep writing

  5. hahha miannn miii telat bacaa~~~

    kmren2 aku lg sumpek, pengenannya baca yg bergambar *dibuang

    as always, keren! tapi aku suka banget yg ini, ide nya ga pasaran

    wake up!!! deh pokoknya!❤ love the ending

  6. Dapat saran dari Kunang Eonn disuruh baca ini
    Alhasill gilaaa eonnn keren abissss
    Ideny beda bingittt
    Endingny makyussss
    Pokoke mantappp dahhh

  7. ni ff……………………. sangat keren banget sekali/? ;D udah pake sangat, banget, sekali lagi! tau ah,, ffnya trlalu keren kak!>< kkk~ Oyaa, ff powerless kak, powerless… kapan lanjutnyaa,, wkwkw :))) ditungguu ya kak, hihiw^^)9

  8. Dih dih, ngeliat castnya si Kris, jadi tertarik baca.. Ga nyesel baca ff ini :’) dan aku berakhir senyum” sendiri kak waktu bagian Kris ngelamar Minji /bayangannya gua yang dilamar sama Kris/
    Kirain apa yang dia alami cuman mimpi gara” liat judul ff nya.. hahahhaaa untung ga di bikin kecewa kak :’ bener” terharu sama usahanya Minji buat ngerubah Jiyong dengan Minho! :’)
    Aku malah ngakak sendiri pas bagian Minji ingat apa yang di bilang ke Kris dalam mimpinya😄 kirain kenapa pas bangun” muka Kris aneh, ternyata gara” itu =))
    Pokoknya ff nya daebak deh!! Kakak jjangg!! Di tunggu ff” yang lain.fightingg kak! ♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s