Type B Love (Chapter 1 From 2)

Title                 : Type B Love

Author             : Azumi Aozora

Main Cast       : Kim Hana (OC), Kang Seung Yoon (Winner), B.I / Kim Han Bin (Leader WIN team B)

Support Cast  : Winner members

Genre                   : romance, family, friendship, AU

Rating                   : PG+15

Length                  : Two-Shots (2 Chapter)

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction. Umur + karakter tokoh tidak semuanya sesuai dengan asli. Ide dan alur cerita milik author. Dilarang copas. Just enjoy the story as fans. ^_^.

poster type B love

~~ Chapter 1 ~~

Musim panas, Busan, Korea Selatan……..

Aku keluar dari dalam taxi, menyeret koperku menuju sebuah apartemen tak jauh dari pantai Heundae dengan kening berkerut dalam-dalam dan wajah cemberut yang tidak bisa kusembunyikan lagi. Aku merasa sangat kesal karena adikku, Han Bin, tidak bisa menjemputku di bandara.

Sudah 2 tahun Han Bin tidak mengunjungiku dan orangtua kami di Chicago. Aku juga tidak sempat mengunjunginya ke Korea karena selama 2 tahun ini aku benar-benar sibuk dengan kuliah dan klub fotografi-ku.

Karena itulah, liburan musim panas tahun ini, aku menyempatkan diriku untuk mengunjungi adikku yang keras kepala itu. Ibu kami cukup sering mengunjungi Han Bin. Tapi selama 2 tahun ini aku benar-benar belum pernah bertemu dengannya.

“Dasar! Memangnya dia tidak merindukanku ya?! Memangnya ada yang lebih penting daripada bertemu dengan keluarga yang sudah 2 tahun lebih tidak bertemu?!” aku masih terus menggerutu sambil berjalan di sepanjang lorong menuju apartemen Han Bin di lantai 17.

Mom memberitahuku apa password apartemen Han Bin. Tadinya Mom juga ingin ikut denganku ke Busan untuk mengunjungi Han Bin, tapi Mom harus mengikuti Seminar untuk para dosen selama 5 hari di universitas tempat Mom bekerja. Sepertinya minggu depan Mom akan menyusulku kemari.

Sudah 4 tahun aku, Mom, dan ayah kami tinggal di Chicago. Tapi Han Bin tidak mau ikut pindah bersama kami. Katanya ia sudah betah di sekolahnya yang sekarang. Dia sekolah di Busan Art School semenjak elementary sampai senior high seperti sekarang ini.

Aku tahu apa alasan sebenarnya Han Bin tidak mau ikut pindah. Dia tidak bisa bahasa Inggris! Han Bin terlalu malas untuk belajar bahasa. Sejak kecil dia hanya menyukai dance, musik, dan teater. Sementara itu aku termasuk orang yang tidak terlalu mengerti seni. Satu-satunya seni yang kupahami hanyalah seni dalam hal fotografi.

Empat tahun lalu, saat kami pindah ke Chicago, Han Bin menyewa apartemen. Dia tidak mau tetap tinggal di rumah kami sendirian. Padahal rumah kami yang dulu sangat nyaman dan terletak di kawasan elite, meskipun jauh dari sekolah Han Bin. Tapi Han Bin malah lebih memilih tinggal di apartemen yang kecil.

Aku tidak heran mengapa Mom selalu menuruti apa keinginan Han Bin. Karena Han Bin adalah anak kandung orangtua kami, sementara aku hanyalah anak angkat. Meskipun Mom berusaha membagi kasih sayangnya secara rata, tetap saja aku selalu merasa Mom lebih menyayangi Han Bin daripada aku. Aku tahu, seharusnya aku tidak merasa iri pada Han Bin. Mungkin itu memang hanya perasaanku saja. Karena hanya akulah yang tahu bahwa aku anak angkat, sementara Han Bin tidak tahu.

Orang tua kami tidak juga mempunyai anak setelah 15 tahun menikah. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan, yaitu aku, saat usiaku 8 bulan. Siapa yang mengira, 2 tahun kemudian ternyata Mom mengandung Han Bin. Aku sudah mengetahui hal ini semenjak aku kecil, tapi Mom tetap merahasiakannya dari Han Bin karena tidak ingin hubungan aku dan Han Bin menjadi tidak baik.

Aku mendengus keras saat memikirkan hal itu. Tidak ada bedanya apakah Han Bin tahu atau tidak, karena hubungan kami tidak pernah baik. Aku adalah tipe kakak yang menginginkan seorang adik penurut, manis, dan bisa mengandalkanku. Sementara pada kenyataannya Han Bin bukanlah adik yang penurut. Dia sering berbeda pendapat denganku, melawanku. Dia juga tipe orang yang mandiri dan cool. Dia merasa harusnya dialah yang menjadi kakak. Dan memang demikian yang terjadi. Han Bin sering mengatur banyak hal layaknya seorang kakak. Kalau dipikir-pikir, aku juga banyak tergantung padanya, bukan sebaliknya. Harusnya seorang adik bisa mengandalkan kakaknya, tapi aku justru malah bersikap sebaliknya. Mungkin aku memang bukan kakak yang baik.

Wrong password….. try again……

Sudah 3 kali aku memasukkan password yang diberitahukan Mom padaku. “Mwoya?! Jangan-jangan Hanbin mengganti passwordnya!”

Aku menelepon Han Bin, tapi yang terdengar hanyalah nada sambung. Aku menghentak-hentakkan kakiku, mulai tak sabar. Sudah 10 menit aku mencoba menghubungi ponsel Han Bin, tapi ia tidak juga menjawab panggilanku.

Aku menyandarkan punggungku ke tembok, mengatur nafas, menenangkan diriku, lalu mulai mencoba lagi menghubungi Han Bin.

“Hallo.” Kata Han Bin datar.

“YAH! KAU DI MANA?”

Han Bin menghela nafas panjang. “Nuna, aku kan sudah bilang, hari ini aku ada kerja sambilan di studio dance sampai malam.”

Aku mendengus. “Apa password apartemenmu?”

“Nanti aku kirim lewat line.”

Tuuuut…..tuut….tuuuttt….

Han Bin langsung menutup ponselnya begitu saja. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya yang masih sama seperti dulu. Atau bahkan mungkin sekarang lebih parah?

Satu menit kemudian, Han Bin mengirim passwordnya lewat message line. Cepat-cepat aku memasukkan password. Klik. Kunci terbuka. Aah, akhirnya aku bisa masuk!

Aku membaringkan punggungku yang pegal di sofa. Aku merasa sangat lapar dan kepanasan. Mungkin sebaiknya aku mulai memasak makanan spesial untuk makan malam nanti.

Aku meletakkan koper dan ransel-ku di kamar yang kosong. Apartemen ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi + toilet, dapur, dan ruang tengah. Meskipun kecil, apartemen ini sebenarnya cukup nyaman. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dengan puas saat melihat kondisi apartemen Han Bin yang bersih.

Satu hal yang kusukai dari adikku yang menyebalkan itu adalah : dia sangat cinta kebersihan. Dia tidak jorok seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya. Aku sudah sering berkunjung ke apartemen teman-teman pria-ku, dan mendapati apartemen mereka seperti kapal pecah! Kotor dan berantakan. Menjijikan sekali rasanya melihat banyak pakaian kotor dan bekas makanan berserakan di mana-mana. Tapi Hanbin…., sejak dulu aku bisa mempercayakan kebersihan dan kerapihan rumah padanya di saat orangtua kami pergi ke luar kota, atau di saat pembantu kami tidak datang.

Aku juga tersenyum lebar saat melihat persediaan makanan yang lengkap di lemari pendingin di dapur. Daging, buah-buahan, sayuran, telur, susu, yoghurt, vitamin, semuanya ada. Sepertinya Han Bin memang cocok tinggal sendirian. Kalau aku tinggal sendiri? Mungkin setiap hari aku hanya akan makan ramyun! Bukannya tidak bisa memasak, tapi aku malas berbelanja. Sampai sekarang pun aku masih tidak suka belanja, baik itu belanja makanan ataupun belanja pakaian, sepatu, dan tas layaknya perempuan pada umumnya. Aku termasuk orang rumahan yang senang melakukan banyak hal di rumah. Aku biasa mendesain banyak objek yang ada di rumah, kemudian memfotonya. Kecuali bila mood-ku sedang bagus, aku akan keluar rumah untuk memfoto pemandangan.

Sebelum mulai memasak, aku memutuskan untuk melihat-lihat kamar Han Bin, mumpung dia sedang tidak ada! Aku terkekeh pelan. Berharap menemukan sebuah rahasia tentang adikku itu yang bisa kugunakan untuk membuatnya menjadi adik penurut.

Sejak dulu, Han Bin tidak pernah punya skandal. Maksudku…, dia kan cowok! Bukannya anak laki-laki itu biasanya lebih “nakal” daripada anak perempuan ya?! Sejak dulu Han Bin selalu perfect. Menjadi juara kelas sejak TK sampai senior high school, berbakat dalam hal musik dan dance, menjadi ketua kelas, anak baik-baik yang tidak pernah berkelahi, tidak pernah terlibat masalah dalam hal peraturan sekolah, tidak pernah merokok, tidak pernah punya masalah dengan perempuan!

Han Bin terlalu perfect, sampai-sampai aku sangat ingin tahu apa kelemahannya selain tidak bisa bahasa Inggris! Dia pasti punya kelemahan. Dingin, anti-sosial, mandiri ….. semua itu menurutku memang kelemahannya, tapi entah bagaimana Han Bin selalu bisa membuat kelemahannya itu menjadi kelebihan. Sikapnya yang dingin…..selalu bisa membuat perempuan manapun menganggapnya cool dan keren. Sikapnya yang anti-sosial……terkadang bisa berubah menjadi sangat ramah di saat-saat tertentu seperti saat tamu-tamu orangtua kami datang ke rumah, tapi setelah itu dia hanya akan terus diam di kamarnya untuk membuat lagu, dan hanya keluar dari kamar untuk makan.

Selama 20 menit, aku mengamati kamar Hanbin. Membuka-buka lemari pakaian, meja belajar, rak-rak buku, rak CD. Aku bahkan sampai mengintip ke kolong tempat tidur, tapi sama sekali tidak menemukan apapun!

Kamarnya sangat rapih dan bersih. Khas Han Bin.

Bed cover terpasang dengan rapih di atas tempat tidur. Meja belajar, rak buku, rak CD, semuanya tersusun dengan teratur. Dinding kamar yang di cat biru dibiarkan polos tanpa tempelan poster atau foto apapun. Jangan harap menemukan majalah atau komik porno!

“Jangan-jangan….Han Bin gay?” gumamku. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ah sudahlah! Aku terlalu penasaran dengan urusan orang lain!” Aku menepuk-nepuk pipiku, menyadarkan diriku sendiri. Terkadang aku memang terlalu ikut campur masalah orang lain. Saat junior high school dulu, aku pernah terkena getahnya gara-gara terlalu ikut campur masalah mantan sahabatku.

Saat membereskan lagi kamar Han Bin yang sudah sedikit kuacak-acak, tanpa sengaja mataku menatap album Eminem yang pernah kuhadiahkan pada Hanbin saat ulang tahunnya yang ke-12. Aku meraih album itu lalu membukanya. Aku tersenyum karena Han Bin masih menyimpan album ini, lengkap dengan selembar surat yang kutulis untuknya dan selembar foto kami berdua saat umurku 13 dan Han Bin 11.

Eminem adalah salah satu penyanyi favorit Han Bin. Rap-rap dan lagu yang ia ciptakan banyak terinspirasi dari rap Eminem. Yap, bahkan sejak umur 11 tahun, Hanbin sudah menulis dan meng-compose lagu sendiri! Dasar genius!

************

Pukul 7 malam……

Aku sudah selesai memasak makan malam. Aku menata semua makanan yang kumasak di meja makan, menyambut Han Bin pulang. Padahal sekarang kan liburan musim panas, seharusnya Han Bin bersenang-senang karena libur sekolah, tapi dia malah bekerja part time dari pagi sampai malam!

Pukul 7 lewat 15 menit, Han Bin datang. Wajahnya terlihat lelah, tapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.

“Kau lapar?” tanyaku sambil nyengir lebar.

Han Bin tersenyum tipis dan mengangguk. Aku mendekatinya, berjinjit, lalu mengacak-acak rambutnya. “Aigoo…, kau sudah setinggi ini. 2 tahun, hah? Kenapa tidak pernah datang ke Chicago? Kau selalu memakai liburan sekolah untuk bekerja ya?”

Han Bin mengangguk. “Hmmm. Aku menjadi pelatih dance. Aku juga sedang menyiapkan audisi untuk musim gugur nanti.”

“Audisi? Kau mau jadi artis?”

Han Bin hanya mengangkat kedua bahunya. “Ada ahjusshi yang menawariku bergabung dengan agensi-nya. Tapi aku tidak mau langsung bergabung begitu saja. Aku ingin para pencari bakat itu melihat dan menilai kemampuanku dulu.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, lalu  segera menyuruh Han Bin duduk di meja makan. “Tadaaaaaa! Aku memasak semua makanan kesukaanmu.”

Bukannya terharu, Han Bin malah menatapku dengan datar. “Kau akan tinggal di sini?” nada suaranya seperti mengatakan : kenapa kau harus tinggal di sini?

“Aigoo~~ kau tidak rindu pada kakakmu ini, hah?! Tentu saja aku akan tinggal di sini selama 1,5 bulan.” Aku menyeringai dengan puas sambil menyilangkan kedua lenganku di dada.

Han Bin menatapku dengan tajam. “Jangan membuat kekacauan.”

Aku tertawa terbahak-bahak sambil mengibas-ngibaskan tanganku. “Tenang saja, Kim Han Bin. Kau pikir….aku ini pembuat onar?!”

“Memang.” Jawab Han Bin datar sambil menyuapkan spagethi seafood ke mulutnya.

Aku membelalakkan mataku. “Mwo? Tsk! Aku tidak akan menghancurkan apartemenmu. Tenang saja!”

Han Bin berhenti makan sejenak, lalu menatapku lekat-lekat. “Apa yang akan kau lakukan selama di sini, Nuna? Kau tidak berencana mengikutiku ke manapun aku pergi dan membuat kekacauan kan?”

Aku tersenyum lebar sambil mengangkat bahu dengan cuek. “Memangnya apa lagi yang bisa kulakuan?”

Han Bin mendesah. “Sudah kuduga.” Hanbin kembali makan. Aku tidak makan dan hanya terus saja menatap wajah adikku yang terlihat semakin dewasa itu.

“Ceritakan padaku.” Kataku.

“Cerita apa?”

“Apa saja. Selama 2 tahun ini.”

“Tidak ada yang menarik.”

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Benarkah? Tidak ada yang menarik perhatianmu? Tidak ada pacar?”

“Tidak ada.”

Aku mendengus. “Tidak asyik! Aku baru saja putus bulan lalu dengan pacarku.”

“Pacar yang mana ya? Pacarmu kan banyak sekali, Nuna!” Han Bin menyeringai.

“YAH! Kau pikir aku playgirl?! Banyak apanya, hah?! Aku memang sering ganti-ganti pacar, tapi aku tidak pernah selingkuh, tidak pernah mendua apalagi mentiga…… menlima. Arrasseo?!”

Han Bin terbahak-bahak. “Arra. Tapi memang banyak kan?” Hanbin tersenyum jahil.

Aku menggeleng. “Aku datang kemari bukan untuk membahas tentang diriku, Kim Han Bin! Aku ingin tahu kehidupanmu selama 2 tahun ini. Lihat! Kau bahkan sudah setinggi ini. Kau sudah dewasa, Kim Han Bin. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu hidup sendiri jauh dari aku, Mom, dan Appa. Bagaimana sekolahmu. Bagaimana hubunganmu dengan teman-temanmu. Sudah berapa banyak lagu baru yang kau ciptakan……..” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Nuna, kalau kau bicara terus, aku tidak akan memberimu hadiah.”

Mataku langsung membelalak senang. “Hadiah apa?”

Sejak dulu, Han Bin selalu kesal bila aku cerewet di hadapannya dan sok ingin tahu semua hal yang terjadi padanya. Ternyata sampai sekarangpun dia masih merasa kesal. Hahaha.

Han Bin meraih ransel-nya di sofa, mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dengan pita pink diatasnya padaku. Aku menjerit senang. “KYAAAAAAA!!!!!!”

Cepat-cepat aku membuka kado itu dan memekik senang saat melihat isinya. Boneka Brown dan Cony yang sangat lucu!

“Bagaimana kau bisa dapat boneka Brown dan Cony yang ini? Ini kan versi limited edition. Di Jepang-nya saja hanya dijual 50 buah. Kau pergi ke Jepang? Kapan kau beli boneka ini? Memangnya kau punya banyak uang? Boneka line versi limited edition ini kan sangat mahal….” cerocosku panjang lebar.

Tanpa kuduga, Han Bin menjejalkan sepotong dimsum ke mulutku. “Jangan bicara lagi, Nuna. Kepalaku pusing.”

Aku tertawa lebar. “Sorry….”

Pandangan mata Han Bin melembut. Dia tersenyum. “Nuna, maafkan aku ya hari ini tidak bisa menjemputmu di bandara.” Kata Hanbin sungguh-sungguh.

“Hmmm.” Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Aku langsung berdiri dari kursiku dan memeluk Hanbin dengan erat. “Gomawoooooo…..adikku yang baik hati, tampan, dan pintar. Hehehe…”

Hanbin mendengus. “Kau baru sadar?”

Aku mencubit kedua pipinya dengan keras. “Inilah jeleknya dirimu, Kim Han Bin! Pantas saja kau terus menjomblo selama 17 tahun ini. YAH! Kau tidak memperlakukan teman-teman perempuanmu dengan buruk kan?”

Hanbin mengangkat bahu dengan cuek. “Aku hanya baik padamu.”

“Haaaah? Baik? Kau bilang…., kau baik padaku? Ck…ck…ck… aku mengerti. Nappeun namja!” Aku mendelik pada Han Bin, lalu kami pun tertawa bersama-sama.

Yah, beginilah, sejak dulu hubunganku dan adikku memang sering seperti ini. Meski kami sering bertengkar, tapi sebenarnya kami saling menyayangi.

“Kau tahu apa yang membuatku merindukanmu, Hanbin~ah?”

“Apa?”

“Tidak ada yang mengajakku bertengkar. Rumah aman, damai, tentram sentosa. Rasanya sangat menyebalkan!”

Han Bin tertawa. “Nuna, meskipun aku juga merindukan suaramu yang cempreng ini, jangan terlalu sering bicara, oke? Kasihan kupingku merasa syok.”

“Aigooo…, dasar!”

“Hahahaha….”

Malam berlalu dengan sangat cepat. Kami begadang untuk menceritakan banyak hal. Kebanyakan aku yang bercerita, dan Han Bin hanya mendengarkan sambil sesekali mengomentari ceritaku.

Sepertinya aku tertidur di sofa ruang TV, tapi keesokan paginya aku malah mendapati diriku terbangun di atas tempat tidurku. Pasti Han Bin yang memindahkanku kemari.

Cepat-cepat aku keluar dari kamar. “Hanbin! Hanbin~ah…” Aku memanggil-manggil nama Hanbin. Kamarnya kosong. Di kamar mandi dan di dapur juga tidak ada.

Aku melihat selembar kertas dengan tulisan tangan Hanbin di atas meja makan. Nuna, aku pergi kerja.

“Aaaaarrgghhhh! Rencanaku untuk mengikuti Hanbin seharian ini gagal total! Apa yang harus kulakukan sekarang?”

****************

Sudah lama aku tidak jalan-jalan di kota kelahiranku ini, tapi aku tidak suka shopping, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan di pantai saja sambil membawa kameraku.

Matahari bersinar terik. Meskipun aku sudah memakai baju tipis, tetap saja masih merasa kepanasan.

Aku menatap sekitar pantai Heundae. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang kini memenuhi pantai. “Mungkin aku harus pakai bikini seperti mereka? Ah, jangan! Perutku masih belum rata. Aku harus membakar lemak! Yosh! Ayoooo matahari, bakarlah lemakku!” aku menegadah menatap langit biru yang cerah.

Beberapa orang melihat ke arahku tapi aku terus berjalan dengan cuek. Aku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Ada 3 hal yang membuat orang-orang melihat ke arahku dengan penasaran. Yang pertama, karena aku cantik. Alasan ke-2, karena aku berisik. Alasan ke-3, karena ada orang-orang tertentu yang sering berkomentar : cantik, tapi sayang tidak punya otak.

Tidak punya otak, hah? Jangan bercanda! Meskipun aku terlihat seperti gadis bodoh, aku pernah menjadi juara pertama lomba fotografi se- USA. Pintar itu….tidak selalu harus pintar dalam hal pelajaran kan? Pintar…tidak berarti bicaramu harus selalu sopan dan elegan. Aku tahu, aku memang blak-blakkan, sinis, cuek, berisik – tapi bukan berarti aku tidak punya otak!

Bukannya sombong, tapi sekarang aku kuliah di salah satu universitas terbaik di Amerika. Meski aku terlihat seperti gadis bodoh, aku cukup pintar untuk bisa kuliah di jurusan manajemen bisnis di universitas terbaik di Chicago.

Aku mengabadikan berbagai moment menarik yang kutangkap dengan kameraku. Aku tersenyum senang dan berjalan dengan langkah riang menyusuri pantai.

Seharian ini aku menghabiskan waktuku di sekitar Heundae. Sudah lama juga aku tidak memakan makanan Korea. Aku punya langganan kedai tteokpoki favoritku di dekat Heundae.

Pukul 4 sore, setelah aku puas wisata kuliner di sekitar Heundae, aku berjalan menuju bagian pantai yang tidak diketahui banyak orang. Pantai ini memang terletak sangat jauh dari pantai utama. Tak banyak turis yang tahu, kecuali penduduk asli Busan.

Karena sekarang musim berlibur, aku menduga pantai itu pasti lumayan penuh oleh anak-anak sekolah. Dulu saat masih junior high school, aku dan teman-temanku juga sering datang ke pantai ini untuk bermain volley, atau hanya untuk bermain pasir. Di pantai ini, kita memang tidak bisa berenang karena arusnya sangat deras. Tapi aku kan memang tidak bisa berenang, jadi tidak masalah.

Ternyata pantai sepi. Aku bersorak girang sambil melompat-lompat, kemudian berdiri menatap lautan yang terbentang luas di hadapanku, menghirup aroma musim panas yang menyegarkan. Aku tidak peduli jika kulitku terbakar sinar matahari. Aku selalu mengagumi orang yang memiliki kulit tan, kulitku terlalu pucat.

Aku berlari di pasir sambil memfoto sekitarku, tapi langkahku terhenti begitu aku mendengar sebuah nada yang mengalun lembut. Tak jauh dariku, di bawah pohon, duduk seorang pria memakai topi fedora yang sedang memainkan gitar sambil memejamkan matanya, seolah sangat menikmati permainan gitarnya dengan sepenuh hati.

Permainan gitarnya memang sangat bagus. Tanpa bisa kucegah, aku membidikkan kameraku ke arah pria itu, mengambil fotonya dari berbagai sudut. Dekat…dekat…semakin dekat. Tanpa sadar, kini aku sudah berdiri dekat sekali dengan pria itu, sambil terus memfotonya.

“Kau fans-ku?”

Aku terlonjak kaget begitu mendengar suara berat pria itu. Aku menatapnya dengan bingung. “Fans? Kau artis?”

Pria itu mengangkat bahunya. “Bisa dibilang. Aku tampan, pintar, jago menyanyi dan bermain gitar, aku lumayan bisa dance juga. Semua orang menyukaiku.”

“Daebak!” Aku menatap pria itu dengan sinis dan sarkastik. Ternyata pria ini menderita penyakit pangeran. Kukira orang seperti ini hanya ada di drama-drama, tapi ternyata di kehidupan nyata juga ada.

Pria itu menyeringai lebar. “Tidak usah malu. Aku sudah terbiasa. Ayo, kalau kau mau foto, foto saja.”

Aku mendengus dengan keras. Karena permainan gitarnya sangat bagus dan menyentuh hati, kupikir aku harus mengabadikan orang ini di kameraku. Tapi ternyata…., aku telah salah menilai orang.

“Kenapa diam saja? kau malu?” pria itu langsung berdiri, meraih kameraku, mendekatkan wajahnya di sisi wajahku, lalu memfoto kami berdua. “Nah, sekarang kau sudah punya foto kita berdua. Aku tidak tahu kau anak sekolah mana. Mungkin kau anak sekolahku, tapi aku kan tidak pernah hafal wajah fans-fansku, jadi kau jangan berhenti menjadi fans-ku hanya karena aku tidak mengenalimu. Oke?” Pria itu tersenyum manis.

Aku menatap pria itu seolah ia adalah alien. Sikapnya sangat aneh!

“Sekarang, bisakah kau pergi? Aku sedang konsentrasi membuat lagu. Sebagai fans-ku, kau pasti akan senang mendengar lagu baruku ini. Kau pasti tahu kan lusa aku akan tampil di café mana, aku tidak perlu memberitahumu. Bye…bye….” Pria itu tersenyum, tapi matanya seolah berkata : CEPAT PERGI SEKARANG!

“Dasar orang stress! Siapa yang jadi fans-mu, hah? Tsk!” Aku berdecak kesal.

Ketika aku membalikkan badanku dan bersiap-siap hendak pergi, tanpa kuduga pria berambut hitam yang memakai anting di kedua telinganya itu menahan lenganku dan membalikkan badanku menghadapnya, Tatapannya yang tajam menusuk mataku, seolah berusaha membaca pikiranku.

“Jadi, kau bukan fans-ku? Tapi kau diam-diam mengambil fotoku. Kau menyukaiku?”

“MWO?”

“Maaf, tapi aku tidak tertarik untuk berkencan denganmu.” Pria itu melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Aku mengangkat sebelah kakiku lalu menginjak kaki pria itu sekuat tenaga. “AAARRRGGHHHH! YAH! KENAPA KAU MENGINJAK KAKIKU?!” Pria itu menjerit kesakitan.

“Maaf, tapi aku tidak tertarik untuk berkencan denganmu, crazy guy.” Aku memutar-mutar jari telunjukku di samping kepalaku. Memperjelas kata “gila” yang kumaksud.

Pria itu masih meringis kesakitan sambil terus menatapku dengan kesal.

“Aaah, tadi kau bilang….kau terkenal? Hahaha. Teruslah bermimpi, crazy guy! Adios! Bye!” Aku memalingkan wajahku dengan angkuh dan berjalan pergi meninggalkannya dengan langkah anggun.

Setelah berada jauh dari pria aneh itu, aku tidak sanggup lagi menahan tawa, jadi aku pun tertawa terbahak-bahak sambil terbungkuk-bungkuk. Orang-orang melihatku, tapi aku tidak peduli.

“Daebak! Aku bertemu orang aneh! Tsk! Padahal awalnya…saat dia bermain gitar, kupikir dia tipe romantis, baik hati, dan lembut. Ternyata hanya seorang jerk! Sayang sekali, padahal dia lumayan tampan. Aduh!”

Aku membalikkan badanku saat merasakan punggungku dipukul oleh tas. Pelan sih, tapi tetap saja tidak sopan ada orang asing yang memukul punggungku!

Aku membalikkan badanku. Ternyata pria aneh tadi! Dia menyeringai menyebalkan sambil menatapku dengan kedua matanya yang kecil.

“Daebak! Aku bertemu orang aneh yang suka bicara sendiri! Aku mendengarmu lho. Jadi kau bilang aku tampan? Yaaaah, aku memang tampan.” Pria itu menyeringai lagi, lalu kemudian pergi begitu saja.

Aku hanya bisa melongo menatap punggungnya yang semakin menjauh. “Dasar gila!” gertakku.

***********

Gara-gara bertemu pria aneh tadi, mood-ku untuk memasak makan malam jadi hilang begitu saja. Aku pun akhirnya memutuskan untuk membeli pizza.

Saat membawa dus berisi pizza sambil berjalan menuju lift, aku melihat seorang ahjuma yang sedang memunguti belanjaannya yang berjatuhan di lantai. Cepat-cepat aku mendekatinya dan membantunya.

“Terima kasih…” ahjuma berkacamata itu tersenyum hangat saat aku membantunya.

Aku balas tersenyum. “Sama-sama.” Aku membungkukkan badanku. Kami naik lift. Aku memijit tombol 17.

Ahjuma itu menoleh padaku. “Kau baru pindah kemari?”

Aku tersenyum. “Aku mengunjungi adikku.”

“Aaah, aku juga tinggal di lantai 17, nomor B 10.”

“Omo~ adikku B 11.”

“Aigoo~ ternyata kita tetangga.” Ahjuma itu tertawa sambil memukul lenganku dengan bercanda. “Aku tidak tahu ternyata Han Bin punya kakak secantik ini.”

Aku tertawa pelan. “Aku baru pertama kali ini berkunjung kemari.”

Ahjuma berambut ikal sebahu itu mengangguk. “Ibumu lumayan sering datang. Dia menyukai beef steak buatanku.”

“Beef steak? Aaah! Jadi Anda yang dibicarakan ibuku.” Aku tertawa senang karena akhirnya berjumpa dengan ahjuma tetangga Han Bin yang pernah dibicarakan oleh Mom. Musim semi lalu, saat  Mom mengunjungi Han Bin, Mom cerita padaku kalau dia makan steak yang sangat enak di apartemen tetangga Han Bin.

“Hahaha, benar. Kau mau mencobanya? Kebetulan hari ini aku akan memasak steak. Hari ini Seung Yoon ada di rumah, jadi aku belanja daging sapi sepulang kerja tadi. Ayo…” sebelum aku menjawab, ahjuma itu langsung melingkarkan lengannya di lenganku dan membimbingku berjalan ke apartemennya yang terletak di sebrang apartemen Hanbin.

Apartemen ahjuma ini terlihat sejuk dan asri karena banyak sekali bunga dalam pot kecil yang menghiasi sudut-sudut rumah.

“Aigoo~~ di mana anak itu… Hallo, Seung Yoon~ah, eomma sudah pulang. Kau di mana? Jangan pulang terlalu malam. Eomma akan masak steak kesukaanmu….”

Ahjuma itu berbicara di telepon, sementara aku melihat-lihat bunga anggrek bulan yang sangat cantik, lalu mengabadikannya dengan kameraku.

Aku terus mengamati bunga-bunga yang ada di ruang tengah, tapi aku tersentak kaget begitu melihat sebuah foto berpigura yang diletakkan di antara bunga-bunga. Itu kan pria aneh yang kutemui di pantai tadi! Ya Tuhan.., ternyata pria aneh tadi adalah tetangga Han Bin.

“Itu anakku satu-satunya, Seung Yoon.” Ahjuma itu ternyata sudah selesai menelepon dan kini berdiri di sampingku sambil tersenyum menatap foto dirinya dan anaknya. Di dalam foto, si pria aneh tersenyum dengan lebar sambil merangkul ibunya. Hanya ada mereka berdua. Tidak ada ayah, ataupun saudara yang lain.

“Sejak kecil Seung Yoon selalu suka menyanyi dan bermain gitar. Mulai remaja, dia jadi jarang sekali berada di rumah. Dia lebih menganggap studio dan café sebagai rumahnya.” Ahjuma di sampingku tertawa. “Seung Yoon satu sekolah dengan Han Bin. Aku sangat senang saat kami pindah kemari, ternyata kami bertetangga dengan Hanbin. Hanbin anak yang sangat baik dan pandai. Seung Yoon juga pandai, tapi dia malas belajar. Oh ya, siapa namamu?”

“Kim Hana.” jawabku dengan sopan.

Ahjuma itu tersenyum lembut. “Hana ssi, kau tunggu di sini ya, aku akan memasak beef steak andalanku.” Ahjuma itu mengedipkan sebelah matanya dan pergi begitu saja ke dapur.

Duuh, apa yang harus kulakukan? Aku memang sangat ingin memakan steak yang kata Mom sangat enak ini. Tapi aku tidak mau bertemu dengan si pria aneh! Siapa namanya? Seung Yoon ya?

Oh, jadi pria aneh itu satu sekolah dengan adikku juga? Jangan-jangan mereka bersahabat? Gawat! Han Bin pasti akan meledekku habis-habisan! Bagaimana kalau si pria aneh cerita pada Hanbin tentang pertemuannya denganku di pantai tadi? Aaaarrrggghhhh! Kenapa aku menyebutnya tampan saat di pantai tadi?! Hanbin pasti akan mem-bully-ku.

***********

Aman. Pria aneh itu ternyata pulang terlambat. Aku dan Nyonya Kang hanya makan berdua. Aku pamitan jam 8 malam. Han Bin ternyata sudah pulang dan sudah makan sendirian. Pizza yang kubeli jadi sia-sia.

“Kau pergi kemana saja, Nuna? Aku menghubungi ponselmu tapi tidak aktif.”

Aku mengeluarkan ponselku yang kehabisan baterai dari dalam tas kecilku. “Habis baterai. Eh, Hanbin~ah…, ahjuma yang tinggal di depan itu…., Nyonya Kang, beef steak buatan-nya benar-benar enak!” Aku mengangkat kedua ibu jariku.

“Kau sama seperti Mom. Tukang makan di rumah orang!” Hanbin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ngomong-ngomong…, anaknya…, Kang Seung Yoon. Dia satu sekolah denganmu?”

Han Bin menatapku lekat-lekat. “Kau bertemu dengannya?”

“Ng..ng….” Aku berpikir apakah harus memberitahu Hanbin tentang pertemuanku dengan Seung Yoon saat di pantai atau tidak.

Sebelum aku bicara, Hanbin sudah bicara lebih dulu. “Dia musuh bebuyutanku.”

“Mwo?”

Hanbin mendengus dengan kesal. “Menyebalkan sekali karena dia dan ibunya pindah ke apartemen ini! Aku ingin pindah dari sini, tapi Mom pasti tidak setuju. Lagipula kalau aku pindah, berarti aku takut padanya.”

“Musuhmu?” dalam hati aku merasa lega tapi sekaligus takut. Kalau mereka musuh…, berarti si pria aneh tidak akan cerita pada Hanbin tentangku. Tapi.., bagaimana kalau dia jadi mengolok-olok Hanbin? Gawat!

Tunggu-tunggu! Jangan bodoh, Kim Hana! Meskipun Nyonya Kang nanti bercerita tentangku pada pria aneh itu, pria itu tidak akan tahu bahwa Kim Hana kakaknya Kim Hanbin itu adalah aku – orang yang dia temui di pantai tadi sore kan? Yah, kecuali kalau aku sial bertemu dengannya saat aku keluar dari sini!

Aku harus menghindari Kang Seung Yoon. Aku akan menyamar setiap kali aku keluar dari apartemen ini.

Aku berhenti berpikiran yang buruk-buruk dan kembali fokus mendengarkan apa yang Hanbin katakan. Tidak biasanya adikku yang pendiam ini bercerita panjang lebar. “….. selain itu Kang Seung Yoon merasa dirinyalah yang paling hebat. Padahal dia sudah pernah kalah saat dance battle denganku!” Hanbin mendengus. “Dia memang bisa bermain gitar, tapi dia terlalu percaya diri. Dia mengira dirinyalah yang paling hebat di se-antero Busan, bahkan di seluruh dunia. Dia menderita Prince Disease. Sangat narsis dan terlalu mencintai dirinya sendiri.”

“Memang.” Gumamku sambil mencibir. Teringat kelakuannya yang ajaib sore tadi di Heundae.

Hanbin memicingkan matanya sambil menatapku lekat-lekat. Aku tertawa lalu berkata dengan cepat. “Memang begitu yang kupikirkan setelah mendengarkan ceritamu. Hahaha…”

Hanbin masih menatapku dengan curiga.

****************

Keesokan harinya…..

Aku berhasil mengikuti Hanbin!

Hari ini Hanbin pergi ke studio siang hari. Agar bisa mengikutinya, aku pura-pura pergi ke pantai sejak pagi. Padahal yang sebenarnya adalah : aku bersembunyi di dekat apartemen, menyamar, lalu diam-diam mengikuti Hanbin saat Hanbin muncul dari gedung apartemennya.

“Ooooh, jadi di sini dia bekerja sambilan? Pelatih dance? Aku ingin tahu bagaimana dia melatih orang lain. Memangnya dia bisa ya melatih orang lain? Dia kan sangat tidak sabaran dan benci orang yang telmi.” Aku terkikik geli.

Tanpa kuduga, ada seorang gadis cantik berambut lurus panjang berwarna cokelat kemerahan yang menatapku lekat-lekat. Gadis itu kemudian masuk ke dalam studio. Aku mengikutinya.

“Tunggu!” panggilku pada gadis itu. Adikku populer di kalangan para gadis, meskipun dia tidak pernah tertarik pada mereka. Jadi, gadis cantik ini pasti mengenal adikku juga kan?

Gadis itu tersenyum padaku. Aku menatapnya dengan takjub. Tinggi, langsing, cantik. Aku jadi merasa minder dengan tinggi badanku.

“Apakah kau mengenal Kim Hanbin?” tanyaku sambil tersenyum.

“Hanbin?”

Aku terlonjak kaget karena mendengar suaranya yang nge-bass. Aneh! Kenapa suaranya seperti suara pria? Jangan-jangan…dia sebenarnya adalah pria yang operasi menjadi wanita? Atau bisa saja dia memang wanita yang punya suara bass. Hahahaha, sepertinya aku hanya iri karena dia cantik dan tinggi, jadinya aku berpikiran yang bukan-bukan.

“Tentu saja aku mengenal Kim Hanbin.” Gadis itu tersenyum manis.

“Kim Jin Woo! Uwooohhhh…, kau cantik sekaliiiiii!” tiba-tiba saja seorang pria tinggi berambut cepak berjalan mendekati kami. Dia melingkarkan sebelah lengannya di pundak gadis cantik itu.

Si gadis terlihat tidak suka. Dia mendelik kesal. “Kenapa harus aku dan Tae Hyun yang jadi wanita sih?! Kenapa kalian tidak merekrut wanita sungguhan?”

Aku membelalakkan mataku. Jadi…gadis cantik ini memang pria? Waaaahhh, daebak! Dia sangat cantik!

Si pria berambut cepak tertawa. “Repot kalau kita harus dance couple dengan wanita sungguhan. Belum juga kompetisi-nya dimulai, wanita-wanita itu pasti pingsan duluan saat melihat ketampananku dan Seung Hoon.”

“Tsk!” Jin Woo berdecak.

“Oh, siapa gadis cantik ini, Jin Woo~ya? Temanmu? Annyeong.., namaku Song Min Ho.” Si pria berambut cepak tersenyum menggoda padaku.

Jin Woo memukul lengan Min Ho. “Dasar playboy! Dia itu temannya Han Bin.”

“Mwo? Hahaha. Sejak kapan Hanbin punya teman perempuan? Dia punya banyak fans perempuan, tapi menyia-nyiakan mereka, tidak pernah sekalipun melirik mereka. Ck…ck…ck. Sayang sekali. Nona cantik, kenapa kau mengidolakan Hanbin?”

Sebelum aku menjawab pertanyaan konyolnya itu, terdengar suara berat yang berkata “OH! Kenapa kau ada di sini?”

Aku menoleh dan membelalakkan mataku melihat Kang Seung Yoon, si pria aneh yang kutemui kemarin di Heundae!

Seung Yoon menyeringai menyebalkan. “Kemarin kau hanya pura-pura kan? Sebenarnya kau sangat menyukaiku kan?Sekarang kau datang kemari dan bahkan sampai menyamar dengan rambut palsu itu.”

Jin Woo dan Min Ho menatap kami bergantian. Aku menghela nafas panjang. Bisa gawat kalau Hanbin muncul sekarang.

“Jangan mengkhayal, Kang Seung Yoon! Dasar orang aneh!”

Seung Yoon terbahak-bahak. “Lihat! Kau berkata kau bukan fans-ku, tidak menyukaiku juga, tapi kau tahu namaku! Hahaha…”

Aku menggertakkan gigiku, lalu segera membalikkan badanku dan pergi dari sana. Aku masih bisa mendengar Seung Yoon bicara pada teman-temannya. “Dia  pasti fans fanatik-ku. Aigoo~ ternyata tingkah fans-ku sangat bervariasi.”

“Hey Man, dia fans-nya Han Bin.” Kata Min Ho.

“Benar. Tadi dia bertanya padaku apakah aku mengenal Hanbin.” Tambah Jin Woo.

“Mana mungkin! Kemarin dia mengikutiku ke pantai, mengambil fotoku diam-diam, menyebutku tampan, dan sekarang dia ada di sini…”

AARRRRGGGGHHH! Dasar pria menyebalkan!

*************

Malam ini Hanbin mengajakku ke café di mana dia akan tampil dance dan rap. Ada semacam kompetisi antar berbagai musisi indie malam ini.

Café penuh. Banyak sekali anak perempuan yang membawa banner bertuliskan nama Hanbin. Aku mendengus saat melihat banyak juga yang membawa banner Kang Seung Yoon.

Padahal mereka hanya anak-anak sekolah biasa, bukan artis professional, tapi fans mereka sudah banyak seperti ini! Aku bisa membayangkan bagaimana kalau di masa depan nanti adikku menjadi idol terkenal di Korea. Bagaimana ya rasanya punya adik orang terkenal?

Hanbin menuntunku ke meja bundar di tengah. Aneh. Meja itu kosong, padahal semua meja lain sudah terisi penuh, seolah-olah para fans memang sudah mempersiapkannya untuk Hanbin.

“Hanbin~ah, semoga berhasil!”

“Aku yakin kau pasti menang!”

“KYAAAA…, kau tampan sekali, Hanbin~ah!”

Benar kan?! Aku memutar kedua bola mataku saat para fans mengerubungi Hanbin. Aku duduk, melihat-lihat menu, lalu mataku mulai menangkap sekelompok remaja yang tak asing lagi bagiku. Kang Seung Yoon, Song Min Ho, lalu Kim Jin Woo yang menyamar menjadi wanita, lalu ada wanita berambut hitam panjang yang pastilah bernama Tae Hyun, lalu pria berpipi chubby itu pasti Seung Hoon. Aku masih ingat apa yang Jinwoo dan Minho katakan kemarin. Jadi, Jin Woo dan Tae Hyun menyamar menjadi wanita untuk mengikuti kompetisi ini ya?

Tanpa kuduga, Jin Woo melihat ke arahku lalu tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aku hanya tersenyum tipis, lalu cepat-cepat memalingkan wajahku dari Jinwoo saat Han Bin datang dan duduk di sampingku. Aku bisa merasakan tatapan tajam para gadis yang menembus punggungku. Aku menyenggol lengan Hanbin. “Yah, kau memberitahu fans-fansmu kalau aku adalah kakakmu kan?” tanyaku sambil berbisik.

“Untuk apa?”

“Yah! Aku tidak mau mereka membunuhku karena mengira aku pacarmu, bodoh!”

Hanbin tidak menanggapi kata-kataku. Matanya terfokus ke atas panggung. Ternyata Jin Woo, Tae Hyun, Min Ho, dan Seung Hoon sudah naik ke atas panggung. Sementara itu Seung Yoon duduk di meja tak jauh dari mejaku dan Hanbin.

Aku menghalangi wajahku menggunakan buku menu. Tapi terlambat! Sepertinya Seung Yoon sudah terlanjur melihatku.

Aku menoleh sekilas ke sampingku. Seung Yoon menatapku sambil menyeringai. Cepat-cepat aku kembali menutup wajahku dengan buku menu.

“Kenapa kau menutup wajahmu, Nuna?” tanya Han Bin.

Aku tertawa kikuk. “Tidak kenapa-kenapa.”

Han Bin mencondongkan tubuhnya lalu melihat ke samping kananku. “Kenapa Kang Seung Yoon menatapmu terus?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin dia berpikir aku cantik?”

Han Bin mendengus. Aku hanya tertawa. Aku tidak mau adikku ini tahu kalau aku mengenal musuh bebuyutannya dengan cara yang aneh!

Aku kembali menatap panggung. Jinwoo dance couple dengan Minho, Tae Hyun dengan Seung Hoon. Para fans berteriak keras saat keempat pria itu mulai melakukan dance sexy. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin Jin Woo dan Tae Hyun bisa terlihat sangat cantik dan seksi seperti itu?! Harga diriku sebagai seorang perempuan tulen merasa dipermainkan.

Hanbin terus menatapku. “Kenapa?” tanyaku.

“Kau mengenal Jin Woo dan Tae Hyun?” Hanbin mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil menatapku penuh selidik.

Gawat! Sepertinya kebiasaan jelekku muncul. Aku menyuarakan pikiranku tanpa sadar!

Hanbin masih terus menatapku, menunggu jawaban. Tapi aku beruntung, karena tak lama kemudian, sekelompok remaja pria memanggil Hanbin. Sepertinya mereka team dance Hanbin.

Aku bernafas lega saat Hanbin pergi. Tapi ternyata, sekarang para fans Hanbin jadi menatapku semakin ganas.

“Hey, orang aneh. Jadi kau pacarnya Hanbin?” Kang Seung Yoon kini duduk di kursi yang tadinya ditempati Hanbin. Sekarang jadi semakin banyak fangirls yang menatapku.

“Aku kakaknya Hanbin!” tukasku.

“Oh ya? Kalian tidak mirip.”

Aku terdiam mendengar komentarnya. Tentu saja tidak mirip. Kami kan bukan saudara kandung. Tapi untuk apa aku memberitahu orang aneh ini?!

“Jadi, kau datang untuk mendukungku?”

Aku mendengus. “Sebelum mengatakan kalimat-kalimatmu yang sok superior itu, tolong bercermin.”

Seung Yoon tertawa. “Aaah, bercermin untuk meyakinkanku kalau diriku memang sangat tampan?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar narsis!

“Golongan darahmu pasti B kan?” kataku sambil menyeringai.

Seung Yoon mengangguk. “Sebagai fans-ku, kau pasti tahu. Aku tidak heran.”

Aku mendengus lagi lebih keras. “Sudah kubilang aku bukan fans-mu!”

Seung Yoon tersenyum. “Bukan fans-ku, tapi secret admirer-ku kan?”

“Pria tipe B itu…, seperti sudah diketahui oleh banyak orang, meskipun tidak semuanya memiliki sifat tersebut, tapi pada dasarnya….pria-pria tipe B itu sepertimu.”

“Baik hati, Brilliant, the Best.” Seung Yoon tersenyum puas.

Aku menggeleng. “Brengsek. Bajingan. Bad boy!”

Seung Yoon membelalakkan matanya. “YAH! Jangan percaya omong kosong yang ditulis peramal!”

Aku tertawa. “Bukan peramal, pabo! Meskipun tidak semua pria type B seperti itu, tapi kau termasuk pria yang seperti itu. Aku kebalikannya darimu. Perempuan bergolongan darah B sangat berkebalikan dari pria bergolongan darah B. Kau tahu apa artinya? Di saat kau brengsek, bajingan, dan bad boy, aku adalah beautiful, baik hati dan tidak sombong, dan brilliant.”

“Huwahahaha….hahahaha….hahahaa….” Kang Seung Yoon terbahak-bahak. Dia terus saja tertawa sampai mengeluarkan air mata. Semua orang kini jadi melihat ke arah kami.

Aku memukul lengannya dengan keras. “Jangan berisik! Sebentar lagi adikku tampil! Pergi sana!” Aku mendorong tubuh Seung Yoon agar pergi dari mejaku.

Seung Yoon masih tertawa. “Kau tahu? Kurasa kau salah. Kau itu tidak beautiful, tidak baik hati dan sombong, dan tentu saja tidak brilliant. Sebelum mengatakan kalimat-kalimatmu yang sok superior itu, tolong bercermin.” Seung Yoon mengutip kalimatku. Ia menyeringai lebar, lalu pergi dariku tepat sebelum Hanbin naik ke atas panggung.

********************

Gara-gara Kang Seung Yoon sialan itu, aku jadi tidak bisa tidur! Hanbin mengantarku pulang jam 11 malam, tapi lalu pergi lagi ke studio untuk berlatih. Aku sudah mengingatkannya agar tidak terlalu memaksakan diri untuk berlatih keras karena dia sudah sangat bagus dalam dance, tapi adikku yang keras kepala itu tidak mau menurut. Katanya dia sudah terbiasa. Malam ini memang jadwal dia dan grup dance-nya latihan.

Harus kuakui, saat tampil menyanyi di café tadi, Kang Seung Yoon memang berbakat. Kenapa dia bisa terlihat berbeda saat berada di atas panggung dengan saat tidak berada di atas panggung?! Seperti dua orang yang berbeda saja!

Saat menyanyi sambil bermain gitar di atas panggung, Seung Yoon terlihat berkharisma. Suaranya yang berat dan merdu, petikan gitarnya yang powerful dan indah….., seandainya aku tidak tahu bagaimana sifat aslinya pastilah aku sudah mengidolakannya!

Kang Seung Yoon sangat tampan, berbakat, dan hebat. Kelemahannya adalah…..dia menyadari semua kelebihannya itu. Dasar jerk! Adikku jutaan kali jauh lebih baik dan lebih hebat daripada si jerk type B Kang Seung Yoon!

Pukul 1 malam…., aku masih tidak bisa tidur, ditambah lagi suara berisik di luar.

“Eomma…eomma! Buka pintunya! Eomma!” Aku mendengar suara serak seorang pria yang menggedor-gedor pintu apartemen Hanbin.

Bulu kudukku merinding. Suara tadi itu…, bukan hantu kan?

“Eommaaaaaa! Eommmaaaa!!!!” suaranya semakin keras. Sekarang malah suara bel terdengar nyaring.

Perlahan aku keluar dari kamar dan dengan hati-hati mengintip lewat interkom. “Kang Seung Yoon?”

Si idiot itu kenapa menggedor-gedor pintu ini? Dasar bodoh!

“Eomma….eomma….”

Ting tong…ting tong…. Ting tong…. Ting tong…

“Aaarggghhh!!!” aku mengacak-acak rambutku dengan kesal. Dasar! Mengganggu ketenangan saja!

Aku membuka pintu, tubuh Kang Seung Yoon ambruk ke lantai.

“Yah! Kau mabuk? Kau tidak boleh minum! Kau kan masih sekolah! Ck…ck…ck.., jangan tidur di depan pintu! Ini bukan rumahmu, bodoh!” Aku berjalan melangkahi tubuhnya yang terbaring meringkuk di depan pintu.

Meskipun aku merasa tidak enak karena harus membangunkan Nyonya Kang malam-malam begini, tapi aku juga tidak bisa membiarkan anaknya menghalangi jalan seperti ini!

Sudah hampir 5 menit aku terus memijit bel apartemen Seung Yoon, tapi Nyonya Kang tidak juga membuka pintunya. Jangan-jangan…nyonya Kang sedang tidak ada di rumah! Kalau tidak salah…, Nyonya Kang pernah cerita padaku kalau dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit, dan setahuku perawat kerjanya di shift. Mungkin Nyonya Kang sedang kebagian shift malam.

Aku mendendang tubuh Seung Yoon pelan. “Yah! Bangun! Apa password apartemenmu?”

“Mmmmm…” Seung Yoon hanya bergumam dalam tidurnya.

“APA PASSWORD APARTEMENMU?” teriakku tepat di telinganya.

“Mmmm….” Seung Yoon hanya terus bergumam tak jelas dengan mata tertutup. Tanpa kuduga, dia berdiri, lalu dengan terhuyung masuk ke apartemen Hanbin. Aku menahan lengannya.

“YAH! JANGAN MASUK KE SINI! INI BUKAN RUMAHMU!”

Tapi tenaga Seung Yoon terlalu kuat, dia terus saja berjalan dan akhirnya ambruk di sofa. Dengkuran halus terdengar. Aku hanya bisa menghela nafas melihat kelakuannya yang ajaib ini.

Aku meraih ponselku, menelepon Hanbin, tapi ponselnya tidak aktif. Bagaimana ini? ah, sudahlah! Biarkan saja dia tidur di sana.

Aku kembali masuk ke dalam kamarku, tapi tidak bisa tidur. Si jerk idiot type B itu pasti kedinginan.

Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Tapi mungkin saja aku merasa kasihan padanya. Aku meraih selimut lalu menyelimuti Seung Yoon.

“Abeoji….” Seung Yoon mengigau. “Abeoji…., aku akan terkenal dan mengalahkanmu…., membuatmu menyesal sudah meninggalkanku dan eomma. Abeoji…..”

Suara dengkuran Seung Yoon kembali terdengar. Nafasnya teratur.

Selama beberapa saat aku hanya terdiam sambil melihat wajahnya yang polos dan menggemaskan. Aku meraih kamera DSLR-ku, lalu memfotonya.

“Harusnya wajahmu saat bangun itu terlihat seperti ini!” tukasku sambil menghela nafas. Aku kembali masuk ke dalam kamarku, menutup pintu, lalu tertidur. Tapi sepertinya aku lupa mengunci kamarku.

**************

Aku tidak tahu sekarang jam berapa. Tapi pastilah matahari belum terbit, karena aku masih merasa ngantuk sekali. Tapi suara dering ponsel yang asing ini membuat kupingku berdenyut sakit. Lagu heavy metal. Siapa yang menyetel lagu heavy metal sebagai nada dering?!

Nada dering itu berhenti. Aku membuka mataku perlahan. Kenapa di atas tempat tidurku ada sepatu? Sepatu siapa itu? Aku menoleh ke samping dan terkejut melihat Kang Seung Yoon terbaring di sana.

Aku tidak berteriak seperti di film-film konyol. Kenapa aku harus berteriak? Meskipun sekarang Kang Seung Yoon half naked, hanya memakai celana panjangnya tanpa memakai baju, tapi aku yakin 100% dia tidak melakukan apapun padaku. Lihat kan? Bajuku masih lengkap.

Kalau aku berteriak, Hanbin akan bangun dan menghampiriku. Bisa gawat! Apa yang akan adikku itu pikirkan bila ia melihat musuh bebuyutannya ada di sini dalam kondisi seperti ini?!

Aku menendang tubuh Seung Yoon sampai dia terjatuh di lantai, tapi dia tetap tertidur. Dasar sleepyhead!

Aku berjongkok sambil mengguncang-guncang bahunya. “Kang Seung Yoon, bangun! Hey! Bangun!” Aku mulai menampari pipinya berkali-kali.

Setelah beberapa menit, akhirnya ia membuka kedua matanya. Dia membelalak lebar. “Kenapa kau ada di kamarku?” suaranya yang berat terdengar semakin husky karena baru bangun tidur.

“Ini kamarku, idiot! Sana pulang!”

Seung Yoon kembali memejamkan matanya. “Aku pasti mimpi buruk.”

“Yah! Cepat bangun! Kau ingin Hanbin membunuhmu?” bisikku dengan kesal.

“Mmmmmm…” Seung Yoon hanya bergumam sambil tidur. Tidak peduli kalau sekarang dia berbaring di lantai yang dingin.

Aku memukul-mukul kepalaku dengan frustasi. “Sudahlah! Aku tidak peduli! Aku akan memanggil Hanbin. Dia akan membunuhmu, Kang Seung Yoon!” aku berdiri, dan tepat ketika aku hendak membuka pintu kamarku, Hanbin membukanya lebih dulu. Aku terlonjak kaget.

Wajah Hanbin terlihat mengerikan. Tanpa mengatakan apapun, dia masuk ke kamarku dan langsung menonjok pipi Seung Yoon yang masih tertidur di lantai.

Aku menjerit. “Hanbin~ah!” Aku menarik Hanbin menjauh dari Seung Yoon.

Seung Yoon terbangun dengan wajah syok. “Mwoya? Kenapa kau ada di sini?” dia menatap Hanbin dengan tajam.

“Ini rumahku! Keluar!” gertak Hanbin sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Ah…ah..ah….” Seung Yoon meraba pipinya yang memar. Ia melihatku sekilas, dan lewat tatapan mataku aku menyuruhnya segera pergi. Aku masih memegangi lengan Hanbin, takut kalau adikku itu lepas kendali lagi.

Dengan tertatih, Seung Yoon pun keluar dari dalam kamarku dan dari dalam apartemen ini. Aku melirik baju dan jaket Seung Yoon yang tertinggal di lantai, cepat-cepat aku menarik Hanbin keluar dari kamarku.

“Hanbin~ah…, dia salah masuk apartemen. Dia mabuk, lalu……” aku menceritakan kejadian tadi malam pada Hanbin.

Hanbin menatapku dengan tajam dan tanpa ekspresi. “Meskipun begitu, kau seharusnya mengunci kamarmu! Bagaimana kalau dia melakukan hal yang aneh-aneh padamu, Nuna?”

Aku mengelus-elus lengan Hanbin, mencoba menenangkannya. “Aku janji akan lebih hati-hati, Hanbin~ah….”

Hanbin menghela nafas panjang. Dia menatapku dengan tatapan lelah. “Nuna, cepatlah kau kembali ke Chicago.” Setelah mengatakan itu, Hanbin pun pergi ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras sampai menutup.

Tanpa bisa kucegah, air mataku menetes. Aku tidak pernah menduga, ternyata Hanbin merasa terbebani memiliki kakak yang childish sepertiku. Harusnya aku tidak bersikap sembarangan. Harusnya aku tidak melakukan hal yang membuat Hanbin marah.

Aku mengusap air mataku, lalu mataku tertuju ke meja makan. Se-kotak donut favoritku ada di atas meja. Aku mendekati meja, lalu meraih sebuah kartu di atasnya.

Dear Hana nuna,

Nuna, terima kasih sudah datang mendukungku malam ini. Meskipun di lomba kali ini aku kalah dari Seung Yoon, tapi aku berjanji nanti aku pasti akan mengalahkannya. Aku akan terus mengalahkannya!

Han Bin

Dadaku tiba-tiba saja terasa sesak. Setelah melihat Seung Yoon barusan, Hanbin pasti mengira aku berteman dengan Seung Yoon, atau yang lebih parah lagi dari itu.

Aku berjalan mendekati kamar Hanbin lalu mengetuk pintunya. “Hanbin~ah…, Hanbin~ah.., mianhae. Aku tahu dia musuhmu. Mianhae…, aku tidak akan berurusan lagi dengannya, aku janji, Hanbin~ah…”

Tidak terdengar jawaban. Aku terus mengetuk pintu. “Hanbin~ah…., aku tidak akan membuatmu khawatir lagi. Aku akan mencoba menjadi dewasa Hanbin~ah. Hanbin~ah…, buka pintunya. Kau mau aku memanggilmu Oppa? Sejak kecil kau selalu ingin menjadi kakak kan? Kau tidak ingin punya kakak tapi ingin punya adik. Aku akan memanggilmu Oppa kalau kau memaafkanku. Hanbin~ah. Hanbin Oppa, buka  pintunya!”

Pintu terbuka. Hanbin menatapku dengan mata merah seperti habis menangis. Aku langsung memeluk Hanbin. “Hanbin~ah…, mianhae…”

Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan Hanbin akan mencium bibirku. Maksudku, saat kami masih kecil, aku memang sering mencium pipinya, dia juga. Tapi sekarang ini…, Hanbin merengkuh tengkukku dan mencium bibirku dalam-dalam, seolah aku adalah kekasihnya.

Aku terlalu syok sampai-sampai tidak melakukan apapun selain terdiam mematung. Otakku blank. Hanbin terus mencium bibirku dengan penuh perasaan.

Hanbin berhenti, dia menatapku sambil berurai air mata.

“Kau harus pergi dan jangan pernah lagi menemuiku, nuna. Kau ingin tahu apa alasan sebenarnya aku tidak ikut pindah ke Chicago bersama kalian? Karena aku tidak ingin bertemu lagi denganmu, nuna. Aku tahu aku salah. Aku tahu kau selamanya akan menganggapku sebagai adikmu meskipun pada kenyataannya kau bukanlah kakak kandungku….”

Hanbin menatapku dengan pandangan terluka. “Jadi, nuna, kumohon….pergilah. Aku tahu kau tidak akan mencintaiku seperti caraku mencintaimu….”

“Hanbin~ah…”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Selama beberapa menit kami hanya saling terdiam. Hanbin menatap lantai, sementara aku menatapnya.

“Hatchih….” Terdengar suara bersin yang bukan suaraku maupun suara Hanbin.

Kami menoleh dan melihat Kang Seung Yoon berdiri di dekat pintu apartemen yang masih terbuka.

“Aku…. mau mengambil baju…” Seung Yoon tersenyum kikuk, lalu tanpa diminta dia langsung masuk, berjalan menuju kamarku, mengambil baju dan jaketnya yang tertinggal, lalu pergi lagi tanpa mengatakan apapun padaku maupun pada Hanbin. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang ajaib itu. Tunggu! Jangan-jangan….dia mendengar percakapanku dan Hanbin?!

Aku menoleh lagi pada Hanbin, tapi ternyata pintu kamarnya sudah tertutup. Aku memegang gagang pintunya. Terkunci.

Aku menghela nafas panjang. Apa yang harus kulakukan?

==== TBC ====

Kim Han Bin

Hanbin Kang Seung Yoon

Kang Seung Yoon type B

KSY type B 2

20 thoughts on “Type B Love (Chapter 1 From 2)

  1. miiii aa maaf baru koment,, jujur sempet shock (?) tiba2 liat kamu bikin FF winner ahahhaha apalagi suka ama seungyoon *eh

    sukaa sama seungyoon disini hehe, ngehe dan ngeselin, narsis sedunia

    kesian tapi sma Hanbin, udah aku duga dia naksir Hana T.T, pnasaran apa mungkin sebenerny hana ntar bakal punya prasaan sama hanbin, udahhh hana hanbinn.. biarkan seung yoon bahagia dengan kuu *dibuang

    lanjutt mii penasaran

    aaa jadi pengen bikin FF T.T.. liburan aku malah pergi2 wae sama nontonin drama *okemalahcurhat

    • Wkwkwk…..iya N….
      Hanbin aku kepincut sama sikap cool nya, sama leadership-nya…
      SeungYoon karena nge-rock. LOL.
      Klo SeungYoon sama kamu…Hanbin sama aku ya N. Huwahahahaha.
      Ah sayang berondong bgt Hanbin, padahal tipe aku banget cool2 gimanaaa gitu. LOL
      Gomawooo udh baca N… ♥♥♥♥♥
      Aku gak pergi2an…pasti macet dimana mana soalnya libur panjang…wkwkwk

      • ahhh aku masi sayang hanbin *dibuang
        aku suka seung yoon karena suaranya sih ahahhaa~~

        emangg -_-” cukup lah kmren dimobil 24 jam k surabaya, macet di pantura

        sama2 mii hehehhe

  2. Omo…
    castnya Winner?🙂
    haha… Ternyata seru juga bacanya, ini menarik sekali

    jadi Hanbin suka Hana? ini hubungan yang rumit..
    dan apa tadi? couple dance? hha itu jinwoo cantiknya sampe melebihi Hana??

    apakah Seung Yoon me-li-hat Hanbin mencium Hana? dan juga denger kata-kata yang diucapkan Hanbin?
    eonni, next chapternya aku tunggu ya,,🙂

  3. Omooo…….apa ini mi ending’y bkin w shock w g nyangka loe han bin suka ma ka2k’y sndri…….
    W rasa seung yoon liat n dnger ap yg hanbin n hana lakuin aaaarrrgghh….. mi w mohon next part’y jgn bkin hanbin sakit hati low mang hana bkal jdian ma seung yoon w harap hanbin bisa ktemu ma gadis laen…..*ngarep’y sich w waaaakkkkzzzz☞☞☞inget umur nenk-_-‘ …..

    ditunggu next part’y ya mi FIGHTING!!!!

  4. Omo kak mimi >< Ini pertama kalinya aku nemu ff yang castnya mereka😀 thanks kak udah buat ff ini ^^
    Belum berani baca nih ff yang paling baru, karena ada 'yaoi'nya kk~
    Sebenernya udah lama sih jadi reader blog kaka sejak MD *hehe cuma baru berani comment sekarang ^^v Dan entah kenapa selalu suka sama tulisannya kak mimi dan kebetulan cast yg kk buat hampir semua biasku :p
    Intinya aku cinta blog ini !
    Oh iya, satu lagi..
    MDnya jadiin novel ka pasti laku :p wkk

    • Gomawoooo juga udah baca… >_<
      Hehehe…
      Wah iya? Siapa aja bias kmu? ^^
      Waduh… MD kan cuma fanfiction….hehehe. Klo dijadiin novel paling novel yg self publish gitu ya kayak novel xoxo.
      Pengennya klo nerbitin novel….bukan novel fanfiction. Hehehe. ^^

  5. Kak azmiiiii..
    Aku bisa buka akhirnya.. haha
    hyaaaa…. HanBiiiiin… terserah mau bilang apa.. tapi aku bner2 gila baca FF ini.. ugh.. gemeeesss…. adekku.. muah muah.. #ciumhanbin. Biasku.. u.u
    Gyaaaa~~~ keren… ah.. 2shot tuh bikin sebel.. ga kependekan kya oneshot ga kepanjangan juga kayak series.. haha.. jdi penasarannya tuh serasa doublr. Wkwkwk… ayo lajutannyaaa… ><

  6. -Type B Love (Chapter 1 From 2)-

    Wowowow
    SeungYoon narsisny gag ketulungan.
    Couple Dance pasti seru^ͺ͵^
    HanBin suka sama Hana.
    Tadi SeungYoon denger omongan mereka berdua?
    Atau pas HanBin cium Hana?
    Apa Hana juga punya perasaan sama HanBin?
    Atau malah jatuh cinta sama SeungYoon?
    Ditunggu kelanjutannya^^

  7. Keren2..awal baca gra2 liat pict nya yang majang si Hanbin…hahahaha…
    Ahhhh,gk suka masa hanbin sama nunnanya..yah walaupun gk ada hubungan darah sih…hanbinnya mending sama yg lain aja..biar aja nunnanya sama KSY yg sama2 blood B..hahaha..ini mah keinginan pribadi..hahaha..:)
    Lanjut ke next chap ya…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s