[oneshot] Turning Point of My Life

Image

Title                            : Turning Point of My Life

Author                        : Azumi Aozora

Main Casts                 : Kim Hyun Mi (OC), Lee Min Woo / T.K (C-Clown), Yu Ba Rom / Rome (C-Clown), Kim Hyun Il / Ray (C-Clown), Kang Jun (C-Clown), Kim Tae Min / Siwoo (C-Clown), Lee Jae Jun / Maru (C-Clown)

Genre                         : romance, family, friendship

Length                        : oneshot

Rating                         : PG+15

Summary                   : Kim Hyun Mi selalu “terobsesi” pada Yu Barom alias Rome sejak junior high school sampai kuliah. Perasaan Hyun Mi yang berlebihan pada Rome membuatnya melakukan semua hal yang Rome sukai : dance, menyanyi, rap. Tapi Hyun Mi tidak pernah menguasai semua itu. Hyun Mi hanya selalu mengagumi Rome dari jauh, sama sekali tidak berani mendekati Rome, karena baginya Rome seperti bintang di langit yang tidak akan mungkin pernah bisa ia raih. Saat kuliah tingkat 3, Rome memutuskan pindah ke Seoul untuk mewujudkan cita-citanya sebagai dancer. Sebagai “fans” Rome, tentu saja Hyun Mi ingin ikut pindah ke Seoul juga, meskipun itu berarti meninggalkan kuliahnya yang tinggal 2 tahun lagi dan keluarganya di Sydney. Tanpa Hyun Mi duga, Seoul ternyata menjadi titik balik bagi hidupnya. Sudah saatnya Hyun Mi “keluar” dari dunia fandom fanatik-nya terhadap Rome, dan menghadapi kehidupan nyata.

 

Quotes From the Casts         :

“Aku akan melakukan apapun agar selalu bisa melihat Rome secara langsung. Dia tidak perlu mengetahui keberadaanku. Bagiku….melihatnya saja sudah cukup. Aku akan kabur dari rumah!” – Kim Hyun Mi –

“Nuna, kau gila! Jadi, kau meninggalkan kuliah kedokteran-mu di Sydney dan keluargamu,  untuk datang kemari hanya demi Rome hyung? Dan yang paling parah adalah…Rome hyung sama sekali tidak tahu tentangmu?!” – Ray / Kim Hyun Il (sepupu Hyun Mi)

“Saat interview di Super K-Pop tadi, kenapa kalian semua kecuali Siwoo dan Maru berkata kalau kalian menyukai perempuan yang lebih tua?” – Rome

“Aku ingin di masa depan nanti…, pacar pertamaku adalah orang yang akan menjadi istriku.” – T.K / Lee Min Woo

“Biasanya aku selalu berkata apapun, mengekspresikan semua yang kupikirkan. Tapi entah kenapa saat aku berada di dekatmu…aku ingin bersikap cool. Aneh sekali kan?!” – Kang Jun

“Nuna, mau kuberitahu satu rahasia? Aku ini tahu semua rahasia C-Clown lho.” – Siwoo

“Nuna, meskipun kau adalah fans Rome hyung, tapi aku tahu siapa sebenarnya yang kau cintai. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi aku bisa tahu dari sikapmu ketika kau berada di sekitarnya.” – Maru

====== And the story begins………….

Sydney, Australia, Jumat malam di awal musim dingin……..

“Tidak, Hyun Mi! Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke Seoul sebelum kau lulus kuliah!”

“Tapi.., MOM! Aku bisa kuliah di Seoul! Aku juga bisa tinggal bersama Aunty Shin Ae!”

Ibuku menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak dengan tak sabar. “Bibimu itu tinggal di Pohang, bukan di Seoul! Pohang jauh dari Seoul!”

“Aku bisa menyewa apartemen.”

“Tidak. Aku tidak akan memberikanmu uang!” Kata Ibuku keras kepala sambil berkacak pinggang. “Selesaikan dulu kuliahmu, setelah itu terserah kau mau pergi ke mana, Kim Hyun Mi!”

Aku menghela nafas panjang. “Oke, Mom.” Kataku pura-pura menurut. Aku pun segera masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu. Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidurku.

Aaarrgghhhhh!!!! Bagaimanapun caranya aku harus pergi ke Seoul!

Sudah 5 bulan semenjak Rome pergi ke Seoul. Sudah 5 bulan aku tidak melihatnya dan mengambil fotonya secara diam-diam seperti yang selama 9 tahun ini kulakukan. Hidupku terasa hampa tanpa kehadirannya.

Tidak, tidak! Aku bukan stalker! Aku hanya menyukai Rome terlalu dalam. Itu saja.

Fans fanatik? Ya, mungkin saja. Tapi aku bukan sassaeng! Aku tidak pernah membahayakan Rome. Sejak 9 tahun lalu, saat aku pertama kali melihatnya di sekolahku, aku langsung jatuh cinta padanya, mengidolakannya padahal dia hanya anak biasa. Oh, Rome tidak pernah hanya menjadi “biasa” di mataku! Rome sempurna!

Semua hal tentang Rome terlihat sempurna di mataku. Tidak perlu membahas penampilan, karena sudah pasti dia sangat tampan dan atletis! Maksudku, dia sempurna karena dia memiliki banyak sekali bakat! Kalian harus melihat betapa sempurnanya dia saat break dance! Suaranya saat nge-rap juga sangat bagus. Selain itu Rome pintar dalam berbagai pelajaran di Sekolah. Dia benar-benar idolaku! Cinta pertamaku!

Aku tahu aku konyol karena mengidolakan “orang biasa” selama 9 tahun ini. Tapi kurasa kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya. Perasaanku pada Rome bukan hanya suka sebagai fans, tapi juga seperti….cinta pertama. Ya, pasti begitu.

5 bulan yang lalu, Rome pindah ke Seoul untuk mengejar cita-citanya sebagai dancer. Aku masih sering “stalking” twitter dan account youtube Rome. Rome masih tetap memposting video-video dirinya saat dance. Dan coba tebak! Rome menulis di account-nya bahwa dia telah diterima di Yedang entertainment, salah satu agensi terkenal di Korea! Itu berarti Rome akan segera menjadi idol dan sainganku akan semakin banyak. Karena itulah aku harus pergi ke Seoul. Sebagai fans pertama Rome, tentu saja aku harus berada di sana saat Rome debut nanti.

Aku tidak peduli orang lain menganggapku berlebihan atau gila. Aku tidak pernah peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Bagiku, di duniaku ini hanya ada Rome. Dia adalah pusat duniaku. Aku berputar di sekelilingnya.

Sejak dulu Rome selalu menjadi inspirasiku. Entah bagaimana tapi kehadirannya selalu membuatku lebih bersemangat. Aku tahu, aku memang gagal menjadi dancer yang hebat seperti dirinya. Tapi itu bukan masalah karena selama 9 tahun ini aku tetap bisa melihatnya secara langsung meskipun dia tidak pernah menyadari keberadaanku.

Sejak junior high school sampai kuliah, kami selalu satu sekolah meskipun beda kelas dan beda jurusan. Meskipun selama 9 tahun ini Rome tidak tahu “eksistensi-ku” di dunia ini, sama sekali tidak masalah!

Tapi sekarang bagaimana? Sudah 5 bulan aku tidak melihat Rome, dan rasanya hidupku jadi tidak berguna! Aku sudah bicara baik-baik pada ibuku bahwa aku ingin pindah ke Seoul dan kuliah di sana. Sepertinya ibuku bisa menebak apa alasanku pergi ke sana. Ibuku tahu aku cinta mati terhadap Rome. Ya, ibuku hanya tahu tapi tidak mengerti!

Aku harus melihat Rome secara langsung! Aku tidak bisa hidup seperti ini terus! Aku tidak bisa jauh darinya. Tapi bagaimana caranya aku bisa pergi ke Seoul? Kabur dari rumah? Ya. Hanya itu satu-satunya cara. Tapi masalahnya…..uang tabunganku tidak cukup! Lalu saat di Seoul nanti, sudah pasti aku tidak bisa kuliah.

Aku memejamkan mataku. Tidak masalah. Apapun akan kulakukan demi Rome. Sekarang yang paling penting adalah…, aku harus bekerja, mengumpulkan uang untuk tiket pesawat ke Seoul dan biaya hidup di sana. Setibanya di Seoul nanti, aku harus bekerja! Pekerjaan apapun, yang penting aku bisa hidup.

Aku tahu, aku tidak akan mungkin bisa menemui bibiku dan sepupuku. Kalau aku bertemu mereka…, sudah pasti ibuku akan meminta mereka menyuruhku pulang ke Sydney! Hhhhh, padahal aku sangat merindukan bibi ShinAe dan Paman Jinki. Oh, sepupuku yang menyebalkan (Hyunil) juga. Sudah 4 tahun aku tidak bertemu mereka. Terakhir kali kami bertemu adalah saat mereka datang kemari tahun baru 4 tahun yang lalu. Sudahlah, tidak masalah. Yang paling penting adalah Rome.

**************

7 bulan kemudian, di bandara…….

Aku memang merasa sangat bersalah pada ayah dan ibuku karena sekarang aku harus kabur dari rumah. Tapi aku berjanji, di Seoul nanti, aku akan mengumpulkan banyak uang, lalu melanjutkan kuliahku, dan membuat orangtuaku bangga padaku.

Mungkin sekarang mereka hanya akan menjulukiku si anak pembangkang! Maafkan aku Mom, Dad…, di masa depan nanti…aku berjanji akan membuat kalian bahagia. Maafkan aku karena pergi secara diam-diam dari rumah. Maafkan aku karena tidak menyelesaikan kuliahku sekarang. Aku harus bertemu Rome! Aku harus melihatnya secara langsung, maka semuanya akan baik-baik saja.

Aku menyeret koperku sambil berjalan menunduk, merapatkan topi yang kukenakan. Takut kalau-kalau ada kenalan orangtuaku yang melihatku di sini.

Akhirnya setelah 6 bulan bekerja mati-matian, aku berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk pergi ke Seoul dan biaya hidup di sana selama 1 minggu. Aku tahu, setibanya di Seoul nanti aku harus langsung mencari pekerjaan untuk bisa bertahan hidup.

Aku berhasil “kabur” dari rumah dengan mudah karena ayah dan ibuku memang jarang ada di rumah, bekerja 8 jam per hari. Aku sudah meninggalkan surat untuk mereka. Surat permintaan maafku. Aku meminta mereka untuk tidak menyusulku. Aku berjanji akan baik-baik saja di Seoul.

Aku berhenti sejenak di depan gate. Menghirup udara Sydney dalam-dalam untuk yang terakhir kalinya, kemudian kembali berjalan…..menuju masa depanku.

*************

Meskipun aku lahir dan besar di Australia, aku menguasai bahasa Korea dengan lancar karena ayah dan ibuku memang orang Korea. Yah, mungkin logat-ku terdengar agak aneh, tapi itu tidak penting.

Aku sudah mencari informasi sebanyak mungkin tentang Seoul. Aku tidak mungkin menyewa apartemen di pusat kota karena harganya sangat mahal. Apartemen kecil dan sederhana sudah cukup bagiku, meskipun itu berarti jarak dari apartemenku ke Yedang Entertainment sangatlah jauh. Tidak apa-apa, yang penting sekarang aku sudah berada di Seoul. Yeay! Akhirnya aku kembali menghirup udara yang sama dengan Rome!

Aku berjingkrak-jingkrak senang. Tidak memedulikan tatapan aneh orang-orang di sekitarku. Aku mengeluarkan buku catatanku tentang “rute perjalanan” Seoul. Bus mana yang harus kunaiki, dimana aku harus turun nanti, dan lain-lain. Semuanya sudah kucatat dengan detail. Aku bahkan sudah menghubungi pemilik apartemen yang akan kusewa.

Kim Hyun Mi, tak lama lagi kau akan segera bertemu dengan Rome! Aku menepuk-nepuk pipiku tak percaya. Satu tahun tidak melihatnya terasa seperti sudah 1 abad!

Selama di bus, aku memandang jalanan kota Seoul dengan takjub. Ini adalah ke-2 kalinya aku berada di sini. Saat masih kecil, aku dan keluargaku pernah berlibur ke Seoul dan Pohang (rumah aunty Shinae).

45 menit kemudian, aku sudah sampai di apartemen baruku. Meskipun kecil, apartemen ini sangat bersih dan nyaman. Setelah membereskan barang-barangku yang tidak banyak, aku pun segera keluar untuk mencari pekerjaan. Aku bisa bekerja di kedai kopi, di restoran, atau….aku bisa menjadi pengajar bahasa Inggris.

Seharian itu kuhabiskan untuk mencari pekerjaan. Aku baru pulang ke apartemenku pukul 11 malam. Akhirnya! Lusa aku mulai bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan western dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Lalu jam 5 sore sampai jam 7 malam, aku mengajar kursus bahasa Inggris. Tidak masalah! Demi bertahan hidup di sini, aku harus mau bekerja apa saja. Lagipula, selepas jam 7 malam, aku masih bisa “menemui” Rome di agensi-nya kan? Lalu masih ada hari Jumat, seharian itu aku libur. Oh ya, sebagai pelayan tentu saja aku tidak mungkin mendapat jatah libur di sabtu minggu.

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur kecil. Meskipun apartemen ini jauh dari kesan nyaman rumahku dulu, aku tetap bahagia. Aku tersenyum sambil menatap langit-langit kamar. Besok aku akan melihat Rome!

******

Keesokan paginya…..

Seperti biasa, setiap bangun tidur, aku pasti langsung meraih ponselku untuk stalking twitter dan youtube Rome. Dia tidak memposting apapun di youtube-nya sejak satu bulan yang lalu, tapi dia masih sering update twitter-nya. Dari sanalah aku tahu, hanya dalam waktu 1 bulan lagi Rome akan debut! Aku senang karena aku bisa tiba di sini sebelum dia resmi debut.

Setelah sarapan roti seadanya, aku pun segera keluar dari apartemenku dan berjalan menuju halte bus. Untuk menuju ke Yedang, aku harus naik bus sebanyak 2 kali, lalu berjalan kaki sedikit.

Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku tersenyum seperti orang gila. Aku akan melihat Rome. Aku akan melihat Rome. Aku akan melihat Rome!

Aku terus mengulang kalimat itu dalam kepalaku, membuatku tersenyum semakin lebar. Saat aku menaiki bus yang ke-2, ternyata bus sudah penuh! Aku menghela nafas panjang, tidak apa-apa! Aku berdiri di samping seorang nenek yang duduk sambil tersenyum ramah padaku. “Kau terlihat bahagia sekali, Nak.” Kata nenek itu sambil tertawa renyah.

Aku tersenyum dan mengangguk. “Aku sangat bahagia, Nek.”

Tiba-tiba saja aku merasakan tepukan di bahuku. Seorang pria tinggi, berambut pirang, dengan masker hitam menutupi mulut dan hidungnya berdiri dari tempat duduk asalnya, di belakang nenek itu. Aku menatapnya dengan heran. Pria itu menunjuk kursi yang asalnya dia duduki. Aku tersenyum. “Thanks.” Kemudian aku pun duduk. Si pria pirang yang memakai masker itu hanya mengangguk singkat, lalu berdiri di tempat asalku berdiri.

Beberapa menit kemudian, aku turun. Aku berjalan di belakang si pria pirang bermasker. Aku mengamati punggungnya dari jauh. Jangan…jangan…dia idol? Karena itulah dia menutupi wajahnya dengan masker! Ah, sudahlah! Tidak penting. Pria itu berlari cepat. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Dalam sekejap, aku pun sudah tidak bisa melihat punggung pria itu lagi.

Saat berjalan, aku melewati gedung YG entertainment. Aku harus berhati-hati melewatinya karena takut sepupuku, Hyunil, tiba-tiba saja muncul dari sana! Kalau tidak salah…, Hyunil pernah bilang padaku bahwa dia diterima sebagai trainee YG kan? Sudah lama sekali, 2 tahun yang lalu. Apa sekarang dia masih jadi trainee? Aku mengangkat bahu. Entahlah. Kami juga tidak pernah saling menghubungi.

Aku terus berjalan sambil melihat peta di ponselku. Yedang….Yedang…..Yedang…

Ah! Itu dia!

Sebuah gedung mewah dengan tulisan “Yedang” kini sudah ada di hadapanku. Aku tahu, Yedang entertainment merupakan anak perusahaan dari Yedang Company, salah satu perusahaan chaebol di Korea Selatan. Chaebol berarti kaya, keturunan orang kaya / pengusaha kaya raya.

Wow! Gedung-nya sangat mewah! Aku memandang sekeliling, mencari tempat yang “pas” untuk bersembunyi, menunggu Rome masuk atau justru keluar dari gedung. Pokoknya hari ini aku harus melihatnya dan mengambil fotonya! Dia pasti terlihat semakin dewasa dan tampan.

Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di bawah pohon, di dekat tempat parkir mobil. Satpam menatapku dengan curiga, tapi aku hanya tersenyum padanya sambil pura-pura menelepon temanku dan berkata aku akan menunggunya di sini. Hah! Teman apanya?! Aku tidak punya teman di sini.

Satu jam telah berlalu, tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Rome. Mungkin dia sedang sibuk berlatih. Tapi aku yakin sebentar lagi dia akan keluar dari gedung. Sebentar lagi kan waktunya makan siang. Atau…jangan-jangan dia malah makan di dalam gedung? Aku menggeleng. Feelingku berkata Rome akan segera keluar.

Tiga jam telah berlalu. Aku mulai merasa pantat-ku kesemutan karena terlalu lama duduk. Aku pun memutuskan untuk berdiri sambil melihat-lihat kamera-ku yang semuanya berisi foto Rome. Aku tersenyum mengingat kembali saat-saat aku mengambil semua foto itu tanpa sepengetahuan Rome.

“Hyun Mi nuna?”

Aku terlonjak kaget karena tiba-tiba saja mendengar seseorang memanggil namaku. Aku mengangkat wajahku dan melihat orang yang sudah tidak asing lagi bagiku. Meskipun sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya, tapi tidak mungkin kalau aku tidak mengenali sepupuku sendiri.

“Hyun….Hyunil….”

Gawat! Kalau Hyunil melihatku sekarang, maka dia pasti akan memberitahu ibunya, lalu ibunya akan memberitahu ibuku!

“Nuna, kenapa kau ada di sini? Kau datang untuk menemuiku? KYAAAA!!!! Nunaaaaa! Aku merindukanmuuuu! Mana paman dan bibi?”

Aku menatap Hyunil bingung. Jadi.., sepertinya Hyunil belum tahu kalau aku “kabur” dari rumah.

Aku tersenyum lebar sambil mencubit kedua pipinya. “Yah! Kim Hyunil! Kau sudah besar dan tinggi sekali! Kau jauh lebih tinggi dariku sekarang ya!”

Hyunil tertawa. “Tentu saja. Aku juga jadi lebih tampan kan?” kata Hyunil pede.

Aku mendengus tapi mengangguk. “Kau masih jadi trainee YG?”

Hyunil menatapku bingung. “YG? Bukan YG, tapi YD, Yedang!”

Aku membelalakkan mataku. “Really? Jadi…, kau mengenal…..”

“Ray!” tiba-tiba saja seseorang memanggil English name Hyunil. Aku membelalakkan mataku. ROME!

Rome melambaikan tangannya pada Hyunil seolah memanggilnya. Di belakang Rome berdiri 4 orang pria lain, termasuk pria tinggi pirang bermasker yang kutemui saat di bus tadi.

Tanpa pikir panjang, aku langsung meraih tangan Hyunil dan berlari pergi dari sana sambil menuntun tangannya.

“Yah! Nuna! Kenapa tiba-tiba membawaku pergi?”

Setelah berlari cukup jauh dari Yedang, aku pun berhenti dengan nafas terengah-engah. Hyunil menatapku dengan bingung.

“Aku tidak mau Rome melihatku. Maksudku.., aku ingin melihatnya, tapi aku tidak mau dia melihatku.”

“Rome? Rome hyung? Kau mengenal Rome hyung?”

Aku mengangguk lalu menggeleng. Hyunil menatapku bingung. “Hyunil, dengarkan aku. Aku akan memberitahumu semuanya, tapi kau harus berjanji padaku untuk merahasiakan semua ini dari Rome dan dari aunty Shinae (ibumu). Oke?”

Hyunil mengangguk. “Aku haus dan lapar. Kau ceritakan semuanya sambil kita makan, oke nuna?” Hyunil nyengir lebar. Dia merangkul sebelah pundakku dengan lengannya dan menuntunku masuk ke sebuah rumah makan.

Setelah menceritakan semuanya pada Hyunil tentang Rome, tentang tujuanku datang kemari, tentang “kabur” dari rumah, Hyunil hanya bisa menatapku tak percaya seolah aku baru saja memberitahunya kalau aku adalah alien!

“Hallooooo…, Kim Hyunil! Yah! Kim Hyunil!” aku mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajahnya yang blank.

Hyunil mengerjapkan matanya. Kini pandangannya sudah kembali fokus padaku. “Nuna, kau gila! Jadi, kau meninggalkan kuliah kedokteran-mu di Sydney dan keluargamu untuk datang kemari hanya demi Rome hyung? Dan yang paling parah adalah…Rome hyung sama sekali tidak tahu tentangmu?!” bentak Hyunil.

“Ssstttt…” aku menyuruhnya memelankan suara. Semua orang kini melihat ke arah kami. Aku mengangguk canggung pada mereka, meminta maaf.

Hyunil masih menatapku dengan tajam. Aku tertawa. “Memangnya kenapa?”

Hyunil mendengus. “Kau bodoh, nuna!”

Aku membelalakkan mataku. “YAH!”

Hyunil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku dengan dingin. “Kau seharusnya memberitahu Rome hyung tentang perasaanmu!”

“Mwo?” Aku tidak menyangka sepupuku ini akan berkata demikian. Kupikir dia akan memarahiku karena keluar begitu saja dari kedokteran hanya demi mengejar idolaku, lalu mengancamku bahwa dia akan memberitahu ibunya dan juga ibuku. Tapi ternyata…

“Kau…., tidak akan menyuruhku pulang ke Sydney dan memberitahu ibuku dan aunty Shinae?”

Hyunil menyeringai dan mengangkat bahu. “Untuk apa? Tidak ada gunanya. Kau sudah ada di sini. Lagipula sejak dulu aku tahu kau ini sangat keras kepala, nuna!”

“YAH!”

Hyunil tertawa lebar. “Tapi aku senang kau ada di sini! Aku akan membantumu, nuna!”

“Mwo?”

“Ayo! Aku akan mengenalkanmu pada Rome hyung.”

“Tidak-tidak!” aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku tidak mau dia mengetahui keberadaanku, okay? Aku hanya ingin…melihatnya. Oh! Kau bisa mengambil fotonya untuku!” Aku bertepuk tangan dengan riang.

Hyunil hanya memutar kedua bola matanya. “Sepupuku ternyata memang gila.”

Aku hanya tertawa mendengar keluhannya. “Ayoolaaaahhh…..Hyuniiiillll…, Ray…. Sepupuku yang tampan dan baik…, please…., kau mau kan diam-diam mengambil foto Rome untukku selama aku bekerja? Aku berjanji akan menemanimu jalan-jalan, mentraktirmu makan, aku akan menemuimu setiap hari Jumat saat aku libur bekerja. Bagaimana?”

Aku senang karena sepupuku ternyata mengenal Rome, satu grup dengan Rome, dan yang paling membahagiakan adalah….sepupuku ini tidak akan memberitahu ibunya dan ibuku tentangku!

Hyunil menatapku lekat-lekat. “Kau kerja di mana nuna?”

“Restoran amerika di Hongdae, lalu aku juga mengajar les bahasa Inggris.”

Hyunil membelalakkan matanya. “Restoran? Yah! Nuna! Kau ini calon dokter! Kau seharusnya melanjutkan kuliahmu di sini! Bukannya jadi pelayan di restoran hanya demi…” Hyunil tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat ekspresi wajahku.

“Aku tidak punya uang untuk kuliah. Kau ingat? Aku kan kabur. Ayah dan ibuku tidak memberiku uang sepeserpun. Aku harus bekerja agar 2 atau 3 tahun ke depan…aku bisa kuliah lagi.”

Hyunil menghela nafas panjang. “Aku akan membantumu menemukan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang.”

Aku tersenyum lebar. “Really? Woaaahhh…., gomawooooo Hyunil~ah!” Aku langsung berdiri dan membungkuk untuk memeluknya. Hyunil hanya tertawa sambil menepuk-nepuk punggungku.

Kim Hyunil, kau memang penyelamatku!

**********

Oke, aku tarik kembali kata-kataku minggu lalu. Hyunil ternyata bukan penyelamatku!

Hari ini, saat aku menemuinya untuk mengambil kamera-ku yang kutitipkan padanya, betapa terkejutnya aku karena Hyunil tidak mengambil foto-foto Rome seperti yang kuminta, tapi malah mengambil fotonya sendiri!

“Kau ambil foto Rome hyung sendiri saja, nuna. Aku tidak mau dikira gay karena diam-diam mengambil fotonya seperti stalker.” Hyunil bergidik ngeri.

Aku menatap sepupuku dengan tajam dan dingin. Jadi, selama satu minggu ini sia-sia saja aku menitipkan kameraku padanya! Kalau tahu begini, lebih baik sepulang kerja diam-diam aku mengawasi Rome dan mengambil fotonya secara langsung! Aku tidak akan mempercayai Hyunil lagi!

“Kau kan bisa mengambil foto Rome denganmu juga. Dia tidak akan curiga!”

Hyunil memutar kedua bola matanya. Lalu dia tersenyum lebar. “Nuna, aku sudah bicara pada atasanku. Ada satu pekerjaan yang cocok untukmu. Kau bisa mendesain pakaian kan? Aku tahu kau bisa!” Ray melotot padaku saat aku hendak protes.

“Aku masih menyimpan semua design pakaian yang pernah iseng kau buatkan untukku dulu. Nuna, pikirkanlah! Kau bisa mendapat banyak uang dengan menjadi designer C-Clown! Kau akan bisa kuliah lagi. Selain itu…kau bisa berada di dekat Rome hyung.”

Aku tertegun, memikirkan kata-kata Hyunil. Benar juga. Tapi…, memangnya perusahaan akan menyukai design-ku?

Seolah bisa membaca pikiranku, Hyunil berkata. “Kau sudah diterima. Aku memperlihatkan design-mu pada atasanku. Besok siang kau harus bertemu dengannya untuk membicarakan masalah kontrak. Gaji-nya lumayan lho, nuna. Yang pasti jauh lebih besar dibanding hanya menjadi pelayan restoran.”

“KYAAAAA!!!!! Thank you sooooo much, Hyunil!” Aku langsung memeluk Hyunil dengan erat. Aku baru sadar saat ini kami sedang berada di depan gedung Yedang. Semua orang yang lewat melihat ke arah kami.

“Ehem…ehem….” Aku mendengar suara batuk-batuk. Aku menoleh dan terlonjak kaget melihat teman-teman Hyunil (termasuk Rome) kini sudah berdiri di dekat kami.

“Hey.” Sapa Rome sambil tersenyum manis.

Aku hanya bisa mematung menatap Rome dari jarak se-dekat ini. Selama menjadi fans-nya, belum pernah sekalipun aku berbicara dengan Rome!

Hyunil mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik. “Nuna, ayo! Ini kesempatanmu! Bicara padanya!”

Aku langsung menoleh pada Hyunil. Hyunil membelalak lebar padaku dengan tak sabar.

“So, uh.., Hyun Mi, you come here for Ray?” tanya Rome.

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Meyakinkan diriku sendiri kalau saat ini idolaku sedang berbicara langsung padaku!

Aku mengangguk kaku. Rome tersenyum. “Hey, don’t you remember me? We went to the same school back then.”

Aku membelalakkan mataku. What? Rome mengenaliku? Jangan-jangan…dia menyadari tingkah anehku di sekitarnya selama 9 tahun ini. Apa dia pernah memergokiku saat sedang mengambil fotonya secara diam-diam?

“Kita satu sekolah saat junior high sampai senior high. Ingat? Meskipun kita selalu beda kelas. Tapi kau cukup terkenal, kau tahu? Kau pintar.”

Aku? Terkenal?

Aku masih mematung. Hyunil merangkulkan sebelah lengannya di pundaku. “Aku pergi sebentar ya, hyung!” katanya pada Rome, lalu segera membawaku pergi dari sana.

@Kedai buble tea….

“Rome mengenalku?”  Aku masih tidak percaya.

Hyunil nyengir lebar sambil mengangguk. “Hmm. Kaget? Senang?” godanya.

Aku mengerutkan keningku. “Impossible! Aneh!”

Hyunil tertawa terbahak-bahak. “Nuna, kau ini cantik dan pintar! Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi orang lain mengenalmu! Rome hyung yang sangat kau sukai itu juga mengenalmu! Kau tahu? Minggu lalu dia langsung menanyaiku banyak hal tentangmu. Dia mengira aku pacarmu, dan….aku sengaja tidak memberitahunya kalau kita bersaudara. Tapi tenang saja…aku juga tidak pura-pura jadi pacarmu, nuna.”

“Yah! Kim Hyun Il!” aku berkacak pinggang.

Hyunil menyeringai. “Dengan begitu kau akan tahu…apakah Rome hyung menyukaimu atau tidak. Kau tahu nuna? Pria biasanya akan lebih kompetitif di saat wanita yang ia sukai terlihat dekat dengan pria lain. Kau jangan beritahu siapapun kalau kau sepupuku. Agar pergerakan Rome hyung semakin cepat.”

Aku tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dia tidak menyukaiku, Pabo! Dia mengenalku tapi bukan berarti menyukaiku. Omo~ dia tidak tahu aku sering stalking kan?”

Hyunil menggeleng. “Sepertinya tidak. Nuna! Ayo manfaatkan kesempatan ini! Memangnya kau mau selamanya hanya menjadi fans Rome hyung?”

Aku mengangguk dengan mantap. “Tentu.”

Hyunil mendengus. “Pabo! Kau harus jadi kekasihnya! Dengan begitu.., tidak akan ada yang merebutnya darimu di masa depan nanti. Satu bulan lagi kami debut. Kau mau kalau Rome hyung nanti diambil idol wanita yang cantik-cantik?”

Aku hanya tertegun memikirkan kata-kata Hyunil. Entahlah. Yang ada di otakku saat ini hanyalah : Aku senang bisa berada di dekat Rome! Menjadi pacar Rome? Hal itu sama sekali tidak pernah kupikirkan. Aku memang mencintai Rome. Sangat! Tapi.., maksudku… cinta dan obsesiku ini adalah cinta seorang fans terhadap idola kan? Aku memang menyebut Rome cinta pertamaku karena memang aku belum pernah jatuh cinta. Bagaimana aku bisa jatuh cinta sungguhan kalau yang ada di otakku setiap detik hanyalah Rome?!

Hmmmm.., mungkin ide Hyunil ini tidaklah buruk. Mungkin menjadi kekasih Rome adalah tadkirku? Karena itulah aku mencintainya secara “gila” selama 9 tahun ini?

“Oke, kau harus membantuku.”

Hyunil nyengir lebar. “Oke, nuna. Sebagai gantinya…, kau harus menemaniku main.”

Aku tertawa. “Oke. Dasar anak kecil!”

Hyunil terbahak-bahak, tapi lalu tawanya berhenti. Raut wajahnya berubah serius. “Nuna, bukannya aku mau menghancurkan kebahagiaanmu, tapi…. Jujur saja…dibanding Rome hyung, aku lebih setuju kalau kau bersama Maru atau Min Woo atau Kang Jun. Mereka lebih gentle dan oke. Maksudku…, sebagai pacar…mereka akan lebih cocok untukmu. Rome hyung oke, tapi dia terlalu…populer. Ah, sudahlah! Kau tidak akan mendengarkanku!”

Aku nyengir lebar seperti orang bodoh. “Memang.”

Siapa pula sih Maru, MinWoo, dan Kang Jun ini?!

*******************

Dua hari kemudian….

“Kim Hyun Il! Kenapa kau berpendapat aku lebih cocok dengan pria-pria bocah, hah?!”

Aku sudah resmi bekerja di Yedang. Aku sudah “berkenalan” dengan member C-Clown, dan aku tahu Maru 7 tahun lebih muda dariku. Min Woo 5 tahun lebih muda. Kang Jun 4 tahun lebih muda. Kenapa sepupuku yang sinting ini berpendapat kalau ketiga pria itu lebih cocok untukku dibanding Rome?!

Hyunil tertawa. “Nuna! Jangan hanya melihat umur! Kau akan terkejut saat menyadari bahwa umur bukanlah segalanya. Lihatlah aku! Meskipun aku 4 tahun lebih muda darimu, aku jauh lebih dewasa.”

“Dewasa apanya?!” cibirku.

Hyunil duduk di meja kerja-ku. Aku menatap sekelilingku. Untung saja teman-teman satu team-ku, fashion designer, sedang keluar semua untuk istirahat.

Aku memukul paha Hyunil. “Turun! Tidak sopan!”

“Aduh!” Hyunil pun turun dari meja, lalu menarik tanganku. “Ayo! Makan siang bersama kami! Dengan begitu kau akan mengenal C-Clown lebih dekat.”

Aku bergeming. Hyunil menghela nafas. “Kau akan mengenal Rome hyung lebih dekat.”

Ekspresi wajahku langsung berubah cerah. “Ayo!”

Saat berada di dekat Rome, kepercayaan diriku hilang. Aku sama sekali tidak berani menatap matanya apalagi bicara padanya! Hyunil menyenggol lenganku dan memberiku kode lewat tatapan matanya, tapi aku hanya melotot galak padanya.

“Kalian yakin….kalian bukan kekasih?” tanya Rome tiba-tiba.

Aku tersedak. Hyunil memberiku minum dan menepuk-nepuk punggungku.

“Kami sangat dekat sejak kecil, tapi kami bukan kekasih.” Kata Hyunil. Rome menatapku dan Hyunil bergantian.

Selama makan siang, semua member C-Clown kecuali Minwoo bertanya banyak hal padaku. Minwoo ternyata adalah pria tinggi pirang bermasker yang kutemui di bus waktu itu, yang memberikan tempat duduknya untukku. Selama makan, dia hanya fokus makan. Aku tertawa pelan melihat cara makannya. Dia menatapku aneh. Aku menyodorkan tteokpoki-ku yang belum kusentuh. “Makanlah. Aku tidak terlalu suka tteokpoki.” Kataku berbohong. Minwoo sepertinya sangat lapar. Atau memang pada dasarnya dia rakus?

“Jincha?” tanyanya tanpa ekspresi. Berbeda dengan wajahnya yang cute, suara Minwoo sangat berat dan dalam.

Aku mengangguk. “Hmm.”

Seketika ekspresi wajah Minwoo berubah cerah. Untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum. “Thank you, nunaaaa!”

Aku tertawa dan tanpa sadar mengacak-acak rambut Minwoo. Minwoo kembali makan, sementara member C-Clown yang lain menatapku dengan heran. Aku terbatuk pelan, baru sadar tadi sikapku pada Minwoo terlalu berlebihan, padahal kami baru saling mengenal. Entahlah.., rasanya seperti seorang adik yang tak pernah kumiliki.

Hyunil menatapku lekat-lekat. Lalu ia tersenyum misterius dan menyebalkan.

*********

Sebelumnya aku tidak pernah menyangka ternyata aku sangat menyukai fashion design! Maksudku, saat kecil aku memang suka menggambar pakaian, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa inilah passion-ku.

Dulu aku masuk ke jurusan kedokteran karena aku bingung harus masuk jurusan apa. Karena aku cukup pintar, ibuku menyuruhku menjadi dokter. Pekerjaan aman dan cukup menjanjikan di masa depan. Jadilah aku mengambil jurusan kedokteran di Sydney.

Tapi sejak dulu, duniaku memang hanya terfokus pada Rome. Aku memang pintar, tapi passion-ku adalah Rome. Rome adalah obsesiku. Segalanya bagiku.

Tapi kini, setelah aku mengenal Rome, bisa sering bertemu dengannya, mengobrol dengannya, makan bersamanya, jalan-jalan bersamanya, aneh sekali karena justru perasaan aneh itu hilang begitu saja.

Aku memang masih tergila-gila padanya, menatapnya dengan tatapan memuja, dan menjerit senang saat melihatnya dance. Tapi rasanya berbeda dengan dulu. Sekarang aku menemukan passion lain selain mengikuti / stalking foto Rome. Passion itu adalah : mendesain pakaian.

Rasanya aku sangat tergila-gila pada fashion design sampai-sampai melupakan obsesiku terhadap Rome. Sekarang sudah 1,5 tahun berlalu sejak aku “kabur” ke Seoul. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Hyunil, karena berkat bantuannya, aku mendapatkan uang yang cukup untuk melanjutkan kuliahku.

Siapa yang mengira, ternyata aku datang ke Seoul bukan untuk menemui Rome tapi justru untuk “menemukan” diriku sendiri di sini. Passion-ku. Hal yang paling kusukai dan kuinginkan untuk kulakukan dalam hidupku.

Seoul menjadi titik balik dalam hidupku. Di sinilah aku “menemukan” diriku. Disinilah aku mengukir kisah hidupku yang sesungguhnya. Di sinilah aku mengejar cita-citaku.

Aku tidak melanjutkan kuliah kedokteranku, melainkan mengambil jurusan fashion design. Aku masih tetap bekerja di Yedang, sehingga aku mengambil kelas karyawan di malam hari.

Ayah dan Ibuku sudah bisa menerima kepergianku. Bahkan minggu lalu mereka baru saja datang untuk menemuiku. Aku senang karena aku akhirnya menemukan tujuan hidupku. Diawali dengan hal konyol untuk mengikuti Rome, siapa yang menyangka aku akan berakhir seperti ini?!

Sudah kukatakan, aku tetap menjadi fans Rome, hanya saja aku tidak se-gila sebelumnya. C-Clown sudah debut, sudah terkenal, dan sebentar lagi mereka akan mengeluarkan single baru yang berjudul “Justice”.

Konsep mereka kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, tapi aku tetap menyukai mereka. Aku mendesain hampir semua pakaian yang mereka kenakan.

Oh, C-Clown belum tahu kalau aku dan Hyunil adalah sepupu! Aku tidak mengerti mengapa Hyunil bersikeras mempertahankan kebohongan kecil kami itu pada teman-temannya. Hyunil berkata…dia ingin menguji sesuatu. Menguji apa sih memangnya?! Tidak ada yang perlu diuji!

Sore ini, aku pergi ke ruang latihan dance C-Clown untuk meminta pendapat mereka tentang design baru-ku. Saat aku berjalan di koridor, samar-samar terdengar suara keras Kang Jun diiringi derai tawa teman-temannya.

Pintu ruang latihan dance terbuka, jadi aku pun langsung masuk tanpa mengetuk pintu. “Kalian sudah selesai latihan?”

Kang Jun melihatku dan dalam sekejap tawa-nya lenyap. Aku mengerutkan keningku bingung. Aku menatap yang lain, mereka masih tertawa pelan.

“Yah! Kalian membicarakanku?”

Maru menggeleng, masih tertawa. “Tidak, nuna.”

“Sungguh?”

Minwoo mengangguk sambil menyeka air mata di sudut matanya. Tertawa terlalu keras sampai mengeluarkan air mata. “Junnie hyung menceritakan pengalaman bodohnya tadi pagi.”

Aku menatap Kang Jun. Dia hanya balas menatapku dengan wajah sok cool.

“Kau melakukan kebodohan apa lagi, Jun~ie?”

“Tidak ada.” Jawab Kang Jun cool, lalu pergi begitu saja.

“Nuna!” Hyunil mendekatiku, merangkul pundakku, dan membimbingku duduk di sofa.

“Mana Rome?” bisikku pada Hyunil.

Hyunil memutar kedua bola matanya. “Membeli makanan dan minuman bersama Siwoo. Padahal Siwoo hyung tidak ada, tapi kau hanya menanyakan Rome hyung! Kau memang SALT sejati ya.” Ledek Hyunil dengan suara keras, membuat Maru, Min Woo, dan Kang Jun melihat ke arah kami. SALT adalah nama fans Rome, bahkan sebelum Rome resmi debut sebagai C-Clown, SALT sudah terbentuk.

Aku memukul lengan Hyunil dengan keras, tapi Hyunil hanya nyengir lebar dengan pandangan jahil. Lalu tanpa kuduga Hyunil tiba-tiba saja mencium pipiku. Aku menatapnya dengan heran. Terakhir kali ia mencium pipiku adalah saat dia masih kelas 2 sekolah dasar. Saat dia remaja, dia selalu menolak saat aku mau mencium pipinya, apalagi menciumku!

“Yah! Hyunil! Bilang saja kalau kau mau sesuatu! Kau mau minta traktir kan?”

Hyunil menggeleng. Senyumannya jahil, tapi dia tidak menatapku melainkan teman-temannya.

Kang Jun terbatuk-batuk, lalu dia bergumam akan menyusul Siwoo dan Rome, tapi ternyata mereka berdua sudah keburu datang. Rome menatapku dengan aneh. Ada apa? Aku balik menatapnya dengan bingung.

“Hyung! Kau tidak membelikanku banana milk?!” protes Maru pada Rome. “Minwoo hyung, ayo antar aku beli!” Maru menarik tangan Minwoo, kemudian mereka pun pergi.

“Aku ikut!” Kangjun berlari menyusul mereka.

Seringaian Hyunil masih terlihat di wajahnya. Sebelah lengannya masih melingkar di bahuku. Rome menatap kami dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. “Aku…ng-ng… lupa membeli sesuatu.” Rome pun keluar dari ruangan dance.

Hyunil tertawa terbahak-bahak dengan keras. Aku dan Siwoo bertukar pandang dan setuju kalau Hyunil sudah berubah gila!

“Hahahaha….Hahahaha….Hahahaha…” Hyunil masih tertawa sambil berguling-guling di lantai. “Aku jadi merasa bersalah. Hahahaha. Tapi….hahaha….lucu….hahaha…”

“Crazy!” tukasku kesal. “Siwoo~yah! Bisakah kau menelepon teman-temanmu agar jangan pergi lama-lama? Aku kan kemari untuk menunjukkan design baruku pada kalian dan meminta pendapat kalian. Duh.., comeback kalian tinggal beberapa hari lagi. Aku sangat tegang karena aku takut design-ku kurang bagus.”

Hyunil masih tertawa, tapi dia berkata. “Biar aku saja yang memanggil mereka.” Kemudian dia pun keluar.

Aku menghembuskan nafas panjang. Si Woo tersenyum padaku. “Nuna, mau kuberitahu satu rahasia? Aku ini tahu semua rahasia C-Clown lho.”

“Mwo? Hahaha. Benarkah? Apa yang kau ketahui?”

Siwoo memiliki sifat yang unik. Terkadang aku tidak bisa masuk ke dalam dunianya. Dasar 4D prince!

Tapi aku senang mengobrol dengan Siwoo. Pemikirannya yang sulit ditebak sering sekali membuatku ikut memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.

“Aku tahu rahasia Ray. Dia dan nuna…sepupu kan?”

Aku tertawa sambil mengangguk. “Bagaimana kau bisa tahu? Hyunil yang memberitahumu?”

Siwoo mengangkat bahu. “Paman Jinki yang memberitahuku.”

Aku membulatkan mataku. “Mwo?”

Siwoo nyengir lebar. “Paman Jinki adalah kakak dari ibuku.”

“Jincha? Itu berarti…, kau adalah sepupu Hyunil, yang berarti saudara jauhku?”

Siwoo mengangguk. Aku tertawa. “Yah! Kenapa tidak bilang dari dulu?”

Siwoo mengangkat bahu lagi. “Tidak terlalu penting kan?”

“Aigoo~”

“Yang paling penting adalah ….rahasia yang kuketahui tentang teman-temanku yang lain. Rome hyung, Kang Jun, Min Woo, Maru.” Siwoo tersenyum penuh misteri. “Tapi aku tidak akan memberitahumu, nuna. Tidak seru.”

“YAH!”

“Hahahaha….”

Aku menghela nafas kesal. Tak lama kemudian, member C-Clown yang lain pun datang. Aku segera menunjukkan design pakaian baru untuk mereka dan menerima berbagai saran dari mereka tentang design-ku.

************

“Rome! Kau sangat keren di panggung tadi! Selamat untuk comeback-mu!”

Kurasa aku adalah fangirls paling beruntung di seluruh dunia! Bisa melihat idolaku latihan, makan bersama idolaku, mengobrol bersama idolaku, mendapat album gratis bertandatangan idolaku.

Akhirnya setelah hiatus selama 10 bulan, C-Clown pun comeback! Sekarang aku jadi mulai jarang lagi bertemu mereka karena mereka menjadi sibuk lagi dengan recording acara musik, interview, fan-signing, dll.

Aku tersenyum menatap Rome di layar televisi. Saat comeback mereka minggu lalu, aku menonton langsung di studio, tapi minggu ini tidak. Untung atasanku mengizinkanku kabur sejenak dari kantor untuk melihat penampilan C-Clown secara langsung. Atasanku mengizinkan karena katanya sebagai designer utama pakaian C-Clown, aku harus melihat hasil design-ku secara langsung saat dikenakan di atas panggung oleh C-Clown.

Hyunil mengundangku makan malam di dorm C-Clown. Hari ini hari ulangtahunku, tapi malah Hyunil yang mentarktir kami semua makan. Yah, tidak masalah sih, mengingat uang sepupuku itu lebih banyak dariku. Hahaha. But seriously, yang membuatku tersentuh adalah perhatian sepupuku dan teman-temannya padaku. Mereka memberikanku banyak sekali hadiah, yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan untukku. Aku terharu karena di sela-sela aktivitas mereka yang sangat padat, mereka masih sempat memilihkanku hadiah dan mengadakan pesta kecil-kecilan untukku malam ini.

Sudah kubilang, aku adalah fans paling beruntung! Aku menjerit senang saat mendapat hadiah tas hermes cantik dari Rome!

“Kyaaaaaaaa! Thank you sooooo much, Rome!” pekikku senang. Aku sangat senang bukan karena Rome membelikanku tas mahal, tapi karena hadiah itu darinya.

Oke, aku tidak tahu kenapa C-Clown memberiku hadiah “fashion”. Apa karena aku adalah fashion designer, makanya mereka mengira aku hanya menyukai fashion?

Hyunil membelikanku sepatu lari (ini memang karena aku yang memintanya. Aku sudah tidak punya sepatu untuk olahraga). Maru membelikanku cardigan putih yang sangat elegan. Siwoo membelikanku jepit rambut berbentuk kupu-kupu yang sangat manis. Kang Jun membelikanku sepatu high heels berwarna peach.

Hanya Minwoo yang berbeda. Dia membelikanku boneka beruang putih lucu yang memiliki sayap biru di punggungnya. Seperti boneka beruang malaikat.

Entah kenapa malam ini hadiah Minwoo-lah yang paling membuatku senang. Saat ini aku berpikir…pasti karena hadiahnya beda dari yang lain. Tapi tanpa pernah kusadari, bukan itulah satu-satunya alasan.

Kami memakan banyak sekali makanan yang Hyunil belikan untukku malam ini. Pasta, donut, pizza, ayam, tteokpoki, sushi, cola, dan yoghurt.

“Sekarang aku lebih tua darimu, Rome.” Keluhku.

Rome tertawa. “Lima bulan dari sekarang umur kita akan sama lagi.”

“Tetap saja aku tidak suka idolaku lebih muda dariku.” Tukasku kesal.

“Kalau pacar yang lebih muda?” celetuk Kang Jun tiba-tiba.

“Mwo?”

“Kau bilang kau tidak suka idolamu lebih muda darimu. Apakah kau juga tidak suka memiliki pacar yang lebih muda darimu, nuna?” tanya Kang Jun.

Aku hanya terdiam. Semua mata kini menatapku penasaran.

Aku tertawa lalu mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya.”

Mereka tersenyum. Hyunil tertawa terbahak-bahak. Dasar Hyunil gila!

Kami kembali makan. Aku mendekatkan banyak makanan untuk Minwoo si tukang makan. Minwoo nyengir lebar padaku. Setiap kali makan bersama, aku senang duduk di dekat Minwoo, karena dengan begitu aku bisa menyodorkan banyak makanan padanya. Entahlah, aku selalu suka melihat Minwoo makan.

***********

Aku mulai sibuk lagi mendesain pakaian untuk C-Clown. Tak lama lagi, setelah promosi “Justice” berakhir, C-Clown akan segera merilis mini album baru. Itu berarti banyak pekerjaan menantiku. Promosi baru berarti desain pakaian juga harus baru.

Seperti biasa, setelah selesai mendesain, aku tidak hanya meminta pendapat atasanku mengenai desain yang kubuat melainkan meminta pendapat C-Clown juga. Aku pergi ke ruang latihan dance mereka di lantai 5. Aku mengetuk pintu ruang latihan dance. Maru membukakannya. “Oh, nuna! Yang lain belum datang. Aku datang lebih cepat karena sepulang sekolah tadi langsung kemari.”

Aku mengangguk. “Tidak apa-apa. Maru~yah, ini coba lihat. Bagaimana menurutmu?” aku menunjukkan design pakaian untuk C-Clown.

Diluar dugaanku, Maru justru tidak mengomentari desain-ku, dia malah menatapku dengan serius. “Nuna, meskipun kau adalah fans Rome hyung, tapi aku tahu siapa sebenarnya yang kau cintai. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi aku bisa tahu dari sikapmu ketika kau berada di sekitarnya.”

Aku terkejut. “M….mwo?”

Maru tersenyum. “Aku tidak akan menyebutkan siapa namanya, tapi tanpa aku menyebutnya pun, kau pasti sudah tahu siapa kan? Hatimu saat ini pasti sedang menyebutkan satu nama.”

Aku terdiam. Bagaimana dia bisa tahu?

Tunggu! Tidak mungkin! Kenapa sekarang di hati dan otakku terlintas nama orang itu? No way! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya kan? Dia jauh lebih muda dariku!

Maru tertawa. “Nuna! Hallloooo….earth to nuna. Earth to nuna.”

“Maru~yah.., aku…., tidak mungkin menyukainya.”

Maru tersenyum. Sikapnya saat ini terlihat seperti seorang kakak alih-alih seorang bocah yang lebih muda 7 tahun dariku. “Dia pria yang baik, nuna. Aku berani menjamin. Dan dia juga…ehem…maksudku…., bisakah kau tidak terlalu dekat dengan Ray hyung? Karena dia mengira….kau menyukai Ray hyung.”

“MWO???”

**************

Begitulah, percakapan singkatku dengan Maru siang itu membuatku memikirkan terus orang itu.

Aneh! Aku tidak mungkin menyukainya lebih dari rasa suka seorang kakak terhadap adiknya kan?! Tapi kenapa tebakan Maru benar saat dia mengatakan kalimat jebakannya itu, ternyata hatiku memang menyebutkan satu nama.

Hadiah boneka beruang yang dia berikan saat aku ulang tahun membuatku sangat senang, bahkan lebih senang dibanding mendapat hadiah dari Rome idolaku, apakah itu berarti hanya karena hadiah itu berasal darinya?

Aku selalu suka duduk di dekatnya saat makan bersama, memberinya banyak makanan, memperhatikan gerak-geriknya, dan tersenyum senang saat melihatnya makan, apakah bukan karena aku menganggap cara makannnya sangat lucu tapi hanya karena itu adalah dirinya? Karena aku selalu merasa senang berada di dekatnya?

Tapi kenapa? Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada Lee Min Woo? Demi Tuhan! Dia itu 5 tahun lebih muda dariku! Saat dia lahir ke dunia ini, aku sudah bisa berbicara dan berlari. Aku terlalu tua baginya!

**********

Hampir setiap malam, setelah selesai latihan, Min Woo pasti akan menungguku di depan kampusku. Sebagai mahasiswa yang mengambil kelas karyawan, kuliahku memang baru akan selesai pukul 9 atau 10 malam. Bahkan tak jarang tengah malam.

Aku berusaha membuang jauh-jauh pemikiranku waktu itu dan bersikap seperti biasanya di sekitar Min Woo. Kami makan ramyun atau tteokpoki seperti biasa. Atau kami akan mencoba makanan lain. Wisata kuliner. Itulah yang biasa kami lakukan bersama. Dulu saat C-Clown hiatus, kami biasa pergi saat hari sabtu atau minggu. Tapi kini sabtu minggu adalah hari paling sibuk bagi C-Clown, karena itulah Minwoo mengusulkan untuk “wisata kuliner” di malam hari.

Semuanya terlihat normal. Atau begitulah aku menginginkannya. Tidak mungkin kan aku benar-benar jatuh cinta pada Minwoo? Mungkin aku hanya menyukainya karena sikapnya yang sweet dan baik. Karena dia lucu. Karena dia bisa bersikap tegas dan dewasa, tapi juga bisa bersikap childish dan polos. Tunggu! Kenapa aku jadi memuji-muji Minwoo?!

“Nuna, nilai ulangan matematika-ku tadi dapat 98 lho!” Minwoo tertawa lebar.

“Jincha? Chukkae! Kalau begitu malam ini biar aku yang traktir.”

“Asyiiik! Ayo, nuna!” Minwoo merangkul pundakku dan kami pun berjalan berdampingan.

Lihatlah! Minwoo bahkan masih membicarakan ulangan matematika. Dia masih kecil! Dia baru kelas 3 senior high school, sementara aku sudah memiliki pekerjaan dan kuliah! Seandainya Minwoo lahir 5 tahun lebih dulu dariku dan bukannya 5 tahun kemudian setelah aku lahir. Tanpa sadar bahuku terkulai lemas.

“Eh, lihat..lihat! Bukannya itu T.K C-Clown!”

“Kyaaaaaa!”

“Eh, siapa itu? Pacarnya? Ayo kita foto!”

Beberapa orang gadis mulai mengenali Minwoo. Minwoo menatapku dengan pandangan meminta maaf. “Nuna, maaf…aku lupa tidak membawa masker.”

“T.K! T.K!” saat para gadis itu mulai memanggil nama Minwoo, Minwoo langsung menggenggam tanganku dengan erat dan membawaku berlari dengan kencang, menjauhi serbuan fans-nya.

Setelah berlari cukup jauh. Kami berhenti di depan toko musik yang hendak tutup. Nafas kami terengah-engah. Kami bertatapan lalu tertawa terbahak-bahak. Rasanya seperti dalam adegan film action, dimana kami berlari karena dikejar musuh.

Tiba-tiba saja Minwoo berjongkok di hadapanku, punggungnya menghadap ke arahku. “Ayo naik nuna! Aku tahu kakimu pasti pegal sekali karena berlari memakai sepatu wedges.” Minwoo tersenyum dengan senyuman khas-nya.

Aku tertawa dan menggeleng. “Aku sangat berat lho!”

“Benarkah?” Minwoo mengangkat sebelah alis matanya dengan tatapan menantang. Tanpa kuduga, Minwoo menarik tanganku dan melingkarkan tanganku di lehernya. “Ayo kita buktikan seberat apa!”

“YAH!” karena takut jatuh, aku pun berpegangan pada Minwoo. Aku bisa merasakan punggung Minwoo yang hangat. Rasanya aneh, tapi aku merasa terlindungi.

Lee Minwoo, bocah ini….bagaimana mungkin dia bisa membuatku merasa nyaman dan terlindungi? Aku benar-benar tidak mengerti!

“Yah! Jangan berlari!” teriakku. Minwoo hanya tertawa dan terus berlari pelan sambil menggendongku di punggungnya. Aku menyandarkan wajahku di punggungnya yang hangat. Membiarkan diriku terlelap ke alam mimpi.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, karena ketika aku bangun, aku sudah berada di kamarku dan Hyunil berbaring di sampingku.

“Hyunil?”

Sepupuku itu tertidur pulas sekali. Pagi harinya ia bercerita padaku kalau tadi malam Minwoo mengantarku pulang. Aku tertidur di punggung Minwoo, dan kebetulan saat itu Hyunil memang sedang ada di apartemenku. Hyunil punya kunci duplikat apartemenku. Dia sering datang untuk merampok makanan!

“Nuna! Tak lama lagi aku akan memberikanmu kejutan!” kata Hyunil tiba-tiba sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Hah? Kejutan apa?”

Hyunil tersenyum misterius. “Pokoknya kejutan. Oh, kasihan sekali anak itu.”

Aku menatap Hyunil seolah Hyunil sudah sinting. Oh, sepupuku yang satu ini kan memang sudah sinting dari dulu!

*********

Akhir-akhir ini sikap Kang Jun sudah kembali normal. Tidak lagi sok pura-pura cool seperti sebelumnya. Dia jadi sering menceritakan lelucon konyol padaku lagi, lalu tertawa terbahak-bahak tanpa perlu menjaga image! Dia sedang keranjingan memposting instavid di account instagram miliknya, jadi setiap ada kesempatan, pasti dia merekam apapun dengan ponselnya. Aku melarangnya saat dia hendak memposting “video gila” kami dimana kami menunjukkan keahlian menirukan suara binatang.

“Nuna, biasanya aku selalu berkata apapun, mengekspresikan semua yang kupikirkan. Tapi entah kenapa saat aku berada di dekatmu…aku ingin bersikap cool. Aneh sekali kan?! Itulah yang kulakukan dulu. Tapi lama-lama….aku sadar, tidak ada gunanya bersikap seperti orang lain. Aku hanya perlu menjadi diriku agar kau menyukaiku.”

Aku tersentak kaget dengan pernyataan Kang Jun yang tiba-tiba. “Jun~ie…”

Kang Jun nyengir lebar. “Tenang saja, nuna. Aku tidak membutuhkan jawaban. Tapi.., benarkah kau menyukai Ray?”

“Mwo?”

“Aku mendengar percakapan Maru dan Minwoo tadi pagi. Minwoo berkata…kemarin malam kau mengigau nama Ray dalam tidurmu.”

Aku membelalakkan mataku. “Jincha?”

“Jadi, benar kau menyukai Ray? Kudengar…Ray juga sering menginap di apartemenmu.”

“Yah! Kangjun! Ray itu sebenarnya….”

“Jun! Ayo cepat! Nanti kita terlambat!” manager C-Clown memotong perkataanku.

Jun nyengir lebar padaku sambil melambaikan tangannya dengan riang. “Sampai nanti, nuna! Aku harus rekaman acara TV! Hehehe.”

Aku menghela nafas. Sepertinya aku harus memberitahu C-Clown tentang siapa aku dan Hyunil sebenarnya. Terutama pada Minwoo. Tapi…kenapa? Kenapa aku sangat ingin Minwoo tahu? Aku masih menganggap perasaan anehku pada Minwoo ini sangat tidak masuk akal! Rasanya lebih tidak masuk akal dibanding saat dulu aku terobsesi pada Rome.

Bila dulu aku tahu pasti apa alasan aku tergila-gila pada Rome, maka kini aku tidak tahu apa yang membuatku tergila-gila pada Minwoo! Maksudku, aku menyukai apapun tentang Minwoo. Bahkan sikap moody-nya yang kadang mengesalkan, atau kata-katanya yang kadang sinis.

Minwoo tidak memiliki badan atletis yang bagus seperti Rome. Wajah Minwoo juga tidak setampan Rome. Minwoo lebih….cute. Sejak dulu aku selalu lebih menyukai pria manly dibanding cute. Tapi Minwoo juga jadi terlihat manly karena sikapnya. Seperti sudah kubilang sebelumnnya, Minwoo bisa terlihat manly-cute-dewasa-dan childish di saat yang bersamaan.

Atau mungkin…itu hanya perasaanku saja? Hanya karena aku menyukainya, maka semua hal tentangnya jadi tidak terasa penting lagi? Termasuk umurnya. Gawat! Sekarang aku mulai berpikir umurnya yang lebih muda 5 tahun tidak masalah bagiku. Benar-benar gawat!

*************

Keesokan sore-nya……..

“Saat interview di Super K-Pop tadi, kenapa kalian semua kecuali Siwoo dan Maru berkata kalau kalian menyukai perempuan yang lebih tua?” tanya Rome.

Biasanya, aku tidak akan terlalu memperhatikan apa yang C-Clown katakan ketika aku sedang bekerja. Tapi sore ini, ketika C-Clown berada di ruanganku agar aku bisa mengukur mereka (mereka benar-benar tumbuh dengan sangat cepat, terutama Maru dan Min Woo!) – aku ikut mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Aku ingin tahu. Minwoo berkata di acara radio kalau dia menyukai perempuan yang lebih tua? Benarkah?

“Sejak dulu aku memang menyukai perempuan yang lebih tua.” Jawab Hyunil cuek. Rome terlihat tidak puas dengan jawabannya.

Aku sudah selesai mengukur tinggi badan Maru yang dalam 3 minggu ini bertambah 1,5 cm. Lengannya juga bertambah panjang dan dada-nya bertambah bidang. Benar-benar sedang masa pertumbuhan.

Setelah selesai mencatat ukuran badan Maru, kini aku hendak mengukur Min Woo, tapi dia  mundur satu langkah dariku. “Aku….ng-ng….aku tidak bertambah tinggi dan bertambah besar. Hanya Maru yang berubah.” Kata Min Woo cepat. Min Woo terbatuk pelan. “Jadi…, ng-ng….bagaimana desain pakaianku nanti? Aku belum melihatnya…”

“Oh! Sebentar. Ini, bagaimana menurutmu? Aku tahu kau menyukai aksesoris, jadi aku menambahkan….”

Kata-kataku terhenti saat tiba-tiba saja Hyunil berkata. “Aku mau membuat pengumuman!”

Kontan semua mata kini tertuju padanya. Hyunil mendekatiku, merangkul pundakku, lalu menatap teman-temannya satu per satu. “Aku dan Hyun Mi nuna sebenarnya…..”

Tiba-tiba saja Min Woo keluar dari dalam ruangan sambil membanting pintu dengan sangat keras. Hyunil tertawa terbahak-bahak. “Ternyata benar! Hahaha….hahahaa…”

Rome menatap Hyunil dengan kesal. “Kau sudah keterlaluan, Ray.”

Siwoo mengangguk setuju dengan perkataan Rome. “Benar.”

“Kalian bicara apa sih?” tanya Maru dan Kang Jun bingung. Aku ikut-ikutan menatap Ray dan Rome dengan bingung.

Ray masih tertawa. “Sorry.” Katanya. Dia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.

“Minwoo pasti berpikir barusan kau akan membuat pengumuman kalau kau dan Hyun Mi berkencan.” Rome mengerutkan keningnya. “Padahal aku tahu kau akan memberitahunya kalau kalian adalah sepupu.”

Mwo? Jadi Rome tahu? Tapi itu tidak penting sekarang! Yang paling penting adalah…., Minwoo. Kenapa dia bersikap seperti tadi?

“Jincha? Jadi…, Kalian bersaudara?” tanya Kang Jun dan Maru bersamaan. Lalu Maru mengerang. “Ray hyung! Kau keterlaluan! Nuna! Cepat kejar Minwoo hyung!”

“Mwo? Kenapa?”

Kang Jun memukul keningku pelan dengan jarinya. “YAH!” protesku, tapi Kangjun menatapku dengan serius. “Pabo. Itu karena Minwoo benar-benar menyukaimu, nuna. Seandainya aku tidak menyadari perasaan Minwoo padamu, maka aku tidak akan ragu lagi untuk menyatakan perasaanku. Tapi aku sadar, Minwoo jauh lebih menyukaimu.”

Rome mengangguk. “And I know you have feeling for him too.”

“Nuna, ingat apa yang kukatakan waktu itu? Saat aku membuatmu menyebut satu nama tanpa sadar di dalam hatimu?” Maru ikut-ikutan.

Hyunil nyengir lebar sambil membentuk tanda peace dengan jarinya. “Aku hanya ingin mengetes Minwoo dan…semua orang. Tapi harus kuakui, dia yang menang.”

Siwoo melingkarkan sebelah lengannya di leher Hyunil, pura-pura mematahkannya. “Mengetesnya selama 1,5 tahun sangatlah keterlaluan, Kim Hyunil. Nuna, sudah kubilang kan….aku mengetahui banyak rahasia C-Clown. Sekarang akan kuberitahu satu rahasia itu karena kau sangat lambat dalam hal ini.” Siwoo menyeringai, lalu kembali bicara. “Minwoo menyukaimu. Selalu. Sejak 1,5 tahun yang lalu.”

Tanpa menunggu lagi, aku pun segera berlari keluar untuk menemukan Minwoo. Aku berlari dengan cepat di sepanjang koridor. Tidak memedulikan tatapan aneh rekan-rekan kerjaku. Semuanya tidak penting. Hanya Minwoo-lah yang penting saat ini. Di mana dia? Rooftop? Mungkinkah dia pergi ke sana?

Dengan mengikuti feeling-ku, aku pun berlari menuju rooftop lewat tangga darurat. Aku tidak menunggu lift, karena lift masih ada di lantai 1. Lama! Lalu bagaimana kalau lift-nya penuh?!

Dengan nafas terengah-engah, aku pun akhirnya sampai di rooftop. Keringat bercucuran dari dahiku.

“Min Woo~yah!” panggilku.

Minwoo yang sedang berdiri di tepi pagar sambil memunggungiku kini membalikkan badannya dan menatapku dengan dingin. “Selamat, nuna. Kau akhirnya meresmikan hubunganmu dengan Ray hyung. Kemarin malam…kau bahkan mengigaukan namanya saat kau tertidur dalam gendonganku. Malam itu Ray hyung sudah menunggumu di dalam apartemenmu. Apakah kalian meresmikan hubungan kalian saat itu? Chukae, kalian…mirip. Orang bilang, bila wajah kalian mirip, itu berarti kalian berjodoh.” Minwoo berkata tanpa ekspresi.

Aku tertawa pelan. “Pabo.” Aku langsung berlari dan memeluk Minwoo. Aku harus berjinjit agar bisa memeluk lehernya karena Minwoo sangat tinggi!

“Ray ….alias Hyunil…, dia itu sepupuku, Pabo! Dilihat dari nama saja sudah cukup jelas ada kemiripan. Wajah kami juga mirip karena  kami memang bersaudara, bukan karena kami berjodoh!”

Minwoo memegang lenganku lalu menatapku dengan tak percaya. “Jincha?”

“Hmm.” Aku mengangguk. “Lee Min Woo, aku….tidak menyukai pria yang lebih muda dariku. Tapi…bila pria itu adalah kau…kurasa itu tidak masalah.” Aku tersenyum.

Minwoo tersenyum lebar dan langsung memelukku. “Nuna, aku juga. Aku berkata aku menyukai perempuan yang lebih tua dariku hanya karena perempuan itu adalah kau, nuna.”

Minwoo melepaskan pelukannya dan kini ia menatapku dengan lekat-lekat. “Hyunmi nuna…, aku…ng….ng…” Minwoo terlihat grogi. Sepertinya otaknya jadi blank gara-gara terlalu nervous.

Aku tertawa dan langsung mengecup bibirnya sekilas. “Tidak usah dikatakan. Aku sudah tahu.”

Minwoo tersenyum. Perlahan sebelah tangannya menyentuh tengkukku dan dengan lembut bibirnya yang manis melumat bibirku. Kami seirama.

Tidak penting siapa yang lahir lebih dulu. Tidak penting apa yang dipikirkan orang lain. Yang paling penting hanyalah perasaan kami yang kini memiliki frekuensi yang sama. Akhirnya aku menemukannya, my half moon….my other half.

Minwoo menyentuhkan keningnya di keningku. Kami tertawa sambil bertatapan. “Nuna, gomawo….karena kau juga menyukaiku. Tapi nuna.., bisakah kau berhenti menjadi fans Rome hyung? Aku ingin kau menjadi fans-ku. Aku ingin…..hanya akulah satu-satunya pria yang ada di hatimu.” Wajah Minwoo memerah.

Aku tertawa karena sikapnya yang cute. “Rome adalah….inspirasiku. Orang yang menuntunku sehingga aku sekarang berada di sini dan bertemu denganmu, Minwoo~yah. Aku….akan selalu mengidolakan Rome, tapi hanya itu. Sebatas idola. Dia tidak pernah berada di dalam hatiku, karena di hatiku hanya ada Lee Min Woo.”

Minwoo tersenyum semakin lebar. Aku ikut tersenyum. Aku selalu suka saat Minwoo tersenyum seperti itu.

Minwoo menggenggam tanganku. “Aku ingin di masa depan nanti…, pacar pertamaku adalah orang yang akan menjadi istriku. Jadi, nuna…, maukah sekarang kau menjadi pacarku, dan …..di masa depan nanti menjadi istriku?”

Aku tertawa. “Yah! Lee Minwoo! Kau sama sekali tidak romantis!”

Minwoo terkekeh. “Mianhae, nuna…”

Aku menggeleng dan memeluknya lagi. “Tidak masalah. Aku menyukai semua tentangmu, Lee Min Woo.”

“Aku juga menyukai semua tentangmu, nuna. Jadi, bagaimana jawabanmu?”

Aku memukul lengan Minwoo. “Yah! Apakah perlu aku jawab lagi? Bukankah sudah jelas? Aku tidak akan menciummu kalau aku tidak mau jadi pacarmu!”

Minwoo tertawa lalu mengangkat tubuhku. Kami berputar-putar di rooftop.

Perlahan langit berubah jingga keemasan. Sebentar lagi matahari akan tenggelam sepenuhnya. Seoul adalah titik balik hidupku. Lee Minwoo adalah titik balik hatiku. Aku baru sadar, berkat Minwoo-lah, karena aku mencintainya-lah semua obsesi gilaku sebagai fans terhadap Rome jadi menghilang begitu saja.

Sekarang aku hanya gadis normal yang tergila-gila pada pacarku sendiri, Lee Min Woo. My Bear.

“I love you, Bear.” Kataku.

“I love you more….more….more…more, Bear.” Balas Minwoo. “Boneka bear yang kuberikan padamu saat ulangtahunmu, sebenarnya punya pasangan. Aku menyimpannya di dalam lemari pribadiku di dorm.”

“Benarkah? Kalau begitu…, nanti kita harus berfoto bersama boneka-boneka bear kita, Papa Bear.”

Minwoo tertawa dan mengangguk. “Hmm. Berfoto memakai gaun pengantin?”

“Yah! Kau terlalu muda untuk memakai baju pengantin. Lagipula…, masa kau pakai gaun?”

“Hahahaha….hahahaha….”

====== The End ======

Cute T.K / Minwoo

Image

Sweet T.K / Minwoo

Image

Crazy Ray

Image  Image

Lihat deh reaksi Siwoo pas Kangjun bilang kalau dia punya body yg lebih oke dari Rome. LOL

Image

C-Clown say thank you for reading this story. Don’t forget to leave any comment.❤

Image

28 thoughts on “[oneshot] Turning Point of My Life

  1. End?????
    Suka,,, Suka,,, Suka,,, ♥♡♥
    Huft akhirnya bisa komen juga setelah 3x gak sadar kehapus mulu dari tadi.
    Ceritanya keren eonn, gak bikin pusing, ceritanya ringan dan gak banyak konflik.
    Disini gemes sama Ray, apaan coba pake ngetes 1,5 thn kan kasian Min Woo jadi salah paham. Udahlah Jun, gak usah jadi cool, tetep konyol aja banyak kok yang suka. Jun paling gokil di All the KPop entertainment academy, mungkin kenyataannya emang gitu kali y? Maru keren bisa ngomong kaya gitu padahal masih line 97 kaya aku.
    Tapi dari semuanya paling suka sama endingnya. Min Woo sweet banget, gak bisa bayangin perasaab yang jadi yeojanya.
    Pokoknya ini ff SANGAT,,, SANGAT,,, SANGAT,,,dan SANGAT KEREN eonn😉
    Semangat buat nulisnya n ff lainnya ditunggu🙂

    • Waduh…3X? Wkwkwk
      Iya.. Kayaknya seru ngebayangin Ray nyebelin tp baik. Hahaha.
      Jun konyol…>_<. Mungkin aslinya emang gitu sih. Hahaha
      Gomawoooo fik udah baca. ♥_♥ *lempar Jun*

  2. Tidak….
    Gara” ga sengaja baca ini, fandom gw terancam nambah. Ini semua tidak boleh terjadi! /?

    Lol, sumpah Hyunil ngakak gila
    Suka banget ngejahilin orang

    Tapi, kenyataannya mereka emang suka noona”..? Beneran? ;_;

    Tauk laah, pokoknya ceritanya keren. Tapi sih sebenarnya alurnya kecepatan. Bagusnya sih di jadikan chapter, tp drpd dijadikan chapter malah , kayaknya emang mending dijadikan oneshot :’) pokok nya fighting lah buat authornya ‘-‘)b

    • Wkwkwkwk….ayooo nambah aja. Hahaha.
      Gak tau sih. …tapi di interview gitu mereka semua kecuali siwoo sama maru bilang lebih suka cewek yg lebih tua.
      Klo siwoo suka yg lebih muda. Maru suka yg seumur. Wkwkwk
      Klo dijadiin chapter takut males lanjutinnya. Wkwkwk…
      Gomawoooo udah baca… >_<

  3. ahhh keren bgett ff’a ^_^
    ray bkin aku gemes lucu tingkah ny
    rome , ah aku pkir dy jg suka ma hyunmi tpi trnyta enggk ,, maru, kangjun, siwoo cute ,, dan minwoo trnyata suka ma hyunmi kkkk.😀 pkok,’a keren bnget deh aku aj senyum” sndri bca’a😀
    keep writing🙂

  4. ahhh keren bgett ff’a ^_^
    ray bkin aku gemes lucu tingkah ny
    rome , ah aku pkir dy jg suka ma hyunmi tpi trnyta enggk ,, maru, kangjun, siwoo cute ,, dan minwoo trnyata suka ma hyunmi kkkk.😀 pkok,’a keren bnget deh aku aj senyum” sndri bca’a😀

  5. Wah keren nih romance.a !!!! Karna aku gk terlalu tau c-clown gk tw knp aku jdi ngebayanin btob padahal gk terlalu suka juga cuma tw ilhoon sma minhyuk >.< ngebayangin klo si ray itu ilhoon minwoo.a minhyuk #apasihgajebgtganti2fforang/

  6. Apaaan?? Udah apdet aja kaak? Aaagh.. kak azmi lagi kerasukan c-clown . LOL. Kangjun buat aku ajalaah… bungkusin ya, aku bw pulang. Kkk…
    Aduh ga tahaan…. peniel tar marah loh kak. Wkwkwk… *apaansih?
    Ceritanya.. aih… ray.. jahil… kamu nakal, sini aku peluk #abaikan.
    kereen.. aku mau kabur jg ah.. #eh
    haha… kaaak… utangnya masih banyaaaaak haooo.. powerles, hidden fate, I don’t know why. Aaharnya ada lg, what can I save you fron

    • Wkwkwkwk….iya…kerasukan T.K lebih tepatnya. LOL
      Nggak.. Peniel ngerti kok…soalnya aku berbagi Rome sama Peniel. Hahaha. *ditendang Rome*
      Yg I don’t know what I can save u from gak akan dilanjut. Udh d drop dari dulu. Harusnya aku hapus ya ff chapter 1 nya….hohoho

  7. Dan saiia baru tau low ad ff baru_(≥▽≤)/
    Berawal dr obsesi dan berakhir pd cinta sejati haaaa…..
    eeuummm….berhubung rome g jd sma hyun mi dy ma q aj ya mi ㅋㅋㅋㅋㅋ^^…..
    Ray dy jahil bgt mpe bkin min woo slah pham kek gtu tp min woo cuiiiitttt….bgt sich miiiii jd pengen nyubit dech……
    ough….ya emang ank2 c clown tuh gila semua ya mi gokil abis q pas liat varety show’y apa ya lupa jdul’y mrka koyol2 smua lucu bgtz…..
    satu lg awal kisah suka’y min woo ke hyun mi krang kerasa mngkin krn one shot jd lbih dprsingkat kali ya tp ending’y kereeeeeennnnnnnnnn……Jjaanngg!!!!

    • ga boleeehhhh.., Rome ama akuuu.>_<. wkwkwkwk
      iyaaaa crazy emang mereka. Hahahaha.
      aku lagi keracunan T.K nih… LOL
      tadinya pengen dibikin chapter..tapi takut males lanjutinnya. hahahaha….
      gomawoooo udah baca ^^

  8. Huwaa~akhirnya baca lagi deh ff…
    Eonnie harus tanggung jawab…
    Karna Eonnie sekarang aku jadi suka c-clown…

    Aku suka sama alur cerita nya, bahasanya juga gak bikin ribet…
    Gereget sama tingkahnya kangjun yang sok cool…
    Pokoknya aku selalu suka sama ff eonnie…
    EONNIE JANG ~

  9. huah… baru nyempetin baca nih eonni…
    gara” baca ff ini aku jadi dibilang autis sama temenku, soalnya aku ketawa-tawa, sendiri gk jelas…
    OMG! ni ff keren punya,,
    gereget jg bacanya,, selamat, eonni berhasil buat C-Clown punya tambahan satu fans nih,, kke~
    hmm, buat selanjutnya aku nggk tau boleh nanya apa nggak tapi…..
    HS…? hehehe😀

  10. -Turning Point of My Life-

    Eonni^_^ FFny keren punya
    Ray bikin ngakak habis masak cuma buat ngepastiin kalau MinWoo tu pantes buat HyunMi sampek ngehabisin waktu 1,5 tahun.
    Hehehehehe
    Wah enak banget jadi HyunMi.
    Bisa dapet cinta sejati sama passion dia bersamaan.
    MinWoo sweet banget ak mau dong dikasih BEAR juga dong.
    Kalau HyunMi n Minwoo tu Mama n Papa Bear sedangkan ak sama Sehun Mimi n Pipi Bear. LOL

  11. Ff c-clown! Jarang ada ff c-clown hehe😀 maru kata-katanya dewasa kali ya… Keren-keren apalagi ending nya haha

  12. pertama kalinya baca ff bercastkan anak2 c-clown. dan jujur aja aku gak hafal wajah masing2 anak c-clown kecuali Kang Joon sm Ray /gaktanya/ jd satu kesulitan aku nikmati baca ff ini. selama baca -lewat ponsel- aku buka dua jendela sekaligus; satu laman wp-ff ini, satunya lagi profil c-clown, yah jd tiap anak c-clown yg gak tau wajahnya aku buka profilnya baru bisa bayangin wajahnya. tp ini ff c-clown pertama dan paling seru yg aku baca, berasa fangirlnya. tp lebih dr itu cerita ini lebih ke lucky fangirl. tetep dg diksi dan cerita ringan yg jd favorit jd nilai tersendiri buatku🙂 keep writting azumi-shi ^^)9

    • Hehehe….jadi hafal member C-Clown kan skrg?😀
      Iya…ini seandainya aku jd fangirl beruntung kayak di cerita ini. Hahaha.
      *kebanyakan berkhayal* biar khayalannya gak terlupakan dan gak sia2 jd dibikin tulisan deh.
      Kamsahamnidaaaaa udah baca😉

      • iya sekarang jd hafal sm anak2 c-clown berkat ff ini🙂
        ah bener seandainya aku jg bisa nulis mau jg numpahin perasaan fangirl pakek tulisan macem ff gini😀
        ne~ cheonma🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s