I Don’t Know Why (Chapter 3)

Title                            : I Don’t Know Why (Chapter  3)

Author                        : Azumi Aozora

Main Casts                 : Lee Min Ah (OC), Jung Il Hoon (BTOB), Jang Geun Suk

Support Casts            : Lee Min Ho, BTOB, and Beast members

Genre                         : romance, family, friendship

Length                        : series

Rating                         : PG+15

Summary                   : Lee Min Ah (23 thn) adalah salah satu businesswoman muda yang paling sukses di Asia. Sejak kecil, Min Ah sudah menjalani kehidupan yang keras dan disiplin sebagai penerus Lee Group. Sejak dulu dunia Min Ah berbeda dengan gadis cilik lainnya. Di saat gadis lain menikmati masa muda mereka, Min Ah harus berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Saat usia-nya 17 tahun, Min Ah harus meninggalkan Korea demi mempertahankan perusahaan ayah-nya. Ia rela melepaskan satu-satunya orang yang paling berharga baginya, Jang Geun Suk. Setelah 6 tahun berlalu, akhirnya Min Ah berhasil membuat perusahaan ayahnya bertahan dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Tapi apa yang akan terjadi bila presdir Jung Group yang merupakan salah satu saingan terberat Lee Group memohon pada Min Ah untuk menggabungkan perusahaan mereka? Di saat Jung Group bersedia mengikuti segala peraturan Lee Group, akankah Min Ah menyetujui ide merger kedua perusaahaan ini? Jung Group bersedia berada di bawah kendali Min Ah, tapi bagaimana bila presdir Jung Group memberikan Min Ah 1 syarat? Dan syarat itu adalah…, menikahi putra satu-satunya sang Presdir, Jung Il Hoon, seorang idol populer yang usia-nya 4 tahun lebih muda dari Min Ah. Apa yang akan Min Ah lakukan? Masalah semakin rumit ketika Min Ah tahu ternyata Jung Il Hoon dan Jang Geun Suk memiliki ibu yang sama.

 poster I dont know why

Pepatah bilang…, di saat kau tidak tahu apa alasanmu mencintai seseorang, maka itu adalah pertanda bahwa kau benar-benar mencintai orang itu.

Link Chapter 1 || Link Chapter 2

Chapter 3

Besok malam adalah “pertunangan-ku” dengan Jung Il Hoon. Tentu saja yang hadir hanyalah rekan bisnis dan keluarga. Aku belum memberitahu Min Ho Oppa. Mungkin aku akan memberitahunya besok, sebelum acaranya dimulai. Aku tidak ingin Min Ho Oppa mengacaukan acara-nya. Bagaimanapun, ini adalah konsekuensi yang harus kutanggung demi perusahaan.

Ayah dan ibuku akan tiba di Seoul nanti malam. Koki pribadi kami tentu saja ikut. Aku jadi tidak perlu khawatir akan makan di mana malam nanti dan besok pagi.

Selama di kantor, pikiranku terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga aku melupakan jadwal fitting gaun sore ini. Sejak beberapa hari yang lalu, Mrs. Jung sudah meneleponku panjang lebar tentang persiapan pesta. Aku menyerahkan semuanya kepada Mrs.Jung, termasuk masalah gaun.

Pukul 5 sore, seharusnya aku sudah tiba di butik yang disebutkan Mrs. Jung, tapi kenyataannya aku masih di kantor, dan baru ingat tentang janjiku dengan Mrs. Jung.

Sebelum aku sempat menelepon Mrs. Jung untuk meminta maaf, Mrs. Jung lebih dulu meneleponku.

“Min Ah~ya…” sapa Mrs. Jung dengan riang. Aku tahu Mrs. Jung pasti sedang tersenyum lebar dengan senyuman khas-nya.

“Mrs. Jung.., maaf aku terlambat….”

Mrs. Jung tertawa renyah. “Tidak apa-apa, dear. Sudah kuduga. Lagipula aku tidak akan menemanimu ke butik. Sebentar lagi Il Hoon menjemputmu di kantor. Aku sudah menyiapkan beberapa gaun di butik, nanti pelayan akan menunjukkannya. Kau pilihlah yang paling kau suka, Min Ah~ya..”

“Ah, Ne.., terima kasih, Mrs. Jung…”

Mrs. Jung tertawa renyah lagi. “Mulai besok kau harus memanggilku ommonim, Min Ah~ya. Sudah ya, aku sedang di jalan. Tunggu saja, sebentar lagi Il Hoon pasti sampai. Dia baru pulang dari acara musik.”

“Ne..” kataku dengan nada sopan. Mrs. Jung pun memutuskan sambungan telepon.

Aku menghela nafas panjang. Il Hoon lagi…. Il Hoon lagi. Sepertinya mulai sekarang aku memang harus terbiasa dengan kehadiran bocah menyebalkan itu!

Lima belas menit kemudian, ponselku berdering. Jung Il Hoon sepertinya sudah sampai di depan kantor, dan seperti sudah kuduga, kalimat memerintahnya jadi pembuka percakapan. “Yah! Cepat keluar! Aku sudah di depan kantormu.”

Aku tertawa. Benar kan?!

“Kenapa kau tertawa?”

“Karena suaramu yang aneh.” Kataku.

“Mwo????”

Aku pun mematikan ponsel, dan mengganti blazer-ku dengan kaus putih. High heels-ku juga diganti dengan sneakers. Aku membiarkan rambutku yang panjang terurai. Setiap mau pulang kerja, aku memang biasa mengganti sepatu dan bajuku, sedangkan rok tetap kupakai.

Aku menghampiri mobil sport perak Il Hoon. Il Hoon membuka kaca mobilnya dan menatapku tak sabar. “Cepat masuk.” Katanya.

Aku pun berjalan ke pintu mobil, tapi begitu hendak membuka pintunya, ternyata di kunci! Il Hoon menatapku dari dalam mobil sambil menyeringai. Aku hanya membalas tatapannya tanpa ekspresi. Aku sedang malas beradu mulut dengan bocah ini. Jadi, aku pun hanya menyandarkan tubuhku di mobil.

Il Hoon melongokkan kepalanya. “Kupikir kau akan menangis..” ledek-nya.

Aku hanya menatap Il Hoon dengan tajam. Il Hoon pun membukakan pintunya dari dalam. “Masuk.” Katanya. Aku pun masuk, dan selama di perjalanan, aku sama sekali tidak mengomel padanya. Aku malas bicara padanya.

Kami sampai di sebuah butik. Aku menyebutkan nama Mrs. Jung dan juga namaku, para pelayan pun langsung mengantar kami ke sebuah ruangan VVIP.

“Jangan lama-lama.” Kata Il Hoon. Aku menatapnya tajam, lalu pergi meninggalkannya dan masuk ke ruangan ganti yang cukup luas.

Dua orang pelayan wanita membantuku memakai gaun-gaun itu. Ada 3 buah gaun. Aku lumayan suka model-nya. Ternyata selera Mrs. Jung lumayan juga. Pertama aku memakai gaun putih. Gaun itu terlihat cantik di tubuhku.

“Nona, aku buka tirai-nya sekarang ya, agar Tuan Jung bisa melihat.” Kata salah satu pelayan.

“Tidak usah!” kataku cepat. Pelayan itu menatapku dengan heran. Aku tersenyum meyakinkan pelayan itu.

Setelah puas menatap gaun putih yang kukenakan dari berbagai sudut, aku pun mencoba gaun ke-2 yang berwarna perak. Kesan-nya terlalu mewah dan berlebihan. Aku mencoba berputar, melihat bagian dada dan punggung yang terlalu terbuka. Sepertinya gaun ini tidak cocok untukku.

Oke, jadi gaun putih lebih cocok untukku. Aku menatap gaun pink yang terlihat sangat manis. Aku pun memutuskan untuk mencoba gaun terakhir itu sebelum memutuskan akan memilih gaun putih.

Tapi, sebelum gaun pink itu melekat sempurna di tubuhku, tiba-tiba saja suara Il Hoon terdengar dari jarak yang sangat dekat.

“Lama sekali sih?! Aku harus latihan dance sebentar lagi.” omel Il Hoon.

“Sedikit lagi! Aku baru memakai gaun terakhir!” Kataku dengan nada ketus. Memang sudah berapa lama sih aku mencoba pakaian-pakaian ini? 15 menit saja belum!

“Waahh.., gaun ini cocok sekali untukmu, Nona.” Kata pelayan-pelayan.

Aku mengamati diriku di cermin. Ya.., gaun ini terlihat sangat manis, cantik, dan anggun di tubuhku. Memang tidak se-seksi gaun perak. Tidak juga se-lembut gaun putih. Tapi gaun pink ini membuatku terlihat mempesona.

Tiba-tiba saja tirai terbuka. Para pelayan sepertinya sengaja membuka-nya. Aku bisa melihat Il Hoon menatapku lewat cermin. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya terus menatapku lewat cermin.

Aku menghembuskan nafasku dan membalikkan badanku, menghadap Il Hoon. Il Hoon masih saja menatapku tanpa berkedip, seolah jiwa-nya pergi entah ke mana.

“YAH! Jung Il Hoon! Kau tidak perlu lama-lama mencari kata ejekan untuk gaun ini!” tukasku kesal.

Il Hoon berkedip, lalu menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada tatapan tajam dan sinis penuh kebencian ataupun tatapan cuek dan meremehkan. “Bagus.” Hanya itu yang ia katakan. Tanpa senyum, tapi tetap saja tatapannya terasa berbeda dari biasanya. Il Hoon menatapku agak lama sekali lagi, sebelum akhirnya berjalan menjauhiku dan duduk di sofa dengan tenang. Ia meraih majalah di sampingnya dan mulai membaca, seolah lupa kalau satu menit yang lalu ia baru saja memintaku cepat-cepat selesai fitting gaun.

Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding, cepat-cepat aku menutup tirai dan mengganti gaun itu. “Aneh. Kupikir dia akan mengejekku.” Kataku pelan, tapi ternyata masih bisa didengar oleh pelayan di sampingku.

Pelayan itu tertawa renyah. “Itu karena Tuan Jung terlalu terpesona pada Anda. Jadi, bagaimana? Anda akan memilih gaun yang ini, Nona Lee?” pelayan itu tersenyum penuh arti.

Aku pun mengangguk. “Ya.”

Setelah selesai berganti pakaian, aku duduk agak jauh di samping Il Hoon, menunggu gaun pink itu selesai dirapikan dan dibungkus.

“Kau bilang ada latihan kan? Aku pulang naik taksi saja. Rumahku sangat jauh dari Cube entertainment.” Kataku.

Il Hoon mengangkat wajahnya dari majalah. Tatapannya kembali dingin seperti sebelum-sebelumnya.

“Tidak ada latihan. Tadi itu hanya trik agar kau cepat selesai.” Il Hoon menyeringai.

“Mwo? Tsk!” aku mendecakkan lidahku. Beberapa saat kemudian, pelayan datang mengantarkan gaun-ku. Pelayan itu mengucapkan kata-kata selamat bertunangan dan bla..bla…bla…, yang intinya mendoakan kami semoga bahagia. Dalam hati aku hanya tertawa. Bahagia apanya?! Kalau bukan demi merger perusahaan, aku juga tidak mau bertunangan dengan pria menyebalkan seperti Jung Il Hoon!

************

Begitu kami sampai di depan rumahku……

“Guk….Guk….Guk….” Freddy, anjing penjaga rumahku, menggonggong keras, menyambutku, atau mungkin justru karena dia mengenali bau Il Hoon. Sebelumnya sudah kukatakan pada Freddy untuk menggigit Ilhoon bila Ilhoon datang lagi ke rumahku.

Aku membuka pagar lalu mengelus-elus kepala Freddy penuh sayang. “Anak pintar.”

“Guk…Guk…Guk…Grrrrrr…Grrrr…” Freddy terus menyalak sambil menatap Ilhoon garang.

Ilhoon merapatkan tubuhnya di pintu mobil. Aku tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang ketakutan.

“Tidak apa-apa, Good Boy. Jangan menggigitnya sekarang. Kau boleh menggigitnya kalau dia membuatku kesal atau menangis, oke?”

“Guk…guk…” Freddy seolah mengerti apa yang kukatakan. Kadang aku merasa dia memang mengerti apa yang kukatakan. Anjing baik.

“Yah! Kenapa kau menyuruh anjingmu untuk menggigitku?!”

“Grrrr….Grrrr….” Freddy seolah melindungiku. Aku hanya tertawa.

“Oh! Ilhoonie!”

“Min Ah sayang!”

Ibuku dan Ibu Ilhoon tiba-tiba saja keluar dari dalam rumahku. Ibuku punya kunci duplikat rumahku.

“Oh, Mom! Kupikir kau baru akan tiba nanti malam.” Kataku langsung berlari memeluk ibuku. “I miss you sooo much, Mom.”

“Aku juga, sayang.” Ibuku mengusap-usap punggungku.

“Eomma, aku tidak melihat mobilmu.” Kata Ilhoon pada ibunya.

“Anak Cha ahjussi sakit, jadi aku menyuruhnya pulang.” Kata Mrs.Jung. Cha ahjussi adalah supir Mrs.Jung.

Mrs.Jung mencubit lengan Ilhoon pelan dan memberi isyarat dengan matanya.

“Aaah…, annyeong haseyo. Saya Jung Il Hoon.” Seperti baru menyadari kehadiran ibuku, Il Hoon pun memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan dan penuh senyum. Aku mendengus keras. Ternyata dia memang pandai berpura-pura!

“Oh, Ilhoonie, aku sangat senang bertemu denganmu.” Ibuku memeluk Il Hoon. Aku hanya memutar kedua bola mataku. Jelas sekali di sini hanya ibu-ibu kami yang terlihat bahagia. Ilhoon sendiri hanya pura-pura tersenyum sepertiku.

“Min Ah sayang, aku tahu kau sangat sibuk. Tapi seharusnya kau memilih gaunmu dari jauh-jauh hari.” Ibuku menatapku tajam, tapi ia tersenyum.

Mrs Jung tertawa dan merangkul pundak ibuku. “Jangan marah pada Min Ah, justru aku yang terlalu lama memilihkan gaun untuknya. Kau tahu kan seleraku sangat tinggi.”

Kedua ibu itu sama-sama tertawa lebar seperti seorang sahabat karib. Aku hanya bisa membuka mulutku. Speechless. Ternyata “pertunangan” bisa membuat ibuku dan ibu Ilhoon akrab seperti ini. Padahal sebelumnya aku tahu mereka selalu bersaing dalam segala hal! Aku benar-benar tidak mengerti.

*************

Hari yang sangat menyebalkan itu pun tiba. Sejak pagi para penata rias sudah memoles diriku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Padahal acara baru akan mulai nanti malam! Kenapa aku jadi seperti calon pengantin saja sih?! Aku kan hanya akan bertunangan! Bukan menikah! Lagipula ini hanya Jung Il Hoon! Aku tidak perlu tampil cantik untuknya.

Setelah luluran, para penata rias mulai mencabuti bulu-bulu kakiku. Penata rias lain membersihkan dan mempercantik kuku-kuku kaki dan tanganku. Ah, sudahlah! Semoga hari yang menyebalkan ini segera berakhir.

Pukul 7 malam, aku sudah siap menghadiri pesta pertunanganku. Sejak tadi aku hanya duduk sambil menatap cermin, menghela nafas berat berkali-kali. Se-cuek apapun diriku, ada sedikit perasaan takut dalam hatiku. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa “berpisah” dari Il Hoon? Aku tidak mungkin selamanya berpura-pura seperti ini!

Satu tahun. Aku mengingatkan diriku sendiri. Bertahanlah selama 1 tahun Lee Min Ah! Semua ini demi perusahaan. Demi keluargaku.

Ponselku berdering nyaring. Min Ho Oppa. Ya Tuhan! Aku lupa memberitahunya. Dia pasti marah sekali padaku.

“Hallo,,,,,”

“LEE MIN AH! APAKAH KAU GILA?”

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Suara sepupuku itu bisa membuat gendang telingaku pecah!

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” suara Minho Oppa terdengar kecewa. “Aku akan datang menjemputmu dan membawamu kabur dari sana. Jangan bodoh, Lee Min Ah! Kau pikir pertunangan itu hal yang sepele?!”

Aku menghela nafas panjang. “Karena inilah aku tidak memberitahumu, Oppa. Aku tahu kau pasti akan melarangku. Mianhae. Aku tidak akan menghindar. Semua ini demi perusahaan.”

“Tidakkah kau merasa lelah? Sejak dulu kau selalu berkorban demi perusahaan ayahmu! Pikirkanlah dirimu sendiri!” Belum pernah aku mendengar suara Minho Oppa bernada se-kesal saat ini.

“Oppa~ya, tenang saja. Ini hanya pertunangan. Bukan berarti aku akan menikah dengannya. Lagipula ini hanya pura-pura.”

Minho Oppa menghela nafas berat. “Justru karena pura-pura itulah. Kau seharusnya bahagia, Min Ah ya. Bertunangan, lalu menikah dengan orang yang kau cintai. Bukan karena pura-pura.”

“Oppa, aku tidak mungkin bertunangan dengan orang yang kucintai, karena dia sudah tidak mencintaiku lagi.”

Minho Oppa terdiam selama beberapa saat. Sepertinya dia mengerti kalau yang kumaksud tadi adalah Geun Suk Oppa.

“Baiklah. Tapi ingat, kalau tunanganmu itu membuatmu sedih, kesal, atau marah – aku akan menghajarnya sampai dia tidak bisa tertawa lagi!”

Aku tertawa terbahak-bahak. “Oke. Oppa, maafkan aku yaa.” Kataku dengan nada agak manja. Biasanya sepupuku itu luluh dengan aegyo-ku, karena aku adalah orang yang hampir tidak pernah menunjukkan aegyo kalau sedang tidak sangat terpaksa! “Tapi kau datang kan, Oppa?”

Minho Oppa mendengus pelan. “Tentu saja, Barbie.”

Aku tersenyum. Bila sepupuku itu memanggilku Barbie lagi, berarti dia sudah tidak marah padaku.

“Aku datang karena bibi mengundangku. Sepupu macam apa kau ini! Harusnya kau yang mengudangku! Bukan ibumu!”

“Hahahaha.., mianhae, Oppa…”

“Aku datang bersama Shin Hye.”

“Kyaaaaa! Benarkah? Jadi kalian pacaran?” tanyaku antusias. Sejak aku tahu sepupuku dan Shin Hye bermain dalam drama The Heirs, aku sangat senang. Aku menyukai Shin Hye. Dia sahabat baik Geun Suk Oppa sejak dulu.

“Tidak. Kami hanya berteman. Sudah ya, aku tutup teleponnya. Kau tidak mau kan aku datang ke pestamu dengan penuh perban karena kecelakaan.”

“Jangan bicara sembarangan!” tukasku kesal. Kadang aku merasa sepupuku itu seperti anak kecil. Padahal umurnya jauh lebih tua dariku.

Aku meletakkan ponselku di atas meja rias. Tiba-tiba pintu terbuka. Il Hoon menatapku lewat cermin. Dia terlihat berbeda dengan setelan tuksedo hitam-nya. Membuatnya terlihat lebih dewasa.

“Kau sudah siap?” tanyanya. Aku bisa mendengar nada tegang dari suaranya.

Aku mengangguk lalu berdiri. Aku mengulurkan tanganku. “1 tahun.” Kataku dengan nada datar.

“Kuharap 1 tahun segera berlalu.” Gumam Ilhoon kesal. Dia menjabat tanganku dengan keras. Aku balas meremas tangannya dengan sekuat tenaga, berusaha meremukkan tulang-tulangnya. Ilhoon membelalakkan matanya padaku. Jelas barusan dia merasa kesakitan! Aku tertawa terbahak-bahak. Lalu tanpa kuduga, Ilhoon tersenyum. Senyumannya terasa berbeda. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Kenapa senyumannya terasa tidak asing?!

************

Aku tahu Mrs.Jung dan ibuku pasti akan membuat pesta mewah, tapi aku tidak menyangka akan semewah ini! Penghamburan uang saja sih! Tidak perlu kan sampai menyewa aneka patung emas berbentuk peri mungil bersayap untuk menghiasi ballroom! Tidak perlu juga menghiasi kursi-ku dan kursi Ilhoon dengan berlian!

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Ibuku sepertinya sangat cocok dengan ibumu. Pesta ini terlalu berlebihan.” tukasku kesal. Ilhoon hanya mengangkat bahunya cuek.

Begitu keluar dari ruang rias, aku dan Ilhoon bergandengan tangan sambil tersenyum lebar. Drama kami akan dimulai sejak malam ini.

Puluhan flash kamera membuat mataku silau. Semua tamu undangan menyapaku dengan hangat. Aku tidak memerhatikan apa yang ayahku dan Tuan Jung katakan kepada para tamu undangan. Aku merasa seperti robot. Saat Tuan Jung memanggil namaku dan Ilhoon, kami berdiri dan membungkukkan badan kami kepada para tamu. Tak lupa senyuman lebar palsu tersungging di wajahku. Untunglah aku tidak perlu mengatakan apapun pada para tamu undangan. Ayahku dan Mr.Jung sudah mengatasi semuanya.

Tamu undangan yang hadir tentu saja hampir seluruhnya adalah rekan bisnis perusahaanku dan Mr.Jung. Beberapa sepupu Ilhoon hadir. Bahkan teman-teman BTOB nya pun datang. Aku bisa melihat wajah kesal Sungjae. Sepertinya si maknae masih merasa dikhianati oleh Ilhoon karena Ilhoon tidak memberitahukan hal ini padanya sejak dulu. Ilhoon memang menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya dari semua orang. Tapi gara-gara pertunangan ini, dia terpaksa jadi membocorkan rahasianya pada sahabat-sahabat BTOB-nya. Karena bagaimanapun juga, mereka akan tahu lewat media massa nanti. Jadi lebih baik Ilhoon memberitahu mereka lebih dulu.

Aku melihat Minho Oppa datang bersama Park Shin Hye. Mereka tersenyum lebar sambil melambaikan tangan padaku. Aku balas tersenyum.

Setelah acara “sambutan” dari ayahku dan Mr.Jung, aku dan Ilhoon berdiri, lalu satu per satu tamu undangan mendekati kami dan mengucapkan selamat pada kami. Ratusan aneka makanan dan minuman mulai dihidangkan. Aku mengambil segelas wine saat seorang pelayan yang membawa nampan berisi wine lewat dihadapanku.

“Kupikir kau tidak suka wine.” Kata Ilhoon.

Aku hanya mengangkat bahu. Para tamu mulai menikmati hidangan yang disajikan. BTOB mendekati kami dan mulai heboh memberi selamat. Changsub bahkan sampai membuat rap freestyle untukku. Eunkwang dan Hyunsik menyanyikan sebagian lirik dari lagu “Melody”. Sementara Minhyuk dan Peniel hanya bertepuk tangan sambil tertawa lebar. Sungjae masih menatap Ilhoon dengan wajah cemberut.

“Sungjae ~yah! Kau cemburu padaku karena aku mengambil Ilhoon-mu?” godaku pada Sungjae.

Sungjae memonyongkan bibirnya dan menggeleng. “Tidak. Aku hanya masih merasa kesal karena Ilhoon hyung tidak memberitahuku sejak dulu kalau dia adalah pewaris Jung Grup. Kalau aku tahu dari dulu kan….aku tidak perlu bayar saat aku belanja di mall-nya!”

Kami semua tertawa. Ilhoon melingkarkan lengannya di leher Sungjae, pura-pura mematahkan lehernya. Sungjae nyengir lebar. “Nuna, selamat ya! Aku senang kau menjadi kakak ipar kami.” Kata Sungjae dengan tulus.

Aku tersenyum. “Gomawo, Sungjae~yah. Kau cepatlah bertunangan dengan Peniel!”

Sungjae dan Peniel langsung menatapku garang, sementara yang lain tertawa terbahak-bahak. Sepertinya satu hal yang bagus dari pertunangan ini adalah : aku memiliki “adik” seperti Sungjae. Sebagai anak tunggal, aku senang bisa memiliki “saudara baru” seperti BTOB.

********

Mulutku terasa kaku karena terlalu sering tersenyum. Benar-benar malam yang melelahkan! Kenapa malam ini terasa sangat panjang sih?!

Ilhoon makan bersama dengan teman-teman BTOB-nya, sementara aku mengobrol bersama Shin Hye dan Minho Oppa. Sepupuku yang satu lagi, Lee Seung Gi Oppa, datang terlambat. Aku pura-pura marah padanya karena dia baru datang di saat pesta akan segera berakhir. Sebagai permintaan maafnya, Seung Gi Oppa bernyanyi banyak sekali lagu. Aku sangat suka mendengar suara merdunya.

Di saat aku sedang fokus melihat penampilan Seung Gi Oppa di atas panggung kecil di depan sana, tiba-tiba saja aku mendengar suara yang sudah kukenal seumur hidupku.

“Min Ah~ya. Kau…benar-benar Lee Min Ah?”

Aku membalikkan badanku. “Op…Oppa?” mataku membelalak lebar. Tidak menyangka Geun Suk Oppa akan datang. Kenapa dia datang? Siapa yang mengundangnya?

Air mataku mulai mendesak ingin keluar. Aku merindukkan suaranya, wajahnya, pelukannya. Tapi aku hanya bisa terdiam mematung menatapnya. Geun Suk Oppa menatapku tanpa ekspresi. Seolah ia sendiri pun kaget melihatku di sini.

“Oh, Geun Sukkie~” Mrs.Jung mendekati kami lalu memeluk Geun Suk Oppa. Geun Suk Oppa terlihat tak nyaman.

“Terima kasih, Geun Sukkie, kau jauh-jauh datang kemari dari Tokyo demi adikmu.” Mrs. Jung menyentuh pipi Geun Suk Oppa penuh sayang.

“Adik?” tanyaku tak mengerti.

“Hyung!” Ilhoon berjalan menghampiri kami. Geun Suk tersenyum pada Ilhoon. Mereka berpelukan sekilas, tapi aku bisa melihat raut wajah keduanya tidak terlihat senang. Apakah hubungan mereka tidak baik?

Mataku masih membelalak lebar. Dadaku berdebar keras. Tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapanku saat ini.

“Min Ah, ini Geun Suk. Dia anakku yang pertama, dari pernikahan pertamaku.” Mrs.Jung tersenyum hangat padaku.

Aku dan Geun Suk hanya bertatapan lama sekali. Aku merasakan tangan Minho Oppa meremas pundakku. Dia berdehem keras, lalu berbicara pada Geun Suk. “Geun Suk~yah, sudah lama kita tidak bertemu. Ceritakan padaku tentang album Jepang barumu. Kau mau minum?” Minho Oppa merangkul pundak Geun Suk dan mereka pun berjalan menjauh.

Aku masih menatap punggung Geun Suk Oppa yang semakin menjauh. Dadaku terasa sesak. Ternyata aku memang masih belum melupakannya.

Kenapa GeunSuk oppa tidak mengatakan apapun padaku? Apakah dia tidak peduli kalau sekarang aku bertunangan? Apakah dia memang sudah berhenti menyukaiku? Sepertinya begitu. Mungkin dia memang membenciku karena dulu aku meninggalkannya demi perusahaan ayahku.

Aku masih tidak percaya ternyata Geun Suk Oppa adalah kakak Ilhoon! Aku melirik Ilhoon, dia mengangkat sebelah alis matanya dan balas menatapku dengan heran. Pantas saja aku merasa senyuman Ilhoon tidak asing. Senyumnya, saat dia tersenyum dengan tulus, terlihat sama dengan senyuman Geun Suk Oppa!

Aku menghela nafas berkali-kali, mencoba mengendalikan perasaan dan emosiku. Meskipun saat ini ingin sekali rasanya aku berlari dan memeluk Geun Suk Oppa, berkata padanya aku sangat merindukannya, memohon padanya untuk memaafkanku karena dulu aku meninggalkannya, tapi aku harus bisa mengendalikan diriku. Aku tidak boleh mengacaukan pesta ini!

Lee Min Ah, sadarlah! Semua ini kau lakukan demi ayah dan ibumu. Juga demi perusahaanmu! Bukankah sejak dulu kau memang sudah terbiasa mengabaikan perasaanmu? Lalu kenapa sekarang kau harus merasa goyah?! Aku terus berbicara pada diriku sendiri dalam hati.

Geun Suk Oppa berbalik, menatapku, lalu tersenyum lebar dengan senyuman khas-nya. Senyuman yang sangat kurindukan. Aku memalingkan wajahku dan membalikkan badanku. Aku tidak ingin dia melihat sebulir air mata jatuh di pipiku. Tapi terlambat, sepertinya dia melihatnya, karena kini dia berjalan setengah berlari ke arahku.

Tanpa mengatakan apapun, GeunSuk Oppa menarik tangan kiriku. Tiba-tiba saja Ilhoon menggenggam tangan kananku dan menahanku pergi. Geun Suk Oppa dan Ilhoon saling bertatapan dengan tajam.

Aku menatap Geun Suk Oppa dan Ilhoon bergantian. Tentu saja aku tahu apa yang kuinginkan! Aku ingin memeluk Geun Suk Oppa dan melupakan semua kegilaan ini! Tapi kemudian, dari kejauhan, aku melihat kedua orangtuaku tersenyum lebar sambil mengobrol dengan orangtua Ilhoon. Aku tidak mungkin bersikap egois.

Aku melepaskan genggaman tangan Geun Suk Oppa dan tangan Ilhoon dari tanganku, kemudian berjalan cepat menuju ruang rias, mengunci pintunya, dan menangis dengan keras menumpahkan semua perasaan yang tak bisa kukatakan.

***********

Entah sudah berapa lama aku menangis. 30 menit? 1 jam? Aku mendengar suara pintu ruang rias diketuk berkali-kali. Pertama aku mendengar suara Ilhoon, lalu suara ibuku. Aku mengabaikan mereka sampai beberapa menit kemudian aku mendengar suara Minho Oppa. Ketika aku berjalan menuju pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Rupanya Minho Oppa meminta petugas hotel untuk membuka pintu dengan kunci cadangan.

Minho oppa masuk, menutup pintu, dan langsung memelukku. “Barbie, gwenchana?” tanyanya khawatir. Aku hanya mengangguk.

“Pestanya…..”

“Para tamu sudah pulang. Aku memberitahu ayahmu untuk memberitahu semua orang bahwa kau sedang tidak enak badan sehingga kau tidak bisa menghadiri pesta sampai akhir. Kau menghilang selama hampir 2 jam! Kau harus berterimakasih padaku karena aku melarang tunanganmu dan ibumu untuk menemuimu begitu kau pergi tadi. Aku tahu kau sedang ingin sendiri.”

Aku tersenyum tipis. Sepupuku ini memang paling mengerti diriku. “Gomawo, Oppa.”

Minho oppa mengacak-acak rambutku penuh sayang. “Jangan terlalu dipikirkan. Hey, meskipun aku masih menganggap keputusanmu ini gila, tapi….kurasa…tunangan pura-puramu itu cukup oke.”

Aku mendengus. “Oke apanya?!”

Minho oppa tertawa. “Ayo, aku antar kau pulang. Ayah dan ibumu menginap di sini. Kau mau menemui mereka?”

Aku menggeleng. “Besok pagi saja. Aku tidak ingin mereka melihat wajahku yang jelek karena terlalu lama menangis.”

Minho oppa melepas jas yang ia kenakan, lalu memakaikannya di pundakku. Dia juga mengeluarkan kacamata hitam dan memakaikannya di wajahku. “Matamu yang jelek tidak akan terlihat. Ayo, temui paman dan bibi dulu. Mereka pasti khawatir.”

Aku pun akhirnya menuruti kata-kata sepupuku itu. Kami naik lift ke lantai 30, tempat di mana ayah dan ibuku menginap di kamar special. Hotel ini milik ayahku, dan ada 2 kamar khusus di lantai paling atas yang tidak pernah disewakan kepada siapapun. Kamar khusus untuk kami dan keluarga kami. Kamar itu disebut presidential room.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. “Shin Hye…?”

“Dia sudah pulang diantar Geun Suk.” Minho oppa lalu berdehem keras, sadar barusan dia malah menyebut nama Geun Suk Oppa.

Orangtuaku, orangtua Ilhoon, dan Ilhoon ternyata sedang duduk sambil meminum wine di ruang tengah lantai 30 yang memisahkan kedua kamar presidential. Mereka langsung berdiri begitu melihatku datang.

“Minah sayang~ kau baik-baik saja?” ibuku menatapku dengan cemas.

“Aku…errr…, masuk angin dan mataku infeksi.” Kataku. Sepertinya aku memang cocok jadi aktris ya?! Aku pandai berpura-pura.

“Aku akan menelepon Dr.Choi…” kata ayahku sambil mengeluarkan ponselnya.

“Tidak usah, Appa! Aku baik-baik saja. Aku ingin pulang dan tidur.”

“Sungguh? Kau tidak apa-apa?” Mrs.Jung mengelus-elus lenganku. Aku tersenyum dan mengangguk. Mrs.Jung langsung memelukku. “Maafkan aku, Minah sayang…, aku tahu semua ini pasti berat bagimu.”

“Jangan berkata begitu, Mrs.Jung, semua ini bukan salahmu….Anda tidak perlu meminta maaf.”

“Aigoo~ kau harus memanggilku omonim sekarang.” Mrs.Jung mencubit pipiku pelan.

Aku tersenyum. “Ne, ommonim.”

“Nah, begitu baru benar. Ilhoonie, kau antar Minah pulang ya…”

“Tidak usah, Omonim. Minho Oppa akan mengantarku.”

“Aku tidak bisa mengantarmu.” Kata Minho Oppa tiba-tiba. Aku langsung menatapnya dengan tajam dari balik kacamata hitamku. Dasar pengkhianat! Minho oppa hanya nyengir lebar dengan sorot mata jahil. Dia mencubit kedua pipiku dan menggoyang-goyang pipiku ke kanan dan kiri. “Yaahhhh.., sepupuku kan sudah bertunangan, tentu saja kau harus mengandalkan tunanganmu. Jangan bergantung padaku lagi.”

“Aku tidak pernah bergantung padamu!” tukasku dingin. Minho oppa tertawa lalu menepuk-nepuk pundak Ilhoon. “Jaga sepupuku yang jutek ini, oke?”

“Ne, hyung.” Ilhoon mengangguk.

“Besok sebelum aku dan ayahmu pulang ke LA, kita makan siang bersama ya, Minah  sayang.” Ibuku memelukku dan mengecup pipiku. Ayahku, Mrs.Jung, dan Mr.Jung juga bergantian memelukku.

“Hati-hati menyetirnya ya, Ilhoonie.” Kata Mrs. Jung.

“Bagaimana kalau Ilhoon menginap saja di rumah Min Ah?” mata ibuku berbinar cerah.

“MOM!”

Semua orang tertawa kecuali aku dan Ilhoon.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kalian terlalu banyak minum wine.” Kataku pada kedua orangtuaku.

“Ayo!” kataku pada Ilhoon. Kami pun berjalan menuju lift. Lift turun membawa kami ke lantai 1. Mobil Ilhoon sudah siap di depan pintu lobi hotel.

Selama di perjalanan menuju rumahku, kami hanya terdiam. Aku tidak tahu apa yang Ilhoon pikirkan tentangku di pesta tadi. Aku juga tidak peduli! Terlebih lagi, aku sedang tidak ingin membahas Geun Suk oppa. Membahasnya hanya akan membuat pendirianku goyah. Aku harus melupakannya! Itulah satu-satunya cara agar aku bisa menjalani “drama” ini dengan baik.

Gonggongan Freddy menyambutku. Begitu aku akan keluar dari dalam mobil, Ilhoon menahan lenganku. “Kau yakin tidak akan bunuh diri di dalam sana kan?”

“MWO? YAH! Jangan berkata yang aneh-aneh! Kenapa aku harus bunuh diri?!” tukasku kesal.

Tanpa kuduga Ilhoon mencopot kacamata hitam yang kukenakan. “Kau bukan sakit mata karena infeksi, tapi matamu bengkak dan merah karena menangis sangat lama saat pesta tadi. Aku heran mengapa orangtua kita begitu bodoh dengan mempercayai kata-katamu.”

Aku terdiam dan menghela nafas panjang. “Aku bukan orang tolol yang akan membunuh diriku sendiri hanya karena hal konyol seperti itu, oke?!” Aku menepis tangan Ilhoon dari lenganku.

“Yah! Kenapa sih kau begitu keras kepala, dingin, dan menyebalkan?!” tukas Ilhoon kesal.

“Katakan kalimat itu pada dirimu sendiri, Jung Il Hoon!”

Ilhoon menghela nafas. “Aku hanya khawatir. Aku bukan orang tolol seperti yang kau pikirkan! Aku bisa menebak apa alasan kau menangis. Geun Suk hyung…”

Pandangan mataku mengeras. “Jangan sebut namanya.” Gertak-ku.

Ilhoon mengangkat kedua tangannya. “Oke..oke…”

Aku melirik jam digital di dashboard mobil. Pukul 1 malam. Besok hari minggu. Aku bisa bangun siang!

“Mau pergi ke pantai?” tanya Ilhoon tiba-tiba.

“Mwo?”

“Kita akan tiba di sana sebelum matahari terbit. Aku ingin melihat matahari terbit.”

Aku mendengus. “Kau sangat random, kau tahu?”

Ilhoon mengangkat bahu. “Orang random sepertimu berkata aku random sangatlah lucu!” sindir Ilhoon. “Sama seperti aku yang bipolar menyebutmu bipolar. Yah! Tidakkah kau sadar sifat kita sangat mirip?”

Aku mendengus. “Kau menyebalkan!”

“Kau juga menyebalkan!”

“Panggil aku nuna!”

“Kenapa?” Ilhoon menyeringai.

“Karena aku lebih tua 4 tahun darimu, adik kecil.” Aku tersenyum, tapi mataku memancarkan sorot mengerikan.

“Kau aneh! Biasanya perempuan tidak suka dipanggil nuna oleh pacarnya, meskipun dia lebih tua.”

“Kau bukan pacarku!”

Ilhoon menyeringai. “Memang bukan. Tapi aku tunanganmu. Sudahlah! Berdebat denganmu tidak akan ada habisnya! Sampai dunia kiamat pun kita tidak akan mencapai kesepakatan bersama.” Ilhoon berkata sok bijak seperti seorang hakim yang tengah melerai pertengkaran para jaksa di pengadilan.

“Jangan sok pintar!”

“Aku memang pintar. Coba kau tanya apa saja padaku. Soal-soal matematika se-sulit apapun bisa kujawab dengan mudah. Kalkulus? Aljabar? Itu semua mudah saja bagiku.” Kata Ilhoon dengan percaya diri.

Aku mendengus tak percaya. “Sudahlah! Tidak penting kau ini pintar atau tidak! Jadi ke pantai tidak?”

Ilhoon menatapku sambil mengangguk. “Kau sangat random.” Ilhoon mengopy kata-kataku.

“Bicara di depan cermin sana! Aku mau tidur. Bangunkan aku kalau sudah sampai.” Aku mengatur posisi kursi sehingga aku bisa menyandarkan punggungku dengan nyaman dan rilex.

“Saat kau bangun nanti, kau akan mendapati dirimu berada di atas pasir. Aku akan meninggalkanmu di sana dan pulang sendirian.” Gumam Ilhoon.

“Tidak mungkin! Meskipun kau menyebalkan, kau bukan orang jahat yang akan meninggalkanku begitu saja. Benar kan? Sudah, jangan bicara lagi! Menyetir yang benar! Aku mau tidur.” Kataku dengan mata terpejam. Kata-kataku barusan sukses membuat Ilhoon yang bawel jadi terdiam.

Malam ini memang benar-benar panjang.

*************

“Yah! Yah! Bangun!” aku merasakan seseorang menusuk-nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.

Aku membuka mataku dan menatap Ilhoon dari jarak dekat. Laser glared andalanku sudah terpasang. “Aku punya nama! Jangan panggil aku ‘Yah!’ panggil namaku! Atau lebih baik lagi kalau kau memanggilku nuna. Kau sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua!” cerocosku kesal tanpa henti.

“Woah..woah…tenang…tenaaang….” Ilhoon mengangkat kedua tangannya. Menyerah. “Sepertinya kau sedang PMS. Aku akan berhati-hati dengan ucapanku. Ayo turun! 30 menit lagi matahari terbit.”

Aku mengucek-ngucek mataku, membuka pintu mobil, dan seketika angin pantai yang dingin dan asin menerpa wajahku. Suasana di sekitar kami masih gelap. Tentu saja, matahari kan belum muncul!

“Aku mau beli kembang api.” Kata Ilhoon.

Aku mendengus. “Dasar anak kecil!”

Ilhoon mengabaikan ejekanku. Dia melemparkan kunci mobil padaku. “Tunggu di sini. Atau kunci pintunya saat kau keluar nanti.”

“Tunggu! Aku ikut!” cepat-cepat aku keluar dan mengunci mobil.

Ilhoon menyeringai. “Kau selalu meledekku takut anjing. Lihat siapa sekarang yang ketakutan! Hahahaha. Kau takut gelap ya? Atau takut hantu?”

Aku tidak menjawabnya dan memutuskan untuk berjalan lebih cepat mendahului Ilhoon. Aku tidak suka gelap!

Ilhoon membeli banyak sekali kembang api di convenience store dekat pantai. Toko ini menjual banyak sekali jenis kembang api. Sepertinya orang-orang yang datang kemari memang sering membeli kembang api ya?

Aku membeli mie instan, cokelat, dan kopi. Aku bukan tipe orang yang membatasi makanan hanya untuk menjaga tubuhku tetap langsing. Prinsipku tentang makanan adalah : makan apapun yang kau inginkan, tapi setelahnya buang semua kalori itu dengan berolahraga.

“Kau tidak membeli makanan?” tanyaku. Ilhoon hanya membeli kembang api.

“Tidak lapar.” Jawabnya singkat. “Ayo.” Setelah membayar di kasir, kami pun berjalan menuju pantai. Aku tahu makan sambil berjalan itu tidak baik, tapi aku benar-benar kelaparan! Aku menyesal saat di pesta tadi tidak memakan banyak makanan.

Ilhoon mulai menyalakan kembang api. Aku memutuskan untuk duduk di pasir sambil memakan mie instan-ku.

“Yuhuuuuuu….!” Ilhoon berseru senang saat kembang api-nya pecah di angkasa, membuat suasana gelap di sekitar kami menjadi indah dengan warna-warni di langit. Mau tak mau aku tersenyum.

Ilhoon terus menyalakan banyak sekali kembang api. Dia bahkan memainkan kembang api kecil yang memiliki pegangan. Dia memutar-mutar kembang api itu sehingga membentuk pola indah.

“Hahahaha…hahaha…Yah! Lee Min Ah! Kau tidak mau main?” teriak Ilhoon.

Aku bangkit berdiri. Meletakkan mie instan-ku di atas pasir dan memutuskan untuk bergabung dengan Ilhoon. Sekali-sekali, tidak ada salahnya bermain bersama anak kecil, kan?!

Aku tidak pernah mengira ternyata bermain kembang api sangat menyenangkan. Mungkin memang benar, seumur hidupku, aku terlalu serius dengan segala hal. Aku tidak membiarkan diriku bersenang-senang. Hidupku selalu dipenuhi dengan buku dan pekerjaan.

Aku tertawa terbahak-bahak saat Ilhoon menutup telinganya karena aku menyalakan kembang api besar yang meluncur ke angkasa dan menimbulkan suara meledak yang sangat keras. “Payah!” cibirku.

30 menit terasa sangat cepat. “Oh! Matahari!” seru Ilhoon senang sambil tersenyum lebar. Ia berlari di atas pasir, mendekati bibir pantai, seolah mendekati sang surya yang muncul perlahan. Semburat kuning lembut perlahan mulai terang. Aku berlari mengikuti Ilhoon lalu berdiri di sampingnya sambil menatap takjub ke arah matahari terbit.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat matahari terbit di pantai. Pertama kalinya aku merasa bebas seolah tidak memiliki beban, seolah hari esok itu tidak pernah ada, seolah hanya hari inilah yang kumiliki dan aku tidak peduli apa yang akan terjadi besok. Ya, perasaan aneh semacam itulah.

Ilhoon tertawa lebar sambil menolehkan wajahnya padaku. Aku ikut tersenyum. Bermain bersama anak kecil ternyata bisa membuatku melupakan rasa stress-ku.

“Foto-foto! Mana ponselmu?” Ilhoon berjingkrak-jingkrak girang dan tak sabar.

“Di mobil.”

Ilhoon cemberut. “Ponselku juga di mobil. Cepat ambil!”

Aku mendelik kesal. “Kau saja yang ambil ponselmu!”

“Aku mau melihat matahari!”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Oke…oke. Aku tahu, aku harus mengalah pada anak kecil.”

“Aku bukan anak kecil!” protes Ilhoon.

Aku mengibaskan tanganku. “Diamlah, dongsaeng! Nuna akan mengambillkannya untukmu.” Aku berjinjit dan menepuk-nepuk kepala Ilhoon, lalu berbalik dan berjalan pergi.

“YAH! Aku bukan dongsaengmu!” teriak Ilhoon, tapi aku mengabaikannya dan terus saja berjalan menuju mobil Ilhoon yang diparkir cukup jauh dari pantai.

Beep…beep…

Aku membuka pintu mobil dan mengambil ponselku. Aku mengerutkan keningku. Banyak sekali panggilan tak terjawab. Tunggu! Nomor ini…., bukankah ini nomor ponsel-nya…..

“Minah~ya….”

Aku terlonjak kaget lalu membalikkan badanku dan melihat Geun Suk oppa sudah berdiri di hadapanku. “Oppa? Kenapa kau bisa ada di sini?”

Tanpa mengatakan apapun, Geun Suk oppa langsung memelukku dengan erat. “Op..oppa…”

Geun Suk oppa membenamkan wajahnya di leherku. “Aku merindukanmu…” bisik Geun Suk oppa.

Aku membelalakkan mataku. “Benarkah?” tanyaku tak percaya. “Bukankah kau membenciku?”

Geun Suk oppa melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat. “Aku memang membencimu, tapi aku merindukanmu.”

Aku hanya terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa.

“Ayo pulang ke Seoul.” Geun Suk oppa menggenggam tanganku.

“Yah!” tiba-tiba saja Ilhoon datang. “Kau meninggalkan sepatumu di pasir.”

Aku menatap kakiku yang telanjang. Benar juga! Tadi kan aku berlarian di pasir tanpa memakai sepatu.

Ilhoon sama sekali tidak bertanya mengapa Geun Suk oppa ada di sini. Dia berjongkok di hadapanku dan memakaikan sepatu di kakiku.

Setelah memakaikan sepatuku, Ilhoon pun berdiri dan langsung menatap kakak satu ibunya, Geun Suk. “Kau sudah datang.” Katanya datar.

Ilhoon lalu menatapku. Ekspresi childish yang ia perlihatkan saat bermain kembang api dan melihat matahari terbit tadi kini sudah lenyap. Jung Ilhoon kembali menjadi Jung Ilhoon yang biasanya. “Aku yang memberitahunya. Pergilah, Lee Min Ah. Saat aku melihatmu lagi nanti, jangan memasang tampang merana seperti ini lagi.”

Ilhoon menatap Geun Suk. “Kau punya waktu sampai jam 1 siang. Kami harus makan siang bersama ayah dan ibu kami.”

Geun Suk menggertakkan giginya, menahan emosi. “Kenapa aku harus menuruti kata-katamu?”

Ilhoon menyeringai. “Hyung? Kau tidak mengalami amnesia kan? Bukankah tadi malam kau baru saja datang ke pesta pertunangan kami?”

“Kalian tidak benar-benar bertunangan. Kalian bahkan tidak saling menyukai. Semua itu karena ayahmu kan?” Geun Suk menatap Ilhoon dengan tajam dan dingin.

Ilhoon tertawa. “Lalu kenapa? Dia tetap tunanganku.”

Selama beberapa saat mereka berdua hanya saling tatap dengan ekspresi gelap. Seolah tatapan mereka bisa saling membunuh.

“Dan sebagai tunangannya, aku mengizinkanmu membawanya pergi. Ingat hyung, Jam 1 siang, di restoran ayahku.” Setelah mengatakan itu, Ilhoon pun masuk ke dalam mobilnya.

“Yah! Jung Ilhoon!” aku menggedor-gedor kaca jendela mobilnya.

Ilhoon mengibaskan tangannya, menyuruhku pergi. Ilhoon pun langsung tancap gas dan meninggalkanku begitu saja bersama Geun Suk oppa.

Aneh. Seharusnya aku merasa bahagia bisa bersama Geun Suk oppa hari ini kan? Meski hanya sampai jam 1 siang!

Tapi kenapa ada perasaan aneh di hatiku saat melihat Ilhoon pergi begitu saja meninggalkanku?! Mungkin aku merasa seperti seorang anak anjing yang ditinggalkan pemiliknya saat sedang bermain. Ya, pasti begitu.

===== TBC ====

Holla! Lamaaaa banget yaaa gw nggak update FF ini. Hahahaha.

Mungkin kalian juga udah lupa sama cerita ini. LOL.

BTOB comeback! >_< ! Yeay!❤

Gw nunggu Reality Show mereka yang baru! Kyaaaaa…, pasti seruuuuuuu.

Udah kangen banget liat kekonyolan-kekonyolan ketujuh pria itu.

Thanks yaa yang udah nungguin cerita ini sampai jamuran, sampai demo segala di twitter. Wkwkwk.

Jangan lupa tinggalkan komentar, oke?

Oh ya, bayar yaaa pake Sungjae & Peniel! Kirimin mereka ke rumah gw! LOL

*Dan kemudian gw kabur* * Takut didemo reader lain yang nungguin FF lainnya*

#BanyakHutangFF

Ilhoon selca

Ilhoon ultah

Ilhoon tumblr

4 thoughts on “I Don’t Know Why (Chapter 3)

  1. Muehehe…. gua ikutan demoo..#towelkakkunang. Kkk
    Yatta!! Akhrnya apdeet…. kangen sama Ilhoon. Ahaha… *djitakkakazumi
    aaak… geunsuk buang ajaaa.. haha… sungjaenya masih dbwh umur gaboleh tunangan dulu sama peniel, tar kalo udh gede bru boleh.#eh. Haha…
    “Kau sangat random”
    Mueehe… makasih ilhoon, lu tau gue bgt sih? #ditendangauthor. Haha
    Stage 3 clear… nunggu chap lanjutannya niiiih… aahahaha
    Ini jadiin novel aja eonni… tinggal ganti nama karakter. Murhehe.. kalo tetbit kirim ke aku 1, gratis tp. Kkkk… #abaikan

    • wkwkwkwk…..,
      kmu biasnya Ilhoon apa sungjae? hohoho
      aduh kasian jangan dibuang geunsuk nya, mending aku bawa pulang aja k rumah. LOL
      hahaha…iya…nanti sungjae sama peniel tunangannya klo sungjae udh gede ya.😄

      aneh klo jadiin novel. Drama bangeettt ini.😄

  2. woww ff nya keren bingittt ^_^ …. daebakk deh pkok’a ..
    aku readers bru disini #pura”amnesia #plakk #abaikan😀 ditnggu deh klanjutan nya kkkk😀 o’iya kpn ni mau di lanjut FS nya ud nunggu smpe jamuran ni kekeke
    keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s