Powerless (Chapter 1)

Image

 

Title                 : Powerless

Author               : Azumi Aozora

Main Cast       : Kim Mi Rae (OC), Lee Hong Bin (VIXX), Zelo (B.A.P), Kai (EXO)

Support Cast  : Song Joong Ki, VIXX, B.A.P, EXO, SNSD, and f(x) members

Genre              : fantasy, romance, friendship, AU, school life

Rating             : PG+15

Length              : Series

Summary        : ROVIX Senior High School bukanlah sekolah biasa, melainkan sekolah special untuk orang-orang yang memiliki kekuatan super. Terletak di Planet Mato yang berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi, ROVIX School memiliki banyak sekali murid dari berbagai planet di seluruh jagad raya. Apa yang terjadi jika suatu hari, Kim Mi Rae, gadis bumi biasa, manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan super apapun, tiba-tiba saja mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di ROVIX School? Sanggupkah ia bertahan? Apa yang akan ia lakukan di saat semua murid membencinya dan melakukan berbagai cara agar ia dikeluarkan dari sekolah?

Disclaimer       : Cerita ini hanya fan-fiksi. Tokoh-tokohnya K-Pop, karakternya ada yang sesuai asli ada juga yang tidak. Ide dan alur cerita milik author, dilarang copas / plagiat! Just enjoy the story as a fans. ^_^.

Link Pengenalan ROVIX School : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2014/02/13/powerless-teaser/

~=== Chapter 1 ===~

 

Hidupku normal. Itulah yang kupikirkan sebelumnya. Aku murid kelas 1 senior high school biasa. Tidak terlalu pintar, namun juga tidak bodoh. Aku memiliki beberapa orang teman perempuan. Aku kadang “ngeceng” kakak kelas di sekolah. Kadang aku semangat belajar, kadang malas. Yah, kehidupan-kehidupan normal remaja pada umumnya.

Tapi sejak siang itu, entah kenapa rasanya hidupku menjadi “berbeda”. Aku tahu ada sesuatu yang salah. Mungkin seharusnya saat itu aku menghindari pria aneh itu.

Sabtu siang di musim panas, aku pergi ke supermarket untuk membeli barang-barang yang kubutuhkan di asrama selama 1 bulan ke depan. Sabun, shampoo, pasta gigi, handbody lotion, pelembab wajah, parfum, lipgloss, persediaan makanan ringan, susu, buah-buahan, makanan kaleng, ramyun instan, kimchee, dan lain-lain.

Sudah selama 2 tahun ini aku tinggal di asrama sekolah karena ayah dan ibuku harus pindah kerja ke Tokyo. Aku tidak mau ikut pindah karena aku sudah terlanjur menyukai sekolahku ini. Hankuk High School. Sejak junior high sampai sekarang senior high, aku selalu sekolah di Hankuk. Bedanya, dulu aku tidak tinggal di asrama melainkan di rumah. Lebih baik aku tinggal di asrama sekarang daripada ikut pindah ke Tokyo bersama ayah dan ibuku. Aku tidak bisa bahasa Jepang dan aku terlalu malas untuk menyesuaikan diri lagi di lingkungan baru. Sekolahku yang sekarang sudah sangat nyaman.

“Apa nama benda itu?” tanya seorang pria tinggi berambut hitam agak ikal. Gaya berpakaiannya sangat aneh dan nyentrik. Dia memakai baju tebal berlapis-lapis padahal sekarang sedang puncak musim panas. Lehernya dibelit oleh syal warna-warni.

Pria itu masih menunjuk ice cream yang kupegang dengan wajah bingung. Aku baru saja selesai belanja semua perlengkapan hidupku selama 1 bulan ke depan dan memutuskan untuk memakan ice cream mango yang kubeli sambil menunggu bus datang, kemudian aku melihat pria aneh ini.

“Ice cream.” Kataku sambil memerhatikan pria itu lekat-lekat. Umurnya pasti tak lebih dari 20 tahunan.

“Kau mau?” tanyaku.

Wajah pria aneh itu langsung berbinar cerah. “Apakah itu bisa dimakan? Enak?”

Aku mengernyitkan keningku. “Tentu saja. Sangat enak.”

Tanpa mengatakan apapun, apalagi kata-kata terima kasih, pria aneh itu langsung merebut ice cream yang kupegang dan memakannya dengan lahap. Mau tak mau aku tersenyum melihatnya. Aneh sekali orang ini tidak tahu makanan se-lezat ice cream! Semua orang tahu ice cream dan menyukai ice cream!

“Kau mau lagi? Ini, ambilah.” Aku pun menyerahkan 3 bungkus ice cream yang tersisa. Tadi aku membeli 4 bungkus untukku dan teman-teman asrama-ku.

“Waaahh, terima kasih.” Pria itu tersenyum lebar dan langsung meraih ice cream yang kuberikan. Aku membelalakkan mataku saat pria itu memakannya dengan sangat cepat. Dalam waktu kurang dari 30 detik, pria aneh itu sudah menghabiskan 4 buah ice cream! Dia pasti bisa masuk buku rekor dunia sebagai pemakan ice cream tercepat!

“Kau harus masuk ROVIX School. Aku akan memberikanmu beasiswa. Kau tidak usah bayar sama sekali.” Kata Pria itu setelah memakan ice cream.

“Rovix school?”

“Hmmm. Letaknya di planet Mato. Sekolah yang sangat luar biasa dan bla..bla…bla…bla..”

Aku tidak lagi memperhatikan kata-kata pria ini. Pria ini pasti gila! Ya! Itulah sebabnya dia tidak tahu ice cream, memakai pakaian aneh, dan bicara tentang sekolah yang berada di planet lain seolah-olah alien itu memang ada!

Cepat-cepat aku meninggalkan pria gila itu. Tanpa kuduga, mulai saat itu hidupku tidak pernah tenang lagi.

Harusnya saat itu aku tidak mengobrol dengan pria aneh itu dan memberinya ice cream!

********

Pria nyentrik yang memakai syal warna-warni itu selalu muncul di tempat-tempat tak terduga. Di sekolah, di tempat les, di bioskop, di depan asrama. Aku tidak tahu mengapa dia bisa tahu dimana aku berada. Awalnya aku takut dia adalah seorang psikopat yang membuntutiku untuk kemudian membunuhku dan memutilasi tubuhku. Oke, aku tahu aku berlebihan! Tapi bayangkan saja ada pria yang tidak kau kenal tiba-tiba saja selalu muncul dimanapun kau berada! Sangat mengerikan.

Tapi teman-temanku malah menggodaku dengan berkata :

“Hey, itu si pria cute yang jadi secret admirer-mu!”

“Mirae, pria itu datang lagi. Kenapa dia hanya melihatmu sambil tersenyum tapi tidak pernah mengajakmu bicara dan mendekatimu?”

Itulah yang membuatku semakin ngeri. Pria aneh itu hanya tersenyum dari jauh. Pikiranku benar-benar dipenuhi hal buruk. Psikopat biasanya terlihat “baik” dari luar.

Ketika aku hendak menelepon polisi untuk melaporkan pria aneh yang selalu membuntutiku itu, tiba-tiba saja hal yang tak terduga pun terjadi. Pria itu berubah menjadi seekor kucing tepat di hadapanku!

Aku benar-benar shock! Bagaimana mungkin seorang manusia bisa berubah menjadi binatang?! Kupikir saat itu aku bermimpi, tapi ternyata tidak. Pria itu pun berubah lagi menjadi manusia.

“Itu hanyalah salah satu kekuatanku. Sudah kubilang, kau harus masuk ke Rovix School. Aku tidak akan menyerah sebelum kau setuju.”

Aku tidak sanggup berkata apapun. Masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi barusan. “Kau? Kucing? Bagaimana bisa? Siapa kau?” Aku mundur perlahan. Ketakutan. “Apakah kau hantu? Apakah kau penyihir?”

Tanpa kuduga pria itu tertawa terbahak-bahak. “Namaku Yoo Young Jae. Aku kepala sekolah Rovix di planet Mato.”

Aku mendengus. “Kau gila.”

Pria aneh bernama Young Jae itu mengangkat bahu-nya. “Semua orang bilang aku gila.” Pria itu berkata dengan bangga, seolah aku tadi memberinya pujian.

Aku hanya terus terdiam. Otak-ku sibuk mencerna. Young Jae masih manatapku sambil tersenyum. “Kau akan telat les biola. Ayo.” Tanpa kuduga, pria itu menggendongku.

“Hey! Hey! LEPASKAN! KYAAAAA!!! Toloooonggg…., penculiiikkkkk!!!! Psikopaattttt!!!!”

Nafasku terengah-engah dan suaraku serak karena terlalu kencang berteriak. Tanpa kuduga, kini aku sudah berada di depan tempat les biola-ku, padahal tadi aku berada sangat jauh dari tempat ini, kira-kira 5 km, tapi bagaimana bisa sekarang aku sudah berada di sini?!

Young Jae menurunkan tubuhku dengan ringan lalu tersenyum lebar. “Kekuatanku yang lain. Aku bisa bergerak dengan sangat cepat.”

“Jadi, kau memang penyihir?”

Young Jae tertawa keras. “Sudah kubilang, aku kepala sekolah Rovix School di planet Mato. Jadi bisa dibilang…hmm.., aku adalah alien?” Young Jae mengedipkan sebelah matanya.

“Kenapa kau selalu mengikutiku?” tanyaku ketus. “Kau menyukaiku, Tuan Alien?”

“Hahahaha….hahahaha…hahaha….” Young Jae tertawa terbahak-bahak sampai membungkukkan badannya. Dia mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambutku. “Adik kecil, kau bahkan tidak tahu aku sudah hidup berapa lama. Sebelum nenek buyutmu lahir, aku bahkan sudah bisa berlari.”

Aku menatapnya tak percaya. “Terserahlah. Aku tidak peduli kau ini penyihir, alien, atau apapun! Jangan ganggu aku lagi!”

Ketika aku hendak pergi, pria itu menahan lenganku. “Sayangnya…, aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak pernah salah dalam menilai bakat seseorang.”

“Bakat? Jadi kau pencari bakat? Agensi mana? SM? YG? JYP?”

Lagi-lagi pria nyentrik itu tertawa terbahak-bahak. “Kau sangat lucu, Mirae sshi.”

Aku hanya memutar kedua bola mataku, lalu berjalan pergi meninggalkannya.

******

Sekeras apapun aku menolak mempercayai kekuatan aneh pria bernama Youngjae itu, aku selalu kepikiran tentangnya setiap saat. Terlebih lagi dia masih tidak menyerah untuk mengajakku masuk ke sekolah yang katanya ada di planet Mato. Di mana pula planet Mato berada?! Aku tidak pernah mendengar namanya!

Meskipun aku merasa kesal dengan kehadiran pria aneh itu, kadang aku juga merasa geli dan kasihan padanya. Bayangkan saja, dia tidak tahu cokelat! Makanan paling lezat ke-2 setelah ice cream!

Terkadang Young Jae juga menatap kedai-kedai makanan dengan kening berkerut, atau dengan wajah penuh harap seperti orang kelaparan yang sudah tidak makan selama berminggu-minggu dan berharap mendapat makanan gratis.

Jadi, terkadang aku membelikannya makanan apapun yang ia inginkan. Selama makan, biasanya dia menceritakan berbagai hal tentang “planet”-nya.

Oke, mungkin aku sudah “tertular” gila. Kenapa aku bisa mempercayai pria ini? Mengapa aku tidak menceritakan tentang pria ini pada siapapun? Aku merasa ada sebagian dari diriku yang menyuruhku untuk merahasiakan identitas pria ini dari orang lain.

Young Jae sering menunjukkan bakat-bakat atau kemampuan anehnya padaku. Berubah menjadi kucing dan tinggal di asrama bersamaku sudah hal biasa. Membawaku bergerak dengan kecepatan super juga sudah hal biasa. Tapi ternyata dia bisa melakukan hal-hal yang berguna lainnya. Maksudku, benar-benar sangat berguna, seperti menghentikan hujan ketika aku tidak membawa payung!

“Bagaimana bisa? Tidak-tidak! Itu hanya kebetulan!” kataku, saat hujan deras tiba-tiba saja behenti.

Young Jae menyeringai, menjentikkan jarinya, dan seketika hujan deras turun kembali. Setelah beberapa detik ia menjentikkan jarinya lagi dan hujan pun berhenti lagi. Aku hanya bisa membuka mulutku lebar-lebar.

Kurasa aku sudah mulai bisa menerima kenyataan kalau dia adalah alien dengan berbagai kekuatan super. Aku sudah tidak merasa aneh lagi dengan kehadirannya sebagai seekor kucing di asrama-ku, atau ketika dia tiba-tiba muncul di gerbang sekolah dan berjalan disampingku, membuat semua temanku mengira dia pacarku.

Harus kuakui, dia memang cukup tampan. Tapi.., yang benar saja! Masa orang aneh seperti ini jadi pacarku! Terlebih lagi dia pernah berkata umurnya sekarang sudah lebih dari 1000 tahun. No Way!

Bagiku, Young Jae sudah seperti “peliharaan”-ku. Aku memberinya makan, mengajaknya jalan-jalan dan bermain, menjawab semua pertanyaannya tentang bumi, dll.

Setelah 2 bulan tinggal sebagai “kucing”-ku, Young Jae mulai bersikap menyebalkan. Kupikir dia sudah menyerah tentang mengajakku pergi ke sekolah Rovix di planet antah berantah itu, tapi ternyata tidak!

Semakin hari ia semakin gencar memaksaku masuk sekolah tersebut! Tanpa ragu dia melakukan berbagai tindakan yang membuatku malu. Contohnya saja, ketika kami sedang berjalan kaki untuk pergi membeli tteokpoki, tiba-tiba saja dia duduk di jalan dan menangis seperti seorang anak kecil. Semua orang langsung menatapku dengan pandangan mencela. Mereka pasti mengira aku membuat seorang pria yang memiliki keterbelakangan mental menjadi menangis.

“Bagun! Berhenti menangis!” kataku kesal dan memaksanya berdiri.

“Pergi ke Rovix School?” Young Jae langsung tersenyum.

“Tidak.” Kataku ketus. Wajah Young Jae langsung cemberut. Sebelum dia melakukan hal-hal konyol lagi, aku segera menyumpalkan cokelat ke mulutnya. Cokelat kini menjadi cemilan favoritnya!

*******

Banyak sekali hal-hal mengesalkan lainnya yang Young Jae lakukan, hanya untuk membuatku  menyetujui permintaannya untuk pergi ke Rovix School. Kesabaranku habis ketika Young Jae melakukan hal yang kupikir tidak akan pernah dia lakukan. Dia sangat licik, sungguh! Alien keras kepala-aneh-nyentrik-licik yang ingin kutendang jauh-jauh sampai ke black hole!

Jadi, saat itu pelajaran olahraga gabungan antara kelas 1B (kelasku) dan kelas 2F (kelasnya Song Joong Ki Oppa, kakak kelas yang kusukai). Saat itu kami ada pertandingan basket di gymanssium. Aku sangat menantikan hari itu, karena aku bisa melihat Joong Ki Oppa dari dekat!

Tapi apa yang terjadi?

Ketika kami semua hendak memasuki gymanssium, kami semua terkejut melihat gymnasium yang telah dipenuhi berbagai bunga dan balon. Semua dindingnya dipenuhi bunga mawar merah dan putih. Balon-balon gas berterbangan di langit-langit gymnasium. Rangkaian pita memenuhi sudut-sudut ruangan. Dan yang paling mengerikan adalah….. sebuah spanduk besar di dinding bertuliskan : “Song Joong Ki Oppa, I love you sooooo much. Please marry me. – Kim Mi Rae –“

Saat itu aku benar-benar terkejut, speechless, malu, marah, kesal, ingin menangis, semuanya campur aduk. Aku tahu pasti siapa yang melakukan hal ini! Yoo Young Jae! Ya, dia tahu aku menyukai Joong Ki Oppa, dan hanya dia yang bisa menghias ruangan ini dalam sekejap mata.

Sungguh, kesabaranku sudah habis. Aku tidak mungkin lagi bisa menatap wajah Joong Ki Oppa dengan biasa. Aku tidak mungkin lagi bisa berjalan tegak tanpa menundukkan wajahku. Semua orang pasti akan mengolok-olokku sekarang dan seterusnya!

Aku berharap detik ini juga bumi terbelah dan menelanku masuk ke dalam tanah, menyembunyikanku dari semua orang. Atau angin membawaku pergi terbang tinggi ke langit, menjauhi semua orang!

Seolah bisa membaca pikiranku, Young Jae tiba-tiba saja muncul dan membawaku pergi dari keadaan memalukan itu hanya dalam sekejap mata.

“KENAPA KAU MELAKUKAN HAL ITU? KAU MEMBUATKU SEPERTI ORANG IDIOT! SEKARANG AKU HARUS MEMAKAI TOPENG SETIAP KALI AKU PERGI KE SEKOLAH! AKU TIDAK MAU PERGI KE SEKOLAH LAGI!” Aku memukul-mukul dada Young Jae dengan keras sambil berurai air mata, menumpahkan semua kekesalanku padanya.

Young Jae hanya tersenyum. Penuh kemenangan. Detik itu jugalah aku tahu, inilah yang ia inginkan. Ia ingin aku keluar dari sekolahku saat ini dan pergi ke sekolahnya!

“OKE! AKU PERGI KE SEKOLAH ANEHMU ITU! KAU PUAS?!”

“Hahahaha….hahahaha….hahaha….” Young Jae terbahak-bahak. Lagi-lagi dia mengacak-acak rambut panjangku. Aku menepis tangannya dengan kesal.

“Oke, sekarang kau resmi menjadi murid Rovix High School. Sekolah paling ber-gengsi dan paling terkenal di seluruh jagad raya.” Young Jae tersenyum puas.

“Terserah! Aku tidak peduli! Bantu aku mengepak barang-barangku!”

Young Jae menggeleng. “Tidak perlu. Aku sudah mengepak semuanya dan memasukkannya ke dalam kapsul.”

“Hah? Apa? Kapsul?”

Young Jae menatapku dengan aneh. “Tentu saja. Kau pikir kita bisa melintasi berbagai planet, galaksi, dan alam semesta ini menggunakan apa? Sapu terbang? Hahahaha….hahaha…”

Aku memutar kedua bola mataku. “Di mana kapsul-nya?”

Dalam sekejap mata, Young Jae membawaku pergi ke sebuah lembah tempat dia menyembunyikan sebuah kapsul perak besar. Semua koper dan barang-barangku sudah ada di sana. Young Jae bahkan membawa biola kesayanganku!

Aku duduk di samping Young Jae. Tidak mengatakan apapun. Ini sungguh gila! Aku akan pergi dari bumi! Kenapa hal gila seperti ini harus terjadi padaku?!

“Maafkan aku, Mirae~yah. Tapi…, pergi ke Rovix School adalah jalan hidupmu. Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Oh ya, aku sudah menghapus ingatan semua temanmu tentang kejadian memalukan tadi.”

“Mwo? YAH! Kenapa kau tidak bilang kalau kau bisa menghapus ingatan mereka?! Kalau begitu, turunkan aku! Aku tidak mau pergi ke planet-mu!”

“Hmmm.., sayangnya tidak bisa. Kita sudah berada 5000 tahun cahaya dari bumi saat ini. Tidurlah, perjalanan kita masih panjang. Jarak planet Mato dari bumi adalah Sembilan juta tujuh ratus lima puluh tiga tahun cahaya.”

“Aaarrgghhhh!!!” Aku mengacak-acak rambutku dengan kesal. Ternyata aku sudah terpedaya oleh alien ini!

Kapsul terus meluncur dengan sangat cepat, menembus ruang hampa, menuju galaksi lain, menuju planet asing yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

*****************

Sepertinya aku tertidur terlalu pulas. Saat aku bangun, aku mendapati diriku berbaring di sebuah sofa besar yang sangat empuk dan nyaman. Aku memandang berkeliling. Rasanya aneh. Aku menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Udara terasa aneh. Terasa lebih ringan dan jernih di paru-paruku.

Ruangan ini super besar. Dinding-dindingnya dipenuhi rak-rak buku tinggi sampai ke langit-langit dengan berbagai buku tebal. Ada sebuah meja besar dan kursi tinggi empuk di sebrangku. Sofa-sofa lebar dan nyaman seperti yang kududuki saat ini ada sekitar 4 buah. Di belakang kursi dan meja besar terdapat dinding air terjun buatan yang mengalirkan air seperti air terjun asli, tapi anehnya saat aku menyentuh air itu, air itu menembus kulitku seolah air itu hanyalah hologram. Padahal air itu terlihat sangat nyata!

Atap-atap ruangan dipenuhi burung-burung yang beterbangan kesana kemari sambil bercicit merdu. Sepertinya ruangan ini di- desain menyerupai “alam”. Aku menduga burung-burung itupun hanya hologram. Tapi bagaimana bisa? Oh, benar. Ini kan bukan di bumi!

“Young Jae?” Aku memanggil Young Jae. Di mana sih pria aneh itu? Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini.

“Hallo, selamat siang..” aku terlonjak kaget ketika pintu ruangan terbuka dan seorang pria berkulit tan dengan rambut merah menyala berjalan masuk sambil tersenyum hangat padaku.

“Di mana Young Jae?” tanyaku pada pria asing ini.

Pria itu tertawa. Suara tawa-nya enak didengar. “Proffesor Young Jae. Sekarang kau harus memanggilnya professor Young Jae. Beliau sedang ada urusan, jadi aku yang akan menjelaskan beberapa hal mengenai sekolah ini padamu.” Pria itu duduk di sofa di hadapanku.

Aku menatap pria itu penuh selidik. Dia terlihat “normal” dibanding Young Jae. Dia memakai kemeja rapi dan bukannya pakaian aneh nyentrik seperti Young Jae. Hanya rambut merah menyala-nya itu saja yang terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang gelap.

Merasa diperhatikan, pria itu tersenyum padaku. “Kim Mi Rae sshi, kenalkan, namaku Cha Hakyeon. Aku wakil kepala sekolah. Aku sangat senang kau menerima tawaran beasiswa yang Professor Yoo Young Jae berikan padamu.” Pria itu tersenyum lebar. Sepertinya dia memang suka tersenyum.

“Nah, tapi sayang sekali asrama sudah penuh. Setiap kamar berisi 2 atau 3 murid, dan semua murid perempuan di sini sudah memiliki teman satu kamar. Hanya ada 2 kamar yang tersisa yaitu kamar nomor 9 di asrama selatan, dan kamar nomor 11 di asrama Barat. Penghuni kedua kamar itu masih kurang 1 orang. Penghuni yang sudah ada….mereka berdua laki-laki. Hahaha, tenang saja. Aku tidak akan menyuruhmu tinggal di asrama Barat karena Kai sangat playboy dan dia normal. Kau tinggal di asrama Selatan saja bersama Lee Hongbin. Aku berani menjamin kau akan aman bersamanya, karena…ehem.., ini sebenarnya rahasia. Lee Hongbin itu….dia… gay. Bagaimana, Mirae sshi?”

Aku hanya mengangguk. Tidak masalah. Lebih baik satu kamar dengan seorang gay daripada dengan seorang playboy kan? “Baiklah, ng-ng….proffesor Cha Hak Yeon.”

Pria itu tersenyum hangat. “Oke. Kalau begitu, Kim Mi Rae sshi, ini jadwal pelajaranmu. Setiap hari kau harus bangun pukul 7 pagi, mandi, sarapan, dan kelas akan dimulai pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Hari minggu kau bebas melakukan apapun. Ada banyak klub di sini, kau bisa ikut salah satu, atau kau bisa keluar dari sekolah untuk berjalan-jalan setiap hari minggu dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore.”

“Setiap hari, jam malam berlaku mulai jam 10 malam. Bila ada siswa yang masih berkeliaran lewat jam 10 malam, maka ia akan mendapatkan hukuman. Dan percayalah  padaku, kau tidak akan pernah membayangkan betapa mengerikannya hukuman itu.” Proffesor Hak Yeon mengedipkan sebelah matanya.

“Satu hari kau hanya akan mempelajari satu mata pelajaran. Ada 6 mata pelajaran dan semua jadwalnya sudah tertera di daftar itu. Hmmm.., seragam-mu akan diantar ke kamarmu sore ini. Kau bisa meminjam buku apapun di perpustakaan. Kau bisa melakukan appaun di luar jam pelajaran, selama itu tidak berbahaya.”

Aku bukan orang yang menyukai bahaya, tapi bukan berarti aku takut bahaya!

“Hmm.., sebaiknya nanti kau diantar berkeliling saja oleh ketua murid.” Hakyeon tersenyum lebar. “Kim Mi Rae sshi, apa kekuatanmu?”

“Eh?” Aku bingung. Kekuatan? Maksudnya kelebihanku?

“Aku…mmmm…, aku lumayan pandai bermain biola.”

Hakyeon mengerutkan keningnya. “Biola?”

Kemudian aku sadar, dia kan alien! Dia pasti tidak tahu biola! “Alat musik dari bumi.” Kataku. “Di mana barang-barangku?”

“Barang-barangmu sudah diantar ke asrama-mu. Jadi, apalagi kekuatanmu?”

“Mmmm.., aku.., aku bisa memasak.”

“Oke.” Hakyeon tersenyum, tapi keningnya berkerut dalam-dalam, seolah aku menjawab dengan salah.

“Aku tidak tahu apalagi kelebihanku. Yang pasti, aku orang yang mau belajar dan pantang menyerah.” Kataku dengan yakin.

Kerutan di kening Prof. Hakyeon menghilang, digantikan dengan tawa renyah. “Baiklah. Aku percaya tak lama lagi kau akan menemukan apa kekuatan istimewa-mu. Professor Young Jae pasti membawamu kemari bukan tanpa alasan. Kau pasti sangat berbakat.” Prof.Hakyeon mengedipkan sebelah matanya padaku. “Hanya saja…ini pertama kalinya professor Young Jae merekrut siswa secara beasiswa. Pertama kalinya menerima siswa yang bahkan belum tahu kekuatan special-nya apa. Dan…, pertama kalinya ada makhluk bumi yang bersekolah di sini. Selamat datang di  planet Mato, manusia bumi.”

“Aku pasti satu-satunya alien ya?”

Hakyeon menggeleg. “Tidak. Murid-murid di sini berasal dari berbagai planet. Tapi kau satu-satunya yang berasal dari bumi. Aku sangat menantikan kekuatan istimewa makhluk bumi. Oh…, sepertinya Chan Yeol sudah datang.”

Terdengar suara bel yang mengalun lembut, pintu besar dan megah ruangan ini pun terbuka secara otomatis dan seorang pria tinggi dengan senyuman sangat lebar membungkukkan badannya hormat pada Hakyeon.

“Professor, kau memintaku menjadi pemandu bagi anak baru?” suara pria bertubuh tinggi bernama Chanyeol itu terdengar berat dan dalam.

“Ya, kenalkan, ini Park Chan Yeol, ketua siswa di Rovix school, kelas 3, dan berasal dari planet EXO. Chanyeol, ini Kim Mi Rae, berasal dari bumi.”

Mulut Chanyeol membuka lebar. “Bumi? Wow! Aku belum pernah dengar ada planet bernama bumi.”

Aku memutar kedua bola mataku. Aku juga tidak pernah mendengar ada planet bernama EXO dan Mato!

“Ayo, aku akan mengantarmu berkeliling.”

********

Chanyeol pemandu yang sangat menyenangkan. Sikapnya ramah dan dia berbicara banyak hal tanpa perlu aku jawab. Aku terkagum-kagum melihat bangunan sekolah yang terlihat sangat mewah dan futuristik. Aku masih tidak percaya sekarang aku berada di planet lain!

ROVIX School terdiri dari bangunan utama tempat kegiatan belajar mengajar diadakan dan empat buah menara tinggi di sekelilingnya. Bangunan utama hanya terdiri dari 1 lantai, tapi langit-langit aula-nya sangat tinggi dan dipenuhi hologram menyerupai replika berbagai galaksi dan planet yang mengambang-ngambang dan kadang berpendar-pendar. Tak jarang ada planet yang meledak, lalu disedot oleh black hole. Aku hanya bisa menganga takjub. Replika ini benar-benar terlihat nyata!

“Bangunan utama terdiri dari 30 kelas. Semua murid sedang belajar saat ini, sebaiknya kita tidak mengganggu mereka. Ayo! Aku akan menunjukkan ruangan klub, ruang kesehatan, kantin, dan ruangan konseling.” Dengan bersemangat Chan Yeol membawaku ke ruangan-ruangan yang dia sebutkan tadi.

Ruangan klub terdapat di lorong-lorong yang menghubungkan berbagai menara asrama. Ada banyak sekali klub, dan hampir semuanya tidak kumengerti. Klub terbang, klub shifter, klub healing, klub strength, dan masih banyak lagi klub aneh lainnya. Yang masuk di otak-ku hanyalah klub seni!

Kami melewati ruang kesehatan yang terletak dekat menara Timur. Ruangan itu menyerupai rumah sakit. Serba putih bersih, hanya saja dengan berbagai peralatan canggih dan aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya di bumi. Seorang pria berambut pirang dan berjubah putih melambaikan tangannya pada kami. Dia tengah dikelilingi murid-murid perempuan.

“Tadi itu Dokter Jung Dae Hyun. Kalau kau sakit atau terluka, kau bisa datang padanya. Banyak sekali anak perempuan yang pura-pura sakit hanya agar bisa bertemu dokter Daehyun. Hahaha. Untung saja dokter orangnya baik.”

Aku mengangguk satu kali mendengar penjelasan Chan Yeol. Kemudian ada satu hal yang membuatku penasaran. Mengapa bahasa kami sama? Maksudku, ini kan di planet lain! Bagaimana mungkin bahasa berbagai planet dan bumi sama? Padahal di bumi saja ada ratusan bahasa.

“Ng-ng…Chanyeol sunbaenim, mengapa bahasa kita sama?” tanyaku.

Chanyeol nyengir lebar dan menggeleng. “Bahasa kita tidak sama. Itulah salah satu kelebihan planet Mato. Saat kau berada di sini, kau bisa mengerti bahasa apapun. Sistemnya rumit, aku sendiri tidak mengerti. Tapi singkatnya begini, kau tetap berbicara bahasamu, tapi yang terdengar olehku dan semua orang adalah bahasa planet Mato. Aku pun begitu, aku bicara normal seperti saat aku berada di planetku, tapi sekarang semua orang mendengarku bicara bahasa planet Mato. Kita semua otomatis bisa mengerti dan berbicara bahsa planet Mato. Aneh sekali kan? Padahal otak-ku yakin, ini adalah bahasaku.”

Aku mengerutkan keningku dalam-dalam. Merasa bingung.

Chanyeol tertawa dan menepuk-nepuk pundakku. “Lama-lama kau akan terbiasa. Oh ya, apa kekuatanmu? Kekuatanku adalah api dan air. Sangat bertolak belakang, bukan? Tapi kadang ada untungnya, karena aku tidak terlalu membutuhkan pelajaran pengendalian kekuatan. Kedua kekuatanku bisa saling mengendalikan.”

“Kekuatanku…mmmmm….”

Aku kan hanya manusia bumi! Aku tidak punya kekuatan super! Sebelum aku sempat menjawab, seorang pria berhidung mancung dan berambut cokelat keemasan memanggil nama Chan Yeol.

“Park Chan Yeol! Kenapa kau berkeliaran di saat jam pelajaran?”

“Oh! Proffesor Ken!” Chanyeol langsung berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat. “Proffesor, minggu ini Sulli setuju untuk kencan denganku! saran-mu memang sangat manjur!” Chanyeol mengangkat kedua ibu jarinya sambil nyengir lebar.

“Hahaha…, apa kubilang.” Orang bernama Prof.Ken itu tertawa. “Oh, murid baru?” dia menatapku.

Aku membungkukkan badanku dan memperkenalkan diriku. Professor Ken ternyata guru bimbingan konseling. Semua anak terbiasa curhat padanya. Orangnya sangat menyenangkan dan humoris, pantas saja tadi Chanyeol terlihat sangat akrab dengannya.

Chanyeol membawaku berkeliling lagi melihat perpustakaan utama yang sangat besar, lapangan olahraga indoor dan outdoor (aku baru sadar, langit di planet Mato sama biru-nya dengan di bumi), taman bunga, dan akhirnya dia membawaku ke kantin.

“Sebentar lagi jam makan siang, kau juga sebaiknya makan. Kau bisa makan bersamaku kalau kau mau. Setelah makan, aku akan mengantarmu ke asrama-mu di menara selatan. Hari ini kau tidak perlu ikut belajar, kau bereskan saja barang-barangmu, lalu jam setengah 8 malam nanti datang lagi ke kantin ini untuk makan malam.”

“Ah, iya. Terima kasih, sunbaenim.”

Chanyeol tertawa dengan suara bass-nya yang khas. Chanyeol menyapa dua orang koki yang dengan cekatan menyiapkan makan siang di nampan-nampan perak.

Aku menatap nampan-ku. Makanan-nya terlihat normal. Satu mangkuk sup yang berisi sayuran yang belum pernah kulihat sebelumnya, satu potong besar paha kalkun (mungkin juga bukan kalkun sih, tapi terlihat seperti paha kalkun), dan nasi merah (ternyata alien makan nasi merah?). Jadi, kupikir aku bisa memakannya.

Terdengar suara bel nyaring, dan seketika kantin dipenuhi banyak sekali murid. Wajah-wajah mereka terlihat bersemangat dan kelaparan. Sekarang sudah jam 1 siang, waktunya makan siang.

Semua murid terlihat menghormati Chan Yeol. Aku berjalan mengikutinya lalu duduk di kursi yang terletak di meja bundar di tengah. Beberapa orang murid terlihat bergerak dengan sangat cepat, seperti yang pernah Young Jae lakukan.

“Apakah semua murid bisa bergerak cepat?”

Chan Yeol tertawa. “Tidak. Hanya orang-orang yang memiliki kekuatan speed saja yang bisa.”

“Benarkah? Biasanya berapa banyak kekuatan yang dimiliki oleh seseorang?”

“Normalnya 1. Murid-murid di sini ada juga yang terlahir dengan 2 atau 3 kekuatan. Tapi guru-guru biasanya memiliki lebih banyak kekuatan special.”

“Apakah kekuatan bisa dipelajari?”

“Hmm.., sepertinya bisa, hanya saja….sulit sekali. Kalau kau tidak terlahir dengan kekuatan speed (misalnya), akan sangat sulit bagimu mempelajari speed. Tidak usah membuang-buang waktu dengan belajar hal-hal yang bukan kekuatan alami-mu. Mengendalikan dan memanfaatkan kekuatanmu saja sudah sangat sulit. Oh ya, apa kekuatanmu?”

Aku menelan potongan kalkun yang terasa aneh di mulutku. “Aku tidak punya kekuatan.”

Chanyeol membelalakkan matanya yang memang sudah besar menjadi semakin besar. Lalu dia tertawa terbahak-bahak. “Jangan bercanda! Semua murid yang bersekolah di sini punya kekuatan. Jadi? Apa kekuatanmu?” Chanyeol mengangkat sebelah alis matanya. Penasaran. Aku hanya menatapnya datar tanpa mengatakan apapun. Chanyeol tertawa lagi. “Oke, oke, tidak masalah kalau kau tidak mau menjawabnya. Mungkin kau hanya malu. Dulu juga Sulli begitu. Dia punya 2 kekuatan dan salah satunya adalah berubah menjadi laki-laki. Hahaha. Tapi tenang saja, kau tidak akan dianggap aneh bila kau memiliki kekuatan seperti Sulli. Ehem..” Chanyeol berdehem keras dan kupingnya terlihat memerah.

Aku mengikuti arah pandang Chanyeol. Ternyata dia sedang melihat seorang gadis cantik dengan kulit se-putih susu dan rambut hitam panjang yang diikat dua, berjalan bersama keempat teman perempuannya menuju meja yang agak jauh dari kami. “Sulli?” godaku. Chanyeol hanya nyengir lebar dan mengangguk.

Setelah selesai makan siang, Chanyeol mengantarku ke asrama menara selatan. Asrama dimana aku akan tinggal.

“Setiap asrama terdiri dari 20 kamar tidur dan kamar mandi di dalamnya, perpustakaan asrama, ruang santai asrama, tempat mencuci pakaian dengan puluhan mesin pencuci pakaian, ruang kepala asrama, café internet…..”

“Apakah aku bisa memakai internetnya untuk menghubungi keluargaku di bumi?” potongku.

Chanyeol nyengir lebar. “Tentu saja. Jaringan internetnya sangat luas dan mencakup seluruh jagad raya. Oh ya, yang terakhir….di setiap asrama juga terdapat ruang isolasi kekuatan. Biasanya para kepala asrama akan menghukum murid yang melakukan pelanggaran dengan memasukkannya ke ruang isolasi. Sangat menderita karena kau tidak akan bisa memakai kekuatanmu sama sekali. Hmmm.., sebenarnya ada ruang hukuman bawah tanah, tapi tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya. Ruangan itu tersembunyi dan hanya diperuntukkan bagi siswa yang melakukan pelanggaran sangat berat.”

“Young Jae.., maksudku, ruangan professor Young Jae di mana?”

Chanyeol mengangkat bahu. “Tidak ada seorangpun yang tahu. Lagipula dia jarang berada di sekolah. Lebih sering berpetualang ke berbagai planet, kurasa. Professor Young Jae sangat senang ber-eksperimen dan menjelajah ruang angkasa.”

Aku mendengus. Pasti dia mencari “korban” lain sepertiku di berbagai planet! Tapi kenapa? Untuk apa? Padahal aku tidak memiliki kekuatan apapun. Padahal semua murid di sini masuk ke sekolah bergengsi ini dengan susah payah. Tapi aku? Aku justru masuk dengan gratis dan mudah tanpa perlu menunjukkan apa kekuatanku pada para penguji!

********

Aku sudah selesai membereskan dan menata semua barangku di kamar baruku, kamar nomor 9 di asrama Selatan. Kunci untuk masuk ke dalam kamar maupun ke dalam menara asrama tidak menggunakan kunci biasa ataupun password, melainkan aku harus menempelkan kesepuluh jariku di pintu kamar atau di pintu masuk menara, lalu akan ada sebuah alat yang mendeteksi kedua bola mataku. Bila sidik jari dan mataku sesuai, barulah aku bisa masuk. Chanyeol sendiri memiliki keistimewaan khusus untuk bisa masuk ke berbagai menara asrama bahkan ke dalam semua kamar siswa. Kurasa Chanyeol sangat dipercaya oleh semua orang, sehingga ia terpilih menjadi ketua murid yang memiliki tugas cukup berat.

Kamar baruku lumayan luas. Ada 2 buah tempat tidur berukuran sedang yang terletak bersisian. Sebuah meja kecil dan lampu tidur ada di tengah kedua tempat tidur, sebagai pemisah. Ada 2 buah lemari pakaian besar dan 2 buah meja belajar yang terletak bersebrangan. Kamar mandi terletak di pojok, agak menjorok ke dalam.

Aku memandang sekelilingku. Kamar ini sangat rapih dan bersih. Tidak ada satu titik debu pun! Teman satu kamarku, yang katanya gay itu, pasti sangat suka bersih-bersih.

Tidak ada poster maupun foto di dinding kamar yang berwarna biru langit ini. Hanya ada sebuah jam besar dengan angka romawi. Rak sepatu tertata dengan sangat rapih di dekat pintu. Masih ada ruang kosong, jadi aku pun menaruh sepatuku di sana.

Aku melirik jam dinding. Pukul 3 sore. Satu jam lagi semua murid selesai belajar, dan mungkin saja teman sekamarku akan datang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi kurasa aku harus mandi lebih dulu!

***********

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku tiduran di kasurku sambil menatap ponselku yang tidak memiliki jaringan. Aku menghela nafas panjang. Tentu saja. Mana mungkin jaringan sinyal bumi bisa sampai ke planet yang berjarak jutaan tahun cahaya. Kuharap apa yang Chanyeol katakan benar. Kuharap di café internet nanti aku bisa menulis e-mail untuk ayah dan ibuku. Aku ingin memberitahu ayah dan ibuku kalau sekarang aku sudah pindah sekolah. Tapi…, apakah mereka akan percaya? Jangan-jangan mereka menganggapku bercanda! Yah, biarlah. Yang penting aku bisa berkomunikasi dengan mereka.

Aku menghela nafas panjang. Aku merindukan teman-temanku dan…. Joong Ki Oppa. Aku tahu, menyukai Joong Ki Oppa lebih terasa seperti sebuah obsesi. Seperti seorang fangirls terhadap idolanya. Tapi, cinta memang seperti itu kan? Entahlah.

Aku menegakkan punggungku ketika mendengar pintu kamar terbuka. Seorang pria tampan berambut pirang kecokelatan masuk dengan wajah datar. Ia menatapku sekilas, lalu meletakkan tas-nya di meja belajar.

“Hai, aku murid baru di sini. Namaku Kim Mi Rae. Professor Cha Hak Yeon bilang….aku bisa tinggal di kamar ini.” kataku dengan ramah. Tapi pria itu hanya menatapku tak peduli dan tidak memperkenalkan dirinya. Maka aku pun bertanya. “Lee Hong Bin sunbaenim kan?”

Pria itu lagi-lagi tidak menjawab. Dia pergi begitu saja ke dalam kamar mandi. Aku mendengus. “Sangat sopan!” kataku sarkastis.

Yah, biar sajalah! Aku juga tidak peduli. Yang penting dia tidak menggangguku. Tapi.., benarkah dia gay? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sayang sekali. Padahal dia sangat tampan. Kenapa pria tampan harus gay atau playboy sih?! Oh, tunggu! Tidak semua pria tampan gay atau playboy. Joong Ki Oppa sangat tampan. Dia bukan gay, dan dia jelas sangat baik dan bukan playboy. Aku tersenyum mengingat Joong Ki Oppa. Untunglah Young Jae sudah menghapus ingatan semua orang tentang kejadian memalukan di gymassium.

Hhhhhh, apakah teman-temanku merindukanku? Mereka pasti heran kenapa aku pergi tiba-tiba. Apakah Joong Ki Oppa sadar aku tidak ada lagi di sekolah?

*******

Keesokan paginya, aku bangun sebelum jam 7. Mandi pagi, memakai seragam baru-ku yang berupa kemeja dan blazer keren berwarna creamy dengan rok pendek cokelat berimple, bersiap-siap pergi ke kantin untuk sarapan lalu ke kelas Pengendalian Kekuatan. Aku membaca jadwal pelajaranku. Senin : Kekuatan. Selasa : Pengendalian kekuatan. Rabu : Ilmu Bertarung. Kamis : Seni. Jumat : Pengembangan Bakat. Sabtu : Relaksasi.

Aku mengerutkan keningku. Relaksasi? Maksudnya seperti yoga?

Sepertinya pelajaran yang kutunggu-tunggu hanya seni. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di kelas lainnya. Hari ini kelas pengendalian kekuatan. Apa yang harus kukendalikan? Kekuatan saja aku tidak punya!

Aku mengikuti Hongbin ke kantin karena aku masih belum hafal jalan menuju ke sana. Tadi malam aku tidak makan karena terlalu mengantuk jadinya aku tidur lebih cepat sebelum jam makan malam tiba.

Seperti kemarin, Hongbin tidak berbicara sepatah katapun. Aku mengikutinya dengan tenang. Beberapa orang murid perempuan menyapa Hongbin sambil tersenyum genit, tapi Hongbin mengabaikannya, bahkan sama sekali tidak menoleh untuk menatap mereka. Aku mengangguk mengerti. Jadi itu memang sifatnya ya. Dingin sekali pada semua orang!

“Mirae~yah!” panggil suara bass menggelegar. Chanyeol melambaikan tangannya dengan bersemangat sambil tersenyum lebar. Aku menghembuskan nafas lega. Senang karena tidak harus makan bersama si dingin Hongbin ataupun makan sendirian.

******

Di kelas pengendalian kekuatan……

Untungnya aku tidak perlu berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diriku. Tapi semua murid di kelas ini menatapku dengan penasaran, seolah menantikan aku memamerkan “kekuatanku”.

Berbeda dengan kelasku di bumi dulu, kelas ini sangat luas dan kedap suara. Suara sekeras apapun tidak akan terdengar sampai keluar kelas. Saat di bumi dulu, kadang aku bisa mendengar suara berisik kelas lain bila tidak ada guru, atau bila guru kelas lain berbicara terlalu kencang. Kelas ini tidak memiliki meja, hanya ada kursi-kursi yang diletakkan di pinggir, dekat dinding di sekeliling ruangan, sementara bagian tengah kelas kosong.

Ternyata bagian tengah kelas yang dibuat kosong itu ada maksudnya. Kini, setelah guru kami, Professor Kim Jun Myeon atau yang lebih akrab dipanggil Prof. Suho datang, semua murid berbaris rapi membentuk lingkaran di tengah kelas. Aku pun mengikuti mereka.

“Selamat Pagi…” Prof. Suho membuka kelas dengan senyuman lebar dan cerah. Aku mengerutkan keningku. Kenapa semua guru di sini terlihat muda sih? Memangnya alien punya wajah awet muda ya? Seperti si kepala sekolah aneh itu?!

“Selamat pagi, professor…” koor anak-anak.

“Aku sangat kecewa karena semester kemarin banyak diantara muridku yang tidak lulus kelas Pengendalian Kekuatan level 1 ini, sehingga harus mengulang bersama adik-adik kelas. Kai, Ravi, kuharap kalian berdua lebih berusaha keras semester ini.”

“Baik, professor.” Kata kedua orang pria yang dimaksud. Seorang pria berkulit tan berambut hitam pendek yang memiliki wajah angkuh, dan seorang pria yang memakai topi dengan lidah topi di samping kanan dan anting di telinga kiri-nya.

“Kekuatan yang besar saja tidak cukup bila kalian tidak memiliki pengendalian diri yang baik. Kekuatan yang kalian miliki memang sangat berguna, tapi bisa menghancurkan kalian dan orang-orang di sekitar kalian jika kalian tidak bisa mengendalikannya. Seperti yang sudah kukatakan  minggu lalu, inti dari pelajaran ini adalah menahan emosi-mu. Sekarang, aku ingin kalian berpasangan. Murid di sebelah kiriku akan menyerang dan mengganggu murid di sebelah kananku. Murid di sebelah kanan, sebisa mungkin kalian menahan diri kalian untuk tidak menyerang balik dengan kekuatan kalian, se-marah apapun kalian, se-kesal apapun kalian. Menghindarlah sebisa mungkin, tapi jangan menyerang balik dengan kekuatan kalian. Murid yang menyerang, jangan melukai teman kalian terlalu parah. Mengerti?”

“Ya, professor.” Koor anak-anak. Prof.Suho ternyata bisa bersikap tegas juga. Tapi beberapa detik kemudian, senyum-nya yang menenangkan kembali tersungging di wajahnya.

“Murid di sebelah kiri, kalian punya waktu 2 jam untuk menyerang, setelah itu gantian, giliran murid sebelah kanan yang menyerang untuk dua jam berikutnya. Setelah istirahat makan siang, kita akan masuk ke bagian teori dan teknik. Untuk saat ini, ingatlah untuk mengendalikan emosi kalian. Ya, silakan mulai.”

Semua murid maju dan berdiri berhadapan dengan murid di depan mereka. Aku pun ikut maju, berhadapan dengan seorang pria bertubuh sangat tinggi atletis dan berambut pirang. Pria itu mengangkat sebelah alis matanya, menungguku menyerangnya. Aku hanya terdiam dan menatap teman-teman sekelasku yang lain.

Aku melihat pria bernama Ravi membuat tubuhnya transparan lalu menghilang total dan tiba-tiba saja murid pria di hadapannya terdorong jatuh, rambutnya ditarik ke sana kemari, digelitiki sampai tertawa terbahak-bahak, dan ditendang oleh sosok Ravi yang tidak terlihat. Seperti menghadapi hantu saja!

Lalu ada lagi seorang pria bermata panda yang membuat lantai yang diinjak oleh lawannya berguncang hebat, seolah gempa berkekuatan besar mengguncang. Tapi anehnya, hanya lantai yang diinjak oleh lawannya itu saja yang berguncang, sementara lantai lain tidak. Lawan pria itu berusaha berdiri dengan seimbang meskipun tubuhnya terguncang hebat. Wajahnya memerah, menahan marah, dan pastinya menahan diri untuk tidak membalas serangan si pria mata panda.

Professor Suho berjalan berkeliling, mengamati dan memberi komentar. Aku masih terdiam dan mengawasi anak-anak lain. Aku melihat pria bernama Kai membanting tubuh lawannya yang memiliki tubuh sangat gemuk dengan mudah seolah tubuh lawannya itu se-ringan kapas. Lalu ada juga pria kurus berambut pirang yang membuat lawannya dikelilingi angin puyuh yang berputar-putar dan menerbangkan tubunya beberapa meter di atas lantai.

Seorang pria cute berubah menjadi singa ganas dan menggeram sambil mengelilingi lawannya dengan seringaian mengancam. Lalu ada juga seorang anak perempuan cantik yang membuat lawannya membeku seperti es hanya dengan tatapan matanya.

“Hey, cepatlah! Serang aku!” kata pria tinggi di hadapanku. Oh benar! Aku lupa. Tapi.., bagaimana caraku menyerangnya?

Aku pun memutuskan untuk mengepalkan tanganku kuat-kuat dan menonjok lengannya dengan keras. Tapi pria itu hanya terdiam, sama sekali tidak merasa kesakitan. Dia hanya menatapku dengan aneh.

“Oh, ayolah…, jangan main-main. Tunjukkan kekuatanmu, anak baru!” pria tinggi pirang itu menyeringai.

“Aku tidak punya kekuatan.”

Dan seketika hening. Semua murid kini menatapku tak percaya. Kemudian pria di hadapanku tertawa terbahak-bahak. “Tidak usah malu. Tunjukkan saja. Banyak kok murid yang memiliki kekuatan aneh seperti berubah jadi batu. Batu bisa membuatku kesakitan, kau tahu?” pria itu menyeringai semakin lebar.

Aku menghembuskan nafas kesal. “Aku memang tidak punya kekuatan apapun!” teriakku tepat di depan wajah pria itu. Tanpa kuduga, sayap besar berwarna seperti pelangi tiba-tiba saja muncul di punggung  pria itu. Pria itu mencengkram lenganku dengan keras dan seketika seluruh lenganku jadi berwarna kuning pucat.

“Zelo! Kendalikan dirimu!” Prof.Suho menepuk pundak pria itu. Pria itu pun melepaskan tangannya dariku. Sayapnya hilang, tapi kulit tanganku masih berwarna kuning pucat!

“Warna tangannya.” Kata Prof.Suho. Zelo menatap tanganku dan ajaib sekali karena seketika warna kulit tanganku jadi normal kembali.

“Kim Mi Rae, tidak apa-apa. Kau pasti akan segera menemukan apa kekuatan specialmu.” Prof. Suho tersenyum hangat padaku, lalu berjalan menjauhi kami, memeriksa anak-anak lain.

Jangan – berteriak – di depan – wajahku – lagi.” Gertak Zelo kesal dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.

Mulai saat itulah penderitaanku di sekolah ini dimulai. Semua murid menatapku dengan aneh dan dengan tatapan meremehkan. Tanpa memelankan suara mereka, mereka juga membicarakanku.

“Hey lihat, itu si anak baru! Katanya dia sama sekali tidak punya kekuatan lho.”

“Aneh. Kenapa dia masuk ke sini?”

“Benar. Kenapa dia bisa masuk sekolah ini?”

“Jangan-jangan …, kekuatannya adalah…, tidak punya kekuatan apapun! Hahahahaa…hahaha…”

“Katanya dia murid beasiswa.”

“Bumi di mana sih? Katanya dia makhluk bumi. Aneh ya! Apa kekuatannya?”

“Temanku bilang dia satu kamar dengan Lee Hongbin.”

“HAAAH??? Kenapa bisa? Jangan-jangan…, dia sebenarnya laki-laki, tapi berubah jadi perempuan, lalu tidak bisa lagi berubah ke wujud laki-lakinya! Hahahaha”

Yah, begitulah, dan masih banyak lagi gunjingan-gunjingan lainnya tentang diriku. Aku tidak peduli. Tapi rasanya keterlaluan juga di saat makan siang, tiba-tiba saja aku merasakan tanganku beku dan diselimuti oleh es sehinggga aku tidak bisa menggerakkan tanganku untuk makan, sampai kemudian Chanyeol berbaik hati mencairkan es yang menyelimuti tanganku dengan menggunakan kekuatan api-nya.

Atau ketika aku berjalan menuju asrama-ku, tiba-tiba saja entah air datang dari mana dan langsung membuat sekujur tubuhku basah. Atau ketika di tangga asrama, seseorang tiba-tiba saja membuat tangga-nya menjadi lurus seperti papan bidang miring, membuatku terjatuh berguling-guling.

Benar-benar hari pertama yang melelahkan!

*******

Setelah makan malam sendirian di kantin (aku sengaja menghindari semua orang, bahkan Chanyeol karena saat itu Chanyeol duduk bersama teman-teman kelas 3-nya), aku memutuskan pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku untuk kubaca malam ini.

Sekarang pukul 9 malam, masih ada 1 jam sebelum waktu tidur dan jam malam diberlakukan. Koridor menuju perpustakaan diterangi berbagai lampu cantik dengan bentuk pohon kecil dan bunga. Tanaman sulur menjalar merambat di dinding dan memancarkan cahaya. Benar-benar indah. Aku penasaran, jangan-jangan bunga-bunga dan pohon-pohon itu juga asli. Keren!

Tiba-tiba saja dari kejauhan aku mendengar teriakan anak-anak perempuan dan suara derap langkah kaki.

Dalam sekejap mata, seperti angin, seorang pria tiba-tiba saja menarik tanganku, memegang kedua pipiku dan mencium bibirku. Aku membelalakkan mataku dan langsung menendang tulang kering pria kurang ajar ini, tapi pria itu sama sekali tidak merasa kesakitan. Aku terus meronta-ronta sampai pada akhirnya pria itu melepaskanku. Ia menyeringai. “Tadi fans-fansku menggangguku dan mereka tidak akan berhenti mengejarku sampai aku terlihat berduaan dengan seorang gadis.” Pria berkulit tan itu mengedipkan sebelah matanya padaku, lalu pergi begitu saja tanpa meminta maaf seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun!

Aku menggosok-gosok bibiku dengan kesal. Aaarrrggghhhh! Dasar pria kurang ajar! Pervert! Lihat saja pembalasanku nanti!

Aku ingat, pria berkulit tan tadi bernama Kai dan dia ikut kelas pengendalian kekuatan. Awas saja! Minggu depan kau akan mati, Kai! Atau kalau kau lebih sial dan bertemu denganku lagi lebih cepat, kau akan mati lebih cepat!

Seakan belum cukup kesialan yang kualami hari ini, di perpustakaan aku bertemu dengan pria tinggi bernama Zelo. Dia menatapku dengan tajam lalu menyeringai puas. Dasar orang aneh!

Aku meminjam dua buah buku tentang sejarah planet Mato. Petugas perpustakaan menatapku dengan heran. Aku balas menatapnya dengan heran juga. Ada apa? Oh, mungkin karena aku anak baru.

Selama di perjalanan menuju asrama-ku, semua orang melihatku sambil terkikik geli. Bahkan ada yang menunjuk-nunjuk diriku seolah aku makhluk unik dan langka.

Aku tidak memedulikan mereka dan terus saja berjalan, tapi aku berbelok ke toilet anak perempuan di ujung kanan karena penasaran dengan penampilanku, jangan-jangan ada yang salah dengan rambutku atau wajahku?

“Kyaaaaa!!!! Kenapa rambutku jadi berwarna hijau mengerikan seperti ini?” aku menjerit shock saat bercermin di toilet anak perempuan dan melihat bagian atas rambutku kini berwarna hijau seperti lumpur, seperti monster, dan aku terlihat sangat aneh! Pantas saja tadi semua orang menertawakanku.

“Pasti si giant menyebalkan itu yang melakukan hal ini! Awas saja kau Zelo! Akan kubalas dengan yang lebih mengerikan! Tapi bagaimana caraku membalasnya?”

Hhhhh, ada dua orang yang harus kubalas, tapi aku sama sekali tidak punya ide harus membalas mereka dengan cara apa!

Sekali lagi aku melirik cermin, rambut bagian atasku masih berwarna hijau mengerikan. Sepertinya besok pagi aku harus memakai topi! Bagaimanapun caranya, besok aku harus memaksa Zelo mengubah warna rambutku jadi hitam lagi!

*******

Aku masuk ke dalam kamar nomor 9 di menara selatan, kamarku. Akhirnya!

Aku menjatuhkan diriku di tempat tidurku yang empuk. Teman sekamarku, Hongbin, menatapku dengan pandangan terganggu. Padahal kan kasur kami terpisah dan jarak kami juga agak jauh. Apa sih masalahnya?!

“Sumpal mulutmu dengan kain saat kau tidur! Kau ngorok! Berisik sekali!” Hongbin melemparkan selembar sapu tangan besar padaku. Aku hanya bisa membuka mulutku lebar-lebar. Selama ini dia tidak pernah berbicara sepatah katapun padaku dan kini tiba-tiba saja dia menyuruhku untuk menyumpal mulutku saat aku tidur?! Yang benar saja!

Aku melemparkan sapu tangan itu tepat mengenai wajah Hongbin. Hongbin membelalakkan matanya lebar-lebar. Mulutnya terkatup rapat, seolah menahan keinginan untuk membentakku.

Aku menarik selimut sampai menutupi kepalaku dan membalikkan badanku memunggungi Hongbin. Aaaarrrgggghhhhh!!!!! Sepertinya aku sudah gila sehingga mempercayai orang gila bernama Yoo Young Jae itu untuk datang ke sekolah aneh-nya ini!

Semua muridnya juga aneh dan menyebalkan! Harusnya mereka tidak perlu membenciku seperti ini karena aku tidak memiliki kekuatan apapun! Bukan salahku bila aku datang kemari. Bukan keinginanku datang kemari! Semua ini memang gara-gara kepala sekolah nyentrik yang selalu membuat hidupku saat di bumi dulu tidak tenang!

Aku harus segera bertemu kepala sekolah sinting itu, mencekik leher-nya, dan memaksanya membawaku kembali ke bumi!

====== TBC =====

 

Thanks for reading. ^_^. Jangan lupa tinggalkan komentar. N-nyeong!

–          Azumi Aozora –

Zelo

Image

Kai

Image

Hongbin

Image

34 thoughts on “Powerless (Chapter 1)

  1. Okkeh, ini bener-bener keren, mau banget sekolah di ROVIX(?) kke~
    gurunya kece-kece..
    kasian banget Mi raenya di bully.. Mi rae gk punya kekuatan super? ato sebenernya punya & justru lebih hebat???
    ok aku bakalan nunggu next chapternya,😀

  2. woow, ini kecee~~ dan ini baru awal? ditunggu kelanjutannya eonni..

    aku kadang bingung kenapa di tiap ff yang aku baca pasti imagenya kai itu playboy.
    apakah karena dia raja yadong di EXO atau emang mukanya muka omesh, hanya eonni yang tahu..

    kasian banget Miraenya.. tapi pasti ntar dia punya kekuatan yang paling kecee kan??

    sekian commentnya.. bingung mau comment apaan..

    Hidden fatesnya tetep ditungguin lho yaa^^

  3. Yoo youngjae….waaaaakkzzzzz bisa2’y dy ngerusuh gtu ya…… dan mi rae bisa ketipu n mau dajak ke Mato mueheeeeeee…..
    Kesian Mi rae di bully mo blz tp g bisa blz kkkk….
    G bisa byangin muka hongbin yg judes coz dy biasa’y sllu trseyum lebarrrrrrr……
    muka kai mang cocok bgt wat jd playboy cap ikan gabuz waaakkzzz…apa lg dah nunjukin smirk’y hadeeewwwwhhhh yg ad pd kejang2 smua tuh cew……
    ditunggu next part’y ya mi…..^^

    • Wkwkwk…..tp klo yg ngerusuhnya youngjae sih aku mau2 aja kayak mirae. LOL.
      Hongbin nya sok jutek di sini. Kai emang ganteeeng banget yaa kalau smirk >_< ♥
      Gomawooo udah baca. .hehehe

    • Gomawoooo zer >_<
      Hehehe…enggak kok…nggak capek. Malah aku klo stress / capek itu pelampiasannya yaa bikin FF. Hahaha.
      Aamiin..moga2 banyak inspirasi.😉
      Gomawooo udh baca zer ♡

  4. Hahahaa…Youngjae yg bersikap tidak sperti layaknya kepala skolah!! gelooooXDD
    Awww..poor Mi Raeee !!dibully:/
    Ditunggu Next chapternyaa…. Yaaa ^^

    • Hahahaha…emaaang crazy youngjae >_<
      Okeee….tunggu aja yaa. Kayaknya bentar lagi juga aku post deh klo gak ntar malem besok pagi. Soalnya minggu depan kayaknya bakal sibuk bgt ga bisa nulis ff

  5. Pingback: Powerless (Chapter 2) | wiantinaazmi

  6. Kya!! Eonni suka bgt sih bikin ff kaya gini ~~!! Kai itu kurang ajar bgt dtng2 langsung di cipok #ngirinih enak bgt y kayanya jdi mi rae tpi hrs di bully2 tpi seru… Ditemenin chanyeol, di cium kai😄😄

  7. Keceeee banget eonnie ♥
    Aku kok jadi bingung biodata power nya murid n guru nya, hehehe , banyak ya idola kpop nya, Azumi eonnie, kpopers sejati ya, saluttt banget xD
    Bikin penasaran banget, apalagi ini baru chapter 1, mungkin ini ff bisa sampe chap yang panjaanng, hehehe *lebay
    Oya, don, keep writing dan fighting for nulis ff fantasy, i love your fantasy ♥ *perasaan sama mulu dukungan nya
    jangan lupain juga ff HF ama FS nya, aku juga suka ff KuMi, bye ♥ >♡<

  8. mimiiiiiiiii… mian baru baca hehe

    kerenn ahahhaha mauu dahh sekolah di sana

    kyaaaa pengenn deh kalo diobatin ama daehyun oppa (?)

    kasihan miraenya di bully huhu.. zelo ya ampunn jahil, kai juga nyebelin *jitak hongbin

    lanjuttt miii *tarr y aku baca ch 2 nya hehe *cuss pulang

  9. Yehet! Ffnya keren! ROVIX bner deh sekolah paling TOP!’-‘)b jdi pngen ngunjungin planet mato sama rovix;~; bner2 ngebayangin betapa ‘WOW’-nya keadaan 2 tempat itu>< Dan ini juga knp aku suka sama ff fantasy buatan eonni!<3 hehe..
    Penasaran sih iya penasaran sama lanjutannya, tapi kyanya ga bisa lanjut baca skrng, huhu😦
    Tunggu aku baca lanjutannya ne eon(?), wkwk~ Fighting eonni!!^^)9

  10. Pingback: Powerless (Chapter 3) | wiantinaazmi

  11. -Powerless (Chapter 1)-

    Wahwahwahwah
    YoungJae berkelakuan gag sesuai dengan jabatanny sebagai Kepala Sekolah.
    Wowowowo
    HakYeon mencemarkan nama baik seseorang, masak ganteng2 gitu dibilang gay.
    MiRae gag punya kekuatan? Mungkin belum waktu muncul? Hehehehehe
    OMG
    Kai emang bener2 playboy, masak orang gag berdosa tiba2 dicium.

  12. Pingback: Powerless (Chapter 4) | wiantinaazmi

  13. Pingback: Powerless (Chapter 5) | wiantinaazmi

  14. Duh kak, tau ga? Aku deg”an sendiri pas bagian pelajaran pengendalian kekuatan. Sumpah, kasihan banget tuh si Mirae. Ga tau apa” tiba” di bully. Bener” penasaran sama kekuatannya.
    Lanjut ke chapter selanjutnya ya kak ^^

  15. aigooo hari pertama mirae benar2 menyedih kan poor mirae😦 …
    penasaran ama kekuatan mirae knpa profesor memilihnya??
    apa ada cerita masalalu mirae yg berhubungan dg planet mato… next^^

  16. Pingback: Powerless (Chapter 7) | wiantinaazmi

  17. Pingback: Powerless (Chapter 6) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s