Hidden Fates (Chapter 2)

Image

Hidden Fates

Author             : Kunang & Azumi Aozora

Chapter          : 2

Main Cast       : Kim Jun Hyo (OC), Cho Min Hyun (OC), Kim Jun Myeon/Suho (EXO-K), Jang Hyunseung (Beast), Park Chan Yeol (EXO-K), Choi Min Ho (SHINee)

Support Cast  : Find by Your own

Length            :  Multichapter

Genre              : Family, romance, drama, friendship, supernatural, AU

Rating               : PG-15

Disclaimer       : Kim Jun Hyo milik Kunang dan Cho Min Hyun milik Azumi, sedangkan Suho, Hyunseung, Chanyeol dan Minho milik mereka sendiri. Cerita ini murni milik dari weird- happy- chicken maniac– Kunang and cool-stubborn-lovely Azumi Aozora, plagiat jauh-jauh sebelum dikirim Kris ke Galaxy terus digebukkin alien disono,

Summary        : There is a past, and there is a future. Everybody couldn’t avoid both of them. And how about person who can tell your past and future? How if there were persons who can tell your past and future? Wanna take a look? This is the story about Jun Hyo – a *Psychometry ice princess yet beautiful rich heiress who hates losing– and Min Hyuna *Precognitive clumsy girl yet lovely rookie doctor who loves green tea– .. When they see the things that they shouldn’t be seen, the hidden fates are revealed.

2nd Fate by Azumi Aozora

===||.: Cho Min Hyun PoV :.||===

15 tahun yang lalu…………….

“Eomma! Appa! Jangan pergi naik shinkansen.” Aku menatap ayah dan ibuku dengan cemas.

Mereka tertawa pelan sambil mengelus-elus rambut panjangku. Meskipun sekarang umurku masih 4 tahun, tapi aku sudah memiliki pemikiran seperti anak-anak yang umurnya jauh lebih tua dariku. Ditambah lagi kemampuan anehku sejak lahir, precognitive, sebuah kemampuan yang membuatku bisa melihat masa depan.

Hari ini adalah hari terakhir kami berlibur di Tokyo. Ya, berlibur bagiku, tapi bagi ayah dan ibuku kunjungan kami ke Tokyo ini merupakan perjalanan bisnis. Ayah dan Ibuku adalah CEO Cho Company yang memiliki hotel mewah terkenal di Korea, Jepang, dan China. Baru-baru ini ayahku juga meresmikan bisnis transportasi darat dan udara di Korea.

Pagi ini ayah dan ibuku berencana pergi ke Osaka untuk menghadiri sebuah meeting penting dengan investor asing. Mereka akan pergi ke sana dengan menaiki shinkansen dan berkata baru akan pulang nanti malam. Selama 7 hari kami berada di Tokyo pun ayah dan ibuku terus saja meeting dan meeting, hanya aku dan kakaku saja yang berlibur.

Detik ini juga, ketika orangtuaku berpamitan padaku, ketika aku menatap mata mereka secara langsung, aku bisa tahu apa yang akan terjadi pada mereka.

Sebuah tabrakan maut yang tak terkendali. Kereta super cepat yang canggih itu entah kenapa bisa keluar jalur. Padahal kereta itu adalah kereta super canggih yang hampir sempurna, di desain sedemikian rupa sehingga keamanan menjadi prioritas penting. Ratusan orang meninggal dunia. Jeritan dan isak tangis di mana-mana. Tubuhku menggigil saat melihat semua itu di dalam kepalaku.

“Jangan pergi naik shinkansen…” air mataku mulai bercucuran.

“Sayang…, jangan menangis…” ibuku memelukku sambil mengusap-usap punggungku dengan lembut.

“Jangaaan…eomma…appa… aku…aku melihat…hiks….kumohon….” aku menangis semakin keras. Aku melihat jasad mereka yang bersimbah darah. Aku melihat tubuh beku ayah dan ibuku digotong ke dalam ambulans. Aku melihat kedua orang tuaku meninggal.

Ayahku melirik jam tangannya. “Tapi kita akan terlambat meeting kalau tidak naik shinkansesn.”

Aku menangis semakin histeris. Memohon –mohon pada mereka agar tidak naik shinkansen. Ayah dan ibuku tahu kemampuan anehku ini. Entah mengapa aku terlahir dengan kemampuan seperti ini, tidak ada yang tahu alasannya. Tapi lama-lama mereka mempercayaiku ketika aku mengatakan hal-hal yang akan terjadi dan ternyata memang terjadi, seperti ketika aku mengatakan anjing peliharaan ayahku akan mati pada tanggal 15 Februari 1998, dan ternyata memang benar.

Kakakku, Kyu Hyun Oppa, kini ikut menenangkanku. “Uljima…” Kyu Oppa mengecup pipiku lembut sambil tersenyum lebar. “Eomma, appa, kalian bisa naik pesawat ke Osaka.” Kata Kyu Hyun Oppa.

Ayah kami mengangguk. “Baiklah. Begitu saja. Min sayang…, jangan menangis lagi yaa. Appa tidak akan naik shinkansen. Nanti pulangnya Appa akan membelikanmu oleh-oleh yang banyak yaa…”

Tangisku sudah agak reda ketika ayahku memelukku. Aku mengusap air mataku yang tersisa dan tidak lagi menatap mata ayah dan ibuku, takut melihat bayangan yang tadi kulihat lagi tentang kecelakaan shinkansen.

“Kyu sayang, jaga Min ya.” Ibuku memeluk Kyu Hyun Oppa.

Kyu  Hyun Oppa mengangguk. “Hmm. Pasti, eomma. Aku sudah berencana akan mengajari Min berenang di kolam renang hotel ini, lalu kami akan makan takoyaki dan okonomiyaki yang sangat Min sukai.”

“Hati-hati ya, jangan sampai tenggelam.” Ibuku mencubit pipiku. Aku terkekeh pelan dan mengangguk.

Aku tiba-tiba terbangun. Keringat dingin bercucuran di dahiku. Aku memimpikan masa lalu itu lagi. Aku membalikkan badanku sehingga kini wajahku menghadap ke bantal, air mataku bercucuran, mengeluarkan semua emosi yang terpendam. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan suara. Aku tidak mau Kyu Hyun Oppa mendengarku menangis lagi.

Padahal sekarang sudah 15 tahun berlalu, tapi rasanya kejadian itu masih bisa kulihat dengan sangat jelas, seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin.

Kenangan itu adalah kenangan terakhir yang kumiliki bersama orangtuaku. Aku tidak pernah menyangka saat itu adalah pertemuan terakhir kami.

Kupikir aku berhasil menyelamatkan mereka. Mereka berdua tidak menaiki shinkansen. Kupikir mereka akan baik-baik saja. Kupikir aku bisa merubah masa depan. Tapi ternyata tidak. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami turbulensi hebat dan terjatuh ke laut. Sampai sekarang bangkai pesawat dan mayat para penumpang tidak bisa ditemukan.

Aku sangat terpukul karena kejadian itu. Di usiaku yang sangat muda, aku sudah harus kehilangan ayah dan ibuku. Kurasa satu-satunya alasan aku bertahan hidup hanyalah karena kakakku yang berusia 6 tahun lebih tua dariku, Kyu Hyun Oppa. Karena dia membutuhkanku, dan karena aku membutuhkannya.

Sejak saat itu, hanya Kyu Hyun Oppa-lah yang kumiliki. Entahlah apa yang akan terjadi padaku bila saat itu Kyu Hyun Oppa juga pergi bersama ayah dan ibu kami. Mungkin sekarang aku sudah mati, atau mungkin aku menjadi gadis gelandangan.

Ternyata Tuhan masih menyayangiku. Ditengah semua kesedihan dan keterpurukan, aku masih memiliki kakak yang menyayangiku dan menjagaku. Kyu Hyun Oppa sangat jenius dan pekerja keras. Setelah orangtua kami meninggal, Kyu Hyun Oppa lah yang meneruskan bisnis keluarga kami meskipun saat itu umurnya baru 10 tahun. Semua orang tahu dia adalah CEO termuda dalam sejarah. Meskipun keberhasilannya tak lepas dari bantuan sekretaris pribadi ayah kami yang sangat berbakat, Mr. Jung Yun Ho, tapi pada intinya jiwa kepemimpinan dan jiwa bisnis Kyu Hyun oppa-lah yang membuat perusahaan ayah kami bertahan bahkan semakin berkembang pesat.

Sejak 15 tahun lalu itulah, aku menyadari 1 hal. Masa depan yang kulihat ada yang bisa berubah dan ada juga yang tidak. Tapi takdir tidak akan bisa diubah. Apa yang seharusnya terjadi pasti akan terjadi. Seperti kematian.

Bagaimanapun caranya, kematian akan menghampiri tepat pada waktunya. Meskipun manusia berusaha menghindar, meskipun berusaha mencari cara lain untuk menjauhi kematian, kematian akan tetap datang menjemput.

Seperti yang terjadi pada orangtuaku. Meskipun saat itu mereka naik pesawat dan bukannya shinkansen, mereka berdua tetap meninggal. Malah karena aku merubah apa yang kulihat dalam kepalaku itu, jasad ayah dan ibuku tidak bisa ditemukan. Seandainya saat itu mereka tetap naik shinkansen, setidaknya aku dan kakakku akan masih bisa melihat jasad mereka untuk yang terakhir kalinya dan menguburkan mereka dengan layak.

Sejak 15 tahun lalu itu, aku jadi sangat membenci kemampuan anehku. Aku muak melihat hal-hal gaib yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh manusia.

Meskipun ada kalanya masa depan bisa berubah, tapi tetap saja takdir tidak akan berubah. Masa depan yang bisa berubah adalah masa depan yang melibatkan pilihan. Contohnya saja : saat aku mendapat penglihatan Kyu Hyun Oppa babak belur karena berkelahi dengan sebuah geng, aku memberitahunya dan memintanya untuk mengendalikan emosinya. Saat itu bahkan aku menemani Kyu Hyun Oppa untuk mengingatkannya agar tidak memedulikan geng berandalan yang mencoba balas dendam karena kekasih si ketua geng menyukai Kyu Oppa.

Apa yang terjadi? Kyu Oppa menahan emosinya, meskipun saat itu perkataan si ketua geng sangat menyakitkan dan merendahkan. Bahkan aku sendiri sangat ingin menonjok wajah ketua geng yang sangat jelek itu!

Tapi karena saat itu Kyu Oppa memilih untuk mengabaikan perkataan ketua geng itu, karena Kyu Oppa memilih menatap ketua geng itu dengan tajam dan dingin, lalu pergi begitu saja, maka apa yang kulihat dalam kepalaku tidak terjadi. Kyu Hyun Oppa tidak babak belur.

Ya, begitulah. Masa depan yang melibatkan pilihan bisa berubah. Di masa depan seseorang bisa menjadi pintar atau bodoh tergantung pilihannya. Seseorang bisa menjadi kaya atau miskin tergantung pilihannya. Tapi masa depan yang harus terjadi pasti akan terjadi. Bukan hanya kematian, tapi sebuah pertemuan, sebuah perpisahan, dan masih banyak lagi hal gaib lainnya yang masih tidak kumengerti.

Aku tidak pernah bisa mengerti takdir. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak mau lagi melihat masa depan orang-orang di sekitarku. Rasanya terlalu menyakitkan melihat berbagai hal yang seharusnya tidak bisa dilihat. Aku tidak pernah lagi membantu siapapun. Tapi terkadang, aku menatap kedua mata kakakku secara langsung meskipun aku merasa takut. Aku takut dengan apa yang akan kulihat. Tapi aku memaksakan diriku untuk menatapnya, agar aku bisa mempersiapkan diriku bila sesuatu yang buruk akan terjadi pada kakkaku.

Tapi kecemasanku hilang, karena yang kulihat saat aku menatap kedua mata kakakku yang cemerlang adalah masa depan yang gemilang dan membahagiakan. Aku tahu, kakakku akan memiliki masa depan yang sangat baik. Bahkan mungkin dia akan hidup jauh lebih lama dibandingkan aku. Ya, lebih baik begitu, karena aku tidak ingin hidup sendiri di saat orang-orang yang kucintai telah tiada. Lebih baik akulah yang pergi lebih dulu. Aku tidak pernah bisa tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Meskipun aku bisa tahu apa yang akan terjadi pada orang lain dalam jangka waktu tertentu, aku tidak pernah tahu masa depanku seperti apa.

***************

Hari selasa siang, saat jam makan siang, aku mengunjungi kakakku di kantornya. Hari ini aku baru akan ada kuliah nanti sore jam 4, jadi aku bisa mengunjungi kakakku yang workaholic itu untuk membawakannya makan siang.

Saat ini aku adalah mahasiswi tingkat 2 jurusan kedokteran di Hankuk University. Meskipun aku tidak bisa membantu orang lain melalui penglihatanku akan masa depan, tapi aku ingin membantu orang lain melalui dunia medis. Dunia yang masuk akal, bukan dunia mistis dan gaib seperti precognitive.

Aku pernah lompat 1 kelas saat senior high school, dari kelas 1 langsung ke kelas 3, karena itulah sekarang aku sudah tingkat 2 di universitas, padahal seharusnya aku masih tingkat 1.

Semua pegawai di kantor utama Cho Company menyapaku. Seperti biasa aku hanya akan mengangguk singkat sambil tersenyum tanpa menatap mata mereka.

Orang-orang sering menganggapku tidak sopan karena tidak pernah menatap mata mereka saat sedang berbicara. Tapi aku tidak pernah memedulikannya. Lebih baik aku dianggap tidak sopan daripada harus melihat bayangan-bayangan masa depan mengerikan tentang mereka.

“Oppa….” Kataku riang saat memasuki ruang kerja kakakku.

“Minhyunnie…” kakakku tersenyum cerah. Tumpukkan berkas terlihat menggunung di meja kerjanya. Kyu Oppa tampak sibuk sekali membaca lalu mengetik di laptop-nya.

Aku menghela nafas. “Oppa, makan dulu.”

Kakakku terkekeh. “Arrasseo.” Kakakku berdiri, memelukku, lalu menuntunku duduk di sofa. “Waaahhh.., kau memasak curry favoritku? Hehehe…” kedua mata kakakku berbinar cerah.

Aku tersenyum. Bagiku, kakakku adalah pria terbaik di seluruh jagad raya ini. Meskipun semua orang menjulukinya sombong, dingin, galak, playboy, tapi bagiku kakakku adalah yang terbaik!

Sifat kakakku padaku dan pada orang lain memang sangat berbeda. Ya, aku tidak menyalahkan orang lain menjuluki kakakku seperti itu, mungkin kalau aku tidak terlahir menjadi adiknya pun, aku akan memiliki pikiran seperti orang lain.

Tapi kakakku membuat pikiranku terbuka. Aku tidak pernah menganggap orang lain 100% jahat ataupun 100% baik. Selalu ada sisi jahat/ buruk dan sisi baik dalam setiap diri manusia. Selalu ada “alasan” dibalik sikap seseorang.

Kakakku lebih nyaman menunjukkan “sisi bad boy”-nya di hadapan orang lain, karena dia berpikir dengan begitu dia tidak akan merasa sakit. Dengan begitu, orang lain tidak akan merendahkannya. Karena menurutnya, seorang CEO yang terlalu ramah dan terlalu baik tidaklah bagus demi kelangsungan sebuah bisnis. Karena menurutnya, bila ia bersikap terlalu baik pada orang lain, orang lain akan memanfaatkannya karena dia adalah seorang CEO Cho Company, salah satu perusahaan terkenal di Asia yang bergerak dalam bidang perhotelan dan transportasi.

Membahas sifat dan tingkah laku manusia tidak akan pernah ada habisnya. Kadang aku berpikir, apakah aku salah jurusan? Mungkin seharusnya aku mengambil jurusan psikologi. Tapi aku memantapkan hatiku, inilah yang terbaik. Menjadi dokter adalah hal terbaik yang bisa kulakukan dalam hidupku. Berusaha menolong orang lain secara “normal” adalah hal yang baik.

Kakakku memakan curry buatanku dengan lahap sambil bercerita banyak hal. Dia juga menyuapkan beberapa sendok curry ke mulutku. Aku tertawa pelan, seandainya para fans kakakku melihat ini, mereka pasti akan sangat cemburu padaku. Kakakku memiliki banyak sekali fans wanita. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak wanita yang menyukainya saking terlalu banyaknya!

Kakakku tidak pernah menolak wanita yang datang padanya, tapi dia tidak pernah sekalipun mencintai seorang wanita dengan tulus. Baginya, wanita hanyalah nomor ke-sekian. Karena itulah kakakku di cap sebagai seorang playboy! Setiap hari dia bisa terlihat bersama dengan wanita yang berbeda-beda. Bukan salahnya. Wanita-wanita itulah yang datang padanya dan menyukainya dengan segenap jiwa mereka. Wanita-wanita itulah yang datang pada Kyu Oppa karena wajah tampan Kyu Oppa, atau karena harta dan kekuasaannya.

Tapi kadang aku merasa kasihan pada wanita-wanita yang sungguh-sungguh mencintai kakaku, seperti Park Yoora eonni. Meskipun begitu, rasa cinta ternyata bisa berubah menjadi sebuah obsesi yang berlebihan. Aku merasa kasihan pada Yoora eonni, tapi kadang aku juga merasa takut padanya saat dia bersikap seperti seorang sassaeng fans.

“Kyu Hyun hyuuuuuung!!!!!!!” tiba-tiba saja pintu ruang kerja kakaku menjeblak terbuka dan seorang pria kurus berambut abu-abu masuk tepat ketika Kyu Hyun Oppa sedang menyuapiku.

Pria itu tersenyum lebar. “Apakah aku mengganggu kencan kalian? Hyung, kau masih tidak berubah!”

Kakakku membelalakkan matanya. “Jang Hyun Seung? YAH! Kau ke mana saja, hah?” kakaku tertawa lebar, menghampiri pria itu lalu memeluknya dengan brotherly.

Aku hanya menatap sekilas pria itu tanpa melihat matanya. Sepertinya dia sahabat lama kakakku. Aku jarang sekali melihat kakakku memperlakukan orang lain se-hangat itu. Hanya padaku dan Mr.Jung Yun Ho (sekretaris dan penasehat perusahaan yang sudah dianggap sebagai hyung oleh kakkku) sajalah kakakku bersikap hangat dan ramah. Pada orang lain sih….tidak usah ditanya! Dingin, galak, menyebalkan.

“Kau kabur 2 tahun ke mana, hah? Dasar kau ya! Pergi begitu saja tanpa mengabariku! Kupikir kau sudah mati, Hyunseung!”

“Hahahaha. Aku hanya jalan-jalan keliling dunia, hyung. Bagaimana? Aku sudah terlihat semakin dewasa kan?”

Kakakku menjewer telinga pria berambut abu-abu itu. “Dewasa apanya?! Rambutmu sekarang aneh begini. Aku lebih suka rambutmu merah seperti dulu.”

“Masa sih? Semua gadis bilang aku tampan dengan rambut seperti ini. Pacarmu itu juga pasti setuju.” Pria berambut abu-abu itu menatapku. Aku menatap kakinya, tidak mau menatap matanya.

“YAH!” Kyu Hyun oppa memukul kepala pria itu. “Dia adikku, pabo!”

“Mwo? Adikmu? Aku tidak tahu kau punya adik.”

“Untuk apa aku memberitahumu?! Awas kau ya! Jangan berani-berani mengganggu adikku.” Ancam Kyu Hyun oppa.

Hyun Seung terkekeh. “Tenang saja hyung, aku masih ingin hidup. Aku tahu kau akan langsung membunuhku kalau aku mengganggu adikmu. Annyeong.., siapa namamu?” Hyun Seung kini duduk di depanku dan mengulurkan tangannya.

Dengan ragu aku pun menjulurkan tanganku. “Cho Min Hyun.” Kataku sambil menjabat tangannya. Mataku menatap baju-nya. Gaya berpakaiannya seperti seorang bintang rock Jepang. Jaket kulit hitam, sepatu boots, ditambah anting di telinga kirinya.

“Aku Jang Hyun Seung, sahabat baik kakakmu sejak SMP.” Pria itu tersenyum.

Kyu Hyun Oppa menarik tangan Hyun Seung agar berhenti menjabat tanganku. “Kau tidak di DO dari kampus? Tidak masuk 2 tahun!” dengus kakakku.

Hyun Seung tertawa. “Mana mungkin aku dikeluarkan. Karena keluargaku-lah universitas itu bisa merenovasi banyak bangunan tua-nya.”

“Kuliah-lah yang benar, Jang Hyun Seung.”

“Hahahaha. Arrasseo….arrasseo.” jawab Hyun Seung cuek. “Hyung, kau tidak rindu padaku?”

“Tidak.”

“Tapi aku rindu sekali padamu hyuuuung…, tidak ada geng berandalan yang mengganggumu selama aku pergi kan?”

Kakakku mendelik kesal pada pria itu. “Tentu saja tidak. Aku punya bodyguards, aku tidak membutuhkan geng konyolmu.”

“Hahahahaha. Kau tahu akulah yang terbaik, hyung. Seandainya aku tidak terlahir sebagai putra tunggal keluarga Jang, aku pasti sudah melamar menjadi bodyguard pribadimu, hyung.”

Kakakku mendengus keras, lalu ikut tertawa. “Ternyata kau sangat mencintaiku ya, Hyun Seungie….” Kakakku merangkul pundak Hyungseung sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan genit. Hyunseung menjauh dan berusaha melepaskan tangan kakakku. Aku tertawa melihat kekonyolan mereka.

“Hyung! Adikmu nanti mengira aku gay! Min Hyun sshi, aku normal. Kakakmu inilah yang gay! Aduh!” Hyun Seung mengusap-usap kepalanya yang sakit karena dipukul kakakku.

“Kau tidak ada kuliah?”

“Nanti hyung, jam 3.”

Kakakku mengangguk. “Kalau begitu kau antar Min Hyun ke kampus. Dia kuliah di Hankuk juga, tapi jurusan kedokteran.”

“Woaaahhh…, daebak. Kau pasti sangat jenius seperti kakakmu, Min Hyun.”

“Kau tidak naik motor-mu ke  sini kan?”

“Tidak hyung. Kenapa?”

“Karena kalau kau naik motor balapmu yang tingkat keamanannya sangat minim itu, aku tidak akan memintamu mengantar adikku.”

Hyunseung terkekeh. “Tenaang hyung. Aku bawa mobil.”

“Aku bisa pergi sendiri. Kuliahku jam 4 Oppa.” Kataku pada kakakku. Aku merasa tidak enak harus merepotkan teman kakakku.

Kakakku mengibaskan tangannya cuek. “Pria aneh ini tidak akan menggigitmu, Min. Dia jinak karena takut padaku.” Canda Kakakku. Hyun Seung hanya terkekeh. Aku tersenyum tipis, senang melihat kakakku ternyata bisa memiliki teman baik.

“Kalian pergi ke kampus sekarang saja. Sekarang sudah jam 2.” Kata kakakku.

“Hyung! Adikmu kan baru ada kuliah jam 4!” protes Hyunseung.

“Tapi kau ada kuliah jam 3!” bentak kakakku. Hyun Seung hanya terkekeh. Kakakku memijit-mijit keningnya. “Aku banyak pekerjaan. Mianhae Min.., aku bukannya mengusirmu, tapi hari ini benar-benar sangat melelahkan..”

Aku mendekati kakakku dan memijit punggungnya sambil tertawa pelan. “Kau seperti kakek-kakek saja, Cho Kyu Hyun.”

Kakakku hanya tersenyum. Dia tidak pernah marah bila kadang-kadang aku memanggil namanya tanpa embel-embel oppa.

“Kalau begitu aku pergi dulu.” kataku, dan ketika aku hendak meraih tempat makan kosong yang tadinya berisi curry, kakakku menahan tanganku. “Biar aku bawa saja nanti saat aku pulang. Nanti kau repot bawa-bawa tempat makan ini ke kelas.”

Aku tersenyum dan mengangguk. “Hmm.” Aku memeluk kakakku.

“Woaaahh…, hyung, aku baru tahu ternyata kau orang yang baik.” Hyun Seung langsung berdiri dan berlari menjauhi kakakku sebelum kakakku sempat memukul kepalanya.

“Jangan pulang terlalu malam, Oppa.”

“Arraseo.” Kakakku mengacak-acak rambut panjangku. Kemudian aku dan Hyun Seung pun pergi.

Sungguh, pria bernama Jang Hyun Seung ini benar-benar unik! Selama di perjalanan, dia banyak bercerita tentang apapun tanpa henti, dia juga bertanya banyak hal padaku. Dia sangat humoris dan konyol, tapi aneh. Dia orang pertama yang tidak mengomentari tentang mengapa aku tidak pernah menatap mata lawan bicaraku secara langsung.

Pria berambut abu-abu itu berubah menjadi mengerikan ketika di belakang kami ada sebuah mobil sport kuning yang berusaha menyalip mobilnya. Dia marah-marah tidak jelas, bahkan sampai memberhentikan mobilnya dan mencegat si pengendara mobil sport kuning itu.

Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah Hyun Seung. Dia dan si pengendara mobil kuning ternyata saling mengenal, tapi jelas bukan sebagai teman. Buktinya mereka sekarang berkelahi!

Tadinya aku hanya akan tetap diam. Lagipula Hyun Seung jago berkelahi. Aku melihatnya berkali-kali memukul musuhnya itu dengan telak. Tapi tiba-tiba saja keluar seorang pria lain dari mobil kuning itu dan menghampiri mobil Hyun Seung yang kunaiki. Pria itu membuka pintu mobil yang kunaiki lalu menyeretku keluar dengan kasar.

“YAH! Lepaskan!” aku berusaha melepaskan diriku dari cengkraman si pria tinggi kekar itu.

“Pacarmu cantik juga.” Kata musuh Hyunseung. “Jang Hyun Seung! Berhenti memukuli BaekDong! Atau aku akan menyakiti kekasihmu! Hahahaha.”

“YAH! Lepaskan!” teriak Hyun Seung, tapi sebelum Hyun Seung sempat menghampiri kami, aku sudah menendang dan menonjok wajah pria itu dengan keras. Aku juga berhasil membanting pria itu sampai terkapar di jalanan. Pria kekar itu merintih kesakitan. Dalam sekejap dia dan temannya yang babak belur karena dipukul Hyun Seung pun berlari masuk ke dalam mobil mereka dan segera tancap gas.

Nafasku terengah-engah. Sudah lama sekali aku tidak pernah berkelahi.

“Daebak….” Hyun Seung menatapku sambil membelalakkan matanya. Sepertinya dia masih tidak percaya gadis pucat kurus sepertiku bisa mengalahkan pria kekar tadi.

“Aku belajar taekwondo dan judo sejak kecil.” Kataku datar. “Tapi aku pasti tidak sehebat kau, Hyun Seung oppa.”

Tanpa kuduga, Hyun Seung mengguncang-guncang pundakku dengan keras sambil tertawa senang. “Yah! Cho Min Hyun! Kau sangat keren! Hahahaha. Kau mau bergabung dalam geng-ku?”

Aku menyeringai. Aku menatap ke manapun selain mata Hyun Seung. “Aku tidak tertarik. Ayo, Oppa! Nanti kau telat masuk kuliah.”

“Tidak masalah kalau aku telat.” Kata Hyun Seung cuek. Tapi dia mengikutiku masuk ke dalam mobil. Selama sisa perjalanan, topik pembicaraan kami berganti menjadi ilmu beladiri dan film action.

Aku memang sudah belajar beladiri sejak umurku 5 tahun. Aku bertekad untuk menjadi gadis yang kuat, yang tidak akan merepotkan kakakku, dan bila ada yang menculikku demi uang aku bisa melawan penculikku. Selain itu, kakakku sangat payah saat mengikuti kursus beladiri. Otaknya memang jenius, tapi dia tidak pandai berkelahi. Otakku memang tidak se-jenius kakakku, tapi aku cepat belajar beladiri dan kurasa aku lebih kuat dibanding kakakku. Yah, tidak ada manusia yang sempurna.

****************

Satu minggu kemudian……

Bruukkk!!!!

“Jeosong hamninda….jeosong hamnida…” aku membungkukkan badanku meminta maaf saat tak sengaja menubruk lengan Kim Jun Hyo, gadis paling populer se-universitas Hankuk.

Aku menggigit bibirku. Padahal kemarin baru saja aku menubruknya bahkan hampir membuatnya jatuh di tangga, tapi untung saja kemarin Chan Yeol menahan tubuhnya. Kenapa sekarang aku harus berpapasan lagi dengan gadis ini dan menubruknya lagi?

Aku memang sangat ceroboh. Clumsy.

“YAH! Kenapa kau selalu menabrakku?! Untung aku tidak jatuh!” bentak Jun Hyo.

“Jeosong hamnida.” Aku memang salah.

Jun Hyo mendengus. “Sudahlah.” Dia pun pergi begitu saja diikuti oleh tiga orang pria cute yang kutahu sebagai anggota Princess Hyo’s club.

Aku menghela nafas panjang, kemudian kembali berjalan di sepanjang koridor selatan Hankuk university. Aku telat masuk ke kelas ilmu kedokteran forensik! Semua ini terjadi karena barusan aku tidak bisa menemukan jas laboratorium-ku! Aku mencari ke semua penjuru rumahku yang kelewat besar, dan ternyata jas lab-ku ada di kamar mandi lantai 3! Aku mengutuki kecerobohanku dan sifat pelupa-ku yang sangat akut. Aneh, aku selalu melupakan hal-hal sepele tapi tidak pernah bisa melupakan kejadian mengerikan dan menyakitkan seperti kecelakaan pesawat yang membuat orangtuaku meninggal dunia.

“Jeosong hamnida, seonsangnim…” aku membungkukkan badanku saat telat masuk ke kelas.

“Ayo masuk saja Cho Min Hyun sshi, aku baru akan mengabsen.” Kata Kim Jun Myeon sunbaenim. Sebenarnya dia masih kuliah tingkat akhir di kedokteran, dia senior-ku, tapi dia menjadi asisten dosen dan aku selalu memanggilnya seonsangnim meskipun dia tidak suka dipanggil seonsangnim. Tapi menurutku sangat tidak sopan memanggil dosen, meskipun hanya asisten dosen, dengan sebutan Oppa. Ya, semua gadis di kelasku memanggilnya Oppa kecuali aku.

Choi Min Ho tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku, menyuruhku duduk di sampingnya. Sering sekali kami duduk bersebelahan. Min Ho selalu menyiapkan 1 buah kursi kosong untukku di sebelahnya. Meskipun banyak gadis yang ingin duduk di dekatnya, entah kenapa Min Ho lebih suka duduk denganku. Mungkin karena aku bukan fangirls-nya.

Choi Min Ho adalah teman pertamaku di kedokteran. Bisa dibilang…..satu-satunya temanku. Dia satu-satunya orang yang baik padaku. Semua orang menjauhiku karena aku anti-sosial. Aku tidak akan berbicara bila tidak ditanya. Terlebih lagi mereka menganggapku aneh dan tidak sopan karena tidak pernah menatap mata mereka saat berbicara dengan mereka. Semua gadis di universitas ini juga membenciku karena aku tidak pernah mau menolong mereka untuk dekat dengan Kyu Hyun Oppa. Sejak dulu aku memang tidak pernah mau dijadikan “alat” oleh para gadis yang menyukai kakakku.

Waktu terasa cepat sekali berlalu karena Kim Jun Myeon seonsangnim sangat menyenangkan dalam menyampaikan materi. Padahal kelas ini 3 SKS, cukup lama. Aku tidak pernah merasa bosan saat dia mengajar, apalagi aku menyukai mata kuliah yang satu ini.

Minho mengajakku makan siang bersamanya, tapi aku menolaknya karena aku membawa bekal makan siang dan akan makan di taman. Seperti biasa. Minho tahu aku selalu makan sendirian, tapi dia tak pernah bosan mengajakku. Aku bukannya tidak ingin makan bersamanya, tapi aku tidak menyukai efek setelahnya. Para fangirls-nya akan semakin ganas menyerangku. Menjegal kakiku ketika aku sedang berjalan (mereka tahu aku ceroboh dan sudah pasti aku terjatuh), dengan sengaja menumpahkan minuman ke baju-ku, dan masih banyak lagi keisengan lainnya.

Aku hanya akan membiarkan mereka. Padahal bisa saja aku menghajar mereka sampai babak belur. Tapi untuk apa? Tidak ada gunanya meladeni keisengan mahasiswi fangirls Minho yang memiliki otak kekanakan!

“Cho Min Hyun sshi.” Panggil Kim Jum Myeon.

“Ne, sunbaenim.” Aku memanggilnya sunbaenim (senior) saat kelas telah berakhir dan bukannya seonsangnim (guru).

Jun Myeon tersenyum manis. Wajahnya memang selalu penuh senyum. Dia sangat ramah dan baik pada semua orang. Tapi terkadang aku muak melihat wajah “angel”-nya itu. Aku tidak percaya hidupnya selalu menyenangkan seperti yang terlihat dari raut wajahnya. Yah, tapi aku tidak peduli. Setiap orang bebas menentukan akan menampilkan “wajah” seperti apa di hadapan orang lain.

“Aku sangat menyukai essay-mu. Teruslah mempertahankan nilai sempurna-mu. Mungkin semester depan kau bisa menjadi asisten dosen sepertiku.” Jun Myeon tersenyum.

Aku membungkukkan badanku. “Ne, sunbaenim.” Kataku sopan.

Jun Myeon tertawa pelan. “Panggil aku Suho Oppa saja, terasa lebih enak didengar.”

Aku hanya terdiam dan seperti biasa tidak melihat mata lawan bicaraku. Aku menatap bibir Jun Myeon yang tersenyum.

“Setelah makan siang kau ada kelas apa?” tanyanya.

Aku merasa bingung. Kenapa dia bertanya hal itu? “Tidak ada, tapi jam 2 ada kelas ilmu gizi.” Jawabku singkat.

“Kalau begitu kau mau kan membantuku memeriksa jawaban quiz kelas anatomi tingkat pertama?”

“Eh?” Aku bingung. Kenapa dia harus meminta bantuanku?

Jun Myeon tersenyum. “Nilai anatomi-mu sempurna saat kau tingkat 1 dulu. Lee seonsangnim yang memberitahuku. Aku kewalahan memeriksa tugas yang kelasmu kerjakan. Kau mau membantuku kan? Aku akan mentraktirmu makan siang. Ayo….”

Aku menggeleng pelan. “Terima kasih, sunbaenim. Tapi aku membawa bekal. Aku akan membantumu. Kau tidak perlu berterima kasih dengan mentraktirku makan. Aku akan datang ke ruanganmu setelah jam istirahat.”

Aku senang dia mempercayaiku untuk membantunya, tapi aku tidak mau merepotkannya dengan mentraktirku makan. Bagiku, membantu orang lain tidak perlu mendapatkan imbalan.

Jun Myeon tersenyum. “Baiklah. Aku akan menunggumu, Min Hyun sshi.”

Aku membungkukkan badanku kemudian pergi keluar kelas. Beberapa teman sekelasku ternyata masih berdiri di depan kelas dan berbisik-bisik ketika aku berjalan melewati mereka. Aku tidak memedulikan mereka.

Sama seperti Minho, Junmyeon Oppa juga merupakan pangeran kedokteran. Fans mereka sangat banyak! Adik Junmyeon Oppa, Junhyo, juga sangat populer. Dia adalah “princess” di jurusan bisnis, bahkan di seluruh universitas!

“Populer” tidak ada dalam kamus kehidupanku. Aku selalu menghindari sorotan. Aku lebih baik berada di balik layar daripada di atas panggung.

Aku tidak pernah memakai pakaian, tas, sepatu, dan barang-barang ber-merk yang harganya sangat mahal. Meskipun aku mampu membeli semua itu, aku tidak mau menyia-nyiakan hasil jerih payah kakakku!

Aku selalu berpikir, kakakku bekerja mati-matian agar kami bisa bertahan hidup, agar semua pekerja yang bekerja di Cho Company bisa bertahan hidup, bukan untuk memenuhi gaya hidup mewah layaknya kaum socialite yang lain.

Kakakku tidak pernah memaksaku memakai barang-barang mewah. Kakakku tidak pernah memaksaku menghadiri “pertemuan” kaum socialite. Mana mungkin aku yang tidak suka bersosialisasi mau menghadiri komunitas elite itu. Aku tidak tahan mengobrol dengan orang-orang kaya. Topik pembicaraan mereka tak jauh-jauh dari fashion, liburan, dan memamerkan kekayaan mereka.

Tapi aku tahu Kim Jun Hyo berbeda. Meskipun dia kaya dan populer, meskipun dia heiress perusahaan terkenal, dia berbeda. Fashionable memang sudah mengalir di dalam gen-nya tanpa perlu bersusah payah untuk menjadi fashionista sejati seperti kebanyakan kaum socialite lainnya. Dia berbeda karena dia tidak hanya kaya dan populer tapi juga punya otak.

Jun Hyo sangat pintar. Topik pembicaraannya pun tidak selalu mengenai fashion. Tentu saja dia mengerti fashion, tapi di otaknya juga banyak hal lain yang lebih penting dibanding fashion.

Aku mengetahui hal ini karena pernah satu kali aku melihat matanya secara langsung tanpa sengaja ketika kami bertubrukan, saat dia menjalani ospek universitas.

Saat itu aku melihat “gambaran masa depan” Jun Hyo di dalam kepalaku. Aku melihat Jun Hyo menghadiri sebuah meeting bersama jajaran direksi perusahaan ayahnya. Dalam penglihatanku, Jun Hyo berhasil meyakinkan jajaran direksi itu untuk mengikuti sarannya dalam menyelesaikan salah satu masalah perusahaan.

Sejak saat itu aku tahu dia gadis yang luar biasa. Karena itulah aku tidak pernah merasa kesal padanya meskipun dia terlihat membenciku. Dia sama pekerja kerasnya seperti kakakku, dan dia sangat berdedikasi pada bidangnya, karena itulah aku mengaguminya. Meskipun aku berkata aku ingin menjadi dokter, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu aku menginginkan hal lain. Hanya saja aku terlalu takut untuk mewujudkan mimpi yang satu itu.

Ya, begitulah. “Penglihatan” masa depan yang kulihat sangat random. Aku beruntung karena melihat masa depan Jun Hyo yang baik-baik, bukan hal-hal buruk yang akan terjadi padanya.

Entahlah, sejak saat itu kami sering tak sengaja berpapasan. Lebih tepatnya bertubrukkan. Seolah takdir menginginkan kami untuk selalu bertemu.

Sebelum aku mencapai taman, seseorang mencegatku.

“Omo~ Cho Min Hyun sshi, sudah lama kita tidak bertemu.” Seorang perempuan cantik dengan make-up tebal menyeringai padaku. Dia adalah Kim Yuri, queenka di senior high school-ku dulu. Sekarang dia masuk ke universitas ini, jurusan musik.

Saat senior high school, Yuri selalu membully-ku. Dia tidak menyukai semua tentangku. Dia sangat membenci kakakku setelah kakakku mencampakkannya, karena itulah dia mulai membenciku. Tapi aku tidak pernah mengadukan hal ini pada kakakku.  Aku tidak ingin membuat kakakku khawatir. Lagipula, aku masih bisa menghadapi tingkah Yuri. Dia tidak pernah membahayakan nyawaku, hanya melakukan hal-hal konyol seperti menjambak rambutku, mengotori rambutku dengan remah roti, meminta uang padaku, merebut makanananku, dan hal-hal pembully-an konyol lainnya.

Bagiku, selama nyawaku tidak terancam, aku tidak akan melawan siapapun yang membully-ku. Pembully hanyalah orang-orang menyedihkan yang tidak mensyukuri hidupnya, yang iri pada kehidupan orang yang di bully-nya. Aku selalu mengatakan hal itu berulang kali pada diriku sendiri. Kesal? Tentu saja. Aku hanya manusia biasa dan bukannya malaikat. Tapi aku berusaha mengendalikan diriku.

“Kau masih saja tidak sopan seperti dulu!” Yuri mengangkat dagu-ku dengan paksa sehingga aku kini menatap matanya. Mataku membelalak lebar saat melihat bayangan masa depan Yuri.

“Sudah kubilang kau harus menatap mata orang yang mengajakmu bicara! Kau sangat keterlaluan! Kau pikir kau hebat ya? Kau merendahkan orang lain sehingga tidak sudi menatap mata mereka! Yah! Cho Min Hyun! Aku masih membencimu. Meskipun sekarang aku tidak se-populer dulu, aku tetap membencimu! Tapi kau tenang saja, karena sekarang aku jauh lebih membenci si princess wannabe Kim Jun Hyo! Cih! Gadis yang sangat menyebalkan! Sok tebar pesona!”

Aku hanya terdiam mendengarkan ocehan Yuri. Yuri memukul kepalaku pelan berulang kali. “Kau punya uang berapa di dompetmu? Jangan bilang kau hanya membawa kartu platinum!”

Aku mengeluarkan dompetku lalu menyerahkan semua uang yang ada di dompet itu pada Yuri. Yuri membelalakkan matanya, lalu dia tertawa. “Cho Min Hyun…, kau semakin kaya ya sampai-sampai memberiku uang sebanyak ini?” ejeknya, tapi dia merebut uang itu dariku. Aku memang memberinya uang yang sangat banyak, karena aku merasa kasihan padanya. Dalam penglihatanku, ketika aku menatap mata Yuri tadi, aku melihat rumahnya akan kebakaran dan tidak akan ada yang tersisa.

Aku tidak berani memberitahunya sekarang, aku takut bila aku merubah takdir maka takdir yang jauh lebih buruk dan mengerikan akan terjadi pada Yuri.

“Gomawooooo tuan putri aneh.” Ejek yuri. Dia masih memukul-mukul kepalaku pelan.

“YAH! APA YANG KAU LAKUKAN?” tiba-tiba saja terdengar teriakan keras dengan nada mematikan.

Tubuh Yuri langsung mematung saat melihat Jang Hyun Seung menatapnya dengan tatapan ingin membunuh, ditambah lagi di belakang Hyun Seung berdiri 3 orang pria tinggi dengan wajah sangar, terutama pria yang memiliki mata seperti mata panda.

Tanpa banyak bicara, Yuri pun langsung berlari kencang meninggalkanku.

“Cho Min Hyun! You’re so stupid!” bentak Hyun Seung. Aku tidak mengira si bodoh ini mengataiku bodoh. Aku juga tidak mengira dia bisa berbicara bahasa Inggris.

Hyun Seung mengguncang-guncang bahuku dengan kedua tangannya. “YAH! Kenapa kau tidak menghajar si bitch girl tadi?! Kau bisa membuatnya babak belur hanya dalam sekali jurus. Bahkan kalau kau hanya menamparnya sekali saja, dia pasti akan menangis 7 hari 7 malam!”

Aku tertawa mendengar kata-kata konyol Hyun Seung. Sungguh, ucapan Hyun Seung sangat bertolak belakang dengan image bad-boy, berandalan, dan pembuat onar yang menempel di wajahnya.

Hyun Seung mengerutkan keningnya. “Yah! Apa otakmu jadi rusak gara-gara si bitch girl memukul kepalamu?” kata Hyun Seung ngaco.

Aku berhenti tertawa. “Jangan bodoh! Otakku lebih keras daripada intan.”

Hyun Seung berdecak kesal. “Aku sudah berjanji pada Kyu Hyun hyung akan menjagamu. Tapi aku tidak akan selalu bisa menjagamu, terutama ketika aku bolos kuliah. Hahahaha.”

Aku mendengus. “Aku tidak perlu pengawal.”

“No…no….no. Kau tentu saja butuh pengawal. Meskipun kau jago berkelahi, tapi kau tetap saja perempuan.”

“Apakah kau baru saja merendahkan kaum perempuan, Jang Hyun Seung sshi?” Aku menatap bahu-nya.

“YAH! Panggil aku Oppa! Aku jauh lebih tua darimu!” bentak Hyun Seung. “Mulai sekarang, anak-anak buahku akan menjagamu. Ini Kris, Kai, dan Tao.” Hyun Seung mengenalkan ketiga temannya atau yang dia sebut anak buahnya padaku. Ketiga pria itu mengangguk padaku dengan raut wajah mengerikan. Aku mendengus. Aku berani bertaruh ketiga anak buah Hyun Seung pasti tidak lebih pintar dari Hyun Seung.

“Tidak usah memasang tampang yang seram-seram seperti itu. Aku tahu kalian sebenarnya sangat konyol.” Kataku pada Kris, Kai, dan Tao.

Hyun Seung mengibaskan tangannya pada ketiga temannya. “Stop memasang ekspresi seram kalian. Gadis ini temanku.”

Ajaib. Seketika raut wajah ketiga orang itu berubah.

“Min Hyun sshi, kau adiknya Kyu Hyun hyung? Woaaahh….aku sangat mengagumi kakak-mu! Sayang sekali kakakmu hanya berteman dengan Boss Jang dan tidak berteman denganku.” si pria bermata panda memanyunkan bibirnya dengan manja.

Aku tertawa. Benar kan apa kataku?!

“Boss Jang, kita tidak jadi makan?” tanya pria berkulit tan bernama Kai.

Pria berambut pirang bernama Kris menguap lebar. “Makaaan saja yang ada dalam pikiranmu, kkamjong!”

“Daripada kau tidur terus!” balas Kai pada Kris dengan sengit. Mata mereka bertatapan tajam.

“Sudah…sudah.” Lerai Hyun Seung. “Nah, kalian ikuti Min Hyun dan jaga dia dengan segenap jiwa kalian.” Perintah Hyun Seung.

“Siap Boss!” ketiga pria itu berkata kompak sambil menghormat ala tentara.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar orang-orang aneh! Tanpa mengatakan apapun, aku langsung berjalan pergi meninggalkan geng konyol itu.

“YAH! MIN HYUN!!!!! NANTI KAU DATANG KAN KE PERESMIAN SEKANG HOTEL?” teriak Hyun Seung, padahal aku baru berjalan 3 meter darinya.

Aku membalikkan badanku. “Aku tidak tertarik.” Kataku singkat. “Jangan teriak-teriak! Ini bukan di hutan.”

Ketiga anak buah Hyun Seung terkikik geli. Hyun Seung memukul kepala mereka, kemudian kembali memasang wajah cool-nya dan image bad-boy nya. “Ikuti Min Hyun! Jangan lupa, kalian harus menjaganya dengan baik!”

“Oke Boss!” ketiga anak buah Hyun Seung berlari dan kini berjalan di belakangku layaknya pengawal. Aku hanya menghembuskan nafas panjang. Tidak ada gunanya juga menyuruh mereka pergi karena pasti mereka tidak akan pergi. Aku heran mengapa mereka sangat loyal pada boss bodoh seperti Jang Hyun Seung!

********************

Min Hyun~ah, kau datang kan ke peresmian hotel milik keluargaku? Kuharap kau datang. Datang ya! Kau kan temanku. Kau harus datang saat temanmu mengundang. Hehehe. Aku jamin makanannya enak-enak.

Aku tersenyum membaca message yang Minho kirimkan padaku. Dasar!

Ya, Choi Min Ho termasuk salah satu orang yang “sosok luar-nya” hanyalah topeng tempat sosok aslinya bersembunyi. Terlihat dingin dari luar, tapi sebenarnya sifatnya sangat hangat.

Aku masih berbaring di tempat tidurku. Kakakku juga menyuruhku untuk datang ke peresmian hotel milik keluarga Minho. Katanya agar aku bisa bersosialisi dengan keluarga Minho. Siapa tahu Tuan Choi merekrutku menjadi salah satu dokter di Sekang hospital yang sangat terkenal itu setelah aku lulus nanti.

Tentu saja aku akan merasa senang bisa bekerja di rumah sakit canggih dan hebat seperti Sekang hospital setelah aku lulus nanti. Tapi itu bukanlah prioritas utama. Untuk menjadi dokter hebat yang menolong banyak orang tidak harus bekerja di rumah sakit terkenal. Bukankah lebih baik bila aku memiliki rumah sakit-ku sendiri di masa depan nanti? Siapa tahu di masa depan nanti rumah sakit-ku akan bisa mengalahkan kepopuleran rumah sakit Sekang. Lapangan pekerjaan bagi warga Korea pun akan semakin luas dengan adanya rumah sakit baru.

“Miiiiinnnnn….” Kakakku mengetuk pintu.

“Masuk saja, Kyu Oppa.”

Kakakku membuka pintu kamarku. Dia sudah memakai tuksedo rapi dan terlihat sangat tampan.

“Ayo! Kenapa kau belum ganti pakaian? Tuan Choi ingin bertemu denganmu di pesta peresmian nanti. Aku bercerita padanya tentangmu dan sepertinya dia tertarik untuk menjadikan kau calon dokter di Sekang hospital.”

Aku menghela nafas panjang. “Baiklah. Tapi aku datang bukan karena ingin menjilat Tuan Choi. Oppa, sudah kukatakan, aku tidak berambisi untuk menjadi dokter di Sekang hospital! Aku akan datang karena temanku, Minho, mengundangku.”

“Baguslah! Hahahaha. Kau menyukai Minho?”

“Oppa! Dia hanya temanku! Lagipula dia bukan tipe-ku.”

“Hahahaha….arrasseo. Ayo, cepat ganti baju, lalu aku akan mendandanimu.”

Aku memutar kedua bola mataku. Kakakku memang bisa merias wajahku dengan baik. Tapi jangan salah sangka, dia cowok tulen dan bukannya gay! Dia hanya tahu terlalu banyak hal termasuk make-up. Mungkin karena dia selalu dikelilingi perempuan!

Setelah memakai gaun putih yang dibelikan kakakku dan merias wajahku dengan riasan simple, kami pun pergi menuju Sekang hotel menggunakan limousine kakakku. Aku merasa tidak nyaman memakai gaun mewah ini. Apalagi bahu dan punggungku terbuka. Tapi kakakku mengatakan aku sangat cantik, jadi aku pun berusaha merasa nyaman dengan gaun ini.

Aku memisahkan diriku dari kakakku. Aku hanya bertemu ayah Minho dan kakak Minho (Choi Si Won) sebentar. Aku lebih banyak mengobrol dengan Minho. Aku mencoba berbagai makanan yang Minho rekomendasikan. Semuanya memang sangat enak!

Kakakku mengobrol dengan banyak orang penting yang hadir di pesta. Minho juga meminta maaf padaku karena dia harus menemui orang-orang berpengaruh di perusahaannya. Aku berkata tidak apa-apa karena aku akan sangat sibuk makan.

Aku mencoba semua makanan yang ada di pesta. Ketika aku sedang berjalan sambil memegang jus jeruk menuju booth yang menyajikan dimsum di sebrang sana, tanpa sengaja di tengah jalan aku menubruk seseorang sampai membuat lengan baju orang itu basah.

“Jeoseonghamnida! Aku tak sengaja, aku akan mengganti biaya mencucinya atau kalau perlu aku akan mengganti bajumu.” Kataku cepat sambil membungkukkan badan. Sial sekali karena sifat cerobohku harus muncul di acara seperti ini!

“Min Hyun sshi?” terdengar suara ngebass yang sudah kukenal.

Aku mendongakkan kepalaku sebentar. “Eh? P..park C..chanyeol sshi, kenapa kau ada di sini?”

“Kau sendiri?”

“Ini pesta peresmian hotel milik keluarga temanku, lalu kau?” Aku heran melihat Chanyeol datang ke pesta ini. Keluarga Chanyeol biasa-biasa saja. Setahuku yang datang ke pesta ini adalah para businessman & businesswoman penting yang berpengaruh di Korea.

“Ah aku…” Chanyeol berhenti bicara. Dia menatap Jun Hyo dan Min Ho yang berdiri agak jauh dari kami.

Aku melihat Jun Ho membisikan sesuatu pada Min Ho, lalu mereka berjalan pergi ke luar sambil bergandengan tangan.

Mata Chanyeol membelalak lebar. Tubuhnya kaku.

“Chanyeol sshi, apakah kau baik-baik saja?” tanyaku cemas.

“Eh..eh…i-iya. Aku baik-baik saja.” dia pun berbalik pergi, hendak keluar dari ballroom.

“Chanyeol sshi! Bajumu….”

“Tidak apa-apa Min Hyun sshi.” Chanyeol nyengir lebar, tapi raut wajahnya terlihat sedih.

Aku mengerutkan keningku. Ada apa dengan Chanyeol? Tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Setahuku dia adalah si happy virus yang selalu terlihat happy.

Aku pun akhirnya kembali ke tujuan utamaku. Dimsum!

Aku mendekati booth dimsum yang cukup ramai itu. Aku masih memikirkan tentang Chanyeol tadi. Apakah benar dia tidak apa-apa? Dia tidak merasa sedih karena aku menumpahkan jus jeruk ke pakaian-nya yang terlihat mahal itu kan?

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga aku tidak menyadari ada sebuah tangan besar yang menyentuh bahu-ku yang terbuka. Tubuhku langsung merinding. Jangan-jangan…. Om-om genit yang suka daun muda!

Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun segera membanting orang yang berani-beraninya menyentuh bahuku yang terbuka itu dengan menggunakan jurus judo andalanku.

“Aaarrgghhh…” pria itu mengerang. Beberapa orang di sekitar kami terkejut. Tapi tak ada yang lebih terkejut dibandingkan aku.

“Kim Jun Myeon sunbaenim?” Aku membelalak kaget saat melihat ternyata Jun Myeon sunbaenim-lah yang barusan menyentuh pundakku. Kenapa dia tidak memanggil namaku saja sih? Jadi kan aku salah paham.

“Sunbaenim….kau tidak apa-apa?” aku berjongkok dan menatapnya dengan cemas. “Maafkan aku, sunbaenim. Kupikir kau ahjusshi genit…”

Aku membantu Jun Myeon sunbaenim berdiri.

“Hahahahaaha…..hahahahaa…hahahaha….” tiba-tiba saja Jang Hyun Seung datang sambil tertawa keras. Menertawakan Jun Myeon. “Suho, bukannya kau tidak akan datang ke pesta ini? Hyo bilang kau sedang studi kasus di luar kota.”

“Aku berbohong pada Hyo, agar dia lebih dekat dengan Chanyeol. Ngomong-ngomong, di mana mereka berdua?” Jun Myeon memandang sekeliling ballroom, mencari-cari adiknya dan juga temannya.

Hyun Seung mengangkat bahu. Dia masih belum berhenti menyeringai lebar. “Min Hyun~ah, Good job!” Hyun Seung mengangkat kedua ibu jarinya padaku lalu langsung pergi begitu saja mendekati anak-anak buahnya yang sedang makan pasta.

Jun Myeon merintih kesakitan sambil memegang pinggangnya. Otomatis aku langsung memegang lengannya. “Gwenchana?” tanyaku lagi. Masih merasa sangat bersalah. “Otokaji? Kau akan merasa kesakitan saat berjalan selama beberapa hari. Jeoseong hamnida, sunbaenim…”

Jun Myeon tersenyum hangat. “Jangan meminta maaf lagi. Salahku karena aku mengagetkanmu. Ternyata kau sangat kuat, Min Hyun sshi.” Jun Myeon kembali merintih kesakitan.

“Sunbaenim, aku antar kau ke rumah sakit ya. Aku bisa menyetir.”

Jun Myeon menggeleng. Dia kembali tersenyum. “Panggil aku Oppa.”

“Mwo?”

“Mulai sekarang janggan panggil aku sunbaenim, tapi panggil aku Oppa. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau tidak memanggilku Oppa.” Canda Jun Myeon sambil tertawa pelan.

Aku mengangguk. “Ne, Oppa. Ayo…aku antar ke rumah sakit.” Aku melingkarkan sebelah lenganku di pinggang Jun Myeon. Sebelah lengan Jun Myeon melingkar di bahuku. Aku berusaha membantunya berjalan dengan memapahnya.

“Apakah ada tulangmu yang patah?” tanyaku.

Jun Myeon menggeleng. “Sepertinya tidak. Min Hyun sshi, tidak usah mengantarku ke rumah sakit, kau antar aku ke apartemenku saja. Aku juga punya obat-obatan di apartemenku.”

Aku pun mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu biar aku saja yang mengobatimu.”

Tanpa sengaja, ketika aku menoleh ke samping, mata kami sejajar dan aku menatap mata Jun Myeon selama beberapa detik.

Aku melihat bayangan masa depan Jun Myeon. Dalam penglihatanku, Jun Myeon merasa kesakitan saat berjalan selama beberapa hari.

Aku menghela nafas panjang. Sepertinya tadi aku membanting tubuhnya terlalu keras. Mungkin selama beberapa hari ke depan aku harus membantunya.

===== TBC ======

27 thoughts on “Hidden Fates (Chapter 2)

  1. Waaaaa….. ayo ayo lnjuut… keren thoor…. hyunseung ituuuuh…. aish… badung abis. Wkwkwkw… ga kebayang si kris jd anak buahnya hyunseung. Wkwkwkk…. makin penasaran sama fatasynyaaaa…. hehehee..
    Nungguin next chap poko’nya….. lalalaa…. #nyanyisamahyunseung. Wkwkwkwk…..

  2. keren eonn,
    lucu banget di part hyunseung sama anak buahnya, mereka berempat sama-sama konyol.
    Chapter berikutnya jangan lama-lama ya eonn🙂

  3. okeee… lanjuutt~
    ceritanya keren…
    kke~ ada kai oppa nongol,
    min hyun jago bela diri ni ye, ikut taekwondo? berarti sama dong kya aku kke~

    minho oppa sama hyo kemana yya, next chapternya khusus hyo dtunggu..

  4. Masih taraf pengenalan tokoh yah?? Yawdah deh okelah. ga papa hehehhe ^^b
    Bwt kak azumi sama kak kunang juga, karakter.a hyungseung sama chanyeol emang gitu??? Apa gak ketuker?? Aku pikir chanyeol bakalan jadi murni orang terkonyol nangkepnya mereka kek ketuker karakternya. heheh ^^V maaf cuma komen aja.
    n hyunseung bakalan jadi si badboy yg dingin abis. tapi kok aku mi

    • Kkkkk….iya….
      Enggak kok…gak ketuker. Ini ceritanya kan AU, jd sifatnya nggak sama semua kayak asli. Hehe. Tp liat aja entar…kan siapa tau tersembunyi. Hahahaha.
      Comment kmu kepotong yah? Ga ada lanjutannya

    • *LanjutKomen.
      aku nangkepnya karakter.a mereka kok kek ketuker. yah beda aja ama pengenalantokoh2 pas di teaser.

      oh yah kak, si minhyun itu selama dekt2 hyunseung itu pernah ngeliat matanyaga aih? Kok kek.a dia ngeliat matanya hyunseung terus tapi gak bisa ngebaca masa depan.a hyunseung. heheh ^^V

      udahlah kabur dulu sebelum makin ngebacot komennya sampe kemana2. hoho next part aku neror kak kunang aja deh. hahah bye bye :* *TebarKisseu

  5. kekeke.. aduh mbak gak kebayang ceritanya gini. keren banget imajinasinya mbak. aku kira si cho min hyun itu kayak Candy tapi ternyata dia kuat. aku ngefans banget sama chanrin eh si jun hyo keren juga, habis baca si min hyun juga keren. suka sama penokohanya.mbak kunang sama mbak azumi emang jago buat cerita tentang sixth sense. semangat d tunggu kelanjutanya

    • Hehehe….gomawoooooo >_<
      Sesuai yah sama judulnya? Karakternya jg banyak yg hidden (tersembunyi)? Hehe.
      Candy yg di komik candy ya? Hohoho. Kasian klo kayak candy.
      Siip tunggu yaa lagi bertapa dulu di puncak gunung Alpen biar dpt ide. Lol

  6. AAAAAA …. >_< i like it
    keren ff nya , aku suka tipe bad boy nya hyun seung🙂 min hyun jga pkok nya keren deh ff kolaborasi (?) nya klian😀
    keep writing

  7. Pingback: Hidden Fates (Chapter 4) | wiantinaazmi

  8. Pingback: [EXO, SHINee & Beast FF] Hidden Fates Chapter 4 | FF & KPOP :)

  9. Itu antara mimpiny minhyun dan langsung lanjut ke kehidupan nyata kok ga da tandany
    😀

    maksudny akhir dari flasbackny gitu, kan kasian klo reader baru eonn, takut kesulitan saat membaca
    ( Complaintny ribet yah )
    END

    Wahhh… Kyu jadi oppa yg best yah wat Min (y)

    Kyu sama Seung sahabatan ( ื▿ ืʃƪ)
    2 pria ta

    Gilaaaa ngilang kuliah sampe 2 tahunnn
    Hä Ðέê♓
    Bukan mahasiswa lagi namany tapi mahasiwa H̶̲̥̅̊ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥=D=-?H̶̲̥̅̊ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥=D=-?H̶̲̥̅̊ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥=-?(*)

    Min Hyun hobi banget ga sengaja nabrak Jun Hyo (˘_˘)ck! (˘_˘)ck! (˘_˘)ck!

    Manusia galaksi a.k.a Kris
    Brozen Skin a.k.a Kai
    Baby Panda a.k.a Tao jdi pengawal
    ☺☺нĪ=D=))håãнĪ=))=Dhåã☺☺ puasti kocak abisss “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ ๑ˆ⌣ˆ๑ “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇

    Ahayyy… Akhirny nama chanyeol keluar jga
    Sekaliny nongol malah lagi cembokurrr :p
    #pukpuk chanyeol

    Ending ditutup dengan suho yg lagi cari kesempatan + kena encok (?) #ehhhh

  10. -Hidden Fates (Chapter 2)-

    Sebegitu tragisny kisah MinHyun dimasa lalu.
    Tapi dibalik kisah tragis itu MinHyun bisa mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga.
    HyungSeung bener2 unik banget kelakuanny.
    Berharap setelah kejadian di acara tersebut MinHyun n JunMyeon bisa semakin deket^^ hehehehehehehe

    Ditunggu chap selanjutny😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s