Forbidden Star (Chapter 3)

Image

Title                 : Forbidden Star

Author              : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts      : Shin Hye Ri / Penelope (OC), Leo / Jung Taek Woon (VIXX), Wu Yi Fan / Kris (EXO-M), Lee Hong Bin (VIXX), Lee Min Hyuk (BTOB)

Support Casts      : BTOB, EXO, and VIXX members

Genre              : fantasy, romance, friendship, family, school life

Rating             : PG + 15

Length                        : Series (kemungkinan 5 chapter)

Summary        :  Shin Hye Ri bukanlah gadis biasa. Ia adalah keturunan penyihir terkenal. Sayangnya Hye Ri sering sekali melanggar peraturan keluarganya untuk tidak menunjukkan sihir-nya pada manusia biasa. Karena itulah, orang tua Hye Ri mengirimnya ke Korea untuk tinggal bersama kakak-nya, Shin Dong Geun (Peniel), yang sejak dulu merupakan satu-satunya orang yang bisa mengendalikan sifat membangkang Hye Ri. Apakah sekarang Peniel berhasil mengendalikan Hye Ri? Apa yang terjadi bila rahasia Hye Ri dan keluarganya terbongkar? Berbagai kejadian menarik yang belum pernah Hye Ri alami akan terjadi di Seoul, termasuk jatuh cinta. Tapi bagaimana bila ternyata Hye Ri mencintai orang yang seharusnya tidak boleh ia cintai? Bagaimana bila ternyata BTOB, VIXX, dan EXO yang merupakan idol terkenal di Korea sekaligus merupakan 3 group Kingka di Sekolah baru Hyeri juga memiliki rahasia yang tidak boleh diketahui manusia?

Disclaimer       : This story is just fanfiction. I make no money from this, just have fun as fans. Ide dan alur cerita milik author. Sifat / karakter tokoh FF ini ada yang sama dengan asli tapi ada juga yang beda. Di FF ini BTOB, EXO, dan VIXX umurnya masih umur Senior High School (belasan tahun) dan tidak sesuai asli. Don’t plagiarize this story! Just enjoy the story and don’t forget to leave any comment.

 

Link Chapter 1 :  https://wiantinaazmi.wordpress.com/2013/10/20/forbidden-star/

 

Link Chapter 2 : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2013/12/19/forbidden-star-chapter-2/

 

~ Chapter 3 ~

“Love, kau yakin kau baik-baik saja?” tanya kakakku, Peniel, entah untuk yang ke berapa puluh kalinya sejak kemarin malam. Aku sampai bosan mendengarnya!

Kali ini aku mengabaikan pertanyaannya dan memejamkan mataku sambil mendengarkan musik lewat earphone. Seperti biasa aku duduk di bangku depan di samping manager BTOB yang menyetir.

Sejak kemarin malam, ketika tanpa sengaja aku melihat BTOB melakukan sihir, sikapku pada mereka menjadi berbeda. Entahlah, rasanya aku sangat marah pada mereka karena mereka tidak memberitahuku kalau mereka adalah penyihir sepertiku.

Aku mengabaikan mereka dan bersikap dingin pada mereka. Kakakku mengira aku sedang sakit pra-menstruasi yang membuat mood-ku menjadi buruk. Biar saja mereka mengira begitu, aku sedang malas menceritakan kekesalanku pada mereka. Aku sedang ingin berpikir sendirian.

Siapa aku sebenarnya? Pertanyaan itu terus berulang-ulang kutanyakan pada diriku sendiri.

Selama di kelas, mood-ku semakin buruk. Aku tidak bisa berkonsentrasi belajar. Saat jam makan siang, aku tidak lagi datang ke taman belakang melainkan pergi ke perpustakaan dan tidur di sana. Pikiranku benar-benar kacau.

Aku tidak tahu darimana aku bisa mendapatkan informasi mengenai penyihir Min Ah. Aku tidak tahu ada berapa banyak penyihir di Korea. Aku juga tidak mungkin pergi ke LA sekarang untuk menemui keluarga penyihir teman keluargaku.

Sepertinya satu-satunya cara untuk mengetahui masa laluku adalah dengan bertanya langsung pada kakakku, ayahku, dan ibuku. Aku ingin tahu apakah yang dikatakan Kris kemarin malam adalah sebuah kebenaran atau hanya sebuah kebohongan.

Tapi aku terlalu kesal pada member BTOB karena mereka menyembunyikan identitas mereka dariku! Kenapa mereka menyembunyikannya? Kupikir mereka menganggapku teman.

Aku mulai berkata sinis dan menyinggung “sihir” secara tidak langsung saat aku berbicara dengan member BTOB. Berharap mereka mengerti “kode” yang kuberikan pada mereka, bahwa aku sudah tahu mereka adalah penyihir dan bahwa aku merasa sakit hati karena mereka tidak memberitahuku.

Setelah pulang sekolah, aku, Hongbin, dan Sungjae mulai berlatih drama bahasa Inggris yang akan kami tampilkan minggu depan. Kami memutuskan untuk berlatih di taman belakang, di bawah pohon besar yang biasa dijadikan “markas” oleh Leo ketika jam makan siang.

Seperti biasa tempat itu sepi. Sungjae yang periang berbicara hal-hal lucu seperti biasa, tapi lagi-lagi aku hanya menatapnya dengan sinis dan tidak menanggapi perkataannya. Aku berjalan lebih cepat dari Sungjae dan Hongbin, lalu duduk di atas rumput, di bawah pohon rindang sambil menyandarkan punggungku di batang pohon yang sangat besar.

“Duh! Buku bahasa Inggrisku tertinggal di kelas.” Kata Sungjae tiba-tiba sambil menepuk jidatnya.

Aku menatapnya sinis sambil berdecak kesal. “Cepatlah ambil! Kau bisa mengambilnya tanpa harus pergi ke sana kan! Tinggal jentikkan saja jarimu dan panggil buku itu.” Kataku dengan nada ketus.

Sungjae hanya membelalakkan matanya padaku tanpa berkata apapun. Aku menyeringai lalu mulai meraih ponselku dan bermain games. “Cepatlah, Yook Sungjae! Kuberi waktu 10 detik.”

“Tapi aku tidak mungkin bisa mengambil buku itu dalam waktu 10 detik. Hehehe. 3 menit, oke? Aku akan berlari cepat…tunggu ya…” Sungjae membalikkan badannya dan hendak berlari pergi, tapi aku melemparkan buku matematika-ku yang sangat tebal ke punggung Sungjae dengan keras.

“Aduh!” keluh Sungjae. Ia berbalik padaku. “Kenapa?”

Hongbin menatapku dengan heran. Aku berdiri dan mendekati Sungjae. “Berhentilah berpura-pura, Yook Sungjae!” sentakku. “Kupikir kau temanku!”

Sungjae tidak mengatakan apapun, hanya menatapku sambil membuka mulutnya tanpa suara.

“Aku tidak mood latihan. Besok saja ya!” aku menoleh pada Hongbin yang duduk di bawah pohon, lalu segera berlari pergi meninggalkan mereka.

Biar sajalah mereka menganggapku aneh atau childish! Yang pasti aku masih merasa sangat kesal pada Sungjae dan teman-teman BTOB-nya!

Aku berlari kencang menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Pikiranku dipenuhi berbagai hal sehingga aku tidak sadar menubruk lengan seseorang dengan keras ketika aku sedang berlari.

“Sorry.” Gumamku cepat dan tanpa memandang siapa yang kutubruk.

Tiba-tiba orang itu menahan lenganku. Aku menghentikan langkahku dan mendongak menatap wajah orang itu. Leo menatapku dengan tatapan tajam dan wajah tanpa ekspresi-nya yang biasa.

“Aku sudah meminta maaf!” sentakku. Aku menyentakkan tangan Leo dari lenganku, tapi Leo kembali memegang lenganku, menahan kepergianku.

“Aku mengadopsi kucing.” Kata Leo dengan suaranya yang lembut.

“Mwo?” aku bingung.

“Tadinya aku mau memberitahumu saat jam istirahat, tapi kau tidak datang ke taman. Kau mau melihatnya?” tanya Leo. Jarang sekali dia berbicara kalimat panjang seperti ini, biasanya dia hanya berkata sepatah dua patah kata.

Aku mendengus lalu tertawa. Sungguh, aku tidak pernah bisa mengerti Leo. Kupikir dia kesal padaku karena aku menubruknya, tapi ternyata dia menahan kepergianku hanya untuk menunjukkan kucing yang baru saja diadopsinya?!

Aku mengangguk. “Hmm.”

“Ikut aku.” Leo menyeret tanganku dan menaiki tangga menuju lantai 4.

Aku menatapnya dengan bingung. “Kucingmu ada di sekolah?”

Leo tidak menjawab pertanyaanku. Dia terus berjalan menuntunku ke ruang musik yang sepi. Ruang musik di lantai 4 ini memang jarang sekali dipakai. Gossip yang beredar menyebutkan ruang musik ini berhantu. Tapi aku menduga, Leo-lah yang sengaja membuat ruang musik ini seolah-olah berhantu padahal tidak. Aku tahu ruang musik ini adalah markas ke-2 Leo setelah taman belakang sekolah.

Leo menyalakan lampu ruangan, seketika ruangan yang gelap itu berubah terang benderang. Leo berjalan mendekati lemari besar berisi biola, dan di samping lemari itu terlihatlah sebuah kandang berisi seekor kucing yang memiliki bulu seperti Leopard.

“Meong…meong…” kucing itu langsung mengeong manja ketika Leo membuka kandangnya dan meraih kucing itu ke dalam gendongannya. Leo tersenyum menatap kucing itu.

“Lucunyaaaa…., siapa namanya?” aku mengusap-usap kepala kucing itu. Kucing gendut itu memejamkan matanya seolah menikmati belaianku.

Leo menggeleng. “Aku belum memberinya nama. Aku baru mengadopsinya kemarin malam.”

“Hmmm. Leon. Namanya Leon saja!” seruku senang.

Leo menatapku dengan tajam.

“Kenapa? Leon sangat bagus! Motif bulunya seperti Leopard. Atau kau mau menamainya Leo?” aku menyeringai.

“Leon.” Kata Leo singkat.

Aku tertawa lalu merebut Leon dari pangkuan Leo. “Leon~yah…, apakah kau lapar?” aku mengusap-usap kepala Leon. Kucing itu mengeong.

Leo mengeluarkan satu dus makanan kucing dari dalam tas-nya, menumpahkan sebagian isinya ke dalam telapak tangan Leo, lalu mendekatkannya pada Leon. Leon pun mulai makan dengan lahap. Leo tertawa pelan sambil menatap kucingnya penuh sayang.

Mau tak mau aku pun tertawa melihat tingkah Leo di sekitar Leon. Sikapnya di sekitar binatang sangat berbeda dengan ketika dia berinteraksi dengan manusia.

“Leo sunbaenim, kau mau memelihara Leon di sini?”

Leo mengangguk satu kali. “Tidak boleh memelihara hewan di dorm.” Kata Leo, nadanya terdengar agak sedih.

“Hmmm.., kalau begitu kita harus menjaganya dengan baik di sini! Leon~yah.., besok aku akan membawakanmu ikan tuna, oke?”

Leon mengeong, sementara Leo hanya tertawa pelan. Sepertinya aku bisa melupakan kekesalanku pada BTOB sejenak. Semuanya berkat Leo dan Leon.

***************

Aku tiba di dorm BTOB pukul 6 sore. Tanpa kuduga, ketujuh member BTOB menyambutku di depan pintu sambil menatapku dengan cemas.

“Kenapa?” tanyaku ketus. Aku masuk begitu saja, tapi Il Hoon menahan lenganku.

“Hyeri~ah, apakah kau marah pada kami?” tanya Il Hoon serius. Jarang sekali aku melihatnya bersikap serius seperti ini, bahkan si bawel Sungjae dan Changsub juga hanya terdiam.

“Marah? Untuk apa aku marah pada kalian?!” nadaku masih saja ketus. Aku melepaskan tangan Ilhoon dari lenganku. Aku menatap satu per satu member BTOB. Mereka menatapku dengan sorot mata khawatir.

Aku mendengus keras. “Berhentilah mengkhawatirkanku! Kalian bukan temanku!”

“Love…” kakakku mendekatiku, mencoba merangkul pundakku, tapi aku mendorongnya menjauhiku dengan menggunakan kekuatan sihir-ku.

Kakakku bertahan dengan kekuatan sihir-nya sehingga ia tidak terdorong jatuh.

“Kenapa kalian menyembunyikannya? KENAPA KALIAN TIDAK MEMBERITAHUKU KALAU KALIAN ADALAH PENYIHIR?! KUPIKIR KALIAN TEMANKU!”

“Love…” kakakku mendekatiku lagi. Kali ini aku membiarkannya merangkul pundakku dan mengusap-usap lenganku lembut.

“We’re sorry, Love. I’m sorry.” Kakakku mengecup keningku.

Mataku berkaca-kaca, bukan karena aku marah, tapi karena kecewa.

“Why, Peniel? Apakah karena aku berbeda? APAKAH KARENA AKU BUKAN ADIK KANDUNGMU?” Aku tidak lagi bisa menahan air mataku.

Kakakku tersentak. Ia hanya menatapku sambil terdiam.

Aku mengangguk. “Jadi itu benar.” Aku menganggap diam-nya kakakku sebagai jawaban. “Kris bilang….aku keturunan penyihir Min Ah, padahal aku tahu pasti keluarga kita adalah keturunan penyihir Shin Ae. I trust you, Peniel. I trust Mom and Dad too. So, tell me the truth now, before I change my mind.”

Peniel merangkulku kedalam pelukannya. “Semua itu tidak merubah segalanya, Love. Kau tetaplah adikku. I’m sorry…, aku memang tidak ingin kau menggunakan kekuatan sihir-mu, Love, karena itulah aku merahasiakan siapa BTOB yang sebenarnya.”

“Why? Because I’m a bad witch?”

Peniel menggelengkan kepalanya. “No. It’s just because you’re young and stronger than Mom and Dad. You’re stronger than me too.”

Aku mendengus. “Kau bohong, Pen. Aku tidak mungkin lebih kuat darimu. Just tell me the truth, Pen. Siapa aku sebenarnya?”

Kakakku hanya menatapku dalam-dalam, seolah memikirkan hal yang rumit. Kemudian ia menghela nafas panjang. Member BTOB masih mengelilingi kami berdua dalam diam.

“Kau benar, Love. Kau bukan adik kandungku. Orangtuaku mengadopsimu ketika kau bayi. Kedua orangtuamu….meninggal. Ibumu adalah keturunan terakhir penyihir Min Ah yang sangat terkenal.”

“My Mom was a bad witch?”

Peniel menggeleng. “Bukan. Ayahmu-lah yang mempengaruhinya. Ayahmu sangat kuat, tapi sekaligus berbahaya. Dia menguasai berbagai sihir hitam dan membuat banyak kekacauan di dunia sihir. Karena itulah….” Peniel menghentikan kata-katanya.

Dadaku terasa sesak. Aku tahu apa yang terjadi pada mereka. Mereka berdua di hukum mati oleh raja sihir. Semua rakyat dunia sihir tahu hal ini. Keturunan penyihir Min Ah yang terakhir, ibuku, mencoreng nama baik penyihir Min Ah, mencoreng nama baik dunia sihir putih. Hanya saja dulu aku tidak pernah mengira mereka adalah orangtuaku.

“Tidak ada seorang pun yang tahu kau lahir, Love. Hanya ayah dan ibuku yang tahu. Ibuku…, dulu dia adalah dokter keluargamu. Ibumu merahasiakan kehamilannya dari semua orang, bahkan dari ayahmu sekalipun. Ibumu hanya mempercayai ibuku. Ibumu mengasingkan diri ke tempat yang jauh dan melahirkanmu di sana, sebelum pada akhirnya dia kembali dan….”

Tanpa terasa air mataku menetes. Peniel memelukku semakin erat. “I’m sorry, Love. I’m sorry I didn’t tell you earlier.”

“Kau takut aku mewarisi kekuatan jahat ayahku, Pen? Itu sebabnya kalian melarangku menggunakan sihir…”

“I’m sorry, Love…” Peniel membelai rambutku dengan lembut.

“Aku berjanji aku tidak akan melakukan hal buruk seperti ayahku, Pen. Please…,teach me. Ajari aku menggunakan sihir. Mungkin memang benar kekuatanku lebih besar darimu, tapi aku tidak akan menggunakan kekuatanku untuk hal-hal yang buruk. Aku ingin melakukan banyak kebaikan seperti nenek moyangku, penyihir Min Ah….”

Peniel menggeleng. “Itulah sebabnya aku tidak mau kau menggunakan sihir-mu, Love.”

Aku menatap Peniel dengan bingung. Peniel menghela nafas kemudian kembali bicara. “Aku bukannya takut kau akan menggunakan kekuatan hitam yang diwariskan oleh ayahmu. Aku tahu kau penyihir yang baik, Love. Justru aku takut…, kau akan melakukan sihir demi kebaikan orang lain, seperti nenek moyangmu, Penyihir Min Ah. Semakin banyak kau menggunakan kekuatan sihirmu, maka mutiara sihir yang diwariskan penyihir Min Ah untukmu akan semakin kuat. Kau akan berada dalam bahaya bila mutiara sihir yang ada dalam tubuhmu semakin kuat. Semua makhluk menginginkan mutiara itu, Love. Mereka akan bisa merasakan mutiara itu dalam dirimu ketika mutiara itu semakin kuat. Kau akan berada dalam bahaya…”

“Mutiara itu bisa berguna bagi dirimu, tapi sekaligus membahayakan dirimu, Love. Karena semua makhluk di jagad raya ini menginginkan mutiara itu dan mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan mutiara itu bila mereka tahu kau memilikinya. Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Love. Karena aku menyayangimu. Karena kau adalah adikku. Mungkin kami memang salah, mungkin seharusnya kami tidak menyembunyikan hal ini darimu, Love….” Peniel menghapus air mata di pipiku.

Aku memeluk kakakku itu dengan erat. “Thank you, Pen. Terima kasih karena sudah memberitahuku….”

“Jangan membenci Mom dan Dad, Love. Mereka hanya takut kau terluka….”

Aku menggeleng. “I don’t hate them. Bagiku…, kalian adalah keluargaku yang sebenarnya.”

Peniel tersenyum lebar. Aku balas tersenyum. Member BTOB yang lain kini mendekati kami.

“Kami akan melindungimu.” Sung Jae nyengir lebar.

“Kurasa.., kami bisa mengajarimu teknik-teknik sihir yang sederhana. Selama kau berjanji tidak akan menggunakan shirmu untuk membantu orang lain seperti yang penyihir Min Ah lakukan, kurasa mutiara itu tidak akan bertambah kuat.” Kata Min Hyuk. Member BTOB yang lain mengangguk setuju.

Aku menghapus air mataku yang tersisa kemudian tertawa, kembali ke sikap cuek-ku yang biasa. Sentimental bukanlah gaya yang cocok untukku.

“Tenang saja. Aku juga tidak suka menolong orang lain. Yah.., aku hanya akan melakukan sihir untuk diriku sendiri. Mulai sekarang aku tidak perlu lagi susah-susah mengambil barang dengan berjalan kaki kan? Kalian harus mengajariku bagaimana aku bisa mencuci pakaian dengan menggunakan sihirku, oh…. Ajari juga bagaimana memasak dengan sihir. Selama ini aku tidak pernah bisa, aku hanya bisa memanggil makanan yang sudah jadi.”

“Aigoo~~” Min Hyuk mengacak-acak rambutku. “Kami akan mengajarimu semua sihir yang akan membuatmu menjadi pemalas, hahaha….”

Kami semua tertawa kecuali kakakku. Dia menatapku lekat-lekat. “Love, kau tidak pernah menolong siapapun dengan menggunakan sihirmu, kan?”

Aku menggeleng. “Tidak.” Jawabku tak yakin.

“Tapi kenapa para serigala itu bisa tahu siapa dirimu…?” kakakku sibuk berpikir.

Aku mengangkat bahu. “Mungkin karena penciuman mereka tajam?”

Kakakku menatapku tak yakin. Aku mendengus. “Tenang saja, Pen. Mereka tidak akan menyakitiku. Mereka bilang…mereka berhutang budi pada nenek moyangku.”

Peniel pun mengangguk. Ia menepuk-nepuk pundakku brotherly. “Jangan pernah menggunakan sihirmu untuk membantu orang lain, Love. Kau harus ingat, setiap kali kau membantu orang lain dengan sihirmu, kekuatan mutiara yang diwariskan penyihir Min Ah akan semakin kuat dalam dirimu dan semua makhluk akan bisa merasakannya, mereka akan merebutnya darimu, membahayakan nyawamu.”

Peniel menatapku sungguh-sungguh. Aku menelan air liurku. Bagaimana ini?! Waktu itu…aku pernah menolong Kris saat Kris terluka. Apakah mutiara yang ada dalam diriku sekarang sudah mulai bisa dirasakan oleh makhluk lain?

“Berhati-hatilah, Love. Meskipun kau berpikir para serigala itu jinak, kau tetap harus berhati-hati. Jauhi EXO dan VIXX. Selain di lingkungan sekolah, jangan pernah bersama dengan mereka sendirian. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan mereka lakukan padamu…”

“Peniel hyung, karena itulah aku selalu meminta kami latihan drama di sekolah. Aku, Hyeri, dan Hongbin hyung.” Kata Sungjae.

Peniel mengangguk. “Sekolah aman. Tapi di luar sekolah…, kau harus menjauhi mereka, Love. Terutama Lee Hongbin.”

Aku menatap Sungjae. “Kupikir kau mengidolakan Hongbin.” Ejekku pada Sungjae, masih ingat bagaimana Sungjae begitu mempercayai Hongbin dalam drama bahasa Inggris yang akan kami tampilkan nanti.

Sungjae nyengir lebar. “Sebagai manusia…ya. Dia memang hebat, aktingnya bagus. Dia ketua klub akting, makanya aku mengaguminya. Tapi sebagai vampire…., entahlah. Kau tahu, Hyeri? Cara terbaik untuk menjaga perdamaian? Bersikaplah seolah kau tidak tahu siapa dia dan dia tidak tahu siapa dirimu. Aku tidak pernah sekalipun menunjukkan kekuatanku di hadapan Hongbin hyung, dan dia juga tidak pernah menunjukkan kekuatannya padaku. Sebagai manusia, kami berteman. Sebagai diri kami yang sebenarnya…., kami hanyalah orang asing. Dan aku tidak akan segan-segan melukainya bila dia melukaimu. Kami temanmu. Kami sama-sama penyihir sepertimu….”

Aku menyeringai. “Akhirnya kau mengatakannya juga, Yook Sungjae! Sepertinya memang harus kulempar dengan buku tebal dulu baru kau mau mengatakannya.” Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada. “Aku akan memaafkan kalian setelah kalian mentraktirku ayam bumbu pedas, bulgogi, tteokpoki, ramyun, dan matcha latte.”

“Mwooo??” member BTOB tampak syok dengan selera makanku yang besar. Tapi mereka akhirnya mengangguk sambil tertawa. “Hahahaha… arrasseo…arrasseo…”

Malam itu berlalu dengan cepat. Aku senang karena kini semuanya telah jelas diantara aku, kakakku, dan teman-teman BTOB-ku. Tidak ada yang berubah. Bagiku, Shin Dong Geun alias Peniel tetaplah kakakku, tidak peduli kami memiliki gen dan darah yang berbeda. Bagiku dia adalah kakakku yang menyebalkan tapi bisa kuandalkan.

Satu yang berubah, kini aku mulai mendoakan arwah ibu dan ayah kandungku. Kuharap Tuhan mengampuni mereka berdua. Kuharap.., di kehidupan yang selanjutnya, mereka berdua tidak melakukan hal-hal jahat lagi.

Aku tersenyum menatap ketujuh member BTOB. Satu hal yang semakin membuatku yakin adalah perkataan mereka waktu itu yang memintaku untuk menjauhi EXO dan VIXX. Sekarang aku semakin mengerti alasannya, tapi sekaligus semakin bingung. Karena menurutku…, EXO dan VIXX tidak berbahaya. Mereka tidak akan mencelakaiku. Yah, kuharap begitu.

Aku hanya akan selalu mengingat prinsipku : hidup dengan tenang dan damai tanpa saling mengganggu.

***************

BTOB mengajariku sihir yang akan sangat berguna untukku. Aku sangat senang karena pada akhirnya bisa mendapatkan teman-teman penyihir.

Minhyuk yang paling jago beladiri mengajariku teknik bertarung dengan menggunakan sihir. Katanya agar aku bisa melindungi diriku.

Ilhoon dan Sungjae mengajariku memotong buah-buahan dan berbagai benda lainnya dengan menggunakan sihir tanpa perlu menggunakan pisau.

Saat di sekolah, saat jam makan siang, aku dan Leo menghabiskan waktu kami di ruang musik lantai 4, bermain bersama Leon. Sepulang sekolah, aku, Sungjae, dan Hongbin berlatih drama.

Semuanya terlihat normal. Mungkin kakakku hanya terlalu berlebihan mengkhawatirkanku. EXO memang masih sering membuntutiku dalam diam. Mereka akan muncul ketika aku turun dari bus dan berjalan di belakangku sampai aku masuk ke dalam dorm BTOB.

Tidak ada tanda-tanda EXO, VIXX, maupun makhluk yang lainnya yang berusaha mengambil mutiara sihir dari dalam diriku. Sesekali aku menelepon Mom, tapi lebih sering Mom yang meneleponku lebih dulu. Aku dan Peniel sepakat untuk tidak memberitahu Mom bahwa aku sudah tahu tentang siapa diriku. Aku tidak ingin membuat Mom sedih, khawatir, dan bersalah. Aku senang Peniel percaya aku cukup kuat untuk mengetahui kebenaran. Aku senang dia mempercayaiku.

Entah sejak kapan, tapi hubunganku dan Hongbin tidak lagi menyebalkan seperti dulu. Dia tidak lagi bersikap mengesalkan di hadapanku. Malah semakin hari aku semakin melihat sisi baik dalam dirinya.

Drama bahasa Inggris kelompok-ku mendapatkan nilai sempurna. Mau tak mau aku mengakui kemampuan Hongbin dalam menulis naskah drama, kepemimpinannya sebagai ketua kelompok dan sutradara, sekaligus aktingnya yang hebat. Tapi aku terlalu gengsi untuk menyebutnya hebat secara langsung di hadapannya, jadi aku hanya menyeringai lebar padanya saat guru kami menyebutkan nilai kami.

Sungjae berjingkrak-jingkrak heboh di depan kelas saat guru kami memberitahu nilai kami. Sungjae langsung memeluk Hongbin. Aku hanya memutar kedua bola mataku melihat tingkah konyol Sungjae. Aku tidak akan heran bila setelah ini para fangirls akan mulai memasangkan Sungjae dengan Hongbin! OTP.

Hari berganti minggu. Bulan bergulir. Musim berganti. Sekarang sudah memasuki pertengahan musim dingin. VIXX selalu masuk setiap hari karena matahari tidak pernah terlihat dan hampir setiap hari turun salju. Sepertinya para vampire itu sangat menyukai musim dingin. Sempat beberapa kali aku memergoki semua member VIXX kecuali Leo bermain-main salju di lapangan, sementara semua murid lain hanya menonton, terlalu malas untuk membuat tubuh yang sudah beku jadi semakin beku.

Berbeda dengan VIXX, sepertinya EXO tidak menyukai musim dingin. Para serigala itu terlihat lebih murung dan tidak se-heboh biasanya. Bahkan Baekhyun dan Chanyeol yang merupakan serigala paling hyper –pun jadi pendiam selama musim dingin berada di titik puncaknya.

Suatu hari, seperti biasa EXO mengikutiku dari belakang ketika aku berjalan pulang menuju dorm BTOB. Tapi kali ini ada yang berbeda, karena mereka mengajakku bicara. Lebih tepatnya, alfa mereka mengajakku bicara.

“Sepertinya kau semakin akrab dengan vampire bernama Lee Hongbin itu.” Kata Kris.

“Memangnya kenapa? Dia teman yang baik. Aku tidak peduli dia vampire atau bukan, selama dia baik padaku maka aku pun akan baik padanya.” Aku berkata cuek sambil terus berjalan.

Kris menahan tanganku, membalikkan badanku hingga kini aku menatap kedua matanya yang tajam. “Kau ingat apa yang pernah kukatakan waktu itu, Shin Hye Ri? Kadang musuh tak terlihat. Musuh bisa bersembunyi di balik selimut yang hangat.”

Aku mendengus lalu tertawa. “Itu berarti bisa saja kalian juga musuhku. Bisa saja kalian juga menginginkan sesuatu dariku.”

Kris menatapku datar. “Tidak masalah kau menganggap kami sebagai apa. Itu bagus. Jangan pernah mempercayai siapapun selain dirimu sendiri, Hyeri.”

Aku mengangguk. “Oke…oke…” aku melepaskan tangan Kris dari lenganku kemudian kembali berjalan. EXO mengikuti lagi tapi kali ini dalam diam seperti biasanya.

Aku masuk ke dalam dorm BTOB. EXO masih menatapku sampai kemudian aku menutup pintu dan akhirnya mereka pun pergi. Aku sudah terbiasa dengan keanehan para serigala itu. Yah, aku tidak peduli. Anggap saja sekarang aku punya 12 serigala penjaga. Meskipun aku lebih suka mereka berwujud serigala daripada manusia. Karena saat menjadi manusia, mereka sangat mencolok! Saat mereka berjalan di belakangku, semua orang akan menatap mereka dan otomatis menatapku juga. Benar-benar mengganggu!

***************

Kakakku memintaku datang ke acara musik akhir tahun, untuk melihat BTOB tampil. Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi demi teman-teman BTOB-ku akhirnya aku pun datang.

Aku menunjukkan kartu “staff” yang diberikan kakakku, sehingga aku bisa masuk ke backstage. Aku berjalan sepanjang lorong gedung, melewati deretan pintu bertuliskan berbagai nama grup ataupun penyanyi solo, mencari-cari pintu dengan tulisan “BTOB”.

Aku menggosok-gosok telapak tanganku yang beku. Meskipun gedung ini memakai pemanas ruangan, tetap saja aku masih merasa kedinginan gara-gara berjalan di jalanan penuh salju yang membuat tulang-tulangku mati rasa.

“Gosh! Kalian mengagetkanku!” aku terperanjat kaget ketika melihat EXO tiba-tiba saja keluar dari ruangan mereka. Kris menatapku tajam, kemudian menyerahkan sekaleng minuman hangat padaku.

“Minum ini. Kau tidak akan merasa kedinginan lagi.” kata Kris. Sepertinya pendengaran serigala-nya bisa mendengar suara gemeletuk gigiku yang kedinginan.

“Thanks.” Kataku.

“No problem.” Kata Kris cool. Dia dan teman-teman EXO-nya pun pergi begitu saja. Saat Tao dan Sehun melewatiku, mereka nyengir lebar sambil melambaikan tangan riang. Aku balas melambaikan tanganku. Ini bukan di kelas dan tidak ada fangirls mereka di backstage ini, jadi tidak masalah bila aku beramah-tamah dengan Tao dan Sehun. Mereka lumayan menyenangkan sebagai teman, seandainya saja alfa mereka (Kris) tidak bersikap aneh dan misterius mungkin aku akan menganggap EXO sebagai temanku juga.

Aku menatap kaleng minuman yang Kris berikan untukku. Karena penasaran, aku pun membukanya dan meminumnya. Aku tahu aku bodoh, harusnya aku tidak meminum apa yang diberikan si alfa serigala aneh itu begitu saja, tapi instingku mengatakan minuman ini aman.

“Hmmm…lumayan.” Kataku dan langsung menghabiskan minuman itu dalam 2-shots. Rasanya seperti cappuccino, tapi ada rasa lain juga seperti ginseng yang membuat cappuccino itu terasa berbeda. Hangat dan menyegarkan.

Aku membuang kaleng kosong itu ke tong sampah dan kembali berjalan. Kenapa ada banyak sekali pintu sih?! Di mana ruangan BTOB? Jangan-jangan ruangan mereka paling ujung!

“Hyeri~ah!” panggil suara yang sudah kukenal. Aku membalikkan badanku dan melihat Hongbin. Dengan make-up yang sekarang ia kenakan, ia jadi semakin terlihat seperti vampire. Konsep musik VIXX yang baru, Voodoo, memang bernuansa gelap. Sangat cocok untuk VIXX.

Hongbin membawa kantung plastik berisi minuman. “Kau mau? Leo hyung tidak terlalu suka minuman ini, ini untukmu saja.” Hongbin memberikan cappuccino ginseng seperti yang Kris berikan untukku tadi.

“Woaahh…, minuman ini sangat terkenal ya di sini?”

“Tidak juga. Tapi kami menyukainya, yah..kecuali Leo hyung. Dia sih mau minum apa saja. Menurutku rasanya sangat enak.”

Aku mengangguk dan langsung meminumnya. “Memang enak.”

Hongbin nyengir lebar. “Apa kubilang. Oh ya, Hyeri, kau mau ikut VIXX phonecall?”

“Mwo? Apa itu?”

“Setelah kami tampil nanti, kami akan menelepon fans VIXX secara langsung dan secara acak. Para fans hanya perlu menuliskan nomor ponsel mereka di sebuah kertas, nanti staff kami akan mengumpulkannya. Kau mau ikut?”

Aku tertawa. “Untuk apa? Aku bukan fans VIXX!”

Hongbin berdecak. “Kau bilang kau suka lagu-lagu kami.”

Aku mengangguk. “Memang. Tapi bukan berarti aku fans kalian.” Aku menjulurkan lidahku, membuat Hongbin menatapku kesal. “Aku fans Park Hyo Shin.” Kataku sambil menahan tawa. Aku tahu Hongbin sangat nge-fans Park Hyo Shin, jadi aku sengaja menjahilinya. “Kau tahu? Di konser Park Hyo Shin bulan depan nanti aku bahkan dapat freepass backstage dan free hug.”

“Mwo? Yah! Kenapa bisa?”

Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Hongbin. Sungguh, Lee Hongbin kadang terlihat tidak cocok sebagai vampire. Lihatlah ekspresinya sekarang, seperti anak kecil saja!

“Dasar fanboy!” aku menyeringai. “Aku hanya bercanda. Sudah sana! Aku mau menemui kakakku.”

“Yah! Aku akan tetap meneleponmu nanti sehabis tampil! Staff kami akan merekamnya untuk VIXX TV! Kau harus berpura-pura menjadi fans-ku.” teriak Hongbin.

“Terserah! Mungkin aku akan menghancurkan image-mu nanti. Telepon saja kalau kau berani! Hahaha.” Kataku tanpa membalikkan badanku dan terus saja berjalan menjauhinya.

Akhirnya aku sampai di ruangan BTOB! Tapi ketika aku hendak masuk, mereka malah mau keluar untuk rehearsal. Aku berjanji akan melihat mereka rehearsal nanti, tapi sebelumnya aku ingin membeli minuman itu lagi, cappuccino ginseng. Sepertinya aku mulai ketagihan minuman yang satu itu gara-gara Kris dan Hongbin.

Minhyuk memberitahuku dimana letak vending machine minuman itu. Minhyuk berkata ia dan BTOB-pun menyukai minuman tersebut.

Aku berjalan sendirian ke tempat vending machine minuman itu berada. Letaknya cukup jauh dengan ruang ganti BTOB. Aku mengingat belokan-belokan ruangannya di dalam kepalaku. Aku mengingat petunjuk yang Min Hyuk berikan padaku tadi.

Akhirnya aku sampai! Aku mengerutkan keningku melihat seorang pria tinggi yang berdiri di depan vending machine itu. Leo?

Leo hanya berdiri sambil menatap deretan minuman. Terlihat bingung akan memilih minuman yang mana. Aku menggigit bibir bawahku, menepis perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul. Perlahan aku mendekati Leo.

“Sunbaenim…”

Leo menolehkan wajahnya padaku lalu tersenyum tipis. Aku hanya bisa terdiam menatapnya. Mungkin ini semua memang salahku. Seharusnya dulu aku tidak mencoba berbicara padanya. Seharusnya dulu aku tidak membuatnya tersenyum padaku. Sehingga kini aku tidak akan merasakan perasaan aneh ini saat berada di dekatnya.

Aku tahu, saat pertama kali bertemu dengan Leo di taman, aku pernah berkata pada diriku sendiri kalau Leo jelaslah bukan tipe-ku!

Tapi sepertinya aku salah. Jatuh cinta pada seseorang tidak memandang apakah dia tipe-mu atau bukan. Perasaan itu muncul begitu saja tanpa bisa kucegah. Aku tertarik padanya seolah ia adalah magnet yang memiliki kutub berlawanan denganku, yang membuatku selalu mendekatinya.

Oke, sekarang aku benar-benar ingin muntah memikirkan kata-kata cheesy di dalam otakku barusan!

Shin Hye Ri.., sejak kapan kau bersikap aneh begini?!

Aku sendiri tidak pernah menyadari sejak kapan aku mulai menyukai Leo alias Jung Taek Woon. Mungkin sejak dia membuka dirinya padaku? Mungkin sejak dia tersenyum pertama kalinya padaku? Mungkin sejak dia menunjukkan kucing peliharaannya padaku? Atau mungkin saja….sejak pertama kali aku melihatnya tertidur di taman?

Entahlah. Yang pasti sekarang aku selalu merasa bahagia setiap kali Leo berada di dekatku. Aku menyukai sikap diamnya. Aku menyukai tatapan tajamnya yang tanpa ekspresi. Aku suka melihat ekspresinya saat dia merasa malu. Aku suka melihat ia bercanda dengan poker-face nya itu. Aku suka melihatnya kesal. Aku suka karena Leo menunjukkan semua emosi dan ekspresi itu hanya padaku.

Biar saja semua orang menganggap Leo robot yang tidak memiliki perasaan. Bagiku, Leo adalah pria yang memiliki perasaan paling lembut, terutama ketika ia sedang berada di sekitar binatang dan anak kecil.

Aku masih bisa mengingat dengan jelas kejadian minggu lalu, saat tanpa sengaja kami bertemu dengan anak kembar di toko yang menjual makanan kucing. Saat itu sikap Leo pada anak kecil kembar itu sangat berbeda. Dia terlihat lebih lembut, penyayang, dan senyuman hangat tak pernah lepas dari bibirnya. Leo berinteraksi dengan baik bersama anak-anak. Aku sendiri bukanlah orang yang cepat akrab dengan anak kecil.

Saat itu, tiba-tiba saja aku berpikir…. “Leo akan menjadi ayah yang baik di masa depan.”

Weird. Aku tahu saat itu aku benar-benar aneh. Helloooo…., apakah aku adalah Shin Hye Ri? Aku bertanya pada diriku sendiri. Aneh sekali karena aku yang sama sekali belum pernah jatuh cinta, belum pernah berkencan seumur hidupku, tiba-tiba saja memikirkan pernikahan dan anak! Aku hanya tertawa terbahak-bahak di dalam hatiku, tapi sekaligus berharap khayalanku itu menjadi kenyataan. Aku dan Leo di masa depan. Anak – anak kami.

“Hyeri…., Hyeri…, kau baik-baik saja?”

Lamunanku buyar ketika Leo mengguncang-guncang bahuku dan menatapku dengan cemas. Aku tertawa aneh. Mencoba mengusir khayalan konyol di dalam kepalaku.

“Kau mau minum apa, sunbaenim?” tanyaku. Aku masih tetap memanggil Leo dengan sebutan sunbaenim (senior). Aku jarang memanggil Peniel dengan sebutan Oppa, jadi kenapa aku harus memanggil Leo dan pria-pria lain yang lebih tua dariku dengan sebutan Oppa?!

Mungkin aku akan memanggil Leo Oppa nanti kalau dia menjadi kekasihku. MWO???! Aku memukul-mukul pipiku dengan keras. Shin Hye Ri! Berhentilah bermimpi! 5 bulan rasanya terlalu cepat untuk jatuh cinta! Masa hanya dalam waktu 5 bulan mengenal Leo aku sudah jatuh cinta padanya dan memikirkan hal yang aneh-aneh seperti pernikahan! Tolong! Aku baru 16 tahun!

“Sungguh? Kau baik-baik saja?” tanya Leo lagi, masih dengan tatapan cemas. Wajahnya hanya berjarak beberapa cm dari wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang manis seperti madu.

Aku mengerjap berkali-kali dan hanya terus menatapnya. Leo juga hanya terus menatapku tanpa berkedip dengan matanya yang tajam.

“Kau mau minum apa?” tanya Leo. Sekarang ia sudah berdiri tegak lagi.

Aku terbatuk-batuk pelan. Mengenyahkan pikiran aneh dalam otakku. “Cappuccino ginseng.” Aku menyebutkan minuman yang terlintas di otakku begitu saja.

Leo tersenyum tipis, ia pun mulai memasukkan uang koin ke dalam mesin dan memijit tombol. Seketika dua kaleng cappuccino ginseng hangat keluar. Leo meraihnya dan menyerahkannya 1 untukku.

Aku menerimanya dengan tangan yang sedikit bergetar. Detik itu juga aku tahu. Meskipun saat ini Leo memberiku minuman yang sama seperti yang Kris dan Hongbin berikan, tapi perasaanku saat menerimanya terasa sangat jauh berbeda. Seketika dadaku langsung terasa hangat, sehangat minuman itu yang menjalari tenggorokanku.

“Kamsahamnida…” kataku pelan.

Leo tertawa pelan. “Shin Hyeri, kenapa sikapmu menjadi aneh?” tanya Leo dengan suara lembutnya yang khas. Aku masih belum terbiasa melihat senyuman Leo, membuat jantungku berdebar semakin keras.

“Hahahaha…., aku? Aku kan memang selalu aneh. Sampai nanti ya, sunbaenim.” Aku berjalan mundur sambil melambaikan tanganku pada Leo. “Aku akan menonton penampilanmu nanti. Hongbin bilang.., kalian akan membawakan lagu Voodoo dan On & On. Aku sangat ingin melihat On & On karena di lagu itu konsep kalian vampire kan…” . aku masih berbicara sambil mundur.

Aku tidak melihat ada seseorang di belakangku yang sedang mendorong troli tinggi berisi tumpukkan pakaian. Seketika Leo menghampiriku dan menarikku menjauhi troli tinggi berisi tumpukkan pakaian itu.

“Jeosong hamnida…” Leo membungkukkan badannya pada coordi nuna yang membawa troli itu.

“Hati-hati.” Kata coordi nuna itu, entah coordi nuna dari grup apa.

Leo membungkukkan badannya lagi, mewakili aku meminta maaf. Aku terlalu syok, karena semuanya terjadi begitu cepat. Bisa saja tadi aku menubruk troli besi itu, terjatuh, dan sudah bisa dipastikan tulang-tulangku akan patah.

Leo masih memelukku. Dadaku kini berdebar keras bukan karena syok lagi, tapi karena menyadari posisi kami saat ini.

“Gwenchana?”

Aku mengangguk. Leo mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan lembut. Seketika rasa takutku lenyap. Aku merasa terlindungi.

*********************

Tanpa terasa, ujian akhir semester pun tiba. Aku yang memang pada dasarnya malas belajar tidak pernah repot-repot belajar. Lagipula aku bisa mengingat materi pelajaran tanpa harus belajar! Tapi kakakku memarahiku dan menyuruhku belajar bersama Sungjae dan Ilhoon. Katanya agar nilaiku sempurna. Sama saja! Mereka berdua juga tidak suka belajar! Kami akan pura-pura belajar di depan Peniel, tapi saat dia tidak ada kami akan bermain games. Hahaha.

Aku tidak tahu darimana Leo tahu aku tidak suka belajar. Mungkin dia memata-mataiku? Yang pasti, saat jam istirahat, Leo akan mengajariku materi ujian.

Ada kalanya aku tidak mengerti apa yang dia jelaskan. Tentu saja. Bagaimana mungkin aku mengerti apa yang dia ajarkan bila aku hanya terus menatap wajahnya tanpa berpikir?!

Leo memukul kepalaku dengan pelan. Aku hanya terkekeh dan mulai fokus belajar setelah Leo berjanji akan mentraktirku makan ramyun bila aku mendapat nilai bagus. Aku jadi bersemangat dan menganggap ajakannya itu sebagai kencan meskipun dia tidak menganggapnya demikian.

Kadang aku berpikir, apakah Leo terbuka padaku karena sikapku seperti anak kecil? Aku tidak akan marah bila ada yang menyebutku bipolar, karena pada kenyataannya memang demikian. Kadang aku bersikap dewasa, kadang tidak. Kadang aku baik hati, kadang menyebalkan. Kadang aku ramah, kadang jutek. Aku terlalu dipengaruhi mood dalam segala hal. Seperti anak kecil saja!

Di hari ke-4 ujian, Hongbin ikut pulang bersamaku untuk meminjam buku bahasa Inggris. Salah satu kelemahan vampire itu memang dalam hal bahasa asing. Aku baru tahu, saat menulis naskah drama bahasa Inggris waktu itu, ternyata dia bersusah payah menggunakan kamus. Hah! Padahal kan waktu itu dia tinggal memintaku men-translate-nya saja untuknya. Tapi harga diri Hongbin terlalu tinggi untuk melakukannya. Yah, aku sih tidak peduli. Tapi aku kagum dengan kerja kerasnya tersebut.

Aku dan Hongbin tertawa-tawa selama di perjalanan menuju dorm BTOB. Hongbin banyak menceritakan hal-hal lucu. Tapi aku lebih sering tertawa karena caranya yang lucu dalam menceritakan sebuah hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu.

Sudah kukatakan, aku dan Hongbin menjadi teman baik. Bahkan mungkin bisa dibilang sahabat. Dia banyak membantuku dalam berbagai hal. Dia juga mengerti sekali bagaimana memperlakukanku ketika mood-ku berubah-ubah.

Peniel tidak tahu. Atau mungkin saja dia tahu? Yang pasti, selama 6 bulan ini Hongbin tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh padaku. Aku tahu dia tidak akan menyakitiku. Aku tahu dia bukanlah salah satu makhluk yang mengincar mutiara sihir di dalam tubuhku.

Kami akhirnya sampai di depan dorm BTOB. Peniel berdiri sambil menatap kami dengan galak.

“Berhentilah mendekati adikku, Lee Hong Bin.” Kata Peniel tegas.

Hongbin tersenyum lebar. “Tidak ada alasan bagiku untuk menjauhinya. Hyeri temanku.”

Peniel menggeleng. “Berhentilah berpura-pura baik, Hongbin! Aku tahu apa tujuanmu yang sebenarnya.”

Hongbin tertawa. Lesung pipitnya terlihat. “Berhentilah mencurigaiku, Peniel. Kau tidak mengenalku dengan baik.” Seketika tawanya lenyap. Seringaian mengerikan terukir di wajah tampannya.

Peniel mendengus. “Aku memang tidak mengenalmu dengan baik, karena itulah dulu aku terpedaya olehmu. Menjauhlah dari Hyeri! Aku sudah memperingatkanmu.” Desis Peniel. Peniel pun menuntun tanganku dengan kasar masuk ke dalam dorm.

“Pen! Are you crazy?” Aku menyentakkan tangan Peniel dan meraba pergelangan tanganku yang terasa sakit karena genggaman Peniel yang terlalu keras.

“Menjauhlah darinya, Hyeri!” teriak Peniel.

Aku membelalakkan mataku. “Kenapa? Karena dia vampire?” aku mendengus. “Pen.., dia sangat baik. Dia temanku.”

“He is not your friend! He is your enemy! Dia hanya berpura-pura baik di hadapanmu! Kau tidak tahu apa yang dia inginkan darimu!” bentak Peniel.

“APA? Mutiara sihir warisan nenek moyangku?”

Peniel hanya terdiam. Rahangnya yang tegas terkatup rapat. Kemudian matanya berubah lembut. “I’m sorry, Love. Semua ini karenaku. Aku tidak sengaja menceritakan tentangmu padanya dulu…, saat aku sedang mabuk. Dia berubah, Love. Dulu dia memang temanku, atau hanya aku yang bodoh saja menganggapnya sebagai temanku. Dia menginginkan mutiara sihir yang ada dalam tubuhmu, Love. Karena itulah dia bersikap baik padamu.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Liar!”

“Love…”

“I don’t believe you, Peniel! Hongbin is my friend! How could he….” Aku kehabisan kata-kata.

Aku segera berbalik dan berlari pergi keluar dari dorm, tidak memedulikan panggilan kakakku. Aku berlari dan terus berlari entah ke mana, hanya mengikuti kakiku membawaku.

Aku terengah-engah ketika tiba di sebuah taman luas yang menyerupai central park. Taman itu sepi. Hanya terdengar suara kicauan burung. Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon. Lama-lama tubuhku mulai kedinginan. Butiran putih salju jatuh ke atas kepalaku dan membasahi tubuhku.

10 menit. 20 menit. Entah berapa lama aku duduk di sana. Tidak peduli lagi dengan tubuhku yang kedinginan. Tiba-tiba saja aku merasa tubuhku menjadi hangat. Seseorang memakaikan jaket tebal di tubuhku. Aku mendongak dan menatap Leo.

“Sunbaenim…” kataku pelan. Gigiku bergemeletuk saking dinginnya. Uap keluar dari mulutku. Bibirku membiru beku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leo pelan. Ia duduk di sampingku.

Aku menggosok-gosok telapak tanganku, tidak menjawab pertanyaannya. Mungkin aku terlalu kaget dengan yang dikatakan kakakku. Selama di LA aku tidak pernah punya teman dekat seperti di sini. Kupikir Hongbin temanku. Tapi….apakah yang dikatakan oleh kakakku benar? Apakah Hongbin berpura-pura menjadi temanku hanya untuk merebut mutiara sihir di dalam tubuhku?

Kemudian aku menatap Leo. Apakah Leo juga sama seperti Hongbin? Apakah ia menginginkan mutiara sihir dalam tubuhku?

Leo balas menatapku dalam-dalam. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak. Tidak mungkin.

Aku tahu Leo tidak se-rendah itu. Saat ini, ketika aku menatap kedua matanya yang jernih, aku tidak melihat apapun selain kejujuran dan ketulusan.

“Leo sunbaenim, kau tahu siapa aku?”

Leo mengerutkan keningnya. Mungkin merasa bingung dengan pertanyaanku, tapi dia pun menjawab “Shin Hye Ri.”

Aku tersenyum. Lalu entah kenapa aku menceritakan tentang Hongbin padanya. Aku tidak tahu kenapa aku begitu mempercayai pria di hadapanku ini. Apakah rasa suka-ku padanya membutakan semua indera dan instingku?

Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Leo melingkarkan lengannya yang hangat di tubuhku dan memelukku dengan erat, menghapus rasa dingin dan rasa takut yang menyelimuti hatiku. Dadaku berdebar keras, tapi aku merasa nyaman. Aku menyandarkan wajahku di dadanya yang bidang. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdebar keras sepertiku.

“Apakah kau menyukai Hongbin?” bisik Leo di telingaku.

“Dia temanku. Aku menyukainya sebagai temanku.” Jawabku dengan yakin.

“Apakah kau menyukaiku?” bisik Leo lagi. Kali ini aku hanya terdiam.

Leo melepaskan pelukannya dan kini menatapku lekat-lekat sambil memegang pundakku dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

“Aku menyukaimu, Shin Hye Ri. Bukan sebagai teman, tapi sebagai seorang laki-laki.” Wajah Leo seketika memerah, dan dia pun menunduk. Khas Leo bila sedang merasa malu. Aku tertawa pelan. Leo menatapku dengan tajam dan galak.

“Aku tidak menertawakan kata-katamu, tapi sikap pemalu-mu.” Sebenarnya aku mengalihkan pembicaraan untuk meredakan debaran jantungku yang semakin menggila. Leo menyukaiku? Ya Tuhan…, aku tidak percaya ini!

“Saranghae, Shin Hye Ri…” kata Leo tulus.

Aku tersenyum. “I love you too, my prince.”

Sepertinya kata-kata cheesy terus bermunculan di otakku kapanpun aku berada di dekat Leo!

Leo mendekatkan wajahnya padaku. Bibirnya yang lembut mengecup bibirku dengan penuh perasaan. Aku memejamkan mataku, melingkarkan lenganku di lehernya dan membalas ciumannya dalam-dalam, seolah menyalurkan jutaan perasaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.

***********

Aku berjalan bergandengan tangan dengan Leo di bawah gelapnya malam. Bintang-bintang bersinar terang di langit kelabu. Salju sudah berhenti turun. Malam ini termasuk malam yang cerah diantara sekian malam mendung di musim dingin.

Selama di perjalanan aku tak henti-hentinya tersenyum lebar. Kami menikmati kesunyian diantara kami. Kadang kami menoleh dan saling tersenyum, lalu semakin mempererat genggaman tangan kami yang bertautan.

Ya, pasti seperti inilah rasanya jatuh cinta. Perasaan yang baru pertama kali kurasakan di sini, di Seoul, kota yang tadinya kuanggap mimpi buruk. Kota yang tadinya kubenci, karena kupikir Mom dan Dad membuangku kesini. Tapi sekarang kota ini berubah menjadi kota terindah di seluruh dunia bagiku.

Aku tahu kesedihan dan kebahagiaan itu selalu bergulir bergantian. Tapi aku tidak pernah mengira pergantiannya akan secepat ini.

Hanya beberapa jam setelah aku mengetahui Leo mencintaiku, ternyata kenyataan yang mengerikan sudah menantiku.

Leo mengantarku sampai di depan dorm BTOB. Dia terus menggenggam tanganku dan tidak mau melepaskannya. Aku tersenyum, lalu berjnjit agar bisa mengecup bibirnya.

Leo tersenyum, memelukku, lalu mengecup keningku lama. “Sampai besok, Hyeri~ah.”

Aku mengangguk. “Sampai besok, Oppa.”

Leo tertawa pelan. Masih belum terbiasa dipanggil Oppa olehku.

Aku melambaikan tanganku. Jujur saja aku tidak ingin berpisah darinya. Leo pun hanya berdiri diam. “Masuklah…”

Aku mengangguk. Aku tahu dia baru akan pergi setelah aku masuk ke dalam dorm. Aku melihat wajahnya dari balik pintu. Melihat senyumnya yang terakhir kali sebelum akhirnya dia berjalan pergi.

“Kyaaaaaaa!!!!!! Hahahaha…hahaha…” aku melompat-lompat kegirangan. Jung Taek Woon mencintaiku! Jung Taek Woon menjadi pacarku! Aku terus tersenyum lebar.

“Love…” Peniel menghampiriku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.

Aku tersenyum lebar padanya, melupakan kekesalanku padanya sore tadi saat kami membicarakan Hongbin.

Peniel menatapku dengan sedih. “Jangan, Love. Jangan menyukai Leo…”

Aku tertawa. “Pen…, aku bukan anak kecil! Omo! Kau melihat kami berciuman?”

Peniel menggenggam kedua tanganku. “Jangan, Love. Kumohon…, kau boleh menyukai siapapun asal jangan Leo. Aku bahkan tidak akan melarangmu menyukai Hongbin kalau kau memang menyukainya, asalkan Hongbin berubah menjadi baik. Love, aku hanya meminta ini. Please…, jangan menyukai Leo seperti itu.”

“Pen, ada apa ini? Kenapa? Kenapa kau selalau mengaturku?! Aku sudah dewasa, Pen! Aku bebas menyukai siapapun yang kuinginkan! Aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan!” teriakku keras. “Kenapa aku tidak boleh menyukainya? Apakah karena dia jauh lebih jahat dari Hongbin? Apakah dia sangat berbahaya?” aku menatap kakakku dengan kesal.

Peniel menggeleng dan menatapku semakin sedih. “Kau tahu mengapa Leo lebih tahan di bawah sinar matahari dibanding teman-teman VIXX-nya? Itu karena Leo adalah setengah vampire dan setengah penyihir. Kau dan Leo memiliki ayah yang sama, kau tidak boleh mencintainya seperti itu, Love.”

Aku tidak bisa mengatakan apapun. Detik itu juga duniaku serasa berhenti berputar. Aku tidak tahu apakah yang dikatakan Peniel benar atau tidak.

Saat ini bernafas menjadi hal yang sangat sulit dan menyakitkan bagiku. Dadaku terasa kosong dan perih, seolah baru saja hatiku dicabut dengan paksa dari tempatnya berada.

Aku tidak ingin mempercayai hal ini. Tapi entah bagaimana aku tahu. Pada akhirnya, datang ke Seoul dan bertemu dengan Leo adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku mencintai bintang yang tak boleh kucintai. Mungkin karena hal inilah ibuku tidak bisa membaca masa depanku melalui gugusan bintang lagi, karena ada satu bintang terlarang yang menghalangiku dari masa depanku.

Air mataku berjatuhan. Aku rela memberikan masa depanku, asalkan seseorang memberitahuku semua ini tidaklah nyata dan hanya sebuah mimpi buruk.

======= TBC =======

Annyeong! Maaf yaaaa lamaaa update cerita ini. Hehehe. Seperti biasa kalian akan dikejutkan dengan berbagai plot-tiwst. *inget MD? Plot-twist nya banyak ya? LOL.*

Kayaknya aku memang lebih suka menulis fantasy romance deh daripada cuma pure romance dan drama. Hahaha.

Siap-siap menyambut chapter 4 nanti yaa. Ada yang bisa mengira-ngira nanti chapter 4 seperti apa? Yang pasti romance-fantasy ini akan terus berlanjut. Minhyuk, Kris, dan Hongbin akan memiliki peran besar nanti. Lalu Leo bagaimana? Benar nggak sih dia dan Hyeri punya ayah yang sama? Kok bisa? Siapa yang akan bersama dengan Hyeri pada akhirnya? Apakah semuanya akan berakhir bahagia? Apakah live happily ever after itu pada kenyataannya memang ada? Semuanya akan terjawab nanti.

Rencananya sih FF ini tamat di chapter ke-5, tapi kita lihat aja nanti. Yang pasti aku nggak akan bikin FF panjang-panjang.

Oh ya, ini link video VIXX yang tentang phone-call itu. Lucu banget! .>_<. Di sini Hongbin malah nelepon fans Leo dan reaksinya lucu banget. Silakan bagi yang mau lihat => http://www.youtube.com/watch?v=B4yShCQN4s0&feature=c4-overview-vl&list=PL1F0059DE54D60528

–          Azumi Aozora –

Leo :

Image

Hongbin :

Image

Kris :

Image

Minhyuk :

Image

BTOB  atas : Sungjae – Ilhoon – Changsub. Bawah : Hyungsik – Minhyuk – Eunkwang – Peniel

Image

21 thoughts on “Forbidden Star (Chapter 3)

  1. Seriously, ths is such a cutiee story xD paling favorit pas bagian akhir. Akhirnya hyeri jadian sama aLe (Aa Leo). oya itu paragraf akhirnya kata2nya unyu(?) Deh.
    Saat ini bernafas menjadi hal yang sangat sulit dan menyakitkan bagiku. Dadaku terasa kosong dan perih, seolah baru saja hatiku dicabut dengan paksa dari tempatnya berada.

    Aku tidak ingin mempercayai hal ini. Tapi entah bagaimana aku tahu. Pada akhirnya, datang ke Seoul dan bertemu dengan Leo adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku mencintai bintang yang tak boleh kucintai. Mungkin karena hal inilah ibuku tidak bisa membaca masa depanku melalui gugusan bintang lagi, karena ada satu bintang terlarang yang menghalangiku dari masa depanku..

  2. GOOOOOOOOSSSHHH……demi apaaaa part ini romance bangeeetttzzzzzz q suka pas moment2 Leo ma hyeri dan q ngebayangin low hye ri itu akuuuuuuuu…….. *senyum2 geje
    Hadeeeewwwhhh q g tau leo tuh dikasih makan ap ma emak’y diem aj udah bkin hati cew kek q terutama jd kalang kabut kek gini oooouuugghhhg co cuuuiiiiittttt…….
    Dr awal cerita q pikir hyeri bkalan suka ma hongbin dan q g nyangka bgt low dy bisa suka + jadian ma leo pdhal awal’y berharap bgt bkal ending’y ma leo jg sich haaaa……
    jd mkin penasaran gmn lnjutan kisah hye ri ma leo oouugghhh my prince latte my shy shy boy bkalan patah hati dooonnkkk…..*sini sini q peluuukkkkkk

    #Ditunggu next part’y ya FIGHTING!!!!!!!

    • Iyaaa…bayangin aja hyeri nya itu kmu. Hyeri itu kan reader. Hehehe.
      Matanyaaaa Leo ya yg bikin klepek2.
      Liat part selanjutnya yaaa….akhirnya gmn. Hehehe.
      Gomawooo udh baca + comment🙂

  3. Demi apaaaaah…… Leooo… bikin klepek2.. sumpaaah… ^^
    Ayo ayo ayoooo…. lajuuuut… hyeri…. sama Peniel ajah… #lah? Wjwkwkwk….
    #ingetSSnyaMD
    Hahaaa…. ayo ayoo… penasaraan… thoor… lophyu daah .. :*

  4. Eonni!!!!~~~~ mian aku baru baca, hehhehe…. aku ada urusan jadi lom buka webnya eonni, keren banget, aku emang
    penasaran sih dari awal kenapa Leo bisa tahan with sinar matahari. Pokoknya ini ff keren banget!!! Terus lanjut ya eonni, aku bakalan tetep jadi readers yang setia menunggu ff punya eonni~~~~

  5. Pingback: Forbidden Star (Chapter 4) | wiantinaazmi

  6. Pingback: Forbidden Star (Chapter 5 END) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s