[Songfic Request] Christmas Day + The Wind Blows + Key of Heart

 

N-nyeong! ^_^. Kali ini aku posting songfics request kalian lagi nih. Seperti yang udah aku bilang, tiap 1 entry blog bakal ada maksimal 3 songfics.

 

Yang belum baca 1st songfic bisa baca di sini : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2013/12/26/songfic-thank-you-for-being-born-request-songfic/

 

 

2nd, 3rd, & 4th songfic di sini : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2013/12/28/songfic-request-all-for-you-someday-love-fall/

 

Sekilas tentang 5th, 6th, 7th songfic :

 

 Image

 

5th songfic :

Song    : Christmas Day (EXO)

Cast     : Oh Sehun (EXO-K), Aoi Sayaka (OC)

Author : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cerita ini special buat Atul_jeby yang udah request dan buat semua fans EXO ^_^

 

6th songfic :

Song    : The Wind Blows (Lee Sora)

Cast     : Xi Luhan (EXO-M), Park Yerin (OC)

Author : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cerita ini special buat Zerlina Bling-bling yang udah request dan buat semua fans EXO ^_^

 

7th songfic :

Song    : Key of Heart (BoA)

Cast     : Leo / Jung Taek Woon (VIXX), Shin Hyun Young (OC)

Author : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cerita ini special buat @ayu51198 (Ayu Indri)  yang udah request dan buat semua fans VIXX ^_^

 

Happy reading! Jangan lupa tinggalkan komentar ^^. Selamat menikmati campuran berbagai emosi yang ditimbulkan oleh ke-3 songfics yang berbeda ini.🙂

 

5th songfic :

Song    : Christmas Day (EXO)

Cast     : Oh Sehun (EXO-K), Aoi Sayaka (OC)

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cerita ini special buat Atul_jeby yang udah request dan buat semua fans EXO ^_^

 

 Image

The morning I opened my eyes in heart fluttering excitement

It’s like the feeling of untying the ribbon of a present

Every single day of getting to know you

 

Shibuya, Jepang……

Pagi ini aku bangun dengan lebih bersemangat dibanding hari-hari sebelumnya. Kenapa? Tentu saja karena hari ini aku akan mengunjungi hotel tempat sepupuku, Park Chan Yeol, menginap bersama teman-teman EXO-nya. EXO sudah 2 hari berada di Shibuya untuk melakukan berbagai kegiatan dan promosi album. Selain itu mereka juga belajar bahasa Jepang dan kebudayaan Jepang. Dan kalian tahu apa yang paling membuatku senang? Aku akan menjadi salah satu tutor mereka! Kyaaaaaaa…>_<

Aku bukan bersemangat karena akan bertemu Chan Yeol Oppa, tapi…..karena hal lain. Oh Sehun. Teman satu grup Chan Yeol Oppa. Sudah lama sekali aku mengidolakannya. Sejak pertama kali sepupuku menyuruhku melihat Music Video “Mama”. Aku masih ingat, saat itu Chan Yeol Oppa kesal sekali padaku karena bukannya memuji penampilannya di MV itu, aku malah bertanya banyak hal padanya tentang Oh Sehun.

Aku merapatkan coat baby blue-ku, cuaca benar-benar tidak bersahabat. Sebenarnya lebih enak bila sekarang aku tiduran saja di apartemenku yang hangat dan nyaman, bukannya berjalan kaki di jalanan beku seperti sekarang ini. Tapi demi bertemu dengan Oh Sehun lagi, aku pun memaksakan diriku menerobos musim dingin paling ekstrim tahun ini.

Ketika tiba di lobi hotel, ternyata anak-anak EXO baru saja keluar dari dalam lift. “Aoi-chaaannnnn!!!!” suara berat dan menggelegar Chan Yeol Oppa membuat semua orang menoleh ke arahnya. Chan Yeol Oppa menghampiriku dan memelukku dengan erat. Member EXO yang lain menyapaku dengan ramah. Luhan dan Lay lancar sekali menyapaku dengan bahasa Jepang, sementara yang lain memakai bahasa Korea. Kemarin mereka mengira aku tidak bisa berbahasa Korea, padahal aku sangat lancar berbahasa Korea karena ibuku adalah orang Korea sedangkan ayahku orang Jepang.

Kemudian aku melihatnya. Oh Sehun! Dia menatapku sambil tersenyum cerah. Aku balas tersenyum, senang setiap kali bertemu dengannya. Rasanya seperti mendapatkan sebuah hadiah dan merasa penasaran untuk segera membuka hadiah itu. Aku sangat penasaran ingin lebih mengenal Sehun setiap harinya.

 

The twinkling lights that decorates the streets

Among those, your eyes are especially like star light

As if you’re melting in my arms, you come into my embrace

 

Seharian ini aku menemani anak-anak EXO jalan-jalan sambil mengajarkan mereka bahasa Jepang. Tidak memedulikan rasa dingin yang menyelimuti kami, kami pergi ke sana – kemari dengan bersemangat.

Dari Stasiun Harajuku, kami langsung menuju jalan Takeshi Dori. Di sekitar kami banyak sekali anak muda yang berpakaian seperti tokoh-tokoh anime / manga. Harajuku memang selalu dipenuhi orang-orang yang cosplay, tidak peduli cuaca sekarang se-dingin apa. Member EXO terlihat excited dan memfoto orang-orang yang cosplay, tapi uniknya justru orang-orang yang cosplay itulah yang lebih dulu meminta foto bersama EXO. Popularitas EXO memang bagus ya. Aku tersenyum ketika mendengar mereka berbicara dengan bahasa Jepang, meskipun masih terbata.

Setelah puas melihat-lihat Harajuku, kami pun menuju mall Shibuya 109. Aku tidak tahu mengapa EXO ingin pergi ke mall itu, karena mall itu hampir seluruhnya menjual fashion untuk wanita! Sebelum aku menduga yang aneh-aneh, Suho memberitahuku bahwa mereka ingin membeli hadiah untuk lucky fans di acara fan-meeting EXO yang akan diadakan 3 hari lagi. Tapi tetap saja aku terkejut karena Tao tahu berbagai merk fashion Jepang. Kupikir Tao hanya tertarik pada Gucci. Di mall ini memang banyak terdapat berbagai merk fashion Jepang yang terkenal seperti one*way, vence, jassie, sword fish, tralala de liz lisa, cecil mcBee, flag-j, lip service, roco nails, dan masih banyak lagi. Lucky fans yang akan mendapatkan hadiah dari EXO ini pasti beruntung sekali. Bukan karena mendapatkan fashion ber-merk, tapi karena EXO sendirilah yang memilih hadiah-hadiah itu.

Setelah seharian berkeliling, kami kembali ke hotel pukul 6 sore. Member EXO mengajakku makan malam bersama mereka setelah mereka berganti pakaian. Aku setuju dan menunggu mereka di lobi hotel. Tapi, ketika member EXO lain masuk ke dalam lift, Sehun hanya duduk di sebelahku.

“Kau tidak akan ganti baju? Baju-mu agak basah karena salju.” Kataku.

Sehun tersenyum dan menggeleng. “Aoi Sayaka-chan, bagaimana kalau kita makan berdua saja?” tawar Sehun sambil tersenyum cerah.

Aku membelalakkan mataku. Dadaku berdebar keras. Bagaimana mungkin aku bisa menolak Oh Sehun?!

Kami berjalan di sepanjang jalan yang cukup ramai. Lampu-lampu taman yang menerangi jalanan, dan rangkaian lampu warna-warni yang berkerlap-kelip menghiasi pepohonan, semua itu tidak bisa menandingi sinar kebahagiaan yang memancar di mataku. Aku menoleh dan bertatapan dengan Sehun. Mungkin aku berkhayal, tapi sepertinya kedua mata Sehun-pun memancarkan sinar yang sama seperti mataku. Seperti cahaya bintang. Biar sajalah aku berkhayal untuk malam ini.

Kami makan ramen, udon, takoyaki, okonomiyaki, sushi. Benar-benar membuat perutku hampir meledak! Setelah kenyang, kami berjalan-jalan lagi di sekitar hotel, tertawa-tawa menceritakan berbagai kejadian lucu yang pernah kami alami.

Kami berhenti berjalan di dekat sebuah pohon natal besar yang sengaja dihias oleh pemilik toko di samping toko-nya. Sehun mengabaikan panggilan telepon dari hyung-hyung EXO, dan tanpa kuduga, dia memelukku. Mencairkan semua khayalanku. Membuatku sadar bahwa semua ini tidak hanya terjadi di dalam kepalaku. Semua ini adalah nyata.

 

What if you come to me when I’m sleeping?

So I stay up all night, all night in a white daze

 

Tidak terasa sekarang sudah pukul 10 malam. Sehun bersikeras ingin mengantarku sampai apartemenku. Padahal aku khawatir dia akan tersesat saat pulang ke hotel nanti. Sehun berkata, dia tidak akan tersesat karena otak-nya yang jenius sudah menghafal jalan dengan sangat baik. Aku hanya tertawa mendengar kata-kata konyolnya, dan menyarankannya untuk naik taksi saja nanti daripada tersesat.

Aku tinggal sendirian di apartemenku sejak aku masuk kuliah 1 tahun yang lalu, sementara ayah dan ibuku tinggal di Osaka. Sehun bertanya banyak hal tentangku, seolah ia ingin mengenalku lebih dalam. Kemudian aku hanya tertawa setiap kali melihat ekspresi wajahnya, ketika dia hendak memberitahuku tentang dirinya, tapi ternyata aku sudah tahu. Dia tidak tahu selama 2 tahun ini aku bertanya banyak hal tentangnya pada sepupuku!

Tanpa kuduga, Chan Yeol Oppa sudah berdiri di depan pintu apartemenku sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menatapku dengan tajam. “Kenapa kalian tidak mengangkat teleponku?”

Aku dan Sehun hanya saling melirik dalam diam sambil berusaha menahan tawa. Sehun menepuk-nepuk pundak sepupuku. “Hyung, tenang saja. Kami hanya makan dan jalan-jalan.”

Chan Yeol Oppa menyipitkan matanya yang besar. “Oh Sehun, bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini saja?”

“APA?” pekikku kaget.

Sehun mengangguk. “Oke, hyung.”

Chan Yeol nyengir lebar, merangkul pundak Sehun dengan sebelah tangannya dan berjalan masuk ke dalam apartemenku tanpa meminta persetujuanku, seolah ia-lah pemilik apartemen ini.

Aku tidak bisa tertidur.

Bagaimana mungkin aku bisa tidur bila saat ini Oh Sehun tertidur di ruang TV! Oh Sehun, idola-ku, hanya berjarak beberapa meter dari kamarku! Sepertinya aku adalah fangirls yang paling beruntung se-jagad raya!

Pukul 12 malam dan aku masih belum bisa tidur! Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamarku dan berjalan mengendap-endap ke ruang TV. Sehun tertidur di sofa, sementara Chan Yeol Oppa di kasur lipat agak jauh darinya.

Aku mendekati Sehun dan menatap wajah damai-nya. Nafasnya teratur. Aku tersenyum mengira-ngira mimpi apa yang sedang ia lihat saat ini di dalam tidurnya.

Tanpa bisa kucegah, mulutku mengatakan banyak hal. Tentang bagaimana pertama kali aku melihat Sehun, bagaimana aku mengidolakannya, bagaimana aku semakin mengidolakannya ketika melihat penampilannya langsung saat SM Town concert, bagaimana bahagianya aku karena sekarang bisa berada se-dekat ini bersama idolaku.

Satu hal yang tidak pernah kuduga, saat ini Oh Sehun mendengar semua yang kukatakan. Dia tidak benar-benar tertidur!

 

Just like the Christmas day that I’ve always waited for

Just like the Christmas day when I think about you

I get excited like a kid just like those days, just like that time

You’re just like Christmas day

 

Setiap kali memikirkan Sehun, aku akan merasa sangat bersemangat. Seperti seorang anak kecil yang menantikan datangnya hadiah di hari natal. Bagiku Oh Sehun seperti hari natal yang selalu kunantikan kedatangannya.

Aku selalu menantikan natal yang sekaligus merupakan hari ulang tahunku, sekaligus hari di mana ayah dan ibuku akan datang menemuiku sambil membawa banyak sekali hadiah. Hadiah ulang tahun dan hadiah natal. Banyak sekali! Tapi sekarang, setelah bertemu dan mengenal Oh Sehun, rasanya kehadirannya sama berarti-nya dengan natal untukku.

Semakin hari bahasa Jepang EXO semakin bagus. Setidaknya mereka sekarang sudah lancar berbicara kata-kata sapaan dan pujian untuk mereka praktekan saat di acara fanmeeting besok.

Tentu saja aku akan datang ke acara fanmeeting. Aku adalah salah satu translator mereka. Kurasa aku sangat beruntung, karena impian semua fans pasti adalah bisa melihat idol mereka bersiap-siap dalam sebuah acara, menemani mereka di backstage, menemani mereka di panggung dan bisa berdekatan dengan mereka.

Kurasa semua keinginanku sebagai seorang fangirls telah terpenuhi. Hanya satu yang belum. Aku menepis pikiran itu jauh-jauh. Aku tidak mungkin mengharapkan Oh Sehun menyukaiku lebih daripada rasa suka idola kepada fans-nya. Bagaimanapun aku hanya fangirls nya Sehun kan? Aku tidak menyukainya sebagai seorang namja kan? Aku tidak menginginkannya sebagai namjachingu kan?

Aku menghela nafas panjang. Entahlah…., rasanya semakin banyak aku menghabiskan waktuku bersama Sehun, perasaanku padanya mulai agak berubah. Bukan. Bukan berhenti mengidolakannya. Justru aku jadi semakin mengidolakannya dan menyukainya bukan hanya sebagai seorang idola.

Tapi aku tahu semua itu hanya ada di dalam khayalanku. Setiap fangirls pasti pernah berkhayal akan menikah dengan idol-nya suatu hari nanti. Mungkin aku juga hanya sedang mengalami sindrom fangirls itu. Hey, aku tidak ingin benar-benar menikah dengan Oh Sehun di masa depan kan?!

 

In the long and cold season only you’re the warmth that remains

Inside my coat I’m getting filled with only warm memories

The white miracle that falls from the once dry sky

It seemed like it wouldn’t come true

The prayer that I was so desperate for even in my dreams

 

Kalian tahu mengapa idola di sebut bintang? Karena mereka tidak akan pernah bisa diraih, seperti bintang di langit. Se-berapa dekat-pun jarak antara kita dan bintang, kita tidak akan mungkin bisa meraih mereka, karena mereka adalah bintang. Tugas mereka adalah menyinari semua orang, bukan hanya menyinari seseorang sepertiku.

EXO sudah pulang kembali ke Korea kemarin sore. Hari-hari yang dingin dan sepi kembali menyapaku. Aku tidak lagi bersemangat menyambut pagi, karena aku tahu hari ini aku tidak akan bertemu dengan Sehun lagi. Entah kapan aku bisa melihatnya lagi. Mungkin aku hanya harus kembali melihatnya lewat TV, dvd, majalah, internet. Seperti yang biasa kulakukan dulu. Seperti yang dilakukan fangirls pada umumnya.

Semua kenangan bersama Sehun beberapa hari ini mungkin hanya keberuntunganku. Fangirls di luar sana akan berebut menjadi diriku. Aku sangat beruntung.

Tapi aku juga tidak bisa menghilangkan rasa sesak di dadaku ketika mengingat Sehun. Seberapa keras-pun aku berdoa, khayalanku tidak akan pernah berubah nyata. Sehun akan tetap menjadi Sehun. Sehun tidak akan mungkin berubah menjadi namjachingu-ku seperti yang kuinginkan.

Aku memasukkan tanganku ke dalam mantel panjang tebalku dan berjalan menembus jalanan licin penuh tumpukkan salju. Natal tinggal 3 hari lagi, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak bersemangat menyambutnya, karena Oh Sehun tidak akan berada di sisiku saat natal tiba.

 

When I opened my eyes in the morning,

Like the snow outside the window,

You silently fell all night, all night

You’re just like Christmas day

 

Natal tinggal 2 hari lagi. Aku masih belum bisa mengubah mood-ku menjadi lebih baik. Rasanya semua kebahagiaanku menghilang saat Sehun pergi kemarin lusa.

Pagi ini, ketika aku membuka mata dan memandang ke luar lewat jendela kamarku, aku melihat salju turun. Aku tersenyum tipis. Aku selalu menyukai salju. Apalagi bila salju turun di malam natal.

Tapi hari ini berbeda dengan hari-hari di tahun-tahun sebelumnya, sebelum aku mengenal Oh Sehun. Setelah aku mengenalnya, semua hal jadi terasa tak sama.

Ting tong…

Aku mendengar bel pintu berbunyi. Siapa sih yang datang pagi-pagi begini? Apa mungkin ayah dan ibuku memutuskan untuk datang satu hari lebih awal?

Dengan malas, aku pun berjalan menuju pintu. Tidak memedulikan penampilanku yang berantakkan. Tanpa melihat lewat intercom, aku pun membuka pintu.

“Aoi Sayaka-chan, mau kah kau berhenti menjadi fangirls-ku dan berubah menjadi kekasihku?”

Aku hanya bisa membelalakkan mataku. Saat ini…di depan mataku, Oh Sehun berdiri sambil tersenyum padaku. Aku mengucek-ngucek mataku. Pastilah aku sedang bermimpi.

Aku hanya terdiam. Masih belum bisa membedakan apakah kejadian ini mimpi atau bukan.

Sehun kembali berkata. “Aku tidak ikut kembali ke Korea bersama yang lain. Aku tetap tinggal di hotel dan menunggu malam natal untuk mengatakan hal ini padamu. Tapi kurasa…, aku harus mengatakannya sekarang, karena manajerku memarahiku dan menyuruhku segera pulang.”

Mulutku menganga lebar. Aku menepuk-nepuk kedua pipiku. Mencoba menepis mimpi yang terlalu indah ini. Aku harus bangun! Mimpi ini terlalu tidak masuk akal!

Sehun tertawa pelan. Seolah bisa membaca pikiranku. Ia pun berkata. “Kau tidak sedang bermimpi, Aoi Sayaka-chan. Aku nyata, dan semua yang kukatakan adalah kenyataan. Maafkan aku…, aku…tidak punya pengalaman bagaimana menyatakan perasaan pada perempuan…”

“Kalau kau nyata, sekarang pukul aku, agar aku tahu aku tidak sedang bermimpi.”

Sehun tertawa. “Dibanding memukulmu, aku lebih ingin melakukan ini….” Kedua tangan Sehun yang hangat menyentuh kedua pipiku, dan perlahan bibirnya yang lembut melumat bibirku.

Sekarang aku tahu, Oh Sehun di hadapanku ini bukan hanya mimpi. Perasaan yang kurasakan saat ini bukan hanya mimpi. Kebahagiaan yang kurasakan bukan hanya terjadi di dalam dunia mimpiku.

“Aoi Sayaka-chan, you’re just like Christmas day.” Sehun berkata di sela-sela ciumannya.

Aku terkejut karena Sehun memikirkan hal yang sama denganku. “You’re just like Christmas day too, Sehun-kun. Aishiteru.”

“Saranghae…” Sehun membalasnya dengan bahasa Korea. Kami tahu hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi kami. Setiap hari akan terasa seperti hari natal berkat kehadiran Sehun.

 

===== END ======

 

 

6th songfic :

Song    : The Wind Blows (Lee Sora)

Cast     : Xi Luhan (EXO-M), Park Yerin (OC)

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cerita ini special buat Zerlina Bling-bling yang udah request dan buat semua fans EXO ^_^

 Image

 

The wind blows

Hollow scenery blows into my sad heart

On the way home after a haircut

The tears that stood the whole time in my eyes start to flow out

 

Baltimore, Amerika Serikat…..

Aku berdiri di dekat pelabuhan, menatap lautan yang terbentang luas di hadapanku. Suara-suara musik terdengar samar-samar dari kejauhan. Sebentar lagi akan diadakan festival musim gugur terbesar di kota ini. Banyak musisi-musisi baik muda maupun tua yang berlatih di dekat dermaga, atau di dekat monumen. Semua orang terlihat antusias menyambutnya. Tapi tidak halnya denganku.

Aku menghela nafas panjang dan berat, entah untuk yang ke-berapa kalinya. Aku meraba rambutku yang dipangkas se-bahu. Orang-orang berkata, bila kau sedang patah hati, maka kau harus memotong rambutmu untuk menyembuhkan patah hatimu dan membuang kesialan. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagiku.

Patah hati dan kesialan tidak akan mungkin lepas dariku. Aku menyeringai. Bukankah aku sendiri yang membuat hatiku patah berkeping-keping seperti ini?! Bukankah aku yang meninggalkan Luhan?!

Aku memejamkan mataku. Merasakan belaian lembut angin musim gugur di wajahku. Aku mencoba mengendalikan berbagai campuran perasaan yang memenuhi hatiku, mendesak untuk keluar.

Sudah 1 bulan aku meninggalkan Seoul, meninggalkan Luhan. Kupikir aku tidak akan pernah kuat berdiri seperti ini tanpanya, tapi demi Luhan…aku sanggup. Demi Luhan…aku rela melakukan apapun. Bahkan menusuk hatiku sendiri ribuan kalipun aku sanggup, asalkan Luhan tidak menangis karenaku.

Aku pergi bukan karena aku ingin. Aku pergi karena aku memang harus pergi. Bagaimanapun, tidak ada gunanya aku tetap berada di sisi Luhan, karena dalam hitungan hari aku akan pergi begitu saja. Dalam hitungan hari yang tak pasti, aku bisa saja tiba-tiba pergi meninggalkannya dan membuatnya terluka lebih dalam.

Karena itulah, sebelum aku membuat Luhan semakin menderita karena kepergianku yang tiba-tiba, aku memutuskan untuk pergi lebih cepat. Aku memutuskan untuk pergi di saat Luhan masih bisa menatap kedua mataku. Aku memutuskan untuk pergi di saat Luhan masih bisa merasakan nafasku dan detak jantungku. Agar Luhan membenciku. Agar Luhan dapat melupakanku dengan mudah.

Aku mengelus rambutku pelan. Helaian-helaian rambut kini memenuhi telapak tanganku. Membuatku semakin yakin bahwa yang kulakukan ini adalah hal yang benar. Tidak ada gunanya aku terus bersama Luhan, karena sebentar lagi aku akan mati.

Angin dermaga berhembus kencang menerpa wajah dan tubuhku. Air mata yang sejak tadi kutahan kini mendesak tak tertahankan. Bercucuran dengan segenap perasaan yang tak sempat tercurahkan.

 

 

The sky gets wet

Cold raindrops fall onto the dark streets

The rain forms together and follows me

But they feel so far away

Seems like it stopped already

It seems to have stopped already

 

Aku masih berdiri di tepi dermaga. Air mataku sudah mengering. Langit berubah jingga keemasan. Sebentar lagi matahari terbenam. Tapi sepertinya hari ini pun aku tidak akan bisa melihat matahari terbenam karena awan-awan gelap berkumpul di langit, membuat cahaya jingga memudar perlahan.

Semakin lama langit berubah semakin gelap. Tetesan air hujan membasahi tubuhku. Langit menangis, seolah ikut menangisi diriku. Seolah langit memahami apa yang kurasakan. Aku memaksakan kakiku melangkah pergi dari tepi dermaga, menyusuri jalanan gelap.

Air hujan masih mengikutiku kemanapun aku pergi. Langit menggantikanku menangis. Langit tahu air mataku sudah terlalu kering karena tangisan malamku yang tanpa henti setiap hari.

Aku menengadahkan wajahku memandang langit. Air hujan membasahi wajahku. “Langit…, malam ini.., aku tidak ingin menangis. Aku ingin tersenyum. Sekali saja sebelum aku pergi, aku ingin tersenyum. Mengingat kembali semua kenangan bersama Luhan. Karena itu.., Langit, kau teruslah menangis menggantikanku.” Aku tersenyum meskipun terasa sulit.

Aku terus berjalan, tanpa tujuan, tanpa jiwa, karena jiwaku kini melayang menembus ruang dan waktu, mengingat setiap detail kenangan manis yang telah kulewati bersama Luhan. Saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku.

Setiap tetesan air hujan mengingatkanku pada Luhan.

Aku pertama kali bertemu dengannya saat hujan turun. Aroma hujan yang turun pertama kali dalam setiap tahun selalu membawa perasaan baru bagiku. Tahun itu, aku juga tahu air hujan akan membawa perasaan bahagia untukku.

“Kalau kau hujan-hujanan seperti ini, kau akan sakit.” Kata sebuah suara.

Aku menoleh dan bertatapan dengan pria paling tampan yang pernah kutemui se-umur hidupku. Seandainya aku tidak melihat kaki pria itu menapak di tanah, maka aku akan menyebut pria itu sebagai malaikat. Senyumannya, tatapan matanya yang bersinar membuat hatiku terasa hangat.

Angin dingin dan hujan deras yang menerpa tubuhku tiba-tiba tidak terasa sedikitpun. Pria itu mendekatkan payungnya padaku. Kini kami berada di bawah payung putih transparan yang sama.

Pria itu masih tersenyum cerah. “Apakah kau tidak mengenalku?”

Aku mengernyitkan dahiku. “Apakah seharusnya aku mengenalmu?”

Pria berwajah layaknya malaikat itu tertawa pelan. Bahkan suara tawanya pun terdengar menakjubkan di telingaku. “Aku Xi Luhan. Siapa namamu, gadis hujan?”

Mulai saat itulah aku mengenal Xi Luhan, manusia luar biasa yang membuatku percaya keajaiban memang ada. Luhan membuatku melupakan semua masalahku. Luhan membuat hari-hariku terasa menyenangkan.

Ternyata Luhan adalah salah satu member grup idola yang sangat terkenal, EXO. Pantas saja saat pertama kali kami bertemu dia bertanya apakah aku mengenalnya. Aku tidak pernah tahu kehidupan para idola, ataupun kehidupan lainnya selain kehidupanku.

Aku lahir dan besar di Los Angeles. Sejak kecil yang kulakukan hanyalah belajar….belajar…dan belajar. Aku sudah dilatih dengan keras oleh ayahku sebagai pewaris perusahaannya. Bagiku, dunia yang menyenangkan seperti dunia idola bukanlah bagian dari duniaku. Dunia yang nyaman dan penuh cinta bukanlah milikku. Duniaku sangat keras, kompetitif, dan penuh perjuangan.

Berkat Luhan, kehidupanku terasa lebih berwarna. Aku belajar banyak hal yang sebelumnya tak pernah kuketahui. Aku belajar bagaimana rasanya mencintai dan cintai oleh seseorang dengan tulus. Aku belajar memahami bahwa di dunia ini tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Bahwa di dunia ini tidak semua orang yang datang padaku menginginkan uang dan kekuasaan dari keluargaku.

Luhan mencintai semua kelebihan dan kekuranganku, seperti aku mencintai semua hal tentang dirinya. Kami saling memahami dan melengkapi. Aku seperti menemukan belahan hatiku yang terpisah sejak aku dilahirkan ke dunia ini.

Empat tahun aku tinggal di Seoul. Kuliah di Seoul University sekaligus memohon pada ayahku agar mengizinkanku mengelola perusahaannya yang ada di Seoul, sementara ayahku tetap tinggal di LA dan mengurus perusahaannya di negara-negara lain. Untunglah ayahku tidak memaksaku untuk kuliah di Harvard.

Semuanya karena Luhan. Aku bisa tersenyum tulus karena Luhan. Aku bisa tertawa lepas karena Luhan. Aku bisa mensyukuri kehidupanku karena Luhan. Luhan membuatku memandang dunia ini dengan lebih berwarna. Dunia ini tidaklah hanya hitam dan putih seperti yang selama ini kulihat. Dunia ini dipenuhi perpaduan aneka warna yang kadang kutemukan hanya dalam hal-hal simple seperti ucapan “Selamat tidur, mimpi yang indah” dari Luhan.

Luhan tidak pernah merasa bosan dengan sikapku yang sering sekali sulit ditebak. Luhan tidak pernah mengeluh karena mood-ku yang sering berubah-ubah. Bagiku dia adalah malaikatku yang selalu mengerti aku dan melindungiku.

Tidak ada hari special yang bisa disebut hari paling membahagiakan, karena bagiku setiap hari adalah hari paling membahagiakan. Luhan selalu tahu bagaimana membuat hari-hariku terasa membahagiakan.

Tapi, hari itu, bagaimana mungkin aku tidak bisa menyebut hari itu sebagai hari paling membahagiakan?! Suatu hari, di akhir musim dingin tahun 2016, tepat 4 tahun-nya kami bersama, Luhan membuat hari itu jauh lebih special.

Kami merayakan anniversary kami dengan memasak bersama di apartemenku. Hal yang sudah biasa kami lakukan sebenarnya. Kami sering makan malam bersama di apartemenku. Setiap Luhan pulang syuting, dan setiap aku pulang bekerja, kami akan memasak banyak sekali makanan favorit kami.

Tapi malam itu berbeda, karena setelah masakan tersaji di meja makan, ketika aku menutup mataku untuk berdoa sebelum meniup lilin kue anniversary kami, Luhan melakukan hal yang tak pernah kubayangkan.

“Tutup matamu juga, Luhan!” kataku dengan mata tertutup.

“Sudah.” Katanya riang.

Selama beberapa saat kami hanya terdiam. Berdoa. Di dalam hatiku, aku berdoa agar Luhan selalu bahagia. Aku berdoa semoga aku bisa membuatnya bahagia.

“Sudah selesai?” tanya Luhan. Sepertinya dia sudah membuka matanya.

Aku masih memejamkan mataku dan menggeleng. “Sebentar lagi.” Aku pun mendoakan kebahagiaan agar selalu menyertai Luhan, keluarganya, dan juga keluargaku.

Aku membuka mataku, bersiap meniup lilin di atas kue bersama Luhan, tapi yang kulihat adalah sebuah kotak mungil berisi cincin berlian cantik di hadapan wajahku.

Luhan tersenyum manis. “Kau berdoa apa saja, Yerin~nie? Aku berdoa semoga malam ini kau mau menerima lamaranku. Maukah kau menikah denganku, Park Yerin?”

Aku hanya bisa terpaku. Aku selalu menginginkan Luhan hidup dengan bahagia. Tapi aku tidak pernah berharap lebih banyak dengan hidup bersama dengan Luhan selamanya.

Air mataku merebak tanpa bisa kucegah. “Apakah….kau akan merasa bahagia bersamaku?” tanyaku terbata.

Luhan mengangguk. “Tentu saja. Selama ini aku merasa bahagia bersamamu, Yerin. Dan aku tahu, aku hanya akan merasa bahagia bersamamu.” Luhan tersenyum hangat. Ia masih memandangku dengan kedua matanya yang berbinar lembut. “Jadi, apa jawabanmu, Park Yerin?”

Aku mengangguk dengan mantap. Luhan tersenyum dan langsung memelukku dengan erat. “Gomawo, Park Yerin.”

Aku menggeleng. “Aku yang harusnya berterima kasih, Luhan. Terima kasih….karena kau telah datang ke dalam kehidupanku.” Kami tersenyum. “Luhan, apakah kau tidak akan memakaikan cincinnya padaku?”

Luhan tertawa pelan. “Apakah aku harus berjongkok ala kesatria saat memasangkannya di jari manismu? Atau… haruskah kita berdiri?”

Aku tertawa mendengar perkataannya yang konyol. Luhan masih saja sering merasa tidak PD dengan dirinya sendiri. Padahal bagiku, apapun yang Luhan lakukan untukku sangatlah lebih dari luar biasa. Apapun yang ia lakukan untukku terasa sempurna.

 

Seluruh tubuhku basah kuyup. Aku menatap langit. Hujan telah berhenti. Aku pun harus mengakhiri semua kenangan manis-ku dengan Luhan yang kuputar di dalam kepalaku seperti sebuah rekaman video.

 

The world is like yesterday

And time is flowing by

I am the only one who’s changed

My futile wishes are blown away

As they scatter in the wind

 

Dunia yang menyenangkan itu terasa seperti sudah berlalu jutaan tahun yang lalu. Padahal kenangan paling manis diantara semua kenangan manis itu baru saja terjadi 4 bulan yang lalu.

Bagiku, dunia indah itu hanya terjadi kemarin. Bukan hari ini. Bukan pula esok hari.

Dunia penuh cinta dan impian sudah terhenti. Impian yang mulai kubayangkan dan kubangun bersama Luhan sudah tak ada artinya lagi.

Sekarang aku tidak mungkin lagi bermimpi untuk menjadi seorang istri yang baik di masa depan bagi Luhan, ataupun menjadi ibu luar biasa bagi anak-anak kami di masa depan. Karena masa depanku telah terhenti. Aku tidak memiliki masa depan. Karena itulah aku meninggalkan Luhan. Aku tidak mungkin bersama dengan seseorang yang menginginkan masa depan bersamaku, tapi aku sama sekali tidak bisa memberikan masa depan itu padanya. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padanya. Aku bahkan tidak bisa menjanjikan padanya apakah esok hari mataku masih bisa terbuka dan menatapnya, dan apakah jantungku akan masih berdebar untuknya.

Keabadian itu tidak pernah ada di dunia ini. Ya, aku tahu. Tapi aku tidak pernah menduga akan secepat ini takdir memisahkan kami. Satu minggu setelah Luhan melamarku, aku baru tahu ternyata aku mengidap kanker otak stadium akhir. Rasa sakit yang selama ini kuabaikan ternyata membalaskan dendamnya padaku. Aku selalu mengabaikan setiap rasa sakit yang kurasakan. Aku selalu menyibukkan diriku dengan pekerjaan dan dengan Luhan. Aku menganggap daya ingatku yang semakin menurun setiap hari adalah karena aku semakin tua, bukan karena kanker otak.

Aku tidak punya waktu. Entah kapan aku pergi, yang pasti waktu itu tidaklah lama. Dunia berubah. Hidupku berubah. Aku pun berubah. Duniaku tak pernah terasa sama lagi setelah aku mendengar vonis itu.

Lalu, bagaimana mungkin aku tega membuat Luhan berharap banyak padaku sementara aku tidak memiliki harapan?!

Aku memutuskan untuk menjauhi Luhan. Aku ingin Luhan membenciku dan menjauhiku. Aku tidak ingin Luhan menangisi kematianku.

Tapi semua itu tidaklah mudah. Sekeras apapun aku mendorong Luhan menjauh, ia selalu datang kembali padaku. Se-kasar apapun aku berbicara padanya, ia selalu menjawabku dengan lembut seperti sebelumnya.

Karena itulah, aku pun tahu, aku harus pergi. Luhan tidak pernah menyerah atas semua penolakanku padanya. Mungkin meninggalkannya ke benua yang berbeda, ke kota yang sangat jauh dari Seoul akan membuat Luhan menyerah. Aku tahu dia tidak akan mungkin menyusulku kemari karena EXO sama pentingnya bagi Luhan. Dia tidak mungkin melepaskan EXO dan datang kemari.

Bagiku, semua impian dan harapanku telah menghilang dan terpencar bersama hembusan angin. Terbang entah kemana, semakin menjauhiku, semakin meninggalkanku jauh di masa lalu.

 

The wind blows

I recall the past with a chill

Your back while standing at the end of summer

It seemed to look cold

I seem to know it all

 

“Aku membencimu, Luhan! Aku tidak mencintaimu lagi! Tidakkah kau mengerti bahwa orang bisa berubah? Tidak bisakah kau pergi dan bertemu dengan gadis lain? Aku tidak menginginkanmu, Luhan! Aku sudah bosan mengatakan hal ini.”

Luhan hanya menatapku dengan lembut. Tidak terpengaruh dengan kata-kataku.

“Aku sudah mengembalikan cincin itu padamu 3 bulan lalu, itu artinya aku tidak bisa menikah denganmu di masa depan! Tidakkah kau mengerti?!” Aku mengepalkan tangaku kuat-kuat di sisi tubuhku. Menahan tangis. Otakku terus mendukungku untuk mengatakan kata-kata menyakitkan ini. Aku harus membuat Luhan pergi. Aku tidak ingin dia menderita karena menangisi kematianku! Lebih mudah melupakan orang yang kau benci daripada melupakan orang yang mencintaimu sampai akhirnya mati meninggalkanmu.

“Aku akan pergi, Luhan. Jangan mencariku, karena kau tidak akan pernah menemukanku. Jangan tinggalkan EXO, tapi tinggalkanlah aku, karena aku membuangmu, Luhan.”

Aku masih mengingat kata-kata yang kuucapkan pada Luhan 1 bulan lalu itu. Kata-kata yang sangat kubenci, tapi harus kuucapkan demi Luhan.

Aku juga masih ingat bagaimana tatapan Luhan saat itu. Entahlah, dia sepertinya mengerti. Mungkin pada akhirnya dia mengerti. Tapi ternyata aku salah. Ia mengerti dengan cara yang berbeda dengan cara pandangku.

Luhan berbalik. Memunggungiku. Punggungnya terasa dingin menghadapku. Aku menahan air mataku lebih lama. Tidak. Aku tidak akan menangis di hadapan Luhan!

“Kapan….kau… akan pergi?” tanya Luhan terbata. Masih memunggungiku.

“Aku tidak akan memberitahumu.” Kataku dingin. Mencoba bersikap dingin se-dingin yang kubisa.

Luhan mengangguk satu kali. Ia membalikkan badannya padaku, menatapku dalam-dalam, dan berkata lembut se-lembut biasanya. “Pernahkah aku memberitahumu hal ini, Park Yerin? Aku menghargai setiap detik yang kulalui bersamamu. Aku tidak pernah tahu kapan kau akan pergi meninggalkanku, tapi aku menghargai setiap waktu yang kau berikan untukku. Tidak bisakah kau mempercayaiku? Tidak bisakah kau mempercayakan setiap detik-mu yang tersisa padaku? Hanya untuk bersamaku? Aku tidak meminta masa depan padamu, Yerin~ah. Aku meminta detik ini, bersamamu. Tidak bisakah?”

Aku menggelengkan kepalaku, menunduk, dan segera berjalan pergi meninggalkan Luhan sebelum Luhan melihat air mataku. Saat itu aku berpikir….mungkin Luhan tahu tentang penyakitku. Tapi apa bedanya kalau dia tahu? Dengan bersamanya, aku hanya akan semakin menyakitinya. Karena itulah aku pergi.

 

The precious days with sleepless nights

Were never different to you

Love is a tragedy

You’re not me

We write down the different memories

My parting is experienced

Without goodbye

 

Kepergianku ke Baltimore 1 bulan yang lalu tanpa kata-kata perpisahan. Sepertinya aku memang sudah ahli dalam hal ini. Aku sudah ahli dalam menyakiti diriku sendiri.

Luhan dan aku memiliki kehidupan yang berbeda. Takdir yang berbeda. Masa depan Luhan terbentang cerah dan luas untuk digapai. Sementara aku tidak memiliki masa depan.

Pemikiran kami berbeda. Mungkin Luhan memang mengira menghabiskan waktu di sisa hidupku akan membuatnya bahagia, tapi ia salah. Hal itu akan semakin menyakitinya, juga menyakitiku. Tidakkah ia mengerti?

Mungkin selama ini kami memang  melukiskan kenangan yang berbeda. Mungkin aku dan Luhan memang tidak pernah memikirkan sesuatu dengan pandangan yang sama.

 

Siang ini, tiba-tiba saja aku mendapatkan sebuah panggilan dari Rumah Sakit John Hopkins. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera menuju ke sana.

Suasana rumah sakit sangat kacau. Orang-orang menangis dan menjerit merana di mana-mana. Ternyata tadi pagi baru saja terjadi kecelakaan bus di dekat airport. Sebuah tabrakan beruntun bus, mobil pribadi, dan tanki minyak yang menelan banyak sekali korban jiwa. Puluhan orang terluka parah, dan banyak yang meninggal dunia.

Aku berjalan terseok-seok menuju sebuah ruangan. Air mataku mengalir dengan deras. Dadaku terasa kosong. Jauh lebih kosong dibanding saat aku meninggalkan Luhan. Ternyata seperti inilah rasanya. Inilah yang Luhan rasakan waktu itu. Inilah yang akan kau rasakan ketika kau takut orang yang kau cintai akan pergi meninggalkanmu tak lama lagi. Ternyata selama ini aku salah. Aku bodoh. Seharusnya aku terus bersama dengan Luhan, tak peduli apa yang akan terjadi kemudian. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkan Luhan.

Luhan terbaring sambil tersenyum lemah padaku. Wajah dan tubuhnya penuh luka dan balutan perban. Selang infuse membelit di sana sini. Aku berlari menghampirinya dan menangis di samping ranjangnya.

“Yerin~ah…, maaf..aku…datang dalam kondisi seperti ini.” kata Luhan sambil tersenyum. Membuat tangisanku semakin keras.

Ternyata Luhan tahu di mana aku tinggal dan tahu nomor handphone-ku yang baru dari ayahku. Ia sengaja menemui ayahku di LA dan langsung terbang kemari setelah mendapatkan alamatku.

Tapi siapa yang mengira ia akan mengalami kecelakaan parah seperti ini?!

“Kenapa…? Kenapa kau harus datang kemari, Luhan~ah? Kau seharusnya tetap tinggal di Seoul! Kau seharusnya tidak mengalami kecelakaan ini karenaku! Semuanya karenaku!”

Tangan Luhan yang penuh perban perlahan menggenggam tanganku. Ia menggeleng sambil tersenyum. “Bukan salahmu. Ini keinginanku. Ini jalan hidupku. Aku selalu ingin bersama denganmu, Park Yerin. Jangan tinggalkan aku, Yerin~ah. Aku ingin…..kau ada di sini, di saat terakhir hidupku…” Luhan terbatuk. Darah keluar dari mulutnya. Dokter bilang ….luka Luhan sangat parah. Organ dalam-nya rusak. Sebentar lagi dokter akan melakukan operasi, menunggu giliran. Aku mengutuki jumlah dokter yang sedikit di kota ini!

Luhan meremas jari tanganku dengan lemah. “Yerin~ah…, berjanjilah….kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Kita akan bertemu lagi di alam sana.., entah kapan. Jangan mempercepat pertemuan kita, Yerin~ah. Aku…akan bersabar menunggumu. Aku…, dia sudah datang…., malaikat sudah menjemputku….” Luhan menatap udara kosong di hadapannya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa menangis dan menggenggam tangannya. “Aku….berjanji.” kataku di sela-sela tangisku.

“Saranghae, Park ….Ye…Rin…” bisik Luhan lemah. Kemudian matanya menutup. Seulas senyum tersungging di wajahnya.

Aku menangis sejadi-jadinya. Luhanku telah pergi meninggalkanku. Ia mendahuluiku. Mungkin Tuhan menghukumku karena menyia-nyiakan waktu yang kupikir tak lama lagi bagiku. Tapi Tuhan jauh lebih tahu. Umur setiap manusia hanya Tuhan-lah yang tahu. Harusnya aku tidak bersikap sok tahu dan meninggalkan Luhan.

Tapi aku sudah berjanji pada Luhan. Aku akan menepati janjiku. Itulah kompensasi atas sikap egoisku selama 4 bulan ini. Aku akan menunggu waktuku tiba. Aku tidak akan mempercepat kematianku meskipun saat ini rasanya aku ingin mati dan menyusul Luhan. Aku akan menunggu malaikat datang menjemputku dan aku akan menemui Luhan di sana. Di alam sana….tempat saat ini Luhan melihatku meskipun aku tidak bisa melihatnya lagi.

 

The wind, which has memories that were like thousands jewels to me

Blows over my head

The tears fall down

 

==== END =====

 

 

7th songfic :

Song    : Key of Heart (BoA)

Cast     : Leo / Jung Taek Woon (VIXX), Shin Hyun Young (OC)

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cerita ini special buat @ayu51198 (Ayu Indri)  yang udah request dan buat semua fans VIXX ^_^

 

 Image

 

Though we are in love

Sometimes we do hurt each other dry and cry

Everyone has such experience

 

Men are from Mars. Women are from Venus. Sepertinya kata-kata pepatah itu memang sangat benar!

Meskipun aku dan Leo saling mencintai, tapi tak jarang kami bertengkar. Baik hanya pertengkaran-pertengkaran kecil, sampai pertengkaran besar yang membuatku menangis. Tapi semua pertengkaran itu akan berakhir dengan seulas senyuman dan pelukan hangat pada akhirnya.

Kami saling memahami, tapi kami juga memiliki hal-hal yang tak bisa kami pahami. Kami berdua seperti anak kecil yang setelah bertengkar, tak peduli pertengkaran apapun itu, se-menyakitkan apapun pertengkaran itu, kami akan kembali berbaikan seolah pertengkaran itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Tapi kali ini berbeda. Entah kenapa kali ini kami sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah seperti biasanya. Aku tahu aku-lah yang benar, tapi sepertinya Leo merasa benar juga. Biasanya salah satu dari kami akan mengalah, tak peduli siapa yang salah. Malah biasanya kami berdua sama-sama mengalah. Tapi sekarang…., entahlah. Mungkin kami sedang diuji. Mungkin inilah ujian terberat yang harus kami lalui setelah 6 tahun hubungan kami. Atau mungkin….ini adalah pertanda bahwa Leo bukanlah “the one”, “Mr.Right”, atau apapun julukan yang biasa orang-orang berikan bagi soulmate abadi mereka!

 

I don’t know the reason why

I could not find the word to get you back

And I turned my back to you going out

I don’t want lose your love in fact

 

Semua pertengkaran ini bermula gara-gara acara Music Bank special Christmas dimana Leo berpasangan dengan Sojin eonni dari grup Girls Day. Mereka berdua akan melakukan dance couple dan bernyanyi lagu Trouble Maker “Now”. Atau mungkin bukan ini alasan utamanya, yang pasti semuanya bermula dari sini.

Siang itu, seperti biasa aku mengunjungi Jellyfish entertainment untuk bertemu Leo. Akhir-akhir ini Leo semakin jarang sekali menghabiskan waktu bersamaku. VIXX semakin sibuk. Aku tahu, akulah yang harus mengalah. Leo memang tidak bisa menemuimu kapanpun, jadi aku-lah yang menemuinya di ruang latihan, di tempat recording acara musik mingguan, di lokasi syuting, di dorm, atau di manapun Leo berada.

Bukan berarti aku punya banyak waktu luang, tapi aku “mengorbankan” waktuku demi Leo. Aku tahu hanya akulah yang bisa mengorbankan waktuku. Para idol tidak akan mungkin bisa curi-curi waktu di saat jadwal mereka super padat. Tapi aku bisa. Aku bisa “bolos” kuliah kapanpun, meskipun Leo sering memarahiku karena hal ini, tapi toh dia tetap senang aku bisa menemuinya. Aku juga bisa “kabur” sejenak dari kerja freelance-ku sebagai fashion designer di Cube entertainment, salah satu perusahaan entertainment terbesar di Korea Selatan milik pamanku, Hong Seung Sung.

Aku sudah bekerja pada pamanku selama 1 tahun. Pamanku itu tahu aku akan melamar ke Jellyfish agar bisa lebih sering bertemu pacarku, karena itulah pamanku cepat-cepat merekrutku meskipun aku belum lulus kuliah. Katanya sayang sekali bakatku kalau harus diambil orang lain. Yah, akhirnya aku bekerja di Cube sesuai permintaan pamanku karena gaji yang pamanku berikan sangat besar. Padahal aku jarang pergi ke Cube dan lebih sering membuat design pakaian untuk artis-artis Cube di rumahku.

Meskipun begitu, aku tetap membuatkan design pakaian untuk Leo dan teman-teman VIXX-nya. Tentu saja tanpa sepengetahuan pamanku. Setiap kali melihat Leo, aku selalu mendapat banyak sekali ide tentang pakaian yang pantas ia kenakan. Aku senang karena selama ini Leo selalu menyukai setiap design pakaian yang kubuat untuknya.

Ketika aku tiba di ruang latihan dance Jellyfish, VIXX dan Girls Day baru saja selesai berlatih sesi pertama. Mereka duduk-duduk sambil tertawa-tawa. Aku tidak memedulikan yang lain. Aku hanya melihat Leo. Saat itu…Leo tersenyum lebar pada Sojin eonni. Entah apa yang mereka bicarakan sampai membuat Leo tersenyum seperti itu.

Leo bukan tipe orang yang mudah terbuka pada orang lain. Selama 6 tahun kami bersama, belum pernah sekalipun Leo bersikap terlalu dekat dengan perempuan lain meskipun banyak sekali perempuan yang menyukainya. Leo selalu berkata ia menghargaiku, tidak ingin membuatku menangis, tidak ingin mengkhianatiku, karena itulah dia selalu menjaga jarak dengan perempuan lain.

Tapi saat ini…, untuk pertama kalinya aku melihat Leo sangat akrab dengan perempuan lain. Leo bahkan meletakkan sebelah tangannya di pundak Sojin eonni, meskipun hanya sesaat. Aku masih bersembunyi di balik pintu dan mengamati mereka. Dadaku terasa panas. Aku pernah cemburu pada Leo sebelumnya, tapi tidak pernah rasanya se-cemburu saat ini.

Aku memejamkan mataku. Berusaha meredakan emosi yang menggelegak di dadaku. Itu semua hanyalah hal biasa, Shin Hyun Young! Semua skinship yang mereka lakukan hanyalah demi sebuah acara! Aku terus mengingatkan diriku sendiri agar tidak terbawa emosi.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Terus menerus seperti itu selama beberapa menit, sampai kemudian ketika aku sudah merasa tenang, aku membuka pintu lebar-lebar dan siap menyapa Leo seperti biasa, tapi mulutku terkunci rapat begitu melihat kejadian di depanku.

VIXX dan Girls Day sudah mulai berlatih lagi. Mereka tidak berlatih dari awal tapi hanya beberapa bagian dance. Ketika aku membuka pintu itulah mereka melakukan dance couple di mana sang wanita membungkukkan badannya dengan pose seksi sementara tangan sang pria bergerak dari belakang leher sampai ke pantat sang wanita. Aku sudah berkali-kali melihat Hyuna dan HyunSeung melakukan dance ini, tapi rasanya berbeda ketika aku melihat pacarku sendiri yang melakukannya bersama wanita lain.

Yang membuatku semakin kesal adalah ketika aku melihat tangan Leo menyentuh punggung Sojin eonni, meskipun tidak menyentuh pantat-nya. Tapi kenapa Leo harus menyentuh punggungnya?! Ken, N, dan Hongbin saja tidak menyentuh punggung pasangan dance masing-masing! Tangan mereka berjarak beberapa centimeter dari punggung pasangan dance mereka, tidak menyentuhnya secara langsung seperti yang Leo lakukan!

Aku baru sadar aku tidak mengedipkan mataku sejak tadi ketika aku merasa mataku perih. “Oh, Hyun Young~ah!” panggil N dengan riang. Semua orang kini berhenti dance dan melihatku.

“Hyun Young..” Leo tersenyum padaku dan berjalan menghampiriku. Aku tersenyum cerah padanya, berusaha menekan perasaan tidak mengenakkan barusan. Leo memelukku. Tubuhnya penuh keringat, tapi aku tidak peduli dan balas memeluknya.

Kami bersikap normal seperti biasa, seolah satu detik yang lalu aku tidak pernah merasa cemburu padanya. Tanpa kuduga, kata-kata dan emosi yang tak tersampaikan ini akan semakin menumpuk dan menggunung di dalam hatiku, lalu meledak suatu hari nanti. Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi pada kami di masa depan, maka saat Leo memelukku itulah aku akan mengatakan apa yang kurasakan padanya tentang kedekatannya dengan Sojin eonni.

Ya, seharusnya begitu. Tapi manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak tahu, gara-gara aku menyimpan perasaan cemburu dan berpura-pura baik-baik saja ini-lah hubungan kami menjadi semakin buruk.

 

Penampilan special VIXX dan Girls Day sudah berlalu 2 hari yang lalu. Di panggung, Leo ternyata tidak menyentuh punggung dan pantat Sojin eonni secara langsung. Tapi aku tidak terlalu mempedulikan hal ini, karena entah kenapa sejak hari itu, hubungan kami jadi terasa agak aneh.

Mungkin Leo merasa sangat lelah akibat padatnya aktivitas VIXX, sehingga ada kalanya ketika kami berdua mengobrol, Leo seperti kehilangan konsentrasinya. Aku bahkan harus mengulang kata-kataku berkali-kali.

Atau mungkin saja ini akibat ujian di kampus yang membuatku stress, aku jadi lebih sering uring-uringan dibanding biasanya. Sikapku pada Leo jadi lebih sering ketus dan dingin. Tapi biasanya, bila mood-ku sedang jelek, Leo selalu bisa membuat mood-ku bagus lagi, entah itu hanya dengan seulas senyuman, sebuah pelukan hangat, atau sebuah lelucon konyol yang Leo katakan dengan wajah datar.

Tidak. Kali ini Leo hanya membiarkanku. Malah dia jadi membuat mood-ku lebih jelek dengan sikap acuh-nya yang mulai kambuh lagi entah kenapa.

Aku jadi mudah marah hanya karena hal sepele yang Leo katakan, seperti “Mengapa omurice untuk Hongbin lebih besar dariku?”

Sebenarnya kata-kata itu hanya sebuah kalimat simple kan? Bisa saja hanya candaan juga yang dilontarkan oleh Leo dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Seperti biasa. Tapi entahlah…, saat itu aku malah membalas kata-kata Leo dengan pedas dan panjang lebar. Membuat suasana di meja makan dorm VIXX terasa awkward. Meskipun pada akhirnya Hongbin menukar omurice-nya dengan Leo, tapi kami tahu hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Kami berbaikan lebih lama daripada sebelumnya. Kami tidak menelepon se-sering biasanya. Kami tidak lagi saling mengirimi message “Selamat tidur” seperti biasanya.

Aku tahu ada yang salah dengan kami. Tapi aku tidak tahu apa. Mungkinkah aku masih merasa kesal karena kedekatan Leo dan Sojin eonni waktu itu? Tapi aku kan sudah melupakannya! Kenapa Leo bersikap aneh? Jangan-jangan dia memang menyukai Sojin eonni?!

Begitulah. Prasangka mulai bermunculan. Kepercayaan mulai berkurang. Entah bagaimana, tapi perlahan hubunganku dan Leo terasa tidak menyenangkan lagi seperti dulu.

Puncak-nya adalah ketika di malam tahun baru 2014, kami menghadiri pesta besar yang diadakan oleh gabungan berbagai entertainment di Korea. Malam ini aku datang terlambat karena harus memilihkan fashion yang tepat untuk Beast kenakan di pesta.

Leo dan teman-teman VIXX-nya sudah datang sejak tadi. Berkali-kali Leo mengirimiku message dan menanyakan di mana lokasiku, apakah aku akan datang, dll. Tapi aku tidak membalas message-nya karena aku sangat sibuk memilihkan pakaian untuk Beast. Kupikir Leo mengerti dengan kesibukanku. Aku kan tidak selalu sibuk setiap saat. Tidak seperti dirinya yang selalu saja sibuk!

Maka, ketika pada akhirnya aku dan Beast tiba di pesta, telat 1 jam, Leo terlihat sangat marah padaku. “Kenapa kau tidak membalas satupun message-ku?” tanya Leo dingin sambil menatapku dengan tajam.

Aku merasa sangat lelah, tapi aku berusaha tersenyum demi Leo. “Baju-mu bagus, Leo~yah. Design-ku memang selalu cocok untukmu.”

“Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?” tuntut Leo. Masih dengan nada tenang-nya yang biasa, tapi kedua matanya kini menatapku dengan kesal.

“Aku tidak mengalihkan pembicaraan! Aku memujimu, Jung Taek Woon!” Demi Tuhan! Kenapa aku meninggikan suaraku?! Beberapa orang melihat ke arah kami penasaran.

Leo meraih pergelangan tanganku dan menuntunku dengan kasar menjauhi keramaian. Aku meronta, berusaha melepaskan tanganku, tapi Leo menggenggamnya dengan sangat kuat sehingga membuatku kesakitan. Tidak pernah dalam 6 tahun hubungan kami Leo memperlakukanku seperti ini. Prasangka-prasangka buruk itu mulai bermunculan lagi di otakku, seperti minyak yang ditumpahkan ke dalam kobaran api, membuat hati-ku semakin panas.

Kami berhenti di rooftop hotel. Leo menyentakkan tanganku dengan kasar dan menatapku tajam. “Aku tidak suka kau berteriak padaku seperti itu, Shin Hyun Young.”

“Aku tidak suka kau tidak bisa memahamiku, Jung Taek Woon! Aku lelah! Aku pusing karena banyak hal! Tapi kau malah bersikap childish dengan menuntut penjelasan mengapa aku tidak membalas message-mu!” aku membelalak menatap Leo dengan kesal.

Leo menghela nafas. “Apakah aku melakukan kesalahan? Kenapa kau selalu bersikap aneh akhir-akhir ini, Shin Hyun Young?”

Aku mendengus. “Kau-lah yang bersikap aneh, Jung Taek Woon!” bila kami sudah saling memanggil dengan nama lengkap kami, berarti kami memang sedang benar-benar marah. “Kau jadi berbeda!”

“Tidak, aku tetap sama. Kau-lah yang berbeda. Kau-lah yang berubah. Apakah kau merasa bosan padaku, Shin Hyun Young? Apakah kau sudah tidak tahan menghadapi pria sepertiku?”

Aku menyeringai. “Aku tidak berubah. Kau yang berubah! Jangan-jangan kau berubah gara-gara Sojin eonni. Kau terlihat sangat akrab dengannya. Apakah kau menyukainya?”

Leo balas menyeringai. “Kenapa kau tiba-tiba mengungkit Sojin nuna? Kau cemburu? Kenapa kau tidak mengatakannya waktu itu?”

“Aku tidak cemburu!”

Leo menatapku tajam. Seringaian lenyap dari bibirnya. “Tapi aku cemburu melihatmu barusan saat kau datang kemari bersama Hyun Seung hyung. Kalian hanya datang berdua. Kau bilang kau bersama Beast, tapi ternyata hanya bersama Hyun Seung!”

Aku menatap Leo. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dia kan tahu sendiri aku dan Hyun Seung Oppa memang berteman baik. Kami tidak melakukan apapun!

“Haruskah kita menemui member Beast sekarang dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, Jung Taek Woon?” tanyaku, berusaha bersabar.

“Kau tidak percaya diri dengan menjelaskannya sendiri padaku, Shin Hyun Young?”

Aku menghembuskan nafas kesal. “Kau tidak mempercayaiku!”

“Kau membuatku tidak mempercayaimu, dan kau juga tidak mempercayaiku!” balas Leo sengit.

Aku menatap Leo dengan lelah. “Sudahlah. Tidak ada gunanya membahas hal ini. Jangan menemuiku lagi, Jung Taek Woon! Malam tahun baru ini benar-benar menyebalkan!”

Leo menatapku tajam dan dingin. “Bukan salahku kalau malam tahun barumu menyebalkan, Shin Hyun Young. Nikmati saja malam tahun barumu bersama Jang Hyun Seung.” Setelah mengatakan itu, Leo pun berbalik pergi.

Aku melihat punggungnya yang bidang semakin menjauhiku. Aku ingin memanggilnya, tapi entah kenapa bibirku terasa kelu. Akhirnya aku pun membalikkan badanku dan turun dari rooftop lewat tangga darurat yang satu lagi agar tidak berpapasan dengan Leo.

 

 

Looking for the word

Just a simple word

To open up closing door of your heart

But it’s hard to say for me I’m sorry

I don’t loose my faith

I don’t loose my nerve

Let me go to see you to say the word

Not to be afraid to face the fear is the key of heart

 

 

Tiga hari telah berlalu sejak malam itu. Aku dan Leo tidak pernah berusaha saling menghubungi. Aku berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk berbicara pada Leo, tapi selalu berujung buntu. Aku tidak bisa memikirkan kata-kata yang dapat membuat hubunganku dan Leo membaik!

Aku tidak membenci Leo. Aku sangat mencintainya. Terlalu mencintainya sampai membuatku merasa marah dengan diriku sendiri!

Tapi aku juga marah pada Leo! Urat-urat tegang di leherku masih belum mengendur. Aku masih belum bisa meredakan emosi-ku tiap kali mengingat percakapan kami malam itu.

“Kata-kata maaf tidak akan membunuhmu.” Canda Hyun Seung, saat aku bercerita padanya tentang Leo.

Aku menatap galak Hyun Seung karena bisa-bisanya dia bercanda di saat seperti ini, terlebih karena dirinyalah salah satu alasan mengapa Leo marah padaku. Hyun Seung mengusulkan padaku agar dia bertemu Leo dan menjelaskan kesalahpaman kami, tapi aku melarangnya. Apa gunanya?! Kepercayaan Leo. Itulah yang kubutuhkan.

Lalu apa yang Leo butuhkan dariku? Kata Maaf?

Aku ingin berkata “Maaf” padanya, tapi aku takut. Bagaimana kalau Leo tidak memaafkanku?!

 

I believe in love, two hearts

Thousands of your smiles

Getting back when I look back on those days of us

Now I feel they’re still calling me

 

Satu minggu sudah berlalu. Hubunganku dan Leo masih tetap sama. Tidak jelas. Menggantung. Seolah sedang melakukan gencatan senjata. Aku tidak ingin dia pergi dariku. Aku ingin dia memaafkanku, tapi rasa ego-ku terlalu besar untuk meminta maaf. Aku tidak akan meminta maaf lebih dulu sebelum Leo berkata ia mempercayaiku.

Aku mulai memimpikan Leo di dalam tidurku. Mulanya mimpi-mimpi buruk tentang Leo, tapi hari demi hari berlalu dan aku malah memimpikan kenangan indah kami selama 6 tahun ini.

Aku melihat Leo tersenyum, tapi hanya lewat mimpi.

Aku merasakan kedua tangan besar dan hangat Leo mendekapku dan melindungiku, tapi hanya lewat mimpi.

Mimpi-mimpi itu seolah memanggilku. Seolah menasehatiku. Seolah memarahi sikap childish-ku dan Leo.

 

Maybe you’re the same as me

Searching for the chance to make it up now

I believe you to be waiting for me

I’ll be with you shortly

 

Dua minggu berlalu. Masih tidak ada perubahan. N dan Ken mulai bawel meneleponku setiap saat menanyakan tentang ada masalah apa antara aku dan Leo, mengapa aku tidak pernah menemui Leo lagi.

Hyun Seung juga sama saja. Dia tak bosan-bosannya memintaku menemui Leo. Tapi aku selalu berkelit dan mengatakan berbagai alasan.

Tapi pada akhirnya, aku “tertipu” oleh Hyun Seung. Sepulang kuliah, Hyun Seung memintaku datang ke SBS secepat mungkin karena Beast ada interview tapi baju Hyun Seung sobek, sehingga dia memintaku membawakannya baju lain yang kurancang untuk Beast.

Ketika aku tiba di SBS, Hyun Seung tidak ada. Beast tidak ada. Beast tidak ada interview, tapi VIXX yang memiliki jadwal interview sekarang!

Itulah pertama kalinya dalam 2 minggu ini aku bertemu Leo lagi secara langsung. Kami saling tatap dalam diam. Berbagai perasaan tercermin lewat mata kami. Leo menatapku dengan cara yang sama seperti aku menatapnya sekarang.

Mungkin Leo sama sepertiku. Mungkin saat ini dia-pun sedang berusaha mencari kata-kata yang pas untuk berbaikan denganku. Mungkin ia juga mencari moment yang tepat.

Tapi kami hanya terdiam dan terus saja berpandangan. Sampai kemudian manajer VIXX menarik Leo menjauhiku karena acara interview akan segera dimulai.

 

Looking for the word

Just a simple word

To open up closing door of my heart

Let me try to say just once I’m sorry

Now I close my eyes

Wishing for you smile

My heart beat is synchronize with your one

Not to make up my mind to reach you is the key of heart

 

Satu bulan lebih 2 minggu. Ya, selama itulah kami bersikap keras kepala dan menuruti ego kami. Tidak pernah sebelumnya kami marahan selama ini! Sangat lama! Bahkan Hyun Seung Oppa pun bingung bagaimana mungkin aku dan Leo masih berstatus “sepasang kekasih” bila marahan selama ini!

Kadang aku benci Jang Hyun Seung yang suka bercanda seenaknya. Si 4D prince teman baikku itu kadang-kadang membuatku ingin menendangnya dan memukulnya dengan keras!

Aku selalu percaya, hati sepasang kekasih itu seperti gembok dan kunci. Di dalam hatiku ada gembok dan kunci special yang hanya bisa berfungsi oleh gembok dan kunci special juga. Jung Taek Woon. Ya, hanya Leo lah yang bisa membuka gembok hatiku yang tertutup rapat. Dan hanya kunci hati-ku juga lah yang bisa membuka pintu hati Leo yang terkunci rapat.

Tapi kadang kunci-kunci itu tidak berguna. Ada beberapa hal yang membuat kunci menuju hati yang tertutup itu berfungsi. Salah satunya adalah menghadapi rasa takut. Selama satu bulan lebih ini aku merasa takut Leo tidak akan memaafkanku, takut Leo membenciku, takut Leo tidak merasakan hal yang sama denganku. Karena itulah selama satu bulan lebih ini kesempatanku untuk membuka kunci hati Leo lenyap begitu saja.

Kunci menuju hati yang berikutnya adalah : Jangan pernah merubah pikiran yang kau anggap benar!

Waktu itu, saat di SBS, aku sudah akan meminta maaf pada Leo, tapi aku merubah pikiranku pada detik-detik terakhir, sehingga Leo terlanjur diseret pergi oleh manajer-nya. Kesempatanku pun hilang lagi.

Kunci yang terakhir adalah : Berusaha menjaga cerita kita berdua berlanjut.

Aku tidak ingin hubunganku dan Leo berakhir begitu saja. Aku ingin kembali seperti dulu. Aku ingin kami menertawakan kekonyolan-kekonyolan N Oppa dan Ken lagi seperti dulu. Aku ingin kami sama-sama menangis saat menonton drama menyedihkan seperti dulu. Aku ingin memeluk Leo dengan kedua tanganku dan Leo merengkuhku di dalam dekapan-nya yang hangat dan nyaman seperti dulu. Aku ingin menghapus rasa lelah dan sedih Leo seperti dulu. Aku ingin Leo selalu membuat mood-ku bagus seperti dulu.

Bertemu Jung Taek Woon di dunia ini, diantara sekian milyar penduduk bumi adalah suatu keajaiban. Jatuh cinta padanya adalah suatu anugrah. Dicintai olehnya adalah suatu mukjizat.

Aku segera berdiri dari tempat tidurku. Dengan asal meraih mantel bepergian-ku. Aku harus menemui Leo! Aku harus meminta maaf padanya atas semua hal yang telah kulakukan.

Tapi, tepat ketika aku membuka pintu untuk keluar, saat itulah aku melihat Leo! Nafasnya terengah-engah. Sepertinya dia berlari menuju kemari. Rambut hitamnya terlihat acak-acakan tertiup angin, tapi justru membuat wajahnya yang memang sudah tampan jadi terlihat lebih tampan.

Tanpa perlu berpikir lagi, hanya dengan mengikuti apa kata hati kami, dalam waktu bersamaan, kami pun saling memeluk dengan penuh kerinduan.

“Mianhae…mianhae…Leo~ya…”

“Mianhae…Hyun Young~ah…”

Kami berkata bersamaan. Kami tertawa pelan bersama. Kami saling menghapus air mata di sudut-sudut mata kami.

Akhirnya. Kami tahu, kami telah melewati ujian terberat kami dalam hubungan ini. Mungkin di depan sana ujian-ujian yang berat atau bahkan mungkin lebih berat dari ini menanti kami, tapi mulai sekarang kami akan selalu mengingat hari ini. Hari di mana kami saling membuka gembok pintu hati yang tertutup rapat dengan kunci yang kami miliki.

Sebuah kunci yang hanya kumiliki untuk Leo. Dan sebuah kunci yang Leo miliki hanya untukku.

Leo menatapku dalam-dalam dengan kedua mata tajamnya yang sanggup membuat lututku lemas. “Hyun Young~ah.., aku terlahir ke dunia ini untuk mencintaimu. Untuk hidup di dalam masa kini dan masa depanmu. Maukah kau memberiku kesempatan lagi untuk mencintaimu dan memperlakukanmu dengan baik?”

Aku mengangguk dan langsung memeluk Leo lagi. Tanpa perlu diminta-pun, aku sudah tahu itulah yang kuinginkan. Jung Taek Woon. Hanya kau-lah yang kuinginkan.

Leo mendekatkan wajahnya padaku dan mulai menciumku dengan lembut. Aku balas menciumnya dengan mencurahkan segenap perasaan rinduku padanya. Sekali lagi, kami siap berlayar mengarungi lautan hati kami. Karena pintu hati yang terkunci itu kini sudah terbuka kembali.

 

To meet in this world is just a wonder

Now I want to say I was born to love

Fall in love with you

Live in your future

Open up your door

Wrap me in your arms

Let me dive into your heart once again

To try to keep our story going on is the key of heart

 

 

====== END =====

 

 

Yeay.., akhirnya beres! Hehehehe. Dengan ini request resmi ditutup yaa. Gomawooo yang udah request ^^. Semoga suatu hari nanti aku punya waktu lagi buat bikinin cerita request kalian. *bow* xoxo❤

 

17 thoughts on “[Songfic Request] Christmas Day + The Wind Blows + Key of Heart

  1. hiiiiaaaa songfic requestku udh jadiii~~ /nari”+teriak” ngga jelas/ok abaikan -.-/
    hahaha aku beruntung bgt di ff ini~ seandainya ini nyata ‘-‘

    ini dpt ide dari mana make konsepnya VIXX-Girls Day?!
    aku pngen teriak pas bacanya, tapi inget ini udh malem, jadi aku batalin -.-

    tapi ini sumpah aku suka bgt! >o<
    seperti sebelumnya…
    bahasa yg dipake bagus, ide ceritanya lagi ;D
    pokoknya keren!

    ini aku bacanya gila"an lho ya eon…
    sumpah, suer deh '-'v
    dan hasilnya ngga mengecewakan~ kyk yg aku bilang kemaren, aku percaya sama eonnie hehehe

    hahaha mian kepanjang
    keep writing ya eonnie~
    hwaiting! ^^

    • Dapet ide pas mikirin kolaborasi vixx girlsday waktu itu. Mikir klo jd ceweknya leo pasti bakal jealous sama soojin. Hahaha.
      Tp entah kenapa di video itu aku suka sama pairingnya hyeri-ken, mungkin krn mereka sama2 badut tukang ngelucu. Wkwwwk

      Iya.. Sama2 yaa… Doain aku yaa biar someday bisa nerbitin novel. Hehehe.

      • aku yg baca aja jelousnya bkan main eon -.-
        aku blm nnton videonya, jadi ngga tau u.u

        ok aku doain deh biar eonnie bisa nerbitin novel
        tapi klo udh terbit kasi tau aku ya hehehe ;D

        mian ya eon itu comment agak” alay -.-
        aku gila sendiri pas bacanya >o<

  2. Yahoooo…
    Akhirnya di buatin juga songfic requestku…
    Makasih ya eonnie… ^^
    Seperti biasa ff yang di buat eonnie selalu top deh… ^^
    Ff yang eonnie buat selalu bikin gregetan sendiri…

    Terus berkarya ya eonnie…

    Eonnie boleh beri usulan gak?

  3. aku udh nnton videonya tadi
    setelah perjuangan nyari wifi di skolah dan nunggu downloadnya selesai -.-
    dan aku teriak” sendiri liatnya~
    sampe dikira orang gila aku sma tmn”ku =.=

    hahaha ok lain kali aku akan lebih heboh dari ini xD

    ada ff Leo-Hongbin baru lagi ngga eon?
    aku hampir gila gara” ngga nemu ff pair ini u.u
    ada sih tapi english semua, dan aku lagi males baca ff yg nguras otak –“

  4. benerrr bgt q jga jealous bgt pas ngliat mrk duet itu q mpe tereak2 pas diliatin leo’y q g rela demi langit dan bumi beserta alam semesta…..
    wahhh…songfic’y keren konflik’y berasa banget…jjangggg….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s