Thread of Destiny

Image

Title                 : Thread of Destiny

Author              : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Cast       : Kim Min Ah (OC), Kim Min Gi (OC), Han Sang Hyuk (VIXX), Lee Hong Bin (VIXX)

Support Cast  : Suho (EXO-K), VIXX and EXO members

Genre              : romance, friendship, family

Rating             : PG+15

Length                        : 2 shoots / 2 chapters

Summary        : Siapa bilang saudara kembar selalu bersaing?! Hal itu tidak berlaku bagiku  dan Min Gi. Sejak kecil kami selalu saling mendukung dan tidak pernah iri satu sama lain meskipun karakter dan hobi kami berbeda. Apa yang terjadi jika suatu hari aku dan Min Gi “dipaksa” syuting sebuah iklan bersama sepupu kami yang terkenal, Suho EXO? Apa yang harus kulakukan bila gara-gara iklan konyol itu aku harus bertemu lagi dengan pria yang pernah kusukai sekaligus mantan pacar Min Gi saat junior high school dulu? Dan bagaimana bila saat ini kejadian itu terulang lagi? Aku dan Min Gi menyukai pria yang sama. Apakah sekarang pun aku harus mengulangi hal yang sama lagi seperti dulu? Haruskah aku berhenti menyukai pria itu karena Min Gi juga menyukainya? Lalu bagaimana bila cinta pertama kami kini membuat segalanya menjadi semakin rumit?

Disclaimer       : This story is just fanfiction. I make no money from this, just have fun as fans. Just enjoy the story and don’t forget to leave any comment ^_^

 

 

========= Kim Min Ah PoV ==========

Saudara kembar memiliki ikatan batin yang aneh. Ya, itu memang benar. Sejak kecil, aku dan kembaranku, Min Gi, selalu merasa saling ketergantungan. Bagiku saudara kembar itu seperti setengah jiwa-ku yang terpisah. Aku baru merasa komplit bila aku bersama kembaranku.

Tapi orang-orang bilang…., saudara kembar selalu bersaing dalam segala hal. Bagiku dan Min Gi, hal itu tidak berlaku. Sejak dulu kami selalu saling mendukung. Kami tidak pernah bersaing dalam bidang yang sama.

Aku dan Min Gi punya hobi yang berbeda. Sejak kecil aku sangat suka olahraga seperti basket, tennis, dan renang. Sementara Min Gi menyukai dance, musik, dan akting. Aku menyukai pelajaran IPA, sementara Min Gi suka IPS. Kami sama-sama bersinar di bidang kami masing-masing.

Saat elementary school dan junior high school, aku tergabung dalam klub basket dan sering menjuarai olimpiade basket nasional. Min Gi adalah ketua klub cheerleader sekolah kami dan dia sering menjuarai kompetisi dance dan menyanyi.

Dari segi sifat pun kami berdua sangat berbeda. Mungkin karena itulah kami selalu akur. Karena kami saling melengkapi. Min Gi melengkapi kekuranganku, dan aku juga melengkapi kekurangan Min Gi. Saat berdua, barulah kami merasa sempurna.

Singkatnya, aku tidak bisa hidup tanpa Min Gi. Begitupula sebaliknya.

Aku dan Min Gi adalah kembar identik. Sangat sulit membedakan kami bila hanya sekali lihat. Tapi tentu saja kami punya beberapa perbedaan. Kalau diperhatikan baik-baik, wajahku lebih bulat dibanding Min Gi. Wajah Min Gi lebih lonjong. Tapi tidak jauh berbeda, sehingga sulit mengenali kami hanya dari bentuk wajah.

Aku lebih tinggi 5 cm dari Min Gi, mungkin hal ini dikarenakan aku adalah atlet basket dan renang sehingga pertumbuhanku lebih cepat. Tapi hal ini juga sulit dibedakan karena Min Gi senang memakai high heels.

Warna bola mata kami berbeda. Bola mata Min Gi hitam, sementara aku cokelat muda. Tapi lagi-lagi orang-orang kesulitan membedakan kami kalau mereka tidak teliti melihat warna mata kami.

Yah, intinya, sangat sulit membedakan mana Min Ah dan mana Min Gi. Diperlukan ketelitian yang ekstra untuk mengenali kami. Karena itulah, ketika kami lulus elementary school, kami memutuskan untuk merubah warna dan gaya rambut kami. Kami juga memutuskan untuk tidak pernah memakai pakaian dan tas yang sama lagi. Karena bagaimanapun juga kami sering merasa sakit hati bila orang lain memanggil nama kami dengan salah.

Min Gi tetap membiarkan rambutnya panjang, hanya saja dia mengecat rambutnya menjadi pirang dan membuat rambutnya menjadi ikal bergelombang. Min Gi terlihat seperti Barbie.

Sementara itu, karena aku sering merasa kepanasan saat bermain basket, aku pun memotong rambutku yang asalnya panjang sampai pantat menjadi hanya se-panjang bahu. Aku tetap membiarkan rambutku berwarna hitam dan lurus.

Setelah gaya dan warna rambut kami berbeda inilah orang-orang mulai bisa membedakan kami. Tapi anehnya, saat kami masuk junior high school, ada satu orang senior bernama Lee Hongbin yang bisa mengenali perbedaan kami lainnya. Padahal kami sendiri tidak sadar kami berbeda dalam hal itu.

Senyuman kami. Hongbin sunbaenim berkata senyuman kami berbeda. Aku dan Min Gi tentu saja bingung. Gigi kami sama, bibir kami sama, kami juga merasa senyuman kami sama. Tapi Hongbin sunbaenim berkata senyuman kami sangat berbeda.

Entahlah, tapi dia satu-satunya orang yang berkata demikian. Orang lain tidak pernah berkata demikian.

Hongbin sunbaenim satu tingkat lebih tua di atas kami. Dia sangat populer. Tampan, pintar, dan kapten tim basket. Dulu banyak sekali anak perempuan yang ikut klub basket hanya agar bisa lebih dekat dengan Hongbin sunbaenim. Banyak juga yang ikut klub cheerleader agar bisa menyemangati Hongbin sunbaenim setiap pertandingan. Tapi aku masuk klub basket memang karena aku sangat menyukai basket. Min Gi juga masuk klub cheerleader karena dia senang dance.

Bila selama ini aku dan Min Gi selalu menyukai hal yang berbeda, tapi ternyata kami bisa menemukan satu persamaan kami. Kami menyukai pria yang sama. Kami menyukai Hongbin sunbaenim.

Awalnya, kupikir kami hanya nge-fans padanya. Ya, bagi gadis remaja, Hongbin sunbaenim benar-benar pria idaman. Sosok pria sempurna yang selalu diimpikan setiap gadis remaja.

Tapi ternyata, setelah 6 bulan mengenal Hongbin sunbaenim, aku sadar, aku bukan hanya mengidolakannya. Aku menyukai-nya. Benar-benar menyukainya. Aku suka setiap detik yang kuhabiskan bersamanya. Aku suka Hongbin sunbaenim selalu mendukungku agar skill basket-ku semakin baik. Aku suka mendengarkan lelucon-lelucon konyolnya. Aku suka saat dia berbagi banyak rahasia yang tidak dia beritahu pada orang lain. Aku suka karena Hongbin sunbaenim tidak se-sempurna yang semua orang bayangkan. Aku suka sifat-nya yang kadang ceroboh. Aku suka karena dia sering tidak merasa percaya diri. Aku suka karena dia ternyata tidak tahu fashion. Aku suka semua hal tentang Hongbin sunbaenim.

Saat itu, aku berencana memberitahu Min Gi bahwa ternyata aku bukan hanya mengidolakan Hongbin sunbaenim seperti yang selama ini kami kira. Aku ingin menjadi orang yang berarti bagi Hongbin sunbaenim. Aku ingin menjadi seseorang yang special untuknya, yang selalu mendukungnya kapapun.

Tapi, sebelum aku sempat mengatakan hal ini pada Min Gi, ternyata Min Gi sudah menyadari perasaannya yang sama seperti yang kurasakan terhadap Hongbin sunbaenim. Bahkan Min Gi sudah menyatakan perasaannya pada Hongbin sunbaenim.

Saat itu aku benar-benar merasa kosong. Itulah pertama kalinya dalam hidupku aku merasa sedih karena sikap Min Gi. Bukan karena kami sama-sama menyukai Hongbin sunbaenim, tapi karena Min Gi tidak jujur padaku. Dia baru memberitahuku bahwa dia sudah menyatakan perasaannya setelah 3 hari berlalu dan Hongbin sunbaenim belum juga menjawab pernyataan cinta Min Gi. Sedangkan aku saat itu berencana memberitahu Min Gi tentang apa yang kurasakan, tepat ketika aku menyadari perasaanku pada Hongbin sunbaenim dan aku ingin meminta pendapat Min Gi.

Tapi Min Gi tidak meminta pendapatku, dan dia malah sudah bertindak jauh. Dia juga tidak jujur padaku. Saat itu aku sangat kecewa pada Min Gi. Padahal kami biasanya berbagi rahasia apapun. Kami tidak pernah menyembunyikan apapun.

Mungkin saat itu insting seorang kakak kembar yang kumiliki lebih kuat, atau mungkin aku terlalu menyayangi Min Gi, karena itulah aku tidak lagi kecewa padanya. Bagiku, kebahagiaan Min Gi adalah kebahagiaanku juga.

Saat hari ke-5 dan Hongbin sunbaenim belum juga memberikan jawaban pada Min Gi, Min Gi meminta tolong padaku untuk bertanya pada Hongbin sunbaenim. Aku memang lebih dekat dengan Hongbin sunbaenim karena kami satu klub.

Aku masih ingat, hari itu, satu hari sebelum hari ulang tahunku dan Min Gi, aku menemui Hongbin sunbaenim setelah kami selesai latihan untuk turnamen tingkat daerah. Seperti biasa, Hongbin sunbaenim menyapaku dengan senyuman lebar-nya yang khas. Lesung pipitnya terlihat jelas, membuat wajahnya yang memang sudah tampan jadi terlihat semakin tampan. Keringat membanjiri wajah dan tubuhnya. Aku menyerahkan handuk kecil padanya.

“Gomawo…” katanya sambil tersenyum manis.

Aku menunggu Hongbin sunbaenim selesai mengelap keringat di wajahnya. Aku menyusun kata-kata di dalam kepalaku. Aku tidak mau memojokkan Hongbin sunbaenim karena sampai saat ini dia belum memberi jawaban juga pada Min Gi, tapi aku juga tidak ingin membuat Min Gi sedih. Aku ingin mendukung Min Gi. Aku ingin Min Gi bahagia.

Karena itulah kemudian aku berkata. “Sunbaenim.., maaf bila aku terlalu ikut campur. Aku mengerti pasti kau punya alasan mengapa sampai sekarang kau belum memberikan jawaban pada Min Gi. Tapi aku tidak ingin kau mempermainkan perasaan Min Gi. Aku tidak berkata kau harus memaksakan perasaanmu, tapi tolonglah tegas dengan apa yang kau rasakan.” Aku berhenti bicara dan menatap Hongbin sunbaenim. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku-artikan.

“Jangan menggantungkan Min Gi. Dia perempuan yang baik dan populer. Banyak anak laki-laki yang menyukainya, tapi dia tetap menunggumu. Tolong segera jawab perasaan Min Gi. Dia…, akan sangat senang kalau kau juga menyukainya.”

Hongbin sunbaenim menatapku tanpa ekspresi. Aku tertawa kikuk lalu membungkukkan badanku. “Maafkan aku sunbaenim. Aku tahu aku lancang karena ikut campur masalah pribadimu.”

Hongbin sunbaenim tersenyum. Sikapnya kembali normal seperti semula. “Tidak apa-apa. Bukankah kita teman baik? Bukankah itu gunanya teman baik? Memberi saran?” Hongbin tersenyum. “Min Ah~ya, kau tahu kan aku orang yang sering tidak percaya diri?”

Aku mengangguk. “Hmmm. Tapi sunbaenim tidak perlu merasa begitu karena aku berani menjamin Min Gi sangat menyukai sunbaenim.”

Hongbin menatapku lama, sampai akhirnya ia menghela nafas panjang dan mengangguk. “Besok ulang tahun-mu kan?”

Aku mengangguk. Tentu saja Hongbin pasti tahu kapan ulang tahunku karena dia adalah kapten klub basket dan memiliki data para anggotanya.

“Besok juga berarti ulang tahun Min Gi. Apakah tidak apa-apa aku menjawabnya saat ulang tahun kalian?” Hongbin sunbaenim menatapku lekat-lekat. Matanya tajam menusuk, seolah berusaha untuk membaca pikiranku.

Aku terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk. “Hmmm. Min Gi pasti sangat senang. Itu akan menjadi hari yang paling bersejarah baginya. Karena kau adalah cinta pertama Min Gi, sunbaenim.” Aku tersenyum.

Ya begitulah percakapanku dengan Hongbin sunbaenim. Keesokan harinya, Hongbin sunbaenim membalas pernyataan cinta Min Gi. Min Gi sangat senang sekali. Di hari ulang tahunnya, Min Gi mendapatkan kado yang paling special. Lee Hongbin. Cinta pertama Min Gi sekaligus pacar pertama Min Gi.

Di hari ulang tahunku, aku melepaskan cinta pertamaku demi Min Gi. Asalkan Min Gi bahagia, maka aku pun akan merasa bahagia.

Hubungan mereka bertahan selama 1 tahun 2 bulan. Mereka berdua putus beberapa bulan sebelum Hongbin sunbaenim menghadapi ujian kelulusan, dan 2 minggu sebelum Min Gi ikut audisi SM Entertainment. Aku sempat khawatir dengan mereka berdua. Aku takut putusnya hubungan mereka membuat prestasi mereka hancur.

Tapi ternyata Min Gi tidak terpengaruh dengan putus cintanya. Dia berhasil lolos audisi dan menjadi trainee SM entertainment. Hongbin sunbaenim juga tetap berhasil mempertahankan prestasi belajarnya dan siap menghadapi ujian akhir.

Min Gi memberitahuku alasan mengapa mereka putus. Min Gi bilang…, ternyata mereka berdua tidak cocok. Min Gi tidak merasa sedih dengan putusnya hubungan mereka. Sebaliknya, dia merasa lega. Aku senang karena kembaranku itu bisa bersikap dewasa. Selama ini aku khawatir dengan sikapnya yang terlalu childish dan polos seperti anak kecil. Syukurlah bila Min Gi bahagia. Itu sudah cukup bagiku.

Aku sendiri tidak tahu apakah aku masih menyukai Hongbin sunbaenim sebagai seorang pria atau hanya mengidolakannya sebagai senior. Yang pasti, cinta pertama akan selalu menjadi cinta pertama, meskipun akhir cerita cinta pertama biasanya tidak menyenangkan.

Setelah Hongbin sunbaenim lulus, aku kehilangan kontak dengannya. Mungkin lebih baik memang begitu. Min Gi akhirnya punya pacar baru lagi saat kelas 3, sementara aku masih saja sendiri karena terlalu sibuk bertanding basket dan renang. Saat itu aku sadar, selera kami berdua terhadap cowok ternyata tidak selalu sama. Buktinya, aku tidak menyukai Chan Yeol, pacar baru Min Gi. Mungkin dulu kami menyukai  pria yang sama karena pria itu adalah Hongbin sunbaenim. Pria luar biasa yang menjadi cinta pertama kami.

Itu adalah masa laluku dan Min Gi. Pahit-manisnya cinta pertama. Aku yakin setiap orang memiliki kisah perjalanan cinta pertama yang berbeda-beda. Tapi satu yang pasti, semua orang akan selalu mengingat cinta pertama mereka. Bukan untuk kembali mencintai orang yang sama, hanya untuk mengingat bahwa dulu kita pernah merasakan keajaiban untuk yang pertama kalinya dalam hidup kita.

Tapi ternyata kisah cintaku yang sebenarnya baru akan dimulai sekarang. Hal ini berawal dari paksaan konyol sepupuku, Kim Jun Myeon Oppa alias Suho Oppa. Leader EXO yang sangat terkenal. Dia memaksaku membintangi sebuah iklan kosmetik bersamanya.

Min Gi masih menjadi trainee di SM entertainment. Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa dia adalah sepupu Suho. Min Gi tidak ingin orang-orang membandingkan dirinya dengan Suho, ataupun mencacinya karena mengira ia bisa masuk SM karena koneksi Suho.

Min Gi sama kesalnya sepertiku ketika Suho Oppa memaksa kami membintangi iklan kosmetik bersamanya. Min Gi takut hubungannya dengan Suho akan diketahui trainee lainnya. Tapi Suho berani menjamin rahasianya aman. Suho meyakinkan kami bahwa kami berdua sangat cocok untuk iklan tersebut. Suho sendiri yang mengusulkan pada CEO-nya agar kami berdua menjadi lawan mainnya di iklan tersebut.

Entahlah, mungkin hal ini bukan hanya suatu kebetulan, tapi sebuah jalan yang menuntun aku dan Min Gi pada sebuah hal yang memang seharusnya terjadi. Siapa yang mengira, setelah 4 tahun tidak bertemu, ternyata sekarang kami tiba-tiba bertemu lagi dengan Hongbin sunbaenim.

Aku tahu, sudah satu tahun setengah ini Hongbin sunbaenim menjadi penyanyi dan tergabung dalam grup idola bernama VIXX. Aku mengetahuinya karena aku melihat TV, bukan karena kami masih berkomunikasi atau apa. Seperti sudah kubilang, kami lost contact semenjak Hongbin sunbaenim lulus junior high school. Tapi aku tidak mengira, diantara sekian banyak sekali idol di negara ini, aku harus “berpapasan” dengan Hongbin sunbaenim di lokasi syuting.

Sore itu adalah hari terakhir aku, Min Gi, dan Suho Oppa re-take sebuah adegan untuk iklan kosmetik yang kami bintangi. Aku dan Min Gi memakai model baju yang sama dengan warna yang berbeda. Rambutku dan Min Gi sama-sama panjang. Min Gi kembali meluruskan rambutnya dan mengecatnya menjadi hitam lagi. Sementara aku mengecat rambutku menjadi cokelat kemerahan. Aku mulai memanjangkan rambutku sejak berhenti menjadi atlet basket 2 tahun yang lalu. Sekarang, bila teman-teman kami saat junior high school bertemu kami, mereka menjadi sulit membedakan mana aku dan mana Min Gi. Tapi teman-teman senior high school kami bisa membedakan kami karena sejak awal masuk senior high school rambut kami sudah berwarna seperti ini.

Selesai syuting, aku dan Min Gi membungkukkan badan kami dan berterima kasih pada para staff, begitu pula Suho Oppa. “Ayo kita foto-foto!” ajak Suho Oppa pada kami. Aku tahu, sepupu kami yang narsis itu pasti akan meng-upload fotonya ke jejaring sosial.

Aku menggeleng. “Aku tidak mau.”

Min Gi menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan mendukungku. Dia juga tidak mau berfoto bersama Suho Oppa.

“Oh ayolaaahhh…, lihatlah pakaian kalian bagus sekali, make-up kalian juga. Sayang sekali kalau tidak di foto. Ne?” Suho Oppa terus membujuk kami dengan menampilkan senyuman dan aegyo-nya. “Ayoooolah twins, nanti aku belikan kalian ice cream…” Suho Oppa masih belum menyerah juga.

“Ice cream saja tidak cukup.” Min Gi mendelik kesal.

Aku mengangguk. “Benar, Oppa. Kau pikir kami anak TK?” aku menatap Min Gi dan kami berdua sama-sama tertawa lebar.

Suho Oppa mendengus, tapi dia juga ikut tertawa. “Baiklah…baiklah…, aku akan membelikan apapun yang kalian inginkan.”

Min Gi dan aku langsung melingkarkan lengan kami di lengan Suho Oppa. Aku di kiri dan Min Gi di kanan. “Benar ya, Oppa! Kau sudah janji! Jangan mengingkari janjimu! Karena aku akan memintamu membelikanku tas Gucci model terbaru.” Min Gi tersenyum penuh kemenangan.

“MWO???” Suho Oppa syok.

Aku tertawa. “Benar. Kau kan sudah janji, Oppa. Aku akan memintamu membelikanku banyak sekali buku se-harga tas Gucci.”

“MWOOOOO????”

Aku dan Min Gi ber-high-five ria sambil tertawa renyah. Suho Oppa menatap kami horror, tapi akhirnya dia mengangguk. “Arrasseo…, twins bandel!” dia mencubit pipi kami berdua seperti yang biasa dia lakukan ketika kami kecil.

“Suhoooooo….” Kami mendengar seseorang memanggil Suho. Kami membalikkan badan kami dan melihat seorang pria berkulit tan melambaikan tangannya riang pada Suho sambil berjalan menghampiri kami.

“Oh, N!!!” Suho Oppa menghampirinya dan mereka pun berpelukan brotherly. Aku mengamati pria bernama N itu dan merasa tidak asing dengan wajahnya. Oh benar! Aku ingat! Aku pernah melihatnya di TV. Dia kan leader VIXX. Itu berarti…..

“Min Ah? Min Gi?” saat lima orang pria datang menyusul N, aku mendengar suara yang sudah tidak asing bagiku.

Saat itulah aku melihatnya. Lee Hong Bin!

Dia masih sama tampan-nya seperti dulu. Hanya saja sekarang dia jadi jauh lebih tinggi, tubuhnya lebih atletis, dan terlihat lebih dewasa.

Aku dan Min Gi otomatis tersenyum. Senyum yang menurut Hongbin berbeda, tapi orang lain tidak menganggapnya berbeda. Aku dan Min Gi saling bertatapan, dan tanpa mengatakan apapun kami memahami apa yang kami inginkan. Kami ingin tahu, apakah sekarang pun Hongbin masih bisa membedakan kami. Gaya rambut kami jauh berbeda dengan dulu. Saat ini pun aku dan Min Gi memakai contact lens biru, sehingga warna mata asli kami tidak terlihat. Setelah 4 tahun berlalu, tinggi badan kami juga hanya jadi berbeda 2 cm. Akan sangat sulit membedakan kami sekarang selain dari warna mata. Apakah Hongbin masih bisa membedakan kami hanya dari senyum kami?

“Mana Min Ah dan mana Min Gi?” tanya kami berdua bersamaan.

N membelalak menatap kami. “Woaaahh.., daebak!! Kalian kembar yang sangat sulit dibedakan!”

Aku dan Min Gi tersenyum. Hongbin yang terkejut karena pertanyaan kami barusan, kini tersenyum lebar, menampakkan lesung pipit-nya yang khas.

Tanpa ragu Hongbin menjawab dan menunjukku. “Min Ah.” Aku tersentak. “Min Gi.” Dia pun menunjuk Min Gi.

Aku dan Min Gi bertepuk tangan. “Oppa! Aku senang kau masih bisa membedakan kami.” Seru Min Gi. Ia menghampiri Hongbin dan memeluknya sekilas. Sementara itu aku masih berdiri di tempatku dan tersenyum pada Hongbin. Sungguh, setelah sekian lama, aku tidak pernah mengira bisa bertemu lagi dengannya.

Hongbin menghampiriku dan memelukku. Aku tersenyum. “Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, kapten.” Kataku. Kami berdua tertawa.

“Kim Min Ah?” tanya seorang pria. Aku menatap pria tinggi itu dan mencoba mengingat-ingat.

“Kau mengenalku?” tanyaku.

Pria itu tersenyum. “Kau Kim Min Ah yang jadi sainganku saat olimpiade matematika 2 tahun lalu kan?”

Olimpiade matematika? Aaah, aku ingat! “Han Sang Hyuk?”

“Ne!” pria itu tertawa senang karena aku mengenalinya.

“Kau benar-benar Han Sang Hyuk? Yah! Kenapa kau jadi berbeda?! Kau jadi tinggi sekali. Kau juga terlihat dewasa.”

Sang Hyuk tersenyum, menganggap kata-kataku sebagai pujian. “Tentu saja, aku kan terus tumbuh tinggi.”

“Yah! Membicarakan tinggi badan dihadapanku sangat tidak sopan!” Kata N sambil pura-pura menebas leher Sang Hyuk dengan menggunakan tangannya.

“Kalian saling kenal?” Hongbin menatapku dan Sang Hyuk bergantian.

Aku mengangguk. “Hmm. Dia saingan terberatku saat olimpiade matematika 2 tahun lalu. Tentu saja aku ingat.” Aku nyengir lebar.

Hongbin mengerutkan keningnya. “Kau ikut olimpiade matematika? Bagaimana dengan basket? Kau masih sering ikut kejuaraan nasional?”

Aku menatap Hongbin dengan sedih kemudian menggeleng. “Dua tahun lalu kaki-ku cedera parah. Aku tidak bisa menjadi atlet basket lagi. Tapi tentu saja aku masih bisa bermain-main…”

Hongbin mengacak-acak rambutku. Seperti yang biasa dia lakukan dulu ketika aku gagal memasukkan bola ke dalam ring. Atau ketika aku merasa putus asa memimpin team basket putri yang susah sekali diatur.

“Jangan sedih, aku juga berhenti jadi pemain professional. Dan lihatlah aku sekarang, aku menjadi penyanyi seperti yang selalu kuinginkan.” Hongbin tersenyum.

Aku nyengir lebar dan mengangguk. “Hmm. Aku sedang bersiap-siap menghadapi ujian kelulusan sekolah dan juga ujian masuk universitas Seoul.”

“Kalau begitu kita akan jadi saingan lagi.” kata Sang Hyuk tiba-tiba.

Aku berjinjit dan menepuk-nepuk pundaknya. “Kalau begitu, sampai bertemu di universitas Seoul, Han Sang Hyuk.”

“Hai, namaku Kim Min Gi. Aku kembarannya Min Ah.” Tiba-tiba saja Min Gi mendekati kami dan berbicara pada Sang Hyuk sambil tersenyum manis.

Sang Hyuk membelalakkan matanya. “Waaahh…, kalian memang sangat identik! Tapi senyuman kalian berbeda.”

Rasanya seperti de ja vu. Tapi mungkin bedanya kali ini aku tidak mengidolakan Sang Hyuk seperti dulu aku mengidolakan Hong Bin sunbaenim. Tapi.., entahlah. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya kan?

Di sebelahku, Hong Bin sunbaenim tersenyum hangat padaku. Aku tahu, kami masih bisa berteman baik seperti dulu.

Ya, kupikir kami berempat bisa berteman baik. Tapi ternyata takdir menghendaki sesuatu yang lain. Hubungan kami tidak se-simple yang kubayangkan.

********

 

 Entahlah aku harus berterima kasih atau tidak pada Suho Oppa. Setelah iklan kami ditayangkan di TV, anak-anak perempuan di sekolahku jadi mencecarku dengan banyak sekali pertanyaan. Mereka ingin tahu bagaimana aku bisa mengenal Suho, bagaimana aku bisa terpilih jadi bintang iklan bersama Suho, apakah aku bisa mengenalkan mereka pada Suho, apakah aku akan menjadi idol seperti Suho.

Kehidupanku menjadi tidak tenang, dan aku tidak menyukainya. Saat pergi ke café atau pergi berjalan-jalan pun beberapa orang mengenaliku dan menunjuk-nunjuk diriku. “Oh, itu yeoja kembar di iklan Suho Oppa!” saat itu aku hanya bisa memutar kedua bola mataku dengan bosan. Ternyata sepupuku itu memang sangat terkenal ya?!

Tapi kalau waktu itu Suho Oppa tidak memaksaku untuk syuting iklan, maka aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Hongbin sunbaenim. Karenanya, sekarang aku dan Hongbin sunbaenim menjadi sering chatting dan saling bertelepon. Tali persahabatan kami tersambung kembali berkat Suho Oppa.

Ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi, begitupula dengan ujian masuk universitas Seoul. Aku belajar semakin giat setiap harinya. Aku bahkan mengikuti bimbingan belajar khusus di daerah Gangnam. Sebuah tempat les elite yang katanya selalu membuat siswa-siswinya lulus ujian masuk universitas-universitas TOP. Aku rela mengeluarkan banyak uang demi les ini. Aku ingin sekali diterima di kedokteran Universitas Seoul. Aku harus diterima! Karena kalau tidak, aku terpaksa mengikuti keinginan ayahku untuk masuk sekolah bisnis di Amerika.

Aku tidak ingin menjadi pewaris perusahaan ayahku. Aku ingin menjadi dokter. Itulah cita-citaku sejak kecil, bahkan sebelum aku mengenal basket dan sebelum aku bercita-cita menjadi atlet basket professional. Mungkin ini juga salah satu hikmah dari cedera-ku 2 tahun lalu. Aku bisa mengingat impianku untuk menjadi dokter. Mungkin jalan hidupku memang tidak seharusnya di dunia basket, tapi di dunia kedokteran. Agar aku bisa menolong banyak orang.

Sementara itu Min Gi tidak berencana kuliah. Dia ingin fokus pada karir-nya di dunia musik dan dance. Tahun depan Min Gi akan debut. Aku bahagia karena tinggal selangkah lagi Min Gi akan mencapai impian terbesarnya.

Aku senang ayah kami mendukung keputusan kami. Ayah kami tidak memaksa kami menjadi penerusnya, tapi ayah kami berkata kami harus berjuang mencapai impian kami. Kalau kami gagal mencapai impian kami, maka kami harus menjadi penerusnya. Hal itu menjadi pemicu bagi kami untuk berhasil meraih mimpi kami. Min Gi sudah berhasil. Tinggal aku yang belum. Ujian masuk Universitas Seoul adalah hidup dan matiku. Bila aku gagal, maka tidak ada pilihan lain bagiku selain mewarisi perusahaan ayahku.

Aku selalu mengikuti setiap pelajaran tambahan di sekolah sampai sore. Malam harinya, aku pergi ke tempat les. Belajar…belajar….dan belajar. Itulah yang kulakukan setiap saat. Aku senang karena Hongbin sunbaenim selalu memberiku semangat lewat message-messagenya. Rasanya seperti memiliki kakak yang tak pernah kumiliki.

Malam itu, seperti biasa aku pergi ke tempat les dengan bersemangat. Begitu aku masuk ke dalam ruangan, aku tidak pernah mengira akan bertemu Han Sang Hyuk di sana! Sang Hyuk duduk di depan dan mengobrol dengan beberapa orang. Aku sempat takut kehadiran Sang Hyuk di kelas ini akan mengganggu konsentrasi anak-anak lain, terutama anak perempuan. Bagaimanapun Sang Hyuk adalah idola terkenal. Tapi ternyata tidak. Semua anak ini sama sepertiku. Mereka memiliki mimpi yang harus mereka raih. Lulus ujian masuk universitas adalah prioritas nomor 1 bagi mereka.

Hari demi hari berlalu. Aku sering mendapati Sang Hyuk terlihat lelah seperti tidak pernah tidur berhari-hari. Tapi dia selalu hadir di setiap pertemuan, padahal aku tahu jadwal-nya sebagai idol sangatlah padat. Aku salut padanya, karena dia mau berusaha menggapai mimpi-nya yang lain. Padahal kalau boleh dibilang, saat ini dunia sudah ada di dalam genggaman tangannya. Siapa sih yang tidak mengenal maknae VIXX bernama Hyuk?!

Waktu terasa cepat sekali berlalu. Tepat 30 hari lagi, kami akan menghadapi ujian terbesar dalam hidup kami. Ya, aku tahu, dalam hidup ini kita akan mengalami ujian-ujian besar, tapi bagi kami saat ini ujian masuk universitas adalah ujian terbesar kami.

Malam itu, mungkin aku sudah mencapai titik jenuh-ku. Aku tahu, aku harus melewati titik jenuh ini. Ujian sudah hampir di depan mata. Aku harus melewati godaan terbesar, yaitu rasa malas dan rasa bosan karena setiap hari aku melakukan hal yang sama berulang-ulang.

“Min Ah~ya, kau tidak sedang diet kan?” tiba-tiba saja Sang Hyuk mengajukan pertanyaan yang aneh setelah kelas berakhir.

Aku tertawa. “Tidak. Kenapa? Kau berpikir aku harus diet?” aku berkacak pinggang sambil membelalakkan mataku menatap Sang Hyuk.

Sang Hyuk menggeleng sambil nyengir lebar. “Tentu saja tidak! Bagus! Ayo kita makan!”

Aku mengernyitkan keningku. Sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam. Sudah terlalu malam untuk makan.

Sang Hyuk mengangkat sebelah alis matanya. “Kenapa? Kau bilang….kau tidak diet!”

Aku berdecak tak sabar. “Ayo!”

Kami pun akhirnya makan ramyun dan tteokpoki di dekat tempat les. “Kau harus mencoba hal baru setiap harinya agar tidak bosan belajar.” Kata Sang Hyuk sambil makan.

Aku mengerutkan keningku. Bagaimana dia bisa tahu apa yang kurasakan?

“Aku sering merasa bosan, makanya aku tahu bagaimana raut wajah orang yang sedang bosan. Jangan terus belajar setiap detik, tapi cobalah pergi jalan-jalan sebentar, atau berolahraga, atau mendengarkan musik, atau menonton penampilan live-ku.” Sang Hyuk nyengir lebar.

Aku mendengus dan tertawa. Ya, benar juga. Sepertinya aku memang bosan karena setiap hari waktuku hanya digunakan untuk belajar. Aku tidak pernah lagi bermain basket, tennis, ataupun berenang. Sepertinya aku memang harus menyelingi waktu belajarku dengan kegiatan lain yang kusukai.

Aku menatap Sang Hyuk yang makan dengan lahap. Aku baru sadar, aku belum tahu Sang Hyuk akan masuk jurusan apa nanti.

“Sang Hyuk~ah.., kau mau masuk jurusan apa di Universitas Seoul?”

“Panggil aku Hyuk saja. Lebih simple.” Hyuk tersenyum. “Aku akan mengambil jurusan bisnis. Meskipun sekarang aku menjadi seorang idol, tapi aku tahu kehidupan idol tidak akan bertahan selamanya. Selain itu, sejak dulu aku selalu ingin menjadi hebat seperti ayahku. Aku ingin mengembangkan perusahaan ayahku semakin besar dan maju. Aku ingin menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan bagi warga Korea. Kau sendiri?”

Aku terkesima dengan passion yang Hyuk miliki. Aku tidak menyangka di umurnya yang masih muda, ternyata Hyuk sudah memikirkan masa depan-nya dengan jauh. “Kedokteran.” Aku nyengir lebar.

Hyuk membulatkan matanya. “Cool! Bagaimana kalau kau tidak hanya menjadi dokter, tapi sekaligus mendirikan rumah sakit? Hal itu akan jauh lebih bermanfaat bagi banyak orang, dan tentunya penghasilanmu juga akan lebih banyak.”

Aku tertawa. “Otak-mu memang otak bisnis, Hyuk.”

Hyuk terkekeh. “Aku siap ber-investasi untuk rumah sakit-mu. Karena aku percaya kau adalah orang yang luar biasa, Min Ah sshi. Aku yakin kau akan sukses meraih mimpi-mimpimu.”

Aku tersenyum tulus. “Terima kasih, Hyuk.”

Begitulah. Percakapan sederhana itu membuatku kembali bersemangat. Dan aku tahu aku sudah berhasil melewati titik jenuhku.

 

Aku tidak pernah merasa bosan lagi dalam belajar. Aku mengikuti saran Hyuk. Di saat aku mulai jenuh, aku akan berhenti belajar sejenak, dan mendengarkan musik atau hanya sekedar pergi ke toko kue untuk membeli cheesecake greentea favoritku. Setelah itu aku mulai belajar lagi.

Hyuk sering mengirimiku rekomendasi lagu untuk kudengarkan. Kami juga sering bermain tennis bersama di akhir pekan. Aku senang karena Hyuk lawan yang cukup tangguh.

Kami juga pergi ke toko buku bersama sepulang les. Ternyata Hyuk memiliki hobi yang sama denganku. Kami sama-sama suka cerita fantasy seperti Harry Potter, Lord of The Rings, Narnia, Hunger Games, dll. Hyuk bahkan hafal semua mantra sihir di novel Harry Potter!

Karena Suho Oppa sudah berjanji padaku akan membelikanku buku-buku seharga tas Gucci, maka aku bisa dengan leluasa membeli buku apapun yang kuinginkan. Bahkan aku membelikan Hyuk buku-buku yang Hyuk inginkan. Awalnya Hyuk menolaknya, tapi aku bersikeras dan mengatakan padanya bahwa aku mendapatkan kupon belanja buku sepuasnya. Yah, untuk yang satu ini aku harus berterimakasih pada sepupuku yang baik hati, Suho Oppa.

Setelah belanja buku bersama, atau main tennis, atau hanya sekedar jalan-jalan, aku dan Hyuk akan belajar bersama di kedai kopi favorit Hyuk setiap hari sabtu dan minggu. Belajar menjadi semakin menyenangkan bila ada Hyuk. Aku tahu dia memang jenius. 2 tahun lalu, saat olimpiade matematika se-Korea, dialah satu-satunya orang yang mendapatkan skor sama denganku. 98.

*********

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari, minggu, dan bulan pun berlalu begitu saja, dan sekarang kami semua menantikan pengumuman kelulusan ujian masuk Universitas Seoul dengan tegang. Seolah menanti vonis hukuman mati di pengadilan.

Sejak tadi aku menatap layar laptopku dengan fokus. Menantikan email masuk dari Universitas Seoul. Atau mungkin tidak akan ada e-mail. Mungkin aku gagal. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi dokter. Mungkin aku harus menjadi pewaris perusahaan ayahku. Mungkin aku tidak akan pernah bisa meraih apa yang kuinginkan.

Di rumah tidak ada siapa-siapa selain pengurus rumah kami. Ayahku tentu saja bekerja. Min Gi berlatih di SM Entertainment. Tidak ada yang bisa kujadikan sandaran untuk berbagi kecemasan menanti pengumuman kelulusan. Aku ingat Hyuk baru pulang dari Showcase VIXX di Swedia hari ini, tapi entah jam berapa. Mungkin saat ini dia masih ada di pesawat, atau bahkan mungkin masih di Swedia.

Sepuluh menit berlalu, belum juga ada e-mail masuk. Tiga puluh menit berlalu. Aku mulai semakin cemas. Tanganku berkeringat dingin.

Triiiing.

Suara notifikasi e-mail itu terasa begitu nyaring di telingaku. Dengan jantung berdebar dan tangan bergetar, aku pun membuka e-mail itu, dan…..

AKU DITERIMA!!!!

Aku diterima di kedokteran Universitas Seoul!

Tanpa bisa dicegah, air mataku mengalir. Aku bahagia karena pada akhirnya gerbang untuk mencapai impianku terbuka lebar.

Orang pertama yang terlintas di otak-ku untuk kuberitahu tentang hal ini adalah Hyuk. Aku ingat bagaimana perjuangan kami beberapa bulan ini bersama-sama. Bagaimana kami melewati  hari-hari tanpa tidur yang cukup. Bagaimana kami saling menguatkan dan saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan kami menjelang ujian. Aku menelepon Hyuk, berdoa semoga dia sedang tidak berada di dalam pesawat. Ternyata ponsel Hyuk sedang sibuk. Dia pasti sedang menelepon. Mungkin menelepon orangtuanya. Apakah Hyuk lulus juga? Kuharap Hyuk lulus.

Aku pun memutuskan untuk mengirimi Hyuk message, bertanya padanya apakah dia lulus? Tapi sebelum aku selesai mengetik message, sudah ada message dari Hyuk.

Minah ~ya…., kau di mana? Aku meneleponmu, tapi sambungannya sibuk. Temui aku di kedai kopi favoritku sekarang.🙂

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari ke luar rumah dan naik bus menuju kedai kopi favorit Hyuk di Hongdae.

Aku turun dari dalam bus dengan terburu-buru. Aku berlari membelah kerumunan orang, menuju kedai kopi. Ketika sampai di depan kedai kopi, nafasku terengah-engah. Aku baru sadar, aku hanya memakai kaus lengan pendek tipis. Padahal sekarang sudah masuk awal musim dingin. Aku menggosok-gosok lenganku yang mulai terasa beku. Tepat ketika aku akan melangkahkan kakiku masuk ke kedai kopi, seseorang memanggilku.

“Min Ah~ya!!!!”

Aku menoleh dan melihat Hyuk berlari menuju kedai. Meskipun jarak kami masih jauh, aku bisa melihat senyuman lebar-nya dan matanya yang berbinar cerah. Aku balas tersenyum. Aku tahu kami berdua telah berhasil memasuki gerbang mimpi kami. Aku tahu Hyuk juga lulus!

Begitu tiba di depanku, Hyuk langsung memelukku dengan sangat erat. Aku terkejut. Aku bisa merasakan nafas Hyuk yang hangat di leherku. Tubuhku jadi tidak terasa dingin lagi begitu energi panas tubuh Hyuk mengaliri tubuhku. Jantungku tiba-tiba berdebar lebih keras daripada biasanya.

Kemudian aku mendengarnya. Aku merasakannya. Debaran jantung Hyuk yang sama kencang-nya sepertiku. Detak jantung kami se-irama.

Lengan Hyuk yang melingkari punggungku, dan lenganku yang melingkari pinggang Hyuk, seolah terasa tepat. Seolah Hyuk adalah sebuah kepingan puzzle yang kini melengkapi gambar puzzle-ku yang tidak sempurna.

Selama beberapa saat kami hanya terus berada dalam posisi ini. Tanpa mengatakan apapun. Kemudian Hyuk melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat sambil memegang kedua bahuku. Meninggalkan jejak berupa rasa panas di sana, sementara bagian tubuhku yang lain kini terasa dingin lagi.

Hyuk tersenyum. Senyuman yang entah sejak kapan selalu membuat hatiku hangat. Aku balas tersenyum. “Selamat karena kini kau menjadi mahasiswa, Han Sang Hyuk.” Kataku.

“Selamat karena kini kau menjadi mahasiswa, Kim Min Ah.” Hyuk mengikuti kalimatku. Kami tertawa pelan.

Aku menggigil kedinginan. Hyuk melepaskan coat cokelat panjang-nya dan memakaikannya padaku. Aku tersenyum. Aku tidak menyangka kejadian yang selalu kulihat di TV dan di komik ini, yang selalu kuanggap konyol dan mainstream, ternyata kini aku mengalaminya. Tiba-tiba saja hatiku terasa hangat.

Hyuk meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Aku mendongak menatap Hyuk. Hyuk tersenyum. Tanpa perlu ada kata yang terucap, aku mengerti.

Kata-kata ajaib itu tidak perlu diucapkan, tapi dirasakan. Aku memang tidak tahu apakah kata-kata ajaib itu yang kini kami rasakan, ataukah hanya sekedar rasa suka. Apapun itu, aku senang karena sekarang Hyuk ada di sini. Menggenggamku, dan menatapku seolah-olah aku adalah pusat dunianya.

Kemudian aku sadar, Hyuk adalah seorang idol. Bagaimanapun, aku harus menjaga image-nya di depan publik. Fans-fans Hyuk akan kecewa bila Hyuk terlibat skandal. Perlahan, aku melepaskan tangan Hyuk dan menatap sekeliling kami. Hyuk mengerti. Dia pun menghela nafas panjang.

Hyuk menelepon seseorang, dan 3 menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di hadapan kami. “Ayo.” Ajak Hyuk.

Aku tidak tahu kami akan pergi ke mana, tapi aku mempercayai Hyuk dan mengikutinya duduk di jok belakang. Supir Hyuk mulai memacu mobil dengan kecepatan sedang.

Hyuk menggenggam tanganku lagi. Kali ini aku membiarkannya. Aku tidak ingin melepaskan tangan Hyuk.

“Kita ke rumahku. Ibuku memasak banyak makanan untuk merayakan kelulusan kita.” Hyuk tersenyum.

Kata “Ibu” tiba-tiba saja membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak pernah bertemu dengan ibuku. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya makanan yang dimasak tangan hangat dan lembut seorang ibu. Aku tidak tahu bagaimana suara ibuku ketika memanggil namaku.

Begitu sampai di rumah Hyuk, ibu Hyuk menyambutku dengan hangat. Seolah sudah tahu aku akan datang kemari. Ibu Hyuk juga tahu siapa aku dan tahu banyak hal tentangku. Ketika aku melemparkan tatapan penuh tanya pada Hyuk, Hyuk hanya tertawa lebar.

Hyuk terlihat sangat dekat dengan ibunya. Dia juga pasti bercerita banyak hal tentangku pada ibunya. Aku selalu merasa iri pada teman-temanku yang masih memiliki ibu yang mencintai mereka tanpa syarat.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan bagaimana rasanya makanan rumah yang dibuat oleh seorang ibu, bukan oleh seorang koki seperti yang selama 18 tahun ini terjadi.

Saat itu aku berdoa, semoga aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini selamanya. Bersama Hyuk, dan bersama ibunya.

********

 

Pepatah bilang, Tuhan akan mengabulkan doa kita dalam berbagai cara. Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Apakah do’a-ku ketika di rumah Hyuk waktu itu kurang spesifik? Ataukah Tuhan memiliki rencana lain sehingga mengabulkan do’a-ku tapi dengan jalan yang berbeda? Ataukah takdir memang sejak dulu tidak pernah berpihak padaku?

Malam ini, ayah meminta aku dan Min Gi berpakaian rapi untuk menghadiri suatu makan malam penting. Kami sudah terbiasa mendatangi acara makan malam bersama para rekan kerja penting perusahaan ayah. Tapi malam ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Entah kenapa insting-ku berkata malam ini kami bukan hanya sekedar “menemani” ayah kami, melainkan kami-lah “pemeran utama” dalam makan malam penting ini.

Aku menatap Min Gi yang terlihat lebih ceria dan lebih bersinar dibanding biasanya. Aku tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Tiba-tiba saja aku merasa takut. Aku takut dengan pikiran-pikiran buruk yang mulai memenuhi kepalaku.

Kemudian, saat itulah aku melihatnya. Han Sang Hyuk!

Dia sama terkejutnya denganku. Matanya membelalak lebar dan penuh tanda tanya. Hyuk memakai tuksedo rapi dan terlihat sangat tampan berdiri diantara ayah dan ibunya. Nyonya Han dan Tuan Han menyapa ayahku dengan ramah, kemudian nyonya Han menatap aku dan Min Gi dengan bingung. Nyonya Han pun menoleh pada Hyuk dan menatapnya penuh tanya.

Sepertinya hanya ayahku, ayah Hyuk, dan Min Gi yang merasa pertemuan ini normal dan menyenangkan. Ternyata memang mereka bertigalah yang merencanakan pertemuan ini.

“Tuan Kim, aku tidak pernah mengira ternyata anak Anda adalah Min Ah.” Ibu Hyuk tersenyum menatap ayahku dan kemudian menatapku. Aku merasakan perasaan hangat menjalari tubuhku begitu menyadari ternyata Nyonya Han bisa membedakan mana aku dan mana Min Gi, meskipun kami baru satu kali bertemu.

Ayahku mengerutkan keningnya. “Anda mengenal Min Ah?” ayahku tampak bingung, begitupula dengan ayah Hyuk.

Ibu Hyuk tersenyum lembut. “Min Ah pernah datang ke rumah kami. Dia anak yang sangat baik. Aku senang karena kita akan segera menjadi keluarga di masa depan.” Ibu Hyuk tersenyum hangat padaku.

Keluarga? Apa maksudnya?

“Tuan Kim, aku sangat setuju dengan usul Anda. Aku sangat menyukai Min Ah.” Kata Ibu Hyuk lagi.

“Min Ah?” ayahku tertawa lalu menggeleng. “Bukan Min Ah, nyonya Han, tapi Min Gi. Aku dan Tuan Han berencana menyatukan perusahaan kami melalui Min Gi dan Hyuk. Min Gi berkata dia sudah mengenal Hyuk dan sangat menyukai Hyuk.” Ayahku tersenyum.

Mataku membelalak lebar, begitupula dengan mata Hyuk.

Min Gi tersenyum manis. “Appa, jangan membuatku malu.” Min Gi tertawa renyah. “Min Ah dan Hyuk adalah sahabat baik. Aku senang karena Anda menyukai Min Ah, kuharap Anda juga menyukaiku.” Min Gi tersenyum pada Nyonya Han, tapi Nyonya Han hanya menatap Min Gi datar. Nyonya Han menatap Hyuk dan menatap Hyuk tajam.

Tuan Han tertawa senang. “Begitukah? Jadi kau adalah teman baik Hyuk? Senang sekali mendengarnya. Pertunangan Min Gi dan Hyuk nanti tidak akan terasa se-sulit yang kubayangkan kurasa.”

Min Gi, ayahku, dan ayah Hyuk tertawa. Sementara itu aku, Ibu Hyuk, dan Hyuk hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

Tanpa kuduga, Ibu Hyuk berkata. “Min Ah, apakah benar kau dan Hyuk hanya berteman baik? Kupikir…, Hyuk menyukaimu, dan kau juga menyukai Hyuk.” Ibu Hyuk tersenyum ramah padaku. Senyuman di bibir Min Gi langsung lenyap. Ayahku berdehem keras. Tuan Han menggenggam tangan istrinya, seolah mengingatkan sesuatu.

“Aku…” aku terdiam dan menatap Min Gi. Aku tahu jenis tatapan ini. Bagaimana mungkin aku tidak tahu Min Gi. Tapi kenapa dia tidak bilang padaku kalau dia menyukai Hyuk? Kenapa dia melibatkan ayah kami dalam hal ini?

Aku melirik Min Gi dari sudut-sudut mataku. Benarkah ini Kim Min Gi kembaranku? Benarkah ini Kim Min Gi yang selalu mendukungku? Kenapa sekarang dia jadi terlihat seperti orang lain di mataku?

Apakah sekarang aku harus mengalah lagi demi Min Gi? Haruskah aku mengulangi hal yang sama seperti saat junior high school dulu?

Dulu aku merelakan Hongbin sunbaenim demi Min Gi. Tapi sekarang…, entah kenapa aku tidak ingin melepaskan Hyuk. Ternyata aku tidak bisa melepaskan Hyuk demi Min Gi. Sekali ini saja aku ingin egois, dan tidak ingin melepaskan seseorang yang kucintai.

Aku tertegun. Cinta? Apakah itu yang kurasakan pada Hyuk? Apakah aku bukan hanya menyukainya tapi juga mencintainya? Aku mencintainya sehingga tidak rela bila ia bersama dengan orang lain?

Kemudian aku menatap Hyuk. Tapi bagaimana kalau Hyuk hanya menyukaiku sebagai teman baik? Bagaimana kalau dia mencintai Min Gi? Nafasku tertahan selama beberapa saat, kemudian aku menghembuskan nafas berat. Aku tidak akan pernah memaksakan cintaku pada Hyuk ataupun pada siapapun.

“Kalau Min Gi menyukai Hyuk, dan Hyuk menyukai Min Gi, maka aku akan…”

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Hyuk memotong perkataanku itu. “Aku mencintai Minah.”

Tiga kata. Hanya tiga kata itu yang terucap dari mulut Hyuk. Tapi tiga kata ajaib itu mampu membuat kami semua terdiam. Perlahan perasaan hangat mulai menjalari seluruh tubuhku. Nyonya Han tersenyum pada Hyuk, kemudian padaku. Aku hanya duduk mematung seperti orang bego! Hyuk menyukaiku! Hyuk mencintaiku! Kurasa aku memang bodoh karena tidak menyadarinya.

Kemudian kebahagiaan yang terasa singkat itu hancur oleh sebuah kalimat yang diucapkan Min Gi. “Tapi Minah menyukai Hongbin Oppa.” Kata Min Gi.

Aku membelalakkan mataku. Min Gi terus bicara. “Sejak junior high school Min Ah menyukai Hongbin Oppa. Hongbin Oppa juga menyukai Min Ah, tapi Min Ah terlalu fokus sebagai atlet basket, sehingga aku dan Hongbin Oppa pacaran agar membuat Min Ah cemburu, tapi Min Ah tidak pernah menunjukkan rasa cemburu pada kami. Hongbin Oppa pun akhirnya menyerah berpura-pura pacaran denganku ketika dia akan mengikuti ujian akhir sekolah. Kami lost contact, tapi beberapa bulan lalu kami bertemu lagi, dan aku tahu hubungan Min Ah dan Hongbin Oppa kembali membaik sekarang ini.” Min Gi tersenyum manis.

Dadaku terasa sakit sekali. Bagaimana mungkin Min Gi berbohong pada kami?! Aku menggeleng pelan. Ternyata seperti inilah Min Gi yang sesungguhnya. Rasa sayangku padanya selama ini telah menutupi mataku dari sosok Min Gi yang sebenarnya.

Min Gi tidak berpura-pura mencintai Hongbin sunbaenim. Aku tahu dia sangat mencintainya. Tapi perasaan Hongbin sunbaenim pada Min Gi, aku tidak tahu. Tapi bagaimana mungkin mereka pacaran selama 1 tahun 2 bulan jika hanya berpura-pura?

Hyuk menatapku dengan tatapan penuh luka. Aku ingin membantah kata-kata Min Gi. Tapi sebelum sempat membuka mulutku, Min Gi sudah bicara lagi. “Aku mengundang Hongbin Oppa juga malam ini. Bagaimanapun kita akan menjadi keluarga.”

Tak lama, orang yang dibicarakan pun datang. Hongbin datang diantar oleh pelayan. Ia membungkukkan badannya pada ayahku dan pada orangtua Hyuk (yang sudah mengenal Hongbin).

Hongbin tersenyum padaku. Dia terlihat tampan dan mempesona tentu saja. Tapi.., bukan dialah yang kucintai saat ini. Ya, Hongbin memang cinta pertamaku. Tapi saat ini ada orang lain yang kucintai. Ada orang lain yang ingin kubagi setiap detik hidup yang kulalui. Aku mencintai Hyuk. Aku ingin bersama Hyuk.

“Sunbaenim, apakah benar? Apakah benar dulu kau berpura-pura pacaran dengan Min Gi?” entah kenapa mulutku malah bertanya demikian.

Pandangan mata Min Gi mengeras. Hongbin menatapku lama, sebelum akhirnya mengangguk.

Aku memejamkan mataku. Tidak adil! Kenapa aku harus mengalami hal ini?

Apakah Tuhan membenciku? Apakah seperti ini caranya aku bisa bahagia bersama Hyuk dan ibunya? Dengan menjadi ipar-nya?

Apakah Tuhan ingin menghukumku karena aku tidak pernah menyadari perasaanku hingga detik-detik terakhir?

Apakah takdirku adalah Lee Hong Bin dan bukannya Han Sang Hyuk? Kalau benar Hongbin sunbaenim adalah takdirku, kenapa perasaanku padanya berubah? Kenapa aku harus bertemu Hyuk dan jatuh cinta padanya?

======= End of Min Ah PoV ========

 

 

==== Author PoV =====

5 tahun yang lalu….

“Min Gi~yah.., maafkan aku. Tapi aku tidak mencintaimu. Aku sudah berjanji pada Min Ah akan membalas pernyataanmu hari ini. Dia….memintaku menerimamu. Tapi inilah jawabanku. Maaf, aku tidak bisa menerimamu.” Lee Hong Bin menatap gadis di hadapannya dengan penuh penyesalan. Selama ini ia sudah terbiasa menolak banyak gadis, tapi tidak pernah rasanya sesulit ini. Sulit, karena gadis yang ia tolak saat ini adalah kembaran gadis yang ia cintai. Hongbin tahu betul, Min Ah akan merasa sedih kalau Min Gi sedih. Se-sederhana itu. Se-bodoh itulah Min Ah yang Hongbin cintai.

Kim Min Gi menyeringai. Dia berusaha menahan air matanya. Ia tidak buta. Ia tahu pria di hadapannya ini mencintai Min Ah, kembarannya, sejak pertama kali mereka masuk sekolah ini. Tapi Min Gi sangat menyukai pria ini. Min Gi sangat menginginkan pria sempurna di hadapannya ini.

Bayangkan betapa hidup Min Gi akan terasa semakin sempurna dengan kehadiran pria seperti Lee Hongbin! Bayangkan betapa semua wanita akan melirik iri padanya karena ia menggandeng tangan pria ter-tampan dan ter-populer di jagad raya ini!

“Hongbin Oppa, aku tahu kau menyukai Min Ah. Tapi Min Ah tidak menyukaimu.” Min Gi berbohong. Dia tahu Min Ah juga menyukai Hongbin. Karena itulah Min Gi bertindak lebih dulu. Karena itulah Min Gi menyatakan perasaannya pada Hongbin. Min Gi mengenal Min Ah luar dalam. Ia tahu kembarannya itu akan mengalah demi dirinya.

“Karena itulah Oppa, kau gunakan saja aku. Kau bisa membuat Min Ah berubah pikiran. Mungkin dia akan balas menyukaimu kalau dia melihat kita bersama. Aku akan membantumu, Oppa. Aku akan membantu membuat Min Ah cemburu padaku.” Min Gi tersenyum manis. Dia sangat ahli dalam hal membujuk orang lain. Tidak pernah ada yang bisa menolak pesona Min Gi. Tidak pernah ada yang bisa mengatakan tidak pada Min Gi. Tapi Hongbin berbeda. Dan Min Gi sangat kesal karenanya.

Hongbin menggeleng. “Aku tidak bisa…”

Pandangan mata Min Gi mengeras. “Tapi Oppa, Min Ah akan menjauhimu dan membencimu kalau kau menolakku. Aku mengenal kembaranku dengan baik. Karena itu aku tahu apa yang akan terjadi kalau kau menolakku. Kau mau Min Ah menjauhimu, Oppa? Bukankah lebih baik kalau kau berpura-pura menyukaiku agar bisa terus melihat Min Ah? Agar Min Ah tidak membencimu dan berlari darimu?”

Hongbin terdiam. Ya, dia memang tidak ingin Min Ah membencinya.

Min Gi tersenyum. “Ayo kita coba saja, Oppa. Mungkin dengan begitu Min Ah akan menyadari perasaannya padamu.” Min Gi terus melancarkan jurus-nya.

Mulai saat itu, setiap kali berdekatan dengan Min Ah, Min Gi akan bermanja-manja dengan Hongbin. Meskipun Hongbin tidak menanggapinya. Tapi terkadang Hongbin menanggapinya bila ia sedang kacau dan depresi, berharap Min Ah menyadari perasaannya.

Tapi Hongbin salah. Dia telah terperangkap dalam jebakan Min Gi. Min Gi memberitahu semua orang tentang hubungan mereka. Min Gi memuji-muji Hongbin sebagai pacar yang baik di hadapan semua orang. Tapi Hongbin tidak bisa melakukan apapun selain menunggu.

1 tahun 2 bulan. Kesabarannya sudah habis. Bukan. Ia bukan lelah menunggu Min Ah. Tapi ia lelah dengan sikap Min Gi. Ia tidak ingin lagi berpura-pura menyukai Min Gi. Ia tahu Min Gi hanya menganggapnya sebagai “sesuatu” dan bukan “seseorang”.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri semua kepura-puraan itu. Hati Hongbin lega. Dan tidak ada air mata di mata Min Gi. Saat itulah Min Gi jujur padanya, bahwa selama ini Min Gi berusaha membuat Hongbin menyukainya. Min Gi hanya berpura-pura akan membuat Min Ah cemburu. Min Gi berkata itulah satu-satunya cara agar Min Gi bisa “pacaran” dengan Hongbin. Tapi ternyata ia gagal.

Tidak ada yang berubah. Min Ah dan Hongbin tetap menjadi sahabat baik seperti dulu. Sementara Min Gi tetap mencari kesempurnaan di setiap hal.  Tidak sulit baginya membuat pria-pria berlutut di hadapannya. Segera setelah ia “putus” dari Hongbin, ia pun berkencan dengan banyak pria tampan, kaya, dan populer – yang tidak pernah merasa keberatan menjadi pria ke-sekian bagi Min Gi. Hanya Chan Yeol “pacar resmi” yang Min Gi kenalkan pada Min Ah. Kim Min Gi bukanlah Kim Min Gi yang Min Ah kenal. Min Ah terlalu naïf dan bodoh untuk menyadarinya.

Hongbin berusaha menerima kenyataan bahwa Min Ah hanya menganggapnya teman baik. Setelah lulus junior high school, Hongbin tidak pernah menghubungi Min Ah lagi. Ia mengganti nomor-nya. Ia ingin melupakan Min Ah.

Tapi Hongbin, Min Ah, dan Min Gi tidak pernah tahu bahwa takdir tidaklah se-mudah yang mereka bayangkan. Benang-benang kusut di masa lalu selalu mengikuti mereka dan meminta mereka mengurainya helai demi helai. Benang takdir yang kusut itu sekali lagi menghampiri mereka. Bahkan mungkin lebih kusut dan rumit dibanding sebelumnya.

Empat tahun. Selama itu, Hongbin ternyata masih menyukai Min Ah. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Min Ah. Detik itu juga, ketika ia menatap senyuman Min Ah dari dekat, ia tahu hatinya tidak pernah berubah sejak dulu.

Ia pernah berkata senyuman Min Ah dan Min Gi berbeda. Ya, tentu saja berbeda. Senyuman Min Ah mampu membuat hatinya bergetar dan kebahagiaan memenuhi setiap sel di dalam tubuhnya. Se-simple itu. Se-mudah itulah Lee Hongbin bisa membedakan Min Ah dan Min Gi.

Suatu malam, Min Gi menemui Hongbin. Min Gi tersenyum dengan cara Min Ah tersenyum. Tapi senyuman itu tetap berbeda di mata Hongbin. Se-mirip apapun wajah mereka, mereka tetaplah dua manusia yang sangat berbeda. Saat ini pun, Min Gi masih tetaplah seorang gadis artificial yang selalu mengejar kesempurnaan hanya untuk diri sendiri.

Min Gi memberitahu Hongbin tentang rencana perjodohan Min Gi dan Min Ah. Saat itu ayah si kembar masih bingung apakah akan menjodohkan Min Gi atau Min Ah dengan anak rekan bisnis-nya. Saat Min Gi tahu ternyata “calon” mereka adalah Han Sang Hyuk, Min Gi langsung dengan senang hati membujuk ayahnya agar menjodohkan dirinya dengan Hyuk. Dengan segala pesona yang Min Gi miliki, ayahnya tentu saja percaya dengan setiap kata yang Min Gi ucapkan.

Hongbin masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan mereka. Tapi ketika Min Gi berkata. “Oppa, maafkan aku. Aku tahu aku memang egois. Selama ini aku berbohong. Min Ah menyukaimu. Sejak dulu Min Ah menyukaimu. Karena itu, datanglah besok malam, Oppa. Datanglah dan bawa Min Ah bersamamu. Kau tidak ingin kehilangan Min Ah lagi, bukan?”

Sama seperti 5 tahun lalu. Kali ini pun kata-kata Min Gi mampu mempengaruhi Hong Bin. Ya, tentu saja Hongbin tidak ingin kehilangan Min Ah. Meskipun sekarang dia merasa sangat marah pada Min Gi dan membenci Min Gi, tapi saat ini Min Ah-lah yang lebih penting.

“Sepertinya Min Ah menyukai Hyuk. Tapi aku tidak tahu pasti.” Min Gi kembali bicara. “Kau harus datang, Oppa. Kalau tidak…, mungkin selamanya kau dan Min Ah tidak akan memiliki kesempatan lagi. Kita akan sama-sama untung. Kau mendapatkan Min Ah-mu, dan aku akan mendapatkan Hyuk.”

Kata-kata Min Gi seperti minyak yang menyulut kobaran api. Detik itu juga perang dimulai.

Pepatah berkata, tidak ada yang salah dalam perang dan cinta. Kau bisa menggunakan taktik apapun untuk menang.

Tapi benarkah? Benarkah cinta adalah sebuah perang? Bukankah cinta ada karunia Tuhan yang disisipkan di bagian hati terdalam setiap manusia?

Hongbin tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah….., ia harus mendapatkan Min Ah. Ia tidak ingin kehilangan Min Ah.

Detik itu juga, takdir mulai menampakkan dirinya. Benang-benang takdir yang kusut mulai melonggarkan ikatannya, membuat aktor dan aktris kehidupan ini memilih jalan mereka sendiri. Menentukan masa depan mereka sendiri.

Tapi satu hal yang mereka tidak ketahui, takdir selalu punya cara tersendiri untuk membawa mereka pada jalan yang seharusnya. Takdir tidak akan berubah. Hanya jalan menuju takdir-lah yang berliku.

Terkadang manusia hanya perlu menutup mata dan mengambil keputusan sesuai apa yang dikatakan oleh hati mereka. Tapi pertanyaannya adalah : apakah mereka sanggup? Apakah mereka mau?

Sanggupkah Min Ah, Min Gi, Hongbin, dan Hyuk memegang ujung benang merah yang tepat dan meniti takdir mereka dengan berani helai demi helai? Sanggupkah mereka memberi secara tulus tanpa menuntut dan meminta hal yang sama dengan yang mereka beri?

Benang takdir itu akan mengurai dengan sendirinya. Benang takdir itu akan mengikatkan dua hati yang tadinya satu dan menjadi terbelah ketika mereka dilahirkan. Benang takdir itu akan menyatukan mereka sebagaimana mestinya, hanya bila mereka jujur dan berani mengakui apa yang hati terdalam mereka katakan.

–          TBC –

 

Cuap-cuap : N-nyeong! Annyeong! Hahaha.

Aku selalu suka mengaitkan cerita dengan “masa depan” dan “takdir”. Hal ini berawal ketika aku menulis FF duet bersama Kunang “Super Fantasy Idol”. Masa depan dan takdir itu pun kembali aku hadirkan dalam FF duet “Moonlight Destiny.” Dan karena Moonlight Destiny sekarang sudah tamat, entah kenapa aku merasa kangen dengan cerita berbau “takdir”. Wkwkwk.

Yang nunggu Secret Story Moonlight Destiny, berdoa aja yaa semoga Kunang segera beresin bagiannya. Bagian aku udah beres soalnya. Hehehe. Tinggal digabung sama bagian Kunang.

Cerita “Thread of Destiny” ini juga berbau-bau “takdir”, tapi bedanya cerita ini bukan cerita fantasy. Kalau suka fantasy, bisa baca cerita baru aku yang berjudul “Forbidden Star”.

Ada banyak alasan kenapa aku menulis FF “Thread of Destiny” ini :

  1. Aku lagi suka banget VIXX
  2. Hyuk adalah bias ke-3 ku di VIXX
  3. Hongbin dulu adalah bias pertamaku, kemudian turun jadi bias ke-2 setelah Leo
  4. Adikku yang cewek suka banget Hongbin

 

Nah , sebenernya alasan ke-4 itulah yang paling kuat melatarbelakangi FF ini.  Kenapa? Adikku kayak Min Gi? Enggak kok! Hahaha. Min Gi itu cuma khayalan. FF ini terinspirasi ketika aku melihat video Sungjae BTOB (Lho, nggak nyambung! Hahaha). Yang pasti entah kenapa saat itu aku kepikiran plot cerita ini.

“Aku bisa berbagi bias Hongbin sama adikku, tapi bisakah aku berbagi bias Sungjae juga? Nggak. Aku nggak mau merelakan Sungjae!” LOL

Itu pikirku dan entah kenapa jadinya malah Hyuk. Mungkin karena “feel”-nya lebih dapet klo cast-nya Hyuk, yang sama-sama satu grup sama Hongbin.

Konyol memang. Tapi ide cerita bisa di dapat dari manapun. Dari pikiran iseng pun akhirnya bisa melahirkan sebuah cerita.

 

Meskipun FF ini sebenarnya udah mainstream, tapi tolong hargai aku, karena aku menulis FF ini dengan sungguh-sungguh dan menuliskan kata-katanya sesuai yang kupikirkan. Jangan menjiplak FF ini, dan tolong hargai dengan memberi komentar. ^_^. Sampai bertemu di part 2 yang merupakan part terakhir FF ini.

 

Ppyong! N-nyeong!❤

Azumi Aozora

Image>>>> Hongbin

 

Image>>>> Hyuk

11 thoughts on “Thread of Destiny

  1. lagi-lagi ff baru
    suka sama alurnya eonn, rada gemes sama Min Gi soalnya nyebelin banget. Rasanya mau aku bejek-bejek
    Next part dutunggu,
    ff the colour of love sama the darkest secret kapan lanjutinnya?

    • Hehehe..
      Iya nih baru lagi. The colour of love belum beres. Klo the darkest secret kan waktu itu baru teaser doang ya? Ga tau nih the darkest secret ide plot nya udh ilang.😦

      Gomawooo fik udh baca :))

  2. Speechless
    Ternyata Min Gi orangny munafik banget, sampai manfaatin saudara sendiri di mana hati nuranimu?
    Malah curcol….
    Hehehehe
    Lha habisny aku sebel banget ama sifat Min Gi
    Keep Writing Author
    Hwaiting……,

  3. Aku reader baru..:D (gananya)
    Ceritanya menarik bgt, banyak konfliknya..
    Oiya, Ko minginya jahat sih?
    Trus kenapa tbc? Lanjutannya jangan lama-lama iya..
    Fighting!(y)

  4. N-nyeong chingu!>w<
    feelingnya berasa banget loh chingu, soalnya lebih banyak PoV nya Minah, jadi pas bacanya ikutan berasa jadi Minah#apaini susah amat aku jelasinnya-.- but, I Like It:)
    aku jadi ikutan dendam sama min gi#nahloh
    aku juga ga tau harus pilih hyuk ato hongbin T.T#apaini?
    ditunggu chap 2 nya okey?;)
    keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s