Forbidden Star (Chapter 2)

Image

Title                 : Forbidden Star

Author               : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts      : Shin Hye Ri / Penelope (OC), Leo / Jung Taek Woon (VIXX), Wu Yi Fan / Kris (EXO-M), Lee Hong Bin (VIXX), Lee Min Hyuk (BTOB)

Support Casts : BTOB, EXO, and VIXX members

Genre              : fantasy, romance, friendship, family, school life

Rating             : PG + 15

Length            : Series (4 or 5 chapters)

Summary        :  Shin Hye Ri bukanlah gadis biasa. Ia adalah keturunan penyihir terkenal. Sayangnya Hye Ri sering sekali melanggar peraturan keluarganya untuk tidak menunjukkan sihir-nya pada manusia biasa. Karena itulah, orang tua Hye Ri mengirimnya ke Korea untuk tinggal bersama kakak-nya, Shin Dong Geun (Peniel), yang sejak dulu merupakan satu-satunya orang yang bisa mengendalikan sifat membangkang Hye Ri. Apakah sekarang Peniel berhasil mengendalikan Hye Ri? Apa yang terjadi bila rahasia Hye Ri dan keluarganya terbongkar? Berbagai kejadian menarik yang belum pernah Hye Ri alami akan terjadi di Seoul, termasuk jatuh cinta. Tapi bagaimana bila ternyata Hye Ri mencintai orang yang seharusnya tidak boleh ia cintai? Bagaimana bila ternyata BTOB, VIXX, dan EXO yang merupakan idol terkenal di Korea sekaligus merupakan 3 group Kingka di Sekolah baru Hyeri juga memiliki rahasia yang tidak boleh diketahui manusia?

Disclaimer       : This story is just fanfiction. I make no money from this, just have fun as fans. Ide dan alur cerita milik author. Sifat / karakter tokoh FF ini ada yang sama dengan asli tapi ada juga yang beda. Di FF ini BTOB, EXO, dan VIXX umurnya masih umur Senior High School (belasan tahun) dan tidak sesuai asli. Don’t plagiarize this story! Just enjoy the story and don’t forget to leave any comment.

 

 

Link Chapter 1  https://wiantinaazmi.wordpress.com/2013/10/20/forbidden-star/

 

 ~ Chapter 2 ~

 

“Hallo, kita bertemu lagi. Namaku Lee Hongbin.” Pria itu tersenyum hangat padaku.

Mataku masih membelalak lebar. Tidak percaya dengan apa yang kulihat. Pria ini…. adalah vampire yang kutemui tadi malam! Vampire yang membuat sang manusia serigala (Kris) terluka parah!

Aku hanya terdiam dan menatap pria di sampingku ini. Para fangirls berkerumun di dekat Hyuk dan Hongbin.

“Siapa namamu?” tanya si vampire, masih tersenyum hangat dan manis.

Aku mendengus dan mengabaikannya. Beberapa fangirls-nya memakiku, tapi aku tidak peduli. Bagaimana mungkin vampire yang kutemui tadi malam ternyata adalah member VIXX? Apakah itu berarti semua member VIXX adalah vampire? Apakah pria pendiam bernama Leo juga vampire?

Sekarang aku baru mengerti apa yang Il Hoon katakan saat di kantin dulu. Jadi itu sebabnya ya VIXX baru masuk sekarang? Karena sekarang cuaca mendung. Matahari tidak bersinar terik. Tapi kenapa Il Hoon bisa tahu? Il Hoon hanya manusia biasa. Tidakkah dia merasa takut?

“Lee Hongbin sshi, bisakah kau pindah tempat duduk? Aku tidak suka keributan.” Kataku sambil melirik para fangirls Hongbin yang berkerumun di sekelilingnya.

Si vampire malah tertawa lebar, tapi ia tetap tidak bergerak dari tempat duduknya di sampingku. “Aku tidak mungkin pindah duduk ke belakang, aku tidak memakai contact lens dan tidak membawa kacamata.”

Tiba-tiba saja Tao sudah berdiri di sebelah Hongbin. “Kau pindah ke tempat duduk-ku saja di depan sana. Biar aku di sini.” Kata Tao sambil menatap Hongbin dengan tajam.

“Wah..wah.., aku tidak menyangka kau ternyata sangat baik hati, Tao sshi.” Kata Hongbin, masih tetap tersenyum, tapi nada suara-nya penuh ejekan.

Mereka berdua saling tatap tajam. Tangan Tao mengepal kuat di samping tubuhnya, seperti berusaha menahan keinginan untuk menonjok wajah si vampire. Sementara itu si vampire masih tetap tersenyum tenang tapi kedua matanya dipenuhi kebencian.

“Tao..” Sehun mendekati Tao dan menepuk pundaknya, mencoba meredakan amarah Tao.

“Hyuung…” tiba-tiba saja Hyuk menarik tangan Hongbin dan memaksa Hongbin berdiri lalu mendudukkan Hongbin di kursi Hyuk di depan dengan penuh paksaan. “Kau duduk di sini saja, hyung. Biar aku yang di sana.” Hyuk pun langsung meninggalkan Hongbin dan segera duduk di sampingku.

“Annyeong.” Kata Hyuk padaku sambil tersenyum ramah. “Namaku Han Sang Hyuk, tapi kau bisa memanggilku Hyuk. Siapa namamu?” Hyuk masih tersenyum ramah dengan eye-smile-nya yang khas. “Shin Hye Ri.” Kataku datar. Hyuk mengangguk, lalu segera mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas-nya.

Hongbin membalikkan badannya dari meja paling depan dan menatap Hyuk dengan kesal, sementara Tao masih menatap Hongbin dengan penuh permusuhan.

Tak beberapa lama kemudian guru kami datang. Aku menghela nafas lega. Sepertinya aku harus berterima kasih pada pria bernama Hyuk ini. Dengan sikap periang-nya, dia juga berhasil meminta para fangirls-nya untuk tidak ribut-ribut di sekitar kami.

Selama pelajaran berlangsung, sesekali aku melirik Hyuk. Apakah pria ini juga vampire seperti Hongbin? Hyuk menoleh dan tersenyum ramah padaku, lalu dia berbisik. “Hye Ri sshi, sebaiknya kau jangan membuat Hongbin hyung marah. Dia sangat mengerikan lho kalau sedang marah.” Hyuk mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku menatap punggung Hongbin. Dia duduk di bangku paling depan di tengah, di sebelah pria berkacamata. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian tadi malam. Hongbin berkata Kris membuatnya marah. Aku menggelengkan kepalaku. Meskipun kami (penyihir) tidak berteman baik dengan vampire maupun manusia serigala, tapi tetap saja aku tidak suka cara Hongbin menyakiti Kris. Ah, sudahlah, bukan urusanku!

“Kalau dia marah, dia akan berubah menjadi monster ya, Hyuk?” sindirku, masih tetap menatap punggung Hongbin.

Hyuk terkekeh pelan. “Ya. Dia akan berubah jadi monster. Tapi tenang saja.., Hongbin hyung sebenarnya baik. Hanya saja…, dia agak lebih…. Kuno.” Hyuk tersenyum, sepertinya Hyuk memikirkan lelucon yang hanya diketahui olehnya.

Aku mendengus, tapi mau tak mau ikut tersenyum. Yah, sepertinya pria bernama Hyuk ini lumayan untuk dijadikan teman. Aku tidak peduli dia vampire atau bukan. Yang paling penting…, dia tidak menggangguku dan teman-teman BTOB-ku. Karena prinsipku adalah : hidup dengan tenang dan damai tanpa saling mengganggu. Selama vampire-vampire dan para manusia serigala itu tidak mengganggu dan menyakiti aku dan teman-teman BTOB-ku, maka sikapku pada mereka akan baik.

*****

 

Saat jam istirahat, Tao dan Sehun menghampiriku. “Hye Ri sshi, kau mau makan siang bersama kami?” tanya Tao sambil tersenyum.

Aku menggeleng. “Terima kasih atas tawarannya, Tao sshi. Tapi aku tidak lapar.” Aku tersenyum tipis. Belasan pasang mata fans EXO kini menatapku dengan ganas. Mana mungkin aku mau makan siang dengan EXO bila sesudahnya fans mereka membunuhku?!

Hyuk menghampiri meja Hongbin. Si vampire itu melihatku sekilas sebelum akhirnya pergi bersama Hyuk ke kantin.

Aku meraih ipad-ku dan segera pergi ke tempat biasa. Taman belakang sekolah. Seperti biasa taman itu sepi. Aku memekik senang saat melihat tidak ada si pria aneh pendiam bernama Leo di sana. Sepertinya dia makan bersama VIXX di kantin. YESS!!! Aku bisa naik ke atas pohon itu lagi.

Secepat kilat aku pun naik ke dahan pohon yang besar. Woaaahh, pemandangannya sama indahnya dengan yang kulihat waktu itu, meskipun sekarang cuaca mendung. Awan-awan gelap berkumpul di langit. Kuharap hujan tidak turun. Aku tidak begitu suka hujan.

Aku menyandarkan punggungku di batang pohon dengan nyaman. Perutku berbunyi. Aku tertawa pelan. Ternyata aku lapar.

Aku membayangkan se-potong hamburger double cheese, satu bungkus keripik kentang besar, dan sekaleng cola dingin. Aku menjentikkan jariku di udara dan beberapa detik kemudian, makanan dan minuman yang kuinginkan sudah melayang-layang di hadapanku.

Aku tersenyum lebar dan segera memakan burger dengan lahap. Kuharap member VIXX selalu masuk sekolah, agar pria aneh bernama Leo itu tidak tidur di taman ini saat jam istirahat. Aaahhh…, aku sangat suka pemandangan di sekitarku! Kuharap aku bisa makan siang di sini setiap hari. Aku juga bisa menggunakan sihir-ku dengan bebas di sini karena tidak ada siapapun yang akan melihatku.

Baru 10 menit aku menikmati kesendirianku, tiba-tiba saja aku melihat Leo berjalan dari kejauhan. Kenapa dia datang ke sini lagi? Kenapa dia tidak makan bersama VIXX?

 Aku membenarkan posisi dudukku, hingga kini aku duduk menyamping. Leo mendongak dan menatapku datar. Tanpa mengatakan apapun ia berbaring di tempat-nya yang biasa, tak jauh dari pohon yang kunaiki.

Leo memejamkan mata. Posisi tidurnya tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, telentang dengan kedua tangan disilangkan di atas dada. Aku mendengus, dasar orang aneh!

Aku menghabiskan makananku dengan cepat saking laparnya. Leo masih tertidur. Entah kenapa aku ingin sekali mengganggu tidur-nya, hanya untuk mengetahui bagaimana reaksi-nya. Wajah-nya yang tanpa ekspresi, bicara-nya yang sangat irit, dan sikap introvert-nya itu membuatku ingin tahu bagaimana reaksinya ketika ia marah.

Aku turun dari dahan pohon dan menghampiri Leo. Aku duduk di sampingnya, memandangi wajahnya yang damai. Bahkan dalam tidur-nya pun wajah Leo tetap tanpa ekspresi.

Aku mencabut rumput di dekatku lalu menggelitiki hidung Leo dengan rumput itu. Leo bergerak sedikit, tapi ia masih tetap tidur. Aku pun mencoba menggelitiki mulut, kening, dan mata-nya, tapi Leo tidak bereaksi. Dasar sleepyhead!

Aku tidak menyerah. Aku terus menggelitiki Leo di lubang hidungnya. Masa sih dia tidak bangun juga?! Padahal rumput kering ini kan pasti terasa gatal di hidungnya!

Dan tanpa kuduga, ketika aku menggelitiki lehernya, Leo pun membuka matanya dan menatapku tanpa ekspresi. Aku tersenyum puas. Ternyata leher adalah kelemahannya!

Leo terus menatapku tanpa ekspresi dan tanpa mengatakan apapun. Aku berdecak kesal. Kenapa sih susah sekali membuat pria aneh ini menunjukkan emosi-nya?! Kenapa wajahnya selalu datar?!

Aku menggelitiki lagi lehernya. Kali ini Leo bangun dan langsung berjalan pergi. Omo~ apakah dia marah? Aku berlari menyusulnya. Kini aku berjalan mundur sambil terus melihat wajahnya. Duh, ternyata wajahnya masih datar saja!

“Leo sunbaenim, apakah saat kau marah, senang, sedih, wajahmu selalu datar seperti ini?” tanyaku. Tapi Leo hanya melihatku sekilas dan terus saja berjalan dalam diam.

Ini adalah pertama kalinya aku bertemu orang yang unik seperti Leo, karena itulah aku sangat penasaran. “Kenapa kau tidak makan bersama teman-teman VIXX-mu?” tanyaku lagi. Kini aku berada di samping Leo sambil setengah berlari karena langkah kaki Leo lebar-lebar.

“Kau bangun karena marah, terganggu, atau geli? Aku tidak tahu karena wajahmu selalu datar.” Cerocosku.

Leo terus saja berjalan tanpa memberikan respon apapun. “Sunbaenim, kalau aku memukulmu, apakah wajahmu akan datar juga seperti ini?”

Masih tidak ada respon. Kami sudah berjalan di koridor sekolah, dan kini sudah mulai banyak fangirls VIXX yang memperhatikan kami. Aku memandang berkeliling. Benar juga, kalau diperhatikan lagi, para fangirls biasanya selalu mengikuti BTOB, EXO, dan VIXX ke manapun mereka pergi. Tapi fans-fans Leo hanya memandang Leo penuh kagum dari jauh. Aku tidak pernah melihat ada fans yang dekat-dekat Leo. Apakah mereka takut padanya? Atau mungkin mereka menghargai privasi Leo yang memang senang menyendiri? Atau…mungkin saja mereka sudah capek mengajaknya bicara, karena Leo tidak pernah menanggapi mereka?

Aku terus mengikuti Leo, membuat puluhan pasang mata fangirls menatapku tajam. Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan respon dari Leo. Aku tidak percaya orang aneh ini tidak terpengaruh pada apapun. Pasti ada satu hal yang membuat wajah datarnya berubah.

Leo naik tangga ke lantai 4. Dia sepertinya tidak peduli dengan kehadiranku. Aku terus memikirkan kata-kata apa yang akan membuatnya bereaksi.

Leo masuk ke ruang musik yang sepi. Aku mengikutinya. Leo duduk di depan sebuah grand piano hitam dan mulai memainkan nada-nada lembut. Hmm.., lumayan juga skill-nya. Leo begitu konsentrasi pada piano, tapi lagi-lagi raut wajahnya datar dan tanpa emosi. Aku mendengus. Pria ini punya perasaaan tidak sih?! Aku bisa tahu dia menyukai piano, karena nada-nada yang ia mainkan terdengar pas dan menakjubkan, tapi kenapa wajahnya tidak menunjukkan rasa suka pada piano?

“Sunbaenim, sudah berapa lama kau belajar piano? Kau bisa memainkan lagu apa saja?” tanyaku, mulai mengganggu Leo lagi. Leo tetap berkonsentrasi bermain piano tanpa merasa terganggu sedikitpun.

“Kau bisa bermain alat musik apa saja?” tanyaku lagi. Leo melihatku datar sambil menekan tuts piano dengan lincah. Sepertinya tidak ada gunanya mengganggu Leo dengan kata-kata, maka aku pun menekan tuts piano itu dengan asal, membuat permainan piano Leo menjadi kacau. Leo berhenti bermain dan menatapku. Aku menantikan ia berteriak marah padaku, tapi lagi-lagi wajahnya tetap datar.

Leo mengeluarkan sebatang cokelat dari dalam saku blazer-nya, membuka bungkusnya, lalu mendekatkan cokelat itu ke mulutku. “Makan dan jangan ganggu aku lagi.” katanya pelan dan tanpa emosi.

Aku nyengir lebar. “Kau marah?” tanyaku.

Leo menatapku datar. Tangannya masih memegang cokelat di dekat mulutku. Aku pun meraih cokelat itu dan memakannya. Leo berdiri dan berjalan keluar dari ruang musik, cepat-cepat aku mengikutinya.

“Sunbaenim! Jadi kalau kau marah, kau akan memberi cokelat? Woaah.., daebak! Kalau begitu aku akan membuatmu marah setiap hari agar dapat cokelat terus!” aku memakan cokelat yang diberikan Leo dengan lahap.

Leo tiba-tiba berhenti berjalan dan menatapku. Lagi-lagi tanpa emosi.

“Sunbaenim, kenapa ekspresi wajahmu tidak pernah berubah?” aku tahu sikapku ini sangat mengesalkan baginya, tapi kenapa dia tidak bereaksi juga?

Meong….meong….meong….

Tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku memang memasang nada dering suara kucing. Leo menatap sekeliling kami, seperti mencari sesuatu. Apakah dia mengira tadi ada kucing di dekat kami?

“Itu suara ponselku.” Kataku padanya. “Kau suka kucing? Aku punya kucing di rumahku di LA. Aku sering merekam kucing-kucingku. Kau mau lihat?” aku mengabaikan message dari Peniel dan malah membuka folder video.

Tanpa kuduga, Leo langsung menyambar ponselku dan melihat video-video yang pernah kurekam. Di LA aku punya 3 kucing Persia berwarna kuning. Sayang sekali aku tidak bisa membawa kucing-kucingku ke dorm BTOB.

Leo terlihat serius sekali melihat video-video itu. Tanpa kuduga, sudut-sudut mulutnya tertarik dan seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya.

“Sunbaenim! Kau tersenyum!!!!” pekikku heboh sambil bertepuk tangan.

Leo menatapku datar, lalu kembali menatap video-video kucing dengan serius. Beberapa saat kemudian, ia pun menyerahkan ponselku.

“Apakah kau punya anjing?” tanyanya.

Mataku membelalak lebar. Tidak menduga pria aneh dan pendiam ini akan mengajukan pertanyaan lebih dulu.

Aku mengangguk. “Hmm. Aku punya poodle cokelat dan Siberian husky putih. Tapi mereka peliharaan ayahku. Kau suka anjing juga?”

Leo mengangguk dan wajahnya tetap tanpa ekspresi. Aku mencari video anjing-anjing ayahku yang pernah kurekam, lalu memperlihatkannya pada Leo. “Lihat, ini saat kami jalan-jalan dan bermain di pantai.”

Tatapan mata Leo melembut dan ia pun tersenyum tipis saat melihat video-video itu. “Sunbaenim, kau harus lebih sering tersenyum dan menunjukkan emosimu seperti ini.” kataku.

“Siapa nama mereka?” tanya Leo, mengabaikan perkataanku barusan.

“Poodle ini bernama choco, dan Siberian husky ini bernama snowy. Mereka betina. Kucing-kucingku bernama miaw, mio, dan miu. Mereka kembar 3 dan warna bulu di tubuh mereka pun sama. Kau tahu apa perbedaan mereka?”

“Bulu di sekitar mata mereka berbeda.” Kata Leo.

“Woaahhh….daebak!!! Kau bisa tahu hanya dengan sekali lihat! Kau benar-benar suka binatang ya, sunbaenim?”

Leo mengangguk. Wajah datarnya kembali seperti semula.

“Leooooooooooo!!!!!!” tiba-tiba saja ada yang memanggil Leo. Seorang pria berambut merah berlari ke arah kami dan langsung merangkul Leo dengan sebelah tangannya. Leo langsung melepaskan tangan pria itu dari bahunya.

“N-nyeong…” kata pria itu sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangannya riang. Aku mengerutkan keningku. N-nyeong? Bukannya harusnya annyeong ya?

“Siapa namamu? Kau terlihat akrab dengan Leo..” pria berambut merah itu menatapku penasaran.

“N hyung! Leo hyung!” seorang pria berambut cokelat menghampiri kami. “Hyuk menghabiskan makanan-ku. Aku masih lapar, hyuuung. Oooooootokaji?” kata pria berambut cokelat dengan penuh aegyo. Ia mengucapkan kata Otokaji dengan nada lucu dan manja.

Begitu mendengar nama Hyuk disebut, aku pun menolehkan kepalaku ke samping dan melihat Hyuk berjalan ke arah kami, diikuti oleh pria berambut abu-abu dan juga Hongbin.

“Oh, Hye Ri sshi!!!!” kata Hyuk ceria begitu ia berdiri di dekat kami. Aku tersenyum pada Hyuk.

“Kau mengenalnya, Hyuk?” tanya pria berambut merah.

Hyuk menangguk dan merangkul pundakku. “Ne. Dia teman sebangku-ku di kelas.”

“Woaaahhhh…., apakah kau adalah starlight?” tanya pria berambut merah lagi. Pria itu cerewet sekali! Dan kenapa dia bertanya aku adalah starlight atau bukan?! Starlight adalah cahaya bintang kan? Kenapa dia bertanya yang aneh-aneh?

Aku menatap Hyuk bingung. Hyuk tertawa dan mengibaskan tangannya. “Starlight itu nama fans kami. Tidak usah pedulikan N hyung. Dia memang cerewet dan sok ingin tahu..”

“Yah!” pria berambut merah mendekatkan tangannya ke leher Hyuk dan pura-pura menebas leher Hyuk dengan tangannya.

“Hye Ri sshi, kenalkan pria cerewet ini adalah leader kami, N hyung. Pria berkarisma dan berambut abu-abu itu rapper kami, Ravi hyung. Kau sudah tahu Hongbin dan Leo hyung. Lalu pria sok imut ini adalah main vocal, Ken hyung.” Hyuk memperkenalkan teman-temannya padaku.

Pria berambut cokelat melakukan pose-pose cute. “Annyeong, Hye Ri sshi. Ken-jumma imnida.” Kata Ken dengan nada seperti tante-tante genit.

Aku hanya tersenyum canggung. Kalau dulu aku menyebut member BTOB berisik dan aneh, maka VIXX jauh lebih aneh lagi. Sifat mereka terlihat berbeda-beda dan bertolak belakang, tapi mereka juga sangat ribut seperti BTOB.

“Hye Ri sshi, ini pertama kalinya aku melihat Leo berbicara berdua saja dengan perempuan lhoo. Kau sudah lama mengenal Leo?” N masih terus mencecarku dengan penasaran. Matanya dikedip-kedipkan dengan genit.

Sebelum aku sempat menjawab, bel masuk berbunyi. Leo berjalan pergi begitu saja. “Leoooo….tungguuuu…!!” N mengejarnya. Ia membalikkan badannya pada kami lagi, “Ayoooo…sudah bel!” N melambai-lambaikan tangannya, menyuruh kami mengikutinya.

Ken, Ravi, dan Hongbin mengikuti Leo dan N. Sementara itu aku dan Hyuk berjalan di belakang.”Hyuk~ah, kalau Leo sunbaenim marah…dia pasti memberikan makanan pada orang yang membuatnya marah ya?” tanyaku.

Hyuk terbahak-bahak. “Mana mungkin! Hahaha. Dia selalu menendangku kalau dia marah padaku.” Hyuk nyengir lebar.

“Jinja?” aku mengerutkan keningku. Lalu kenapa tadi dia memberiku cokelat? Apakah tadi dia tidak marah? Apa mungkin tadi dia merasa terganggu dengan mulutku yang bawel makanya dia memberiku cokelat agar aku tidak bicara terus?

Hongbin memperlambat langkahnya hingga kini ia berjalan di sampingku. Aku bisa merasakan tatapan tajam-nya padaku. Aku merapatkan tubuhku mendekati Hyuk dan menjauhi Hongbin. Aku masih belum bisa melupakan kejadian kemarin malam saat Hongbin menggigit Kris.

“Aku tidak akan menggigitmu.” Kata Hongbin. Aku menoleh dan melihat Hongbin berusaha menahan senyum. Meskipun ia tidak tersenyum lepas, lesung pipitnya terlihat jelas.

“Hyung, jangan menakuti Hyeri.” Hyuk terkekeh. Kini ia pindah berjalan jadi diantara aku dan Hongbin. Hyuk merangkul Hongbin dan mereka pun tertawa. Sepertinya mereka akrab.

Aku lupa kalau aku seharusnya tidak dekat-dekat dengan idol kalau ingin hidupku selamat dari para fans ganas. Maka aku pun berjalan lebih lambat dari mereka dan menjauh.

“Shin Hye Ri sshi.” Aku terlonjak kaget ketika mendengar suara di dekatku. Aku berhenti berjalan dan melihat Kris yang  berdiri di sampingku.

Hongbin dan Hyuk berhenti berjalan dan menoleh padaku. Hongbin menatap Kris penuh benci, sementara itu Hyuk tidak menunjukkan emosi apapun. Hyuk merangkul Hongbin dan memaksanya terus berjalan. Meninggalkan aku dan Kris.

“Terima kasih karena sudah menolongku.” Kata Kris sungguh-sungguh. Matanya yang tajam menatapku lekat-lekat, seolah berusaha membaca isi kepalaku.

Aku mengangguk. “Sama-sama.” aku tersenyum tipis. Aku menyadari tatapan para fans EXO di sekitar kami. Aku mengangkat sebelah tanganku. “Sampai nanti, Kris sunbaenim.”

Ketika baru berjalan beberapa langkah, Kris menahan lenganku. “Dengar, kau bisa meminta bantuanku dan juga klan-ku kalau mereka menganggumu.”

Aku mengerutkan keningku. “Siapa yang menggangguku?”

“Vampire-vampire itu.” Bisik Kris. Nadanya penuh rasa benci.

Aku tertawa. “Mereka tidak menggangguku.”

Kris menatapku tajam sambil mengerutkan keningnya. Berpikir. Kemudian aku ingat kalau manusia serigala biasanya sangat loyal pada orang yang telah menolong mereka. Sifat mereka agak mirip dengan anjing.

“Sunbaenim, aku pun akan melakukan hal yang sama seandainya tadi malam kejadiannya terbalik. Kalian bukan musuhku, tapi kalian juga bukan temanku. Aku hanya akan menolong siapapun yang membutuhkan bantuanku. Jadi, Kris sunbaenim, kau tidak perlu merasa berhutang budi padaku. Aku masih ingin hidup dengan selamat. Kau tahu? Sepertinya fans-fansmu jauh lebih mengerikan daripada fans-fans BTOB.” Aku nyengir lebar.

Kris menatap sekeliling kami. Sepertinya ia baru sadar. Murid-murid perempuan kini menatapku dengan penuh benci.

Aku membungkukkan badanku. “Sampai nanti, sunbaenim.” Setelah mengatakan itu, aku pun segera berlari ke kelasku. Gawat kalau aku sampai telat masuk kelas Kimia! Mr.Choi sangat disiplin dan galak!

*******

 

Hari ini BTOB kembali masuk sekolah. Mereka baru ada jadwal nanti malam, jadi mereka bisa masuk sekolah tepat waktu. Seperti biasa, aku meminta manager BTOB menurunkanku agak jauh dari gerbang sekolah. Aku tidak mau fans-fans BTOB melihatku keluar dari dalam van BTOB.

Setelah 1 bulan aku sekolah di sini, sepertinya semua anak perempuan membenciku karena aku sering terlihat dekat-dekat BTOB, VIXX, dan EXO. Beberapa dari mereka mendekatiku dan bertanya padaku bagaimana aku bisa terlihat sangat dekat dengan BTOB, dan bagaimana aku bisa mengenal VIXX dan EXO. Mereka memintaku membuat mereka dekat dengan BTOB juga.

Aku malas sekali dijadikan “alat” oleh anak-anak perempuan! Karena itu, aku lebih sering bersikap jutek pada mereka agar mereka menjauhiku. Aku tidak peduli mereka membenciku atau mengata-ngataiku.

Ya ampuuun, tidak adakah anak perempuan normal di sekolah ini? Tidak adakah anak perempuan yang tidak nge-fans 3 kingka itu? Aku ingin punya teman perempuan yang normal dan berteman denganku bukan hanya karena aku dekat dengan BTOB!

 

Saat pelajaran bahasa Inggris, Mrs.Han meminta kami berkelompok 3 orang untuk menampilkan sebuah drama singkat. Kami harus menulis naskah drama dalam bahasa Inggris dan kemudian menampilkan drama kami di depan kelas 2 minggu kemudian.

Sungjae dan Ilhoon langsung mendekati mejaku dan memintaku sekelompok dengan mereka. Aku tahu mereka berdua pasti akan menyerahkan semua tugas ini padaku karena aku lancar dalam bahasa Inggris.

Anak-anak perempuan tentu saja berebut ingin sekelompok bersama Sungjae, Ilhoon, Hyuk, Hongbin, Tao, dan Sehun. Hal ini membuat guru kami memutuskan untuk membagi kelompok sesuai keinginannya dan bukan sesuai keinginan kami. Sungjae dan Ilhoon kembali ke meja mereka dengan lesu, begitupula dengan para fangirls.

Sepertinya Mrs.Han tahu hubungan Hongbin dan Sehun Tao tidak baik, atau mungkin hanya kebetulan saja Mrs.Han tidak memasangkan mereka dalam satu kelompok? Hyuk, Ilhoon, dan Tao satu kelompok. Meskipun Tao terlihat tidak menyukai Hyuk, tapi rasa tidak suka-nya tidak sebesar rasa tidak suka Tao pada Hongbin. Apakah mungkin gara-gara Hongbin menggigit Kris waktu itu?

Sehun satu kelompok dengan 2 anak cowok kembar. Sementara itu aku sekelompok dengan Sungjae dan Hongbin.

Sungjae berjingkrak-jingkrak senang saat tahu kami sekelompok. Dia langsung duduk di kursi yang tadinya ditempati Hyuk. “Hyeri~ah.., aku serahkan tugas ini padamu.” Sungjae nyengir lebar.

Hongbin menghampiri kami dan duduk di hadapanku. “Kenapa kau percaya padanya, Sungjae? Memangnya dia bisa menulis drama dengan bagus?” tanya Hongbin.

Sungjae nyengir lebar.“Bahasa Inggris Hyeri bagus, hyung. Dia kan native speaker. Hahaha. Kau bisa menulis drama kan, Hyeri~ah?”

Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada. “Yook Sung Jae! Kalau kau tidak mau berpartisipasi, aku akan melaporkanmu pada Mrs.Han!” ancamku tegas.

Sungjae menggoyang-goyang lenganku. “Arrasseo..arrasseo.., tapi aku bicara dalam bahasa Korea saja ya? Nanti kau yang translate. Oke – oke?”

Aku menghela nafas panjang kemudian mengangguk. Sungjae berseru senang.

Ilhoon, Hyuk, dan Tao yang duduk tak jauh dari kami menatapku. Il Hoon berkata pelan pada Hyuk dan Tao. “Aku tahu bahasa Inggris kalian sama payahnya denganku. Jadi, bagaimana kalau kita menulis dalam bahasa Korea saja lalu nanti meminta Hyeri men-translate-nya untuk kita?” usul Il Hoon.

“Yah! Jung Il Hoon! Aku bisa mendengarmu!” sentakku. Ilhoon nyengir lebar sambil membentuk tanda peace dengan jarinya. “Kau tahu kan fungsinya kamus?! Aku tidak mau membantu kelompok yang bukan kelompokku.” Kataku dengan nada sengit.

Sungjae berseru senang dan mengangkat sebelah tangannya untuk ber-high-five denganku tapi aku mengabaikannya. “Kau juga harus belajar lebih giat lagi, Yook Sung Jae!” kataku.

Il Hoon menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak. “Aku akan minta bantuan Peniel hyung saja.” kata Il Hoon pada Hyuk dan Tao.

“Aku bisa mendengarmu, Jung Il Hoon!” kataku lagi. Il Hoon membalikkan badannya dan menjulurkan lidahnya padaku.

Hongbin menatapku lekat-lekat. “Kalian terlihat sangat dekat.” Komentarnya.

Sungjae mendekatkan wajahnya pada Hongbin dan berbisik. “Jangan salah paham hyung, Hyeri itu adiknya Peniel hyung.”

“Yah! Sungjae! Kenapa kau memberitahunya?”

“Aku tidak mau punya skandal denganmu, Shin Hye Ri.” Sung Jae menggeleng sambil menyilangkan kedua lengannya membentuk tanda X.

Hongbin menyeringai padaku. “Pantas saja.” katanya pelan.

Aku tidak suka caranya bicara barusan, seolah ia bukan hanya meremehkanku tapi juga kakakku. Kemudian aku baru menyadari satu hal. “Lee Hongbin sshi, kenapa Hyuk dan Sungjae memanggilmu hyung? Kau tidak naik kelas ya?”

Raut wajah Hongbin langsung berubah seketika. Aku bisa mendengar suara tawa Hyuk dari depan. Hongbin menatap Hyuk dengan kesal.

“Hongbin hyung seharusnya kelas 2, tapi saat kelas 3 junior high school dia cuti 1 tahun.” Kata Sung Jae. Hongbin dan Sungjae ber-high-five ria.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanyaku heran.

“Dulu kami juga satu sekolah. Hongbin hyung senior-ku di klub akting. Dia ketua klub akting. Jadi kita beruntung lhoo satu kelompok dengannya.” Kata SungJae. Hongbin menyeringai padaku dengan bangga. Ia dan Sung Jae pun kembali ber-high-five.

“Benarkah? Kau jago akting?” tanyaku tak percaya.

Tiba-tiba saja aku merasa bulu kudukku meremang. Ternyata Mrs.Han sudah berdiri di samping tempat duduk-ku. “Yook Sung Jae, Shin Hye Ri, Lee Hong Bin, kalau kalian mengobrol terus dan bukannya mengerjakan tugas, aku akan menyuruh kalian berlari 20 keliling lapangan!”

“Jeoseong hamnida, seonsangnim.” Kata kami bersamaan sambil membungkukkan badan. Mrs.Han pun kembali berjalan ke kursinya di depan. Il Hoon dan Hyuk terkikik geli sambil menoleh pada kami. Awas kau Jung Il Hoon, Han Sang Hyuk!

*****

 

Saat jam istirahat, aku masih tidak mau makan bersama kakakku dan teman-teman BTOB-nya. Aku lebih memilih makan di dahan pohon taman belakang sekolah, seperti biasa. Leo masih selalu datang ke taman itu meskipun sekarang teman-teman VIXX-nya selalu masuk sekolah.

Aku membawa penutup mata dan membuat Leo memakai penutup mata itu saat tidur di taman, untuk berjaga-jaga siapa tahu Leo melihat celana dalamku lagi saat aku memanjat pohon. Mulanya Leo menolak. Dia melemparkan penutup mata itu ke rumput, dengan wajah datar-nya yang biasa. Tapi bukan Shin Hyeri namanya kalau tidak bisa membuat orang lain menuruti keinginannya. Dengan paksa aku memakaikan penutup mata itu pada Leo. Akhirnya, Leo pun mau memakai penutup mata itu sendiri. Sepertinya dia alergi terkena sentuhanku.

Aku duduk di atas dahan pohon favoritku. Leo sudah berbaring di posisi tidur-nya yang biasa. Aku jadi berpikir…., jangan-jangan waktu itu Leo berbohong sudah melihat celana dalamku. Soalnya waktu itu aku pakai warna biru bukannya pink! Jadi ada 3 kemungkinan : Leo berbohong telah melihat celana dalamku, atau Leo melihatnya tapi terlalu malu menyebutkan warna yang sebenarnya, atau Leo justru melihatku melakukan sihir sehingga ia terpaksa berbohong tentang celana dalam.

Yang mana yang benar? Aku juga tidak tahu. Leo alias Jung Taek Woon adalah orang yang penuh misteri. Meskipun sekarang aku sudah bisa mengobrol dengannya, tetap saja aku masih tidak bisa membaca ekspresi wajahnya yang datar dan datar terus dalam setiap hal!

Ada dua hal yang pasti. VIXX adalah vampire, dan EXO adalah klan manusia serigala. Itu berarti Leo juga adalah vampire kan? Tidak masalah bila vampire atau manusia serigala tahu aku adalah penyihir. Aku hanya harus menyembunyikan identitasku yang sebenarnya dari manusia.

Tapi.., kalau Leo adalah vampire, kenapa dia bisa tahan dengan sinar matahari? Seperti sekarang ini. Setiap hari ia tidur di taman ini, yang meskipun agak tertutup daun-daun pohon tapi tetap saja cahaya matahari masih bisa menyinari wajahnya langsung.

Aku tahu teman-teman VIXX-nya berusaha menghindari cahaya matahari langsung. Meskipun vampire tidak akan mati terbakar sinar matahari, tapi sinar matahari sangat sensitif terhadap kulit mereka. Efeknya lebih parah dibanding terhadap orang albino. Karena itulah, aku tidak heran melihat N, Ken, Ravi, Hyuk, dan Hongbin selalu mengoleskan hand body khusus vampire ke seluruh lengan dan bagian tubuh mereka yang terbuka se-sering mungkin. Manusia pasti hanya mengira itu lotion biasa. Padahal sebenarnya lotion itu khusus untuk vampire.

Tapi Leo? Selama ini belum pernah sekalipun aku melihatnya mengoleskan lotion!

Hari-hari berjalan seperti biasa. Percakapanku dengan Leo lebih sering berlangsung satu arah. Tapi meskipun begitu, aku senang karena Leo berbicara di saat yang benar-benar tepat. Dia memang tidak menjawab semua hal dan mengomentari semua hal yang kukatakan, tapi dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan jawaban berkualitas.

Seperti ketika aku bercerita panjang lebar padanya tentang betapa menyebalkannya Hongbin, Leo tidak menanggapi. Ia hanya menatapku datar dan tanpa mengatakan apapun. Atau dia hanya mengangguk satu kali. Benar-benar khas Leo.

Tapi, ketika aku bertanya padanya hal apa yang bisa membuat Hongbin kesal, Leo memberikan jawaban yang sangat tepat.

 

Sore ini, ketika aku, Sungjae, dan Hongbin kerja kelompok bahasa Inggris di perpustakaan, aku mencoba melakukan apa yang Leo katakan padaku. Aku ingin membuat Hongbin kesal karena Hongbin selalu membuatku kesal!

Sejak pertemuan pertama kami, aku sudah tidak menyukai Hongbin. Bukan hanya karena dia menyakiti Kris, tapi juga karena Hongbin adalah orang yang sangat menyebalkan! Dia sering memotong kata-kataku bila aku sedang bicara. Dia sering mengatakan hal-hal yang meremehkanku. Dia sering membuatku merasa bodoh dan dia-lah yang pintar.

Sejauh ini, kelompok kami belum mencapai kesepakatan akan menampilkan drama apa! Semua naskah yang kutulis ditolak oleh Hongbin! Katanya terlalu mainstream-lah, terlalu childish-lah, terlalu aneh-lah, terlalu kaku-lah. Pokoknya semua yang kulakukan tidak pernah “benar” di matanya! Sementara ia sendiri sampai sekarang belum menulis 1 naskah-pun! Dia berkata sedang menulisnya, tapi sampai hari ini naskahnya belum selesai. Padahal kami harus tampil 7 hari lagi!

Sungjae sih senang-senang saja karena dia tidak harus repot-repot menulis naskah. Aku juga sebenarnya kesal karena Sungjae menuruti semua perkataan Hongbin. Dia percaya 100% Hongbin akan membuat nilai kelompok kami sempurna. Tapi apa buktinya? Bagaimana mungkin kami akan dapat nilai sempurna bila sampai saat ini saja naskah drama kami belum selesai! Belum lagi kami harus latihan akting. Kami benar-benar tidak punya waktu lagi!

Karena itulah sore ini aku melakukan apa yang Leo katakan tentang Hongbin. Leo bilang….Hongbin akan merasa sangat terganggu dengan suasana yang berantakan dan kotor. Hongbin sangat cinta kebersihan. Karena itulah dia sangat alergi dan benci dengan satu titik debu-pun!

Aku, Sungjae, dan Hongbin duduk di bangku pojok perpustakaan. Tempat ini sepi dan agak tertutup. Bagus karena tidak akan ada fangirls yang stalking Hongbin dan Sungjae!

Aku tahu seharusnya aku menjaga kebersihan perpustakaan, tapi aku sangat ingin membuat Hongbin kesal. Karena itulah, aku sengaja membawa makanan diam-diam ke dalam perpustkaan tanpa sepengetahuan petugas. Aku sengaja makan keripik kentang dengan berantakkan dan serpihan-serpihan keripiknya jatuh di buku tulis Hongbin, di lantai, bahkan di rambut Hongbin ketika aku dengan sengaja makan keripik dengan berdiri di dekat kepala Hongbin.

Hongbin yang sedang asyik menulis naskah drama tentu saja langsung menatapku kesal dan merasa terganggu. Dia juga marah-marah padaku dan menceramahiku panjang lebar soal kebersihan. Aku mengabaikannya dengan memasang earphone di telingaku dan menyetel musik keras-keras.

Sungjae hanya terbahak-bahak melihat kelakuan konyol kami. Katanya kami seperti Tom and Jerry! Dasar Sungjae si musang pabo!

Pada akhirnya Hongbin mengabaikan naskahnya dan cepat-cepat membereskan semua remah keripik kentang di buku, meja, dan di rambutnya. Dia juga menyapu remah-remah keripik yang berceceran di lantai. Woaaahhh…, daebak!!! Benar-benar cleaning service sejati!

“Hongbin-nie, aku berani membayarmu 1 juta dollar kalau kau mau jadi pembantuku seumur hidup. Kau benar-benar cocok jadi tukang bersih-bersih.”

Hongbin hanya menatapku dengan kesal. Aku senang melihat ekspresi terganggu di wajah sempurna-nya itu. Hah! Rasakan pembalasanku, Tuan Sombong!

Benar apa kata Leo. Hongbin sangat membenci keadaan yang kotor dan tidak rapi. Dia akan merasa sangat kesal dan ingin segera merapikan semuanya. Hidupnya baru akan terasa sempurna bila semua hal terlihat bersih dan rapi.

Dalam hati aku berterima kasih pada Leo dan berjanji akan membelikannya makanan besok. Leo sangat suka makan. Satu hal yang baru kuketahui dua hari lalu. Dia memakan habis semua makanan yang kusimpan di dalam lokerku saat kami berjalan menuju kelas setelah istirahat di taman belakang dan tanpa sengaja Leo “melihat” isi lokerku yang penuh makanan ketika aku membuka loker-ku. Padahal makanan itu adalah persediaan snack yang biasa kusimpan di loker pribadi-ku untuk 1 minggu ke depan, agar aku tidak perlu jajan saat tidak bisa melakukan sihir. Dasar rakus!

 

Pukul setengah enam sore, aku dan Hongbin masih berada di perpustakaan. Satu setengah jam lagi perpustakaan akan tutup. Sungjae sudah pulang sejak jam setengah lima karena harus siap-siap ke lokasi syuting drama.

Aku masih memakai earphone. Mendengarkan musik sambil menulis naskah drama. Hongbin duduk jauh dariku dan terlihat serius menulis naskah. Sejak aku mengotori rambut dan buku-nya dengan keripik kentang, Hongbin selalu jauh-jauh dariku karena dia tidak mau aku mengotorinya lagi. Hahahaha. Baguslah!

Aku memang lancar dalam bahasa Inggris, tapi menulis bukanlah keahlianku. Berkali-kali aku mencoret kalimat-kalimat yang terasa aneh. Aku mulai kesal dengan ide-ku yang buntu! Hongbin sama sekali tidak membantu. Dia bahkan tidak memberitahuku naskah seperti apa yang ia tulis, apa tema-nya, bagaimana alurnya. Dia mengerjakannya seorang diri. Aku tahu Sungjae akan menuruti apapun kata Hongbin, jadi sepertinya aku pun harus menerima apapun naskah yang ia tulis meskipun hal ini sangat tidak adil! Yah, kuharap naskahnya memang layak untuk ditampilkan.

Aku tidak tahu sejak kapan aku tertidur. Pukul 7 tepat, aku merasakan seseorang mengguncang-guncang bahuku. “Yah! Shin Hye Ri! Bangun!”

Aku membuka mataku dan melihat Hongbin. Dia sudah membereskan buku-bukunya. Bahkan dia juga membereskan buku-bukuku. Aku berjalan mengikutinya ke tempat penitipan tas. Petugas perpustakaan tersenyum pada kami dan menyebut kami anak rajin sebelum kami keluar perpustakaan. Hah! Rajin apanya?! Aku lebih banyak makan dan tidur!

Aku berjalan menuju halte bus dengan keadaan masih setengah mengantuk. Hongbin berjalan di belakangku. Aku tidak tahu di mana dorm VIXX berada. Mungkin dekat dengan dorm BTOB.

Aku duduk di halte. Menunggu bus datang. Peniel mengirimiku message dan berkata akan menjemputku, tapi aku berkata padanya aku bisa pulang sendiri.

“Ayo kita makan ramyun.” Kata Hongbin. Dia duduk di sampingku.

Aku menoleh dengan malas. “Kenapa aku harus makan denganmu? Lebih baik aku makan di dorm kakakku. Aku tidak perlu mengeluarkan uang.”

Hongbin tertawa. Lesung pipitnya terlihat jelas. Kadang aku melupakan fakta bahwa dia adalah vampire ketika ia tersenyum lepas seperti ini. Dia terlihat….normal, manusiawi. Sangat berbeda dengan ekspresi gelap dan mengerikan yang ia tampakkan malam itu.

“Aku akan mentraktirmu.” Kata Hongbin sambil tersenyum menatapku. Kedua mata cokelatnya berbinar. Sekarang aku mengerti mengapa Hongbin memiliki lebih banyak fans perempuan dibanding teman-teman VIXX-nya yang lain. Siapapun yang melihatnya akan setuju bahwa dia tampan. Yah, tapi apa gunanya kau punya wajah tampan tapi sifatmu menyebalkan?!

Aku mendengus keras. Penawarannya terlalu lemah. Satu mangkuk ramyun tidak akan cukup untukku.

Sepertinya Hongbin bisa membaca ekspresi wajahku, jadi dia pun menambahkan tawarannya. “Satu mangkuk ramyun, satu scoop ice cream greentea, satu cup bubble tea taro, dan satu porsi tteokpoki. Bagaimana?”

Aku nyengir lebar. “Cool!” seruku senang.

Hongbin tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ayo!” dia pun bangkit berdiri dan mulai berjalan. Aku pun mengikutinya. Tapi.., ada yang aneh. Bagaimana dia bisa tahu makanan dan minuman kesukaanku?

“Kenapa kau bisa tahu aku suka ice cream greentea dan bubble tea taro?” tanyaku.

“Karena kau adik Peniel.”

Aku mengerutkan keningku. Iya sih, kakakku memang menyukai makanan dan minuman yang sama denganku, tapi kenapa Hongbin bisa tahu apa yang kakakku sukai?

“He was my best friend.” Kata Hongbin. Aku tertegun. Was. Berarti sekarang mereka bukan sahabat lagi.

“Aku tidak mengerti kenapa dulu kakakku mau berteman dengan vampire sepertimu. Dia melarangku dekat-dekat dengan kau dan teman-teman vampire-mu.”

Hongbin terbahak-bahak geli. “Kau sangat rasis, Shin Hye Ri. Memangnya kenapa kalau kakakkmu berteman dengan vampire?”

Aku mengangkat bahu. Hongbin tersenyum dan terus bicara. “Dia melarangmu berteman denganku bukan karena aku adalah vampire, tapi karena….dia membenciku.”

“Kenapa? Kenapa dia membencimu?” tanyaku penasaran.

Kami masih terus berjalan. Kini orang-orang mulai berbisik-bisik dan mulai mengenali Hongbin. Aku mengerutkan keningku. “Tidak bisakah kau menyamar? Aku tidak mau punya skandal denganmu.”

“Kenapa tidak kau saja yang menyamar? Aku sih tidak masalah punya skandal dengan perempuan, karena skandal-ku bersama Leo hyung dan Hyuk sudah terlalu banyak.” Lagi-lagi Hongbin nyengir lebar menampakkan barisan giginya yang rapi dan juga lesung pipitnya.

“Omo~~.., kau punya skandal gay dengan Hyuk dan Leo? Hahahaha. Seperti Sungjae dan Kakakku saja! Penjae! Peniel-Sungjae. Apa nama pairing kalian? LeoBin? HyukBin?” aku terbahak-bahak.

Hongbin mengangkat bahu. “Fans menyukainya, jadi tidak masalah. Lagipula hubungan kami tidak seperti yang fans duga.”

Saat kami berjalan di jalan yang sepi, aku pun memakai kekuatan sihirku untuk merubah warna rambutku menjadi putih, menambahkan kaca mata bulat besar di wajahku, dan topi fedora hitam di kepalaku.

Hongbin tertawa melihatku. “Kau jadi terlihat seperti nenek sihir.”

Aku tidak peduli dengan kata-katanya, yang penting sekarang aku aman. Tidak akan ada yang mengenaliku. Aku pun melambaikan tanganku di depan wajah Hongbin dan dalam sekejap sebuah kacamata berbingkai merah sudah bertengger di wajahnya. Topi kupluk hitam juga menutupi rambutnya. Hongbin menatapku dengan kesal tapi aku cuek saja.

Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah kedai besar yang terlihat cukup elegan.  Banyak sekali pengunjung, tapi kami beruntung karena masih kebagian tempat duduk. Kami memesan ramyun mandu super pedas, tteokpoki, buble tea taro, dan ice cream greentea.

Aku jadi teringat percakapan kami yang terputus tadi. “Jadi, kenapa kau dan kakakku tidak bersahabat lagi?”

Hongbin menatapku dengan serius. “Karena yeoja yang disukai kakakmu ternyata menyukaiku.”

Aku membelalakkan mataku. “Mwo?” Hanya karena itu? Kakakku sangat childish!

“Dan kau menyukai yeoja itu?”

Hongbin menggeleng. “Aku tidak punya waktu untuk memikirkan perempuan. Tugasku sangat banyak.” Hongbin menyeringai. “Kau percaya kalau aku berkata umurku jauh lebih tua dari kakek buyutmu?”

Aku membelalakkan mataku. Pesanan kami datang. Aku pun makan dengan lahap sambil mendengarkan cerita Hongbin. Kupikir…, N bukan hanya leader VIXX sebagai idol tapi juga leader dalam kelompok vampire mereka, tapi ternyata aku salah. Hongbin-lah leader vampire-vampire itu. Sekarang aku mengerti mengapa dulu Hyuk menyebut Hongbin kuno.

Hongbin adalah salah satu keturunan vampire tertua. Bisa dibilang dia adalah pangeran vampire. Tugasnya di dunia ini sangat banyak, salah satunya adalah menjaga komunitas vampire agar tetap aman dan mengendalikan para vampire agar tidak melanggar peraturan. Aku juga baru tahu ternyata VIXX tidak pernah meminum darah manusia secara sembarangan apalagi sampai membunuh manusia. Mereka ternyata sangat pemilih dan hanya meminum darah sesuai golongan darah yang mereka sukai.

VIXX sering meminum darah orang-orang jahat, tapi mereka lebih sering membeli stock kantung darah dari rumah sakit. Aku juga baru tahu ternyata mereka tidak sering minum darah. Dalam satu minggu mereka cukup minum sebanyak 2 kali.

Kemudian aku penasaran tentang mengapa malam itu Hongbin menggigit Kris.

“Werewolf dan vampire tidak pernah akur sejak zaman dulu.” jawab Hongbin simple.

Aku mendengus. Ternyata hanya masalah ego. Dasar pria!

Hongbin juga memberitahuku kalau Kris adalah seorang alfa. Aku mengerti alfa memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam klan manusia serigala. Para alfa juga biasanya sangat posesif terhadap wilayah kekuasaan mereka. Malam itu Hongbin mengatasi salah satu vampire “pembangkang” yang berburu di wilayah kekuasaan EXO. Kris salah paham dan mengira Hongbin bersekongkol dengan vampire pembangkang itu. Yah, selanjutnya sudah bisa ditebak, ego pria-pria itu membuat akal sehat mereka mati. Mereka bertarung habis-habisan demi harga diri.

Tapi werewolf dan vampire memang tidak akan pernah bisa akur sampai kapanpun. Penyihir juga bukanlah teman werewolf maupun vampire, tapi menurutku tidak masalah berteman dengan mereka selama mereka tidak mengancam nyawaku.

“Tapi aku masih heran mengapa kakakku mau bersahabat denganmu.” Kataku lagi.

Hongbin hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaanku. Sepertinya masih banyak yang ia sembunyikan dariku. Aku bertekad akan mengorek informasi ini dari kakakku!

Setelah merasa kenyang, kami pun keluar dari dalam kedai. Kami berjalan menuju halte bus. Hongbin naik bus yang sama denganku tapi kami duduk berjauhan. Selama di perjalanan kami hanya terdiam. Aku mengamati Hongbin dari samping. Dahinya berkerut dalam-dalam, seolah memikirkan hal yang sangat rumit.

Aku turun dari bus, Hongbin juga turun. Aku menoleh padanya. “Dorm VIXX dekat dengan dorm BTOB?”

Hongbin menggeleng. “Tidak.”

Aku mengernyit. “Lalu kenapa kau ikut turun?”

“Karena tidak baik membiarkan seorang perempuan berjalan kaki sendirian.”

Aku mendengus lalu mulai berjalan. Dorm BTOB terletak dekat dengan halte bus. Aku hanya perlu berjalan kaki 10 menit. Hongbin berjalan di sampingku dalam diam.

“Gomawo sudah mentraktirku.” Kataku.

Hongbin menoleh padaku dan tersenyum. “Kau berhutang padaku.”

Aku mengerutkan dahi. “Bukannya tadi kau bilang kau yang traktir?! Kenapa aku jadi punya hutang padamu?” sentakku.

Hongbin tertawa. Dia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas-nya. “Kau harus membayar hutangmu dengan menampilkan akting yang bagus untuk drama kita nanti. Ini. pelajari baik-baik. Besok kita mulai latihan. Beritahu Sung Jae juga.” Hongbin menyerahkan bukunya padaku.

Mataku membulat. “Kau sudah menyelesaikan naskahnya? Wow!” sindirku.

Hongbin mengangkat sebelah alis matanya seolah meremehkanku. Kemudian tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Dia berhenti berjalan dan memandang sekeliling kami yang sepi. Aku ikut berhenti dan menatapnya heran. “Kenapa?”

Hongbin menyeringai. “Sepertinya kau punya anjing-anjing penjaga. Sudah ya, aku pulang. Aku tidak tahan dekat-dekat dengan anjing-anjingmu. Sampai nanti. Belajar yang benar!” Hongbin tersenyum miring kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa tertegun menatap pria aneh itu. Sepertinya semua member VIXX memang aneh! Oh, hanya Hyuk yang tidak aneh.

Aku menatap sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa. Apa maksud Hongbin dengan anjing-anjingku? Anjing-anjingku ada di LA.

Kemudian aku mendengar geraman halus dan melihat 6 pasang mata berwarna merah dan 6 pasang mata berwarna biru menatapku dari sisi kanan dan kiri, bersembunyi di balik pepohonan. EXO! Mereka berada dalam wujud serigala dan beberapa detik kemudian mereka pun berubah menjadi manusia dan berjalan menghampiriku.

Aku membungkukkan badanku pada Kris sunbaenim dan member EXO lainnya. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dariku, tapi aku tahu mereka tidak akan menyakitiku. Insting-ku mengatakan demikian.

Beberapa dari mereka tersenyum ramah padaku. Satu orang yang bertubuh paling tinggi menyeringai lebar menampakkan gigi-nya yang super rapi. Satu orang yang berwajah cantik tersenyum ala malaikat. Satu orang yang berkulit tan menyeringai. Sehun dan Tao tersenyum penuh aegyo. Sementara yang lainnya hanya tersenyum sopan. Aku memang belum hafal semua nama mereka.

Ke-12 pria itu hanya terus terdiam dan menatapku. “Sunbaenim, apakah ada yang ingin kau katakan padaku?” tanyaku pada Kris. Kris menggeleng. Aku menatapnya heran, kemudian memutuskan untuk kembali berjalan menuju dorm BTOB.

Ke-12 pria itu berjalan di belakangku. Mengikutiku. Aku berhenti dan membalikkan badanku menatap mereka. Mereka juga ikut berhenti berjalan.

“Kenapa kalian mengikutiku?”

“Dorm kami bersebelahan dengan dorm BTOB.” Jawab Tao.

“Oh.” Gumamku, kemudian kembali berjalan. Tapi tetap saja rasanya aneh. Seolah-olah mereka memang menungguku sejak tadi. Seolah –olah ingin menjagaku.

Aku pun kembali berhenti berjalan dan menatap mereka. “Dengar. Kalian tidak perlu merasa berhutang budi padaku karena aku pernah satu kali menyelamatkan nyawa alfa kalian.”

Kris mengernyit. Suho tersenyum ramah. “Kami tidak berhutang budi padamu, Hyeri sshi. Kami memang hanya ingin menjagamu.”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Karena kau adalah Shin Hye Ri.” Jawab Kris serius.

Aku menatap mereka dengan aneh. Oke.., sekarang aku merasa benar-benar terganggu. “Aku tidak mengerti mengapa kalian ingin menjagaku. Memangnya kenapa denganku? Aku bukan bayi! Aku bisa berteman dengan siapapun yang kuinginkan. VIXX tidak akan menyakitiku.”

Perlahan Kris berjalan mendekatiku. Tanpa kuduga dia berjongkok ala kesatria di hadapanku, meraih tanganku dan menggenggamnya dengan hangat. “Kau adalah Shin Hyeri, satu-satunya keturunan penyihir paling hebat di masa lalu. Kau adalah keturunan Yang Mulia Min Ah, penyihir baik hati yang telah banyak membantu klan kami di masa lalu.”

“Mwo? Apa yang kau bicarakan? Aku bukan keturunan Penyihir Min Ah!” tentu saja aku tahu siapa itu penyihir Min Ah. Dia adalah legenda. Dia banyak melakukan hal-hal luar biasa. Banyak penyihir yang mengaguminya, tapi tak sedikit yang membencinya. Dia adalah satu-satunya penyihir yang memiliki hubungan baik dengan semua makhluk. Makam-nya banyak sekali di-ziarahi oleh berbagai makhluk. Tapi beberapa ratus tahun kemudian, salah satu keturunan penyihir Min Ah membuat kekacauan dan dihukum mati oleh pemerintahan dunia sihir. Itu yang kuketahui tentang penyihir Min Ah.

“Kau ngaco, sunbaenim! Nenek moyangku adalah Shin Shin Ae, bukan penyihir Min Ah.”

Kris menatapku dalam-dalam seolah mengabaikan perkataanku. “Berhati-hatilah, Hyeri sshi. Terkadang musuh terlihat sangat menyenangkan. Terkadang musuh bersembunyi di balik selimut yang hangat.”

Aku mendengus. Merasa muak dengan kata-kata filosofis Kris. Aku menyentakkan tangan Kris dan segera membalikkan badanku. Aku berjalan dengan langkah lebar-lebar, tidak memedulikan lagi serigala-serigala aneh itu!

Langkahku terhenti di dekat dorm BTOB ketika aku melihat van BTOB. Entah mengapa aku bersembunyi di balik tembok agak jauh dari van. Mataku membelalak lebar ketika aku melihat Il Hoon dan Min Hyuk menurunkan barang bawaan mereka dari dalam bagasi dengan sihir. SIHIR! Mereka bisa melakukan sihir!

Kenapa selama ini mereka menyembunyikannya dariku? Mengapa Peniel tidak memberitahuku? Kenapa mereka menggunakan sihir di saat aku tidak ada? Kenapa Peniel selalu melarangku melakukan sihir dan tidak pernah mengajariku sihir-sihir rumit?

Tiba-tiba saja aku teringat lagi percakapanku dengan Hongbin tadi. Rasanya tidak masuk akal bila persahabatan Hongbin dan Peniel putus hanya gara-gara seorang perempuan! Pasti ada yang mereka sembunyikan dariku.

Lalu aku pun kembali teringat kata-kata Kris dan Suho barusan. Apa maksud mereka? Benarkah apa yang serigala-serigala itu katakan? Aku? Keturunan penyihir Min Ah? Lalu siapa keluargaku yang sebenarnya? Apakah itu berarti Mom, Dad, dan Peniel bukanlah keluarga kandungku? Itukah sebabnya mereka selalu melarangku menggunakan sihir? Tapi kenapa? Memangnya kenapa kalau sihirku berkembang? Aku bukan penyihir jahat! Setahuku penyihir Min Ah juga bukan penyihir jahat! Tapi……

Aaaarrggghhhhh!!!! Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan semua jawaban-jawaban yang ingin kuketahui!

Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Aku takut menghadapi kebenaran. Bagaimana kalau ternyata ada sesuatu yang salah denganku? Aku melihat Peniel keluar dari dalam van, menjentikkan jarinya dan semua barang bawaannya lenyap seketika.

Kenapa keluargaku menyembunyikan semua ini dariku? Aku menggelengkan kepalaku. Mereka pasti punya alasan. Dan kenapa pula aku harus percaya kata-kata Kris dan Suho? Aku lebih ingin mempercayai Mom, Dad, dan Peniel. Tapi…, aku tahu ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Terlalu banyak kebetulan di masa lalu yang baru kusadari saat ini apa maknanya.

Aku ingat Mom dan Dad melarangku menggunakan sihir ketika aku baru masuk junior high school, padahal sebelumnya mereka tidak pernah melarangku. Kalau kuingat-ingat lagi, setelah itu mereka tidak pernah mengajariku sihir lagi, seolah mereka takut sihir-ku akan mencelakakan mereka. Aku juga ingat Peniel selalu diam-diam melakukan sihir di saat aku tidak ada, bila aku ada maka ia akan berusaha tidak menggunakan sihir. Apakah semua itu hanya kebetulan?

Aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Aku tidak tahu lagi siapa musuhku dan siapa kawanku. Aku tidak tahu lagi apakah aku adalah penyihir yang baik atau bukan.

Aku mengepalkan tanganku, bertekad akan mencari informasi sebanyak apapun tentang penyihir Min Ah dan….masa laluku.

 

–          TBC –

 Image >>>>> Leo

Image>>>>>> Hongbin

 

25 thoughts on “Forbidden Star (Chapter 2)

  1. Tidaaakkk, kok ceritanya udah TBC sih, huaaa, aku tidak rela langsung TBC, sepertinya aku perlu berkunjung ke rumah author naik naga – nya Kris, haha
    Cerita penghantar tidur yang sempurna, bahasa yang mudah dipahami, alur yang tidak membingungkan, dan kalimat – kalimat ajaib yang bisa membawa kita masuk ke cerita, daebak, it’s awesome and perfect story, kayaknya kak Azmi hebat deh kalau buat novel fantasy, cepet lanjut next chap ya^^

  2. Yey akhirnya di post jg part 2nya. Disini malah rada curiga sama kluarganya Peniel, sebenernya Hyeri itu bkan saudara kandung Peniel ya? Yang dimaksud Kris musuh itu BTOB, VIXX, atau EXO? haduh kepo mode on nih eonn
    Pokoknya TOP deh, next part ditunggu🙂

  3. Yahooooo…
    Eonnieeeee…
    Kau selalu selalu selalu bisa bikin Ak jadi penasaran….
    Cerita eonnie daebak…^^b
    Bikin dag Dig dug
    Next chapter jangan lama lama ya?

  4. mau bgt jd hye ri dkelilingin cow2 super tamvan waakkzzzz….mkin bkin penasaran tebkan q hye ri psti bkan sdra peniel tp cuman nebak aj sich lanjut▶▶▶▶▶▶▶

      • yaaaaahhhh….pntesan dcari2 g ad mpe blog’y dibolak balik…*apa deh….
        semoga cpet dipublish ya next part’y….
        ough…ya tar q follow twitter’y tar folback ya….
        jd tar low dah publish tolong bkin iklan heee….

  5. Pingback: Forbidden Star (Chapter 3) | wiantinaazmi

  6. Pingback: Forbidden Star (Chapter 4) | wiantinaazmi

  7. Wahh, bikin penasaran! xD
    Ternyata (ada) member VIXX bisa sihir ya, kerennn >.<
    Hyeri itu sebenarnya siapa? *penasaran banget
    oya, yang mata biru ama merah (EXO) itu yang mana aja ya? hehehe
    Oya, chap 4 udah di post ya? mau baca ahhh….
    Fighting for nulis (?) FF kece ya, Azumi eonnie, terutama fantasy! aku suka banget ff nya Azumi
    Bye

  8. Lgi tegang bacanya eh TBC !
    Kereeennn buangeett thor.. Pengen jdi Hyeri >>o<<
    Dikelilingi cwok" guanteng Boo !
    Nih ff "Something" banget nih…
    Lanjut chapter 3 deh ..

  9. Pingback: Forbidden Star (Chapter 5 END) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s