[Review ] “Love, Curse, and Hocus – Pocus”, a Hocus-Pocus Novel Written By Karla M.Nashar

Image

Judul : Love, Curse, & Hocus-Pocus
Penulis: Karla M.Nashar

Genre : Romance, Fantasy
Kategori: Fiksi, novel asli
Tebal : 410 halaman
Harga : Rp 58.000
Terbit : Januari 2013

Penerbit: PT.Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-979-22-8976-3

 

 

Novel ini adalah sequel dari novel yang berjudul Love, Hate, & Hocus-Pocus. Novel ini menjawab pertanyaan pembaca mengenai apa yang terjadi setelah Troy Mardian dan Gadis Parasayu terbangun dari “mimpi” mereka. Sebuah “mimpi” aneh yang terasa sangat nyata seolah mimpi tersebut adalah kehidupan nyata dan bukan hanya sekedar mimpi.

Troy dan Gadis masih sama-sama saling benci dan bersaing dalam berbagai hal. Semuanya masih tetap sama, kecuali saat ini ada kesadaran lain dalam diri mereka. Ingatan-ingatan dalam mimpi itu. Bagaimana dalam mimpi itu mereka jatuh cinta dan menikah. Bagaimana Gadis mengandung bayi kembar-nya.  Gadis dan Troy masih belum mempercayai semua itu ternyata hanya sekedar mimpi yang diakibatkan oleh seorang gipsi tua yang mereka temui di acara pesta ulang tahun kantor mereka. Tapi di lain sisi mereka bersyukur karena semua itu hanyalah mimpi. Karena bagaimanapun Troy dan Gadis tetaplah dua orang keras kepala yang saling membenci seolah mereka telah menjadi musuh sejak berabad-abad yang lalu.

Lalu kini, Troy dan Gadis seperti mengalami de ja vu. Semua kejadian di pesta ulang tahun kantor mereka sama persis dengan yang mereka alami di dunia mimpi. Ketika sang gipsi tua muncul di panggung dengan cara yang dramatis dan mengatakan hal-hal mistis yang tak masuk akal, semuanya sama persis dengan mimpi mereka. Bila dalam mimpi Troy dan Gadis sama-sama menertawakan ucapan sang gipsi, maka saat ini mereka berusaha keras untuk tidak menertawakan ucapan sang gipsi eksentrik tersebut. Mereka tidak ingin kejadian dalam mimpi itu terjadi di dunia nyata.

Meskipun Troy berkata bahwa ia tidak peduli dengan mimpi itu, tapi nyatanya pikiran Troy selalu dipenuhi mimpi aneh yang ia alami bersama Gadis, apalagi jika Gadis berada di dekatnya. Troy dan Gadis bernafas lega karena mimpi itu tidak terjadi di kehidupan nyata.

Troy dan Gadis diutus pergi ke London untuk mengikuti seminar Farmasi Internasional. Di bandara, Gadis bertemu dengan Lucinda, mantan pacar Troy. Aneh sekali rasanya karena pada kehidupan nyata pun Gadis merasa tidak suka pada Lucinda, sama seperti di mimpi-nya. Padahal di kehidupan nyata, Gadis tidak mencintai Troy seperti di mimpi itu.

Pesawat yang ditumpangi Gadis dan Troy ke London awalnya mengalami turbulensi ringan. Tapi, lama-kelamaan pesawat yang mereka tumpangi mengalami turbulensi ekstrim yang menyebabkan pilot kehilangan kendali. Semua penumpang berteriak histeris penuh ketakutan. Sadar bahwa nyawa mereka akan segera melayang, Troy dan Gadis sama-sama meminta maaf atas perkataan menyakitkan yang selalu keduanya katakan terhadap satu sama lain. Pesawat terus menukik tak terkendali, hingga  akhirnya entah bagaimana Troy dan Gadis seolah ditarik oleh kekuatan gaib sehingga mereka langsung berada di rumah sakit, dalam kondisi Gadis hendak melahirkan bayi kembar mereka.

Mereka masuk kembali ke mimpi itu. Mereka berdua rasanya hampir gila karena tidak tahu lagi mana yang sebenarnya dunia mimpi dan mana dunia nyata. Dokter kandungan meminta Gadis berusaha mengeluarkan bayi-nya, kalau tidak bayi-nya tidak akan selamat. Pikiran Gadis dan Troy masih kacau. Bagaimana mungkin mereka sekarang bisa tiba-tiba ada dalam kondisi seperti ini sedangkan beberapa detik yang lalu mereka berada di pesawat dan nyawa mereka hampir melayang.

Dokter berkata semua itu adalah syok karena mereka menghadapi kelahiran anak pertama mereka, makanya mereka melihat hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi. Troy dan Gadis pun mau tak mau menerima pendapat itu, karena hal yang mereka alami kini terasa nyata. Sakit yang Gadis alami terasa nyata, dan perasaan bahagia saat bayi kembar mereka lahir terasa nyata.

Tapi kebahagiaan yang mereka alami tidaklah bertahan lama. Beberapa hari kemudian, setelah mereka pulang ke apartemen Troy, Gadis harus menerima kenyataan bayi kembarnya meninggal begitu saja karena mengalami SIDS. Hatinya terasa remuk dan mati karena ia merasa gagal sebagai seorang ibu. Gadis pun berniat untuk pergi meninggalkan Troy karena tidak sanggup menghadapi Troy lagi dalam perasaan bersalah. Troy mengejar Gadis dan mengikutinya ke lift. Troy meminta Gadis tetap bersamanya dan menghadapi kesedihan mereka bersama, karena Troy-pun merasa sangat sedih dan kehilangan bayi kembar mereka sama seperti Gadis.

Tiba-tiba lift yang mereka tumpangi berguncang hebat karena gempa. Lampu lift padam, rantai lift terputus, dan Lift-pun mulai meluncur tak terkendali ke bawah. Sekali lagi Troy dan Gadis berada diantara hidup dan mati.

Troy dan Gadis terbangun di dalam pesawat. Pramugari berkata mereka berdua pingsan selama 10 jam akibat syok mengalami turbulensi. Tapi pesawat baik-baik saja dan mereka semua selamat.

Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Troy dan Gadis saat itu. Mimpi lagi? Jadi bayi kembarnya tidak pernah ada? Jadi semua yang mereka alami satu detik yang lalu hanyalah mimpi?

Di saat realita dan mimpi sulit untuk dibedakan, Troy dan Gadis hanya bisa menjalani kehidupan mereka saat ini sebagaimana adanya. Gadis masih merasa sedih dan terpukul karena kehilangan bayi kembarnya, meskipun semua itu ternyata hanya mimpi. Mengapa mereka masih mengalami mimpi tersebut? Padahal saat pesta ulang tahun kantor, mereka tidak menertawakan sang gipsi.

Apa yang akan Gadis lakukan bila ternyata mimpi-mimpi itu terus terbayang di dalam kepalanya, seolah semua itu adalah kenangan dan bukan hanya sekedar mimpi? Sanggupkah Troy terus berpura-pura bahwa mimpi itu tidak mempengaruhinya? Apa yang akan mereka lakukan ketika mantan pacar Gadis saat SMA tiba-tiba kembali ke kehidupan Gadis dan melamarnya? Sanggupkah mereka menemukan Lyubitshka, sang gipsi tua yang telah membuat mereka mengalami kejadian-kejadian tak masuk akal itu dan menemukan jawaban-jawaban atas semua hal?

Semua pertanyaan itu dapat ditemukan dengan membaca novel ini. Meskipun tema utama novel ini sudah sangat umum, yaitu benci yang berubah menjadi cinta, tapi penulis mampu meramu alur-nya dengan sangat menarik. Penggambaran kisah dalam “mimpi” dan “kenyataan” yang terjadi berulang kali tidak membuat pembaca pusing. Justru sebaliknya, alur yang tidak terduga itu membuat pembaca semakin penasaran dan semakin bersemangat membaca novel ini. Pembaca tidak akan pernah tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.

Karakter Troy Mardian dan Gadis Parasayu yang sangat kuat juga menjadi salah satu kunci dalam novel ini. Saya sering sekali dibuat terkagum-kagum, kesal, sekaligus tercengang dengan karakter Troy Mardian yang sangat ajaib, seolah Troy adalah orang nyata yang ada di hadapan saya dan bukan hanya sekedar tokoh novel. Begitupula dengan Gadis parasayu yang sangat keras kepala tapi begitu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan Indonesia, membuat saya belajar banyak hal darinya.

Penggambaran setting yang jelas dan detail membuat kejadian dalam novel ini terasa nyata, terutama penggambaran setting di Inggris yang membuat saya merasa benar-benar berada di sana, seolah saya-lah yang melihat bagaimana luar biasa indahnya kota London di malam hari. Seolah saya-lah yang melihat langsung bagaimana menakjubkannya pemandangan di Askrigg dan Appleby.

Saya sangat menikmati setiap dialog yang dipaparkan penulis. Rasanya menggemaskan sekali membayangkan interaksi kedua manusia yang memiliki karakter sangat bertolak belakang ternyata harus menghadapi mimpi aneh yang sama, yang membuat mimpi dan realita menjadi tumpang tindih.

Saya jamin siapapun yang membaca novel ini tidak akan mau berhenti membaca sebelum membacanya hingga halaman terakhir. Selalu ada kejutan-kejutan di setiap halamannya yang membuat saya tersenyum senang, mengerutkan kening karena kesal, menggertakkan gigi karena gemas, dan menahan rasa haru.

Novel ini tidak hanya menyajikan hiburan namun juga pembelajaran hidup. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kisah perjalanan Troy Mardian dan Gadis Parasayu. Salah satunya adalah bagaimana pentingnya lebih mendengarkan apa kata hati kita dibanding apa kata pikiran kita.

Saya sangat merekomendasikan novel ini, terutama bagi para penggemar cerita fantasi roman. Roman yang disajikan sangat menyentuh hati dan bukan hanya sekedar roman murahan. Fantasi yang disuguhkan pun menyajikan pengalaman luar biasa yang berbeda dengan cerita fantasi lainnya.

Siap berpetualang dalam kisah menakjubkan Troy Mardian dan Gadis Parasayu? Cring….cring….cring…. Beware!

Reviewed by : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s