[Oneshoot] Take My Hand

Title                 : Take My Hand

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Cast       : Kim Myung Hee (OC), Jung Daeryong (Tasty), Jung Soryong (Tasty)

Support Cast  : Kim Myung Soo / L (Infinite) and the other Infinite members

Length            : Oneshoot

Genre              : romance, family, friendship

Rating                         : PG+17

Summary        : Kim Myung Hee yang selama ini “menghilang” dari dunia entertainment, kini tiba-tiba saja muncul kembali. Hal ini tentu saja membuat seluruh dunia gempar karena sang diva yang selama ini tidak diketahui keberadaannya tiba-tiba memutuskan untuk kembali berkarir. Myung Hee berkata pada seluruh dunia bahwa selama ini ia menghilang untuk “beristirahat”, dan kini ia kembali ke Korea demi adik kesayangannya, Kim Myung Soo Infinite. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya Myung Hee kembali, selain Myung Soo. Sanggupkah Myung Soo menjaga kakaknya? Sanggupkah Myung Hee bangkit kembali? Bagaimana bila ternyata sekarang pun Myung Hee masih menyimpan dendam pada seseorang?

 Image

Tangan siapa yang harus kugenggam saat ini? Tanganmu yang dulu meninggalkanku? Ataukah tangannya yang sejak dulu berusaha menggapaiku?

 

Lima tahun. Selama itulah aku merasa hidupku tidak berarti. Aku merasa hidup tapi tidak hidup. Aku tidak bisa membedakan mana khayalan dan mana kenyataan.

Setiap hari aku menangisi segala hal. Setiap hari aku membenci diriku. Setiap hari aku merasa jijik pada diriku sendiri.

Kemudian aku mulai mendengar suara-suara tak kasat mata. Kupikir aku gila. Mungkin aku memang gila.

Selama 5 tahun aku mengasingkan diriku dari semua orang. Dari dunia musik dan akting yang sangat kucintai, dari teman-temanku, bahkan dari keluargaku. Hanya adikku, Myung Soo, yang tahu di mana aku berada dan bagaimana keadaanku.

Aku tidak ingin membuat ayah dan ibuku khawatir. Mereka berdua sudah memiliki terlalu banyak masalah untuk dipikirkan tanpa perlu memikirkan kesalahan bodoh yang telah kulakukan.

Aku menghilang begitu saja dari dunia hiburan. Aku juga menghilang dari kampusku di Seoul. Aku tinggal sendirian di sebuah rumah antik di dekat dermaga di Baltimore Amerika Serikat.

Ayah dan ibuku yang saat itu sibuk mengurusi perceraian mereka hanya tahu aku pergi sesaat dari dunia hiburan karena merasa tertekan dan bosan. Aku meminta mereka berdua untuk tidak menemuiku selama aku berada di Baltimore. Aku juga sudah berusaha “mengusir” Myung Soo dari “rumah persembunyianku”. Myung Soo saat itu sedang menjadi trainee di salah satu agensi di Korea.

Aku takut. Aku takut aku akan menyakiti orang-orang disekitarku. Aku merasa pikiranku tidak stabil. Aku merasa aku sanggup menyakiti siapapun.

Setiap hari selama 5 tahun ini aku menjalani hidupku seperti zombie. Aku ingin mati, tapi tidak pernah bisa. Aku ingin hidup, tapi bukan sebagai Kim Myung Hee.

Myung Soo memaksaku tinggal bersama Nyonya Choi. Wanita paruh baya yang sangat sabar menghadapi segala tingkah aneh-ku. sekarang aku baru tahu ternyata nyonya Choi bukan hanya pengurus rumah biasa. Dia adalah seorang psikolog + psikiater yang sangat handal. Dan kini aku benar-benar menyalahkan Myung Soo karena ia telah mengorbankan banyak uang hanya untukku. Tapi aku juga sangat berterima kasih pada adikku itu. Tanpanya, mungkin sekarang aku sudah benar-benar masuk rumah sakit jiwa.

Kini aku sudah melewati masa-masa itu. Aku tahu aku harus kembali. Aku harus menghadapi dunia. Aku harus menghadapi ketakutanku. Aku harus menghadapi Jung Daeryong.

Aku menatap gumpalan awan lewat jendela pesawat. Aku melepas kacamata hitamku agar bisa melihat lebih jelas. Tanpa sadar aku tersenyum tipis. 5 tahun lalu, aku tidak pernah menyangka akan bisa kembali pulang ke Seoul. Kota mimpi burukku.

Kuharap kepulanganku ke Korea saat ini bisa sedikit meredamkan “kasus” yang sedang dialami Myung Soo. Semua orang pasti akan melupakan kasus Myung Soo begitu aku tiba nanti. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa Myung Soo adalah adikku. Aku akan memberitahu semua orang sekarang. Aku tahu, bukan inilah tujuanku yang sebenarnya. Tapi lebih baik beranggapan demikian daripada mengakui hal yang sebenarnya.

“Mama…Mama…. Aku mau pelmen…”

“Aku mau banana milk…”

Aku menoleh ke arah seorang ibu yang duduk tak jauh dariku bersama kedua anak balita kembar mereka. Kembar laki-laki dan perempuan.

Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak, seperti ada jutaan batu berat dan runcing yang menimpa jantungku dan menusuk-nusuk hatiku berkali-kali.

Mataku memanas. Air mata mengaburkan pandanganku. Kupikir kini aku sudah melupakan mereka, tapi ternyata tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan mungkin melupakan kedua anak kembarku yang tidak sempat melihat dunia ini.

******

Begitu sampai di bandara, aku mencari-cari Myung Soo. Dia sudah berjanji akan menjemputku. Aku memandang berkeliling, mencari-cari Myung Soo, tapi tidak menemukannya. Sampai kemudian aku melihat sebuah kertas A3 bertuliskan huruf besar-besar : Myung Hee Nuna, aku lapar!!!!!

Aku segera mendorong koperku dan menghampiri Myung Soo yang memakai hoodie hitam dan sun-glasses. Myung Soo memelukku dengan erat. “Aku lapar, nuna.”

Aku tertawa. “Aku tahu. Kalau kau tidak suka makan, kau bukan adikku. Ayo, aku traktir kau makan sepuasnya.”

Myung Soo tersenyum dan membawakan koperku. Aku melingkarkan lenganku di lengan Myung Soo. Aku membuka kacamata dan topi-ku. Aku juga membuka hoodie yang menutupi rambut Myung Soo dan mencopot kacamatanya. Myung Soo menatapku dengan heran.

Aku tersenyum. “Aku ingin semua orang tahu kau adalah adikku.”

Myung Soo mengangkat bahu. “Tidak masalah.”

Aku memukul lengannya dengan keras. “YAH! Tidak usah pedulikan apa kata orang-orang yang menjelek-jelekkanmu! Mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak pernah tahu se-keras apa kau bertahan dalam dunia idol ini.” Aku memutar kedua bola mataku.

Beberapa orang mulai mengenali kami dan menjepret-jepretkan kamera ponsel mereka. “L sshi, siapa wanita itu?”

“Omo~~!!! Bukankah itu Kim Myung Hee?”

“Apa hubungan kalian?”

“L sshi, apakah setelah kau putus dengan ulzzang kontroversial itu, kau kini mengencani wanita yang lebih tua?”

“Kim Myung Hee sshi, kau terlihat lebih kurus.”

“Kim Myung Hee sshi, sebenarnya selama ini kau pergi ke mana? Kami merindukan suara emas-mu dan akting-mu yang memukau.”

“Kim Myung Hee sshi, sudah berapa lama kau mengenal L Infinite? Apakah kau memang menyukai pria yang lebih muda darimu?”

“Kim Myung Hee sshi, apakah kau berencana comeback?”

Kini sudah banyak sekali orang yang berkerumun di sekitar kami. Aku berhenti berjalan dan tersenyum professional. “Hallo, sudah lama aku tidak kembali ke Korea.”

Terdengar gumaman dan seruan senang. Semua orang kini merekam kami. Bahkan, sesuai permintaanku, salah satu temanku yang bekerja sebagai wartawan majalah terkenal kini datang dan meliput kami. Tentu saja aku telah menceritakan kebohongan pada temanku itu, sama seperti kebohongan yang akan kuceritakan pada semua orang saat ini.

Aku membungkukkan badanku lalu tersenyum lebar. “Maafkan aku karena aku menghilang begitu saja selama 5 tahun ini. Mungkin banyak sekali berita tidak mengenakkan tentangku ketika aku menghilang, tapi aku berterimakasih pada semua orang yang selalu mempercayaiku selama ini.”

Aku menatap orang-orang di sekelilingku sambil tersenyum ramah. “Alasan sebenarnya aku pergi bukan karena aku terlibat narkoba seperti rumor yang selama ini beredar. Sebenarnya aku merasa sangat bosan dengan kehidupan selebritisku. Maafkan aku telah mengecewakan kalian.” Aku membungkukkan badan meminta maaf.

“Selama 5 tahun ini aku belajar banyak hal, termasuk menghargai karir-ku dan juga fans-ku. Mulai saat ini aku tidak akan mengecewakan kalian lagi. Aku akan kembali menjadi Kim Myung Hee yang dicintai semua orang. Tak lama lagi aku akan kembali ke layar lebar dan menghibur kalian semua. Aku juga mungkin akan merilis album baru dan bersaing di panggung musik dengan pria ini.”

Aku merangkul leher Myung Soo. “Perkenalkan, dia adalah Kim Myung Soo, atau yang lebih kalian kenal sebagai L dari grup Infinite. Dia adalah adik kandungku.”

******

Berita menyebar dengan begitu cepat di internet, televisi, koran, majalah, radio. Sejak kepulanganku ke Seoul kemarin, semua media membahas tentang diriku dan Myung Soo. Seperti yang kuharapkan, semua media menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.

Aku tinggal sementara di dorm Infinite sebelum menemukan apartemen yang cocok untukku. Berbagai tawaran drama dan film sudah mulai membanjiri agensi-ku. Agensi lamaku tetap mempertahankanku. Meskipun aku merasa bersalah pada mereka karena pergi begitu saja, tapi mereka memaafkanku. Mereka bahkan berjanji akan menggaji-ku berkali-kali lipat lebih besar.

Seperti sudah kuduga, skandal yang dialami oleh adikku langsung terlupakan oleh semua orang begitu aku muncul. Kini semua orang membahas tentangku, masa laluku, perkiraan karir-ku di masa depan, konferensi pers dadakan di bandara, dan banyak lagi hal tentangku.

Aku merasa hidupku kembali normal. Kupikir aku sudah lupa bagaimana caranya tertawa terbahak-bahak, tapi ternyata aku bisa. Teman-teman Myung Soo membuatku senang selama aku tinggal bersama mereka. Woo Hyun, Dong Woo, Sung Gyu, Sung Yeol, Sung Jong, Hoya, aku bersyukur mereka menjadi teman adikku.

Ya, kupikir hidupku kembali normal, tapi sepertinya aku salah. Kehidupanku tidak pernah bisa normal kembali sejak 5 tahun lalu. Kim Myung Hee tidak akan pernah bisa kembali menjadi Kim Myung Hee yang dulu.

Luka itu memang telah menutup, tapi bekas-nya masih terlihat. Perih-nya masih terasa nyata. Dan selamanya luka itu akan tetap menjadi luka.

“Nuna, ayooo lihat kami latihan dance…” Sung Yeol berkata manja padaku. “Nuna belum pernah melihat entertainment kami kan? Ayolah nunaaa. Kau bisa bertemu dengan Nell sunbaenim juga, kalian kan sudah lama tidak bertemu. Oh, kau bisa berkenalan dengan junior kami, Tasty!”

Aku tertawa dan menggeleng. “Tidak. Aku akan masak saja untuk kalian. Bagaimana?” Aku memunggungi Sung Yeol, berusaha menyembunyikan pandangan mataku yang mengeras.

Woo Hyun berjingkrak-jingkrak senang karena selama aku ada di sini dia jadi terbebas dari tugas memasak.

Myung Soo menatapku penuh arti. Aku tersenyum padanya. Myung Soo menghembuskan nafas panjang. Ia mendekatiku ketika teman-temannya sibuk berganti pakaian untuk latihan dance.

“Nuna, apa sebaiknya kau menemui dokter? Aku tahu kau tidak bisa tidur…”

Aku menepuk-nepuk pundak Myung Soo sambil tersenyum. “Aku baik-baik saja, Myung Soo~ya. Aku masih punya obat tidur. Aku memang sengaja tidak memakannya karena aku memang tidak ingin tidur.” Aku mulai membuka lemari pendingin dan mengeluarkan berbagai sayuran. Menghindari tatapan mata adikku.

“Nuna masih sering mengalami mimpi buruk?” tanyanya.

Aku masih memunggungi Myung Soo dan menggeleng. “Aku hanya tidak ingin tidur, Myung Soo~ya. Oh, cepatlah kau ganti pakaian. Teman-temanmu pasti menunggumu.” Aku mulai mencuci sayuran.

“Aku pergi dulu, nuna.” Setelah mengganti pakaian, Myung Soo kembali dan memelukku sekilas.

Aku tersenyum dan mengangguk. Myung Soo menatapku dengan tajam dan intens. Aku memalingkan mataku. Aku tahu, adik kecilku itu bisa menebak apa yang kupikirkan.

Aku terduduk lemas di lantai dapur yang dingin begitu Infinite pergi. Nafasku tersengal-sengal. Tanganku menggapai-gapai meja dan meraih botol air mineral. Dengan tangan bergetar, aku pun membuka tutup botol dan meminum air-nya sampai habis. Banyak sekali air yang tumpah di pakaianku.

Nafasku mulai teratur kembali. Aku tidak pernah menyangka ternyata satu kata itu bisa membangkitkan rasa sakitku. Padahal barusan Sung Yeol hanya menyebut nama grup-nya, bukan nama orang-nya!

Entahlah, apakah aku bisa menghadapi orang itu nanti atau tidak. Apakah aku bisa melaksanakan misi-ku? apakah aku bisa membalaskan dendamku? Tapi bagaimana caranya? Bagaimana bisa aku membalaskan dendamku bila mendengar namanya disebut saja sekujur tubuhku langsung terasa sakit?!

*****

Sudah satu minggu sejak aku kembali ke Seoul. Aku sudah pindah dari dorm Infinite dan mulai tinggal di apartemenku sendiri.

Aku juga sudah mulai disibukkan dengan syuting drama. Aku akan bermain drama dengan salah satu senior yang kuhormati, Song Seung Hun sunbaenim.

Siang itu, setelah selesai syuting, aku berkunjung ke salah satu café favoritku dan memesan pancake strawberry kesukaanku. Dulu aku sering sekali makan di sini bila sedang marahan dengan “orang itu”. Orang itu tidak tahu tempat ini. Ini adalah satu-satunya rahasia yang tidak kubagi dengannya. Tapi ternyata…..orang itu memiliki banyak sekali rahasia yang disembunyikan dariku.

Aku memakan pancake-ku dengan tenang sambil mendengarkan musik-musik klasik. Tidak banyak orang yang datang ke café ini karena harga-nya yang terbilang mahal. Tapi aku menyukai tempat ini karena rasa pancake-nya lebih enak dari pancake manapun yang pernah kumakan! Aku tidak peduli dengan harganya selama rasanya tetap se-enak dulu.

Aku sedang memikirkan tentang drama yang kubintangi sambil menyuapkan potongan kecil pancake ke mulutku, ketika tiba-tiba saja mataku menangkap sesosok pria yang tak asing bagiku.

Mataku membelalak lebar. Garpu yang kupegang jatuh dan berkelontangan ke atas piring. Dadaku terasa sesak dan bernafas menjadi sesuatu yang menyakitkan bagiku. Mataku buram. Ingin sekali rasanya aku melemparkan apapun ke wajah pria itu. Tapi aku hanya bisa terdiam sambil menggigil. Keringat dingin membanjiri wajah dan tubuhku.

Pria tinggi berambut cokelat kemerahan itu berjalan menghampiriku sambil tersenyum lebar, seolah tak terjadi apapun.

“Myung Hee~ya…” sapanya riang. “Kau benar-benar Myung Hee kan?”

“Aarrrgghhhh!!!!” aku menutup kedua telingaku begitu mendengar suaranya. “PERGI!!! PERGI KAU JUNG DAERYONG!!!!” Teriakku histeris. Beberapa pengunjung café menatapku dengan heran.

Sekujur tubuhku kini menggigil dengan hebat. Kepalaku terasa sangat sakit. Pandanganku berkunang-kunang.

Sebelum aku sempat meraih obat penenang dari dalam tas-ku, semuanya terlanjur gelap dan kosong.

******

Aku bermimpi. Tapi aku tahu mimpi ini bukan hanya sekedar mimpi. Mimpi ini adalah kilasan-kilasan masa laluku. Masa-masa paling bahagia dalam hidupku, sekaligus masa-masa paling gelap dalam hidupku.

*Flashback*

“Daeryong~ah!!!!!” panggilku dengan riang. Jung Daeryong sudah berdiri di belakang panggung. Ia tersenyum. Tangannya terentang lebar. Aku pun langsung berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Daeryong tertawa dan balas memelukku. Kemudian aku sadar, tubuhku basah penuh keringat, dan pasti aku juga tidak wangi. Cepat-cepat aku menjauh.

“Jangan dekat-dekat! Aku bau.” Aku memberenggut. Aku mengikat rambutku yang penuh keringat.

Daeryong mendekatiku dan memelukku lagi. “Aku tidak peduli.” Katanya. “Selamat karena konser pertama-mu sukses berat! Aku sekarang benar-benar menjadi fans-mu.”

Aku memukul lengannya dengan keras. “Jadi selama ini kau tidak nge-fans padaku? Kau baru nge-fans padaku setelah aku melakukan konser pertamaku?”

Daeryong tertawa. Gigi taringnya yang tak rata membuat wajahnya terlihat semakin tampan. “Dulu aku mencintaimu karena kau adalah Kim Myung Hee yang bodoh pelajaran Fisika, tapi sekarang aku tetap mencintai Kim Myung Hee yang dulu ditambah Kim Myung Hee si penyanyi hebat.”

Aku tertawa mendengar kata-kata konyol Daeryong. “Besok kau harus mengajariku Fisika dan Kimia ya! Aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri. Masa mega bintang dapat nilai ujian nol besar?!”

Kami pun tertawa. Daeryong mengacak-acak rambutku penuh sayang.

 

 

@Rumahku….

Aku dan Daeryong merayakan hari jadi kami yang ke-5. Sekarang kami sudah sama-sama berusia 19 tahun. Sudah 4 tahun sejak konser pertamaku digelar. Sudah 4 tahun aku menjadi diva yang diidolakan banyak orang. Tapi bagiku, Jung Daeryong tetaplah nomor 1.

Hari ini Daeryong sengaja bolos dari kampusnya hanya untuk mempersiapkan pesta. Dari pagi kami berbelanja banyak makanan dan minuman. Kami memasak bersama makanan-makanan favorit kami. Aku bahkan mengusir Myung Soo malam ini agar dia menginap saja di rumah temannya agar aku bisa bersama Daeryong.

Tidak ada yang membuatku lebih bahagia dalam hidupku selain bersama dengan Daeryong. Aku bisa menyerahkan apapun untuk Daeryong, termasuk karir-ku sebagai penyanyi dan aktris jika Daeryong memintanya. Tapi Daeryong mendukungku. Dia selalu mendukungku dan menghargai semua keputusanku. Karena itulah aku semakin mencintai Daeryong.

Aku sedang memotong pudding cokelat favorit Daeryong ketika tiba-tiba aku merasakan Daeryong memelukku dari belakang. Aku tersenyum. Daeryong menyandarkan dagu-nya di bahu-ku. “Belum selesai?” tanyanya.

Aku tertawa. “Kau sudah tidak sabar ingin memakan pudding ini ya? Tunggu sebentar lagi…”

Daeryong mengecup leher-ku dalam-dalam. Ia juga semakin mempererat pelukannya. Punggungku menyentuh dada-nya yang bidang.

“Oke,,,sudah selesai. Ayo kita makan!” kataku riang. Aku berjalan menuju meja makan, dan tertawa geli karena Daeryong masih memelukku dari belakang. Ia berjalan di belakangku, lalu menarikku duduk di atas pangkuannya.

Daeryong menyuapi-ku. “Aaaaa….” Katanya. Aku pun memakan pudding itu dan balas menyuapi Daeryong.

Saat itu aku merasa sangat bahagia. Aku bahagia kapanpun Daeryong bersamaku. Aku bahagia telah mengenalnya dan jatuh cinta padanya.

 

 

Saat ulang tahunku yang ke-20, aku mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada saat itu, tapi aku merasa sangat senang. Hal paling menyenangkan ke-2 setelah Daeryong.

Selama beberapa hari ke belakang, aku mengalami mual-mual dan sakit kepala hebat. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan yang lalu aku sering mengalami mual tiba-tiba. Saat itu aku berpikir mungkin karena jadwalku yang sangat padat. Tapi beberapa hari ke belakang, rasa mual dan pusing itu semakin menjadi-jadi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi dokter pada pagi hari di hari ulang tahunku yang ke-20. Aku tidak mau tiba-tiba saja harus pingsan saat pesta ulang tahunku nanti malam. Ya, nanti malam aku akan mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang banyak sekali teman-temanku.

Aku kaget saat dokter memberitahuku ternyata di dalam rahimku sudah tumbuh seorang bayi. Oh, bukan hanya seorang, melainkan 2. Sepasang bayi kembar. Dokter berkata usia bayi itu sudah 4 bulan. Dokter juga melakukan USG dan memberitahuku bahwa bayi-ku adalah laki-laki dan perempuan.

Saat itu aku menangis bahagia. Saat itu aku tidak memikirkan bagaimana karir-ku nanti. Aku sama sekali tidak peduli! Yang kupedulikan adalah bayiku. Itu adalah hal paling luar biasa yang terjadi dalam hidupku. Aku mengandung bayi Daeryong. Aku bisa membayangkan bagaimana bahagianya Daeryong nanti. Aku tahu umur kami masih sangat muda. Tapi bukankah itu semua tidak masalah? Aku akan dengan senang hati melepaskan karir-ku dan menjadi ibu dan istri yang baik.

Saat itu aku terus-menerus tersenyum. Aku ingin sekali menelepon Daeryong dan memberitahunya saat itu juga, tapi aku menahannya dan berencana memberikannya kejutan ini nanti malam di pesta ulang tahunku.

 

Daeryong tidak datang ke pesta ulang tahunku. Aku sangat kecewa. Ini adalah pertama kalinya Daeryong tidak datang dan sama sekali tidak memberi kabar.

Selesai pesta, aku menangis di kamarku. Myung Soo menenangkanku. Soryong (kembaran Daeryong) juga berusaha menenangkanku. Soryong bilang mobil Daeryong mogok sehabis latihan dance. Daeryong dan Soryong memang sudah menjadi trainee sebuah agensi beberapa tahun lalu.

Saat itu aku sama sekali tidak curiga. Harusnya aku curiga karena Soryong ada di sini tapi Daeryong tidak. Aku hanya terus menangis, tapi tiba-tiba saja Daeryong masuk ke dalam kamarku sambil membawa dua buah boneka berukuran jumbo. Boneka itu mirip sekali denganku dan Daeryong! Boneka replika kami.

Daeryong langsung memelukku dan berkata bahwa ia sengaja datang terlambat karena ia ingin kehadirannya special. Aku hanya menangis dan memukul dadanya dengan keras. Daeryong hanya tersenyum dan mengelus-elus kepalaku.

“Daeryong Pabo! Kau bukan hanya membuatku menangis, tapi anak kembar kita juga.” Aku menghapus air mataku dan tersenyum.

Daeryong membelalakkan matanya. “Mwo?”

“Aku memang pabo, Daeryong~ah. Aku tidak menyadari ada bayi di dalam perutku. Tadi pagi aku menemui dokter dan dokter berkata bayi ini sudah berumur 4 bulan lebih 2 minggu. Dan bayi-nya kembar laki-laki dan perempuan.”

Kupikir Daeryong akan menangis bahagia, tapi ia hanya terdiam menatapku dengan ekspresi syok. Aku tersenyum dan mengelus-elus kepalanya. “Aku rela meninggalkan dunia akting dan musik demi bayi kita, Daeryong~ah. Aku akan menjadi ibu yang baik. Oh ya, bagaimana kalau kita menikah di padang rumput penuh bunga? Aku selalu menginginkan pernikahan outdoor, dan…..”

“Tidak.” Daeryong menggeleng, memotong perkataanku. Sorot matanya memancarkan ketakutan. Ia bangkit berdiri dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.

“Aku tidak bisa.” Daeryong menggelengkan kepalanya. “Aku akan debut bulan depan. Aku akan tinggal di Amerika. Aku tidak bisa membesarkan bayi itu bersamamu. Apakah sudah terlambat? Apakah masih bisa menggugurkan bayi itu?”

Saat itu air mataku mengalir dengan deras. Aku tidak pernah mengira Daeryong akan berkata seperti itu. Kupikir ia sama bahagia-nya denganku.

“TIDAK! AKU TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH BAYI-BAYIKU!!!” jeritku sambil berurai air mata.

Daeryong mendekatiku dan meletakkan kedua tangannya di bahuku. Ia menatapku lurus-lurus. “Myung Hee~yah.., pikirkan bagaimana masa depanmu. Kau adalah penyanyi dan aktris yang hebat. Apakah kau rela melepaskan semua itu hanya demi bayi ini? Kau masih muda Myung Hee~yah.., di masa depan kita masih bisa….”

“TIDAK!!!!” Aku menutup kedua telingaku dengan tangan. “Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi! Aku menginginkan bayi-bayi ini!”

“TAPI AKU TIDAK!” teriak Daeryong. “Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana dengan…”

“DIAM!!! DIAM KAU JUNG DAERYONG!!” Jeritku histeris. “Aku akan membesarkan bayi ini sendiri! Bagaimana mungkin kau tega membunuh bayi-bayi ini? Bayi-bayi kita!!! Aku tidak membutuhkan seorang pembunuh sepertimu!” air mataku terus mengalir. Aku membuka pintu kamarku dan membantingnya dengan keras.

“Myung Hee~yah!!!” Daeryong berlari mengejarku. Aku terus berlari dan menuruni tangga rumahku dengan cepat. Air mata membuat pandanganku buram. Kaki-ku terkilir dan aku pun jatuh berguling-guling di tangga.

“KIM MYUNG HEEE!!!!!!”

Detik berikutnya, yang kurasakan hanyalah rasa sakit yang luar biasa, sebelum akhirnya hanya kegelapan-lah yang menyelimutiku.

 

 

Beberapa hari berikutnya, aku terbangun di ranjang rumah sakit. Aku merasakan sesuatu yang hampa di dalam hatiku. Dan detik itu pula aku tahu bayi kembarku telah meninggal. Bayi kembarku meninggal sebelum mereka sempat menghirup nafas di luar rahim-ku dan melihat dunia ini.

Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan keteledoranku. Seandainya saat itu aku tidak berlari di tangga maka aku tidak akan terjatuh, maka bayi-bayiku akan tetap hidup.

Seandainya Daeryong tidak egois. Seandainya Daeryong juga sama bahagia-nya denganku, maka bayi-bayi kami akan tetap hidup.

Aku menangis histeris. Aku benci Jung Daeryong! Aku benci diriku! Aku benci semua hal tentangku! Aku benci semua kebodohanku! Aku benci semua hal tentang Jung Daeryong! Aku menyesal karena telah mempercayainya dengan segenap hatiku.

“Myung Hee~yah….” Tiba-tiba saja Daeryong masuk ke dalam kamar rumah sakit.

Aku melemparinya dengan bunga, piring, bantal, dan apapun yang bisa kuraih. Aku tidak memedulikan rasa sakit di sekujur tubuhku. “PERGI KAU JUNG DAERYONG!!! PERGI!!! AKU BENCI KAU!!!!”

“Myung Hee~yah.., ini aku Soryong…”

“PERGII!!! Aku tidak mau melihatmu Jung Daeryong!!!!”

“Myung Hee ~yah…, aku Soryong…”

“PERGIIIII!!!!” Air mataku mengalir dengan deras. Myung Soo berlari masuk ke dalam kamar dan memelukku. Menenangkanku.

Sejak saat itu duniaku berubah. Aku bukanlah Kim Myung Hee yang dulu lagi. Aku berubah menjadi wanita penakut yang menjerit histeris dan menangis mendengar suara tawa pria. Aku menangis saat melihat hujan. Aku membenci semua makanan yang Daeryong sukai. Aku merasa kepalaku sakit luar biasa saat seseorang menyentuh pundakku. Aku bahkan menjerit histeris saat ada yang berusaha memelukku, termasuk adikku sendiri.

Aku melempari orang-orang di sekitarku dengan barang-barang. Aku menjerit pada mereka. Aku mengurung diriku di dalam kamar sepanjang hari. Aku takut bertemu orang lain.

Daeryong menghilang entah ke mana dan akupun tidak peduli. Karena bila aku melihatnya, aku pasti akan membunuhnya. Dia telah membunuh bayi-bayiku. Dia melenyapkan bayi-bayiku yang tak berdosa!

Saat itu ayah dan ibuku tidak ada di rumah. Mereka sudah tinggal terpisah dan sedang mengurus surat perceraian. Aku sudah mulai bisa menerima keberadaan Myungsoo. Otak-ku sudah mulai mengenalinya lagi. Aku meminta MyungSoo merahasiakan ini dari ayah dan ibu kami. Aku juga meminta Myung Soo membawaku ke Baltimore, kota yang terlintas begitu saja di dalam kepalaku saat itu.

 

*End of Flashback*

Aku meraba mataku. Basah. Bahkan dalam tidur-pun aku menangis. Dalam tidur-pun aku masih bisa mengingat Jung Daeryong. Karena itulah aku tidak ingin tidur. Aku harus meminum obat tidur agar tidurku lelap dan tanpa mimpi-mimpi tentang Daeryong.

Aku duduk dan mengamati sekelilingku. Kamar ini luas dan bersih. Kamar siapa ini? Kenapa aku ada di sini? Kemudian aku ingat. Aku pingsan saat di café. Siapa yang membawaku kemari? Yang pasti bukan Jung Daeryong. Dia meninggalkanku saat aku memberitahukan tentang bayi kami padanya, jadi sekarang pun dia pasti berlari meninggalkanku ketika aku hanya pingsan.

Seorang pria tinggi, memakai topeng kamen rider masuk dan meletakkan bubur di samping tempat tidur. “Makanlah…” kata pria bertopeng itu. Aku mengernyitkan dahiku. Rasanya aku mengenal suara ini.

“Siapa kau?”

Pria bertopeng itu hanya terdiam dan terus saja berdiri menatapku.

Aku merapatkan selimut di tubuhku. “KAU! Jangan-jangan kau stalker! Jangan-jangan kau sassaeng fans yang menculikku!”

“Hahahahaha…” pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak. Ia duduk di sampingku dan meraih bubur. “Tenang saja. Aku bukan sassaeng fans. Aku temanmu. Ayo makan…”

Aku menggeleng. “Tidak mau! Siapa tahu kau menaruh racun di bubur itu!”

Pria bertopeng itu tertawa lagi. Ia pun membuka penutup mulut topeng dan menyuapkan bubur itu ke mulutnya, lalu menelannya. “Lihat kan? Aku baik-baik saja. Tidak ada racun.”

Aku masih menatap pria di balik topeng besi seperti kamen rider itu. Pria itu meletakkan buburnya di pangkuanku, kemudian berdiri. “Aku akan mengambil sendok lagi.” katanya.

Beberapa saat kemudian pria bertopeng itu datang lagi membawa sendok bersih. Ia meletakkan sendoknya di tanganku. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh tanganku. Aku meraih tangan itu dan melihat bekas luka sayatan di telapak tangan kanannya. Aku tahu betul siapa orang yang memiliki bekas luka ini. Luka yang ia dapatkan 10 tahun lalu saat ia berusaha menyelamatkanku dari geng penculik. Saat itu ia memecahkan kaca dengan tangannya, demi menyelamatkanku. Tapi saat itu aku malah berlari ke pelukan saudara kembarnya, bukan padanya.

“Soryong….” Bisikku. Aku menahan air mataku agar tidak terjatuh. Aku tahu sejak dulu Soryong adalah teman yang baik. Aku juga tahu dia menyukaiku lebih daripada teman. Tapi saat itu aku mencintai Daeryong. Di mataku hanya ada Daeryong. Meskipun mereka berdua kembar identik, tapi bagiku Daeryong lebih tampan dan menarik. Daeryong lebih pintar dan lebih populer. Daeryong bisa membuat jantungku berdebar keras sementara Soryong tidak. Senyuman Daeryong bisa membuat kakiku lemas, sementara Soryong tidak.

Tapi Soryong selalu ada di saat aku menangis. Sementara Daeryong tidak.

Soryong ada ketika aku kehilangan bayi-bayiku, sementara Daeryong tidak.

Dulu aku mengusir Soryong karena aku takut melihat wajahnya. Aku takut akan membunuhnya karena ia sangat mirip dengan Daeryong. Aku benci melihat wajahnya karena ia sangat mirip dengan Daeryong.

“Myung Hee~yah…, apakah kau baik-baik saja? Aku sudah menelepon Myung Soo dan….”

Aku memotong kata-kata Soryong. “Soryong~ah…” perlahan kedua tanganku menyentuh topeng yang ia kenakan. Soryong memegang tanganku dan menahannya. Ia menggeleng. “Aku tidak mau melihatmu menangis.” katanya.

Aku tersenyum meskipun hatiku terasa sakit. “Maafkan aku, Soryong~ah…”

Soryong memelukku dan mengusap-usap punggungku lembut. Ya, seperti inilah Jung Soryong yang kukenal. Bahkan sejak dulu pun ia selalu menghiburku ketika aku menangis karena Daeryong.

******

Hari-hari berikutnya, Soryong datang ke apartemenku. Aku kaget karena tiba-tiba saja Soryong sudah berdiri di depan apartemenku sambil membawa sekeranjang penuh buah kiwi favoritku.

Soryong masih memakai topeng kamen rider-nya. Ia bahkan memakai topengnya saat mengunjungiku di lokasi syuting drama. Para kru mengira ia adalah pacarku dan terlalu malu untuk tampil di hadapan publik. Soryong juga tidak memedulikan tatapan aneh orang-orang, ataupun orang-orang yang menertawakannya karena memakai topeng kamen rider ketika ia berjalan bersamaku di pusat perbelanjaan.

Aku tidak pernah menduga ternyata selama ini aku merindukan Soryong. Kami bercerita apa saja seperti dulu. Kami bermain uno blok sambil menjerit-jerit keras dan tertawa keras ketika salah satu dari kami menjatuhkan balok-balok itu.

Ya, seperti inilah aku dan Soryong yang dulu. Sebelum aku bertemu Daeryong.

Aku mengenal Soryong lebih dulu saat kelas 3 junior high school. Saat itu kami satu tempat les matematika. Kami berteman baik mulai saat itu. Kami melakukan hal-hal konyol bersama. Kami berpesta ice cream saat nilai ujian Matematika (pelajaran yang sangat kami benci) ternyata cukup lumayan bagus.

Aku sangat senang karena ternyata kami masuk ke senior high school yang sama. Saat itulah aku bertemu Daeryong, kembaran Soryong. Saat itulah aku jatuh cinta pada Daeryong dan mulai melupakan persahabatanku dengan Soryong.

Drama-ku sudah mulai ditayangkan di televisi dan mendapatkan rating yang bagus. Soryong juga memberitahuku bahwa ia sedang comeback ke panggung musik dengan lagu barunya.

Soryong tidak memintaku mendengarkan lagunya maupun melihat videonya. Aku juga tidak mau melihatnya karena aku pasti akan melihat Daeryong juga. Ya, Soryong dan Daeryong sudah debut sebagai duo “Tasty”, setelah mereka pindah dari agensi lama mereka ke agensi yang baru yaitu agensi yang sama dengan Infinite.

Soryong masih sering menemuiku di tengah kesibukannya. Tentu saja ia juga masih memakai topeng kamen rider-nya. Para fans-ku mulai membicarakan si pria bertopeng kamen rider yang selalu terlihat bersamaku. Fansku menduga-duga siapa pria itu. Sejak dulu aku tidak terlalu mempermasalahkan pendapat fans, maka aku pun cuek saja.

Soryong selalu menonton drama-ku. Ia pasti meneleponku setelah selesai menonton drama-ku di TV. Suaranya akan terdengar serak karena menangis.

Ya, drama yang kubintangi adalah melodrama yang banyak menguras air mata. Kurasa tidak terlalu sulit bagiku memerankan karakter-ku di drama itu, mengingat aku telah melalui banyak hal yang lebih menyedihkan darinya.

Di tengah kesibukanku syuting drama, CEO agensi-ku memintaku mempersiapkan comeback album baru-ku. Katanya para fans sudah sangat merindukan suaraku dan ingin agar aku segera comeback ke dunia musik. Aku sudah menyiapkan beberapa lagu hasil ciptaanku dan sedang mendiskusikannya dengan produser.

Soryong bahkan menyumbangkan ide-nya dalam composing. Ia juga menambahkan beberapa kalimat rap dalam laguku dan aku bahkan sempat berpikir untuk duet dengannya.

Aku tahu semua ini sangat tidak adil bagi Soryong. Ia telah mengorbankan banyak hal untukku, tapi aku malah menyakitinya. Aku tidak mau melihat wajahnya karena mirip dengan Daeryong. Aku hanya ingin mendengar suaranya, karena suaranya berbeda dengan Daeryong. Aku hanya ingin melihat telapak tangannya yang ber-bekas luka, karena aku tahu ia-lah yang menyelamatkanku dulu. Tanpanya, mungkin sekarang aku tidak pernah ada.

Aku berhutang banyak hal pada Soryong, tapi aku tidak bisa memberinya apapun. Hatiku masih penuh luka, darah, dan nanah. Aku juga merasa tidak layak memberikan hatiku yang telah membusuk pada orang se-baik Soryong.

Hari ini ulang tahun Soryong. Aku tahu ini juga hari ulang tahun Daeryong, tapi aku tidak mau mengingatnya.

Aku memasak makanan untuk Soryong sepulang syuting. Soryong berjanji akan datang sepulang recording acara musik mingguan nanti.

Aku sudah menyiapkan banyak games favorit kami. Ular tangga, uno blok, monopoli, play station.

Pukul 7 malam, Soryong datang. Ia langsung terduduk lemas di sofa dan bercerita panjang lebar tentang harinya yang super melelahkan. Aku merasa bersalah padanya karena sekarang ia pasti sangat kepanasan tapi harus tetap memakai topeng itu. Aku pun meraih kipas dan mengipas-ngipasi wajahnya yang tertutup topeng. Soryong tertawa dan menggelitiki pinggangku. Kami tertawa terbahak-bahak sampai tiduran di lantai.

Soryong melahap habis semua makanan yang kusajikan. Syukurlah karena topeng itu memiliki mulut yang bisa dibuka. Tapi tetap saja…. aku merasa bersalah pada Soryong. Bukan salah Soryong bila ia memiliki wajah yang identik dengan Daeryong.

Kami duduk di sofa sambil memakan tteokpoki. Soryong sangat menyukai tteokpoki. Perlahan aku pun mendekati Soryong dan meletakkan kedua tanganku di pinggir topengnya. Soryong berhenti makan dan menatapku.

“Soryong~ah.., maafkan aku…” kataku pelan.

Soryong menggeleng dan melepaskan tanganku dari topengnya. “Jangan.., kau pasti akan terluka melihat wajahku.” Kata Soryong. Meskipun ia berusaha menyembunyikannya, tapi aku bisa merasakan nada kecewa dalam suaranya.

“Tapi ini tidak adil! Aku ingin melihatmu, melihat matamu, melihat senyumanmu, tapi…..”

Soryong menggenggam kedua tanganku. “Bukankah dunia ini memang tidak adil?” kata Soryong dengan nada getir.

“Seandainya dulu kau tidak mengenalku, mungkin kau tidak akan…”

“Aku senang bisa mengenalmu, Soryong~ah.” Potongku. “Maafkan aku. Semua ini karena aku terlalu takut melihat wajah orang itu melalui dirimu. Apakah kau bisa memaafkanku Soryong~ah?” air mataku menetes.

Soryong menghapus air mataku dengan jari-jarinya yang hangat. “Tidak perlu minta maaf. Semua ini justru karena kebodohanku. Karena aku pengecut. Karena seandainya dulu aku cukup berani untuk mengungkapkan perasaanku, seandainya dulu aku cukup berani untuk merebutmu dari-nya…..”

Aku menggeleng dan langsung memeluk Soryong dengan erat. “Terima kasih, Soryong~ah.., terima kasih karena kau selalu ada untukku. Terima kasih karena tidak membenciku. Terima kasih karena telah menyukaiku. Tapi aku tidak pantas untukmu. Aku tidak mungkin memberimu hati-ku yang busuk ini dan tubuhku yang telah rusak ini. Aku tidak pantas mendapatkan pria sebaik dirimu, Soryong~ah…”

Soryong memelukku semakin erat. “Tidak ada yang berubah. Bagiku…kau tetaplah Kim Myung Hee yang sama dengan Kim Myung Hee yang kutemui 11 tahun lalu. Kau tetaplah Kim Myung Hee, satu-satunya wanita yang ingin kulindungi seumur hidupku. Aku akan menunggumu, Myung Hee~yah. Aku bahkan bersedia mengoperasi wajahku agar tidak sama lagi dengannya…..aku…”

Aku memegang kedua pipi topengnya dan menatapnya lewat mata topengnya lekat-lekat. “Kau tidak perlu merubah apapun, Soryong~ah. Aku…, bisakah aku membuka topengmu sekarang? Bisakah kau terus menerus memanggil namaku di saat aku membuka topengmu? Karena aku akan tahu ini adalah Jung Soryong. Suaramu adalah suara Jung Soryong. Bisakah kau terus memanggil namaku?”

Soryong mengangguk. Aku tersenyum. Menarik nafas panjang, kemudian memejamkan mataku sejenak. Perlahan aku membuka mataku dan mengulurkan tanganku ke topeng Soryong.

“Kim Myung Hee…, Myung Hee~yah…, Myung Hee~yah…” seperti permintaanku, Soryong terus memanggil namaku.

Aku pun membuka topeng Soryong. Wajahnya sekarang bisa kulihat dengan jelas. Aku tahu, wajah ini juga wajah yang kubenci. Tapi ini Soryong, bukan Daeryong. Suara ini adalah suara Soryong. Wajah ini juga wajah Soryong.

“Soryong~ah…, gomawo.” Kataku sambil berurai air mata. Soryong memelukku dan terus memanggil namaku. Terima kasih, Jung Soryong. Hanya itulah yang bisa kukatakan padamu saat ini.

*******

Sudah 2 minggu berlalu sejak aku membuka topeng kamen rider Soryong. Kurasa aku juga sudah terbiasa melihat wajahnya. Kini, meskipun aku masih mengingat Daeryong, tapi aku berusaha menyingkirkan bayangan Daeryong dari Soryong.

Para kru drama yang awalnya histeris melihat Soryong datang ke lokasi syuting, (beberapa stylist dan writer adalah fans Tasty, dan sangat kaget saat tahu ternyata si pria bertopeng kamen rider adalah Soryong), kini sudah terbiasa dengan kehadiran Soryong.

Tak lama lagi drama yang kumainkan akan berakhir. Tak lama lagi aku akan merilis album baruku. Sepertinya keinginanku untuk duet bersama Soryong harus ditunda karena Soryong sangat sibuk dengan album-nya. Tapi aku senang karena bisa duet dengan adikku dalam album baruku.

Siang itu, ketika syuting drama yang terakhir dilakukan, aku duduk di dekat sutradara, seperti biasa menunggu Soryong datang menjemputku.

Aku melihat lawan main-ku berakting lewat kamera, sehingga aku tidak sadar Soryong sudah berdiri di sampingku.

Sutradara menyapa Soryong hangat. “Oh, Soryong.., kau sudah datang?”

“Ne. Aku sudah datang.”

Mataku membelalak lebar. Meskipun semua orang bisa tertipu, tapi aku tidak. Aku terlalu mengenal suara ini.

Aku mendongak dan menatap pria itu takut-takut. Ia memakai topi. Menyembunyikan gaya rambutnya yang berbeda dengan Soryong.

Selama beberapa saat kami hanya saling tatap, sampai kemudian aku berdiri dan meninggalkannya. Sutradara menatapku dengan bingung. “Pergilah, Jung Daeryong! Aku tidak ingin melihatmu!” tukasku dingin.

“Myung Hee~yah…” Daeryong berlari mengejarku dan berhasil mencengkram lenganku.

Aku menatap Daeryong penuh kebencian. Tadinya aku berniat balas dendam padanya. Aku ingin menghancurkannya. Aku ingin membuatnya lebih menderita dariku.

Tapi wajah ini….wajah ini juga bukan hanya milik Daeryong. Wajah ini juga milik Soryong. Aku tidak bisa membayangkan menghancurkan wajah ini lagi, karena sekarang aku melihat Soryong melalui Daeryong.

“Lepaskan aku, Jung Daeryong!” aku menghentakkan tangannya dari lenganku.

“Myung Hee~yah.., maafkan aku. Maaf karena dulu aku tidak bisa berpikir jernih. Maaf karena aku egois dan….”

“Apakah semua itu sekarang penting, Jung Daeryong? Kau pikir semua penyesalan itu ada gunanya?” bentakku dengan mata berapi-api. Air mata mulai mengaburkan pandanganku.

Daeryong menundukkan wajahnya. Ia terlihat benar-benar menderita, tapi aku tidak ingin memaafkannya. Aku ingin membuatnya lebih menderita dengan menanggung dosa itu se-umur hidupnya.

Air mata Daeryong menetes. Inilah pertama kalinya aku melihat Daeryong menangis. Ia mengangkat wajahnya dan menatapku. “Semua itu memang tidak ada gunanya. Tapi.., bisakah kau memberiku kesempatan lagi? Hidupku tidak pernah sama lagi setelah kau pergi, Myung Hee~yah…”

“KAU PIKIR HIDUPKU TETAP SAMA SETELAH BAYI-BAYIKU MENINGGAL?” jeritku. Air mataku mengalir deras. “Jung Daeryong, pergilah. Aku tidak mungkin bisa memaafkanmu. Pergilah. Hanya itu yang kuminta darimu saat ini.”

“Myung Hee~yah…” Daeryong mengulurkan tangannya, tapi aku menghindar dengan berjalan mundur sampai kemudian terjatuh di rerumputan di bawah pohon.

“Myung Hee!!!” aku mendengar suara Soryong. Ia berlari ke arahku. Ia dan Daeryong saling tatap tajam. Tangan Daeryong masih terulur padaku. Kini, Soryong pun mulai mengulurkan tangannya.

Aku tahu tangan siapa yang ingin kuraih saat itu. Aku tahu tangan siapa yang ingin kujadikan sandaran saat itu.

Tapi aku tidak mungkin terus-menerus bersandar padanya. Aku tidak mungkin selalu berlari padanya ketika aku menangis. Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Aku tidak ingin menyakiti Soryong lagi.

Aku juga ingin meraih tangan Daeryong, karena meskipun aku sangat membencinya, dia juga-lah pria yang dulu sangat kucintai. Aku ingin memberikan kesempatan lagi padanya, tapi aku terlalu takut.

Aku juga takut dengan diriku sendiri. Karena kini aku tidak tahu lagi siapa yang ada di dalam hatiku. Daeryong? Atau Soryong?

Maka aku pun bangkit berdiri sendiri. Aku mengabaikan kedua tangan yang terulur itu.

Aku pun berjalan pergi meninggalkan si kembar tanpa menoleh lagi ke belakang.

*******

Satu minggu berlalu dengan sangat lambat. Soryong selalu menghubungiku, tapi aku mengabaikannya. Aku juga me-reject setiap panggilan Daeryong di ponsel-ku. Meskipun aku tetap membiarkan panggilan Soryong tanpa menjawabnya, dan me-reject panggilan Daeryong, tapi aku sama-sama mengabaikan mereka.

Aku masih takut dengan keputusan yang harus kuambil. Aku takut menyakiti Soryong.

Dua minggu, tiga minggu, satu bulan. Selama itulah aku tidak penah bertemu Soryong lagi. Walaupun begitu, Soryong masih selalu mengirimiku message. Aku tidak membalas satu pun message-nya.

Hari ini adalah comeback-ku yang pertama kali di panggung musik setelah 5 tahun vakum. Dua hari lalu MV-ku telah di-rilis di account youtube official agensi-ku dan mendapatkan sambutan yang sangat positif. Tiga hari lagi album baru-ku akan di rilis, dan sekarang saatnya aku mempromosikan lagu andalan album baru ini.

Aku duduk sambil menatap cermin di ruang ganti. Hanya ada aku di ruangan itu. Sekali saja dalam hidupku, aku ingin melakukan hal sesuai hatiku, meskipun aku takut. Sekali ini saja aku ingin mempercayai lagi orang lain. Sekali ini saja aku ingin mempercayai diriku sendiri lagi.

Aku tidak tahu apakah orang itu akan mempercayaiku atau tidak. Aku hanya ingin menyerahkan semuanya pada takdir.

MC acara musik mingguan kali ini adalah Woo Hyun dan Dong Woo. Aku diwawancara sebelum tampil di atas panggung.

“Kim Myung Hee sshi, kudengar lagu comeback-mu kali ini bernuansa pop dance. Bisa kau jelaskan mengenai lagu barumu ini?” tanya Woo Hyun. Aku ingin tertawa melihat aktingnya. Padahal biasanya dia selalu memanggilku “nuna-nuna” dengan nada cheesy dan manja. Aku bersyukur karena Woo Hyun bukanlah adik kandungku! Aku tidak bisa membayangkan memiliki adik seperti Woo Hyun. Mungkin aku akan stress.

“Ne. Promotional song album baru-ku memang bernuansa pop dance dan aku sangat senang dengan tanggapan kalian semua terhadap MV baru-ku ini. Tapi, Woo Hyun sshi, Dong Woo shi, kali ini aku akan menampilkan kejutan untuk para fans-ku.”

“Woaaahhh.., kejutan apa Myung Hee sshi?” tanya Dong Woo sopan.

Aku tersenyum ke arah kamera. “Mungkin kalian merasa kecewa karena ternyata hari ini aku tidak akan menyanyikan promotional song-ku, melainkan salah satu lagu di album baruku. Lagu ini adalah salah satu lagu yang kutulis untuk seseorang.”

“Huwaaaahhhhh…, aku penasaran sekali, Myung Hee sshi. Benar kan Dong Woo shhi?”

“Ne. Fans-fansmu pasti akan merasa beruntung karena bisa mendengarkan lagu-mu yang belum dirilis…”

Aku tersenyum lagi. “Kuharap begitu. Aku juga berharap Tuan kesatria bertopeng kamen rider menonton acara ini di rumah, karena lagu ini special kutulis dan kunyanyikan untuknya.” Kataku pada Woo Hyun dan Dong Woo. Kemudian aku menatap kamera.  “Kamen Rider bertopeng, lagu ini special untukmu. Kau, fans pertamaku, bahkan sebelum aku memulai debut menyanyiku.” Aku tersenyum. “Take my hand….” Kataku.

Kemudian aku pun naik ke atas panggung dan bersiap untuk menyanyi. Para fans mendukungku. Aku tahu CEO-ku akan marah besar setelah ini berakhir, tapi aku tidak peduli. Aku pun meraih gitar-ku dan duduk di kursi yang telah disediakan oleh kru acara secara mendadak. Aku tahu semua kru kebingungan karena aku tiba-tiba saja merubah lagu di detik terakhir. Aku bahkan tidak membawa rekaman instrument untuk lagu ini. Maka aku pun memutuskan untuk membawakannya secara akustik.

Lagu “Take My Hand” ini bernuansa ballad. Lirik-nya menggambarkan tentang diriku dan Soryong.

Perlahan aku pun mulai memetik gitar-ku dan mulai menyanyikan nada-nada lembut lagu yang kuciptakan. Kuharap lagu ini sampai padamu, Jung Soryong, di manapun kau berada.

Ketika tiba di akhir acara dan pengumuman pemenang chart musik hari ini, aku hanya berdiri di belakang bersama Myung Soo. Aku tidak mengharapkan kemenangan, karena aku tahu setelah 5 tahun aku menghilang dari dunia musik, semakin banyak penyanyi-penyanyi berbakat dan hebat yang bermunculan, termasuk Infinite. Lucu sekali karena sekarang aku bersaing dengan adikku sendiri di atas panggung.

Myung Soo menggenggam tanganku. Aku merangkul bahu-nya brotherly. Aku tidak mendengar apa yang Woo Hyun dan Dong Woo katakan, sampai kemudian semua orang memberiku selamat dan Myung Soo menarikku ke depan.

Aku menang! Aku tidak percaya aku bisa menang!

Woo Hyun menyerahkan piala padaku. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada CEO-ku, produser, manager, coordi, dan lain-lain. Ketika aku selesai mengucapkan terima kasihku pada teman-temanku dan pada para fans, tiba-tiba saja semua orang bergumam takjub.

Seorang pria memakai jas putih dan memakai topeng kamen rider baru saja muncul dari balik panggung dan kini berjalan di panggung. Ia mendekatiku sambil membawa sekeranjang buah kiwi.

Mataku memanas. Aku tidak pernah mengira hari ini akan tiba. Hari di mana aku bisa yakin dengan apa yang kurasakan. Hari di mana aku bisa memaafkan Daeryong dan diriku sendiri. Hari di mana aku bisa membuka hatiku untuk Soryong.

Soryong berjongkok ala kesatria dan menyerahkan keranjang berisi kiwi itu padaku. Aku meraihnya dan langsung memeluk Soryong.

Aku menangis bahagia. Aku telah mengikhlaskan segala yang terjadi di masa lalu. Aku telah memaafkan semua kesalahan di masa lalu. Aku telah mempercayakan hidupku di atas tangan takdir, maka aku pun kini mendapatkan balasannya.

Jung Soryong…, mulai saat ini aku hanya akan menggenggam tanganmu.

Jung Soryong…, mulai saat ini aku hanya akan melihatmu.

Terima kasih karena telah menerimaku dengan sepenuh hatimu.

Mencintai Daeryong bukanlah suatu kesalahan, melainkan pembelajaran.

Kehilangan bukanlah akhir dari hidupku, melainkan kompensasi atas apa yang akan kudapatkan di masa depan.

Dan mencintaimu, Jung Soryong, adalah hal paling tidak terduga yang kualami dalam hidupku.

Terima kasih karena kau selalu mengulurkan tanganmu padaku. Baik dulu maupun sekarang.

Sekarang aku tidak akan pernah lagi melepaskan tanganmu, Jung Soryong. Karena itu, genggamlah tanganku dengan erat.

====== The End =======

Notes : aaaarrgghhh!!! Gaje-gaje-gaje!!!! >_<

Semoga ada yang suka FF ini, meskipun aku ragu, karena mungkin alurnya kecepetan dan aku juga nulisnya bener-bener one-take tanpa henti dan tanpa proof reading, jadi mungkin banyak typo. Mianhae….>_<… tapi aku udah capek banget liat MV Tasty yang baru. *Lho, apa hubungannya?!* LOL

Jangan diambil hati yaaa semua yang diceritakan dalam FF ini hanya fiktif. Daeryong nggak jahat kok…>_<..

Justru bias aku itu Daeryong. Hahahaha.

Tapi aku juga suka Soryong. Ah tau deh! Suka dua-duanya. Sekarang aku nggak bisa milih.

Thank you buat yg baca FF ini, jangan lupa tinggalkan komentar yaa =)

4 thoughts on “[Oneshoot] Take My Hand

  1. Aku! Aku suka thor ma ff nya.
    hehe ^_^
    keren ceritanya.
    Walaupun ga terlalu tau tasty, tp krn kembar gampang bayanginnya.
    Pesan nya bagus. Walaupun banyak hal yg menyakitkan yg harus qta lewatin, tp akan ada saatnya kebahagiaan menghampiri kita.
    Dunia ini berputar ^_^.

    Bagus thor.
    Ttp semangat nulis ya…
    FIGHTING!!!

    *tp ada yg aneh. Emang klo hamil 4 bulan udah bs lihat jenis kelamin bayi ya? Hehe

    • Aaaaa….makasiiih… >_<
      Setelah aku baca ulang barusan ternyata emang bener ada beberapa typo

      Katanya sih udh bisa…soalnya pas kakak sepupuku hamil 4 bln dia udh bs liat bayinya cewek atw cowok, tp hasil usg jg suka salah katanya. Hahhha. Gak tau deh…mungkin di masa depan klo kita ngalamin sendiri jd tau. LoL

      Gomawoo udh baca + comment :))

  2. waa keren thor, yaa walaupun masih sedikit ngegantung tapi bagus ko😀 oh ya thor, ss moonlight destiny kapan?? Udah gasabar nih>.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s