Duniaku – Duniamu – Dunia Kita

Title                             : Duniaku – Duniamu – Dunia Kita

Author                         : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts                  : Kim Min Ah (OC), Kim Sung Gyu (Infinite), Jung Yong Hwa (CN Blue), Kim Myung Soo (Infinite), Kang Min Hyuk (CN Blue), Nichkhun (2PM)

Support Casts              : Infinite, CN Blue, 2PM, EXO, SHINee, Kara, Kim Woo Bin, Lee Seung Gi, Lee Min Ho

Genre                          : romance, family, friendship

Length                         : mini series

Rating                          : PG+15

Disclaimer                   : cerita ini hanya fan-fiksi. Nama tokoh-tokohnya idol K-Pop. Karakter tokoh bisa sama atau bisa beda dengan asli-nya. Cerita ini hanya dibuat untuk menyalurkan hobi dan menghibur para fans. Ide cerita murni hasil karya author. Infinite, CN Blue, EXO, SHINee, Kara milik manajemen mereka masing-masing aslinya, tapi di sini ceritanya mereka milik W entertainment. Well, this is just story. Let’s enjoy the story and don’t forget to leave any comment. =)))

 

 Image

Quotes from the casts :

 

“Kau ingin agar aku memperhatikanmu? Kau ingin berbicara padaku seperti seorang teman? Masuki-lah duniaku.” – Jung Yong Hwa –

“Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak pernah bisa memasuki dunia-mu. Mungkin dunia kita memang berbeda.” – Kim Min Ah –

“Nuna, tidak bisakah kau hanya melihatku?” – Kim Myung Soo –

“Min Ah~ya…, berhentilah. Aku tahu kau lelah. Kau jauh lebih berharga dari orang itu. Mengapa kau masih memedulikannya? Sebagai kembaran-mu, aku ikut merasa terluka.” – Kim Sung Gyu –

“Nuna, aku tahu kau tidak mencintaiku. Tapi untuk hari ini saja, bisakah kau berpura-pura mencintaiku?” – Kang Min Hyuk –

“Kim Min Ah sshi, aku bisa memberikan seluruh dunia ini ke dalam genggaman tanganmu.” – Nichkhun Horvejkul –

 

 

Chapter 1

 

“Kau ingin agar aku memperhatikanmu? Kau ingin berbicara padaku seperti seorang teman? Masuki-lah duniaku.”

Kalimat itu masih bisa kuingat dengan jelas meski sudah 15 tahun berlalu. Kalimat itu terasa sangat menyakitkan bagiku di saat usiaku masih 9 tahun. Bayangkan saja saat itu ketika aku menyapa Jung Yong Hwa, cinta pertamaku, dan hendak memberinya sushi salmon favoritnya saat di kelas, Yong Hwa malah mengatakan kalimat itu dengan wajahnya yang dingin.

Jung Yong Hwa adalah teman sekelasku di sekolah dasar. Dia disukai banyak orang karena ia adalah seorang idol terkenal. Yong Hwa sudah menjadi selebritis sejak usia-nya 3 tahun. Yap, debut karir-nya dimulai sejak dia membintangi sebuah iklan popok balita. Yong Hwa kecil sering bermain drama sejak usia-nya 4 tahun. Anak legendaris berbakat yang menjadi salah satu harta karun Korea Selatan.

Bahkan di usia 7 tahun, Yong Hwa sudah memiliki banyak album dan melakukan konser di berbagai negara. Umur 9 tahun dia membentuk band dengan teman-temannya yang diberi nama CN Blue.

Ya, seperti itulah sosok cinta pertamaku. Tapi aku masih ingat, bukan itulah yang membuatku menyukainya. Jung Yong Hwa yang kusukai adalah anak laki-laki yang terlihat kesepian ditengah keramaian di sekitarnya. Entahlah, tapi aku selalu merasa Yong Hwa sangat kesepian. Aku ingin berada di sampingnya, memeluknya, mengatakan padanya bahwa ia bisa menceritakan apapun padaku karena aku tidak akan membocorkan rahasianya pada fans-fans-nya apalagi pada paparazzi.

Tapi Yong Hwa selalu menolak siapapun yang mendekatinya. Ia hanya bergaul dengan orang-orang tertentu. Dengan selebritis, anak konglomerat, anak pemilik sekolah. Banyak orang yang menganggap ia sombong dan menyebalkan, tapi aku tetap menyukainya.

Di saat Yong Hwa mengatakan kalimat yang tidak bisa kulupakan itu…. Meskipun saat itu aku merasa sakit hati, tapi demi Yong Hwa….aku akan melakukan apapun. Sejak saat itu aku berlatih keras untuk memasuki dunia-nya. Dunia idol. Aku latihan dance dan menyanyi. Aku bahkan mengambil kursus menyanyi, tapi pelatih-ku selalu memarahiku karena kemampuanku yang payah.

Aku latihan dance hampir 20 jam setiap harinya di saat liburan sekolah. Aku hanya tidur 1 atau 2 jam. Aku juga meminta Sung Gyu (kembaranku) untuk melatih vocal-ku, tapi tetap saja suaraku payah. Saat itu aku benar-benar putus asa. Hampir 7 tahun aku terus berlatih, meskipun pada saat itu aku dan Yong Hwa sudah tidak satu sekolah lagi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan memasuki “dunia” Yong Hwa. Bila satu-satunya cara untuk menjangkau Yong Hwa adalah dengan memasuki “dunia”-nya, maka aku akan terus berusaha.

Aku mengikuti berbagai audisi untuk menjadi trainee di entertainment-entertainment yang ada di Korea Selatan, tapi tak ada satupun yang menerimaku. Sangat ironis karena aku yang begitu gigih ingin menjadi idol, malah sama sekali tidak memiliki bakat menjadi idol. Tapi kembaranku, Sung Gyu, yang memiliki bakat menyanyi, menari, dan bermain gitar malah tidak ingin menjadi idol. Gyu hanya ingin menjadi siswa biasa yang nge-band dengan asyik dan bebas dengan teman-teman sekolahnya.

Gyu dan aku memang memiliki banyak perbedaan meskipun kami kembar. Kami bukan kembar identik, jadi sudah dipastikan wajah kami berbeda. Mata Gyu lebih sipit dariku, hidungku lebih mancung darinya, bola mata Gyu hitam sedangkan aku cenderung cokelat, wajah Gyu lebih cenderung bulat sedangkan aku lonjong. Kadang aku sendiri juga ragu apakah benar kami ini kembar?! Tapi semua saudara kami yakin kami kembar, bahkan dokter yang menangani persalinan ibu kami juga masih menjadi dokter pribadi keluarga kami dan tahu betul tentang kesehatan aku dan Gyu. Satu persamaan kami hanyalah kulit wajah kami. Aku sering berpikir…kulit wajah Gyu terlalu putih dan mulus untuk ukuran laki-laki. Bagiku lelaki yang keren adalah lelaki yang memiliki kulit tan dan terlihat manly.

Saat umurku dan Gyu 17 tahun, paman dari pihak ibu kami, Lee Jung Yeop ahjusshi menawari Gyu masuk entertainment miliknya, W entertainment. Entertainment paman kami cukup terkenal meskipun tidak termasuk dalam 3 besar. Jujur saja aku iri pada Gyu. Tapi aku juga senang. Gyu bingung, karena menjadi idol bukanlah impiannya. Gyu juga tidak mau orang-orang di perusahaan paman mengira Gyu masuk perusahaan hanya karena ia keponakan CEO.

Aku terus membujuk Gyu untuk masuk perusahaan paman. Sejak kecil aku selalu tahu, Gyu pasti akan sukses menjadi penyanyi. Gyu yang selalu menyanyikan nina bobo untukku dengan suara emas-nya di saat aku tidak bisa tidur, pasti akan menjadi idol yang hebat. Akhirnya aku mengusulkan pada paman agar merahasiakan hubungan paman dan Gyu dari semua orang.

Gyu pun akhirnya resmi masuk perusahaan paman. Rasanya aku sangat bahagia. Gyu, satu-satunya orang yang selalu bersamaku sejak di dalam rahim ibu kami, akhirnya akan segera menjadi penyanyi professional!

Tapi satu hal yang mengejutkanku dan paman adalah keputusan Gyu untuk tidak debut bersama sebuah band, akan tetapi bersama sebuah boyband. Saat itu ada 2 grup yang disiapkan paman untuk debut. Pertama adalah grup band yang mahir memainkan alat music dan menyanyi, tapi mereka kekurangan vokalis utama. Dan grup yang ke-2 adalah grup boyband yang jago menari dan menyanyi. Ternyata Gyu lebih memilih bergabung dengan grup boyband (yang saat itu masih belum ada nama-nya). Kupikir ia akan memilih band, karena ia sangat suka nge-band. Yah, apapun keputusan Gyu, aku akan selalu mendukungnya.

Infinite adalah nama yang diciptakan olehku dan pamanku. Gyu senang dengan nama grup-nya. Aku masih terus berlatih dan ikut audisi terus menerus meski sudah di tolak. Tapi aku tidak pernah mencoba ikut audisi perusahaan pamanku.

Suatu hari, pamanku menawarkan sesuatu padaku.

“Min.., kau mau bergabung di perusahaanku?” tanya pamanku saat berkunjung ke rumah kami dan makan malam bersama ayah dan ibuku.

Mataku membelalak. “Aku? Tapi… paman pasti akan kecewa, dan aku tidak mau.” Aku menundukkan kepalaku. Seberapa keras-pun keinginanku untuk menjadi idol, tapi aku tidak mau bila hanya mengandalkan pamanku.

Paman tersenyum. “Aku tidak akan kecewa. Aku yakin. Aku menjadi CEO selama 20 tahun bukan tanpa pengalaman, Min. Aku bisa membaca bakat seseorang. Dan aku tahu…, kau pantas menjadi wakil-ku dan kelak mewarisi perusahaanku.”

Aku tersedak. Ayah dan ibu juga sampai menatap paman tak percaya. Saat itu Gyu tidak ada di rumah, jadi tidak ada kehebohan.

Paman memang tidak memiliki anak. Tapi bukan berarti ia bisa mempercayakan perusahaannya padaku kan? Aku masih 17 tahun! Menjadi wakil CEO? Memangnya aku bisa apa?

“Memangnya aku bisa apa?” tanyaku pada paman. Heran.

Paman tertawa pelan. “Sung Gyu adalah salah satu contoh nyata. Sejak kecil kau yakin dia bisa menjadi idol hebat kan? Tapi saat dia kecil, aku justru merasa selera musik Sung Gyu agak aneh dan tidak akan menjual. Tapi ternyata aku salah. Semakin hari aku justru semakin yakin Sung Gyu akan menjadi mega bintang suatu hari nanti.” Paman tersenyum hangat padaku.

“Tapi.., aku mengatakan itu karena Gyu saudaraku.”

Paman menggeleng. “Kau ingat 2 minggu lalu saat kau berkunjung ke kantor-ku? saat itu kau melihatku memutar video rekaman audisi. Aku selalu memutar ulang, karena siapa tahu aku melewatkan bibit unggul yang memiliki potensi. Kau berkata gadis yang menyanyi di rekaman itu sangat bagus, padahal aku pikir gadis itu punya suara yang aneh. Aku terus memutar rekaman itu sampai 20 kali dan akhirnya berpikir bahwa gadis itu akan menjadi luar biasa bila ia menyanyikan lagu yang tepat untuk jenis suaranya. Kau tahu? Sekarang gadis itu sudah menjadi trainee.”

Aku hanya bisa menatap Paman. Paman tersenyum pada ayah dan ibuku. “Nuna, Hyung, tidak apa-apa kan kalau aku mendidik putri kalian untuk menjadi penerusku?”

Sejak saat itulah perjalananku yang sebenarnya di mulai. Mungkin aku memang tidak bisa memasuki “dunia” Yong Hwa, tapi aku bisa meraih “dunia-ku” sendiri. Dan aku berharap, aku bisa menggapai Yong Hwa meskipun dunia kami berbeda.

Aku memutuskan untuk belajar dengan giat. Mempelajari perusahaan paman dari berbagai aspek. Dengan otak-ku yang encer, aku sanggup menyelesaikan double degree saat usiaku 20 tahun dan melanjutkan pendidikan master-ku sambil membantu paman mengelola perusahaan.

Hanya segelintir orang yang tahu tentang diriku. Hanya orang-orang managerial perusahaan yang tahu bahwa aku-lah wakil paman. Aku ikut menyukseskan debut grup EXO. Aku juga membantu paman agar SHINee dan Kara semakin terkenal di seluruh dunia. Aku mengorbitkan model yang mendunia seperti Kim Woo Bin. Aku berhasil merekrut Lee Min Ho dan Lee Sung Gi, dua aktor papan atas Korea untuk pindah ke W ent. Infinite pasti-lah sudah sukses sejak awal debut mereka. Meskipun tidak ada yang tahu bahwa Kim Sung Gyu adalah kembaranku, dan bahwa aku adalah wakil CEO W entertainment, tapi itu bukan masalah bagiku. Aku terbebas dari sorotan publik. Biar saja pamanku yang menghadapi para wartawan. W ent jadi termasuk 3 besar perusahaan entertainment di Korea Selatan, hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun.

Apakah aku merasa puas? Sedikit. Masih banyak yang harus kucapai. Aku termasuk orang yang ambisius. Aku akan menjadikan W ent sebagai nomor 1 di seluruh asia bahkan dunia.

Masalah sebenarnya baru dimulai saat aku menyadari bahwa selama ini aku tidak benar-benar berada di dalam “dunia-ku”, karena ternyata aku masih memikirkan “dunia” Yong Hwa. Kesibukan membuatku tidak pernah bertemu dengan Yong Hwa selama 15 tahun ini. Dan saat itu aku sadar, aku merindukannya. Se-tinggi apapun dunia yang kucapai, tidak akan pernah terasa puas tanpa Yong Hwa.

Yong Hwa masih menjadi penyanyi dan aktor. Tentu saja dia semakin terkenal. Ia berada di bawah naungan Z entertainment yang merupakan saingan terberat W entertainment.

Terkadang.., aku berpikir untuk mengalahkan Z entertainment demi perusahaan paman, tapi terkadang aku berpikir alasan aku ingin mengalahkan perusahaan itu adalah karena Yong Hwa. Bagaimana reaksi Yong Hwa bila ia tahu aku-lah orang di balik layar yang mampu mengalahkan perusahaan tempat ia bekerja? Bisakah aku membuat Yong Hwa mengakui kekuatanku? Bisakah aku membuat Yong Hwa menyadari keberadaanku? Bisakah aku mengendalikannya?

Kemudian aku tersentak. Benarkah ini yang kuinginkan selama ini? Apakah ini cinta… ataukah hanya sekedar balas dendam dan pembuktian?

Aku tidak akan pernah tahu, sampai aku bertemu Yong Hwa lagi secara langsung. Aku akan segera menemuinya. Aku juga mungkin sebentar lagi akan menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya pada seluruh dunia, karena paman terus memaksaku muncul ke hadapan publik setelah aku menyelesaikan master degree-ku.

Di satu sisi aku ingin segera muncul, agar Yong Hwa mengetahui eksistensi-ku. tapi di sisi lain aku takut perlakuan semua orang akan berubah, terutama Infinite. Selama ini aku sudah cukup dekat dengan semua member Infinite. Aku sering mengunjungi dorm mereka meskipun mereka tidak tahu bahwa aku adalah kembaran Sung Gyu, apalagi wakil CEO W entertainment. Mereka hanya tahu, aku adalah sahabat Sung Gyu yang kuliah di Seoul University.

Gyu selalu ingin mengatakan pada semua orang kalau kami kembar, tapi aku melarangnya karena aku tahu suatu hari nanti aku harus “muncul” ke hadapan publik sebagai wakil CEO, dan aku tidak mau orang-orang membicarakan Gyu. Meskipun pada kenyataannya Gyu masuk perusahaan paman bukan karena koneksi, tetapi karena bakat yang dimilikinya.

Sejak kecil, aku dan Gyu tidak pernah satu sekolah. Sehingga hanya sedikit sekali orang yang tahu hubunganku dan Gyu. Aku selalu masuk sekolah favorit nomor 1 di Korea. Yah, mungkin sejak dulu bakat-ku memang bukan di dunia musik seperti Gyu.

Hari ini, tumpukkan proposal dan dokumen yang harus kupelajari dan kusetujui atau ku-tolak sudah menumpuk di meja kerja-ku sejak pagi. Yang kumaksud meja kerja bukanlah meja kerja di perusahaan paman. Aku selalu bekerja di apartemen-ku, di dekat Seoul university. Kalaupun ada meeting bersama para manager bagian, meeting pasti diadakan di hotel. Semua ini paman lakukan demi diriku juga. Demi memenuhi permintaanku sejak usia-ku 17 tahun. Aku tidak pernah muncul di perusahaan paman.

Tapi kini, setelah usiaku 24 tahun, paman terus memintaku “muncul”. Ya, aku akan muncul bila proyek ini sukses. Saat ini W entertainment sedang bersaing ketat dengan Z entertainment dalam hal total pendapatan perusahaan di pertengahan tahun 2013. Seperti biasa media pasti akan membahas hal ini. Hal ini menjadi patokan nomor 1 dalam menentukan perusahaan entertainment mana yang menjadi nomor 1 di Korea Selatan.

Aku sedang mengupayakan bagaimana agar semua single, album, dvd konser, world concert, goodies / merchandise, iklan – reality show- modeling – dan film artis-artis kami mendapatkan respon yang baik dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi perusahaan.

Meskipun aku merasa bersalah pada Sung Gyu dan semua artis lain yang ada di perusahaan paman karena selama 3 tahun ini aku-lah otak dibalik aktivitas mereka yang lebih padat dan ketat. Promosi mereka ditingkatkan secara besar-besaran di Korea dan di negara-negara lainnya. Aktivitas mereka semakin banyak. Lelah? Pasti.

Aku melirik tumpukkan berkas di depanku sekali lagi dengan malas. Aku berencana menyelesaikan semua ini sebelum jam 3 sore, sehingga aku bisa menemui Sung Gyu di dorm-nya dan mengajaknya makan ice cream dan ramen. Gyu baru pulang syuting reality show jam setengah 3 sore, dan jam 9 malam nanti ia dan Infinite harus melakukan pemotretan untuk photobook.

Aku semakin mahir dalam bidang-ku. Tepat pukul setengah 3 sore, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku.

Aku meraih kunci mobil dan segera melesat menuju basement apartemen. Aku memacu mobil-ku dengan kencang menuju dorm Infinite.

“Nunaaaaaaa!!!!!!” panggil sebuah suara yang sudah kukenal.

“Oh, Sung Jong!!!” Aku tersenyum lebar melihat Sung Jong yang baru saja akan masuk ke apartemen. Ia membawa Jureumi (kucing milik Sung Yeol) di dalam gendongannya.

“Aku baru saja mengajak jureumi jalan-jalan dan membelikannya makanan favorit-nya. Kasihan dia rindu pada Sung Yeol hyung. Yeollie hyung sangat sibuk syuting drama dan reality show sampai berhari-hari tanpa pulang.”

Dalam hati aku meminta maaf pada Sung Yeol. Aku-lah yang membuatnya seperti itu. Sung Yeol memiliki potensi yang besar. Aku tahu ia bisa, meskipun tentu saja ia akan merasa sangat kelelahan dengan jadwal yang super padat.

“Gyu sudah pulang?” tanyaku.

Sung Jong mengangguk dengan bersemangat. “Sepertinya sudah.”

Aku dan Sung Jong berjalan ber-iringan menuju dorm Infinite. “Aku pulaaang…” kata Sung Jong.

Ternyata ke-5 member Infinite lainnya sedang berkumpul di ruang tengah. Woo Hyun dan Dong Woo bertanding balapan mobil di play station, Hoya asyik dengan tablet-nya, Myung Soo makan popcorn sambil melihat permainan Woo Hyun dan Dong Woo. Sementara Gyu…, tidur di sofa!

 “Nunaaaaaaa!!!!!!” Woo Hyun melemparkan lambaian hati padaku, mulai dari hati yang kecil sampai hati yang besar. Benar-benar cheesy. Dasar nam-grease! Hal itu membuatnya kalah bermain games. Dong Woo berguling-guling di lantai, super happy. Myung Soo dan Hoya terbahak-bahak melihat-nya, lalu mereka menyapaku.

Aku menghampiri Gyu yang masih tertidur pulas di sofa. Aku menghela nafas panjang. Gyu pasti sangat lelah. Mungkin aku akan menunggunya sampai bangun.

“Nuna, kupikir kau dan Gyu hyung  sudah putus.” Kata Dong Woo. “Kau jadi jarang kemari.”

“Jang Dong Woo, sudah kubilang kami bukan kekasih.” Aku tertawa geli. Dia kembaranku! Tolong! Aku tidak mungkin pacaran dengan sebagian dari diriku! yah, bukan salah mereka bila mereka menganggap kami demikian. Mungkin di mata mereka, sikap saling perhatian antara aku dan Gyu terlihat seperti sepasang kekasih. Apalagi sejak kecil Gyu senang mencium pipiku. Aku juga senang memencet hidung Gyu, seolah hidungnya adalah sebuah tombol. Tapi bagi kami, itu adalah bentuk kasih sayang kami sebagai saudara.

“Arrasseo….arraseeo..” Dong Woo hanya nyengir lebar.

“Nuna, kau mau makan apa? Aku akan memasak apapun demi dirimu.” Woo Hyun mengedipkan matanya genit.

Aku tertawa lalu menggeleng. “Memangnya kau akan sempat masak? Bukankah sebentar lagi kau, Myung Soo, dan Hoya harus menghadiri wawancara dengan elle magazine?”

“Ah! Benar!” Woo Hyun menepuk jidat-nya. “Kau sampai hafal jadwal kami, nuna. Aku senang kalau kau benar-benar menjadi kakak ipar kami. Aku merestui-mu dengan Gyu hyung.”

Lagi-lagi aku hanya bisa tertawa. Tentu saja aku hafal jadwal mereka karena aku adalah wakil CEO, dan meskipun tugas-ku sangat banyak, Infinite adalah prioritas-ku, karena mereka adalah idol paling populer di perusahaan paman untuk saat ini, jadi tentu saja aku hafal apa saja jadwal mereka. Sebagian besar, aku-lah yang mengusulkan berbagai kegiatan untuk Infinite.

“Sajangnim harus memberi kita liburan…” keluh sang maknae, Sung Jong. Ia tiduran di karpet di dekat Dong Woo.

Tatapan mataku melembut. “Sung Jonggie, kau ingin liburan ke mana?”

“Aku ingin ke pantai!!!!! Sudah lama sekali aku tidak bermain di pantai.” Keluh Sung Jong. Dalam hati aku berjanji untuk memberikan mereka liburan setelah semua jadwal gila ini selesai.

“Mmm.., guys, apakah kalian menganggapku teman?” tanyaku sungguh-sungguh.

Mereka ber-5 mengangguk. “Tentu saja!” pekik Sung Jong dan Woo Hyun dengan semangat.

“Nuna sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.” Kata Hoya.

 “Nuna lebih dari sekedar teman.” Kata Dong Woo.

“Nuna adalah keluarga kami.” Kata Myung Soo.

Sungguh, aku sangat terharu dengan kata-kata mereka. “Terima kasih, tapi….seandainya…. ini hanya pemisalan. Seandainya aku adalah anak presiden korea selatan, apakah kalian masih mau berteman denganku?”

“Tentu saja. Hahaha. Memangnya Nuna benar-benar anak presiden?” Dong Woo membelalakkan matanya tak percaya.

“Tentu saja bukan, Jang Dong Woo! Ini hanya pemisalan.” Kataku tak sabar. Dong Woo hanya tertawa.

“Bagi kami, nuna adalah nuna. Tidak peduli bagaimana latar belakang nuna seperti apa. Sejak dulu nuna selalu menjaga Gyu hyung, dan juga memperhatikan kami. Siapapun nuna, tidak masalah bagi kami.” Kata Sung Jong.

“Bahkan seandainya nuna adalah alien atau vampire, itu tidak masalah.” Woo Hyun nyengir.

“Yah! Nam Woo Hyun!” Aku meraih popcorn di toples Myung Soo dan melemparkannya ke wajah Woo Hyun. Woo Hyun terbahak-bahak. Sementara Myung Soo menatapku dengan tajam, seolah menebak apa maksud ucapanku barusan tentang pengandaian. Yah, aku senang bila nanti di saat mereka tahu siapa aku yang sebenarnya, ternyata mereka masih menganggapku teman. Aku tidak ingin mereka menghormatiku seperti mereka menghormati pamanku.

“Min?” suara khas baru bangun tidur Sung Gyu terdengar.

Aku tersenyum padanya dan langsung memencet hidungnya. “Akhirnya kau bangun juga. Ayo cuci muka dan kita pergi beli ice cream kesukaanmu dan juga ramyun mandu.”

Sung Gyu menatapku dengan puppy eyes-nya yang masih setengah tertutup. Aku mendekatkan wajahku padanya dan berbisik. “Mianhae, aku tahu kau pasti lelah. Jadwal-jadwal itu…..”

Gyu menggeleng. “Tidak masalah, Min.” Gyu mencium pipi-ku, lalu bangkit dan berjalan menuju toilet.

“Oooh.., jadi kalian mau kencan?” goda Woo Hyun dengan tatapan matanya yang menyebalkan.

“Diam kau Namu! Mau kulempar toples?”

Woo Hyun yang senang sekali bercanda denganku itu hanya tertawa. Nam Woo Hyun, kuharap di masa depan nanti kau terus bersikap seperti ini padaku.

Sungguh, aku tidak mau semua keakraban-ku dengan Infinite hilang. Gelar wakil CEO terlihat sangat mengerikan bagiku di saat aku bersama mereka. Tapi gelar itu terasa sangat menggiurkan di saat aku mengingat Yong Hwa.

Tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Lagi-lagi Myung Soo menatapku dengan tajam. Sejak dulu, dari semua member Infinite, hanya Myung Soo yang masih belum kukenal dengan dekat. Myung Soo yang lebih suka melakukan semuanya sendiri tidak pernah membuatku kerepotan seperti Woo Hyun, Dong Woo, Hoya, Sung Jong, apalagi Sung Yeol! Tapi aku senang mereka mempercayaiku.

Myung Soo adalah orang yang lebih senang menyimpan masalahnya sendiri daripada berbagi dengan orang lain. Kadang aku berharap Myung Soo lebih terbuka padaku seperti sahabatnya, Sung Yeol. Si choding itu malah terlalu terbuka padaku. Soal warna celana dalam yang bingung dia beli juga sampai dia ceritakan padaku. Dasar!

Beberapa menit kemudian, Gyu sudah berganti pakaian. Ia memakai kaus dan hoodie putih. “Ayo Min..” Ia menggandeng tanganku.

“Sampai nanti…” aku melambaikan tanganku pada member Infinite.

“Sampai nanti, nuna…”

 

Gyu menutupi rambutnya dengan hoodie dan memakai kacamata berbingkai merah untuk menyamarkan wajahnya. Sebelum pergi ke kedai ramyun, kami memutuskan untuk membeli ice cream favorite Gyu di baskin robins terlebih dahulu. Tapi, tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku.

“Kim Min Ah sshi.”

Aku melihat seorang pria tinggi atletis, dengan wajah baby face yang tampan dan bening – tersenyum lebar padaku. Dia kan…

“Nichkhun sshi? Ini benar-benar kau?” tanyaku tak percaya. Nichkhun adalah teman kuliahku saat S1 di Australia dulu.

“Ya, ini aku. Apa kabar?” ia mengulurkan tangannya. Aku pun menjabat tangannya.

“Baik. Kau sendiri? Bagaimana kabarmu?”

Nichkhun masih menampakkan senyuman-nya. “Baik. Aku sudah lama tinggal di Seoul. Mengurus bisnis ayahku. Maaf, aku buru-buru, nomor-mu masih yang dulu kan?” aku mengangguk. “I’ll call you later.” Nichkhun tersenyum padaku. Lalu ia menatap Sung Gyu yang sejak tadi memperhatikan kami. “Ah, maaf aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Nichkhun Horvejkul. Senang bertemu denganmu, Kim Sung Gyu sshi.” Kata Nichkhun dengan sopan sambil membungkukkan badannya. “Maaf, aku benar-benar harus buru-buru pergi. Sampai nanti..” Nichkhun mengangkat sebelah tangannya dan berlari pergi menuju taxi.

“Aneh. Dia satu-satunya pria yang menatapku dengan hangat di saat aku jalan bersamamu, Min. Biasanya semua pria akan menatapku dengan tajam, penuh dendam, dan iri bila aku jalan bersamamu, karena mereka mengira aku pacarmu. Tapi pria tadi…”

“Mungkin Khun adalah fans-mu. Barusan saja dia tahu namamu. Padahal aku tidak pernah cerita pada teman kuliahku kalau kembaranku adalah Kim Sung Gyu.”

Sung Gyu mengangguk-angguk. “Mungkin. Siapa tadi namanya?”

“Nichkhun.”

“Dia lumayan.”

Aku membuka mulutku lebar-lebar. Syok. “Jangan bilang kalau kau tertarik padanya?! Yah! Kim Sung Gyu! Sejak kapan kau berubah jadi gay?!”

Sung Gyu mencubit kedua pipiku. “Bukan begitu, pabo! Maksudku dia lumayan sebagai calon adik ipar. Dia tampan dan gagah sepertiku. Dia juga terlihat baik dan sopan sepertiku.”

Aku mendecakkan lidah dan hanya menggeleng. “Gagah apanya? Kecilkan perut dan lengan-mu Gyu!” aku mencubit perutnya yang gendut. Gyu berteriak dan berlari kencang. Aku tertawa dan berlari mengejarnya. Kadang aku merindukan saat-saat seperti ini, di mana hanya tawa dan canda yang memenuhi otakku. Bukan pekerjaan dan tanggung jawab.

*******

 

Aku keluar dari dalam lift bersama jajaran direksi W entertainment. Kami baru saja mengadakan meeting di salah satu hotel. Aku memang tidak pernah mengadakan meeting di dalam gedung W ent untuk menghindari kecurigaan. Bayangkan bila aku keluar dari dalam ruang meeting W ent bersama dengan para direksi! Apa yang akan dipikirkan teman-teman Infinite-ku maupun yang lainnya?

Tapi aku tidak pernah menduga, kini ketika aku baru saja keluar dari dalam lift, seseorang yang kukenal sudah berdiri di sana. Kim Myung Soo!

Mataku membelalak lebar, sedangkan Myung Soo hanya menatapku tanpa ekspresi. Aku keluar dari dalam lift, menarik tangan Myung Soo dan berjalan pergi. Kuharap MyungSoo tidak menyadari tatapan hormat para dewan direksi padaku, atau ketika mereka mengangguk sopan padaku sebelum pergi.

Kami berdua duduk di restoran hotel. Bodoh! Seharusnya aku ingat, malam ini Myung Soo ada interview dengan majalah asing di hotel ini!

Aku melirik jam tanganku. 15 menit lagi sebelum interview Myung Soo dimulai. Aku menatap MyungSoo yang masih menatapku tanpa ekspresi. Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tahu MyungSoo sedang menebak-nebak. Apalagi saat ini aku memakai pakaian formal : blazer, rok, dan high heels.

“Aku…..” aku menghela nafas lagi. “Tadi itu…”

“Kau tidak perlu menceritakan apapun padaku, nuna.” Myung Soo tersenyum tipis. Dia pun bangkit berdiri. “Aku harus segera ke lantai 10, sebentar lagi interview dimulai.” Myung Soo mendekatiku, berdiri di sampingku, kemudian meletakkan sebelah tangannya di pundakku.

“Kau tahu, nuna? Kami tidak akan menjauhimu. Kau harus percaya pada kami.” Kata Myung Soo datar, kemudian dia pun pergi.

Jadi Myung Soo tahu?! Aku menghembuskan nafas panjang. Sejak kapan? Apakah karena barusan? Atau…dia sudah tahu sejak dulu?

Aku tersenyum tipis. Ya, kuharap kau dan Infinite tidak menjauhiku karena aku boss kalian, Myung Soo~ya.

Aku melepas blazer-ku dan menggulung lengan kemeja-ku. Aku berjalan cepat menuju lobi hotel.

Sepertinya malam ini aku sedang  benar-benar sial! Ketika aku sedang mengecek jadwalku di notes ponsel, tanpa sengaja aku menubruk seseorang yang sedang berlari dengan keras sampai terjatuh.

“Kau baik-baik saja?” Tanya suara 3 orang pria. Mereka berjongkok dan membantuku berdiri. Aku membelalakkan mataku dengan ngeri. Mereka adalah…. Minhyuk, Jungshin, dan Jonghyun!

Kemudian aku menoleh dan melihat Jung Yong Hwa berdiri menatapku dengan tajam. Dia sama sekali tidak berubah setelah 15 tahun kami tidak bertemu. Dingin, angkuh, dan tampan. Dia juga tidak mungkin meminta maaf meskipun ia salah.

“Ayo cepat. Nanti kita terlambat.” Kata Yonghwa pada teman-temannya, kemudian berjalan pergi begitu saja.

“Maafkan hyung kami. Errr…kami buru-buru.” Kata Jung Shin. Dia dan Jonghyun tersenyum padaku, kemudian segera berlari mengejar Yonghwa.

Aku menghembuskan nafas. Sepertinya Yonghwa tidak mengenaliku. Jungshin dan Jonghyun juga sepertinya tidak. Ya, tentu saja. Sudah 15 tahun berlalu. Bagaimana mungkin mereka mengenaliku?!

Aku mengatur nafasku. Aku tidak pernah membayangkan dengan cara seperti inilah aku akan bertemu Yonghwa lagi. Mempermalukan diriku sendiri?! Aku benar-benar pabo!

Ya, tentu saja Yonghwa masih menatapku dengan sebelah mata. Tentu saja dia menatap semua orang dengan sebelah mata. Ternyata dia memang tidak berubah.

Tiba-tiba dadaku terasa sakit. Entahlah. Apakah karena dendam…? Atau….

“Kim Min Ah nuna?”

Aku tersentak kaget. Tidak menyadari ternyata Kang Min Hyuk sejak tadi masih berdiri dan menatapku.

Min Hyuk tersenyum lebar. “Ternyata kau memang benar-benar Min Ah nuna!!!!” Minhyuk memelukku.

“Nuna!! Kenapa dulu kau pindah sekolah?”

“Kau…? Masih mengenaliku?”

Min Hyuk tertawa. “Tentu saja! Aku tidak mungkin melupakan nuna yang telah mengajariku pelajaran Matematika. Kau tahu nuna? Setelah kau pindah tiba-tiba, nilai-nilaiku jadi hancur!”

Aku tertawa pelan. Aku senang ternyata Minhyuk masih mengenaliku. Ya, saat di sekolah dasar dulu, Min Hyuk adalah adik kelasku. Karena sibuk dengan band-nya, nilai-nilai Minhyuk (terutama pelajaran Matematika yang sangat dibencinya) menjadi anjlok. Karena itulah ibunya yang merupakan kepala sekolah kami memintaku mengajarinya. Sejak dulu aku memang terkenal jenius.

“Min Hyuk~ah, bukankah kau ada acara?” kataku.

Min Hyuk menepuk jidatnya. “Aaah! Yonghwa hyung pasti akan memarahiku. Nuna, berikan ponselmu!”

Sebelum sempat bertanya untuk apa, Min Hyuk langsung merebut ponsel yang kupegang. Dia mengetikkan sesuatu, kemudian ponsel di dalam saku-nya berbunyi. Ia tersenyum dan menyerahkan ponselku lagi. “Aku sudah menyimpan nomormu. Maafkan aku nuna, tapi aku harus pergi sekarang. Aku akan menelepon-mu nanti.” Minhyuk melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar kemudian berlari pergi.

Aku tersenyum. Kang Min Hyuk juga masih tidak berubah. Dia tetap periang dan ramah seperti dulu. Syukurlah dia masih mengingatku. Kupikir dia akan melupakanku karena sekarang dia dan band-nya sudah semakin terkenal di seluruh dunia.

Hhhhhh.., ya. Bila dulu Yonghwa menganggapku tidak ada, maka sekarangpun pasti sama saja. Tiba-tiba dadaku terasa sesak lagi. Tapi.., apakah dia akan melihatku bila ia tahu sekarang aku telah memasuki dunia-nya? Dunia yang lebih tinggi dari dunia-nya?

********

 

Min Hyuk menepati janjinya. Ia meneleponku dan menceritakan berbagai macam hal. Tapi aku merasa bersalah padanya karena merahasiakan pekerjaanku. Aku hanya memberitahunya sekarang aku baru saja menyelesaikan master degree-ku di Seoul University.

Min Hyuk berkata ia iri padaku. Kuliahnya terbengkalai karena padat-nya jadwal CN Blue dan juga syuting drama-nya.

Sikap Myungsoo masih tetap sama. Hanya saja ketika aku berada di antara member Infinite, MyungSoo menatapku dengan intens seolah memberiku kode bahwa semuanya akan tetap se-normal saat ini meskipun member Infinite yang lain tahu siapa aku yang sebenarnya.

Entahlah, tapi aku merasa belum siap memberitahu mereka. Mungkin mereka akan tetap bersikap sama di hadapanku, tapi bagaimana kalau ada yang berubah? Bagaimana kalau SungYeol tidak lagi se-manja sekarang padaku? Bagaimana kalau Woohyun tidak lagi se-cheesy sekarang di hadapanku? Bagaimana kalau Dongwoo dan Sungjong tidak lagi se-bebas sekarang saat menjahiliku? Bagaimana kalau Hoya tidak lagi se-bossy sekarang?

Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Ya kau tahu lambat laun aku harus memberitahu mereka. Tapi bagaimana? Apakah sekarang aku harus tiba-tiba berkata: “Guys, sebenarnya aku adalah boss kalian.” ?!

 

Pesta pertengahan tahun antar berbagai entertainment akan diadakan 2 hari lagi. Aku tidak akan datang tentu saja. Pamanku akan datang bersama beberapa perwakilan direksi dan perwakilan selebritis. Infinite, Kara, dan Kim Woo Bin akan mewakili perusahaan kami.

Semakin hari pekerjaanku semakin banyak. Aku tahu bila penjualan kami terus meningkat seperti ini maka pada akhir tahun nanti profit kami akan jauh lebih besar berkali-kali lipat dibanding 2 tahun ke belakang.

Sepertinya Tuhan memberikan jalan padaku untuk mengungkapkan jati diriku pada semua orang. Meskipun aku belum siap, tapi sepertinya aku harus memaksakan diriku untuk siap.

Paman baru saja meneleponku untuk menggantikannya pergi ke pesta karena ia harus pergi ke LA. Ada hal penting mendadak yang harus paman selesaikan bersama salah satu investor asing perusahaan kami di LA.

“Tolonglah Min.., kau tahu salah satu dari kita harus hadir di pesta itu…” Paman membujukku di telepon.

“Tapi….”

“Semuanya akan baik-baik saja, Min. Sekretaris Han akan menemanimu. Sudah saatnya kau menunjukkan dirimu.”

Aku menggigit bibir bawahku. Terlalu banyak ketakutan dalam diriku.

“Min. Percaya padamu. Kau ingat apa yang kukatakan 15 tahun lalu? Tidak ada seorangpun di dunia ini yang berhak memandang rendah dirimu, Min. kau harus percaya pada dirimu sendiri. Kau sudah membuktikan kau mampu sejauh ini. Kau harus memberitahu seluruh dunia…ini-lah kau yang sebenarnya.”

“Infinite….”

“Mereka akan baik-baik saja. Mereka pasti syok, tapi kalau mereka benar-benar tulus menganggapmu sebagai teman maka sikap mereka padamu tidak akan berubah.”

Aku tersenyum. “Terima kasih, Paman.”

Paman tertawa pelan. “Inilah duniamu, Min. Kau harus menghadapinya dengan berani.”

Ya. Inilah duniaku. Aku tidak tahu mana bagian hidupku yang akan berubah. Tapi inilah saatnya aku menghadapi duniaku yang sebenarnya.

Kuharap Infinite dan teman-temanku yang lainnya tidak berubah. Dan kuharap…, Yonghwa berubah. Aku tahu obsesi-ku padanya tidak masuk akal. Tapi tanpa kata-kata Yonghwa yang menyakitiku dulu, mungkin sekarang aku tidak akan pernah berada di posisi ini.

Tapi perasaanku padanya masih tidak berubah. Aku masih mencintainya sebesar dulu. Aku masih mengaguminya sebesar dulu. Aku masih menginginkannya sebesar dulu. Benar-benar tidak masuk akal.

–          TBC –

 

 

4 thoughts on “Duniaku – Duniamu – Dunia Kita

  1. akhirny ni ff dilanjutin juga, dulu aku kira ini gak mau dilanjutin, ceritanya keren eonn, apalagi ada Minhyuk
    Next chapter ditunggu🙂

    • Ini FF bikin nyesek fik…soalnya dulu sebenernya chapter ini udh beres tp gak ke-save T_T .
      Aku males ngetik ulang dan kata2nya jg jd ada yg beda.huhu
      Tp akhirnya ak ketik ulang lg deh stelah beberapa bulan lewat…hehe

  2. Wihhh daebak eonnie…
    Tapi sayang lagi lagi Tbc…
    Bikin penasaran deh eonnie…
    Chapter selanjut nya jangan lama lama ya eonnie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s