[Jo Twins FF] Chemistry (Chapter 3)

Image

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Title                : Chemistry

Genre             : Romance, school life, friendship, family

Rating             : PG + 15

Length            : Series (3 Chapter)

Main Casts     :  Jung Jin Rae (OC), Jo Young Min (Boyfriend), Jo Kwang Min (Boyfriend)

Support Cast : Lee Eun Hye (OC), Jung Jin Young (B1A4), Choi Min Ho (SHINee), Nichkhun (2PM), Taeckyeon (2PM), Kyu Hyun (SuJu)

Disclaimer      : Cerita ini hanya fan fiksi. Ceritanya milik saya. Tokoh-tokohnya K-Pop. Dilarang Copas tanpa izin! Happy reading.. ^_^

Cerita ini pernah di posting di FB author sekitar 2 tahun yang lalu.

Chapter 3 I Don’t Wanna Be Your Boyfriend!

 

Di dalam pesawat….

Aku duduk di samping Kwang Min. Young Min bilang…dia tidak mau mendengar dengkuranku. Huh! Siapa juga yang mau duduk di sampingnya!

Tidak banyak penumpang. Young Min duduk sendirian. Dia nyengir lebar padaku. “Kenapa?” tanyanya galak. “Kau mau duduk di sampingku?” Young Min tersenyum mengejek.

“Cih!” aku memalingkan wajahku. Lalu duduk di samping Kwang Min. Kwang Min menoleh dan tersenyum lembut padaku. Aku bisa merasakan wajahku memerah. Cepat-cepat aku memalingkan wajah, tapi sialnya di samping kananku kan ada Young Min!!! Young Min menatapku galak. Wajahku kembali memerah. Aneh!!!! Kenapa aku jadi blushing ketika melihat mereka berdua??? Padahal mereka berdua memiliki sifat yang jauh berbeda…tapi kenapa perasaanku pada mereka sama????!!!!

Aku pun memutuskan menatap ke depan saja. Sialnya, aku malah mengingat kejadian saat di Arc de Triomphe tadi malam!!!! Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

“Jin Rae.., kau sakit? Pusing?” tanya Kwang Min khawatir. Dia meraba keningku. Wajahku blushing lagi. “Kau demam?” tanyanya cemas.

Aku menggeleng. “Eh…tidak..aku mau tidur..” kataku.

Kwang Min menurunkan tangannya. Masih memandangiku dengan tatapan khawatir. Aku tersenyum kikuk. “Aku baik-baik saja…” kataku. Lalu aku pun meraih penutup mata, lalu bersandar ke kursi. Pura-pura tidur. Aaaaarrrgggghhhh ada apa dengankuuuu????!!!!!!!!!!!!

*******

“Jin Rae….kita sudah sampai..” suara lembut Kwang Min membangunkanku. Aku menggeliat. “Hmmm???” gumamku. “Kita sudah sampai.” Kwang Min tersenyum. “Kau tidur nyenyak sekali ya…” ujar Kwang Min.

“YA!!!! iler-mu tuh! Menjijikan sekali!” kata Young Min. Dia berdiri di sampingku.

Cepat-cepat aku mengusap mulutku. Tidak ada apa-apa! Young Min terbahak-bahak. Lalu dia pun turun duluan.

Saat keluar dari gate, seseorang memanggil namaku. “Jin Rae!!!!!!”

Aku mengenal suara ini! “Jin Young!!!!!!” seruku. Senang sekali melihat sepupuku tersayang itu. Aku berlari menghampirinya, lalu memeluknya erat. “Jin Young….aku kangeeeennn!!!!!” kataku.

Jin Young menatapku cemas. “Gwenchana? Kenapa kau tidak cerita padaku? Kwang Min menceritakan semuanya padaku sebelum dia pergi ke Paris. Aku ingin ikut dengannya ke Paris, tapi dia melarangku…”

Aku nyengir. “Tidak apa-apa, Jin Young. Aku baik-baik saja. Mianhae.., aku tidak mau membuatmu khawatir. Lagipula kau kan ketua panitia di festival itu. Mana mungkin ketua malah kabur ke Paris? Hehehe…”

“Benar…? Kau baik-baik saja?” tanya Jin Young serius.

Aku mengangguk kuat-kuat. “Hmmm…”

Si kembar menghampiri kami. “Oh! Jin Young!!!” seru Young Min riang. Jin Young dan Young Min berjabat tangan.

Jin Young menepuk-nepuk lengan Young Min. “Terimakasih sudah menjaga Jin Rae..” katanya sungguh-sungguh. “Dan terimakasih sudah membantunya.”

Young Min nyengir. “My pleasure, Bro…”

Kwang Min menatap aku dan Jin Young bergantian. Dia menghela napas panjang, lalu berkata : “Sekarang…kami kembalikan Jin Rae-mu dengan selamat, Jin Young.” Kwang Min mendekatiku, lalu mengacak-acak rambutku. “Jin Rae dongsaeng yang benar-benar baik. Dia sudah kami anggap seperti adik kami sendiri.” Kwang Min tersenyum lembut.

Deg! Dongsaeng? Adik? Aku terpaku. Entah kenapa hatiku terasa sakit saat Kwang Min mengatakan itu.

Young Min mengangguk-angguk. “Hmmm..benar.., dongsaeng menyebalkan!” Young Min tersenyum  jail.

Aku balas tersenyum kikuk. Omo ~~ ada apa denganku? Kenapa mataku terasa panas? Aku menggandeng tangan Jin Young manja. “Ayo kita pulang…” kataku, membalikkan badan, sebelum si kembar menyadari mataku berkaca-kaca.

Jin Young menatapku lekat-lekat. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres denganku. Jin Young selalu tahu. Jin Young menatap si kembar. “Young Min…, Kwang Min.., mianhae ..aku tidak bisa mengantar kalian pulang. Aku akan membawa Jin Rae ke rumahku dulu. Ibu dan Ayahku khawatir sekali padanya.”

Kwang Min dan Young Min mengangguk. “Tidak apa-apa. Kami bisa naik taksi.” Kata Young Min riang. “YA!! Jin Rae!!! Hati-hati!!!” seru Young Min padaku.

Aku masih memunggunginya. Tanpa menoleh, aku mengangkat sebelah tangaku. Jin Young tersenyum pada si kembar. “Kami pergi dulu..” lalu Jin Young merangkul pundakku. Sambil menarik koperku, dia pun membimbingku berjalan.

“Kau memberitahu paman dan bibi? Jangan bilang kau cerita pada ayahku juga?!” kataku, saat kami sudah berjalan lumayan jauh dari si kembar.

Jin Young nyengir. “Tentu saja tidak. Aku hanya berbohong pada si kembar.”

“Hah?”

“Kau lapar?” Tanya Jin Young. “Ayo kita makan okonomiyaki favorit kita, sambil kau cerita padaku. Ada apa antara kau dan si kembar…”

*****

Hari ini kuliah Kimia Fisik 4 pukul 8 pagi. Tapi karena ayahku masih di Paris, sepertinya hari ini bebas. Hehehe. Seingatku sih Appa tidak menitipkan tugas padaku. Jadi kupikir hari ini bebas 2 SKS. ^_^

Begitu aku memasuki kelas, Eun Hye langsung menghampiri dan memelukku. “Jin Rae….!!!! huhuhu.. kenapa kau tidak cerita padaku??? Beberapa hari yang lalu, Jo Seonsangnim cerita padaku tentang kau dan Min Ho Oppa.”

“Mwo??” seruku kaget. Aiiishhh!!! Aku tidak menyangka ternyata Kwang Min bawel juga.

Eun Hye memukul lenganku. “YA!!! Jin Rae pabo!!! Kau ini sahabat macam apa, hah?! Kenapa tidak langsung cerita padaku???!!! Kalau aku tahu dari awal, aku pasti langsung membantumu! Kau membuatku merasa jadi sahabat yang buruk!!” cerocos Eun Hye panjang lebar.

Aku tersenyum lalu memeluk sahabatku itu. “Mianhae…Eun Hye.., saat itu aku tidak bisa berpikir apa-apa…”

Eun Hye terisak. “Pabo.., gwenchana? Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Haaahhh…lega sekali…” aku nyengir lebar.

“Benarkah?” tanya Eun Hye tak yakin. Aku mengangguk. “Hmmm.” Lalu aku pun menggandeng lengan Eun Hye, duduk di bangku paling belakang. Beberapa teman kelasku menatap kami heran dan penasaran. “Annyeong…, aku bolos beberapa hari..hehehe…” kataku santai pada mereka.

“Jin Rae, hari ini kan ayahmu tidak ada. Kita ke kantin saja yuk! Kau cerita di kantin saja..” Eun Hye menarik tanganku. Tas kami biarkan tergeletak di atas kursi.

Begitu kami mencapai pintu, Kwang Min muncul!

“Jung Jin Rae.., Lee Eun Hye.., kalian mau ke mana? Pelajaran akan segera dimulai.” Kata Kwang Min tenang sambil tersenyum manis.

“Omo..~~ Jo Seonsangnim akan mengajar Kimia Fisik 4?” tanya Eun Hye dengan mata berbinar-binar.

Kwang Min mengangguk. “Hmm. Hanya hari ini saja. Ayo masuk..!”

“Kyaaaa…asyiiikkk!!!!” seru Eun Hye senang. Aku hanya melongo. Eun Hye cepat-cepat kembali ke tempat duduknya, meninggalkan aku yang masih berdiri di dekat pintu.

“Jin Rae.., ayo duduk..” kata Kwang Min.

Aku tersadar. “Ah.. ~ Ne.. Seonsangnim.” Kataku kacau. Kwang Min tertawa. Lalu dia mengacak-acak rambutku. “Bagaimana perasaanmu sekarang? Lega?” tanyanya.

Aku mengangguk. Pipiku terasa panas. Dengan gontai, aku pun kembali ke tempat duduk-ku. Eun Hye nyengir lebar padaku. “Jin Rae…kau beruntung sekali bisa berlibur ke Paris bersama Jo Seonsangnim! Yaaa…aku sangat iriii!!!!” ujar Eun Hye, agak keras.

“Sssstttt!!!!” aku menyuruhnya diam. Beberapa anak menatap kami curiga. Aku hanya nyengir kaku.

Selama pelajaran berlangsung, aku tidak bisa fokus! Sepertinya aku sudah mulai ketularan Eun Hye! Aku malah memperhatikan wajah Jo Seonsangnim, dan bukannya memperhatikan materi yang disampaikannya!

Pikiranku kembali melayang ke Paris… saat momen-momen di Arc de Triomphe….

“Jin Rae….” Panggil Kwang Min.

Aku masih terdiam. Melamun.

Eun Hye mengguncang-guncang bahuku. “Yaaah.., Jin Rae!! Jo Seonsangnim memanggilmu..” bisiknya.

Aku pun tersadar. Kwang Min sudah berada di sampingku! “Jin Rae…ayo kerjakan soal di papan tulis.”

“Hah? Eh..maksudku… Ne.. Seonsangnim.” Kataku kikuk. Kwang Min nyengir. Aku pun maju ke depan kelas. Kwang Min berdiri di dekat papan tulis. Aigoo ~~ aku jadi tidak bisa berkonsentrasi!

Mmmmm…soal ini… ikatan kimia ya.., ng-ng..bagaimana ya…ng-ng.. Aaarrrgghhh!!!! Tiba-tiba saja aku jadi nge-blank!!!!!

Arc de Triomphe… Arc de Triomphe … Arc de Triomphe … Aaarrrrgghhhhh!!!!!!!! Kenapa malah itu yang kuingat??!!!!

Aku hendak berjalan mengambil penghapus, tapi saking “mengawang-awang”-nya pikiranku, aku jadi tersandung kakiku sendiri. Aaaahhh… Hup! Untung saja seseorang berhasil menangkapku. Aku jadi tidak jatuh. Mataku membelalak menyadari siapa yang memelukku kini. Kwang Min!!!!

“Cieeeeeeeeee…..” terdengar suitan jail teman-teman sekelasku. Wajahku memerah. Kulihat pipi Kwang Min juga merona.

“Jung Jin Rae! Kau tidak bisa mengerjakan soal mudah ini? Kemari! Aku akan menghukummu!” ujar Kwang Min sok galak. Kwang Min menarik tanganku, keluar dari kelas. Anak-anak masih bersuit-suit ria.

“Kau mau menarikku ke mana??” tanyaku. Kwang Min berjalan cepat, sambil terus menarik tanganku.

Kami pun masuk ke ruangan kerja Kwang Min di lantai 5. Kwang Min menutup pintu dan menguncinya, lalu menatapku lekat-lekat. “Kau masih sedih ya, Jin Rae?” tanya Kwang Min lembut. Tulus.

“Ng..ng..” gumamku. “Aku baik-baik saja.” Jawabku. Aku memang baik-baik saja! Aku begini karena dirimu, Kwang Min! Kataku dalam hati.

Kwang Min mendekatiku. “Kau yakin? Sepertinya pikiranmu tidak berada di sini.., hhhh.., jangan sedih lagi, Jin Rae.” Kwang Min membelai kepalaku. Aku menahan napasku. Kwang Min meraih ponselnya. “Hallo..Young Min…, kau tidak ada kuliah kan hari ini? Hmm..ya..aku di kampus. Kau bisa datang kemari? Tolong temani Jin Rae jalan-jalan..oke..”

MWO?????? Aku membelalakkan mataku. Tidak…tidak!!! Bagaimana mungkin sekarang Kwang Min mau “melemparku” begitu saja pada Young Min?!!!! Sama saja!!! Yang kubutuhkan sekarang adalah…. menjauhi mereka!!!! Ya..ya..aku harus menjauhi mereka agar pikiranku tetap waras!

Kwang Min tersenyum padaku. “Tunggu di sini dulu. Sebentar lagi Young Min datang. Sebaiknya hari ini kau tidak usah kuliah dulu, Jin Rae. Tenangkanlah dulu pikiranmu.. setelah itu..barulah kau kuliah lagi dengan pikiran yang fresh.”

Tenang???? Bagaimana mungkin aku bisa tenang bila si kembar selalu berada di dekatku?!!!!!

******

Kwang Min mengambilkan tas-ku dari dalam kelas. Aku menunggu di depan gedung kampusku. Kwang Min menghampiriku. Dalam hati aku tertawa. “Yaaa ~~ mana ada dosen yang mengambilkan tas untuk mahasiswi-nya?!”

Sebuah mobil sport mewah berwarna biru berhenti di hadapanku. Seorang namja tinggi, berambut pirang, berkaus hitam lengan pendek, celana jins, sepatu boot, dan berkacamata hitam – keluar dari dalam mobil.

“Pengawal sudah datang.” Katanya ogah-ogahan, sambil mengunyah permen karet. Namja itu menatapku. “Ayo masuk!” katanya galak.

Aku hanya diam berdiri. Beberapa anak cewek menatap kami. Lebih tepatnya… menatap Young Min!!

“Kyaaaa….itu Jo Young Min!!!!!” seru mereka keras. Young Min melepas kacamata hitam-nya dengan penuh gaya, lalu melambai ala Pangeran ke arah cewek-cewek itu. Membuat mereka menjerit histeris.

“Kyaaaa….Young Miiiinn!!!!!! Kapan kau akan manggung di cafe lagi??”

“Young Miin..Young Miiinnnn…. ayo foto bersama…” anak-anak cewek itu mengerubungi Young Min. Dengan penuh gaya Young Min berfoto bersama mereka. Cih! Aku hanya mendengus.

Cewek-cewek itu kemudian menatapku…? Bukan!! Tapi menatap namja di sebelahku!!! Mereka menghampiri Kwang Min!!!!

“Omo ~~ kembarannya Young Min…”

“Kyaaa.. ini pasti Kwang Min!!!” seru cewek-cewek itu heboh.

Young Min mendekati Kwang Min, lalu merangkul bahunya brotherly. “Yap..benar..ini Kwang Min. Kembaranku. Eits! Tapi kalian harus memanggilnya Seonsangnim. Dia dosen di Jurusan Kimia.”

“Mwo??? Kyaaaa…kereeennnn!!!!!”

“Huwaaaahhhh….harusnya aku masuk jurusan Kimia..dan bukannya Fisika!!!” cewek-cewek itu kembali heboh.

Kwang Min hanya tersenyum sopan. Lalu dia menatap aku dan Young Min. “Aku harus mengajar lagi. Young Min…cepatlah pergi dari sini sebelum membuat kehebohan.” Bisik Kwang Min. Sekarang makin banyak anak cewek yang menonton kami.

Young Min melemparkan senyum maut-nya pada cewek-cewek itu. Mereka menjerit-jerit norak. Lagi-lagi aku hanya mendengus.

Young Min menarik tanganku. “Ayo..” katanya.

“Kyaaaaa… Young  Miiiinnnn…. Kwang Miiiin Seonsangniiim…”

Young Min sempat-sempatnya melambai sok artis pada mereka. Lalu ia pun tancap gas. Mengemudikan mobil dengan kecepatan super!

“YAAAAA!!!! PELAN-PELAN!!!! AKU TIDAK MAU MATI SEKARAAAANG!!!!” Teriakku.

“Hahahaha.., tenang saja. Aku ini professional! Kebut-kebutan bisa menghilangkan stress! Percayalah padaku!!!!”

Menghilangkan stress??? Justru aku jadi semakin stress!!! Apalagi di sebelahku ada namja yang stress!!!!

******

Young Min mengajakku ke mall yang ada di pusat kota. Kami berjalan beriringan. Aku bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitar kami.

“YA!!! Buka kacamata hitam itu! Terlalu mencolok! Memangnya kau artis hah?!” seruku.

Young Min tersenyum miring. “Kenapa? Kau cemburu yaa cewek-cewek yang ada di sini melirikku?”

“MWO????”

Young Min merangkul pundakku. “Yaaa.. Honey…, jangan cemburu…” kata Young Min, sok mesra.

Aku mendorongnya agar menjauhiku. Young Min hanya terbahak-bahak. Lalu ia menarik tanganku. “YA!!!! lepaskan!!!!” pekikku. Tapi Young Min malah terus saja menggenggam tanganku sambil berjalan cepat. “YAAAA!!!! ~~~” teriakku. Orang-orang menatap kami. Aku malu sekali! Tapi nampaknya Young Min tidak peduli. Akhirnya aku pun nurut saja.

Kami masuk ke coffee shop. Young Min masih menuntun tanganku. “Gong Chan!!!” Young Min melambaikan tangannya pada seorang namja tinggi, berambut hitam pendek, dan berwajah imut. Young Min menuntunku mendekati namja bernama Gong Chan itu.

“Hei, Young Min!!! Ada apa tiba-tiba menyuruhku janjian di sini?” tanya Gong Chan. Dia melirikku. “Yeojachingu-mu? Waah.., kalian serasi sekali!” puji Gong Chan.

Aku merasa wajahku merona merah. Apa aku terlihat seperti yeojachingu-nya Young Min? Apa benar kami terlihat serasi? Entah kenapa kata-kata Gong Chan barusan membuatku senang. Tapi..apa yang Young Min katakan kemudian membuatku sedih.

“Bukan. Dia hanya dongsaengku yang menyebalkan! Kenalkan…dia Jung Jin Rae. Jin Rae, ini sahabatku. Ingat kan kata-kataku dulu? Aku akan mengenalkanmu pada sahabatku.”

“Gong Chan Shik. Panggil saja aku Gong Chan.” Namja bernama Gong Chan itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Dia tampan. Sangat tampan malah. Tapi entah kenapa sekarang hatiku malah terasa sakit. Aku membalas uluran tangannya. “Jin Rae.” Kataku pelan.

Young Min menyenggol lenganku pelan. “Yaaa..kenapa malu-malu begitu? Hahahaha..”

Aku hanya terdiam. Young Min dan Gong Chan memesan espresso. “Kau mau pesan apa?” tanya Young Min.

“Aku pesan apa yang kau pesan.” Jawabku datar. Seperti de ja vu. Bedanya kali ini namja yang membuatku sedih ada di hadapanku!

Young Min menatapku khawatir. “Oke..” katanya.

Young Min dan Gong Chan banyak mengobrol. Aku hanya terdiam. Beberapa kali Young Min memergoki aku yang tengah melamun.

“Kau kenapa sih? Sakit?” Young Min memegang kedua pipi chubby-ku dengan tangannya, lalu menggoyang-goyangkannya. “Ya..Jin Rae…kau aneh sekali hari ini! Seperti bukan Jin Rae yang kukenal!”

Aku balas menatap Young Min. Iya..aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri. Seperti bukan aku. Demi Tuhan! Dia hanya Young Min! Kenapa aku merasa canggung dengannya?! Hey…dia hanya si Pirang menyebalkan yang takut kucing! Dia bukan Kwang Min!

“Ayo kita pulang…” tiba-tiba Young Min menarik tanganku. “Sampai nanti Gong Chan!!” seru Young Min.

“Kenapa kau tiba-tiba meninggalkan temanmu? Dia pasti merasa aneh.” Kataku.

Young Min berhenti berjalan. Dia membungkukkan badannya agar sejajar denganku, lalu sambil memegang kedua bahuku dia berkata : “Hari ini tugasku adalah membuatmu senang. Tapi kau malah terlihat sedih. Apa yang harus kulakukan agar kau senang, Jin Rae?” tanya Young Min sungguh-sungguh.

Jangan pernah menjodohkanku dengan siapapun! Jangan menganggap aku sebagai adikmu! Aku ingin meneriakkan kata-kata itu pada Young Min. Tapi pada kenyataannya aku hanya terdiam.

“Jin Rae…!!! YA!!! Bicaralah!! Aku lebih suka melihatmu marah-marah daripada diam!” seru Young Min.

“Aku mau pulang.” Kataku.

Young Min menatapku lama, lalu dia pun mengangguk. “Oke. Kurasa mungkin sebaiknya hari ini kau jalan-jalan bersama Kwang Min. Bukan denganku. Mungkin bila saat ini Kwang Min yang ada di posisiku…kau akan senang.”

“Young Min…bukan begitu…aku…”

Young Min tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku pengawal yang gagal ya? Hahahaha.., ayo.. Princess kita pulang sekarang…” Young Min berjalan pergi. Aku mengikutinya. Mianhae… Young Min….

******

Keesokan harinya….

Di Laboratorium, saat Praktikum Kimia Organik 2….

Aku sekelompok dengan Eun Hye. Hari ini kami praktikum “Identifikasi Protein dalam Telur Bebek”. Aku tidak tahu ada apa denganku hari ini. Aku sudah memecahkan 3 buah pipet tetes, 1 gelas kimia kecil, dan sekarang aku hampir menyenggol gelas kimia besar yang berisi sampel.

“Jung Jin Rae! Ada apa denganmu hari ini? Berhati-hatilah!” ujar Kim Ki Bum alias Key. Kakak tingkatku yang menjadi Asisten Praktikum. “Hei! Kau melamun terus ya?!” Key memukul kepalaku pelan memakai pulpen.

Aku hanya tersenyum padanya. “Mianhae, sonbae.. aku sedang tidak enak badan.” Sebenarnya aku sedang tidak enak hati.

Nichkhun Seonsangnim menghampiriku. Dia adalah dosen Praktikum. “Jangan dipaksakan. Kalau sakit lebih baik kau pulang duluan saja…”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa..seonsang…” kata-kataku terhenti. Kwang Min baru saja masuk ke dalam lab!

“Khun…, Mr.Jung Il Woo baru saja tiba. Beliau sekarang ada di meeting room dan menyuruh kita berkumpul…, aku tadi diberitahu TaecYeon.” kata Kwang Min.

“MWO??? Appa???”  kataku. Seharusnya 2 hari lagi baru Appa pulang.

“Appa?” Kwang Min tak mengerti.

“Mr. Jung Il Woo itu ayahnya Jin Rae.” Kata Nichkhun, menjelaskan. “Ayo, Jin Rae..temui ayahmu dulu.” Khun Seonsangnim tersenyum.

“Ne!!!!” kataku riang. Masih memakai jas lab, aku berlari keluar dari laboratorium. “APPAAAA!!!!!!” seruku.

“Jin Rae!!!!” Appa memelukku.

“Appa… kenapa tidak memberitahuku kalau Appa pulang hari ini? Aku kan ingin menjemput Appa di bandara.”

Ayahku tertawa. “Mianhae…, lagipula kan hari ini kau ada kuliah. Acaranya selesai lebih cepat, jadi Appa bisa pulang hari ini. Oleh-oleh untukmu ada di rumah, sayang. Sehabis dari bandara tadi Appa langsung ke sini, dan Mr.Han membawakan kopper Appa dan oleh-oleh untukmu ke rumah.”

“Aku kangen Appa…” kataku manja.

Ayahku tertawa. “Ini di kampus, Jin Rae.. kau tidak malu TaecYeon seonsangnim melihatmu?”

Aku melirik Taecyeon seonsangnim. Dia hanya nyengir. Aku menggeleng. “Tidak. Biarkan saja…”

“Selamat datang Mr.Jung Il Woo ssi…” Nichkhun seonsangnim baru saja masuk, lalu menjabat tangan Appa.

“Annyeong haseyo. Saya Jo Kwang Min. Dosen baru di sini.” Kwang Min memperkenalkan dirinya.

Ayahku tampak terkejut melihatnya. “Kau..???” kata Appa. Lalu Appa tersenyum. “Kau masih ingat padaku, Nak? Yaah..kau sudah besar begini.” Appa memeluk Kwang Min. Kwang Min bingung.

“Appa sudah kenal Jo Seonsangnim?” tanyaku.

Appa tertawa. “Jin Rae.., kau lupa padanya? Dia dulu anak yang menyelamatkanmu saat di Osaka.”

Tatapanku melebar. “Kwang Min????”

“Appa masih ingat wajahnya. Anak yang sangat tampan,  penyelamatmu ini mana mungkin Appa melupakannya. Bagaimana mungkin kau bisa melupakan Pangeran kecilmu, Jin Rae?” Appa tertawa.

Aku menatap Kwang Min. “Kau pernah tinggal di Osaka?”

Kwang Min mengangguk. “Hmm. Saat umurku 11 tahun. Tapi..aku tidak ingat pernah bertemu denganmu dulu.” Kata Kwang Min.

“Young Min…” gumamku. “Pasti Young Min, Appa! Bukan Kwang Min! Mungkin orang itu Young Min!!!”

“Young Min?” tanya Appa.

“Dia kembaran saya.” Kata Kwang Min.

Aku menatap wajah Kwang Min lekat-lekat. Benarkah? Apa benar Young Min lah si Little Prince-ku? Jadi itukah alasannya mengapa aku langsung merasa dekat dengan si kembar meskipun aku baru saja mengenal mereka? Itukah alasannya mengapa aku merasa jantungku hampir copot tiap kali melihat mereka? Apakah karena wajah ini…? Karena wajah ini mengingatkanku pada little prince-ku? Apakah Young Min benar-benar little prince-ku?

******

Pukul 8 malam, di kamarku….

Aku telentang di tempat tidurku. Menatap langit-langit. Mengingat-ingat lagi masa laluku yang hampir kulupakan.

Little Prince… aku tidak pernah mengingatnya lagi semenjak aku bersama Min Ho Oppa. Little Prince hanyalah julukan yang kuberikan pada anak laki-laki yang kutemui di Osaka (Jepang) saat umurku 11 tahun. Saat aku dan Appa berlibur di rumah nenekku (nenekku dari pihak ibu adalah orang Jepang).

Saat itu aku sedang bermain-main di dekat sungai, jauh dari rumah nenekku. Ketika kecil aku sangat suka berpetualang. Aku juga sangat senang memancing ikan-ikan di sungai. Padahal di sungai itu hanya ada sedikit ikan. Itu pun hanya ikan-ikan kecil. Saat itu hujan tiba-tiba turun dengan deras. Aku menapaki batu-batu, dan terpeleset karena licin. Aku ingat saat itu kepalaku berdarah karena mengenai batu tajam. Aku menangis keras, tapi tak ada seorang pun yang datang. Aku memanggil-manggil Appa-ku, tapi Appa tak kunjung datang.

 

Lalu, tiba-tiba seorang anak laki-laki menggendongku, membawaku ke tempat teduh, dan mengobati luka-ku.

 

“Hei…adik kecil.., seharusnya kau jangan bermain di sungai saat hujan.” Kata anak itu, dalam bahasa Jepang. Aku mengerti bahasa Jepang, karena Appa mengajariku bahasa Jepang sejak aku kecil.

 

Aku menangis. “Aku ingin ikan…huwaaaaa…Appaaa…”

 

Anak laki-laki itu membelai kepalaku. “Jangan menangis. Aku punya ikan untukmu.” Anak laki-laki itu melepas kalungnya, lalu memakaikan kalung itu di leherku. “Untukmu, anak manis..” katanya sambil tersenyum.

 

Saat itu aku senang sekali. “Arigattou..,” kataku, sambil mengagumi kalung dengan bandul berbagai jenis ikan yang terbuat dari perak.

 

“Ayo..aku antar kau pulang. Kau ingat di mana rumahmu?” tanyanya. Aku menggeleng. Anak itu tersenyum, dengan sabar dia berkata. “Kalau begitu, ayo kita cari.” Dia pun menggendongku di punggungnya.

 

Mungkin saat itu aku tertidur di punggungnya. Yang aku tahu, saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat tidurku. Appa menatapku cemas. “Jin Rae..untunglah kau baik-baik saja. Appa mencarimu ke mana-mana. Kenapa kau main jauh sekali? Untung ada anak laki-laki yang menggendongmu saat Appa sedang mencarimu…”

 

Aku menangis kencang. “Mana little prince-ku, Appa???”

 

Appa hanya tertawa. “Dia sudah pulang.. kau akan bertemu lagi dengan little prince-mu nanti kalau kita liburan ke sini lagi..” Appa membelai rambutku. Aku malah menangis semakin keras.

Hhhhh.., begitulah. Hanya itu kenanganku tentang pangeran kecilku. Mungkin terdengar aneh dan cheessy, tapi bagiku itu kenangan yang sangat berharga.

Pangeran kecilku.., kenapa ia tiba-tiba muncul lagi sekarang? Aku tahu itu hanyalah cinta monyet. Hahaha. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda? Kwang Min bilang bukan dia.., Apakah Young Min? Hhhh….aku takut. Bagaimana kalau bukan Young Min juga?

Aku cepat-cepat bangkit berdiri, mencari-cari kalung ikanku. Di mana? Di mana aku menaruhnya? Aku mengeluarkan seluruh isi laci lemariku, tapi tidak ada! Di mana???? Aaaah!! Benar! Diary! Aku membuka-buka tumpukkan diary-ku. Benda perak itu terselip diantara diary-ku yang lama.

Aku memandangi kalung itu. Cantik sekali…

Cepat-cepat aku turun ke lantai 1. Appa – yang sedang nonton TV menoleh. “Mau ke mana?”

“Aku mau ke rumah Young Min dulu Appa! Aku janji hanya sebentar..” kataku cepat.

“Jangan pulang terlalu malam…”

“Ne..” teriakku, setengah berlari.

Aku memijit bel. Ayoo..cepatlah buka…. Aku memijit bel lagi dengan tidak sabar.

Sebuah mobil menepi di depan rumah. Cahayanya membuat mataku silau. Seseorang keluar dari dalam mobil itu.

“YA!!! Jin Rae!! Ngapain malam-malam ke sini?” tanya Young Min.

“Young Min….” tiba-tiba saja aku jadi kehilangan kata-kata.

Young Min membuka gembok pagar. Lalu dia menatapku. “Ada apa? Kau mencari Kwang Min? Dia belum pulang.”

“Aku mencarimu.”

“MWO??? Hahaha.., kau kangen padaku ya?” Young Min tersenyum jail.

“Ini…” aku menyerahkan kalung ikan padanya.

“Apa ini?” tanya Young Min.

“Itu kalungmu.., kau memberikannya padaku saat di Osaka dulu. Saat umur kita 11 tahun…”

“Kalungku???” Young Min menatap kalung itu lekat-lekat. Lalu dia menggeleng. “Ini bukan punyaku. Memangnya kita pernah bertemu di Osaka dulu?”

“YAA~~!!! JO YOUNG MIIIN!!! Itu kan kalungmu!!!!” bentakku. Kesal juga karena dia pura-pura tidak ingat.

Young Min terbahak-bahak. “Yaaaa…kenapa kau begitu ngotot? Hahaha..aku tidak mungkin punya kalung aneh seperti ini! Tanyakan saja pada Kwang Min! Mungkin ini kalungnya…”

Aku menatap Young Min. Young Min balas menatapku. Sepertinya Young Min berkata jujur. Tapi saat di kampus tadi pun Kwang Min berkata jujur. Aku tahu dari tatapan mata mereka. Mereka mengatakan yang sebenarnya. Jadi.., bukan Kwang Min, bukan pula Young Min. Lalu siapa? Mengapa ayahku mengira si Pangeran Kecil adalah Kwang Min???? Jujur saja aku merasa kecewa. Siapa yang sebenarnya kusukai??? Kwang Min??? Young Min??? Atau hanya Pangeran kecil imajinasi-ku? Hhhhh…..

Hari ini aku pergi ke kampus pagi-pagi sekali bersama ayahku. Aku menatap ayahku takut-takut. Ayahku masih marah padaku karena aku baru saja memberitahunya masalah Min Ho Oppa tadi pagi saat sarapan. Aku sulit mencari waktu yang “pas” untuk memberitahu ayahku masalah ini.

Ayahku menyetir dengan kecepatan sedang. Aku tahu ayahku mengkhawatirkanku. Aku tahu ayahku marah sekali pada Min Ho Oppa. Ayahku dulu pernah bilang…sudah menganggap Min Ho Oppa sebagai anaknya sendiri. Aku tahu  ayahku sangat kecewa pada Min Ho Oppa.

“Mianhae…Appa. Aku takut Appa akan kehilangan kendali saat di Paris…”

“Kau takut Appa akan membunuhnya, Jin Rae? Ya..Appa akan melakukannya.” Kata ayahku geram. Aku menatap ayahku. Dalam beberapa hal, ayahku mirip dengan Young Min. Terutama sifat gegabah dan emosian-nya.

Kami pun sampai di kampus. Setelah memarkir mobil, Appa menatapku. “Kau yakin baik-baik saja?” tanya Appa.

Aku mengangguk. “Hmm..”

Ayahku membelai puncak kepalaku, lalu mengecup keningku. “Appa yakin suatu saat nanti kau akan bertemu dengan Pria yang benar-benar baik.”

Aku tersenyum. “Ne.., aku akan bertemu Pria seperti Appa.”

Ayahku tertawa. “Harus lebih baik dari Appa, Jin Rae…”

Kami pun keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke gedung fakultas MIPA bersama-sama. Saat menunggu lift, Kwang Min datang. “Selamat pagi, Mr.Jung..” sapa Kwang Min sopan.

Ayahku tersenyum. “Selamat pagi, Mr.Jo…”

“Selamat pagi, Jin Rae…”

“Eh.., se-selamat pagi Jo Seonsangnim..” kataku grogi.

Ayahku menatapku sambil mengulum senyum. “Mr.Jo.., nanti malam kau ada acara? Kalau tidak, datanglah ke rumah kami untuk makan malam. Sebagai tetangga baru, aku belum sempat menyambutmu dengan baik. Ajak juga saudara kembarmu. Aku belum pernah bertemu dengannya.”

Kwang Min mengangguk sambil tersenyum sopan. “Ah, Ne.., Mr.Jung. Terima kasih untuk undangannya…, saya akan memberitahu Young Min.”

Ayahku tertawa, lalu menepuk-nepuk lengan Kwang Min ke-bapakan. “Kau sopan sekali, Nak. Sama seperti 9 tahun yang lalu. Sayang sekali kau tidak mengingatku…”

Kwang Min tersenyum. Aku menatap Kwang Min. Kwang Min tidak menyangkalnya?

Kami pun masuk ke dalam lift. Di dalam lift hanya ada aku, Kwang Min, ayahku, dan 2 mahasiswa lain. Lift berhenti di lantai 4. “Appa duluan ya, Jin Rae. Mari Mr.Jo..” ayahku pun keluar dari dalam lift bersama 2 orang mahasiswa lain.

Kini di dalam lift hanya ada aku dan Kwang Min. Aku mengeluarkan kalung ikan dari dalam tas-ku. “Apakah ini kalungmu?” tanyaku.

Kwang Min tersenyum. “Kalau iya memangnya kenapa? Dan kalau bukan kenapa?”

Aku hanya terpaku.

Kwang Min mendekatiku. Aku mundur sampai ke pojok lift. “Seandainya aku adalah si Pangeran Kecilmu itu.., apa yang akan kau lakukan? Jin Rae.., yang paling penting.. siapa yang kau sukai sekarang? Young Min..? Atau aku?” lift berhenti di lantai 7. Kwang Min menekan tombol open agak lama. “Pikirkanlah, Jin Rae…” Kwang Min tersenyum, lalu keluar dari dalam lift. Pintu lift menutup. Ya Tuhan…, apakah Kwang Min little prince-ku????

*****

Di Kelas Kimia Farmasi….

“YA! Jin Rae! Jangan melamun saja!” tukas Eun Hye. “Untung Mr.Hwang tidak masuk hari ini. Tapi cepatlah kerjakan tugasmu!” kata Eun Hye. Dia masih sibuk mengerjakan tugasnya.

Aku menghela napas. “Hhhh.., Eun Hye.., chemistry itu apa sih?” tanyaku.

Eun Hye menatapku, lalu tertawa terbahak-bahak. “Huwahahaha.., masa kau tidak tahu?! Chemistry itu bahasa Inggrisnya Kimia!”

Aku menatap sobatku itu dengan sebal. “YAAAA!!! Aku juga tahu! Bukan itu maksudku. Kalau di novel-novel…ada kata-kata chemistry.., apa bedanya chemistry dengan suka, cinta, sayang?”

Eun Hye menatapku curiga. Dia tersenyum jail. “Kau suka pada siapa? Aaahhh.., biar kutebak!!! Jo Twins???”

Aku menutup mulutnya. “Jangan keras-keras!”

Eun Hye terkikik. “Hihihi…sudah kuduga. Aku juga suka mereka.”

“MWO?”

“Yaaah.., Jin Rae..biar kuajari kau. Jadi dengarkan baik-baik!” kata Eun Hye sok jadi guru. Aku memperhatikannya dengan saksama.

“Suka itu… hmmm… ya..hanya suka. Seperti aku suka Jo seonsangnim, suka Nichkhun oppa, Taecyeon oppa, Kyu Hyun Oppa, Key Oppa, Woo Young Oppa, Jin Ki Oppa…”

“YA!! YAA!!! Sudah-sudah! Tidak usah disebutkan satu-satu! Aku tahu kau ini boy crazy! Aishh! Tidak ada gunanya bertanya padamu!” tukasku.

Eun Hye nyengir sambil merangkul pundakku. “Kalau cinta.., kau akan rela berkorban apa saja demi dia. Kau akan tetap mencintainya meskipun dia tidak balas mencintaimu. Kalau sayang.., biasanya berbarengan dengan cinta munculnya. Hmmm..kadang setelah cinta. Sayang biasanya lebih abadi, seperti rasa sayang orangtua ke anaknya.. Hmm..menurutku sih begitu, Jin Rae. Itu berdasarkan pengalamanku. Yaaaaa.., tidak ada gunanya menanyakan apa definisi-nya! Yang paling penting… kau merasakannya dengan hatimu.” Eun Hye mengedipkan sebelah matanya genit.

“Oh ya, satu lagi.. chemistry ya? menurut kamus Lee Eun Hye.. chemistry itu seperti suatu rasa cocok. Dua orang saling mencintai, tapi tidak ada chemistry, menurutku percuma! Mereka bisa putus kapan saja. Tapi dua orang asing… atau 2 orang yang saling benci, tapi bila mereka memiliki chemistry, rasa sayang dan cinta akan tumbuh perlahan-lahan di hati mereka.” kata Eun Hye.

Aku tertawa.. “Hei Eun Hye.., aku tidak menyangka kau pandai juga! Hahaha….”

Eun Hye mengedip. “Tentu. Meskipun aku ini boy crazy.., tapi orang yang kucintai dari dulu hanya 1.” Mata Eun Hye menerawang. Aku tahu siapa yang Eun Hye maksud. Sepupuku. Jung Jin Young.

Aku merangkul bahunya. “Jin Young pasti akan menyadarinya suatu hari nanti.., kau yang terbaik, Eun Hye…”

“Gomawo.., hhhh.., sebenarnya dia sudah menyadarinya. Aku yakin. Hanya masalah waktu saja…”

Aku mengangguk. “Beri Jin Young waktu, Eun Hye. Dia masih belum bisa melupakan Shin Ae…” kataku. Eun Hye mengangguk.

Kurasa tiap orang memiliki “jalan cerita” sendiri-sendiri. Aku sakit hati karena dikhianati tunanganku. Tapi aku juga tidak bisa membayangkan jika seandainya aku mengalami “kisah” seperti Jin Young. Mungkin aku tidak akan bisa sekuat Jin Young. Mencintai seseorang hingga akhir hidupnya. Sampai akhir hidupnya ia masih mencintai kita, dan kita masih mencintainya. Tapi kita dipisahkan oleh “kematian”. Aku rasa aku lebih tidak sanggup bila mengalami “cerita” seperti itu.

“Jadi…siapa yang kau sukai, Jin Rae? Kwang Min? Atau Young Min?” tanya Eun Hye.

Aku menghela napas panjang. “Hhhh.., kurasa aku suka dua-duanya…”

“YAA!! Sama sepertiku!” seru Eun Hye heboh. “Kalau yang kau cintai? Siapa?” tanyanya lagi. Aku hanya terdiam. Eun Hye tersenyum. “Hatimu pasti tahu jawabannya, Jin Rae.”

******

Pukul 7 malam….

Aku dan ayahku duduk di meja makan. Tinggal menunggu kedatangan Kwang Min dan Young Min.

“Appa.., Appa benar-benar yakin Kwang Min adalah little prince yang kutemui di Osaka dulu?” tanyaku.

Ayahku mengangguk. “Hmm. Kau tau kan Jin Rae…ingatan ayahmu yang tampan ini sangat bagus.” Ayahku mengedipkan sebelah matanya.

“Bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau…?”

“Kembarannya?” potong ayahku. Ayahku mengangguk. “Hmm. Mungkin saja. Kita akan tahu malam ini. Tapi, Jin Rae.., yang paling penting adalah masa sekarang dan masa depan. Masa depan Kwang Min sangat cerah. Ayah menyukainya. Dia laki-laki yang hebat. Bukankah kau juga menyukainya?” ayahku tersenyum.

Aku mengangguk lemah. “Tapi masalahnya…aku juga menyukai kembarannya.” Kataku lemah.

Ayahku membelai lembut kepalaku. “Ikuti kata hatimu, Nak. Appa akan selalu mendukungmu.”

Aku tersenyum. “Gomawo, Appa.”

“Tuan.., Tuan Jo sudah datang..” kata Tuan Han. Kwang Min masuk, lalu membungkukkan badannya. “Selamat malam Mr.Jung…maaf saya terlambat. Young Min tidak bisa hadir.”

“Kenapa?” tanyaku spontan.

Kwang Min menatapku. “Malam ini Young Min manggung di cafe.”

Ayahku mengangguk. “Tidak apa-apa. Mari duduk, Kwang Min ssi..”

Young Min manggung? Aku jadi penasaran seperti apa dia saat tampil di atas panggung. Aku hanya pernah melihatnya bermain gitar di taman. Aku tersenyum mengingat pertemuan pertama kami yang “heboh” itu. Hah, si Pirang yang takut kucing! =p

“Jin Rae…, kau ingin melihat Young Min manggung?” tanya ayahku. Aku terkejut. Ayahku tersenyum. “Pergilah, Nak. Kwang Min ssi.., kau bisa mengantarnya? Tapi tolong jangan pulang terlalu malam.

“Ah..Ne..” kata Kwang Min.

Selama di perjalanan, di dalam sedan hitam Kwang Min, kami hanya saling diam. Lalu tiba-tiba Kwang Min bicara, memecah kesunyian diantara kami. “Apakah little prince-mu itu sangat berarti?”

Aku hanya terdiam. Bingung dengan pertanyaanya yang tiba-tiba dan mendesak. Lalu aku mengangguk.

“Kau sudah memikirkan jawaban untuk pertanyaanku tadi pagi?” tanya Kwang Min lagi.

Aku menatap Kwang Min. Bingung dengan jalan pikiran namja yang satu ini. “Apakah kau orang yang menyelamatkanku saat di Osaka dulu? Apakah kau anak laki-laki yang memberiku kalung ikan itu?”

Kwang Min tersenyum. “Apakah sangat penting bagimu untuk mengetahui siapa orang itu?” Kwang Min malah balas bertanya. “Kalau anak itu adalah aku, Kau akan memilihku sekarang? Kalau anak itu  ternyata Young Min, kau akan memilih Young Min sekarang?”

Aku menggeleng. “Aku tidak tahu…” aku menatap jalanan malam hari Kota Seoul. Tidak kalah indahnya dengan suasana malam hari di Paris.

Mobil berhenti di depan sebuah cafe bernuansa ungu. Kwang Min mendekatkan wajahnya padaku, lalu berkata pelan. “Ya.., akulah anak itu…”

Mataku membelalak lebar. Aku menatap Kwang Min lekat-lekat. Sepertinya dia berkata sungguh-sungguh. Lalu tiba-tiba Kwang Min tertawa. “Hahaha. Sudah kuduga. Kau kecewa kan Jin Rae? Kau berharap anak itu adalah Young Min?”

Aku menggeleng. “Gomawo…, hanya itu yang ingin aku katakan pada anak itu. Dulu aku tidak sempat mengatakan terima kasih padanya…, Gomawo Kwang Min ~ ah…”

Kwang Min membelai puncak kepalaku sambil tersenyum lembut. “Aku menyayangimu seperti adikku sendiri, Jin Rae. Aku senang ternyata perasaanmu juga seperti itu padaku. Aku takut kau mencintaiku sebagai namja…” Kwang Min mengedipkan sebelah matanya.

“Mwo?? Yaaa… kau bisa wink? Bukannya kau tidak bisa wink?!!”

Kwang Min tertawa. “Hahaha.., aku belajar pada Young Min.., ternyata gampang ya..” Kwang Min mengedipkan sebelah matanya lagi,

“Ya .. Ya.. hentikan!” tukasku. Kwang Min hanya tertawa.

Aku menghela napas. “Hhhhh.., Young Min juga hanya menganggapku sebagai adik?” tanyaku putus asa.

“Tanyakan saja padanya…” kata Kwang Min.

“YAAAA!!! Licik sekaliii!!!! Cepat beritahu akuuu..!!!!” aku menggoyang-goyang lengan Kwang Min.

Kwang Min terbahak-bahak. “Hahahaha…, Jin Rae.. kuberitahu kau salah satu rahasia Young Min. Dia itu sangat pemalu. Harus kau duluan yang bergerak. Atau selamanya kalian akan seperti ini.”

“Mwo?? Masa harus aku duluan???”

Kwang Min mengangguk. “Hmmm.., dia belum pernah sekalipun menyatakan perasaannya pada wanita..”

“MWO?? Kau bohong…” aku tertawa.

Kwang Min menjitak kepalaku pelan. “Aku serius. Percayalah pada Oppa-mu ini.”

“Oppa?? Hahahaha….”

Kwang Min menggenggam tanganku. “Aku akan membantumu. Ayo…” kami pun keluar dari dalam mobil.

Cafe ini penuh sekali. Aku memandang berkeliling. Kebanyakan yang datang adalah wanita! Lalu aku menatap panggung. Oooh.., pantas saja! Sepertinya malam ini Young Min dan Gong Chan jadi guest star di sini.

Kwang Min merangkul pundakku. Kami berdiri agak jauh dari panggung. Penonton bertepuk tangan riuh saat mereka selesai menyanyikan lagu. Yah..sayang sekali aku hanya mendengar akhirnya. Gong Chan turun dari panggung. Kini hanya tinggal Young Min yang berdiri di atas panggung. Young Min meletakkan gitar-nya, lalu duduk di depan sebuah grand piano putih. Penonton (cewek) mulai menjerit-jerit heboh. Young Min tersenyum, lalu mulai menekan tuts piano. Sebuah nada lembut mulai terdengar.

“Sepertinya aku tau lagu ini.” Gumamku. “Aaaah.. Yiruma – Kiss The Rain !!!”

“Bingo!” kata Kwang Min.

Aku terbuai penampilan Young Min malam ini. Dia seperti pemain piano professional. Seperti tokoh-tokoh komik yang “keluar” dari dunia komik dan hidup di dunia nyata.

Berikutnya, Young Min menyanyikan lagu Mandy Moore yang berjudul “Only Hope”, sambil bermain piano.

“Omo ~~~ ini lagu favoritku!!!!” seruku riang. Waah.., suara Young Min bagus juga.

Penonton melambaikan tangannya, beberapa ikut bernyanyi. Aku hanya fokus mendengarkan suara nyanyian dan piano Young Min.

“Thank You..” kata Young Min, ketika lagu berakhir. Young Min melambaikan tangannya penuh gaya, membuat penonton cewek menjerit-jerit histeris. Aku hanya mendengus. Kwang Min tertawa, lalu megacak-acak rambutku.

“Lagu berikutnya .., SNSD – Hoot..” kata Young Min, meraih gitarnya, lalu mulai bernyanyi lagu SNSD – Hoot.

“Kwang Min.., Young Min itu fans beratnya SNSD ya? Dia pasti suka tipe cewek-cewek seperti SNSD…” kataku. Ingat saat pertama kali bertemu di taman dulu pun Young Min memainkan lagu SNSD dengan gitarnya.

Kwang Min mengangguk, lalu menggeleng. Aku memukul lengannya. “Yaaa..!! yang serius!!!”

Kwang Min tertawa. “Ya, dan tidak. Ya..dia fans berat SNSD. Tapi dia tidak suka tipe cewek seperti SNSD. Dia suka tipe cewek sepertimu.”

“MWO???”

“Mau bukti? Hey… aku kan sudah janji akan membantumu. Percayalah padaku..” Kwang Min mengedipkan sebelah matanya. Aigoo ~~~ aku jadi sebal sejak Kwang Min bisa wink!! Dia jadi semakin mirip Young Min. Sama-sama jahil!

Young Min membungkukkan badannya, lalu turun dari atas panggung. Kwang Min masih merangkul pundakku. Ia membimbingku berjalan menghampiri Young Min. “Young Miiin!!!!” Kwang Min melambaikan tangannya.

“Kwang Miin!!” Young Min tersenyum lebar. Lalu dia menatapku. Senyumannya hilang! “Untuk apa kau ke sini?” tanyanya galak.

Aku hanya diam, lalu melirik Kwang Min. Hey! Bantu aku! Aku mencoba memberi sinyal pada Kwang Min melalui tatapan mataku.

Kwang Min mengecup pipi kiri-ku. Young Min membelalak. Begitupun denganku!

“Kwang Miin!!! Kau kan sudah jan-…” Young Min tidak melanjutkan kata-katanya. “Chukkae!!!” katanya ketus padaku. Lalu dia pun membalikkan badannya, hendak pergi.

“Young Minnie.., kau akan menyesal..” kata Kwang Min. Young Min berbalik dan menatap Kwang Min. Kwang Min merangkul pundakku, “Ayo..kita pulang..” katanya. Kami pun berbalik, pergi menjauhi Young Min.

“Sudah kubilang dia tidak menyukaiku..” bisikku sedih pada Kwang Min.

“Tunggu sebentar lagi…” Kwang Min tersenyum.

“Jin Rae!!!” Young Min berlari mendekatiku, lalu menarik tanganku. “Ikut aku!!!” Young Min menyeretku.

“YAA!! Jangan menarik tanganku!!” Pekikku. Seperti de ja vu.

“Good luck!!!!” seru Kwang Min. Aku menatap Kwang Min – yang tertinggal jauh di belakang. Kwang Min hanya melambaikan tangannya sambil nyengir lebar.

Young Min membawaku ke studio yang ada di lantai 2 cafe ini. Studio-nya kosong. Hanya ada alat-alat musik, aku, dan Young Min.

“Kau menyukai Kwang Min?” tanya Young Min. Dia duduk di kursi. Membiarkanku berdiri. Aku merasa jadi seperti terdakwa!

Aku mendengus. “Kalau ya kenapa? Dan kalau tidak kenapa?” tantangku. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat “trik” Kwang Min saat di mobil barusan. Dosenku itu memang sangat jenius!

Young Min tersenyum mengejek. “Kau menyukainya karena dia little prince-mu?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

Young Min sedikit terkejut. “Kalau begitu kenapa? Kenapa kau menyukainya?”

Selama beberapa saat, aku hanya diam. Kenapa berbicara dengan si kembar selalu saja berbelit-belit?! Dan kenapa si pirang ini selalu saja keras kepala?!

“…. Jin Rae… kuberitahu kau salah satu rahasia Young Min. Dia itu sangat pemalu. Harus kau duluan yang bergerak. Atau selamanya kalian akan seperti ini.” Tiba-tiba aku teringat apa yang Kwang Min katakan saat di mobil tadi.

Aku menghela napas panjang, lalu menatap Young Min dengan berani. “Aku menyukai kalian berdua.” Kataku tenang.

Young Min membelalakkan matanya. “MWO? YAA!!! Kau ini playgirl, hah?!” bentaknya.

“Aku menyukai kalian berdua. Tapi aku bodoh karena mencintai si pirang menyebalkan yang takut kucing!”

Young Min menatapku. Aku memalingkan wajahku. Selama beberapa saat kami hanya saling diam. Lalu Young Min berdiri, berjalan mendekatiku, meletakkan kedua tangannya di pundakku, lalu menatapku lurus-lurus. “Aku tidak mau jadi pacarmu!” katanya.

“Mwo???”

“I don’t wanna be your boyfriend. I wanna be your husband. Would you marry me, Princess?”

Aku membelalakkan mataku. Young Min tersenyum manis. Lalu dia mendekati grand piano hitam. Mulai menyanyikan lagu Bruno Mars yang berjudul “Marry You” dengan versi yang sedikit berbeda dari aslinya. Lebih slow dan lebih lembut karena iringan piano.

Aku hanya bisa terpaku menatapnya. Speechless.

It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do 
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes, or is it this dancing juice
Who cares baby, I think I wanna marry you 

Well I know this little chapel on the boulevard
We can go
No one will no
Oh c’mon girl

Who cares if we’re trashed
Got a pocket full of cash we can blow
Shot of Patron
And it’s on girl

Don’t say no no no no no
Just say yeah yeah yeah yeah yeah
And we’ll go go go go go
If you’re ready, like I’m ready

‘Cause it’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes or is it this dancing juice
Who cares baby, I think I wanna marry you

Oh
I’ll go get a ring
Let the choir bell sing like ooh
So what you wanna do
Lets just run girl
If we wake up and you want to break up
That’s cool
No I won’t blame you
It was fun girl

Don’t say no no no no no
Just say yeah yeah yeah yeah yeah
And we’ll go go go go go
If you’re ready, like I’m ready

‘Cause it’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes, or is it this dancing juice
Who cares baby, I think I wanna marry you

Just say I do
Tell me right now baby
Tell me right now baby, baby
Just say I do
Tell me right now baby
Tell me right now baby, baby

Oh
It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes, or is it this dancing juice
Who cares baby, I think I wanna marry you

 

Young Min mengakhiri permainan piano-nya, lalu tersenyum. Omo ~~~ aku bisa merasakan wajahku memanas.

Young Min menghampiriku, berlutut ala kesatria, meraih tangan kanan-ku lalu mengecupnya lembut. “What is your answer, Princess?”

Aku menatap Young Min. Young Min balas menatapku. Rasanya aku ingin tertawa melihat wajah serius-nya itu. “Hmmm…, my answer is.., YES! Blonde Prince…” aku pun langsung memeluknya.

“YA!! Blonde Prince??? Aku akan mengecat rambutku jadi merah. Apakah nanti kau akan menjulukiku Red Prince? Hahaha…”

Aku tidak terpancing kata-kata usilnya. Hari ini aku terlalu bahagia.

******

Kami tiba di depan pintu rumahku. Masih berpegangan tangan. Kami memutuskan untuk memberitahu ayahku malam ini juga. Tidak ada gunanya “menyembunyikan” apapun dari ayahku! Ayahku pasti akan langsung mengetahuinya.

Aku pun melangkah masuk, sambil menunutun Young Min. “Oh..Kwang Miin???!!!” Aku terkejut mendapati Kwang Min sedang duduk di ruang keluarga bersama ayahku. Ayahku menatapku tajam. Kwang Min nyengir lebar. Aku menoleh, menatap Young Min di sampingku. Young Min terlihat gelisah. Aku menggenggam tangannya semakin erat. Menguatkannya. Young Min tersenyum.

Ayahku menghampiri aku dan Young Min yang masih berdiri. Ayahku menatap Young Min lekat-lekat. Young Min tersenyum. “Annyeong haseyo.., saya Jo Young Min…”

Ayahku masih tetap menatap Young Min lekat-lekat.

“Appa..ini Young Min..” kataku. Tiba-tiba merasa takut ayahku tidak akan menyukai Young Min karena rambutnya dicat pirang.

Ayahku memegang kedua lengan Young Min, sambil tersenyum lebar ayahku berkata.. “Yaaaaa.., Kau dan Kwang Min begitu mirip. Kembar identik. Aku jadi salah mengenali. Hahaha.., Kau jadi semakin tampan, Nak! Apa kabar?”

Young Min tersenyum. “Saya baik-baik saja. Anda masih mengenali saya?” tanya Young Min dalam bahasa Jepang.

“Tentu saja aku mengenalimu. Kalian begitu identik. Tapi tatapan matamu itu… aku yakin kau lah anak yang kutemui di Osaka 9 tahun lalu itu, saat menggendong Jin Rae yang terluka…” kata ayahku dalam bahasa Jepang.

Aku membelalak. “Mwo?? Young  Min si little prince???” tanyaku tak percaya.

Ayahku mengangguk. “Hmmm…, sekarang aku yakin 100%. Sorot matamu masih sama seperti dulu, Nak. Terima kasih karena kau selalu menjaga Jin Rae… baik dulu maupun sekarang..” ayahku menepuk-nepuk pundak Young Min.

Young Min tersenyum malu-malu. Kwang Min menghampiri kami. “Mianhae, Jin Rae. Tadi aku berbohong padamu. Sebenarnya.., Young Min lah si little prince-mu..”

Aku menatap Young Min. Young Min hanya nyengir. “Apa kabar, adik kecil?” katanya usil. Seperti de ja vu. Aku ingat, saat di taman dulu pun Young Min memanggilku anak kecil!

“YAAA!!! Kau sudah mengenaliku dari awal??” tanyaku.

Young Min mengangguk. “Hmm. Tentu saja, adik kecil!”

Aku memukul lengannya. Young Min hanya tertawa. “Hahaha.., mianhae Jin Rae…, aku hanya ingin memastikan. Kalau aku memberitahumu akulah si little prince, aku takut kau menyukaiku hanya gara-gara itu. Aku menyangka kau lebih memilih Kwang Min. Karena itulah… aku sengaja meminta bantuan Kwang Min.”

“Hah? Hahahaha… YAAA!! Aku tidak menyangka kau begitu pemalu dan aneh!”

“Aneh???? YAA!! Siapa yang aneh, hah?!!!!”

“KAU!!! Sok-sok an cool, sok artis, tapi pemalu dan penakut!”

“YAAA!!! Kau yang aneh!!”

“Ehem…” Ayahku dan Kwang Min berdehem. Kami pun langsung menghentikan adu mulut kami, lalu menunduk malu. Lupa kalau sekarang ini ada ayahku di hadapan kami.

“Maaf, Appa…” kataku pelan.

Ayahku tertawa renyah. “Hahaha.., jadi… kapan tanggal pastinya?” tanya ayahku.

“MWO???” mataku membelalak.

“Appa sudah tidak sabar melihatmu memakai gaun pengantin, Jin Rae…”

“Eh..ituu…ng-ng..” aku melirik Young Min.

Tanpa kuduga, Young Min merangkul bahuku, lalu berkata. “Besok juga kami siap. Benar kan, chagiya?” Young Min mengedipkan matanya genit.

“MWOOO??? YAAAAA!!!” Aku memukul lengannya.

“Appa setuju.” Kata ayahku.

“APPPAAAA~~~!!!!”

Ayahku, Kwang Min, dan Young Min hanya tertawa.

Ayahku menghampiriku, lalu memelukku. “Appa senang kau bertemu dengan laki-laki yang lebih hebat dari Appa. Setelah lulus kuliah nanti, kalian berdua menikahlah. Appa merestui kalian.”

“Appa…” air mataku menetes.

Ayahku menepuk-nepuk pundak Young Min penuh kasih sayang. “Terima kasih, Young Min…, tolong jaga Jin Rae baik-baik..”

Young Min mengangguk. “Ne..”

“Gomawo Appa…, gomawo Young Min.., gomawo Kwang Min…” kataku sambil terisak. Young Min merangkulku. Kwang Min mengacak-acak rambutku. Ayahku tertawa bahagia.

Tuhan…, kumohon.., aku ingin selalu bersama Appa, Young Min, dan Kwang Min. Aku ingin hidup bahagia bersama Young Min. Di masa depan nanti, kuharap kasih sayang kami semakin erat dan kuat. Aku ingin orang-orang yang kusayangi… Appa, Young Min, Jin Young, Eun Hye, dan Kwang Min hidup dengan baik dan bahagia.

Aku tau Tuhan maha adil. Setelah memberiku banyak cobaan, kini Tuhan memberikan orang-orang yang luar biasa hebat dalam hidupku. Dalam hidupku…ada yang datang, dan ada yang pergi. Yang terbaik lah yang akan menetap selamanya di hatiku. Young Min lah yang akan selamanya menetap di hatiku. Bukan little prince. Tapi Young Min yang sekarang ini. ^_^

*** Finish ***

10 thoughts on “[Jo Twins FF] Chemistry (Chapter 3)

  1. miii.. jjamkan, pas dulu di fb kmu post sampe tamat?? aku ngerasa pernah baca~~~ hehe *pas baca part 3 ini

    yeahh like I think, tentunya Jin Rae lebih milih si blonde prince (?) wkwkkwkkk~~ *geret kwang min

    sukaa critanyaa,, tapi sayang cepat berakhir huhuhu…

    mii.. aku mau gerak MD besok masa -_-“.. kmu mau bikin dluan part chan2 gpp hehe~ ntar kita samain (?) biar ga bentrokkan critanya

  2. Udah end ya? bener-bener udah end?
    Huaa rada gak ikhlas klo Youngmin ngilang, skarang susah cari ff yang main castnya Youngmin. Jangankan Youngmin, BOYFRIEND aja udah ssah. Buatin ff Youngmin lagi ya eonn
    #tebaraegyominwoo

  3. Wah….
    akhirnya happy ending.
    kurain jin rae bakal ma dua dua nya…
    *ga mungkin ya?
    Hehe
    Keren dah!!
    Btw,
    moonlight destiny kpn d lanjut?

  4. Nggg.. Ceritany mirip sama kehidupan ku. Tapii yaa begitu, yang nanyanya fiksi mah pasti lebih keren.. Ff nya daebak banget thor, feel nya dapet dan bahasanya juga enak dibaca. Keep writing thor😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s