[Jo Twins FF] Chemistry (Chapter 2)

Image

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Title                : Chemistry

Genre             : Romance, school life, friendship, family

Rating             : PG + 15

Length            : Series (3 Chapter)

Main Casts     :  Jung Jin Rae (OC), Jo Young Min (Boyfriend), Jo Kwang Min (Boyfriend)

Support Cast : Lee Eun Hye (OC), Jung Jin Young (B1A4), Choi Min Ho (SHINee), Nichkhun (2PM), Taeckyeon (2PM), Kyu Hyun (SuJu)

 

Disclaimer      : Cerita ini hanya fan fiksi. Ceritanya milik saya. Tokoh-tokohnya K-Pop. Dilarang Copas tanpa izin! Happy reading.. ^_^

Cerita ini pernah di posting di FB author sekitar 2 tahun yang lalu.

 

 

Chapter 2“Paris Could Become Romantic City For Broken- Heart Girl”

 

 

Aku masih duduk di lantai. Pandanganku kosong. Mataku sembab karena air mata. Pabo! Kenapa aku mempercayai Young Min semudah itu? Aku sudah mengenal Min Ho Oppa selama 8 tahun. Mana mungkin aku lebih percaya kata-kata cowok yang baru saja kukenal beberapa hari! Huh! Jin Rae pabo! Young Min sekarang pasti sedang menertawakanku di rumahnya!

 

Aku pun bangkit berdiri. Agak terhuyung, aku berpegangan ke tembok.

 

“Jin Rae!!!!” Tiba-tiba saja Kwang Min datang. “Gwenchana?” Kwang Min menatapku khawatir.

 

Aku tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Mana Young Min? Dia pasti sedang menertawakanku karena berhasil menjahiliku kan?”

 

“Jin Rae… Young Min sedang menelepon Hara.”

 

“Mwo?” tanyaku. Aku takut mendengar kata-kata Kwang Min selanjutnya.

 

Kwang Min perlahan mendekatiku. Lalu tanpa kuduga, dia memelukku dengan erat. “Jangan khawatir.., aku dan Young Min pasti akan menyelamatkanmu dan Hara dari Choi Min Ho. Ternyata nama Min Ho tidak selamanya cool ya..”

 

“Jadi..apa yang Young Min katakan itu benar? Tentang Min Ho Oppa?”

 

Kwang Min melepas pelukannya, lalu menatapku dalam-dalam. “Hmm..” dia mengangguk. Aku percaya. Entah kenapa aku langsung percaya begitu Kwang Min yang mengatakannya. Air mataku mengalir. “Jangan menangis.., air matamu terlalu berharga untuk menangisi cowok macam dia…” Kwang Min menghapus air mataku perlahan. Tapi air mataku malah mengalir semakin deras. “Eottokhe Kwang Min ~ah???” isakku. Kwang Min memelukku lagi. Mencoba menenangkanku.

 

“YA!!! Jung Jin Rae!!!” suara nyaring Young Min terdengar. Kwang Min melepaskan pelukannya.

 

“Bagaimana?” tanya Kwang Min pada Young Min.

 

“Hhhhh…, sama saja! Kenapa sih kalian para yeoja begitu keras kepala?! Hara sama saja seperti Jin Rae. Dia tidak percaya apa yang kukatakan.” Young Min terlihat lelah sekali. Lalu tanpa kuduga, Young Min memukul tembok dengan keras sambil mengumpat. Aku terlonjak kaget.

 

“Aku tidak menyangka Choi Min Ho yang begitu mengagumkan ternyata hanyalah seorang bajingan!” Young Min berkata geram. “Aku tidak akan membiarkannya menyakiti Hara-ku!”

 

“Gwenchana?” aku menghampirinya dan meraih tangannya. “Omo ~~~ tanganmu luka..”

 

“Tidak apa-apa. Jin Rae.., bagaimana kalau besok kita ke Paris?”

 

“Mwo?”

 

“Aku dan Kwang Min akan ke Paris. Kita selesaikan semuanya. Kumohon…ikutlah bersama kami ke Paris. Ini demi dirimu dan demi Hara juga. Mungkin memang akan terasa menyakitkan. Tapi setelahnya kau akan merasa lega..”

 

Air mataku mengalir lagi. Sambil terisak aku pun mengangguk. Young Min mengulurkan tangannya, lalu menepuk-nepuk pundakku perlahan.

*******

 

Keesokan siangnya….

Kwang Min mengantar aku dan Young Min ke bandara. Karena masih banyak yang harus Kwang Min selesaikan di kampus, ia jadi tidak bisa pergi ke Paris bersama kami hari ini.

 

“Aku akan segera menyusul. Mungkin besok sore. Mianhae…” kata Kwang Min.

 

Aku tersenyum. “Tidak apa-apa..”

 

Young Min nyengir. “Ternyata ada untungnya juga jadi mahasiswa. Bisa bolos. Hehehe. Kalau dosen kan harus ada alasan yang jelas, baru boleh bolos…”

 

“YA! Young Min! Tetap saja kehadiran minimal harus 80%!” tukasku.

 

“Ara. Oh ya, kau yakin tidak mau memberitahu Jin Young?”

 

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak mau Jin Young khawatir. Lagipula saat ini dia sedang sibuk dengan festival seni.”

 

Kwang Min menepuk-nepuk pundakku. Memberiku semangat. Lalu dia menatap Young Min. “Hati-hati, jaga Jin Rae baik-baik.” Kata Kwang Min pada Young Min. Young Min pun mengangguk. Aku menatap si kembar agak lama. Aneh sekali. Padahal aku baru mengenal mereka beberapa hari, tapi rasanya kami sudah begitu dekat.

 

“Ayo….” ajak Young Min. Aku melambaikan tanganku pada Kwang Min. Kwang Min tersenyum dan balas melambaikan tangannya. Hhhh.., aku sangat berharap Kwang Min pergi ke Paris bersama kami sekarang. Dengan gontai, aku pun mengikuti Young Min memasuki gate.

 

Di dalam pesawat….

“Aku takut…” gumamku.

 

“Mwo??? Kau takut naik pesawat???” Young Min tersenyum mengejek.

 

“Aish!! Bukan!! Aku takut pergi ke Paris. Aku takut bertemu Min Ho Oppa. Aku takut melihat langsung semuanya..” Aku merasa mataku mulai berkaca-kaca lagi.

 

“Jangan takut…” suara Young Min melembut. Lalu dia menepuk-nepuk pundaknya sendiri. “Khusus hari ini kau boleh meminjam pundakku. Kau sangat beruntung! Karena di luar sana banyak sekali gadis yang berharap ada di posisimu sekarang ini..”

 

“Cih!” Aku memalingkan wajahku. Young Min hanya tertawa.

 

Selama di perjalanan, aku hanya memandang ke luar. Melihat gumpalan kelabu awan-awan yang berarak. Di sebelahku Young Min tertidur pulas. Aku menatapnya, lalu tersenyum. Young Min lucu juga kalau sedang tidur. Dia jadi terlihat seperti anak kecil yang polos dan tanpa dosa.

 

“Gomawo….Young Min ~ah.., aku tahu kau membawaku ke Paris demi sepupumu , Hara. Tapi bagaimanapun, gomawo…” kataku, masih sambil menatap Young Min yang tertidur.

 

*******

 

Akhirnya kami pun tiba di Paris. Rasanya kepalaku agak pusing. Berada di pesawat selama berjam-jam membuatku lelah, padahal selama di pesawat tadi aku hanya tidur…dan tidur!

 

Paris…, entah berapa kali aku bermimpi ingin pergi ke kota yang sering disebut Romantic City ini. Aku membayangkan berlibur di kota cantik ini bersama Min Ho Oppa. Sudah 2 tahun Min Ho Oppa berada di Paris. Sudah 2 tahun aku tidak bertemu dengannya. Dulu aku sering memaksa Min Ho Oppa agar pulang ke Korea saat liburan musim panas, lalu membawaku berlibur ke Paris. Tapi saat itu Min Ho Oppa hanya berkata : “Setelah kau lulus kuliah, baru aku akan mengajakmu berlibur ke Paris. Hmmm..bukan hanya berlibur, tapi kita akan tinggal selamanya di Paris. Bagaimana?” saat itu aku merasa senang, karena aku tahu ada seseorang yang menungguku. Ada seseorang yang menjanjikan masa depan untukku. Ada seseorang yang kupikir selalu mencintaiku.

 

Masa depan…, kupikir Min Ho Oppa adalah masa depanku. Kupikir semua janjinya adalah nyata. Sangat ironis sekali, karena kini aku pergi ke Paris justru untuk mengakhiri mimpi-mimpi itu. Masa depan yang indah…yang kupikir  akan aku jalani bersama Min Ho Oppa.

 

Selama berada di dalam taxi, aku hanya diam. Aku merasakan tatapan Young Min. Aku tidak memedulikannya, dan terus saja memandang jalanan kota Paris lewat kaca mobil. Aku mendengar Young Min berbicara kepada supir taxi – memakai bahasa Perancis. Aku tidak menyangka si Pirang ini pandai berbahasa Perancis!

 

Kami berhenti di depan hotel Belle. Dilihat dari bangunannya sepertinya ini hotel bintang 5. Aku menatap Young Min penuh tanda tanya. “Kupikir kita akan pergi ke rumah Pamanmu…dan Hara.”

 

“Lebih baik kita menginap di sini. Aku tidak mau melihat wajah jelek itu menangis terus.”

 

Aku mendelik sebal pada Young Min.

 

Young Min nyengir, lalu suaranya melembut. “Aku punya rencana. Percayalah padaku.”

 

Kamarku dan kamar Young Min bersebrangan. Setelah menaruh koper dan berganti pakaian, aku dan Young Min pun makan malam di restoran yang ada di lantai 1 hotel ini. Kami memesan tempat outdoor, di taman bunga dekat kolam renang. Candle light dinner. Entah kenapa justru aku merasa sedih. Aku teringat candle light dinner-ku yang pertama bersama Min Ho Oppa 5 tahun yang lalu.

 

“My treat.., pesanlah apapun yang kau inginkan..” kata Young Min, sambil sibuk membaca daftar menu.

 

“Aku pesan apa yang kau pesan.” Kataku datar.

 

“Hah?” Young Min menatapku heran. Aku hanya balas menatapnya tanpa ekspresi. Young Min pun akhirnya mengangguk. “Oke..” sepertinya dia mengerti suasana hatiku yang sedang buruk.

 

Selama makan malam, aku hanya diam. Aku tidak merasakan bagaimana enaknya makanan yang kumakan itu. Young Min tak henti-hentinya berceloteh tentang makanan dan minuman yang kami makan sekarang ini. Tapi pikiranku kosong. Aku makan, tanpa merasakan apapun. Aku mendengarkan Young Min bicara, tanpa mengerti apa yang ia katakan. Aku duduk di sini, di hadapan Young Min, tapi aku tidak tahu ke mana “jiwaku” pergi.

 

“YA!!! YAAAA!!! Jung Jin Rae!!!! Aku tidak mau mengobrol dengan patung!” Young Min cemberut. Matanya nampak terluka memandangku. Bibir bawahnya dia monyongkan sedikit. Wajahnya yang tirus jadi bulat karena dia menggembungkan pipinya. Dia jadi terlihat seperti anak TK! Mau tak mau aku pun tertawa melihat tingkah konyolnya.

 

“Apa aku lucu?” tanya Young Min sambil mengedipkan kedua matanya berkali-kali.

 

“Tidak.” Tukasku.

 

“Kalau begitu jangan tertawa! Cara tertawamu aneh sekali, Jin Rae!” kata Young Min galak.

 

Aku mendelik padanya. “Kenapa kau senang sekali membuatku kesal, hah?!”

 

Young Min menatapku lekat-lekat, lalu dia tersenyum lembut. “Aku lebih suka melihatmu marah…daripada melihatmu sedih.” Katanya sungguh-sungguh.

 

Aku berusaha menahan air mataku yang mendesak ingin keluar. Di sini…di kota ini. Kurang dari 24 jam lagi….aku akan mengetahui semuanya …mengakhiri semuanya. Hhhhh.., bagiku…Paris sama sekali tidak romantis!

 

****

 

Di kamar hotel….

Sekarang sudah pukul 11 malam, tapi aku masih saja terjaga. Sejak tadi banyak sekali hal yang kupikirkan. Perasaan takut dan gelisah itu terus saja menghantuiku. Aku mencoba memejamkan mataku, tapi tidak juga merasa ngantuk!

 

Appa…, Jin Young…, aku sangat berharap kalian ada di sini sekarang juga. Tiba-tiba aku merasa menyesal tidak menceritakan hal ini pada Jin Young dan Appa-ku. Hhhh.., tapi kalau aku cerita sekarang, mereka pasti akan marah sekali, khawatir, sekaligus sedih. Ini lebih baik. Aku akan memberitahu mereka nanti, setelah semuanya berakhir.

 

Akhir…, kupikir kata “Akhir” tidak akan pernah ada dalam kamusku bersama Min Ho Oppa. Kupikir yang ada hanyalah kata “selamanya.” Hhhh.., ya mungkin memang ada kata “selamanya”… selamanya membohongiku.

 

Aku membalikkan badan dan memeluk gulingku. Masih juga belum bisa tidur. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Aku menatap pintu kamar Young Min dengan ragu. Lalu, perlahan aku pun mendekatinya dan mengetuknya pelan. “Young Min…ini aku.. Young Min…” kataku sambil mengetuk pintu. Tidak terdengar jawaban. Aku mengetuk lagi semakin keras. Setengah menggedornya. “Young Miiiinnnn!!!!! YOUNG MIIIIIIINNNNN!!!!!” teriakku.

 

Pintu terbuka. “Ada apa?” Young Min mengucek-ngucek matanya. Rambutnya sedikit acak-acakan.

 

“Young Min…, aku mau tidur di kamarmu…”

 

Mata Young Min membelalak. “MWO????” Lalu dia tertawa. “Kau ini yeoja bukan sih?! YA! Aku ini seorang namja straight! Meskipun aku tidak menyukaimu, tapi jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu padamu nanti!” bentak Young Min.

 

“Aku takut…, biarkan aku tidur di kamarmu, Young Min..” kataku. Tubuhku menggigil.

 

Selama beberapa saat Young Min menatapku. Dia mendecakkan lidahnya, lalu.. “Masuklah. Tidur saja di sofa! Aku mau tidur lagi! Aish! Mengganggu mimpi indahku saja!” Young Min mengunci pintu, lalu kembali tidur di kasurnya. Aku pun berjalan mendekati sofa, lalu bergelung di sana. Tubuhku masih menggigil. Bukan karena dingin. Aku sudah memakai jaket 3 lapis. Aku tidak tahu mengapa aku menggigil. Aku takut. Sangat takut…

 

“Appaaaa……” bisikku. Air mataku menetes. Aku mendengar dengkuran halus Young Min. Maka aku pun tidak lagi menahan tangisanku. Aku menangis lebih keras. Biar saja..Young Min tidak akan mendengarku. Aku ingin bertemu Appa-ku. Aku ingin memeluk Appa-ku. Aku ingin menceritakan semuanya pada Appa-ku. “Appa…Mianhae…, tahun depan Appa tidak akan bisa melihatku memakai gaun pengantin…” lirihku.

 

*****

 

Aku membuka mataku sedikit demi sedikit, agak silau terkena cahaya matahari yang masuk dari celah-celah jendela. Gorden masih tertutup, jadi sinar matahari tidak sepenuhnya masuk. Aku menggeliat. Lalu langsung terduduk begitu menyadari sesuatu. Aku tidur di kasur! Bukan di sofa! Bagaimana aku bisa tidur di sini?

 

Aku turun, lalu mendekati sofa. Di sanalah aku menemukan Young Min yang masih tertidur pulas. Kenapa malah Young Min yang tidur di sofa? Rasanya tadi malam aku deh yang tidur di sofa.

 

Selama beberapa saat, aku terus saja memandangi wajah damai Young Min. Ah…seandainya saja aku membawa kamera digital! Tunggu!!!! Aku mendekati meja. Di samping laptop Young Min, ada kamera digital! Aku pun meraihnya, lalu cepat-cepat memfoto Young Min yang sedang tidur. Hahaha…wajahnya lucu sekali!

 

Young Min menggeliat. Cepat-cepat aku menaruh kembali kamera digital itu ke tempat semula. Aku menatap Young Min lagi. Aigoo ~~ dia masih saja tidur!

 

“Mmmm… Min Woo…Min Woo yaaaa.. Min Woo…” gumam Young Min. Matanya masih terpejam. Min Woo? Kira-kira siapa ya Min Woo yang ia mimpikan itu? Yeojachingu-nya kah?

 

Aku melirik jam dinding. Sudah jam 12 siang! Ya Tuhan! Apakah aku tidur selama itu?! Cepat-cepat aku membangunkan Young Min. “Young Min….Young Miiin…Bangun… Young Min!” Aku mengguncang-guncang tubuhnya. Young Min mengerang. “YA!!! YOUNGMIN BANGUN!!!!” Teriakku.

 

Young Min langsung terduduk. Matanya membelalak lebar. “Ada apa? Kebakaran?” tanyanya heboh.

 

Aku terbahak-bahak. “Huwahahaaha..Pabo! Ayo bangun! Sudah jam 12!”

 

“YAAAAA~~~~!!!! Dasar cewek menyebalkan! Kenapa teriak-teriak saat aku tidur?! Keluar sana! Aku mau tidur lagi!” bentak Young Min. Dia pun kembali berbaring di sofa, lalu menatapku tajam. “Gara-gara kau berisik sekali tadi malam, aku jadi tidak bisa tidur! Makan yang banyak sana! Tubuhmu ringan dan kecil sekali sih! Seperti menggendong anak TK saja!”

 

Aku mendelik menatapnya. Tapi dalam hati aku tersenyum. Berarti aku tidak berat? Itu tandanya aku langsing? Hihihi…

 

“YA! Kenapa senyum-senyum sendiri?!” bentak Young Min. Dia bangkit, berjalan mendekatiku, lalu mengamati wajahku lekat-lekat. “Jangan bilang kau senang karena aku berkata kau ringan…Hei..hei..aku tahu apa yang kau pikirkan!” Young Min tersenyum jail. “Semua yang kukatakan barusan itu kebalikannya! Hahaahaha. Kau harus diet ketat Jung Jin Rae!!! Masa dengan tubuh kecil pendek begitu kau berat sekali?!”

 

“Jo…Young…Miiin…” kataku geram. Sebelum sempat kujitak, Young Min segera melesat ke kamar mandi, lalu mengunci pintunya. “YAAA!!! Bukaaaa!!!! Young Min pengecut!!!! Katakan sekali lagi!!!” Aku menggedor-gedor pintu kamar mandi.

 

Terdengar suara tawa dari dalam. “Huwahaahahaha…,tidak mau! Sana pergi kau pervert!”

 

“YOUNG MIIIINN!!!!!”

 

“Pervert..pervert…, menggedor-gedor pintu kamar mandi cowok…menginap di kamar cowok…pervert..pervert…” Young Min bernyanyi-nyanyi geje.

 

Aku menendang pintu kamar mandi. “Aduh!” keluhku. Ternyata sakit juga. “Tunggu pembalasanku Young Min!!!” teriakku. Lalu aku pun keluar dari dalam kamar Young Min.

 

********

 

Pukul 1 siang….

Aku dan Young Min makan pasta, sambil tak henti-hentinya saling tatap dengan tatapan ingin membunuh. Young Min cepat-cepat menghabiskan makanannya, lalu bangkit berdiri.

 

“Aku mau jalan-jalan. Kau diam saja di hotel ya!” kata Young Min.

 

“Mwo?? Aku ikut!!!!”

 

“Tidak mau! Kau diam saja di sini! Kau bilang kau benci Paris! Sudah diam saja di sini!” Young Min pun pergi.

 

“YAA!!!!! YOUNG MIIIINNN!!!!”

 

Huh! Tega sekali dia meninggalkanku sendirian di sini! Aku memandang berkeliling, beberapa bule menatapku heran. Aku hanya nyengir kaku. “Bonjour…” sapaku ngasal, sambil mengangkat tangan kananku. Lalu, demi menyelamatkan wajah, aku pun segera pergi dari sana.

 

“Young Min menyebalkan…. Young Min menyebalkan.. Young Min menyebalkan…” Berulangkali aku mengatakan itu. Aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Cuek saja! Toh mereka juga tidak mengerti apa yang kukatakan.

 

Setelah mengelilingi taman hotel, aku pun kembali ke kamar. Bingung harus melakukan apa. Jadi aku pun hanya berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit. Aaah.., aku harap Kwang Min segera datang!!!!

 

“Jung Jin Rae!!!!” Pintu kamarku diketuk. “YAAA!!! Cepat buka pintunya!!!!”

 

Dengan kesal aku pun membuka pintu. “APA?” sentakku.

 

Young Min nyengir. Lalu menyerahkan bungkusan padaku. “Untukmu. Coklat ini enak sekali. Aku biasa memakannya kalau sedang stress. Oh ya, pakai gaun itu! Nanti malam kita makan malam di luar.”

 

“Apa?” aku menatap Young Min bingung. Tapi Young Min tidak memedulikanku. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya begitu saja. “Aiiissshhh!!!!! Cowok ini membuatku darah tinggi!!!!”

 

Aku membuka bungkusan itu. Di dalamnya ada sebuah kotak kecil berisi cokelat bulat-bulat berbungkus kertas alumunium foil. Lalu kotak lain yang lebih besar berisi sebuah gaun berwarna putih. “Yeppo…” aku memeluk gaun itu. Benar-benar cantik! Aku tidak tahu  Young Min ternyata pandai juga memilih gaun yang indah. Aku mencoba gaun itu. Pas! Bagaimana Young Min bisa tahu ukuran bajuku? Dan bagaimana dia bisa memilih gaun yang begitu indah ini? Apa dia tadi meminta pendapat pacarnya? Min Woo?

 

“Hmmm…cokelatnya juga enak..” Kalau dipikir-pikir lagi, Young Min sebenarnya tidak terlalu menyebalkan!

 

*******

 

Pukul 7 malam…

Young Min menungguku di depan pintu. “YA! Lama sekali sih!!!!!” gerutu Young Min sambil menggedor-gedor pintu.

 

“Sabaaaaarrrr…sebentar lagi aku keluar…” Aku meraih tas tanganku, lalu keluar. “Aku sudah keluar, Tuan Tidak Sabaran!”

 

Selama beberapa saat, Young Min hanya menatapku.

 

“YAAA!! Kenapa?” bentakku.

 

“Baju yang kuberikan bagus juga.” Young Min menatapku dari atas ke bawah.

 

Aku nyengir. “Gomawo…, pacarmu pandai memilihkan gaun ya..”

 

“HAH? Pacar?”

 

Aku mengangguk. “Hmmm. Pasti yang membantumu memilihkan gaun ini pacarmu kan? Dia tinggal di Paris? Siapa namanya? Saat kau tidur …kau mengigau Min Woo..Min Woo…” Aku meniru suara Young Min yang mengigau.

 

“HUWAHAHAHAHAHAAA……” Young Min tertawa terpingkal-pingkal. “Min Woo? Hahahahahaahaha…” Young Min tertawa sambil berjongkok. Dia memegang lenganku, masih terbahak-bahak. “Yaaah.., Jin Rae…kau lucu sekali. Nanti kukenalkan kau pada Min Woo. Dia sudah menunggu kita di bawah. Ayo!” Young Min menggandeng tanganku. Aku hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.

 

Kami mendekati sebuah sedan hitam yang terparkir di depan hotel. Seorang namja cute, mungil,  berambut pendek, ber-jas hitam – tersenyum pada kami. Hah? Siapa dia? Sopir? Kenapa ada sopir yang begitu cute?!

 

“Young Min hyung!!!” Namja cute itu melambaikan tangannya pada Young Min. Young Min masih menggandeng tanganku. Dia menarikku mendekati namja cute itu.

 

“Min Woo!!!!” panggil Young Min. Aku membelalakkan mataku. Min Woo?? Jadi Min Woo itu seorang cowok?! Yaaah.., jangan bilang Young Min gay!!!!!

 

“Waaahh.., kalian serasi sekali…” komentar namja cute itu. Malam ini aku dan Young Min memang terlihat kompakkan. Aku memakai gaun putih, dan Young Min memakai jas putih keren. Seperti jas-jas yang sering dipakai boyband.

 

“Jin Rae, ini Min Woo. Sepupuku.” Young Min tersenyum jail padaku. Aku membelalakkan mataku. Sepupu?

 

“Annyeong…Nuna…aku Min Woo..” Min Woo mengulurkan tangannya. Gosh! Bukan hanya tampangnya saja yang cute! Suaranya pun sangat cute! Aku balas menjabat tangannya. “Jin Rae..” kataku, sedikit merasa bersalah karena tadi sempat menyangka Min Woo dan Young Min adalah pasangan gay!

 

“Hahahahaha…ekspresimu lucu sekali..hahahaha…” Young Min kembali tertawa. Aku menatap Young Min sebal.

 

Min Woo tersenyum. “Ayo…Nuna..Hyung…, nanti kita terlambat.”

 

“Sebenarnya kita mau makan di mana?”

 

“Di restoran Korea.” Jawab Young Min santai.

 

“MWO?? Hahahaha…YAAA~~~!!! Jo Young Min!!!! Kita ada di Paris sekarang!! Harusnya kita makan makanan Perancis!!! Untuk apa jauh-jauh pergi ke Paris, bila akhirnya kau mau makan makanan Korea?!!!!”

 

Young Min tidak terpancing. Dia tetap bersikap tenang. Terlalu tenang malah. Perasaanku jadi tidak enak.

 

Young Min mendekatiku, memegang bahuku dengan kedua tangannya yang besar, sambil menatapku lurus-lurus dia berkata lembut : “Malam ini kita selesaikan semuanya. Kau harus berani, Jin Rae! Aku percaya kau pasti bisa! Hmm?”

 

Aku mengangguk. Min Woo menatapku. “Ya..Nuna pasti bisa. Mianhae..Nuna.., tolong jangan salahkan Hara nuna. Hara nuna sama seperti nuna. Kalian berdua hanya korban. Kumohon jangan membenci nuna-ku..” pinta Min Woo. Aku mengangguk.

 

“Ayo masuk…” Young Min menarik tanganku. Aku dan Young Min duduk di belakang. Sementara Min Woo mengemudikan mobil.

 

Aku menarik napas dalam-dalam. Hhhhh.., semuanya akan berakhir di Paris. Malam ini. Aku menatap ke luar lewat kaca mobil. Pemandangan malam hari Kota Paris sangat menakjubkan. Aku melihat menara eifel. Terlihat begitu anggun, cantik, dan tangguh .

 

Lima belas menit kemudian, kami pun sampai di sebuah restoran Korea. Bangunannya bergaya khas seperti bangunan Istana Korea zaman dulu. Kami keluar dari dalam mobil.

 

“Aku masuk duluan…” kata Min Woo. Young Min mengangguk.

 

Kini hanya tinggal ada aku dan Young Min. Kami berdiri di depan mobil Min Woo. Beberapa pengunjung datang silih berganti. “Kenapa kita tidak masuk?” tanyaku.

 

“Tunggu sebentar lagi. Di dalam sudah ada Kwang Min. Kita tunggu sinyal darinya.”

 

“Kwang Min???” kataku riang. Entah kenapa aku merasa senang Kwang Min ada di sini.

 

Young Min menatapku curiga. Lalu tersenyum mengejek. “Yaaa..Jin Rae.., kau naksir Kwang Min?”

 

“Tidak!” kataku cepat.  Senyum jahil Young Min malah semakin lebar.

 

Ponsel Young Min bergetar. “Kau beli HP baru?” tanyaku. “Ini punya Min Woo. Ayo masuk!” Young Min merangkul pundakku. Aku terkejut, tapi membiarkannya membimbingku.

 

Kami pun masuk. Di meja di ujung sana..aku sudah bisa mengenali sosok tinggi nan sempurna itu. Punggungnya yang tegap. Postur tubuhnya yang ideal. Rambut gelapnya yang dipangkas pendek. Aku merindukan sosok itu. Tapi kini hatiku terasa sakit. Ia belum menyadari kedatanganku, karena ia membelakangiku. Di sebelahnya, seorang wanita cantik seumuranku, berambut lurus kemerahan, dan bergaun hitam menoleh ke belakang dan tersenyum kikuk padaku. Itu pasti Hara. Sepupu si kembar, sekaligus pacar Min Ho Oppa yang lain. Aku merasa mataku memanas. Tolong…mataku… jangan menangis sekarang…

 

Young Min masih merangkul pundakku. Dia meremas pundakku. Menguatkan-ku.

 

Kwang Min – yang duduk di sebrang Min Ho Oppa melambai pada kami. “Young Min!!! Jin Rae!!!!” seru Kwang Min riang.

 

Secepat kilat, Min Ho berbalik ke belakang dan menatapku. Matanya yang besar membelalak menatapku. Ada sebersit ketakutan yang bermain-main di manik-manik mata besar itu. “Jin..Jin Rae..” gumamnya.

 

Aku membungkukkan badanku. “Annyeong haseyo…, Jung Jin Rae imnida..” kataku, memperkenalkan diri. Kwang Min, Min Woo, dan Hara tersenyum padaku. Sedangkan Min Ho masih mematung menatapku.

 

Young Min membimbingku mendekati mereka. Dia tersenyum miring pada Min Ho. “Hai Min Ho! Apa kabar?” sapanya santai.

 

“Young..Young Min…” gagap Min Ho. “Jin Rae…aku…”

 

“Jadi, siapa tunanganmu yang sebenarnya?” tantang Young Min. Masih bersikap tenang. Tatapan matanya mematikan. Min Ho balas menatap Young Min takut-takut. Di sebelahnya, Hara menunduk sambil terisak. Min Woo menghampiri Hara dan menggenggam tangannya.

 

Min Ho berdiri. “Young Min…aku..”

 

BUKK!!! Tinju Young Min menghantam wajah Min Ho. Min Ho terpelanting ke lantai. Young Min menarik kerah jas Min Ho, lalu memukulnya lagi sekuat tenaga. “BERANI-BERANINYA KAU MEMPERMAINKAN HARA DAN JIN RAE!!!!!” Teriak Young Min. Min Ho tidak membalas saat Young Min memukulnya lagi. Darah mengucur dari hidung dan bibirnya.

 

“YOUNG MIIINNN!!!! Kumohon hentikaan…” Aku memeluk Young Min dari belakang. “Hentikan..Young Min…, biarkan saja dia.., jangan mengotori tanganmu…kumohon…”

 

Napas Young Min memburu. Dia masih menatap Min Ho dengan murka. Lalu perlahan, dia membalikkan badannya, menghadapku. Tersenyum lembut padaku. Young Min menggenggam tanganku. Aku tahu dia ingin aku bicara. Aku menatap Min Ho yang masih terduduk di lantai. Orang-orang di restoran menatap kami, tapi aku tidak peduli.

 

“Oppa…, aku tidak menyangka Oppa adalah orang seperti ini. Aku benar-benar kecewa padamu…” aku mengepalkan tanganku, berusaha menahan amarah, tapi yang keluar malah air mata.

 

“Jin Rae…”

 

“Aku tidak mau lagi melihatmu Oppa! Selamat tinggal..” Aku pun segera berlari pergi dari sana.

 

PLAAAK. Hara menampar Min Ho, lalu ia pun segera pergi dari sana. Kwang Min, Min Woo, dan Young Min berlari menyusul aku dan Hara.

 

“Jin Rae ssi…” panggil Hara. Aku sudah berada di dekat mobil Min Woo. Hara langsung memelukku sambil mengangis. “Mianhae.., aku tidak tahu Min Ho Oppa sudah punya yeojachingu. Dia bilang dia single..mianhae..Jin Rae..”

 

Aku membelai punggung Hara. “Tidak apa-apa. Aku tidak membencimu, Hara ssi. Bukan salahmu.”

 

“Mianhae….” Hara masih menangis terisak-isak.

 

“Nuna….” Min Woo menyentuh bahu Hara. Hara melepaskan pelukannya. “Gomawo Young Min Oppa…Kwang Min Oppa…” kata Hara pada si kembar.

 

Young Min memeluk Hara brotherly. “Aku yakin kau kuat, Hara! Lupakan si brengsek itu dan mulailah hidup baru. Kau Hara-ku yang cantik dan baik. Di luar sana masih banyak Pria yang milyaran kali lebih baik daripada si bajingan Min Ho.” Kata Young Min. Hara mengangguk. Kwang Min juga memeluk Hara. “Aku yakin kau akan mendapatkan pria yang sama luar biasa mempesona-nya seperti dirimu, Hara.” Kata Kwang Min. “Gomawo Oppa.” Kata Hara. Lalu Hara menatapku. Dia memelukku lagi. “Gomawo sudah datang kemari, Jin Rae…”

 

“Jin Rae nuna…, mampirlah ke rumah kami..” kata Min Woo.

 

“Sorry Min Woo. Malam ini Jin Rae sudah ada kencan ganda.” Jawab Young Min enteng.

 

“Mwo???”

 

Young Min dan Kwang Min menggandeng tanganku. Kwang Min menggandeng tangan kananku, dan Young Min menggandeng tangan kiriku. “Malam ini Jin Rae akan kencan bersama kami.” Kata Kwang Min.

 

“Mwo???” lagi-lagi aku menatap si kembar bingung.

 

Hara dan Min Woo tertawa. “Hati-hati, Jin Rae. Oppa kembar ini bisa jadi ganas lhoo. Hahaha…” ujar Hara.

 

Aku menatap si kembar bergantian. Young Min mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Kwang Min mengedipkan kedua matanya bersamaan dengan cepat.

 

“Hahahaa… Kwang Min hyung tidak bisa wink.” Min Woo terbahak-bahak.

 

“Ayo!” ajak Young Min. Menarik tanganku. “Eh…eh…” tanganku yang satunya masih digenggam Kwang Min, dan Kwang Min masih diam di tempat.

 

“Sampai nanti..Hara..Min Woo..” kata Kwang Min. Dia pun berjalan. Kini kami bertiga berjalan beriringan.

 

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

 

Si kembar masih menggenggam tanganku. Sambil berjalan, si kembar mengayun-ngayunkan tanganku riang.

 

“Mmmm….kami akan menunjukkan tempat  yang sangat menakjubkan padamu!!!! Ayo tebak!!!!” kata Kwang Min riang.

 

“Ng…ng…, Boulevard Saint-Germain? Atau Rue de Grenelle?” tebakku.

 

Young Min terbahak-bahak. “Huwahahaha…Aku tidak mau belanja!” tukasnya. “Uangku habis membeli gaun-mu ini.” Young Min mendelik menatapku.

 

“Cih!” Aku tersenyum mengejek. “Jadi…kita mau ke mana Kwang Min? Jangan bilang ke musseum! Aaah..ke menara eifel yaaa???” seruku riang.

 

Kwang Min menggeleng. “Arc de Triomphe. Pemandangan Kota Paris dari puncak Arc de Triomphe sangat indah. Jauh lebih indah daripada melihatnya dari menara eifel.”

 

*****

Benar kata Kwang Min. Pemandangan dari atas sini benar-benar menakjubkan! Aku menahan napasku ketika pertama kali tiba di puncak Arc de Triomphe. Kerlap – kerlip lampu di bawah sana…terlihat begitu indah dan romantis.

 

Aku menghirup napas dalam-dalam , lalu menghembuskannya perlahan. “cantik sekali..” gumamku.

 

“Gadis di sampingku jauh lebih cantik.” Kwang Min menoleh, dan tersenyum padaku. Aigoo ~~ aku meleleh melihat senyumannya.

 

“YA!!!  Kwang Min~! Jangan menggombal! Sangat menjijikan!” protes Young Min. Kwang Min hanya tertawa.

 

“Young Min….Kwang Min… gomawo…” kataku.  Saat ini aku patah hati, karena orang yang sudah kucintai selama 6 tahun, tunanganku – ternyata memiliki pacar lain. Tapi anehnya, saat ini perasaanku begitu hangat, damai, dan lega. Mungkin karena saat ini si kembar ada di sini bersamaku.

 

“Kau pasti akan mendapatkan namja yang jauh lebih baik…” kata Kwang Min. Matanya lurus menatap ke depan.

 

“Kau bisa mengandalkan kami kapan saja, Jin Rae.” Timpal Young Min, menoleh padaku. “Kami selalu siap membantumu…” Young Min nyengir, tangannya membentuk huruf V.

 

Aku tersenyum. Tangan si kembar masih menggenggam tanganku. Aku meremas tangan mereka lebih erat. Lalu, tiba-tiba, secara bersamaan – si kembar mengecup kedua pipiku. Young min di kiri. Kwang Min di kanan. Mataku membelalak.

 

“Jangan sedih lagi yaaa…Jin Rae…” Kwang Min tersenyum lembut – khas Kwang Min.

 

Aku menatap Young Min. Dia hanya mengedipkan sebelah matanya padaku sambil nyengir lebar.

 

Eottokhae??? Bagaimana ini??? Kenapa sekarang jantungku berdebar kencang sekali saat melihat mereka berdua???!!!! Si kembar masih tersenyum manis. Membuatku semakin bingung dan frustasi. Aaaaaarrrrgggghhhhhhh!!!! Aku tidak mungkin menyukai mereka berdua!!!!!

 

–          TBC –

 

7 thoughts on “[Jo Twins FF] Chemistry (Chapter 2)

  1. Kyaaaa,,
    jangan dua”nya, sisakan Youngmin untuk-ku.
    Youngmin keren, bayangin gimana youngmin nonjok Min Ho tpi yang ada malah bayangin wajah cantiknya Young. Next jg lama” ya eonn

  2. Akhirnya sudah beribu ribu tahun aku menunggu ff ini kambek/lukata boyben plaakk alay deh.//jan hiraukan eon//

    Eon mengapa i love you cangadh, aku nebak endingnya pasti sama youngmin but i dont know kuserahkan padamu eon. Next chap ya jangan lama lama>.<

  3. miii….. aku mau tahu lanjutan ff ini ga mau tau gimana pokoknya mau tahu jadi harus tahu /oke ini komentarnya alay/

    sisakan kwang min buat mi young >,< *okesip ini bukan SW yah hehehhe

    lanjut miii~~ :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s