[Pi & Jin FF] The Fifth Season (Chapter 2)

Image

Title              : [Pi & Jin FF] The Fifth Season

Author         : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Genre         : friendship, romance, family

Length         : series

Main Cast   : Yamapi, Akanishi Jin, Crystal Amaranth (my fictional character)

Support Cast        : Shirota Yuu, Kamenashi Kazuya, Chinen Yuri, Nishikido Ryo, Hideaki Takizawa, NEWS, Arashi, KATTUN, and Hey Say Jump members.

 

Disclaimer  : This is just fanfiction. I make no money from this. Don’t share this FF without my permission. The plot is mine.

Ini adalah FF asli yang aku tulis zaman dulu. FF “I Don’t Know What I Can Save You From” adalah remake dari FF ini. Setelah dipikir-pikir, aneh juga rasanya me-remake FF ini ke dalam cast yang berbeda. FF ini pernah dipublish dulu, sekitar 2 tahun lalu, di livejournal author.

Ok, just enjoy the story.., and don’t forget to give me any comment =)

 

 

–       Chapter 2

 

@Apartemen Yamapi, pukul 3 sore

Jin sudah pergi siang tadi. Aku, Pi, Ueda, dan beberapa anak JE lainnya mengantar Jin ke bandara.

Tadi malam aku tidak bertanya apa-apa pada Jin tentang Pi dan cewek Korea itu. Tidak. Bukan pada Jin-lah aku harus bertanya, tapi pada Pi. Karena itulah aku mengikuti Pi ke apartemennya.

Nanti malam Pi ada syuting dorama lagi. Aku hanya punya waktu 3 jam bersama Pi.

Aku duduk di sofa sambil pura-pura melihat-lihat majalah. Pi sedang membuat cappuccino untukku dan untuknya sendiri.

“Tadi malam Tackey dan Ryo ke apartemenku.” Kataku.

Pi masih asyik membuat cappuccino. Dia menoleh padaku dan tersenyum lebar. “Kau pasti senang sekali bisa bertemu idolamu lagi. Kau tidak minta foto bareng dan tanda tangan?”

Aku mendengus. Lalu kembali serius. “Sepertinya Ryo tidak menyukaiku. Dia satu-satunya member NEWS yang tidak akrab denganku.”

“Ryo sudah keluar dari NEWS…”

“Apa?”

“Dia sudah keluar dari NEWS sejak dulu, hampir bersamaan denganku. Sekarang dia sibuk dengan Kanjani8.” Kata Pi.

“Oh.., aku tidak tahu.”

Pi membawakan secangkir cappuccino hangat untukku sementara dia sendiri meminum cold cappuccino. Aku sih mana mau minum yang dingin-dingin di saat cuaca benar-benar membuatku beku. Sepertinya beberapa hari lagi salju akan turun.

“Pi…, sudah berapa lama kau bersahabat dengan Jin?” tanyaku.

Pi menatapku. Curiga. “Sejak kami masih menjadi trainee.”

“Apa kalian saling berbagi semua rahasia?”

Pi menatapku sejenak, kemudian tertawa. “Tenang saja Crys.., aku tidak memberitahu yang sebenarnya tentang kita pada Jin.”

Justru aku ingin kamu memberitahu Jin yang sebenarnya Pi. Kataku dalam hati.

“Termasuk cewek yang kau sukai itu Pi? Artis Korea itu? Kau tidak memberitahu Jin?” tanyaku. Ini dia. Aku harus mengetahui hal ini.

Raut wajah Pi berubah. Matanya mengeras. “Tentu saja dia tahu.” Kata Pi. “Crys.., bisa tolong buatkan aku ramen?” Aku tahu Pi berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Dia mantan pacar Jin kan?” kataku.

Pi membelalakkan matanya. “How could you know?”

“Hanya kebetulan.., jadi?” aku menatap Pi penasaran.

Pi menghela napas panjang. “Aku tahu kamu pasti akan terus menanyaiku tentang hal ini kalau aku tidak cerita sekarang kan Crys?”

Aku tersenyum. “You know me, Pi.”

Pi menghempaskan punggungnya ke sofa. Memejamkan mata sejenak, kemudian mulai berbicara, tanpa menatapku. “Aku dan Jin dulu sangat gila pesta, night club, cewek-cewek.” Pi berhenti.

“I know. I heard about that from my Mom, when senior high. You were bad boy Pi.” Aku tertawa.

Pi tersenyum, kemudian kembali bicara. Matanya menerawang. “Gadis itu.., Lee Shin Ae, sebenarnya dia menyukaiku.”

Aku membelalakkan mataku, tak percaya.

“Tapi awalnya Jin tidak tahu. Dia sangat menyukai Shin Ae. Kami pertama kali bertemu dengannya saat Shin Ae syuting di Jepang beberapa tahun yang lalu. Jin dan Shin Ae akhirnya pacaran. Tentu saja publik tidak tahu. Mereka pandai sekali merahasiakannya. Hanya anak-anak JE yang tahu hal ini. Tapi..,” Pi berhenti bicara dan menatapku.

“Shin Ae tetap menyukaimu?” tebakku.

Yamapi mengangguk. “Dia jadian dengan Jin hanya agar bisa dekat denganku dan membuatku cemburu. Tentu saja saat itu aku tidak tahu. Kupikir Shin Ae benar-benar menyukai Jin. Aku tidak mungkin merebut pacar sahabatku sendiri. Tapi ternyata.., 3 tahun yang lalu.., Shin Ae mengkhianati Jin. Dia memiliki pacar lagi di Korea.”

Aku terperanjat. “Dan dia memberitahu Jin semua itu?”

Pi mengangguk. “Dia memberitahu Jin semuanya. Termasuk tujuannya mendekati Jin. Dia memberitahu Jin semuanya.”

Aku menyeringai. “Dia wanita yang berani.., tapi mengerikan.” Kataku. Pi hanya diam saja. “Aku senang karena kau lebih memilih Jin daripada wanita itu Pi.” Kataku sungguh-sungguh.

“Aku merasa bersalah pada Jin. Dan ya, tentu saja aku akan lebih memilih Jin. Meskipun saat itu aku juga membohongi diriku sendiri. Aku masih menyukai Shin Ae, tapi di depan Jin aku berpura-pura tidak menyukainya lagi. Aku selalu ada untuk Jin. Aku tahu Jin merasa terpukul sekali karena Shin Ae…”

“Karena itulah kalian digossipkan gay?” kataku.

Pi mengangkat bahu. “Mungkin. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin selalu ada untuk Jin.”

Aku terdiam sejenak, begitupula dengan Pi. Pi meneguk habis cappuccino nya.

“Dan sekarang.., kau masih menyukai Shin Ae?” tanyaku.

“Tidak.” Kata Pi mantap.

“Tapi kau selalu menonton drama-nya!” protesku. Tak percaya kata-kata Pi barusan.

Pi tersenyum sambil menatapku. “Hanya untuk mengecek. Aku selalu melihat drama-drama yang dia bintangi. Mulanya.., aku melihatnya karena aku merindukannya. Dia mengubahku, Crys. Dia mengubah aku dan Jin. Kami menjadi lebih… baik.” Pi menyeringai. “Tapi ternyata dia menjadi… tidak baik.” Lanjut Pi. Aku bingung. Pi kembali bicara. “Aku tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya. Aku selalu mengeceknya tiap kali menonton drama-nya sekarang. Aku sudah tidak menyukainya seperti dulu. Sekarang aku hanya fanboy.” Pi tersenyum. Aku menatap mata Pi. Sepertinya dia mengatakan yang sesungguhnya.

“Lalu bagaimana dengan Jin? Apa dia masih menyukai wanita itu?” tanyaku.

Pi menghela napas panjang. Tiba-tiba saja aku merasa menyesal sudah menanyakan hal ini. Aku sudah tahu jawabannya. Sejak tadi malam. Ketika Jin menatap wanita itu di layar TV dengan sorot mata penuh kerinduan.

“Mungkin. Sepertinya Jin masih menyukainya. Meskipun dia tahu kini Shin Ae sudah bertunangan.” Kata Pi. Aku terdiam. Menghindari tatapan Pi. “Karena itulah.. Crys.., don’t fall for Jin. He will never love you back.”

Aku berusaha tidak mengedip. Menahan air mataku yang hampir jatuh. “I know, Pi.”

Aku berharap aku juga hanyalah fangirl. Hanya seorang fangirl yang mengidolakan Akanishi Jin. Tapi aku tahu, aku bukanlah fangirl. Apa yang kurasakan berbeda dengan apa yang seorang fangirl rasakan terhadap idolanya.

*****

 

Ini adalah hari pertamaku resmi bekerja sebagai desaigner JE. Pendapat anak-anak JE mengenai desain-ku waktu itu benar-benar membantuku. Selain itu, aku beruntung dapat diterima karena bantuan Ogawa-san. Salah satu desainer JE yang dulu kutemui di Amsterdam. Sehingga aku bisa bekerja freelance di sini. Bagaimanapun aku tidak ingin kuliahku terbengkalai.

Salah satu desainku pernah dipakai KAT-TUN 3 tahun yang lalu. Maka kini tugas pertamaku adalah mendesain kostum musim dingin untuk mereka. Ogawa-san merasa sudah ada chemistry diantara aku dan member KAT-TUN. Menurutnya akan mudah bagiku merancang pakaian untuk mereka sebagai tugas awal. Kalau tugas pertamaku ini berhasil, mungkin aku akan mulai mendesain untuk anak-anak JE yang lain.

“Sejak 3 tahun yang lalu aku sudah tahu, fashion adalah impianmu. Aku cukup terkejut saat mengetahui ternyata kau malah kuliah di jurusan kimia.” Kata Ogawa-san. Aku hanya tersenyum mengingat ucapan pria setengah baya itu. Sebenarnya…tidak juga. Fashion bukan satu-satunya impianku. Setidaknya bukan impian utama-ku.

Aku berjalan di gedung JE. Meskipun aku lumayan sering kemari bersama Pi, tapi tetap saja aku masih belum hafal seluk-beluknya.

Ketika menyusuri lantai 3, tanpa sengaja aku menabrak seseorang.

“Sorry..” refleks aku berkata.

“Nee-chan!!!!”

“Eeeh?? Ryutaro!!!”

Ryu nyengir lebar. “Nee-chan sedang apa?” tanyanya.

“Aku mencari studio dance.”

“Studio dance ada di lantai 4 nee-chan.” Ryu tertawa. Aku ikut tertawa, menyadari kekonyolanku. Bagaimana aku bisa lupa?!

“Kau mau ke mana Ryu?”

“Ada pelatihan bahasa asing. Karena aku tidak bisa ikut tampil selama beberapa waktu, jadi aku harus mempelajari bahasa asing.”

Aku mengangguk. “Ganbatte Ryu!!!!” aku memberikan semangat.

“Haik.” Ryu tersenyum lebar. “Sampai nanti Crystal nee-chan.” Ryu melambaikan tangannya. Aku balas melambai, kemudian segera berlari ke lantai 4. KAT-TUN sedang latihan dance di sana.

“Crystal-chan!!!!!” Kame tersenyum lebar begitu aku muncul di depan salah satu studio dance tempat KAT-TUN berlatih.

“Omedetto sudah diterima di JE!!! Waah.., akhirnya aku bisa pakai baju rancanganmu lagi.” Junno menarik tanganku.

“Maaf aku mengganggu kalian berlatih.” Kataku.

“Kami baru saja beres ko..” kata Koki. “Jadi, bagaimana kostum musim dingin kami?”

Aku memperlihatkan buku berisi gambar desain-desain pakaian untuk mereka. Mereka ber-5 langsung melihat-lihat buku itu dengan antusias.

“Ada banyak desain yang kubuat. Kalian pilihlah yang kalian suka. Atau.. kalau ada yang harus ku-ubah, tolong beritahu aku bagian mana yang kalian rasa tidak cocok dengan image kalian.”

Sementara mereka asyik berdiskusi mengenai desain baju yang kubuat, aku menyalakan laptopku dan membuka email. Sudah lama juga aku tidak buka email. Kebanyakan email yang masuk hanyalah notifikasi dari akun sosialku. Aku pun menghapusnya.

Ada satu email yang menarik perhatianku. Subject-nya ‘Your Rabbit’. Dari misterdark@hotmail.com.

Siapa? Siapa itu misterdark? Your Rabbit? Apa maksudnya?

Aku ragu. Tapi akhirnya kubuka juga email itu.

Orang yang kau cintai terluka parah hari ini.

Pergilah dari Jepang. Jangan kembali ke Jepang. Maka rabbit-rabbit kesayanganmu akan selamat.

 

Cepat-cepat aku menutup lapotopku. Jantungku berdetak cepat.

“Ada apa Crystal-chan?” Tanya Kame. “Kau sakit?” Kame menghampiriku dan meneliti wajahku yang pucat.

Aku menggeleng. Kame tersenyum, kemudian kembali berdiskusi dengan teman-temannya.

“Tapi aku lebih suka yang ini, Koki-kun.., lebih unik..” kata Junno.

Aku tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Aku segera meraih ponselku dan menghubungi ibuku.

“Mom..” aku lega saat ibuku mengangkat telepon. “Mommy dan Daddy baik-baik saja? Ya.., syukurlah. Tidak ada kejadian aneh atau orang aneh? Syukurlah..”

2 orang yang kucintai sudah aman. Mereka baik-baik saja. Orang ke-3.., Pi.

“Pi.., kau di mana? Syuting film? Kau baik-baik saja? Ah.., aku hanya ingin tahu. Sudah ya Pi.”

Pi aman.

Orang ke-4…, Ibu-nya Pi. Sejak dulu aku selalu menganggap ibu-nya Pi sebagai ibuku yang ke-2. Ibu Pi dan ayah Pi sudah bercerai sejak Pi kecil. Ayah Pi adalah kakaknya ibuku, jadi bukan ibu Pi yang memiliki hubungan darah denganku melainkan ayah Pi. Walaupun begitu aku lebih dekat dengan ibu Pi dibanding dengan ayah Pi. Apalagi Ibu Pi dan adik perempuan Pi sering sekali berkunjung ke rumahku di Belanda setiap liburan. Tidak seperti ayah Pi yang hanya mengunjungi adiknya (ibuku) sekali dalam kurun waktu 5 tahun.

Aku menunggu telepon diangkat dengan tak sabar. “Oka-san.., ini Crystal. Oka-san baik-baik saja? Syukurlah.., sedang masak? Aaah.., aku kangen masakan Oka-san. Haik, akan kusampaikan pada Pi. Haik.”

Aku menghembuskan napas lega. Tinggal 1 orang lagi…, aku tahu ini konyol. Tapi bagaimana mungkin stalker ini tahu siapa saja orang yang paling kucintai?! Bagaimana dia bisa tahu?

“Ng—ng., Kazuya-kun.., kau tahu nomor telepon Jin di LA?” tanyaku.

“Jin?” Kame bingung. “Ada apa memangnya Crystal-chan?”

“Ada yang ingin kutanyakan padanya.”

“Kalau tidak salah aku menyimpan nomor LA-nya.” Kata Ueda. Ia pun mengeluarkan ponselnya.

“Arigatou, Ueda-kun!!!” Aku tersenyum. Ueda tersenyum, tapi dia menatapku dengan penasaran.

Aku segera menghubungi nomor itu. Aku tahu pasti mahal sekali menelepon ke LA, tapi aku tidak peduli. Aku harus mengecek keadaan Jin.

 Kumohon.., semoga Jin juga baik-baik saja. Semoga email itu hanyalah email iseng.

Lama sekali telepon tidak diangkat. Perasaanku mulai tidak enak. Aku mencoba menelepon lagi.

“Hello..” terdengar suara berat seorang cowok. Tapi ini bukan suara Jin.

“Is this Akanishi Jin’s number?” tanyaku.

“Yeah. This is Jin’s phone. Who is this?”

“Crystal. I’m his friend from Japan. Where is Jin now?”

“He is in hospital now. Hollywood hospital.”

Tanganku terkulai lemas. Ponselku terjatuh begitu saja. Air mataku mulai mengalir.

“Crystal-chan.., ada apa?” Tanya Kame khawatir. Koki dan yang lain juga menatapku cemas.

“Aku harus ke LA sekarang.” Aku berdiri.

“Crystal-chan.., ada apa sebenarnya?” Tanya Junno, meraih bahuku.

“Akan kujelaskan nanti. Ini semua salahku. Kumohon jangan beritahu siapapun aku pergi ke LA hari ini.”

Kame, Junno, Ueda, Koki, dan Maru hanya menatapku dengan tatapan tak yakin. Aku segera berlari pergi dari sana, tidak memedulikan mereka. Yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah Jin. Aku harus segera mendapatkan tiket pesawat ke LA hari ini juga!

**********

 

Setelah terbang selama belasan jam, akhirnya aku pun sampai di Los Angeles. Aku segera menuju rumah sakit Hollywood dengan memakai taksi.

Begitu sampai di depan rumah sakit. Aku berlari cepat ke front desk. “Jin Akanishi..” kataku. Napasku terengah-engah.

Petugas rumah sakit itu mengetikkan nama Jin Akanishi di komputer.

“I’m sorry Miss. There isn’t any patient named Jin Akanishi here.”

“Are you sure?’ desakku. “This is Hollywood hospital, right?”

“Crystal-chan?” terdengar suara ragu-ragu memanggilku.

Aku membalikkan badanku, dan betapa terkejutnya aku melihat Jin baru saja memasuki RS dengan pakaian rapi. Tanpa luka sedikitpun. Jin membawa bunga di tangannya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera berlari dan memeluk Jin dengan erat. “Thanks God.., you’re safe..” aku terisak.

“Hey..hey.., what’s wrong? Why you’re here?” Jin tersenyum sambil menatapku lekat-lekat.

Aku mengusap air mataku, kemudian menceritakan alasan mengapa aku ada di sini. Tapi aku tidak memberitahu Jin isi email itu yang sebenarnya.

“Di email itu tertulis namaku?” Tanya Jin.

Aku mengangguk. Berbohong. Aku tidak mungkin bilang ke-5 orang yang paling kucintai! Jadi kubilang saja nama Jin.

“Kau masih menyimpan email itu?” Tanya Jin lagi.

“Kurasa…aku langsung menghapusnya.” Kataku tanpa memandang mata Jin. “Tapi aku ingat email pengirimnya.” Tambahku.

“Aku akan meminta bantuan temanku untuk melacaknya. Tenang saja.., media tidak akan tahu. Dia seorang hacker.” Jin nyengir lebar. “Kau pasti lelah sekali Crystal-chan. Bagaimana kalau kita makan siang dulu sambil beristirahat?”

Aku pun mengangguk. Selama berada di mobil Jin, aku hanya diam. Mengutuki kebodohanku sendiri. Mengapa aku bisa begitu bodoh?! Sudah jelas itu hanya email iseng!

Aku juga jadi merasa bersalah pada Jin. Dia tadi hanya menengok temannya sebentar, kemudian pergi bersamaku. Salah satu teman Jin kecelakaan motor beberapa hari yang lalu. Saat aku menelepon, Jin memang sedang di rumah sakit mengunjungi temannya itu. Ponsel-nya ketinggalan di studio.

“Dia salah satu dancer-ku yang terbaik. Sayang sekali dia harus beristirahat selama 6 bulan. Dia benar-benar terpukul dan merasa bersalah padaku karena itu berarti dia tidak bisa ikut japonicana tur. Aku berusaha meyakinkannya…tidak apa-apa, yang penting dia segera sembuh.” Kata Jin, memecah kesunyian.

Aku tersenyum lemah. Masih merasa bodoh dengan tindakanku. Tapi dalam hati aku merasa tenang karena Jin baik-baik saja.

Kami sampai di apartemen Jin.

“Aku tinggal bersama teman-temanku. Kau pasti akan langsung suka mereka. Mereka asyik.” Jin tersenyum.

Aku tersenyum, mengikuti Jin masuk ke dalam sebuah apartemen mewah. Apartemen ini lebih luas dibanding apartemen Jin di Tokyo. Aku duduk di sofa, sementara Jin mengambil minuman.

Jin duduk di sampingku, dia menelepon sambil mengunyah permen karet.

‘I miss you, Jin’. Kataku dalam hati.

Tanpa kuduga, Jin menoleh padaku. Tersenyum lebar. “I miss you too, Crystal. Bagaimana kabar Pi?”

Aku menunduk. Sial! Tanpa sadar ternyata tadi aku menyuarakan pikiranku.

“Pi sibuk syuting dorama baru-nya..”

Jin mengangguk. “Oh.., Jason..” dia berbicara di telepon. “Come here, man. I have something to ask to you.., yeah..okay…”

“Just knock my door, Jin. Why you should make a phone call?” seorang pria tinggi, kekar, berkulit cokelat baru saja masuk, ponsel masih menempel di telinganya. “Oh.., hello..” pria itu menyadari kehadiranku dan menyapaku sambil tersenyum ramah.

“Apartemennya tepat di depan apartemenku.” Kata Jin padaku. “Jason, ini Crystal. Crystal.. ini Jason.”

“Hay, I’m Jason. Nice to meet you.” Jason menjabat tanganku. Aku balas menjabat tangannya yang besar dan memperkenalkan diriku.

“You’re so beautiful.” Kata  Jason. “Your girlfriend?” tanyanya pada Jin.

Jin tertawa. “No. She is my bestfriend’s girlfriend, from Japan.” Kata Jin.

“Wow, Japan? But you looks like…”

“I’m Netherlands…, but half Japanese.”

Jason nyengir. “Oh.., benar. Matamu sipit. Hanya matamu saja yang Jepang kurasa.” Canda Jason. Aku tertawa.

“Bisa tolong cek siapa pemilik email ini Jaz?” Tanya Jin, menyodorkan selembar kertas. “Aku ingin tahu semua hal mengenai pemilik email ini. Everything, Jaz.”

“Okay..,” Jason meraih kertas itu dengan bersemangat. Ia meregangkan jari-jari tangannya.

“Just use my laptop.” Kata Jin.

Jason meraih laptop Jin dari atas meja. Dia duduk di lantai dengan santai. Mengeluarkan benda seperti USB Flasdisk dari dalam saku jaketnya, lalu menyambungkannya ke laptop Jin. Jason mengetik (entah apa yang dia ketik) dengan sangat cepat. Aku jadi seperti melihat dorama “Bloody Monday” yang pernah kutonton beberapa tahun silam. Tentang hacker dan teroris.

“Aku akan memasak spagethi kesukaanmu.” Kata Jin, langsung berjalan ke dapur.

“Tidak usah Jin.., tidak apa-apa.” Aku mengikutinya. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Crystal, it’s my pleasure to make you happy here.” Kata Jin lembut. “Kau pasti masih lelah. Beristirahatlah di sini beberapa hari. Jadwalku masih longgar 3 hari ke depan. Aku akan mengajakmu keliling LA. Kau ingin keliling Hollywood?”

Aku tersenyum. “Kedengarannya menarik. Oh ya, aku ingin ke taman bermain.”

Jin mengangguk. “Oke. Tapi jangan pernah mengajakku masuk ke rumah hantu.”

“Why?”

Jin mengangkat bahu. “I hate ghost.” Kata Jin. Dia menyiapkan bahan-bahan untuk memasak spagetthi.

Aku tertawa. “Kau takut hantu???!! Hahahaha…”

“No, I hate them.”

Aku tersenyum mengejek. “Kau takut…”

Jin hanya nyengir lebar. Aku senang bisa bertemu Jin lagi. Aku senang si Mr.Moody ini ternyata baik-baik saja.

Selama memasak, Jin banyak bercerita padaku mengenai kegiatannya selama di LA. Aku mendengarkannya dengan antusias. Senang karena ketika Jin berbicara padaku, dia sama cerewetnya dengan saat dia berbicara bersama Pi. Saat pertama bertemu Jin, dia adalah orang yang paling irit bicara. Jin memang seperti itu kata Pi. Orang-orang yang tidak mengenal Jin dengan baik akan berkata Jin itu orang yang sangat dingin, jutek, cool, moody. Oh, moody sih memang iya. Tapi Jin bukan orang yang dingin. Mood Jin sering berubah-ubah. Tapi dia orang yang hangat dan perhatian.

“Hey man.., I got the information.” Jason masuk ke dapur. Aku dan Jin langsung menatapnya penasaran. “Email itu baru saja dibuat beberapa hari yang lalu, dan sekarang email itu sudah ditutup. Orang itu membuat email itu dengan nama Kuro Hitam. Dan dia membuat email itu di Jepang.”

Aku dan Jin saling bertatapan. Aku tidak punya ide siapa orang itu.

“Thanks , Jaz.” Kata Jin.

Ponsel Jin berdering. “Hello. Oh, Chinen-kun? Crystal? Ya..dia ada di sini..” Jin mengulurkan ponsel-nya padaku. Aku meraihnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Jin mengangkat bahu. “Chinen ingin bicara padamu.” Kata Jin.

“Chi.., ada apa..?” aku mendengarkan kata-kata Chi. Detik itu juga dunia serasa berputar 100 kali lebih cepat. Kepalaku pusing. Air mataku mengalir deras.

“Crys.., what’s wrong?” Jin menyentuh bahuku lembut.

“Pi…, Pi…” air mataku masih mengalir deras. Tubuhku menggigil. Ya Tuhan.. Ya Tuhan…

“Tenanglah Crys.., Pi kenapa?” Jin memelukku. Berusaha menenangkanku.

“Mobil Pi hancur…. Sekarang Pi di rumah sakit… Koma.” Kataku terbata-bata. Jin memelukku lebih erat. Aku bisa merasakan pundakku panas dan basah. Jin menangis.

Aku memeluk Jin. Air mataku juga membasahi pundaknya.

“Jaz.., please help me to get the earliest flight to Japan.” Kata Jin.

 

 

Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Pi masih terbaring tak bergerak. Masih dalam keadaan koma. Dokter tidak bisa memastikan kapan Pi akan bangun.

Ibu Pi tertidur di kursi, di samping Pi. Kepalanya terkulai ke atas ranjang. Kedua tangannya menggenggam salah satu tangan Pi. Bekas-bekas air mata masih terlihat jelas di wajah-nya.

Aku berdiri di sisi Pi yang lain. Masih terus menatap Pi sejak dua jam yang lalu, semenjak aku tiba di sini.

Aku tidak merasa kaki-ku sakit meskipun sudah berdiri terus selama 2 jam ini. Aku juga tidak merasa lelah karena penerbangan selama belasan jam dari LA ke Tokyo. Tapi hatiku sakit sekali. Aku malah berada di benua lain saat Pi membutuhkanku.

Aku tidak ingin kehilangan Pi. Aku tidak ingin kehilangan sepupu-ku yang sangat aku sayangi ini. Aku ingin Pi bangun.., aku ingin Pi sembuh.

Kumohon, Pi…, bangunlah…

“Crystal…” Aku merasakan sentuhan di pundakku. Aku menoleh pada Jin yang baru saja masuk. Jin terlihat tegar dari luar, tapi aku tahu sebenarnya dia sama khawatirnya denganku. Jin hanya menangis saat di LA. Selama di perjalanan sampai tiba di rumah sakit ini Jin hanya diam.

“Crystal-chan..” ibu Pi terbangun. Tersenyum lemah padaku.

“Oka-san…” aku menangis semakin keras.

Ibu Pi menghampiriku dan memelukku dengan erat. “Gomen…gomen.. Oka-san..” air mataku membasahi bahu ibu Pi.

Ibu Pi membelai punggungku. “Tidak apa-apa, sayang. Aku bersyukur karena kau tidak sedang berada dalam mobil Tomo-chan saat kecelakaan itu… aku tidak ingin kalian berdua…” Ibu Pi tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menangis.

Jin pergi keluar dari dalam ruangan.

“Oka-san istirahatlah…, biar aku yang menemani Pi.”

Ibu Pi menggeleng. “Kau saja yang istirahat Crys.., kau sudah makan?”

Aku menggeleng lemah. Ibu Pi mengelus-elus rambutku. “Tomo-chan akan baik-baik saja. Aku yakin.” kata Ibu Pi. Aku hanya bisa menatap kedua bola matanya yang bening. Tidak tahu harus berkata apa.

“Crystal-chan…” seseorang memanggil namaku di ambang pintu.

“Junno..”

Junno menatapku penuh makna. Aku tahu ada yang ingin dia katakan padaku.

“Aku keluar sebentar, Oka-san.” Kataku. Ibu Pi mengangguk.

Aku keluar dari dalam ruangan, menutup pintu dengan hati-hati, dan berjalan mengikuti Junno. Kami duduk di ujung lorong. Agak jauh dari ruangan Pi. Ternyata Jin dan Kame juga duduk di sana. Mereka mendongak begitu kami datang.

“Bagaimana? Apa kata polisi?” tanyaku. Junno, Kame, dan beberapa anak JE yang lain membantuku mencari informasi mengenai sebab kecelakaan Pi.

“Tidak ada yang salah dengan mobil Pi. Menurut polisi, kecelakaan bukan disebabkan karena rem-nya blong atau ban pecah, atau yang lainnya. Menurut mereka mungkin kecelakaan diakibatkan oleh Pi sendiri. Saat itu malam hari, pulang syuting. Mereka menduga Pi mabuk.” Kata Junno.

“Pi tidak mungkin mau mengemudi di saat mabuk! Dia lebih memilih tidur di tempat dia minum, atau menelepon.…” aku tidak melanjutkan kata-kataku. Menyadari sesuatu. Pi meneleponku. Dia akan meneleponku dan memintaku datang lalu mengemudi untuknya. Pi selalu begitu di saat dia mabuk.

Aku menutup mulutku. Tangisku pecah lagi.

“Crystal-chan..” Junno dan Kame menyentuh bahu-ku.

Ini semua salahku. Aku tidak ada di saat Pi membutuhkanku.

Aku menghapus air mataku. Menatap Kame dan Junno. “Apakah saat itu kalian memberitahu Pi aku pergi ke LA?”

Sesuai dugaanku, Kame dan Junno menggeleng. “Kami belum sempat memberi tahunya, Pi keburu…” Junno berhenti.

Mataku membelalak. “Kapan tepatnya Pi kecelakaan?” tanyaku. Junno dan Kame hanya terdiam. Aku sudah menduganya. Aku sudah tahu.

“Malam hari. Hari yang sama saat kau terbang ke LA.” Kata Junno.

“Crys.., kami tahu saat itu kamu pasti masih di dalam pesawat, dan kami tidak bisa menghubungimu. Kami juga tidak memberi tahu Jin dulu, karena dia pasti akan langsung terbang ke Jepang. Bagaimana mungkin kami membiarkanmu terbang ke LA, sementara Jin ke Tokyo? Dan kalau Jin kemari sebelum kau tiba di LA, kami tidak tahu bagaimana harus menghubungimu.” Ujar Junno panjang lebar.

Semuanya memang salahku.

Aku memeluk kedua kakiku. Membenamkan wajahku. Menggigit bibirku dengan keras agar tangisku tak bersuara. Selama beberapa saat suasana hening. Aku menangis tanpa suara.

“Kami ada pemotretan, Jin. Tolong jaga Crystal.” Aku mendengar suara Kame.

“Kami akan langsung kemari begitu selesai.” Suara Junno.

“Crys.., jangan lupa makan. Jangan sampai kau sakit juga.” Aku mendengar suara Kame dan bisa merasakan tangannya menyentuh kepalaku. Aku masih membenamkan wajahku sambil memeluk lutut-ku.

“Kami pergi, Jin..” kata Junno. Aku bisa mendengar suara langkah kaki mereka yang semakin menjauh.

Hening. Aku dan Jin hanya terdiam. Entah berapa lama. Sampai kemudian aku mendengar suara perut Jin yang kelaparan. Mau tak mau aku tersenyum. Aku mengangkat wajahku. “Makanlah.” Kataku pada Jin.

Jin menatapku tanpa ekspresi. Perlahan dia mendekatiku dan menyentuh bibirku dengan ibu  jarinya. Mengusap darah di bibirku.

Jin bangkit berdiri. “Aku akan membeli makanan.” Katanya. “Kau mau donat?”

Sebenarnya aku tidak bernafsu makan. Tapi aku mengangguk.

Jin pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Aku kembali membenamkan wajahku dan menangis. Kali ini aku membiarkan tangisku pecah.

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku. Mungkin Jin sudah kembali. Aku menghapus air mataku, tapi masih membenamkan wajahku di antara lengan dan kaki-ku.

“Crystal…” ujar sebuah suara. Bukan suara Jin!

Aku mendongak dan melihat Nishikido Ryo yang menatapku dingin. Dia berdiri tepat di hadapanku.

Kami hanya saling tatap selama beberapa saat. Kemudian Ryo menyeringai. “Kalau aku adalah si stalker itu…, tentu saja aku akan berusaha menutupi semuanya. Aku punya banyak uang. Apapun bisa kulakukan. Termasuk menutup mulut polisi-polisi manis itu.” Ryo menatapku sambil tersenyum licik.

Aku membelalakkan mataku. Apa maksudnya? Apakah kecelakaan Pi bukan karena dia mabuk seperti yang polisi katakan?

Aku berdiri dan menatap Ryo tajam. “Kau yang melakukannya? KAU YANG MEMBUAT PI KECELAKAAN???” teriakku.

Ryo hanya menyeringai. “Kenapa aku harus melakukannya?” Ryo malah balik bertanya dengan santai.

Aku menampar pipi-nya dengan keras. Sudut mulut Ryo berdarah. Dia tersenyum sinis padaku.

“Berhentilah Ryo-san.., kumohon. Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti mengganggu orang-orang di sekitarku?”

“Pergilah dari Jepang. Jangan pernah kembali. Jauh-jauhlah dari Yamapi dan dari Jin. Aku tidak ingin teman-temanku menderita lagi.” Ujar Ryo tenang.

Aku mendengus. “Teman? Kau anggap mereka teman, tapi kau mencelakai mereka?!”

Ryo tertawa keras. Aku merinding mendengar suara tawanya yang tanpa jiwa itu.

“Kau pikir akulah pelaku semua ini? Hahahaha.., kau bodoh sekali, Crystal-san.” Ryo masih tertawa aneh. Ryo mendekatiku. Aku menatapnya dengan berani. Aku tidak takut padanya!

Ryo mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu berkata pelan. “Suatu hari nanti kau akan berterima kasih padaku.” Ryo menyeringai. Dia berjalan mundur, masih tetap menatapku dingin. “Jangan pernah mempercayai siapapun. Jangan percaya siapapun selain dirimu, Crystal-san. Aku yakin kau akan berterima kasih padaku suatu hari nanti. Selamat sore.” Ryo pun berbalik dan berjalan pergi.

Apa maksud semua ini? Ryo-kah dibalik semua ini? Ataukah orang lain? Orang lain yang Ryo ketahui?

Apa maksud kata-kata Ryo?

*******

 

Pi sudah koma selama 6 hari. Tidak ada tanda-tanda ia akan pulih. Aku benci melihat diriku yang putus asa. Aku merasa malu saat melihat Ibu Pi yang begitu sabar menghadapi semua ini. Ketika melihat sorot matanya, terpancar kesedihan yang mendalam, namun terdapat banyak harapan dan keyakinan di sana. Aku sangat malu pada Oka-san karena yang bisa kulakukan hanyalah menangis.

Banyak sekali fans yang memberikan bunga dan surat dukungan untuk Pi. Aku kasihan pada mereka, karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke ruangan Pi.

Sekarang aku yakin…, yang melakukan hal ini bukanlah fans Yamapi. Fans Pi tidak akan mungkin membuat Pi terluka parah seperti ini. Pasti bukan fans Pi. Mungkin seseorang yang membenci Pi dan aku. Seseorang seperti Ryo. Tapi apa alasan Ryo membenci aku dan Pi?

Kalau orang itu bukan Ryo.., lalu siapa? Siapa yang begitu benci padaku dan juga Pi?

Aku menyusuri lorong. Aku benci suasana rumah sakit yang seolah dipenuhi udara kematian.

Aku cepat-cepat menghapus air mataku begitu sampai di depan pintu ruangan Pi. Ada yang menjenguk Pi. Seorang wanita seusia ibu Pi. Di samping wanita itu berdiri Jin. Dan di seberangnya ibu Pi.

Jin menoleh dan menatapku. Aku berjalan pergi dan duduk di kursi panjang di luar ruangan.

“Crystal-chan, kau sudah pulang kuliah?” tanya Jin.

Aku mengangguk lemah. Aku tidak ingin kuliah. Aku ingin selalu berada di samping Pi, tapi ibu Pi bersikeras menyuruhku kuliah. Tidak ada satupun kata-kata dosen yang masuk ke otak-ku. Pikiranku dipenuhi Pi.

Jin duduk di sampingku. “Besok aku harus kembali ke LA.” Kata Jin. Murung. “Aku tidak tahu apakah aku akan bisa konsentrasi di sana atau tidak.” Jin tersenyum tipis. “Mungkin sebaiknya aku tidak usah kembali ke sana saja.”

Aku menggenggam tangan Jin dan meremasnya. “Kembalilah ke LA. Pi pasti tidak mau membuat karir sahabatnya terganggu karena dia. Pergilah Jin..” kataku. Meskipun aku sangat ingin Jin tetap berada di sini, tapi aku harus membiarkannya pergi. Aku harus kuat. Jin meremas tanganku.

“Jin…” seorang wanita baru saja keluar dari dalam ruangan Pi, dan berjalan mendekati kami.

“Oka-san..” Jin berdiri. Wanita itu tersenyum padaku. Aku balas tersenyum dan mengangguk.

“Mampirlah dulu ke rumah sebelum kau pergi ke LA.” Kata wanita itu.

“Haik.” Jin mengangguk.

“Kau juga kapan-kapan mampirlah Crystal-chan…” aku terkejut karena ibu Jin tahu namaku.

Aku mengangguk kikuk. “Haik.”

Ibu Jin tersenyum ramah, dan tanpa kuduga dia memelukku. “Yamapi pasti akan baik-baik saja.” Ibu Jin membelai punggungku. “Sekarang kau hanya perlu ada di sisinya.., dia akan baik-baik saja.” Ibu Jin melepaskan pelukannya, menatapku ramah. “Aku kangen pada Pi. Dulu dia sering sekali menginap di rumah.”

Aku tersenyum.

“Sampai nanti, Crystal-chan. Mampirlah ke rumah bersama Pi nanti.”

Aku hanya mengangguk.  Aku takut tangisku akan pecah lagi kalau aku bicara.

“Aku akan mengantar ibuku pulang.” Kata Jin. Aku mengangguk. Jin dan ibu-nya pun pergi.

******

Hari ke-8…

Salju mulai turun. Aku memandang ke luar jendela rumah sakit sambil menghembuskan napas panjang. Pi masih terbaring. Tidak ada perubahan sama sekali.

Kemarin sore ibu Pi pulang ke Osaka untuk mengecek keadaan toko dan juga adik perempuan Pi yang masih sekolah.

Jin menunda keberangkatannya ke LA. Dia bilang masih ada yang harus dia urus di Tokyo soal single Jepang terbarunya, Seasons, yang akan rilis beberapa minggu lagi. Aku tahu, itu hanyalah alasan minor. Alasan utamanya Jin pasti ingin berada di samping Pi saat Pi bangun nanti.

Aku bolos kuliah lagi. Percuma aku masuk kuliah, karena pikiranku selalu terfokus pada Pi.

Aku berjalan mendekati Pi. Duduk di samping Pi, lalu mulai menyalakan laptop-ku. Sejak kemarin aku memutar video-video Pi. Music video, performance di acara musik TV, reality show di mana Pi menjadi bintang tamu-nya, dan juga konser-konser Pi.

Kali ini aku memutar konser solo Pi, “Super Good Super Bad”, dan mengarahkan lapotopnya ke Pi .

“Kau masih punya hutang padaku Pi! Aku tidak menonton langsung konsermu yang ini. Lain kali kau harus memberikan tiket gratis padaku. Lihat, banyak sekali fans yang menontonmu. Apa kau tidak mau melihat mereka lagi?” aku menatap Pi. “Apa kau tidak mau melihatku lagi?” aku menggigit bibirku.

“Kau juga punya hutang yang lain.., ingat? Kau berjanji akan mengajakku ke Amerika. Dari Chicago ke Los Angeles menempuh Route 66. Seperti yang sudah kau lakukan. Aku penasaran ingin video-mu itu segera ditayangkan di TV. Kau bilang kau akan mengajakku melewati jalur itu nanti. Kita gantian menyetir tentu saja.” Aku berhenti sejenak. Meraba kening bawah Pi yang tidak tertutup perban. “Kau punya banyak sekali hutang padaku, Yamashita Tomohisa! Kau tidak boleh mati, karena kau akan masuk neraka bila tidak melunasi hutang-hutangmu!” Aku membiarkan air mataku mengalir deras.

Aku membiarkan video konser Pi tetap menyala sementara aku terus bicara. “Kau bilang.., kau ingin ke Belanda lagi. Sudah 6 tahun kau tidak ke rumahku kan? Kau bilang.., kau ingin menjelajahi semua pelosok bumi. Kau juga bilang akan mengajakku ke Bali dan Bangkok. Oh.., mengajakku melihat komodo di Indonesia juga. Melihat piramida di Mesir juga..”

Sebelah tanganku menggenggam tangan Pi. “Kalau aku menyebutkan satu per satu hutangmu padaku, pasti panjang sekali. Mungkin akan setebal novel Harry Potter.” Aku tersenyum. “Karena itulah kau harus hidup sampai 100 tahun untuk melunasi semua hutangmu padaku.”

Aku menyentuh wajah Pi pelan sekali, takut menggores wajahnya. “Apakah aku sudah pernah bilang kau itu sangat tampan Pi? Waktu kecil aku benci padamu karena kau cantik! Kau lebih cantik dariku saat kecil!” Aku tertawa pelan. “Tapi kau berubah menjadi sangat tampan Pi.., tampan kalau kau tersenyum dan tertawa. Kau jelek sekali saat tidur begini. Kau seperti putri tidur. Putri tidur yang jelek. Kau lebih tampan kalau tertawa dan membuka matamu.”

Aku menghapus air mataku. Rasanya seperti berbicara kepada boneka. Sama sekali tidak ada tanggapan.

“Crystal-chan…” Jin masuk bersama Yuu Shirota.

“Makanlah..” Jin memberiku satu lusin donat favoritku.

Yuu menaruh beberapa botol Frappucino favorit Pi dan aku di meja.

“Pi.., lihatlah, Shiroro membawakan kopi favoritmu.” Kataku. Yuu tersenyum lebar padaku. Cowok berdarah Spanyol-Jepang itu duduk di seberangku.

Jin duduk di sampingku. Dia menguap lebar sekali. Aku memasukkan donut ke mulutnya. Jin terkejut.

“Kau harus menutup mulutmu saat menguap! Kau tidak akan pernah bisa tahu apa yang akan masuk ke mulumu.” Aku tertawa,

Jin menatapku sejenak. “Aneh.” Katanya.

“Aneh kenapa?”

“Aku jadi teringat cinta pertamaku.”

“Lee Shin Ae?” Kataku refleks, tanpa memandang Jin.

Jin menggeleng. “Bukan. Aku tidak tahu siapa namanya.”

Aku menoleh dan tertawa. “Ini baru aneh. Masa kau tidak tahu siapa nama cinta pertamamu?! Hahaha..”

Jin menyipitkan matanya. “Pi cerita padamu?”

“Apa?”

“Mengenai Shin Ae..?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba saja menjadi malas bicara. Aku tidak suka mengungkit topik ini.

Yuu menyadari suasana yang menegang. Maka dia pun mengalihkan pembicaraan. “Cinta pertama Jin adalah murid pertukaran pelajar. Anak junior high. Saat itu Jin baru akan masuk senior high.”

“Benarkah?” aku menatap Jin penasaran.

“Diamlah, Yuu!”

“Teruskan Yuu..” Aku nyengir jahil. Aku lebih suka mendengar cerita ini dibanding cerita tentang Lee Shin Ae.

Yuu mengangguk. “Dia sepertinya trainee di sebuah entertainment .. entah di Amerika atau Eropa. Saat itu dia sedang study tour ke JE.”

Study tour? Ternyata study tour ke JE itu benar-benar ada ya? Kupikir hanya aku saja yang mengarangnya saat dulu. Ternyata benar-benar ada…

10 tahun yang lalu aku meminta Pi mengajakku keliling JE. Sebenarnya tujuan utamaku adalah bertemu Tackey, idolaku. Setiap ada yang bertanya pada Pi siapa aku, Pi akan menjawab, “Dia siswi pertukaran pelajar, sedang study tour”. Pantas saja dulu tidak ada yang curiga, karena memang ada study tour JE yang sebenarnya. Aku tersenyum mengingat saat-saat itu. Aku senang sekali karena bisa bertemu Tackey, melihatnya latihan nyanyi, berfoto dengannya, bahkan mengobrol dalam bahasa Inggris (karena saat itu aku belum belajar bahasa Jepang).

“Kenapa kau bisa tahu Yuu? Jin menceritakan semuanya padamu?” aku tersenyum jahil pada Jin.

Yuu mengangguk. “Hmm.., dia heboh sekali. Begitu pulang latihan, dia cerita padaku dan Pi, meminta bantuan kami untuk mencari tahu tentang gadis itu. Tapi sayang sekali sepertinya gadis itu sudah pulang. Dulu Jin lebih ceria.., tidak pendiam seperti sekarang.”

Jin melempari Yuu dengan kulit jeruk. Yuu hanya tertawa.

“Kalau sejak dulu aku tahu boleh study tour ke JE.., aku pasti akan datang setiap tahun ke Jepang.” Aku tersenyum.

Yuu mengangguk. “Hmm.., bukankah kau ngefans Pi sejak dulu?”

“Apa?” aku tak mempercayai pendengaranku.

“Pi cerita pada kami.., kau itu sejak dulu ngefans padanya.” Kata Yuu.

Aku terbahak-bahak. Dasar Pi!

“Tentu saja aku ngefans padanya..” Aku menatap Pi. Dulu aku bangga sekali pada Pi, karena dia bisa masuk agensi yang sama dengan idolaku, Tackey.

“Apakah saat junior high kau pernah datang ke Jepang?” tanya Jin tiba-tiba. Dia menatapku dengan serius.

Aku menggeleng. “Aku pernah jalan-jalan ke Jepang dengan keluargaku saat aku masih elementary. Saat umurku 10 tahun.”

Hhhh.., seandainya saja dulu aku bertemu Jin.., tapi Jin mungkin tidak akan tertarik dengan anak SD sepertiku.

Tangan Pi bergerak-gerak lemah dalam genggamanku. “PI…” aku menatap Pi. Jin dan Yuu langsung berdiri dan mendekat.

“Pi.., kau sudah sadar?” tanyaku penuh harap.

“Pi..” kata Yuu dan Jin.

“Aku akan panggil dokter.” Kata Yuu.

Kedua kelopak mata Pi yang terutup mulai berkedut-kedut. Aku menyentuh pipinya pelan. Pi membuka kedua matanya, mengerjap-ngerjap, lalu menatapku. “Are you okay Crys? Apakah kau terluka? Siapa yang menculikmu Crys?” air mata Pi mengalir ke pipinya yang kurus.

“Aku baik-baik saja Pi.., Tidak ada yang menculikku. Aku baik-baik saja. Kau pasti bermimpi. Tidurmu lama sekali. 8 hari. Syukurlah kau sudah bangun, Pi..” aku tersenyum. Pi mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku. Aku menyentuh tangan Pi, membiarkannya terus menempel di pipiku.

“Don’t cry..” Pi tersenyum lemah.

Beberapa saat kemudian dokter dan beberapa perawat datang. Aku berdiri dan menepi, membiarkan dokter memeriksa kondisi Pi. Jin menelepon ibu Pi, ibu Jin, kemudian Kame dan Tegoshi.

15 menit kemudian… ruangan Pi dipenuhi teman-teman Pi yang tersenyum senang karena Pi akhirnya sadar. Cowok-cowok itu tak kalah berisiknya dengan cewek. Aku tertawa, dan memberi kesempatan pada mereka untuk bertemu Pi.

Aku hampir bertabrakan dengan seseorang di pintu masuk ruangan Pi, dan refleks langsung mundur selangkah begitu melihat wajahnya. Ryo!

Ryo menatapku dingin. Seperti biasa. Dia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik. “Don’t trust anyone. Jangan pernah….. Jangan pernah percayai siapapun selain dirimu sendiri.” Dia pun melangkah masuk dan tersenyum lebar pada Pi. Senyum yang berbeda dengan yang dia berikan padaku tadi.

 

–       TBC

 

3 thoughts on “[Pi & Jin FF] The Fifth Season (Chapter 2)

  1. Haduch bingung,, sbenernya yang neror itu siapa sih? Rda gak faham gara” gak kenal sama castnya, trus Ryo itu sebenernya baik ya?
    Aku suka kalo Pi itu jadian beneran sama Crystal trus faktanya mereka bkan saudara.
    Chapter selanjutnya ditunggu eonn,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s