[Pi & Jin FF] The Fifth Season (Chapter 1)

Image

Title              : [Pi & Jin FF] The Fifth Season

Author         : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Genre         : friendship, romance, family

Length         : series

Main Cast   : Yamapi, Akanishi Jin, Crystal Amaranth (my fictional character)

Support Cast        : Shirota Yuu, Kamenashi Kazuya, Chinen Yuri, Nishikido Ryo, Hideaki Takizawa, NEWS, Arashi, KATTUN, and Hey Say Jump members.

 

Disclaimer  : This is just fanfiction. I make no money from this. Don’t share this FF without my permission. The plot is mine.

Ini adalah FF asli yang aku tulis zaman dulu. FF “I Don’t Know What I Can Save You From” adalah remake dari FF ini. Setelah dipikir-pikir, aneh juga rasanya me-remake FF ini ke dalam cast yang berbeda. FF ini pernah dipublish dulu, sekitar 2 tahun lalu, di livejournal author.

Ok, just enjoy the story.., and don’t forget to give me any comment =)

 

 

–       Chapter 1 –

 

@Tokyo, Jepang

Aku baru saja berjalan sekitar 5 meter dari apartemen-ku di kawasan Shinjuku, tapi sudah merasa tidak aman. Bukan.., bukan rasa tidak aman seperti yang kurasakan dulu, saat banyak sekali stalker di sekitarku. Cowok-cowok aneh yang pantang menyerah mendekatiku sehingga mereka jadi tukang stalker. Benar-benar mengerikan kalau harus mengingat kejadian dulu itu. Baik saat aku tinggal di Belanda maupun di Jepang.

Aku semakin mempercepat langkahku, mengabaikan orang-orang yang melihat ke arahku. Hanya melihat dan menunjuk-nunjuk. Hhhh.., syukurlah. Setidaknya kali ini tidak akan separah dulu. Mungkin. Yah..kuharap begitu. Karena kini kasusnya berbeda, dan tidak ada stalker. Setidaknya mereka bukan Stalker-ku. Mereka hanya kebetulan “tau” aku.

Aku semakin mempercepat langkahku, mengabaikan tatapan penasaran orang-orang. Sial! Seharusnya aku mengikuti saran sepupuku untuk “menyamar”.

Tiba-tiba saja sebuah mobil sport hitam berhenti di dekatku. Aku tersentak. Jelas tahu siapa pemilik mobil mewah itu. Orang-orang yang tadi melihatku jadi semakin heboh karena kini si pemilik mobil sport hitam itu keluar dari dalam mobilnya. Mulutku menganga lebar. Cowok itu malah nyengir lebar tanpa dosa.

“KYAAAAA!!! YAMAPIIIII!!!!!” seru cewek-cewek, mulai menjepret-jepretkan kamera ponsel mereka ke arah kami. Cowok di hadapanku itu tersenyum sambil ber-pose manis di depan kamera.

“Eh lihat.., itu cewek-nya Yamapi kan?” kata seorang gadis seumuranku. “Pantas saja aku seperti pernah lihat wajahnya.” Kata cewek itu sambil menatapku.

“You ruin my morning, Pi!” geramku.

“Ayo.., aku antar.” Cowok itu menarik tanganku dan mendorongku masuk ke dalam mobilnya. Para fans masih menjerit-jerit dan melambaikan tangan mereka. Yamapi balas melambai ramah.

“Besok pasti wajahku muncul lagi di berbagai tabloid, dan beberapa menit lagi pasti fotoku terpampang di internet.” Keluhku, sambil menatap cowok berambut ikal yang duduk di sampingku.

“Bukankah itu tujuan utama kita? Agar semua orang tahu kita adalah sepasang kekasih?” Tanya cowok itu cuek sambil menatapku.

“JANGAN MENGALIHKAN MATAMU SAAT MENGEMUDI!!!” Jeritku. “Are you crazy, Pi? I don’t wanna die now!”

Yamapi malah terbahak-bahak. “Easy, Crys. I’m a professional driver.” Yamapi mengedipkan sebelah matanya, kemudian kembali fokus mengemudi.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Kamu terlalu berlebihan, Pi. Semua orang sudah tahu hubungan kita. Jadi, tidak perlu show off terus-menerus. I’m sick of it!” tukasku kesal.

Yamapi tersenyum lebar, sama sekali tidak peduli perasaanku. “Bahasa Jepangmu sudah sangat bagus, Crystal.”

“Don’t change topic, Pi!” kataku. Kesal.

“Oke..oke.., gomen ne..” Yamapi nyengir jail.

Hhhhh…, benar-benar memerlukan kesabaran ekstra bila menghadapi makhluk yang satu ini!

“Sudah kubilang kan.., kau sebaiknya menyamar saat pergi keluar. Kacamata kurasa cukup menyamarkan wajahmu…” Yamapi melirikku sekilas, kemudian cepat-cepat kembali fokus menyetir. “Tapi mungkin juga tidak. Rambutmu terlalu mencolok.” Yamapi mengomentari rambut ikal pirangku.

“Aku tidak mau mengecat rambutku. Aku suka warna rambut asliku.” Kataku.

Yamapi hanya mengangkat bahu. “Kau bisa menggelung rambutmu dan memakai topi. Itu akan sedikit membantu.” Usulnya.

“Akan kucoba.” Kataku. “Oh, stop di sini saja. Kau tidak perlu mengantarku sampai ke depan gedung kampusku. Pasti akan terjadi kehebohan lagi. Berhenti di sini saja, Pi. Aku akan jalan kaki.” Kataku begitu kami mulai dekat universitasku.

Yamapi terus saja mengemudikan mobilnya, masuk ke gerbang universitas. “Hey.., I said stop here!” seruku. Yamapi pura-pura tidak mendengarku. Mobil terus melaju. “Are you insane?!”

“Crystal… I just wanna make sure that you’re safe.” Kata Yamapi lembut. Mobil berhenti tepat di depan gedung kampusku. Yamapi melepas sabuk pengamannya kemudian membuka pintu. “Pi.., Don’t do that!”

Terlambat! Yamapi sudah keluar dari dalam mobil, dan cepat-cepat membukakan pintu untukku. Aku keluar sambil menatapnya tajam.

Beberapa orang mulai menyadari siapa cowok yang mengantarku ini. Terutama cewek-cewek. Ya.., siapa sih yang tidak tahu siapa cowok ini?!

“You really ruin my peaceful morning, Pi.”

“I love you too, baby..” Yamapi mengedipkan sebelah matanya, tidak menghiraukan kata-kataku barusan. Ia segera masuk kembali ke dalam mobil, lalu pergi.

Aku menyesal mengapa dulu bisa-bisanya membuat kesepakatan gila bersama sepupuku itu! Gila! Dulu aku pasti sudah gila karena setuju dengan idenya Yamapi untuk pura-pura menjadi pacarnya di depan publik.

Aku mengabaikan orang-orang yang memfoto-ku. Cepat-cepat aku berlari menuju kelasku di lantai 3.

Ya. Tidak ada seorangpun yang tahu … aku ini sebenarnya sepupu Tomohisa Yamashita alias Yamapi. Aku lahir dan besar di Belanda. Ayahku orang Belanda, ibuku orang Jepang. Ibuku adalah adik dari ayahnya Yamapi. Aku hanya pernah ke Jepang saat umurku 10 tahun, dan saat itu Yamapi masih menjadi trainee JE. Setelah lulus Senior high school, aku memutuskan untuk kuliah di Jepang dan tinggal di apartemenku sendiri. Kupikir keadaan di Jepang akan berbeda dengan saat di Belanda dulu. Tapi ternyata sama saja. Aku muak dengan cowok-cowok yang sudah kutolak tapi masih saja mengejarku. Seperti stalker.

Aku jarang bertemu Yamapi karena saat aku pertama tiba di Jepang, dia sangat sibuk dengan drama dan promo album-nya. Setelah setahun tinggal di Jepang, keadaan semakin parah karena para penguntit itu semakin gencar menguntitku. Aku sampai harus pindah apartemen beberapa kali. Untunglah saat keadaan parah itu, Yamapi ada di dekatku. Dia sudah tidak terlalu sibuk. Tapi rupanya ada gossip miring tentang Yamapi. Dia digossipkan pacaran dengan Akanishi Jin, sahabatnya sendiri! Awalnya hanya rumor tak penting, tapi lama-lama rumor itu jadi semakin meluas.

Kemudian terlintaslah ide gila itu di otak Yamapi. Untuk menepis gossip gay Yamapi, dan juga untuk melindungiku dari para penguntit. Kalau orang-orang tahu kami pacaran.., maka para penguntit itu akan menyerah. Tidak ada yang tidak mengenal Yamapi di negeri ini. Semua tahu Yamapi. Dia adalah seorang penyanyi, aktor, dan model yang sangat terkenal. Jadi, sepertinya kecil sekali kemungkinan akan ada cowok yang berani merebut “cewek” Yamapi!

Aku setuju dengan idenya. Pada awalnya memang terbukti idenya sangat brilliant. Setelah semua media tahu mengenai “hubungan” kami, para penguntit itu berhenti menggangguku. Kehidupanku aman. Ya, dulu kupikir begitu. Tapi ternyata.., sama saja. Bedanya, kini orang-orang yang menggangguku adalah fans Yamapi. Tapi untunglah mereka hanya menggangguku lewat dunia maya. Blog-ku penuh dengan makian dan kata-kata kasar para fans Yamapi. Tapi aku tidak peduli, selama aku terbebas dari penguntit-ku.

Tapi kini aku mulai merasa Yamapi terlalu berlebihan.

 

*******

 

“Pi.., wake up!” aku menggoyang-goyang tubuh Yamapi.

“Hmmm..” Yamapi membalikkan badannya. Memunggungiku.

Sepupuku itu menginap di apartemenku tadi malam. Dia berusaha meminta maaf padaku karena telah membuatku kesal pagi harinya. Pi tahu aku tidak bisa lama-lama marah padanya, apalagi saat dia membawakan banyak makanan favoritku : pizza, donut, spagethi, dan takoyaki.

Jadi sementara aku melahap semua makanan yang Pi bawakan untukku, tadi malam ia hanya minum sake. Aku tidak pernah menyukai sake maupun minuman beralkohol lainnya, jadi Pi hanya minum sendirian. Akibatnya.., dia terkapar tak berdaya di apartemenku.

“PIIIIII!!!!” jeritku di telinganya. “Banguuuunnnn!!! Aku ada kuliah sebentar lagi!”

Yamapi membuka matanya. Sayu. “Kau pakai saja mobilku.” Lalu ia pun kembali menutup matanya dan memeluk guling.

“Bukan itu maksudku! Aku bisa pergi sendiri. Apakah hari ini kau tidak ada kerjaan?”

“Tidak. Aku bebaaaasss!!! Hahahaha. Jadi biarkan aku tidur seharian ini.” Kata Yamapi dengan mata tertutup.

Aku mendengus. “Aku pergi.” Kataku.

“Kunci mobilnya ada di jaket-ku..” lagi-lagi Yamapi berkata dengan mata terpejam.

“Aku naik bus saja.” Aku pun pergi. Mana mau aku mengemudikan mobil Yamapi?! Bisa-bisa nanti aku diikuti paparazzi!

Kali ini aku mengikuti saran Yamapi. Aku mengikat rambut panjangku, memakai topi, dan kacamata baca. Tidak ada yang menatapku dengan penasaran seperti kemarin. Syukurlah. Tapi tetap saja.., kini semua orang jadi tahu di-mana- pacar-Yamapi-kuliah! Ini semua gara-gara Pi kemarin mengantarku dan sengaja show off di depan kampusku!

Aku mengambil jurusan Kimia. Seharian ini akan full dengan praktek di laboratorium. Aku tidak perlu menyamar di laboratorium bukan?! Lagipula di antara teman-teman sekelasku tidak ada fans berat Yamapi. Mereka juga tidak pernah menanyaiku macam-macam tentang Yamapi. Dulu mereka memang sempat bertanya, tapi itu pun hanya pertanyaan biasa : “Kau benar-benar pacaran dengan Yamapi?” Hanya itu. Aku pun mengatakan iya. Entah kebohongan yang keberapa yang kuucapkan.

Orangtuaku dan orangtua Yamapi tidak ambil pusing dengan apa yang kami lakukan. Ibuku malah mendukung Yamapi. Tapi ibu Yamapi pernah mengatakan sesuatu yang sampai saat ini masih kuingat : “Crystal, kalau orang-orang mengira kau pacarnya Tomo-chan, kau tidak akan dapat pacar sungguhan di sini.”

Pacar sungguhan? Aku juga tidak berniat mendapat pacar sungguhan di Jepang. Tapi.., tetap saja.

Apa itu berarti aku akan “terjebak” selamanya bersama Pi? Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak! Suatu hari nanti kami harus “putus” di depan publik. Tentu saja pada akhirnya kami harus mengakhiri hal gila ini kan?! Tidak mungkin juga selamanya Pi akan menjomblo. Dia harus benar-benar mengencani cewek sungguhan. Bukan pura-pura pacaran dengan sepupu sendiri.

Kadang aku merasa heran.., Pi begitu terkenal, semua cewek (setidaknya fans-fans nya) pasti mau diajak kencan oleh Pi. Lalu, di saat tersebar gossip Pi gay dan pacaran dengan sahabatnya sendiri, Akanishi Jin, mengapa Pi tidak menepis gossip itu dengan mengencani cewek sungguhan?! Kenapa harus pura-pura pacaran dengan aku? Saudaranya sendiri!

Mungkin untuk membantuku juga. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hhhh.., seandainya aku tidak punya masalah dengan para penguntit, pasti semua ini tidak perlu terjadi. Aku tidak perlu jadi sorotan media!

 

 

Praktikum di laboratorium Kimia Organik berakhir pukul 3 sore. Aku baru saja akan merapikan jas lab-ku ketika ponselku berdering. Nomor tidak dikenal. Aku mengabaikannya. Siapa tahu salah satu penguntit itu beraksi lagi! Atau.., bisa saja media yang berusaha mengorek kehidupan pribadiku.

Aku berjalan keluar dari laboratorium. Sebelum pulang ke apartemen, aku memutuskan untuk belanja terlebih dahulu. Aku memakai penyamaran seperti saat pergi tadi.

Ponselku berdering lagi. Nomor yang sama? Aku mengabaikannya lagi.

Hari ini aku ingin memasak pasta seafood dan sup rumput laut. Aku mendorong troliku dengan riang. Merasa senang karena tak ada seorangpun yang mengenaliku. Mungkin aku terlalu paranoid. Tapi sepertinya tidak semua orang tahu aku. Hanya segelintir orang..terutama fans Yamapi yang mengenali wajahku. Selain itu aku aman. Aman bila aku sendirian. Orang-orang (yang bukan fans Yamapi) baru akan mengenaliku saat Yamapi bersamaku.

Ponselku berbunyi, tapi kali ini sms.

Crys, ini Pi. Aku td berusaha meneleponmu. Apa kau sdh plg kuliah? Ponselku tertinggal di apartemenmu. Bisakah kau antarkan kemari? Telepon ke sini kalau kau sudah beres kuliah.

Aku mendengus. Benar-benar khas Yamapi. Dasar pelupa!

Tapi…, apa benar ini Pi? Bagaimana kalau hanya sms iseng? Bagaimana kalau ternyata yang mengirim sms ini ternyata fans Yamapi yang membenciku? Tapi..

Kuputuskan untuk menelepon ke nomor itu. Aku hanya menunggu beberapa detik sebelum ponsel itu diangkat. “Moshi-moshi..” ujar suara seorang pria. Rasanya aku kenal suara ini.

“Moshi-moshi.., apakah Yamapi ada di sana?” tanyaku.

“Pi? Oooh.., ini Crystal?”

“Mmmm.., Ya. Apa tadi benar-benar Pi yang mengirim sms? Kau siapa?” tanyaku galak. Mulai curiga.

Cowok itu tertawa. “Hahahaha, benar.., yang tadi itu Pi. Dia sedang di toilet. Oh, ini dia datang…”

Beberapa saat kemudian terdengar suara Yamapi. “Crys.., kau di mana? Aku meneleponmu terus… tapi kenapa tidak diangkat? Kau tahu kan aku benci menulis sms!”

Aku tertawa. “I’m sorry Pi.., aku tadi sedang di laboratorium, dan sekarang aku di supermarket. Aku takut nomor itu hanya iseng meneleponku. Penguntit. Kau tahu..”

“Hahahaha. Yaa..ya.. aku tahu. Ini nomor Jin. Kau harus menyimpannya, kalau-kalau aku menghubungimu lagi dalam keadaan gawat darurat.”

Aku mendengus lalu tertawa. “Kau di mana sekarang?”

“Apartemen Jin. Kemarilah sambil membawa ponselku. Kau tahu kan aku tidak bisa hidup tanpa ponselku..”

“Kalau begitu kenapa kau meninggalkannya di apartemenku, bakka!”

Yamapi tertawa. “Aku lupa. Tiba-tiba saja saat bangun tadi .. sekitar pukul 11..  aku ingat … hari ini aku harus mengepas baju untuk show besok malam. Aku terburu-buru.., jadi..yah.., I’m sorry Crys..”

“Hhhh.., oke-oke. Beritahu aku di mana alamatnya. Tapi mungkin aku baru akan sampai sana agak sore, aku masih belanja. Ah, benar.., percuma saja aku belanja. Aku tidak akan bisa memasaknya hari ini. Aku akan menyimpannya di lemari pendingin saja kalau begitu..”

“Bawa ke sini saja.” Usul Pi.

“Apa?”

“Masak di sini saja, Crys. Aku akan membantumu..”

“Kau? Memasak? Hahaha.., tidak perlu. Traktir saja aku makan di luar malam ini Pi.”

“Aku malas keluar, Crys. Masak di sini saja, oke?”

Aku menghela napas. Aku tahu aku tidak bisa menang melawan Pi di saat dia benar-benar keras kepala. “Oke.” Kataku.

 

*******

 

Apartemen Akanishi Jin lumayan jauh dari apartemenku maupun dari apartemen Pi. Sesuai saran Pi, aku naik taksi. Dia bilang ongkosnya dia yang bayar nanti. Jadi aku sih setuju-setuju saja.

Taksi berhenti di depan sebuah apartemen mewah. Aku menelepon Jin. Sesuai saran Pi.

“Crystal? Kau sudah sampai?” aku terkejut karena Pi langsung menjawab panggilanku.

“Ya. Cepatlah turun dan bayar taksi ini Pi!” kataku. Memutuskan sambungan. Aku bisa saja bayar sendiri taksi ini, tapi Pi sudah berjanji akan membayarkannya untukku. Jadi aku menunggu.

“Crystal?” seseorang memanggilku. Aku terkejut karena mendapati Akanishi Jin menghampiriku, membayar taksi, lalu meraih kantung belanjaan di tanganku. Aku sudah beberapa kali bertemu Akanishi Jin, tapi tidak di kediaman pribadi-nya, maupun bertemu dengannya dalam pakaian sangat santai. Jin hanya memakai celana pendek dan hoodie putih.

“Kenapa tidak Pi saja yang turun?” tanyaku, ketika kami menaiki lift. “Maaf aku jadi merepotkanmu.” Kataku.

Akanishi Jin tersenyum. “Tidak apa-apa. Pi sedang manja. Dia berbaring terus sejak siang tadi. Dia bilang..dia menghabiskan berapa.. hmm.. 20 botol sake semalam?”

Aku menatap Jin heran. Pi sedang manja? Yang benar saja! Mau tak mau aku ikut berpikir yang tidak-tidak mengenai mereka berdua.

“Kau benar-benar baik Crystal-chan.., jauh-jauh datang kemari untuk mengantarkan ponsel Pi. Kupikir Pi keterlaluan sekali membiarkan pacarnya yang baru saja pulang kuliah datang kemari, membawa belanjaan pula. Biar aku saja yang masak. Kau istirahat saja…”

“Eh?? Kau bisa masak???” tanyaku penasaran.

Akanishi Jin tersenyum. “Tidak terlalu jago sih.., tapi setidaknya jauh lebih baik daripada masakan Pi.”

Aku tertawa. “Pi benar-benar parah di dapur. Dia bisa membuat dapur meledak .. hahahaha..”

Akanishi membukakan pintu apartemennya dan mempersilakan aku masuk.

“Crystal.., kau bawa ponselku?” Tanya Pi langsung, begitu kami masuk. Pi tiduran di sofa sambil menonton TV kabel yang menayangkan drama Korea.

Aku memutar bola mataku. “Menyebalkan bukan?” kataku pada Jin. Jin tertawa.

“Pi.., teganya kau bersikap seperti itu pada pacarmu.” Kata Jin.

Pi tertawa. “Tentu saja.., karena dia pacarku…” Pi menatapku penuh makna. Tentu saja karena aku sebenarnya adalah sepupunya, yang lebih muda, yang otomatis membuatku berada pada posisi “adik”, Pi bisa leluasa menyuruhku. Aku bukan pacar sungguhan, jadi tidak masalah.

“Pi.., kurasa kita harus putus.” Kataku main-main.

Pi mengangguk sambil tertawa. “Ya..ya.., kita putus saja Crystal Amaranth..”

Aku mendelik sebal menatap Pi. Pi menatapku sambil nyengir lebar. Aku tahu.., aku tidak akan bisa cepat-cepat “putus” dari “kepura-puraan” ini. Aku mendengus kesal.

Jin tertawa melihat kami. “Kalian tahu.., kalian tidak seperti sepasang kekasih. Kalian seperti …adik- kakak..” Jin menatap kami bergantian.

Pi tertawa aneh. “Ha..ha..”

Aku membelalakkan mataku. Ini pertama kalinya ada yang curiga pada kami.

“Aku masak dulu.., kalian santai-lah..” Jin tersenyum, lalu masuk ke dapur.

Aku menatap Pi. Pi berbisik, “kita harus hati-hati di depan Jin. Dia itu.., sahabatku. Dia benar-benar tahu aku. Sejak awal dia sudah curiga.., tapi aku berhasil meyakinkannya. Sekarang sepertinya dia mulai curiga lagi. Kita jangan bertengkar seperti…adik-kakak. Tapi.., bagaimana memangnya kalau pasangan sungguhan bertengkar?”

Aku membelalak tak percaya. “Come on.., you’ve datting so many girls in the past…”

“Sssshhttt..” Pi menyuruhku memelankan suara. “Aku punya banyak cewek dulu.., tapi bukan sungguhan. Maksudku.., it’s just for fun. I’ve never been in loved before.”

“Huwahahahaha…” aku terbahak-bahak. Pi menutup mulutku. Aku melepaskan tangannya dari mulutku lalu menatapnya jahil. “kau hanya main-main dengan cewek-cewek.., karena soulmate-mu adalah Jin. Aku mengerti. Kalian tinggalah di Belanda,, menikah di sana…”

Pi terbahak-bahak sambil terbungkuk-bungkuk dan mengeluarkan air mata. Jin menghampiri kami sambil tersenyum. Dia memakai celemek. “Kalian sudah baikan rupanya..” dia pun kembali ke dapur.

Pi masih tertawa, lalu dia berbisik. “Crys.., you know I’m not a gay..”

Aku menatapnya tak percaya. “Prove it!” tantangku.

Pi memutar bola matanya. “Semenjak sibuk dengan solo karir.., aku jarang bermain-main dengan cewek lagi. Aku selalu bersama Jin kalau ada waktu luang. Pasti karena itu gossip mulai menyebar…”

“Lalu kenapa kau tidak pergi ke club dan gaet saja semua cewek di sana?! Atau.., kalian punya foto-foto aneh berdua ya?” tanyaku lagi.

“Aku ingin berubah..” kata Pi. Tiba-tiba saja dia jadi serius. Tidak terpancing dengan ucapanku.

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Untuk?”

“For that girl..” Pi melirik layar TV . Sebuah drama Korea. Seorang cewek Korea.

“Do you fall for her?” tanyaku tak percaya.

“Sssshhhtt.., pelankan suaramu.” Kata Pi. Dia mengangguk. “Yes. But she already has a boyfriend. Aku tidak ingin image-ku semakin buruk. Dulu aku dikenal playboy.., lalu beberapa tahun kemudian gay?” Pi menggeleng. “Lebih baik aku dikenal punya 1 pacar, dan setia. Meski itu hanya pura-pura. Maaf aku membebanimu, Crys..”

“You should told me about this earlier, Pi..” aku tersenyum. “I’ll help you, no problem. Tapiii.., jangan pernah terlalu show off di depan public. I hate paparazzi..”

Pi tertawa. “Oke..” dia mengacak-acak rambutku.

“NOT my hair!!” aku menyingkirkan tangan Pi. Pi hanya terbahak-bahak. “I’ll help Jin..” aku bangkit berdiri.

“Hey..” Pi meraih tanganku. “Don’t fall for Jin…” kata Pi serius. Suaranya pelan.

“Why? Because you love Jin?” bisikku, berusaha menahan tawa.

Yamapi menatapku tajam. “You know I’m not…”

“I know..I know.. tenang saja Pi.., aku tidak akan jatuh cinta pada cowok Jepang.” Kataku santai.

“Oh really?” Pi tersenyum mengejek. “Siapa yaa.. yang saat umurnya 10 tahun merengek-rengek padaku minta foto dan tanda tangan Hideaki Takizawa?”

“Ssshhh…” aku membekap mulut Pi. “Don’t say it too loud! Aku bantu Jin dulu.” Kataku. Pi mengangguk. Matanya fokus lagi ke layar televisi saat aktris Korea itu muncul lagi. “Happy watching drama…” aku tersenyum miring, lalu cepat-cepat pergi ke dapur sebelum Pi melempariku dengan popcorn.

Jin tersenyum saat melihatku datang. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ternyata dia cukup cekatan juga dalam memasak.

“Let me help you..” kataku.

“Tidak usah.” Kata Jin. Aku menatapnya terluka. Jin tertawa. “Oke.., kau boleh membantuku dengan mengupas mangga dan melon.”

“Oke..” kataku riang.

Jin – yang sedang memasak sup rumput laut dan pasta seafood- menatapku sejenak. “Anehnya…kau agak mirip Pi.”

Aku terdiam. No way!!!!! Wajah kami sama sekali tidak mirip.

“Sifat kalian..” kata Jin, seolah bisa membaca pikiranku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Kau mencintai Pi?” tanya Jin tiba-tiba. Aku berhenti mengupas mangga, menatap Jin sejenak, lalu kembali mengupas.

“Ya.” Kataku. Tentu saja aku mencintai Pi. Sebagai saudara. Tambahku dalam hati. “Kalian berdua tidak benar-benar.., gay kan?” tanyaku.

Jin meledak tertawa. “Menurutmu?” Jin tersenyum miring.

“You love him.” Tukasku cepat.

Jin mendekatiku, membungkukkan badannya dan menatapku lekat-lekat. “Are you jealous?” Jin tersenyum. Aku hanya tertawa.

“Kami sahabat baik. Hanya itu. Kau tidak usah khawatir..”

Aku menatap Jin. Lalu teringat kata-kata Pi barusan. “Don’t fall for Jin..” Kenapa? Kenapa Pi melarangku? Aku tidak jatuh cinta padanya seperti yang Pi kira, tapi karena kata-kata Pi itu aku jadi penasaran. Memangnya ada apa dengan Jin?

Pikiranku mulai melantur ke mana-mana. Jangan-jangan…, Jin-lah yang memiliki “kelainan”. Bukan Pi! Jin mencintai Pi, tapi Pi tidak. Pi hanya menganggap Jin sahabat. Seperti dulu. Karena itulah, cara yang paling aman dan paling cepat agar Pi bisa menolak Jin dengan halus adalah dengan pura-pura menjadi pacarku..

OH NOOOO!!!! Sepertinya aku terlalu banyak mengkhayal. Yaoi? It’s funny. Aku akan menyelidikinya.

 

Akhir-akhir ini mulai muncul surat-surat aneh yang dikirimkan ke apartemenku. Tanpa nama dan tanpa alamat pengirim. Aku sudah bisa menebak dari siapa surat itu berasal. Tentu saja dari fans-fans Yamapi yang membenciku!

 

Cewek jelek, jauh-jauhlah dari Yamapi! Yamapi itu milik kami!

 

Cepatlah putus! Kau hanya mengganggu karir Yamapi-kun!

 

Ya.., kata-kata setipe itulah.

Ada satu surat yang lucu :

Aku tidak rela kau memiliki Yamapi. Yamapi itu hanya milik Akanishi Jin.

 

Satu yang kupelajari dari kejadian ini. Fans itu aneh. Ada fans yang mendukungku, tapi ada juga yang membenciku.

Salah satu surat yang mendukungku :

Crystal-san, kau sangat serasi dengan Yamapi kami. Teruslah buat Yamapi bahagia. Kami mendukungmu.

Tapi, sama seperti surat-surat bernada kebencian, surat dukungan itupun tanpa nama.

Sore ini, surat ancaman kembali muncul. Sepulang kuliah aku menemukan surat itu tergeletak di atas sebuah kardus, di depan pintu apartemenku. Surat itu ditulis dalam sebuah kanvas , menggunakan tinta merah.

Hal buruk akan terjadi.

Tapi bukan kata-kata itu yang membuatku syok, melainkan isi sebuah kotak yang menyertai surat itu : 5 buah kepala kelinci. Hanya kepala-nya saja tanpa badan. Penuh darah.

Aku menjerit keras dan menjatuhkan box berisi kepala kelinci itu. Tanganku bergetar. Satu-satunya yang terlintas di dalam otakku saat itu adalah Yamapi. Aku harus memberitahu Pi. Kali ini fans Yamapi yang membenciku sudah semakin keterlaluan!

Cepat-cepat aku pergi ke kamar dan menelepon Pi. “Lama sekali sih Pi mengangkatnya! Ayooo..,” aku tak sabar menunggu telepon diangkat.

“Moshi-moshi.. ,ada apa Crys?”

“Pi.., kau ada di mana sekarang? Listen.., I’m a brave girl, you know that. Tapi ini sudah keterlaluan. Ada orang yang mengirim bangkai kelinci ke apartemenku. Hanya kepalanya… Sangat mengerikan, Pi. Kasihan kelinci-kelinci itu…” aku terisak. Teringat kelinci-kelinci peliharaanku dulu yang mati karena sakit. Aku tidak tega melihat kelinci-kelinci malang di dalam kardus itu. Benar-benar jahat orang yang melakukan ini! Dia pasti tahu aku sangat menyukai kelinci, sehingga dia melakukan hal ini.

“Are you okay Crys?” tanya Pi lembut. Aku masih terisak. “Crys.., sebaiknya kau pindah apartemen. Apartemen yang pernah kuceritakan dulu. Di sana sangat aman. Penjagaannya juga sangat ketat.”

Ya aku ingat. Apartemen yang sangat mahal itu. Tidak mungkin aku bisa membayar apartemen itu dengan uang tabunganku sendiri.

“Tapi…”

“Aku tidak mau hal buruk terjadi padamu, Crystal.” Kata Pi serius. “Bisa saja itu ulah stalker-mu yang dulu. Kalau itu dari fansku yang membencimu.. dari mana dia tahu kau suka kelinci? Apa kau pernah bilang di media kalau kau suka kelinci?”

Aku menggeleng. “Tidak.” Bisikku.

“Aku sedang menuju apartemenmu. Malam ini kau menginap di tempatku saja. Besok baru kita urus kepindahanmu.”

“Tapi aku tidak ingin membebani ayahku lagi Pi.., aku sudah sering pindah apartemen..”

“Kau tenang saja. Biar aku yang urus.” Kata Pi mengakhiri pembicaraan.

Hhhhhh.., aku menghela napas panjang. Aku juga tidak ingin membebani Pi. Aku tahu harga apartemen itu mahal sekali. 10 kali lipat dari harga apartemenku yang sederhana ini. Di sana banyak tinggal selebriti-selebriti papan atas seperti Ayumi Hamasaki, Koda Kumi, Hideaki Takizawa, Haruma Miura, dan masih banyak lagi. Aku tidak ingin Pi mengeluarkan uang hanya untuk apartemen itu. Aku tidak ingin merepotkan Pi.

Aku masih bergelung di tempat tidurku ketika Pi datang. Dia tahu password apartemenku.

“Crys..” Pi membuka pintu kamar, berjalan menghampiriku dan memelukku. “Are you okay?” tanyanya.

Aku mengangguk. Kini aku merasa tenang karena ada Pi di sini. Aku memeluk Pi dengan erat. Pi mengelus-elus rambutku.

“Yamapi nii-chan..,” terdengar suara cowok. Aku menoleh ke pintu. Seorang anak cowok cute tersenyum pada kami.

“Saat kau meneleponku tadi, aku sedang bersama Chinen. Kami baru saja meeting dengan aktor lainnya untuk dorama baru kami nanti.” Kata Pi.

Aku mengangguk. Aku tahu Chinen. Dia anggota Hey Say Jump yang paling cute menurutku. Tapi aku belum pernah benar-benar ngobrol dengannya. Hanya sekedar menyapa bila melihatnya di studio.

“Aku akan menguburnya dulu..” kata Chinen. Pi mengangguk. Chi pun pergi.

“Aku jadi tidak enak pada Chi..” kataku.

“Tidak apa-apa. Chi anak baik.” Kata Pi, justru semakin membuatku  tidak enak.

Kruyuuuuukkk…

Tiba-tiba saja perutku bunyi. Pi tertawa. “Kau belum makan sejak siang ya?”

Aku mengangguk. Pi mengacak-acak rambutku. “Aku akan masak.” Kata Pi.

Aku membelalakkan mataku. “NO WAY!!!! Biar aku masak sendiri. Kau hanya akan membuat kacau dapurku Pi!”

Pi terbahak-bahak. “Hahahaha… Tenang saja Crys…, aku hanya akan masak ramen. Anak kecil juga bisa masak ramen, masa aku tidak…”

Aku menatap Pi sejenak. Ragu. Kemudian berkata tak yakin, “Oke..”

Pi nyengir dan segera melesat ke dapur. Aku melirik jam dinding, sudah pukul 5 sore. Beberapa jam lagi masuk waktu makan malam. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di otakku. Kalau ini hari terakhirku di apartemen ini.., sekalian saja aku habiskan persediaan makanan di lemari pendinginku dan mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan, sekaligus sebagai ucapan terima kasihku pada Chi, Jin, dan teman-teman Pi lainnya yang sudah banyak membantuku.

Aku segera meraih ponselku dan menghubungi Kazuya Kamenashi alias Kame. Semenjak tinggal di Jepang, Kame-lah teman Pi yang pertama kali akrab denganku. “Kazuya-kun.., kau ada waktu luang sekarang? Bisa datang ke apartemenku? Ya.., ajak juga Junno, Ueda, dan yang lainnya…”

Aku segera melesat menuju dapur. Pi sedang mengiris wortel dengan sangat hati-hati. Aku menggelengkan kepalaku. Heran deh, Pi terlihat sangat keren dan piawai memasak dalam salah satu dorama yang pernah dia bintangi. Tapi kenapa pada kehidupan nyata dia parah seperti ini?!

Aku hanya punya waktu 2 jam sebelum makan malam. Tiba-tiba aku teringat seseorang yang bisa membantuku memasak. Aku pun mulai menekan angka 7 di ponselku.  “Jin.., bisakah kau membantuku masak sekarang?”

Pi langsung menatapku. “Jin???” tanyanya. “Kenapa dia harus membantumu?”

“Aku akan mengadakan makan malam bersama dengan teman-temanmu.” Jawabku santai.

Pi menatapku curiga, jadi aku kembali bicara, “Sekaligus ada hal yang ingin kubicarakan dengan mereka. Yang akan membantuku melunasi apartemen baru super mewah dan super mahal itu..”

“Dan super aman.” Tambah Pi.

“Ya.., dan super aman.” Kataku jengkel. Pi menatapku tajam. Aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya. “Pi.., please.., aku tidak mau merepotkanmu. Aku akan mencari uang untuk apartemen itu.”

Pi cemberut. Lalu dia menghembuskan napas panjang. “Oke. Tapi kau harus pindah besok. Biar aku tangani dulu. Tentu saja nanti kau bayar padaku.” Kata Pi cepat sebelum aku mulai protes.

 “Oke.” Aku tersenyum berterima kasih. “Oh.., aku harus cepat!” aku pun segera mengeluarkan semua persediaan makananku dan mulai memasak.

“Crystal nee-chan, biar aku bantu.” Chinen tiba-tiba datang. Aku menatap Chi yang tersenyum lebar.

“Chi jago masak.” Kata Pi. Dia meregangkan badannya. “Aaaah.., tidak jadi bikin ramen. Ya sudah, aku nonton TV saja ya.” Pi pun melepas celemek yang dia gunakan tadi. Aku menatap Pi. Pi tersenyum sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk tanda peace. Kemudian keluar dari dapur.

“Oke, Chi.., kita harus mix and match, bagaimana caranya agar semua bahan ini terpakai tapi rasanya enak.” Kataku.

“Haik.” Chi mengangguk bersemangat.

Kami membuat ayam panggang bumbu mentega spicy, spagetthi seafood, sosis bakar, kentang goreng, pudding green tea, dan sup rumput laut. Chi ternyata lumayan cekatan dalam memasak. Dia sangat membantuku.

“Aku mengajak teman-temanku. Tidak apa-apa kan nee-chan? Soalnya mereka dari dulu ingin ketemu nee-chan dan ngobrol dengan nee-chan.” Kata Chi polos.

Aku tersenyum. “Tentu. Siapa saja yang akan datang Chi?” tanyaku. Aku berharap Chi mengundang Ryu.

“Semua member hey say jump.”

“What?” kataku surprise. “Eh.., bagus Chi..” kataku berbohong.

Bagaimana kalau makanannya tidak cukup? Apalagi aku sudah mengundang Kame. Dia pasti membawa teman-teman KAT-TUN nya. Aku juga mengundang Aiba dan Jun, dan kemungkinan besar anggota Arashi yang lain pun akan ikut. Sekarang ditambah anggota hey say jump…!!!!????

“Chi.., sebentar ya..” aku cepat-cepat pergi dari dapur, mengabaikan tatapan heran Pi yang sedang tiduran di sofa– langsung menuju kamarku, dan segera menelepon Jin. “Jin.., kau di mana? Ternyata kita kedatangan banyak tamu malam ini. Boleh minta tolong?”

********

 

Satu jam kemudian…

Kame, Junno, Ueda, Koki, dan Nakamaru sudah datang. Ueda langsung menuju dapur dan membantu memasak, sementara yang lain hanya diam di ruang tengah sambil main play station. Dasar cowok!

Beberapa saat kemudian Aiba, Jun, dan Nino juga datang. Mereka langsung bergabung dengan para cowok. Hhhh.., tidak adakah yang bisa membantuku lagi????

Apartemenku jadi semakin terasa sesak penuh dengan kedatangan member Hey Say Jump. Mereka juga langsung seru-seruan bersama senior mereka. Bertanding … entah games apa!

Aku baru bisa bernapas lega ketika penolongku yang terakhir datang. Jin. Sesuai pesananku, dia membawa 5 loyang besar Pizza. Jin datang bersama sahabat Pi yang lain : Yuu Shirota. Yuu membantuku membawakan makanan ke meja makan. Kami akan makan di ruang tengah saja nanti, karena ruang makan tidak akan sanggup menampung semua cowok-cowok ini! Tapi sebelumnya makanan harus disembunyikan di meja makan agar orang-orang yang rakus seperti Junno tidak curi start duluan!

Aku baru sadar Jin membawa banyak kantung plastik besar. “Kau tidak tahu kan mereka semua rakus sekali.” Kata Jin. Tertawa.

Jin membawa banyak sekali sushi dari restoran sushi favorit Pi dan aku. Ada berbagai macam makanan ringan, plus sake dan bir. Oh.., ternyata pizza-nya juga tidak hanya 5 loyang, tapi 10 loyang besar! Ditambah beberapa box donat. Aku menatap Jin heran. Rasanya Jin terlalu berlebihan.

“Sekalian pesta perpisahanku.” Kata Jin. Aku menatapnya tak mengerti. “Lusa aku kembali ke LA untuk rekaman album USA baru-ku. Mungkin aku akan ke Jepang lagi untuk promo single seasons, tapi hanya sebentar. Aku harus fokus untuk album dan tur Japonicana.” Jelas Jin.

Aku hanya mengangguk. Entah kenapa tapi nanti rasanya pasti aneh tanpa Jin. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Jin semenjak 3 minggu yang lalu. Aku tahu dulu Jin sibuk sekali di LA. Karena itulah aku juga dulu tidak pernah bertemu dengannya. Dulu kalau Jin pulang ke Jepang, pasti dia akan bertemu Pi. Tapi mereka hanya pergi berdua, tanpaku. Sekarang aku sudah terbiasa dengan keberadaan teman-teman Pi. Aku pasti akan merasa kehilangan Jin.

Aku, Chinen, dan Ueda hampir selesai memasak semua makanan. Jin membawakan camilan ringan ke ruang tengah yang langsung diserbu oleh para cowok rakus itu.

Kami berdesak-desakkan di ruang tengah. Tapi syukurlah ruangannya masih muat untuk kami semua dan semua makanan ini.

“Itadakimassu!!!!!” koor cowok-cowok itu. Langsung melahap makanan yang tersaji dengan rakus. Aku menatap Chi dan Ueda. Kami tertawa lebar karena mereka menyukai masakan kami.

Yamapi mulai membuka bir dan sake. “Anak kecil tidak boleh minum..” Pi nyengir jail ke arah Ryutaro yang duduk di sampingnya. Ryu hanya cemberut.

“Tenang Ryu.., aku punya banyak soda.” Kataku.

 “Crystal-chan, kau akan pindah apartemen besok?” tanya Kame. Mulutnya penuh sushi.

Aku mengangguk. “Hmm.., kau boleh membantuku mengepak barang, Kazuya-kun..”

“Bukankah itu tujuanmu mengundang kami makan malam di sini?” sindir Jun Matsumoto.

Aku tertawa. “Bukan.., sebenarnya.., aku ingin minta pendapat kalian tentang desainku.” Kataku. Semua mata memandang ke arahku. Aku mengibaskan tangan. “Tapi nanti saja.., ayo makan..” aku kembali melanjutkan makan malam-ku. “Oh ya, tapi kalau kau mau membantuku mengepak barang.., boleh saja sih Jun..” aku nyengir lebar pada Jun.

“Asal kau memberiku satu Loyang besar pizza itu, aku mau.” Kata Jun. Kami tertawa.

Koki mengangkat gelas-nya. “Untuk Yamapi dan Crystal. Semoga langgeng terus dan sering-sering mentraktir kita makan. Hahaha..”

“Cheers..” semua mengangkat gelas kecuali aku dan Pi yang saling tatap sambil berusaha menyembunyikan tawa.

“Cheers..” aku ikut mengangkat gelas berisi soda-ku.

“Cheers..” Pi ikut-ikutan mengangkat gelas berisi sake-nya.

Para junior yang belum cukup umur (seperti Ryu) menatap senior mereka dengan iri. Mereka hanya bisa minum soda.

“Dan untuk Jin.., semoga sukses dengan album barunya nanti di LA …” Kame kembali mengangkat gelas. Meskipun Jin sudah keluar dari KAT-TUN, tapi hubungannya dengan member KAT-TUN lain masih tetap akrab seperti dulu.

“Cheers..” kami semua mengangkat gelas kami. Berdentingan.

Jin tertawa. Pi menyuapi Jin sushi, Jin balas menyuapi-nya. Lalu Kame juga menyuapi Jin spagethi, Jin balas menyuapi kame sushi. Aku menatap mereka ber-3 dengan heran. “Pantas saja fans kalian sering membuat pairing…”

Kame tertawa dan langsung merangkul Jin. “Jin itu milikku. Kau tenang saja Crystal-chan. Aku akan menjauhkan Yamapi dari Jin..”

“Dasar Akame!” tukasku.

Yuto tertawa. “Nee-chan ternyata tahu Akame?! Wah.., mereka pairing yang sangat terkenal.”

Aku mengangguk. “Ya.., tapi kenapa gossip gay itu hanya antara Pi dan Jin? Kenapa tidak antara Jin dan Kame saja?” tanyaku.

Kame mengangkat bahu. “Mungkin aku terlalu cantik untuk Jin..” kata Kame serius. Jin menyumpal mulut kame dengan pizza. Mereka pun tertawa.

“Kalian sungguh tidak punya foto-foto aneh berdua?” tanyaku pada Pi dan Jin. Pi menggeleng.

Jin tertawa. “Kau mulai cemburu lagi kaan Crystal-chan.., hahaha.., tenang saja. Mulai lusa aku akan jauh-jauh dari Pi.” Jin mengedipkan sebelah matanya.

Tegoshi menepuk pundakku. “Aku akan memastikan Jin tidak dekat-dekat Pi.”

“Aku ragu.” Kataku. Kami pun tertawa. Sama seperti Jin dan member KAT-TUN lainnya, hubungan Pi dan member NEWS lainnya pun tetap akrab seperti dulu meskipun kini Pi sudah keluar dari NEWS. Sayang sekali malam ini hanya Tegoshi member NEWS yang datang.

Aku sudah kekenyangan. Tapi sepertinya para cowok belum. Mereka melahap pizza dan donut dengan bersemangat seolah-olah tadi mereka belum makan nasi!

“Oh ya.., aku ingin minta pendapat kalian tentang desain baju yang kubuat.” Aku berlari ke kamar, mengambil buku gambar berisi rancangan busana pria, lalu cepat-cepat kembali ke ruang tengah.

“Wow.., nee-chan ternyata bisa mendesain pakaian?” kata Yuto.

“Bukannya kau kuliah di jurusan kimia ya?” tanya Junno.

Aku tersenyum tipis. “Aku suka mendesain pakaian. Ini hobiku sejak senior high. Ng..ng.., sebenarnya salah satu kostum kalian itu aku yang rancang.” Kataku sambil menatap member KAT-TUN.

“Benarkah? Yang mana? Kenapa kami tidak tahu?” tanya Nakamaru bersemangat.

“Kalian pernah memakainya saat konser Break The Records.” Kataku.

“Tahun 2009? Berarti aku juga pernah memakainya.” Kata Jin.

“Yang mana? Yang mana kostumnya?” tanya Junno heboh.

Aku mengibaskan tanganku. “Itu hanya kebetulan saja. Saat itu desainer kalian datang ke Amsterdam dan menghadiri pameran busana ibuku. Dan.., aku beruntung karena desainer kalian tanpa sengaja melihat sketsaku…, dan dia meminta izinku untuk menjadikan desain itu salah satu kostum konser kalian. Hanya yang satu itu.”

“Wow..” kata Kame.

“Kenapa kau tidak menjadi desainer saja?” tanya Aiba.

Aku mengangguk. “Aku berencana melamar menjadi desainer JE. Karena itulah..aku ingin minta pendapat kalian.., bagaimana desainku ini? Apa staff JE akan tertarik melihat desainku?”

Mereka langsung mengerubungi buku gambarku.

“Crys..” kata Pi. “Bagaimana dengan kuliahmu?”

Aku tersenyum. “Tenang saja Pi. Aku hanya akan melamar part time. Aku tidak akan merepotkanmu, ingat?”

Pi menatapku tak yakin.

 

******

 

Keesokan paginya….

Aku terbangun pukul 7 pagi. Hari ini aku hanya ada kuliah biokimia, dan aku memutuskan untuk bolos saja. Aku harus mengepak barang-barang dan pindah ke apartemen baru. Pi sudah mengurus semua pembayarannya kemarin sore.

Aku mengucek mataku. Masih merasa ngantuk. Aku terkejut ketika melihat 2 cowok tidur di kasur lipat di bawah tempat tidurku. Kemudian tersenyum begitu menyadari siapa yang terbaring di sana. Jin dan Ueda.

Tadi malam cowok-cowok pulang pukul 11. Jin, Ueda, Pi, dan Junno menginap di sini. Kame dan Jun ingin menginap juga, tapi pagi ini mereka ada jadwal.

Aku memperhatikan wajah damai Jin dan Ueda. Saat tertidur wajah mereka terlihat polos dan manis. Berbeda sekali dengan saat mereka bangun.

Pertama kali bertemu Jin… aku merasa dia itu sangat jutek dan dingin. Pertama kali bertemu Ueda… dia terlihat seperti “bukan berada di dunia ini”. Dia terlihat seperti memiliki dunianya sendiri.

Tapi setelah lama mengenal mereka.., aku merasa mereka sangat baik. Meskipun aku belum benar-benar memahami mereka. Terutama Jin. Dia tertutup dan cenderung tidak banyak bicara. Selain itu aku masih penasaran dengan kata-kata Pi dulu. “Don’t fall for Jin…”

Memangnya kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyukai Jin? Apa yang salah dengan Jin? Terlepas dari gossip gay-nya dengan Yamapi, Jin oke-oke saja. Malah setelah Jin merilis single USA-nya yang berjudul “Test Drive” banyak komentar tentang kehidupan Jin di USA. Tentang bule-bule cantik, dan night club.

Kalau Jin tidak gay.., apakah itu berarti dia playboy? Lalu mengapa dulu pernah ada gossip dia pacaran dengan Yamapi? Aku benar-benar tidak mengerti.

Jin membuka matanya. Aku tersentak kaget dan cepat-cepat memalingkan muka. Jin duduk, menatapku. “Ohayou..” dia tersenyum, meregangkan badannya.

“Ohayou..” balasku. “Aku akan menyiapkan sarapan.” Kataku. Segera turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.

Ketika pergi ke dapur, aku terkejut karena Jin sudah ada di sana. Memakai celemek, dan sedang membuat omelette.

“Tadi malam aku tidak sempat membantumu memasak. Jadi biar aku saja yang menyiapkan sarapan.” Kata Jin.

Aku hanya mengangguk. Mengeluarkan susu sapi murni dari lemari pendingin dan meminumnya. “Jin.., bagaimana perasaanmu saat keluar dari KAT-TUN?” tanyaku.

Jin mematung sejenak, kemudian kembali rileks. Dia tersenyum. “Aku merasa.., aku harus berusaha sekuat tenaga agar bisa sukses di USA.”

Aku tidak menyangka Jin akan menjawab seperti itu. “Tapi mengapa kau harus keluar? Mengapa tidak hiatus, kemudian beberapa tahun lagi kembali kepada KAT-TUN?”

Jin sudah selesai memasak. Dia tidak segera menjawab pertanyaanku. Dia menyajikan omelette di atas piring, membawanya ke meja makan, dan duduk tepat di hadapanku. Aku masih menatapnya, menanti jawaban.

Jin tersenyum. “Kalau aku tidak melepas KAT-TUN.., itu akan sangat tidak adil bagi mereka maupun fans kami.”

Aku menatap Jin tak mengerti. Jin kembali melanjutkan kata-katanya. “Coba bayangkan kalau seandainya aku gagal di USA.., kemudian aku pulang ke Jepang dan kembali menjadi KAT-TUN. Bukankah itu sangat tidak adil? Dan itu hanya akan membuatku lemah. Dengan melepas KAT-TUN.., aku jadi semakin terpicu untuk sukses di USA dan karir solo-ku. Aku harus sukses, karena bila aku gagal aku tidak akan punya apa-apa lagi. Aku tidak ingin menjadi orang yang lemah. Karena itulah aku melepas KAT-TUN. Aku tidak ingin menjadikan KAT-TUN alasan bila aku gagal di USA nanti. Selain itu.., aku, Kame, Ueda, Junno, Maru, dan Koki masih sama seperti dulu. Kami masih berteman baik, malah sudah seperti saudara sendiri. Mereka mendukungku, jadi aku harus berusaha juga demi mereka yang sudah mempercayaiku.” Jelas Jin panjang lebar.

Aku berusaha agar tidak mengedip. Sial! Kata-kata Jin barusan hampir membuatku menangis.

“Aku senang Yamapi menemukan gadis sepertimu, Crystal-chan.” Jin tiba-tiba mengalihkan topik. Aku hanya terdiam, jadi Jin kembali bicara. “Pi banyak sekali membantuku. Terutama ketika aku harus melupakan gadis itu…” Jin menerawang.

“Gadis itu? Jadi kau tidak sungguhan gay kan Jin? Atau playboy?” kataku main-main.

Jin tertawa selama beberapa saat, lalu dia berubah menjadi serius. “Aku tidak mudah mempercayai perempuan lagi. Dan tidak mudah melupakan orang itu. Gay.., playboy.., itu semua hanya image. Aku hanya ingin menutupi perasaanku yang sebenarnya. Aku sangat berterima kasih padamu Crystal-chan. Aku khawatir Pi akan terseret gossip murahan itu bersamaku. Tapi kini dia tidak usah cemas. Ada kau bersamanya. Dan juga kini aku kembali dikenal publik sebagai Jin si tukang pesta dan gila cewek.” Jin tersenyum sinis.

Meskipun jarak Jin saat ini dekat sekali denganku, tapi entah kenapa aku merasa seperti tidak bisa menjangkaunya. Aku tidak bisa meraih Jin.

“Mungkin kembali ke LA memang jalan yang terbaik.” Jin tersenyum.

Detik itu juga aku menyadari satu hal. Aku tidak ingin Jin pergi.

 

 

“Junno! Jangan! Berikan padaku!” terdengar suara Pi. Aku segera pergi dari dapur. Begitu membalikkan badanku, cepat-cepat kuhapus air mata yang untungnya bisa kutahan sejak tadi. Aku tidak ingin membuat Jin khawatir dan salah paham. Jin mengenalku sebagai pacar Pi. Apa yang akan dia pikirkan bila dia mengira aku cewek menyebalkan yang malah menyukai sahabat pacarnya?!

“Ada apa Pi?” tanyaku. Pi cepat-cepat menyembunyikan sesuatu ke balik bantal sofa. Sementara Junno tertawa aneh di sebelah Pi. “Bukan apa-apa..hehehe.” kata Junno. Jelas berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Pi.., what’s wrong?” aku menatap Pi tajam. “Give it to me.” Aku mengulurkan tanganku. Meminta Pi memberikan apapun itu yang dia sembunyikan.

“Hanya surat iseng lagi.” Kata Pi. Masih tetap menyembunyikan.

“Berikan padaku Pi.” kataku tegas.

Pi menghela napas. “Oke.., tapi jangan terlalu dipedulikan. Selain itu kita harus segera mengepak barang-barang yang belum di pak. Truk akan sampai tengah hari nanti. Kau tidak usah peduli surat ini Crys. Lagipula kau akan pindah. Kau akan aman di sana.” Kata Pi panjang lebar.

“Pi…” kataku tak sabar.

Pi menyerah. Dia memberikan surat itu padaku. Surat itu ditulis tangan, seperti menggunakan kuas, memakai tinta merah. Tulisan tangannya sangat bagus dan rapi. Tapi tidak dengan isi surat itu.

Satu per satu orang-orang yang kau cintai akan bernasib sama seperti kelinci-kelinci manis itu.

Aku selalu mengawasimu.

Aku menjatuhkan surat itu. Pandanganku kosong. Orang yang sama dengan yang memberikan bangkai kelinci itu! Pasti orang yang sama!

“Crys..” Pi menyentuh bahuku lembut.

“Mommy.., I should call Mom and Dad….” Aku mencari-cari ponselku. Tanganku bergetar.

“Crys.., it’s okay. They’re fine. Jangan terpengaruh dengan surat berengsek itu, ingat?” Pi memelukku. Aku balas memeluk Pi dengan erat. Benar. Aku tidak boleh terpengaruh. Orangtuaku ada di Amsterdam. Sementara orang ini di Jepang.

“Bagaimana kalau meminta bantuan detektif?” usul Junno.

“Kau sudah melapor pada polisi?” Tanya Jin.

Aku melepas pelukan Yamapi, lalu menggeleng. “Kalau media tahu masalah ini, itu hanya akan merepotkan Pi. Polisi.., media.., mereka saling berhubungan.”

“Crys, it’s okay.. you should tell this to..…” protes Pi.

Aku mengangkat tanganku, menyuruh Pi diam. “Benar kata Junno. Bisakah kalian membantuku? Adakah detektif yang bisa menjaga rahasia dan tidak melibatkan polisi juga media?”

 

*********

 

7 p.m.…, @Apartemen baru-ku…

Yamapi baru saja pergi untuk syuting drama terbarunya bersama Chinen. Aku merasa bersalah pada Pi. Sejak siang tadi dia membantuku pindahan. Membereskan barang-barang, mengangkat perabotan. Dia pasti lelah sekali.

Junno juga sudah pulang. Aku yang menyuruhnya pulang, karena besok jadwal Junno sangat padat. Aku ingin dia beristirahat dan tidak usah mencemaskanku.

Kini tinggal Ueda dan Jin. Si duo keras kepala. Mereka berkeras akan menginap di sini malam ini.

“Tidak akan ada yang menculikku!” kataku tegas.

Ueda menggeleng. “Memang tidak.” Katanya cuek. “Aku hanya sudah ngantuk sekali Crsytal-chan. Biarkan aku tidur di sini..” Ueda memasang puppy eyes-nya.

Aku mendengus. “Bukankah tadi kau baru bangun pukul 11 siang? Sekarang kau sudah mengantuk lagi?” tanyaku. Ueda mengangguk dengan tampang manis. “Kau baru saja makan malam Ueda-kun. Tidak baik kalau langsung tidur.” Kataku. Ueda nyengir. “Hhhhh.., oke. Kau boleh tidur di sini, Pangeran tidur.” Kataku akhirnya. Menyerah pada si tukang tidur yang satu ini.

“Arigatou.. Crystal Chan..” Ueda memelukku sekilas. Berjingkrak-jingkrak senang, lalu segera menuju sofa, bergelung di sana, menarik selimut dan memejamkan matanya.

Aku dan Jin hanya tertawa melihat tingkah konyol Ueda.

“Kau juga tidak mau pulang, Jin?” tanyaku.

Jin mengangguk. “Hmm. Lagipula ini hari terakhirku di Jepang. Besok siang aku harus sudah terbang ke LA.”

Aku meringis. Lagi-lagi perasaan aneh itu.

“Kau harus pulang ke Jepang kalau ada waktu luang.” Kataku.

Jin tersenyum. “Tentu.”

Aku balas tersenyum. Tidak yakin. Aku merasa Jin akan pergi selamanya. Mungkin dia tidak akan kembali ke Jepang. Jin menyukai Los Angeles. Mungkin dia akan selamanya tinggal di sana. Apalagi tahun depan jadwal Jin sangat padat. Japonicana tour. Album USA baru.

“Aku akan ke Jepang lagi sebelum tahun baru. Tampil di music show. Promo single Jepang, Seasons. Awal tahun 2012 baru aku kembali ke LA lagi.”

Entah kenapa aku senang mendengarnya. Sedikit.

Ting tong… Ting Tong..

Siapa yang datang malam-malam begini?

Aku menghampiri pintu. Dari intercom terlihat 2 orang cowok. Ya Tuhan!!!!

“Siapa?” Jin mendekatiku. “Tackey senpai?! Dan Ryo?” Jin surprise. Jin pun membuka pintu.

“Konbanwa…” Hideaki Takizawa tersenyum hangat. “Yamapi memberitahuku kalau pacarnya pindah ke apartemen ini. Dia bilang Jin dan Ueda menginap di sini malam ini. Aku datang untuk mengecek dan memberikan ini. Apartemenku tepat satu lantai di atas apartemenmu.”

Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Tidak mempercayai penglihatanku sendiri. Hideaki Takizawa ada di hadapanku! Berbicara padaku! Tersenyum padaku! Memberiku sekeranjang jeruk! Mengkhawatirkanku!

Aku benar-benar tidak percaya! Sejak kecil aku mengidolakan Tackey. Aku senang sekali saat Pi akhirnya diterima di agensi yang sama dengan Tackey. Aku bahkan sengaja datang ke Jepang untuk menemui Tackey secara langsung, ketika Pi sudah menjadi trainee di JE.

Ya.., Tackey yang ini. Tackey idolaku.

“Crystal- san..? kau baik-baik saja?” Tanya Tackey.

Aku tersadar. “Silakan masuk..,” aku tersenyum grogi.

“Kenapa kau ada di sini Ryo?” Tanya Jin pada cowok di sebelah Tackey. Nishikido Ryo.

“Ryo habis berkunjung ke apartemenku.” Malah Tackey yang menjawab.

Aku tidak kenal Ryo. Aku belum pernah bicara padanya. Dia satu-satunya member NEWS yang tidak kukenal. Ryo menatapku dingin. Aku tersenyum pada Ryo. Mengabaikan tatapan sinis dan dinginnya. Ingat Crys.., kesan pertama tidak selalu menunjukkan bagaimana sifat asli seseorang! Aku mengingatkan diriku sendiri.

Ueda tetap tertidur nyenyak di sofa. Sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Tackey dan Ryo. Kami ngemil sambil nonton TV dan ngobrol-ngobrol. Hanya aku, Jin, dan Tackey yang mengobrol. Ryo diam saja.

“Crystal-chan.., setiap kali aku melihatmu.., aku seperti merasa pernah bertemu denganmu. Tapi entah kapan.” Kata Tackey. Kontan membuatku terpaku. Diam tak bergerak. “Kau yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya? Maksudku.., sebelum beberapa bulan yang lalu itu. Saat aku bertemu kau dan Pi di restoran itali. Apakah saat itu benar-benar pertemuan kita yang pertama?” Tackey menatapku intens, penasaran.

Ya Tuhan!!! Kumohon.., semoga dia tidak ingat!! 10 tahun yang lalu aku memang pernah bertemu dengannya. Aku memaksa Pi agar aku bisa bertemu Tackey, berfoto dengannya, meminta tanda tangannya. Saat itu umurku masih 10 tahun! Memangnya aku sangat mirip dengan saat aku kecil ya?!

“Eh.., kurasa tidak. Ini pertemuan kita yang ke-2 kalinya setelah di restoran italia itu, Tackey-san.” Kataku.

Tackey mengangguk-angguk. “Hmm.., tapi aneh saja rasanya. Karena wajahmu sangat unik, Crystal-chan. Tidak mudah untuk dilupakan.”

“Huwahaahahaha…” Jin meledak tertawa. “Kau mulai mengeluarkan jurus gombalmu, senpai! Hahaahaha…”

“Ini serius Jin..” kata Tackey sungguh-sungguh. Aku terus berdoa dalam hati semoga Tackey tidak ingat. Bisa gawat kalau dia ingat! Dia tahu aku sepupunya Yamapi. Ya, setidaknya 10 tahun yang lalu dia tahu.

“Oh.., bukannya ini mantan pacarmu, Jin?” Ryo yang sejak tadi kerjaannya hanya membisu dan memindah-mindah channel TV bicara untuk yang pertama kalinya.

Aku langsung menatap TV Korea yang menayangkan sebuah iklan ponsel yang berdurasi cukup lama. Mataku membelalak. Gadis ini.., artis Korea ini.., bukankah ini gadis yang sama yang disukai Pi???!! Benar! Tidak salah lagi! Memang gadis ini. Pi selalu menonton drama yang gadis ini bintangi seminggu sekali.

Aku melirik Jin yang menatap layar televisi dengan serius. Aku bisa melihat ada sorot kerinduan di matanya. Entah kenapa hatiku terasa perih.

Tackey meraih remote dari tangan Ryo, memindahkan saluran ke Disney channel. Tanpa sengaja aku bertatapan dengan Ryo. Dia tersenyum lebar, tapi matanya dingin. Ryo menatapku tajam. Aku merinding. Kedinginan. Dengan senyuman dan tatapan matanya Ryo seolah mengisyaratkan dia tahu segalanya.

Ada apa ini??? Gadis yang disukai Pi adalah mantan pacarnya Jin? Apakah gadis inilah yang sulit Jin lupakan? Yang membuat Jin sulit mempercayai perempuan lagi? Yang membuatnya lebih senang bermain-main?

Tapi bagaimana mungkin?! Mengapa juga Pi tidak pernah cerita padaku?!

Hubungan seperti apakah sebenarnya yang Pi dan Jin miliki…?

 

–       TBC –

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s