[Jo Twins FF] Chemistry

 Image

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Title                : Chemistry

Genre             : Romance, school life, friendship, family

Rating             : PG + 15

Length            : Series (3 Chapter)

Main Casts     :  Jung Jin Rae (OC), Jo Young Min (Boyfriend), Jo Kwang Min (Boyfriend)

Support Cast : Lee Eun Hye (OC), Jung Jin Young (B1A4), Choi Min Ho (SHINee), Nichkhun (2PM), Taeckyeon (2PM), Kyu Hyun (SuJu)

 

Disclaimer     : Cerita ini hanya fan fiksi. Ceritanya milik author. Tokoh-tokohnya K-Pop. Dilarang Copas tanpa izin! Happy reading.. ^_^

Cerita ini pernah di posting di FB author sekitar 2 tahun yang lalu.

 

Chapter 1 – “The Twins

 

KRIIIIIIINGGGGG ~~~~~

Alarm berbunyi nyaring sekali. Aku menutup kepalaku dengan bantal. Tapi suara alarm sialan itu terus saja terdengar. Akhirnya, dengan terpaksa aku merangkak mendekati meja di samping tempat tidurku, lalu mematikan alarm itu. Aaaah ~~~ aku pun kembali tidur.

 

“Sayang…ayo bangun…, hari ini kan ada ujian kimia Fisik 4..” ujar suara lembut. Aku merasakan kepalaku dibelai.

 

Aku pun langsung membuka mataku. Dibanding suara alarm, suara ayahku yang nge-bass lebih cepat membuatku bangun. Ditambah lagi pagi ini aku ada kuliah jam 8 pagi, ujian, dan dosennya tak lain adalah ayahku sendiri!

 

Ayahku sudah memakai setelan jas lengkap. Sudah tampak rapi sekali. “Appa ganteng sekali, seperti biasa….hehehe….”

 

Ayah mengacak-acak rambut ikal panjangku yang berwarna cokelat gelap. “Jangan harap dapat soal bocoran yaa.. ~~~”

 

Aku cemberut. “Tentu saja tidak! Aku yakin bisa dapat nilai A! Aku kan jenius.”

 

Ayahku tertawa. “Tentu…pasti anak Appa dapat nilai A. Oh iya, hari ini Appa ke kampus sebentar, lalu langsung ke bandara bersama Mr.Park Jun Su….”

 

“Gonna miss you, Appa…” aku memeluk ayahku manja.

 

“Hanya 10 hari ko.., nanti Appa janji bawa oleh-oleh yang banyak dari Paris. Sukses ya ujiannya! Sekarang, ayo mandi, lalu sarapan. Hari ini Appa masak nasi goreng spesial.”

 

“Horeeeee!!!!!” seruku girang. Aku pun cepat-cepat melesat menuju kamar mandi. Appa.. Appa adalah ayah yang paliiiiiiing hebat se-jagad raya!!! Ayahku itu serba bisa. Apapun bisa dilakukannya. Kadang aku merasa kasihan pada ayahku karena harus mengurusku sendirian sejak 19 tahun yang lalu. Tapi bagaimanapun, aku merasa beruntung karena memiliki Ayah sehebat ayahku! ^_^

 

Setelah mandi, aku pun turun ke lantai 1 untuk sarapan bersama Appa. Meskipun setiap hari kami hanya makan berdua saja (tidak ada sosok seorang ibu, kakak, ataupun adik), tapi selalu terasa menyenangkan. Biasanya saat makan bersama adalah ajang-nya curhat-curhatan. Sebagai Professor Kimia, ayahku sangat sibuk. Satu-satunya waktu dimana aku bisa leluasa mengobrol dengan ayahku adalah saat makan. Seperti sekarang ini.

 

“Huwaaaahhh.., sudah lama Appa tidak masak. Hmmmm.., enak!!!” kataku, dengan mulut penuh nasi goreng.

 

Appa tertawa. “Hati-hati.., nanti tersedak. Oh ya, Jin Rae, kau mau menitipkan sesuatu untuk Min Ho? Di Paris nanti Appa akan bertemu Min Ho juga. Apartemennya tidak jauh dari hotel Appa menginap nanti.”

 

“Min Ho Oppa mengirim email pada Appa?” tanyaku, sedikit cemburu karena sudah seminggu lebih ini Choi Min Ho – pacarku yang sedang kuliah S2 di Paris itu tidak mengirimiku e-mail!

 

Appa mengangguk. “Hmm.” Lalu Appa tertawa. “Hahaha.., kau cemburu ya, Jin Rae? Hahaha. Jangan marah padanya. Akhir-akhir ini dia sedang sibuk dengan disertasi-nya. Doakan saja dia segera lulus, segera pulang ke Korea lagi, dan tentunya segera menikah denganmu. Appa sudah tidak sabar ingin menimang cucu..”

 

“Appaaaaa ~~~” rajukku. “Aku masih tingkat 3.., tunggu 1 tahun lagi Appa. Aku tidak akan menikah sebelum lulus kuliah!”

 

“Hahahaha…, ya..ya..Appa tau.” Ayahku mengedipkan sebelah matanya. “Ayo ~~ cepat habiskan sarapannya. Nanti kita terlambat.”

 

*******

 

Di kelas, ujian Kimia Fisik 4 …..

 

Aku menatap ke depan, ke meja dosen. Seharusnya ayahku yang berada di sana. Tapi karena ayahku harus segera pergi ke bandara, jadi ayah meminta bantuan kakak tingkat untuk mengawasi kami ujian. Hhhh.., sebenarnya aku tidak rela ayahku pergi ke luar negeri, walau hanya 10 hari! Rumah pasti akan sepi sekali tanpa ayahku. Apakah aku harus meminta sepupuku (Jung Jin Young) datang dan menginap di rumahku? Aaah ~~ ide bagus! =)

 

Kyu Hyun Seonbaenim mengawasi kami dengan ketat. Tak sekalipun Seonbae membiarkan kami “lirik kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah!”.  Benar-benar tampang killer! Tapi tetap saja banyak anak cewek yang menatap Kyu Hyun penuh kekaguman. Seperti sahabatku, Eun Hye.

 

“Yaaa.. ~~ Eun Hye.., kerjakan ujianmu! Jangan menatap Kyu Hyun Seonbae saja!” bisikku pada Eun Hye yang duduk di samping kanan-ku.

 

Eun Hye tidak memedulikanku. Dia tetap saja menatap Kyu Hyun sambil senyum-senyum sendiri. Aku hanya geleng-geleng kepala. Hhhh.., terserahlah!

 

Bel berbunyi. Aku segera mengumpulkan kertas soal+jawaban ujianku, lalu keluar dari kelas dan menunggu Eun Hye di kantin. Kuliah selanjutnya (Kimia Organik 3) baru akan dimulai 2 jam lagi. Kami punya banyak waktu kosong. Sambil menunggu Eun Hye, aku pun memesan jus strawberry.

 

“Jin Rae!!!!!!” Eun Hye melambaikan tangannya dengan riang. Dia berlari menghampiriku, lalu segera duduk di hadapanku. Senyuman lebar masih menghiasi wajahnya yang cantik. “Aku pasti dapat nilai A!” ujar Eun Hye PD.

 

“HAH? Memangnya tadi kau menjawab soal ujiannya? Kupikir tak ada satupun yang kau jawab!”

 

Eun Hye mendelik, tapi tetap tersenyum. Sepertinya hari ini mood-nya sedang benar-benar bagus. “Aku menatap Kyu Hyun Oppa untuk mencari inspirasi. Arraseo?”

 

Aku terbahak-bahak. “Huwahahaha…, kau yakin menjawab soal ujiannya dengan benar?”

 

“Tentu … coba saja kau tes aku! Jawaban nomor 3 aku masih ingat. Huwaaaahhhh…. Taecyeon Oppa dan Nichkhun Oppa!!!!! Sepertinya mereka mau minum kopi. Seperti biasa. Hihihi…” seru Eun Hye heboh. Aku mengikuti arah pandang Eun Hye. Dua orang namja tinggi, bertubuh atletis, cool – baru saja masuk ke kantin.

 

“YAAA! Harusnya kau memanggil mereka seonsangnim! Bagaimanapun mereka kan dosen kita. Yaah., walaupun hanya asisten dosen.”

 

Nichkhun dan Taecyeon dulu adalah kakak tingkat kami yang paling populer. Mereka baru saja lulus, dan langsung menjadi asisten dosen. Katanya sih itu salah satu syarat untuk mengajukan beasiswa ke tempat yang mereka inginkan nanti.

 

“Yaaa…Jin Rae..kau sih enak sudah punya steady boyfriend. Choi Min Ho. Tampan, pintar, mapan, sedang kuliah S2 di Perancis, punya masa depan yang cerah, dan siap menikahimu nanti …”

 

“Aigoo ~~ kau membuatku malu…” aku memegang kedua pipiku yang agak chubby.

 

Eun Hye tertawa melihat pipiku yang memerah. Lalu dia kembali menatapku dengan serius. “Karena itu.. bantu aku, Jin Rae!! Aku juga ingin punya namjachingu yang bisa diandalkan. Mature relationship. Aku tidak mau main-main lagi. Aku ingin pacaran yang serius. Seperti kamu dan Min Ho –mu tercinta…hahaha…”

 

“Aish! Kau ngomong apa sih?! Itu juga karena proses. Aku dan Min Ho kan sudah bersama selama 6 tahun. Jadi wajar saja kalau sekarang kami jadi seperti ini…”

 

“Aigoo ~~ senangnya yaa ketemu jodoh dengan mudah. Bagaimana dengankuuuu??? Aku juga ingin punya steady boyfriend!!!! Jin Rae….bantu akuuuuuu….” Eun Hye menggoyang-goyang pundakku. “Kyu Hyun Oppa, Nichkhun Oppa, Taecyeon Oppa, Key Oppa.., siapa saja boleh.. ~~~”

 

“YA! Lee Eun Hye! Kalau kau ingin punya steady boyfriend, berhentilah menyukai banyak namja! Pilihlah satu namja yang benar-benar kau cintai!”

 

“Kalau aku suka semuanya bagaimana doong Jin Rae…???”

 

“Aigoo ~~ Micheosso???!!!”

 

Eun Hye hanya nyengir lebar sambil membentuk huruf V dengan tangannya.

*****

 

Keesokan harinya….

Hari ini aku hanya ada kuliah 3 SKS, dan itu pun pukul 3 sore. Huft. Masih lama sekali. Jadi, setelah sarapan, aku memutuskan untuk jalan-jalan saja di taman kompleks bersama Na Hae Rang (kucing Persia-ku yang berbulu kuning).

 

Di kompleks-ku ada sebuah taman yang sangat luas. Di dalamnya ada trek jogging, taman bunga, kolam ikan, dan tempat bermain anak-anak. Tamannya sangat teduh karena dikelilingi banyak pohon besar dan rimbun. Bila musim semi tiba, bunga-bunga bermekaran dengan cantiknya di sepanjang areal jogging.

 

Aku memeluk Hae Rang sambil membelai kepalanya dengan lembut. Aku menarik  napas panjang, menghirup aroma segar dan fresh, lalu menghembuskannya perlahan. Sambil tersenyum riang, aku pun menyusuri taman itu. “Huwaaah.., hari yang cerah yaa Hae Rang.., semoga Appa baik-baik saja di Paris. Hhhh.., aku harap aku bisa pergi ke Paris juga. Aku kangen Min Ho Oppa…” kataku pada Hae Rang. Hae Rang hanya mengeong pelan. Aku membelai punggungnya dengan penuh kasih sayang. “Oh ya, aku sudah menelepon Jin Young, dia akan datang ke rumah nanti malam.” Kataku. Lagi-lagi Hae Rang mengeong, seolah mengerti apa yang kukatakan.

 

Sayup-sayup terdengar alunan lembut gitar. “Sepertinya aku kenal nada ini…” semakin aku berjalan, semakin terdengar jelas suara gitar itu. “Aaaah..aku tahu! Ini kan instrumentalnya lagu SNSD yang berjudul Hoot! Tapi siapa yang memainkannya?” karena penasaran, aku pun mencari sumber suara itu.

 

Akhirnya aku menemukannya! Di bangku taman, di bawah pohon besar, duduk seorang namja berambut pirang gondrong yang sedang bermain gitar. Namja itu serius sekali. Tampangnya benar-benar cool, dan well…memang sangat tampan.

 

Aku terus menatapnya. Namja itu juga seperti tidak menyadari kehadiranku. Dia terus saja bermain gitar. Hmm.., namja ini professional juga. Apa dia musisi? Atau jangan-jangan dia trainee salah satu entertaiment ?

 

Namja itu mengakhiri permainan gitarnya. Aku bertepuk tangan. Dia menatapku. Omo ~~ dia benar-benar keren!

 

“Aish…aku pikir tidak akan ada yang menggangguku!!” Kata namja itu ketus.

 

“Mwo?”

 

“Hey adik kecil! Kau tidak sekolah?” tanya namja itu. Aku melihat ke kanan-kiri-belakang. Hanya ada aku dan namja itu di sana. Aku menunjuk diriku. “Iya…kau. Kau tidak sekolah? Kau bolos sekolah ya?” tanya namja pirang itu.

 

“YA! Aku sudah kuliah tau! Aku sudah tingkat 3!” seruku. Huh! Aku sebal bila ada yang menyebutku masih kecil, anak ingusan! Tubuhku memang mungil, dan wajahku baby face. Tapi aku tidak suka diremehkan karena dianggap masih kecil!

 

Namja itu membelalakkan matanya. “Mwo? Kuliah? Kau terlihat seperti anak senior high school… ani.. junior high school…” namja itu tersenyum miring.

 

Aku mendekatinya. “YA!! Lihat wajahku baik-baik! Aku sudah dewasa tahu! Dan aku sudah bertunangan! Tahun depan aku akan menikah!”

 

“Mwo???? Huwahahahaha…” namja itu terbahak-bahak. Lalu dia menatapku. Tepatnya menatap Hae Rang yang berada di pelukanku.  Senyumannya langsung lenyap, digantikan dengan ekspresi ketakutan. “Ya..Ya.. pergilah!” katanya, sambil menatap Hae Rang takut-takut.

 

“Kau takut kucing ya?” tanyaku sambil tersenyum jail. Aku berjalan semakin mendekatinya.

 

“Jangan mendekat!! Pergi!!!” dia mengibaskan tangannya. Menyuruhku segera pergi. Aku malah semakin mendekatinya, lalu duduk di sampingnya. “Namja pirang bodoh yang takut kucing! Hahahaha…”

 

“MWO?? Berani-beraninya Kau! Sana pergi!!!!!” namja itu mengibas-ngibaskan tangannya, sambil menggeser posisi duduknya, menjauhiku.

 

Aku membelai bulu Hae Rang, sambil menatap namja pirang itu. Namja itu menatapku takut-takut. “Hei..hei..apa yang mau kau lakukan?”

 

Aku mendekatkan Hae Rang pada namja itu, lalu meletakannya di atas kursi, diantara aku dan namja itu. “Hae Rang…serang namja itu!” bisikku. Hae Rang mendekati namja itu sambil mengeong. Seolah mengerti apa yang kuperintahkan.

 

“Aaaarrrrggghhhh!!!!!” namja itu menjerit, lalu segera berlari pergi dari sana.

 

“Huwahahahaha….” Aku terbahak-bahak. Bodoh! Hae Rang hanya mengeong, bahkan belum menyentuhnya sedikitpun – tapi dia sudah berlari ketakutan?!!! Hahaha.. dasar namja pirang pabo!

 

“Aaah.., pagi ini menyenangkan sekali yaa Hae Rang. Siapa sih namja pirang bodoh yang takut kucing itu? Sepertinya aku baru pertama kali ini melihatnya di taman.” Aku menggendong Hae Rang lagi. “Ayo kita pulang …., sebelum ke kampus, aku mau mampir ke toko buku dulu.”

*****

Aku melirik jam tanganku. Ya Tuhan!!! Sudah jam 3 lewat 5. Aku sudah terlambat 5 menit! Setelah memarkir mobilku, aku pun berlari secepat kilat menuju lift. Semoga dosennya belum datang. Amiin.

 

Mr.Cha Dong Hyun terkenal killer. Beliau sangat rajin, disiplin, dan ketat dalam penilaian. Kehadiran dan ketepatan waktu kuliah menjadi salah satu syarat kelulusan yang paling utama bagi Mr.Cha. Aduuuh..bagaimana ini??? Aku tidak mau kalau sampai tidak lulus mata kuliah Kimia Material!!!!!

 

Lift sampai di lantai 4. Aku segera berlari ke gedung selatan, ke ruangan 405. Akhirnya aku pun sampai! Masih dengan napas terengah-engah, aku mengetuk pintu. Dalam hati aku berdoa semoga Mr.Cha berbaik hati mengizinkanku masuk kali ini.

 

Pintu terbuka. Seorang namja tersenyum ramah padaku. Ya Tuhan!!!! Aku syok melihat siapa yang kini tengah berdiri di hadapanku! Si namja pirang bodoh yang kutemui di taman tadi pagi! Tunggu.., dia memotong rambutnya dan mengecatnya jadi hitam ya?

 

“Kau pasti Jung Jin Rae kan? Ayo masuk.., pelajaran akan segera dimulai. Aku baru saja mengabsen.” Kata namja itu.

 

Aku membelalakkan mataku. “Apakah ini kelas Kimia Material?” tanyaku.

 

Namja itu mengangguk. “Hmm. Benar. Aku dosen baru di sini. Mulai hari ini aku akan menggantikan Mr.Cha mengajar Kimia Material, karena mulai minggu depan Mr.Cha akan melanjutkan S3 ke Jerman. Kau bisa memanggilku Jo Seonsangnim. Ayo masuk…”

 

Aku masuk kelas dengan gontai. Masih syok dan tidak percaya! Bagaimana mungkin namja ini menjadi dosenku??? Dan kenapa dia pura-pura bersikap baik padaku??? Padahal jelas-jelas tadi pagi aku “mengerjainya”! Atau.., jangan-jangan dia ingin balas dendam padaku?? Aaaaarrrgggghhhhh…..bagaimana kalau dia berpura-pura baik padaku, padahal nanti di akhir dia memberiku nilai E ?!!! Tidaaaaaakkkkk!!!!!!!

 

 

Di kelas Kimia Material….

Semua anak perempuan tak henti-hentinya menatap Dosen baru, Jo Seonsangnim- dengan penuh kekaguman. Sebaliknya, aku menatap namja itu takut-takut. Haduuuh.., gawat! Aku yakin 100% dia pasti ingin balas dendam padaku karena sudah menakut-nakutinya tadi pagi!

 

Aku melirik Eun Hye. Sudah bisa dipastikan, Eun Hye tergila-gila pada dosen muda itu! Ya..ya..sangat tipe Eun Hye. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu kembali fokus ke depan, memperhatikan presentasi Jo Seonsangnim.

 

Aku harus bicara padanya…aku harus bicara…

Bel..cepatlah bunyi!!!!!

 

3 SKS terasa lama sekali. Sedikit-sedikit aku melirik jam tanganku. Waktuuuu..kumohon cepatlah berlalu…

 

Akhirnya bel berbunyi! “Yaaah…waktu cepat sekali berlalu kalau bersama Jo Seonsangnim.” Keluh Eun Hye.

 

“Sebaliknya!” tukasku. Aku cepat-cepat membereskan buku-ku.

 

“YA! Kau mau ke mana?” tanya Eun Hye.

 

“Aku ada urusan!!! Sampai besok Eun Hye!!!” Aku segera keluar dari dalam kelas dan berlari mengejar Jo Seonsangnim.

 

“Seonsangnim!!!!!” panggilku.

 

Jo Seonsangnim berhenti berjalan, lalu menatapku. “Jung Jin Rae? Ada apa?” tanyanya tenang.

 

“Ng..ng…aku ingin minta maaf. Seonsangnim akan memaafkanku kan?” tanyaku cepat.

 

Jo Seonsangnim menatapku heran. “Minta maaf? Untuk?”

 

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Ng..ng.., karena tadi pagi aku menakut-nakuti Seonsangnim dengan kucing….” kataku pelan.

 

“Mwo? Hahahaha…” tanpa kuduga Jo Seonsangnim malah tertawa. “Apakah saat itu aku terlihat benar-benar ketakutan?” tanyanya.

 

“Hah?” aku heran dengan pertanyaannya barusan.

 

Jo Seonsangnim menggeleng-gelengkan kepalanya sambil nyengir lebar. “Pantas saja wajahnya aneh begitu.” Gumam Jo Seonsangnim.

 

“Hah?” aku semakin bingung. Gosh! Namja ini memiliki kepribadian ganda atau apa sih?! Dan kenapa bicaranya “tidak nyambung” begini?!

 

“Seonsangnim mengecat rambut seonsangnim ya?” tanyaku.

 

Namja itu mengangguk. “Hmmm.” Gumamnya.

 

“Seonsangnim…jangan memberiku nilai E yaa.. pleasee…,” aku memohon padanya, dengan puppy eyes.

 

Jo Seonsangnim tertawa lagi. “Aku tidak akan memberi nilai E pada mahasiswa yang tidak pantas dapat nilai E. Jadi, berusahalah agar dapat nilai A! Hmm.., sudah sore. Sebaiknya kau pulang.”

 

“Jo Seonsangnim!!!” Panggilku. Tapi Jo Seonsangnim malah terus saja berjalan pergi. Hhhhh.., bagaimana ini?????

 

“Jin Rae!!!” Eun Hye menghampiriku. “Kenapa kau memanggil Jo Seonsangnim? YA! Kau menyukainya ya? JANGAN!!!! Kau kan sudah punya Min Ho Oppa! Biarkan Jo Seonsangnim untukku!” cerocos Eun Hye.

 

Aku mengibas-ngibaskan tanganku. Menyuruhnya diam. “Tenang saja…dia bukan tipe-ku. Ayo..aku ceritakan sambil kita pulang…”

 ******

 

Malam ini, sepupuku (Jung Jin Young) akan datang dan menginap di rumahku. Hhhh.., syukurlah. Rumah sepi sekali bila hanya ada aku, Nyonya dan Paman Han (pengurus rumah kami), dan Na Hae Rang (kucingku).

 

Pukul 7 malam, Jin Young sudah datang. Begitu sampai, aku langsung memeluk sepupu yang seumuran denganku itu. Jin Young kuliah di universitas yang sama denganku, hanya saja berbeda jurusan. Aku Kimia, sedangkan Jin Young DKV (Desain Komunikasi Visual).

 

“Bogoshippo…” kataku pada Jin Young.

 

Jin Young tertawa. “Aku juga. Aku rinduuuuuu sekali pada sepupuku yang cute ini! Hahaha. Oh iya, bagaimana kabar Paman di Paris? Aku sudah nitip oleh-oleh pada Paman.” Kata Jin Young.

 

“Kau minta oleh-oleh apa?”

 

“Gadis Paris yang cantik..” Jin Young mengedipkan sebelah matanya.

 

“Aish! Pervert!” aku memukul lengannya pelan. Jin Young hanya tertawa. “Oh ya Jin Rae, kau mau menemaniku ke rumah temanku tidak? Hari ini ada murid baru di kelasku, pindahan dari LA. Katanya rumahnya di daerah sini. Hmm..ini alamatnya.” Jin Young menunjukkan catatan di ponselnya.

 

“Hah?? Itu kan rumah yang di depan rumah ini!” seruku.

 

“Oh ya? Hahaha. Untunglah dekat sekali.”

 

“Hmmm.., rumah di depan itu sudah lama kosong. Aku baru tahu sudah ada yang menempati. Apa akunya saja yang kurang peka ya? Dia bilang kapan mulai tinggal di rumah itu?”

 

“Mmmm.., dia bilang sih.. sudah 1 minggu berada di Seoul, tapi mungkin dia baru pindah beberapa hari yang lalu ke rumah itu. Ayoo…temani aku. Aku sudah janji meminjamkan buku-ku..” Jin Young menarik tanganku. Aku mengikutinya menyebrang jalan, dan menghampiri rumah besar di sebrang rumahku.

 

Rumah itu lebih luas dan lebih mewah daripada rumahku. Cat-nya berwarna biru lembut. Mungkin karena sudah lama tidak ditempati, taman-nya jadi sedikit tidak terurus.

 

Jin Young memijit bel. Tak lama, seorang Pria setengah baya membukakan pintu pagar. “Tuan Jung Jin Young? Tuan Young Min sudah menunggu di dalam. Mari masuk, Tuan..” kata Paman itu ramah.

 

Aku dan Jin Young pun masuk ke dalam rumah. “Silakan tunggu sebentar di sini. Tuan baru selesai mandi.”

 

Jin Young mengangguk. Lalu kami pun duduk di ruang tamu. Uwaaah…, rumahnya sangat luas dan mewah! Banyak sekali perabotan yang unik dan terkesan glamor. Aku belum pernah berkunjung ke rumah ini. Pemilik rumah ini yang sebelumnya adalah seorang aktor. Aku hanya pernah masuk sampai taman rumah ini saja!

 

“Temanmu itu sepertinya kaya raya..” bisikku pada Jin Young. Jin Young mengangguk.

 

“Maaf lama..aku baru selesai mandi.” Seorang namja berkaus merah lengan pendek, celana jins, dengan rambut yang ditutupi handuk putih baru saja menuruni tangga. “Oh!! Kau!!!!” namja itu menunjukku, matanya yang besar membelalak lebar. Tampak terkejut sekali.

 

Aku tersenyum ramah padanya. “Jo Seonsangnim…, anda tinggal di sini?” tanyaku sopan.

 

“YA!!! Kenapa kau memanggilku seonsangnim??!!!” bentak namja itu.

 

“Kalian saling kenal?” Jin Young menatap aku dan namja itu bergantian.

 

Aku mengangguk. “Dia seonsangnim-ku. Dosen baru di kampusku. Mana temanmu, Jin Young? Apa temanmu itu adiknya Seonsangnim?”

 

“YA! Aku temannya Jin Young! Siapa yang dosenmu, hah?!” bentak namja itu.

 

“Aku.” Ujar suara kalem. “Annyeong, Jung Jin Rae…”

 

Aku membelalak. Jo Seonsangnim ada 2!!!!!

 

“Jo Seonsangnim????” tanyaku padanya.

 

Namja itu mengangguk. “Ne. Aku Jo Kwang Min, seonsangnim-mu. Yang ini Jo Young Min. Dia kakak kembar-ku.”

 

“Kembar????” kataku.

 

Jo Kwang Min alias dosenku itu mengangguk. “Ne. Yang kau temui tadi pagi itu pasti Young Min. Lihat…” Kwang Min membuka handuk di kepala Young Min, memperlihatkan rambut pirang gondrong Young Min.

 

“YA!!!!! Rambutku masih basah!!” tukas Young Min. “Aiissh.., kenapa aku harus bertemu lagi denganmu?!” ujar Young Min, sambil menatapku sinis.

 

“Namja pirang bodoh! Siapa juga yang mau bertemu lagi denganmu , hah?! Harusnya aku membawa Hae Rang kemari!”

 

“YAAA!! Jangan berani-berani membawa makhluk mengerikan itu lagi!!!!” pekik Young Min.

 

“Huwahahahaha….” Aku terbahak-bahak. Jo Kwang Min ikut tertawa, sementara Jin Young hanya nyengir. Sepertinya dia masih belum “ngeh” dengan apa yang kami bicarakan. Jadi, aku pun menceritakan kejadian tadi pagi padanya.

 

“Sudah…sudah..berhentilah mempermalukanku!” kata Young Min. “Ya! Kwang Min! Beri saja nilai E untuknya!”

 

“MWO????” pekikku. “Jangan dengarkan dia, seonsangnim! Aku pasti dapat nilai A!”

 

Jo Young Min menirukan caraku berkata, dengan dilebih-lebihkan.

 

“YAAA!!!!!!” tukasku.

 

“Aigoo ~~~ kupingku yang malang. Hey, kenapa suaramu begitu nyaring?! membuat telingaku sakit saja! Ayo.. Jin Young…kita ke kamarku saja. Ck..ck..ck.., malang sekali nasibmu Jin Young, memiliki tunangan seperti dia..” Young Min menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“YAAAA!!! Jin Young itu sepupuku!!!” pekikku. Huh! Ingin sekali rasanya aku menjambak rambut si pirang menyebalkan ini!

 

“Oooh.., baguslah. Aku prihatin dengan tunanganmu.” Young Min tersenyum mengejek. “Ayo..Jin Young…” Young Min pun naik tangga.

 

“Pergi saja sana!!!” pekikku pada Young Min. Young Min menjulurkan lidahnya padaku, lalu tertawa.

 

Jin Young menatapku. “Kau mau pulang? Atau menungguku di sini?”

 

“Kau di sini saja. Temani aku makan malam, sambil bercerita tentang kampus.” Ujar Jo Kwang Min.

 

“Aaahh … Ne. Seonsangnim.” Kataku.

 

Jo Kwang Min tertawa. “Hahaha. Tidak usah terlalu sopan begitu. Bagaimanapun, sebenarnya kita seumuran. Selain di kampus, kau tidak usah memanggilku Seonsangnim, Ara?”

 

“Ne… seonsang..eeh..maksudku Jo Kwang Min ssi…”

 

“Hahaha. Panggil aku Kwang Min saja. Ayo temani aku makan malam.”

 

Karena aku sudah makan malam, jadi aku hanya meminum teh. Selama makan malam, Kwang Min banyak bercerita padaku tentang dirinya dan Young Min. Berbeda dengan Young Min, Kwang Min justru suka kucing. Katanya dulu dia pernah memelihara kucing saat masih kecil, tapi itu membuat Young Min menangis tiap hari. Hahaha, dasar Young Min pabo!

 

Saat Sekolah Dasar, junior high, sampai senior high, Kwang Min selalu ikut kelas akselerasi. Sehingga wajar saja bila sekarang dia sudah lulus S2, meskipun usianya masih 19 tahun!

 

Kwang Min dan Young Min lahir di Korea. Hanya saja saat TK mereka pindah ke Los Angeles. Sekarang, setelah Kwang Min lulus S2, dan mendapat pekerjaan di Seoul, Young Min pun ikut pindah. Padahal di LA Young Min kuliah di salah satu universitas terbaik di dunia. Kwang Min bilang, Young Min itu selalu nempel padanya. Hahaha. Harusnya Young Min yang jadi adik ya! =p

 

“Nah.., sudah beres cerita tentangku. Sekarang ceritakan tentang dirimu..” ujar Kwang Min sambil tersenyum lembut. Omo ~~ sangat cool! Coba saja seandainya Young Min “baik hati” seperti Kwang Min! Hhhhh….

 

Aku pun mulai bercerita tentang diriku. Saat bercerita aku lebih banyak menceritakan tentang Choi Min Ho, namjachingu-ku.

 

“Hahaha.., sepertinya semua orang yang bernama Min Ho itu keren ya!” kata Kwang Min. Aku menatapnya tak mengerti. Kwang Min tersenyum lembut. “Mendengar ceritamu, aku yakin Min Ho-mu itu pria yang sangat baik, dewasa, mapan, dan pastinya keren.”

 

Aku nyengir mendengar Kwang Min memuji namjachingu-ku. “Memangnya kau sudah bertemu berapa banyak orang bernama Min Ho?” tanyaku. Sudah mulai akrab dengan dosen-ku ini.

 

“Mmmmm…, sepertinya 5. Lee Min Ho, dia sangat keren dan sekarang jadi aktor terkenal.”

 

“MWO??? Kau kenal Lee Min Ho???” tanyaku tak percaya.

 

Kwang Min mengangguk. “Hmmm.., kau pasti fans nya yaaa?? Hahaha.., kapan-kapan kukenalkan dia padamu…”

 

“Huwaaaahhhhh!!!!! Gomawooooo Kwang Miiiinnnn!!!!!” seruku girang.

 

“YA!! YA!! Berisik sekali sih!!!” teriak seseorang dari lantai atas. Pasti Young Min! Aku tidak memedulikannya.

 

“Lalu, 4 orang lagi?” tanyaku pada Kwang Min.

 

“Min Ho temanku saat Junior High, Min Ho temanku saat Senior High, Min Ho teman kuliahku saat S1, aku sudah lama tidak bertemu mereka. Tapi yang kuingat, dulu mereka sangat pintar. Seperti Min Ho-mu..” kata Kwang Min. Aku tersenyum. Kwang Min sangat pandai memuji orang. “Oh ya..satu Min Ho lagi.., aku tidak terlalu mengenalnya sih. Dia pacarnya sepupuku. Aku baru bertemu dengannya beberapa kali. Dia sangat tampan, pintar, sudah mapan. Hhhh…aku jadi iri.. mengapa semua orang yang bernama Min Ho itu cool?”

 

“Tenang saja.., meskipun semua orang bernama Min Ho itu cool. Tapi hanya ada 1 orang yang bernama Kwang Min yang cool. Paliiing cool sejagad raya!!!! Hehehehe…” kataku.

 

Kwang Min terbahak-bahak. “Hahahahaha…, kau pandai memuji, Jin Rae. Tapi jangan harap nilai Kimia Material-mu  akan langsung jadi A..”

 

“Aigoo ~~ Anda mirip sekali dengan Appa-ku, Seonsangnim…” Kami pun tertawa.

******

 

Keesokan harinya….

Saat di kampus, aku beberapa kali bertemu dengan Kwang Min. Aku lupa bertanya padanya, selain mengajar Kimia Material, dia mengajar mata kuliah apa lagi  ya di sini?

 

“Annyeong…” Kwang Min menyapaku sambil tersenyum manis, ketika aku dan Eun Hye masuk ke kantin. Kwang Min memegang 2 bungkus besar keripik singkong.

 

Eun Hye terpaku menatap Kwang Min. Aku tertawa, dan balas menyapanya. “Annyeong…Kwang….Eh..maksudku… Seonsangnim…” oops! Hampir saja aku memanggilnya Kwang Min!

 

Kwang Min tertawa. “Hahaha.., tidak apa-apa, Jin Rae. Kau bisa memanggilku Kwang Min kalau kau mau…”

 

“Hehehe.., jeosong hamnida, Seonsangnim…” kataku sopan. Kwang Min hanya nyengir lebar. “Sudah ya.., aku ke meeting room dulu. Sekalian mengakrabkan diri dengan dosen lain.”

 

Aku mengangguk. “Ne. Hwaiting, Seonsangnim!!!”

 

Kwang Min melemparkan senyuman sejuta watt-nya lagi sebelum melangkah pergi.

 

“Meleleh…meleleh…tolong aku Jin Rae..aku meleleh….” ujar Eun Hye.

 

Aku  nyengir. “Eun Hye.., kau membuatku malu..semua orang melihat kita! Hahahaha…”

 

Eun Hye langsung menarik tanganku. Kami duduk di bangku paling pojok. “Jin Rae.., mengapa kalian terlihat akrab sekali? Jangan bilang tadi kau flirting dengannya!!!” Eun Hye mendelik padaku.

 

Aku tertawa. Lalu menceritakan kejadian tadi malam padanya.

 

“MWO????? Kembar????? YA….YAAAA…. lebih ganteng mana…. Jo Seonsangnim atau kembarannya???”

 

“Aigoo ~~~ tentu saja Jo Seonsangnim! Kembarannya sama sekali tidak punya manner! No manner! Kepribadiannya buruk sekali! Aaaarrrrggghhhh…aku ingin menjambak rambut pirang bodohnya ituuuuu!!!!”

 

Eun Hye malah terbahak-bahak. “Hahaha… YAAAA!!! Kau lucu sekali, Jin Rae! Kau harus berhati-hati. Jangan sampai malah jatuh cinta padanya!”

 

“YA!!!! Micheosso??!!! Aku tidak mungkin suka pada si pirang bodoh yang takut kucing itu! Lagipula aku sudah punya Min Ho Oppa yang milyaran kali jauuuuuh lebih baik daripada si pirang!”

 

“Hahahaa…benar juga..kau kan sudah punya Min Ho Oppa. Hey, Jin Rae.., kalau begitu..si pirang itu untukku saja. Bagaimana? Sepertinya dia tipe bad-boy gitu ya??? Kyaaaa… aku sukaaaaa….”

 

“YA!!! LEE EUN HYE!!!! Kau ini Boy Crazy sekali hah?!”

 

Eun Hye hanya nyengir lebar. “Ne..Ne.., aku ini memang boy crazy. Kapan-kapan ajak aku main ke rumah si Jo Twins! Oke?” Rayu Eun Hye. Aku hanya geleng-geleng kepala.

*******

 

Aku berharap malam ini Jin Young menginap lagi di rumahku. Tapi katanya malam ini dia harus “menginap” di kampus untuk mempersiapkan acara besok siang. Fakultas Jin Young akan mengadakan festival seni besok siang sampai malam, dan Jin Young termasuk salah satu panitia-nya. Yaah.., apa boleh buat. Malam ini temanku mengobrol hanya Hae Rang. Aku melirik Hae Rang. Kucing persia gendut berbulu kuning pucat itu berbaring di atas tempat tidurku sambil mendengkur halus.

 

Aku hanya diam di kamarku sambil online. Berharap Min Ho Oppa mengirimiku e-mail. Tapi tak ada satupun email darinya!

 

Kekecewaanku sedikit terobati dengan email dari ayahku. Aku kangen Appa.. T_T .. padahal baru juga 3 hari ditinggal Appa, tapi rasanya seperti se-abad!

 

“Agaesshi..” pintu kamarku diketuk oleh Nyonya Han. Aku membuka pintu. “Ada apa Nyonya Han?”

 

“Ada teman Agaesshi. Saya sudah menyuruhnya masuk, tapi dia tidak mau. Dia menunggu di teras.”

 

Aku mengangguk. “Oke, aku turun sebentar lagi.” Siapa ya yang datang malam-malam begini?

 

Setelah memakai jaket (untuk menutupi baju tidur), aku pun turun ke lantai 1. Seorang cowok berambut pirang, memakai jaket berwarna merah – duduk di teras.

 

“Young Min???” kataku. Heran karena malam-malam begini dia datang kemari.

 

“YA! Lama sekali! Aku kedinginan menunggu di sini!” bentak Young Min begitu dia melihatku.

 

“Kalau begitu kenapa kau tidak masuk saja?!” aku balas membentak.

 

“No Waaay!!!! Ada makhluk mengerikan di dalam sana!”

 

Aku terbahak-bahak. Young Min menatapku sebal. “Nih! Untukmu!” Young Min menyerahkan sebuah plastik putih berisi kotak berukuran lumayan besar padaku.

 

“Apa ini?” tanyaku.

 

“Donat. Untukmu. Sebagai tetangga baru, sudah sewajarnya beramah-tamah.”

 

“Sampaikan terimakasih-ku pada Kwang Min.”

 

“Mwo? Kenapa Kwang Min?”

 

Aku menatap Young Min sambil tersenyum sinis. “Karena pasti ini bukan ide-mu. Kau mana mungkin mau memberiku donat!”

 

“Aiiissh!! Jinja!!! Aku tidak mau lagi bersikap baik padamu! Nappeun yeoja! Itu dariku tau! Aku sengaja membelinya sepulang kuliah tadi!”

 

“Benarkah?” aku menatapnya lekat-lekat.

 

Young Min mendengus. “Benar!!! Kemarin Jin Young cerita padaku, katanya ayahmu pergi ke Paris. Dia juga cerita semua tentangmu. Makanya aku tahu kau hobi makan donat. Kau tahu..? Sepupumu itu sangat perhatian padamu.”

 

Aku tersenyum. “Aku tahu. Aku sangat menyayangi Jin Young. Dia seperti kakak yang tidak kumiliki. Hmmm…, kalau begitu..mianhae..dan gomawo.” Aku tersenyum pada Young Min. Sepertinya ini pertama kalinya aku tersenyum tulus pada si pirang menyebalkan ini!

 

“Huwahahahaha….” Young Min malah terbahak-bahak. “YAAA!!! Senyumanmu sangat aneh tau! Hahahaha…”

 

Aku mendelik sebal padanya. Kupikir kali ini dia akan bersikap baik, tapi ternyata tetap saja menyebalkan!

 

“Kau mau masuk dulu?” tawarku ogah-ogahan.

 

“Tidak, terima kasih. Aku tidak mau makhluk mengerikan itu menggigit dan mencakarku!”

 

“Hahahaha…” aku tertawa melihat ekspresi wajah Young Min. “Maksudmu Hae Rang? Dia sangat baik. Dia bahkan tidak tahu caranya mencakar!”

 

“Makhluk mengerikan seperti itu tidak seharusnya kau beri nama!”

 

“Hahahaha…, tenang saja. Hae Rang sudah tidur. Ayo masuk! Kau bilang kau kedinginan. Setidaknya minum segelas teh hangat dulu. Sebagai tetangga baru kita harus bersikap ramah bukan?”

 

“Oke..oke…aku masuk.”

 

Aku nyengir lebar. Young Min mengikutiku masuk ke dalam rumah. Aku berjalan ke dapur, dan Young Min masih mengikutiku. “YA!!!! Berhenti mengikutiku! Tunggu saja sambil menonton TV!” bentakku.

 

Young Min nyengir. “Hehehe.., kalau makhluk mengerikan itu tiba-tiba mendekatiku bagaimana?”

 

“Aissshhh!! Jinja!! Ya sudah~~ ayo ikut!”

 

Aku membuat teh manis hangat untuknya. Young Min menghampiri meja kecil di samping meja makan. Di atas meja itu terdapat foto-fotoku bersama Min Ho Oppa.

 

“Jung Jin Rae!!!! Bukannya ini Choi Min Ho???” tanya Young Min. Dia mengamati foto-foto di atas meja.

 

“Min Ho Oppa? Aaah ~~ pasti Kwang Min yang menceritakannya padamu ya? Benar..itu Choi Min Ho. Dia tunanganku. Kami sudah pacaran selama 6 tahun. Sekarang dia sedang kuliah S2 di Paris. Dia seorang dokter. Bagaimana? Dia keren kan?”

 

Young Min menatapku tajam. “Sebaiknya kau putus dengannya!”

 

“MWO??? Kenapa aku harus putus dengan Min Ho Oppa???” teriakku.

 

“Dia itu bajingan! Sebaiknya kau putuskan saja dia! Lebih baik kau bersama Kwang Min saja! Atau kalau perlu aku bantu kau mencari namjachingu yang baru. Kukenalkan kau pada sahabatku, Gong Chan!”

 

“YAAA!!!” jeritku. “JUSTRU KAU YANG BAJINGAN, JO YOUNG MIN!!!!!”

 

Young Min mendekatiku sambil menatapku lekat-lekat. Dia memegang pundakku dengan kedua tangannya. “Jin Rae…percayalah padaku. Sebaiknya kau memutuskan dia sebelum kau sakit hati! Choi Min Ho-mu itu..ya…aku kenal dia. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya saat di LA, dan saat aku berkunjung ke rumah Pamanku di Paris. Dia pacarnya sepupuku juga, Hara. Aiiisshhh!! Bajingan ini!!! Aku tidak menyangka dia benar-benar brengsek! Aku harus segera menelepon Hara. Aku pergi dulu. Ingat kata-kataku, Jin Rae! Kau harus percaya padaku!” setelah mengatakan itu, Young Min pun segera berlari keluar dari rumahku.

 

“YAAA!!! YOUNG MIIIIN!!!! JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!!!! KAU MAU MENJAHILIKU, HAH?!!!” Teriakku. Tapi Young Min terus saja berlari. Aku terduduk lemas di lantai. Menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Tidak mungkin!!! Apa yang Young Min katakan barusan pasti bohong!!!  Dia pasti hanya ingin menjahiliku!” kataku meyakinkan diri sendiri. Tapi anehnya, air mataku tidak mau berhenti mengalir. “YOUNG MIIIINNNN!!!!! BILANG ITU SEMUA BOHOOONG!!! YAAAAAA!!!! YOUNG MIIIIIIIIIINNNN!!!!!”

 

~~~~~ –  TBC -~~~~~~

 

6 thoughts on “[Jo Twins FF] Chemistry

  1. Jo Twins????
    Wah udah lama banget gak baca ff yang cast’nya member Boyfriend. Di ff ini suka sama karakter Youngmin yg jutek” gimana gitu. Kl Kwangmin kya’nya jadi org ketiga yang ngalah sm Youngmin deh, atau gak malah sebaliknya,,
    Pokoknya Dae to the bak

  2. Author i love you so much moah/?==. Kenapa aku selalu suka ff author coba??
    Mungkin kita jodoh/?*jangan hiraukan. Next chap ya thor ;D

  3. hwaaaa FF dh lamaaaaa pake banget eonn
    ini FF eon yang pertama kali tag di fb ke aku loch ^o^ #jdi nostalgia🙂

    klo dulu pas di FB koment masih bingung yg jdi dosen muda siapa:/ #efek anak twins sekarang dh tau lah eonn, koment ga nyambung sama cerita😀

    pokoknya keyen dech masih muda dh jdi dosen mana kimia lagi (y),
    (y) (y)

    • Iya…..udh lama banget yaaaa….
      Tp dulu d fb pendek2 satu chapternya. Jd ada 5. Di sini ak gabung2 jd ada 3 chapter aja. Hehe. Skrg udh ga prnah maen fb lg…jd mau d pindah k sini aja sebagian… :p
      Dulu susah ngebedain mana kwangmin mana youngmin? Wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s