Malaikat Sayap Putih, Hitam, Atau Abu? (Chapter 4)

Malaikat Sayap Putih, Hitam, atau Abu? (Chapter 4)

 

Title               : Malaikat Sayap Putih, Hitam, atau Abu?

Author            : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Genre             : romance, friendship, family

Length            : Series

Main Casts     : Jung Soo Jung / Krystal f(x) , Kai / Kim Jong In (EXO), No Min Woo (Ex member Trax)

Support Casts : Shim Chang Min (TVXQ), Lee Tae Min (SHINee), Key (SHINee), Victoria f(x), Jessica (SNSD), f(x) and EXO members

Summary       : Krystal dan Kai dijuluki sebagai “Tom and Jerry” oleh netizen. Semua orang tahu bagaimana buruknya hubungan mereka berdua. Mulai dari perang di twitter, di acara musik, red carpet, reality show, dll. Banyak netizen yang menduga “permusuhan” diantara mereka berdua hanyalah akting untuk menaikkan popularitas saja. Lalu bagaimana jika suatu hari Lee Soo Man  memutuskan untuk memasangkan Kai dan Krystal dalam sebuah acara reality show… We Got Married?! Apakah hubungan mereka akan membaik atau justru semakin buruk? Bagaimana dengan masa lalu Kai dan Krystal? Apa yang membuat mereka saling benci? Dan apa yang membuat Krystal trauma menghadapi pers? Siapa malaikat sayap putih dan malaikat sayap hitam yang selalu Krystal bicarakan? Lalu kini.., muncul malaikat sayap abu-abu?

Let’s read this story. Enjoy ~~~ ^_^

Link Chapter 1 : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2012/10/14/malaikat-sayap-putih-hitam-atau-abu-chapter-1/

Link Chapter 2 : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2012/10/14/malaikat-sayap-putih-hitam-atau-abu-chapter-2/

Link Chapter 3 : https://wiantinaazmi.wordpress.com/2012/10/14/malaikat-sayap-putih-hitam-atau-abu-chapter-3/

–          Chapter 4 –

“Ini semua karenamu. Aku tidak bisa main ice skatting karenamu.”

“Aku benci katak karenamu. Aku suka makan pedas karena ulahmu dulu. Aku belajar dance karenamu. Aku masuk SM karena kau yang memaksaku!”

“Sampai kau bisa mengingat semuanya.., aku akan selalu jadi musuhmu.”

 

Kata-kata yang pernah Kai ucapkan itu terus memenuhi kepalaku. Apa maksudnya? Mengapa ia berkata seolah-olah dulu kami saling mengenal sebelum menjadi trainee SM?

Aku tidak ingat. Seberapa keras-pun aku mencoba mencari ingatan masa lalu tentang Kai, aku tetap tidak bisa menemukannya.

Aneh. Aku yakin ingatanku tidak hilang. Aku bisa mengingat beberapa kejadian saat aku masih TK, sekolah dasar, sekolah menengah, senior high school, dan sampai sekarang. Tapi ingatanku tentang Kai hanya ada ketika kami sama-sama masuk SM sebagai trainee. Bukankah aku baru mengenal Kai saat kami menjadi trainee? Lalu mengapa Kai berkata seolah kami sudah saling mengenal sejak dulu?

“Karena dengan menjadi musuhku…, kau akan membuatku lebih bahagia. Karena aku punya hal lain untuk dipikirkan.”

Kai bilang, kalimat itu adalah kalimat yang pernah kuucapkan dulu. Aku memang tidak ingat pernah mengucapkannya pada Kai, tapi anehnya saat Kai mengucapkan kalimat itu minggu lalu, aku merasa tidak asing mendengarnya.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Mungkin Kai hanya sedang mengerjaiku. Pasti ada sesuatu yang ia rencanakan untuk mempermalukanku!

Aku duduk di coffee shop SM. Aku memilih tempat di pojok, jauh dari orang lain. Tempat ini sepi. Ya, sekarang kan memang sedang jam kerja, tapi aku tidak punya jadwal pagi ini, jadi aku kemari sebelum latihan dance nanti sore.

Beberapa orang trainee terlihat malu-malu menatapku. Mereka membungkukkan badan dan mengambil posisi duduk jauh dariku. Aku hanya tersenyum tipis. Pasti aura-ku sekarang terlihat “menakutkan”. “Dingin” sih sudah biasa. Aku sudah terbiasa mendapat julukan sombong, jutek, ice princess. Aku tidak peduli. Selama orang-orang terdekatku menyayangiku, aku tidak peduli dengan anggapan orang lain.

Aku menghela nafas panjang. Dulu, coffee shop SM ini adalah tempat yang paling aman bagiku untuk berkencan bersama Min Woo Oppa. Orang-orang yang mengunjungi café ini memang hanya orang-orang SM (trainee, artis, staff, managemet).

Aku tersenyum mengingat betapa sulitnya bagi kami untuk berkencan. Sebenarnya sajangnim memperbolehkan para anak didiknya berkencan, tapi sesama artis SM dan asal tidak menimbulkan skandal. Sayang sekali dulu aku masih terlalu muda untuk berkencan dengan Min Woo Oppa.

Hhhh, mengapa dulu orang-orang mempermasalahkan umurku yang masih muda? Ya, aku dan Min Woo Oppa memang terpaut usia 8 tahun. Mungkin kalau dulu aku tidak jatuh cinta padanya, Min Woo Oppa masih akan tetap ada di sini. Seharusnya aku jatuh cinta padanya sekarang, bukan dulu.

Bila aku jatuh cinta padanya sekarang, mungkin orang-orang tidak akan mempermasalahkan hubungan kami. Haters pasti ada. Tapi setidaknya mereka tidak akan mengecam dan memaki MinWoo Oppa karena mengencani gadis di bawah umur.

Kalau sekarang kami bersama, pasti tidak masalah. Hyeri Girls Day saja berkencan dengan Tony sunbaenim yang usia-nya 14 tahun lebih tua, tapi netizen tidak mempermasalahkannya. Apalagi aku dan MinWoo Oppa yang sekarang hanya terpaut usia 8 tahun. Memang tidak masalah, tapi itu berlaku hanya seandainya dulu tidak ada “history” diantara kami berdua.

Terlalu berisiko sekarang bila netizen mengetahui hubungan kami. Mereka pasti akan mengorek kehidupanku di masa lalu. Mereka akan mencari tahu segala hal tentang Min Woo Oppa di masa lalu. Bagaimana bila mereka berhasil menemukan fakta bahwa aku-lah si gadis stunt bagi MinWoo Oppa di masa lalu? Bagaimana kalau mereka berhasil menemukan fakta bahwa apa yang dikatakan MinWoo Oppa 5 tahun lalu semuanya bohong?!

Aku tidak mau mencemarkan nama baik Min Woo Oppa. Sekarang Min Woo Oppa memang masih bergelut di bidang musik, tapi ia lebih fokus pada film dan drama. Aku tidak ingin menghancurkan karir Oppa lagi.

“Apakah dua orang yang saling mencintai harus memberitahu kepada seluruh dunia sebesar apa cinta mereka berdua? Apakah seluruh dunia harus tahu? Tidak, Soo Jung. Hanya kedua orang itu yang merasakan. Itu sudah cukup.”

Lagi-lagi aku mengingat percakapanku dengan Kai minggu lalu. Hhhh, Kai memang benar. Kenapa akhir-akhir ini Kai selalu benar?! Dan kenapa dia menjadi “agak” baik?! Aku lebih suka ia bersikap menyebalkan daripada baik.

Aku menyandarkan punggungku di kursi. Haaaah, aku bosan! Twitter dan semua akun sosial-ku sudah kuhapus karena permintaan manager. Aku tidak bisa spamming di media sosial lagi.

Victoria eonni sedang ada pemotretan iklan bersama Nichkhun Oppa. Sulli syuting drama. Amber eonni dan Luna eonni sedang kuliah. Kenapa aku tidak punya jadwal kuliah di saat tidak ada pekerjaan?!

Aku meraih ponsel-ku dan menelepon Tae Min. Aku lupa memberitahunya sesuatu hal yang penting untuk lusa. Pikiranku dipenuhi banyak hal. Aku jadi tidak fokus!

“Soo Jung~ah!” sapa Tae Min riang. Nafasnya sedikit terengah-engah. Dia pasti sedang latihan dance.

“Kau di mana? Studio? Aku ke sana ya. Mwo? Sudah selesai? Aku di kedai kopi SM. Oke, aku tunggu.” Aku pun memutuskan sambungan. Oke, aku akan tunggu Tae Min di sini.

Aku lupa memberi tahu Tae Min bahwa lusa saat aku syuting WGM, aku tidak akan syuting bersama Kai, tapi aku harus memilih salah satu temanku untuk diajak syuting. Aku harus membeli hadiah untuk Kai, dan Kai juga harus membeli hadiah untukku. Karena itulah kami syuting secara terpisah.

PD-nim menamai hadiah kami ini sebagai “Awal-Mula-Persahabatan”. Hah! Yang benar saja! Aku? Bersahabat dengan Kai? Jangan harap!

Tapi ini adalah permintaan PD-nim dan kru WGM, jadi meskipun aku tidak suka membelikan Kai hadiah, aku harus tetap membelikannya. Dan teman yang akan kuajak untuk syuting WGM besok adalah Lee Tae Min. Tidak ada yang lebih baik daripada Tae Min. Sejak pertama kali menjadi trainee SM, Tae Min lah teman terbaikku.

******

Dua hari kemudian, saat syuting WGM…..

Kru WGM merekam sedikit kegiatanku bersama f(x) di SME. Tae Min dan SHINee juga ikut muncul sekilas. Sebelum aku dan Tae Min membeli hadiah untuk Kai, kami makan siang bersama dulu. Seperti biasa, Tae Min selalu membawa bekal makan siang. Sejak dulu, dengan senang hati aku memakan bekal-nya. Hehehe.

Para kru tetap merekam kami. Padahal aku sudah mengatakan pada PD-nim agar tidak merekam, tapi PD-nim berkata bahwa ia menyukai sikap alami-ku. Ia juga berpendapat Tae Min akan meningkatkan rating WGM. Yah, terserah saja lah. Aku dan Tae Min mencoba mengabaikan keberadaan para kru WGM selama kami makan. Kami tetap mengobrol seperti biasa, tapi aku lebih berhati-hati agar jangan sampai keceplosan berbicara tentang Min Woo Oppa.

Setelah selesai makan, aku dan Tae Min bersiap-siap pergi ke Hongdae untuk berbelanja sekaligus membelikan Kai hadiah. Tanpa kuduga, kami berpapasan dengan Kai di lantai bawah. Kai membungkuk hormat pada PD-nim dan para kru WGM. Ia sudah menyelesaikan syuting membeli kado kemarin.

Kai tidak sadar bahwa kameramen sedang merekam kami. Ia menatapku dengan dingin seperti biasa. “Jangan membelikan kado yang aneh-aneh.” Katanya dengan nada memperingatkan.

Aku mendengus. “Memangnya kau membelikanku hadiah yang bagus?”

“Tidak bagus, tapi yang penting tidak aneh.”

“Sesuatu yang aneh justru bagus.” Kataku. “Unik. Langka. Justru bagus kan? Yah, tapi kalau kau ingin sesuatu yang biasa, aku membelikanmu sesuatu yang biasa.” Aku mengangkat bahu.

Tae Min menatap Kai sambil tersenyum. “Kai,jangan-jangan kau membelikan Soo Jung cincin?!”

“MWO??? Hahahaha. Hyung, aku tidak gila. Mana mungkin aku memberinya cincin.” Kai menyeringai padaku. “Sudah ya, sampai nanti.” Kai mengangkat sebelah tangannya padaku tanpa senyum, tapi ia tersenyum pada Tae Min dan memeluknya sekilas. Kai juga membungkukkan badan sopan pada para kru WGM sebelum ia berjalan pergi.

Yah, memangnya aku mengharapkan apa dari seorang Kim Jong In?! Ia pamitan padaku  dengan berkata “Sudah ya, sampai nanti” saja sudah merupakan hal yang ajaib!

Selain mencari hadian untuk Kai, aku dan Tae Min memang ingin sekalian belanja. Kami berdua kan sama-sama hobi belanja. Selalu menyenangkan berbelanja bersama Tae Min.

Aku masih belum bisa melupakan semua kalimat Kai. Biasanya aku bukan tipe orang yang memikirkan apa yang orang katakan padaku, tapi kalimat Kai minggu lalu entah kenapa terus saja menempel di otak-ku.

Aku memang ingat Kai pernah membantuku 1 kali. Ia berbohong pada pelatih dance kami dengan berkata aku ada acara keluarga mendadak, padahal saat itu aku pergi ke apartemen Min Woo Oppa. Saat itu Kai tidak tahu alasan aku membolos latihan dance. Ia tidak bertanya, jadi aku juga tidak menjelaskan. Itulah satu-satunya kenangan “baik” tentang Kai. Itu pun terjadi saat kami menjadi trainee.

Jadi, mengapa Kai bisa tahu tentang Min Woo Oppa, ataupun seolah Kai sudah mengenalku sejak kecil masih belum terjawab. Aku masih belum mengingatnya.

Tae Min mengusulkan berbagai hadiah untuk Kai. Tae Min dan Kai berteman baik sejak menjadi trainee, tapi tidak sebaik pertemananku dengan Tae Min. Jadi Tae Min cukup tahu banyak kesukaan Kai.

Tae Min mengusulkan agar aku membelikan Kai topi. Kai sangat suka memakai topi. Tapi aku merasa hadiah itu tidak cocok untuknya.

Satu jam telah berlalu, tapi aku masih belum menemukan hadiah yang cocok untuk Kai. Malah Tae Min yang berbelanja banyak pakaian dan aksesoris. Aku sendiri sudah membeli syal yang cantik untukku dan untuk Jessica. Tapi untuk Kai, aku harus memberinya apa?

Kemudian, mataku tiba-tiba saja tertuju pada sebuah boneka. Aku meraih boneka Tiger dari karakter di film Winnie The Pooh. Entah kenapa perasaanku yakin bahwa Kai akan menyukai boneka ini.

“Boneka? Huwahahahaha…hahahaha..hahaha…” Tae Min terbahak-bahak. “Soo Jung~ah, kenapa kau memberikan Kai boneka? Memangnya dia anak TK?! Hahahaha…”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi sepertinya dia akan suka.”

Tae Min tersenyum penuh arti. “Kau mau membuatnya kesal ya? Dia kan sudah bilang tidak mau hadiah yang aneh-aneh. Dia pasti akan marah-marah padamu. Hahahaha.”

“Biar saja. Yang penting aku merasa boneka ini cocok untuknya. Dia mirip…” kata-kataku terhenti. Kenapa? Kenapa aku merasa Kai mirip dengan boneka ini?

Aku membalik-balik boneka tiger itu dan melihatnya dari berbagai sudut. Apanya dari boneka ini yang mirip dengan Kai?! Kenapa aku merasa yakin boneka ini mirip Kai?!

Ah, sudahlah. Yang penting aku sudah punya hadiah untuknya. Aku ingin syuting ini segera berakhir. Aku bosan diikuti kru WGM ke mana-mana!

Akhirnya, kru WGM pulang. Aku dan Tae Min memutuskan untuk makan pancake di café favorit kami. Kami juga berencana untuk menonton di bioskop malam ini mumpung kami tidak ada jadwal malam. Kami berdua sudah biasa nonton di bioskop dengan menyamar. Biasanya kami memakai wig ikal dan kacamata baca. Sejauh ini tidak pernah ada yang mencurigai kami. Aku kan ahli menyamar. Hahaha.

“Lain kali kita harus belanja lagi, Taeminnie.” Kataku sambil memakan pancake strawberry.

“Kau tidak puas hari ini?”

Aku mendengus. “Tentu saja! Bagaimana aku bisa belanja dengan puas sesuka hati jika ada kamera mengikutiku ke mana-mana.”

“Hahaha. Arrasseo. Oh, kenapa Eomma menelepon?” Tae Min pun mengangkat ponselnya. Wajahnya terlihat murung. “Ne, arrasseo, eomma.”

“Kenapa?” tanyaku khawatir.

“Soo Jung~ah, mianhae.., aku tidak bisa nonton denganmu malam ini. Eomma menyuruhku pulang. Bibi-ku yang dari Jepang datang. Kau mau ikut ke rumahku, Soo Jung?”

Aku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, terima kasih. Aku tidak mau mengganggu acara keluarga.”

“Kau sudah kuanggap keluarga.”

“Tapi bibimu tidak.”

“Bibi-ku baik…”

“Hahahaha. Tae Min~ah, kau sisakan saja oleh-oleh dari bibimu untukku.”

Tae Min tertawa. “Hahahaha. Arrasseo. Mianhae…”

“Gwenchana. Kita bisa nonton kapan-kapan.” Aku tersenyum dan melanjutkan makan.

Aku membiarkan Tae Min pergi ke rumah orangtua-nya, sementara aku masih diam di café dan memesan bubble tea. Sudah pukul 6 sore, langit sudah berubah jingga dan sebentar lagi gelap.

Setelah menghabiskan bubble tea dan membayar, aku pun keluar dari café. Aku belum ingin pulang ke dorm f(x). Sebenarnya aku masih ingin jalan-jalan, tapi jalan-jalan sendiri tidak terlalu menyenangkan.

Aku merapatkan jaket dan membuat topi-ku menutupi wajah. Aku sedang tidak ingin bertemu fans apalagi antifans. Aku berjalan di sepanjang jalan yang cukup sepi. Aku ingat, di dekat perumahan ini ada taman bermain yang sering kudatangi bersama Jessica saat aku baru pertama kali tiba di Korea.

Aku menghirup udara Seoul dalam-dalam. Aku sangat senang bisa tinggal di Seoul. Aku memiliki banyak teman di sini. Sepertinya saat di California, aku tidak memiliki banyak teman. Orang bilang…, kita hanya akan mengingat kenangan paling manis dan paling buruk dalam hidup kita kan?Tapi aku tidak mengingat kenangan paling buruk di masa kecilku. Kenangan paling buruk yang kuingat adalah tentang skandal aku dan Min Woo Oppa.

Aku tinggal di California sampai usia-ku 10 tahun. Satu-satunya teman yang kuingat adalah Emma Pettyfer, teman sekelasku yang sangat pintar. Kalau dipikir-pikir lagi, ingatanku saat berusia 1-10 tahun memang tidak jelas. Wajar bila kita tidak mengingat kejadian saat bayi sampai berusia 5 tahun. Tapi seharusnya ada beberapa yang kita ingat sejak berusia 6 tahun kan? Tapi aku hanya ingat sedikit. Yah, mungkin saja kehidupanku di California dulu biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang terlalu membahagiakan, dan tidak ada hal yang terlalu menyedihkan untuk diingat.

Aku berbelok di dekat toko buku, taman bermain tidak jauh lagi dari toko buku ini. Tinggal beberapa langkah lagi dan aku akan sampai. Apakah aku masih bisa naik ayunan-nya ya?

Sayup-sayup aku mendengar suara tangis seorang anak perempuan. Langkahku terhenti. Tak jauh dari taman bermain, seorang anak perempuan terduduk di tanah dengan rambut yang kotor dan berantakan. Anak itu dikelilingi oleh 6 orang anak perempuan yang sebaya dengannya.

Aku hanya bisa mematung melihat pem-bully-an itu. Anak-anak perempuan itu menampar pipi, menjambak rambut, menendang kaki si anak perempuan malang.

Tiba-tiba saja mataku memanas. Aku bisa melihat sebuah kejadian lewat mereka. Sekarang aku ingat. Aku ingat mengapa aku tidak memiliki kenangan jelas saat di California dulu.

Aku terduduk di jalanan dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Kepalaku terasa sangat sakit. Mungkin saat kecil dulu aku ingin melupakan kejadian itu, maka aku pun menutup pikiranku. Maka aku hanya mengingat apa yang ingin kuingat.

*Flashback*

Aku berjalan ke sekolah dengan gontai. Aku benci sekolah. Aku benci anak-anak di sekolah ini. Aku benci hidupku!

Sejak masuk sekolah dasar ini, hidupku tidak pernah tenang. Semua orang membenciku. Semua orang memperlakukanku seolah aku bukanlah manusia.

Aku tahu, aku memang bukan orang yang menyenangkan. Tapi aku tidak pernah mengganggu orang lain.

“Hey bitch!” seorang anak perempuan tinggi mendorongku sampai terjatuh. Aku mengelus-elus pantantku dan menatap anak itu dengan tajam.

Beberapa saat kemudian teman-teman anak itu datang mengerubungiku. Aku mendengus. Lagi-lagi hal ini terulang. Aku selalu jadi sasaran pem-bully-an semua anak perempuan populer di sekolah ini.  Banyak sekali alasan mereka membully-ku. Aku yang katanya sok cantik, sok pintar, sok populer, sampai katanya aku membuat semua anak laki-laki di sini menyukaiku sehingga anak-anak perempuan populer membenciku.

Kupikir kejadian ini hanya terjadi di film, tapi di dunia nyata….hal ini jutaan kali lebih menyakitkan daripada menontonnya di film.

Buku-buku pelajaran basah? Seragam disobek? Itu sudah terlalu biasa. Aku bisa tahan menghadapi ocehan dan keisengan menyebalkan mereka. Tapi aku tidak tahan bila sudah bermain fisik. Tanganku pernah patah gara-gara anak-anak perempuan populer yang menyebalkan menginjak tanganku. Tentu saja tidak ada yang percaya ceritaku. Di dunia ini berlaku hukum tak tertulis yang menyebutkan bahwa orang yang hidup enak adalah orang yang pandai mengambil hati.

Anak-anak populer sangat dekat dengan kepala sekolah. Jadi, tentu saja tidak ada yang percaya dengan ceritaku. Mereka percaya aku terjatuh dari tangga dan menindih tanganku. Bahkan orangtua-ku pun tidak percaya.

Mulai saat itulah, hidupku benar-benar terasa seperti berada di neraka. Setiap hari aku pergi ke sekolah seperti mayat hidup. Sikapku juga jadi berubah 180 derajat. Anak-anak menyebalkan semakin gencar membully-ku dan bermain kasar dengan melibatkan luka fisik.

Bahkan anak laki-laki pun jadi ikut-ikutan memusuhiku karena ulah anak-anak perempuan yang membully-ku. Rasanya saat itu  hidupku sudah tidak berarti lagi.

Sampai umurku 8 tahun, itu berarti sudah 2 tahun aku di bully, aku tidak pernah merasa menyukai apapun selain dance. Hanya dance yang bisa membuatku tetap “waras”. Aku sangat menyukai dance. Setiap kali aku ingin mengakhiri hidup, aku selalu ingat dance dan impianku untuk menjadi dancer yang hebat.

Suatu hari, datang murid pindahan dari Jepang. Anak laki-laki pindahan dari Jepang itu sebenarnya orang Korea yang sudah lama tinggal di Jepang. Anak itu sangat populer. Dia pintar olahraga dan pintar dalam hal pelajaran juga. Satu hal yang tidak pernah kuduga adalah …., anak itu menolongku! Dia selalu menolongku setiap kali anak-anak membully-ku. Dia kesatria-ku. Malaikat pelindungku.

Semua orang jadi membencinya karena dia menolongku. Tapi anak itu tidak peduli. Dia satu-satunya sahabat yang kumiliki.

Anak itu jago berkelahi. Mulai saat itulah, tidak ada yang berani membully-ku lagi. Anak itu selalu nempel padaku. Semua orang memang membencinya, tapi sekaligus takut padanya.

Kehidupanku berubah. Aku bersyukur karena Tuhan mengirimkan anak itu sebagai malaikat penolongku. Setiap hari terasa menyenangkan. Dan satu hal yang membuatku sangat bahagia adalah ternyata anak itu juga sangat menyukai dance! Meskipun ia tidak terlalu pandai dance, tapi ia menyukai dance dan mulai belajar dance bersamaku. Kami bahkan ikut kelas dance.

Aku memberitahunya untuk masuk ke SM Entertainment di Korea. Aku mengajaknya pindah ke Korea setelah lulus nanti.

Mimpiku mulai tersusun sejak aku bertemu dengan anak itu. Orangtuaku senang dengan perubahan sikapku. Tentu saja aku masih dingin pada orang lain, tapi pada anak itu dan keluarga kami, sikapku berubah manis dan menyenangkan.

Mungkin aku sudah ketergantungan pada anak itu. Aku tidak bisa lepas darinya sedetik-pun! Dia sangat mengerti aku, menjagaku, membuatku percaya hidup ini layak untuk diperjuangkan dan dijalani.

Mungkin karena merasa sudah ketergantungan itulah makanya aku merasa sangat terpukul ketika ia pergi. Tepat satu tahun persahabatan kami, anak itu pindah ke Mexico karena ikut ayahnya yang pindah kerja ke sana.

Aku bisa mengerti alasan ia pindah, tapi caranya tidak bisa kumengerti. Ia menghilang begitu saja. Ia tidak mengatakan apapun. Aku pun tahu ia pindah dari guru kami. Hari itu aku tidak tahu mengapa ia tidak masuk sekolah, kemudian guru kami memberi tahu kami.

Setiap hari di bully memang menyakitkan, tapi kehilangan sahabat jauh lebih menyakitkan. Apalagi jika orang yang kau anggap sahabat ternyata tidak menganggapmu sahabat.

Anak itu pasti menganggap aku tidak berarti apa-apa baginya. Ia pergi begitu saja, tanpa sepatah kata-pun!

Kalimat terakhir yang ia ucapkan sehari sebelum ia menghilang adalah : “Soo Jung~ah, lihat saja 5 atau 10 tahun lagi aku pasti akan jauh lebih tinggi darimu. Aku selalu melompat setiap hari, seperti Tiger di film Winnie The Pooh.”

 

*End of Flashback*

Aku meraba pipiku yang basah karena air mata. Sekarang aku ingat semuanya. Itulah alasan mengapa aku melupakan masa laluku. Itulah alasan mengapa aku hanya mengingat Emma sebagai temanku, karena setelah anak laki-laki itu menghilang, hanya Emma-lah yang baik padaku. Semua anak memang berhenti mem-bully-ku, tapi sepertinya saat itu otak-ku lebih memilih melupakan semuanya karena rasanya terlalu menyakitkan untuk mengingat.

“Soo Jung~ah, kau kenapa?” tanya sebuah suara berat. Kai.

Kai berjongkok dan menatapku dengan cemas. “Kau sakit? Kenapa kau menangis?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Kai. Mataku masih tertuju pada anak perempuan di taman yang sedang menangis. Para pembully sudah pergi. Kai ikut menatap anak perempuan itu. Pandangan matanya mengeras.

Aku beralih menatap Kai, lalu tersenyum tipis. “Karena dengan menjadi musuhku…, kau akan membuatku lebih bahagia. Karena aku punya hal lain untuk dipikirkan.” Kataku tiba-tiba. Sekarang aku ingat, itulah kalimat yang kutulis di diary-ku saat Kai menghilang. Tapi kenapa ia bisa tahu? Diary itu sudah kubuang. Ingatanku juga sudah kubuang. Dan sekarang ingatan itu tiba-tiba kembali.

Kai menatapku tajam. Keningnya berkerut. “Kau ingat?” tanyanya dengan suara husky-nya yang khas. Nadanya penuh harap, tapi sekaligus terdengar takut.

Aku balas menatap Kai dalam-dalam. “Kai, kau bilang…, sampai aku mengingat semuanya…kau akan tetap menjadi musuhku. Bagaimana bila justru saat aku ingat, kau adalah musuhku yang sebenarnya?”

“Mwo?”

Aku menyeringai. “Kau bodoh Kai. Seharusnya kau jangan memancing ingatanku itu. Kau tahu siapa orang yang paling kubenci di dunia ini? Orang itu adalah sahabatku yang pergi meninggalkanku begitu saja, seolah-olah aku tidak berarti baginya. Orang itu adalah orang yang membuatku menghapus sendiri ingatan menyedihkan masa kecilku, sehingga ingatan menyenangkan-ku pun ikut terhapus. Orang itu adalah orang yang selalu membuatku kesal ketika kami bertemu lagi di Korea.” Aku berhenti sejenak, menarik nafas, lalu menatap Kai tajam. “Orang itu adalah kau, Tuan Tiger.”

Mata Kai membelalak lebar. Ia hanya bisa menatapku terus tanpa mengatakan apapun.

Aku menyeringai. “Sekarang kau benar-benar resmi menjadi musuhku, Kai. Selamat!” Aku bangki berdiri, lalu segera berlari pergi meninggalkan Kai.

“Soo Jung~ah! Jung Soo Jung!!!!” Kai mengejarku.

Aku segera naik ke dalam taksi, meninggalkan Kai yang masih terus berlari mengejarku.

Aku menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. Mataku menatap kosong ke jalanan Seoul yang padat.

“Akhirnya kita bertemu lagi, Kai.”

–          TBC –

Annyeong..^^

Maaf yaaaaa posting part ini lamaaaaa banget se-abad. T_T

Jujur aja aku nggak ada ide buat lanjutin cerita ini. Tapi berkat dukungan kalian semua, akhirnya aku bisa lanjutin juga.

Maaf kalau ceritanya jadi aneh dan mengecewakan kalian. Tapi inilah yang ada di otak-ku tentang cerita ini.

Semoga aku nggak mengalami lagi “stuck ide” tentang alur cerita ini.

Sekali lagi gomawo dan mianhae…. *bow*

Oh ya, adakah yang mau bikinin poster buat FF ini, hehehe?

Pengen ada sayap-sayap nya, atau helaian bulu sayap gitu warna putih, hitam, dan abu. =)

12 thoughts on “Malaikat Sayap Putih, Hitam, Atau Abu? (Chapter 4)

  1. Eon maaf baru bisa komentar di chap.4..
    Soalnya baru hari ini baca 1-4..
    Ceritannya daebak ~
    Ak suka sama alur ceritanya…
    Ditunggu kelanjutannya eon…
    ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ Hwaiting

  2. Huaaaaaa, keren eon ffnya^^
    Lanjut ya eon, lanjuuuttt TvT tpi lnjutnya jngn setahun lgi ya eon ㅠㅠ hehe😀
    Daebakk deh ffnya, lnjut eon’-‘ waitiiing~

  3. Maaf eonn baru coment padahal udh lama bacanya.
    Seneng ff ini dilanjutin lagi, pertama kali tau wp eonni gara” ff ini. Trus gimana tu kok krystal jadi benci beneran?
    Pokoknya endingnya hrus jadian kaistalnya. Next chapter jangan lama” ya?🙂

  4. Ya ampun kaistal gue jangan berantem lagi. Thor sumpah demi baekhyun ff mu keeren sekali, sampe nangis bacanya. Lanjutannya jangan lama lama thor, bakalan nungguin sampe ending. Titik gak pake koma hahahaha

  5. annyeong, ya ampun aku sampe jamuran nunggu ff ini. i ff yang paling aku tunggu tunggu, tapi masih bingung sama alur ceritanya, next jangan lama lama ya thor, ah pokoknya ff ini daebak keren!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s