Moonlight Destiny (Chapter 9)

Title                 : Moonlight Destiny

Author           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina) & Kunang Anna (@helloimnia)

Main Cast       : Park Chan Rin (OC), Han Hee / Honey Lau (OC), Oh Se Hun (EXO-K), Kim Jong In / Kai (EXO-K), Jung Dae Hyun (B.A.P), Yoo Young Jae (B.A.P)

Support Cast  : Park Chan Yeol (EXO-K), Henry Lau (Suju-M), Lee Taemin (SHINee), Kim Myung Soo / L (Infinite), Luhan (EXO-M), Wu Zun.  The other EXO, B.A.P, and Infinite members

Length            : sequel

Genre              : Fantasy, family, romance, life, friendship, mystery

Rating                         : PG+15

Summary        : Bagaimana bila berbagai makhluk yang kau kira hanya ada di negeri dongeng, kini benar-benar nyata? Guardian angel, devil, werewolf, spirit, dan vampire. Kau tidak pernah menyadari dirimu berbeda dan special, hingga kau bertemu mereka. Lalu apa yang akan terjadi saat kau mengetahui berbagai rahasia gelap yang seharusnya tidak kau ketahui?

                       382486_343825359080588_89188603_n

Masa depan bisa berubah sesuai pilihan yang kita ambil. Tapi, apakah takdir bisa berubah?

Inilah kisah kita. Takdir kita.

 

 

9th Destiny – By : Azumi Aozora

 

======== Author PoV =========

Wu Zun yang sebelumnya sudah menyadari kehadiran Dae Hyun, seketika itu juga dengan kekuatan teleportasinya menghilang—pergi tanpa jejak. Meninggalkan tubuh Han Hee yang sudah  beku dan kekurangan oksigen tergeletak begitu saja di aspal yang panas.

“HAN HEE!!!” sekuat tenaga Daehyun berlari ke arah gadis itu, dan langsung memeluk tubuh Han Hee yang beku sambil memanggil-manggil namanya. Tangan namja itu pun meraba denyut nadi Han Hee yang dia rasakan begitu lemah, lalu beralih ke hidung Han Hee. Matanya melebar ketika menyadari gadis itu tidak bernafas.

“PABO!! JANGAN MATI!!!” Dengan agak tergesa, Daehyun mengambil tas Han Hee yang tergeletak di tanah dan menjadikannya alas untuk kepala Han Hee, sedangkan dia sendiri berusaha melakukan CPR, dan tanpa ragu memberikan nafas buatan.

“HAN HEE!! SADARLAH!!! HONEY LAU!!!”

Dae Hyun terus saja melakukan CPR, tapi sia-sia saja. Han Hee sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan!

Tanpa Dae Hyun sadari, air mata mengalir ke pipinya. Entah karena perasaan bersalah gara-gara tidak datang tepat waktu, padahal sudah agak lama Dae Hyun mencurigai Wu Zun karena sikapnya yang aneh. Ataukah karena Dae Hyun takut Han Hee benar-benar mati. Takut kehilangan seseorang yang sering sekali membuatnya sebal dan kesal. Atau kenapa? Dae Hyun sendiri juga tidak tahu.

Satu hal yang pasti, saat ini Dae Hyun ingin Han Hee sadar. Ia ingin Han Hee hidup.

“Minggir!” kata suara seorang pria.

“Young Jae …” baru kali ini Dae Hyun melihat tatapan Young Jae yang terlihat gelap dan mengerikan. Seolah-olah ada seseorang yang telah merampas semua hal paling berharga darinya.

Dae Hyun bergeser sedikit. Young Jae berjongkok di samping Han Hee. Dae Hyun bisa melihat sorot kecemasan dari mata Young Jae. Ya, Dae Hyun tahu, Young Jae mencintai gadis ini. Gadis ini lah yang dulu pernah Young Jae ceritakan padanya.

Young Jae menyentuh kening Han Hee. Perlahan tangannya mengeluarkan seberkas cahaya putih lembut. Tangan Young Jae beralih ke kedua pipi Han Hee. Cahaya putih masih terpancar dari kedua tangannya, seolah itu adalah aura energi yang Young Jae salurkan untuk Han Hee.

Mata Dae Hyun membelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Bagaimana mungkin Young Jae memiliki kekuatan seperti itu?! Itu kan salah satu kekuatan kaum angel!

Perlahan rona wajah Han Hee berubah. Denyut jantung-nya mulai terdengar normal lagi. Nafas-nya pun kembali teratur. Young Jae menghembuskan nafas lega, dan tanpa mengatakan apapun, Young Jae menggendong Han Hee dan segera pergi meninggalkan Dae Hyun.

Dae Hyun yang tersadar dari lamunannya segera mengikuti Young Jae yang membawa Han Hee yang masih tertidur ke dorm B.A.P.

Untung saja di dorm tidak ada siapa-siapa. Kalau ada, pasti semua ribut ingin tahu mengapa Young Jae menggendong Han Hee, terutama si maknae Zelo dan Himchan yang senang bergossip.

Young Jae membaringkan Han Hee di tempat tidurnya. “Sebentar lagi ia akan bangun.” Kata Young Jae. “Aku akan membuatkannya bubur.” Young Jae pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

Dae Hyun berjalan mengikuti Young Jae. “Young Jae~ah!” panggilnya. Tapi Young Jae terus saja berjalan ke dapur tanpa memedulikan Dae Hyun.

“Yoo Young Jae!” Dae Hyun mencengkram lengan Young Jae dengan keras. Young Jae menatap Dae Hyun dengan tajam.

“Kenapa kau bisa memiliki kekuatan healing kaum angel?” tanya Dae Hyun. Young Jae hanya menyeringai, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Dae Hyun.

“Young Jae~ah! Siapa kau sebenarnya?” Dae Hyun memicingkan matanya dan menatap Young Jae lekat-lekat.

Tanpa Dae Hyun duga, Young Jae mencengkram kedua bahu Dae Hyun dengan erat dan mendorong Dae Hyun sampai punggungnya menyentuh tembok. “Jung Dae Hyun, sebaiknya kau tidak perlu ikut campur urusanku.” Gertak Young Jae pelan. Kedua tangannya masih memegang bahu Dae Hyun.

“Young Jae….”

“Oppa!!!!” tiba-tiba saja terdengar suara Han Hee. Han Hee ternyata bangun lebih cepat dari perkiraan Young Jae dan sudah berdiri tak jauh dari Young Jae dan Dae Hyun, matanya membelalak kaget melihat kedua namja yang terlihat sedang bertengkar itu.

“Oh, Honey…” Young Jae pun melepaskan cengkramannya dari bahu Dae Hyun. “Kau baik-baik saja?” raut wajah Young Jae langsung berubah lembut begitu ia menghampiri Han Hee.

Han Hee mengangguk. “Hmm. Aku…aku mau pulang.” Han Hee menghindari tatapan Young Jae dan Dae Hyun.

“Aku antar!” kata Young Jae dan Dae Hyun bersamaan. Mereka berdua kemudian saling tatap tajam. Sementara Han Hee membuka mulutnya, menatap Dae Hyun dengan heran.

“Eh.., tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Kata Han Hee sambil tersenyum lebar.

“Tapi tubuhmu masih lemah, Han Hee~ah…” Young Jae menatap Han Hee cemas.

Han Hee tersenyum menenangkan. “Tidak kok Oppa. Aku sudah sehat.” Tapi kedua namja itu masih saja menatap Han Hee tak percaya. Han Hee menghela nafas. Memang sih Han Hee masih merasa agak pusing, tapi ia tidak mau Dae Hyun ataupun Young Jae mengantarnya. Terutama Young Jae. Han Hee masih belum bisa menghadapi Young Jae seperti dulu lagi. Dan kalau Han Hee meminta Dae Hyun, pasti akan terasa aneh. Han Hee tidak mau melukai Young Jae.

“Kalau begitu aku akan meminta Chan Chan menjemputku saja. Ia bisa menemaniku naik bus.” Han Hee tersenyum dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Chan Rin. Young Jae dan Dae Hyun hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan berat.

======== End of Author PoV =========

 

 

======== Chan Rin PoV ===========

Sepulang sekolah, aku memang langsung pergi ke tempat penampungan hewan bersama Kai. Ternyata Kai sungguh-sungguh dengan ucapannya. Sejak malam itu, setelah aku mengetahui bahwa Kai adalah werewolf, Kai selalu berada di dekatku. Dan satu hal yang membuatku bingung adalah, Kai tahu banyak hal tentangku!

Seperti saat ini, ketika telah selesai memandikan beberapa anjing, tiba-tiba saja Kai menghampiriku dan memberikan sebotol banana milk untukku. “Kau belum sempat beli kan? Kau tidak punya cadangan lagi di tas-mu.” Kata Kai.

“Bagaimana kau bisa tahu?” aku menatap Kai dengan bingung.

Kai memamerkan seringaian khas-nya. “Tentu saja aku tahu.” Kemudian ia pun pergi dan bermain bersama seekor golden retriever cokelat dan seekor bulldog hitam.

Aku menatap Kai dari kejauhan. Kai terlihat senang bermain dengan anjing-anjing itu. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ketahui dari Kai. Tapi Kai sama sekali tidak memberiku jawaban langsung atas pertanyaan-pertanyaanku. Yang ia katakan hanyalah : “Kau hanya harus selalu berada di sisiku, Park Chan Rin. Maka semuanya akan baik-baik saja.”

Baik-baik saja? Apa maksudnya?

Aku menghampiri Kai. Kai masih asyik bermain dengan anjing-anjing. Kai berkata bahwa lama kelamaan aku akan mengingat masa laluku. Masa lalu seperti apa? Sampai sekarang aku tidak mengingat ada masa lalu selain masa kecilku bersama Chan Yeol Oppa dan Baek Hyun Oppa.

Aku kembali mengingat percakapanku dengan Kai minggu lalu. “Karena aku tahu siapa kau, Park Chan Rin. Dan aku akan membantumu untuk tidak berubah kembali menjadi monster.”

Aku? Monster?

“Kai, di dunia ini…, adakah makhluk yang lebih mengerikan dari manusia serigala?” tanyaku serius.

Kai menatapku, lalu tanpa kuduga ia tertawa terbahak-bahak. “Kau berpikir aku menakutkan?” Kai tersenyum sambil mengangkat sebelah alis matanya. “Bukankah malam itu kau menganggapku jinak dan lucu seperti anjing-anjing ini?” goda Kai.

“Aku tidak takut padamu, tapi manusia pasti takut.”

“Jadi kau berpikir….kau bukan manusia?”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Sejak kecil….aku selalu merasa berbeda. Tidak ada manusia yang bisa berbicara pada binatang sepertiku. Mungkin saja aku memang bukan manusia kan? Mungkin saja aku makhluk mitos sepertimu?”

Kali ini Kai menatapku serius. Ia mendekatiku dan memegang kedua pundakku. Kai membungkukkan tubuhnya yang tinggi agar matanya sejajar dengan mataku. “Park Chan Rin, kau tenang saja. Aku akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkan kau berubah. Tapi seandainya takdir berkata lain…, seandainya kau berubah…, aku tidak tahu saat itu kau akan berpikir seperti apa. Aku tidak tahu seberapa kuat dirimu nanti. Aku tidak tahu apa yang akan kau pikirkan tentang dunia saat itu. Tapi aku ingin kau mengingat satu hal, sekarang kau adalah manusia. Chan Yeol hyung…, dia selamanya adalah manusia. Bila hal buruk terjadi, bila aku tidak bisa menahan kekuatanmu, kau harus mengingat Chan Yeol hyung. Kau sangat menyayangi kakakmu itu kan? Kau tidak ingin menyakiti manusia kan?”

Aku menatap kai dengan bingung. “Tentu saja.”

Kai tersenyum dan menepuk puncak kepalaku pelan. “Bagus.” Ia pun duduk dan mengeluarkan banana milk lagi dari tas ransel-nya. “Untukmu.” Katanya.

Aku ikut duduk di sampingnya dan meminum banana milk favoritku. Kai tidak meminum-nya. Jadi, ia sengaja membeli banyak banana milk hanya untukku? Aku mengerutkan keningku heran.

Selama beberapa saat, kami hanya terdiam. Aku memerhatikan anjing-anjing dan kucing-kucing sambil berpikir.

“Aku lebih mengerikan darimu, Kai.” Kataku. Itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan. Ya, aku tahu. Aku tidak bodoh. Aku mulai bisa menyimpulkan kode-kode yang Kai berikan padaku. “Aku jauh lebih mengerikan dari mahkluk jahat yang ada. Aku akan membahayakan manusia.”

Kai menatapku dalam-dalam. “Menjadi jahat atau baik adalah pilihan. Aku selalu yakin semua makhluk berhak memilih. Karena menurutku…, tidak semua angel itu baik, dan tidak semua devil itu jahat.”

Aku merasa Kai hanya membandingkan dua makhluk yang umum. Diantara angel dan devil pasti terdapat banyak makhluk lain. Manusia serigala, vampire, apa lagi? Raksasa? Roh? Siluman? Kurcaci? Yah, mungkin saja.

Lalu aku ini apa? Meskipun aku tidak bisa mengingatnya, tapi aku bisa menebak. Setelah melihat Kai berubah menjadi serigala di hutan malam itu, samar-samar aku bisa mengingat lautan darah. Entahlah. Aku melihat sebuah kejadian di dalam kepalaku, di mana aku berdiri di tengah hutan, dan semua binatang serta makhluk berjubah hitam menunduk padaku, lalu ada lautan darah di sekitarku. Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau bagian dari ingatanku.

Kurasa aku bisa menduga-duga. Vampire. Tapi kalau benar aku adalah vampire, kenapa saat ini aku tidak merasa seperti vampire? Dan apakah semua vampire jahat? Apakah itu berarti Sehun juga jahat?

Kemudian aku teringat kata-kata Kai barusan. Tapi apakah kita benar-benar bisa memilih? Kalau iya.., mengapa sampai sekarang Kai masih harus menjagaku? Bukankah itu membuktikan kalau aku ini berbahaya?

“Kai.., seandainya aku tidak bisa membedakan lagi mana yang jahat dan mana yang baik. Seandainya aku akan menyakiti Chan Yeol Oppa…” aku berhenti bicara dan menggeleng. Aku tidak ingin membayangkan aku menyakiti kakakku. “Kau harus berjanji satu hal padaku, Kai. Kau…, kau harus menghentikanku.” Kataku. Kai mengangguk. “Kau harus membunuhku.” Kataku lagi. Kali ini Kai tidak bereaksi. Ia hanya terus menatapku lama, sampai kemudian sebuah nada terdengar.

Aku mengangkat ponselku. “Oh, Han Hee~ah…” kataku. “Mwo? Kau baik-baik saja kan? Sekarang?” aku melirik Kai sekilas. “Oke, sebutkan alamatnya.”

Aku mencatat alamat yang Han Hee katakan. Han Hee ingin aku menjemputnya di dorm B.A.P. Katanya sepulang les musik tadi, Han Hee agak pusing dan ia pingsan di dekat dorm B.A.P. Dae Hyun dan Young Jae mengurusnya, tapi Han Hee berkata ia ingin dijemput olehku saja.

“Ng..ng..Kai, aku harus….”

“Aku antar.” Kata Kai. Ia pun langsung berdiri.

“Tapi…”

“Aku tahu.”

“Mwo?”

Kai menyentuh telinganya. “Telingaku.” Ia nyengir lebar. “Pendengaranku jauh lebih tajam daripada anjing. Ayo!”

Aku pun mengikuti Kai. Setelah pamitan pada pemilik penampungan hewan, kami pun segera pergi ke dorm B.A.P untuk menjemput Han Hee.

Tiga puluh menit kemudian, kami sampai di dorm B.A.P. Aku tidak ingin masuk, karena itu berarti aku akan bertemu Dae Hyun. Jadi aku mengirimi Han Hee message. Aku dan Kai tetap berada di dalam mobil dan membiarkan kaca terbuka.

Beberapa saat kemudian, Han Hee keluar bersama Dae Hyun dan Young Jae yang berjalan di belakangnya. “Chan Chaaaannnn!!!” kata Han Hee riang.  “Maaf yaaaa…aku jadi merepotkanmu.” Han Hee berjalan mendekati mobil. Kemudian matanya bertatapan dengan Kai.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kai pada Han Hee. Nadanya khawatir. Han Hee tersenyum dan mengangguk.

“Han Hee, kau duduk di sini saja.” Aku hendak keluar dari mobil, tapi Kai menahan tanganku. Aku menatap Kai bingung.

“Han Hee, kau di belakang saja.” Kata Kai dengan nada dingin.

“Neee…” Han Hee tersenyum riang. Tapi aku bisa melihat raut wajah Kai yang berubah gelap. Aku bisa merasakan mood-nya menjadi buruk. Entahlah, mungkin karena Kai manusia serigala, makanya aku bisa tahu. Selama ini teman-temanku adalah binatang, aku lebih mengerti binatang daripada manusia, dan karena Kai setengah binatang, jadi kurasa aku bisa tahu.

“Young Jae Oppa, Dae Hyun Oppa, terima kasih ya.” Han Hee melambaikan tangannya.

“Hati-hati.” Kata Young Jae.

Dae Hyun menatapku, seolah ada yang ingin ia katakan. Aku balas menatapnya tanpa ekspresi.

“Ayo.” Kata Han Hee. Kai pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Selama di perjalanan, kami hanya terdiam. Han Hee tertidur. Aku tahu, Kai selalu mengawasi Han Hee dari balik kaca spion. Ekspresinya masih sama gelap dengan sebelumnya. Kedua alis tebalnya bertaut, dan keningnya berkerut dalam.

Kai.., kau masih mencintai Han Hee kan? Kenapa kalian berpisah? Apakah karena Han Hee tidak mencintaimu? Kenapa kau sangat mencintai Han Hee? Bagaimana rasanya mencintai seseorang?

Merasa terus diperhatikan olehku, Kai menoleh sekilas padaku sambil mengangkat sebelah alis matanya. “Ada apa?” tanyanya dengan suara huksy.

“Kau masih punya banana milk?” tanyaku.

Kai tertawa terbahak-bahak. Raut wajahnya seketika berubah. Tidak ada lagi kerutan di keningnya.

Kai menyentuh kepalaku dengan sebelah tangannya sambil tersenyum. Aku balas tersenyum tipis. Sepertinya temanku bertambah satu. Kai, si manusia serigala.

Tanpa kusadari, Han Hee membuka matanya, lalu menutupnya lagi. Pura-pura tertidur. Seulas senyuman tersungging di wajah cantiknya.

*******

 

Keesokan harinya, semua berjalan normal. Aku dan Han Hee pergi ke sekolah bersama naik bus. Saat sarapan tadi hanya ada Chan Yeol Oppa dan Ibu Han Hee. Ayahku ada pekerjaan di New York, dan Henry Oppa sedang promo album di China.

Selama di sekolah, semua berjalan normal, meskipun terkadang aku merasa ada yang mengawasiku, tapi sejauh ini tidak ada kejadian buruk yang terjadi. Aku dan Han Hee pulang sekolah bersama. Han Hee tidak ada jadwal les, aku pun tidak ada jadwal volunteer di penampungan hewan.

“Chan Chaannn.., kita makan ramyun yuuuk!!!!” ajak Han Hee ketika kami berjalan keluar gerbang sekolah.

“Ramyun? Hmmm.., boleh.”

“Asyiiikkkk!!!!” Han Hee merangkul pundakku dengan sebelah tangannya. Ia berjalan dengan riang. Aku melirik Han Hee sekilas. Beberapa hari lalu, saat kami membicarakan tentang Dae Hyun, sepertinya Han Hee salah mengira. Saat itu dia agak aneh dengan tiba-tiba pergi meninggalkanku. Tapi sekarang ia sudah kembali jadi Han Hee yang biasanya. Tapi tetap saja…, aku tidak ingin ada salah paham diantara kami.

Kami pun akhirnya sampai di kedai ramyun tak jauh dari sekolah kami. Beberapa teman sekolah kami juga mengunjungi kedai itu, tapi aku memilih tempat yang agak sepi di lantai 2 kedai. Lantai 1 terlalu penuh dan ramai.

Han Hee memesan mandu ramyun super pedas, sedangkan aku memesan yang tidak terlalu pedas. Han Hee tampak menikmati ramyun-nya. Kami mengobrol banyak hal, kemudian aku mulai menyinggung tentang Dae Hyun.

“Han Hee, aku…. Aku tidak mencintai Dae Hyun. Kau jangan salah paham padaku.”

“Mwo? Hahahaha. Kenapa aku harus salah paham?” Han Hee terbahak-bahak.

Aku mengangkat bahuku. “Waktu itu.., kau agak aneh.”

“Aku?” Han Hee menunjuk dirinya sendiri.

“Ya.” Aku mengangguk. “Aku tahu, aku memang salah karena memanfaatkan Dae Hyun Oppa, tapi….”

“Kurasa kita sama-sama salah.” Han Hee tersenyum lebar, tapi kemudian senyumnya lenyap. “Tapi Dae Hyun Oppa tidak akan mungkin mencintaiku.” Han Hee mengaduk-aduk ramyun-nya dengan lemas.

“Dia pasti akan menyadarinya Han Hee~ah. Suatu hari nanti dia akan menyadari perasaannya sendiri padamu.” Kataku.

Han Hee mengangkat wajahnya dan tersenyum padaku. Ia pun mulai makan lagi dengan lahap, meskipun aku tahu ia masih memikirkan perkataanku barusan.

“Chan-Chan, kau sendiri…..apakah kau menyukai Kai?” tanya Han Hee. “Sejak kalian pulang dari bar pagi itu…..kalian selalu bersama.”

“Kami hanya berteman. Dia…teman yang baik.” kataku. Tidak mungkin kan kalau aku berkata yang sebenarnya tentang Kai pada Han Hee.

Han Hee terkekeh. “Oh ayolaaaahhh…, kau tidak seru ah Chan-Chan! Masa kau tidak mau memberitahuku?” Han Hee menampakkan aegyo-nya.

Aku mendengus. “Aegyo-mu tidak mempan untukku, Han Hee!”

Han Hee cemberut. Aku melihat-lihat lagi buku menu. Kedai ramyun ini juga menjual aneka minuman. Aku memanggil pelayan dan memesan bubble tea taro.

Han Hee menyipitkan matanya padaku. “Chan-Chan…, jangan-jangan kau benar-benar menyukai Oh Sehun?! Akhir-akhir ini kau selalu memesan bubble tea yang kata Chan Yeol Oppa adalah minuman favorit Oh Se Hun.”

“Mwo?” aku tertawa pelan. Tapi perutku langsung terasa aneh begitu nama Sehun disebut. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya. Kemudian tiba-tiba saja aku teringat kejadian terakhir saat aku bertemu Sehun. Aku menggelengkan kepalaku, menepis pikiran aneh di otakku.

“Chan-Chan! Jangan menyukai Sehun!” kata Han Hee cukup keras. “Lebih baik kau bersama Kai saja! Sehun itu vampire! Dia jahat!” kata Han Hee dengan suara agak pelan.

“Apakah menurutmu semua vampire jahat?” tanyaku sambil menatap Han Hee lekat-lekat.

Han Hee mengangguk dengan mantap. Tiba-tiba saja Han Hee merinding mengingat Wu Zun dan juga vampire yang membunuh ayahnya dulu, meskipun Han Hee masih belum yakin apakah Wu Zun benar-benar vampire yang membunuh ayahnya, tapi yang Han Hee yakini adalah : semua vampire itu jahat. Han Hee mengangguk lagi. “Vampire itu jahat, ChanChan. Karena itulah kau harus menjauhi Sehun!”

Entah kenapa tiba-tiba saja dadaku terasa agak sesak. Aku masih menatap Han Hee yang kembali fokus memakan ramyun. Hhhhh, Han Hee~ah.., bagaimana kalau aku ternyata benar-benar seorang vampire? Meskipun aku tidak tahu mengapa saat ini aku tidak ingat, dan mengapa aku bisa menjadi manusia saat ini, tapi dugaanku tentang vampire sepertinya benar. Tadi malam aku memimpikan lautan darah lagi. Mungkin mimpi itu adalah pertanda. Mungkin aku memang vampire yang jahat.

“Han Hee~ah.., kau bilang…, kau bisa menyegel vampire?” tanyaku. Dulu Han Hee bercerita tentang ayahnya yang seorang pemburu vampire dan mewariskan senjata untuknya.

Han Hee mengangguk. “Hmm.”

Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Baguslah. Setidaknya.., Han Hee akan sanggup melawanku kan?

Memikirkan semua itu membuat nafsu makanku hilang dalam sekejap. Aku masih berharap dugaanku ini salah. Mana mungkin aku vampire?! Memangnya vampire bisa berubah menjadi manusia lalu menjadi vampire lagi? kalau benar aku adalah vampire di masa lalu…, apa yang terjadi padaku saat itu?

Hhhhh, apapun kebenarannya, kuharap aku terus memiliki hati dan pikiran manusiaku seperti saat ini. Aku tidak ingin ada yang berubah. Aku ingin mempercayai kata-kata Kai, bahwa setiap makhluk berhak untuk memilih menjadi baik atau jahat. Aku memilih menjadi baik. Tapi.., apakah aku bisa?

Setelah selesai makan ramyun, kami langsung pulang. Besok ada ujian, kami harus belajar. Selama di perjalanan, lagi-lagi aku merasa ada yang mengikutiku. Tapi ketika aku berbalik ke belakang, tidak ada siapapun!

Kami sampai di depan rumah. Han Hee masuk lebih dulu, sementara aku masih terdiam di depan pintu. Aku merasa ada seseorang di dekat pagar. Cepat-cepat aku berlari menghampiri pagar, tapi tidak ada siapapun di sana!

Kemudian, ketika aku hendak berbalik, mataku tertuju ke bawah. Ada sebotol banana milk di dekat pagar, padahal aku yakin 100%, saat baru tiba tadi tidak ada banana milk di sini. Aku memandang berkeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kai. Aku meraih banana milk itu. Jadi, apakah yang mengikutiku seharian ini adalah Kai?

“Aku baik-baik saja Kai. Tidak ada makhluk yang berusaha mencelakaiku, dan aku juga tidak mencelakai manusia. Kau tidak perlu mengikutiku lagi. Rumahku aman.” Aku berkata pelan. Kalau memang Kai benar mengikutiku, pasti saat ini ia berada tak jauh dariku dan bisa mendengar apa yang kukatakan karena pendengaran Kai sangat tajam.

“Tidak semua vampire jahat kan?” Kataku lagi dengan nada pelan. Tapi aku tahu Kai tidak akan muncul dan menjawabku. Lagipula…. sepertinya lebih tepat kalau aku menanyakan hal ini bukan pada Kai, tapi Sehun. Ya, Sehun. Aku harus menemui Sehun!

******

 

Sore ini, aku ikut ke dorm EXO bersama Chan Yeol Oppa. Gampang sekali mencari informasi tentang Kai dan Sehun dari Chan Yeol Oppa tanpa perlu dicurigai. Kakakku itu memang polos.

Saat ini Kai sedang syuting iklan bersama Suho Oppa. Sementara itu member EXO-K yang lain ada semua di dorm dan sedang menikmati waktu luang mereka. Ini adalah kesempatan bagiku untuk bertemu Sehun dan mengorek informasi darinya.

Han Hee ada kerja kelompok dengan teman-teman kelasnya, jadi sore ini memang sangat tepat. Kalau Han Hee tahu saat ini aku menemui Sehun, dia pasti akan sangat marah.

“AKU DATANG BERSAMA ADIKKU YANG CANTIIKKK….” Suara berat dan menggelegar Chan Yeol Oppa memenuhi dorm EXO.

“Chan Rin~ah!!!!” Baek Hyun Oppa langsung menghampiriku dan memelukku. “Yah! Kau tidak merindukanku?” Baekhyun Oppa menampilkan aegyo terbaiknya.

Aku menggeleng. “Tidak.” Kataku singkat. Baek Hyun Oppa cemberut dan pura-pura menangis, sedangkan Chan Yeol Oppa tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum pada Baek Hyun Oppa. Aku senang sampai saat ini pun Baek Hyun Oppa adalah sahabat terbaik kakakku.

Tentu saja Baek Hyun Oppa juga sudah kuanggap kakakku sendiri sejak kecil. Aku mengingat kejadian-kejadian menyenangkan saat kami bertiga kecil dulu. Bagiku, kedua namja itu adalah orang yang paling berharga bagiku.

Aku berharap…, hanya ingatan inilah yang kumiliki. Ingatan masa laluku dengan Chan Yeol Oppa dan Baek Hyun Oppa, meskipun tidak semua ingatannya merupakan ingatan indah. Tapi lebih baik daripada mengingat ingatan yang aku sendiri tidak ingat seperti apa ingatan vampire itu. Apakah mengerikan? Apakah dipenuhi kejatahan?

Jauh di dalam lubuk hatiku, aku berharap tidak ada ingatan lain selain ingatan ini. Aku takut seandainya aku mengingat masa laluku selain masa lalu manusia-ku. Kalau kode-kode yang Kai berikan benar, kalau dugaanku benar, maka pastilah suatu hari nanti aku akan ingat. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi mungkin Sehun tahu? Mungkin memang lebih baik aku ingat dan mencegah kejahatan yang mungkin kutimbulkan sebelum kekuatanku kembali. Tapi.., memangnya bagaimana caraku mendapatkan kekuatan itu? Aku menggeleng. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin mendapatkan kekuatan itu lagi.

Oh Se Hun berbaring di sofa. Ia menatapku dengan dingin dan tanpa ekspresi. Aku balas menatapnya. Baek Hyun Oppa kembali main playstation dengan D.O Oppa. Chan Yeol Oppa ikut bergabung dengan menjadi supporter Baek Hyun Oppa.

“Kau mau membantuku membuat es buah?” tanyaku pada Sehun.

Sehun menyeringai lalu mengikutiku ke dapur. Dapur terletak jauh dengan ruang tengah, sehingga Chan Yeol dan yang lain tidak akan bisa mendengar apa yang kami katakan.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Sehun datar. Ia pasti bisa menebak bahwa alasan utamaku datang kemari adalah untuk menemuinya.

Aku menatap Sehun lekat-lekat. “Apakah semua vampire jahat?”

Sehun terdiam selama beberapa saat dan hanya menatapku tanpa ekspresi. Kemudian dia menyeringai dan mendekatiku. Wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahku. “Kenapa? Kau takut padaku? Kau takut aku membunuhmu?” bisik Sehun. Aku bisa merasakan nafasnya yang dingin.

Aku menggeleng. “Kau tidak jahat. Tidak semua vampire jahat. Benar kan?”

Sehun tertawa, tapi tawa-nya terdengar tidak enak. Tidak ada sedikitpun emosi di dalam tawanya. “Tentu saja semua vampire itu jahat!” tukasnya dengan nada kesal. Aku bisa melihat ekspresi penuh kebencian di wajahnya. Seolah ia membenci vampire. Seolah ia membenci dirinya sendiri.

“Sehun, sepertinya…. Aku juga vampire.” Entahlah, tapi tiba-tiba saja aku ingin mengatakan hal itu.

“Mwo? Hahahaha…hahahaha.., lelucon yang bagus, Park Chan Rin!” Sehun terbahak-bahak.

“Aku serius.” Kataku tanpa senyum.

Sehun mendengus. “Mana mungkin! Jelas-jelas kau manusia! Jangan bermimpi untuk menjadi vampire. Sangat tidak menyenangkan. Seandainya bisa.., aku pun ingin kembali menjadi manusia.” Kata Sehun. Aku bisa melihat gurat kesedihan di mata cokelat beningnya.

“Vampire tidak bisa berubah menjadi manusia?” tanyaku.

Sehun menggeleng. “Tidak. Tapi Pangeran Angel memberitahuku, kalau aku memiliki cukup mutiara jiwa, maka aku bisa kembali menjadi manusia. Meskipun aku ragu.” Sehun menyeringai.

“Mutiara jiwa?” jadi mungkin saja dulu aku memiliki mutiara jiwa yang cukup ya hingga aku bisa menjadi manusia seperti sekarang ini?

“Berhentilah bertanya-tanya tentang vampire, Park Chan Rin. Aku sendiri tidak tahu banyak hal tentang sejarah vampire. Aku tidak ingin tahu!” geram Sehun.

“Sehun~ah, bisakah kau meminum darahku?”

“Mwo?” Sehun tertawa tanpa ekspresi lagi. “Kau gila, Park Chan Rin!”

Aku menggeleng. Mungkin aku bisa mengingat masa laluku bila ada vampire yang menghisap darahku. Sehun pernah berkata bahwa ia tidak akan bisa mengubahku jadi vampire kan? Itu berarti aku tidak akan berubah bila Sehun menggigitku dan menghisap darahku. Lagipula…, aku memang tidak ingin berubah. Aku berpikir lebih baik mengingatnya sekarang sebelum terlambat. Sebelum aku kembali menjadi vampire. Aku takut bila aku mengingatnya setelah aku kembali menjadi vampire, maka aku akan melupakan sisi kemanusiaanku. Jadi, lebih baik mengingatnya sekarang kan?

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera meraih sebuah pisau dan menggoreskannya di telapak tanganku.

“YAH! PARK CHAN RIN!” Bentak Sehun. Matanya membelalak melihat banyaknya darah yang menetes dari telapak tanganku. Aku meringis kesakitan sambil menempatkan tanganku di westafel agar tidak ada darah yang menetes di lantai.

“Ayo, Sehun, minumlah. Aku ingin mengingat apakah…”

Sebelum aku selesai bicara, Sehun segera meraih tanganku dan menghisap darah yang mengalir dari luka yang kubuat. Mata Sehun terpejam, seolah menikmati darahku. Selama beberapa saat ia hanya terus minum, sampai kemudian tiba-tiba saja matanya terbuka dan menatapku dengan sedih. Ia menjilati lukaku dengan lidahnya. Seketika luka itu menutup.

“Maafkan aku, Park Chan Rin.” Sehun berkata lirih, kemudian segera pergi dari dapur.

“Sehun! Oh Sehun!!!” Aku berlari mengejar Sehun. Chan Yeol Oppa, Baek Hyun Oppa, dan D.O Oppa melihat kami dengan heran.

“Oh Sehun!!” Aku berlari keluar dari dorm dan terus mengejar Sehun, tapi percuma, Sehun sudah berteleportasi.

Nafasku terengah-engah. Aku melihat telapak tanganku. Tidak ada tanda-tanda bekas luka. Tanganku tetap mulus seperti sebelumnya. Aku juga memukul-mukul kepalaku, karena sekarang pun setelah Sehun meminum darahku, aku masih belum bisa mengingat masa laluku!

Yang kuingat hanya lautan darah. Itu saja. Sial! Mengapa hanya ingatan itu yang terus muncul? Kenapa aku tidak bisa mengingat hal lain?!

======= End of Chan Rin PoV ========

 

 

======== Author PoV =========

Di sebuah mansion mewah di daerah Gangnam…….

Park Myung Soo duduk di sebuah singgasana hitam yang terbuat dari batu pualam mengkilat sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. “Oh Sehun, berani-beraninya kau meminum darah Rin!” geram Myung Soo.

Ya, Myung Soo bisa merasakannya. Meskipun jarak mereka sekarang puluhan kilometer, tapi Myung Soo bisa merasakannya. Beberapa saat yang lalu, ia mencium aroma darah Rin bersama aroma darah Sehun. Meskipun Myung Soo tidak tahu mengapa Sehun bisa meminum darah Chan Rin, tapi Myung Soo sangat marah. Apapun alasannya, Myung Soo tidak akan membiarkan orang yang telah meminum darah Rin bisa hidup dengan tenang.

Hanya Myung Soo-lah yang boleh meminum darah Rin. Ia tidak ingin ada vampire lain yang meminum darah Rin selain dirinya. Myung Soo menyeringai. “Rin, sepertinya aku memang harus segera membuatmu kembali ke sisiku.” Myung Soo memejamkan matanya.

Selama ribuan tahun, Myung Soo terus mencari Rin, adik sekaligus calon pendamping hidupnya. Ya, mitos tentang vampire yang dikarang oleh manusia itu ada benarnya. Vampire berdarah murni memang harus menikah dengan vampire berdarah murni untuk mempertahankan kemurnian darah dan kekuatan spesial-nya. Dalam kasus ini, karena hanya Myung Soo dan Chan Rin-lah yang tersisa, karena ayah dan ibunya telah musnah, maka kedua ancestor itu memang harus menikah dan melahirkan vampire murni lainnya. Hanya Myung Soo dan Chan Rin-lah yang bisa meneruskan garis leluhur. Mereka berdua-lah sang ancestor yang sesungguhnya.  Tapi Myung Soo mencintai Rin bukan karena HARUS. Tapi ia memang mencintai Rin sejak Rin dilahirkan oleh ibu mereka.

Mengingat ibunya membuat Myung Soo murka. Ia masih membenci ibunya karena melenyapkan Rin, membuat kekuatan Rin terkubur dan bereinkarnasi menjadi manusia.

“Sebentar lagi, Rin…, aku akan mengubahmu sebentar lagi. Tepat 100 hari malam kebangkitanku, aku akan membuatmu mengingat lagi semuanya. Hanya aku yang bisa membuatmu mengingat segalanya. Hanya aku yang bisa membangkitkan kekuatanmu…” Myung Soo berkata pada dirinya sendiri.

“Wu Zun.” Myung Soo memanggil salah satu vampire kepercayaannya.

“Ya, Yang Mulia.” Wu Zun langsung datang sekejap mata dan membungkuk di hadapan Myung Soo.

Wu Zun berjongkok ala kesatria di depan singgasana Myung Soo. Myung Soo menatap anak buahnya itu tanpa ekspresi. “Kau telah melakukan banyak kesalahan.” Ujar Myung Soo dengan nada dingin mematikan.

“Maafkan hamba, Yang Mulia.” Wu Zun menundukkan kepalanya.

Myung Soo menyeringai sadis. “Aku memerintahkanmu untuk mengawasi Honey Lau, bukan untuk membuatnya menyadari keberadaanmu. Kau beruntung karena kau tidak ter-segel oleh silver gun miliknya.”

“Maafkan hamba, Yang Mulia.” Kata Wu Zun lagi.

“Berhati-hatilah dengan ucapanmu, Wu Zun.” Kata Myung Soo dingin. “Honey Lau mengira kau-lah yang membunuh ayahnya. Ia akan memburumu. Kau masih ingat apa kataku? Silver Gun itu memang tidak mempan bagiku, tapi bagimu…..senjata itu akan langsung menuju jantungmu dan menyegelmu dalam waktu yang sangat lama. Jauh lebih lama daripada tidur panjangku. Segera tinggalkan tempat kursus musik itu.”

“Saya mengerti, Yang Mulia.”

Myung Soo mengangguk angkuh. Ia tahu, Wu Zun adalah vampire yang kuat. Tapi ia tidak ingin mengambil risiko Wu Zun ter-segel. Ia membutuhkan Wu Zun sebagai kaki tangannya. 200 tahun lebih yang lalu, Myung Soo memilih Wu Zun karena ia kagum pada kekuatan Wu Zun saat Wu Zun masih menjadi manusia dan merupakan seorang Jendral perang yang hebat. Sejak dulu Myung Soo tahu, Wu Zun akan berguna baginya.

“Satu lagi, adikmu.” Ujar Myung Soo dingin.

Wu Zun mengangkat wajahnya dan menatap sang ancestor vampire yang sangat ia hormati itu. Sekilas, mata Wu Zun mengeras. Ia bisa merelakan apapun di dunia ini, kecuali adiknya.

Myung Soo menyeringai dan menatap Wu Zun tajam. “Kau sangat menyayangi adikmu kan? Kau tidak ingin aku melenyapkannya dari jagad raya ini selamanya, bukan?”

“Maafkan adik hamba, Yang Mulia.” Wu Zun memperdalam hormatnya pada sang ancestor.

Myung Soo tertawa tanpa ekspresi. “Itu semua tergantung bagaimana ia bersikap, Wu Zun. Kau awasi terus adikmu itu, jangan sampai ia mengganggu Rin.” Myung Soo bangkit dari singgasana-nya lalu berjalan mendekati Wu Zun.

Myung Soo mengangkat dagu Wu Zun sehingga mata mereka beratatapan. “Dan di saat adikmu meminum darah Rin lagi, saat itulah aku akan melenyapkannya.” Kata Myung Soo dengan nada mematikan.

Wu Zun tidak mengatakan apapun. Ia hanya menunduk. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa melawan sang ancestor.

“Hamba mengerti, Yang Mulia.” Kata Wu Zun akhirnya.

“Bagus. Pergilah.”

Wu Zun pun membungkukkan badannya satu kali, kemudian berteleportasi ke sebuah tempat.

Wu Zun mendatangi makam ibunya di Busan. Ia dan Sehun memiliki ibu yang sama, tapi ayah yang berbeda. Walaupun begitu, Wu Zun sangat menyayangi Sehun.

Wu Zun berlutut di hadapan pusara ibunya. “Mama…, maafkan aku. Sepertinya aku melakukan hal yang bodoh. Seharusnya, 200 tahun yang lalu, aku membiarkan Sehun mati. Tapi saat itu aku tidak sanggup, Ma…” air mata Wu Zun mengalir di wajahnya yang sempurna.

Wu Zun menggeleng. “Saat itu aku tidak sanggup bila ia harus mati. Karena itulah aku meminta Tuan-ku untuk mengubahnya menjadi makhluk sepertiku. Meskipun sampai sekarang Se Hun membenciku, tapi aku bahagia karena ia ada, Ma. Aku tidak ingin kehilangan dia. Apakah aku salah, Ma?”

“Tapi sekarang bagaimana, Ma? Sepertinya aku memang salah. Mungkin dulu aku terlalu pengecut menghadapi kematian. Aku tidak ingin Sehun mati, tapi sekarang Sehun justru ingin mati. Ia tidak bahagia, Ma. Aku memang bahagia ia bisa hidup walau harus hidup sebagai vampire, tapi ia tidak. Selama 200 tahun lebih ini ia menderita.” Air mata Wu Zun terus saja mengalir. Ia memeluk makam ibunya.

“Maafkan aku, Mama. Tapi aku berjanji, aku akan selalu melindunginya. Aku tidak akan membiarkannya mati. Lebih baik aku saja yang mati, Ma. Tapi kalau aku mati, bisakah aku bertemu denganmu? Seperti apa rasanya kematian, Ma? Apakah di alam sana ada tempat untuk makhluk sepertiku?”

*******

 

Sementara itu…..

Park Chan Rin masih berlarian di jalanan mencari Oh Se Hun. Ia yakin, Sehun tidak akan berteleportasi jauh dari dorm. “Sehun~ah, ini bukan salahmu. Aku yang memintamu meminum darahku, ingat?” kata Chan Rin pelan. Chan Rin tahu, vampire juga punya pendengaran yang tajam seperti manusia serigala.

“Aku hanya ingin mengingat. Aku punya teori. Tapi sepertinya aku salah.” Chan Rin terus saja bicara pelan sambil berjalan di jalanan yang kosong itu. Chan Rin merasa sedikit menggigil karena angin dingin menerpa tubuhnya yang hanya memakai baju tipis. Chan Rin tidak sempat memakai jaketnya di dorm EXO tadi.

Hari sudah semakin gelap. Matahari sudah terbenam. Chan Rin menatap sekeliling, dan ia tahu, ia telah tersesat. “Hey cantik!” tiba-tiba saja tiga orang pria berwajah pucat menyeramkan berjalan mendekatinya.

Entah insting apa yang memberitahu Chan Rin, tapi Chan Rin tahu ketiga pria itu adalah vampire.

“Sebenarnya ini terlalu pagi untuk makan. Tapi, kurasa hari ini aku akan membuat pengecualian.” Salah satu pria yang berambut merah menjilat bibir.

“Aroma-nya sangat lezat.” Kata pria lainnya yang berambut gondrong. Pria botak mengangguk setuju. Ketiga pria itu semakin mendekati Chan Rin, tapi Chan Rin hanya terdiam dan menatap mereka dengan berani.

“Jadi, kalian vampire?” tanya Chan Rin dengan tenang.

Ketiga pria itu tersentak kaget. Pria berambut merah menyeringai. “Kau tidak takut pada kami, cantik?” tangannya yang berkuku tajam dan dingin menelusuri leher jenjang Chan Rin.

Chan Rin menyeringai. “Mungkin… seharusnya kalianlah yang takut padaku.” Chan Rin berkata tegas dengan pandangan mata tajam dan menusuk. Sebenarnya, Chan Rin hanya menguji teori-nya saja. Setelah melihat Sehun hari ini, Chan Rin tahu, tidak semua vampire jahat. Tapi Kai selalu menjaga Chan Rin, itu berarti mungkin saja Chan Rin bukanlah vampire, tapi makhluk yang lebih mengerikan dari vampire. Chan Rin tidak mungkin menguji teorinya pada manusia, tapi pada vampire…, ia bisa kan?

Kalau benar dirinya jauh lebih berbahaya dari vampire-vampire ini, mereka pasti akan memiliki insting untuk menghindar kan?

Ketiga vampire itu membeku. Mata mereka dipenuhi ketakutan. Awalnya Chan Rin menduga teorinya berhasil, tapi ternyata ia salah. Ketiga vampire itu membeku karena melihat seseorang yang berdiri di belakang Chan Rin.

“Pergi!” desis seseorang yang berdiri di belakang Chan Rin. Ketiga vampire itu pun segera pergi berteleportasi.

“Sehun?” Chan Rin membalikkan badannya dan menatap Sehun yang hanya mematung.

“Kau harus berhati-hati pada vampire baru. Mereka sangat ganas. Tapi aku tidak menyangka mereka langsung takut padaku.” Sehun mengerutkan keningnya. Berpikir. “Padahal selama ini tidak pernah ada vampire yang takut padaku sebelum aku berkelahi dengan mereka. Aneh. Hanya dengan melihatku…., mereka langsung ketakutan?” Sehun menatap Chan Rin dengan tatapan yang tidak bisa Chan Rin tebak artinya.

Sehun mendekati Chan Rin. Wajahnya hanya berjarak 7 cm dari wajah Chan Rin. “Park Chan Rin, pertanyaanku yang dulu masih belum terjawab. Sebenarnya kau siapa? Mengapa kau ingin aku meminum darahmu? Mengapa aku begitu tertarik pada aroma darahmu? Mengapa vampire lain juga sangat tertarik pada darahmu?”

“Aku…, aku juga tidak tahu.”

Sehun menyeringai. “Mungkinkah aku menjadi kuat setelah meminum darahmu? Apakah itu alasannya vampire-vampire tadi takut padaku?”

Chan Rin hanya menatap Sehun. Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

“CHAN CHAAANNN!!!!!” Panggil suara yang sudah Chan Rin kenal. Han Hee berlari menghampiri Chan Rin.

“OH SEHUN! MENJAUHLAH!” Han Hee mengacungkan sebuah pistol berwarna perak ke dada Sehun.

Sehun sama sekali tidak terpengaruh. Ia hanya menyeringai. “Honey Lau, aku ingin mati, bukan ter-segel.”

Chan Rin segera berdiri diantara Sehun dan Han Hee sambil merentangkan kedua tangannya. “Han Hee~ah, jangan…”

Han Hee masih saja menatap Sehun penuh dendam. “Aku benci vampire.” Bibirnya bergetar menahan tangis dan emosi.

“Han Hee~ah, jangan…, kumohon…” Chan Rin masih merentangkan tangannya di depan Sehun. Tapi percuma saja, karena sepertinya Han Hee tidak mendengar apa yang Chan Rin katakan. Han Hee terus saja menatap Sehun penuh benci. Pistol perak masih teracung, siap menembus jantung sang vampire.

 

 

–          TBC –

 

 

23 thoughts on “Moonlight Destiny (Chapter 9)

  1. aduhh~ gantung lagi eonn..
    keren keren keren… jangan sampe HanHee nembak Sehun…
    WuZun panglima perang? dia sama Sehun satu ibu beda ayah? oonnya kenapa Wuzun malah nyuruh MyungSoo bikin Sehun jadi vampire coba? padahal dia tau sehun sedih? jadi yang salah siapa?
    jadi Hanhee suka sama DaeHyun, Daehyun suka sama Chanrin, Chanrin suka Sehun..| Chanrin itu takdirnya Sehun apa Kai? Kai itu suka sama Putri aster (HanHee) atau Chanrin?

    terlalu banyak pertanyaan…

    • Han Hee nembak sehuh atau enggak…aku serahkan pada Kunang alias Han Hee. Wkwkwk.
      Iya wuzun jendral perang gitu zaman dulunya. Dia nggak nyangka sehun bakal benci kehidupan vampire. Wuzun dulu cuma nggak mau sehun mati…pengen sehun hidup terus meski hrs jd vampire kayak wuzun.

      Hmmmm…kita lihat aja nanti chanrin sama hanhee bakal jadi sama siapa. Hehehe.
      Makasih yaa udh baca + comment🙂

  2. uwuuu~ saya ga sabar pengen liat chan rin berubah.
    Oh iya, takdirnya kai & sehun itu chan rin? Jadi…siapa dong yg bener2 dapetin chanrin?😀
    okedeh, ttp semangat thor ^^9

  3. Keren, thor. Banyakin lagi dong partnya sehun. Aku belum ngrasa sehun jadi main cast di sini. Tapi, good job. Aku tunggu kelanjutannya ^^

  4. q bingung mo coment ap lgi pngen’y lngsung lnjut tp u/ menghrgai hsil krj kras author’y seenggak’y ninggalin jejak dikit lah ya gpp kan…..
    Hanhee bkal nmbak sehun g itu atw mlah dihalangin ma chan rin trus yg ketembak chan rin aaahhh…..nan molla!!!!!
    smga di part slnjut’y ad moment romance’y heee….;)

  5. Apa yang akan hanhee lakukan? Apa dia benar2 akan menembak sehun? Semoga aja ga terjadi, dan apa benar sehun menjadi lebih kuat setelah meminum darah chanrin? Hah apa yg akan dilakukan myung selanjutnya?
    Seneng bnget liat hanhee selamat, untung aja youngjae juga dateng,
    Entah kenapa, tpi aku merasa chanrin memiliki perasaan yg spesial sma sehun, dan entah kenapa suka bnget sma moment mereka disini 😍
    Masih penasaran takdir hanhee sma chanrin itu siapa, lanjut baca ya ka 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s