Moonlight Destiny (Chapter 8)

Title                 : Moonlight Destiny

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina) & Kunang Anna (@helloimnia)

Main Cast       : Park Chan Rin (OC), Han Hee / Honey Lau (OC), Oh Se Hun (EXO-K), Kim Jong In / Kai (EXO-K), Jung Dae Hyun (B.A.P), Yoo Young Jae (B.A.P)

Support Cast  : Park Chan Yeol (EXO-K), Henry Lau (Suju-M), Lee Taemin (SHINee), Kim Myung Soo / L (Infinite), Luhan (EXO-M), Wu Zun.  The other EXO, B.A.P, and Infinite members

Length            : sequel

Genre              : Fantasy, family, romance, life, friendship, mystery

Rating                         : PG+15

Summary        : Bagaimana bila berbagai makhluk yang kau kira hanya ada di negeri dongeng, kini benar-benar nyata? Guardian angel, devil, werewolf, spirit, dan vampire. Kau tidak pernah menyadari dirimu berbeda dan special, hingga kau bertemu mereka. Lalu apa yang akan terjadi saat kau mengetahui berbagai rahasia gelap yang seharusnya tidak kau ketahui?

Image

Masa depan bisa berubah sesuai pilihan yang kita ambil. Tapi, apakah takdir bisa berubah?

Inilah kisah kita. Takdir kita.

8th Destiny – By : Kunang

‘Kau tahu rasa putus asa? Itu adalah sesuatu yag dingin – amat dingin dan sepi. Selama ini orang mengira bahwa rasa putus asa adalah sesuatu yang panas, berapi-api, sesuatu yang keras. Tapi rupanya tidak demikian halnya. Inilah rasa putus asa — kegelapan yang tak terkira dingin dan sepinya. Dan dosa dari rasa putus asa, adalah dosa yang dingin, dosa karena memisahkan diri dari semua hubungan manusiawi yang hangat dan hidup’ dikutip dari Novel ‘The Hollow’ by Agatha Christie

 

===========Han Hee PoV ===========

@Tempat Les

 

“Mianhae…Kau benar Kai oppa, aku mencintai Dae Hyun oppa”

Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat saat teringat kata-kata yang kuucapkan pada Kai oppa beberapa hari lalu. Sebelumnya sekali pun aku tidak pernah mengatakan pada seorangpun kalau aku mencintai namja itu—tidak secara gamblang— Namja yang sebenarnya adalah namjachingu saudara ku sendiri, Park Chan Rin. Dan setelah mengatakannya, rasanya suatu perasaan berat dan mengganjal dihatiku sudah keluar digantikan perasaan yang lebih menyakitkan. Mungkin aku sedikit lega, karena setidaknya aku sudah jujur pada Kai oppa kalau mencintai Dae hyun oppa, tapi sekaligus membuatku sadar kalau aku jahat, jahat karena berani-beraninya menyukai kekasih Chan Rin dan jahat karena mempermainkan perasaan Kai oppa.

“Han Hee-sshi kenapa kau melamun?! Apa kau tak memperhatikan permainan Mi Young barusan?!” Yoo Ahn In seongsaeng memukul mejaku, membuat ku kembali ke alam sadar. Aku menganguk dengan bersemangat dan menunjukkan aegyo ku, dan untunglah Yoo seonsaeng tersenyum puas dan berlalu ke mejanya, kembali menerangkan secara rinci permainan piano Mi Young, gadis jangkung yang merupakan salah satu teman lesan ku.

Sial, kenapa aku sampai melamun dan terlihat sedih seperti ini? Ya.. mungkin kalian mengira aku orang yang munafik, aku selalu berusaha terlihat ceria saat ada orang-orang disekitarku–sesulit dan sesedih apapun kondisiku. Karena aku takut, aku takut menunjukkan kelemahanku dan pada akhirnya membuat mereka membenciku.

Yoo seonsaeng kemudian menjelaskan mengenai bagaimana Beethoven berhasil memperoleh inspirasi untuk menyelesaikan karya-karya besarnya, tapi aku tak peduli. Sudah cukup sejak kecil aku dikuliahi oleh daddy tentang idolanya itu jadi aku sangat hafal di luar kepala. Pikiran ku sekarang kembali memusat pada Jung Dae Hyun, dia benar-benar bagai Black Hole yang bisa membuat seluruh pikiran dan hati ku tercurah hanya padanya.

Seharusnya Dae Hyun oppa saat ini sedang mengajariku, berdiri dengan angkuhnya di depan kelas dan menjitak kepalaku ketika aku mulai berisik. Tapi aku tahu kenyataannya, dia sedang bersama Chan Rin ke Busan. Memikirkan apa yang sedang mereka lakukan membuat hatiku terasa perih—sakit. Dan sialnya aku adalah gadis dengan daya imajinasi tinggi! Dengan jelas aku bisa membayangkan senyuman penuh rasa cinta dari Dae hyun oppa untuk Chan Rin. Mungkin sekarang mereka sedang bergandengan tangan, menikmati matahari senja di pinggir pantai lalu ….

Jung Dae Hyun… kau benar-benar membuat ku gila! Kenapa aku harus begitu mencintai mu? Kau yang bahkan benci padaku, kau yang bahkan milik saudara ku sendiri. Kenapa harus kau? Padahal sekalipun kau tidak pernah melirikku, sekalipun kau tak pernah benar-benar tersenyum padaku, sekalipun kau tak pernah benar-benar peduli padaku, sekalipun….

“Han Hee-ah, kau kenapa?” spontan aku langsung mundur selangkah ketika merasakan ibu jari seseorang menyapu pipiku, menghapus air mata yang sialnya entah sejak kapan keluar. Aku menatap sekeliling, agak bingung mendapati diriku sekarang sudah berdiri di depan gedung tempat les ku. Apa tadi aku terlalu hanyut dalam lamunan ku hingga tidak menyadari jam les sudah selesai dan berjalan sambil terus melamun sampai sini?

“Young Jae oppa?” aku mengerjap mendapati namja yang tadi telah menyeka air mataku, dan otomatis – karena itu sudah menjadi kebiasaan—aku kembali memasang ‘topeng ceria’ ku. Aku tersenyum berusaha terlihat ceria, tapi Young Jae oppa malah menatapku sedih. Damn, harusnya aku ingat kalau Young Jae oppa adalah satu-satunya orang yang tidak bisa kubohongi.

“Mau makan cheesecake ice cream?” tanya Young Jae oppa kemudian, ‘cheesecake?’ Ya Young Jae oppa tahu kalau aku sangat menyukai cheesecake dan ice cream. Tapi ‘cheesecake’ adalah cake favorite Daehyun oppa juga. Dan kali ini setidaknya aku tak ingin sesuatu yang berhubungan dengan namja itu. Tapi, pasti Young Jae oppa akan merasa aneh kalau aku menolak cheesecake.

Aku tersenyum lebar “Nee…” , dan akhirnya kali ini Young Jae oppa tersenyum padaku. Ia mengacak-acak rambutku dan kemudian menarik pergelangan tangan ku, berjalan ke arah kedai-kedai yang berjajar di sebelah kiri tempat les. Dan kemudian, aku sadar, ada seseorang yang terus memperhatikan kami. Sorot matanya terlihat terluka, dan aku yang telah melukainya.

“Kai oppa..” gumam ku, sambil menengok ke belakang. Young Jae oppa menghentikan langkahnya sebentar, dan aku bisa merasakan Young Jae oppa semakin mengeratkan pegangannya di lenganku. Dia menatap Kai sekilas lalu tersenyum padaku sebelum mulai melangkah.

Aku menatap Kai oppa sekali lagi, merasa hatiku semakin sakit. Seharusnya aku tidak main-main dengan perasaan Kai oppa, mungkin rasa sakit ku tidak ada apa-apanya dibanding dengan Kai oppa.

Miahae oppa …

 

 

Kita mau kemana?” tanya ku untuk ke—entah berapa kalinya. Ya, Young Jae oppa sama sekali tidak membawaku ke cafe yang menjual cheesecake di samping tempat les. Aku pikir dia akan membawaku ke toko kue yang berjarak kurang dari 300 m setelah nya, tapi dia terus mengajakku berjalan terus dan tidak mempedulikan pertanyaanku. Aku, dengan langkahku yang lebih kecil berusaha menyamai langkahnya. Memang sahabatku satu ini kadang bisa menjadi orang yang sangat keras kepala.

Dan akhirnya setelah berjalan hampir setengah jam, Young Jae oppa berhenti. Kami sudah sampai di pinggir sungai Han. Angin sore yang sejuk menerpa, membuat rambutku yang agak ikal bergoyang sekaligus membuat perasaanku sedikit lebih baik sampai…

“OPPA!! BAHAYA!!” Aku terbelalak ketika Young Jae oppa dengan santainya naik pagar dan duduk di puncaknya, menghadap ke arah sungai. Seolah–olah jarak antara dirinya berpijak dengan permukaan sungai tidak terlalu tinggi. Padahal aku yakin tingginya lebih dari sepuluh meter!!

“Tidak apa-apa kok hahhahaha” Young Jae oppa tertawa begitu aku memegang lengannya, aku khawatir kalau-kalau dia sampai kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke sungai.

“Tidak apa-apa bagaimana?!” protesku masih memegang pergelangan lengannya.

“Hei… kau pikir dengan tubuh mungilmu bisa menahan tubuhku ini kalau aku sampai hampir jatuh?”

Aku mengerucutkan bibirku “Biarpun aku kecil begini, tapi aku kuat!” aku memegang lengan kiri Young Jae oppa, kali ini sekuat tenaga ku, tapi dia hanya tertawa-tawa “Oh ya oppa.. tadi kau bilang mau mengajakku makan cheesecake ice cream? Kenapa malah mengajakku kesini?”

Young Jae oppa tiba-tiba terdiam, matanya yang hitam pekat seolah men-scan seluruh tubuhku. Jangan bilang kalau Young Jae  oppa sadar kalau aku sedang tidak ingin makan cheesecake karena memikirkan Dae Hyun oppa?

“Kau sudah terlalu gemuk, berat badan mu naik 5 kg ya Han Hee? Bisa-bisa berat-badan mu naik 5 kg lagi kalau makan Cheesecake atau ice cream” kata Young Jae oppa enteng, aku menatap tubuhku shock. Well aku memang tidak sekurus Chan-chan tapi aku tidak gemuk!!!

“YAAA!! YOUNG JAE OPPA!!! KAU JAHAT!!” aku memukuli tubuhnya dan dia malah tertawa-tawa, tanpa sadar aku jadi ikut tertawa. Syukurlah… setidaknya aku bisa sedikit melupakan rasa sedih ini. Pada akhirnya aku pun berhenti memukulinya, lagi pula agak berbahaya mengingat posisinya yang sedang duduk di atas pagar.

“Mau lollipop?” Young Jae oppa tiba-tiba mengeluarkan sebuah rainbow lollipop mini dari jaket hitamnya, aku menerimanya dengan senang hati dan langsung mengulumya. Dan kemudian dia pun menepuk ke pagar di sampingnya

“Mau coba duduk disini?”

Aku menatapnya seolah dia sudah gila, bagaimana kalau aku sampai kehilangan keseimbangan dan jatuh? aku tidak bisa berenang! Seolah membaca pikiranku, Young Jae oppa menganguk-angukkan kepalanya “Tenang saja, aku tak akan membiarkan kau jatuh, kau ingat kan siapa aku? Aku itu guardian angle mu, ya kalau jatuh … aku tinggal melompat menolong mu kan?”

“Tapi..”

“Duduk disini bisa membuatmu melihat sungai indah ini tanpa batas yang menghalangi, membuat mu nyaman dan merasa bebas, pasti kau akan suka, percayalah!”

Aku menganguk ragu, Young Jae oppa tersenyum puas dan membantu ku duduk di puncak pagar itu dengan agak susah payah. Memang agak mengerikan ketika duduk dan menyadari ujung kaki mu tidak menyentuh apapun sedangkan di bawah adalah permukaan sungai, tapi perasaan itu hilang beberapa saat kemudian digantikan perasaan nyaman dan bebas. Kami tidak mempedulikan pandangan beberapa orang yang sepertinya memperhatikan kami dengan cemas.

“DAEBAKKKK!!!! Ini benar-benar keren oppa!!” aku mengulum permenku dan kemudian dengan keberanian entah dari mana melepaskan pegangan tangan ku dari tangga. Merentangkan kedua lenganku “KYAAAA AKU BEBASSS!!

“Hati-hati” Young Jae oppa yang duduk disebelahku menangkap pergelangan tangan ku yang memegang lollipop, matanya menatapku tajam “Kau ini, kalau heboh seperti itu kau bisa jatuh!”

“Mianhae.. hehhehe aku hanya terlalu bersemangat”  aku menggembungkan pipiku dan memberinya puppy eyes “Lagi pula tadi kau bilang kalau aku jatuh kau—YAA!! KAU—-“

Aku hanya terhenyak ketika Young Jae oppa menarik tanganku dan mengulum lollipop ku, sebenarnya apa sih yang dipikirkan namja satu ini? Apa dia tidak ingat kalau aku sudah mengulumya duluan??

“Enak juga ternyata, manis…” katanya setelah berhenti mengulum lollipop ku, dan tidak itu saja dia mengigitnya sehingga bentuknya tidak bulat lagi.

“Yah… kenapa kau me—“ kata-kata ku tercekat ketika sekali lagi Young Jae oppa menarik lengan ku dengan tangan kirinya, lebih kuat, aku pikir dia mau mengulum lollipop ku lagi. Tapi aku salah, tangan kanannya yang bebas menyentuh pipiku, membuatku berpaling ke arahnya dan sesuatu yang lembut juga manis seketika itu juga menekan bibirku, mengulumnya.

Dia mencium bibirku!

Aku sama sekali tidak bisa mengingat berapa lama dia menciumku, karena otakku mendadak jadi melambat merespon hal ini. Aku hanya bisa merasakan seluruh tubuhku mendadak panas, rasa manis permen dan detak jantungku yang semakin tidak karuan. Dan sebelum aku menyadarinya, Young Jae oppa sudah berhenti mencium ku. Agak bingung dan takut, aku menatap wajahnya yang sekarang memandang ke arah sungai di depannya.

“Oppa.. kenapa?”

“Han Hee ah… mianhae, aku sudah tak bisa menutupinya lagi” Young Jae oppa perlahan memalingkan wajahnya ke arahku, lengan kirinya masih memegang tanganku, bola mata hitamnya menatapku dengan cara yang tidak pernah aku sadari, penuh kerinduan, penuh pengharapan, penuh rasa sayang. Dan kemudian kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Saranghae…”

——Still Han Hee PoV——

@09.00 KST

“Han Hee-ah kau yakin kan kalau Rin-Rin pasti pulang malam ini? Bagaimana ini? dari tadi handphonenya terus menerus tidak aktif!” tanya Chan Yeol oppa sambil merebahkan tubuh tingginya di sofa setelah baru saja mengecek teras rumah, dia benar-benar seperti orang super panik yang takut kalau barang kesayangannya hilang.

“Tenang saja oppa.. setengah jam lalu Chan-chan e-mail padaku kalau dia sudah di Seoul, mungkin sebentar lagi” kata ku sambil menepuk pundaknya, berharap sedikir menenangkannya. Tapi sepertinya tidak, karena dia mulai bicara panjang lebar “Benar kan apa kata-kata ku, Chan-chan itu seharusnya tidak mempunyai pacar dulu, dan lihat biasanya dia… bla~ bla~bla”

Ya, pada akhirnya aku tidak bisa berbohong pada Chan Yeol oppa ketika dia bertanya dimana adiknya. Aku pikir Chan rin akan pulang sebelum pukul 7 jadi Chan yeol oppa yang biasa datang pukul 8 an tidak akan tahu dan ribut mengetahui adiknya pergi. Mungkin seharusnya aku memikirkan kebohongan yang masuk akal dibanding bilang yang sebenarnya kalau Chan Rin pergi dengan Daehyun oppa.

“Suara mobil!” Chan Yeol oppa langsung menegakkan punggungnya dan tak lama dia berjalan cepat ke arah pintu depan dengan langkahnya yang lebar, aku mengikutinya.

“Dae Hyun sshi, jangan menemuiku lagi.” Suara Chan Rin? Spontan aku memegang tangan Chan Yeol oppa yang hendak membuka pintu, namja jangkung itu menaikkan alisnya bingung. Ada apa ini? Kenapa Chan Rin berkata seperti itu pada Daehyun oppa? Apa mungkin Chan-chan mengetahui perasaanku dan berniat meninggalkan Daehyun oppa demi aku? Anni… itu tidak boleh terjadi… aku akan merasa sangat bersalah kalau itu benar-benar terjadi.

“Aku akan terus menemuimu.” Suara Daehyun, ya.. aku tahu, Daehyun oppa, kau sangat menyukai Chan-chan

“Dae Hyun sshi!”

“Aku tahu. Tapi kau tidak bisa…”

“Aku tidak bisa mengatur perasaanmu” seketika itu juga pegangan ku pada Chan Yeol oppa mengendur saat mendengar suara Chan Rin. Aku menelan ludahku, rasanya kali ini jarak antara aku dan Daehyun oppa sudah tidak mungkin lagi, dia sangat mencintai Chan-chan. Rasanya aku mulai putus asa.

Chan Yeol oppa menatapku sekilas sebelum membuka pintu, wajahnya terlihat kebingungan mungkin karena tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

Kreeek…, brakkk..,

“Oppa! Kau menguping ya?!”pekik Chan-chan begitu melihat kami, dan seketika itu juga tatapan ku langsung menuju ke arah Daehyun oppa, dia juga menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Rasanya awkward. Tapi kemudian dia tersenyum.

“Hey pendek, menguping itu sangat tidak sopan!”

Aku hanya membuka mulut ku sedikit, bingung mau menjawab apa. Aku yang biasa pasti langsung menjawab dengan ceria. Aku hanya tersenyum, berusaha terlihat seceria mungkin.

“Kenapa kau diam saja? Oya, tadi kau tidak membolos kan?” tanya nya basa-basi, aku menggaruk tengkukku bingung karena menyadari Chan Yeol dan Chan-chan entah sejak kapan sudah tidak disini.

“Tentu saja!” aku menjawab dengan intonasi tinggi “Dan Yoo Ahn In seonsaeng sangat tampan!” tambahku lagi

“Kau ini tidak berubah, tapi tetap lebih tampan aku kan?” tanya Daehyun oppa seolah tak mempedulikan perasaanku. Ya mana mungkin dia peduli, walaupun dia tahu perasaanku, gadis yang dia cintai tetap Chan-chan. Aku menganguk dan Daehyun oppa tersenyum puas.

“Aku sudah bilang pada Yoo seonsaeng… aku ingin diajar dengannya saja mulai besok”

Daehyun menegakkan punggungnya, dia menatapku seolah aku sedang bercanda “Berhenti bercanda, kemarin-kemarin Wu Zhun Laoshi sekarang kau ingin diajar oleh Yoo seonsaeng? Lebih baik kau tidur lebih cepat supaya tidak melantur, pendek!”

DDAKK

“APPO!!” aku mengusap-usap dahiku yang sakit setelah di ddakbam olehnya, sedangkan tanpa rasa bersalah dia pun melambai singkat

“Pokoknya kalau besok kau sampai kabur dari kelasku, kau akan tahu akibatnya nona Lau!”

Aku menggigit bibir bawahku, Daehyun oppa… kenapa kau membuatku sama sekali tak bisa menolakmu?

Dan yang tidak aku sadari, aku telah melukai sekali lagi hati Kai oppa yang berdiri dalam dia,  tak jauh dari ku dan Daehyun oppa.

 

@Beberapa Hari Kemudian

05.30 KST

CHAN-CHAN HILANG?!

Rasanya nafasku tertahan sesaat ketika mendapati kamar Chan Rin yang kosong melompong. Tadinya aku mau meminjam hair dryer nya sekalian membangunkannya, tapi dia tak ada dimanapun setelah aku mencari keseluruh ruangan. Chan yeol oppa masih tidur, dia pasti akan heboh kalau tahu Chan-chan menghilang. Aku menggigit kuku ku, gugup sekaligus takut, bagaimana ini? Bagaimana kalau Oh Sehun atau Wu Zhun laoshi menculik Chan rin. Tapi mungkin saja kalau Chan-chan pergi bersama Daehyun oppa kan? Kemarin-kemarin pun mereka pergi bersama, tapi setidaknya Chan Rin mengabariku! Dan kenapa gadis itu harus meninggalkan handphonenya?!

“Aku harus memastikannya!” aku berlari ke arah kamarku, mengambil i-phone ku dan segera menghubungi Daehyun oppa. Agak lama teleponnya baru diangkat.

“YAA!! KAU TAK SADAR SEKARANG JAM BERAPA?! KAU—“

“Chan rin menghilang…” kataku tanpa menunggu Daehyun oppa selesai bicara, sesaat dia tidak berkata apa pun “Oppa… apa Chan Rin bersama mu?”

“Anni…dia tidak bersamaku, kau sedang tidak bercanda kan?”

“Oppa.. mana mungkin aku bercanda! Dia tak ada dimanapun, bahkan pagar depan rumah masih terkunci!”

Daehyun oppa terdiam sesaat “Baiklah aku kesana” dan sambungan telepon pun diputus. Aku menatap iphone ku dengan bingung, kalau tidak dengan Daehyun oppa.. apa mungkin Kai oppa? Aku tidak pernah menelpon Kai oppa dan selalu mereject panggilannya sejak kejadian di cable car Namsan Tower. Tapi ini demi Chan-chan, maka aku beranikan mencoba menghubungi Kai oppa, tapi percuma nomor hp nya sedang tidak aktif.

“Kau kenapa Han Hee-ah… pagi-pagi sudah berlari kesana kemari?” suara Chan yeol oppa mengejutkan ku, entah sejak kapan dia sudah berdiri di depan pintu kamar ku.

“O..oppa kau sudah bangun?”

“Aku tidak bisa tidur nyenyak…. Rin rin belum bangun ya? aku akan membangunkannya”

“Oppa… Sebenarnya Chan-chan” dan tanpa sempat aku cegah, Chan Yeol oppa sudah masuk ke kamar di depan kamarku. Aku hanya bisa menggigit bibirku, setelah beberapa hari lalu namja ini heboh karena adiknya pulang malam dengan Daehyun oppa, pasti setelah ini Chan Yeol oppa tidak akan kalah heboh.

Dan ternyata yang membawa Chan Rin keluar adalah Kai oppa, tentu saja orang yang pertama kali berlari ke teras rumah saat terdengar suara mobil adalah Chan Yeol oppa. Dari ruang tamu saja aku bisa mendengar jelas omelan panjang lebar Chan Yeol oppa.

. “RIN-RIN! Kau dari mana saja? Kenapa kau keluar rumah semalaman? Kenapa kau meninggalkan ponselmu di kamar? Aku menghubungimu berkali-kali! Aku bahkan hampir melaporkanmu ke polisi! Aku takut kau menghilang seperti orang-orang di TV dan koran!” baru kali ini Han Hee mendengar Chan yeol semarah itu. “Dan Kau…Kim Jong In! Mengapa kau membawa adikku keluar malam-malam, hah?! Kenapa ponselmu juga tidak aktif?!”

“Chan-Chan!!!! Oh?” aku keluar dan agak terkejut melihat Kai oppa yang terlihat seperti baru bangun tidur. Baru kali ini aku melihat Kai oppa dengan rambut tidak teratur seperti itu.

“Chan Rin~ah.., kau dari mana saja?” Dae Hyun oppa menatap Chan Rin dan Kai bergantian, dia jelas terlihat sangat cemburu “Aku langsung kemari begitu Han Hee meneleponku dan berkata kau hilang.”

Kai menyeringai pada Dae Hyun, lalu menatap Chan Yeol. “Hyung, maafkan aku. Kami berdua hanya pergi ke bar dan kami ketiduran di bar. Tenang saja hyung, tidak terjadi apa-apa.” Kata Kai dengan santai.

Chan Rin membelalakkan matanya. Aku menatap Chan Rin dan Kai oppa bergantian, entah mengapa aku merasa ada yang mereka tutupi.

“Sudah ya hyung, aku pulang.” Kai mengangkat sebelah tangannya. Ia menguap lebar, lalu tanpa melihat ke arahku sekalipun dia berjalan pergi menuju mobil sport hitam-nya.

Aku menatap Dae Hyun dan Chan Yeol oppa, lalu beralih ke Chan rin yang masih terlihat tidak peduli. Perlahan aku meninggalkan mereka dan menuju ke kamar, merutuki diriku sendiri yang malah merasa iri pada Chan Rin, anni.. ini bukan iri melainkan cemburu, dan aku tahu tak ada gunanya memiliki perasaan menyakitkan ini. Bagaimana caranya aku bisa berhenti mencintainya?

Benci lah Dae hyun, Honey-ah

Sebuah suara dingin yang familiar terdengar di telingaku, begitu saja. Aku  menatap ke sekitar ku tapi tak ada siapapun.

“Siapa?” Tanya ku ragu, tapi kali ini suara itu tidak menjawab.

==========HAN HEE POV END=======

==========Author PoV=============

Malam Harinya

@Atap Rumah Han Hee-Chan Rin

“Tumben kau membaca Yang Mulia” kata seorang namja jangkung begitu mendarat dengan mulus di atap rumah berlantai tiga itu. Orang yang disapanya mendengus dan kemudian menatap bulan yang diselimuti awan.

“Adikku sudah tidur, dan masih ada sekitar satu jam sampai aku harus berubah menjadi sosok menyebalkan” kata namja itu, dia menaruh bukunya dan berdiri menghadap ke arah orang yang baru saja datang “Bagaimana Kris? kau sudah memastikan kalau si anchestor vampire menyusahkan itu sudah ada di Seoul?”

“Benar sekali pangeran, bahkan dia sudah pernah bertemu Han Hee maksud hamba Putri Aster dan adiknya”

“Sudah kuduga” Dia berpikir sesaat kemudian terkekeh “Sudah kubilang berapa kali, kau tidak usah memanggil pangeran atau yang mulia, kau ini adalah orang yang paling kupercaya selain adikku” Lu han terdiam, matanya perlahan berubah menjadi semerah darah “Kau tidak akan pernah sekalipun mengkhianati ku kan Kris?”

“Tentu saja tidak”

Lu Han tetap menatap tajam Kris sampai akhirnya sebuah senyuman asimetris terbentuk di bibirnya, dia pun mengambil buku yang dibacanya “Kris, kau tahu rasa putus asa kan?”

“Putus asa?” Kris mengerenyitkan dahinya “Apa maksud mu?”

“Kau tahu, aku memiliki pandangan yang sama dengan buku ini” Lu Han membuka bukunya dan berhenti di halaman 363, lalu mulai membaca :

“Kau tahu rasa putus asa? Itu adalah sesuatu yag dingin – amat dingin dan sepi. Selama ini orang mengira bahwa rasa putus asa adalah sesuatu yang panas, berapi-api, sesuatu yang keras. Tapi rupanya tidak demikian halnya. Inilah rasa putus asa — kegelapan yang tak terkira dingin dan sepinya. Dan dosa dari rasa putus asa, adalah dosa yang dingin, dosa karena memisahkan diri dari semua hubungan manusiawi yang hangat dan hidup”

“Lalu?” tanya Kris lagi, dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dari pangeran iblisnya tersebut.

“Itu lah yang sedang dialami adikku…” matanya berkilat, sama sekali tidak terlihat rasa bersalah apalagi pancaran kesedihan di wajahnya “Dan setelah Han Hee benar-benar memisahkan diri dari semua orang disekitarnya, dia akhirnya akan kembali padaku, sebagai adikku Putri Aster”

@Hong Dae street

“CHAN-CHAN KESINI!!!!”

“CHAN-CHAN KITA COBA ITU YA!!!!”

“CHAN-CHAN KITA KESANA!!”

“CHAN-CHAN ADA SALE!!!! KYAAA ADA BAJU YANG COCOK UNTUK HENRY OPPA!!”

“CHAN——“

“Stop!! Tidak bisa kah kita beristirahat sebentar?” Chan Rin melepaskan tangannya yang dari tadi di tarik kesana-kemari oleh saudara tirinya itu. Ya, hari ini adalah hari Sabtu, mereka bisa pulang sekolah lebih cepat. Akhir-akhir ini Chan Rin merasa Han Hee agak sedikit tidak bersemangat, makanya kali ini dia tidak menolak ketika Han Hee mengajaknya jalan-jalan.

“Oh.. baiklah” jawab Han Hee dengan senyum yang tetap mengembang “Kau ingin makan apa Chan-chan?” aku menatap Han Hee yang sibuk memperhatikan deretan kedai dan cafe “Bagaimana kalau sushi? Atau kau sedang ingin makanan italia? Atau ice cream?”

“Bubble Tea” dua kata yang keluar dari mulut Chan Rin membuat Han Hee menoleh, dia mengerenyitkan dahinya “Memangnya aneh?”

“Anni… cuman akhir akhir ini kau sering minum itu” kata Han Hee sambil mengangkat bahunya “Padahal dulu kau pernah kutawari tapi tidak mau”

Chan Rin yang merasa dirinya diperhatikan langsung melewati Han Hee “Terserah kau mau berpikir apa, aku hanya ingin bubble tea”

Han Hee menatap Chan Rin sesaat, entah mengapa dia agak kepikiran. Akhirnya setelah menghembuskan nafas panjang dia mengejar saudaranya itu “CHAN-CHAN JJAMKAMAN!!!”

GREPP

Han Hee memeluk Chan rin dari belakang

“YAAA!! LEPASKAN AKU??!!”

“TIDAK MAUU, KARENA AKU MENCINTAI PARK CHAN RIN HAHAHHAHA” tanpa Chan Ri duga, Han Hee mencium pipinya singkat dan langsung berlari menuju kedai bubble tea sambil terkekeh.

“Dasar gila!” umpat gadis itu, tapi kemudian sebuah senyuman tulus merekah dibibirnya tanpa dia sadari. Mungkin benar-benar tidak ada salahnya mempunyai saudara perempuan. Ia pun mengikuti Han Hee yang sudah duduk dan memesan bubble tea untuk mereka. Tidak sampai sepuluh menit bubble tea mereka sudah tersedia.

“Aku lebih suka cheesecake strawberry” kata Han Hee begitu menghabiskan bubble tea nya

“Sudah tahu” jawab Chan Rin spontan, Han Hee tersenyum senang. Chan Rin menatap Han Hee lekat-lekat dan kemudian memutuskan untuk berani menanyakan pertanyaan yang mengganjal baginya selama ini

“Han hee-ah?”

“Hmm??”

“Kau menyukai Daehyun oppa, anni kau mencintai Daehyun oppa?”

Beberapa saat Han Hee hanya diam, membuat Chan rin canggung menunggu jawaban gadis di depannya.

“Hm.. mpfuah HAHAHHAHAHHAHAHHA… Lucu sekali Chan-chan!!! Lucu sekali!!!” tawa Han Hee meledak membuat Chan Rin terkejut dengan rekasi yang tidak disangka-sangkanya itu “Tentu saja aku menyukainya!! Dia idolaku di BAP!! Tapi tenang saja, aku sama sekali tidak mencintainya, aku tidak mungkin mencintai kekasih saudara ku sendiri!!”

“Tapi aku dan Daehyun oppa—-“

“Dengarkan aku Chan-chan, aku menyukai kalian berdua, dan kalian saling menyukai jadi kau tidak perlu memikirkan aku”

“Kau salah, Aku—-“

“CELAKA!! Aku baru ingat ada jam tambahan di tempat les ku! Yoo Ahn In seonsaeng bisa membunuhku kalau sampai telat!” kata Han Hee lagi sambil menatap jam tangannya, “Kau tak apa-apa kan pulang bersama Kai oppa? aku sudah memastikan dia akan menjemputmu disini”

“HAHH?? Kau mau pergi??” Chan-chan tahu ada yang tidak beres dengan saudaranya, wajah Han Hee sudah terlihat sangat merah seperti akan menangis. Tapi belum sempat dia menahannya, Han hee sudah berlari dan melambai.

“AKU DULUAAANN!!!”

“Han he-ah… bukan seperti itu….” gumam Chan-chan sambil menatap punggung Han Hee sampai gadis itu masuk ke dalam taksi.

@Gedung SBS, 23.00 KST

“Seharusnya ini adalah malam yang indah” kata seorang namja tampan yang berjalan sendirian melewati gerbang gedung KBS, dirinya menatap bulan purnama dengan sedih. Di kejauhan, dengan pendengarannya yang melebihi kemampuan manusia, dia bisa mendengar auman serigala yang memecahkan keheningan malam. Dia terus berjalan hingga melewati taman kecil yang sepi.

“Apa kabar Pangeran Tae Min?”

Namja yang tak lain adalah Tae Min SHINee menatap orang di depannya dengan bosan ketika begitu saja seorang namja sudah berdiri di depannya. Tae Min sudah tahu kalau pada akhinya namja di depannya akan datang padanya, cepat atau lambat.

“Kabar ku selalu baik” jawab Tae Min sambil menyilangkan tangannya “Dan sepertinya kau tidak begitu baik Yoo Young Jae, bagaimana? Bukan kah sudah kukatakan akan sangat sulit menjadi guardian angel gadis itu?”

“Aku tak butuh ceramah mu” jawab Young Jae berusaha menahan kesabarannya

“Apakah kau sadar, kalau seorang guardian angle tidak boleh mencintai orang yang dijaganya?” Tae Min mendengus “Dan kalau benar Han Hee adalah Putri Aster seperti yang diramalkan akan bangkit kembali, sayap mu akan patah”

“Tidak mungkin Han Hee adalah Putri Aster” jawab Young Jae, bibirnya gemetar. Biasanya dia selalu merasa mantap ketika mengatakan hal itu, tapi entah mengapa dia merasa bimbang.

“Baiklah… seperti biasa kau sangat keras kepala” dengus Tae Min, dia sudah merasa bosan “Jadi apa yang membuat mu datang pada ku, ah… jangan bilang kau ingin tahu mengenai sang anchestor itu? Kenapa kau tidak tanya saja pada Pangeran Luhan-mu itu? Bukan kah kau sudah sukses berperan sebagai pembelot kaum angle dan menjadi anjing peliharaannya?”

Young Jae menarik nafas panjang “Seharusnya aku tidak menemui mu!”, dia pun berbalik berniat meninggalkan Tae Min yang masih diam di tempatnya, menyandar ke pagar taman.

“Karena sudah jauh-jauh kesini kuberi tahu satu hal” kata-kata Tae Min membuat Young Jae berhenti sesaat, tapi tidak membuatnya berbalik “Para vampire itu tidak akan membiarkan Han Hee-mu itu begitu saja, bahkan mungkin mereka sedang mengincar nyawanya”

==========Still Author PoV=========

@Keesokkan Harinya, tempat les

Tidak seperti biasanya, kali ini ketika sampai di tempat les, Han Hee  tidak langsung masuk ke dalam kelas. Dia sudah memutuskan akan mengikuti Wu Zhun laoshi, dia sudah mendapat info kalau Wu laoshi pulang lebih awal setiap hari Rabu. Dan hari ini adalah hari Rabu, jadi sebisa mungkin dia akan menunggu Wu Laoshi keluar dari gedung tempat lesnya.

Han Hee yang bersembunyi di balik sisi tembok, memegang rok sekolahnya menyingkapnya sedikit untuk memastikan bahwa pistol peraknya ada di tempatnya. Ya, sejak kemarin dia menyarungkan pistol itu dan mengikatkannya di paha nya. Praktis dan sepertinya orang-orang tidak akan curiga.

Sebenarnya bukan tanpa alasan gadis itu mengikuti Wu laoshi, sudah beberapa hari namja itu semakin sering Han Hee rasakan ada di sekitar Chan-chan. Dan Han Hee tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai sesuatu yang buruk menimpa Chan Rin. Jadi sebelum terjadi hal terburuk,–dia harus bertindak!

Ponselnya bergetar, sambil masih mengawasi pintu keluar Han Hee membaca pesan yang menanyakan keadaanya, dan yang bisa dia lakukan hanya tersenyum getir.

Young Jae oppa mianhae, katanya dalam hati sebelum mematikan hp nya. Setelah kejadian di jembatan itu, esoknya dia langsung menolak perasaan orang yang sudah dianggap sahabatnya itu. Walau Young Jae oppa sudah meminta agar mereka kembali seperti semula—Han Hee takut, takut kalau sekarang bersama Young Jae oppa, itu malah akan lebih menyakiti Young Jae oppa.

Ya.. lebih baik saat ini dia menjauhi Young Jae oppa, pikirnya sedih. Bagaimana pun Young Jae oppa adalah sahabatnya, guardian angle baginya tapi apa yang bisa Han Hee berikan? Tidak ada.

“Yosh!” Han Hee menyemangati dirinya sendiri ketika melihat Wu laoshi keluar dari gedung, dengan langkah pelan tapi mantap gadis kecil itu mengikutinya. Tak lupa sejak tadi dia sudah mengenakan topi dan kacamata hitam besar agar tidak bisa dikenali. Untungnya namja itu sepertinya tidak menggunakan kendaraan dan terus berjalan, menyebrang dan masuk ke jalanan yang lebih kecil dan juga agak sepi, terus berjalan hingga hampir satu jam.

“Eh? Bukan kah ini jalan yang kulewati tadi?” gumam Han Hee bingung sambil bersembunyi di balik pohon besar, sedangkan gurunya masih berjalan hingga akhirnya berhenti  dan berbalik tiba-tiba, tepat disaat Han Hee keluar dari persembunyiannya.

“Tidak baik belajar menjadi stalker Ms. Lau”

“A… aku tidak… aku kebetulan lewat sini!” Jawab Han hee tergagap, dia betul-betul kaget. Sekarang hanya ada mereka berdua dijalanan yang sepi itu. Han Hee memegang roknya, masih ragu apakah ini saat yang tepat untuk mengeluarkan pistol dan menembaknya. Memang hampir 100 % dia yakin namja di depannya adalah vampire karena mirror of truth yang dia miliki sudah membuktikannya.

“Dan tidak baik juga berbohong” tambah Wu Zhun, bibirnya membentuk senyuman asimetris yang membuat Han Hee gemetar, perlahan namun pasti namja itu mendekat ke arah Han Hee “Tapi tentu saja, ‘berbohong’ sudah menjadi sifat mu”

“Mwo?”

“Nee.. aku tahu segalanya, ‘kau yang ceria’ hanya topeng untuk menutupi luka mendalam mu saat ayah mu dibunuh, kau munafik! Tapi cocok…tipikal putri iblis memang harus seperti itu”

Entah mengapa kata-kata Putri Iblis membuat Han Hee terganggu, sekaligus membuat gadis itu berhenti gemetar. Tangannya dengan mantap meraih pistol yang dia selipkan di sarung yang terikat di kakinya. Dan detik itu juga menghadapkan ujung pistolnya nya tepat di depan Wu Zhun yang langsung menghentikan langkahnya. Menatap Han Hee dengan waspada.

“Selain benda menyusahkan yang kau pegang, ternyata kau mewarisi mata cokelat almond milik ayah mu” Wu Zhun mendengus “Tapi kau tidak semantap ayahmu, karena kalau sepertinya, kau pasti tanpa ragu akan  langsung menembakku”

“Kau mengenal daddy?” Pupil mata Han Hee melebar, ingatannya mencari memori saat ayahnya dibunuh tapi tetap saja dia tak bisa mengingat wajah vampire yang membunuh ayahnya “Kau… kau yang…”

“Kau ingin tahu siapa yang membunuh ayah tersayang mu?” Wu Zhun mendengus “Bagaimana kalau orang ah.. maksudku vampire itu adalah  aku? ”

“KAU—“

Shuuuutttttttttttt………..

Sebelum Han Hee dapat melanjutkan kata-katanya, begitu saja, tiba-tiba Wu Zhun sudah ada di belakangnya, melingkarkan tangannya yang besar ke leher Han Hee, menekannya sehingga gadis itu merasa hampir kehabisan nafas. Panas tubuhnya seolah diserap oleh tubuh Wu Zhun yang sangat dingin, terasa bagaikan es.

DUKK

TRAKK

Pistol Han Hee jatuh begitu saja ketika Wu Zhun memukul pergelangan tangannya, dengan kekuatan yang tersisa gadis itu terus berusaha berontak. Sejujurnya dia ingin berteriak saat itu juga, tapi lidahnya terasa sangat kelu.

Cess..

Dan kemudian sesuatu yang dingin menempel di lehernya, membuat gadis itu menghentikan rontaannya. Dan benar saja, sebuah pisau kecil yang terlihat sangat tajam berkilat membalas tatapannya yang semakin melemah. Tapi gadis itu memang sudah lemas karena sulit bernafas, yang dia ingat hanya ada seseorang yang memanggil-manggil namanya sebelum kesadarannya hilang. Hanya satu orang yang dia yakini akan menyelamatkannya.

“Young jae oppa…..”bisiknya sebelum menutup matanya

Tapi gadis itu salah, yang datang adalah seorang devil sejak dari tempat les terus membuntuti Han Hee. Ya, dia adalah Jung Dae Hyun. Namja itu tadi sempat kehilangan jejak Han Hee dan Wu Zhun, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati gadis yang dibuntutinya itu sudah tidak sadarkan diri. Wu Zhun yang sebelumnya sudah menyadari kehadiran Dae Hyun, seketika itu juga dengan kekuatan teleportasinya menghilang—pergi tanpa jejak. Meninggalkan tubuh Han Hee yang sudah  beku dan kekurangan oksigen tergeletak begitu saja di aspal yang panas.

“HAN HEE!!!” sekuat tenaga Daehyun berlari ke arah gadis itu, dan langsung memeluk tubuh Han Hee yang beku sambil memanggil-manggil namanya. Tangan namja itu pun meraba denyut nadi Han Hee yang dia rasakan begitu lemah, lalu beralih ke hidung Han Hee. Matanya melebar ketika menyadari gadis itu tidak bernafas.

“PABO!! JANGAN MATI!!!” Dengan agak tergesa, Daehyun mengambil tas Han Hee yang tergeletak di tanah dan menjadikan nya alas untuk kepala Han Hee, sedangkan dia sendiri berusaha melakukan CPR, dan tanpa ragu memberikan nafas buatan.

“HAN HEE!! SADARLAH!!! HONEY LAU!!!”

 

10 thoughts on “Moonlight Destiny (Chapter 8)

  1. First???
    Kasian HAN HEE
    pkoknya nanti buat HAN HEE sama Daehyun atau Yong Jae ya?
    Di chapter ini Sehun kok gak ada? next chapter ditunggu

  2. Fiuhhh… #lapkeringat
    ak baca dr chap 5 smpe chap 8,,, harus ngebut nih bacanya biar bs smpe chap 11,,,
    omo… Itu young jae main nyosor aja sih???
    Yah… Kagak ad sehun??
    Okai deh ak mw bc chap selanjutnya lagi???

  3. aaaahhh….knp jd kek gini han hee km slah paham chan rin putus sma dae krn dy g ad prsaan sm dae……
    uuuhhh….jd tmbah deh yg patah hati kesian youngjae *kesian kesian kesian…..
    awawawawaw…..CPR maaauuuuuuu……😉

  4. Aaaaaa apa yang terjadi sma hanhee? Apa dia akan baik2 aja? Semoga ga terjadi hal2 yg buruk sma hanhee
    Ya wuzhun pasti tau dia di ikuti sma hanhee, dia kan bisa merasakan itu, dan apa benar yg membunuh appa hanhee wuzhun? Kyaaaa untung ada daehyun, semoga hanhee ga kenapa2
    Hanhee merasar bersalah sma kai, ditambah lagi youngjae mengakui perasaannya sma hanhee, apa hanhee bnar cinta sma daehyun?
    Semoga ga terjadi hal2 buruk sma hanhee juga chanrin 😩
    Lanjut baca ya ka ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s