I Don’t Know Why (Chapter 2)

Title                            : I Don’t Know Why (Chapter 2)

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts                 : Lee Min Ah (OC), Jung Il Hoon (BTOB), Jang Geun Suk

Support Casts            : Lee Min Ho, BTOB, and Beast members

Genre                         : romance, family, friendship

Length                        : series

Rating                         : PG+15

Summary                   : Lee Min Ah (23 thn) adalah salah satu businesswoman muda yang paling sukses di Asia. Sejak kecil, Min Ah sudah menjalani kehidupan yang keras dan disiplin sebagai penerus Lee Group. Sejak dulu dunia Min Ah berbeda dengan gadis cilik lainnya. Di saat gadis lain menikmati masa muda mereka, Min Ah harus berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Saat usia-nya 17 tahun, Min Ah harus meninggalkan Korea demi mempertahankan perusahaan ayah-nya. Ia rela melepaskan satu-satunya orang yang paling berharga baginya, Jang Geun Suk. Setelah 6 tahun berlalu, akhirnya Min Ah berhasil membuat perusahaan ayahnya bertahan dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Tapi apa yang akan terjadi bila presdir Jung Group yang merupakan salah satu saingan terberat Lee Group memohon pada Min Ah untuk menggabungkan perusahaan mereka? Di saat Jung Group bersedia mengikuti segala peraturan Lee Group, akankah Min Ah menyetujui ide merger kedua perusaahaan ini? Jung Group bersedia berada di bawah kendali Min Ah, tapi bagaimana bila presdir Jung Group memberikan Min Ah 1 syarat? Dan syarat itu adalah…, menikahi putra satu-satunya sang Presdir, Jung Il Hoon, seorang idol populer yang usia-nya 4 tahun lebih muda dari Min Ah. Apa yang akan Min Ah lakukan? Masalah semakin rumit ketika Min Ah tahu ternyata Jung Il Hoon dan Jang Geun Suk memiliki ibu yang sama.

 Image

                       

Pepatah bilang…, di saat kau tidak tahu apa alasanmu mencintai seseorang, maka itu adalah pertanda bahwa kau benar-benar mencintai orang itu.

 

 

Chapter 2

 

Mr. Jung benar-benar serius dengan apa yang ia katakan minggu lalu soal merger antara Jung Group dengan Lee Group. Salah satu keuntungan yang kudapatkan adalah aku berada di urutan paling atas pemegang kendali perusahaan. Tapi walaupun begitu, bukan itulah tujuan utamaku.

Aku memiliki banyak rencana di kepalaku. Aku membutuhkan Mr. Jung untuk mewujudkan rencana itu. Jadi, meskipun perusahaan kami kini telah resmi bergabung, Mr. Jung akan tetap fokus pada perusahaanya, hanya saja dengan ide-ide dan instruksi dariku.

Aku tahu, dengan bergabungnya perusahaan kami, maka pekerjaanku akan semakin berat. Tapi aku memikirkan berbagai keuntungan yang akan kami dapatkan di masa depan.

Media banyak membahas soal merger-nya perusahaan kami. Mr. Jung mengatasi semua pertanyaan public dengan professional. Ia berkata bahwa Jung Group dan Lee Group memiliki tujuan yang sama, oleh karena itulah kami bergabung untuk menciptakan perusahaan terbesar di Asia dan bahkan di seluruh dunia.

Mr. Jung sama sekali tidak menyinggung soal aku yang akan segera menjadi menantunya. Aku bersyukur karena ia tidak mengekspos-nya kepada publik. Yah, tapi cepat atau lambat semua orang akan tahu. Aku tidak begitu peduli dengan tanggapan orang lain, tapi aku ingin tahu bagaimana tanggapan Geun Suk Oppa bila ia mengetahui hal ini.

Tapi.., mungkin saja Geun Suk Oppa tidak peduli. Aku bukan siapa-siapa lagi baginya, jadi pasti ia tidak peduli.

Dua hari lagi ulang tahun Min Ho Oppa, dan empat hari lagi adalah pesta pertunanganku dengan Jung Il Hoon. Sejak pertemuan pertama kami 3 hari lalu di toko jam tangan, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku tidak begitu peduli pada bocah itu, yang penting adalah sekarang aku sudah bisa mengendalikan Jung Group.

Min Ho Oppa sudah tahu mengenai merger perusahaan, tapi ia sama sekali belum tahu soal perjodohanku. Min Ho oppa sangat sibuk dengan syuting dan acara fan meeting di berbagai negara. Ia baru akan pulang ke Seoul saat ulang tahun-nya tiba. Min Ho oppa mengundangku ke pesta ulangtahun yang akan ia adakan di salah satu hotel milik Lee Group. Aku menduga Min Ho Oppa juga mengundang banyak selebriti ke ulang tahun-nya yang ke 26 ini. Apakah Geun Suk Oppa akan datang?

Saat jam makan siang tiba, aku masih berkutat dengan tumpukkan berkas di mejaku. Aku sudah terbiasa melewatkan makan siang karena terlalu fokus bekerja. Telepon di meja-ku berdering. “Ya, Sekretaris Han..”

“Agaeshi, Mr. Jung ingin menemuimu. Dia sudah ada di depan ruangan Anda.”

Aku tertawa pelan. Kenapa Mr. Jung begitu bersemangat dengan merger kami ini?! Dia tidak perlu repot-repot datang kemari!

“Suruh ia masuk.” Kataku singkat pada sekretaris-ku.

Aku mendengar pintu ruangan kerja-ku dibuka, tapi mataku masih ter-fokus pada berbagai dokumen yang harus kuperiksa, sehingga aku tidak melihat Mr. Jung yang berjalan lalu berdiri di hadapanku.

“Anda tidak perlu repot-repot datang kemari, Mr. Jung. Kalau ada yang ingin Anda bicarakan, Anda tinggal meneleponku, dan aku akan menemui Anda. Aku jauh lebih muda dan sehat dibanding Anda. Anda harus memikirkan kesehatan Anda, Mr. Jung. Apalagi sebentar lagi tugas kita berdua akan semakin berat.” Kataku pada Mr. Jung. Mataku masih melihat deretan huruf dan angka. Mr. Jung hanya diam saja.  

“Pabo! Sebelum bicara lihat dulu siapa lawan bicaramu.”

Aku mendongak dan terkejut melihat pria di hadapanku. “Jung Il Hoon????”

Il Hoon menyeringai. “Ya, aku Mr. Jung. Tapi aku bukan ayahku. Apakah di otak-mu itu hanya ada bisnis dan bisnis?” Il Hoon berjalan menuju sofa dan duduk dengan nyaman di sana. Ia mengangkat kedua kaki-nya ke atas meja.

“Apakah kau selalu bersikap sangat sopan seperti ini, Il Hoon sshi?” kataku sarkastik.

Il Hoon meletakkan sesuatu di meja. “Kiriman dari ibuku.” Katanya dengan nada cuek.

“Mwo?” aku berjalan mendekatinya dan duduk di sofa, di hadapan pria berambut cokelat yang berdandan ala harajuku itu.

“Turunkan kakimu dari meja.” Kataku sambil menatap Il Hoon tajam.

Il Hoon balas menatapku, menantang. Tapi ia pun akhirnya menurunkan kaki-nya. “Cepat habiskan! Agar aku bisa segera pergi dari sini.”

Aku membuka bungkusan di dalam Tupperware itu. Ternyata isi-nya adalah kimbab dan tofu. “Mrs. Jung membuatkannya untukku?” aku masih tidak percaya.

Il Hoon mengangguk tak sabar. “Eomma terus memaksaku mengantarkan makanan ini untukmu. Hah! Memangnya aku kurir?!”

Aku mendelik kesal pada Il Hoon. Kemudian mencoba mengatur emosi-ku. Kepalaku tiba-tiba saja terasa sakit memikirkan bocah di hadapanku ini akan segera menjadi tunanganku! Dia sangat childish, arogan, menyebalkan, sok pintar, dan sok keren! Sikapnya juga benar-benar seenaknya.

“Apakah sejak lahir kau sangat arogan seperti ini, Jung Il Hoon?” kataku sambil menyeringai.

“Apakah sejak lahir kau sangat haus kekuasaan, Lee Min Ah?” Il Hoon tersenyum dengan senyumannya yang menyebalkan.

Aku mendengus. Ternyata anak ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia selalu bisa membalikkan kata-kata pedas-ku.

“Kenapa kau menyetujui perjodohan ini? Lebih bagus kalau kau membuat ibumu membatalkannya sekarang. Aku tidak akan rugi, karena secara hukum Jung Group dan Lee Group sudah resmi bersatu.”

Jung Il Hoon menatapku dengan tajam dan dingin. Selama beberapa saat ia hanya terdiam dan terus saja menatapku. Kemudian ia menghembuskan nafas berat dan menyandarkan punggungnya di sofa.

“Jujur saja aku tidak peduli dengan merger-merger ini. Tapi ibu dan ayahku mengancamku. Kalau aku tidak menyetujui perjodohan sialan ini, maka ayahku akan melakukan berbagai cara untuk menghentikan semua aktivitas BTOB.” Il Hoon mendengus. “Dengan kekuasaan dan uang-nya, aku tahu ayahku serius saat mengatakan hal itu. Aku tidak akan membiarkan ayahku menghancurkan impianku dan teman-temanku.” Kedua bola mata Il Hoon dipenuhi emosi.

Selama beberapa saat aku hanya bisa tertegun. Passion yang ia miliki di dunia musik sedikit mengingatkanku pada Geun Suk Oppa.

Aku mengangguk. “Kuberitahu kau satu rahasia. Salah satu cara agar ayah dan ibumu tidak mengganggu dunia musik-mu adalah.., kau harus masuk kuliah dan menyisihkan sedikit waktumu untuk memikirkan perusahaan ayah-mu.”

“Mwo?” Il Hoon tertawa. “Jangan harap!”

Aku mengangkat bahu. “Terserah. Itu bukan urusanku. Toh aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan.”

Jung Il Hoon menggertakkan giginya dan menatapku garang. “Lee Min Ah sshi, kau sama gila-nya dengan ayah dan ibuku. Yang ada di otak kalian hanyalah uang dan uang! Kekuasaan! Apakah kalian tidak pernah punya impian?”

Aku tersenyum, tapi mataku tetap menatap dengan dingin. “Impian? Ini adalah impianku.” Aku memakan kimbab buatan Mrs. Jung. Rasanya lumayan enak. “Awalnya aku berencana untuk berpisah dengan-mu setelah 1 bulan, tapi kurasa aku harus bertahan setidaknya 1 tahun denganmu. Ibumu benar-benar baik, aku tidak ingin mengecewakannya.” Aku memakan kimbab lagi. “Silakan saja kau terus bersikap seenaknya seperti sekarang. Itu akan jadi alasanku untuk berpisah denganmu. Aku akan berkata pada ibumu…bahwa aku telah gagal membuatmu menjadi anak yang lebih baik.”

Il Hoon mengepalkan kedua tangannya dan menatapku dengan tajam. “Aku akan membuat 1 tahun-mu ini seperti berada di neraka, Lee Min Ah sshi.”

Aku tertawa. “Kita lihat saja nanti, siapa yang akan jatuh ke dalam neraka lebih dulu.”

*****

 

Malam ini Mrs. & Mr. Jung mengundangku makan malam di rumah mereka. Demi menjaga ke-professionalan, sepertinya aku memang harus datang. Lagipula aku cukup menyukai Mrs. Jung dan Mr.Jung. Sikap hangat mereka mengingatkanku pada ayah dan ibuku.

Satu hal yang tidak kusukai dari undangan makan malam ini adalah…. Jung Il Hoon! Padahal aku sudah berharap dia tidak ikut makan malam. Kuharap ia punya jadwal bersama teman-teman BTOB-nya, tapi ternyata tidak.

Aku duduk di ruang makan keluarga Jung. Mrs.Jung sudah menyiapkan banyak sekali makanan, yang katanya dimasak sendiri oleh Mrs. Jung. Aku benar-benar menyukai masakan Mrs. Jung. Ibuku tidak bisa memasak. Aku juga tidak. Kami selalu memakan makanan yang koki pribadi kami hidangkan. Sepertinya Mrs. Jung tidak mempunyai koki. Dia bercerita padaku kalau ia memang hobi memasak sejak gadis.

Selama makan malam berlangsung, aku mengobrol banyak hal dengan Mrs. Jung. Wanita paruh baya itu sangat menyenangkan. Ia sangat ceria dan banyak bicara, sehingga aku tidak perlu merasa takut kehabisan bahan pembicaraan.

Mr. Jung sekali-sekali menanggapi obrolan kami, sementara itu Il Hoon terlihat bosan. Mrs. Jung kemudian bertanya pada Il Hoon tentang jadwalnya dan kegiatannya bersama BTOB. Il Hoon hanya menjawab seperlunya, dengan nada dingin dan cuek. Aku memelototi Jung Il Hoon. Anak ini! Dia punya ibu yang sangat baik, tapi kenapa sikapnya kasar begitu pada ibunya?!

Mrs. Jung kemudian membahas mengenai pesta pertunangan kami, yang akan diadakan 4 hari lagi. Aku berusaha menjawab dengan sopan, sementara itu Il Hoon masih terlihat cuek dan dingin.

Setelah selesai makan malam, aku pamit karena masih banyak pekerjaan menantiku. Mrs. Jung menasehatiku untuk menjaga kesehatan dan tidak terlalu banyak bekerja, tapi Mr. Jung hanya menepuk-nepuk pundakku, seolah ia mengerti.

Sungguh, seandainya tidak ada Jung Il Hoon, maka makan malam ini akan terasa sempurna! Aku mulai menghormati Mr. dan Mrs. Jung seperti aku menghormati ayah dan ibuku.

“Il Hoon, kau antar-lah Min Ah pulang.” Kata Mrs. Jung.

“Tidak usah, Mrs. Jung, aku membawa mobil.” Kataku.

Mrs. Jung menggenggam tanganku. “Tapi sekarang sudah malam, biarkan Il Hoon mengantarmu ya, nanti dia bisa pulang naik taksi.”

Aku tersenyum. “Tidak perlu, Mrs. Jung, aku sudah terbiasa menyetir sendiri di malam hari. Anda tidak usah khawatir.”

“Hati-hati Min Ah~ya…” Mrs. Jung memelukku. “Kuharap kau bisa segera memanggilku ibu.” Mrs. Jung tersenyum.

Aku hanya balas tersenyum tipis, lalu berpamitan pada Mr. Jung. “Hati-hati, Min Ah.” Katanya sambil menepuk pundakku. Aku mengangguk.

Ketika aku tiba di depan Il Hoon, aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Dia balas menatapku tajam. “Aku pulang.” Kataku dengan nada datar.

Il Hoon hanya menganggukkan kepala-nya satu kali. Tapi dia mengikutiku sampai ke depan.

Aku berjalan mendekati mobil-ku yang diparkir di halaman depan rumah keluarga Jung. Il Hoon hanya diam dan menatapku sampai aku masuk ke dalam mobil. Tanpa mengatakan apapun lagi, aku pun segera tancap gas dan pergi dari sana.

Aku masih bisa melihat Il Hoon yang berdiri di sana, lewat kaca spion mobil. Aku tidak tahu apakah itu memang manner yang ia miliki, atau hanya pencitraan sebagai anak baik saja di depan orang tua-nya. Aku menduga pencitraan saja.

*****

 

Keesokan harinya, setelah jam makan siang, aku mengadakan kunjungan ke salah satu mall milik Jung Group, ditemani oleh Mr. Park Tae Kyung, asisten pribadi Mr. Jung.

Mall milik Jung Group memang termasuk salah satu mall paling populer di Seoul, hampir sama populer-nya dengan mall milik Lee Group. Mall milik Lee Group jauh lebih populer karena kami menyediakan wahana permainan indoor yang sangat menarik bagi anak-anak dan remaja. Kami juga bekerja sama dengan brand-brand fashion luar negeri yang terkenal.

Sekarang mall milik Jung Group ini menjadi tanggung jawab-ku juga. Aku sudah memikirkan berbagai ide di kepalaku. Setelah hampir 1,5 jam, kunjunganku-pun akhirnya selesai. Mr. Park menawariku untuk memilih tas ataupun pakaian, tapi aku menolaknya. Belum pernah seumur hidupku, aku mengambil barang dari mall milik Lee Group secara gratis. Meskipun itu hanya sebuah permen, aku pasti membayarnya. Maka aku-pun tidak mau menerima barang gratis dari Jung Group.

Para pegawai membungkuk hormat begitu aku dan Mr.Park berjalan di sepanjang mall. Mr. Park baik hati mau mengantarku sampai ke lantai bawah. Tapi, sebelum mencapai lift, langkahku langsung terhenti begitu melihat sosok belakang seseorang yang kukenal. Jung Il Hoon! Dia sedang memilih tas bersama kedua orang temannya.

Kedua teman Il Hoon menyadari tatapanku dan Mr. Park pada mereka. Selain itu, di belakang kami ada beberapa orang pegawai dan security. Kedua teman Il Hoon itu menganggukkan kepalanya, seolah bisa menebak bahwa kami adalah pemimpin mall ini.

“Mr.Park, aku akan menemui temanku dulu.” kataku sambil menatap Il Hoon yang masih memunggungiku dan tidak menyadari kehadiranku. Il Hoon tampak asyik memilih tas branded terbaru.

Mr.Park mengamati kedua teman Il Hoon, lalu mengangkat sebelah alis matanya, seolah tak percaya aku berteman dengan kedua pria muda yang berdandan ala harajuku itu. Kedua teman Il Hoon juga hanya menatapku dengan bingung.

Aku tahu, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa Il Hoon adalah putra tunggal keluarga Jung. Aku bertaruh, bahkan kedua temannya itu pun tidak tahu. Tapi.., 3 hari lagi semua orang akan tahu, dan itu bukan salahku. Siapa suruh ayah dan ibu Il Hoon mengusulkan ide gila ini?!

Aku menyeringai, lalu berjalan mendekati Il Hoon. Mr.Park dan pegawai lain sudah pergi.

“Annyeong haseyo…” kedua teman Il Hoon membungkukkan badan mereka dengan sopan padaku.

“Nuna, aku sering melihat wajahmu di majalah bisnis milik ayahku.” Kata teman Il Hoon yang paling tinggi.

“Oh ya?” aku tersenyum ramah padanya.

Teman Il Hoon itu mengangguk dengan bersemangat. “Ayahku adalah fans berat Lee Min Ah nuna. Sepertinya mulai sekarang aku juga akan mengidolakan nuna.” Pria itu tertawa polos. Aku ikut tertawa.

“Aku Yook Sung Jae. Senang bisa bertemu denganmu, nuna.” Pria tinggi itu mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan balas menjabat tangannya yang besar,

“My name is Peniel.” Kata teman Il Hoon yang satunya lagi, yang berambut cokelat dan berwajah blasteran.

“Lee Min Ah.” Kataku. Aku juga membalas jabatan tangan Peniel yang hangat.

“Kau!” Il Hoon berjalan mendekati kami, tampak sangat terkejut melihatku. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Il Hoon dengan nada angkuh.

Aku menyeringai. “Tentu saja bekerja. Aku harus tahu kondisi mall ini yang sebenarnya seperti apa.” Kataku dengan dingin.

“Oh, apakah menyapaku termasuk dalam salah satu daftar pekerjaanmu hari ini?” Il Hoon menyeringai menyebalkan.

Aku mendengus. “Siapa bilang aku menyapamu?!”

Il Hoon tersenyum menyebalkan.

“Hyung, kau mengenal Min Ah nuna?” tanya Sung Jae. Il Hoon menatapku lama, lalu menatap Sung Jae sambil mengangguk dengan malas.

“Woaaahhh!!! Daebak! Aku tidak menyangka hyung berteman dengan pengusaha hebat pemimpin Lee Group.” Kata Sung Jae.

Aku hanya menatap Il Hoon sambil menyeringai. Jung Il Hoon, benar dugaanku, kedua temanmu ini tidak tahu siapa kau yang sebenarnya. Il Hoon menatapku dengan tajam, seolah yakin aku akan memberitahukan rahasia Il Hoon pada kedua temannya ini sekarang juga.

“Kalian belanja apa?” tanyaku pada Sung Jae dan Peniel, mengabaikan Il Hoon.

“Kami mencari hadiah yang pas untuk ulang tahun senior kami besok.” Kata Peniel.

Aku mengangguk. Menduga senior mereka itu adalah pria, karena mereka berada di section tas dan pakaian pria.

“Senior kalian itu seperti apa? Dandy? Casual?” tanyaku. Mungkin saja aku bisa membantu mereka memilihkan hadiah.

“Hmmm…, dia fashionista. Gaya-nya…., seperti apa gaya Lee Min Ho hyung ya?” Sungjae bertanya pada Peniel.

“Chic? Elegan? ” kata Peniel.

Aku tersenyum. Lee Min Ho? Senior mereka yang ulang tahun besok itu adalah sepupuku?

“Well, menurutku kalian harus membeli baju tidur dengan motif atau gambar binatang.” Kataku sambil tersenyum lebar.

“MWOOO???” Peniel dan SungJae terlihat kaget, begitupula dengan Il Hoon yang kini berada di dekat kami.

Il Hoon mendengus. “Kau pasti hanya ingin mempermalukanku, kan?! Mana mungkin aku memberi hadiah baju tidur untuk Min Ho hyung?!”

Aku mengangkat bahu-ku. “Terserah kalian. Aku hanya memberi saran.” Aku melirik jam tanganku, “Aku harus pergi.” Kataku pada Sung Jae dan Peniel, lagi-lagi mengabaikan Il Hoon. “Sampai jumpa besok malam.” Kataku pada mereka berdua, lalu segera berjalan pergi dari sana.

Aku menduga Sungjae dan Peniel memikirkan perkataanku, tapi Il Hoon pasti menganggap ide-ku tadi bodoh. Yah, biar sajalah! Aku kan lebih mengenal Min Ho Oppa dibanding mereka. Aku tahu, Min Ho Oppa sangat menyukai baju tidur bergambar binatang. Tapi kali ini aku tidak akan memberikannya hadiah itu lagi. Rasanya bosan sekali setiap tahun memberinya hadiah baju tidur dengan gambar-gambar binatang, mulai dari singa, kelinci, jerapah, kura-kura, kucing, dll. Seperti anak kecil saja!

Satu jam lagi aku harus meeting dengan pegawaiku, karena itulah aku menyetir dengan kecepatan tinggi. Aku tersenyum mengingat pertemuanku dengan Il Hoon di mall tadi. Tanpa kusadari, sikap menyebalkan Il Hoon telah membuatku sedikit terhibur di tengah-tengah rutinitasku yang padat dan monoton.

******

 

Aku tiba di rumahku pukul setengah sembilan malam. Perutku keroncongan, aku tidak sempat makan malam tepat waktu lagi. Tapi aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

Berendam air hangat, dengan berbagai wewangian aromaterapi memang bisa membuat pikiranku rileks kembali. Aku menghabiskan hampir 30 menit di bath-tub.

Setelah memakai piyama, aku pun menuju dapur dan melihat persediaan makanan. Koki keluarga kami tentu saja berada di New York bersama ayah dan ibuku. Ayah menyuruhku untuk merekrut koki baru untukku, tapi aku menolaknya. Selama 23 tahun, aku sudah terbiasa memakan masakan koki Jun. Aku tidak bisa mempercayai koki baru yang memasak hanya untukku. Lebih baik aku makan di luar atau memasak, meskipun hanya memasak ramyun.

Bukannya paranoid atau apa. Tapi bagaimana kalau koki baru yang belum terpercaya itu meracuniku? Bisa saja kan?!

Sebelum menyalakan kompor, ponselku berdering. Aku mengerutkan keningku. Siapa? Nomor-nya tidak tersimpan di kontak ponselku.

“Hallo.” Kataku datar dan tegas.

“Yah! Cepat keluar! Aku di depan pagar rumahmu!” kata sebuah suara yang akhir-akhir ini sering kudengar. Jung Il Hoon!

Samar-samar aku mendengar gonggongan Freddy, anjing golden retriever penjaga rumahku. Freddy sangat galak pada semua orang, bahkan pada pecinta anjing sekalipun. Ia hanya baik pada orang yang telah mengusap-usap perutnya. Tapi, sebelum itu terjadi, pasti Freddy sudah keburu menggingit tangan orang itu.

Freddy hanya baik dan menurut padaku, karena aku sudah mengurusnya sejak dia bayi. Ayah dan ibunya sekarang berada di rumah orangtuaku di New York.

Setelah memakai sweater, aku pun berjalan keluar rumah. Freddy masih menggonggong kea rah pagar. Il Hoon berdiri di samping mobilnya dan menatapku dengan tak sabar.

Aku mengelus-elus kepala Freddy dan mengusap perutnya dengan sayang. Freddy menjulurkan lidahnya, dan ia pun berhenti menggonggong. Aku membuka gembok pagar. “Ada apa?” tanyaku langsung.

Il Hoon masih menatap Freddy. “Anjing dan tuan-nya sama saja.” Kemudian ia menatapku dan memberikan sekotak kimchee padaku.

“Buatan ibuku. Seperti biasa, aku diminta jadi kurir.” Il Hoon memutar bola matanya dengan bosan.

Aku sangat menyukai masakan Mrs. Jung, karena itulah aku menerimanya dengan senang hati. Tanpa kuduga, Il Hoon memfotoku dengan kamera ponselnya.

“YAH!!” bentakku. “Kenapa kau memfoto-ku?!”

“Untuk bukti pada ibuku kalau aku sudah mengantarkan pesanannya.” Il Hoon pun sepertinya mengirimkan foto itu pada ibunya lewat kakao talk.

Aku mendengus. “Dasar aneh! Ibumu pasti sangat tidak mempercayaimu ya?” kataku sinis.

“Mwo?” tapi Il Hoon terlalu konsentrasi pada ponselnya.

“Aku akan mengembalikan tempatnya besok atau lusa.” Kataku, lalu berbalik, hendak masuk lagi ke dalam, tapi Il Hoon menahan tanganku.

“Ibuku bilang.., tempatnya harus dikembalikan langsung.”

“Mwo?” aneh-aneh saja! Pasti Mrs. Jung tidak mau tempat makan ini aku isi dengan makanan lagi untuknya. Sepertinya Mrs. Jung memang bukan tipe orang yang mengharapkan budi-nya di balas. Tapi aku merasa tidak enak padanya, sudah 2 kali Mrs. Jung membuatkanku makanan. Aku harus mengiriminya kue, meskipun bukan buatanku.

Aku mengangguk. “Masuk.” Kataku.

Il Hoon mematung. “Aku tunggu di sini saja.” Sudut matanya melihat kea rah Freddy yang menyalak dua kali.

Aku tertawa. “Kau takut anjing? Wow!”

“Hanya pada anjing itu. Dia seperti mau memakanku.”

Aku tertawa terbahak-bahak. Freddy menjulurkan lidahnya sambil menyeringai menampakkan gigi-gigi tajam-nya, seolah ikut menertawakan Il Hoon.

“Pabo! Mana ada anjing yang memakan manusia! Ada juga beberapa manusia yang memakan anjing.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu masuk ke dalam. Il Hoon menutup pagar, seolah takut Freddy mendekatinya. Aku tertawa lagi. “Tenang saja, dia diikat.” Kataku.

Setelah memindahkan Kimchee buatan Mrs. Jung, mencuci tempatnya, aku pun kembali ke luar rumah dan mendekati Il Hoon yang berada di dalam mobil.

“Ini. Sampaikan terima kasihku pada Mrs. Jung.” Kataku sambil menyerahkan kotak makan itu.

Il Hoon menyeringai. “Kau tidak berterima kasih padaku karena telah menghabiskan banyak bensin dan juga waktuku untuk datang kemari?!”

Aku membungkukkan badanku. “Terima kasih, Tuan Kurir pengantar makanan.” Aku tersenyum melihat Il Hoon yang tampak kesal.

Selama beberapa saat Il Hoon hanya menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu ia menyeringai. “Kau lebih cocok memakai piyama daripada baju kerja.”

“Mwo?”

 “Kau terlihat konyol sekali di foto ini.” Il Hoon menunjukkan ponsel-nya padaku. Di foto itu aku memang terlihat konyol. Wajahku yang tanpa make-up menatap kamera dengan ekspresi kaget. Belum lagi aku memakai piyama dan memegang kotak makan di depan pagar.

“Terlihat seperti anak hilang! Hahahahaa…” Il Hoon terbahak-bahak.

“YAH! Hapus foto itu!”

“Tidak mau!” Il Hoon menjulurkan lidahnya. “Kalaupun di hapus, ibuku sudah terlanjur punya foto ini. Sudah kukirimkan.” Kilasan flash kamera membuatku tersadar kalau saat ini Il Hoon mengambil fotoku lagi.

“YAAHHH!!!!!” teriaku.

Il Hoon menyeringai puas. “Annyeong.” Ia pun menutup kaca mobilnya dan melaju dengan kencang.

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Jung Il Hoon!!! Awas kau ya! Lihat pembalasanku nanti!

Freddy menggonggong di belakangku, seolah bisa mengerti kalau saat ini aku sedang kesal. Aku berjongkok dan mengelus-elus kepala Freddy. “Freddy, lain kali, kalau pria tadi datang lagi ke sini…, kau harus menggigit kaki-nya! Arraseo?!”

“Guk….guk..guk..”

*****

 

Keesokan malam-nya, di pesta ulang tahun Min Ho Oppa…..

Sial! Aku datang terlambat gara-gara ada masalah di kantor! Aku melirik jam tanganku. Sudah terlambat 1 jam. Pasti sekarang sudah mulai acara buka-buka kado, atau mungkin belum? Yah, apapun itu, kuharap Min Ho Oppa tidak marah padaku.

Akhirnya, pukul 9 malam, aku pun tiba di salah satu hotel milik ayahku. Pesta-nya diadakan di ballroom lantai paling atas. Cepat-cepat aku naik lift menuju lantai 26.

Aku satu lift dengan sekelompok gadis cantik yang tersenyum padaku. Aku balas tersenyum, meskipun aku tidak tahu siapa mereka, tapi sepertinya girlband rookie. Pesta ulang tahun Min Ho Oppa memang dihadiri banyak sekali selebrtis, musisi, sutradara, dan rekan-rekan kerja serta teman-teman sekolah Min Ho Oppa dulu. Tidak ada wartawan, dan penjagaan di depan pintu masuk ballroom-pun sangat ketat.

Semua tamu diperiksa, kecuali aku tentunya, karena security sudah mengenalku. Aku tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam ballroom tanpa pemeriksaan.

Ballroom dihias dengan sangat cantik dan meriah. Banyak sekali tamu yang hadir. Seorang penyanyi hip-hop sedang tampil di atas panggung. Sebagian tamu undangan menari, dan sebagian lagi makan sambil mingle.

Min Ho Oppa berdiri di antara tumpukkan kado. Aku memegang erat-erat kado-ku untuknya. Jam tangan yang sama dengan Il Hoon. Gara-gara jam tangan ini , aku jadi harus berdebat tidak penting dengan Il Hoon.

“Nunaaaaa!!!!” Sungjae melambaikan tangannya padaku dari kejauhan. Ia sedang makan bersama member BTOB, termasuk Il Hoon – yang menatapku dengan dingin. Aku balas melambaikan tanganku pada Sungjae, dan terus saja berjalan mendekati Min Ho Oppa.

“Barbieee!!! Kau kemana saja? Aku menunggumu sejak tadi.” Min Ho Oppa langsung memelukku dan mencium kedua pipiku.

“Oppa!” tukasku. Semua orang kini melihat ke arah kami. Untung saja tidak ada paparazzi di sini, sehingga apa yang Min Ho Oppa lakukan tidak akan ter-ekspos keluar.

“Happy birthday, Oppa.” Aku tersenyum manis dan menyerahkan kado-ku untuknya.

Min Ho Oppa tersenyum lebar. “Woaaahhh…, terima kasih, Barbie.” Matanya berbinar-binar bahagia. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil itu.

“Hyung, selamat ulang tahun.” Lima orang pria mendekati kami, sambil memberikan kado berukuran besar.

Min Ho Oppa langsung memasang tampang cool-nya lagi. “Terima kasih Doojoon, Gikwang, HyunSeung, Yeosob, Junhyung.” Min Ho Oppa tersenyum ramah pada mereka sambil menerima kado-nya.

“Maknae tidak bisa datang, hyung.” Kata pria yang berwajah imut.

Mata kelima namja itu tertuju padaku. Min Ho Oppa masih merangkul bahu-ku dengan sebelah lengannya.

“Yeojachingu baru ya, hyung?” tanya namja bernama Gikwang.

Min Ho Oppa hanya tertawa. Aku berkata cepat. “Aku bukan pacar-nya.” Kataku. Min Ho Oppa menarikku lebih dekat. “Dia Barbie.”

Kelima namja itu tersenyum penuh arti pada kami, lalu berjalan untuk mengambil makanan.

Aku melepaskan lengan Min Ho Oppa dari pundakku. “Oppa. Sebaiknya kau beritahu mereka kalau aku adalah sepupumu.”

“Tidak mau. Tidak asyik.” Min Ho Oppa nyengir lebar.

“Min Ho~ya.., Min Ah~ya…” kata sebuah suara yang kukenal.

“Seung Gi Oppa!!!!” pekikku senang. Sudah lama aku tidak bertemu dengan saudara jauh-ku itu. Kakeknya adalah kakak dari almarhum kakek-ku.

Seung Gi Oppa memelukku dan Min Ho Oppa. “Selamat ulang tahun, man! Cepat dapat pacar baru!” mereka berdua pun tertawa.

“Min Ah.., kenapa kau tidak pernah mengunjungiku setibanya di Seoul?” Seung Gi Oppa menampakkan aegyo-nya.

Aku tertawa. “Mian hae, Oppa…”

Ternyata tamu-tamu masih berdatangan. Aku dan Seung Gi Oppa pun memutuskan untuk makan, sementara Min Ho Oppa menyambut tamu-tamunya.

“Sebentar lagi giliranku nyanyi.” Kata Seung Gi Oppa. “Kau juga naik ke panggung ya! Kita nyanyi untuk Min Ho.”

“Mwo???” aku membelalakkan mataku lalu tertawa. “Tidak ah, Oppa saja. Aku tidak bisa nyanyi. Hehehe.” Seung Gi Oppa nyengir sambil mengacak-acak rambutku.

Saat Seung Gi oppa naik ke atas panggung, aku hanya berdiri di pinggir ruangan sambil meminum wine. Warna wine ini sangat cocok dengan warna gaun-ku.

Seung Gi Oppa menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan beberapa lagu kesukaan Min Ho Oppa. Aku tersenyum saat Seung Gi Oppa melambaikan tangannya padaku.

Beberapa orang melihat ke arahku. Mungkin mereka menebak-nebak apa hubunganku dengan Min Ho Oppa dan Seung Gi Oppa. Hanya sedikit yang tahu kalau kami bertiga bersaudara.

Tanpa kuduga, Jung Il Hoon mendekatiku. “Ternyata kau memang mengenal Min Ho hyung. Kalian terlihat dekat. Jangan-jangan dia pacarmu? Apa dia sudah tahu kalau pacar-nya yang haus kekuasaan ini mengkhianatinya demi perusahaan?” Il Hoon menyeringai.

Aku hanya tertawa dan tidak berniat menjawab pertanyaan sinis-nya. Sung Jae dan Peniel mendekati kami. Aku banyak mengobrol dengan mereka berdua dan mengabaikan Il Hoon.

Setelah Seung Gi Oppa selesai menyanyi, Min Ho Oppa naik ke atas panggung dan memberikan beberapa sambutan untuk para tamu. Kini saatnya Min Ho Oppa membuka beberapa kado secara random.

Min Ho Oppa berjalan turun dari panggung, mendekati tumpukkan hadiah, sambil membawa mic. Sudah kuduga, Min Ho Oppa memegang kado-ku lebih dulu!

“Kado pertama yang kubuka dari Lee Min Ah. Thanks Barbie.” Min Ho Oppa mengedipkan sebelah matanya padaku. Sung Jae, Peniel, Il Hoon, dan beberapa orang lainnya menatapku.

“Wow… aku suka sekali jam tangan ini.” Min Ho Oppa mengagumi jam tangan yang kuberikan padanya. Aku bisa merasakan tatapan Il Hoon menusuk punggungku. Sepertinya malam ini Il Hoon juga memakai jam tangan yang sama.

Il Hoon berbisik di telingaku. “Ternyata jam tangan itu untuk pacarmu ya. Apa reaksinya nanti kalau ia tahu calon tunanganmu juga memiliki jam yang sama?”

Aku mengabaikan Il Hoon dan berjalan mendekati Min Ho Oppa, karena Min Ho Oppa memintaku memakaikan jam tangan itu di lengannya.

Setelah memakaikan jam tangan itu, Min Ho Oppa pun memelukku. Orang-orang bersorak sorai, dan beberapa berkata “cium…cium…”

Aku membelalakkan mataku. Mereka semua pasti menganggap kami pacaran! Aku tidak mau di kemudian hari orang-orang memiliki pemikiran negative tentangku. Apalagi 2 hari lagi adalah “pertunangan-ku” dengan Il Hoon.

Aku meraih mic yang dipegang Min Ho Oppa dan segera berkata. “Lee Min Ho Oppa adalah sepupuku. Maaf membuat kalian kecewa.” Aku tersenyum manis. Min Ho Oppa juga tersenyum lebar, lalu mencium pipiku.

“Kado yang ke-2…, aku pilih secara acak…hmmm.., yang ini.” Min Ho Oppa meraih sebuah kado berukuran sedang.

“Itu kado dari kita, Peniel!” kata Sung Jae heboh. “Bagaimana kalau Min Ho hyung tidak suka?” Sung Jae menepuk jidatnya.

Aku berjalan kembali ke posisiku semula dan menepuk pundak Sungjae. “Tenang saja. Oppa pasti menyukainya.”

“Nuna!!!!” Sung Jae nyengir dengan senang. “Ternyata kau sepupunya Min Ho hyung ya?!”

“Woaaahhh!!!! Daebakkkkk!!!!!! Aku sangat suka kado ini. Tapi kenapa tidak ada nama pengirimnya?” Min Ho Oppa mengangkat dua buah piyama bergambar tupai dan musang.

Sungjae dan Peniel menatapku tak percaya. “Hyung benar-benar menyukainya…”

Aku mengangguk. “Apa kubilang!”

“Barbie! Ini bukan kado darimu kan? Hanya kau yang tahu kalau aku sangat menyukai piyama bermotif binatang.” Kata Min Ho Oppa dari jauh. Ia berbicara lewat speaker.

Aku menggeleng, lalu menunjuk Sungjae dan Peniel dengan kedua jari telunjukku.

“Peniel! Sungjae! Gomawoooo.” Min Ho Oppa nyengir lebar. Sungjae dan Peniel tersenyum dan saling ber-high-five ria.

Min Ho Oppa membuka 2 kado lagi, sebelum akhirnya diadakan acara games. Sungjae dan Peniel mengikuti games berdansa dengan balon. Tentu saja mereka berpasangan. Dasar PenJae!

Il Hoon duduk bersama member BTOB yang lain, sementara aku masih berkeliling ke stand-stand makanan. Aku sangat menyukai semua makanan yang disajikan. Aku berhenti di depan pancake strawberry. Tiba-tiba saja teringat Geun Suk Oppa. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengambil makanan itu.

Aku duduk bersama Seung Gi Oppa dan beberapa sutradara yang pernah bekerja sama dengan Min Ho Oppa. Games masih berlangsung. Kali ini games-nya adalah memecahkan balon dan mengikuti perintah yang tertulis di kertas yang ada di dalam balon itu.

Lima belas menit kemudian, games di-pause, dan diselingi oleh penampilan video ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman Min Ho Oppa yang tidak bisa hadir malam ini.

Park Shin Hye eonni, Kim Jae Joong Oppa, Song Jong Ki Oppa, dan masih banyak lagi teman Min Ho Oppa yang mengucapkan selamat ulang tahun di layar. Red velvet-ku habis. Aku berdiri dan hendak mengambil segelas wine, ketika tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat kurindukan.

Kontan aku berbalik dan melihat wajah Geun Suk Oppa di layar. Ia tersenyum dengan senyuman khas-nya. Ia mengucapkan selamat ulang tahun untuk Min Ho Oppa. Mataku tiba-tiba saja memanas. Wajah dingin yang berubah hangat saat tersenyum itu, senyuman khas-nya yang terlihat polos dan tanpa beban, suara berat-nya yang merdu, aku benar-benar merindukan Geun Suk Oppa!

PRAAAANGGGG!!!

Tanpa sadar, aku menjatuhkan gelas wine yang kupegang. Sebagian orang melihat ke arahku, sebagian lagi tidak karena tidak mendengar pecahan gelas, terlalu fokus pada layar di depan.

Aku berjongkok dan mengambil serpihan gelas yang besar. “Hentikan!” tanpa kuduga, Il Hoon sudah berjongkok di hadapanku. Aku tidak menuruti perkataannya dan terus saja meraih serpihan gelas. Il Hoon memukul lenganku agak keras. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya dengan kesal. Aku lupa seharusnya aku tetap menunduk agar Il Hoon tidak bisa melihat air mataku.

Il Hoon memegang kedua lenganku dan memaksaku berdiri. Tak lama, pelayan membersihkan serpihan kaca dan wine yang mengotori lantai.

“Pabo! Kau menangis hanya karena memecahkan segelas wine?” kata Il Hoon sambil tersenyum menyebalkan. “Ternyata kau cengeng juga ya, Lee Min Ah sshi.”

Aku hanya menatap Il Hoon dengan tajam. Sama sekali tidak memedulikan ucapannya. Mataku menatap layar. Geun Suk Oppa baru saja selesai menyanyikan lagu happy birthday untuk Min Ho Oppa, sebelum akhirnya bertepuk tangan dan meniup lilin. Aku menghembuskan nafas panjang. Kini layar menampilkan Lee Kwang Soo Oppa.

Il Hoon menatapku curiga. Aku menghindari tatapannya, dan segera berjalan mendekati Seung Gi Oppa. Min Ho Oppa menatapku dari depan. Ia terlihat khawatir. Aku tersenyum padanya.

Hhhhh, Geun Suk Oppa, kapan aku bisa bertemu denganmu lagi? Dua hari lagi.., semua kebohonganku akan dimulai. Akankah kau mempercayaiku, Geun Suk Oppa?

 

–          TBC –

 

 

 

 

 

8 thoughts on “I Don’t Know Why (Chapter 2)

  1. kyaaaa miann miii baru baca

    waduhhh pengen buru2 geun suk muncul!!!! pasti cetarr hahhahahha

    penjae~ ecieee mreka brdua cucok /salah fokus/

    aaa ilhoonn~~~ lucu nian dirimu dengan gaya arogan mu

    lanjutt mii.. penasaran pas ntar mreka ngumumin pertunangan haha

    • iya N.., aku nge-ship PenJae banget deh…, tp sekarang Il Hoon suka deket2 Sung Jae.. *hush Il Hoon! pergi sana! ke Min Hyuk aja. jangan ganggu PenJae!* LOL LOL LOL

      Tenang….Geun Suk bakal segera muncul. wkwkwkwk…

      gomawo N udah baca ^^

  2. Oh my god, mataku langsung terbelalak baca salah satu nama undangan yang ditulis author.
    song joong ki,😀
    thank’s yah Author, uda buat nama oppaku di sana🙂

  3. Pingback: I Don’t Know Why (Chapter 3) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s