I Don’t Know Why (Chapter 1)

Title                            : I Don’t Know Why

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts                 : Lee Min Ah (OC), Jung Il Hoon (BTOB), Jang Geun Suk

Support Casts            : Lee Min Ho, BTOB, and Beast members

Genre                         : romance, family, friendship

Length                        : series

Rating                         : PG+15

Summary                   : Lee Min Ah (23 thn) adalah salah satu businesswoman muda yang paling sukses di Asia. Sejak kecil, Min Ah sudah menjalani kehidupan yang keras dan disiplin sebagai penerus Lee Group. Sejak dulu dunia Min Ah berbeda dengan gadis cilik lainnya. Di saat gadis lain menikmati masa muda mereka, Min Ah harus berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Saat usia-nya 17 tahun, Min Ah harus meninggalkan Korea demi mempertahankan perusahaan ayah-nya. Ia rela melepaskan satu-satunya orang yang paling berharga baginya, Jang Geun Suk. Setelah 6 tahun berlalu, akhirnya Min Ah berhasil membuat perusahaan ayahnya bertahan dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Tapi apa yang akan terjadi bila presdir Jung Group yang merupakan salah satu saingan terberat Lee Group memohon pada Min Ah untuk menggabungkan perusahaan mereka? Di saat Jung Group bersedia mengikuti segala peraturan Lee Group, akankah Min Ah menyetujui ide merger kedua perusaahaan ini? Jung Group bersedia berada di bawah kendali Min Ah, tapi bagaimana bila presdir Jung Group memberikan Min Ah 1 syarat? Dan syarat itu adalah…, menikahi putra satu-satunya sang Presdir, Jung Il Hoon, seorang idol populer yang usia-nya 4 tahun lebih muda dari Min Ah. Apa yang akan Min Ah lakukan? Masalah semakin rumit ketika Min Ah tahu ternyata Jung Il Hoon dan Jang Geun Suk memiliki ibu yang sama.

 

 Image

Pepatah bilang…, di saat kau tidak tahu apa alasanmu mencintai seseorang, maka itu adalah pertanda bahwa kau benar-benar mencintai orang itu.

 

 

Chapter 1

 

Seoul, Korea Selatan….

Aku menghirup udara Seoul dalam-dalam. Tidak terasa sudah 6 tahun aku meninggalkan Seoul. Aku rindu aroma musim panas Seoul. Aku rindu ramyun dan tteokpoki favoritku. Dan aku rindu Jang Geun Suk. Mantan pacar-ku.

Aku menatap billboard besar bergambar Jang Geun Suk yang sedang mempromosikan sebuah merk kosmetik. Di billboard itu Geun Suk Oppa tersenyum dengan senyuman khas-nya, terlihat sangat bahagia. Aku ikut tersenyum. Tapi dadaku tiba-tiba saja terasa sesak. Aku sangat merindukan senyuman Geun Suk Oppa yang seperti itu. Senyuman yang dulu selalu mewarnai hari-hariku yang membosankan.

Aku tahu, aku bukanlah gadis yang baik bagi Geun Suk Oppa. Aku memutuskannya secara sepihak. Aku meninggalkannya dan pergi ke Amerika. Tapi semua itu kulakukan setelah kupikirkan matang-matang.

Sejak kecil aku sudah terbiasa mengesampingkan ego dan perasaan pribadiku demi perusahaan ayahku, Lee Group. Maka ketika aku dihadapkan pada pilihan antara Geun Suk Oppa dan Lee Group, tentu saja aku lebih memilih Lee Group meskipun saat itu hatiku terasa mati.

Dulu aku sangat mencintai Geun Suk Oppa, dan sampai sekarang-pun masih. Tapi dulu aku tidak mungkin memilih Geun Suk Oppa dan menkhianati ayah dan ibuku. Di dunia ini mereka hanya memiliki aku. Kalau bukan aku yang membahagiakan ayah dan ibuku, lalu siapa lagi?

Aku tahu IQ-ku jauh diatas rata-rata anak se-usia-ku. Aku tahu, 6 tahun yang lalu…. aku bisa membantu ayahku mempertahankan perusahaannya. Meskipun 6 tahun yang lalu aku harus mengkhianati perasaanku sendiri, tapi semua itu terbayarkan kini. Saat ini Lee Group semakin berkembang pesat dan menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh di Asia.

Aku menghembuskan nafas panjang. Sekali lagi aku menatap billboard Geun Suk Oppa. “Bagaimana kabarmu, Oppa? Aku tahu kau pasti membenciku, tapi aku masih sama seperti dulu. Aku mencintaimu. Selalu.”

Supir-ku datang. Aku pun berjalan menuju sedan hitam-ku dan duduk di kursi penumpang.

Aku menatap jalanan Seoul yang cukup padat sore ini. Lagi-lagi aku menghembuskan nafas berat. Sejak dulu aku tahu, jalan yang kupilih ini tidaklah mudah. Di satu sisi aku bahagia karena ayah dan ibuku bahagia. Mereka bisa menikmati hidup mereka dengan nyaman tanpa perlu memikirkan perusahaan. Tapi di sisi lain, aku merasa lelah dan bosan. Selama 24 jam, setiap detik, hidupku selalu terpusat pada perusahaan.

Kemudian aku berpikir, apakah orang sepertiku layak untuk merasakan cinta? Karena sepertinya dulu pun aku tidak layak untuk dicintai oleh Geun Suk Oppa. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa dulu Geun Suk Oppa bisa mencintaiku dan tahan berada di dekatku?

Aku bukan pacar yang baik. Aku tidak pernah menghabiskan malam minggu-ku berdua dengan Geun Suk Oppa. Selama 3 tahun kami pacaran, selalu saja Geun Suk Oppa yang menemuiku ditengah-tengah jadwal-nya yang padat sebagai aktor dan penyanyi. Sejak dulu aku selalu sibuk belajar dan mengurus perusahaan. Karena itulah aku tidak memiliki teman. Aku terlalu serius, pendiam, dan terlalu pintar untuk anak seusiaku.

Aku masih ingat, pertama kalinya aku bertemu dengan Geun Suk Oppa adalah saat usiaku 13 tahun. Saat itu sekolahku kedatangan selebriti terkenal, yang sudah menjadi aktor dan penyanyi sejak usia-nya 5 tahun, Jang Geun Suk.

Saat itu Geun Suk Oppa 16 tahun. Aku akui, saat itu ia memang sangat charming dan menarik. Tapi di dalam otak-ku sama sekali tidak pernah terpikirkan kata “pacaran”. Aku selalu yakin bahwa aku akan jatuh cinta dan menikah di usia 35 tahun. Sejak kecil aku sudah tahu bahwa hidupku berbeda dengan gadis cilik lainnya. Saat Geun Suk Oppa datang ke sekolahku pun, aku sedang membaca text book bisnis yang tebalnya melebihi novel Harry Potter favorit Min Ho Oppa, sepupu-ku.

Saat itu semua murid dikumpulkan di gymnasium. Geun Suk Oppa menyanyi beberapa buah lagu, tapi aku tidak memperhatikannya dan malah lebih fokus membaca, sedangkan semua anak perempuan di sekolahku menjerit histeris. Lalu, di saat sesi quiz, Geun Suk Oppa meminta 3 orang murid untuk maju ke panggung. Tanpa kuduga, guru matematika-ku menarikku ke panggung dengan paksa. Tapi saat itu aku senang karena ternyata quiz yang diadakan oleh Geun Suk Oppa banyak sekali pertanyaan seputar pelajaran. Tentu saja aku bisa menjawab semuanya!

Tapi, di saat Geun Suk Oppa mengajukan pertanyaan seputar dirinya, seperti film apa yang sedang ia bintangi saat itu, aku hanya bisa melongo, speechless. Mana aku tahu!

“Kau tidak tahu?” mata Geun Suk Oppa membulat, terlihat tak percaya. “Jangan-jangan kau juga tidak tahu siapa namaku.” Geun Suk Oppa tersenyum.

“Jang Geun Suk.” Kataku sambil menunjuk papan nama kecil yang tersemat di dada-nya. Geun Suk Oppa hanya tertawa. Matanya yang sipit terlihat seperti bulan sabit. Lesung pipitnya, cara ia tertawa, semua itu membuatku berpikir ‘Pria ini lumayan. Meskipun dia tidak se-tampan sepupuku, tapi ia punya daya tarik sendiri’.

Tanpa kusadari, mungkin saat itu aku sudah mulai merasakan ketertarikan padanya. Tapi aku adalah Lee Min Ah. Di dalam kamusku, tidak ada kata selain “belajar…belajar….dan belajar!”

Setelah acara itu selesai, aku tidak tahu darimana Geun Suk Oppa mendapatkan nomor ponselku. Yang pasti bukan dari teman-temanku. Aku menduga…mungkin ia bertanya pada kepala sekolah! Tapi aku curiga pada Mr.Song, guru matematika-ku yang telah menarikku dengan paksa ke panggung.

Geun Suk Oppa selalu mengirimiku message. Dia juga selalu meneleponku, meskipun nada bicaraku di telepon sangat tidak bersahabat. Kebanyakan aku hanya menjawab : “Hmm. Oke. Belum. Tidak. Ya.”

Harus kuakui dia pria yang gigih. Meskipun saat itu aku tidak tahu apa yang membuatnya tertarik pada gadis aneh sepertiku. Aku tahu, aku memang cantik dan pintar. Tapi sifat-ku tidaklah menyenangkan. Aku adalah tipe orang yang sanggup tidak berbicara selama 1 bulan dan hidup seorang diri.

Setelah 6 bulan, barulah sikapku pada Geun Suk Oppa agak melunak. Alasannya simple. Saat itu aku tak sengaja bertemu dengannya di Hongdae. Ketika hendak menyebrang jalan, di sebrang aku melihat Geun Suk Oppa membantu seorang nenek tua memunguti belanjaannya yang terjatuh, dan membantu nenek itu menyebrang jalan. Saat itu Geun Suk Oppa memakai topi fedora lebar, kacamata hitam, dan masker – untuk menghindari fans dan paparazzi. Tidak akan ada yang bisa mengenalinya, tapi aku bisa. Aku bahkan bisa mengenali sosok belakang orang asing yang baru 1 kali kutemui! Yah, bersyukurlah pada otak-ku yang bisa mengingat segalanya dengan jelas.

Saat itu aku merasa kagum padanya. Ia yang seorang artis populer, yang memiliki segalanya di dunia ini, tapi masih mau membantu seorang nenek tua! Bahkan aku ragu, bila aku berada di posisinya, akankah aku membantu nenek tua itu? Apalagi saat itu Geun Suk Oppa terlihat seperti sedang menghindari kejaran wartawan. Terlihat dari gesture tubuh-nya.

“Kau mau makan pancake strawberry, Oppa?” tanyaku saat Geun Suk Oppa tiba di sebrang jalan, setelah membantu nenek tua itu menyebrang.

Geun Suk Oppa terlihat terkejut. “Min Ah~ya.., bagaimana kau?”

Aku tersenyum. “Tentu saja aku tahu. Aku adalah Lee Min Ah. Tidak ada yang tidak kuketahui. Ayo.”

Sejak saat itulah, persahabatan kami yang unik dimulai. Itu adalah pertama kalinya aku memiliki seseorang selain Min Ho Oppa untuk kuajak berbagi pikiran. Aku heran bagaimana mungkin Geun Suk Oppa bisa membuatku mempercayainya hanya dalam waktu singkat?!

Geun Suk Oppa sering datang ke sekolahku dengan menyamar tentunya, di saat ia tidak memiliki jadwal syuting. Ia juga sering datang ke rumahku dan ke perusahaan ayahku, bila aku sedang berada di perusahaan.

Geun Suk Oppa dan sepupuku, Lee Min Ho, seumuran. Min Ho Oppa juga memiliki cita-cita untuk menjadi aktor, dan saat itu Min Ho Oppa masih menjadi model majalah. Mungkin karena impian mereka berdua sama, dan karena mereka se-umur itulah, Geun Suk Oppa dan Min Ho Oppa menjadi akrab.

Setelah 1 tahun mengenal Geun Suk Oppa, akhirnya kami berdua resmi pacaran. Kalau dipikir-pikir lagi, “resmi”-nya kami pacaran juga agak aneh.

Saat itu, ketika aku merayakan ulang tahunku yang ke-14 di sebuah hotel mewah, Geun Suk Oppa datang bersama Min Ho Oppa. Aku senang mereka berdua datang, karena pesta ulang tahun yang diadakan oleh ayahku itu sangat membosankan! Tamu yang hadir hanyalah tamu-tamu ayahku, para pengusaha dan keluarga mereka. Makanya aku merasa senang sekali Geun Suk Oppa bisa hadir.

Aku tahu Geun Suk Oppa sangat menyukai pancake strawberry, karena itulah aku meminta pelayan untuk menyiapkan dessert itu di pesta-ku.

“Cheesecake strawberry, strawberry milkshake, pudding strawberry, pancake strawberry…, kenapa semua makanan dan minuman yang kusukai ada di pesta-mu ya?” Geun Suk Oppa tersenyum lebar dengan senyuman khas-nya. Saat ia bersikap cool, ia bisa tampak sangat dingin dan sombong, tapi saat ia tersenyum seperti itu…ia terlihat seperti anak kecil yang polos.

“Seseorang membuatku menyukai semua makanan itu gara-gara setiap hari dia memesan makanan itu.” Kataku dengan nada datar.

Geun Suk Oppa mengangkat sebelah alis matanya, lalu tertawa. “Baguslah.” Ia mengangguk. “Tapi kenapa kau bisa berubah jadi menyukai semua makanan itu, sedangkan kau tidak bisa berubah menyukai aku?” Geun Suk Oppa tersenyum.

“Kau? Menyukaiku?” tanyaku, dengan nada serius.

Geun Suk Oppa tertawa lagi. “Hmm. Sejak dulu aku menyukaimu. Lalu setelah satu tahun ini…, entah kenapa aku semakin menyukaimu.” Geun Suk Oppa menatapku dalam-dalam.

“Kenapa?” tanyaku. “Kenapa kau menyukaiku? Kau bisa mendapatkan gadis manapun yang kau mau. Lagipula aku masih 14 tahun. Aku menyebalkan, dingin, sok pintar.”

Geun Suk Oppa tertawa. “Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Geun Suk Oppa meraih piring kecil berisi pancake ice cream strawberry, lalu tersenyum. “Terima kasih pancake-nya…” Geun Suk Oppa pun makan dengan lahap sambil tersenyum lebar. “Aku senang kau jadi menyukai pancake strawberry.”

Aku mengerutkan keningku. “Oppa, apakah menurutmu alasan aku bisa menyukai pancake ini adalah karena aku menyukaimu?”

“Kau menyukaiku?” tanya Geun Suk Oppa tak percaya, tapi nada suaranya terdengar penuh harap.

“Mungkin. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku senang karena kau selalu bisa membuatku tersenyum, Oppa. Aku senang karena kau tahan berada di sampingku dan tidak melarikan diri karena sifat-ku yang jelek.”

Geun Suk Oppa tertawa terbahak-bahak. Ia mengacak-acak rambutku. Aku tidak protes. Aku bukanlah anak perempuan yang terlalu mementingkan penampilan.

“Kalau begitu…, bagaimana kalau kau coba mencari tahu?” kata Geun Suk Oppa. Aku mengerutkan keningku. Geun Suk Oppa masih memasang senyuman khas-nya. “Hmmm.., kita mulai date kita besok? Bagaimana?”

“Date?”

Geun Suk Oppa mengangguk. “Kencan. Kita mulai kencan kita besok. Kau bisa mencari tahu apakah kau menyukaiku atau tidak. Aku akan memberimu waktu 6 bulan. Selama 6 bulan kau harus memutuskan apakah kau menyukaiku atau tidak. Bagaimana?”

“Kedengarannya boleh juga. Tapi Oppa, kenapa kau terdengar begitu yakin kalau aku akan menyukaimu?”

Geun Suk Oppa tersenyum. “Karena aku akan berusaha sekeras tenaga untuk membuatmu menyukaiku, Lee Min Ah sshi.”

 

 

Aku menghela nafas panjang dan berat, entah untuk yang ke-berapa kalinya. Aku masih bisa mengingat setiap detail kejadian dan percakapan antara aku dan Geun Suk Oppa, ketika aku berusia 13 tahun sampai 17 tahun.

Ya, otak-ku yang kelewat pintar kadang menguntungkan, tapi kadang merugikan. Salah satu kerugiannya adalah.., aku masih bisa mengingat dengan jelas…, pertemuan terakhir antara aku dan Geun Suk Oppa.

Aku bahkan masih ingat, pertemuan terakhir kami, 6 tahun lalu, Geun Suk Oppa memakai syal yang kubuat untuk-nya saat ia ulang tahun yang ke-19. Itu adalah pertama kalinya aku membuat sesuatu untuk orang lain. Aku tahu syal itu sangat jauh dari sempurna, tapi Geun Suk oppa selalu memakainya saat cuaca dingin.

Otak-ku bisa mengingat jelas bagaimana raut wajah terluka Geun Suk Oppa 6 tahun yang lalu saat aku memutuskan hubungan kami. Saat aku memberitahunya bahwa selama 3 tahun itu ternyata aku tidak benar-benar mencintai-nya. Tentu saja saat itu aku berbohong. Aku tidak mungkin membiarkan Geun Suk Oppa terus menungguku dalam waktu yang tidak pasti.

Aku bukannya tidak percaya dengan hubungan jarak jauh, tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku tahu, selama menjadi pacar Geun Suk Oppa pun aku bukanlah pacar yang baik, apalagi bila kami harus berpacaran jarak jauh! Aku tidak ingin karir Oppa terganggu karena hubungan kami. Aku tahu, meskipun awalnya berat bagi Geun Suk Oppa, tapi lebih baik bila kami putus. Ia bisa fokus pada karir-nya sebagai aktor, dan aku pun bisa fokus pada perusahaan ayah-ku.

Mungkin karena otak-ku bisa mengingat dengan jelas, maka hati-ku pun bisa merasakan dengan jelas bagaimana tersiksa-nya aku saat itu. Perasaanku sekarang masih sama seperti saat kami berpisah dulu. Rasanya seperti antara hidup dan mati. Kau tahu bahwa kau masih hidup, tapi hidupmu bukan lagi milikmu. Tapi kau juga tahu bahwa kau belum mati, karena kau bisa merasakan sakit yang luar biasa menyesakkan di dadamu.

Tapi seperti sudah kukatakan sebelumnya, bila aku harus memilih antara ego-ku dan keluargaku, tentu saja aku lebih memilih keluargaku. Enam tahun lalu, keluargaku membutuhkanku. Ayahku membutuhkanku di USA, untuk membantunya mempertahankan perusahaannya dari kebangkrutan. Bagaimana mungkin aku bersikap egois terhadap ayah dan ibuku?!

Tapi aku hanyalah manusia. Manusia selalu merasa tidak puas. Manusia selalu merasa menyesal. Manusia selalu berandai-andai.

Seandainya 6 tahun lalu aku lebih memilih Geun Suk Oppa, akankah aku lebih bahagia dibanding saat ini?

Hhhhh.., ya, aku memang hanya manusia biasa. Tapi aku berusaha untuk mengendalikan emosi-ku. Aku harus kuat, apapun yang terjadi. Aku adalah satu-satunya harapan ayah dan ibuku.

Mobil berhenti di depan gedung utama Lee Group. Aku turun dari mobil dan segera disambut oleh para pegawai.

Aku tahu, aku baru saja tiba dari bandara. Tidak seperti gadis lain, tempat yang pertama kali kudatangi bukanlah rumah sahabat ataupun rumah pacar, melainkan gedung perusahaan!

Ayah dan ibuku masih tinggal di USA. Aku kembali ke Seoul untuk mengurus beberapa perusahaan Lee Group di sini.

Lee Group bergerak di bidang pariwisata dan pendidikan. Kami punya banyak hotel dan resort di Korea, Jepang, Hongkong, USA, Singapura, Thailand, dan Perancis. Kami juga punya  beberapa mall di Korea dan China. Di bidang pendidikan, kami memiliki sekolah menengah internasional di SuWon, Busan, dan Seoul.

Saingan kami tentu saja banyak. Tapi di Korea, saingan terberat kami adalah Jung Group. Mereka memiliki bidang usaha yang sama dengan kami. Selama 3 tahun ke belakang ini kami bersaing ketat di sector perhotelan dan mall.

Sekretaris pribadi-ku memberitahuku beberapa meeting penting dengan manager-manager divisi, para investor, dan pertemuan tahunan para pengusaha Korea. Aku memang sudah memutuskan, se-tibanya aku di Seoul, aku akan langsung mulai bekerja. Karena itulah aku meminta sekretarisku mengaturkan jadwal untukku begitu aku tiba.

Aku berjalan masuk ke ruang kerja-ku dan terkejut karena begitu aku membuka pintu, seseorang sudah berada di sana.

“Min Ho Oppa!!!!” pekikku senang.

Sekretarisku, Mr.Han, tersenyum hangat padaku dan pergi meninggalkan kami berdua.

“Aigoo~~ sudah kuduga kau akan langsung datang kemari.” Min Ho Oppa memelukku dengan erat.

Aku senang bisa bertemu lagi dengan sepupu kesayanganku itu. Min Ho Oppa sudah menjadi aktor yang sangat terkenal. Aku bangga sekali padanya. Ia bisa mewujudkan salah satu impiannya sejak kecil.

“Kau tidak ada jadwal, Oppa?” tanyaku.

Min Ho Oppa mengangkat bahu. “Aku mengundur beberapa jadwal yang tidak terlalu mendesak demi Barbie-ku.”

Aku tertawa. Meskipun terdengar cheesy, tapi aku sangat merindukan panggilan konyol Min Ho Oppa untukku itu. Ya, sejak kecil Min Ho Oppa selalu memanggilku Barbie. Padahal aku sama sekali tidak terlihat seperti Barbie! Awalnya itu hanyalah olok-olok Oppa untukku karena saat TK aku sangat benci boneka Barbie. Aku menggunduli rambut Barbie dan menenggelamkan Barbie-nya di bak mandi. Jadilah Min Ho Oppa mengolok-olokku dengan panggilan Barbie, agar aku menangis. Tapi aku tidak pernah menangis karena olokkannya.

Saat kecil, aku dan Min Ho Oppa lebih terlihat seperti musuh. Kami saling mengolok-olok. Bertengkar setiap kali kami bertemu. Tapi tidak bisa melewatkan sehari saja tanpa saling mengejek.

Barulah saat usia Min Ho Oppa 10 tahun, aku 7 tahun, kami mulai akur. Mungkin karena kami sama-sama anak tunggal, jadi kami sangat dekat. Mulai saat itu panggilan “Barbie” jadi tidak terdengar jelek lagi di telingaku.

“Kosongkan semua jadwalmu malam ini.” Kata Min Ho Oppa.

Aku tertawa. “Oppa, gaya bicaramu dan kalimat yang kau pilih persis seperti gaya bicara-mu pada salah satu drama yang kau mainkan.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk. “Hmm. Kau mungkin tidak ingat, tapi aku ingat. Jangan bicara seperti itu lagi. Kalau pegawaiku melihatmu, mungkin mereka akan berpikir aku adalah pacarmu.”

Min Ho Oppa nyengir lebar. Ia merangkul bahuku dengan sebelah lengannya. “Biarkan saja! Hanya sekretaris pribadimu itu kan yang tahu aku adalah sepupumu? Ayo kita kencan!”

Aku mendorong bahu Min Ho Oppa. “Aku tidak mau fans-fansmu mengira aku benar-benar pacarmu, Oppa. Aku bisa mati!”

Min Ho Oppa terbahak-bahak. “Yah! Dulu kau bisa pacaran dengan Geun Suk sembunyi-sembunyi, kenapa sekarang kau harus takut dikira pacaran dengan sepupumu sendiri?”

Aku langsung terdiam. Min Ho Oppa berdehem. “Sorry, Barbie…. Aku tidak bermaksud….”

“Kau sering bertemu dengannya, Oppa?” potongku.

“Tidak juga. Aku semakin sibuk dengan syuting drama dan movie. Dia juga sekarang sibuk di Jepang dengan album Jepang-nya.”

Aku mengangguk dan tersenyum tipis. “Kau mau makan apa, Oppa? Kali ini aku yang traktir. Tapi kau harus men-traktirku nonton film midnight malam ini.”

Min Ho Oppa tertawa dan langsung merangkul-ku lagi. “Tentu, Barbie. Aku senang kau kembali. Kau tidak tahu kan betapa aku sangat merindukanmu.”

Lagi-lagi aku tertawa karena kata-kata cheesy-nya. “Oppa, kau punya wig? Aku mau kau menyamar nanti. Aku tidak mau ambil risiko. Kau kan sangat terkenal sekarang. Beda dengan dulu. Kalau perlu…kau menyamar jadi wanita saja.”

“Andwaeeeee!!!!!!! Tidak mauuuuu!!!!” Min Ho Oppa merengek.

Aku hanya terbahak-bahak, lalu menggeleng-gelengkan kepalaku. Seandainya fans Min Ho Oppa melihat ini, mereka pasti akan terkejut. Min Ho Oppa yang terlihat cool dari luar, aslinya bisa bersikap sangat childish. Tapi bagiku.., Min Ho Oppa adalah sepupuku yang paling manja dan sweet. Oh, paling cheesy juga.

“Aku juga sangat rindu padamu, Oppa.” Kali ini aku-lah yang memeluk Min Ho Oppa.

Min Ho Oppa tersenyum. “Welcome back, barbie.”

******

 

Bagiku, Seoul dan New York tidak ada bedanya. Setiap hari waktuku dihabiskan hanya untuk perusahaan. Sabtu dan minggu bukanlah hari yang kunanti-nantikan, karena bagiku kedua hari itu sama saja dengan hari lainnya.

Meskipun Min Ho Oppa selalu datang ke rumahku dan ke kantor-ku di saat ia punya waktu kosong, tetap saja tidak ada bedanya. Pernah suatu hari Min Ho Oppa merasa sangat kesal padaku karena aku mengabaikannya. Ia bercerita padaku tentang drama terbaru yang akan segera ia bintangi, Heirs. Ia bercerita soal tawaran drama itu, tentang artis-artis lain yang masih dalam tahap seleksi, dan juga menariknya cerita itu. Saat Min Ho Oppa bercerita, aku terlalu fokus pada pekerjaanku. Ia merasa sangat kesal dan pergi begitu saja dari rumahku.

Padahal, meskipun aku terlihat tidak memperhatikan, sebenarnya aku memperhatikan. Ya, tapi salahku juga karena aku lebih fokus pada pekerjaanku dibanding Min Ho Oppa. Sebentar lagi ulang tahun Min Ho Oppa. Aku berencana untuk membelikannya sesuatu yang sangat special, sebagai permintaan maaf.

Malam ini, Jung Il Woo, yang merupakan presiden direktur sekaligus pemilik Jung Group mengundangku makan malam di restoran miliknya. Jujur saja aku agak terkejut dengan undangannya tersebut.

Kami adalah saingan berat. Aku memang pernah mengalahkan Jung Group tahun lalu. Profit yang Lee Group peroleh tahun lalu lebih besar dari Jung Group, tapi tahun ini kami seimbang dan bersaing ketat sampai akhir tahun nanti. Jung Group memiliki basis yang sangat kuat di bidang tour and travel. Di bidang perhotelan dan mall, kami saling berlomba menjadi yang terbaik, tapi di bidang pendidikan Lee Group jauh lebih unggul.

Aku datang tepat waktu ke restoran milik Wu Group di daerah Gangnam. Aku memakai gaun putih yang simple dan elegan, dengan high heels perak. Aku bisa bergaya sesuai suasana. Aku tidak membenci maupun tidak menyukai jenis fashion tertentu. Yang terpenting bagiku adalah aku bisa memakai kostum yang tepat sesuai dengan acara yang kuhadiri.

Jung Il Woo, pria berusia 50 tahun yang masih terlihat gagah dan tampan itu menyambut kedatanganku. Nyonya Jung Soo Yeon juga tersenyum ramah padaku. Aku balas tersenyum professional, menjabat tangan Mr. dan Mrs.Jung, lalu duduk di hadapan mereka. Kami makan malam di ruangan private, ruangan VVIP.

Aku sangat terkejut dengan perlakuan hangat dan manis dari mereka berdua. Selama ini, Mr.Jung tidak pernah memperlakukanku dengan hangat. Setiap ada acara pertemuan para pengusaha di seluruh Asia dan dunia, Mr.Jung selalu menatapku dengan sinis dan menganggapku saingan terberat-nya.

Tapi malam ini…, mereka memperlakukanku dengan sangat baik, seolah aku adalah anak mereka. Sikap mereka mengingatkanku pada ayah dan ibuku di New York.

Setelah memakan hidangan utama, kami mulai memakai hidangan penutup. Aku masih tidak tahu ke mana arah pembicaraan Mr.Jung dan Mrs.Jung. Sejak tadi mereka menanyakan hal random. Mulai dari keluargaku di New York, kuliahku yang sudah selesai sampai S3, hobiku, makanan favoritku, teman-temanku, masa kecilku. Satu hal yang pasti, aku tahu mereka sangat tertarik dengan diriku. Aku. Lee Min Ah. Bukan Lee Group! Mereka tidak membahas bisnis lebih dalam. Kupikir mereka ingin tahu bocoran tentang rahasia berkembang-nya perusahaanku dengan sangat cepat. Tapi ternyata mereka hanya bertanya seputar diriku.

Barulah, kalimat Mrs.Jung selanjutnya membuatku mulai menduga-duga. “Ibumu bilang….saat ini kau sedang single.”

Oke, aku baru tahu ternyata ibuku dan Mrs.Jung membicarakan tentang statusku. Kupikir selama ini mereka berdua terlihat seperti saingan, seperti musuh dan bukannya teman. Aku tersenyum tipis dan mengangguk. “Saya lebih mengutamakan perusahaan daripada kehidupan cinta saya. Saya masih 23 tahun, belum saatnya saya memikirkan cinta.” Kataku dengan nada agak bercanda, membuat Mr dan Mrs.Jung tertawa.

Mrs.Jung meraih tanganku dan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya yang hangat. “Lee Min Ah sshi, aku selalu ingin memiliki anak perempuan sepertimu.” Mrs.Jung tersenyum lembut dan ke-ibuan.

Well, sekarang dugaanku benar. Tidak mungkin mereka memintaku menjadi anak adopsi mereka. Aku sudah besar, dan aku mandiri. Aku bahkan jauh lebih mandiri dari orang-orang se-usiaku. Jadi, dugaanku itu ternyata memang tepat. Sebentar lagi Mrs. Jung pasti akan memintaku menjadi menantu-nya. Hhhh, ini bukan yang pertama. Saat di USA pun, beberapa Nyonya dan Tuan besar pemilik perusahaan terkenal memintaku menjadi menantu mereka. Tapi aku selalu menolaknya.

Mana mungkin aku mau menerima perjodohan! Sejak dulu aku hanya mencintai Jang Geun Suk Oppa. Lebih baik aku tidak menikah sampai aku tua dan mati daripada harus menikah dengan pria yang tidak kucintai!

“Lee Min Ah sshi, kami hanya memiliki anak tunggal, dan hanya sedikit orang yang tahu dia adalah anak kami.” Mrs. Jung tersenyum. Aku terus saja mendengarkannya untuk menjaga kesopanan, meskipun aku sudah tahu apa jawabanku nanti. Tidak. Tentu saja jawabanku adalah TIDAK.

“Il Hoonie tidak mau teman-temannya memandang bakat-nya sebelah mata karena ia anak kami. Ia ingin bersinar dengan caranya sendiri.” Mrs. Jung masih tersenyum lembut, menceritakan anak sematawayang-nya.

“Il Hoonie anak yang baik dan berbakat. Saat ini ia sudah debut menjadi penyanyi bersama grup-nya. Tentu saja aku sangat bangga padanya. Tapi.., bohong kalau aku berkata… aku akan mendukung-nya 100% di dunia idol. Aku ingin.., Il Hoon tidak hanya fokus pada hobi dan mimpi-nya, tapi aku juga ingin ia memikirkan masa depannya. Semua orang tahu, dunia idola tidaklah kekal. Setelah ia tidak muda lagi, semua orang akan melupakannya. Aku ingin Il Hoon mulai memikirkan perusahaan dan masa depannya yang lebih matang.” Mrs. Jung menghela nafas, lalu kembali bercerita.

“Saat ini Il Hoon baru saja lulus senior high school. Di saat teman-teman sekelasnya masuk ke universitas, Il Hoon malah berkata bahwa ia tidak perlu belajar hal yang tidak ia sukai lagi. Ia hanya mau fokus pada karir-nya sebagai penyanyi.” Raut wajah Mrs. Jung terlihat sedih. Mr. Jung memegang bahu-nya, memberi kekuatan.

“Aku ingin Il Hoon bisa bersikap lebih dewasa dan bertanggung jawab. Aku ingin ia membagi waktu-nya dengan perusahaan. Aku tidak mungkin memintanya keluar dari dunia idol, tapi setidaknya…aku ingin ia membagi dua waktunya. Tapi aku tidak pernah berhasil.” Mrs. Jung menatap suaminya.

Kini giliran Mr. Jung yang berbicara. “Kami sangat mengagumi-mu, Lee Min Ah sshi. Kami ingin agar kau membantu kami merubah sikap Il Hoon agar menjadi lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab. Karena itulah.., kami memikirkan cara ini. Aku sudah berbincang dengan ayah dan ibumu, mereka berkata semuanya terserah padamu, Min Ah sshi.”

Mrs. Jung membelai tanganku. “Menikahlah dengan Il Hoon, Min Ah sshi.”

Tanpa bisa kucegah, aku tertawa keras. “Maafkan aku, Tuan dan Nyonya Jung.” Aku berhenti tertawa dan kembali serius. “Pertama, aku tidak mungkin menikah dengan anak Anda yang masih dibawah umur…”

“Dia sudah 19 tahun.” Potong Mr. Jung.

Aku mengangguk. “Ia lebih muda 4 tahun dariku, dan menurutku ia masih dibawah umur untuk menikah. Aneh sekali bila aku menikah dengannya, maka akan terasa seperti menjaga seorang bayi. Aku bukan babysitter, dan maafkan aku karena aku tidak bisa membantu Anda untuk merubah sikap anak Anda.”

“Yang ke-2, menikah bukanlah target utama-ku saat ini. Yang terpenting bagiku saat ini hanyalah perusahaan. Aku benar-benar minta maaf, Mr. Jung.., Mrs. Jung..” Aku menundukkan kepalaku sekilas, lalu menatap mereka lagi. “Dan yang ke-3, aku tidak mungkin menikah dengan pria yang tidak kucintai.”

Mrs. Jung tersenyum padaku, tapi sorot matanya terlihat sedih. “Aku tahu kau pasti akan menolaknya, Min Ah sshi. Aku sudah mendengar bahwa di luar sana selain kami pun banyak para orangtua yang meminta-mu menjadi menantu mereka, tapi kau selalu menolak mereka.”

Mr. Jung menatapku dengan yakin. “Karena itulah.., kami akan memberikan sebuah penawaran untukmu. Bagi kami.., masa depan Il Hoon lebih penting daripada perusahaan.” Mr. Jung dan Mrs. Jung saling tatap.

“Lee Min Ah sshi, kalau kau menikahi anak kami, maka aku akan memberikan kekuasaanku padamu.” Kata Mr. Jung lagi.

“Mwo???” aku membelalakkan mataku, kaget.

“Jung Group akan berada di bawah pimpinan-mu. Kita akan menggabungkan perusahaan kita, dan semuanya berada di bawah pimpinan-mu.”

Aku menyeringai. “Anda pasti bercanda, Jung Il Woo sshi.”

Mr. Jung menggeleng. “Aku serius. Dan aku tidak akan menarik lagi kata-kataku barusan. Jadi, apa keputusanmu?” tanya Mr. Jung serius.

Mrs. Jung menatapku penuh harap. “Kami bisa merelakan apa saja demi Il Hoonie. Kami berharap, bila ia menikah denganmu…, maka ia akan menjadi pria yang lebih baik. selain itu.., aku juga sangat menyukaimu, Lee Min Ah sshi. Aku sangat iri pada Lee Shin Ae sshi dan Lee Jin Ki sshi karena memiliki anak sepertimu. Aku ingin kau juga menjadi anakku.” Mrs Jung tersenyum lembut.

Aku hanya terdiam dan menatap pasangan itu dengan tatapan tak percaya. Ini adalah hal tergila yang pernah kualami seumur hidupku!

Saat ini semuanya terasa berada di dalam genggaman tanganku. Ya, bergabung dengan Jung Group, apalagi sekaligus menjadi pemimpin Jung Group akan membuat Lee Group menjadi perusahaan raksasa yang tidak akan terkalahkan di seluruh dunia. Jiwa bisnis-ku mengatakan YA! AMBIL KESEMPATAN INI!

Tapi.., aku berpikir lagi…, ini ide gila! Syarat-nya gila! Kenapa aku harus menikahi seorang bocah dan mengasuhnya seperti baby-sitter?! Aku harus membuatnya masuk kuliah, mengurusi perusahaan ayahnya, membuat sikapnya lebih baik. Pasti putra keluarga Jung adalah remaja pemberontak yang susah diatur, sampai-sampai orangtua mereka rela menyerahkan perusahaan mereka yang sangat berharga pada saingan terberat mereka!

Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin menikah dengan pria yang tidak kucintai, terlebih lagi umurnya masih sangat muda. Tapi ini demi perusahaan. Demi ayah dan ibuku. Apakah kali ini aku bisa berkorban lagi? Tapi ini menikah! Aku ingin menikah adalah momen special yang terjadi sekali se-umur hidupku. Meskipun aku mencintai perusahaan ayahku, tapi aku tidak ingin menikah karena perusahaan.

Kemudian otak-ku mulai menganalisis berbagai keuntungan yang akan Lee Group dapatkan. Tawaran ini sangat menggoda. Seandainya aku tidak mencintai Jang Geun Suk Oppa, maka aku pasti akan menerima tawaran menggiurkan ini, meskipun aku harus tahan dengan seorang bocah 19 tahun!

“Maafkan aku, Mr. Jung.., Mrs. Jung.., sepertinya aku tidak bisa menerima tawaran Anda. Menikah…, kata-kata itu sangat membebaniku.” Aku tersenyum sopan.

Mrs. Jung menggeleng. “Kalian tidak perlu menikah dalam waktu dekat. Kalian bertunangan dulu saja dan saling mengenal lebih dulu. Bagaimana, Min Ah sshi? Tawaran kami hanya berlaku satu kali, dan aku sangat berharap kau menyetujui tawaran kami ini. Meskipun di saat kau menerima tawaran kami ini, aku tahu pasti… bahwa kau menerima-nya karena perusahaan. Tapi di masa depan.., aku benar-benar berharap kau bisa mencintai Il Hoonie dan menganggapku ibumu sendiri.”

Otak-ku berputar keras. Ya aku tahu. Aku adalah seorang idiot bila melewatkan kesempatan emas ini! Tapi perasaanku…, aku menggeleng kuat-kuat. Bukankah sejak dulu aku bisa mengesampingkan perasaanku demi perusahaan?!

Lagipula.., bukankah kami bisa bercerai nanti? Yang paling penting adalah… perusahaan.

Aku memejamkan mataku selama beberapa saat, menghirup oksigen dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu menatap suami istri Jung dengan yakin. “Baiklah. Aku menerima tawaran Anda. Aku akan segera memanggil ahli hukum-ku, dan mulai besok kita akan membicarakan merger perusahaan kita, Mr. Jung.”

Mr. Jung tersenyum lebar dan menjabat tanganku. Mrs. Jung memelukku sambil menitikkan air mata. Mengapa ia sangat terharu? Aku melakukan ini bukan demi anaknya, tapi demi perusahaanku.

Mrs. Jung mengeluarkan foto anak-nya. “Ini.., ini foto Il Hoon. Dia tampan, bukan? Aku sangat ingin melihat Il Hoon sering tersenyum seperti ini..”

Aku melihat selembar foto. Well, dia memang lumayan tampan. Di foto itu ia tidak terlihat seperti anak pembangkang dan keras kepala. Ia terlihat sweet dan charming.

 Image

Oke, Jung Il Hoon, sepertinya mulai saat ini aku akan menjadi baby-sitter-mu, demi perusahaanku.

Mungkin aku harus sedikit bersyukur juga karena anak Tuan dan Nyonya Jung masih sangat muda, sehingga aku yakin…aku pasti tidak akan jatuh cinta padanya, dan ia juga pasti tidak akan jatuh cinta pada seorang nuna berdarah dingin sepertiku. Hal ini akan mempermudah kami nantinya. Setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan demi perusahaanku, aku akan bercerai dengannya.

Oh Tuhan! Aku tidak pernah membayangkan kejadian ini akan menimpaku! Rasanya aku seperti tokoh protagonist yang berubah menjadi antagonis dalam sebuah film!

*******

 

 

Keesokan hari-nya, setelah selesai fitness di ruang kerjaku (ya, aku punya sebuah ruangan khusus berisi peralatan fitness di ruang kerjaku karena aku terlau malas untuk pergi ke gym) – aku pun menyempatkan diriku untuk membeli kado ulang tahun untuk Min Ho Oppa.

Aku sudah bercerita tentang penawaran Mr.Jung pada ayah dan ibuku. Seperti dugaanku, mereka sangat senang dengan keputusanku. Tapi aku belum bercerita pada Min Ho Oppa. Entahlah, aku punya feeling ia akan memarahiku. Jadi, mungkin aku tidak akan cerita padanya.

Aku menyetir dengan kecepatan sedang. Aku masih belum terbiasa menyetir di Seoul. Meskipun aku mengingat semua jalan di Seoul, tapi tetap saja Seoul yang sekarang berbeda dengan Seoul 6 tahun lalu.

Lagi-lagi aku melihat papan reklame bergambar Geun Suk Oppa. Kali ini ia mempromosikan sebuah ponsel. Dulu, Geun Suk Oppa pernah menjadi grand ambassador Lee Group bersama Min Ho Oppa. Tapi sejak 6 tahun yang lalu, aku meminta ayahku memakai selebriti lain, Lee Seung Gi Oppa, yang merupakan saudara jauh kami.

Aku menghela nafas panjang. Meskipun sekarang nomor ponsel-ku sudah ganti, tapi aku tahu dari Min Ho Oppa katanya Geun Suk Oppa masih memakai nomor yang sama. Tentu saja dengan otak-ku yang cerdas, aku masih mengingat nomor ponsel Geun Suk Oppa. Tapi.., aku tidak memiliki keberanian untuk meneleponnya.

Aku sampai di sebuah toko jam tangan yang menjual berbagai jam tangan merk dunia yang sangat terkenal dan langka. Ya, aku memutuskan untuk membelikan Min Ho Oppa jam tangan. Kuharap ia suka dengan pilihanku.

Toko itu cukup sepi. Hanya ada 4 orang pria ber-jas rapi dan 2 orang wanita yang melihat-lihat model terbaru jam tangan.

Aku tiba di deretan jam tangan limited edition. Aku tidak mau memberikan barang kebanyakan untuk ulang tahun Min Ho Oppa.

Mataku langsung tertuju pada sebuah jam tangan asal Swiss : Louis Moinet Meteoris. Dilihat dari namanya, sepertinya jam tangan ini sangat unik. Harga-nya memang cukup mahal, 4 juta dollar. Tapi aku langsung jatuh cinta pada jam tangan itu.

 Image

Sebelum aku sempat bertanya pada pelayan mengenai jam tangan itu, tiba-tiba saja ada seorang pria yang berdiri di sampingku dan berbicara cukup lantang kepada pelayan. “Permisi, aku beli jam tangan ini. Tolong dibungkus sekarang juga.” Ujar pria itu dengan arogan.

“Tidak! Aku duluan yang akan membeli jam tangan ini. Tolong bungkus untukku.” Aku tersenyum pada pelayan.

Pria di sampingku menoleh padaku sambil menyeringai. Aku mendengus. Apa-apaan pria ini?! Dia pikir dia siapa, hah?! Malam-malam begini ia memakai kacamata hitam. Gaya berpakaian-nya juga agak aneh. Aku menduga ia masih berumur belasan tahun.

“Hey, adik kecil! Aku sudah lebih dulu mengincar jam tangan ini kemarin. Tapi aku baru sempat datang lagi dan membelinya hari ini.” Kata pria itu.

“Mwo? Adik kecil?” aku mendengus. Pria itu hanya menatapku di balik kacamata hitam-nya. Kemudian aku melihat baju yang kukenakan. Benar juga. Aku masih memakai pakaian fitness-ku. Rambutku yang panjang kuikat seperti ekor kuda. Lagipula saat ini aku hanya memakai sepatu sport dan bukannya high heels 10 cm yang biasa kukenakan di kantor, sehingga tinggiku yang hanya 164 cm membuatku terlihat seperti anak kecil disamping pria tinggi aneh ini!

“Maaf, tapi aku bukan adik kecil. Dan aku bisa membayar jam tangan ini 2 kali lipat dari harga asli-nya.” Aku tersenyum sinis.

Pria itu tertawa terbahak-bahak. Aku mengerutkan keningku. Mengapa cara ia tertawa terasa tidak asing ya?

“Yah! Aku juga bisa! Memangnya apa yang kau ketahui tentang jam tangan ini?” pria itu menyeringai. Aku hanya terdiam. Pria itu menyeringai puas, lalu kembali bicara. “Kau pasti tidak tahu kan kalau jam tangan ini terbuat dari batu luar angkasa?! Jam ini terbuat dari material yang tidak akan kau temui di bumi. Tourbillon Rosetta Stone….serpihan planet Merkurius. Turbillon Moon …serpihan bulan. Turbillon Mars…serpihan planet Mars. Kau tahu apa itu turbillon? Itu adalah nama mekanisme anti gravitasi yang tertanam di jam ini. Mekanisme itu bisa meningkatkan akurasi juga.” Pria itu mengakhiri kuliah panjang lebar-nya dengan seringaian menyebalkan.

Aku hanya tertawa tanpa ekspresi. Meskipun pria ini terlihat pintar, tapi ia sangat menyebalkan dan sok tahu!

“Aku tidak peduli dengan sejarah jam tangan ini. Yang pasti, jam tangan ini aku yang akan membelinya!” tukasku tegas.

“Aku bisa membelinya dengan harga 3 kali lipat. Kau pasti tidak akan bisa.” Kata pria itu percaya diri.

Aku menyeringai. “Aku bisa membelinya dengan harga 100 kali lipat. Tapi aku bukan seorang idiot yang akan menghabiskan milyaran dollar hanya untuk sebuah jam tangan.”

Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gaya menyebalkan. “Oooh.., jadi kau anak konglomerat ya..” nada bicara pria itu terdengar meremehkan.

“YAH!” bentakku. “Aku lebih mandiri daripada kau! Aku tidak mengandalkan uang ayahku. Memangnya kau siapa?”

Pria itu tertawa keras. “Kau tidak tahu siapa aku?”

Aku mendengus lagi. “Dilihat dari gaya berpakaian-mu….Paling kau hanya seorang idol rookie. Enam tahun yang lalu aku tidak pernah melihat selebriti angkuh sepertimu.”

“Kau tahu gwiyeomi player?” tanya pria itu.

“Mwo? Gwiyeomi? Apa itu gwiyeomi player? Terdengar sangat konyol!”

“Hahahaha.., YAH! Kau hidup di planet mana, hah? Sampai-sampai kau tidak mengenal BTOB dan Jung Il Hoon!”

“Jung Il Hoon?” otak-ku langsung merespon nama tersebut.

Pria itu menyeringai. “Rupanya kau kenal aku. Kau fans-ku? Oke, karena sekarang aku sedang baik hati, maka aku akan memberikan tanda tanganku untukmu.”

“Mwo? HAHAHAHA. Jangan harap!” Aku menyilangkan kedua lenganku di dada. “Jadi, kau adalah Jung Il Hoon?” Aku menatap pria itu dengan tatapan yang tak kalah angkuh-nya. “Lepaskan kacamata-mu!” perintahku.

“Mwo? Kau berani memerintahku?!” pekik Il Hoon, kemudian ia tersenyum. “Ooh, aku tahu.., kau pasti mau ber-foto dengan wajahku yang tampan. Benar kan?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku menghadapi pria bocah ini. “YAH! Jung Il Hoon! Kau tidak tahu siapa aku?”

“Kau? Kau fans-ku kan?” Il Hoon tersenyum meremehkan. Ia membuka kacamata hitam-nya dan menatapku dengan tajam. “Ayo, kau mau memotret wajahku?”

“Oooh.., ternyata kau memang benar Jung Il Hoon. Bocah 19 tahun yang sering membangkang pada orangtua-nya. Yang tidak mau menuruti apa kata orang tuanya. Yang egois karena lebih mementingkan dirinya sendiri dibanding orangtua-nya.” Aku menyeringai.

Wajah Il Hoon terlihat syok. “Kau… siapa kau sebenarnya?”

Aku tersenyum. “Aku? Aku Lee Min Ah. Mungkin nanti orangtua-mu akan memberitahumu hal yang mengejutkan. Tapi kuperingatkan kau dari sekarang, Il Hoon sshi, sebaiknya kau menuruti semua perkataanku kalau kau ingin hidupmu tenang dan tidak menderita.”

“Tunggu! Kau mirip dengan perempuan yang ibuku kirimkan fotonya padaku….” Il Hoon melihat ponselnya. Sepertinya ia membandingkan foto di ponsel dengan wajahku. Kemudian mulutnya membuka lebar. “Lee Min Ah?” Il Hoon terlihat sangat kaget.

Aku menyeringai. “Rupanya orangtua-mu sudah cerita.”

Mata Il Hoon masih membelalak. Seolah tak mempercayai kenyataan yang terjadi di hadapannya.

Il Hoon kembali menampakkan senyuman arogan-nya yang menyebalkan. “Hohoho…, jadi kau adalah nuna yang sangat haus kekuasaan itu ya?” Il Hoon mengangguk. “Hey nuna, kuperingatkan kau…., hidupmu pasti akan menderita mulai detik ini. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil alih perusahaan ayahku.”

Aku tersenyum. “Benarkah? Apa yang akan kau lakukan, anak pintar?” Aku menatap Il Hoon dengan sinis. “Sayangnya aku jauh lebih pintar darimu, Jung Il Hoon sshi.”

Kami berdua saling tatap dengan laser glare andalan kami. Para pelayan mencoba memisahkan kami, menarik kami berdua ke sisi yang berlawanan.

“Tuan…Nona.., kalian tidak perlu memperebutkan jam tangan ini. Di seluruh dunia ini hanya ada 10 barang, dan kami beruntung karena punya 2.” Kata seorang pria botak berpakaian rapi, yang sepertinya adalah kepala pelayan di toko ini.

Tatapan mematikan aku dan Il Hoon beralih pada pelayan itu. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” kataku dan Il Hoon bersamaan, sambil menggertakkan gigi kami. Kesal.

Aku dan Il Hoon saling tatap lagi dengan penuh kebencian. Jung Il Hoon, kita lihat saja nanti.., siapa yang akan menderita? Aku? Tidak mungkin! Kau-lah yang akan menderita.

 

–          TBC –

 

 

 Image

3 thoughts on “I Don’t Know Why (Chapter 1)

  1. miii.. aku dah baca dr tadi malem di hp dan pas komen kuotanya pas abis kayaknya -_- #curhat

    okesip ulang koment hehhehe… oyaaa sukaa ttp suka ama Ilhoon, walo dia aga2 arogan (?) gimana *di ff ini jg* hahahha tapi gwiyeomi playernya udah terlanjur bikin aku suka

    wkwkkwkk~~~ pengen tau jadinya gimana kalo mreka jadi tunangan apalagi nikah, tenang ajahh Ilhoonie ama Min Ah~ aku ama Dae juga beda 4 tahun tapi baek2 aja (?) /digampar key

    lanjuttt ya miii🙂

  2. Pingback: I Don’t Know Why (Chapter 3) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s