My Heart, Mind, and Soul (Chapter 1)

Title                 : My Heart, Mind, and Soul

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts      : Jo Min Young (OC), Yook Sung Jae (BTOB), Kim Woo Bin,

Support Casts : Jo Young Min (Boyfriend), Jo Kwang Min (Boyfriend), Kim Hyun Joong (SS5O1), Min Hyuk (BTOB),  Il Hoon (BTOB), Zelo (B.A.P), Lee Jong Suk, and the other idols

Genre              : romance, family, friendship

Rating             : PG+15

Length             : Series

Summary        : Tidak banyak perempuan yang bisa memberikan kesempatan kedua kepada kekasihnya yang berselingkuh, tapi Jo Min Young bisa, karena Min Young sangat mencintai Kim Woo Bin dan sudah bersama dengannya selama 10 tahun. Lalu bagaimana bila Woo Bin mengulangi kesalahan yang sama? Akankah Min Young memberikan kesempatan ke-3?  Apa yang terjadi bila adik satu ayah Min Young, Jo Twins, yang terkenal sering membuat keonaran dan kekacauan mencoba mencarikan Min Young kekasih? Akankah si kembar berhasil? Dan apa yang terjadi bila Kakak satu ibu Min Young, Kim Hyun Joong, juga mencoba mencarikan Min Young kekasih?

 

                Image       

 

Terkadang kita hanya harus lebih mendengar apa kata hati dibandingkan pikiran kita untuk menemukan belahan jiwa kita.

 

Chapter 1

 

@Incheon International Airport…..

Aku memandang sekeliling, tapi tak juga menemukan tanda-tanda keberadaan Kim Woo Bin, namjachingu-ku. Ia sudah berjanji akan menjemputku di bandara.

Aku baru saja kembali dari San Francisco. Tidak terasa sudah 4 tahun lebih aku meninggalkan Seoul. Aku sudah berjanji pada ayah dan ibuku, setelah selesai kuliah S2, maka aku akan kembali ke Seoul dan bekerja di perusahaan ayahku di Seoul, belajar menjadi pewaris-nya, karena si kembar tidak ingin dan tidak mungkin menjadi pewaris perusahaan ayahku.

Sekarang, setelah tiba di Seoul, jujur saja aku masih bingung akan tinggal di mana terlebih dahulu. Apakah aku akan tinggal bersama ibuku dulu? Ataukah ayahku dulu kemudian ibuku?

Keluargaku sedikit rumit. Sebelum menikah dengan ayahku, ibuku yang merupakan mantan diva Korea, sudah menikah dengan seorang pelukis terkenal, Mr.Kim, dan mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Kim Hyun Joong. Saat Hyun Joong Oppa masih bayi, ibuku dan Mr.Kim bercerai, kemudian ibuku menikah lagi dengan seorang pengusaha, Mr.Jo, dan lahirlah aku. Ibu dan ayahku bercerai ketika umurku belum tepat 1 tahun. Ibuku kembali rujuk dan menikah kembali dengan Mr.Kim, sedangkan ayahku menikah lagi dengan Mrs.Shin dan 5 tahun kemudian lahirlah si kembar Jo Twins.

Sejak masih kecil, aku selalu tinggal bergantian di rumah ibu dan ayahku. Rasanya memang aneh, karena di kedua rumah itu juga tinggal ayah dan ibu tiriku. Tapi, Hyun Joong Oppa dan Jo Twins selalu membuatku nyaman. Satu-satunya alasan mengapa sejak dulu aku mau tinggal di rumah ayahku ataupun di rumah ibuku adalah karena Oppa dan dongsaeng-dongsaengku.

Tapi sejak mereka menjadi idol dan aktor terkenal, mereka tinggal di apartemen grup mereka masing-masing. Hyun Joong Oppa sudah tinggal di dorm SS5O1 semenjak aku masih junior high school, dan sekarang Hyun Joong Oppa sudah tinggal di apartemennya sendiri.

Kwang Min dan Young Min juga mengikuti jejak Hyun Joong Oppa menjadi idol. Untung saja mereka mulai tinggal di dorm Boyfriend ketika aku berada di San Francisco. Aku tidak bisa membayangkan hidup di rumah ayah ataupun ibuku tanpa saudara-saudaraku. Lalu sekarang bagaimana? Aku harus tinggal di mana?

Sebenarnya bisa saja aku meminta apartemen ataupun rumah kepada ayahku yang kaya raya. Tapi aku ingin membeli rumah dengan uangku sendiri. Dan daripada membeli apartemen, aku lebih ingin membeli rumah.

Aku menghela nafas panjang. Mengapa aku dikelilingi oleh idol-idol terkenal?! Kakakku, adik-adikku, bahkan pacarku. Tidak mudah memiliki keluarga dan pacar seorang idol terkenal.

Kim Woo Bin dan aku sudah bersama sejak kami masih junior high school. Sudah 10 tahun lebih. Dia adalah cinta pertamaku. Aku beruntung karena cinta pertamaku juga mencintaiku dan aku juga adalah cinta pertama-nya. Kami terus bersama hingga saat ini. Meskipun hatiku masih terasa sakit bila mengingat kejadian 3 tahun lalu, di saat Woo Bin Oppa berselingkuh.

Saat itu Woo Bin Oppa sedang berada di puncak karier-nya sebagai model. Ia berselingkuh dengan seorang model cantik. Aku tahu, aku memang bodoh, tapi aku sangat mencintai Woo Bin Oppa, karena itulah aku memberinya kesempatan ke-2.

Sejujurnya aku tidak ingin Woo Bin Oppa menjadi lebih terkenal seperti sekarang. Ia sudah menjadi aktor professional saat ini. Karier modeling-nya juga semakin melejit. Aku takut Woo Bin Oppa melakukan kesalahan yang sama lagi.

Popularitas dan uang sering membuat seseorang lupa diri. Padahal saat junior high dan senior high school dulu, Woo Bin Oppa adalah pacar yang sempurna dan setia. Tapi, begitu karier modeling-nya melesat dan popularitasnya meningkat, Woo Bin Oppa jadi berubah.

Ya, Woo Bin Oppa masih sama sweet dan charming seperti dulu. Sampai sekarang ia masih selalu memperhatikanku dan mencintaiku. Tatapannya masih sama tajam dan lembut seperti dulu. Senyumannya juga masih meninggalkan efek yang sama di hatiku. Tapi, entah kenapa sepertinya sekarang aku merasa Woo Bin Oppa berbeda. Caranya menatap dunia tidak lagi sama seperti dulu. Sekarang seolah ia merasa bisa mendapatkan apa saja di dunia ini dengan mudah.

Lagi-lagi aku menghela nafas panjang. Aku hanya bisa berharap semoga dugaanku salah. Tapi sekarang di mana Woo Bin Oppa? Kenapa dia belum datang juga?! Sejak tadi aku mencoba meneleponnya, tapi ponsel-nya tidak aktif. Berbagai pikiran buruk mulai memenuhi kepalaku. Bagaimana kalau Woo Bin Oppa lupa menjemputku? Bagaimana kalau saat ini ia sedang bersama wanita lain? Bagaimana bila Woo Bin Oppa berselingkuh lagi?

Begitulah. Aku selalu merasa tidak tenang dengan hubungan kami sejak 3 tahun yang lalu. Aku selalu yakin hubungan kami akan bisa bertahan selamanya, tapi sekarang entah kenapa aku merasa ragu. Aku tidak yakin bisa memberikan kesempatan ke-3 padanya bila ia melakukan kesalahan yang sama seperti 3 tahun lalu.

“Nunaaaaaa!!!” tiba-tiba saja terdengar teriakan si kembar Young Min dan Kwang Min. Mereka berlari menghampiriku dan memelukku  dengan erat dari samping kanan dan kiri, membuatku sesak nafas.

“Nunaaaaaaaa….aku kangen sekali padamuuuuuu!!!!” si kembar berkata kompak.

Aku tertawa dan menepuk punggung mereka. “Yah! Padahal baru 3 bulan yang lalu aku bertemu kalian di acara wisuda-ku, tapi sekarang kalian sudah lebih tinggi lagi. Aku semakin pendek saja.”

Kami bertiga tertawa. Rasanya menyenangkan bisa bertemu lagi dengan adik-adik kesayanganku. “Nuna, ini untukmu.” Si kembar memberikan permen loli dan yoghurt padaku. Young Min memberiku permen loli rasa cokelat dan yoghurt rasa melon. Kwang Min memberiku permen loli rasa strawberry dan yoghurt rasa anggur.

Ini adalah salah satu keuntungan punya adik kembar. Mereka bisa memberiku double makanan, double minuman, dan double hadiah. Meskipun mereka sering sekali membuat kepalaku pusing dua kali lipat dengan tingkah mereka.

“Nuna.., mana oleh-oleh untuk kami?” si kembar menegadahkan tangan mereka sambil nyengir lebar. Aku menghela nafas panjang. Ya, aku juga harus membeli double oleh-oleh. Sialnya adalah selera si kembar sangat tinggi. Mereka tahu barang mana yang berkualitas dan mahal!

“Nanti….nanti. Tenang.., semua pesanan kalian sudah aku bawa.” Kemudian kepalaku terasa pusing mengingat ribuan dollar yang harus kukeluarkan demi membelikan si kembar oleh-oleh.

“Horeeeee!!!!!” si kembar ber-high five girang. Aku tersenyum. Yah, sepertinya tidak masalah berapa banyak aku mengeluarkan uang untuk adik-adikku, asalkan mereka senang.

Semakin banyak orang yang memperhatikan kami. Bagaimana tidak, si kembar Jo yang terkenal sekarang ada di bandara bersama seorang nuna. Sepertinya tidak ada yang tahu kalau aku adalah kakak si kembar, karena saat si kembar debut aku sedang berada di Frisco. Ya, aku tidak mau fans mengetahui hubunganku dengan si kembar, dengan kakakku, dan juga dengan pacarku. Aku ingin privasi. 

“Ayo, Nuna..” si kembar menggandeng tanganku dan membawakan tas dan koperku.

“Kenapa kalian tidak menyamar?!”

Si kembar hanya nyengir. “Kenapa kami harus menyamar? Kami ingin menunjukkan pada seluruh dunia kalau nuna cantik ini adalah nuna kami.” Kata mereka cheesy.

Aku mencoba menelepon Woo Bin Oppa lagi. Tapi ponsel-nya masih tetap tidak aktif. Aku pun akhirnya memutuskan untuk mematikan ponselku juga!

Hhhh.., seandainya Hyun Joong Oppa ada di Seoul dan bukannya ada di Tokyo. Sekarang tidak mungkin aku tinggal di dorm Boyfriend. Aku tidak mau merepotkan member Boyfriend yang lain. Sepertinya aku akan tinggal di rumah ayahku saja.

“Nuna, kami punya kejutan.” Kata Kwang Min.

Young Min mengangguk dan menarik tanganku lebih cepat. Aku sedikit berlari mengikuti kaki-nya yang panjang.

Kami berhenti di depan sebuah Ferrari putih model terbaru yang telihat sangat mewah dan sporty. “Mobil siapa ini?” tanyaku pada si kembar. “Apakah ini mobil kalian? Kalian beli mobil baru lagi?!” Aku berkacak pinggang. “Tapi aku harus duduk di mana?!” mobil ini kan hanya memiliki 2 buah kursi!

Si kembar menggeleng. Kwang Min mengetuk kaca mobil, dan perlahan kaca mobil terbuka, menampilkan sosok yang sudah sangat kukenal.

“Hyun Joong Oppa!!!!” pekikku senang. “Oppa! Kupikir kau masih di Tokyo!”

Hyun Joong Oppa tersenyum lebar. Ia pun membukakan pintu untukku. “Naiklah, sayang. Bukankah kau tidak mau terlibat skandal?” kakakku itu memang selalu menyebutku sayang. Dulu, member SS5O1 mengira aku pacar Hyun Joong Oppa. Hahaha. Dasar!

“Nunaaaaa…, maaaafff…, kami ada jadwal pemotretan.” Kata si kembar sambil cemberut.

Aku mencubit pipi si kembar dan memeluk mereka satu per satu. “Tidak apa-apa. Kalian bisa menemuiku lagi nanti.”

Aku pun masuk ke dalam mobil Hyun Joong Oppa. “Nunaaaaa!!! Oleh-oleh kamiiii!!!!” kata si kembar, tapi terlambat karena Hyun Joong Oppa sudah tancap gas.

Kami berdua tertawa melihat tingkah si kembar yang masih saja childish. Meskipun Hyung Joong Oppa dan si kembar tidak memiliki hubungan darah, tapi mereka saling menyayangi seperti layaknya keluarga kandung.

“Aku sengaja tidak memberitahumu. Kejutan.” Hyun Joong Oppa mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya tertawa. Sungguh, aku sangat merindukkan kakakku. Di saat aku pusing dengan tingkah si kembar, maka aku akan membuat kakakku pusing dengan tingkahku. Hehehe. Aku beruntung mempunyai kakak dan adik-adik yang menyayangiku, meskipun kami hanya memiliki setengah darah yang sama.

“Apakah Woo Bin Oppa sengaja mematikan ponsel-nya ya? Oppa yang menyuruhnya?”

Pandangan mata kakakku mengeras. “Tidak.” Kata kakakku singkat. Ia tidak bisa menyembunyikan nada kebencian dari suaranya. “Sayang.., pemikiranku tentang Woo Bin masih sama dengan 3 tahun lalu. Dulu aku memang menyetujui hubungan kalian, tapi sejak 3 tahun lalu….. tidak lagi. Putuskan dia dan carilah laki-laki yang lebih baik.”

“Tapi aku mencintainya, Oppa.”

Hyun Joong Oppa menghela nafas panjang. “Tapi dia bukan pria yang tepat untukmu. Dia sudah berubah, Min Young~ah. Dia bukan Woo Bin yang dulu lagi.”

Aku hanya terdiam dan menatap jalanan di sampingku. Hyun Joong Oppa mengulurkan sebelah tangannya padaku dan mengusap rambutku penuh sayang. “Oppa hanya ingin kau bahagia, sayang.”

Aku menatap kakakku dan tersenyum. “Aku tahu, Oppa.”

Hyun Joong Oppa tersenyum. “Mulai sekarang kau tinggal di apartemenku. Hhhhh, tapi sepertinya beberapa hari ke depan aku harus ke luar negeri untuk syuting. Sayang, tidak apa-apa kan kau tinggal sendirian?”

“Tentu saja, Oppa. Aku sudah biasa tinggal sendiri di Frisco.”

“Ngomong-ngomong soal Frisco, kau bawa oleh-oleh apa untukku? Sepertinya kau membawa banyak sekali oleh-oleh untuk si kembar. Kau tidak lupa pesanan tas LV-ku kan?” Terdengar nada jealous.

Aku tertawa. Kakakku dan adik-adikku sama saja! Mereka berdua penggila mobil mewah dan barang mewah. Selera mereka sama-sama tinggi. Sepertinya hanya aku yang normal.

“Tentu saja aku tidak lupa. Karena itulah aku membawa dua koper besar dan tas ransel besar.” Aku memutar kedua bola mataku.

Kakakku tersenyum. “Kau mau makan di mana? Di gangnam ada restoran Italy yang baru.”

“Aku mau makan tteokpoki di depan sekolahku dulu.”

“Mwo? Tapi makanan di pinggir jalan itu tidak sehat, sayang. Kita beli tteokpoki di restoran saja.”

Aku menggeleng. “Pokoknya aku hanya mau makan tteokpoki itu.” Aku tersenyum. Rasanya menyenangkan bisa bersama lagi dengan kakakku yang memiliki prince disease ini.

“Oke, aku akan menemani-mu membeli makanan di pinggir jalan itu, tapi setelah itu kita makan siang dengan makanan yang sehat.”

“Oppa juga harus memakan tteokpoki itu. Kalau tidak…, tas LV-nya aku berikan pada Kwang Min saja.”

Kakakku menatapku horror, lalu mengangguk. “Baiklah, sayang.” Akhirnya dia menyerah. Dalam hati aku tertawa. Hyun Joong Oppa, Young Min~ah, Kwang Min~ah…, aku kembali! Aku akan menghilangan Prince Disease kalian!

“Oppa, menurutku….daripada menghambur-hamburkan uang untuk membeli mobil mewah yang baru, lebih baik Oppa membangun restoran.” Jiwa bisnis-ku yang kuat kembali muncul. “Uang Oppa kan banyak.., sayang sekali kalau dihambur-hamburkan untuk membeli mobil mewah. Oppa dan si kembar kan sudah punya banyak mobil. Lebih baik ber-investasi untuk masa depan. Aku bisa membantu Oppa memulai bisnis.”

Kakakku menatapku. “Benar juga.”

Aku mengangguk. Mulai sekarang aku akan membuat kakak dan adik-adikku yang boros ini untuk menghemat lagi seperti dulu saat aku masih tinggal di Seoul. Aku tidak menyangka, sejak aku tinggal di Frisco, penyakit pangeran mereka semakin parah.

********

 

Esoknya, aku mulai bekerja di perusahaan ayahku. Ayahku memiliki beberapa buah hotel di Seoul dan pulau Jeju. Ayahku juga punya sebuah mall dan restoran Jepang. Aku tahu mulai saat ini tugasku akan lebih berat. Sejak masih junior high school, ayahku sudah mendidikku untuk menjadi penerusnya. Tapi tugas-tugasku saat itu pastilah tidak se-berat saat ini.

Sejak dulu, meskipun ayahku adalah Jo Ji Hun, sang pengusaha yang sangat terkenal di Asia, aku tidak pernah hidup boros seperti kakakku dan adik-adik kembarku. Entahlah, sepertinya gaya hidup mewah bukanlah kesukaanku.

Tidak seperti kakak dan adik-adikku yang lebih suka menghabiskan uang mereka untuk mobil mewah dan fashion, aku lebih suka menyimpan uangku untuk membeli rumah impianku. Mungkin ini jugalah salah satu alasan mengapa ayah memilihku untuk menjadi penerusnya, dan bukannya si kembar.

Ayah menawariku sebuah apartemen mewah, tapi aku menolaknya. Aku berkata pada ayah kalau sekarang aku tinggal bersama Hyun Joong Oppa. Sepertinya ayah mengerti dan tidak memaksaku lagi.

Woo Bin Oppa belum menghubungiku sampai sekarang. Aku juga belum menghubunginya lagi sejak kemarin. Pekerjaan membuat pikiranku teralihkan.

Aku masih berada di ruang kerjaku, di gedung kantor pusat perusaan ayahku. Sekarang sudah jam 7 malam. Kebanyakan pegawai sudah pulang. Hanya ada beberapa yang lembur.

Ponselku berdering. Aku tersenyum dan segera mengangkatnya. “Hyun Joong Oppa…”

“Hai sayang, aku sudah di depan kantormu. Mau makan malam di mana? Besok pagi aku harus ke Thailand untuk syuting reality show. Jadi.., mala mini bagaimana kalau kita kencan? Kita makan dan nonton.”

Aku tertawa. “Oke. Tunggu aku, Oppa. Sebentar lagi aku turun.” Aku mengganti blazer-ku dengan sweater baby blue dan hot pants. Aku juga mengganti high heels-ku dengan sneakers. Rambutku yang diikat aku urai, dan tak lupa aku memakai topi favoritku.

Begitu keluar dari ruang kerja-ku, beberapa pegawai yang masih lembur menyapaku sopan. Ada yang sudah terbiasa melihat gaya berpakaianku yang tidak terlihat seperti seorang pimpinan, ada juga yang syok. Aku hanya tersenyum. Ya, inilah aku. Meskipun aku adalah wakil presdir, bukan berarti aku harus selalu tampil elegan dan mewah kan?!

Hyun Joong Oppa sudah menungguku di depan kantor. Kali ini ia mengendarai Lexus merah-nya. Aku mendecakkan lidahku. Tidak begitu suka dengan pilihan mobil-nya yang mencolok ini.

Aku masuk ke dalam mobil, membuka topi-ku dan memakaikannya pada Hyun Joong Oppa. “Kenapa Oppa tidak menyamar?! Oppa tau kan aku tidak suka ada orang yang mengenalimu di saat kita bersama.”

Hyun Joong Oppa nyengir lebar. “Karena itulah kita makan malam di restoran hotel ayahmu saja. Tidak akan ada yang mengenali kita di sana.”

Aku mengangguk. “Oke.” Mobil pun melaju kencang.

Beberapa menit kemudian, kami sampai di hotel ayahku. Beberapa pegawai yang mengenaliku menyapaku dan membimbingku ke ruang private, tapi aku menolaknya dan lebih memilih makan di ruang umum. Sekalian aku ingin mengobservasi kinerja para pegawai restoran di hotel ini.

Hyun Joong Oppa banyak bercerita tentang karir-nya. Satu hal yang paling kusukai dari kakakku ini adalah passion-nya pada mimpinya. Jujur saja aku sedikit iri padanya. Sejak kecil, ayahku sudah menanamkan mimpi untukku. Ayahku membuatku seperti sekarang ini. Yah, salahku juga karena aku tidak punya impian besar seperti kakakku maupun adik-adikku. Tapi kurasa.., impianku sangat sederhana. Aku masih ingat, dulu…aku tidak peduli bila aku harus mewarisi perusahaan ayah. Bagiku semua itu tidak masalah, asalkan aku bisa bersama Woo Bin Oppa. Menikah dengannya, memiliki keluarga dengannya. Menjadi istri Kim Woo Bin dan melahirkan anak-anaknya. Dulu hanya itu yang kuinginkan. Tapi sekarang.., entah kenapa aku merasa takut.

Benarkah Woo Bin Oppa sudah berubah? Apakah yang dikatakan oleh kakakku benar? Apakah Woo Bin Oppa bukanlah pria yang tepat untukku?

Selesai makan malam, aku meminta Hyun Joong Oppa menemaniku ke ruangan manajemen hotel. Aku ingin sedikit berbincang dengan karyawanku.

Kami berdiri menunggu lift di lantai 1. Saat itulah semua keraguan yang kurasakan selama ini terbukti. Pintu lift terbuka. Di dalamnya hanya ada sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman mesra.

Mataku membelalak lebar. Tentu saja aku mengenal siapa pria itu meskipun kini ia berdiri membelakangiku. Pria yang sudah kukenal seumur hidupku, yang telah menjadi kekasihku selama 10 tahun lebih.

“Kim Woo Bin, bermesraan dengan wanita lain di hotel milik pacarmu. Benar-benar jenius.” Kataku sinis.

Woo Bin Oppa langsung membalikkan badannya dan sangat terkejut melihatku. Kakakku hendak menghampiri dan memukul Woo Bin, tapi aku menahannya. Wanita berpakaian seksi di belakang Woo Bin menatapku dan Woo Bin bergantian.

“Kau berciuman dengan pacarmu yang ke berapa? 100?” sindirku.

Woo Bin Oppa keluar dari dalam lift dan menghampiriku. “Min Young~ah.., kau tahu kan aku hanya mencintaimu. Aku tidak mencintai wanita-wanita lain.., aku hanya membutuhkan mereka.” Mata Woo Bin Oppa terlihat memelas. Wanita seksi di belakangnya terlihat sangat syok.

Aku tertawa tanpa ekspresi, lalu menatap Woo Bin Oppa dalam-dalam. Pria ini…., satu-satunya pria yang kucintai di dunia ini, ternyata dia memang bukan pria yang tepat untukku. Aku berusaha menahan air mataku.

“Kim Woo Bin. Dulu aku bisa memberimu kesempatan ke-2. Tapi aku tidak bisa memberimu kesempatan ke-3.” Kataku dengan nada dingin. “Eonni, kau bisa memiliki Kim Woo Bin malam ini. Meskipun aku tahu besok pagi dia pasti akan meninggalkanmu demi pacar-nya yang lain. Aku sudah membuang sampah menjijkan ini dari hidupku.” Setelah mengatakan kata-kata pedas itu, aku pun membalikkan badanku dan berjalan keluar dari hotel.

Kim Woo Bin berlari mengejarku, tapi sepertinya kakakku berhasil menghentikannya, karena begitu aku tiba di depan hotel, Kim Woo Bin tidak menampakkan batang hidungnya.

Aku hanya berdiri mematung dan menunggu kakakku datang dengan mobilnya. Tak lama, kakakku datang. Aku pun segera masuk. Selama di perjalanan, Hyun Joong Oppa sama sekali tidak berbicara. Kakakku itu sudah tahu betul sifatku. Saat ini aku sedang ingin sendiri.

Aku berusaha mengatur nafasku. Rasanya dadaku sesak sekali. Mala mini terasa seperti mimpi buruk bagiku. Rasanya lebih menyakitkan dibanding 3 tahun lalu. Bagaimana mungkin Kim Woo Bin tega mengingkari janjinya?!

Aku menggigit bibirku terlalu keras. Darah menetes di dagu-ku. Hyun Joong Oppa melirikku dan secepat kilat ia membanting stir mobil, menepi di pinggir jalan.

Hyun Joong Oppa mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan darah di bibir dan dagu-ku. Aku hanya menatap lurus ke depan, berusaha mengendalikan segala emosi di dadaku.

Hyun Joong Oppa memelukku dengan hangat dan mengelus-elus rambutku. Aku merasa tenang saat menghirup aroma tubuh kakakku itu. Rasanya seperti kembali lagi ke saat aku kecil. Dulu juga Hyun Joong oppa sering sekali menenangkanku dengan cara seperti ini. Tidak berbicara, tidak menasehati, tidak memarahi, tapi hanya ada di sampingku dan membuatku merasa tenang.

Aku melingkarkan lenganku di leher Hyun Jung Oppa. “Terima kasih, Oppa.”

Hyun Joong Oppa mengelus punggungku dan tersenyum hangat. “Kau masih mau nonton di bioskop, sayang?”

Aku menggeleng. “Aku mau minum.”

Mata Hyun Joong Oppa membelalak lebar. Dia tahu aku benci minuman alkohol, tapi kali ini aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranku dari Kim Woo Bin.

“Sayang.., bagaimana kalau kita makan tteokpoki favoritmu saja?”

“Tidak. Aku hanya ingin minum.” Kataku tegas.

Kakakku menghela nafas dan akhirnya menuruti keinginanku. Kami pun menuju bar ter-mewah di Seoul. Malam ini aku memutuskan untuk mencoba semua jenis minuman beralkohol, meskipun aku benci rasanya!

*****

 

Keesokan harinya, di ruangan kerja-ku…..

Kepalaku terasa sangat pusing. Ini pasti efek minuman semalam. Semalam aku juga tidak tidur. Aku merasa bersalah pada Hyun Joong Oppa karena harus menemaniku begadang sampai pagi, padahal pagi tadi dia harus segera ke bandara setelah mengantarku pulang.

Aku tahu, sejak pagi tadi aku tidak fokus bekerja. Pikiranku selalu dipenuhi oleh Kim Woo Bin! Sial! Kenapa aku harus mengingat semua kenangan manis dengan Woo Bin Oppa?! Tanpa sadar, air mataku mengalir. Aku menelungkupkan tanganku di meja dan membenamkan wajahku diantara kedua lenganku.

Ini pertama kalinya aku menangis sejak 3 tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu aku tidak menangis saat mengetahui Woo Bin Oppa selingkuh, tapi sepertinya sekarang pertahananku sudah runtuh.

Aku terus saja menangis selama 1 jam tanpa henti. Ketika sekretarisku menelepon, akhirnya aku tersadar dan cepat-cepat menghapus air mataku. Suaraku parau. Sekretarisku bertanya apakah aku sakit, tapi aku hanya menjawab aku baik-baik saja.

Sebenarnya, aku tidak baik-baik saja.

Hhhhh, Kakakku akan berada di Thailand selama 5 hari. Tidak ada yang bisa menenangkanku lagi. Mungkin aku harus menemui si kembar. Siapa tahu sikap konyol dan childish mereka akan membuatku tersenyum lagi.

Tanpa kuduga, si kembar datang ke kantor saat jam makan siang. Mereka menerobos masuk ke ruanganku, membuat sekretarisku kewalahan. Tidak ada orang kantor yang tahu bahwa si kembar adalah adikku. Si kembar selalu berkata bahwa mereka tidak ingin orang-orang mengetahui mereka adalah anak Jo Ji Hun sang millionaire. Tapi sepertinya saat ini mereka tidak peduli.

“Nunaaaaaa!!!!!” si kembar langsung memelukku.

“Kami membawakan semua makanan favorit nuna!” si kembar mengeluarkan berbagai macam makanan. Ada tteokpoki, choco pie, mochi, ice cream, snack rumput laut, dan masih banyak lagi. Sepertinya Hyun Joong Oppa sudah cerita pada mereka tentang Kim Woo Bin.

Si kembar membuatku tertawa dengan lelucon dan cerita mereka di sekolah. Benar dugaanku. Si kembar bisa membuatku tersenyum lagi, meskipun sampai sekarang hatiku masih terasa sakit.

Si kembar duduk di sofa sambil makan cokelat. Aku duduk diantara mereka berdua. Mereka menyandarkan kepala mereka di pundakku. Young Min di kiri dan Kwang Min di kanan.

“Nuna, kalau kau sedih…, kami juga ikut sedih.” Kata Kwang Min. Aku mengelus kepalanya.

“Nuna, bagaimana kalau kita liburan ke Jeju?” tanya Young Min bersemangat.

“Memangnya kalian tidak ada jadwal?” tanyaku, kontan si kembar langsung cemberut.

“Aaaarrgghhhh!!! Aku ingin liburan bersama nunaaaaa!!!!” Young Min mengacak-acak rambut pirang-nya yang gondrong.

“Nuna, nanti malam bagaimana kalau kita bertiga kencan?” usul Kwang Min. “Nanti malam kita tidak ada jadwal.” Tambahnya. Young Min mengangguk bersemangat.

“Oke.” Kataku sambil tertawa pelan.

“Nuna, aku boleh membawa teman kan?” tanya Young Min.

Aku tertawa. “Siapa? Pacar-mu?” godaku.

Young Min menggeleng. Kwang Min menatap Young Min curiga. Young Min menatap Kwang Min penuh arti. Aku menatap si kembar sambil tertawa. Mereka berdua seperti sedang berkomunikasi dengan pikiran mereka.

“Yah! Jo Young Min! Jangan merencanakan hal yang aneh-aneh!” aku memelototi Young Min.

Young Min hanya terkekeh. Kwang Min juga ikut terkekeh. “Zelo atau Jae?” kata Kwang Min pada Young Min. Young Min mengangkat bahu. Aku hanya menghela nafas menanggapi percakapan si kembar yang tak bisa kumengerti.

*****

 

Pukul 8 malam…, aku menyetir menuju sebuah café yang dipenuhi anak muda. Café-nya terlihat elegan, dan anak-anak muda yang datang juga sepertinya anak-anak muda yang suka bergaya seperti si kembar. Berbagai mobil mewah berjejer di tempat parkir café. Aku menghembuskan nafas panjang.

Si kembar sudah menungguku di sebuah meja. Aku mengerutkan keningku melihat seorang pria tinggi berambut pirang yang duduk di samping Young Min. Aku menghampiri mereka dan duduk di samping Kwang Min.

“Nunaaaaa!!!!” Si kembar menyambutku dengan riang.

“Nuna, kenalkan…, dia ini Choi Jun Hong alias Zelo.” Young Min memperkenalkan pria berambut pirang dengan sangat bersemangat. Zelo memperkenalkan dirinya dengan sopan.

“Dia teman sekelas kami.” Tambah Kwang Min. Aku sedikit terkejut, kupikir pria bernama Zelo itu lebih tua dari si kembar. Dia sangat tinggi dan terlihat lebih dewasa 1 atau 2 tahun dari si kembar.

Young Min kembali bicara. “Tadinya Jae mau datang juga, tapi tidak bisa. Zelo ini sangat pintar, Nuna. Dia selalu jadi rangking ke-2 diantara seluruh murid satu sekolah kami. Dia juga jago dance dan nge-rap. Zelo itu idol seperti kami. Grup-nya bernama B.A.P. Zelo itu wakil school rep kami. Dia sangat manly, baik hati, dan tentunya setia.” Young Min berkata dengan lancar, mempromosikan Zelo.

“Jo Young Min. Ikut denganku!” kataku tegas. Aku berdiri dan berjalan ke luar café. Young Min mengikutiku.

“Jo Young Min! Apakah kau sudah gila?!” bentakku. Young Min hanya nyengir tanpa dosa. “Kau berusaha menjodohkanku dengan temanmu yang masih bocah itu?!”

“Hehehe. Nuna, bagaimana kalau kau mencoba pacaran dengan pria yang lebih muda darimu? Mungkin saja kau akan lebih bahagia. Lagipula Zelo itu sangat baik dan setia. Dia juga suka wanita yang lebih tua darinya.”

Aku menjitak kepala Young Min. Young Min hanya nyengir.

Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada dan menatap adikku itu dengan tajam. “Jo Young Min, dengarkan aku. Aku tidak ingin punya pacar seorang idol! Aku ingin pria yang lebih dewasa dariku, lebih tampan dari Kim Woo Bin, lebih tinggi dari Kim Woo Bin. Dan yang pasti harus setia!”

“Zelo setia! Lebih tampan dari Kim Woo Bin! Tinggi-nya hampir sama dengan Kim Woo Bin dan sebentar lagi pasti lebih tinggi!” protes Young Min.

Aku menjitak kepala Young Min lagi. “Tapi dia idol. Dan…masalah yang lebih penting…dia jauh lebih muda dariku! Aku tidak suka pria yang lebih muda dariku!”

“Zelo hanya 5 tahun lebih muda darimu, nuna!” Young Min keras kepala.

Aku menghela nafas, mencoba bersabar. “Young Min~ah.., dulu…saat aku berusia 5 tahun, di saat aku sudah bisa berjalan, berlari, membaca, temanmu yang bernama Zelo itu baru lahir! Aku tidak mau pacaran dengan pria yang lebih muda dariku, bahkan walau hanya lebih muda satu hari dariku. Aku hanya ingin pria yang lebih tua dariku! Kau mengerti, Jo Young Min?”

*****

Yah, begitulah. Aku merasa malam itu sangat gila! Bisa-bisanya adikku menjodohkanku dengan teman sekelas mereka yang sama bocah-nya dengan mereka!

Aku hanya bisa tertawa mengingat kejadian malam itu. Si kembar masih saja mempromosikan Zelo, tapi aku hanya menganggap-nya angin lalu.

Aku kembali fokus bekerja. Semakin hari pekerjaanku semakin berat. Aku sudah berjanji pada ayahku untuk tidak mengecewakannya, maka aku harus berusaha!

Kim Woo Bin masih sering menghubungiku, tapi aku mengabaikannya. Di saat sendirian dan tidak ada kerjaan, aku memang masih sering memikirkan Kim Woo Bin. Yah, aku hanya berharap semoga aku segera melupakannya. Semoga aku bisa segera jatuh cinta lagi. Aku menginginkan pria yang lebih tua dan lebih dewasa dariku. Bukan seorang idol. Sudah pasti harus lebih tampan dan lebih tinggi dari Kim Woo Bin. Lebih sukses dari Kim Woo Bin. Dan yang paling penting….dia harus mencintaiku dan SETIA!

Hari ini Hyun Joong Oppa pulang ke Seoul. Aku sudah memutuskan akan pulang lebih cepat dan memasak untuk kakakku tersayang itu.

Tepat ketika aku memikirkan Hyun Joong Oppa, ternyata Hyun Joong Oppa meneleponku! Aku tertawa dan mengangkat telepon dengan riang. “Oppa! Kau menelepon di saat yang tepat! Aku sedang memikirkanmu.”

Hyung Joong Oppa tertawa senang. “Aku juga sedang memikirkanmu, sayang. Aku punya kabar untukmu, nanti malam bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku ingin mengenalkan seorang adik kelasku. Namanya Min Hyuk. Dia member boyband BTOB. Dia sangat tampan dan baik.”

Oh Nooooo!!! Kenapa kakak dan adik-adikku melakukan hal yang sama?! Kenapa mereka berusaha mencarikanku namjachingu?! Memangnya aku terlihat seperti tidak bisa mendapatkan namjachingu dengan usahaku sendiri ya?!

“Oppa, aku tidak mau namja yang lebih muda dariku.”

“Dia seumuran denganmu. Kelahiran 1990. Dia lebih tua beberapa bulan darimu.”

“Oke. Tapi aku tidak mau punya pacar seorang idol! Aku ingin orang biasa. Pengusaha masih lebih baik daripada idol, Oppa.”

“Sayang.., coba saja dulu. Aku yakin kau pasti menyukai Min Hyuk.”

Aku menggigit bibir bawahku. Aku tahu kakakku melakukan ini demi diriku. Dia mencoba membantuku melupakan Kim Woo Bin.

“Oppa, maaf…, tapi nanti malam aku ada meeting.” Kataku berbohong.

“Oke, tidak apa-apa. Lain kali saja aku kenalkan dia padamu.”

Aku menghela nafas panjang. Aaah.., aku tahu kakakku sangat keras kepala! Sama sepertiku.

*****

 

Aku masih berkutat dengan berkas-berkas proposal dan laporan dari berbagai direktur bagian di meja kerjaku. Sekarang sudah pukul 9 malam. Aku memutuskan untuk pulang ke apartemen kakakku pukul 11 atau 12 malam saja. Aku sudah terlanjur berbohong padanya dengan mengatakan malam ini aku ada meeting. Kakakku tahu, meeting dengan para direktur bagian pasti berlangsung sampai tengah malam.

Aku menyandarkan punggungku di kursi dan berputar, menghadap kaca gedung. Aku bisa melihat jutaan lampu di bawah sana. Aku suka posisi ruanganku yang terletak di lantai paling atas dan menghadap ke pemandangan kota Seoul yang sangat indah.

Aku merasa kepalaku sangat sakit, seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk otakku. Aku pun memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan pakaian casual dan segera keluar dari dalam kantor-ku.

Aku tidak membawa kendaraan, jadi aku naik taxi menuju sebuah restoran Mexico. Entah kenapa malam ini  aku tiba-tiba ingin memakan makanan Mexican.

Ini adalah ke-2 kalinya aku makan di restoran Mexico ini. Tempatnya cozy dan makanannya juga sangat enak.

Aku tahu pakaianku terlalu santai dan grunge untuk dipakai ke sebuah restoran mewah seperti ini, tapi aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli saat beberapa pasang mata pria melihat ke arahku penuh minat.

Aku duduk dekat jendela dan segera memilih menu. Pelayan yang berdiri di hadapanku tiba-tiba saja membalikkan badannya dan membungkuk hormat pada seorang pria tinggi tampan yang berdiri agak jauh dari kami.

Aku memerhatikan pria ber-jas rapi itu. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan dan terlihat ber-kharisma. Pembawaannya tenang, dan sepertinya ia orang berpengaruh di restoran ini.

“Siapa pria itu?” tanyaku pada pelayan.

“Oh, dia Tuan Yook Sung Jae. Anak pemilik restoran ini.”

Aku terus menatap pria itu. Well, pria itu lumayan. Dia tinggi, tampan, pengusaha sukses, dan sepertinya dia lebih tua dariku. Wajahnya terlihat dewasa dan berwibawa.

Pria itu menatapku. Mungkin dia sadar sejak tadi aku terus memperhatikannya. Pria itu tersenyum padaku. Aku hanya bisa terpana. Mungkin….siapa tahu….pria ini bisa menggantikan Kim Woo Bin. Aku hanya perlu lebih mengenal pria ini. Semoga saja dia tidak brengsek seperti Kim Woo Bin.

“Nona, maaf kau mau pesan apa?” tanya pelayan.

Aku tersadar dan segera menyebutkan pesananku. Pelayan itu mencatat pesananku, membungkukkan badannya, kemudian pergi.

Pria yang katanya anak pemilik restoran Mexico ini berjalan berkeliling dan menyapa beberapa pengunjung, bertanya beberapa hal tentang pendapat pengunjung mengenai restoran miliknya ini. Hmm, cara yang merakyat tapi cukup ampuh. Mungkin kapan-kapan aku bisa melakukan cara yang sama seperti pria itu pada pengunjung restoran Jepang ayahku dan customer mall dan juga hotel.

Makananku tiba, aku pun mulai fokus makan dan melupakan pria itu. Aku baru sadar, ternyata aku sangat kelaparan.

“Selamat malam.” Sapa sebuah suara lembut. Aku mendongak dan terkejut melihat pria pemilik restoran ini sudah berdiri di hadapanku!

“Uhuk..uhuk…” aku tersedak saking kaget-nya. Ternyata pria ini jauh lebih tampan saat dilihat sedekat ini!

“Kau baik-baik saja?” pria itu memberiku segelas air putih.

Aku mengangguk. Pria itu tersenyum hangat, lalu tanpa kuduga….ia duduk di depanku! Mataku membelalak. Speechless.

“Aku Yook Sung Jae.” Pria itu mengulurkan tangannya padaku.

Aku balas menjabat tangannya yang besar. “Jo Min Young.” Kataku. Aku suka cara Yook Sung Jae menjabat tanganku. Dia sepertinya business-man professional.

“Kau satu-satunya pelanggan kami yang duduk sendirian malam ini.” Sung Jae tersenyum. “Apa kau menunggu seseorang? Orang tuamu, mungkin?” tanya Sung Jae sopan. Aku menggeleng. “Jo Min Young sshi, apakah kau suka makanan di sini?” tanyanya. Aku mengangguk.

Sung Jae tersenyum lagi. Aku suka melihatnya tersenyum. Dia bisa terlihat tetap cool dan keren saat tersenyum hangat seperti itu. Benar-benar terlihat dewasa!

“Kau sekolah di senior high school mana?” tanya Sung Jae.

Mwo? High school? Aku tertawa. Memangnya aku terlihat se-muda itu ya? Kemudian aku sadar, aku hanya memakai jins, kaus putih longgar, dan sneakers. Sementara para pengunjung lain berpakaian elegan. Hanya aku yang terlihat seperti anak ingusan. Tanpa make-up pula! Tapi aku senang karena pria ini mengira aku masih remaja. Hahaha.

Sebelum aku sempat menjawab, ada seorang pria yang memanggil Sung Jae. Sepertinya ayahnya, karena semua pelayan menghormatinya.

“Aku pergi dulu. Senang karena kau menyukai makanan di restoran kami, Jo Min Young sshi.” Sung Jae tersenyum, membungkukkan badannya, lalu pergi menghampiri ayahnya. Aku memerhatikan ayah Sung Jae. Rasanya wajahnya tidak asing. Mungkin aku pernah bertemu dengannya di pesta para pengusaha.

Aku tersenyum. Well, sepertinya aku akan sering datang ke restoran ini. Kuharap Sung Jae juga sering datang kemari. Aku ingin mencoba melupakan Kim Woo Bin dengan mencari pria baru, meskipun itu sulit. Malam ini aku beruntung karena telah menemukan kandidat yang tepat!

******

 

Hari minggu ini aku sudah janji pada si kembar untuk membuatkan mereka kue karamel dan pasta seafood favorit mereka. Pagi-pagi sekali kami sudah tiba di rumah ayah kami. Ibu tiri-ku sangat baik, tidak seperti cerita-cerita tentang ibu tiri jahat di film dan komik!

Young Min masih saja mempromosikan Zelo. Aku hanya mendengar perkataannya lewat kuping kanan dan keluar lewat kuping kiri. Si kembar menemaniku, atau lebih tepat-nya menggangguku di dapur.

Kwang Min dan Young Min berdebat tentang siapa yang lebih unggul antara Zelo dan Jae. Siapa pula si Jae ini?! Aku menduga Jae Jae ini adalah teman sekelas mereka yang rencana-nya dijodohkan denganku juga. Tuhaaannn…tolooong…, kenapa adik-adikku aneh seperti iniiii???!!!

Aku terus saja mengaduk adonan, mencoba mengabaikan adu mulut si kembar.

“Zelo lebih tinggi dari Jae! Nuna bilang ingin namja yang tinggi!” kata Young Min pada Kwang Min.

“Tapi Jae lebih keren dan lebih kaya.” Kata Kwang Min.

“Zelo lebih tampan!”

“Jae lebih cute kalau dia aegyo!”

“Zelo sangat jago dance!”

“Jae sangat jago nyanyi! Suara-nya sangat merdu!”

“Zelo sangat pintar!” Young Min tak mau kalah.

“Jae lebih pintar! Dia ketua murid!” Kwang Min juga tak mau kalah.

Aku geleng-geleng kepala dan memukul kepala si kembar dengan pelan. “YAH! Kalian seperti sedang membangga-banggakan pacar kalian! Apa kalian gay, hah?” aku tersenyum jahil.

“Nunaaaaaaa…!!!!!” rengek si kembar.

“Kami sedang membahas mana yang lebih cocok untumu, Zelo atau Jae. Dua pria paling keren dan paling sempurna di sekolah kami. Yah.., setelah kami tentunya. Kami yang pertama.” Young Min narsis. Dia pun ber-high-five ria dengan Kwang Min.

Aku mendengus. “Sudahlah! Aku tidak tertarik dengan namja yang kalian jodohkan padaku. Hyun Joong Oppa juga sama saja! Dia juga sama gila-nya dengan kalian! Dia menjodohkanku dengan ….mmm…siapa ya namanya? Ah! Min Hyuk. Idol juga. Aku tidak mau punya pacar idol lagi!” aku pun kembali memasak.

“Min Hyuk? Min Hyuk CN Blue atau Min Hyuk BTOB?” tanya Kwang Min.

“Hah?” aku tidak tahu nama-nama grup idola.

“Kalau Min Hyuk hyung BTOB.., berarti dia satu grup dengan Jae. Saingan dong.” Young Min tersenyum pada Kwang Min.

“Kuharap Min Hyuk hyung CN Blue.” Kata Kwang Min.

Ting Tong….Ting Tong…..Terdengar bel berbunyi.

“Kwang Miiin.., Young Miin.., ada teman kalian.” Panggil ibu si kembar.

“Zelo!”

“Jae!”

Si kembar-pun langsung berlari ke pintu depan. Aku hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan si kembar. Ya..ya.., silakan saja kalian berdua berusaha. Aku tidak akan tertarik pada bocah!

“Nunaaaaaa!!!! Kenalkan ini Jae…” Aku yang membelakangi Kwang Min bisa mendengar suara riang Kwang Min.

Aku pun membalikkan badanku dan terkejut melihat pria di samping Kwang Min!

“Yook Sung Jae sshi?”

“Jo Min Young sshi?”

Pria yang kutemui beberapa hari lalu di restoran Mexico, yang terlihat sangat dewasa dan berwibawa, ternyata adalah teman sekelas adikku???!!

Berarti Sung Jae masih bocah?! Oh tidaaaakkk!!!!! Kupikir umurnya 24 tahun, atau setidaknya 23 tahun sama sepertiku.

Yook Sung Jae…., dia lebih tampan dari Kim Woo Bin. Tinggi-nya hampir sama dengan Kim Woo Bin. Terlihat lebih dewasa dariku. Tapi ternyata…. Dia hanya seorang anak senior high school, teman adikku, jauh lebih muda dariku, dan….seorang idol!

Tidak….tidak…..tidak. Otak-ku menolak keras.

Kenapa pria yang kupikir lumayan ini jauh lebih muda dariku dan seorang idol?!!!! Aaaarrrggghhhhh!!!! Aku tidak mungkin melanggar janjiku!

Mari kuulangi janjiku. Satu-satunya pria yang kuinginkan hanyalah :

  1. Yang lebih tua dan lebih dewasa dariku
  2. Yang lebih tinggi dari Kim Woo Bin
  3. Yang lebih tampan dari Kim Woo Bin
  4. Yang lebih sukses dari Kim Woo Bin
  5. Bukan seorang idol!
  6. SETIA

Dan sepertinya harus kutambahkan syarat lain :

7. Bukan teman si kembar!

8. Bukan pria bernama Yook Sung Jae yang terlihat sangat tampan dan dewasa, padahal sebenarnya hanyalah seorang bocah dan idol seperti adikku!

 

–          TBC –

 

5 thoughts on “My Heart, Mind, and Soul (Chapter 1)

  1. miiiii hahahhahahhaha n pikir jae tuh youngjae wkwkkwkwkk wlo agak aneh krna jae kan 94 liner masa sekelas ama si jo twins ehh trnyataa si sungjae wkwkwk

    kim woo bin brapa tingginya?? asa tinggian zelo hahahhahhaa

    tapii apa krna terlalu cpet yaa ato aku bacanya lg ga nyantei feel sedih diputusinny aq blom dapet tapii pengen jitak si woo bin si hahhaa

    siii kembar hebohh abiss sukaa wkwkkwkwk jadi kangen (?) sama mrekaa

    okeee lanjuttttt miiii

  2. wah,
    yg pling w suka dr epep d blog ini t ttng eratnya tali prsaudaraan,
    w pling demen bgt t..
    Apalgi sodaranya cwok smua, ganteng pula..
    Hahaha..

    gak nyangka si woo bin tkang slingkuh,
    next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s