Moonlight Destiny (Chapter 7)

Title                 : Moonlight Destiny

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina) & Kunang Anna (@helloimnia)

Main Cast       : Park Chan Rin (OC), Han Hee / Honey Lau (OC), Oh Se Hun (EXO-K), Kim Jong In / Kai (EXO-K), Jung Dae Hyun (B.A.P), Yoo Young Jae (B.A.P)

Support Cast  : Park Chan Yeol (EXO-K), Henry Lau (Suju-M), Lee Taemin (SHINee), Kim Myung Soo / L (Infinite), Luhan (EXO-M), Wu Zun.  The other EXO, B.A.P, and Infinite members

Length            : sequel

Genre              : Fantasy, family, romance, life, friendship, mystery

Rating                         : PG+15

Summary        : Bagaimana bila berbagai makhluk yang kau kira hanya ada di negeri dongeng, kini benar-benar nyata? Guardian angel, devil, werewolf, spirit, dan vampire. Kau tidak pernah menyadari dirimu berbeda dan special, hingga kau bertemu mereka. Lalu apa yang akan terjadi saat kau mengetahui berbagai rahasia gelap yang seharusnya tidak kau ketahui?

Image

Masa depan bisa berubah sesuai pilihan yang kita ambil. Tapi, apakah takdir bisa berubah?

Inilah kisah kita. Takdir kita.

7th Destiny – By : Azumi Aozora

========== Author PoV ==========

Beberapa hari ini entah kenapa Han Hee selalu saja nempel pada Chan Rin! Han Hee memang berisik dan kadang menyebalkan, tapi kadang Chan Rin senang Han Hee berada di dekat-nya. Sudah lama sekali Chan Rin tidak memiliki teman. Selama ini Chan Rin hanya selalu berteman dengan binatang. Sepertinya hanya Hanhee yang menganggap Chan Rin tidak aneh, dan hanya dia anak perempuan yang tahan dengan tempramen dan sikap dingin Chan Rin. Biasanya orang-orang akan menjauhi Chan Rin karena sikap anti—sosialnya, tapi entah kenapa sepertinya Han Hee senang sekali berada di dekat Chan Rin. Ya, tentu saja karena Chan Rin tidak tahu kalau Han Hee sedang berusaha menjaga Chan Rin. Han Hee tidak mau Oh Se Hun mendekati Chan Rin. Bagaimana kalau Sehun adalah vampire yang ingin mencelakakan Chan Rin?! Begitulah pikir Han Hee.

Chan Rin menunggu Han Hee memesan strawberry cheesecake untuk Han Hee dan jus strawberry untuk mereka berdua. Chan Rin membuka-buka tablet-nya dengan bosan. Tiba-tiba sayup-sayup Chan Rin mendengar suara dentingan piano dari arah luar café. Melodi-nya terdengar unik, sedikit membuat bulu kuduk-nya merinding, tapi sekaligus terdengar indah dan manis. Aneh, sepertinya Chan Rin tahu nada ini.

Tanpa pikir panjang, Chan Rin pun segera berlari keluar dari café dan menuju sumber suara. Di toko alat musik di sebrang café, Chan Rin bisa melihat seorang pria sedang memainkan piano. Chan Rin mendekatkan wajahnya ke kaca toko dan memerhatikan pria itu lekat-lekat. Pria itu mengangkat wajahnya sekilas, masih tetap memainkan piano, dan menatap Chan Rin selama beberapa saat dengan kedua matanya yang tajam dan dingin.

Chan Rin tersentak. Siapa pria itu? Kenapa pria itu terasa tidak asing? Apakah dia pernah bertemu dengan pria itu?

Pria tampan itu terus saja memainkan piano dengan lihai. Chan Rin merasa seolah dirinya terhipnotis oleh alunan nada yang pria itu ciptakan.

“Chan-Chan!!!” Han Hee berlari menghampiri Chan Rin. Chan Rin tidak menoleh padanya, dan terus saja menatap pria itu dibalik kaca.

“Chan-Chan!!!” panggil Han Hee lagi, raut wajahnya tiba-tiba pucat.

Pria itu berhenti memainkan piano dan kini ia menatap Chan Rin dengan tajam, kemudian ia tersenyum. Kedua matanya yang dingin berubah hangat. Aneh. Rasanya seperti de ja vu bagi Chan Rin.

Pria itu keluar dari dalam toko dan menghampiri Chan Rin. Matanya terus terfokus pada Chan Rin, seolah gadis itu adalah pusat dari dunia-nya.

“Berhenti!” pekik Han Hee pada pria itu. Ia mengacungkan sebuah pistol perak. Pria itu dan Chan Rin sama-sama menatap Han Hee dengan bingung. Perlahan Han Hee menurunkan pistol perak-nya. Aneh. Pikir Han Hee. Han Hee yakin sekali saat pria itu berada di dalam tadi, ia bisa merasakan aura dingin dan jahat yang lebih kuat dibanding aura SeHun dan WuZun, tapi begitu pria itu keluar dan menghampiri Chan Rin, aura-nya terasa biasa saja. Seperti manusia biasa.

Han Hee pun memasukkan kembali pistol perak-nya ke dalam tas, lalu tersenyum lebar. “Hehehe…, maaf. Kau terkejut ya? Aku sedang latihan akting. Tadi itu pistol mainan.” Kata Han Hee berbohong. Lalu ia pun membalikkan badannya dan mencoba mengatur nafas-nya yang memburu. Aneh. Benar-benar aneh. Bagaimana mungkin aura seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan detik?! Pikir Han Hee.

Han Hee membalikkan badannya dan terkejut melihat pria itu masih saja berdiri agak jauh dari Chan Rin dan terus saja menatap Chan Rin dengan tajam. Wajahnya tidak bisa dibaca. Poker face.

Chan Rin juga terus menatap pria itu. Ia memiringkan kepalanya sedikit, seolah mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu pria asing yang anehnya tidak terasa asing itu.

“Apakah kau mengenalku?” tanya Chan Rin.

Pria itu tidak bicara. Ia hanya terus menatap Chan Rin, kemudian ia berbalik dan pergi. Han Hee mendekati Chan Rin lagi, “Siapa dia Chan-Chan?”

Chan Rin mengangkat bahu. “Entahlah. Dia aneh kan? Kenapa dia terus melihatku seolah ia mengenalku? Tapi saat kutanya….. dia hanya terus diam dan melihatku saja.”

Han Hee mengangguk. “Iya, dia aneh. Dia sangat tampan, tapi aneh.” Jantung Han Hee masih berdetak dengan cepat. Han Hee masih tidak percaya, pria yang semula ia anggap vampire itu ternyata bukan vampire? Vampire tidak bisa merubah aura-nya kan? Han Hee percaya ia selalu bisa merasakan aura vampire karena ia adalah anak dari Sebastian Lau, sang vampire hunter yang terkenal. Tak banyak orang yang mengetahui ayahnya adalah seorang pemburu vampire. Orang mengira ayahnya hanyalah musisi dan pianis terkenal. Padahal ayahnya sudah berhasil me-nyegel banyak sekali vampire, tapi hanya segelintir manusia yang tahu.

Han Hee menghela nafas berat. Ia pun merangkul lengan Chan Rin dengan erat. “Ayo Chan-Chan.., pesanan kita sudah siap! Aku ingin segera makan cheesecake yang yummy.” Han Hee tersenyum riang. Chan Rin tersenyum tipis, lalu mereka pun berjalan bergandengan ke café.

Sementara itu, Kim Myung Soo segera menuju mansion-nya di daerah Gangnam. Ia masih mengingat pertemuan-nya dengan Chan Rin barusan.

“Tenang.., semua ada waktunya.” Gumam Myung Soo pada dirinya sendiri. “Akhirnya aku menemukanmu, Rin.” Mata tajam Myung Soo berubah lembut saat ia mengingat kembali bagaimana wajah Chan Rin saat bayi, kanak-kanak, kemudian sekarang…

Selama tidur panjang karena di-segel oleh ratu Angel, Myung Soo tidak benar-benar tidur. Ia memiliki kloningan dirinya. Makhluk yang ia ciptakan dengan sihir hitam. Makhluk itu adalah bagian dari dirinya. Sama persis dengannya dari segi fisik, dan mewarisi seperempat kekuatannya. Makhluk itu bukan vampire dan bukan pula manusia. Tapi makhluk itu minum darah dan memakan makanan manusia, ia juga bisa membunuh vampire lain, ia bisa mengendalikan pasukan vampire Myung Soo, tapi ia tidak bisa merubah siapapun menjadi vampire. Tentu saja, karena makhluk itu bukan Myung Soo. Hanya bagian dari dirinya.

Dan kini…, setelah makhluk itu menyatu kembali dengan dirinya, Myung Soo mulai merasakan berbagai ingatan saat makhluk itu menggantikan posisinya ketika ia tertidur panjang selama ratusan tahun lalu. Myung Soo tersenyum puas melihat ingatan-ingatan itu. Makhluk itu memang bisa diandalkan.

Tatapan mata Myung Soo berubah lembut saat ingatan makhluk itu tentang Chan Rin muncul. Makhluk itu pertama kali bertemu dengan Chan Rin saat Chan Rin berumur 9 tahun. Makhluk itu juga sepertinya pernah diam-diam mengawasi Chan Rin saat Chan Rin beranjak remaja. Myung Soo tersenyum. Ternyata makhluk itu juga mewarisi sebagian perasaan Myung Soo.

Mata Myung Soo mengeras saat dia melihat suatu adegan dalam ingatan-nya. Makhluk itu membunuh seorang vampire hunter terkenal? Myung Soo menyeringai. Ia merasa puas dengan makhluk kloningan dirinya. Myung Soo merasa puas dengan dirinya sendiri. Ya, ia memang jenius. Semua rencana-nya berjalan lancar. Dan kali ini pun… semua yang ia rencanakan pasti akan berjalan dengan baik.

“Yang Mulia…” tiba-tiba saja seorang pemuda tinggi atletis menghampiri Myung Soo dan membungkukkan badan-nya dengan hormat.

“Wu Zun, kau sudah menyelidiki gadis itu?” tanya Myung Soo dengan nada suara-nya yang tak kalah dingin dengan tatapan matanya.

“Ya, Yang Mulia. Semua dugaan Yang Mulia benar.”

Myung Soo menyeringai dengan puas. Lalu ia menatap Wu Zun tajam. “Kau harus berhati-hati pada gadis itu. Dia memiliki Silver Gun langka yang bisa membuatmu ter-segel untuk waktu yang sangat lama. Senjata itu memang tidak mempan bagiku, tapi bagimu…dan bagi vampire lain… senjata itu lebih ampuh dibanding kekuatan me-nyegel yang dimiliki kaum angel. Saat seorang angel berusaha me-nyegelmu, kau bisa lari atau melawan, tapi percayalah senjata itu akan langusng menuju jantung-mu sekalinya peluru perak di dalamnya ditembakkan ke arahmu.”

“Baik Yang Mulia. Hamba mengerti.” Wu Zun membungkukkan badannya.

“Satu lagi, jangan biarkan adikmu menghalangi jalanku. Kau tahu kan aku tidak akan berpikir dua kali untuk melenyapkan adikmu bila ia menghalangi jalanku..”

Tatapan Wu Zun mengeras, tapi ia tetap menundukkan kepalanya dan menghormat. “Saya mengerti, Yang Mulia.”

======== End of Author PoV ========

 

 

========= Chan Rin PoV ==========

Pagi ini kami sekeluarga sarapan bersama. Ini adalah ke-3 kalinya kami bisa berkumpul semua sejak ayahku dan ibu Han Hee menikah. Biasanya ayahku tidak ada di rumah karena sibuk dengan bisnis-nya di berbagai negara. Chan Yeol Oppa dan Henry Oppa…, tidak usah ditanya deh! Jadwal mereka sebagai idol sangatlah padat dan gila! Ibu Han Hee juga sering bolak balik ke China dan Kanada. Jadi, bisa sarapan bersama seperti ini sangatlah langka.

Aku memerhatikan sekelilingku. Ayahku terlihat lebih bahagia setelah menikah dengan ibu Han Hee. Aku tahu, aku memang egois. Mungkin selama ini ayahku merasa kesepian.

Tatapanku beralih pada Chan Yeol Oppa dan Han Hee. Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali tertawa karena cerita mereka berdua. Tanpa kusadari, aku tersenyum. Mungkin.., punya keluarga baru bukanlah hal yang buruk.

“Chan Rin, makanlah…” Henry Oppa tersenyum hangat padaku. Ia meletakkan sepotong beef sandwich di piringku. Sejak tadi aku memang belum makan dan hanya memperhatikan keluargaku makan. Aku tersenyum pada Henry Oppa dan mulai makan.

Selama makan, pikiranku sibuk berkelana kesana kemari. Aku masih belum bisa membuktikan Oh Se Hun adalah vampire dengan mata kepalaku sendiri. Han Hee masih saja menempel padaku. Dan akhir-akhir ini kuperhatikan…Han Hee tidak pernah pergi bersama Kai lagi. Apa mereka sedang bertengkar? Dae Hyun masih bersikap baik seperti dulu. Tapi tetap saja.., aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Apakah aku salah? Apakah sebaiknya aku meninggalkan Dae Hyun sebelum ia terlalu menyukaiku?

Aku menghela nafas berat. Aku sebenarnya hanya takut. Aku takut bergantung pada orang lain. Aku takut di saat aku mulai tergantung pada orang lain, maka aku akan sulit untuk meninggalkannya. Aku takut orang-orang di sekitarku terluka karena diriku. Bagaimanapun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu…aku bukan manusia normal. Aku bisa bicara pada binatang! Bukankah itu tidak normal?

Sebenarnya aku senang saat mengetahui Han Hee juga tidak normal. Ia bisa melihat dan berbicara pada hantu! Lalu.., sebenarnya.., ada berapa banyak lagi manusia tidak normal di dunia ini? Han Hee bilang…..Sehun adalah vampire. Benarkah? Benarkah di dunia ini vampire benar-benar ada? Kalau begitu.., bagaimana dengan manusia serigala? Lalu devil dan angel? Apakah mereka nyata?

“Chan-Chan!! Chan-Chan…, kau melamun ya?” rupanya sejak tadi Han Hee terus memanggilku.

“Eh?” aku tersadar. Sandwich-ku baru kumakan seperempat.

“Habiskan sarapanmu, RinRin.” Kata Chan Yeol Oppa.

Aku menggeleng. “Aku sudah kenyang.”

“Jangan bilang kau diet!” kata Chan Yeol Oppa lagi. Ia menatapku penuh curiga. “Jangan karena sekarang kau punya pacar… siapa itu namanya? Member B.A.P itu? Ah iya…, Jung Dae Hyun. Jangan diet karena dia! Kau sudah kurus, Rinrin! Justru kau harus banyak makan.” Chan Yeol Oppa menceramahiku.

Aku memutar bola mataku.Siapa juga yang diet?! Aku hanya sedang tidak nafsu makan. Han Hee tiba-tiba terdiam.

“Sebenarnya aku masih tidak setuju.” Tiba-tiba saja Henry Oppa ikut-ikutan bicara. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menatap aku dan Han Hee bergantian. “Lebih baik kalian fokus belajar, pacaran hanya akan mengganggu.” Ini adalah kedua kalinya aku melihat Henry Oppa berubah menyeramkan. Yang pertama tentu saja saat ia kembali ke rumah ini beberapa hari yang lalu. Saat itu Chan Yeol bilang pada Henry Oppa tentang aku-Daehyun dan Hanhee-Kai. Aku tidak mau lagi mengingat kejadian itu. Rasanya lebih baik aku dijemur di lapangan seharian daripada kena omel panjang lebar dari Henry Oppa tentang cowok dan pacar!

Sungguh, saat ini Chan Yeol Oppa dan Henry Oppa terlihat seperti seorang ayah yang menasehati anak-anak gadis-nya tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak. Padahal ayah kami saja tenang-tenang saja menanggapi masalah kami. Ibu Han Hee malah sepertinya setuju dengan kami.

“Aku…mmm..aku dan Kai sudah putus.” Kata Han Hee.

“Mwo????” aku dan Chan Yeol Oppa kaget. Tapi Henry Oppa tersenyum manis. “Itu lebih baik, Honey. Sekarang belum saatnya kau memikirkan namjachingu. Di universitas nanti pasti lebih banyak pria yang jauh lebih baik.”

Aku menatap Han Hee. Han Hee hanya nyengir lebar padaku. Ia sama sekali tidak terlihat sedih.

“Pantas saja Kai jadi murung.” Bisik Chan yeol Oppa, tapi masih bisa kudengar.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada message dari Dae Hyun :

Aku di depan rumahmu. Pagi ini aku bisa mengantarmu ke sekolah. Hehehe. Ayo keluar…

Kenapa Dae Hyun muncul di saat yang tidak tepat?!  Aku terus menatap layar ponsel-ku. Bagaimana ini? Sudah beberapa hari ini aku pergi bersama Han Hee naik bus. Aku menggigit bibir bawahku.

“Chan-chan.., kau bisa pergi bersama Dae Hyun Oppa.” Kata Han Hee. Aku terkejut. Kenapa dia bisa tahu?

Chan Yeol Oppa dan Henry Oppa menatapku dengan ganas. Aku menatap Han Hee lagi. Han Hee tersenyum, tapi aku merasa kali ini senyumnya agak aneh dan terlihat dipaksakan. Meskipun aku belum yakin 100%, tapi aku bisa merasakan ketertarikan Han Hee pada Dae Hyun. Aku menghela nafas panjang. Sepertinya aku memang melakukan kesalahan.

Chan Yeol Oppa dan Henry Oppa mengantarku sampai ke depan rumah. Tatapan mereka berdua tertuju pada Dae Hyun yang tersenyum ramah. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.

“Aku pergi dulu.” kataku pada Chan Yeol dan Henry.

“Hati-hati.” Kata mereka singkat, tapi mata ganas mereka terus mengawasi Dae Hyun sampai kami masuk ke dalam mobil Dae Hyun.

Selama di perjalanan menuju sekolahku, Dae Hyun terlihat ceria. Ia menyetel lagu-lagu B.A.P di mobil-nya, bahkan ikut menyanyi saat bagian-nya terdengar.

Aku menghela nafas panjang. Bagaimana ini? Kenapa aku baru menyadari kebodohanku sekarang?! Kenapa aku tega memanfaatkan orang sebaik Daehyun?! Sejak awal aku butuh seseorang untuk menjagaku dari penguntit, bukan pacar! Park Chan Rin, seharusnya dulu kau menyewa bodyguard saja dan tidak menerima pernyataan Dae Hyun! Aku memukul-mukul kepalaku.

“Kau kenapa, Chan Rin~ah?” Dae Hyun menangkap pergelangan tanganku dan tersenyum sekilas sebelum kembali fokus menyetir. Sebelah tangannya masih memegang pergelangan tanganku, sedangkan tangannya yang satu lagi di setir mobil.

“Aku…aku mau bolos sekolah hari ini.” Kataku spontan.

“MWO???” pekik Dae Hyun kaget. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan dan menatapku dengan tatapan tak percaya. “Kau? Bolos sekolah? Apa benar kau adalah Park Chan Rin?” Dae Hyun tersenyum menggoda.

Aku menghela nafas. “Aku harus mengatakannya sekarang, kalau tidak.., aku akan terus memikirkannya.”

“Mengatakan apa?” senyum Dae Hyun lenyap seketika. Ia menatapku dengan cemas. Aku balas menatapnya. Bagaimana ini???! Aku tidak tega mengatakannya, tapi…kalau terus seperti ini..berarti aku hanya membohongi diriku sendiri.

“Dae Hyun Oppa.., maafkan aku. Seharusnya….dulu aku tidak menerimamu. Aku.., aku tidak mencintaimu, Dae Hyun Oppa. Maafkan aku.”

Diluar dugaanku, Dae Hyun malah tersenyum. Meskipun matanya terlihat sedih, tapi ia tersenyum. “Aku tahu.”

“Mwo?”

“Karena itulah aku akan terus berusaha membuatmu menyukaiku, Chan Rin~ah…”

“Dae Hyun sshi..” aku menatap Dae Hyun serius. “Kita tidak bisa seperti in..…” kata-kataku terputus karena tiba-tiba saja Dae Hyun memelukku.

“Apakah di hatimu hanya ada ancestor itu, Chan Rin~ah?”

“Mwo?” aku tidak mengerti dengan apa yang Daehyun katakan.

Daehyun melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat. “Chan Rin~ah.., seandainya seseorang bereinkarnasi.., apakah perasaan cinta mereka akan berubah?”

“Mwo?” reinkarnasi? Aku tertawa pelan. Kenapa Daehyun tiba-tiba membicarakan hal yang aneh-aneh begini?!

“Aku tidak percaya reinkarnasi itu nyata.” Kataku.

Dae Hyun tersenyum. “Kuharap kau terus seperti ini, Chan Rin~ah. Aku tidak mau kau berubah…” Dae Hyun memejamkan matanya selama beberapa saat, seolah meredakan emosi. Lalu ia membuka matanya dan menatapku. “Chan Rin~ah.., bagaimana kalau… aku adalah monster? Bagaimana kalau kau adalah monster?” tanya Dae Hyun serius.

Aku tertawa. “Dae Hyun sshi, hari ini pertanyaanmu aneh-aneh. Kau habis nonton film fantasy ya tadi malam?”

Dae Hyun masih menatapku dengan serius, lalu ia tersenyum tipis. “Kau mau bolos ke mana? Bagaimana kalau kita ke Busan?”

“Dae Hyun sshi.., kita berdua tidak bisa…”

“Aku tahu, Chan Rin~ah.., kau boleh tidak menganggapku sebagai kekasihmu, tapi kau tidak bisa mengatur perasaanku. Biarkan aku tetap berada di sampingmu, Chan Rin~ah…”

“Dae Hyun sshi, maafkan aku…”

Dae Hyun menggeleng pelan. “Kau tidak bisa mengatur perasaanku, Park Chan Rin.” Katanya sekali lagi. Menegaskan.

“Tapi bagaimana bila ada gadis lain yang mencintaimu, Dae Hyun sshi? Kau tidak seharusnya memberikan cintamu pada orang yang tidak mencintaimu. Kau seharusnya mencintai gadis yang mencintaimu.”

Sorot mata Dae Hyun terlihat kosong. Aku menggigit bibir bawahku.

Dae Hyun menghela nafas panjang. “Aku tidak bisa mengatur perasaanku, Park Chan Rin.” Katanya dengan nada lelah.

“Aku juga tidak, Jung Dae Hyun sshi.”

Dae Hyun tersenyum setengah hati. “Chan Rin~ah.., mungkin kau tidak menyadarinya. Tapi..sepertinya mitos itu benar. Sepertinya sejak dulu hatimu sudah terikat padanya.”

Lagi-lagi Dae Hyun mengatakan hal yang tidak masuk akal. Aku menghela nafas berat. Menyerah. “Jadi, sekarang kita pergi ke Busan?”

Dae Hyun langsung tersenyum cerah dan mengangguk. “Di sana ada pantai dan tempat menyepi favoritku sejak kecil.”

Aku hanya mengangguk dan tidak berbicara selama perjalanan kami ke Busan. Aku tidak pernah mengira ternyata Jung Dae Hyun se-keras kepala ini. Yah, biar sajalah. Yang penting aku sudah jujur padanya. Dan mulai besok…lebih baik aku menghindarinya dan mulai bersikap jutek lagi padanya. Lambat laun dia akan menjauhiku kan?

********

Malam hari-nya….

Aku tiba di rumahku pukul 9 malam. Dae Hyun mengantarku sampai ke depan rumah, padahal aku sudah bersikeras pulang naik taxi saja tapi Daehyun tidak mau kalah. Baru kali ini aku bertemu orang yang sama keras kepalanya denganku. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan Daehyun mengantarku. Lagipula…ini hari terakhir kami bersama.

Dae Hyun ikut turun dari mobil dan mengantarku sampai ke depan pintu rumah. “Terima kasih sudah menemaniku, Chan Rin~ah.” Dae Hyun tersenyum lebar.

“Dae Hyun sshi, jangan menemuiku lagi.” kataku dengan dingin.

Dae Hyun terus saja tersenyum. “Aku akan terus menemuimu.”

“Dae Hyun sshi!”

“Aku tahu. Tapi kau tidak bisa…”

“Aku tidak bisa mengatur perasaanmu.” Potongku. Sudah hafal betul dengan kalimat Dae Hyun yang satu itu. Aku menghela nafas panjang. Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan Jung Dae Hyun. Aku hanya perlu menghindarinya mulai besok.

Kreeek…, brakkk..,

Tanpa kami duga, pintu depan rumahku tiba-tiba saja terbuka dan menampakkan wajah Chan yeol dan Han Hee yang tersenyum salah tingkah pada kami.

“Oppa! Kau menguping ya?!” kataku kesal. Chan Yeol Oppa hanya nyengir lebar tanpa dosa. Sementara itu Han Hee dan Dae Hyun saling tatap awkward.

“Hey pendek, menguping itu sangat tidak sopan.” Kata Dae Hyun pada Han Hee sambil menahan senyum. Tanpa mereka sadari, aku segera menyelinap masuk ke dalam rumah dan meninggalkan mereka berdua di teras depan rumah.

Chan Yeol mengikutiku. “Kalian kenapa? Putus?” tanya Chan Yeol dengan wajah berseri-seri.

“Bukan urusanmu!” kataku dingin, tapi Chan Yeol terus saja membuntutiku sampai ke kamar.

“Rinrin.., kau jangan pulang malam-malam seperti ini, arraseo?” Chan Yeol tiduran di tempat tidurku. Aku membereskan buku-buku pelajaranku. Ini adalah pertama kalinya aku bolos sekolah, dan aku merasa sangat bersalah.

“Aku sangat khawatir, Rinrin.., akhir-akhir ini banyak sekali orang hilang. Di koran, di TV…semuanya membahas orang hilang. Mereka hilang begitu saja tanpa jejak sama sekali, seolah ditarik ke dunia lain, atau jangan-jangan planet lain. Jangan-jangan mereka diculik alien?!”

“Oppa! Aku mau ganti baju.” Kataku.

Chan Yeol nyengir. “Oke.” Ia pun berdiri dan mengacak-acak rambut panjangku sebelum keluar dari dalam kamarku.

Aku meraih piyama, lalu mengintip sebentar lewat balkon ke bawah. Dae Hyun dan Han Hee masih berdiri di sana, entah membicarakan apa. Kemudian aku terkesiap melihat sosok Kai yang menatap ke balkon kamarku.

Kai? Kenapa dia menatap ke arah kamarku? Aku keluar menuju balkon dan bertatapan dengan Kai. Entah hanya perasaanku saja atau memang pada kenyataannya barusan Kai seperti terlihat lega setelah melihatku.

Kemudian mata Kai terfokus ke teras depan rumahku. Oh tidak! Han Hee dan Dae Hyun masih ada di sana!  Kai melihat ke arah mereka berdua tanpa mereka sadari, lalu Kai melihat lagi ke arahku sebelum akhirnya ia pergi.

Untuk apa Kai datang malam-malam begini? Apa ia ingin bertemu dengan Han Hee? Kalau iya, mengapa ia melihat ke arah kamarku terlebih dahulu seolah memastikan aku sudah pulang atau belum?!

Aku menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya aku dan Han Hee memang melakukan kesalahan besar. Kami bersama dengan orang yang tidak kami cintai.

Sekali lagi aku mengintip ke teras. Aku memang tidak bisa mendengar apa yang Han Hee dan Dae Hyun bicarakan, tapi sepertinya mereka terlihat akrab. Jung Dae Hyun, kuharap kau segera menyadari siapa perempuan yang harusnya kau cintai.

Aku tersenyum melihat Han Hee dan Dae Hyun. Sejujurnya aku iri pada Han Hee karena dia bisa mencintai seorang pria, meskipun Han Hee tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia mencintai Dae Hyun, tapi aku bisa melihatnya dari sorot mata Han Hee saat dia menatap Dae Hyun dan dari sikapnya saat bersama Dae Hyun.

Aku iri pada Han Hee karena aku tidak bisa mencintai pria manapun. Bukan berarti aku lesbian. Tapi…, entah kenapa sampai saat ini aku tidak bisa mencintai seorang pria-pun. Padahal sudah jelas-jelas ada pria sebaik Jung Dae Hyun yang mencintaiku, tapi mengapa aku tidak bisa mencintainya?!

Kemudian samar-samar aku ingat saat masih kecil dulu, aku pernah memimpikan seorang pria yang kuanggap sebagai cinta pertamaku, meskipun aku tidak mengenal siapa pria di dalam mimpi itu. Sekarang pun aku sudah lupa bagaimana wajahnya. Mungkin semuanya hanya khayalanku. Aku kan memang aneh.

Kemudian aku teringat apa yang Dae Hyun katakan padaku tadi pagi di mobil. “Apakah di hatimu hanya ada ancestor itu, Chan Rin~ah?”

Apa maksud perkataan Dae Hyun? Ancestor? Leluhur? Leluhur siapa? Lalu Dae Hyun juga mengatakan reinkarnasi. Apa maksudnya?

Aku menggelengkan kepalaku. Mungkin Dae Hyun hanya terlalu sering nonton film fantasy dan science fiction.

*******

@Sekolah……

Aku pulang dari sekolah agak telat karena hari ini giliranku piket membersihkan kelas. Han Hee sudah pulang duluan untuk les vocal. Dae Hyun masih mengirimiku message di kakao talk, tapi aku mengabaikannya. Aku sudah memutuskan untuk menjauhi Jung Dae Hyun. Semua ini demi kebaikan kami bersama.

Ketika keluar gerbang sekolah, aku terkejut melihat mobil sport hitam milik Kai. Aku menghampiri mobil Kai. Perlahan kaca mobil terbuka, menampilkan sosok Kai yang memakai topi dan kacamata hitam. Kai melakukan penyamaran simple agar tidak ada fans yang mengenalinya.

“Kai sshi, Han Hee sudah pulang.”

“Masuklah.” Kata Kai.

“Mwo?” aku menatap Kai bingung.

“Masuklah Park Chan Rin. Aku akan mengantarmu ke tempat perawatan hewan. Bukankah kau sudah telat?”

Aku bingung mengapa Kai tahu jadwalku. Ya, siang ini aku memang ada jadwal ke tempat penampungan dan perawatan hewan-hewan yang terlantar ataupun dibuang oleh pemilik asalnya. Aku melakukan volunteer di tempat itu 2 kali dalam seminggu.

Aku pun akhirnya masuk ke dalam mobil Kai. Diantar oleh Kai akan menghemat banyak waktu daripada menunggu bus.

Selama di perjalanan, Kai hanya terdiam. Aku tahu dia sedang dalam kondisi bad mood. Aku ingin bertanya padanya, mengapa ia menjemputku? Mengapa ia bisa tahu jadwalku? Tidak mungkin Han Hee yang memberitahunya, karena Han Hee pun tidak tahu kalau aku selalu melakukan volunteer di penampungan hewan 2 kali dalam seminggu. Tapi aku hanya terdiam dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu di kepalaku.

Akhirnya kami pun sampai. Aku menatap Kai heran saat ia ikut turun dan masuk bersamaku ke tempat penampungan hewan. Aku membiarkan Kai mengikutiku.

“Chan Rin ~ah..”

“Hai Chan Rin….” Sapa seorang pria dan seorang wanita yang merupakan pemilik tempat penampungan hewan.

“Eonni, Oppa, maaf aku telat. Aku ada piket dulu. hehehe.”

Seung Gi Oppa terseyum. “Tidak apa-apa Chan Rin~ah. Oh, bukankah kau Kai EXO?” Seung Gi Oppa tersenyum pada Kai. Kai membungkukkan badannya dan memperkenalkan diri.

“Waaahhh.., aku tidak menyangka kau pacar-nya Kai.” Shin Ae eonni tertawa senang.

“Dia bukan pacarku, eonni! Dia teman kakakku.” Sanggahku.

“Oooh.., wah hebat juga kakakmu punya teman idol.” Kata Shin Ae eonni. Aku hanya terdiam. Ah, aku lupa. Mereka kan tidak tahu aku adalah adik Park Chan Yeol.

Aku pun segera mengganti seragam-ku dengan kaos hitam dan celana jins. Aku senang bisa mengurus anjing-anjing dan kucing-kucing yang telantar ini. Karena aku bisa berbicara pada binatang, aku mengerti perasaan mereka. Mereka bercerita padaku tentang masa lalu mereka. Kasihan sekali rasanya mendengar cerita anjing atau kucing yang disiksa oleh pemilik mereka sebelumnya. Atau anjing dan kucing yang dibuang begitu saja di jalanan seolah mereka tidak berharga.

Tanpa kusadari, Kai memperhatikanku sejak tadi. Aku berbicara pada kucing-kucing dan anjing-anjing itu, memberi mereka makan, memandikan anjing-anjing, dan bermain bersama mereka.

“Kau terlihat akrab dengan mereka.” Kai tiba-tiba saja sudah berjongkok di sampingku dan mengelus-elus kepala seekor Siberian husky cokelat. Aku menatap Kai. Kai tersenyum. Hilang sudah raut bad mood-nya. Sepertinya Kai juga suka binatang. Ia bermain-main dengan para anjing.

“Kai, anjing itu lelah. Dia sudah cukup tua. Biarkan ia istirahat.” Kataku, saat Kai bermain dengan golden retriever berwarna krem.

“Kai, kucing itu tidak ingin maka biskuit, dia ingin makan ikan mentah.” Kataku, saat Kai memberikan biskuit kucing untuk seekor kucing Persia kuning.

Kai mengerutkan keningnya dan menatapku. “Kau seperti bisa membaca pikiran para binatang ini.” Kai pun tertawa, lalu memberikan ikan mentah untuk si kucing Persia kuning. Kucing itu pun melahap ikan mentah dengan semangat.

“Meong..terima kasih..meong. Aku senang diberi makan oleh pria tampan ini.” Kata si kucing Persia kuning padaku.

Aku tertawa dan mengelus-elus kepala si kucing. “Sama-sama.” Kataku pada kucing itu, lalu spontan aku menatap Kai. “Kucing ini bilang kau tampan.” Kataku sambil tertawa pelan.

Tanpa kuduga, Kai langsung memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya yang besar. Ia menatapku lekat-lekat. Aku tersentak.

“Chan Rin, kau bisa bicara pada binatang?” tanya Kai dengan ekspresi serius.

“Eh?” aku bingung harus menjawab apa. Kenapa Kai menanyakan hal ini? Ya. Aku memang bisa bicara pada binatang. Aku bisa mengerti apa yang binatang katakan padaku. Tapi memangnya ia akan mempercayaiku? Chan Yeol Oppa saja tidak percaya padaku!

Aku menatap Kai tajam. “Memangnya kau akan percaya bila aku berkata iya? Ya. Aku bisa mengerti apa yang binatang katakan dan aku bisa bicara pada mereka. Kau mau menertawakanku dan mengolok-olokku sekarang?”

Kai terus saja menatapku. Matanya dipenuhi berbagai emosi. Pegangan tangannya di bahuku terasa semakin keras, membuatku meringis kesakitan.

“Park Chan Rin, mulai saat ini kau harus selalu berada di sampingku.” Kata Kai.

“Mwo?”

======= End of Chan Rin PoV =======

 

 

======== Author PoV==========

Kai menatap Chan Rin lekat-lekat. Matanya dipenuhi berbagai emosi. Kai tahu, selama ini Tae Min menyembunyikan banyak hal darinya. Tae Min meminta Kai untuk menjaga Chan Rin tanpa Kai tahu apa alasan sebenarnya. Tae Min bilang, ada vampire jahat yang menginginkan darah Chan Rin. Tapi Tae Min juga malah bekerja sama dengan Sehun yang seorang vampire. Tae Min bilang, Sehun juga akan menjaga Chan Rin, tapi entah kenapa insting Kai berkata lain.

Saat ini, ketika Kai mengetahui Chan Rin bisa berbicara pada binatang dan mengerti bahasa binatang, saat itu jugalah Kai tahu siapa Park Chan Rin yang sebenarnya.

Kai memang bukan angel teladan. Ia juga bukan pangeran angel sempurna seperti Tae Min, tapi Kai tahu sedikit tentang sejarah. Meskipun saat masih kecil Kai tidak diperbolehkan membaca buku-buku sejarah terlarang, tapi di beberapa kesempatan ia mencuri-curi waktu untuk membaca buku-buku itu secara diam-diam.

Sejak dulu, Kai mempunyai firasat, ayahnya menyembunyikan sesuatu tentang ibunya. Sampai sekarang pun Kai masih tidak tahu dimana ibunya berada atau apa yang terjadi pada ibunya saat Kai masih bayi. Kai mencari-cari petunjuk di buku-buku sejarah terlarang tentang ibunya, tapi ia tidak menemukannya. Kai malah menemukan tulisan menarik tentang sejarah seorang ancestor vampire bernama Rin.

Kai memang tidak tahu cerita keseluruhan tentang vampire. Tapi ia tahu siapa Rin. Sejak bayi, Rin bisa berbicara dengan binatang. Hanya ia satu-satunya makhluk yang bisa berbicara dengan semua jenis binatang. Sejarah mengatakan, Rin menghilang saat ia masih kanak-kanak. Ada yang berpendapat Rin dibunuh oleh ibunya yang juga merupakan ancestor vampire, tapi ada yang juga mengatakan Rin bereinkarnasi.

Kemudian segalanya terasa masuk akal bagi Kai saat ini. Sekarang ia tahu mengapa Tae Min memintanya untuk menjaga Chan Rin, karena Chan Rin adalah ancestor vampire. Kai bukan harus menjaga Chan Rin karena ada vampire jahat yang mengincar darahnya, akan tetapi Kai harus menjaga Chan Rin agar jangan sampai satu-satunya ancestor vampire yang tersisa, yang merupakan kakak Chan Rin di masa lalu – membangkitkan kekuatan Chan Rin.

Saat ini Chan Rin pasti tidak mengingat siapa dirinya. Mungkin memang benar, ia dilahirkan kembali. Kai harus menjaga Chan Rin agar jangan sampai sang ancestor menemukan Chan Rin dan membangkitkan kekuatan Chan Rin.

“Park Chan Rin, mulai saat ini kau harus selalu berada di sampingku.” Kata Kai.

“Mwo?” Chan Rin menatap Kai bingung.

Kai menghela nafas panjang. Kai pikir akan sulit rasanya bila ia harus menceritakan semuanya pada Chan Rin. Biarlah Chan Rin mengetahuinya secara perlahan.

“Aku akan melindungimu.” Kata Kai sambil menatap Chan Rin dalam-dalam. Chan Rin hanya mengerjapkan matanya dengan bingung. “Jangan dekati Oh Sehun, feelingku mengatakan ia tidak memiliki tujuan yang sama denganku.” Kai mengerutkan keningnya. “Kau juga sebaiknya menghindari Lee Tae Min dan Jung Dae Hyun. Jangan mempercayai siapapun selain aku.”

Chan Rin mendengus. “Mengapa hanya kau yang harus kupercayai?”

“Karena aku tahu siapa kau, Park Chan Rin. Dan aku akan membantumu untuk tidak berubah kembali menjadi monster.”

Chan Rin tersentak. Tiba-tiba saja ia ingat perkataan Jung Dae Hyun waktu itu. Dae Hyun berkata bagaimana kalau Dae Hyun ternyata adalah seorang monster. Bagaimana kalau Chan Rin adalah seorang monster?

“Siapa kau sebenarnya, Kai?”

Kai tertawa. “Besok malam, ikutlah denganku ke hutan. Kau akan tahu siapa aku. Kau juga pasti akan bisa berbicara padaku, seperti saat kau berbicara pada anjing.” Kai mengedipkan sebelah matanya, lalu tertawa lagi. “Kau sudah pernah berbicara pada serigala?”

Chan Rin menggeleng. Ia masih menatap Kai, seolah Kai sudah gila. Kai tersenyum. “Berarti besok malam adalah pengalaman pertamamu.”

******

Keesokan harinya, Oh Se Hun diam-diam mengawasi Chan Rin di sekolahnya. Sehun berhati-hati agar tidak dekat-dekat dengan Han Hee. Sehun tahu, Han Hee bisa merasakan kehadirannya. Meskipun Se Hun tidak tahu banyak mengenai masa lalu Han Hee, tapi ia tahu Han Hee adalah anak dari Sebastian Lau, sang pemburu vampire yang terkenal. Se Hun juga menduga Han Hee pasti memiliki silver gun yang dapat me-nyegel vampire. Seandainya silver gun itu bisa membunuhnya, tentu ia akan dengan sukarela meminta Han Hee menembakkan peluru perak itu padanya. Tapi sayangnya, senjata itu hanya bisa me-nyegel-nya.

Sehun tidak mau ter-segel. Lebih baik ia berusaha untuk menjadi manusia kembali  dengan mengikuti segala perintah Tae Min, daripada ter-segel selama beberapa ratus tahun tapi pada akhirnya ia akan bangkit kembali sebagai vampire. Percuma saja.

Yang paling Sehun inginkan saat ini hanya satu, yaitu mati, atau…..berubah kembali menjadi manusia.

Sehun mengamati Chan Rin agak jauh dari jendela kelas-nya. Untung saja Chan Rin tidak sekelas dengan Han Hee. Kalau iya, Han Hee pasti sudah mengetahui keberadaan Sehun.

Sehun memang menginginkan 100 mutiara jiwa yang akan Tae Min berikan padanya bila ia berhasil membunuh Chan Rin. Tapi mengapa insting-nya mengatakan bahwa hal itu salah?! Kenapa feeling-nya terus mengatakan untuk tidak membunuh Park Chan Rin? Tae Min berkata bahwa Chan Rin adalah pelengkap bagi sang ancestor vampire. Pelengkap? Apa maksudnya dengan pelengkap? Memangnya Chan Rin se-penting itukah sampai sang ancestor vampire menginginkannya?

Sehun memang tidak tahu siapa dan bagaimana wajah sang ancestor vampire yang telah merubahnya menjadi vampire lebih dari 200 tahun yang lalu. Insting vampire-nya selalu membuat Sehun ingin bertemu dengan sang ancestor. Insting vampire-nya mendambakkan sang ancestor sebagai Tuan-nya dan ingin melayani sang Tuan-nya tersebut. Tapi Sehun selalu menolak insting vampire-nya. Seperti tepat satu bulan yang lalu, saat ia bisa merasakan kekuatan sang ancestor yang memanggilnya untuk mengabdi, di saat sang ancestor bangkit dari tidur panjangnya, Sehun lagi-lagi menolak insting-nya. Bagaimanapun Sehun sangat membenci sang ancestor vampire.

“Park Chan Rin, siapa kau sebenarnya?” tanya Sehun pelan. Sehun bersembunyi di pohon dan menunggu Chan Rin keluar dari kelas. Beruntung hari ini Han Hee ada kerja kelompok bersama teman-teman sekelasnya, sehingga Chan Rin berjalan sendirian.

Sehun sudah memakai penyamaran untuk menghindari fans EXO. Sehun memakai wig ikal gondrong, kacamata baca, dan topi. Sehun turun dari atas pohon dan segera menghampiri Chan Rin. Sehun harus tahu siapa Chan Rin yang sebenarnya! Feeling Sehun berkata bahwa Chan Rin bukanlah manusia biasa.

“Park Chan Rin!” Sehun memegang lengan Chan Rin.

Chan Rin tampak terkejut dan menatap Sehun lekat-lekat. “Sehun?” Chan Rin mengerutkan keningnya dan menatap Sehun dengan aneh. Lalu, tanpa Sehun duga, Chan Rin tertawa pelan. “Kau tahu? Kau terlihat seperti perempuan dengan wig itu.”

Sehun menyeringai. “Ikut aku.” Kata Sehun sambil menarik tangan Chan Rin.

“Yah! Oh Sehun! Jangan menarik tanganku!” bentak Chan Rin. Tapi Sehun tidak memedulikannya, ia tetap menggenggam tangan Chan Rin dan menariknya agak kasar.

Perlahan Sehun melonggarkan genggaman tangannya dan membuat tangan Chan Rin tidak sakit lagi. Chan Rin berjalan agak di belakang. Ia tidak suka tangannya digenggam oleh Sehun! Rasanya aneh dan dingin. Ya, tangan Sehun terasa sangat dingin, seolah Sehun tidak memiliki suhu tubuh normal. Chan Rin jadi berpikir, apakah jangan-jangan Sehun benar-benar seorang vampire?!

Chan Rin terkejut karena ternyata Oh Sehun cukup memiliki manner. Ia tidak membiarkan Chan Rin berjalan di dekat mobil dan motor. Ia berjalan seolah melindungi Chan Rin. Sehun juga memperlambat langkahnya di saat ia tahu Chan Rin sudah kelelahan. Chan Rin tidak tahu mereka akan ke mana dan sudah berapa lama mereka berjalan. Chan Rin merasa sangat kelelahan, tapi ia penasaran dengan Sehun. Chan Rin ingin mengetahui siapa Sehun sebenarnya, maka ia pun menguatkan dirinya untuk terus berjalan meskipun kaki-nya sudah terasa seperti jelly.

Sepertinya sudah lebih dari dua jam mereka berjalan tanpa henti. Sehun menatap Chan Rin yang kelelahan. Sementara Sehun sendiri sama sekali tidak merasa lelah. Bahkan tak ada satu tetes pun keringat di wajah dan tubuh Sehun. Sebenarnya Sehun melakukan perjalanan panjang tanpa henti ini sebagai salah satu tes untuk Chan Rin. Untuk membuktikan apakah Chan Rin manusia atau bukan.

Chan Rin duduk di pinggir sebuah lapangan bola, di bawah pohon. Nafasnya terengah-engah. Wajahnya memerah karena sinar matahari dan dipenuhi keringat.

‘Park Chan Rin, kau hanya manusia’. Kata Sehun dalam hati. ‘Kalau kau adalah vampire, angel, devil, manusia serigala, ataupun siluman – kau tidak akan merasa kelelahan seperti ini. Kau hanya manusia. Lalu mengapa sang ancestor begitu menginginkanmu? Kekuatan apa yang kau miliki?’ Sehun terus bertanya-tanya dalam hatinya.

Chan Rin berusaha mengatur nafasnya. Ia memandang Sehun dan merasa heran karena Sehun sama sekali tidak terlihat lelah. Sehun meninggalkan Chan Rin sebentar, dan dalam sekejap mata, Sehun kembali sambil membawa sebotol air mineral dingin. Sehun memberikan minuman itu pada Chan Rin. Tanpa berpikir dua kali, Chan Rin pun segera menerima botol itu dan meminum air-nya sampai habis.

“Oh Sehun, apa kau sudah gila?!” bentak Chan Rin. “Dulu, kau mau bunuh diri di jalan raya, dan sekarang kau mengajakku berjalan kaki tanpa henti selama lebih dari dua jam?! Apakah kau ingin mati?!”

Sehun tertawa terbahak-bahak. Chan Rin menatap Sehun dengan aneh. “Ya, seandainya bisa…, aku ingin mati.” Kata Sehun dengan nada dingin. “Park Chan Rin, siapa kau sebenarnya?”

Chan Rin mendengus. “Semua orang benar-benar aneh akhir-akhir ini. Kau, Kai, Dae Hyun, Han Hee. Ada apa sebenarnya dengan kalian semua? Dae Hyun dan Kai berkata aku adalah monster.” Chan Rin menyeringai. “Tapi sepertinya….justru kau-lah yang seorang monster, Oh Sehun. Bukankah begitu, tuan vampire?”

Sehun menyeringai. “Rupanya kau sudah tahu.”

Chan Rin mendengus lagi. “Jadi benar ya kau vampire? Padahal aku hanya menebak. Han Hee bilang….kau vampire. Tapi aku tidak yakin. Buktikan! Buktikan padaku kalau kau adalah seorang vampire!” tantang Chan Rin.

Sehun menatap Chan Rin lekat-lekat, lalu menyeringai. “Kau yakin tidak akan menyesal, Park Chan Rin?” perlahan Sehun mendekatkan wajahnya pada Chan Rin. Matanya terfokus pada leher jenjang Chan Rin. Chan Rin bisa merasakan nafas Sehun di leher dan telinga-nya.

Sehun berusaha mengendalikan dirinya. Aroma darah Chan Rin yang manis dan menggoda membuat Sehun ingin meminum-nya. Tapi, tidak boleh! Sehun tidak ingin mengambil risiko dengan membuat Chan Rin kehabisan darah dan mati.

Chan Rin bisa merasakan dinginnya bibir Sehun di leher-nya. Chan Rin memejamkan matanya. “Apakah aku akan berubah menjadi vampire kalau kau menggingitku, Sehun?” tanya Chan Rin.

Sehun menjauhkan wajahnya dari leher Chan Rin dan menatap Chan Rin lekat-lekat. “Tidak. Hanya ancestor vampire yang bisa.”

“Ancestor?” Chan Rin tiba-tiba saja mengingat lagi percakapannya dengan Jung Dae Hyun. “Apakah di hatimu hanya ada ancestor itu, Chan Rin~ah?” Apakah yang dimaksud ancestor oleh Dae Hyun saat itu adalah ancestor vampire? Tapi kenapa Dae Hyun berkata seperti itu?!

“Siapa ancestor vampire, Sehun?”

Sehun menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku tidak pernah bertemu dengannya.”

“Lalu bagaimana kau berubah?”

“Aku tidak ingat.” Jawab Sehun dingin. Yang Sehun ingat hanyalah kakaknya. Kakaknya-lah yang menggiring Sehun kepada sang ancestor, tapi Sehun tidak ingat apa-apa selain itu.

“Kenapa kau ingin mati?” tanya Chan Rin lagi. Begitu banyak yang ingin Chan Rin ketahui tentang Sehun.

Sehun hanya tertawa tanpa ekspresi. Lalu tanpa Chan Rin duga, Sehun berjongkok di depan Chan Rin dan membetulkan ikatan tali sepatu Chan Rin.

Chan Rin merasakan getaran aneh saat melihat Sehun membetulkan ikatan sepatu Chan Rin. Sehun mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Chan Rin. “Park Chan Rin, kau tidak takut padaku?”

Chan Rin tertawa. “Kau tidak menakutkan, Sehun.”

Tatapan Sehun mengeras. Ia menggertakkan gigi-nya. “Benarkah?” tanyanya dingin. Sehun menatap wajah Chan Rin lagi. Ia menghela nafas dalam-dalam. Sehun masih tidak punya ide siapa Chan Rin sebenarnya dan mengapa sang ancestor menginginkannya, tapi satu hal yang Sehun yakin, saat ini…ia tidak ingin membunuh Park Chan Rin.

Ponsel Chan Rin berdering. Kai meneleponnya! Chan Rin mengerutkan keningnya. Chan Rin tiba-tiba teringat dengan ajakan Kai ke hutan nanti malam. Chan Rin memang penasaran siapa Kai yang sebenarnya, tapi Chan Rin juga penasaran dengan Sehun. Sehun masih belum membuktikan kalau ia adalah vampire.

“Hey vampire, kenapa kau tidak meminum darahku? Bukahkah vampire suka minum darah manusia?”

Sehun menyeringai. “Kau ingin mati?”

“Mwo?”

“Kalau kau ingin mati, beritahu aku. Aku akan meminum darahmu sampai habis.” Sehun tersenyum sinis. “Ayo pulang.” Katanya.

“Aku tidak mau jalan lagi. Kaki-ku hampir patah, kau tahu?!” bentak Chan Rin kesal.

Sehun tertawa. “Manusia lemah, aku akan membawa-mu pulang dalam sekejap mata.” Kata Sehun.

Sehun mendekati Chan Rin dan menggendongnya ala bridal style. Chan Rin terkesiap, dan melingkarkan lengannya di leher Sehun agar tidak terjatuh. Dalam sekejap mata, Chan Rin merasakan sensasi aneh di kepalanya, dan detik berikutnya Chan Rin sudah tiba di depan rumahnya.

“Vampire bisa ber-teleportasi.” Kata Sehun.

Chan Rin menatap Sehun, seolah yang terjadi barusan tidaklah nyata. Perlahan Sehun menurunkan Chan Rin.

Chan Rin masih berdiri dan menatap Sehun tak percaya. Jadi benar.., Sehun adalah vampire? Pikir Chan Rin.

Di saat pikiran Chan Rin masih berkelana kesana kemari, Sehun mendekatkan wajahnya pada Chan Rin dan mengecup bibirnya sekilas. Chan Rin membelalakkan matanya.

“Waktu itu kau menciumku, jadi sekarang kita impas.” Kata Sehun dengan poker face-nya.

“YAH!!! Waktu itu kan aku terpaksa! Aku berusaha menyadarkanmu agar tidak bunuh diri di tengah jalan raya!” bentak Chan Rin.

“Park Chan Rin, saat itu aku berusaha membunuhmu.”

“Mwo?”

Sehun hanya menyeringai, kemudian pergi dalam sekejap mata. Chan Rin menatap jalanan yang kosong. Pikirannya dipenuhi berbagai hal.

*******

Pukul 11 malam, Han Hee , ibu Han Hee, dan Chan Yeol sudah tertidur, tapi Chan Rin masih terjaga. Ia menunggu Kai.

Beberapa saat kemudian, Kai mengirimi-nya message : cepat turun. Aku di luar. Cepatlah sebelum sinar rembulan menyinari tubuhku!

Chan Rin mengerutkan keningnya membaca message Kai yang terasa aneh. Chan Rin memakai sweater tebal dan syal, lalu diam-diam menyelinap keluar dari rumah.

Kai sudah menunggunya di dalam mobil. Chan Rin masuk ke dalam mobil, dan tanpa mengatakan apapun, Kai langsung tancap gas.

Chan Rin terus memperhatikan dandanan Kai yang terlihat aneh. Kai membungkus tubuhnya dengan coat hitam panjang, syal, masker, sarung tangan, topi, bahkan kacamata hitam. Bukankah malam-malam begini tidak akan ada fans exo yang mengenalinya?!

Kai mengemudikan mobilnya seperti pembalap professional. Sesekali ia melirik Chan Rin dan tersenyum lega karena Chan Rin tidak seperti kebanyakan perempuan yang menjerit ketakutan di saat Kai mengemudikan mobilnya gila-gilaan dengan kecepatan maksimal seperti ini.

Kai menepikan mobilnya di pinggir hutan. Ia membuka atap mobilnya secara otomatis, lalu menatap langit yang gelap. Bulan purnama masih terhalang oleh awan-awan tebal. “Kau diamlah di sini. Lihat saja aku. Aku tidak tahu apakah aku masih ganas atau tidak. Dan meskipun kau bisa berbicara padaku nanti, aku masih tidak yakin apakah aku akan bersikap jinak padamu atau tidak.” Kai menyeringai dengan seringaian-nya yang khas. Kai menutup lagi atap mobil, lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Chan Rin. “Jangan membuka kunci mobilnya dan jangan keluar apapun yang terjadi!” Kai pun keluar dari dalam mobil dan berdiri di tengah-tengah, diantara pepohonan.

Chan Rin terus mengamati Kai dari dalam mobil. Kai masih saja berdiri di sana sambil menatap rembulan. Perlahan bulan purnama mulai menampakkan dirinya. Sinar-nya yang lembut menyinari tubuh Kai.

Tubuh Kai bergetar, bulu-bulu lebat mulai bermunculan di sekujur tubuhnya. Kuku – kuku tajam mulai memanjang di kaki dan tangannya. Sebuah moncong mulai terbentuk. Perlahan tubuh Kai berubah bentuk menjadi seekor serigala besar berbulu cokelat.

Chan Rin membelalakkan matanya takjub. Kai adalah manusia serigala?

Serigala berbulu cokelat itu melolong panjang. Lolongannya terdengar memilukan dan menyayat hati.

“Auuuuuuuuuu……auuuuuuuu….. aku benci bulan purnama! Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir?! Auuuuuuu….”

Chan Rin bisa mengerti apa yang serigala alias Kai lolongkan. Chan Rin pun akhirnya keluar dari dalam mobil.

“Kai.” Kata Chan Rin pada serigala itu.

Serigala itu menatap Chan Rin dan menggeram, menampakkan gigi-giginya yang tajam. Perlahan Chan Rin mendekati serigala itu. “Aku tahu kau tidak akan menyakitiku, Kai.”

Serigala berbulu cokelat itu terus saja menggeram. “Jangan mendekat!” kata serigala itu.

Chan Rin tertawa. Kini ia sudah berdiri tepat di depan serigala itu. Ia mengulurkan tangannya dan membelai kepala si serigala. “Kau serigala pertama yang berbicara padaku. Kau manusia serigala pertama yang kutemui, Kai. Terima kasih sudah berbagi rahasia denganku.” Chan Rin tersenyum tulus.

“Rupanya kau bisa tersenyum tulus?!” serigala itu mendengus.

Chan Rin tertawa dan terus saja membelai kepala si serigala. “Kau lebih keren saat berubah menjadi serigala, Kai.”

Serigala itu tertawa lalu melolong. Kali ini lolongannya tidak terdengar memilukan lagi.

“Kau mau jalan-jalan?” tanya si serigala. Chan Rin mengangguk. “Naiklah.” Kata serigala.

Chan Rin tersenyum lebar, lalu memanjat ke punggung serigala besar itu.

“Pegangan yang erat.” Kata serigala. Chan Rin pun melingkarkan lengannya di leher serigala. Serigala itu membawanya berlari di sepanjang hutan. Chan Rin terkagum-kagum melihat pemandangan hutan di malam hari. Burung-burung menyapanya. Serangga, ular, harimau, singa, rusa, semut- semua binatang yang ada di hutan menyapanya.

Kepala Chan Rin terasa sakit. Tiba-tiba saja ia mengingat sebuah adegan di mana Chan Rin kecil berdiri di tengah hutan dan semua binatang menunduk hormat padanya sambil berkata “Yang Mulia….Yang Mulia…” di samping Chan Rin cilik itu berdiri seorang pria, tapi Chan Rin tidak bisa melihat wajah pria itu di dalam ingatannya.

Kapan? Kapan adegan itu terjadi? Di dalam mimpi-kah? Chan Rin sama sekali tidak ingat. Lama kelamaan Chan Rin merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di punggung serigala.

Serigala itu tahu Chan Rin tertidur. Ia pun kembali ke mobil, lalu mendorong Chan Rin masuk ke dalam mobil, membaringkannya di jok belakang. Sementara itu Kai yang masih berwujud serigala terus saja berdiri di luar mobil. Menunggu fajar datang. Menunggu sinar purnama hilang.

Pukul 6 pagi, Chan Rin terbangun. Kepalanya terasa sangat sakit. Ia memandang berkeliling. Rupanya ia masih berada di dalam mobil Kai. Di mana Kai? Pikirnya.

Chan Rin pun keluar dari dalam mobil dan melihat Kai yang tertidur di tanah. Kemudian Chan Rin mengingat kejadian semalam. Pasti Kai tertidur saat masih berwujud serigala tadi malam. Chan Rin tersenyum.

“Kai…bangun…” Chan Rin mengguncang-guncang tubuh Kai.

“Mmmm..” Kai mengerang dan perlahan membuka matanya. “Chan Rin? Kau sudah bangun?” Kai pun duduk dan memandang sekeliling.

“Kai..,ng..ng..terima kasih. Kau sudah menunjukkan padaku siapa dirimu. Tapi.., kau belum memberitahuku tentang apa yang kau ketahui mengenai diriku.”

“Tidak adakah yang kau ingat?”

“Aku…hanya ingat semua binatang menunduk padaku seolah aku adalah ratu mereka. Tapi aku tidak ingat kapan kejadian itu berlangsung. Dan ada seorang pria yang tak bisa kuingat wajahnya.”

Kai tersenyum. “Lama-lama kau akan ingat.” Kai menatap Chan Rin dalam-dalam. “Park Chan Rin, apapun yang terjadi di masa depan nanti, kuharap kau masih memiliki hatimu yang sekarang. Kuharap kau terus mengasihi manusia.”

Chan Rin hanya menatap Kai dengan bingung. Kai menyeringai. “Ayo pulang.”

Selama di perjalanan, lagi-lagi mereka berdua hanya terdiam. Satu hal yang Chan Rin yakini saat ini adalah…, vampire dan manusia serigala benar-benar nyata, dan mungkin saja makhluk-makhluk mitos lainnya pun nyata. Dan entah mengapa Chan Rin yakin bahwa dirinya bukanlah manusia biasa, melainkan salah satu dari makhluk mitos itu.

‘Siapa aku sebenarnya?’ Pikir Chan Rin.

Pukul 7 pagi, akhirnya mobil Kai tiba di depan rumah Chan Rin. Tanpa Chan Rin duga, ternyata Chan Yeol sudah menunggunya di teras rumah. “RIN-RIN! Kau dari mana saja? Kenapa kau keluar rumah semalaman? Kenapa kau meninggalkan ponselmu di kamar? Aku menghubungimu berkali-kali! Aku bahkan hampir melaporkanmu ke polisi! Aku takut kau menghilang seperti orang-orang di TV dan koran!” baru kali ini Chan Rin melihat Chan Yeol se-marah itu. “Dan Kau…Kim Jong In! Mengapa kau membawa adikku keluar malam-malam, hah?! Kenapa ponselmu juga tidak aktif?!” Chan Yeol menggertakkan giginya sambil menatap Kai penuh amarah.

“Chan-Chan!!!!” tiba-tiba Han Hee keluar dari dalam rumah, diikuti oleh Dae Hyun.

“Oh?” Han Hee tampak terkejut melihat Kai yang berdiri di samping Chan Rin. Wajah Kai masih terlihat seperti habis bangun tidur. Rambut hitam-nya juga masih terlihat acak-acakkan.

“Chan Rin~ah.., kau dari mana saja?” Dae Hyun menatap Chan Rin dan Kai bergantian. “Aku langsung kemari begitu Han Hee meneleponku dan berkata kau hilang.”

Kai menyeringai pada Dae Hyun, lalu menatap Chan Yeol. “Hyung, maafkan aku. Kami berdua hanya pergi ke bar dan kami ketiduran di bar. Tenang saja hyung, tidak terjadi apa-apa.” Kata Kai dengan santai.

Chan Rin membelalakkan matanya. Semua orang kini menatap Kai dan Chan Rin bergantian.

“Sudah ya hyung, aku pulang.” Kai mengangkat sebelah tangannya. Ia menguap lebar, lalu berjalan pergi menuju mobil sport hitam-nya.

“Park Chan Rin. Mulai saat ini kau berada di dalam pengawasanku.” Kata Chan Yeol sambil menahan emosi. Han Hee dan Dae Hyun menatap Chan Rin dengan tatapan yang sulit diartikan.

–          TBC –

16 thoughts on “Moonlight Destiny (Chapter 7)

  1. aahh ini keren!! suka deh sama karakter cewe yg dingin2 gitu :3 ide ceritanya sangat menarik, castnya aku suka🙂 aku penasaran bgt sama yg akan terjadi kedepannya sama chan rin..
    semangat ya thor ngelanjutinnya^_^)9 klo bisa ya jng lama2😀

  2. wah telat bacanya,,
    Critanya makin rumit nih, tpi udah mulai ada titik terang #apadah
    Sumpah, yang akhir alasan kai ke bar bkin ngkak
    Pokoknya Daebak, cpet lanjut eonn🙂

  3. pasangan yg tertukar waaaakkkzzzz…..
    itu tar sehun bkal suka g ya chan rin ato biasa2 aj low iya mkin rumit….
    loem ad tnda2 ketertarilan antra chan rin sma kai…low han hee sma daehyun udah kerasa sejak awal aaaahhhh….jd mkin pnsaran aj nech…
    ituh sehun kesempatan bgt maen nyosor aj haaaaiiiii…
    ap g ad alaasan laen tuh kai slaen dr bar ckckckck….

  4. Aaaaaa makin seru aja, itu kai ngasih tau kalau sebenernya dia werewolf, ya ampun kai kenapa kamu ngomong habis dari bar 😂 gimana nasibnya chanrin dihadapan chanyeol 😂
    Semua kebenarannya udah mulai terungkap, kai udah tau siapa chanrin, tpi sehun belum bisa nebak siapa chanrin sebenernya, bagaimana reaksi chanrin kalau dia tau, dia itu termasuk ancenstor vampire? Gimana hubungan chanrin? Nantinya dia akan sama siapa? Kai atau sehun? Kalau daehyun udah jelas2 ditolak sma chanrin,
    Ternyata yg bunuh appa nya hanhee itu klonningannya myungsoo, apa yg akan dilakukan myungsoo buat dapetin chanrin?
    Dan hanhee nantinya akan sma siapa? Daehyun kah? Tpi daehyun kan cma suka sma chanrin,
    Kyaaaa makin penasaran aja ka 😆 lanjut baca ya ka ☺😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s