Moonlight Destiny (Chapter 6)

Title                : Moonlight Destiny

Author                        : Azumi Aozora & Kunang Anna

Main Cast      : Park Chan Rin (OC), Han Hee / Honey Lau (OC), Oh Se Hun (EXO-K), Kim Jong In / Kai (EXO-K), Jung Dae Hyun (B.A.P), Yoo Young Jae (B.A.P)

Support Cast : Park Chan Yeol (EXO-K), Henry Lau (Suju-M), Lee Taemin (SHINee), Kim Myung Soo / L (Infinite), Luhan (EXO-M), Wu Zun.  The other EXO, B.A.P, and Infinite members

Length            : sequel

Genre             : Fantasy, family, romance, life, friendship, mystery

Rating                         : PG+15

Summary       : Bagaimana bila berbagai makhluk yang kau kira hanya ada di negeri dongeng, kini benar-benar nyata? Guardian angel, devil, werewolf, spirit, dan vampire. Kau tidak pernah menyadari dirimu berbeda dan special, hingga kau bertemu mereka. Lalu apa yang akan terjadi saat kau mengetahui berbagai rahasia gelap yang seharusnya tidak kau ketahui?

Image

Masa depan bisa berubah sesuai pilihan yang kita ambil. Tapi, apakah takdir bisa berubah?

Inilah kisah kita. Takdir kita.

 

 

                Note :  Du Bu Xi = I’m sorry in chinese language (mandarin)

                            Laoshi  = teacher (mandarin)

 

6th Destiny – By : Kunang

 

————- Author PoV —————–

@Atap Paris Wheel, Lotte World

23.00 KST

 

“Pangeran… maksud ku Lu Han hyung, apa maksud semua ini?!” Young jae tak bisa menyembunyikan rasa murkanya ketika menemukan namja tampan dengan ekspresi dingin menatap tajam ke arah Lotte World di bawah mereka. Angin malam menerpa rambutnya yang agak gondrong, dan tatapannya tetap ke tiga orang yang ada di bawah mereka. Kai dan Chan Rin terlihat panik dan masih mencari sekeliling House of Vampire, sedangkan sudah lebih dari satu jam Dae Hyun hanya diam dengan tatapan hampa, berdiri tepat di pintu depan bangunan tua itu dengan pakaiannya yang masih basah kuyup setelah hujan tadi.

“Du Bu Qi… “Kali ini Young Jae bisa melihat raut wajah Pangeran Luhan di depannya terlihat sedih, kedua mata namja tampan itu beralih menatap ke arah langit malam yang cerah setelah hujan lebat “Xi Zhen Han .. du bu qi, karena aku ingin kamu membencinya, akan kubuat kau semakin membencinya, dengan begitu kau mungkin akan ingat… dengan begitu mungkin kau akan kembali menjadi adikku yang kukenal”

“Luhan hyung! Jangan-jangan kau… kau benar-benar percaya kalau Han Hee adalah adik mu? Putri aster?” Young Jae tertawa sangsi “Aku tidak peduli dengan pikiran gila mu itu, tapi aku tidak akan membiarkan Han Hee disakiti siapapun!”

Lu Han akhirnya mengalihkan pandangannya dan menatap namja di depannya, dia tersenyum miring “Young Jae-ah… apa kau pernah dengar kalau iblis itu sebenarnya adalah malaikat? tapi karena perasaan putus asa setelah dibenci dan dikhianati oleh orang yang paling mereka cintai, mereka akhirnya jatuh ke neraka”

Young jae mengerjapkan matanya, bingung mengapa namja didepannya tiba-tiba mengatakan mitos kuno yang sudah didengarnya ratusan kali. Tapi kemudian sebuah kemungkinan muncul di benaknya. “Hyung.. kau tidak benar-benar –“

“ Ya Young Jae ah… tidak ada yang lebih menyakikan daripada perasaan putus asa dan dikhianati. Aku ingin Han Hee merasakannya, dan hanya Daehyun yang bisa membuatnya putus asa. Kau sendiri merasakannya kan? rasa pedih saat kaum-mu membuang mu pada akhirnya?”

Young Jae hanya diam, tanpa dia sadari dia sudah menggigit bibirnya dengan keras. Kalau bisa dia ingin sekali menghajar namja di depannya, tapi logika nya menang. Tidak ada gunanya dia melawan pangeran Lu Han sekarang. Namja ini bahkan bisa menyakiti gadis yang dia anggap adiknya, membiarkan Han Hee yang terkurung di tempat yang paling gadis itu takuti tentu sama dengan menyakiti gadis itu kan? Masih ingat jelas bagaimana keadaan Han Hee ketika sejam lalu dia menyelamatkannya. Han Hee menangis histeris di pelukannya. Terakhir kali dia melihat Han Hee seperti itu adalah saat dia menemukan gadis itu menangis ketakutan di hutan dulu.

“Kau menyukai adikku kan? Kau tak perlu menjawab, aku sudah tahu” kata-kata Lu Han selanjutnya membuat Young jae tertegun “Aku berani bertaruh kalau kau mengenal adikku saat dia masih adikku yang dulu, maksudku Putri Aster, mungkin saja nasib mu sudah seperti Kai”

Young Jae mengerjapkan matanya, tentu saja dia kenal siapa Kai dan bagaimana dia dikutuk karena menyukai putri iblis itu. Tapi Young jae tidak ingin percaya, dia yakin Han Hee yang dia kenal sangat berbeda dengan putri Aster.

“Hyung… sebenarnya dari dulu aku penasaran, bagaimana mungkin devil dengan kekuatan luar biasa seperti mu bisa dikutuk menjadi werewolf? Siapa yang mengutuk mu? Apa dia orang yang kukenal? Apa mungkin…. seorang angle?” tanya Young Jae hati-hati, sesaat dia bisa melihat kalau bola mata Lu Han berubah warna menjadi merah darah lalu kembali ke warna nya yang semula, hitam pekat.

“HAHAHHAHA HHAHAHHA HAHHAHAHHAHA” alih alih menjawab, namja tampan di depannya malah tertawa terbahak-bahak, Young Jae menatapnya waspada sampai pangeran Lu Han berhenti tertawa. Dia tahu kalau perkiraanya tepat. “Seperti perkiraan mu Young Jae-ah, sepertinya kau memang sedikit lebih pintar dibanding Daehyun”

Sebenarnya masih banyak yang ingin Young Jae ketahui dan tanyakan, tapi seolah menyadari gelagat namja itu Pangeran Luhan menggeleng dan tertawa mengejek “Sebaiknya kau tidak tahu lebih banyak dari ini, ingat aku membolehkan mu menjaga Han Hee tapi aku tidak mempercayaimu, sebab pada dasarnya kaummu dan kaum ku ditakdirkan untuk saling bertentangan”

“Tapi hyung…”

Belum sempat Young Jae melanjutkan kata-katanya, Lu Han sudah berubah wujud menjadi burung hantu hitam yang besar dan, terbang meninggalkan Young Jae yang masih terdiam di atas atap paris wheel.

===========Author PoV End========

==========Dae Hyun PoV ==========

@Kediaman Keluarga Park (Ruman Chan Rin & Han Hee), keesokkan harinya

“Dae Hyun Oppa, kau sebaiknya membantu Han Hee mencuci piring. Kai Oppa.., kau mau mengantarku?”

Kata-kata Chan Rin membuatku membeku sesaat, jujur aku sedang tidak ingin bersama dengan Han Hee saat ini setelah hal yang terjadi kemarin. Ntah mengapa aku menjadi gelisah setelah apa yang kulakukan pada gadis ini. Padahal aku sudah sering melakukan tugas dari Lu Han seonsaeng yang jauh lebih buruk dibanding hanya mengunci Han Hee agar dia membenciku, tapi baru kali ini aku merasa aneh. Rasanya aku hampir merasa gila dan hampa mengetahui Han Hee menghilang begitu saja semalam, dan kata-kata penuh rasa pilu dan memohon saat aku menguncinya masih terekam dan terputar terus dikepalaku.

 Apa mungkin aku merasa bersalah padanya?

Chan Rin dan Kai pun akhirnya pergi, diikuti Chan Yeol hyung yang menatap ku tajam lalu berbisik ke arah Han Hee sebelum ikut keluar. Tadi aku sempat dengar kalau dia masih ada schedule lain jadi harus segera pergi.

“Pokoknya awas ya! kalau kau macam-macam dengan adikku selama aku tidak ada!” kata Chan Yeol hyung yang terdengar lebih seperti ancaman sebelum pergi, aku cuman bisa terbengong. Aku memang tidak punya saudara jadi aku tidak mengerti perasaan seorang kakak laki-laki yang mempunyai adik perempuan.

“Biar aku saja yang mencuci semua ini, kau pulanglah atau kejar Chan Rin” kata-kata Han Hee membuyarkan lamunan ku. Dia mengambil piring-piring kosong di depan ku yang masih duduk di meja makan, wajah nya tampak lesu dan kedua bola mata cokelatnya itu terus menerus menghindari tatapan ku.

Grepp

Entah apa yang mendorong ku, aku menarik tangan Han Hee yang hendak mengambil piring kosong di depan ku. Sesaat mata kami saling bertatapan dan kemudian gadis itu menunduk dan berusaha melepaskan lengan nya yang kupegang kuat. Jauh di lubuk hatiku aku berharap dia menatapku dengan cara yang biasa dia lakukan.

“Jung Dae Hyun! Lepaskan aku!”

“Aku tidak mau!” kata ku keras kepala, Han Hee menggigit bibirnya sambil menatapku dengan kesal. Dia benar-benar tidak cocok dengan ekspresi yang seperti itu, seharusnya dia tetap pasang senyum polosnya yang bodoh itu.

“LEPAS—“

“Han Hee ah… kata kan dengan jujur, apa kali ini kau sudah membenci ku?” tanya ku tiba-tiba, aku sendiri terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulutku. Han Hee sepertinya lebih terkejut dari ku, bibirnya gemetar, dia menatapku seolah tidak percaya dengan yang aku katakan.

“Kau benar-benar ingin tahu?”

Aku hanya diam, entah mengapa aku tidak ingin tahu. Sepertinya apapun jawaban Han Hee tidak akan memuaskan ku. Bila dia tidak membenciku, berarti aku harus mulai lagi dari awal tapi kalau dia membenciku, misi ku berarti berhasil tapi…

“Kau tahu Jung Dae Hyun? aku tak ingin membenci orang yang kusukai” kata-kata Han Hee membuat pegangan ku padanya melonggar, dia pun berhasil melepaskan tangannya dari ku dan langsung berlari ke arah kamar tidurnya tanpa mempedulikan tumpukkan piring dan gelas kosong yang telah disusunnya. Aku sendiri hanya diam terlalu shock dengan kata-kata Han hee tadi.

Dia tak ingin membenci orang yang dia suka, jadi Han hee suka pada ku?

==================Dae Hyun PoV end=================

==================Still Dae Hyun  PoV====================

@Ruman Han Hee, keesokkan malamnya

“Ini akan lebih menarik bagimu, Dae. Kau.., harus menjaga Han Hee dari segala bahaya yang akan menimpanya, tapi kau juga harus membuatnya membenci-mu. Aku tidak ingin Han Hee menyukaimu. Aku tidak ingin Han Hee menyukai siapapun. Aku tidak ingin Han Hee terluka…”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Lagi-lagi ucapan guru ku tadi, pangeran Lu Han kembali terulang di kepalaku bagai film yang diputar kembali.  Aku sudah memahami tujuan Kai dan Sehun yang menjaga Chan Rin, mereka berdua berusaha agar sang anchestor vampire tidak membangkitkan kekuatan adiknya yang sekarang adalah kekasih-ku.

Park Chan Rin, aku masih belum bisa percaya kalau dia adalah ancestor vampire, tapi bukan itu yang kupikirkan sekarang. Ada satu pertanyaan yang benar-benar mengganjalku. Kenapa pangeran Lu Han, guru ku ngotot ingin aku membenci Han Hee? Kenapa harus aku? Sedangkan dia membiarkan Young Jae berada di sisi Han Hee, rasanya tidak adil.

Adil? Apa yang kau pikirkan Jung Dae Hyun! Aku menggelengkan kepalaku kuat dan kemudian memusatkan kekuatan ku agar bisa menatap menembus ke dalam rumah, tepat ke arah kamar yeoja chingu ku, Park Chan Rin. Seperti yang kuduga, dia sudah tertidur dengan lelap dan terlihat begitu damai, aku tersenyum puas. Lalu kembali aku teringat Han Hee, dengan agak ragu aku memajukan penglihatan super ku ke arah kamar si happy virus versi yeoja itu.

Spontan aku menegakkan punggungku begitu melihat sosok Han Hee yang sekarang terlihat sangat ketakutan. Dia hanya terduduk di kasurnya sambil memeluk tubuhnya, semua lampu di kamarnya dinyalakan. Ada apa dengannya? Apa dia ketakutan karena bisa merasakan aura jahat yang kuat di malam kebangkitan ancestor vampire ?Apa gadis ini benar-benar bisa merasakan keberadaan vampire? Apa benar yang dikatakan guru jika dia benar-benar putri Aster?

“Appa… appa…aku…” Han Hee menggumamkan kata-kata yang tak bisa kumengerti, dia terus begitu selama beberapa saat. Ketika aku masih bingung dengan apa yang akan kulakukan, gadis itu mendadak bangun dari posisi duduknya dengan tatapan kosong. Perlahan dia duduk di samping tempat tidurnya dan mengambil sebuah kotak besar yang sepertinya sudah tua dari kolong tempat tidurnya. Dia menyeret kotak yang terbuat dari kayu ek itu ke atas tempat tidurnya dan membukanya dengan kunci yang menjadi liontin di kalung yang selalu dikenakannya.

“Ahjusshi itu …” aku terkesiap begitu melihat Han Hee membuka koper dan memegang potret seorang pria dewasa berumur 30an. Ahjusshi itu adalah Fu Xiang Lau atau dikenal juga dengan Sebastian Lau. Dia adalah seorang vampire hunter melegenda yang sangat ditakuti oleh kaum vampire, jangan bilang kalau Han Hee adalah….

Appa… aku akan menerima takdir ku… aku tidak akan lari lagi appa, aku tidak akan takut lagi…” sambil berkata demikian, dengan tangan mungilnya yang gemetar Han Hee mengambil kotak kecil yang ada di dalam kotak besar itu dan perlahan membukanya. Seketika mata ku membulat.

Tangan kecil Han Hee mengangkat sebuah pistol berwarna keperakkan, aku langsung tahu kalau pistol itu adalah pistol khusus yang bisa menembakkan silver bullet dan memiliki kemampuan menyegel vampire yang berhasil ditempak tepat di jantungnya. Salah satu senjata paling langka dan ampuh yang biasa digunakan para vampire hunter. Tangan kirinya yang bebas memegang cermin kuno. Aku langsung teringat mitos kuno, kalau vampire tidak akan terlihat bayangannya di cermin. Mungkin sekarang dengan kekuatan mereka, mereka bisa memanipulasi agar mereka memiliki bayangan di cermin. Tapi aku tahu, cermin di tangan Han Hee tidak bisa dimanipulasi.

Karena itu adalah Mirror of Truth

Kemudian aku pun harus menggunakan pendengaran superku karena sekarang Han Hee berbisik sangat pelan, wajahnya mulai dibanjiri air mata.

“Mianhae Young Jae oppa… aku tidak bisa menepati janjiku, aku tidak bisa menjadi ‘angel’ sepertimu, aku tidak mau lagi kehilangan orang yang berharga bagiku, aku tidak mau kehilangan Chan rin”

 

================Dae Hyun PoV end=========

================Author PoV==============

Beberapa Minggu Kemudian

@Gerbang Sekolah 15.00 KST

Sudah beberapa minggu sejak malam bulan purnama yang ke -3600 sejak zaman pembantaian vampire. Hari-hari Han Hee dan Chan Rin masih terlihat seperti biasa, Han Hee yang selalu ceria dan masih terus berusaha menempel pada Chan Rin membuat Chan Rin jadi kesal, apalagi Han Hee -yang ntah kesambet apa-  selalu berusaha ada di sampingnya.

“Kau ini kenapa sih! Sudah kubilang, aku hanya ingin pergi sebentar ke toko buku, masa lagi-lagi kau harus bolos les vokalmu hanya untuk mengantarku?!” Chan Rin benar-benar tak tahan kali ini. Memang rencananya sepulang sekolah ini dia akan mampir ke toko buku dan ke toko buku bersama Han Hee sama sekali bukan ide bagus karena pasti dia tidak bisa konsentrasi memilih buku disana “Sudah aku pergi sendiri saja!”

“Tapi kan…”

Tiinnn……… tiiinnn……….

“Kai Oppa!!!” Han Hee berteriak riang begitu melihat sosok yang dikenalnya membuka helm setelah menepikan motornya tepat di depan mereka “Tumben oppa membawa motor!”

“Sedang ingin saja, eh… tapi kau serius mau pulang sendiri Han Hee-ah?”

“Nee… lagi pula aku tidak sendiri, aku mau nebeng mobil teman ku Mi Young, jadi…” Han Hee menepuk punggung Chan Rin yang terlihat kebingungan “Kau pergi ke toko buku nya dengan Kai oppa ya Chan-chan!”

“YAAA!!! HAN HEE!! Kenapa kau seenaknya hah?!”

“Bye bye!!!” Teriak Han Hee dengan senyum lebarnya sambil berlari ke arah sebuah mobil yang di parkir tak jauh dari mereka dan langsung masuk ke dalamnya. Sebenarnya Han Hee agak khawatir meninggalkan saudara tirinya itu karena dia tahu, dia bisa merasakan kalau vampire bernama Oh Sehun itu sering berada di sekitar Chan Rin. Entah apa yang diinginkannya tapi yang jelas Han Hee tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada yeoja itu. Tapi sekarang ada sesuatu yang harus dia lakukan, dan Han Hee cukup yakin Kai bisa menjaga Chan Rin.

Karena Han Hee tahu dua hal, Kai bukan manusia biasa dan hatinya percaya Kai akan melakukan apa saja untuk menjaga Chan Rin.

============//Still Author PoV//=======

@Tempat Les Vocal

“Hei kau pendek!, mau kemana?!” seorang namja berpipi tirus dengan rambut hitam keabuan membingkai wajah tampannya mendapati gadis imut yang tak lain adalah siswa lesnya melewatinya di tangga begitu saja. Namja itu merasa gelagat Han Hee akhir-akhir ini agak aneh, bukan kah ruang les mereka di lantai 1 dan sebentar lagi kelas akan dimulai? Jangan bilang kalau dia akan menyelusup masuk ke kelas guru baru itu lagi!

“Ehh.. hehehhe Daehyun oppa! Engg.. kemarin aku ketinggalan sesuatu di atas” Han Hee terkekeh sambil menjitak kepalanya pelan. Ya, memang dari luar Han Hee sudah terlihat bersikap biasa kembali pada Daehyun, sedangkan bagi namja itu sendiri rasanya dia semakin kehabisan ide untuk membuat Han Hee membencinya. Dan lagi ada yang membuat Dae Hyun lebih kepikiran, dia sudah memergoki beberapa kali Han Hee berusaha menyelundup ke kelas guru baru itu.

“Don’t lie Honey Lau! Kau mau menyelundup ke kelas Wu Zhun seonsaeng lagi kan?” tanya nya lagi, membuat Han Hee membulatkan mulutnya tersadar kalau bualannya sama sekali tidak mempan “Sebentar lagi ujian kenaikkan level ! aku tak akan meluluskan mu kalau kau seperti ini terus!”

“Jebal… satu kali ini saja yahh.. Daehyun oppa eh.. ups maksudku Jung seonsaeng hehhehe, kau tak usah cemburu okee! Dibanding Wu Zhun seonsaeng, Wo hen xihuan Jung Laoshi (Aku sangat suka Jung seonsaeng)” kekeh Han Hee sebelum berbalik dan berlari menaiki tangga. Daehyun hanya bisa menatapnya dengan shock. Ya, dia mengerti kata-kata Han Hee tapi baru kali ini dia menemukan seorang gadis yang begitu spontan dan membuatnya kepikiran seperti Han Hee. Apa gadis itu tidak sadar kalau Daehyun adalah namja chingu saudaranya sendiri?

“Bukan seperti itu…” Daehyun menggelengkan kepalanya, ada yang lebih penting yang sudah beberapa hari ini dia sadari. Ada sesuatu yang aneh dengan Wu Zhun, guru piano baru di tempat kursus nya itu. Dan lagi sepertinya Han Hee juga merasa seperti itu. Pada awalnya namja itu mengira Han Hee tertarik pada Wu Zhun dan ntah mengapa penasaran dan mencoba menyelidikinya. Tapi setelah diperhatikan, tatapan Han Hee pada Wu Zhun jauh dari tatapan ‘suka’, itu adalah tatapan yang tak pernah Daehyun bayangkan dapat dilihatnya dari kedua mata coklat almond itu.

Tatapan itu dipenuhi dendam

=================Author PoV end===========

=================Han Hee PoV==============

@kelas Piano, tempat les Han Hee

Aku memejamkan mata ku, mencoba mengingat kejadian saat aku masih kecil. Kejadian yang pernah ingin aku hapus selamanya dari memoriku, yaitu saat ayah ku terbunuh. Tapi sekeras apapun mengingat, aku tidak bisa melukiskan bagaimana wajah vampire yang membunuh ayahku itu. Aku ingat kalau aku menatap wajahnya, tapi tiba-tiba dia mengeluarkan semacam kalung dengan liontin besar dan setelah itu aku tak ingat apapun, mungkin dia menghipnotisku. Aku hanya mendapat kesan kalau vampire yang kulihat sangat tampan. Tapi aku ingat perasaan saat aku berada di dekatnya, aku merasakan suatu perasaan dingin  yang aneh hingga menusuk ke dalam tulang.

Dan sudah dua kali aku merasakan perasaan in lagi, yang pertama adalah saat membuntuti Sehun dan yang kedua….

“Honey Lau?” perasaan dingin itu kembali, membuatku otomatis membuka mata dan langsung bertatapan dengan seorang namja dewasa tampan yang menggunakan jas formal. Dia tersenyum ke arah ku, entah mengapa aku tidak menyukai senyumnya.

“Wu Zhun laoshi… engg du bu xi… aku tidak tertidur kok” ucapku agak gugup, namja di depanku menatapku menilai. Sedangkan siswa-siswa lainnya yang tidak sampai sepuluh orang menatap kami penuh minat “kau kuizinkan ikut di kelas ini karena kau bilang kau ada tugas untuk membawakan piano saat pentas sekolah nanti, jadi kalau kau tidak serius…”

“Aku serius! Maafkan aku kali ini Wu Zhun laoshi” jawab ku sambil memberikan aegyo ku yang terbaik, ya aku serius ingin mengetahui siapa namja ini sebenarnya. Ada perasaan aneh yang membuatku curiga kalau dia adalah vampire. Mungkin saja kan kalau dia atau Sehun adalah vampire yang membunuh ayahku? Tapi aku belum berhasil mengecek bayangan Wu zhun laoshi di mirror of truth (cermin kuno yang diberikan appa padaku).

“Baiklah.. kali ini aku maafkan, sebagai gantinya mau kah kau memainkan ‘the devil’ karya seniman besar Sebastian Lau” Namja itu tersenyum penuh arti padaku, sedangkan aku terus mencoba tersenyum. The devil? Tentu saja aku tahu, itu adalah maha karya ayahku yang terakhir dia ciptakan. Apakah cuma kebetulan dia menyuruhku memainkan lagu itu?

Aku menganguk dan kemudian bangkit berjalan menuju grand piano hitam mengkilat di depan kelas. Dengan agak ragu aku duduk dan menatap tuts tuts piano yang berwarna hitam dan putih, perlahan meletakkan jemariku disana dan mulai memainkan ‘the devil’. Perlahan tapi pasti aku merasa tersedot semakin dalam ke memori malam itu, saat aku melihat tuts-tuts piano tersebut berwarna merah darah, basah oleh darah…

Dan kesadaran menghantamku keras, itu bukan darah appa, itu adalah darah ku…

Flashback

“Jangan… jangan… apa yang kau lakukan! Jangan sakiti appa!” teriakku berkali-kali sambil memukul-mukul namja yang sedang menusukkan taringnya di leher daddy ku yang sudah tak sadarkan diri. Aku benar-benar takut, tapi aku tak bisa lari. Aku pernah membaca cerita tentang makhluk yang haus darah dan bisa meminum darah orang sampai orang itu mati. Aku tak ingin daddy mati!

“DIAM KAU BOCAH!” vampire tampan itu melempar tubuhku sampai menabrak grand piano kesayangan daddy, aku mengerang kesakitan. Air mata entah sejak kapan membasahi seluruh wajahku, walau begitu aku bisa melihat samar-samar sebuah pisau tergeletak begitu saja di lantai di sampingku. Mungkin terjatuh dari atas grand piano, mommy kadang menaruh sepiring buah dan pisau di atas grand piano itu.

Dan aku ingat apa yang kulakukan selanjutnya, tanpa berpikir panjang aku mengambil pisau itu dan menusukkanya di telapak tanganku. Rasa perih dan panas kurasakan saat perlahan darah terpecik keluar dari tanganku, membasahi lantai dan tuts-tuts piano. Tapi aku tidak peduli.

“JEBAL! MINUM SAJA DARAHKU!” teriakku dengan kesadaran yang hampir hilang, penglihatan ku mengabur tapi indra pendengaran ku masih bekerja. Aku masih bisa mendengar sekarang vampire itu sudah mendekati ku dan membiarkan tubuh ayahku tergeletak begitu saja.

“Bau darah ini?” aku bisa mendengar vampire berjongkok memperhatikanku, dan kemudian dia mendengus “jangan bercanda, aku sangat tidak suka darah kaum-mu

Flashback end

========Still Han Hee PoV=======

Beberapa Hari Kemudian

@Hongdae Street, 18.00 KST

“Apa? Kita berpencar?” aku tak bisa menahan rasa terkejutku ketika Kai oppa tiba-tiba mengusulkan untuk berpencar. Ya, sabtu ini kami sedang double date. Aku, Kai oppa, Chan-chan dan Daehyun oppa. Jujur saja aku tidak menyukai usul ini. Aku sudah memastikan kalau Sehun adalah vampire dan dia semakin sering mengawasi Chan-chan. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi dengan saudara ku itu.

“Tentu saja kau dengan ku” Kai oppa tiba-tiba menggengam telapak tangan ku kuat dan menarikku, sebelumnya dia menganguk ke arah Daehyun oppa dan Chan-chan yang hanya terdiam, mungkin terlalu shock Kai tiba-tiba memaksa seperti ini “Kalian berdua juga selamat bersenang-senang ya! Daehyun, jaga Chan rin!”

“Oppa, kita mau kemana?” aku benar-benar bingung karena sekarang Kai oppa sudah menarikku menjauh, melewati begitu saja gedung bioskop bahkan beberapa pusat perbelanjaan yang sebelumnya akan kami kunjungi. Hingga aku sadar kami sudah sampai di basement parkir, Kai oppa melemparkan sebuah helm nya padaku.

Kai oppa menatapku, entah mengapa dia terlihat sedih dan lelah “Kita harus bicara Honey Lau, di tempat yang tidak ada seorang pun bisa mengganggu”

“Kau baik-baik saja kan oppa?” tanya ku cemas, tapi alih-alih menjawabku dia hanya diam dan menaiki helmnya. Dengan agak enggan aku pun duduk di belakang, aku hanya bisa mengerutkan kening bingung ketika dengan agak kasar Kai oppa menarik kedua tangan ku dari belakang agar memeluk tubuhnya dengan erat.

“Jangan berani-berani nya kau melepaskan aku ya! Bahaya!” Kai oppa berkata dengan nada setengah mengancam, sepertinya moodnya sedang buruk. Aku pun mengikutinya, dan ternyata memang bukan tanpa alasan dia menyuruh memeluknya erat. Namja ini membawaku ngebut sekali.

Kai oppa membawaku ke tempat cable car yang menuju namsan tower, jujur belum sekali pun aku naik cable car disini, sesaat aku melupakan rasa penasaran ku dan langsung melompat-lompat excited begitu melihat dari kejauhan sebuah cable seolah membelah angkasa menuju namsan tower yang berdiri kokoh dan gagah.

“Kau senang?” akhirnya Kai oppa tersenyum juga, aku menganguk tapi kemudian aku teringat dengan Daehyun oppa. Beberapa hari lalu entah mengapa aku memimpikan menaiki cable car bersama Daehyun oppa, aku menggelengkan kepala ku kuat. Mungkin aku harus mulai sadar kalau Daehyun oppa itu namja chingu Chan-chan.

“Kau kenapa? Pusing?” tanya Kai oppa lagi dan kali ini aku menggeleng lalu nyengir lebar. Walau terlihat cool dan dingin, Kai oppa sebenarnya sangat baik dan perhatian sangat berbeda dengan sikap Daehyun oppa padaku, tapi kenapa aku tidak bisa menyukainya?

“Masuklah Han Hee..” Kai oppa membiarkan aku masuk duluan ke dalam cable car, dan aku cuman bisa mengerjap bingung karena dalam cable car yang aku tempati tidak ada orang lain lagi yang masuk lagi selain Kai oppa. Padahal aku dengar tadi kapasitasnya sampai 12 orang.

Srtttt……

Terdengar suara halus mesin, bersamaan dengan cable car yang kami naiki mulai berjalan. Entah mengapa rasanya suasana diantara kami menjadi awkward, Kai oppa masih diam sedangkan aku hanya diam berdiri melihat keluar. Berpura-pura tertarik dengan langit malam yang dihiasi bintang-bintang.

Perlahan aku bisa merasakan tubuhku di tarik ke belakang, menyandar di punggung Kai oppa. Lengannya yang kuat merangkul pinggangku erat sedangkan kepalanya bersender di leherku dan menciumnya, membuatku bergidik.

“Kai.. oppa…. kau kenapa?” aku berusaha melepaskan tubuhku, tapi percuma. Kai oppa terlalu kuat, bahkan sekarang dia dengan mudahnya membalik tubuhku menghadap ke arahnya masih memeluknya erat hingga aku sulit bernafas. Sekarang manik matanya menatapku tajam, dan jari-jari lengannya yang panjang mulai membelai pipiku dan kemudian menyapu bibirku.

“Aku sangat menyukai mu” ucap Kai oppa lembut, tapi entah mengapa aku mendapat kesan kalau kata-kata itu sebenarnya bukan ditujukan untukku. Perlahan Kai oppa mendorong tubuhku sampai punggungku merapat di sudut cable car.

“Kai oppa… lepaskan aku” kata ku memohon, rasanya aku ingin menangis. Kenapa Kai oppa jadi aneh seperti ini? Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Tapi Kai oppa sepertinya tidak mempedulikan kata-kata ku dan mendekatkan bibirnya untuk mencium dahi ku Dan kemudian wajahnya mendekati wajahku hingga hidung kami hampir bersentuhan.

“Katakan kalau kau mencintaiku putri aster, anni.. maksudku Han Hee ah..” kata Kai lagi dan kali ini dia mencoba mencium bibirku, spontan aku memalingkan wajahku membuat Kai mencium pipiku alih-alih bibirku.

“Mianhae Kai oppa…”kataku lirih, seolah mengerti dengan yang kurasakan Kai oppa perlahan melepaskan pelukannya yang kuat, membuatku akhirnya bebas bernafas. Aku benar-benar tak sanggup melihat wajah nya yang terlihat merana.

“Ha ha ha…” Kai oppa tertawa miris “sudah kuduga… kau tidak mencintaiku …”

“Oppa…. aku…”

“Kau menyukai Jung Dae Hyun kan? Han Hee ah… apa kau sadar kalau Daehyun menyukai saudara mu sendiri?”

Sebulir air mata tak terasa jatuh dari mataku, tentu saja aku tahu, aku tahu kalau Daehyun mencintai Chan-chan. Tapi hatiku tak bisa bohong kalau aku sendiri sangat menyukai Daehyun oppa. Aku sendiri tak tahu apa yang kulihat dari namja itu, padahal dia selalu bersikap buruk padaku tapi sedikit pun aku tidak bisa membencinya.

Aku hanya diam, bingung mau bereaksi apa. Selama sisa perjalanan aku dan Kai oppa sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi nyaris sebelum cable car berhenti, Kai oppa akhirnya berbicara.

“Han Hee ah… kau ingin mengakhiri hubungan kita?”

============Still Han Hee PoV ==========

@Keesokkan harinya

“Han Hee ah… kau ingin mengakhiri hubungan kita?”

Kata-kata Kai oppa masih membekas di telingaku, kemarin aku belum sempat bereaksi apapun karena pintu cable car sudah lebih dahulu terbuka. Dan yang membuatku tidak menyangka, ternyata Chan rin dan Daehyun oppa sudah diberitahu Kai untuk makan bersama di Namsan Tower (mereka langsung ke Namsan Tower, tidak melewati cable car). Dan setelah itu aku langsung pulang bersama Chan-chan.

Aku berdiri di atas kursi balkon, menatap ke sekeliling. Sepertinya hari ini aman, aku tidak merasakan aura dingin khas vampire yang aku rasakan jika Sehun ataupun Wu zhun laoshi ada disekitar ku.

“Hati-hati, kalau tidak kau bisa jatuh!” suara seseorang dari sampingku membuatku hampir jatuh ke belakang saking terkejutnya. Seorang namja berpipi tirus dengan rambut pirang membingkai wajah tampannya duduk dengan santai nya di atap rumah sebelahku. Dia menggunakan pakaian jas hitam formal, aneh sekali apa setelah dari pesta dia langsung duduk di atas atap?

“Kau siapa? Rasanya baru kali ini aku melihat mu” tanya ku bingung, entah mengapa ada suatu perasaan rindu yang aneh saat melihatnya. Apa kami pernah bertemu sebelumnya?

Namja yang kutanya entah mengapa terlihat kecewa, dia menghembuskan nafas panjang “Kau benar-benar tidak ingat Xi Zhen Han? Aku adalah Xi Lu Han, Lu Han gege mu”

Aku mengerenyitkan dahiku, bingung bagaimana dia tahu nama mandarin ku. Tapi nama keluargaku tentu saja salah, aku adalah Lau Zhen Han bukan Xi Xhen Han. Dan apa maksudnya dia mengaku sebagai  ‘Lu Han gege ku’ ?”

“Apa kau pernah mengenalku? Kau sangat tampan Lu Han gege, biasanya aku selalu ingat orang tampan sepertimu” tanya ku penasaran, ntah mengapa aku merasa senang bertemu dengan namja aneh ini “Dan apa yang sedang kau lakukan disana sendiri?”

“Tentu saja aku memperhatikan adikku tersayang”

“Adik? Siapa? Adikmu tinggal di sekitar sini? Kenapa kau tak langsung menemuinya?”

“Hahahahhahahha” Lu Han tertawa, aku menatapnya kagum. Dia benar-benar tampan bahkan tawanya terdengar bagai melodi yang indah. Aku bertaruh dia memiliki suara yang sangat indah saat menyanyi, rasanya sekarang pun aku bisa menjadi fansnya.

“Han Hee kau bicara dengan siapa?” seseorang menepuk punggungku membuatku berbalik, ternyata Henry oppa. Aku langsung membulatkan mataku, terkejut. Padahal oppa bilang baru bisa pulang lusa ini tapi dia ada di hadapanku sekarang. Spontan aku langsung memeluknya.

“OPPA!!! BOGOSHIPPO YO!!!” teriakku heboh sambil melompat lompat masih memeluknya “Mana oleh-oleh untukku?”

“Ada kok di bawah, eh tadi kau bicara dengan siapa?” pertanyaan Henry oppa membuatku ingat kembali dengan namja tampan yang baru saja aku temui. Refleks aku menunjuk ke arah belakang ku, tapi sudah tidak ada siapapun disana.

“Mana?” Henry oppa terlihat bingung, sedangkan aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa rasanya pertemuan aku dengan Lu Han gege tadi terasa seperti mimpi atau mungkin khayalan ku saja. Lagi pula untuk apa seseorang berdiri di atap tengah malam? Kecuali kalau dia bukan manusia biasa.

Aku memiringkan kepalaku, bingung, kemudian tersenyum lebar “Aku hanya bercanda oppa, kajja~ kita masuk saja!”

================Still Han Hee PoV===========

Pulang Sekolah

@Kafe, beberapa hari kemudian

“Kau ingin blueberry cheesecake seperti kemarin Chan-chan?” tanyaku pada gadis cantik di depanku. Beberapa hari terakhir ini, aku selalu berusaha menyempatkan diri pulang bersama Chan rin. Tentu saja alasannya karena Oh Sehun dan Wu Zhun laoshi-walau aku tidak bisa melihat dimana mereka sekarang- aku bisa merasakan kalau mereka akhir-akhir ini selalu berada di dekat kami, lebih tepatnya mengawasi saudara ku.

“Memangnya  aku seperti kau? setiap hari makan cheesecake?! aku sedang tidak mood makan aku ingin jus saja”

“Okee.. kalau begitu strawberry cheesecake big size untukku dan jus strawberry untuk kita berdua hehehe…” kataku riang dan langsung berdiri “ingat, kau jangan kemana-mana selagi aku memesan ya Chan-chan!”

Chan rin menatapku kesal, lalu dia mengambil tab dari tasnya. Aku hanya tersenyum dan kemudian berjalan ke arah kasir. Biar saja Chan-chan kesal padaku karena aku selalu menempel di dekatnya, aku tidak peduli, yang penting Oh Sehun ataupun Wu Zhun laoshi tidak macam-macam dengan Chan-chan karena aku merasa mereka berdua mengincar saudara tiriku ini.

“Satu strawberry cheesecake big size dan 2 strawberry juice” kata ku pada pelayan, dia langsung menghitung harga dan aku pun mengambil dompet untuk membayarnya.

“Agaesshi, kau ingin cake dan minumannya diantar kemana?”

“Ke meja sana ya!” tunjukku sambil berbalik ke meja yang tadi aku tempati bersama Chan-chan, tapi seketika rasanya aku tak bisa bernafas. Chan-chan tidak ada di tempatnya semula!

“K.. kau melihat gadis yang tadi datang bersama ku? Dia duduk disana tadi!” tanyaku panik, tapi pelayan itu hanya menggeleng bingung dan berkata mungkin Chan-chan sedang ke toilet. Walau rasanya aku tak bisa mempercayainya, langsung saja aku berlari ke arah toilet, dan seperti dugaanku, dia tidak ada. Dengan sedikit harapan aku kembali ke area kafe tapi Chan-chan tetap tidak terlihat.

Bagaimana ini? Bagaimana kalau Oh Sehun atau Wu Zhun laoshi membawa Chan-chan? Bagaimana kalau Kai tidak mengikuti untuk menjaga Chan-chan seperti biasa?

Aku berlari ke luar kafe dan dengan panik melihat ke sekeliling. Akhirnya pandangan ku tertuju pada sosoki Chan-chan yang sudah berdiri di depan sebuah toko musik di seberang. Sesaat hati ku merasa tenang, dasar dia benar-benar membuat ku khawatir. Setelah menunggu beberapa saat lampu lalu lintas pun hijau untuk pejalan kaki dan dengan perasaan lebih ringan aku menghampiri sepupu ku itu.

“CHAN-CHA—“ aku tak sanggup meneruskan kata-kata ku begitu menyadari tatapan kosong Chan-chan yang menembus kaca ke arah dalam toko. Memangnya apa yang dia lihat sampai tatapannya aneh seperti itu? Dengan rasa penasaran aku pun menghampiri dia yang sepertinya tidak sadar dengan keberadaanku. Dan akhirnya aku melihat  ke arah di balik kaca itu, sesuatu yang sejak tadi  Chan-chan terus perhatikan.

Seketika itu juga, seolah ada tekanan yang sangat kuat, tubuhku terdorong ke belakang, membuatku mundur beberapa langkah dan menyandar ke kotak pos di belakangku. Yang aku dan Chan rin lihat adalah sesosok pria yang memiliki ketampanan yang tidak biasa, wajah tampannya yang seputih susu tanpa senyum membuatnya terkesan dingin dan tak mudah didekati. Tapi dia memiliki aura yang tidak biasa, aura dingin yang jauh lebih kuat dibanding saat aku berada dekat dengan Oh Sehun ataupun Wu Zhun laoshi. Pria itu sedang memainkan sebuah melodi yang rasanya mustahil diciptakan oleh manusia. Membuat bulu kuduk ku merinding.

“Chan-chan… “ aku menatap Chan-chan khawatir saat namja itu sudah berhenti memainkan pianonya dan alih-alih menatap ke arah Chan rin sambil tersenyum penuh arti. Tangan ku yang mendadak kaku dan dingin perlahan memasuki tas ku, merogohnya dan kemudian berhasil menemukan apa yang aku cari.

Silver Gun berisi silver bullet

 -TBC-

13 thoughts on “Moonlight Destiny (Chapter 6)

  1. ngebayangin myungsoo ada di dpan ku #menghayal tingkat dewa :p.. the bestttttt bgt lahh buat authorr🙂 hmm.. mau baca chap slnjt.a tapi ni mata ngak bisa di ajak kompromi pngen nutup aja ni mata.,, yahhh mau gmn lagi, bsok aja aku baca slnjutnya ddehh, lagian bsok aq harus skolah😀 #authornya gk pngen tau kalee :p#hehe🙂 hwatingg yaa thorrr…

  2. aaahhh….ini ff yg bkin q pusing , knp?????
    krn trlalu byk namja keceh’y waaaakkkzzzzzzz……
    makin penasarannn jd lanjoootttt….

  3. Yang main piano itu pasti myungsoo deh, dan kenapa chanrin seperti terhipnotis sma permainan myungsoo?
    Apa tujuan wuzhun buat jadi guru baru di tempat les hanhee? Ternyata appa hanhee waktu itu dibunuh sma vampire, siapa yg membunuh appa hanhee? Apa hanhee mau meneruskan appa nya buat jadi vampire hunter? Hanhee bner2 sayang sma chanrin, gimana kalau dia tau bahwa chanrin sebenernya juga adalah vampire? Kai seperti masih menganggap hanhee putri aster, apa yang akan dilakukan kai ya, apa dia masih akan tetap menyayangi hanhee?
    Ternyata hanhee bner2 suka sma daehyun, buktinya dia ga benci daehyun meskipun daehyun udah ngurung dia di tempat vampire itu
    Luhan udah menemui hanhee, apa mungkin bnar bahwa hanhee adalah renkarnasi dari putri aster? Dan waktu hanhee ketemu sma luhan dia seperti merasa merindukan sosok luhan
    Kyaaaaa makin penasaran aja sma ceritanya, ijin lanjut baca ya ka 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s