I’m Sorry, Oppa (Side Story of “Moonlight Destiny”)

s

Dear readers, ini adalah side story dari Moonlight Destiny. Side story ini adalah cerita sampingan yang nggak dibahas di cerita inti (yaitu Moonlight Destiny). Buat readers MD yang ingin tahu kisah Chan Rin dan Chan Yeol pas masih kecil, dan alasan mengapa sikap Chan Rin sangat dingin pada semua orang, bisa baca cerita ini. Buat yang nggak baca Moonlight Destiny juga bisa kok baca cerita ini, karena cerita ini bukan inti dari cerita Moonlight Destiny. Tapi lebih bagus lagi kalau baca Moonlight Destiny juga. Hehehe. Genre cerita ini lebih ke family. Let’s check it out! ^_^

 

Title                 : I’m Sorry, Oppa. (Side story of Moonlight Destiny)

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Casts      : Park Chan Rin (OC), Park Chan Yeol (EXO-K)

Support Casts            : Kim Myung Soo / L (Infinite), Byun Baek Hyun (EXO-K), EXO members

Genre              : Family, Fantasy, Mystery, Romance

Length                        : One Shot

Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu. Ibuku meninggal sejak aku bayi. Tapi, aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Aku memiliki kakak laki-laki yang sangaaaattt menyayangiku. Rasanya aku sanggup hidup di dunia ini berdua saja dengan kakak-ku, Park Chan Yeol. Aku tidak membutuhkan siapapun. Aku hanya butuh Chan Yeol Oppa.

Chan Yeol Oppa lebih tua 5 tahun dariku. Dia adalah kakak paling sempurna di dunia ini. Chan Yeol Oppa bisa melakukan apapun untukku. Dari mulai aku bangun tidur di pagi hari, sampai aku tertidur di malam hari, Chan Yeol Oppa selalu ada untukku. Chan Yeol Oppa selalu mewarnai hari-hariku.

Saat ini umurku 9 tahun. Chan Yeol Oppa bilang, umur 9 tahun adalah umur penting bagi seorang gadis cilik. Katanya, tubuhku akan mulai bertambah tinggi dengan cepat, nanti aku akan bisa jadi se-tinggi Chan Yeol Oppa. Aku akan terlihat semakin cantik dan keren (keren seperti Chan Yeol Oppa), hehehe. Lalu, saat aku bertanya “Apakah suaraku akan jadi berat dan sexy seperti suara Oppa?” tanyaku polos.

Chan Yeol Oppa hanya tertawa terbahak-bahak sambil mengacak-acak rambut panjangku dengan gemas. “Tidak, Rinrin sayang.., suaramu tidak akan berat seperti Oppa. Karena kau seorang princess, suaramu akan terdengar merdu dan cantik.”

“Benarkah?” tanyaku dengan mata berbinar-binar senang.

Chan Yeol Oppa mengangguk. “Hmm. Tentu saja.” Ia tersenyum lebar, menampakkan barisan gigi-nya yang rapi. Aku ikut tersenyum lebar seperti Chan Yeol Oppa, meskipun gigi-ku tidak rata. Gigi kelinci.

Chan Yeol Oppa mengelus-elus kepalaku. “Aku senang melihatmu tersenyum, Rinrin. Saat kau tertawa, dan saat kau berbicara dengan suara merdu-mu juga. Tapi Oppa sedih kalau kau menangis. Suaramu jadi tidak merdu lagi.”

Aku berdiri dari sofa dan melingkarkan kedua lenganku di leher Chan Yeol Oppa sambil menatap kedua mata cokelat bening-nya. “Aku janji tidak akan menangis lagi, Oppa. Aku janji tidak akan menangis meskipun Oppa memasak sayuran dan ikan yang tidak kusukai. Aku janji tidak akan menangis meskipun aku sering jatuh. Aku janji tidak akan menangis meskipun Ayah jarang pulang ke rumah. Aku janji tidak akan menangis meskipun Oppa kadang telat menjemputku di sekolah.”

Chan Yeol Oppa mencium kedua pipi-ku. “Aigoo~~ Oppa tahu kau anak yang kuat, RinRin. Oppa sayang RinRin.” Chan Yeol Oppa nyengir lebar, lalu mencium hidung mungil-ku.

Aku terkikik geli. Hidungku sangat sensitif. Aku selalu merasa geli bila Chan Yeol Oppa menyentuh ujung hidungku dengan jari-nya, apalagi saat dia mencium hidungku!

“Aku juga sayaaaaanggg sekali pada Oppa.” Aku memeluk kakakku itu dengan erat.

Chan Yeol Oppa tertawa sambil mengelus-elus punggungku penuh sayang. “Kau mau es krim greentea favoritmu, RinRin?”

Aku mengangguk dengan bersemangat. “Hmm. Mau..Mau!!!” aku melompat-lompat riang.

Chan Yeol Oppa berdiri dari sofa, ia memegang tanganku dan ikut melompat-lompat dengan riang. “Ayo.. Ayooo!!!”

Kami pun berlari ke luar dari rumah menuju supermarket terdekat dari kompleks rumah kami. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya semua orang menatap kami. Chan Yeol Oppa memang eye catching, sangat tinggi dan tampan. Meskipun Oppa masih Junior High School, tapi ia terlihat seperti sudah dewasa bila ia hanya diam dan tersenyum. Tapi.., begitu Chan Yeol Oppa berbicara…hancur sudah-lah image cool-nya. Hihihi. Tapi aku suka sifat Oppa-ku yang seperti ini. Oppa tidak pernah jaim. Oppa selalu bersikap apa adanya.

Dan kurasa para gadis juga lebih suka sifat Oppa-ku yang ceria apa adanya tanpa bersikap sok cool. Oppa memang populer. Semua orang menyukainya. Tapi Oppa tidak pernah sombong meskipun ia populer dan pintar. Aku senang karena Oppa adalah Oppa-ku.

“Chan Yeol~ah….!!! Chan Rin~ah..!!!!” panggil sebuah suara yang sudah sangat kami kenal. Byun Baek Hyun melambaikan tangannya dengan bersemangat sambil tersenyum lebar.

“Oh, Baekki!!!!”

“Baekki Oppa!!!!”

Baek Hyun Oppa menghampiri kami. “YAH! Jangan memanggilku Baekki!” Baek Hyun Oppa cemberut. Aku dan Chan Yeol Oppa saling berpandangan, kemudian terkikik geli.

Baek Hyun Oppa adalah sahabat kakakku yang paliiiing baik. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku juga, meskipun tidak akan pernah bisa menandingi Chan Yeol Oppa. Di seluruh jagad raya ini, tidak ada seorang pun yang bisa menandingi apalagi menggantikan Chan Yeol Oppa!

Baek Hyun Oppa sudah bersahabat dengan Chan Yeol Oppa semenjak mereka masih duduk di taman kanak-kanak. Sampai sekarang mereka masih satu sekolah. Sifat mereka mirip, karena itulah mereka cocok. Mereka berdua sama-sama suka musik dan sepak bola. Mereka bilang padaku kalau suatu hari nanti mereka akan menjadi musisi, idol, sekaligus atlet sepak bola yang terkenal dan hebat. Wah…, impian mereka memang sangat besar! Aku sendiri tidak tahu apa mimpiku. Tapi, kurasa…mimpiku adalah membuat Chan Yeol Oppa selalu tersenyum bahagia. ^_^

******

Malam itu aku bermimpi aneh sekali. Sebuah mimpi yang terasa nyata. Bahkan, ketika aku bangun-pun, mimpinya masih bisa kuingat dengan jelas.

Di dalam mimpi itu, aku duduk di tengah-tengah padang rumput. Aku memakai gaun dan tiara yang sangat cantik. Semua Jenis binatang mengelilingiku, seolah menghormatiku. Dari mulai binatang liar dan buas seperti harimau, singa, ular. Sampai binatang jinak seperti kucing Persia. Bahkan serangga kecil pun semuanya mengelilingiku seolah aku adalah pemimpin mereka.

Lalu, tiba-tiba seorang pria datang menghampiriku. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak pernah bertemu dengannya di dunia nyata, tapi kenapa aku bisa me-mimpikan orang yang tidak pernah kulihat sebelumnya?

Pria itu terlihat beberapa tahun lebih tua dari Chan Yeol Oppa. Wajahnya sangat tampan. Jauh lebih tampan dari pria manapun yang pernah kulihat.

Rambut pria itu berwarna hitam. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dagu-nya lancip, dan matanya sangat indah. Tatapan matanya sangat tajam dan dingin, tapi begitu ia berdiri di hadapanku, tatapan mata itu melembut dan membuatku seolah terhisap ke dalam matanya.

Pria itu hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Ia mengulurkan tangannya padaku dan menyentuh puncak kepalaku. Tangannya terasa dingin di kepalaku, seolah ada sebongkah es batu yang ia letakan di atas kepalaku. Kenapa tangannya terasa dingin sekali?

Pria itu masih terus menatapku lembut dengan mata tajam-nya. Aku hanya balas menatapnya dengan bingung. Siapa pria ini sebenarnya?

Semua binatang mengeluarkan suara. Para singa mengaum, para anjing menggonggong, para serigala melolong, para kucing mengeong, para burung ber-cicit, para ular mendesis, beruang dan panda menggeram, semua binatang mengeluarkan suara khas mereka masing-masing. Tapi anehnya, semua suara khas binatang-binatang itu terdengar sama di telingaku saat itu. Binatang-binatang itu mengatakan satu kalimat yang sama (meskipun suara dan bahasa mereka berbeda). Mereka berkata, “Yang Mulia…. Yang Mulia…”

Mataku membelalak lebar. Pria tampan di hadapanku hanya tersenyum, kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku dan mencium keningku. Lagi-lagi aku merasa dingin. Bibir-nya yang lembut terasa dingin di keningku.

Pria itu membelai pipi-ku dengan tangannya. Setiap belaian-nya menimbulkan sensasi aneh di perutku, dan menyisakan rasa dingin di kulitku.

Dalam sekejap, di belakang binatang-binatang yang mengelilingi kami – muncul sekumpulan orang berjubah hitam. Mereka menundukkan kepala mereka dan sama-sama berkata “Yang Mulia..Yang Mulia…” dalam berbagai bahasa.

Pria itu mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dan berdiri di sampingnya. Kami berdiri bergandengan tangan sambil menatap sekeliling kami. Semua binatang dan orang-orang berjubah hitam masih berlutut pada kami.

Lalu, tiba-tiba saja perlahan rumput hijau yang kami injak berubah menjadi merah. Cairan merah yang seperti darah itu terus bertambah tinggi sampai menutupi lututku. Aku membelalak ketakutan. Aku menggenggam tangan pria itu semakin erat. Pria itu menatapku sambil mengangguk, seolah berkata ‘jangan takut’.

Sekeliling kami berubah menjadi lautan darah. Binatang-binatang berenang sambil meminum cairan merah itu. Orang-orang berjubah hitam juga menyelam ke dalam lautan darah itu.

Pria di sebelahku menggenggam tanganku lebih erat. Rasa dingin semakin menusuk ke dalam tulangku. Pria itu memelukku, lalu dalam sekejap ia membawaku menceburkan diri ke dalam lautan darah.

“Aaaaarrgggghhhhhh….!!!!!!” Aku menjerit keras.

Saat itu-lah aku terbangun. Mimpi itu terasa sangat nyata. Keringat membanjiri wajah dan tubuhku. Mimpi itu terasa sangat indah tapi sekaligus mengerikan.

Cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendelaku. Rupanya sudah siang. Aku membuka gorden jendela kamarku, membuka jendela, dan membiarkan cahaya matahari yang hangat menyinari kulitku.

Siapa pria yang ada di dalam mimpiku tadi? Aku pernah memimpikan personel Westlife dan H.O.T meskipun aku belum pernah bertemu mereka tapi aku kan tahu wajah mereka dari TV. Aku juga pernah memimpikan ibuku meskipun aku belum pernah bertemu dengannya tapi aku tahu wajah ibuku dari foto. Tapi pria di mimpiku tadi.., siapa dia? Aku belum pernah melihatnya di manapun. Kenapa aku bisa memimpikan pria itu?

“Aku lapar..” kata suara cempreng.

Aku terperanjat. Siapa? Siapa yang berbicara lapar barusan? Aku melihat ke bawah balkon. Tidak ada seorang pun di sana.

“Hey, gadis kecil, aku lapar. Kau punya makanan?”

Aku melompat karena kaget. Suara itu terdengar dekat sekali dengan telingaku. Jangan-jangan…hantu?

“Hey….aku lapar….”  Suara itu terdengar lagi.

Aku menoleh dan melihat seekor kucing liar yang berada di atas genteng dekat balkon kamarku. Aku menatap kucing itu lama sekali. Kucing itu balas menatapku. Apakah barusan kucing itu bicara padaku?

“Aku tahu, aku memang lucu. Tapi sekarang aku kelaparan.” Kata kucing itu.

Aku membuka mulutku lebar-lebar. “Kau..kau..bicara padaku?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?!”

“Kyaaaaaa!!!!! Aku bisa bicara pada kucing!!!! Horeeeee!!!!” aku berjingkrak-jingkrak riang. Apakah ini salah satu keistimewaan umur 9 tahun? Aku harus memberi tahu Chan Yeol Oppa!!

“Kemarilah, aku akan membawamu ke dapur. Kau bisa memakan ikan yang tidak kusukai.” Kataku pada kucing itu.

Kucing itu pun berlari menghampiriku, lalu menyentuhkan bulu-nya di kakiku. “Aku mau ikan yang besar.” Kata kucing itu.

Aku tertawa. “Hahaha. Kau bisa memakan semua ikan yang ada. Ayo!” aku pun berjalan keluar dari kamarku, turun ke lantai 1 dan menuju dapur. Kucing itu mengikutiku.

“Oppa!! Oppa!!!!!” aku memanggil kakakku dengan bersemangat.

Chan Yeol Oppa yang sedang memasak nasi goreng di dapur menoleh padaku lalu tersenyum lebar. “Good morning, sunshine. Tidurmu nyenyak?”

Kemudian aku teringat mimpiku tadi. “Aku bertemu pangeran tampan di dalam mimpi-ku, Oppa. Tapi mimpinya aneh.”

Chan Yeol Oppa tertawa. “Pangeran? Siapa Pangeran-mu, RinRin?”

“Aku tidak tahu.”

“Meooonnng..meooonggg…”

“Oh, kucing siapa itu?” tanya Chan Yeol Oppa. Meskipun kucing itu terdengar mengeong saja di telinga Chan Yeol Oppa, tapi di telingaku kucing itu terdengar meminta makan.

Aku meraih kucing itu dan mendudukannya di pahaku. “Oppa benar. Umur 9 tahun adalah umur yang penting bagi anak perempuan. Aku sekarang bisa bicara pada kucing, Oppa!” aku berkata dengan mata berbinar-binar senang.

“Benarkah? Waaahhhh…, kau hebat sekali, RinRiin! Hahaha. Kau ingin memelihara kucing?”

Aku mengangguk. “Hmm. Boleh yaa Oppa?”

Chan Yeol Oppa mengangguk. “Oke. Asalkan kau mau mengurus kucingnya dengan baik.”

“Thank youuuuuu, Oppaaaaa!!!!” aku memeluk Oppa-ku dari belakang.

Chan Yeol Oppa hanya tertawa. “Ayo kita makan.” Oppa menaruh dua buah piring berisi nasi goreng seafood di atas meja.

“Oppa tidak masak ikan?” tanyaku.

“Kau mau ikan?” tanya Oppa-ku, kaget, karena aku yang tidak suka makan ikan tiba-tiba saja menanyakan ikan.

“Kucing ini….”

“Udang itu juga tidak apa-apa. Nasi juga aku suka.” Kata kucing di pangkuanku.

“Oh., kau suka udang dan nasi juga?” kataku pada kucing itu. Aku pun memberikan sebagian udang dan nasi-ku pada kucing itu. Kucing itu memakannya dengan lahap.

“Rinrin, jangan memberikan makananmu pada kucing. Oppa akan membelikan kucing itu biskuit kucing atau ikan mentah nanti.”

“Aku tidak suka biskuit kucing. Rasanya menjijikan.” Kata kucing itu padaku.

Aku menggeleng. “Kucing ini tidak suka biskuit, Oppa. Belikan ikan mentah saja yaaa..” pintaku.

Chan Yeol Oppa nyengir sambil mengacak-acak rambutku. “Oke. Sekarang kau makan-lah yang banyak.”

“Oh.., kupu-kupu!!!!” pekikku senang. Seekor kupu-kupu cantik bersayap biru terbang dan hinggap di tanganku. “Selamat pagi…” kata kupu-kupu itu. “Selamat pagi..” balasku. Kemudian aku sadar. Aku bisa bicara pada kupu-kupu juga!!!!

“Oppa.., aku bisa bicara pada kupu-kupu juga!!!” pekikku bersemangat.

Chan Yeol Oppa tertawa dan mengangguk. “Hmm. Kau hebat, RinRin! Ayo sekarang habiskan makananmu dan siap-siap pergi ke sekolah.”

Mulai saat itu, duniaku terasa lebih indah. Aku bisa berbicara pada semua binatang! Semua binatang menyapaku, berbicara padaku. Semua binatang adalah temanku! Bahkan ular yang ditakuti banyak orang-pun sebenarnya tidaklah jahat. Binatang hanya menyerang manusia bila manusia itu menyerang binatang lebih dulu.

Tapi sayangnya, hanya Chan Yeol Oppa yang percaya kata-kataku. Tak ada satupun temanku di sekolah yang percaya aku bisa bicara dengan binatang. Mereka hanya menertawaiku dan menyebutku anak aneh tukang khayal. Bahkan Baek Hyun Oppa juga tidak mempercayaiku.

“Chan Rin~ah,,, saat aku masih kecil, aku juga mengira  punya teman khayalan robot. Tapi setelah agak besar, aku tahu semua itu hanya khayalan masa kanak-kanakku. Hahaha. Tidak apa-apa, Chan Rin~ah. Masa kanak-kanak memang masa-masanya berkhayal.” Baek Hyun Oppa mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Tapi aku benar-benar bisa bicara pada binatang, Oppa.” Kataku.

Baekhyun Oppa mengelus kepalaku sambil terkekeh. “Ya… aku tahu, Chan Rin~ah…”

Aku tahu, Baek Hyun Oppa tidak mempercayaiku.

Teman-teman di sekolah mulai menjauhiku. Mereka menganggapku aneh dan sinting. Tapi aku tidak peduli. Sejak dulu-pun aku tidak pernah peduli pada omongan orang lain. Aku tidak peduli saat orang-orang mengolok-olokku karena aku tidak punya ibu. Maka sekarang pun diolok-olok sebagai anak aneh bukanlah masalah bagiku. Asalkan ada Chan Yeol Oppa, aku tahu semuanya akan baik-baik saja. Asalkan Chan Yeol Oppa mempercayaiku, maka aku tidak butuh orang lain. Aku  hanya butuh Chan Yeol Oppa.

Aku tidak pernah memimpikan “Pangeran Tampan” itu lagi. Tidak pernah ada lautan darah lagi di dalam mimpiku. Semakin hari, wajah si Pangeran di dalam mimpiku semakin tidak  bisa kuingat dengan jelas. Yang kuingat hanyalah….ia adalah laki-laki paling tampan yang pernah kulihat.

Setiap hari pasti banyak sekali anjing dan kucing yang datang ke rumahku, hanya untuk menyapaku, bermain denganku, dan ada juga yang minta makan padaku. Chan Yeol Oppa hanya tertawa melihat kedekatanku dengan anjing dan kucing. Oppa tidak tahu, serangga pun dekat denganku. Bahkan sekarang aku bisa mengendalikan kecoa. Menyuruh kecoa-kecoa itu agar tidak tinggal di dalam rumahku karena Chan Yeol Oppa takut kecoa. Hehehe.

Lalu, suatu hari, di hari senin yang cerah, sesuatu hal yang tak pernah kuduga terjadi.

Saat itu, jam pelajaran terakhir setelah jam pelajaran olahraga, kami semua duduk di bangku kami masing-masing untuk belajar Matematika.

“Nam Jung Ho kehilangan handphone-nya.” Kata guru kami. Terdengar bisikan anak-anak. “Sebelum ibu memeriksa tas kalian, apakah ada diantara kalian yang mau mengaku? Silakan kalian menundukkan kepala kalian sambil memejamkan mata, lalu siapapun itu yang mengambil handphone Jung Ho, angkat tanganmu. Aku tidak akan memarahimu bila kau mengaku. Tapi kalau kau tidak mengaku, aku terpaksa memberimu hukuman.” Kata Mrs.Choi. Guru Matematika kami itu memang terkenal tegas dan disiplin.

Kami semua menundukkan kepala kami sambil memejamkan mata. Sepertinya si pencuri belum mengangkat tangannya, karena Mrs.Choi belum juga menyuruh kami membuka mata kami.

“Ayo.., angkat tanganmu. Ibu tidak akan menghukum-mu kalau kau mengakui kesalahanmu.” Kata Mrs.Choi.

Aku bisa merasakan seekor kupu-kupu terbang di dekat telingaku. “Gadis bernama Jung Na Eun yang mencuri-nya.” Kata kupu-kupu itu padaku.

“Benar, gadis itu yang mencurinya.” Tambah suara nyamuk. “Tapi dia memasukkannya ke dalam tas-mu, Chan Rin.”

“APA???” Pekikku pada nyamuk dan kupu-kupu yang terbang di dekat telingaku.

“Park Chan Rin! Kenapa kau tiba-tiba berteriak?” bentak Mrs.Choi.

“Nae Eun yang mencuri handphone Jung Ho, dan dia memasukkannya ke dalam tas-ku, seonsangnim.” Kataku. Semua anak menatapku. Na Eun tampak terkejut dengan perkataanku.

“Tidak!” kata Na Eun. “Aku tidak mencurinya! Chan Rin yang mencurinya! Lihat saja tas-nya!”

“Kau yang memasukkan handphone-nya ke dalam tas-ku! kau ingin orang-orang mengira aku yang mencurinya!” bentakku pada gadis sok cantik itu.

“Kau melihat Na Eun memasukkan handphone itu ke dalam tas-mu, Chan Rin?” tanya Mrs.Choi.

Aku menggeleng. “Tidak. Tapi kupu-kupu dan nyamuk ini memberitahuku.” Kataku sambil menunjuk kupu-kupu dan nyamuk yang masih terbang di dekat telingaku.

“HAHAHAHA…HAHAHA….”

“Bodoh!”

“Aneh!”

Teman-teman sekelasku malah mengolok-olokku.

“Anak aneh! Tidak usah mengarang cerita!” bentak Jung Ho. Anak laki-laki bertubuh besar dan berwajah seram itu mendekatiku dan merampas tas-ku. Ia merogoh-rogoh tas-ku.

Seekor kucing abu-abu peliharaan penjaga sekolah masuk ke dalam kelas dan bicara padaku. “Meong.., Na Eun memang mencurinya. Dia iri padamu, Chan Rin. Dia iri karena kau dekat dengan Byun Baek Hyun. Aku pernah mendengar Na Eun menyatakan cinta pada Baek Hyun saat Baek Hyun menjemputmu kemari 2 hari yang lalu, tapi Baek Hyun menolaknya.”

Aku ingat, 2 hari yang lalu Baek Hyun Oppa memang menjemputku karena Chan Yeol Oppa ada latihan sepak bola untuk tournament sekolah minggu depan. Biasanya Baekhyun Oppa datang bersama-sama ChanYeol Oppa, tapi 2 hari yang lalu dia menjemputku sendiri dan menungguku cukup lama di luar karena aku kebagian piket menyapu pulang sekolah.

“INI DIA!” seru Jung Ho. Ia mengeluarkan ponsel baru-nya dari dalam tas-ku. semua orang terkesiap dan mengumpat padaku. Na Eun tersenyum sinis.

“BUKAN AKU YANG MENCURINYA! NA EUN YANG MENCURINYA! TANYA SAJA PADA KUCING INI!” kataku sambil menunjuk kucing di sebelahku.

Kucing itu terus mengeong. Mengulangi kata-katanya barusan, tapi semua orang hanya mendengar meongan si kucing tanpa mengerti.

“HAHAHA… dasar Freak!”

“Maniak binatang!”

“Aneh!”

“Tukang khayal!”

“Pencuri!”

“Aku tidak mencurinya!!!!!” jeritku. “Naeun melakukannya karena ia iri padaku. Dia menyukai Baek Hyun Oppa dan mengira aku juga menyukai Baek Hyun Oppa. Dia marah karena Baek Hyun Oppa menolaknya.”

Wajah Na Eun memerah. “Bohong!!! Dia Bohooong!!!!” jerit Na Eun.

“KAU YANG BOHONG!!!!” teriakku.

PLAAAKK!!!

Jung Ho menampar pipiku dengan keras. Seumur hidup, inilah pertama kalinya aku ditampar.

Air mataku hampir menetes, tapi aku menahannya.

“RINRIIINN!!!” tiba-tiba saja Chan Yeol Oppa datang ke kelasku dan memelukku dari samping.

“Na Eun, apakah semua yang dikatakan Chan Rin benar?” tanya Mrs.Choi pada Na Eun. “Dan Chan Rin, kenapa kau bisa yakin Na Eun yang mencurinya?”

“Kucing dan kupu-kupu itu yang.….”

“Anak aneh! Kau hanya cari alasan! Buktinya handphone-ku ada di dalam tas-mu!” bentak Jung Ho. “Anak sinting yang suka bicara pada binatang sepertimu memang mengerikan! Kau tidak punya ibu makanya kau aneh dan gila!”

BRUUGGG!!

Chan Yeol Oppa menonjok Jung Ho sampai ia terpental ke belakang.

“JANGAN MENGHINA CHAN RIN!!! KAU YANG MENGERIKAN, ANAK BODOH!!!” Chan Yeol terus menonjok Jung Ho sampai muka Jung Ho penuh darah.

Anak-anak perempuan menjerit. “HENTIKAN!” Mrs.Choi melepaskan Chan Yeol dari Jung Ho dan membawa kami ke ruang kepala sekolah.

“Oppa.., aku tidak mencuri-nya.” Kataku sambil menangis. Chan Yeol Oppa memelukku.

“Aku tahu, RinRin.., aku percaya padamu.” Kata Chan Yeol Oppa. Aku menangis di dalam pelukannya.

Tidak ada yang percaya padaku selain Chan Yeol Oppa. Kepala sekolah memberiku hukuman untuk membersihkan toilet selama 1 bulan.

“Seonsangnim, apakah Anda punya bukti kalau adikkku yang mencurinya?” tanya Chan Yeol Oppa. “Aku percaya adikku tidak mungkin mencuri.”

“Apakah kau punya bukti kalau adikmu bukanlah pencurinya?” tanya kepala sekolahku dengan nada tenang. Chan Yeol Oppa hanya terdiam.

“Oppa, kucing dan kupu-kupu juga nyamuk itu ….”

“Jangan bawa-bawa binatang lagi, Park Chan Rin!” bentak Chan Yeol Oppa. Aku tersentak. Seumur hidupku, inilah pertama kalinya Chan Yeol Oppa memarahiku. Air mataku mengalir dengan deras. Bukan. Bukan karena Oppa membentakku, tapi karena Oppa tidak mempercayaiku.

“Oppa percaya kau tidak mencuri, RinRin~ah.., tapi binatang tidak mungkin bicara padamu. Manusia tidak bisa bicara pada binatang. Apakah ada manusia…temanmu dari kelas lain yang melihat Na Eun mencuri ponsel Jung Ho?”

Aku hanya terdiam dan terus menangis tanpa suara. Jadi selama ini Oppa tidak percaya aku bisa mengerti bahasa binatang dan bicara pada binatang?! Oppa hanya pura-pura mempercayaiku?!

Hatiku terasa sakit sekali. Satu-satunya orang yang kupikir mempercayaiku, ternyata tidak pernah mempercayaiku.

“Kalian pulang-lah.” Kata kepala sekolah. “Hukumanmu berlaku mulai besok, Park Chan Rin.”

Aku mengangguk dan pergi keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Chan yeol Oppa.

“RinRin!!! Tunggu,,,” dengan kaki panjangnya, Chan Yeol Oppa berhasil mendahuluiku. Chan Yeol Oppa membungkukkan badannya, wajahnya sejajar dengan wajahku. “Kenapa kau tidak meyakinkan kepala sekolahmu kalau bukan kau yang mencurinya?”

“Tidak penting, Oppa.” Tukasku dingin. “Oppa tidak mempercayaiku, jadi semuanya sudah tidak penting lagi bagiku.”

“RinRin.., Oppa percaya kau tidak mencuri.”

“TAPI OPPA TIDAK PERCAYA AKU BISA BICARA DENGAN BINATANG!!! OPPA MENGANGGAPKU ANEH JUGA KAN?!” jeritku histeris.

Chan Yeol Oppa memelukku dengan hangat. “Kau harus bisa membedakan mana khayalanmu dengan mana kenyataan, RinRin. Ingat? Princess tidak menangis.”

Aku mendorong Chan yeol Oppa. “Aku bukan princess! Dan aku bukan manusia karena manusia tidak bisa bicara pada binatang kan?!” aku berlari menuju gerbang sekolah.

“RINRIIIIINNNN!!!” Chan Yeol Oppa berlari mengejarku.

Agak jauh dari gerbang sekolah, segerombolan pria ber-jas hitam dan berwajah seram menghampiriku. “Kau Park Chan Rin?” tanya salah satu mafia itu.

“RINRIIINN!!!!” Chan Yeol Oppa menarikku.

“Kau pasti Park Chan Yeol yang membuat Tuan muda Jung Ho terluka.” Kata pria bertubuh besar dan berkepala botak.

Aku membelalakkan mataku. Mereka pasti anak buah ayahnya Jung Ho. Bukan rahasia lagi bila Jung Ho adalah anak dari ketua mafia terkuat di Seoul.

BRUK…BRUK….

Mafia-mafia itu mulai menendang dan menonjok Chan Yeol Oppa.

“OPPPAAAA!!!!!” jeritku.

“Lari, RinRin!!” teriak Chan yeol Oppa.

BRUUGGG… BRUGGG…BRUGGGG..

Mafia-mafia itu menendang kaki dan perut Chan Yeol Oppa terus-menerus. Chan Yeol Oppa mengerang kesakitan di jalanan. Wajah dan tubuhnya penuh darah. Aku hanya bisa menjerit dan menangis.

Tanganku bergetar memijit ponsel-ku. “Baek Hyun Oppa.., tolong kami….”

Salah satu mafia itu melempar ponselku.

“RINRIIINNN!!!! LARI-LAH!! CEPAATTT!!!” teriak Chan Yeol Oppa. “Aaarrggghhhh…” ia menjerit lagi saat tendangan bertubi-tubi menimpa kaki dan tubuhnya.

Aku berjalan mundur, ketakutan melihat salah satu mafia yang tadi melempar ponselku kini mendekatiku.

Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Secepat kilat, mafia-mafia itu melarikan diri dengan mobil mereka. Aku berlari menghampiri Chan Yeol Oppa yang terluka parah. “Oppa…Oppa…Opppa…” aku hanya bisa menangis. Tubuh Chan Yeol Oppa penuh memar dan darah. Semua ini gara-gara aku. Oppa terluka karena aku.

“Chan Rin!!! Chan Yeol!!!!” Baek Hyun Oppa menghampiri kami. Di belakangnya para perawat ikut berlari. Perawat-perawat itu menggotong Chan Yeol Oppa ke dalam ambulans. Orang-orang yang lewat di jalanan kini berekerumun.

“Baekhyun Oppa..” kataku sambil berurai air mata. Baekhyun Oppa memelukku. “Gwenchana, Chan Rin~ah. Semuanya akan baik-baik saja. Chan Yeol akan baik-baik saja.”

****

Kedua Kaki dan lengan kanan Chan Yeol Oppa di gips. Dokter bilang, tulang kaki dan tangannya patah parah. Hanya tulang lengan kiri-nya yang tidak patah. Wajah Chan Yeol Oppa juga masih dipenuhi memar-memar biru.

Aku hanya bisa melihat Chan Yeol Oppa dari kaca kamar rumah sakit, tidak berani medekatinya. Semua ini salahku! Seharusnya aku jangan bergantung pada Chan Yeol Oppa. Seharusnya setiap hari aku pulang sekolah sendiri dan tidak perlu dijemput Chan Yeol Oppa dan Baek Hyun Oppa. Kalau aku mandiri, pasti semua ini tidak akan terjadi. Kalaupun Na Eun masih tetap melakukan pencurian dan membuatku tertuduh, harusnya Jung Ho hanya memukulku. Harusnya aku saja yang dipukul mafia-mafia itu.

“Maafkan aku, Oppa…” bisikku pelan. Aku menghapus air mata di pipiku dengan punggung tanganku.

Chan Yeol Oppa tertidur. Sudah 2 hari Oppa di rumah sakit ini. Oppa tidak tahu kalau aku selalu melihatnya dibalik kaca ruangan rumah sakit ini. Aku meminta Baek Hyun Oppa merahasiakannya. Aku tidak ingin Chan Yeol Oppa khawatir padaku.

Mulai saat itu aku berjanji. Aku akan hidup mandiri. Aku tidak akan bergantung pada Chan Yeol Oppa dan pada siapapun. Aku hanya akan mengandalkan diriku sendiri. Aku tidak akan manja pada Oppa-ku. Aku tidak akan membuatnya perlu menjaga-ku lagi. Umurku sudah hampir 10 tahun. Aku harus berubah.

“Meong..meong.., ini roti untukmu.” Seekor kucing Persia berbulu kuning-putih menghampiriku. Di mulutnya terdapat roti cokelat yang masih berbungkus plastik.

Aku tersenyum dan berjongkok, lalu mengelus-elus kepala kucing manis itu. Mulai sekarang, temanku hanyalah binatang. Hanya binatang yang tidak akan membuatku menangis. Hanya binatang yang menganggapku tidak aneh dan gila.

“Terima kasih…” kataku pada kucing itu. Kucing itu meletakkan roti di dalam tanganku.

Ya, mulai saat itu aku berubah. Aku bukanlah Park Chan Rin yang dulu lagi. Semuanya kulakukan demi Chan Yeol Oppa. Aku tidak ingin Chan Yeol Oppa terus-menerus menjagaku. Aku ingin Chan Yeol Oppa memikirkan dirinya sendiri. Aku tidak mau membawa Chan Yeol Oppa ke dalam masalah lagi, karena aku tahu aku berbeda. Bisa berbicara pada binatang sangat menyenangkan, tapi orang-orang disekitarku tidak mengerti. Aku juga merasa sakit hati saat Chan Yeol Oppa tidak mempercayai kelebihan aneh-ku ini.

Lebih baik aku sendiri. Lebih baik tidak punya teman manusia. Lebih baik jangan membawa Chan Yeol Oppa ke dalam masalah. Aku ingat apa mimpiku. Membuat Chan yeol Oppa tersenyum bahagia. Agar Oppa bahagia, maka aku harus menjauh. Aku yakin… aku bisa melakukan segalanya sendiri.

*****

Beberapa hari kemudian, Chan Yeol Oppa keluar dari rumah sakit. Baek Hyun Oppa mendorong kursi roda Chan Yeol Oppa, membantunya masuk ke dalam rumah.

“RinRiiiiinnnnn!!!!!! Aku kangen padamuuuu!!!!” Chan Yeol Oppa memelukku. Dia masih duduk di kursi roda-nya. “Maaf yaaa..aku tidak bisa menjemputmu pulang sekolah selama beberapa hari ini. Aku juga tidak memasak untukmu, membacakanmu cerita, membantumu mengerjakan PR, menemanimu bermain games komputer.”

“Aku bisa melakukannya sendiri, Oppa. Oppa tidak usah khawatir.” Kataku dingin. Chan Yeol Oppa dan Baek Hyun Oppa saling tatap, kemudian memandangku dengan cemas. Aku berusaha menahan air mataku yang hampir menetes. Aku juga memasang poker face-ku agar Oppa tidak bisa melihat rasa sedihku.

Maafkan aku, Oppa. Mungkin mulai sekarang, aku akan menjadi adik yang dingin dan jutek. Semua ini kulakukan agar Oppa tidak dekat-dekat aku lagi. Aku tidak mau Oppa terluka lagi. Aku hanya bisa mengatakan kebenarannya di dalam hatiku saja.

“Kau mau makan pizza, RinRin? Oppa delivery pizza yaa..”

“Tidak mau. Aku mau mengerjakan PR.” Kataku datar.

“Oppa bantu ya..” Chan Yeol Oppa tersenyum lebar.

“Tidak usah! Aku bisa sendiri, Oppa.” Aku pun cepat-cepat berlari ke kamarku di lantai 2 dan mengunci pintu.

“Hiks…hiks…” aku bergelung di tempat tidurku sambil menangis.

Aku ingin selalu bersama Oppa setiap saat, tapi kalau aku terus bersama Oppa…. Oppa tidak akan bisa melepaskanku. Oppa akan selalu peduli padaku. Aku ingin Oppa mengabaikanku. Aku ingin Oppa menjauhiku. Bagaimana kalau Oppa terluka lagi? Bagaimana kalau orang-orang jahat menyerang Oppa lagi? Bagaimana kalau orang-orang menganggap Oppa aneh karena punya adik aneh dan sinting sepertiku?!

Maafkan aku, Oppa. Karena aku…. Oppa jadi tidak bisa mengikuti tournament sepakbola penting hari ini. Mungkin selamanya Oppa tidak akan bisa bermain bola lagi karena kaki Oppa terkena trauma.

Maafkan aku, Oppa. Karena aku… tangan kanan Oppa jadi patah dan terluka. Mungkin Oppa akan kesulitan bermain gitar lagi. Bagaimana kalau Oppa tidak bisa bermain gitar lagi untuk selamanya karena aku?!

Aku memang hanya bisa menyusahkan Oppa. Aku hanya membuat Oppa menderita. Padahal impianku adalah membuat Oppa tersenyum bahagia.

Maafkan aku, Oppa. Karena mulai sekarang….aku tidak akan menjadi adik manis seperti dulu lagi.

Maafkan aku, Oppa. Karena mulai sekarang….aku akan menjauhimu.

******

Chan Yeol Oppa masih sering mendekatiku, seperti biasa. Tapi aku selalu menghindarinya. Aku melakukan semuanya sendiri. Aku bahkan memasak makanan-ku sendiri. Aku tidak pernah diantar jemput Oppa lagi. Aku mengerjakan PR sendiri. Aku bermain sendiri.

Chan Yeol Oppa tidak pernah marah padaku karena sikap dinginku padanya. Sikap Chan Yeol Oppa masih sama seperti dulu, riang dan ceria.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tentang banyak hal. Aku harus kuat. Aku tidak boleh melanggar janjiku.

Chan Yeol Oppa tidak pernah bermain bola lagi. Meskipun Oppa tidak pernah menampakkan kesedihannya di hadapanku, tapi aku tahu dia sedih. Kaki-nya mengalami trauma. Chan Yeol Oppa tidak akan bisa bermain bola lagi selamanya.

Hari demi hari berlalu. Aku senang karena Chan Yeol Oppa masih bisa bermain gitar. Setidaknya …aku tidak merenggut semua mimpinya. Jangan sampai aku menghancurkan semua mimpi Oppa. Hatiku sudah cukup sakit karena telah merebut salah satu impian Oppa. Jangan sampai aku membuat Oppa sedih lagi.

Chan Yeol Oppa dan Baek Hyun Oppa lolos audisi SM Entertainment. Mereka mulai menjadi trainee. Aku sangat senang karena Oppa hampir mewujudkan mimpinya.

Sikapku pada Oppa masih tetap sama dingin dan cuek. Oppa tidak selalu nempel padaku lagi. Itu bagus. Tapi..jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa kesepian dan terluka.

Suatu hari, aku pergi ke taman bermain sendirian. Sejak dulu aku memang tidak pernah punya teman sebaya. Aku tidak pernah bermain dengan Baek Hyun Oppa dan Chan Yeol Oppa lagi karena aku-lah yang menjauhi mereka. Baek Hyun Oppa masih sering mengajakku main, tapi aku selalu menolaknya. Begitupula dengan Chan Yeol Oppa yang terus berusaha nempel padaku setiap saat.

Aku melihat jet coaster. Tiba-tiba saja teringat saat dulu aku menaikinya bersama Chan Yeol Oppa. Chan Yeol Oppa muntah-muntah setelah menaikinya. Benar-benar payah. Aku tersenyum.

Tanpa terasa mataku basah karena air mata. Tapi, sebelum aku sempat menghapus air mataku sendiri, seseorang mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku dengan jari-jari tangannya. Sensasi dingin yang ditimbulkan jemari itu di pipiku terasa tidak asing.

Aku menatap pria bermata tajam yang berjongkok di hadapanku. Ia tersenyum lembut. Wajahnya sangat tampan.

Tunggu! Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi….di mana?

Pria itu masih menatapku sambil tersenyum lembut. Aku sangat suka kedua matanya yang tajam, jernih, dingin, tapi berubah lembut saat menatapku.

Pria itu mendekatiku, lalu mengecup keningku. Bibirnya yang lembut terasa sangat dingin di kulitku. Aku ingat! Dia pria yang muncul di dalam mimpiku waktu itu! Pangeranku!

“Pangeran!!!” seru-ku.

Pria itu tertawa pelan. Sama seperti di dalam mimpi, pria itu tidak berbicara. Ia hanya terus mengelus-elus kepalaku penuh kasih sayang.

Kami hanya saling tatap. Rasanya aneh tapi menyenangkan. Pria asing ini terasa tidak asing bagiku. Meskipun otak-ku tidak bisa mengingatnya ataupun mengenalinya, tapi sepertinya hatiku mengenal-nya. Karena bagaimana mungkin aku bisa merasa nyaman bersama orang yang asing bagiku?!

Pria itu memelukku dengan erat. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Aku seperti masuk ke dalam bongkahan es. Tapi anehnya aku merasa nyaman.

Pria itu tersenyum manis, kemudian berjalan pergi meninggalkanku.

“Tunggu!!!” panggilku. “Namamu…, siapa? Kau sebenarnya siapa? Apakah kau mengenalku?”

Pria ber-usia 20 tahunan itu tertawa pelan lagi. Wajahku memerah. Pasti aku terlihat sangat konyol baginya. Aku, gadis aneh berusia 10 tahun yang menyebut-nya Pangeran, kini hanya bisa menatap pria tampan itu tanpa berkedip.

Apakah ini termasuk mimpi juga? Apakah aku tertidur?

Aku mencubit pipiku. Aaarrggghhh!!! Sakit! Ini bukan mimpi!

“Aku mengenalmu.” Kata pria itu. Akhirnya dia bicara! Suaranya sangat merdu di telingaku! Benar-benar seperti suara seorang pangeran di negeri dongeng. “Aku adalah kloningan dari Pangeranmu.” Pria itu tersenyum manis, kemudian ia pun menghilang.

Aku mengucek-ngucek mataku. Aku tidak bermimpi kan? Kenapa pria itu menghilang dengan cepat? Siapa dia sebenarnya? Kloningan Pangeranku? Aahhh…, sial! dia pasti mengejekku karena tadi aku memanggilnya Pangeran!

Aku menepuk-nepuk kedua pipiku yang terasa hangat. Sepertinya…, aku sudah menemukan cinta pertamaku.

Tapi.., kalau sekarang umur pria itu 20 tahunan lebih…, berarti…saat aku remaja nanti…, pria itu akan menjadi ahjussi.

Siapa pria itu? Kuharap aku bisa bertemu lagi dengannya.

Image

******

6 tahun kemudian…..

Chan Yeol Oppa berhasil debut menjadi penyanyi! Chan yeol Oppa dan Baek Hyun Oppa debut dalam satu grup yang dinamakan EXO. Aku sangat senang. Tapi, tentu saja aku tidak menunjukannya secara langsung pada Chan Yeol Oppa.

Selama 6 tahun ini aku telah memenuhi janjiku. Meskipun setiap hari terasa seperti berada di neraka, tapi aku senang. Aku senang karena impianku untuk membuat Chan Yeol Oppa tersenyum bahagia akhirnya terwujud.

Sikap Chan Yeol Oppa masih sama seperti dulu. Periang, supel, apa adanya, humoris, penyayang.

Aku masih sama seperti dulu. Binatang-binatang masih menjadi satu-satunya temanku. Aku tidak pernah dekat dengan manusia manapun. Aku hanya dekat dengan binatang.

Aku tidak mau teman-teman Chan yeol Oppa tahu kalau aku adalah adik Chan Yeol Oppa. Aku tidak mau orang mengira Chan yeol Oppa aneh karena punya adik aneh sepertiku.

Aku selalu menolak saat Oppa mengenalkanku pada teman-temannya. Tapi, pada suatu hari, setelah satu bulan debut-nya, aku terpaksa mengenalkan diriku pada teman-teman satu grup EXO Oppa. EXO datang ke rumah kami, jadi terpaksa aku mengenalkan diriku.

“Chan Yeol~ah.., adikmu sangat berbeda denganmu. Dia sangat cool, keren dan sangat cantik!!! Tidak childish dan memalukan sepertimu! Hahahaha.” kata salah satu member EXO bernama Chen.

Aku hanya memasang poker face dan blank stared-ku yang biasa.

“Tentu saja. Like brother like sister.” Chan Yeol Oppa nyengir lebar sambil merangkul pundakku dengan sebelah lengannya.

“Kau sudah punya namjachingu?” tanya cowok bermata besar. D.O.

Aku menggeleng. Member EXO bersorak sorai kecuali Kai, Sehun, Luhan, dan Baek Hyun.

Baek Hyun Oppa merangkul pundakku. “Eits…eits. Tidak boleh ada yang mendekati Chan Rin.”

“Kenapa?”

“Memangnya kau pacarnya?”

“Memangnya kau siapa, bacon?!”

Member EXO protes.

Baek Hyun tersenyum. “Aku cinta pertama-nya.”

“MWOOOOO?????” semua orang syok, termasuk Chan Yeol.

“RINRIIINNNN!!!! Kau tidak pernah cerita padakuuuu!!!!” pekik Chan yeol Oppa heboh.

Aku mendorong Baek Hyun Oppa menjauhiku. “Kau bukan cinta pertamaku, Baekki Oppa.” Kataku datar.

“Wuuuuuuu….uuuuuuuuu…” anak-anak EXO bersiul-siul dan menyoraki Baek Hyun.

Baek Hyun Oppa pura-pura terkena serangan jantung dan kemudian dia berbaring di sofa. Aku hanya geleng-geleng kepala. Baekhyun Oppa dan ChanYeol Oppa memang sangat cocok menjadi sahabat.

Dalam hati aku tersenyum senang dan berterimakasih pada Baek Hyun Oppa. Baekki Oppa, terima kasih karena selalu ada untuk Chan Yeol Oppa.

Ngomong-ngomong soal cinta pertama…, kalau dipikir-pikir lagi.. dulu kan aku pernah menganggap Pangeran yang ada di dalam mimpiku sebagai cinta pertamaku, meskipun aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dan meskipun aku tidak tahu apakah kejadian di taman bermain itu nyata ataukah hanya imajinasi-ku saja.

Yang pasti, aku sudah tidak terlalu ingat lagi bagaimana wajahnya. Aku juga tidak pernah bertemu dengannya lagi selama 6 tahun ini. Aku juga tidak pernah memimpikannya lagi. Jadi, mungkin saja pria itu hanya khayalanku.

Wajahnya seperi apa yaa? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Yang pasti dia sangat tampan.❤

Aku, Park Chan Rin, gadis aneh yang bisa berbicara pada binatang ini akhirnya bisa mewujudkan mimpiku untuk membuat Oppa-ku tersenyum bahagia.

Aku akan terus bersikap dingin seperti ini. Aku ingin Chan Yeol Oppa tahu…, aku bisa hidup mandiri tanpa bantuannya.

Ya, Oppa, terus-lah bersinar. Teruslah mencapai mimpi-mimpimu. Teruslah menjadi bintang-ku.

Maafkan aku, Oppa. Karena aku bukanlah adik yang manis dan baik.

–          The End –

Gimana ceritanya? Hehehe. Buat yang pengen tahu cerita inti dari Moonlight Destiny, silahkan baca Moonlight Destiny. Lebih banyak fantasy-nya daripada ini . ^^.

Buat yang penasaran tentang Myung Soo…, semuanya juga nanti dibahas jelas di Moonlight Destiny. Hehe. Buat yg udah baca Moonlight Destiny chapter 5, ini adalah pertemuan pertama Chan Rin sama Myung Soo setelah Chan Rin reinkarnasi. Tapi bukan Myung Soo asli. Hanya kloningan-nya. Myung Soo asli, si ancestor vampire, masih tidur panjang karena di segel. Tapi kloningannya terus menjalankan salah satu misi-nya yaitu mencari adik Myung Soo. Ratusan tahun ia terus mencari, dan akhirnya ia menemukannya. Park Chan Rin. Satu-satunya vampire pureblood selain Kim Myung Soo.

Di dalam kehidupan nyata, aku pengen banget punya kakak kayak Chan Yeol. Hehehe. I wish I had older brother. ^_^

See you…

Regards,

Azumi Aozora

tumblr_m7y1yqYW291rwxkizo1_500

28 thoughts on “I’m Sorry, Oppa (Side Story of “Moonlight Destiny”)

    • Hehehe…soalnya childish ya? LOL😀
      Klo ini dimasukin ke MD kepanjangan dan bukan intinya cerita MD jg sih…jd dibikin side story nya aja. Hehehe. MD chapter 6 bagian temenku, Kunang, yg nulisnya. Mariii kita tagih sama2 ke dia. Hehehe. Oya klo mau baca side story Han Hee bisa baca di blog temen aku itu : fanfictionandkpop.wordpress.com
      Makasih yaaa udh baca ^^

  1. mimii.. hahahha actually I’m so bored today and I decides to look after your wp and jang jang jang

    unexpected u already finished this side story >,< .. aaa chan yeol oppa (?).. so this is the reason behind chan2 cold and bad (?) personalities kkkkkk.. It's kinda sad T.T

    It look a like zoo haha.. I just remembered the story about man who could undesrtand animals language but I can't recall what story

    ****okee abaikan koment yg penuh grammar kacau di atas haha****

    yooo.. lanjutin MD yahhhhh ^^.. tetiba aku ngebias chan yeol ama minseok skrg *abaikan haha

    • ternyata yah..sebelum Line aku nyampe kamu udh baca duluan FF ini N. hahaha.
      oh iya film itu Dr.Dolitle ya kan? yah sama2 bisa bahasa binatang. LOL. Pengennya kayak Fruit basket ….orang yg bisa jadi binatang, mana keren2 lagi karakternya. =p
      tapi nanti aja deh, udh kebanyakan “makhluk fantasy” -nya di MD. hehehe
      Yoo lanjut MD!!! semangattt!!! kan giliran kmu N. LOL. aku nyemangetin aja

      • ga tau… haha mungkin lebih karena smile mreka kkkk~~ si chan yeol kan suka ga jelas gtu kayak dongwoo, kocakk haha.. .. unyu2 mereka tuh
        miii… young jae kan 2nd bias aku di bap kkk,, padahal dulu setelah dae, aku lebih suka himchan sama yongguk

        iyohhh haha..

  2. Ahhhh…keren pisan eonn sidestorynya…jadi ini awal chanrin jd seperti itu. Haaahhhh…kebayang pisan si Myungsoo ekspesinya di mimpi sama di taman bermain *bayangin di film shutt up* >◇< huuuhhh kira2 begitu kali yahh ekspresinya gkgkggkgk

    Tapi aku nangis tadi di bagian yang chanyeol di pukulin ma rumah sakit plua saat chanrin memutuskan berubah. Mana pas banget keputernya lagu sedih. Rasanya gw kepengen banget punya abang macem begitu ciatciatciat!!!!

    Moonlight destiny part 8 aku menunggu. Hehehe

    • hai kiki ^_^
      thanks yaaa udah baca + comment
      Waahhh, pas banget tuh lagunya keputer pas bagian sedih. Hehehe.
      Pengeeen banget aku juga punya kakak kayak Chan Yeol >_< , sayangnya aku anak pertama. gak mungkin kan minta ortu ngelahirin kakak. huwehehehe.

      oke..ditunggu aja yaa MD part 8 nya. kita terror Kunang bareng2, soalnya chapter genap bagian dia. hahaha

  3. Ceritany seru,,,,
    Aq ngikutin MD dr awal smpe part 7.
    jd ni awal chan rin knp dia jd dingin,,,karena cha yeol terluka wktu kjdian chan rin dtuduh mencuri.
    Cinta pertamany chan rin iti L y,,,,
    Aq nunggu lanjutan MD ny lg ^_^
    Nice Ff

    • Hai Nadia ^_^
      Iya aku tau kok.., kan aku juga baca comment Nadia di FB nya kunang, hehe.
      makasih yaa udah baca side story ini + kasih comment =)

      oke, ditunggu yaa MD chapter 8 nya, ayoo kita terror kunang biar cepet beresin chapter 8, hehehe

  4. Wahh aku baru tau ada side story chanrin… Ini juga pertama kalinya aku baru dateng ke wp ini *yaterus hehe

    Ahhh aku kebalik bacanya nih, telat juga sih, sekarang baru ngerti soal mimpi lautan darah itu kkk~

    Nyesek banget pas chanyeol dipukulin sama para mafia itu,, sedih T.T
    Aku juga mau punya kakak kaya chanyeol,dia kakak idaman banget :3

    Ok deh, MD chapter 10 nya aku tunggu eon😀

  5. Wah..
    Ak baru tau eon…
    Ternyata sifat dingin dan jutek nya chan rin itu ada alasannya…
    Ku kira memang pada dasar nya gitu..
    Kasihan juga yah chan rin nya ya eon

  6. Pingback: [EXO & BAP FF_Secret Story of Moonlight Destiny] | FF & KPOP :)

  7. Pingback: Moonlight Destiny (Chapter 12/END) | Indonesia Fanfiction Kpop

  8. Eonnnn… Aaggghhhh…. Seruuu.. Seruu abissss ^^ aduuhh, dri awal aku baca ff MD sampe ending bahkan ff ini.. Semuanya kerennnn abisss.. ~(ˇ▼ˇ~)(~ˇ▼ˇ)~

  9. Pertama-tama aku akan selalu meminta maaf. Maafkan aku thor aku khilaf dan pelupa.
    Aku juga baru baca secret storynya hari ini. Yang kemarin-kemarin itu side story dan aku baru sadar pas ada temen cerita vampir di SCTV dan aku langsung nyempetin nyari blog ini. Maafkan aku thor. Jadi yang kemarin aku salah mbaca ff. Dan pw yang eonni kasih di dm baru bermanfaat sekarang. Sebenernya aku terkecoh sama judulnya Secret sama Side. Maaf.
    Aku nangis lho thor. Entah apa tapi aku baru sadar kalo selama ini aku belum jadi kakak yang baik buat adik aku. Makasih eonn…. eh thor. ^^

  10. hiks😥 aku nangis thor bacanya
    ternyata itu yg bikin chanrin sedingin es gitu,,
    kasian bgt chanyeolnya digebukin😥
    dari chapt 1-12 + side story semuanya keren, daebakk deh..

  11. Ternyata yg membuat chanrin bersiakap dingin itu, karena kejadian itu ya, pantesan aja sih, dia mau mandiri dan dia ga mau membuat chanyeol celaka lagi, ya mungkin sikap chanrin dingin, tpi dia bner2 menyanyangi chanyeol bnget ☺
    Aaaa pengen bnget punya kaka seperti chanyeol, dia kaka impian bnget 😊
    Seneng liat kedeketan mereka 😄
    Jadi ini pertemuan pertama kloningan myung sma chanrin ya 😀
    Ijin baca yg lainnya juga ya ka 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s