Bad Oppa or Good Oppa (Chapter 8)

Title                                         : Bad Oppa or Good Oppa?

Genre                                      : romance, friendship, family

Author                                     : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Length                                     : Chaptered

Casts                                       : – Kris (EXO-M)

–          Kim Min Ah (OC)

–          Luhan (EXO-M)

–          Kai (EXO-K)

–          Lee Eun Hye (OC)

–          Byun Baek Hyun (EXO-K)

–          Jong Hyun (CN Blue)

–          Jung Jin Young (B1A4)

–         And the other EXO members

 

Chapter  8 : Does Happy Ending Exist in This World ?

Alex menginap di rumahku. Ayahku dan Ibu Kris masih berada di luar negeri. Ayahku pergi ke Singapura, sedangkan Ibu Kris masih mengurusi bisnis-nya di Kanada.

Pagi ini Alex-lah yang memasak. Alex yang periang dan easy going membuat-nya cepat akrab dengan Nyonya Han. Nyonya Han juga berkali-kali memuji skill memasak Alex. Aku ikut melihatnya memasak.

“Aku memang hobi memasak dan menggambar. Kalau kalian pergi Kanada, mampir-lah ke restoran keluargaku. Hampir semua resepnya adalah ide-ku. Hehehe..” Alex nyengir lebar. Nyonya Han menatapnya dengan berbinar-binar.

“Bahasa Korea-mu juga lancar sekali, Alex ssi.” Komentarku. Aku duduk di meja makan.

Alex terkekeh. “Tentu saja, karena sahabat-sahabatku orang Korea. Aku memang sengaja belajar bahasa Mandarin, Korea, dan Jepang secara otodidak juga, karena kupikir suatu hari pasti berguna. Aku suka cewek Asia.”

Nyonya Han ikut tertawa. “Aigoo~~ seandainya aku punya anak perempuan, pasti akan kukenalkan padamu, Alex ssi.”

Beberapa saat kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja. Begitu banyak jenis makanan yang tidak biasa kumakan saat sarapan.

“I don’t really like Mexican food, you know that.” Kata Kris pada Alex. Kedua alis matanya yang tebal hampir menyatu.

Alex mengangguk. “I know. Tapi aku memasak semua ini bukan untukmu Kris, tapi untuk Min Ah.” Alex nyengir sambil merangkul pundakku dengan sebelah tangannya.

“Gomawo Alex ssi..” aku tersenyum.

Kris menatap kami berdua tajam. Aku dan Alex mulai makan, sementara Kris masih saja diam dan terus saja memerhatikan kami.

“Alex ssi, aku baru sadar…wajahmu mirip pemeran The Amazing Spiderman.” Kataku tiba-tiba sambil menatap Alex. Pantas saja rasanya wajahnya tidak asing. Dia memang sangat mirip dengan Andrew Garfield.

Alex terkekeh. “Tentu saja. Dia sepupuku.”

“MWO???” Mataku membelalak lebar. “Bisakah kau memintakan tanda tangannya untukku?” tanyaku antusias.

Alex mengangguk. “Tentu.”

“Waaahhh…, gomawoooo Alex ssi!!!!!” aku tertawa senang.

“Ehem.” Kris ber-dehem. Masih tetap mengawasi kami seperti seekor elang yang hendak memakan mangsa-nya. “Kapan kau akan pulang ke Kanada?” tanya Kris.

Alex mengangkat bahu. “Mungkin bulan depan.”

“Dan kau akan terus tinggal di sini?” tanya Kris tajam.

Sebelum Alex menjawab, aku langsung bicara. “Tidak masalah Alex tinggal di sini. Aku tidak keberatan.”

Alex nyengir lebar padaku.

“Tapi aku keberatan.” Kata Kris dingin.

“Ini rumahku dan ayahku. Kenapa kau harus keberatan? Bukankah kau juga di sini adalah tamu, Kris?” tantangku. Kemudian merasa menyesal karena mengatakan hal itu.

Wajah Kris mengeras. Matanya masih menatapku tajam. Dia sepertinya berusaha keras menahan keinginannya untuk mengatakan apapun itu yang ada di otaknya. Kuduga pasti bukan hal yang baik.

“Mianhae..” kataku pelan. “Aku bukannya keberatan kau tinggal di sini juga Kris. Aku tidak keberatan siapapun tinggal di sini.”

“I know.” Kata Kris datar. “I’ll just move to my apartment tomorrow.”

“MWO???” mataku membelalak.

Alex terbahak-bahak. “Hahahaha..hahaha…, you two are so funny. Hahaha.” Alex menatap Kris. “Someone is jealous…” Alex bersiul, lalu terkekeh. Alex mengatakan sesuatu pada Kris dalam bahasa Jerman.

“Apa yang kau katakan, Alex ssi?” tanyaku penasaran.

Alex mengangkat bahu. “Nothing.”

“You better keep your promise.” Kris menatap Alex tajam.

Alex mengangguk. “Sure.”

Aku menatap kedua cowok itu penasaran. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

Alex tersenyum padaku. “Tenang saja. Kami bukan membicarakan hal yang buruk tentangmu, Min Ah ssi. Hehehe. Kami hanya membicarakan tentang kado pernikahan yang akan kuberikan untuk temanku. Aku punya kejutan.” Alex mengedipkan sebelah matanya.

“Shut Up, and just eat!” kata Kris datar pada Alex. Kemudian dia menatapku. “Sebaiknya kau juga segera habiskan makananmu. Jangan sampai terlambat kuliah. Aku pergi dulu.” Kris pergi tanpa menyentuh sedikitpun makanannya. Ia hanya meminum segelas kopi.

Alex menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia masih saja hanya sarapan dengan kopi ya?”

Aku mengangguk. “Hmm. Tapi dia sudah mau makan sandwich atau spagetthi. Yah..meskipun kalau mood-nya sedang jelek dia hanya meminum kopi.”

Alex menatapku kagum, kemudian tertawa. “Hanya kau yang bisa mengubahnya, Min Ah ssi. Hahaha. Oh ya.., sebaiknya aku pamit sekarang. Sebenarnya tadi aku hanya bercanda. Aku tidak akan tinggal di sini selama satu bulan. Sebenarnya tujuan utamaku datang ke Korea adalah untuk memantau restoran keluarga kami.”

“Kau punya restoran juga di sini?”

Alex mengangguk. “Hmm. Bukan sepenuhnya milik keluarga kami. Restoran ini sebenarnya milik sahabatnya Ibu Kris. Tapi ketika sahabatnya ibu Kris meninggal, restoran ini dikelola oleh Ibu Kris dan Ibuku. Hanya dikelola. Suatu hari nanti penerusnya harus tahu kalau restoran itu masih ada dan semakin berkembang.”

Tanpa sadar aku melamun. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat ayahku. Bukankah sahabat Ibu Kris itu adalah ayahku dan ibuku? Atau.., mungkin sahabatnya yang lain? Tapi setahuku..ibuku tidak pernah punya restoran. Jadi pasti sahabatnya yang lain.

“Min Ah ssi.., kau tidak akan kuliah?” Alex menatap jam dinding,

Gawat!!!! Aku terlambat. “Alex ssi…, aku pergi dulu.., mmm.., kau pergi jam berapa?”

“Sekitar 1 jam lagi. Pegawai-ku akan datang menjemputku kemari.” Alex berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Perlahan aku mengulurkan tanganku dan menjabatnya.

Alex tersenyum. “Min Ah ssi.., terima kasih banyak. Aku percaya kalian berdua akan hidup dengan bahagia. Tunggu kejutan dariku.” Alex mengedipkan sebelah matanya. Kejutan? Kejutan apa?

*****

Sial! Aku benar-benar terlambat masuk kelas Mr.Cha! untung saja Mr.Cha berbaik hati dan tidak mengomel padaku. Kris menatapku sekilas, kemudian kembali fokus ke buku-nya. Aku menghela nafas panjang.

“Sssttt.. yah.. Kim Min Ah..” Byun Baek Hyun menendang-nendang kursiku sambil berbisik.

“Apa?” bisikku. Punggungku kusandarkan di kursi.

Baek Hyun mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik di telingaku. “Kau dan Kris marahan ya?”

Aku menggeleng. “Tidak.” Bisikku.

“Tapi saat dia datang tadi , mata dan alis-nya lebih mengerikan dari biasanya. Seperti ini.” Baek Hyun memeragakan raut wajah Kris. Mau tak mau aku tertawa melihat wajah konyol Baek Hyun.

“Kim Min Ah! Byun Baek Hyun! Jangan ribut!” bentak Mr.Cha

Aku dan Baek Hyun menundukkan kepala kami. “Ne, seonsangnim. Maafkan kami.” Kata kami kompak.

Mr.Cha kembali menulis sesuatu di papan tulis. Aku melirik Baek Hyun. Kami pun kembali tertawa, tapi kali ini tanpa suara.

Bel berbunyi. Mr.Cha keluar ruangan diikuti banyak teman-temanku. Kris berjalan melewatiku tanpa menoleh. Aku hendak memanggilnya, tapi tidak jadi. Hari ini kami memang punya banyak jadwal kuliah yang berbeda. Aku harus mengulang beberapa mata kuliah yang sempat terbengkalai gara-gara pertukaran pelajar ke Belanda dulu.

Aku menghela nafas panjang. Lalu berjalan gontai menuju laboratorium di lantai 4.

*****

@Rumah, pukul 7 malam….

Aku duduk di ruang makan sendirian. Kris masih belum pulang. Aku berkali-kali meneleponnya, tapi tidak diangkat.

Triing.., ada message dari Kris.

Aku lupa memberitahumu, mulai hari ini setiap jam 5 sore sampai jam 7 malam aku mengajar piano di sekolah music. Malam harinya aku show di café bersama teman-teman band-ku. Kau tidak usah menungguku. Aku akan tidur di apartemenku.

MWO?? Apa maksudnya? Apakah Kris masih marah padaku karena aku menyebutnya tamu????

Cepat-cepat aku menelepon Kris. Lama sekali aku menunggu, sampai akhirnya Kris mengangkat teleponnya.

“Hello.” Suara dalam Kris terdengar.

“Ng..ng..Kris. Kau..  masih marah padaku?”

“Tidak.” Jawab Kris datar.

“Lalu.., kenapa kau tidak pulang?”

“Kau sudah baca message-ku?” Kris malah balik bertanya.

“Hmm. Sudah. Kenapa kau tidak pulang ke rumah?”

Sunyi selama beberapa saat. Lalu Kris berkata. “Rumahmu jauh dari tempatku bekerja. Mulai sekarang sepertinya aku akan tinggal di apartemen-ku saja.”

“Oh..” gumamku. Kecewa.

“Aku harus siap-siap manggung. Sampai nanti, Min.” klik. Kris pun memutuskan sambungan.

Aku mendengus kesal. Sikap-nya yang seenaknya masih saja tidak berubah. Dasar angry bird!

Semalaman itu aku tidak bisa tidur. Rasanya aneh sekali tinggal di rumah ini tanpa Kris. Dulu aku memang terbiasa tinggal sendiri saat ayahku sibuk ke luar negeri. Tapi setelah ada Kris, aku jadi tidak terbiasa.

Pukul 1 malam. Aku masih tidak bisa tidur.

Aku meraih ponsel-ku dan mengetik message untuk Kai.

Kai ssi. Maafkan aku mengganggumu. Bisakah kau beritahu aku di mana alamat apartemen Kris? Terima kasih, Kai ssi.

Message sent

******

Pukul 5 pagi, aku sudah berada di dalam mobilku. Menembus kabut tebal dan dinginnya jalanan Seoul.

Sekitar 20 menit kemudian, aku tiba di depan sebuah apartemen mewah. Aku memarkir mobilku di basement. Brrrr…, dingin sekali! Aku merapatkan mantel-ku dan menarik koperku menuju lift.

Aku tiba di lantai 17 dan mencari apartemen Kris. Ini dia!

Ting Tong… Ting Tong… Ting Tong…

Aku membunyikan bel dengan tidak sabar. Aku menggosok-gosok tanganku yang terasa beku. Aiishh! Pasti Kris sedang tertidur pulas. Dia susah sekali bangun!

Klik. Pintu terbuka. Fiuh. Untunglah aku belum mati beku.

“Min Ah? Kenapa kau kemari sepagi ini?” Kris – dengan wajah baru bangun tidur dan rambut acak-acakannya – menatapku dengan dahi berkerut.

“Aku kedinginan Kris..biarkan aku masuk…” tanpa disuruh, aku segera menrobos masuk ke apartemen Kris. Menarik koperku, lalu berbaring di sofa sambil menggelungkan kaki-ku.

“Aku akan tinggal di sini.” Kataku.

“Mwo?” Kris terkejut. Ia berdiri di dekatku.

Aku duduk dan menggosok-gosok tanganku. Masih merasa kedinginan padahal pemanas ruangan menyala. “Aku tidak bisa tidur. Kau tidak lihat mata panda-ku?”

Kris menatapku lekat-lekat, berusaha menahan tawa.

Aku mendelik kesal. “Jadi sebaiknya aku tinggal di sini saja. Selama kau di sini, aku juga akan di sini.” Kataku keras kepala.

“Are you lost your mind?!” kata Kris, tanpa menembunyikan nada marah-nya. “You’re a girl. You shouldn’t be staying at the boy’s room.”

Aku menatap Kris. “Siapa bilang aku akan tinggal di kamarmu? Aku akan tidur di sofa. Aku tidak akan merebut kamarmu!”

“Sama saja!” tukas Kris. “Kau tidak seharusnya tinggal di sini. Kau tidak takut padaku?”

“Kau tidak menggigit kan? Kau tidak makan manusia kan? Jadi aku tidak perlu takut padamu.”

Kris mengangkat sebelah alis matanya. “Benarkah?” tiba-tiba saja dia mendekatkan wajahnya padaku dan menatapku lekat-lekat.

Refeks aku memundurkan wajahku ke belakang. Menjauhi Kris. Kris menyeringai. “Well, terserah kau saja.” Katanya pada akhirnya. Ia menguap, kemudian berjalan pergi meninggalkanku.

Aku berbaring di sofa. Menguap lebar-lebar. Apa sebaiknya aku bolos kuliah saja ya hari ini? Rasanya aku ngantuk sekali. Semalaman aku tidak bisa tidur.

Kris menghampiriku, lalu menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal. Aku menatapnya. Kris menepuk-nepuk puncak kepalaku pelan, dan berjalan pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun.

Perlahan aku pun ter-sedot ke alam mimpi.

******

Suara telepon membuatku terbangun.

“Yeoboseyo…” kataku dengan suara serak.

“YAH! KIM MIN AH!!!! Kau bolos kuliah ya?” suara Eun Hye terdengar sangat nyaring. Aku menjauhkan ponselku. “Tadi aku ke fakultasmu, tapi Baek Hyun bilang kau tidak masuk.”

“Hmmmm…, aku ngantuk.”

“Mwo?”

“Sekarang jam berapa?” tanyaku. Mataku masih terpejam.

“Jam 2 siang.”

“APAA????” langsung saja aku terduduk. Aku melirik jam tanganku. Benar saja. Ternyata aku tidur lebih dari 8 jam ya?!

“Kris tidak membangunkanku.” Kataku pelan.

“Mwo? Kris? Memangnya tidak ada Nyonya Han?”

Aku menggeleng. “Tidak. Aku menginap di apartemen Kris.”

“Mwo? Hahahaha..hahaha. Bagus, Kim Min Ah! Akhirnya kalian ada kemajuan. Hahaha. Oh ya, sana mandi dan memasak untuk makan malam.”

“Kenapa? Lebih baik aku beli pizza.”

“YAH!!! Ikuti apa kataku! Kau harus memasak makan malam untuk Kris. Dia pasti akan senang.”

“Benarkah?”

“Hmm. Tentu. Anggap saja ini latihan kau menjadi seorang istri. Hahahaha…”

“YAH! LEE EUN HYE!!! Siapa yang jadi istri, hah?!”

Eun Hye hanya terbahak-bahak. “Sudah..sudah. Sana mandi! Aigoo ~~ aku bisa mencium bau badan-mu sampai kemari.”

Aku mendengus, kemudian teringat sesuatu. “Eun Hye!” Panggilku sebelum Eun Hye memutuskan sambungan.

“Apa lagi?” bentak Eun Hye. Tapi ia masih terkikik geli.

“Kau tahu? Sekarang ini aku tinggal dekat sekali dengan dorm Infinite. Tadi pagi di basement aku melihat Infinite keluar dari dalam van mereka. Dan aku tidak akan memberitahumu di mana alamat apartemen ini.”

“JINJAAA???? YAAAAHH!! KIM MIN AH!!! CEPAT BERITAHU AKUUUU!!! AKU INGIN MENCULIK SUNGYEOL DAN L!!!!”

Aku terbahak-bahak. “No Way! Bye!” aku pun mematikan ponselku dan terkikik pelan. Hehehe. Padahal aku berbohong. Aku tahu sahabatku itu nge fans sekali pada boyband-boyband, terutama Infinite, sejak comeback mereka dengan lagu Destiny. Makanya aku hanya sedikit menjahilinya. Saat ini dia pasti desperate mencari-cari Kris dan bertanya di mana alamat apartemennya. Hahaha.

******

Aku belanja di supermarket dekat apartemen Kris, lalu memasak lasagna, ayam goreng, dan sup asparagus. Meskipun aku tidak bisa memasak, tapi kurasa bila aku mengikuti petunjuk di buku resep, pasti rasanya tidak akan terlalu buruk.

Kris bilang, dia akan pulang pukul 7 malam. Sehabis mengajar piano di sekolah musik, tidak ada jadwal manggung di café.

Tepat pukul 7 malam, makanan sudah tersaji di meja makan. Aku duduk sambil menonton TV di ruang tengah, menunggu Kris pulang.

Terdengar suara pintu dibuka. Pasti Kris! Cepat-cepat aku berlari menuju pintu. “Kau pulang.” Kataku sambil tersenyum lebar. Selama beberapa saat Kris hanya terdiam dan menatapaku, kemudian ia mengangguk. “Aku pulang.” Katanya. Suaranya terdengar agak serak. Pasti dia capek kan? Sehabis pusing kuliah, dia masih harus bekerja. Tapi..kenapa dia harus bekerja sambilan? Bukankah ibunya punya banyak uang? Apalagi ayahnya yang kaya raya, meskipun mereka tidak tinggal bersama, tapi bukankah ayahnya selalu mengiriminya uang?!

Aku mengulurkan tanganku. Kris mengangkat sebelah alis matanya. “Mantel-mu..” kataku. Kris pun membuka mantelnya, aku meraihnya dan menaruhnya di tempat mantel. Kris mengikutiku dengan bingung.

“Kau lapar?” tanyaku. Kris mengangguk.

“Aku tahu aku tidak bisa memasak, dan pasti rasanya mengerikan bila dibanding masakan-mu, Kris. Tapi kurasa masakanku masih layak dimakan manusia.” Aku nyengir.

Kris berjalan menuju meja makan, aku mengikutinya. Kami duduk berhadapan. Berdo’a dalam hati, kemudian Kris mulai melahap lasagna.

Satu kunyahan…dua kunyahan..

“Bagaimana?” tanyaku tak sabar. “Pasti tidak se-enak buatan ibumu kan?”

Kris mengangguk. “Memang. Tapi masih layak dimakan.” Kris menyeringai, lalu kembali makan. Aku mendelik kesal padanya, tapi …, memang benar sih. Kurasa aku harus belajar memasak mulai saat ini.

Aku pun mulai memakan ayam goreng dan sup asparagus. Aku tidak menyentuh lasagna. Aku tahu, Kris hobi sekali makanan yang satu itu.

“Mmm.., Kris, kenapa kau bekerja sambilan?” tanyaku. Masih penasaran.

Kris berhenti makan dan menatapku. “Tentu saja laki-laki harus bekerja.” Jawab Kris simple. Ia pun kembali makan.

“Tapi kan kau masih kuliah..” kataku.

“Pekerjaanku tidak mengganggu kuliahku.”

Aku menghela nafas panjang. Sebenarnya.., pekerjaannya itu mengganggu quality time-ku dengannya. Tapi.., mungkin saja Kris tidak merasa itu menganggu kan? Atau bahkan mungkin saja aku tidak berarti apapun baginya. Hhhh.., aku kembali menghela nafas panjang. Kris menatapku heran.

Tiba-tiba saja nafsu makan-ku menghilang. “Aku kenyang.” Kataku. Aku membawa sisa makananku ke dapur, membuangnya, lalu mencuci piringnya. Setelah selesai, aku berbaring di sofa. Memejamkan mataku. Mencoba tertidur, meskipun aku belum mengantuk.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar Kris menghampiriku. “Min? Kau tidur?” tanyanya. Aku tetap memejamkan mataku. Tidak menjawab pertanyaannya. “Kau tidak merasa kedinginan?” tanyanya lagi. Aku masih pura-pura tidur.

Aku merasa Kris menyentuh leher dan kaki-ku, detik berikutnya aku sudah berada di pangkuan Kris. Kris menggendongku bridal style.

“YAH! Turunkan aku!” aku membuka mata dan membentak Kris.

Kris menyeringai. “Sudah kuduga, kau hanya pura-pura tidur.” Masih menggendongku, Kris membawaku ke tempat tidurnya.

“YAH!! KRIS!! Turunkan aku!!!” aku memukul-mukul dadanya yang bidang.

Kris membaringkanku di atas tempat tidurnya, lalu menyelimutiku. “Kau tidur di sini. Biar aku saja yang tidur di sofa.” Kata Kris dengan husky voice nya yang khas.

Kris menyentuh kepalaku dengan tangannya yang besar dan hangat, kemudian berjalan pergi.

Aku menghembuskan nafas panjang. Di sini memang jauh lebih hangat daripada di luar. Tapi aku tidak bisa tidur. Ini kan masih jam setengah 8 malam!

Satu jam telah berlalu. Aku memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Kris. Aku melongokkan kepalaku dari pintu kamar Kris.

Kris duduk di sofa sambil menulis sesuatu di buku-nya. Terdengar alunan musik klasik dari home theater. TV flat menayangkan sebuah orchestra.

Perlahan aku menghampiri Kris, “Kau menulis apa?” aku mengintip di balik punggungnya.

“Oh, kau belum tidur?” tanya Kris. “Aku menulis lagu baru. Beberapa manajemen artis memintaku menulis lagu untuk penyanyi-penyanyi mereka.”

Aku mengangguk, lalu duduk di sofa, di samping Kris.

“Kau tahu, royalty lagu itu sangat mahal. Aku butuh sedikit lagi dana untuk rumah kita.”

Aku mematung. Rumah…, kita?

Aku menatap Kris. Kris sepertinya tidak menyadari apa yang ia ucapkan tadi. Apa maksudnya dengan ‘rumah kita’?

Aku terus saja mengamati sosok Kris dari pinggir. Kris tetap konsentrasi menulis lagu.

“I look busy right?” tiba-tiba saja Kris menoleh dan menatapku. Aku mengangguk. Perlahan Kris mendekatiku. Tangannya menyentuh pipiku dan mengelusnya dengan lembut. Jantungku berdetak lebih kencang. Jarak wajah kami dekat sekali. Kris menatapku dalam-dalam. “I’m sorry that these days I didn’t have much time for you.” Kata Kris dengan suara berat-nya. “Aku ingin membelikan sesuatu untukmu. Dengan hasil kerja kerasku sendiri. Not my Mom’s. not my Dad’s.”

“Aku tahu. Maafkan aku, Kris..”

Kris mengecup keningku lama, lalu memelukku dengan erat. “Thanks for understanding me.”

Aku balas memeluk Kris. Merasa hangat dan aman. Aku bisa merasakan detak jantungnya di telingaku. Rasanya menyenangkan. Aku merasa terlindungi.

*******

Esok paginya….

Aku terbangun. Sofa? Jadi semalaman aku tidur di sofa lagi? Kris? Aku melihatnya masih tertidur pulas di sofa di sebrangku. Aku tertawa pelan, membenarkan selimutnya, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Aku hanya menggoreng telur dan memanggang roti untukku dan Kris. Kris tidak boleh lagi hanya sarapan kopi mulai saat ini.

Tiba-tiba saja aku merasakan seseorang memeluk pinggangku. “Kris?” aku menoleh. Kris memelukku dari belakang. Wajahnya ia sandarkan di bahuku. Nafasnya yang hangat menggelitik telingaku.

“Kau harus makan roti dan telur ini, arraseeo?” kataku. Kris mengangguk. Masih memelukku selama beberapa menit, hingga akhirnya ia pergi ke toilet dan mencuci muka.

Kris menyetir mobilku. Kami ada kuliah pagi.

“Min.., bagaimana kalau hari ini kita bolos saja?” tanya Kris.

“Mwo?” aku membelalak. Tidak biasanya Kris bolos kuliah!

“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.” Kata Kris.

Aku pun mengangguk. “Oke. Bagiku bolos tidak masalah.” Aku terkekeh. Kris mengerutkan kening-nya, dan langsung berbelok tajam dengan kecepatan tinggi.

Kami menyusuri jalanan berliku. Sepertinya aku pernah melewati jalan ini. Aku pernah menyetir di jalan ini!

“Kita pergi ke mana?” tanyaku.

“Restoran ibumu.”

“Mwo? Tapi.., ibuku tidak punya restoran..”

“Restoran ibumu saat masih gadis dulu.” kata Kris. Matanya tetap fokus ke depan. Selama di perjalanan, kami hanya saling diam.

Setelah perjalanan yang terasa panjang, kami pun sampai. “Ini kan…” aku keluar dari dalam mobil dan memandang sebuah restoran yang berada di atas tebing. Menghadap ke laut. Aku bisa merasakan aroma asin dan segar-nya air laut.

Restoran ini adalah restoran yang pernah kami datangi saat Kris ulang tahun. Saat itu aku tidak tahu Kris ulang tahun, dan dia malah memberiku banyak hadiah. Aku tersenyum mengingat kenangan itu.

Kris berdiri di sampingku. “Kata Mommy…, tempat ini menyimpan banyak kenangan ayah dan ibumu sebelum menikah dan setelah menikah.”

Aku menatap Kris. Mendengarkan ceritanya. Rasanya dadaku sesak mengingat ibuku.

“Ayahmu menjual tempat ini setelah ibumu meninggal. Ibuku merasa.. sayang sekali menjual tempat seindah ini pada orang lain. Selain itu.., ibuku percaya kalau ayahmu hanya merasa semakin kehilangan ibumu bila ia datang ke tempat ini. Karena itulah.., ibuku dan ibunya Alex mengelola tempat ini. Aku harus berterima kasih pada Alex karena tetap menjaga tempat ini sampai sekarang.”

Aku hanya terdiam. Pikiranku dipenuhi kenangan tentang ibuku. Aku tidak pernah pergi ke tempat ini bersama ibuku. Aku tidak punya kenangan apapun di sini bersama ibuku. Tapi.. mungkin bagi ayahku tempat ini adalah segala hal yang paling menyenangkan sekaligus menyedihkan baginya.

Kris memeluk pundakku dengan sebelah tangannya. Aku menyandarkan kepalaku di bahu-nya.

“Aku sangat menyukai tempat ini sejak dulu. Kau lihat rumah di sana?” Kris menunjuk sebuah rumah di tengah bebukitan. Hanya ada sedikit rumah di sana. Tampaknya seperti sebuah villa.

“Rumah yang banyak kaca-nya itu? Yang seperti rumah keluarga Cullen di film Twilight Saga?” tanyaku. Kris mengangguk. Aku menyeringai.

“Kau tidak suka rumah itu?” tanya Kris. Raut wajahnya sedikit kecewa.

“Aku belum melihatnya dari dekat. Jadi aku tidak tahu apakah aku menyukai rumah itu atau tidak.”

“Ayo.” Kris menuntun tanganku. Kami pun berjalan menaiki tangga dari bebatuan. Ternyata untuk bisa sampai ke rumah itu, kami harus melewati restoran itu dulu. Bila memakai mobil, kami harus memutar jauh.

“OH!!! KRIS!!!! MIN AH!!!!” panggil seseorang.

“Alex ssi…” aku tersenyum melihat Alex.

Kami tiba di restoran (yang katanya dulu adalah restoran ibuku). Alex menghampiri kami. “Kalian mau makan apa?” tanya Alex.

Aku menggeleng. “Aku masih kenyang. Mungkin nanti siang…”

“Hehehe..tentu, Min Ah ssi.” Alex nyengir lebar.  Lalu dia menatap Kris. “Kau datang untuk melihat rumah?” tanyanya. Kris mengangguk. “Min Ah ssi..,” Alex menatapku lagi. “Semoga kau suka kado dariku. Dengan berat hati aku menjual rumah itu pada Kris..hehehe. Dan sepertinya mulai sekarang.., saham-ku di restoran ini juga jadi berkurang. Aaahh.., aku senang dengan hanya menjadi head cheff.”

“Mwo?” aku menatap Kris dan Alex bergantian.

“Ayo.” Kris menuntun-ku lagi. Meninggalkan Alex. Alex melambaikan tangannya dengan riang.

Kami berjalan melewati taman bunga dan rumput, hingga akhirnya sampai di perumahan (yang hanya terdiri dari 10 rumah itu).

Kris membawaku ke rumah yang terlihat paling unik. Benar. Rumah itu memang mirip rumah keluarga Cullen, tapi lebih asri dan lebih manusiawi. Yah.., kami kan bukan vampire. Hehehe.

Taman depan-nya cukup luas. Banyak sekali bunga-bunga cantik, ada air mancur kecil di atas kolam ikan, dan ada ayunan di bawah pohon. Kris membawaku masuk ke dalam rumah. Woaaahhh…, luas sekali! Aku berkeliling rumah itu, mengagumi setiap arsitektur unik-nya.

Aku naik ke lantai 2. Di sana terdapat ruang musik Kris, perpustakaan, dan dua buah kamar tidur. Aku kembali turun ke bawah, melihat ke dapur, ruang makan, kamar mandi, ruang keluarga, dan kamar tidur utama.

“Bagaimana? Kau suka rumah ini?” tanya Kris. Kami berdiri di ruang keluarga.

Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. “Hmmm.”

“This home is yours.” Kata Kris.

Aku terdiam dan menatap Kris lurus-lurus.

Kris mendekatiku, meraih kedua tanganku, dan menggenggam-nya dengan hangat. “Kim Min Ah, would you marry me?”

Mataku membelalak lebar. Kris terkekeh pelan. “I know this is too sudden. And I forgot to bring the ring.” Kris menatapku dalam-dalam. “I want to spend my life with you, Min. Here. Forever. I promise I’ll make you happy.”

Tanpa bisa kucegah, air mataku mengalir deras. Aku mengangguk. Kris tersenyum lembut, menghapus air mataku dengan jari tangannya yang panjang.

“I love you.” bisikku.

“I love you more.” Kata Kris.

Perlahan Kris mendekatkan wajahnya padaku. Bibirnya yang lembut mencium bibirku dengan hangat dan manis. Tangan kanan Kris memegang belakang leherku, dan tangan kirinya memeluk pinggangku. Ciuman Kris semakin dalam. Aku balas menciumnya dengan segenap hatiku. Tanganku menyentuh punggung dan kepala Kris, membuat rambut Kris berantakan.

Kami sama-sama kehabisan nafas. Kris tersenyum. “You wanna drink?” tanyanya. Aku mengangguk. Kris pergi ke dapur untuk mengambil minuman, sedangkan aku menunggunya di sofa sambil menyalakan TV.

Kris kembali sambil membawa dua gelas minuman bersoda dingin. “We can’t drink wine. I should drive.”

Aku meminum sodaku. Kris meminum-nya sekali teguk. Aku tidak bisa meminum apapun secara one-shot. Bahkan air putih sekalipun!

Kris terkekeh mendengar cegukan-ku. Ia mengelus-elus punggungku sambil tersenyum. Aku balas tersenyum. Aku selalu suka saat ia tersenyum. Bahkan, sampai detik ini, aku masih tidak percaya ini semua nyata. Aku tidak pernah menyangka aku bisa mencintai Kris seperti ini, dan ia mencintaiku sebesar ini.

Aku menyandarkan kepalaku di bahu Kris. Kris menyentuh pipiku, menoleh padaku, dan kembali mencium bibirku. Kris mendorongku berbaring di atas sofa. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan balas mencium-nya.

“Kris… Min Ah.., kalian di mana?” terdengar suara ibu Kris dan ayahku.

Deg!

Sebelum kami sempat melepaskan diri satu sama lain, ibu Kris dan ayahku sudah terlanjur melihat kami.

“Appa..”

“Mommy…”

Kami terkejut melihat orang tua kami tiba-tiba saja muncul. Cepat-cepat kami melepaskan pelukan kami dan duduk saling berjauhan.

Ayahku dan ibu Kris terkekeh senang. “Sudah kuduga kalian ada di sini.” Kata Ibu Kris.

“Aku khawatir saat tidak ada siapapun di rumah.” Kata ayahku.

Aku dan Kris hanya saling tatap diam-diam. Wajah kami merah padam. Merasa sangat malu dilihat oleh orang tua kami seperti tadi.

“Semua ini salahmu.” Kataku.

“This is your fault.” Kata Kris. Ternyata kami punya pikiran yang sama.

Ayahku dan Ibu Kris hanya tertawa. “Aku rindu masa mudaku.” Kata ayahku. Ibu Kris mengangguk. “Benar. Jadi.., kapan kalian akan menikah?”

“Mwo?”

“What?”

Kami berdua masih saling tatap tajam. Happy ending.., apakah happy ending itu benar-benar ada? Apakah aku dan Kris akan bisa melewati sisa hidup kami bersama-sama selamanya?

Aku dan Kris akhirnya tertawa. Sepertinya kami punya pikiran yang sama lagi. Rasanya tidak seru bila kami selalu akur, benar kan?!

Yah.., kurasa aku akan bisa melewati setiap detik hidupku bersama Kris. Asalkan dengan Kris, aku pasti bisa.

Happy ending itu.. mungkin akan terwujud. Bukankah kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakannya? Aku memilih untuk bahagia bersama Kris. Sampai akhir nanti. Sampai hanya kematian-lah yang memisahkan kita berdua. Ya.. meskipun pepatah bilang.., tidak ada yang namanya ending.

Because love is never end.

~~~ The End ~~~~

Woaaahhhh…. Akhirnya tamat jugaaaaa!!!!!

Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita Min Ah – Kris ini. *sobs*

Nggak nyangka akhirnya aku bisa juga nulis part akhir ini. Menulis part akhir buat-ku adalah hal yang ter-sulit, karena di satu sisi aku tidak ingin cepat berpisah dengan karakter di cerita ini, dan di sisi lain aku takut menulis bagian akhir yang tidak memuaskan.

Yah.., tapi aku selalu suka menulis setiap part cerita Min Ah – Kris. kuharap kalian juga suka membaca-nya ^^

Maaf kalau ceritanya ternyata tidak sesuai harapan kalian. Hehehe.

Sampai ketemu lagi di cerita yang lain..

Ada berbagai cerita lain di blog ini.

Untuk yang suka cerita fantasy, bisa baca “Super Fantasy Idol” dan “Moonlight Destiny”.

Untuk yang suka Infinite, terutama L, ada cukup banyak cerita L di blog ini. Silakan mampir dan kasih komentar. Hehehe.

Sekali lagi thanks untuk semua pembaca. Baik yang memberi komentar maupun yang tidak. Tapi aku harap kalian semua memberikan komentar. ^_~

See U,

Regards

Azumi Aozora

Contact me if you want.

Twitter : @AzmiWiantina

Path : Azmi Wiantina        Line : azumiaozora        kakao talk : azumi aozora

e-mail : wiantinaazmi@yahoo.com

30 thoughts on “Bad Oppa or Good Oppa (Chapter 8)

  1. Anyeonggggg….mian bru comen di end chap….hbis klo dh bca ff yg bgus jd g bsa brhnti sblm crta kelar….ffnya bgus bgt…krisshi…neomu joha…hehe.
    Trus brkrya y thor..fighting!!!!

  2. Anyeonggggg….mian bru comen di end chap….hbis klo dh bca ff yg bgus jd g bsa brhnti sblm crta kelar….ffnya bgus bgt…krisshi…neomu joha…hehe.
    Trus brkrya y thor..fighting!!!!

  3. Maaf baru komen, hehe.
    Aku suka alurnya! Malah gamau cepet2 abis ceritanya…
    Kalian tau aku baca ini sampe larut malam. Hehehe
    thor, hwaiting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s