Moonlight Destiny (Chapter 3)

Title                 : Moonlight Destiny

Author                        : Azumi Aozora & Kunang

Main Cast       : Park Chan Rin (OC), Han Hee / Honey Lau (OC), Oh Se Hun (EXO-K), Kim Jong In / Kai (EXO-K), Jung Dae Hyun (B.A.P), Yoo Young Jae (B.A.P)

Support Cast  : Park Chan Yeol (EXO-K), Henry Lau (Suju-M),  Kim Myung Soo / L (Infinite), Lee Taemin (SHINee), L.Joe (Teen Top), Wu Zun, EXO & B.A.P members

Length            : sequel

Genre              : Fantasy, family, romance, life, friendship, mystery

Rating                         : PG+15

Summary        : Bagaimana bila berbagai makhluk yang kau kira hanya ada di negeri dongeng, kini benar-benar nyata? Guardian angel, devil, werewolf, spirit, dan vampire. Kau tidak pernah menyadari dirimu berbeda dan special, hingga kau bertemu mereka. Lalu apa yang akan terjadi saat kau mengetahui berbagai rahasia gelap yang seharusnya tidak kau ketahui?

Image

Masa depan bisa berubah sesuai pilihan yang kita ambil. Tapi, apakah takdir bisa berubah?

Inilah kisah kita. Takdir kita.

 

 

3rd Destiny – By : Azumi Aozora

===== Oh Se Hun PoV =====

Tidak ada satupun hal yang abadi?

Bagi manusia…, mungkin YA. Tapi bagiku…, TIDAK.

Kecantikan…, ketampanan.., kekuatan.., kekuasaan…, kesehatan…, kehidupan…, dan Cinta.

Manusia selalu menginginkan keabadian dari semua hal itu.

Tapi apa yang mereka ketahui tentang keabadian? Cih!

Di saat manusia tahu…, bahwa keabadian hanyalah nama lain dari kesepian,

Keabadian hanyalah sebuah siklus menyakitkan berulang yang tak berujung,

Keabadian berarti SEGALANYA abadi.

Akankah manusia masih menginginkan kebadian?

Dari sekian milyar manusia di bumi ini, kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang berubah menjadi sesosok makhluk yang bahkan lebih rendah dari iblis?!

Iblis memang tidak mati, tapi mereka bisa pergi ke dunia lain. Begitupula dengan para angel. Bahkan para spirit sekalipun pada akhirnya akan kembali ke “sebuah tempat”. Tapi tidak denganku.

Vampire tidak akan pernah pergi ke mana-mana. Kami hanyalah makhluk terkutuk yang tidak memiliki “tempat peristirahatan” dan “tujuan akhir”. Kami bisa terbunuh, mati, tapi kami bangkit lagi. Sekeras apapun aku mencoba membunuh diriku, aku selalu hidup kembali. Sama seperti semula. Tidak ada satu partikel pun yang berubah.

Kami akan selamanya terjebak di bumi. Memiliki segalanya, kecuali jiwa. Kami memiliki semua hal yang diinginkan manusia. Kami akan selalu terlihat rupawan, sehat, dan kuat. Kami abadi dengan segala kelebihan kami, tapi kami juga abadi dengan segala penderitaan kami.

Tidak ada yang bisa kita dapatkan tanpa pengorbanan. Ada harga mahal yang harus dibayar.

Darah manusia, dan… Jiwa manusia.

Itulah mengapa kami lebih rendah dari iblis. Iblis memakan jiwa manusia, tapi jiwa manusia-manusia itu tetap akan kembali ke “tempat peristirahatan”.

Vampire butuh darah manusia untuk menghilangkan rasa sakit dan haus. Tanpa darah, kami akan selamanya merasakan kehausan. Kami tidak akan mati, hanya selamanya menderita dengan tenggorokkan yang serasa terbakar.

Di dalam proses mendapatkan darah manusia, kami sering sekali kehilangan kendali, dan pada akhirnya malah menghisap habis darah korban kami sampai titik darah terakhir. Dan manusia yang mati di tangan kami, jiwa-nya akan selamanya terperangkap dalam tubuh mereka. Mati.., tapi sebenarnya tidak mati. Berbeda dengan vampire.., hidup, tapi sebenarnya tidak hidup. Karena kami tidak memiliki jiwa. Dan satu persamaan kami.., kami sama-sama tidak memiliki “tempat peristirahatan akhir”.

Butuh lebih dari 100 tahun bagiku untuk dapat mengendalikan insting liar-ku. Dan bahkan, sampai sekarang, ketika umurku akan hampir mencapai 200 tahun, kadang aku masih belum bisa sepenuhnya mengendalikan insting membunuh.

Simple saja, karena aku adalah monster. Vampire menjijikan. Makhluk paling rendah dari semua makhluk yang ada di seluruh alam semesta ini.

Sudah 3 tahun aku hidup di Seoul, Korea Selatan. Aku tidak pernah menetap di daerah yang sama selama lebih dari 6 tahun. Itu berarti waktuku untuk tinggal di Korea hanya tinggal 3 tahun lagi. Ya, kalian pasti bisa menebak apa alasannya. Semua film horror tentang vampire yang dibuat oleh manusia itu benar. Kami tidak akan pernah tua. Manusia akan curiga dengan kami.

Tapi film vampire yang dibuat manusia itu sangat konyol! Mereka hanya bisa menebak 50% dari apa yang sebenarnya tentang kehidupan vampire. Inilah beberapa fakta vampire yang sebenarnya : Kami tidak selalu tidur pada malam hari, kami juga bisa tidur kapapun seperti manusia. Kami tidak bisa berubah menjadi kelelawar. Kami tidak takut bawang putih. Kami tidak takut dengan senjata perak, dan semua benda perak tidak akan pernah bisa membunuh kami. Kami tidak akan terbakar bila terkena sinar matahari. Tubuh kami tidak akan berkilauan bila terkena sinar matahari. Kami tidak bisa menjadi vegetarian (kami harus selau meminum darah manusia). Dan.., taring kami tidak hanya muncul bila kami haus, taring kami bisa muncul kapanpun di saat kami menginginkannya.

Selebihnya, semua hal tentang kami sama seperti apa yang manusia tulis dan film-kan.

Keabadian sering sekali membuatku bosan. Hidupku begini-begini saja. Tanpa sesuatu yang harus dicapai, dan tanpa ada tujuan akhir.

Aku memang pernah mencoba berbagai profesi. Dokter, guru, tentara, polisi, pegawai kantoran, pegawai pemerintahan, tukang kebun, pedagang, dan masih banyak lagi.

Tapi aku selalu bosan. Karena itulah aku mencari hal lain yang bisa kulakukan. Hal yang bisa sedikit mewarnai kehidupanku. Hal yang kupikir bermanfaat “baginya” dan juga “bagiku” nanti-nya.

100 tahun yang lalu.., di saat aku masih berusaha mencari berbagai cara untuk membunuh diriku sendiri, aku bertemu “dengan-nya”.  Ia seorang angel. Hanya seorang angel bocah, tapi sangat kuhormati. Ia bukan angel biasa. Ia adalah putra mahkota negeri guardian angel. Ia bilang.., ia akan membantuku untuk bisa terlepas dari keabadian-ku.

Angel tidak abadi. Mereka bisa tumbuh dewasa. Mereka bukan batu kaku sepertiku. Mereka jiwa suci yang terus tumbuh, hanya saja dengan siklus yang lebih lama dibanding manusia.

Sekarang ini.., mungkin umur angel itu setara dengan manusia 21 tahun. Fisik angel itu berubah. Semakin tinggi, semakin dewasa, dan bukan lagi seorang bocah. Berbeda denganku yang sejak tahun 1813 selalu berwujud manusia berusia 20 tahun.

Angel itu sering memberikan tugas padaku. Tugas-tugas yang baik. Hanya tugas sederhana, membantu manusia, tapi setidaknya itu membuatku memiliki tujuan. Dan bila tugasku sudah selesai, angel itu akan memberiku sebuah mutiara jiwa. Ia percaya, bila aku sudah memiliki cukup mutiara jiwa, maka ia dapat mengubahku kembali menjadi manusia. Aku akan memiliki jiwaku kembali, dan aku akan bisa mati.

@Ruang make-up EXO di gedung SBS

Setelah recording untuk acara SBS Inkigayo selesai, aku mengurung diriku di dalam ruang make-up. Sendirian. Semua orang sibuk makan-makan. Bukan berarti aku tidak bisa makan makanan manusia. Aku suka makanan manusia, tapi yang kubutuhkan saat ini bukan itu.

Aku memegang tenggorokanku yang kering dan serasa terbakar. Sudah hampir 3 hari aku tidak meminum darah manusia. Aku sedang malas berburu manusia jahat untuk kuhisap darahnya. Biasanya, aku memang meminum darah manusia-manusia jahat. Tidak sampai membunuhnya, tapi aku menaruh tubuh mereka (yang pingsan) di depan kantor polisi, setelah aku meminum sebagian darah mereka.

“Kau haus?” tiba-tiba saja seseorang masuk dan menghampiriku sambil tersenyum lebar.

Aku balas tersenyum tipis pada orang yang selalu memberiku mutiara jiwa setiap kali aku berhasil menyelesaikan tugas yang ia berikan padaku.

“Kau punya tugas baru untukku, Tae Min? Aku sudah mulai merasa bosan lagi akhir-akhir ini.”

Lee Tae Min tersenyum lalu duduk di sampingku. “Kau tidak akan merasa bosan. Aku punya tugas untukmu, dan lagi…, kau harus tahu bahwa tahun ini.., terjadi kebangkitan vampire besar-besaran. Mungkin akan ada ratusan vampire yang dulu aku segel kini akan bangkit lagi.” Tae Min berkata ringan, seolah itu adalah hal yang mudah.

Aku menatap sang putra mahkota angel itu dengan serius. Aku tahu, tugasnya di bumi ini sangat banyak sekali. Aku takut kini ia kewalahan menghadapi para vampire yang bangkit kembali dari “kematian sesaat” mereka.

“Kau ingin aku membantumu membasmi para vampire?” tanyaku.

Tae Min terkekeh. “Tidak. Bukan itu. Aku punya tugas yang lebih menarik bagimu. Dan kali ini.., bila kau berhasil memenuhi tugasmu.., aku akan memberikanmu 100 mutiara jiwa.”

Aku menyipitkan mataku. Tidak biasanya Tae Min seperti ini. Biasanya ia hanya akan memberikan 1 mutiara jiwa. Tapi.., 100??? Aku mencium sesuatu yang tidak beres.

“Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?” tanyaku cemas. Sejak 100 tahun yang lalu, ketika pertama kali kami bertemu, Tae Min adalah satu-satunya sahabat baikku. Ia orang yang kusayangi sekaligus kuhormati. Ia berbeda dengan angel lainnya yang membenci vampire.

Raut wajah Tae Min berubah serius. “Kau harus membunuh Park Chan Rin.”

“Apa?” aku tidak salah dengar kan? Membunuh? Apakah seorang angel yang suci baru saja memintaku membunuh seorang manusia?

Lee Tae Min menatapku lekat-lekat. “Kau harus membunuh Park Chan Rin. Tapi bukan dengan menghisap darahnya. Kau tidak boleh membuat jiwa-nya terperangkap. Kau harus membiarkan jiwa-nya pergi. Kau mengerti?”

Aku mendengus. “Apa tujuanmu? Selama 100 tahun lebih ini kau tidak pernah sekalipun memberiku tugas untuk menyakiti manusia, apalagi…. Membunuh. Sebenarnya apa dibalik semua ini?”

Tae Min terkekeh. Wajah serius-nya kembali melembut. “Kau memang pintar. Tenang saja…, semua ini kulakukan karena aku menyayangi seseorang. Adikku. Aku hanya ingin membantunya.”

“Membantu? Bagaimana mungkin membunuh dikatakan membantu?” kataku dengan nada kesal.

Tae Min menepuk-nepuk pundakku. “Kau vampire. Membunuh bukanlah sesuatu yang sulit bagimu. Kau hanya perlu membunuh gadis bernama Park Chan Rin itu.., lalu kau akan semakin cepat berubah kembali menjadi manusia. Bukankah itu yang kau inginkan? Menjadi manusia kembali?”

Aku hanya terdiam sambil menatap Tae Min dengan tatapan dingin. “Sekarang aku mulai ragu.., apakah kau benar-benar seorang angel? Ataukah.. devil? Apakah masuk akal bila seorang angel memikirkan sebuah rencana jahat?”

“HAHAHAHA….HAHAHAHA….” Tae Min terbahak-bahak keras. “Yah! Oh Se Hun! Kau percaya saja padaku. Rencanaku ini tidak sepenuhnya buruk, dan yang aku perintahkan padamu ini belum tentu buruk. Seperti sudah kubilang.., tujuan utamaku adalah membantu adikku. Salah satu tujuan lain adalah…, menyelamatkan gadis itu dari incaran para vampire. Kau harus membunuhnya sebelum vampire lain menghisap darahnya dan membunuhnya. Aku tidak mau jiwa gadis itu terjebak…..”

Aku terdiam. Berusaha mencerna kata-kata Tae Min. Jadi.., aku harus membunuh gadis itu sebelum ada vampire lain yang membunuhnya? Tapi aku harus membunuh gadis itu dengan cara lain? Bukan dengan menghisap habis darahnya, sehingga jiwa gadis itu tidak akan terperangkap?

Tae Min kembali tersenyum. “Kau percaya takdir, Oh Se Hun?”

Aku masih terdiam. Hari ini Tae Min benar-benar terlihat aneh.

Tae Min menghela nafas panjang. “Aku ingin membantu adikku menemukan takdir-nya, dan aku terkejut saat mengetahui…, kau adalah salah seorang yang akan mempengaruhi takdirnya.”

“Jadi kau memanfaatkanku demi adikmu? Apa untungnya bagi adikmu bila aku membunuh gadis itu?”

“Kau akan tahu nanti. Dan aku tidak memanfaatkanmu. Kita saling menguntungkan. Bukankah begitu?” Tae Min mengedipkan sebelah matanya. “Sekarang kau harus minum.” Tae Min meraih gunting rambut di meja rias, lalu menusukkan gunting itu ke telapak tangannya. Darah merah segar mengalir dengan deras.

“Saat aku berubah menjadi manusia, darahku adalah darah manusia. Minumlah…” Tae Min mendekatkan tangannya yang penuh darah padaku.

Aku menelan ludah, lalu memalingkan wajahku sambil menahan nafas. “Tidak. Aku akan minum nanti. Aku bisa berburu orang jahat.”

Tae Min terkekeh. “Anggap saja aku orang jahat. Atau… malaikat jahat yang baru saja memintamu membunuh seorang manusia.” Tanpa menunggu persetujuanku, Tae Min memasukkan tangannya dengan paksa ke dalam mulutku. Darah segar mengalir perlahan melewati leherku. Insting vampire kini menguasaiku. Aku memegang tangan Tae Min dan menghisap darahnya dengan cepat.

Tae Min tersenyum. “Suatu saat kau akan berterima kasih padaku karena memberimu tugas ini.”

Aku tidak memedulikan lagi kata-katanya. Aku hanya terus menghisap darah Tae Min. Aku kehausan. Dan aku akan melakukan apapun agar suatu hari nanti rasa haus yang menyiksa ini benar-benar hilang dariku.

Mungkin…., membunuh seorang manusia bukanlah masalah besar. Bukankah di masa lalu, sebelum aku bisa mengendalikan instingku, aku pernah membunuh banyak orang?! Jadi, tugas ini tidaklah sulit.

*****

Kemarin aku memang berpikir tugas yang Tae Min berikan padaku tidaklah sulit. Tapi ternyata… tidak semudah yang kubayangkan.

Park Chan Rin selalu diikuti oleh Kai. Aku tidak tahu kenapa Kai mengikuti gadis itu. Apakah Kai juga vampire? Tapi.., tidak. Tidak mungkin Kai vampire. Jadi.., apa tujuan utama Kai selalu mengikuti Chan Rin? Tujuan baik-kah? Atau buruk-kah?

Selain Kai, ada Jung Dae Hyun, vokalis utama B.A.P. Dia juga pernah menyelamatkan Chan Rin saat aku berusaha membunuh Chan Rin dengan menabrak-nya. Aku tahu Dae Hyun berusaha melindungi gadis itu, karena aku melakukan telepati pada Dae Hyun setelah berusaha membunuh gadis itu.

Aku : Tak ku duga, kau… seorang devil bertindak sok pahlawan? Menggelikan.

            Dae hyun hanya diam di tempatnya, dia tahu percuma saja kehilangan kendali disini karena aku menggunakan telepati.

Dae Hyun : Kau… tak kan kubiarkan kau menyakiti Chan rin!

Aku : Hahahhahahaha… daripada itu, lebih baik kau pikirkan tugas mu, memangnya kau sudah berhasil membuat ‘gadis’ itu membencimu?

            Dae Hyun : Darimana kau tahu? Cih… yang jelas kalau kau sampai menyakiti—

Aku terkekeh. Tentu saja aku tahu apa tugasnya. Aku tak sengaja mendengar percakapan ia dan teman iblis-nya di hutan saat malam bulan purnama. Aku tahu ia mendapatkan tugas dari guru-nya. Sebagai devil muda yang masih belajar, Dae Hyun sering sekali mendapatkan berbagai macam tugas dari guru pembimbingnya. Aku tertawa mengingat tugas apa yang diberikan padanya. Cih! Konyol! Bagaimana mungkin seorang devil diberi tugas konyol seperti itu?! Akan lebih masuk akal bila ia diberi tugas membunuh. Tapi aku tidak peduli dengan tugasnya! Bukan urusanku. Aku hanya tidak ingin ia menghalangi tugasku. Jangan sampai aku kehilangan kesempatanku untuk mendapatkan 100 mutiara jiwa!

Aku : Sebaiknya kau ingat posisi-mu Jung Dae Hyun, kau dan aku punya tugas masing-masing, dan kalau kau sampai menganggu tugas ku, kau tahu kan aku tidak akan tinggal diam?

Dae Hyun : Tugas mu? Tangan namja itu mengepal semakin kuat Jangan-jangan tugas mu… Dae hyun terdiam, dia tahu koneksi telepatinya telah aku putuskan.

Ternyata….. membunuh Park Chan Rin tidaklah mudah.

====== End of Se Hun PoV =======

 

 

======= Park Chan Rin PoV =========

@Queen Restaurant…..

Seharusnya tadi aku tidak perlu ikut! Sangat membosankan! Ternyata acara makan malam ini memang benar tentang perjodohan. Apa tadi ibu tiri-ku bilang? Kalau Han Hee tidak suka pria itu, maka mungkin saja aku suka pria itu? No way! Aku tidak tertarik. Bukan berarti aku lesbian atau apa, hanya saja….. saat ini aku tidak ingin memikirkan cinta-cintaan. Masih banyak hal lain yang lebih penting untuk kupikirkan.

Kami duduk mengelilingi sebuah meja bulat. Hidangan mewah dan lezat sudah tersedia di meja kami. Sejak tadi tak henti-hentinya kedua wanita paruh baya itu memuji-muji anak mereka sendiri.

“Karena kau lumayan tampan.., kurasa kita coba saja. Siapa tahu kita memang cocok. Tidak rugi bagiku.” Kata Han Hee riang. Kedua wanita paruh baya itu tertawa, senang dengan sikap easy going Han Hee.

Seorang pria berkulit tan, yang duduk berhadapan dengan Han Hee – tersenyum lembut. Aku tahu dari tatapannya, pria itu memang menyukai Han Hee.

“Tapiiii.., kau tidak boleh melarangku kalau suatu hari nanti kita tahu bahwa kita tidak cocok, dan kita menemukan orang lain yang cocok. Kau tidak boleh melarangku berhubungan dengan pria lain, dan aku juga tidak akan melarangmu berhubungan dengan wanita lain. Hmmm.., anggap saja perjodohan ini adalah cara agar kita mengetahui apakah kita cocok atau tidak. Aku tidak keberatan.” Han Hee berkata jujur. Mulut ibu Han Hee, dan juga ibu angkat pria itu menganga lebar, kemudian mereka tertawa renyah.

“Bagaimana? Kau setuju? Kai Oppa?” Han Hee tersenyum.

Benar. Pria itu adalah Kai alias Kim Jong In. Teman satu grup kakak-ku. Aku baru tahu kalau dia ternyata anak angkat, dan aku lumayan terkejut saat tahu ternyata Kai-lah yang dijodohkan dengan Han Hee. Selama ini kupikir Kai tidak tertarik dengan wanita. Diantara semua member EXO, Kai adalah salah satu yang paling dingin pada wanita. Sama dinginnya dengan Se Hun.

Kai tersenyum. “Oke. Aku setuju.”

“Oke. Deal.” Han Hee menjabat tangan Kai.

Aku mendengus. Dasar! Ada-ada saja! Dasar Han Hee si penggila cowok tampan!

Aku kembali memakan makan malam-ku dengan tenang. Aku menoleh ke kaca gedung. Aneh, sepertinya tadi aku melihat sebuah bayangan hitam. Orang-kah? Atau hantu-kah? Tapi kalau hantu.., Han Hee pasti bisa melihatnya. Meski ia yakin aku tidak mempercayai kekuatannya dalam melihat hantu, tapi aku percaya padanya. Mungkin dia sama anehnya denganku. Memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia lain. Tapi.., kalau itu bukan hantu, apakah itu orang? Tapi bagaimana mungkin ada orang yang bisa memanjat ke lantai 30 gedung ini tanpa menggunakan alat bantu?!

Aku menggelengkan kepalaku. Pasti hanya halusinasi! Akhir-akhir ini aku memang sering berhalusinasi. Aku sering merasa ada orang yang mengikutiku, tapi sebenarnya tidak ada. Lalu, setiap malam hari, aku merasa ada seseorang yang mengawasiku di balik jendela kamarku.

Apakah hantu-hantu datang pada Han Hee? Apakah Han Hee berteman dengan banyak hantu, tapi hantu-hantu itu membenciku? Sekali lagi aku menggelengkan kepalaku.

“Chan Rin ssi, kau baik-baik saja? Apakah kau sakit?” suara bass Kai tiba-tiba mengagetkanku.

Aku menggeleng lemah. “Aku baik-baik saja.” Jawabku datar, kemudian kembali makan.

Han Hee menatapku, lalu meraih tanganku dan menuntunku dengan paksa ke dalam toilet.

“Chan-Chan.., kau sebenarnya kenapa? Beberapa hari ini kulihat kau seperti memikirkan sesuatu?” tanya Han Hee ketika kami sudah berada di dalam toilet.

“Bukan urusanmu!” kataku dingin.

Han Hee menghela nafas panjang. “Tentu saja urusanku. Kau saudaraku. Aku ingin membantumu. Apakah kau sakit? Apakah kau ada masalah di sekolah?”

Aku mendengus. “Tidak usah ikut campur. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Aku tidak tahu kenapa kata-kata yang keluar dari mulutku selalu pedas, apalagi kepada Han Hee. Mungkin aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah saudara tiriku.

Han Hee tersenyum lembut. “Kau tahu? Kau bisa cerita apa saja padaku. Aku pendengar yang baik dan juga pembicara yang baik. Hehehe.”

Aku hanya menatap Han Hee datar. “Apakah kau melihat hantu – hantu berkeliaran di sekitarku?” tiba-tiba saja aku penasaran.

“Hantu? Oh.., ada 1 hantu yang selalu.. ehm.., maksudku…, aku melihat ada hantu di sekitarmu, tapi tidak selamanya ada. Bisa dibilang.., jarang. Hanya saat-saat tertentu. Hehe.” Jawab Han Hee sedikit terbata.

“Apakah barusan kau melihat ada hantu di luar kaca gedung?” tanyaku lagi.

Han Hee menggeleng. “Tidak.”

Aku menghembuskan nafas panjang. Sudah kuduga, aku memang sering berhalusinasi akhir-akhir ini.

“Wae? Kau takut hantu?” Han Hee tersenyum menggoda.

Aku menggeleng. “Tidak. Aku hanya penasaran karena aku merasa ada yang mengikutiku. Mungkin saja itu hantu kan?”

Han Hee mengangguk. “Mungkin saja. Tapi hantu yang pernah mengikutimu itu hantu baik. Dan dia hanya mengikutimu di sekolah. Sekarang dia sudah tidak pernah lagi berubah jadi hantu karena..… eh maksudku… hantu itu sudah tidak pernah mengikutimu lagi. Hantu itu.., ada yang baik, ada juga yang jahat. Kebanyakan dari mereka hanyalah jiwa-jiwa tersesat, tapi banyak juga yang memang memiliki tujuan tertentu….”

Aku memijit-mijit keningku yang tiba-tiba saja terasa sakit. Han Hee sepertinya tidak sadar kalau aku kesakitan. Dia terus saja bercerita tentang jenis-jenis hantu.

“Tenang saja, Chan-Chan…, aku akan memberitahumu kalau ada hantu yang mengikutimu.” Han Hee menepuk punggungku dan tersenyum hangat.

“Berhenti memanggilku Chan-Chan!” tukasku dingin.

“Kenapa? Menurutku nama ChanChan bagus. Daripada panggilan Chan Yeol Oppa padamu, Rin-Rin. Hehehe.”

Aku hanya menatap Han Hee dengan datar. Benar, Han Hee adalah salah satu dari sebagian kecil orang yang tahan dengan tempramen-ku. Dia memang sejenis happy virus seperti Chan Yeol. Semakin aku bersikap dingin padanya, semakin ia membelah diri menjadi banyak seperti virus. Dasar Happy virus!

********

@Hankuk Senior High School, jam pulang sekolah….

Aku keluar dari gedung olahraga. Kelas kami memang mendapatkan pelajaran olahraga di jam terakhir. Bagusnya adalah, aku jadi tidak perlu lagi mengganti pakaianku dengan rok dan kemeja. Aku hanya tinggal langsung pulang.

Aku menatap langit. Mendung. Sepertinya hujan akan segera turun. Sial! Aku lupa mengambil payungku dari dalam loker. Aku pun kembali berbalik dan berjalan sepanjang lorong sekolah, menuju tempat loker berada.

Duk…duk…duk…

Terdengar seperti suara bola basket yang sedang di dribble. Mungkin ada yang sedang bermain basket. Tapi.., bukankah dilarang bermain basket di lorong ataupun di koridor sekolah? Kalau guru-guru tahu.., bisa dihukum.

Duk…duk…duk….

Aku tidak peduli lagi, dan segera mengunci loker-ku begitu payung sudah kuambil.

Syuuuuuuttttt….

Tiba-tiba saja sebuah bola basket melayang tepat ke arah kepalaku. Refleks aku berjongkok dan melindungi kepalaku dengan kedua tangan. Untung saja bola basket itu tidak mengenai kepalaku.

“JANGAN BERMAIN BASKET DI KORIDOR!” Teriakku kesal. Pasti ini ulah anak-anak kelas 1 yang sedang nakal-nakalnya dan mencari perhatian guru!

Aku berdiri dan berjalan pergi. Di sepanjang jalan menuju pintu gerbang sekolah, lagi-lagi aku merasa ada seseorang yang membuntutiku. Tapi ketika aku berbalik ke belakang, tidak ada siapapun di sana.

Tin…Tin…Tin…

Terdengar suara klakson mobil.

“Chan-Chaaaaannnn!!!!” panggil suara cempreng. Tanpa perlu melihatpun aku sudah tahu ini suara siapa.

“Chan Rin ssi. Ayo pulang.” Kata suara bass seorang pria. Aku menoleh ke samping. Kai dan Han Hee berada di dalam sedan sport hitam milik Kai.

Aku menggeleng. “Aku naik bus saja.” Kataku. Aku pun kembali berjalan.

Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba saja Kai keluar dari dalam mobil dan menarik tanganku. “Aku antar kau pulang.” Katanya dengan nada memerintah. Aku tidak bisa menolak lagi karena kini Kai menuntun tanganku dengan paksa. Aku pun terpaksa mengikutinya dan duduk di jok belakang.

“Untung Kai Oppa datang, aku tidak membawa payung. Pasti sebentar lagi hujan deras turun.” Celoteh Han Hee riang.

Meskipun saat ini jarakku dan Han Hee sangat dekat, aku mengirimi Han Hee message lewat ponsel-ku. Aku tidak ingin Kai tahu.

To : HanHee

Apakah kau melihat ada hantu yang membuntutiku barusan?

Sent

“Tidak ada.” Jawab Han Hee sambil membalikkan badannya menghadapku. “Omo~ apakah kau masih sering merasa ada yang mengikutimu?”

Sial! Aku menatap Han Hee dengan kesal. Kenapa dia harus bicara langsung sih?! Kenapa tidak membalas message-ku saja?! Kini Kai jadi tahu. Sial!

“Ada yang mengikutimu? Siapa?” tanya Kai. Ia memandangku lewat kaca spion sekilas, kemudian kembali konsentrasi menyetir.

“Aku tidak tahu.” Jawabku datar.

“Apakah pernah terjadi hal-hal aneh?” tanya Kai lagi.

“Tidak.” Kataku berbohong. Tidak sepenuhnya bohong juga. Mungkin saja aku terlalu paranoid sehingga menganggap kejadian bola basket tadi aneh. Tapi.., beberapa hari lalu memang ada hal aneh juga, seperti terdapat sepasang jejak kaki di dinding luar kamarku. Manusia macam apa yang berjalan di dinding?! Memangnya spiderman benar-benar ada?! Oh, mungkin saja memang ada. Lalu…, kalau bukan spiderman, apakah itu berarti hantu? Memangnya hantu memiliki jejak kaki ya? Aku terlalu gengsi untuk bertanya pada Han Hee apakah hantu memiliki jejak kaki atau tidak.

“Mulai sekarang, aku akan mengantar kalian pergi sekolah dan menjemput kalian pulang juga.” Kata Kai.

“Tidak usah.” Tukasku cepat. “Bukan masalah besar. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Karena aku terlalu banyak menonton film horror.”

“Jangan begitu, Chan-Chan.., Kai Oppa juga mau membantumu di tengah jadwalnya yang sibuk. Kau harus menghargainya.” Kata Han Hee sambil tersenyum.

Aku mendengus. “Bukan begitu, pabo! Maksudku.., Kai bisa mengantar jemputmu, tapi tidak perlu mengantar jemputku juga. Aku tidak mau mengganggu kalian.”

“Oooh.., hahahaha. Tenang saja Chan-Chan.., kau sama sekali tidak mengganggu kami. Oh, apakah sebaiknya aku meminta Mom untuk menjodohkanmu juga? Tenang saja, ini bukan seperti perjodohan di film. Aku dan Kai juga berusaha saling mengenal. Dan kita punya kesepakatan untuk tidak terlalu saling terikat selama kita belum yakin dengan perasaan kita masing-masing. Kau juga bisa begitu.”

“Aku tidak tertarik!” tukasku dingin.

“Omo~~~ jangan bilang kalau kau mencintaiku, Chan-Chan???”

“Pabo! Aku normal! Dan kalaupun aku tidak normal, aku pasti akan pilih-pilih dan tidak jatuh cinta pada gadis sepertimu.” Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada sambil menatap Han Hee tajam.

“Hiks..hiks.., kau menolakku secara terang-terangan, Chan-Chan? Kau membuatku patah hati…” Han Hee pura-pura menangis dengan gaya-nya yang berlebihan.

“Sikapmu mirip Chan Yeol hyung.” Kata Kai pada Han Hee.

Aku menyeringai. “Benar! Kau mirip Chan Yeol! Lihat kan? Bukan hanya aku yang bilang?!”

Han Hee dan Kai tertawa, aku pun ikut tertawa pelan.

“Eh, Chan-Chan, kalau kau tidak mau punya namjachingu yang bisa menjagamu dari penguntit, kenapa kau tidak memelihara anjing yang bisa menjagamu saja? Bukankah kau suka binatang?”

Aku hanya terdiam. Memikirkan kata-kata Han Hee.

******

@Sungkyungkwan University, 16.00 KST

Dasar Park Chan Yeol bodoh!!!! Pelupa! Dasar kakek-kakek! Bagaimana mungkin dia bisa lupa membawa tugas kuliahnya, maket perkantoran yang sangat penting?! Tugas kuliah yang dia kerjakan selama 3 minggu itu, yang dia bilang akan menentukan hidup mati-nya di jurusan arsitektur!

Dengan terpaksa, tadi begitu aku tiba di rumah dan mendapatkan telepon dari Chan Yeol, aku segera pergi lagi naik bus. Masih mengenakan seragam sekolahku. Aku berusaha menjaga maket Chan Yeol dengan hati-hati agar tidak tersenggol apalagi jatuh!

Begitu tiba di kampus Chan Yeol, aku segera berlari menuju gedung fakultas-nya. Chan Yeol bilang, ia sedang ujian di gedung D lantai 5. Aku mengiriminya pesan lewat kakao talk begitu aku sudah tiba di depan kelasnya.

“Rin Riiiiiiinnnn!!!! GOMAWOOOOO!!!!!!!” Chan Yeol keluar dari dalam kelas, lompat-lompat seperti anak kecil dan langsung memelukku dengan erat.

“Sssssssttttttt.” Dosen Chan Yeol yang kebetulan sedang berdiri di pintu masuk kelas menyuruh Chan Yeol agar tidak berisik.

“Hehehe..” Chan Yeol hanya terkekeh sambil nyengir lebar. “Rin Rin, kau memang malaikatku. Penyelamatku.” Chan Yeol mencubit kedua pipiku.

“YAH! Sakit Pabo!” tukasku dingin.

“Hehehe.  Gomawooo…” Chan Yeol memelukku lagi sekilas. “Eh, tunggu aku di kantin, oke? Setengah jam lagi aku pulang.”

“Selesaikan ujianmu dengan cepat, lalu pulang! Aku tidak mau lama-lama menunggu. Kau bilang kau jenius kan? Kuberi waktu 20 menit.”

“Ara-ara.., tunggu aku, oke?” Chan Yeol melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam kelas.

Aku menghembuskan nafas panjang, lalu mulai berjalan menuju kantin di lantai 1.

Drap-drap-drap…

Terdengar langkah orang berlari. Aku menatap sekeliling. Tidak ada siapapun.

Tiba-tiba saja aku merasakan udara dingin di sekitarku. Bulu kudukku meremang. Sekali lagi aku berbalik, tapi tidak ada siapapun. Aku berlari dengan cepat di sepanjang koridor dan menuruni tangga dua undakkan sekaligus. Kenapa tidak ada seorang pun mahasiswa yang keluar kelas lebih cepat sih?! Jadi aku bisa tahu kalau itu bukanlah pikiran paranoidku lagi.

Tiba-tiba saja aku merasakan tanganku ditarik dari belakang. Aku berhenti dan menatap seorang pria tinggi memakai coat hitam. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia memakai masker dan wajahnya tersembunyi di balik kupluk.

“Siapa kau?” tanyaku dingin. Meskipun aku merasa takut, tapi aku tetap bisa menjaga blank stared dan nada dinginku.

Pria itu berjalan perlahan. Tangannya yang dingin masih mencengkram lenganku. Dalam sekejap mata, entah kenapa pria misterius itu menghilang. Hilang begitu saja seolah ia tidak pernah ada di sana sebelumnya.

“Chan Rin ssi!!!!” tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku berbalik, dan di bawah tangga sana Jung Dae Hyun melambaikan tangannya dengan riang. “Kau sedang apa?” tanya Dae Hyun lagi.

Aku menuruni tangga perlahan. Tubuhku sedikit bergetar karena kejadian barusan. Siapa pria aneh tadi? Hantu-kah?

“Chan Rin ssi? Kau kenapa?” Dae Hyun memegang kedua pundakku sambil membungkukkan badannya agar matanya sejajar dengan mataku.

“Aku.., aku hanya kedinginan.” Kataku berbohong.

Pria berambut cokelat dan ber-jaket biru itu tersenyum lalu memelukku dengan erat. Entah kenapa aku tidak menolak pelukannya. Mungkin karena aku masih memikirkan hal aneh tadi. Mungkinkah pria… atau hantu misterius ber-coat hitam itu adalah seseorang yang selalu mengikutiku selama ini? Tapi kenapa? Apa tujuannya?

“Kau menjemput Chan Yeol?” Dae Hyun melepaskan pelukannya. Aku menatap sekeliling. Untung saja koridor sepi. Bisa gawat kalau ada yang melihatku berpelukan dengan idol ini!

Aku menggeleng. “Aku mengantarkan tugas maket-nya. Kau kuliah di sini?”

Dae Hyun tersenyum. “Kau tahu? Ini pertama kalinya kau bertanya padaku tentang diriku. Apakah aku sudah mulai berhasil membuatmu menyukaiku?” goda Dae Hyun.

Aku menyentakkan lengannya dari lenganku. “Lupakan!” tukasku dingin. Aku pun segera melangkah pergi.

“Chan Rin ssi!” Dae Hyun berlari mengejarku dan kini ia sudah berada tepat di hadapanku. “Aku hanya bercanda. Hehehe. Ya, aku kuliah di sini. Aku mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Aku baru tingkat 2. Dan saat ini aku baru saja selesai ujian.” Dae Hyun berusaha menahan senyumnya sambil terus menatapku.

“Ada lagi yang ingin kau ketahui tentangku?” tanya Dae Hyun.

“Tidak.” Kataku dingin.

“Tapi aku ingin.”

“Mwo?”

“Aku ingin tahu banyak hal tentangmu Chan Rin ssi.” Dae Hyun tersenyum lebar, matanya yang sipit ikut tersenyum.

“Bagaimana kalau aku menjadi namjachingu-mu?”

“Mwo?”

“Namjachingu. Namja… chingu. Kalau kau belum mau menganggapku sebagai pacarmu, kau bisa menganggapku sebagai teman laki-laki-mu. Bagaimana?”

Aku menatap namja di hadapanku ini lekat-lekat. Tidak jelek. Badannya juga bagus. Tapi aku tidak mencintainya.

“Eh, Chan-Chan, kalau kau tidak mau punya namjachingu yang bisa menjagamu dari penguntit, kenapa kau tidak memelihara anjing yang bisa menjagamu saja? Bukankah kau suka binatang?”

Aku kembali teringat kata-kata Han Hee. Namjachingu yang bisa menjagaku? Benar. Sepertinya memiliki pacar yang bisa menjagaku dari penguntit misterius adalah ide yang lebih baik dibanding memelihara seekor anjing yang bisa menjagaku.

Dalam beberapa hal, aku lebih suka anjing dibanding manusia. Seperti pepatah bilang : anjing tidak akan mungkin menggingit tangan tuan yang memberinya makan.

Tapi.., manusia bisa. Manusia bisa berkhianat.

Meskipun begitu, aku tidak bisa membawa anjing penjaga ke manapun aku pergi. Tapi namjachingu…, dia bisa berada di manapun aku berada. Benar kan?

“Baiklah.” Kataku.

“Apa?”

Aku mengangguk. “Oke, aku setuju.”

Mata Dae Hyun membelalak lebar. “Kau setuju? Soal aku menjadi temanmu? Atau.., menjadi pacarmu?”

“Terserah.” Kataku dingin, kemudian segera berbalik.

Dae Hyun menyambar lenganku. “Gomawo.” Katanya sambil tersenyum. “Aku akan berusaha menjadi namjachingu yang baik.”

Aku hanya balas menatap Dae Hyun datar. Maafkan aku Dae Hyun ssi. Aku hanya memanfaatkanmu.

========= End of Chan Rin PoV =========

 

 

=========== Author PoV ============

Di sebuah club malam di daerah Gangnam……

Oh Se Hun duduk di sebuah sofa VIP. Tatapannya kosong. Tangannya menggenggam gelas berisi wine, tapi sama sekali tidak ia minum. Semua wanita yang ada di club itu memandang Se Hun penuh kagum. Postur tubuhnya yang tinggi, tatapan matanya yang tajam, wajah tirus-nya yang tegas, dan ekspresinya yang datar – membuat semua wanita penasaran.

“Apa yang seorang idol lakukan di club malam seorang diri?” tiba-tiba saja Lee Tae Min datang dan duduk di hadapan Sehun.

“Jenuh dengan kehidupan sebagai idol.” Jawab Se Hun tenang. “Lalu apa yang seorang angel lakukan di sebuah club malam?”

Tae Min tersenyum. “Untuk bertemu seorang vampire, dan bertanya pada vampire itu kenapa ia bisa berada di sini. Apa yang akan dilakukannya? Hanya duduk di sini tanpa minum dan berdansa?” Tae Min terkekeh.

Se Hun menatap Tae Min. Pandangan matanya yang sebelumnya dingin kini berubah hangat dan lembut. “Aku mendapatkan info, malam ini, di club ini akan ada penyelundupan narkoba. Akan banyak mafia yang datang. Aku mengincar mafia-mafia itu.”

Tae Min mengangguk. “Kau sangat haus rupanya.”

Se Hun menatap Tae Min tajam. “Jangan pernah lagi membiarkanku meminum darahmu! Kau tidak akan pernah tahu kapan aku bisa berhenti. Kau bisa mati.”

“Hahahaha…, belum pernah ada dalam sejarah, seorang angel mati di tangan seorang vampire.” Tae Min terbahak-bahak.

“Karena dalam sejarah, belum pernah ada seorang pun angel yang dengan bodoh-nya memberikan darahnya pada vampire.” Kata Se Hun sinis. Se Hun benci diri-nya sendiri! Sehun benci membayangkan bahwa ia bisa saja membunuh Tae Min. Meskipun Tae Min seorang angel, tapi Tae Min bukanlah makhluk immortal seperti dirinya. Angel punya tujuan akhir. Tempat akhir bagi para angel.

“Se Hun ~ah.., kau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik kan?” kata Tae Min tiba-tiba. Se Hun hanya terdiam, jadi Tae Min kembali bicara. “Kau hanya mengintip Chan Rin lewat jendela kamarnya, dan ceroboh karena sepatumu meninggalkan jejak di tembok. Kau pikir bola basket bisa membunuh seseorang? Kau pikir jatuh dari tangga lantai 2 bisa membunuh seseorang? Apakah kau tidak sadar kalau kau tiba-tiba menampakkan dirimu di hadapan gadis itu dan tiba-tiba saja menghilang justru membuat gadis itu sadar akan bahaya yang mengintainya?!”

Se Hun terdiam. Tae Min terus bicara. “Kau punya banyak kesempatan. Dan kuberitahu rahasia…, sebaiknya kau melakukan tugasmu saat di dekat gadis itu ada Kai.”

“Kenapa?” tanya Se Hun heran.

Tae Min tersenyum misterius. “Itu akan membuatmu tidak bosan. Kau bilang.., kehidupanmu mulai membosankan, bukan? Aku membantumu agar kehidupanmu tidak membosankan lagi. Dan aku juga membantu adikku.”

“Kau tidak pernah memberitahuku siapa adikmu. Apakah ia sekarang ada di bumi?”

“Suatu hari nanti kau akan tahu, Se Hun~ah. Oh ya, aku harus pergi. Goodluck, semoga kau mendapatkan banyak orang jahat hari ini. Aku harus menemui seseorang yang keras kepala sepertimu. Dia sama menyusahkannya denganmu.”

Dalam sekejap mata, Tae Min pun menghilang.

Sementara itu, pukul 2 malam, di samping sungai Han…..

Kai berdiri tak jauh dari sungai. Ia menatap langit yang kelam. Hanya ada sedikit bintang. Bulan juga hanya seperempat terlihat. Ia menghembuskan nafas lega. Setidaknya ini bukan malam bulan purnama. Pikirnya.

“Aaaaaaaarrrggghhhhh….” Tiba-tiba saja mata Kai terasa sakit dan silau karena cahaya.

“Hyung!  Hentikan! Kau tahu kan sekarang aku sangat sensitif dengan cahaya angel?! Cepatlah berubah menjadi manusia! Kau bisa membakar mataku!” Kai berjongkok dan memebenamkan wajahnya diantara kedua lengannya.

“Pabo! Kenapa kau malah meminta ibu angkatmu untuk menjodohkanmu dengan Han Hee, hah?!” bentak Tae Min.

“Hyuuuung!!!! Berubahlah! Atau pergilah! Aaarrrrrggghhhh…” Kai mengerang kesakitan. Matanya terasa panas sekali.

“Kkamjong Pabo!” umpat Tae Min. Ia pun akhirnya berubah menjadi manusia.

Kai berdiri dan menatap Tae Min tajam. “Aku punya caraku sendiri, hyung. Di saat aku dekat dengan Han Hee, aku juga bisa menjaga Chan Rin tanpa harus diam-diam menjaganya. Aku bisa menjaganya terang-terangan.”

“Pabo.” Dengus Tae Min.

Kai menggertakkan gigi-nya. “Dan kau tidak perlu mencampuri urusanku, hyung. Aku masih yakin kalau Han Hee adalah takdirku. Aku mulai menyukainya bukan hanya karena ia mirip Putri Aster.”

Lagi-lagi Tae Min mendengus. “Terserah kau sajalah, wolf! Suatu hari nanti kau akan sadar.., dan mungkin.., menyesal.”

“Apa maksudmu, hyung?”

Tae Min tersenyum misterius. “Ingat yang kukatakan dulu? Para vampire akan mulai menginvasi lagi. Sudah waktunya mereka bangkit dari tidur panjang mereka.” Tae Min mendekatkan wajahnya pada Kai, dan berbisik. “Kuberitahu rahasia, karena aku menyayangimu, dongsaengku. Dengar…, akan ada 2 vampire yang  mengikuti Chan Rin. Berhati-hatilah. Dua-duanya berbahaya. Yang satu akan mencelakai banyak orang, dan yang satu…. Akan menghalangimu dari takdirmu.”

======== End of Author PoV =========

 

 

======= Oh Se Hun PoV =======

Pagi ini aku merasa sangat segar. Bukan karena tidur cukup, tapi karena meminum darah yang cukup banyak tadi malam.

Setelah menghisap banyak darah para mafia narkoba di club, seperti biasa, aku mengirim para kriminal itu ke kantor polisi.

Cih! Meskipun rasa darah para kriminal itu tidak enak, tapi setidaknya selama beberapa hari ke depan ini aku tidak akan merasa haus. Dan hal ini akan membantuku dalam menjalankan tugasku. Aku harus membunuh Park Chan Rin, tapi aku tidak boleh haus saat berada di dekatnya. Aku tidak ingin ia mati karena kuhisap darahnya. Aku ingin ia mati wajar. Jangan sampai aku membuat jiwa-nya terperangkap.

Pagi-pagi sekali, aku sudah berada di dekat rumah keluarga Park. Tidak mudah memata-matai adik temanku sendiri. Aku merasa bersalah pada Chan Yeol karena aku harus membunuh adiknya. Tapi.., semua ini kulakukan agar aku bisa berubah menjadi manusia kembali. Agar aku bisa mati. Selain itu…, kalau yang Tae Min katakan benar.., bahwa ada vampire lain yang menginginkan darah Chan Rin, maka aku harus segera membunuh Chan Rin dengan wajar sebelum vampire lain itu membunuh Chan Rin dengan menghisap habis darahnya.

Sampai saat ini tanda-tanda keberadaan vampire lain itu belum ada. Mungkin nanti, saat malam bulan purnama yang ke -3600 sejak zaman pembantaian vampire tiba. Saat vampire-vampire yang di-segel bangkit dari tidur panjang mereka.

Mobil sport hitam Kai tiba di depan rumah Chan Yeol. Aku tahu, Kai akan mengantar Han Hee ke sekolah. Kalau hari ini Chan Rin ikut, berarti rencanaku hari ini gagal.

Aku semakin bersembunyi di balik pohon besar. Kai tidak akan menyadari kehadiranku. Dia bukan angel maupun devil yang bisa merasakan hawa keberadaan vampire.

Han Hee masuk ke dalam mobil Kai, lalu mobil pun melaju dengan cepat. Sementara itu Chan Rin keluar dari dalam rumah bersama Chan Yeol yang tertawa lebar. Aku senang karena feelingku benar. Chan Rin akan pergi sendiri. Setelah hampir selama 2 minggu ini aku mengikuti Chan Rin, aku mengerti sedikit sifat gadis itu. Keras kepala. Tidak suka berhutang budi pada orang lain. Sok kuat. Padahal aku bisa tahu, jauh di dalam lubuk hatinya.., ia hanyalah gadis lemah yang kesepian.

Aku berjalan tanpa suara, mengikuti Chan Rin yang berjalan menuju halte bus. Gadis itu berjalan dengan gontai. Berkali-kali aku mendengar ia menghembuskan nafas lelah. Ia memikirkan sesuatu. Aku yakin ia masih memikirkan pertemuan kami di sungkyungkwan. Aku bisa melihat sorot matanya memancarkan rasa takut saat itu. Ada apa dengannya? Ia takut hantu? Apa jangan-jangan ia yakin kalau di dunia ini vampire memang nyata? Hah, menarik.

Kreeek.

Sial! Karena tidak fokus, aku malah menginjak kaleng minuman. Kaleng sialan!

“Sehun?” tiba-tiba saja aku melihat Chan Rin berbalik dan menatapku. Dia menghembuskan nafas lega. “Kupikir penguntit. Syukurlah. Aku takut sekali penguntit, saat aku kecil juga…, ehem. Apa yang kau lakukan di sini?” gadis itu kembali pada sikap cool-nya. Aku menyipitkan mataku, perlahan menghampiri gadis berambut panjang lurus itu.

Jadi ia bukan takut pada hantu? Bukan pula pada vampire? Ia takut penguntit? Manusia penguntit? Kenapa?

Jarak kami sekarang sangat dekat. Aku bisa menghirup aroma manis darahnya. Tidak heran mengapa vampire lain menginginkannya. Ia manusia yang memiliki aroma darah yang manis.

Aku menatap lekat-lekat kedua bola mata cokelat Chan Rin yang jernih. Kalau aku membunuhnya sekarang.., kalau aku membuatnya tertabrak truk atau bus.., maka selesai sudah tugasku, bukan? Saat ia mati, ia tidak akan mengingatku lagi. Itu bagus.

Aku sudah memikirkan cara ini jauh-jauh hari. Setelah melihat bagaimana ia rela mengorbankan nyawanya hanya demi seekor anjing, maka ia pasti akan mengorbankan nyawa-nya demi manusia,  bukan?

Aku akan berjalan ke tengah jalan, ia akan mengikutiku, mencoba menghentikanku. Dan di saat ia berada di tengah, aku akan menghilang, ia akan mati tertabrak. Simple.

Aku mulai berjalan ke tengah jalan. Lalu lintas di jalan ini termasuk cepat. Berbagai mobil lalu lalang dengan kecepatan tinggi di jalan ini.

“YAH!!! OH SE HUN!!! APA YANG KAU LAKUKAN????” jerit Chan Rin. Seperti rencanaku, ia mengikutiku.

Chan Rin meraih lenganku dan mencengkramnya dengan erat. “APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MAU MATI?!” bentaknya. Aku menepis tangannya dan terus berjalan ke tengah.

Tin..Tin..Tin..

Berbagai klakson mobil memekakan telinga.

PLAK!

Chan Rin menampar pipiku sekuat tenaga, membuat sudut mulutku berdarah. Telapak tangan Chan Rin juga ikut berdarah. Seketika aku merasa haus. Sial!

Aku tetap memasang wajah datarku, dan terus diam di sana. Menunggu saat yang tepat untuk menghilang. Dari kejauhan, aku bisa mendengar suara truk besar dengan kecepatan tinggi hendak melaju ke arah kami. Sebentar lagi aku akan menghilang. Dan sebentar lagi Chan Rin akan mati.

“Eottokhe??? Bagaimana ini??? Kau kenapa, Sehun~ah? Jangan bunuh diri! Apa yang membuatmu seperti ini??? Eotokhe?” Chan Rin berbicara sendiri. Aku tetap menatap kosong.

Detik berikutnya, tanpa kuduga, Chan Rin berjinjit dan mencium bibirku. Ia melingkarkan lengannya di leherku dan terus mencium bibirku.

Mataku membelalak. Apa yang dilakukan gadis pabo ini?!

“Sehun~ah.., ayo kembali.. kumohon,,,jangan membunuh dirimu sendiri…” gadis bodoh ini masih saja sempat memberiku nasihat. Air matanya terasa asin di lidahku.

TIN…TIN…TIN…

Truk besar itu semakin mendekat, seharusnya sekarang aku menghilang dan meninggalkan Chan Rin sendirian di tengah jalan ini. Tapi, tanpa bisa kukendalikan, aku memeluk Chan Rin dan membawanya menghilang bersamaku.

–          TBC –

Cuap-Cuap dari Azumi :

Annyeong!!! Gomawoooo yang udah ngikutin cerita ini dari awal. Hehehe.

Hayooohhh.., pertanyaan di chapter 1 dan 2 udah mulai terjawab dikit-dikit.

Next, apa yang bakal terjadi pada Chan Rin? Sehun bawa dia ke mana?

Bagaimana hubungan Chan Rin dengan Dae Hyun? Dae Hyun dengan Han Hee? Han Hee dengan Kai? Dan Kai dengan Chan Rin?

*clue*

Dan aku mau kasih bocoran dikit tentang “vampire lain” yang mengincar Chan Rin. Lihat nama-nama support cast FF ini. Apakah ada yang berubah? Wkwkwk. *ketawa evil*

Oke deh.., buat yang penasaran tentang takdir yang menanti Chan Rin, Han Hee, Kai, Dae Hyun, Se Hun, dan Young Jae…. Silakan baca terus FF ini sampai tamat.

Gomawooooooo!!!!!! *bow*

Regards,

Azumi Aozora

10 thoughts on “Moonlight Destiny (Chapter 3)

  1. Cast barunya Wu Zun ya??
    Aku ngrasa kok kaya’nya si Taemin mau ngadu domba sih,,
    Suka bgt sama alurnya, cepet dilanjutin ya eonn🙂

  2. Hehe..mian chingu.., itu support casts nya lupa belum aku edit. nah.., sekarang udah aku edit. hehehe….
    hmmm.., bisa wuzun bisa bukan. setengah bener. hehehe. pasti bingung ya, lihat saja part selanjutnya. hohoho… ^O^
    gomawooooo udah mampir dan kasih comment ^^

  3. tebakan q aj nich ya entah bner ap enggak feeling q sich kek’y chan rin bkal sma kai dan han hee sma daehyun….trus sehun ma young jae gmna tuh q brhrap mrka jg kebagian happy ending kkkkk…..
    itu dibag akhir sehun luluh sma ciuman’y chan rin uuuuhhhh….bkalan ad cinta bersegi-segi nech heeee…..

  4. Sehun ternyata vampire, siapa yg ngincar chanrin selain sehun? Tujuan taemin sebenernya apa sih? Gimana reaksi han hee kalau tau daehyun jadi namjachingunya chanrin? Ternyata orang yg mau dijodohin sma hanhee itu kai
    Sehun juga, haduh kalau bneran chanrin celaka gimana? Dan chanrin nyium sehun buat membuat sehun sadar akan tindakannya 😅
    Sehun mau bawa chanrin kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s