[EXO & B.A.P FF_SUPER FANTASY IDOL(SFI) CH. 4]- 4TH FANTASY

Image

 

 

Author             : Azumi Aozora & Kunang

Main Cast        : Yang Shin Young (Sandy) (OC), Oh Se Ra (OC),  Oh Se Hun (EXO-K), Baek Hyun (EXO-K), Zelo (B.A.P), Kai (EXO-K), Lee Tae Min (SHINee),

Support Cast   : Luhan, Kai, Chanyeol

Length             : sequel

Genre              : Family, romance, life, friendship, business entertainment

Rating              : PG-15

Summary        : Populer grup EXO boleh punya kekuatan super di MV mereka, tapi di dunia nyata ada dua orang yeoja yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa. Kedua yeoja itu adalah Yang Shin Young, (17 tahun) dan Oh Se Ra (16 th). Dari mulai mereka mulai jadi trainee di JTUNE ent ada saja yang selalu mereka ributkan, dan lagi mereka sama-sama menyimpan rahasia. Rahasia kekuatan yang bisa berguna bagi mereka ataupun mencelakakan mereka ….

 

 ~~ Chapter 4 ~~

BY : AZUMI AOZORA

 

==== Oh Se Ra PoV =====

Akhir-akhir ini Se Hun jadi rajin sekali belajar. Aku tidak tahu apa tujuannya. Untuk apa mempelajari “Sejarah”? Ya. Aku menyebut ilmu pengetahuan di bumi sebagai sejarah, karena ilmu –ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini di bumi merupakan ilmu masa lalu bagi planet Mato. Bagaimana tidak, di saat orang-orang Mato sudah sanggup melakukan perjalanan ke berbagai planet di seluruh jagad raya, tapi orang bumi masih mengira-ngira apakah ada makhluk seperti mereka di planet lain. Mereka masih menebak-nebak apakah alien itu ada atau tidak.

Seharusnya, kalau dulu SeHun menghabiskan banyak waktu untuk sekolah dan belajar di planet Mato, dia pasti akan dengan mudah menguasai berbagai ilmu bumi, terutama ilmu pengetahuan alam.

Kenapa Sehun meninggalkan Mato begitu lama?

Mengapa ia jarang pulang ke Mato?

Dan..kenapa dia tega meninggalkanku?

Aku masih menatap Sehun yang asyik membaca di hadapanku sambil meminum bubble tea. Gara-gara pengaruh Sehun dan Luhan, aku juga jadi suka minuman bumi yang satu itu. Rasanya lumayan.

“…. Se Ra… Se Ra.. Oh Se Ra….” Berkali-kali Luhan memanggil namaku sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.

“Eh? Apa yang kau katakan barusan Luhan Oppa?”

Sekilas, Sehun memalingkan wajahnya dari tumpukkan buku dan menatapku tajam. Aku tahu, dia iri karena aku memanggil Luhan dengan embel-embel Oppa, sementara aku hanya memanggilnya Sehun.

Sudah kuputuskan, aku hanya akan memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan eonni ataupun oppa, bila orang itu memang pantas disebut demikian. Bila mereka memiliki kriteria seorang kakak.

Sejauh ini,  member EXO yang memenuhi kriteria untuk kupanggil Oppa adalah SuHo, Kris, Kai, Luhan, Lay, dan Chen.

“Bukannya kau bilang sore ini ada latihan di JTUNE jam 5?” Luhan tersenyum manis.

Aku melirik jam dinding. Pukul 4.50.

Luhan mematikan televisi, lalu meraih kunci mobil yang terselip di sofa. “Biar kuantar..”

“Tidak usah, aku pergi sendiri saja.” Tolakku.

“Tapi nanti kau terlambat sekali, Se Ra ~ ya…”

Justru aku akan terlambat kalau diantar Luhan naik mobil. Aku hanya menggeleng. “Waktu latihannya diundur jadi jam 6.” Kataku berbohong. “Aku siap-siap dulu…” Aku berdiri, tapi Luhan menahan tanganku.

“Di luar masih hujan deras. Biar kuantar saja.” Katanya keras kepala. Senyuman manis khas Luhan masih tersungging di wajahnya.

Aku tersenyum tipis. “Hujan akan berhenti begitu aku keluar dari pintu.” Kataku. Aku melirik jam dinding lagi. 4.55

Aku hanya punya waktu 5 menit untuk sampai ke JTUNE.

Luhan membukakan pintu untukku. “Oh.., hujannya reda…” gumamnya takjub sambil menengadah menatap langit.

“Kubilang juga apa! Hehehe. Aku pergi dulu..” Aku mengangkat sebelah tanganku lalu berjalan pergi. Berjalan dengan kecepatan normal, lalu begitu sudah agak jauh dari rumah, dan yakin Luhan sudah tidak melihatku, aku menambah kecepatan. Cepat….cepat…dan semakin cepat. Tidak ada seorangpun yang menyadari kehadiranku dan gerakan berlari super cepat-ku saking cepatnya.

Kalau naik mobil Luhan.., mungkin aku baru akan tiba di gedung JTUNE pukul setengah 6, tapi kini aku sudah tiba di depan gedung, dan sekarang baru pukul 4.57.

Ya, selain punya kekuatan mengendalikan hujan, aku juga bisa bergerak super cepat.

Aku tidak mau mengambil risiko memakai kekuatanku di dalam gedung ini. Jadi aku pun memutuskan untuk naik lift.

Triiing.

Pintu lift terbuka.

“Oh.., kau Se Ra kan? Yang akan debut bersama Shin Young?” seorang pria bertubuh tegap keluar dari dalam lift dan tersenyum padaku. Sikap Yang Seung Ho padaku sangat berbeda dengan sikap Yang Shin Young alias Sandy!

Aku membungkukkan badanku hormat. “Annyeong, sunbaenim.”

“Semoga sukses latihannya. Fighting!” Seung Ho menepuk pundakku.

Aku mengangguk. “Ne.”

“Oh ya.., semoga kau dan Shin Young bisa menjadi duo yang hebat.” Seungho tersenyum lebar. “Meskipun sikapnya terlihat kasar, tapi sebenarnya dia baik.” Saat menyebut nama adiknya, tatapan matanya jadi melembut. Seungho pun pergi sambil mengangkat sebelah tangannya.

Aku menutup pintu lift sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sehun tidak mungkin menyebut namaku dengan tatapan lembut seperti saat Seungho menyebut nama Sandy kan?!

Seungho kakak yang baik. Tapi Sehun bukan.

==== End of Se Ra PoV ====

******

 

==== Author PoV ======

Sore itu hujan turun dengan deras. Banyak orang yang berteduh di pinggir jalan, termasuk seorang anak laki-laki kecil yang menatap langit dengan kesal. Anak laki-laki itu menggembungkan pipi-nya. Orang-orang di sekitarnya menatap anak itu dengan gemas.

“Hei adik kecil, lucu sekali. Namamu siapa?” tanya seorang mahasiswi cantik dan seksi sambil mencubit kedua pipi anak itu, lalu mencium pipinya.

“Leo.” Jawab anak itu jutek. “Nuna.., kau cantik dan seksi sekali, tapi sayang kau tidak bisa mengubahku. Duuh.., sial! Hujannya tidak mau berhenti! Aku harus segera pergi.”

“Eh??” mahasiswi cantik itu bingung dengan kata-kata anak di hadapannya.

“Aku pergi duluan ya. Dadah Nuna cantik.” Leo melambaikan tangannya dan berlari menerobos hujan. Dia pasti terlambat datang ke rumah Sandy. Mana dia sudah janji akan menjemput gadis itu tepat waktu dan pergi ke ulang tahun si kembar Young Min dan Kwang Min bersama-sama.

“Oh.., hujan-nya berhenti.” Leo tersenyum girang, tapi tiba-tiba ia menghentikkan langkahnya dan memandang berkeliling. Mencari seseorang. “Pasti hujan sialan barusan juga ulah si putri gadungan!”

Leo masih berdiri dan menatap sekelilingnya. Tanpa ia sadari, seorang pria yang memakai mantel hitam, masker, dan topi – sedang menatapnya dengan intens.

Perlahan sosok pria bermantel hitam itu memudar. Tak terlihat.

Leo hendak meneruskan perjalanan-nya, tapi tepat ketika ia membalikkan badan dan melangkah, tiba-tiba saja sebuah papan reklame terjatuh dan meluncur tepat ke atas kepala Leo.

Orang-orang menjerit ketakutan sambil menunjuk papan reklame yang cukup besar itu meluncur dengan cepat dari ketinggian 8 meter.

Tanpa Leo sadari, tubuhnya sudah digendong oleh seseorang yang bergerak sangat cepat.

BRUUUKKKK.

Suara debuman papan reklame yang mengenai jalanan membuat semua orang panik. Mereka mencari-cari anak kecil yang baru saja sedetik yang lalu berdiri tepat di bawah papan reklame itu, tapi detik berikutnya menghilang, dan tahu-tahu sudah berada di depan sebuah kedai kopi yang jaraknya 10 meter dari TKP.

“Kau baik-baik saja?” tanya penyelamat Leo.

“Se Ra? Oh.., kakimu berdarah!” Leo menunjuk betis kiri Se Ra yang mengeluarkan darah cukup banyak.

Se Ra tidak menggubris kata-kata Leo barusan. Dia memegang kedua bahu Leo sambil membungkukkan badannya agar matanya sejajar dengan anak kecil itu.

“Dengar Leo…, jangan beritahu siapapun kalau aku bisa berlari dengan sangat cepat seperti tadi. Arraseo?”

Leo hanya menatap SeRa.

“Kau mengerti, Leo?” tanya SeRa sekali lagi. Tapi Leo tetap terdiam dan hanya menatap Se Ra.

“Rumahmu di mana? Biar temanku mengantarmu ya.” Se Ra mengeluarkan ponselnya dan berbicara di telepon. “Luhan Oppa. Kau bisa datang kemari? Ya.., masih di daerah ini. Maaf tadi aku tiba-tiba pergi. Bisakah Oppa segera kemari? Oh.., tolong belikan permen dan cokelat…” Se Ra melirik Leo, lalu ia membalikkan badannya dan kembali berbicara di telepon tapi dengan suara sangat pelan. “Ada anak kecil yang sepertinya trauma karena kecelakaan. Aku ingin kau mengantar anak itu sampai ke rumahnya. Oke, Oppa, kutunggu. Gomawo…” Se Ra mematikan ponsel-nya, tapi ia terkejut begitu menyadari Leo sudah pergi.

Triing.

Ada message dari nomor tak dikenal.

Nuna, gomawo sudah menyelamatkanku. Aku pulang duluan. (Leo)

Se Ra mengerutkan keningnya. Leo?

=== End of Author PoV ===

 

*****

====== Se Ra PoV ======

Leo? Tahu dari mana nomor-ku? Apakah dia sebenarnya adik salah satu teman-ku? atau adik temannya Sehun? Tapi siapa? Teman Sehun yang mengetahui nomorku hanya sedikit. Teman-teman sekolahku juga.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aneh.

Sore tadi mood-ku benar-benar jelek. Aku dan Luhan menunggu Sehun di tempat nongkrong favorit kami. Sebuah café yang menyediakan aneka rasa buble tea yang paling enak.

Café-nya sangat cozy dan private. Tidak perlu menyamar bila datang ke café ini, karena café ini menyediakan ruangan-ruangan private untuk tiap customer.

Aku dan Luhan sudah menunggu selama 1 jam, tapi Sehun belum datang juga, padahal dia yang menelepon kami dan mengajak janjian di café ini untuk membeli buble tea. Luhan bilang…, mungkin Sehun sedang bersama Candy. Siapa juga sih Candy-Candy ini?!

Karena bosan menunggu, aku pun meminta izin Luhan untuk pergi ke luar sebentar dan menikmati hujan yang kuciptakan. Tapi tentu saja Luhan sama sekali tidak tahu kekuatanku. Tidak boleh ada satu manusia-pun yang mengetahui kekuatanku. Kekuatanku mengendalikan hujan sih tidak perlu dikhawatirkan, karena hujan bisa turun setiap saat dan tidak akan ada orang yang curiga.

Aku hanya perlu berhati-hati menyembunyikan kekuatanku yang satu lagi. Kekuatan bergerak super cepat.

Saat keluar dari café itulah, sekilas aku melihat Lee Tae Min yang memakai mantel hitam. Meskipun ia melakukan penyamaran dengan memakai masker dan topi, tetap saja aku bisa mengenalinya.

Lee Tae Min tidak melihatku. Ia melihat ke depan…, ke arah seorang anak laki-laki kecil. Leo??? Anak aneh yang kutemui di restoran Jepang waktu itu???

Lee Tae Min menghilang. Entah karena ia menggunakan kekuatan invisible-nya, entah karena memang sudah pergi dari tempat ia berdiri tadi.

Leo tampak kebingungan dan seperti mencari-cari seseorang. Apakah ia kehilangan ibunya? Atau kakak-nya?

Aku tadi sengaja segera menghentikan hujan begitu melihat Leo berlari hujan-hujanan. Kasihan. Anak kecil itu bisa sakit kalau hujan-hujanan. Tapi setelah hujan berhenti, anak itu malah diam dan memandang berkeliling.

Detik berikutnya, hal yang mengerikan tiba-tiba saja terjadi. Sebuah papan reklame besar tiba-tiba terjatuh, dan sialnya Leo tepat berada di bawah papan reklame itu.

Tanpa pikir panjang, aku pun segera berlari dengan sangat cepat dan menggendong Leo menjauh.

Leo…..

Bukankah ada hal yang aneh dengan anak itu?

Aku merasa anak itu tidak seperti anak kecil kebanyakan.

“Kau melamun apa?” tanya Luhan lembut sambil terus menyetir.

Aku menggeleng.

“Kau yakin tidak mau ke rumah sakit?” Luhan melirik betis-ku yang masih mengeluarkan darah. Aku sudah membalutnya dengan perban, tapi darah masih terus merembes.

“Tidak usah. Lukanya sudah berhenti kok.” Kataku berbohong.

Luhan melirikku. Tak yakin.

Begitu sampai di rumah, SeHun langsung menyambutku. “Kata Luhan kakimu berdarah.” SeHun menatapku cemas.

Aku mendorong tubuh Sehun agar tidak menghalangi jalan, lalu segera berjalan ke kamarku dengan sedikit terpincang-pincang. Sial! sepertinya saat berlari untuk menggendong Leo tadi kaki-ku terkilir dan terkena benda tajam.

Sehun mengikutiku masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu. “Biar kuobati..” katanya sambil berjongkok.

“Tidak perlu. Keluarlah…” kataku dingin. Tapi Sehun tetap keras kepala. Dia meraih kaki-ku dan meletakkannya di atas sebelah paha-nya.

Perlahan, Sehun membuka perban di betis-ku, lalu menyentuh luka di betis-ku dengan hati-hati. Dalam sekejap, luka itu menutup. Kulitku juga kembali mulus. Tidak terdapat bekas sayatan sedikitpun. Pergelangan kaki-ku juga jadi tidak terasa sakit lagi setelah disentuh Sehun.

Sehun menegadah dan menatapku sambil tersenyum hangat. “Istirahatlah. Luhan akan curiga bila kau turun sekarang.” Sehun membaringkan tubuhku di tempat tidur dengan hati-hati, lalu menarik selimut menutupi tubuhku.

Sesaat, hanya sesaat saja…, aku merasa Sehun adalah kakak yang baik.

Tapi…, kakak yang baik tentu tidak akan pernah meninggalkan adik-nya sendirian, bukan?

Kenapa dulu Sehun meninggalkanku bersama Paman?

Kenapa dia pergi ke bumi sendirian?

Sehun mengelus puncak kepalaku. “Tidurlah…” katanya lembut. Sehun mengecup kening-ku, lalu keluar dari dalam kamar.

********

 

Keesokan harinya….

Hari ini hari minggu, jadi aku sengaja bangun siang. Setiap hari juga aku bangun 15 menit sebelum bel masuk sekolah. Dengan kekuatan-ku, aku bisa bergerak super cepat, dan bisa tiba di sekolah tepat waktu.

Sepertinya sekarang sudah tengah hari. Tumben sekali Sehun tidak membangunkanku. Mungkin dia sedang latihan untuk live performance bersama EXO nanti malam.

Aku bangun dari tempat tidur tanpa merapikan selimut, dan sekilas melirik cermin – tidak peduli dengan rambutku yang acak-acakkan.

Begitu aku keluar dari kamar dan menuruni undakan tangga pertama, barulah aku sadar, semua member EXO ada di sini!

Luhan dan SuHo yang sedang duduk di sofa sambil main PS langsung melihat ke arah-ku dan tersenyum lebar. D.O, Chen, Xiumin, Tao, SeHun, dan Lay tampak sibuk menata banyak makanan di meja makan, sementara Baekhyun dan Chanyeol sibuk mencuri makanan!

Kris keluar dari dapur sambil membawa seloyang cheesecake ukuran jumbo.

Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan penampilanku yang berantakkan saat ini, dan tidak keberatan ke-11 cowok itu melihatku. Tapi begitu Kai tiba-tiba saja keluar dari dalam kamar Sehun sambil menenteng sebuah kado berukuran besar dengan hiasan pita pink di atasnya, rasanya aku ingin menutupi wajahku dengan helm Sehun!

“Oh.., kau sudah bangun? Selamat ulang tahun yang ke-16 Sera..” Kai mengulurkan tangannya. Aku balas menjabat tangannya dengan bingung. Kai menyerahkan kado dengan pita pink itu padaku.

Aku? Ulang tahun? Memangnya sekarang tanggal berapa?

Tiba-tiba saja Sehun menghampiriku dan memelukku dengan erat. “Happy birth day my lovely sister.” Sehun mengecup kedua pipi-ku, lalu dia berbisik. “Kau pasti lupa kalau perputaran planet bumi jauh lebih cepat daripada Mato.” Sehun tersenyum.

“Waaahhhh…, selamat ulang tahun SeRa!!!!” Baek Hyun dan Chan yeol nyengir lebar sambil mengayun-ayunkan kedua tanganku. Baekhyun di kanan, dan Chanyeol di kiri.

Satu per satu member EXO memberiku ucapan selamat dan memberiku banyak kado. Kris – yang sudah menaruh lilin di atas cheesecake memintaku meniup ke-16 lilin itu. Semua orang bertepuk tangan riuh.

“Sehun bilang kalau hari minggu kau baru akan bangun diatas pukul 12, tapi sekarang baru pukul 11 ,,,dan kau sudah bangun. Kami jadi belum selesai menyiapkan pesta makan-makan.” Luhan menghampiriku sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum. “Aku kacau sekali kan?”

Luhan memegang dagu-nya dan mengamatiku dari atas sampai bawah. “Hmmmm…, aku pernah melihatmu jauh lebih kacau daripada sekarang.”

“YAAA!!!” Aku memukul lengan Luhan pelan. Luhan terbahak-bahak.

“Bagaimana kakimu?” tanya Luhan.

“Eh? Tidak apa-apa….sudah baikan…”

Tiba-tiba saja Chanyeol merangkul pundak Luhan dari belakang. “YAAAA!! Luhan!!! Kau akhirnya senang karena ada Sehun versi cewek kan?! Hahahaha…, Sehun, sepertinya Luhan mengkhianatimu! Hahahaha.”

“Aku bukan gay!” tukas Luhan. Chanyeol terbahak-bahak.

Tanpa kusadari, sejak aku mengobrol bersama Luhan tadi, Baekhyun dan Kai memperhatikanku.

“Aku mandi dulu.” Cepat-cepat aku melarikan diri ke lantai-2.

Duh! Sial sekali! Kenapa Kai harus melihatku dalam keadaan jelek seperti ini?! Dan kenapa juga dengan si byuntae Byun Baek Hyun yang biasanya bawel bareng Chanyeol tiba-tiba saja jadi pendiam dan tidak ikut-ikutan menggangguku dan Luhan!

 

@Gedung stasiun TV populer. 17.00 KST

Tanpa diminta melihat live performance EXO-K dan EXO-M secara live pun aku pasti akan datang dan menonton.

Tadi siang….aku benar-benar tidak menyangka mereka sengaja datang ke rumah dan memberiku banyak hadiah, makanan lezat, dan yang paling surprise adalah semua itu ide Sehun.

Kupikir Sehun tidak ingat ulang tahunku. Aku sendiri tidak ingat. Waktu di bumi lebih cepat 15 hari dibanding waktu bumi.

Selama aku tinggal di planet Mato sementara Sehun di bumi, Sehun tidak pernah sekalipun datang ke Mato untuk memberiku kado ulang tahun. Kupikir selama ini dia lupa, tapi ternyata dia ingat. Kalau begitu, kenapa selama ini dia tidak pernah datang ke Mato dan merayakan ulang tahunku di Mato?

Kenapa Sehun terlihat sangat membenci planet asal kami?

Kenapa dia lebih memilih tinggal di bumi?

Kenapa dia meninggalkanku bersama Paman? Membuatku terkurung di istana?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otak-ku dan belum terjawab hingga kini. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuatku datang ke bumi.

Aku duduk di area VIP. Area yang hanya diisi oleh para artis dan undangan. Tempat duduk di area VIP mengelilingi sebuah meja bundar dengan taplak putih.

Acara music special yang diadakan oleh salah satu stasiun TV paling populer di Korea ini dihadiri oleh banyak sekali idol. Sayangnya aku tidak hafal idol-idol di bumi.

“Kau datang juga?” tanya sebuah suara angkuh.

Ketika menoleh, mood-ku langsung berubah jelek seketika. “Kau juga datang, Sandy?”

Sandy terlihat tidak suka karena aku menggunakan banmal padanya, dan sepertinya dia sangat ingin membuatku memanggilnya “eonni”. Huh, jangan harap!

“Tentu saja. Aku datang untuk melihat Oppa-ku dan sahabatku.” Sandy duduk di sampingku. Kenapa dia harus duduk di sampingku sih?!

Aku menatap Sandy sinis. Sandy mengibas-ngibaskan kartu undangan berisi nomor tempat duduk-nya. Sial!

“Waaahhh.., untung aku tidak terlambat melihat Zelo!!!” pekik Sandy riang sambil tersenyum lebar. Sesaat, dia tidak terlihat seperti Sandy yang biasanya.

B.A.P tampil membawakan lagu No Mercy dan dan Crash. Sandy tak henti-hentinya berteriak seperti ribuan fangirls yang ada di belakang kami.

Si cowok pirang, Zelo, ternyata lumayan juga. Kupikir dia hanya pengikut Sandy, tapi ternyata dia punya skill dance yang bagus juga.

Setelah B.A.P…. giliran EXO tampil. Aku tidak sabar ingin segera melihat penampilan langsung ke-12 cowok itu. Ini pertama kalinya aku melihat mereka secara live.

EXO membawakan lagu Mama dan History. Perpaduan antara EXO-K yang membawakan lagu berbahasa Korea, dengan EXO-M yang berbahasa mandarin sangat luar biasa. Dance dan vokal mereka juga sangat powerfull. Aku tidak menyangka si bawel Byun Baek Hyun akan terlihat cool saat menyanyi. Kai sih…sudah pasti sangat keren. Sementara Sehun…, yaaa…, tetap Sehun.

Penyanyi-penyanyi yang sudah tampil, duduk di kursi VIP bersama tamu undangan. Zelo duduk di samping Sandy. Tak lama, EXO datang dan duduk di meja di belakang kami.

“Bagaimana?” Luhan membungkuk dan berbisik di belakang telingaku sebelum dia duduk di kursi-nya.

Aku membalikkan badan sambil mengangkat kedua jempol. Luhan tersenyum lebar. Lagi-lagi…, Kai dan Baekhyun memperhatikan kami. Kai hanya tersenyum tipis. Sementara Baekhyun hanya diam.

Aku kembali menatap panggung, karena kini giliran SHINee yang tampil. Lee Tae Min memang lebih cocok menjadi idol daripada menjadi calon raja. Sampai saat ini..aku juga masih bingung mengapa TaeMin tidak pernah kembali ke Mato. Aku tahu dia sangat membenci Pamanku yang menjadi ayah tiri-nya, tapi tetap saja…, dia kan Pangeran di Planet Mato. Tidak semestinya dia menghilang begitu lama.

Setelah SHINee selesai membawakan 2 buah lagu, ternyata Tae Min dan Min Ho masih ada di panggung. Tae Min duduk di depan sebuah grand piano putih, sementara di sebrangnya Min Ho duduk di depan grand piano hitam. Perlahan sebuah nada lembut terdengar….

Tae Min menyanyikan lagu Julliette sambil bermain piano. Para fans tak henti-hentinya berteriak histeris.

Tak lama Jonghyun muncul dan ikut bernyanyi Juga. Begitupula dengan Key dan Onew yang datang kemudian.

Min Ho masih terus mengiringi lagu dengan piano, sementara Tae Min turun dari panggung sambil membawa seuntai kalung yang terbuat dari bunga-bunga white rose segar.

Tanpa kusangka, Tae Min berjalan ke arah-ku. Penonton berteriak semakin keras. Tae Min mengalungkan kalung bunga itu padaku dan menarik tanganku. Memaksaku berdiri dan mengikutinya berjalan kembali ke panggung.

Key, Onew, dan Jonghyun masih terus bernyanyi lagu Julliete sambil diiringi permainan piano Min Ho.

Aku berdiri di atas panggung sambil menatap tajam Tae Min yang ada di sampingku. Tae Min bernyanyi sambil tersenyum padaku. Apa-apaan sih dia! Dia ingin membuatku dibenci oleh semua murid cewek di sekolah-ku besok ya?! Semua cewek fans SHINee pasti akan membenciku!

Ketika lagu berakhir, Tae Min memelukku dan berbisik. “Happy Birth day, Princess.”

Penonton menjerit keras sekali. Aku rela menukar posisiku sekarang dengan para fans SHINee.

Aku tidak begitu menyukai Lee Tae Min sejak dulu. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik wajah innocent-nya.

Kai dan Baekhyun menatapku dan Tae Min tajam. Kali ini.., Luhan juga ikut-ikutan menatapku dengan tajam.

Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Luhan dan Baekhyun. Tapi…aku tidak ingin Kai mengira ada sesuatu yang spesial antara aku dan Tae Min!

********

 

Setelah acara musik selesai, para tamu undangan diperbolehkan ikut makan-makan bersama para artis di ballroom lantai paling atas. Sebenarnya aku tidak terlalu suka makan-makan, apalagi makanan bumi tidak seenak makanan di Mato, tapi aku harus ikut untuk menghormati penyelenggara acara yang telah memberiku undangan.

Aku sengaja ke toilet dulu sebelum naik ke lantai teratas gedung. Berlama-lama menatap cermin. Aaarrggghhhh…, pasti besok di sekolah semua fans SHINee membenciku!

Aku tidak terlalu pandai berdandan, tapi aku harus berdandan. Bukan karena aku suka berdandan, tapi ….aku ingin kali ini Kai melihat penampilanku yang cantik dan rapi, tidak seperti tadi siang saat aku baru bangun tidur.

Setelah kira-kira 20 menit berdandan, akhirnya aku keluar dari dalam toilet. Benar-benar rekor! Seumur hidup aku tidak pernah menghabiskan waktu selama ini hanya untuk berdandan!

Lift kosong. Aku pun masuk.

“Tunggu!!!” seseorang berlari menuju lift, dan menahan pintu lift yang hampir tertutup.

Aku menatap Zelo yang memakai jas hitam modis. Zelo menatapku datar, lalu menekan tombol sehingga pintu lift menutup.

“Apakah kakimu baik-baik saja?” tanya Zelo.

Aku menatap namja pirang itu. Aneh. Kenapa dia menanyakan kaki-ku?

Tiba-tiba saja lift bergetar pelan, lampu lift berkedap-kedip, lalu mati. Gelap.

“Kenapa dengan alat ini?” tukasku kesal. Tanpa sadar menyebut lift dengan alat ini. Di Mato, lift tidak dinamai lift.

“Kau punya senter? Kenapa lift-nya tiba-tiba berhenti dan jadi gelap?” tanyaku pada Zelo.

Bumi payah sekali sih! Kenapa hal sepele seperti ini bisa terjadi?!

Zelo hanya terdiam. Sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Bahkan dalam gelap aku tidak tahu dia berdiri di sebelah mana.

“Zelo..Zelo…” panggilku. Takut kalau-kalau dia pingsan karena ketakutan.

Tak lama lampu lift kembali menyala, dan lift pun kembali bergerak ke atas.

Aku hanya bisa terbelalak kaget melihat Leo kini berdiri di hadapanku. Ya,,, Leo. Anak aneh yang kutemui di restoran Jepang. Anak aneh yang terakhir kutemui saat hendak tertimpa papan reklame.

Leo berdiri dengan jas hitam yang sangat kedodoran. Dia hanya menatapku.

Kenapa Leo tiba-tiba ada di sini? Kenapa Zelo menghilang? Kenapa Leo memakai jas yang barusan Zelo pakai?

Triiing..

Pintu lift terbuka.

“Zelo….” Sandy yang berdiri di depan pintu lift membelalak kaget, lalu cepat-cepat menutup mulut-nya.

Aku menatap Sandy dan Leo bergantian. Kemudian menyadari sesuatu……

Zelo itu Leo. Leo itu Zelo.

Tapi bagaimana bisa?

 

–          TBC –

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s