[EXO & B.A.P FF_SUPER FANTASY IDOL(SFI) CH. 14]- 14TH FANTASY (END)

Image

Author             : Azumi Aozora & Kunang

Main Cast        : Yang Shin Young (Sandy) (OC), Oh Sera (OC),  Oh Se Hun (EXO-K), Baek Hyun (EXO-K), Zelo (B.A.P), Lee Tae Min (SHINee),

Support Cast    : D.O (EXO-K)

Length             : sequel

Genre              : Family, romance, life, friendship, fantasy, business entertainment

Rating              : PG-15

Summary        : Populer grup EXO boleh punya kekuatan super di MV mereka, tapi di dunia nyata ada dua orang yeoja yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa. Kedua yeoja itu adalah Yang Shin Young, (17 tahun) dan Oh Sera (16 th). Dari mulai mereka mulai jadi trainee di JTUNE ent ada saja yang selalu mereka ributkan, dan lagi mereka sama-sama menyimpan rahasia. Rahasia kekuatan yang bisa berguna bagi mereka ataupun mencelakakan mereka ….

 

~~Chapter 14~~

 BY : AZUMI AOZORA

==== Oh Se Ra’s PoV ====

Aku melirik jam dinding. Sudah hampir pukul setengah 5 dini hari, tapi Sehun belum juga kembali. Begitupula dengan Zelo dan Sandy.

Aku berjalan mondar-mandir di teras depan villa sambil menyilangkan tangan di depan dada. Tidak memedulikan udara dingin yang menggigiti kulitku.

Aku merasa sedikit bersalah pada Sehun karena sudah ikut campur masalah ia dan Sandy. Tapi.., sungguh, aku melakukan semua itu demi Sehun. Aku tidak membenci Sandy. Aku menyayanginya, tapi tidak sebesar rasa sayangku pada kakakku. Aku hanya ingin kakakku bahagia.

Ketika Zelo memperlihatkan penglihatan masa depan padaku…, tentu saja aku ingin agar Zelo dan Sehun sama-sama bahagia. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin Sehun-lah yang bahagia.

“Oh.., Oppa!!!!” aku melihat Sehun berjalan dari kejauhan. “Oppa, kau baik-baik saja?” tanyaku sambil menatap Sehun lekat-lekat. Sehun terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya terlihat lelah, tapi ia tetap tersenyum sambil memandangku.

“Oh Se Ra! Coba kau bukan adik kandungku.” Kata Sehun.

“Heoh?? Oppa!! Kau kenapa?? Kau tidak sakit kan?” tanyaku heran. Kenapa Sehun Oppa tiba-tiba mengharapkan hal yang mustahil?!

“Hhahahahha aku hanya bercanda, dan aku baik-baik saja, ayo ke dalam” Sehun merangkulku dan membimbingku masuk ke dalam villa.

“Oppa.., tanganmu dingin sekali.” Kataku sambil meraba lengan Sehun yang sedingin es. Aku memegang pipi dan keningnya yang juga sama-sama dingin.

Tanpa kuduga, Sehun memelukku dengan erat. “Aku kedinginan.” Katanya sambil merajuk seperti anak kecil.

Aku terkikik geli, lalu balas memeluknya sambil menggosok-gosok punggungnya agar tidak kedinginan.

Hhhh.., aku tahu.., semua ini pasti berat bagi Sehun. Gadis yang selama ini ia cintai.., ternyata malah mencintai orang lain. Padahal.., demi gadis itu.., Sehun mengorbankan kehidupan nyaman-nya di Mato. Demi gadis itu.., Sehun meninggalkanku.

Tapi.., bagaimanapun juga.., aku tidak bisa menyalahkan Sandy dan Zelo. Karena pada akhirnya.., kita tidak bisa memilih cinta. Cintalah yang memilih kita.

“Jangan sedih, Oppa. Kau pasti akan bertemu dengan gadis yang benar-benar mencintaimu.”

“Apakah kau mencintaiku, Oh Se Ra?” Sehun melepas pelukannya dan menatapku tajam sambil mengulum senyum.

Aku mengangguk. “Hmm. Tentu saja. Oppa selalu jadi nomor 1 bagiku.”

Sehun tertawa lalu mengacak-acak rambutku. “Kau juga nomor 1 bagiku, Sera~ya.” Sehun tampak berpikir sejenak. “Bagaimana kalau kita kencan?”

“Mwo?” aku membelalakkan mataku lebar-lebar.

“Kencan. Kita kencan seharian ini. Sudah lama kita tidak bermain bersama kan? Sudah lama kita tidak kencan, Sera~ya..”

Aku mendecakkan lidahku. “Oh Se Hun, aku tidak mau kencan dengan pria yang memiliki wajah mirip denganku.Rasanya seperti kencan dengan diri sendiri! Hahahaha.”

“Ya sudah. Apa sebaiknya aku kencan dengan Luhan hyung saja?” Sehun pura-pura cemberut.

“YAAAAA!!!” bentakku. “Aku tidak mau punya kakak gay!”

Sehun tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. “Huwaahahaha…hahaha….hahaha…”

“Hahaha…hahaha….hahaha…” lama kelamaan tawa Sehun jadi aneh. Tawa-nya berhenti. Ia menggigit bibir-nya. Tubuhnya bergetar. Air mata mengalir deras membasahi wajah tampannya.

“Oppa.” Aku memeluk Sehun lagi. Kali ini lebih erat. “Uljima, Sehun Oppa.”

Sehun menangis di pundakku. Kali ini aku membiarkannya. Aku hanya terus menggosok-gosok punggungnya dengan lembut.

Sehun Oppa, aku akan selalu ada untukmu.

==== End of Se Ra PoV ====

 

 

===== Se Hun PoV =====

Cahaya matahari membuat mataku silau. Perlahan aku membuka kelopak mataku yang terasa berat. Sepertinya aku tertidur setelah menangis dini hari tadi. Dengkuran halus terdengar di sampingku. Aku tersenyum melihat adikku yang tertidur nyenyak.

Aku mengelus pipi halus Se Ra perlahan dan hati-hati, takut membuatnya terbangun. “Gomawo Se Ra~ya.., sejak dulu.., kau selalu ada untukku.” Bisikku. “Mianhae…, mianhae karena aku selalu membuatmu sedih, Se Ra~ya…, mulai saat ini dan seterusnya aku tidak akan membuatmu sedih lagi.”

Aku melirik jam dinding. Pukul 1 siang.

Kruyuuuuukkk…, perutku keroncongan. Aku terkekeh pelan.

“Oppa. Kau sudah bangun?” Se Ra menggeliat sambil menguap lebar. “Hoaaahhhmmm.., aku masih ngantuk.” Se Ra membalikkan tubuhnya, memeluk guling.

Aku mengguncang-guncang tubuh Se Ra. “Se Ra, aku lapar.”

Se Ra membalikkan tubuhnya, menghadapku. “Kau tau kan kalau aku tidak bisa memasak?!”

“Kita makan di luar. Kita makan sepuasnya. Bermain sepuasnya. Bagaimana?” tawarku.

“Aku masih ngantuk…” jawab Se Ra malas-malasan.

Tanpa pikir panjang lagi, aku menggendong Se Ra dengan posisi menyamping.

“YAAAA!! OPPA!!! Apa yang kau lakukan?” pekik Se Ra.

Aku menggendongnya ke kamar mandi dan membaringkannya di dalam bath-tub. “Cepat mandi, lalu kita makan.” Aku mengedipkan sebelah mataku, lalu menutup pintu kamar mandi. Meninggalkan Se Ra di dalamnya.

Aku keluar dari dalam kamarku dan tak sengaja berpapasan dengan Baekhyun hyung. “Se Hun.., kau sudah bangun? Se Ra sudah bangun?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Se Ra sedang mandi.”

Entah hanya perasaanku saja atau memang pada kenyataannya tiba-tiba saja wajah Baekhyun hyung menjadi merah. Aku berdecak. Apa yang ada di otak-nya?!

“Hyung,,, kau menyukai Se Ra?” tanyaku to the point.

Baekhyun terkejut. Dia tergagap. “A-ani! Tidak.” Katanya cepat-cepat.

Aku menyipitkan mataku. Sejak dulu…, bila menyangkut masalah namja-namja yang mendekati adikku, aku selalu protektif. Aku bahkan tidak segan-segan menonjok dan memukul namja-namja yang mencuri-curi kesempatan pada Se Ra.

“Kau bohong, hyung.” Kataku.

Baekhyun membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi.

Aku segera pergi ke kamar mandi dekat ruang tengah. Meninggalkan Baekhyun hyung yang kebingungan.

 

Hari ini kami bebas. Tidak perlu membawa kamera ke manapun kami pergi. Aku memanfaatkan momen ini dengan bermain seharian bersama Se Ra. Menikmati setiap detik kebahagiaan bersama Oh Se Ra, orang yang paling mencintaiku di seluruh jagad raya ini. Oh Se Ra.., adikku yang telah ku-korbankan demi ego-ku.

Aku tidak akan pernah meminta waktu berputar kembali ke masa lalu. Aku tidak pernah menyesal mengenal Candy, gadis yang begitu luar biasa.  Aku hanya ingin menikmati hari ini dan masa depan dengan rasa bahagia. Karena aku percaya.., segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa sebuah makna.

=== End of Sehun PoV ===

 

 

===== Se Ra PoV ======

22.00 KST, @Kamarku dan Sandy

Aku mengamati Sandy yang masih asyik chatting lewat ponselnya. Tanpa perlu bertanya, aku sudah tahu dengan siapa dia chatting. Tentu saja dengan Zelo!

Yang aku heran adalah.., kenapa mereka harus susah payah chatting lewat benda bumi yang dinamai ponsel itu padahal mereka kan tinggal melakukan telepati saja!

Diam-diam aku berdiri di belakang Sandy dan mengintip apa yang sedang ia ketik. Ia mengirim sebuah sticker line bergambar beruang dan kelinci yang sedang berpelukan.

“Cheesy.” Dengusku.

“Oh Se Ra!” Sandy terkejut dan cepat-cepat menaruh ponselnya di atas meja.

Aku mengangkat bahu dan kembali berbaring di atas tempat tidurku. “Kau beruntung karena cinta pertama-mu juga menjadi cinta sejatimu.” Kataku tiba-tiba pada Sandy.

Sandy tersenyum. “Cinta sejati lebih penting daripada cinta pertama. Cinta sejati-ku bukan cinta pertama-ku.” Sandy mengedipkan sebelah matanya.

“Mwo?” aku terkejut. “Kupikir… Zelo… dia..”

Sandy menggeleng. “Its secret. Kau tidak boleh bilang pada siapapun.”

Meskipun aku penasaran dan sepertinya bisa menebak, tapi aku tidak mengorek lebih jauh mengenai cinta pertama Sandy. Benar.., cinta sejati lebih penting dibandingkan cinta pertama.

“Tapi setidaknya kau beruntung karena pacarmu dan sahabatmu adalah orang yang sama. Tidak ada yang lebih mengenal kita selain sahabat kita.” kataku sambil menerawang.

“Se Ra.., mianhae…, karena aku, Oppa-mu…”

“Bukan salahmu, Sandy eonni.” Potongku. “Bukan salah siapa-siapa.” Aku menatap wajah Sandy lekat-lekat. “Justru aku berterima kasih padamu, karena… sekarang kau sudah bisa memilih antara Zelo dan Sehun Oppa.” Aku tersenyum tipis. “Seandainya sampai sekarang kau belum bisa memilih.., maka apa yang Zelo lihat di masa depan akan jadi kenyataan.” Aku mengingat apa yang Zelo lihat di masa depan tentang Zelo-Sandy-Sehun. Yang Zelo lihat di masa depan….Sehun dan Zelo sama-sama tidak bahagia. Itu karena pada saat Zelo mendapat penglihatan itu Sandy masih belum bisa memutuskan siapa yang ia cintai diantara mereka berdua. Ia “menggantungkan” mereka berdua.

Sandy balas tersenyum. Ia berbaring di sampingku dan menatap langit-langit kamar kami yang dihiasi glow in the dark berbentuk bintang dan bulan.

“Lalu.., bagaimana denganmu, Se Ra? Kau sudah bisa memilih?”

Aku mendengus. “Aku bukan orang yang plin-plan sepertimu, eonni!” tukasku. “Sejak dulu.., aku sudah tahu siapa pilihanku.” Kataku pelan.

“Siapa?” tanya Sandy penasaran.

“Ra-ha-si-a.” aku menjulurkan lidahku. Sandy memukulku dengan bantal. Aku hanya tertawa.

“Hhhh.., eonni…, seandainya aku beruntung…, Seandainya cinta pertamaku, sahabatku, cinta sejatiku adalah orang yang sama….”

“Jangan bilang cinta pertama-mu itu Kai?!” kata Sandy.

Aku tertawa. “Bukan. Tentu saja bukan. Kai.., hanya mengingatkanku pada orang itu. Sikap gentle Kai.., mirip dengan orang itu. Tapi itu dulu, sebelum orang itu berubah. Sebelum ia menjauhiku…”

Sandy menatapku lekat-lekat. Aku tahu.., sekarang dia sedang menebak-nebak siapa orang yang kumaksud.

Aku tahu siapa yang kupilih sejak dulu. Tapi.., aku tidak tahu.. apakah orang itu juga mencintaiku? Ataukah hanya memanfaatkanku?

****

 

 

Keesokan paginya, @ruang makan…

Selama makan, kami semua hanya diam. Hening. Aku duduk di antara Sehun dan Taemin. Di depan Sehun ada Zelo. Di depanku Sandy, dan di depan Taemin ada Baekhyun.

Zelo : Sekarang aku memang tidak bisa membaca pikiranmu, tapi dari wajahmu… aku tahu kau sedang sedih.

Aku melirik Zelo. Sudah lama ia tidak melakukan telepati padaku. Zelo tersenyum tipis.

Aku : Aku masih memikirkan penglihatanmu mengenai masa depan… yang kau tunjukkan padaku waktu itu. Mengenai Taemin dan Baekhyun. Mengapa kau bisa melihat aku bisa sama-sama bahagia dengan salah satu dari mereka? Padahal aku tahu salah satu dari mereka tidak mencintaiku.

Zelo : Bagaimana kau bisa tahu? Memangnya kau pernah bertanya langsung padanya?

Aku menatap Zelo lagi. Dia mengangkat kedua bahunya.

Zelo : Sejak dulu aku tahu siapa orang yang kau cintai Se Ra~ya.., selain Sehun. Tentu saja kau mencintainya karena dia kakak kandung-mu. Maksudku pria selain Sehun.

Aku : Kau yakin kekuatan membaca pikiranmu sudah hilang? Kenapa tadi rasanya kau seperti membaca apa yang sedang kupikirkan?!

Zelo : Hahahaha. Kau lupa ya kalau aku sudah mengenalmu sejak kau masih pakai popok? Hahahaha. Aku bisa membaca-nya lewat ekspresi wajahmu.

Aku : Tidak adil! Aku tidak bisa membaca ekspresi wajah-mu.

Zelo : Seandainya saja aku masih memiliki crystal of life.., akan kutunjukkan padamu apa yang terjadi di istana waktu itu. Apa yang orang itu lakukan dan pikirkan ketika kau meninggal. Yah.., tapi aku bersyukur bisa terbebas dari benda luar biasa tapi menyebalkan itu! Hahaha.

Aku menatap Zelo tajam. Zelo balas menatapku tajam sambil berusaha menahan senyum.

“Kalian bertengkar lewat telepati ya?” tiba-tiba Sandy berkata sambil melihat kami bergantian. Meskipun Sandy tidak bilang bahwa ia jealous, tapi dari tatapan matanya aku tahu Sandy jealous.

Aku hanya menjulurkan lidahku pada Sandy. Tanpa kusadari, sejak tadi ada 2 pasang mata yang terus memperhatikanku.

*****

 

*Flashback*

@Istana Mato

“Kau akan pergi ke bumi? Kau akan meninggalkanku juga sama seperti Sehun, Taeminnie?” tanyaku pada Lee Tae Min yang sejak tadi menghindari tatapanku.

“Aku harus pergi.” Jawab Tae Min dingin. “Banyak yang harus kulakukan.” Matanya berubah menjadi merah, lalu kembali jadi cokelat. Di saat Taemin tidak bisa mengontrol emosi-nya, matanya akan berubah menjadi merah darah, dan kekuatannya menjadi lebih berbahaya. Tapi aku tidak takut. Taemin tidak pernah….dan tidak mungkin melukaiku.

“Kau sama saja seperti Sehun!” kataku dingin. “Pergi! Silakan saja kau pergi.” Aku membalikkan badanku dan berjalan keluar dari dalam kamar Tae Min.

“SEMUA INI DEMI DIRIMU, SERA!” bentak Taemin.

Aku mengepalkan tanganku sekuat tenaga, berusaha menahan air mataku. Aku membalikkan badanku dan menatap Tae Min. “Kau berubah. Kau bukan Lee Tae Min yang dulu. Pergi saja. Kau bukan Taemin-ku.”

*End of Flashback*

 

Aku terbangun. Aku memimpikan masa lalu.

Taemin benar-benar pergi ke bumi. Sama seperti Sehun. Taemin tidak pernah kembali ke Mato. Sama seperti Sehun.

Dulu.., Sehun tidak pernah berjanji akan selalu ada di sampingku selamanya. Sebagai kakak, ia hanya berjanji akan menemaniku sampai aku menemukan Pangeran-ku. Tapi dulu.., Taemin berjanji akan selalu ada untukku. Selamanya akan terus bersamaku.

Tapi apa kenyataannya? Dia pergi. Sama seperti Sehun.

Taemin berubah. Ketika aku datang ke bumi dan bertemu dengannya, ia sudah berubah.

Taemin yang dulu.., bukanlah Taemin yang haus kekuasaan.

Taemin yang dulu…, bukanlah Taemin yang pendendam.

Taemin yang dulu…, bukanlah Taemin yang suka mengingkari janji.

Taemin yang dulu…. hanya seorang Pangeran kecil yang mencintaiku.

 

Ketika aku bertemu Tae Min di bumi, aku sadar.., ia tidak mencintaiku seperti dulu. Kemudian aku bertemu Kai. Ia mengingatkanku pada Taemin yang dulu. Sikap-nya. Cara ia memperlakukanku. Tatapan matanya. Semuanya seperti Taemin yang dulu.

Lalu.., kejadian di pantai bersama Baekhyun, saat kami menunggang kuda dan terjatuh, saat Baekhyun menciumku.., aku tahu dia mencintaiku. Saat itu aku berpikir.., mungkin sebaiknya aku bersama Baekhyun saja. Sebaiknya aku bersama dengan orang yang mencintaiku.

Tapi.., di penglihatan masa depan Zelo, yang Zelo perlihatkan padaku.., bagaimana mungkin aku bisa sama-sama bahagia bila aku bersama Baekhyun ataupun Taemin?! Apakah itu artinya Taemin juga mencintaiku?

*****

 

Syuting SIO (Secret Idol Outing) kembali dilakukan. Kami semua berkumpul di ruang tengah yang luas.

“Zelo tiba-tiba harus pulang ke Seoul karena ada acara dengan B.A.P yang tidak bisa dia tinggalkan.” Kata PD-nim.

Kami semua berusaha menahan tawa, sambil melirik Leo. Yap. Sejak tadi malam sampai hari ini Zelo berubah jadi Leo. Tadi malam, saat Zelo sedang berada di dalam kamar mandi, tiba-tiba saja Sandy mematikan lampu kamar mandi, dan otomatis Zelo menyusut menjadi anak kecil. Sampai sekarang pun Sandy tetap membiarkan Zelo bertubuh Leo. Mereka berdua tidak saling bicara. Sepertinya mereka sedang bertengkar.

“Nuna.., aku mau es krim strawberry!!! Huwaaaa…” rengek Leo sambil berguling-guling di atas lantai yang dingin.

Sandy melirik Leo dengan sinis, kemudian kembali memperhatikan apa yang PD-nim katakan.

“Ck..ck..ck.., Sandy, cepat panggil sepupumu dan segera bawa anak ini pulang.” Kata PD-nim.

“Tidak mau! Aku tidak mau pulang! Aku mau es krim!!!” pekik Leo nyaring.

Sandy menutup kupingnya sambil tetap menatap Leo dengan sinis. Hahaha, dasar pasangan baru! Aku berani bertaruh.., pasti mereka meributkan hal yang tidak penting!

Jadi, karena hari ini Zelo tidak ada, kami dibagi menjadi 2 grup. Cara memilihnya simple saja. Gunting-Batu-Kertas. Aku berdoa semoga tidak satu grup dengan Taemin dan Baekhyun.

Do’a-ku terkabul. Aku satu grup dengan Sandy. Sedangkan para cowok berada di grup lainnya. Aku sudah menduga, cowok-cowok itu akan memilih “batu”. Sehun pernah bilang padaku…, pria sejati pasti akan memilih “batu”. Hahaha. Konyol!

Tiap grup berangkat ke lokasi syuting dengan mobil yang terpisah. Karena aku tidak bisa mengemudi, jadi Sandy-lah yang mengemudi. Lokasi syuting-nya berada cukup jauh dari villa kami. PD-nim bilang.., kami harus tiba di gedung galeri seni dengan cepat. Grup yang datang paling cepat akan mendapatkan keuntungan untuk games kami nanti.

Karena Leo tidak mau dititipkan ke salah satu kru, maka terpaksa ia ikut team kami. Selama perjalanan, Sandy terlihat bad mood. Leo (alias Zelo) yang duduk di kursi belakang tak henti-hentinya mengganggu konsentrasi Sandy.

Aku melihat peta yang diberikan PD-nim. Tidak hafal jalan-jalan di bumi. Berkali-kali Sandy menemukan jalan yang salah.

“Sudah kubilang bukan jalan sini!” kata Leo.

“Aku yakin jalan sini! Aku pernah ke Jeju bersama Seung Ho Oppa. Memangnya kau pernah ke Jeju?” kata Sandy sinis.

“Meskipun aku alien, tapi aku sudah banyak berkeliling planet ini!” Kata Leo nyaring. “Pokoknya aku mau es krim strawberry dan lollipop strawberry!” rajuk Leo sambil menggembungkan pipinya.

“Ck..ck..ck..” aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku melihat pasangan baru ini. “Tadi malam sebenarnya kalian kenapa?” tanyaku penasaran. Melirik Sandy dan Leo. Mereka hanya terdiam. “Kenapa kau tiba-tiba mematikan lampu kamar mandi saat Zelo sedang ada di dalam? Kau sengaja membuatnya menjadi Leo ya?” tanyaku pada Sandy.

Wajah Sandy tiba-tiba memerah. “Tidak.” Katanya. Aku tahu dia berbohong.

“Leo.., kau mau nuna cium atau kau yang cium nuna?” kataku pada Leo, tapi tatapanku tertuju pada Sandy.

“YAAA!!! Awas kau Oh Se Ra!!!!” pekik Sandy.

“Hahahaha…” aku hanya terbahak-bahak.

Leo menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Aku lebih suka jadi Leo. Selamanya aku tidak akan berubah jadi Zelo.” Kata Leo sambil menatap punggung Sandy dengan sinis.

“Sudah-sudah.., sebaiknya kita fokus pada games saja. Kita harus segera sampai di gedung Galeri Seni. PD-nim bilang…kita akan mendapatkan amunisi tambahan untuk senjata kita bila kita tiba lebih awal.” Kataku.

Sandy berusaha mengingat jalan. “Hhhh.., coba kalau kita diperbolehkan pakai GPS!”

“Hey Sera!” panggil Leo. Rasanya aneh karena seorang anak kecil memanggil namaku langsung tanpa embel-embel “nuna”. Yah..dia memang Zelo, tapi sekarang kan dia bertubuh anak kecil!

“Kau memanggilku, adik kecil?” ledekku. Leo cemberut, sedangkan Sandy nyengir senang.

“AHJUMA yang sedang menyetir itu setuju kau pacaran dengan Baekhyun, tapi aku setuju kau dengan Taemin hyung.” Kata Leo.

“YAAA!!!! SIAPA YANG KAU PANGGIL AHJUMA, HAH?!” teriak Sandy kesal.

Leo menjulurkan lidahnya dan terkikik geli. “Aku. Aku yang memanggilmu Ahjuma. Kau memang ahjuma.”

Sandy mencengkram stir mobil dengan keras. Aku hanya tertawa melihat “tontonan gratis” di depan mataku ini. Hahaha.

“Oh ya? Kenapa kau setuju aku dengan Baekhyun?” tanyaku pada Sandy.

Sandy melirikku sekilas, lalu kembali fokus menyetir. “Cinta pertama itu tidak penting, Se Ra~ya. Yang paling penting adalah.., siapa yang saat ini mencintaimu dengan tulus dan dengan segenap hatinya. Aku tahu Baekhyun seperti itu. Dia tulus.”

Sebelum aku sempat bicara, Leo keburu bicara. “Dan ada seseorang yang tidak akan meminta apapun di dunia ini selain meminta agar kau hidup dengan bahagia, Se Ra~ya..” kata Leo. Aku berbalik dan menatap Leo. Leo balas memandangku dengan serius. “Seandainya saat ini aku masih memiliki crystal of life.., akan kutunjukan padamu. Perasaan Tae Min yang sebenarnya. Apa yang ia pikirkan ketika kau terluka..”

Sandy memotong perkataan Leo. “Kalau Taemin Oppa benar-benar mencintaimu, dia akan menunjukkan perasaannya sendiri. Tidak perlu bantuan crystal of life!” dengus Sandy.

Leo menyandarkan punggungnya di jok mobil, dan menatapku dengan santai. “Semuanya kembali padamu, Se Ra. Aku hanya mendukung sahabat kecilku.”

“Dan aku mendukung manusia bumi. Kuharap kau akan tinggal di bumi.” Sandy tersenyum padaku. “Hey.., kita kan harus debut sebentar lagi. Kau mau kabur ke Mato dengan pangeran kecilmu itu?”

Aku hanya terdiam. Memikirkan kata-kata Sandy dan Zelo dengan sungguh-sungguh.

Akhirnya.., setelah hampir 1 jam, kami pun tiba di gedung Galeri Seni. Kami langsung merasa lemas ketika melihat mobil yang ditumpangi team cowok ternyata sudah sampai duluan, dan masuk lebih dulu ke dalam gedung.

“Aku tidak mau masuk ah. Aku mau jalan-jalan saja di luar.” Kata Leo.

“Terserah kau saja.” Kata Sandy cuek. Dia pun segera keluar dari dalam mobil, menyerahkan kunci padaku, dan masuk ke dalam gedung.

Aku dan Leo masih ada di dalam mobil. Aku membetulkan ikatan rambutku yang berantakkan. “Sebenarnya kalian kenapa?” tanyaku sambil menatap Leo lewat kaca spion.

Leo nyengir lebar. “Dia hanya malu.”

“Malu?” tanyaku tak mengerti.

Leo mengangguk. “Malu dan juga marah. Jadi.., tadi malam aku bilang padanya kalau dia sekarang jadi terlihat lebih berisi dan chubby.”

“Pabo!” kataku.

Leo nyengir. “Tapi aku bilang padanya…, aku tetap suka dia. Justru malah makin suka karena dia tidak terlalu skinny sekarang. Sepertinya dia masih kesal dengan kata-kataku, dan ketika aku.. ehem.. hendak menciumnya..dia..dia malah menonjokku.”

“Mwo? Hahahaha…hahaha..” aku terbahak-bahak. “Dan dia balas dendam padamu dengan membuatmu jadi anak kecil? Huwahahaha…dasar!”

Leo mengangguk. “Sangat kekanakan. Hey Se Ra, kemarilah.” Kata Leo. Seperti hendak membisikkan sesuatu. Aku pun mendekat, dan tanpa kuduga, Leo mencium pipiku. “Mianhae.., hehehe. Aku bosan jadi Leo.” Katanya. Dia pun menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada di mobil. Perlahan tubuh Leo membesar, menjadi Zelo.

Zelo nyengir lebar padaku. “Gomawo. Hehehe.”

“Kau hutang 1 loyang pizza ukuran jumbo padaku!” kataku.

“Oke.” Zelo membentuk huruf O dengan jarinya. “Mana kunci? Aku mau menyetir.”

“Mau ke mana?”

“Rahasia! Hahaha.”

“Gawat!” aku teringat sesuatu. “Semua percakapan kita.., terekam kamera-kamera ini kan…?” aku baru sadar kalau di dalam mobil kami dipasang 3 buah kamera.

Zelo menggeleng. “Sejak awal aku sudah mematikan kameranya. Aku tahu.., kita pasti akan membicarakan semua hal yang seharusnya tidak direkam. Kau nanti tinggal bilang saja pada PD-nim kalau kamera-nya rusak.”

Aku menatap Zelo, tak menyangka dia ternyata jenius juga. Aku pun menyerahkan kunci mobil yang tadi Sandy berikan padaku, kemudian keluar dari dalam mobil.

 

Games kali ini adalah.., games tembak-tembakkan dengan pistol air! Kami kurang beruntung karena tiba paling akhir. Kami tidak mendapatkan amunisi tambahan. Kami harus mencari amunisi sendiiri! Sial!

Games-nya seperti yang pernah di film-kan di “Infinite Rangking King”. Bedanya.., kami bekerja dalam grup, bukan individu.

Kami harus menemukan amunisi (cairan biru) dan senjata (pistol air mainan) yang disembunyikan oleh para kru di seluruh gedung ini. Kami harus “menembak” musuh kami di “jantung”, dan membuatnya out. Team yang menang akan mendapatkan hadiah. Sebaliknya, yang kalah akan mendapatkan hukuman.

Kru menyerahkan kertas bergambar jantung pada kami. Terserah kami akan menempelkannya di mana. Sandy menempelkannya di balik ketiaknya. Katanya agar dia tidak gampang “tertembak”. Aku melirik team cowok. Baekhyun menempelkan kertas jantung itu di paha bagian dalam-nya. Ada-ada saja! Tapi ide-nya bagus juga! Sementara Tae Min dan Se Hun menempelkannya di dada.

“Pria sejati menempelkannya di dada, hyung.” Kata Se Hun pada Baekhyun.

Aku pun akhirnya memutuskan untuk menempelkannya di bahu kiri-ku.

Lonceng berbunyi. Tanda-nya games dimulai. Kami mulai berlarian, menemukan senjata dan amunisi, sebelum akhirnya…. berperang.

==== End of Se Ra PoV ===

 

 

==== Se Hun PoV ====

“Aku yang akan mengejar Se Ra dan membuat Se Ra out. Kalian fokus saja pada Candy.” Kataku pada Taemin hyung dan Baekhyun hyung. Mereka berdua mengangguk. “Kalian tidak boleh menyerang Se Ra.., arrasseo?”

“Wae? Kenapa?” tanya Baekhyun.

Aku menatapnya tajam. “Aku tidak ingin ada skinship diantara kalian!” kataku dingin. Wajah Baekhyun memerah, sementara wajah Taemin tetap datar.

“Let’s go!” kataku. Seolah aku adalah sang komandan. Kami pun mulai berpencar.

Ya.., aku tidak ingin adikku melakukan skinship dengan Baekhyun hyung maupun dengan Taemin. Aku masih tidak tahu perasaan mereka yang sesungguhnya pada Se Ra. Ya, aku tahu mereka menyukai Se Ra. Tapi.., sebesar apa? Se-tulus apa? Aku tidak tahu.

Aku hanya ingin menjaga Se Ra. Aku tidak ingin Se Ra terluka. Aku tidak ingin Se Ra mencintai orang yang salah.

==== End of Se Hun PoV ====

 

 

=== Se Ra PoV ===

Aku berjalan menyusuri koridor lantai 3. Sudah menemukan 2 senjata dan 5 buah amunisi. Benar-benar beruntung.

Aku mendengar suara langkah kaki. Cepat-cepat aku bersembunyi di balik sebuah patung.

Drap…drap..drap…

Suara langkah kaki itu terdengar lebih keras dan cepat. Orang itu berlari. Kuharap orang itu adalah Sandy. Aku tetap bersembunyi di balik patung dewi Yunani yang tinggi dan besar itu. Pistol air-ku sudah kusiapkan. Berjaga-jaga siapa tahu musuh mendekat.

Aku mengintip di balik patung, seorang pria balas menatapku. Baekhyun!

Pistol Baekhyun yang tadi teracung, kini mulai ia turunkan. “Eh.., a-an-annyeong Se Ra.” Setelah mengatakan itu, Baekhyun pun cepat-cepat berlari pergi menjauhiku.

Aneh! Kenapa dia tidak menembakku dengan pistol air-nya yang sudah teracung itu? Padahal tadi dia dekat sekali dengan bahu-ku. Aarrgghh!! Sial! dia sudah pergi jauh. Aku tidak bisa mengejarnya dan menembaknya!

Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi berbagai replika lukisan terkenal dari seluruh dunia. Masih mencari-cari amunisi dan pistol tambahan di balik lukisan-lukisan itu.

Aku berbelok dan masuk ke dalam sebuah kelas berisi patung-patung dari tanah liat. Mengagumi setiap patung unik yang ada di sana. Dan.., aku beruntung karena menemukan amunisi tambahan di balik meja!

Samar-samar mulai terdengar langkah kaki. Aku membetulkan letak kamera-ku. Kamera terpasang di topi yang kami kenakan masing-masing, sehingga tidak perlu ada kameramen yang mengikuti kami.

Aku mematikan lampu ruangan dan sudah siap dengan pistolku. Seseorang-siapapun itu- memasuki ruangan yang gelap, dan dari cahaya yang menyala dari senter kecil di kepalanya, aku tahu siapa dia!

“Tae Min?”

“Se Ra?”

Kami sama-sama terkejut. Selama beberapa detik kami terdiam. Tae Min sepertinya memikirkan sesuatu, kemudian ia pun berbalik pergi.

“Tunggu!” panggilku. “Sehun menyuruhmu agar menjauhiku?”

Taemin berhenti. Punggungnya masih menghadapku.

“Tae Min?” panggilku lagi.

Taemin berbalik perlahan menghadapku. Dan…tanpa menunggu lagi, aku pun segera menembak kertas bergambar jantung yang menempel di dada kiri-nya.

“Berhasil!!!” Pekikku senang. “Hahahahaha. Kau… out!” kataku sambil nyengir lebar.

Taemin membelalakkan matanya. Baru sadar dengan apa yang terjadi. Lalu ia pun tertawa menyadari kekonyolannya.

Tae Min berjalan semakin mendekatiku. Tanpa kuduga, ia meraih tangan kananku dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang hangat.

Meskipun suasana di ruangan ini gelap, tapi kami masih bisa melihat wajah kami dengan jelas lewat senter dari kamera kami masing-masing.

“Apakah kau bahagia, Se Ra?” tanya Tae Min. Aku hanya terdiam. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. “Kuharap kau bahagia.” Kata Tae Min sambil menatap mataku lekat-lekat. Kedua matanya yang cemerlang memantulkan cahaya.

Rasanya…sudah lama sekali aku tidak melihat ekspresi Tae Min yang seperti ini.

Kedua mata itu…, terlihat sama polos-nya seperti dulu. Ketika kami masih kanak-kanak. Ketika kata-kata “dendam” dan “kekuasaan” tidak pernah terlintas di pikirannya.

“Apakah kau bahagia tinggal di bumi, Tae Min?” aku malah balik bertanya padanya.

Tae Min mengangguk. Tiba-tiba saja, entah kenapa dadaku terasa sakit. Satu anggukkan itu berarti banyak bagiku. Sekarang aku tahu.., Tae Min lebih bahagia di sini. Di bumi. Tanpaku.

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya, dan segera berjalan pergi meninggalkan Tae Min.

=== End of Se Ra PoV ===

 

 

 ==== Se Hun PoV ====

“Se Ra!!!! Hahaha. Akhirnya kau kutemukan!” aku senang melihat Se Ra yang berjalan cepat, keluar dari sebuah ruangan. Aku pun segera menembakkan pistolku padanya. “Out! Hehehe.”

Se Ra hanya menatapku sekilas. Aku bisa melihat matanya yang memerah, seperti menahan tangis.

“Se Ra? Kau kenapa?” tanyaku cemas.

“Jangan ikuti aku!” kata Se Ra dingin. Ia pun berlari pergi.

Se Ra kenapa? Siapa yang membuatnya menangis?

Karena penasaran.., aku pun melongokkan kepalaku ke dalam ruangan yang baru saja ditinggalkan Se Ra. Aku terkejut  melihat sosok seorang pria di sana. Pria itu berdiri membelakangiku, sehingga ia tidak menyadari kalau aku memperhatikannya. Lee Tae Min?

“Aku bahagia, Se Ra. Di manapun aku tinggal, entah di Mato atau pun di bumi, aku akan selalu merasa bahagia, asalkan kau bahagia.” Tae Min berbicara Sendiri. Pelan. Tapi masih bisa kudengar dengan jelas. “Saranghaeyo, Se Ra~ya…”

Kata-kata Tae Min itu membuatku membeku. Menghancurkan dinding keraguan yang selama ini kurasakan.

Aku tahu.., sejak dulu.. Tae Min mencintai Se Ra dengan tulus. Tapi kemudian.., entah kenapa aku merasa TaeMin hanya memanfaatkan Se Ra demi membalaskan dendamnya pada Paman-ku dan pada Zelo. Tapi.., saat Se Ra hampir meninggal di Mato, kata-kata yang Tae Min ucapkan membuatku sedikit goyah dengan apa yang kuyakini tentangnya.

Dan kini…, setelah mendengarkan pengakuan monolognya itu.., akhirnya aku bisa merasa tenang.

==== End of Se Hun PoV ====

 

 

==== Se Ra PoV ====

Semua ini gara-gara kakakku yang bodoh itu! Kenapa dia harus membuatku “out”?! Sial! Aku jadi harus mendapatkan “hukuman” bersama Tae Min.

Yap. Ternyata dari semua orang.., aku-lah yang out ke-2 setelah Tae Min. Sandy berhasil menembak Baekhyun dan Se Hun. Kupikir.., aku akan mendapatkan hadiah karena team-ku (Sandy) menang. Tapi ternyata.., aku malah kena hukum juga karena menjadi 2 orang pertama yang “out”. Benar-benar sial!

Aku dan Taemin mendapatkan hukuman tidak dapat makan malam hari ini, sementara Sandy enak-enakkan makan daging sapi kualitas super. Benar-benar tidak adil!

PD-nim menyuruh aku dan Tae Min memancing ikan untuk makan malam. Aku tidak bisa memancing, ditambah lagi suasana sudah hampir gelap.

Kami berjalan di sekitar Air Terjun Cheonjeyeon, yang terletak di sebelah barat kota Seogwipo, Jeju Selatan. Sebenarnya pemandangan-nya sangat indah. Terdiri dari tiga tingkat. Dilengkapi jembatan dan paviliun. Tapi.., berhubung kami harus memancing ikan di sini.., rasanya air terjun itu jadi tidak terasa indah lagi. Perutku sudah keroncongan, dan kami belum mendapatkan 1 ekor ikan-pun!

 

 

 

Tae Min menunggu pancingannya dengan sabar. Kami duduk agak berjauhan. Aku duduk di bebatuan besar, sambil melempar-lemparkan bebatuan kecil ke dalam air.

Tiba-tiba saja angin besar membuatku menggigil kedinginan. Aku menggosok-gosok lenganku.

“Aku mau kembali ke villa saja.” Kataku.

“Tapi kita belum dapat ikan.” Kata Tae Min.

“Biar saja. Sepertinya malam ini aku tidak akan makan.” Aku berdiri, dan ketika melangkahkan kaki-ku.., tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras.

Oh, sial! kenapa hujan harus turun di saat seperti ini?! Aku berusaha mengendalikan hujan itu agar berhenti, tapi sialnya hujan kali ini tidak bisa kukendalikan. Apakah ini karena hujan ini alami?!

“Ayo…!” Tae Min menuntun tanganku. Membimbingku untuk berteduh di bawah mulut gua.

“Aku tidak suka tempat gelap.” Kataku sambil melirik gua di belakang kami. Siapa yang tahu ada makhluk buas apa di dalam sana! Tanpa sadar, aku menggenggam tangan Tae Min lebih erat.

Tae Min tersenyum. “Tidak usah takut. Tidak ada apa-apa di sana. Lagipula kita hanya akan berteduh di sini, tidak perlu masuk ke dalam. Aku akan melindungimu.”

Aku hanya bisa terdiam melihat kedua mata Tae Min yang ikut tersenyum seperti bibirnya. Rasanya berbeda ketika seseorang tersenyum bukan hanya di bibir, tapi lewat mata dan hatinya. Membuat senyumannya semakin indah.

Tanpa kusadari.., perlahan tanganku terulur dan menyentuh wajah Tae Min. “Apa yang membuatmu bahagia tinggal di bumi, Tae Minnie?”

Tae Min hanya terdiam. Tanganku menyentuh pipi-nya yang dingin dan basah karena air hujan. “Mungkin aku akan tahu apa yang membuatmu senang tinggal di planet biru ini. Aku akan menjadi bagian dari makhluk bumi bila aku bersama makhluk bumi. Sepertinya Baekhyun mencintaiku. Kalau aku bersamanya.., mungkin aku akan sering tinggal di sini, dan akhirnya tahu apa yang membuatmu betah di planet ini.”

Aku menjauhkan tanganku. “D.O memberitahuku…, kau sedang dalam tahap seleksi mengikuti sebuah reality show pernikahan virtual bersama idol wanita. Kau senang menjadi idol di planet ini, Tae Minnie?”

Tae Min masih terdiam. Dia hanya menatapku lekat-lekat. “Apakah kau mencintai Baekhyun?”

Aku tersenyum setengah. Tidak mengira ia akan menanyakan hal itu. “Kau tidak menjawab pertanyaanku, kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?” tanyaku dingin.

“Karena tidak penting apa yang kurasakan. Asalkan kau bahagia, aku akan merasa bahagia. Kalau kau mencintai Baekhyun dan merasa bahagia bersamanya.., maka aku akan ikut bahagia.” Kata Tae Min.  Kedua matanya memantulkan cahaya rembulan. “Yang kupinta darimu hanya satu…, hiduplah dengan bahagia, Se Ra~ya. Asalkan kau hidup, itu sudah cukup bagiku. Asalkan Kau hidup, aku tidak akan meminta apapun lagi. Bahkan aku tidak akan meminta kau balas mencintaiku.” Bisik Tae Min. Air matanya menetes.

Mataku membelalak lebar. Entah perasaan apa yang kurasakan saat ini. Bahagia, terharu, lega. Semuanya bercampur jadi satu.

Aku mendekati Tae Min, berjinjit agar wajahku bisa setara dengannya. Padahal aku sudah memakai wedges, tapi Tae Min tetap jauh lebih tinggi dariku. Aku menatap Tae Min lekat-lekat, perlahan mendekatkan wajahku padanya. Aku mengecup bibirnya sekilas, lalu tersenyum. “Aku mencintaimu, Lee Tae Min. Sejak dulu. Selalu.”

Tae Min membelalak, kaget dengan pengakuanku. Detik berikutnya, Tae Min memegang tengkuk-ku dengan gentle dan mencium bibirku dengan hangat. Manis dan hangat. Aku merasakan jutaan sayap kupu-kupu di dalam perutku. Geli, tapi bahagia.

Tae Min terus menciumku dengan sepenuh hati, tidak memedulikan lagi suara petir dan hujan yang semakin deras.

Mungkin kami tidak akan pulang sebelum hujan-nya berhenti. Dan kali ini aku membuat hujannya terus turun semakin deras.❤

==== End of Se Ra PoV ====

 

 

 

=== Se Hun PoV ===

Satu bulan kemudian….

Karena jadwal latihan yang sangat padat, aku jadi tidak bisa melihat Se Ra debut! Seharian ini manager EXO menyuruh kami untuk latihan. Comeback EXO sebentar lagi, jadi kami harus berlatih ekstra keras.

Di tengah latihan, aku curi-curi kesempatan untuk menonton TV di kantin gedung SM. Se Ra debut di sebuah acara music mingguan. Aku menyesal karena tidak bisa melihat siarannya secara langsung.

“Akhirnya Se Ra debut juga ya. Sudah tampil belum?” tiba-tiba saja D.O hyung sudah ada di sampingku.

Aku menggeleng. “Belum. Oh ya hyung.., gomawo karena sudah banyak membantuku.”

D.O mengangguk. “Aku tidak merasa heran saat kau memintaku membaca pikiran Tae Min. Sejak dulu aku sudah tahu apa yang dipikirkannya. Ternyata masih tetap sama. Aku tidak memberitahumu sejak awal, karena…pasti tidak seru. Ah, punya kekuatan membaca pikiran sangat tidak seru! Aku sudah tahu sejak awal, dan aku bisa tahu banyak hal yang seharusnya tidak kuketahui.”

Aku tertawa. “Justru aku iri dengan kekuatanmu, hyung. Waahh.., itu Se Raaa!!!! Go!! Go!!! Se Raaaaaaa!!!!! Se Ra Go Goooo!!!!” aku berteriak-teriak seperti orang gila. Orang-orang di sekitar kami hanya tersenyum melihatku.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku mendengar nyanyian Se Ra dan Candy. Group duo S2. Benar-benar rookie yang hebat! Apalagi ada Se Ra! Dia pasti sama hebatnya denganku! hehehe.

“Kau masih saja narsis, maknae.” Cibir D.O.

Aku mendelik pada D.O. “Hyuuung!!! Kau membaca pikiranku lagi.”

D.O mengangkat kedua tangannya. “Bukan salahku.”

Se Ra dan Candy menyanyi dengan sangat baik. Dance mereka juga sangat energik.

Mataku tertuju pada Candy. Tersenyum melihat gadis itu. Siapa yang menyangka ternyata kata-kata pepatah itu benar. Waktu dapat menyembuhkan segalanya, meskipun hanya perlahan.

Ada yang bahagia.., dan ada yang kurang bahagia. Seperti aku dan Baekhyun hyung. Saat itu.., kami merasa kurang bahagia. Tapi kini.., kami sadar.., kebahagiaan itu bukan disebabkan oleh orang lain, tapi oleh diri kita sendiri.

Aku bahagia. Bagaimana tidak, saat ini aku bernafas, aku hidup, aku memiliki adik yang menyayangiku dengan tulus, dan dikelilingi teman-teman yang juga menyayangiku. Bahagia itu sederhana.

D.O menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum hangat. Aku tahu, pasti dia baru saja membaca pikiranku.

“Apakah kau dan Se Ra akan terus tinggal di bumi?” tanya D.O.

Aku menggeleng. “Kami akan sering kembali ke Mato, apalagi nanti.., di saat Pamanku sudah tua. Hahaha…”

D.O mengangguk. “Masih lama. Aku bertaruh.., 10 tahun ke depan pun Paman-mu masih kuat memimpin Mato. Setelah 15 tahun kedepan.., mungkin kau yang akan menggantikan pamanmu menjadi raja.”

“Mwo? Kenapa aku? Tentu saja Tae Min!”

Mata D.O berkilat-kilat. Mulutnya tersenyum lebar. Aku tahu ada yang ia sembunyikan dariku.

“Hyuuuunggg.., beritahu akuuuu.” Rengekku.

“Hmmm.., beritahu tidak ya?”

“Hyuuuuuung..”

“Hmmmm…” D.O pura-pura berpikir.

“Bbuing..bbuing…” aku terpaksa melakukan aegyo.

“Yah! Hentikan! Aegyo mu jadi lebih jelek daripada Tao! Hahaha.”

Aku mendelik kesal pada hyung-ku yang jahil ini.

“Arrasseo… arasseo…” kata D.O akhirnya. Aku tersenyum cerah. D.O mulai berbicara pajang lebar. “Taemin berpikir.., kalau dia dan Se Ra akan lebih bahagia tanpa status raja dan ratu. Se Ra juga berpikir begitu. Tapi ia tidak mau meminta Tae Min menyerahkan gelar putra mahkota demi dirinya. Dia akan mendukung apapun keputusan Tae Min…”

“Se Ra memang berhati mulia.” Potongku. D.O mendelik sebal padaku karena kata-katanya dipotong. “Hehehe.., mianhae hyung.. lanjutkan..”

D.O menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan. “Tae Min berpikir.., ia akan berhenti menjadi idol saat usianya 25 tahun. Ia akan kembali ke Mato bersama Se Ra dan terus tinggal di Mato. Menjalani kehidupan di sana dengan bahagia, tapi tidak di dalam istana. Itu artinya kau yang harus jadi raja! Hahahaha.”

Aku terdiam memikirkan kata-kata D.O. Aku? Menjadi raja masa depan Mato? Hahaha. Aneh sekali! Bukankah bila Tae Min menyerahkan posisi putra mahkota.., maka Zelo-lah yang lebih berhak menggantikannya? Bagaimanapun kakek buyut Zelo adalah adik dari kakek buyut Tae Min.

“Zelo tidak mungkin jadi raja.” Kata D.O. Inilah enaknya berbicara dengan si pembaca pikiran. Tanpa aku menyuarakan pikiranku, ia sudah menjawabnya. “Zelo memilih untuk terus tinggal di bumi. Bersama Sandy.”

Aku mengangguk. Meskipun terasa aneh, tapi… saat ini aku tidak merasa sakit bila mendengar nama Candy ataupun melihatnya bersama Zelo. Sure, time really healing everything.

“Aku tahu kau ini sister complex. Hahaha. Kau mencari sosok Se Ra, kan? Yang sifatnya hampir mirip Se Ra? Bagaimana kalau dengan adik angkatku saja? Meskipun wajahnya tidak mirip Se Ra.., tapi kurasa pola pikir dan sifat mereka mirip.”

Aku menatap D.O serius. “Aku tidak perlu D.O versi cewek yang bisa membaca pikiranku setiap detik.”

“Huwahahahaha…hahaha..” D.O tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Lalu ia menepuk-nepuk bahu-ku. “Tenang saja.., suatu hari nanti.., kau akan bertemu dengan soulmate-mu.” D.O mengedipkan sebelah matanya, kemudian berjalan pergi.

“Hyuuung!” panggilku. D.O berbalik. “Kurasa.., kau dan adik angkatmu cocok juga.” Kataku sambil mengedipkan sebelah mata. D.O mematung. Kini giliranku yang tertawa terbahak-bahak. “Meskipun aku tidak bisa membaca pikiran, tapi.. soal cinta…aku lebih peka darimu. Hahahaha…” Aku menepuk bahu D.O kemudian berlari kencang.

“YAH!!! Oh Se Hun!!! Awas kau!!!” D.O berlari mengejarku.

“Kau tidak akan bisa mengejarku hyuuuuung!!!! Hahaha.” Aku berlari secepat angin menuju ruang latihan dance. Member EXO lainnya langsung menatapku garang.

“Yah! Se Hun! Kau ke mana saja?” tanya Su Ho hyung.

“Hehehe. Mianhae. Ayo latihan!” kataku.

Baekhyun hyung menatapku, lalu nyengir. “Aku menonton debut Se Ra lewat Ipad. Hehe.”

“Tunggu aku..hosh..hosh..” D.O akhirnya tiba dengan nafas terengah-engah.

Aku berbisik pada D.O. “Hyung.., kali ini kekuatanku lebih berguna darimu. Hehehe.”

D.O mendelik menatapku dengan matanya yang besar itu. “Kau tadi berpikir,,, bagaimana kalau adik angkatku bersama Baekhyun ya? Awas ya kalau kau berani-berani-nya mencampuri…”

“mehrong”. Aku menjulurkan lidahku. D.O memiting leherku dengan lengannya yang kuat. “Aaaaaahhh..hyung…hyuuung…”

“Sehun! D.O! berhenti main-main.” Kata Kris tegas. Matanya yang tajam menatap kami garang.

Aku dan D.O mengangkat kedua tangan kami. Tanda menyerah.  Kami berdua saling tatap. Ke-10 member EXO tidak sadar bahwa mereka sedang berlatih bersama 2 orang alien dari planet Mato. Seandainya mereka tahu.., dan seandainya makhluk bumi tahu.., entah seperti apa jadinya.

Selama latihan, aku terus memikirkan kata-kata D.O, yah…, bagaimanapun masa depan nanti..,yang harus kita pikirkan sekarang adalah masa kini. Hari ini. Detik ini.

Detik ini.., aku, Se Ra, Tae Min, Candy, Zelo, Baekhyun, D.O, dan yang lainnya memutuskan untuk bahagia, maka milyaran detik selanjutnya juga kami akan merasa bahagia.

 

~~~~ The End ~~~~~

 

 

 

Cuap-cuap dari Azumi :

To All our beloved readers…

Thank Youuuuuuu!!!!! Buat kalian semua yang udah mengikuti cerita ini dan terus mendukung cerita ini dari awal. Akhirnyaaaaa cerita ini tamat juga. Cerita ini nggak akan pernah ada dan berlanjut tanpa kalian. *hug*

Mungkin.., nanti Kunang (lirik Kunang) bakal bikin side story dari cerita ini. Mungkin tentang ZeShin. Hehe. Marii tanya kunang. Yang pasti…,FF “Super Fantasy Idol” ini udah tamat sampai di sini, tp gak menutup kemungkinan bila suatu hari nanti kita bakal bikin side story-nya.

Kalau aku sendiri sih.., kepikiran buat bikin story tentang D.O. *udah ada clue-clue nya tuh di akhir cerita. Hehe.*

Sekali lagiiiii.., gomawooooo. *bow bareng Kunang*

 

One thought on “[EXO & B.A.P FF_SUPER FANTASY IDOL(SFI) CH. 14]- 14TH FANTASY (END)

  1. Hai …. Aku readr baru …
    Maaf baru comen d part akhr ….
    Cerita ea daebakk … Kirain bakaaln maa sehuun trnyata zeloo …
    Tapi uri baekhyun kasian … Ksih pasangan dongg thor uri bias….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s